You are on page 1of 43

BAB I PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG

Hemoroid merupakan penyakit yang umum terjadi. Pada usia sekitar 50 tahun, 50 % individu mengalami berbagai tipe hemoroid. Pasien dengan gangguan hemoroid mencari pertolongan medis terutama akibat nyeri dan perdarahan rectal. Walaupun tidak mengancam jiwa, penyakit ini dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman. Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen atau lebih vena-vena hemoroidales. Secara kasar hemoroid biasanya dibagi dalam 2 jenis, hemoroid interna dan hemoroid eksterna. Hemoroid interna merupakan varises vena hemoroidalis superior dan media. Sedangkan hemoroid eksterna merupakan varises vena hemoroidalis inferior.

Sesuai istilah yang digunakan, maka hemoroid interna timbul di sebelah luar otot sfingter ani, dan hemoroid eksterna timbul di sebelah dalam sfingter. Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan aliran balik dari vena hemoroidalis. Kedua jenis hemoroid ini sangat sering terjadi dan terdapat pada sekitar 35% penduduk baik pria maupun wanita yang berusia lebih dari 25 tahun. Walaupun keadaan ini tidak mengancam jiwa, tetapi dapat menyebabkan perasaan yang sangat tidak nyaman.(Kapita Selekta Kedokteran, Jilid 2) Dilihat dari sejarahnya, hemoroid sudah dikenal selama berabad-abad dan diduga masih termasuk salah satu penyakit yang umum ditemukan di mana-mana. Di Amerika Serikat, hemoroid ditemukan dengan jumlah kasus meliputi 4,4% dari seluruh penduduk; paling banyak pada umur 45-65 tahun. Namun sayangnya frekuensi pasti dari hemoroid sulit diketahui. Seseorang yang menderita hemoroid cenderung malu mengutarakan penyakitnya dan takut membayangkan tindakan yang mungkin akan dilakukan dokter. Di samping itu, hemoroid memang bukanlah penyakit yang mematikan. Gejalanya dapat hilang timbul, dan pada sebagian besar kasus gejala hemoroid sudah lenyap dalam beberapa hari saja. Menurut data WHO, jumlah penderita hemoroid di dunia pada tahun 2008 mencapai lebih dari 230 juta jiwa dan diperkirakan akan meningkat menjadi 350 juta jiwa pada tahun 2030.( www.fkuii.org, 2009) Di Indonesia sendiri penderita hemoroid terus bertambah. Menurut data Depkes tahun 2008, prevalensi hemoroid di Indonesia adalah 5,7 persen, namun hanya 1,5 persen saja yang terdiagnosa. Jika data Riskesdas (riset kesehatan dasar) 2007 menyebutkan ada 12,5 juta jiwa
1

penduduk Indonesia mengalami hemoroid, maka secara epidemiologi diperkirakan pada tahun 2030 prevalensi hemoroid di Indonesia mencapai 21,3 juta orang (Hemoroid Care, 2004). Data Dinas Kesehatan Provinsi Sumatera Selatan diketahui bahwa jumlah penderita penyakit Hemoroid pada tahun 2009 sebanyak 424 orang penderita, sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 427 penderita dan pada tahun 2011 sebanyak 436 orang penderita. Dari data Dinas Kesehatan Kota Palembang diketahui bahwa jumlah penderita penyakit hemoroid pada tahun 2009 sebanyak 329 orang penderita, sedangkan pada tahun 2010 sebanyak 325 penderita dan pada tahun 2011 sebanyak 332 orang penderita. Berdasarkan data dari Medical Record RSUD Palembang Bari jumlah penderita hemoroid pada tahun 2009 terdiri dari 62 orang penderita, pada tahun 2010 terdiri dari 65 orang penderita. Dan pada tahun 2011 sampai dengan bulan oktober terdiri dari 58 orang. (Medrec RSUD Palembang BARI ; 2012) Berdasarkan penjelasan diatas, maka kelompok kami tertarik untuk mengangkat makalah ini dengan judul “ Asuhan Keperawatan pada Tn.”S” dengan Diagnosa Post Operasi Hemoroid di Ruangan Perawatan Bedah RSUD Palembang Bari”.

1.2 TUJUAN 1.2.1 Tujuan Umum

Agar mahasiswa dapat menerapkan ilmu pengetahuannya dalam melaksanakan asuhan keperawatan pada klien dengan hemoroid yang dirawat di ruang perawatan bedah RSUD Palembang Bari dan untuk memberikan informasi mengenai hemoroid pada para pembaca agar dapat menjadi referensi untuk pembelajaran dan upaya preventif dalam mencegah penyakit Hemoroid.

1.2.2 Tujuan Khusus a. Dapat melakukan pengkajian asuhan keperawatan pada klien dengan hemoroid. b. Dapat menganalisa dan merumuskan serta memprioritaskan diagnosa

keperawatan klien hemoroid. c. Dapat menyusun rencana keperawatan pada klien hemoroid. d. Dapat melakukan tindakan keperawatan pada klien hemoroid. e. Dapat melakukan evaluasi asuhan keperawatan pada klien hemoroid.
2

1.3 WAKTU Pengkajian dan anamnesa dilakukan pada tanggal 09 Februari 2012 pada pukul 11.00 WIB

1.4 TEMPAT Pengkajian dan anamnesa dilakukan pada Tn. “S” di Ruang Perawatan Bedah RSUD Palembang Bari.

3

BAB II

TINJAUAN TEORI

2.1 PROFIL RSUD PALEMBANG BARI

2.1.1 SELAYANG PANDANG

Rumah Sakit Umum daerah Palembang BARI merupakan unsur penunjang pemerintah daerah dibidang kesehatan yang merupakan yang merupakan satu – satunya rumah sakit umum milik pemerintah kota palembang. Rumah Sakit Umum Palembang BARI terletak di jalan Panca Usaha Nomor 1 Kelurahan 5 Ulu Darat Kecematan seberang Ulu dan berdiri di atas tanah seluas 4,5 H. Bangunan berada lebih kurang 800 meter dari jalan Raya jurusan kertapati. Sejak tahun 2010 dibuat jalan alternatif dari Jakabaring menuju RSUD Palembang BARI. Saat ini sedang diupayakan pembangunan jalan langsung menuju RSUD Palembang BARI dari jalan poros Jakabaring.

2.1.2 VISI MISI DAN MOTTO

VISI Rumah Sakit andalan dan terpercaya di Sumatrera Selatan.

MISI 1. Melaksanakan pelayanan kesehatan yang bermutu. 2. Melaksanakan manajemen administrasi yang efektif dan efisien.

MOTTO “ Anda sembuh, kami puas “ “ Anda puas, kami bahagia “
4

OG sebagai Direktur RSUD Palembang BARI.3.1.06.10/III/334/08 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat lanjut kepada Rumah sakit Umum Daerah Palembang BARI. dachlan Abbas.  Bulan Juli 2000 s.195 B tahun 2008 tentang Penetapan RSUD Palembang BARI sebagai SKPD Palembang yang menerapkan pola pengelolaan keuangan BLUD (PPKBLUD) secara penuh. 2.d juni 2000 : dr.2.4 FASILITAS DAN PELAYANAN 5 .pB  Bulan desember 2000 s. MARS sebagai Direktur RSUD Palembang BARI. SEJARAH a. tanggal 10 november 1997 ditetapkan menjadi Rumah Sakit Umum Daerah kelas C  Kepmenkes RI Nomor : HK.1.  Ditetapkan sebagai BLUD-SKPD RSUD Palembang BARI berdasarkan keputusan Walikota Palembang N0. Sejarah Berdirinya  Pada tahun 1985 sampai tahun 1994 RSUD Palembang BARI merupakan gedung polikklinik atau Puskesmas Panca Usaha.2.4646 tentang pemberian status akreditas penuh tingkat dasar kepada Rumah Sakit Umum Daerah Palembang BARI.d 1995 : dr. faisal Soleh. H.00. H.d sekarang dr. Sp. tanggal 2 April 2009. jane Lidya Titahelu sebagai Kepal Polikklinik/Puskesmas Panca Usaha. Indah Puspita H. Eddy Zarkaty Monasir. S.  Kepmenkes RI Nomor : 241/MENKES/SK/IV/2009 tentang peningkatan kelas Rumah sakit umum daerah palembang BARI menjadi kelas B. b. tanggal 5 februari 2008. PD  Tanggal 14 November 2000 s.d November 2000 : Pelaksana tugas dr. M. 1362/Menkes/SK/XI/1997. A.01.  Tanggal 1 Juli 1995 s.Sejarah Pemegang Jabatan  Tahun 1986 s. Sp. tanggal 7 November 2003  Kepmenkes RI Nomor : YM.2.  Pada Tanggal 19 juni 1995 diresmikan menjadi RSUD Palembang BARI dengan SK Depkes No.d februari 2001 : Pelaksana tugas dr.

Perawatan Kebidanan 9. Poliklinik Psikologi 14. Farmasi atau Apotek 24 jam 6 . Perawatan Kelas I 3. Perawatan Anak 6. Perawatan ICU 8. Poliklinik THT 7. Pelayanan Gawat Darurat c. Poliklinik Syaaf 8. Poliklinik mata 6. Perawatan VVIP dan VIV 2. Poliklinik Bedah 3. Pelayanan Rawat jalan Spesialis 1. Perawatan Penyakit Umum Laki-laki 5. Poliklinik Tumbuh Kembang 15. Poliklinik Anak 5. Poliklinik Kulit dan Kelamin 9. Perawaan Neonatus dan NICU d.a. Peawatan Bedah 7. Pelayanan Penunjang 1. Poliklinik Gizi b. Poliklinik Penyakit Dalam 2. Perawatan Umum perempuan 4. Poliklinik Jantung 12. Pelayanan Rawat Inap 1. Poliklinik Gigi 13. Poliklinik Rehabilitasi Klinik 11. Poliklinik Kebidanan dan Penyakit Kandungan 4. Poliklinik Jiwa 10.

Radiologi 5. Laboratorium klinik 6. Instalasi Laundry 16. Hemoroid adalah vena yang berdilatasi dalam kanal anal ( Smeltzer Suzanne C. Hemorrhoid are dilated varicose veins of the anus and rectum. Patologi anatomi 7.E. ECG dan EEG 11. 7 . (Potter. Bedah Sentral 3. CT Scan 64 Slices 13. CSSD 2. Instalasi Gizi 15. Endoscopi 12. 1999 ). Rehabilitasi Medik 4.2 TINJAUAN TEORI 2. 1997 .2. 1374). Bank Darah 8. 2001 ). Hemodialisa 9. J. Hemorrhoid are dilated.1 DEFINISI Hemoroid adalah varikositis akibat dilatasi pleksus vena hemoroidalis interna ( Underwood. Medical check up 10. engorged veins in the lining of the rectum. Hemoroid adalah pembesaran dan penonjolan vena disekitar rektum.2. Tread Mill 14.C.

They occur when the veins around the anus or lower rectum become swollen and inflamed.medicastore. (Reeves.ultinetindonesia. (www.web. 162). (www.Hemoroid adalah dilatasi pembuluh darah vena varicose pada anus dan rektum. (www. (www. Hemoroid adalah suatu masalah umum pada anus dan rektum.kaltimpost.com. Hemoroid adalah dilatasi pleksus (anyaman pembuluh darah) vena yang mengitari rektal dan anal. 2001) Hemoroid adalah pelebaran pembuluh darah di bawah selaput lendir anus menjadi semacam benang khusus sehingga membentuk gumpalan benjolan. (Tambayong. Hemoroid (Wasir) adalah pembengkakan jaringan yang mengandung pembuluh balik (vena) dan terletak di dinding rektum dan anus. 142). 2005) Hemoroid adalah pelebaran varises satu segmen / lebih pembuluh darah vena hemoroidales (bacon) pada poros usus dan anus yang disebabkan karena otot & pembuluh 8 . 2002). often as a result of straining during a bowel movement.emedtv.com. Hemorrhoids are a common problem of the anus and rectum. 1999 .id. Hemoroid adalah perdarahan yang keluar lewat anus berupa darah segar dengan atau tanpa disertai lendir tidak termasuk perdarahan yang berasal dari bagian-bagian lambung dan usus halus. Yang terjadi bila vena-vena disekitar anus dan rektum mengalami peradangan yang diakibatkan karena mengedan selama buang air besar. 2000 . 2001).hemorrhoids.com.

org. seperti gigi. lidah. Anatomi Sistem pencernaan terdiri atas saluran pencernaan yaitu tuba muskular panjang yang merentang dari mulut sampai anus. hati.darah sekitar anus / dubur kurang elastis sehingga cairan darah terhambat dan membesar.fkuii. usus dan anus. kandung empedu dan pankreas. lambung. (www.2 ANATOMI FISIOLOGI A. 2. 984) Fungsi utama dari saluran gastrointestinal yang berhubungan dengan memberikan kebutuhan tubuh yaitu : 9 . 2002 . 281) Saluran pencernaan merupakan jalur (panjang totalnya 23-26 kaki) yang berjalan dari mulut melalui esofagus. Saluran pencernaan yang terletak dibawah area diafragma disebut saluran gastrointestinal (Sloane. (Smeltzer. Hemoroid adalah suatu penyakit pelebaran pembuluh darah balik (vena) yang terdapat di daerah saluran cerna bagian bawah yang berbatasan dengan dubur/anus. (www. 2004 . 2003).com.balipost. dan organ-organ aksesoris.2. 2006). kelenjar saliva.

(Sloane. faring (tekak). 75).- Memecahkan partikel makanan ke dalam bentuk molekuler untuk dicerna Mengabsorbsi hasil pencernaan dalam bentuk molekul kecil ke dalam aliran darah. lidah dibagian bawah. Lidah Lidah dilekatkan pada dasar mulut oleh frenulun lingua. (Syaifuddin. palatum lunak dan keras di bagian atas. 984) Susunan saluran pencernaan terdiri dari: oris (mulut). rektum dan anus. kolon transversum. (Sloane. dan orofaring dibagian belakang. intestinum mayor (usus besar) terdiri dari sekum. 2004 . 283) c. yeyenum dan ileum. esofagus (kerongkongan). yaitu: palatum durum (palatum keras) yang tersusun atas tajuk-tajuk palatum dan sebelah depan tulang maksilaris dan lebih ke belakang terdiri dari 2 tulang palatum dan palatum mole (palatum lunak). terletak di belakang yang merupakan lipatan menggantung yang dapat bergerak. 1. Mengeliminasi makanan yang tidak tercerna dan terabsorbsi dan produk sisa lain dari tubuh. (Sloane. 283) b. Rongga oral utama dibatasi gigi dan gusi dibagian depan. 282-283) a. Bibir Tersusun dari otot rangka (orbikularis mulut) dan jaringan ikat. intestinum minor (usus halus) terdiri dari duodenum (usus 12 jari). 1997 . 2004 . 2002 . Palatum Palatum terbagi atas 2 bagian. Mulut Mulut adalah jalan masuk menuju sistem pencernaan dan berisi organ aksesori yang berfungsi dalam proses awal pencenaan. dan pipi sebagai batas luarnya. Lidah berfungsi untuk menggerakkan makanan saat di kunyah atau ditelan. 1997 . kolon desendens dan kolon sigmoid. Gigi 10 . ventrikulus (lambung). 75). terdiri atas jaringan fibrosa dan selaput lendir. kolon asendens. Rongga vestibulum terletak diantara gigi dan bibir. untuk pengecapan. ( Syaifuddin. 2004 . Organ ini berfungsi untuk menerima makanan dan produksi wicara. d. (Smeltzer. dan dalam produksi wicara.

5 cm yang merentang dari bagian dasar tulang tengkorak sampai sampai esofagus. serta berbagai zat lain. sebagai zat anti bakteri dan antibodi. Esofagus Esofagus adalah tuba muscular. gigi berfungsi dalam proses mastikasi atau pengunyahan.54 cm). 267) 3. 2. (Sloane. melewati diafragma dan hiatus esofagus (lubang) pada area sekitar vertebra torak ke sepuluh dan membuka kearah lambung. melembabkan dan melumasi makanan sehingga dapat ditelan. mengeksresi zat buangan seperti asam urat dan urea. (Sloane. 4. Fungsi esofagus menggerakkan makanan dari faring ke lambung melalui gerak peristalsis. orofaring dan laringofaring. (Sloane. untuk pengecapan rasa. 2004 . panjangnya sekitar 9-10 inci (25 cm) dan berdiameter 1 inci ( 2. Faring Faring adalah tabung muscular berukuran 12. Lengkung bagian atas lebih besar dari bagian bawah sehingga gigi atas secara normal menutup gigi bawah. 2004 . 285). 2004 . Kelenjar ludah Kelenjar saliva mensekresi saliva ke dalam rongga oral. mengurai zat tepung menjadi polisakarida dan maltosa.Gigi tersusun dalam kantong-kantong (alveoli) pada mandibula dan maksila. Esofagus berawal dari area laringofaring. 2004 . Faring terbagi menjadi nasofaring. Makanan yang masuk ke dalam mulut dipotong menjadi bagianbagian kecil dan bercampur dengan saliva untuk membentuk bolus makanan yang dapat ditelan. (Sloane. Lambung 11 . 284) e. Saliva terdiri dari cairan encer yang mengandung enzim dan cairan kental yang mengandung mukus. Manusia mempunyai dua susunan gigi yaitu gigi primer dan gigi sekunder. Fungsi saliva yaitu melarutkan makanan secara kimia. setiap lengkung barisan gigi pada rahang membentuk lengkung gigi. 283).

Yeyenum terletak di regio abdominalis media sebelah kiri. (Sloane. Regia-regia lambung terdiri dari bagian jantung.Lambung adalah organ berbentuk J. Usus halus dibagi menjadi duodenum. produksi faktor intrinsik dan absorbsi. 288). terletak pada bagian superior kiri rongga abdomen dibawah diafragma. panjangnya 25 cm mulai dari pilorus sampai yeyenum. tempatnya menyatu dengan usus besar. (Price. b) Yeyenum Mempunyai panjang 2-3 meter atau 2/5 bagian atas. produksi kimus. 285) 5. dan bagian pilorus. yeyenum dan ileum. 438) 12 . 984). produksi mukus. (Sloane. Pada papila vateri bermuara saluran empedu dan saluran pankreas. 2004 . Dinding duodenum mempunyai lapisan mukosa yang banyak mengandung kelenjar Brunner. (Smeltzer. Usus halus Usus halus adalah segmen paling panjang dari saluran gastrointestinal. digesti protein. Lekukan yeyenum dan ileum melekat pada dinding abdomen posterior dengan perantaraan lipatan peritonium dan berbentuk kipas dikenal sebagai mesentrium. fundus. badan organ. a) Duodenum Disebut juga usus dua belas jari. 2004 . yang jumlah panjang kira-kira 2/3 dari panjang total saluran. pada lengkungan ini terdapat pankreas. Ileum cenderung terletak di regio abdominalis bawah kanan. c) Ileum Mempunyai panjang 4-5 meter atau 3/5 bagian terminal. Fungsi lambung yaitu sebagai penyimpanan makanan. Pemisahan duodenum dan yeyenum ditandai oleh Ligamentum Treitz. 2002 . berfungsi memproduksi getah intestinum. Pembagian ini agak tidak tepat dan didasarkan pada sedikit perubahan struktur dan yang relatif lebih penting berdasarkan fungsi. 2006 . bagian kanan duodenum terdapat selaput lendir yang membukit disebut papila vateri. Keseluruhan usus halus adalah tuba terlilit yang merentang dari sfingter pilorus sampai ke katup ileosekal. Berbentuk seperti sepatu kuda melengkung ke kiri.

Kolon memiliki 3 divisi :  Kolon Asenden 13 . Sekresinya tidak mengandung enzim atau hormon pencernaan.5 m yang terbentang dari sekum sehingga kanalis ani dengan diameter sekitar 6. 290) 5. (Sloane. b) Usus besar hanya memproduksi mukus. Sekum menempati sekitar 2-3 inci pertama dari usus besar. panjangnya lebih pendek. 295) Bagian-bagian dari usus besar adalah sebagai berikut :  Sekum Pada sekum terdapat katub ileoseikal dan apendiks yang melekat pada ujung sekum.  Usus halus secara selektif mengabsorbsi produk digesti.Fungsi usus halus yaitu :  Mengakhiri proses pencernaan makanan yang dimulai di mulut dan di lambung. 2004 . Usus besar tidak memiliki vili. c) Sejumlah bakteri dalam kolon mampu mencerna sejumlah kecil selulosa dan memproduksi sedikit kalori nutrient bagi tubuh dalam setiap hari. 456)  Kolon Kolon adalah bagian usus besar dari sekum sampai rektum. (Sloane. tidak memiliki lipatan-lipatan sirkular. dan diameternya lebih lebar.90 % air dan elektrolit dari kimus yang tersisa dan mengubah kimus dari cairan menjadi massa semi padat. Usus besar Usus besar atau kolon berbentuk tabung muskular berongga dengan panjang sekitar 1. (Price. 2004 . Katub ileoseikal mengendalikan aliran kimus dan ileum ke sekum dan mencegah terjadinya aliran balik bahan fekal dari usus besar ke dalam usus halus. 294) Fungsi usus besar adalah : a) Mengabsorbsi 80 % . Proses ini diselesaikan oleh enzim usus dan enzim pankreas serta dibantu empedu dan hati. (Sloane. d) Usus besar mengekskresi zat sisa dalam bentuk feses. 2006 . dan daya regangnya lebih besar dibanding usus halus. 2004 .5 cm.

Kolon asenden merentang dari sekum sampai ke tepi bawah hati disebelah kanan dan membalik secara horizontal pada fleksura hepatika.  Kolon Tranversum Kolon tranversum merentang menyilang abdomen di bawah hati dan lambung sampai ketepi lateral ginjal kiri. Bila defekasi tidak sempurna. Defekasi dapat dihambat oleh kontraksi voluntar otot sfingter eksterna dan levator ani. 456)  Rektum Membentang dari kolon sigmoid hingga anus (muara ke bagian luar tubuh). Terletak di dasar pelvis. (Price. Otot sfingter eksterna dan interna berelaksasi pada waktu anus tertarik keatas melebihi massa feses. 1 inci terakhir dari rektum disebut sebagai kanalis ani dan dilindungi oleh otot spingter ani eksternus dan internus. Air tetap terus diabsorbsi dari 14 . tempatnya memutar kebawah pada fleksura splenik. lekukan bagian bawah membelok ke kiri sewaktu kolon sigmoid bersatu dengan rektum. dikendalikan oleh sistem saraf volunter Defekasi dikendalikan oleh sfingter ani eksterna dan interna. 2006 .  Kolon Desenden. 2004 . dindingnya diperkuat oleh dua sfingter : Sfingter ani interna. (Price. dikendalikan oleh saraf otonom Sfingter ani eksterna. Reflek defekasi terintegrasi pada medula spinalis segmen sakral kedua dan keempat. Merentang kebawah pada sisi kiri abdomen. 456)  Anus Adalah bagian dari saluran pencernaan yang menghubungkan rektum dengan dunia luar. Panjang rektum dan kanalis ani adalah sekitar 15 cm. 294)  Kolon Sigmoid Kolon sigmoid mulai setinggi Krista iliaka dan membentuk lekukan berbentuk S. (Sloane. rektum menjadi relaks dan keinginan defekasi menghilang. 2006 .

(Price. Hemoroid eksterna kronik (skin tag) berupa satu atau lebih lipatan kulit anus yang terdiri dari jaringan penyambung dan sedikit pembuluh darah.3 PATOFISIOLOGI Hemoroid timbul akibat kongesti vena yang disebabkan gangguan balik dari vena hemoroidalis Hemoroid ada dua jenis yaitu hemoroid interna dan eksterna. II. Hemoroid interna terjadi varises pada vena hemoroidalis superior media dan timbul disebelah dalam otot spingter ani. 2. sehingga feses menjadi keras dan menyebabkan lebih sukarnya defekasi. (1994) adalah sebagai berikut : Konstipasi/diare Sering mengejan Kongesti pelvia pada kehamilan Pembesaran prostat Fibroama uteri Tumor rectum Penyakit hati kronik yang disertai hipertensi portal. Tekanan pada feses yang berlebihan menyebabkan timbulnya kongesti vena hemoroidalis interna dan eksterna sehingga terjadi hemoroid (vena varikosa rektum). Hemoroid interna diklasifikasikan sebagai derajat I. Bentuk akut berupa pembengkakan bulat kebiruan pada pinggir anus dan sebenarnya merupakan hematoma.2 ETIOLOGI Beberapa faktor etiologi menurut Sylvia Anderson P. Hemoroid eksterna ada dua klasifikasi yaitu akut dan kronik. Hemoroid eksterna terjadi varises pada vena hemoroidalis inferior. 2.2. Hemoroid interna derajat I tidak menonjol melalui anus dan dapat ditemukan dengan proktoskopi.2. 458459). walaupun disebut sebagai hemoroid trombosis akut. Bentuk terasa sangat nyeri gatal karena ujung saraf pada kulit merupakan reseptor nyeri. dan III. dan timbul disebelah luar otot spingter ani. 2006 . Lesi 15 .massa feses.

Hemoroid yang mengalami stranggulasi adalah hemoroid yang mengalami prolapsus dimana suplai darah dihalangi oleh sfingter ani. hemoroid ini dapat mengecil secara spontan atau dapat direduksi secara manual. mengikuti penyebaran cabang-cabang vena hemoroidalis superior.biasanya terletak pada posterior kanan dan kiri dan anterior kanan. 16 . atau pruritus dan nyeri anus tidak dapat diatasi. Kebanyakan kasus hemoroid adalah hemoroid campuran interna dan eksterna. Gejala hemoroid interna yang paling sering adalah perdarahan tanpa nyeri karena tidak ada serabut-serabut nyeri pada daerah ini. terjadi prolapsus. dan tampak sebagai pembengkakan globular kemerahan. Kebanyakan penderita hemoroid tidak memerlukan pembedahan. trombosis. Hemoroid interior derajat II dapat mengalami prolapsus melalui anus setelah defekasi. Komplikasi hemoroid yang paling sering adalah perdaraha. Eksisi bedah dapat dilakukan bila perdarahan menetap. dan stranggulasi. Hemoroid interna derajat III mengalami prolapsus secara permanen. dan penggunaan supositoria. Pengobatan berupa kompres duduk atau bentuk pemanasan basah lain.

2.2.4 PATHWAY KEPERAWATAN Bendungan vena pleksus hemoroid Gangguan aliran balik vena ↑hemoroid Tekanan vena meningkat Dilatasi Distensi dan stasis vena Kongesti vena rektalis superior dan media Pembengkakan globular kemerahan Prolapsus saat defekasi Prolapsus permanen Pembedahan Stranggulasi Respon psikologis pre operatif Nyeri Ansietas Luka insisi Spasme otot Takut gerak Post operatif Perdarahan saat defekasi Nyeri Mengabaikan defekasi Kongesti vena pleksus rektalis inferior Pembengkakan pinggir anus bulat kebiruan Edema/ hematoma PK hemoragi Konstipasi Peristaltik usus menurun Konstipasi Perubahan eliminasi urine 17 .

terjadi setelah defekasi dan jarang terjadi perdarahan. 2.2.org.2. terletak diatas garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa anus. terletak dibawah garis anorektal dan ditutupi oleh mukosa usus. hemoroid ini tetap berada di dalam anus. (www. prolapsus dapat kembali dengan dibantu.  Hemoroid eksterna Hemoroid ini dikarenakan adanya dilatasi (pelebaran pembuluh darah) vena hemoroidales inferior.6 KLASIFIKASI 1. Berdasarkan asal / tempat penyebabnya:  Hemoroid interna Hemoroid ini berasal dari vena hemoroidales superior dan medial. benjolan dapat masuk kembali dengan spontan. Hemoroid interna diklasifikasikan lagi berdasarkan perkembangannya :   Tingkat 1 : biasanya asimtomatik dan tidak dapat dilihat. hemoroid ini keluar dari anus (wasir luar) 2. 2006) 18 . Tingkat 4 : terjadi prolaps dan sulit kembali dengan spontan. Tingkat 2 : gejala perdarahannya berwarna merah segar pada saat defekasi (buang air besar) benjolan dapat dilihat disekitar pinggir anus dan dapat kembali dengan spontan.fkuii. sering timbul nyeri hebat akibat inflamasi dan edema yang disebabkan oleh trombosis (pembekuan darah dalam hemoroid) sehingga dapat menimbulkan iskemia dan nekrosis pada area tersebut.2.5 MANIFESTASI KLINIS Hemoroid menyebabkan tanda dan gejala: Rasa gatal dan nyeri Perdarahan berwarna merah terang pada saat BAB Pada hemoroid eksternal. jarang terjadi perdarahan.   Tingkat 3 : prolapsus hemoroid.

6) Tirah baring. secara tertutup. hanya terjadi apabila yang pecah adalah pembuluh darah besar. 2005) Terapi medikal hanya digunakan untuk kasus ringan. atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang. trombosis. dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang terbukti secara bermakna efektif menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang. 5) Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi. Hemoroid dapat membentuk pintasan portal. Apabila hemoroid keluar. 19 . dan tidak dapat masuk lagi (inkarserata/terjepit) akan mudah terjadi infeksi yang dapat menyebabkan sepsis dan bisa mengakibatkan kematian. (www. Anemia terjadi secara kronis sehingga sering tidak menimbulkan keluhan pada penderita walaupun Hb sangat rendah karena adanya mekanisme adaptasi. atau secara submukosa.8 TERAPI Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps. 3) Diet tinggi serat. dan apabila hemoroid semacam ini mengalami pendarahan.suaramerdeka. 4) Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus. Bila terjadi komplikasi perdarahan.7 KOMPLIKASI Pendarahan akut pada umumnya jarang. Yang lebih sering terjadi yaitu pendarahan kronis dan apabila berulang dapat menyebabkan anemia karena jumlah eritrosit yang diproduksi tidak bisa mengimbangi jumlah keluar.2. hemoroid tanpa komplikasi dengan manifestasi ringan. diatermi bipolar dan terapi laser. 2) Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi.com. Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka.2. 7) Tindakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah. 2. Pengobatan meliputi : 1) Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang baik. maka darah dapat sangat banyak.2.

11) Laser Nd:YAG digunakan terutama pada hemoroid eksternal.8) Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. 2). Medis 1) Farmakologis Menggunakan obat untuk melunakkan feses / psillium akan mengurangi sembelit dan terlalu mengedan saat defekasi. Obat untuk menghentikan perdarahan. Nonfarmakologis 20 .2. banyak digunakan adalah campuran diosmin (90%) dan hesperidin (10%). Obat ini tersedia dalam dua bentuk yaitu dalam bentuk supositoria untuk hemoroid interna.2. 10) Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. 162) 2.10 PENATALAKSANAAN A. 2002 .9 PEMERIKSAAN PENUNJANG Pemeriksaan yang dilakukan antara lain : 1) Pemeriksaan colok dubur 2) Anorektoskopi (untuk melihat kelainan anus dan rektum) (www. 1138) 2. Menggunakan obat untuk mengurangi/menghilangkan keluhan rasa sakit. (Smeltzer. 4) Proctoscopi atau colonoscopy (untuk menunjukkan hemoroid internal) (Reeves. dan dalam bentuk krim / salep untuk hemoroid eksterna.suaramerdeka. 2005) 3) Pemeriksaan rectal dan palpasi digital. gatal. dengan demikian resiko terkena hemoroid berkurang. 1999 . 9) Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-karet. dan kerusakan pada daerah anus.com.

Menghindari makanan yang sulit dicerna oleh usus. 2006) B. dapat diberikan obat hemostatik seperti asam traneksamat yang 21 . Penyinaran sinar laser. serat selulosa yang tidak dapat diserap selama proses pencernaan makanan dapat merangsang gerak usus agar lebih lancar. Pembedahan Terapi bedah dilakukan pada hemoroid derajat III dan IV dengan penyulit prolaps. Prolaps akan menjadi layu dan putus tanpa rasa sakit. - Penderita hemoroid dianjurkan untuk menjaga kebersihan lokal daerah anus dengan cara merendam anus dalam air selama 10-15 menit tiga kali sehari.- Perbaiki pola hidup (makanan dan minum): perbanyak konsumsi makanan yang mengandung serat (buah dan sayuran) kurang lebih 30 gram/hari. atau secara submukosa. Selain itu penderita disarankan untuk tidak terlalu banyak duduk atau tidur. Mengurangi makanan yang terlalu pedas atau terlalu asam. dilakukan dengan cara menyuntikkan obat langsung kepada benjolan / prolaps hemoroidnya. Jika terlalu banyak jongkok otot panggul dapat tertekan kebawah sehingga dapat menghimpit pembuluh darah. Perbanyak minum air putih 30-40 cc/kg BB/hari. 3). kopi. selain itu serat selulosa dapat menyimpan air sehingga dapat melunakkan feses. lebih baik banyak berjalan. trombosis. Tindakan minimal invasif Dilakukan jika pengobatan farmakologi dan non farmakologi tidak berhasil.org. Bila terjadi komplikasi perdarahan. tindakan yang dapat dilakukan diantaranya adalah : Skleroskopi hemoroid. - Perbaiki pola buang air besar : mengganti closet jongkok menjadi closet duduk. dilakukan dengan cara mengikat hemoroid. Tidak mengkonsumsi alkohol. Dialiri arus listrik (elektrokoagulasi) Hemoroideolysis (www. secara tertutup. Ligasi pita karet.fkuii. Disinari sinar infra red. Pilihan pembedahan adalah hemoroidektomi secara terbuka. atau hemoroid yang besar dengan perdarahan berulang. dan minuman bersoda.

terbukti secara bermakna efektif menghentikan perdarahan dan mencegah perdarahan ulang.2.: berjalan) 3) Makan makanan berserat 4) Hindari terlalu banyak duduk 5) Jangan merokok. 8) Injeksi larutan sklerosan untuk hemoroid berukuran kecil dan berdarah. minum minuman keras. narkoba. diatermi bipolar dan terapi laser. 2) Menghindari mengejan yang berlebihan selama defekasi.com. 6) Hindari hubunga seks yang tidak wajar 7) Minum air yang cukup 8) Jangan menahan kencing dan BAB 9) Jangan menggaruk dubur secara berlebihan 10) Jangan mengejan berlebihan 22 .suaramerdeka. 5) Rendam duduk dengan salep dan supositoria yang mengandung anastesi. dll.11 PENCEGAHAN Upaya yang dapat dilakukan untuk mencegah terjadinya hemoroid antara lain: 1) Jalankan pola hidup sehat. 6) Tirah baring. 10) Hemoroidektomi kriosirurgi adalah metode untuk mengangkat hemoroid dengan cara membekukan jaringan hemoroid selama waktu tertentu sampai timbul nekrosis. 11) Laser Nd:YAG digunakan terutama pada hemoroid eksternal. 2002 . Pengobatan meliputi : 1) Gejala hemoroid dan ketidaknyamanan dapat dihilangkan dengan hygiene personal yang baik. 2005) Terapi medikal hanya digunakan untuk kasus ringan. 4) Pemberian laksatif yang berfungsi mengabsorbsi air saat melewati anus. (Smeltzer. (www. 3) Diet tinggi serat. 1138) 2. 9) Tindakan bedah konservasif hemoroid internal adalah prosedur ligasi pita-karet. 7) Tindakan non operatif seperti : fotokoagulasi infra merah. 2) Olah raga secara teratur (ex. hemoroid tanpa komplikasi dengan manifestasi ringan.

2. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri selama defekasi. Apakah terjadi selama defekasi ?. Apakah warnanya ?. dan area perineal akan adanya hemoroid.3. Apakah terdapat perdarahan dari rectum ?. iritasi.1 PENGKAJIAN A. Risiko ketidakefektifan penatalaksanaan program terapeutik. 3. Nyeri berhubungan dengan iritasi. 5.3. Berapa lama nyeri tersebut ? adakah nyeri abdomen yang berhubungan dengan hal itu ?. 23 . dan pekerjaan. atau pus. Riwayat kesehatan Riwayat kesehatan diambil untuk menentukan adanya rasa gatal. Seberapa banyak ?. fisura. B. dan nyeri beserta karakteristiknya. rasa terbakar. Pertanyaan lain berhubung dengan pola eliminasi dan penggunaan laksatif. 2.11) Duduk berendam pada air hangat 12) Minum obat sesuai anjuran dokter 2.3 KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN HEMORROID 2. Masalah kolaboratif yang mungkin muncul adalah Potensial Komplikasi (PK) hemoragi. masukan serat. Adakah cairan lain seperti mucus atau pus ?. Pengkajian Objektif Pengkajian objektif mencakup menginspeksi feses akan adanya darah atau mucus. Ansietas berhubungan dengan rencana pembedahan. riwayat diet. Seberapa sering ?. tekanan. jumlah latihan. diagnosa keperawatan yang utama adalah sebagai berikut : 1. 4.2 DIAGNOSA KEPERAWATAN Berdasarkan pengkajian. tingkat aktifitas. Perubahan eliminasi urinarius berhubungan dengan rasa takut nyeri pada pasca operatif. dan sensitifitas pada area rectal/anal sekunder akibat penyakit hemoroid dan spasme sfingter pada pasca operatif.

2. Tujuan Tujuan utama adalah sebagai berikut : 1. Pertahankan privasi klien saat memberikan tindakan keperawatan. Mencegah terjadinya komplikasi 2. Masukan cairan sedikitnya 2 liter sehari untuk memberikan hidrasi yang adekuat. Berikan laksatif sesuai resep. Klien patuh dengan program terapeutik 6. Menurunkan Ansietas 1. 4. C. Identifikasi kebutuhan psikologis khusus dan rencana asuhan yang bersifat individu. 5. Menganjurkan pasien untuk latihan relaksasi sebelum defekasi akan membantu merilekskan otot-otot perineal abdomenyang kemungkinan berkonstriksi atau mengalami spasme abdomen. Pasien dianjurkan untuk miring guna merangsang usus dan merangsang keinginan defekasi sebisa mungkin. 3.3 PERENCANAAN 1. Menghilangkan konstipasi 2. Menghilangkan Nyeri 24 . Menghilangan nyeri 4. 2. 4. 3. Berikan pengharum ruangan bila balutan berbau menyengat. Anjurkan makan tinggi serat untuk melancarkan defekasi. Intervensi Keperawatan A. Meningkatkan eliminasi urinarius 5.2. B. Berikan privasi dengan membatasi pengunjung bila pasien menginginkannya. 2. Menghilangkan Konstipasi 1. Menurunkan ansietas 3.

E. 1. 5. 3. Periksa dengan sering daerah operasi terhadap munculnya perdarahan rectal. D. laksatif yang dapat digunakan dengan aman. Hindari pemberian panas basah karena dapat menyebabkan dilatasi dan perdarahan. Berikan rendaman duduk tiga atau empat kali sehari untuk menghilangkan rasa sakit dan nyeri dengan merelakskan spasme sfingter. hipotensi. Berikan agen anaestetik topical sesuai resep untuk menghilangkan iritasi local dan rasa sakit. Berikan kompres hangat untuk meningkatkan sirkulasi dan meringankan jaringan yang teriritasi. gelisah. 25 . Pemantauan dan Pelaksanaan Komplikasi 1. Meningkatkan Eliminasi Urinarius 1. Dorong klien untuk memilih posisi nyaman. 2. Anjurkan klien melakukan posisi telungkup dengan interval tertentu untuk meningkatkan drainase dependen cairan edema. 2. Berikan bantalan flotasi dibawah bokong pada saat duduk dapat membantu menurunkan nyeri. Pendidikan pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah. 7. untuk mencegah konstipasi. Bantu klien untuk mendengarkan aliran air 3. 3. 6. Berikan salep analgesik sesuai resep untuk menurunkan nyeri. haus). F. 2. Pasien diinformasikan untuk diet yang ditentukan. Instruksikan klien untuk mempertahankan kebersihan area perianal.1. Pantau haluaran urin dengan cermat setelah pembedahan. 3. Tingkatkan masukan cairan 2. dan pentingnya latihan. 4. Lakukan pemasangan kateter 5. Kaji indicator sistemik perdarahan berlebihan (takikardia. Bantu klien meneteskan air diatas meatus urinarius 4. Dorong pasien untuk berespon dengan cepat ketika dorongan defekasi muncul. Instruksikan klien untuk diet tinggi cairan dan serat. 4.

         Menyusun waktu untuk defekasi. Ajarkan cara melakukan rendam duduk pada klien setiap setelah defgekasi selama 1 sampai 2 minggu setelah pembedahan. Mengalami sedikit ansietas. Berespon terhadap dorongan untuk defekasi dan menyediakan waktu untuk duduk ditoilet dan mencoba untuk defekasi.   Menepapkan kompres hangat/dingin pada area rectal / anal.5. biasanya setelah makan atau setelah tidur. Dorong klien untuk ambulasi sesgera mungkin. Menyusun waktu untuk defekasi. . Mendapatkan pola eliminasi normal. Melakukan rendam duduk 3 atau 4 kali sehari. Mengubah posisi tubuh dan aktifitas untuk meminimalkan nyeri dan ketidaknyamanan. Mengalami feses lunak dan berbentuk secara teratur. Mentaati program terapeutik. Menambah makanan tinggi serat pada diet. Meningkatkan masukan cairan sampai 2 L/24 jam. biasanya setelah makan atau pada waktu tidur. 6. EVALUASI Hasil yang diharapkan adalah sebagai berikut : 1. Mengalami nyeri sedikit.       Mempertahankan area perianal kering. Menggunakan latihan relaksasi sesuai kebutuhan. Melaporkan penurunan ketidaknyamanan pada abdomen. 26 . Bebas dari masalah perdarahan Insisi bersih Menunjukkan tanda vital normal Menunjukkan tidak ada tanda hemoragi. anjurkan latihan tingkat sedang.

kebun bunga.BAB III TINJAUAN KASUS 3.1.30 WIB pukul : 11. ”S” : 38 tahun : Laki-laki : Islam : SMA : Swasta : Komp. MRS Tgl.Rec Diagnosa : Tn.1 Identitas. Sukarami Indah Kec. Nama Umur Jenis kelamin Agama Pendidikan Pekerjaan Alamat Tgl. Nama Umur Jenis kelamin : Tn ”M” : 30 tahun : Laki-laki 27 . Penanggung jawab. a.00 WIB b.00 WIB pukul : 09. Plg : 4 februari 2012 : 6 februari 2012 : 9 Februari 2012 : 38 80 70 : Post operasi Hemoroid Hari ke 3. pukul : 09.Med. Identitas klien. Pengkajian No.1 PENGKAJIAN 3. Operasi Tgl.

Riwayat Penyakit masa lalu Klein mengatakan kurang lebih 10 tahun yang lalu pernah mengalami penyakit tersebut. tetapi tidak separah yang dialami oleh klien.1. Sosial dan spritual. dan konstipasi. 3. f. c. Plg : Wiraswasta : Adik kandung Klien mengatakan nyeri pada anusnya apabila beranjak malam.1. e. : Islam : SMA : Komp. Riwayat Kesehatan keluarga Dalam keluarga klien ada yang mempunyai penyakit seperti ini. Sukarami Indah Kec.kebun bunga. Keluhan utama. klien hanya berbaring di atas tempat tidur dan semua aktifitasnya di bantu keluarga.semenjak operasi pada tanggal 6 februari 2012. yaitu ibu dan kakak perempuannya. Riwayat Sosial 28 . b. a.Agama Pendidikan Alamat Pekerjaan Hub dengan klien 3. Riwayat Psikologis Klein merasa cemas akan keadaanya karena klien takut penyakit yang di deritanya tidak akan sembuh. d. Riwayat Penyakit sekarang Klien datang ke rumah sakit pada tanggal 4 febuari 2012 dengan keluhan BAB berdarah kurang lebih 1 tahun yang lalu.3 Riwayat Psiko.2 Riwayat kesehatan.

· 4-5 x/hari 29 . sayur yang dihabiskan. g.4 Pola aktivitas. 3. · Minum · Klien minum 5-7 · Klien gelas/hari minum 5-7 gelas/hari 2 Pola Eliminasi · BAB · 1x sehari · Setelah operasi klien baru BAB 1 kali. Riwayat Spiritual Klien rajin beribadah tetapi sejak dirumah sakit klien jarang sekali beribadah. komposisi bubur dan sehari dengan porsi makan habis komposisi nasi dan lauk.1. No 1 Pola Aktivitas Pola nutrisi · Makan Dirumah Dirumah Sakit · Klien makan 3x · Klien makan 3x sehari dengan makan ½ porsi.Klien menjalankan hubungan baik dengan lingkungan di sekitarnya dan hubungan dengan petugas kesehatan baik dan selalu menjawab pertanyaan dengan baik. pada saat · BAK · 5 – 6 x/hari BAB klien mengeluh nyeri.

3 Pola Tidur · Malam · Klien jam/hari · Klien terganggu dan tidurnya sering tidur 8-9 terbangun saat tengah malam karena nyeri pada daerah anusnya. Pemeriksaan umum 1. h. Kesadaran 3. Keadaan umum 2.1. TB : Baik : Compos mentis : 170 cm 30 .5 Pemeriksaan fisik. · Siang · Klien tidur 2-3 jam · Klien tidur 1-2 jam 4 Pola aktivitas · Mandiri · Dibantu keluarga 5 Pola Kebersihan Diri · Mandi · Gosok gigi · Keramas · 2x sehari · 2x sehari · 2x sehari · 1x sehari · 2x sehari · 2x seminggu 3.

Hidung Bentuk Kebersihan 4. tidak ada sekret . tidak ada caries : Tidak pecah-pecah : Tidak kotor 31 : Simetris : Hitam : Bersih. Mata Bentuk Konjungtiva Sklera Pupil Penglihatan 3.4. Vital Sign T/D Nadi Suhu RR : 60 kg : 140/90 mmHg : 90 x/menit : 36.2 derajat celcius : 23 x/menit i. tidak ada ketombe : Simetris : Tidak Anemis : Anikterik : Isokor : Dapat melihat dengan baik : Simetris : Bersih. BB 5. Kepala Bentuk Rambut Kebersihan 2. Pemeriksaan khusus 1. Mulut Gigi Bibir Lidah : Baik.

Abdomen Bentuk Keadaan perut Nyeri 7. tidak ada penyakit kulit : Nyeri post operasi di bagian anus klien.5. Genitalia keadaan Kebersihan Nyeri Skala nyeri : Baik : Cukup. tidak ada penyakit kulit Terapi IVFD RL 500 cc drip ketorolac 2 amp/kolf Gtt 20x/mnt Injeksi Asam Tranexamat 2x1 amp dan Sirup Laxadin 3x1 sdt 32 . Ekstremitas Atas Bawah 8. : 4-5 : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada ascites : Datar : Tidak ada : Elastis : Sawo matang : Bersih. Kulit Turgor Warna Kebersihan 6.

6 ANALISA DATA No 1 DS :  Klien mengatakan Data Kemungkinan Penyebab Bendungan vena pleksus hemoroid Masalah Nyeri nyeri pada daerah luka sekitar operasi DO :  Klien tampak meringis  TTV : T/D : 140/90 mmhg Distensi dan statis vena dilatasi Gangguan aliran balik vena Suhu : 36.2O C Nadi RR : 90 x/menit : 23 x/menit Kongesti vena rektalis superior dan media Skala nyeri : 4-5 Pembengkakan globular kemerahan Tindakan Pembedahan Luka insisi 33 .3.1.

2. DS :  Klien susah operasi  Klien mengatakan mengatakan BAB setelah Bendungan vena pleksus hemoroid Konstipasi Gangguan aliran balik vena tidak nyaman karena belum BAB dilatasi Distensi dan statis vena DO :  Klien tampak gelisah  BAB sedikit dan Kongesti vena rektalis superior dan media bercampur darah  TTV : T/D : 140/90 mmhg Pembengkakan globular kemerahan Suhu : 36. Peristaltik menurun Konstipasi 34 .2O C Nadi : 90 x/menit RR Klien selama : 23 x/menit tidak 3 BAB Hari Post operatif Tindakan Pembedahan semenjak operasi.

2O C Nadi RR : 90 x/menit Tindakan Pembedahan : 23 x/menit 35 . Distensi dan statis vena · Klien mengatakan saat pergi ke toilet dibantu oleh keluarga DO: · Klien tampak lemah  TTV : T/D : 140/90 mmhg Kongesti vena rektalis superior dan media Pembengkakan globular kemerahan Suhu : 36. DS: · Klien mengatakan Bendungan vena pleksus hemoroid Intoleransi Aktivitas aktivitasnya terhambat karena · Klien makan nyeri yang Gangguan aliran balik vena dirasakan. mengatakan dan minum dilatasi dibantu keluarga.Nyeri saat defekasi Mengabaikan dorongan untuk defekasi 3.

3. atas Luka Operasi Nyeri Intoleran Aktivitas Prioritas masalah 1. Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri.2 Diagnosa keperawatan 1. 2. Nyeri 2. Intoleran aktivitas berhubungan dengan nyeri pada luka post operasi 36 . Terpasang Infus pada ekstremitas bagian kanan. Konstipasi 3. Intoleransi aktivitas 3. Nyeri berhubungan dengan luka post operasi.

„S‟ ternyata terdapat kesenjangan antara teori dengan penerapan yang dilaksanakan di lapangan praktik RSUD Palembang Bari. cermat dan sistematis melalui wawancara.BAB IV PEMBAHASAN Setelah penulis mempelajari teori tentang Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan post operasi hemmoroid dan melakukan secara langsung asuhan keperawatan pada pasien Tn. setelah dilakukan pendekatan. 4. pelaksanaan dan evaluasi sebagai berikut . 37 . diagnosa keperawatan. Hal ini disebabkan karena tingkat kegawatan. perencanaan. “S” dan keluarga bisa kooperatif dalam menjawab semua pertanyaan yang kamik berikan. Namun. Adapun uraian berikut yang penulis amati dan dapatkan mulai dari pengkajian.”S” dan keluarga. serta di dukung oleh sumber-sumber seperti catatan medika dan hasil pemeriksaan penunjang.”S” pada mulanya menemui hambatan dikarenakan tidak terjalinnya hubungan rasa saling percaya dengan Tn. dan pemahaman terhadap penyakit keadaaan yang dialami saat ini. oleh karena itu pengkaji perlu melakukan secara teliti. akhirnya Tn. sehingga didapat data yang benar-benar valid. observasi dan pemeriksaan fisik secara langsung. Pengkajian yang kami lakukan pada tanggal 9 Februari 2012 dengan Tn.1 PENGKAJIAN Pengkajian merupakan tahap awal dari proses keperawatan. persepsi individu.

”S” dengan post operasi hemoroid dengan cara mengelompokkan data-data yang ada sesuai dengan keperawatan yang muncul. Masalah keperawatan ini ditunjang oleh data subjektif yaitu klien mengatakan nyeri pada luka bekas operasi di daerah anus. Masalah keperawatan ini ditunjang oleh data subjektif yaitu klien mengatakan susah BAB setelah operasi dan klien mengatakan merasa tidak nyaman karena belum BAB. maka penulis menganalisa data yang ada pada klien Tn. Masalah keperawatan kedua. yaitu Rasa nyaman : Nyeri. yaitu Intoleransi aktivitas. Masalah keperawatan ketiga. Masalah keperawatan ini ditunjang oleh data subjektif yaitu klien mengatakan aktivitasnya terhambat karena nyeri yang dirasakan. Konstipasi 38 . Masalah keperawatan pertama.2O C Nadi RR : 90 x/menit : 23 x/menit Sedangkan kemungkinan penyebab dari konstipasi ini berhubungan dengan mengabaikan dorongan defekasi yang diakibatkan karena nyeri pada luka bekas operasi.2 ANALISA DATA DAN DIAGNOSA KEPERAWATAN Setelah data pengkajian dikumpulkan. maka kami simpulkan diagnosa keperawatan yang muncul adalah Nyeri berhubungan dengan luka post operasi.4. Jadi kami simpulkan diagnosa keperawatan yang muncul adalah berhubungan dengan mengabaikan dorongan defekasi akibat nyeri. klien mengatakan makan dan minum pasien masih dibantu oleh keluarga dan klien juga mengatakan ketika pergi ke kamar mandi juga masih dibantu keluarga. Data objektif yaitu klien tampak meringis dan hasil observasi TTV klien:     TD : 140/90 mmhg Suhu : 36.2O C Nadi RR : 90 x/menit : 23 x/menit Dari data-data yang didapatkan. yaitu Konstipasi. Data objektif yaitu klien tampak gelisah dan adanya darah di dalam feces pasien serta hasil observasi TTV klien:     TD : 140/90 mmhg Suhu : 36.

terpasang Infus pada ekstremitas atas bagian kanan dan hasil observasi TTV :     TD : 140/90 mmhg Suhu : 36.2O C Nadi RR : 90 x/menit : 23 x/menit Jadi. penulis membuat perioritas masalah sesuai dengan kebutuhan Maslow yaitu mengutamakan kebutuhan dasar biologis kemudian menyusul kebutuhan yang lain. dokter dan petugas kesehatan lainnya. Dalam membuat perencanaan diperlukan kolaborasi dengan tim kesehatan yang lain seperti petugas lab. 4.Data objektif klien yaitu klien tampak lemah. Pada prinsipnya perencanaan disusun dalam rangka mengurangi dan mengatasi masalah pasien sehingga tindakan yang dilakukan tidak menyimpang dari hasil yang diharapkan. masalah keperawatan yang kami simpulkan adalah intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri luka post operasi. Perencanaan keperawatan disusun berdasarkan teori yang disesuaikan dengan kondisi pasien saat dikaji. Dalam membuat perencanaan. 39 . radiologi. Pada prinsipnya perencanaan ini disusun dalam rangka mengurangi dan mengatasi serta mencegah masalah kesehatan yang mungkin pada pasien.3 RENCANA KEPERAWATAN Perencanaan merupakan mata rantai antara penerapan kebutuhan pasien dengan melaksanakan tindakan keperawatan.

Selanjutnya untuk diagnosa keperawatan konstipasi berhubungan dengan mengabaikan defekasi akibat nyeri.4 PELAKSANAAN DAN EVALUASI KEPERAWATAN Setelah melakukan tindakan keperawatan pada Tn. Hasilnya klien beraktivitas masih dibantu keluarga. 40 .4. tindakan yang kami lakukan antara lain: membantu perawatan diri klien. Setelah melakukan tindakan keperawatan. mengevaluasi respon klien terhadap aktivitas yang diberikan. tindakan keperawatan yang kami lakukan antara lain: memberikan asupan cairan yang adekuat. Hasilnya klien mengatakan nyeri yang dirasakan sudah sedikit berkurang dan wajah klien sudah terlihat agak tenang. kami melakukan evaluasi terhadap tindakan yang kami berikan tadi. menganjurkan klien untuk makan yang berserat. mendorong teknik relaksasi sebelum defekasi. tindakan keperawatan yang kami lakukan antara lain: Mengkaji skala nyeri klien. kami melakukan evaluasi terhadap tindakan yang kami berikan. memberikan teknik relaksasi dan berkolaborasi dengan tim medis dalam pemberian obat analgetik. membantu mengatur posisi klien senyaman mungkin. yaitu intoleran aktivitas berhubungan dengan nyeri pada luka post operasi. klien pergi ke kamar mandi secara mandiri dan klien makan dan minum masih dibantu keluarga. dan berkolaborasi dalam meberikan obat laksatif yaitu sirup laxadin. Untuk diagnosa keperawatan yang ketiga. dan membantu klien bergerak secara bebas.”S” dengan diagnosa post operasi hemoroid dengan diagnosa keperawatan Nyeri berhubungan dengan luka post operasi. Hasilnya klien mengatakan jika BAB masih terasa nyeri dan klien merasa nyaman setelah BAB walaupun sedikit. Setelah melakukan tindakan. kami melakukan evaluasi terhadap tindakan yang kami berikan. Setelah melakukan tindakan. menganjurkan klien untuk menyediakan waktu yang sama untuk defekasi.

Bila masalah belum teratasi maka rencana dilanjutkan kembali.”S” belum teratasi seperti aktivitas klien masih dibantu oleh keluarga 41 . Pelaksanaan keperawatan pada pasien dilakukan sesuai dengan keperawatan yang timbul.BAB V PENUTUP 5. tetapi tidak semua masalah keperawatan yang ada dalam teori ditemukan pada pasien dengan penyakit yang sama. 5. kemampuan penulis dan fasilitas RSUD Palembang Bari. Evaluasi keperawatan dilakukan pada dua hari setelah pengkajian yaitu pada tanggal 10 dan 11 Februari 2012.1 KESIMPULAN Setelah melakukan asuhan keperawatan pada post hemoroid khususnya pada pasien Tn. penulis melakukan pengkajian pada tanggal 9 Februari 2012. maka penulis dapat mengambil kesimpulan sebagai berikut : 1. Dari hasil pengkajian akhirnya dapat dirumuskan diagnosa keperawatan. dokter dan keluarga. pelaksanaan tindakan dan evaluasi dapat dilakukan karena adanya kerja sama antara pasien dengan perawat. 3. 2.”S” yang dirawat di ruang perawatan Bedah Palembang Bari. tetapi tidak semua diagnosa keperawatan secara teoritis dilakukan implementasi. 4. Pada saat pengkajian terjadi kerjasama antara pasien dengan penulis sehingga mampu mengumpulkan data dan menemukan masalah keperawatan juga data diperoleh melalui pemeriksaan fisik secara langsung kepada pasien. Diagnosa Keperawatan yang diangkat oleh penulis untuk pasien dengan diagnosa post operasi Hemoroid adalah: a) b) Nyeri berhubungan dengan luka post operasi Konstipasi berhubungan dengan mengabaikan dorongan untuk defekasi akibat nyeri c) Intoleransi aktivitas berhubungan dengan nyeri pada luka post operasi. Evaluasi masalah yang dilakukan pada pasien Tn. Perencanaan yang dibuat untuk menyelesaikan masalah pasien berdasarkan diagnosa keperawatan yang sesuai dengan kondisi pasien.

3. 2. dengan arahan atau bimbingan lapangan praktek dengan keperawatan medikal bedah. Bagi RSUD Palembang BARI Khususnya untuk ruang Perawatan Bedah agar selalu mempertahankan kualitas dan mutu pelayanan serta sarana dan prasarana dalam memberikan asuhan keperawatan.5. Bagi pendidikan Agar pendidikan dapat memberikan fasilitas demi kelancaran proses prakek untuk mengembangkan ilmu pengetahuan tentag keperawatan medikal bedah. Bagi mahasiswa Agar mahasiswa dapat mengimplementasikan ilmu yang telah didapat dan megikuti proses pelaksanaan praktek lapangan biasa diikuti dengan baik.2 SARAN Adapun saran dari penulis yaitu : 1. 42 .

( 1994 ). Stanley L. ( 2001 ). (1999) Patologi Umum dan Sistematik. Peter Anugerah. Jakarta.DAFTAR PUSTAKA Smeltzer Suzanne C. Price Sylvia A. EGC 43 . et al. Jakarta. alih bahasa.2. EGC. edisi 6.. editor edisi bahasa Indonesia..2. alih bahasa. edisi 8. ( 1997 ). Diagnosa Keperawatan Buku Saku. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner & Suddarth.E. Sarjadi dkk. J. ed. EGC. Buku Ajar Patologi II (Basic Pathology).C. edisi 8. Jakarta. Yasmin Asih. Jakarta. EGC. Bare Brenda G. vol.Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit.(1995). EGC Underwood. Jakarta. Carpenito Lynda Juall. alih bahasa. Robbins. Wilson Lorraine M. staf pengajar laboratorium patologi anatomi FK UNAIR.. alih bahasa.. jilid 1. Monica Ester.