You are on page 1of 18

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. Pelarut paling umum digunakan dalam kehidupan sehari-hari adalah air. Pelarut lain yang juga umum digunakan adalah bahan kimia organik (mengandung karbon) yang juga disebut pelarut organik. Pelarut biasanya memiliki titik didih rendah dan lebih mudah menguap, meninggalkan substansi terlarut yang didapatkan. Untuk membedakan antara pelarut dengan zat yang dilarutkan, pelarut biasanya terdapat dalam jumlah yang lebih besar (http://id.wikipedia.org/wiki/Pelarut). Sebagian besar reaksi kimia secara luas dilakukan di dalam larutan. Larutan terdiri dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute). Pelarut (solvent) pada umumnya adalah zat yang berada pada larutan dalam jumlah yang besar, sedangkan zat lainnya dianggap sebagai zat terlarut (solute). Pelarut memenuhi beberapa fungsi dalam reaksi kimia, dimana pelarut melarutkan reaktan dan reagen agar keduanya bercampur, sehingga hal ini akan memudahkan penggabungan antara reaktan dan reagen yang seharusnya terjadi agar dapat merubah reaktan menjadi produk. Salah satu prinsip dalam mengetahui kelarutan yaitu adanya istilah like dissolves like, dimana reaktan yang nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar sedangkan reaktan yang polar akan larut pada pelarut polar.

B. Tujuan Praktikum Tujuan praktikun kimia organik kali ini adalah untuk mengetahui kepolaritasan atau kelarutan senyawa senyawa organik pada beberapa pelarut yang digunakan.

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Informasi Sampel 1. Sucrosum Sakarosa Sukrosa C11H22O11

Pemerian : hablur putih atau tidak berwarna, massa hablur atau berbentuk kubus, atau serbuk hablur putih, tidak berbau, rasa manis, stabil di udara. Larutannya netral terhadap lakmus. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, lebih mudah larut dalam air mendidih, sukar larut dalam etanol, tidak larut dalam kloroform dan dalam eter. 2. Glycerolum Gliserin C3H8O3

Pemerian : cairan seperti sirup, jernih tidak berwarna, tidak berbau, manis diikuti rasa hangat, higrokopis, jika disimpan beberapa lama pada suhu rendah dapat memadat membentuk massa hablur tidak berwarna yang tidak melebur hingga suhu mencapai lebih kurang 200. Kelarutan : dapat bercampur dengan air, dan dengan etanol, praktis tidak larut dalam kloroform, eter, minyak lemak. 3. Etanol CH3CH2OH Pemerian : cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan mudah bergerak, bau khas, rasa panas mudah terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak berasap. Kelarutan : sangat mudah larut dalam air, kloroform, eter. 4. Putih telur (Protein) Kelarutan : larut dalam air dan mengumpal bila dipanaskan atau bila dijenuhkan dengan larutan amonium sulfat. 5. Minyak Kelapa Sawit (Palm Oil) Pemerian : cairan jernih, berwarna kuning. Kelarutan : tidak larut dalam air dan alkohol, larut dalam aseton dan kloroform. 6. Antalgin Metampiron Antalgin C13H16N3NaO4S.H2O

Pemerian : serbuk hablur, putih atau putih kekuningan. Kelarutan : dapat larut 1:1,5 dalam air, 1:30 dalam alkohol, praktis tidak larut dalam eter. 7. Parasetamol Asetaminofen C8H9NO2

Pemerian : serbuk hablur, putih, tidak berbau, rasa sedikit pahit Kelarutan : larut dalam air mendidih dan dalam natrium hidroksida 1 N, mudah larut dalam etanol.

B. Kriteria Pelarut yang Baik Pelarut memenuhi beberapa fungsi dalam reaksi kimia, dimana pelarut melarutkan reaktan dan reagen agar keduanya bercampur, sehingga hal ini akan memudahkan penggabungan antara reaktan dan reagen yang seharusnya terjadi agar dapat merubah reaktan menjadi produk. Pelarut juga bertindak sebagai kontrol suhu, salah satunya untuk meningkatkan energi dari tubrukan partikel sehingga partikel-partikel tersebut dapat bereaksi lebih cepat, atau untuk menyerap panas yang dihasilkan selama reaksi eksotermik. Pada umumnya pelarut yang baik mempunyai kriteria sebagai berikut : 1. Pelarut harus tidak reaktif (inert) terhadap kondisi reaksi. 2. Pelarut harus dapat melarutkan reaktan dan reagen.

3. Pelarut harus memiliki titik didih yang tepat. 4. Pelarut harus mudah dihilangkan pada saat akhir dari reaksi. Kriteria kedua adalah dengan menggunakan prinsip like dissolves like, dimana reaktan yang nonpolar akan larut dalam pelarut nonpolar sedangkan reaktan yang polar akan larut pada pelarut polar.

C. Ukuran Untuk Menunjukkan Kepolaran Dari Suatu Pelarut Terdapat tiga ukuran yang dapat menunjukkan kepolaran dari suatu pelarut yaitu : 1. Momen dipol 2. Konstanta dielektrik 3. Kelarutannya dengan air Molekul dari pelarut dengan momen dipol yang besar dan konsanta dielektrik yang tinggi termasuk polar. Sedangkan molekul dari pelarut yang memilki momen dipol yang kecil dan konstanta dielektrik rendah diklasifikasikan sebagai nonpolar. Sedangkan secara operasional, pelarut yang larut dengan air termasuk polar, sedangkan pelarut yang tidak larut dalam air termasuk nonpolar.

D. Klasifikasi Pelarut 1. Pelarut Protik Polar Protik menunjukkan atom hidrogen yang menyerang atom elektronegatif yang dalam hal ini adalah oksigen. Dengan kata lain pelarut protik polar

adalah senyawa yang memiliki rumus umum ROH. Contoh dari pelarut protik polar ini adalah air (H2O), metanol (CH3OH), dan asam asetat (CH3COOH). 2. Pelarut Aprotik Dipolar Aprotik menunjukkan molekul yang tidak mengandung ikatan O-H. Pelarut dalam kategori ini, semuanya memiliki ikatan yang memilki ikatan dipol besar. Biasanya ikatannya merupakan ikatan ganda antara karbon dengan oksigen atau nitorgen. Contoh dari pelarut yang termasuk kategori ini adalah aseton [(CH3)2C=O] dan etil asetat (CH3CO2CH2CH3). 3. Pelarut Nonpolar Pelarut nonpolar merupakan senyawa yang memiliki konstanta dielektrik yang rendah dan tidak larut dalam air. Contoh pelarut dari kategori ini adalah benzena (C6H6), karbon tetraklorida (CCl4) dan dietil eter (CH3CH2OCH2CH3).

E. Tabel Kepolaran Pelarut Solvent Heksana Benzena Toluena Dietil eter Kloroform Etil asetat 1,4-Dioksana Rumus kimia Titik didih Konstanta Dielektrik 2.0 2.3 2.4 4.3 4.8 6.0 2.3 Massa jenis 0.655 g/ml 0.879 g/ml 0.867 g/ml 0.713 g/ml 1.498 g/ml 0.894 g/ml 1.033 g/ml

Pelarut Non-Polar CH3-CH2-CH2-CH269 C CH2-CH3 C6H6 80 C C6H5-CH3 111 C CH3CH2-O-CH2-CH3 35 C CHCl3 61 C CH3-C(=O)-O-CH277 C CH3 Pelarut Polar Aprotic /-CH2-CH2-O-CH2101 C CH2-O-\

Tetrahidrofuran Diklorometana Asetona Asetonitril Dimetilformamida Dimetil sulfoksida Asam asetat n-Butanol Isopropanol (IPA) n-Propanol Etanol Metanol Asam format Air

(THF) /-CH2-CH2-O66 C CH2-CH2-\ (DCM) CH2Cl2 40 C CH3-C(=O)-CH3 56 C (MeCN) CH3-CN 82 C (DMF) H153 C C(=O)N(CH3)2 (DMSO) CH3-S(=O)189 C CH3 Pelarut Polar Protic CH3-C(=O)OH 118 C CH3-CH2-CH2-CH2-OH CH3-CH(-OH)-CH3 CH3-CH2-CH2-OH CH3-CH2-OH CH3-OH H-C(=O)OH H-O-H 118 C 82 C 97 C 79 C 65 C 100 C 100 C

7.5 9.1 21 37 38 47 6.2 18 18 20 30 33 58 80

0.886 g/ml 1.326 g/ml 0.786 g/ml 0.786 g/ml 0.944 g/ml 1.092 g/ml 1.049 g/ml 0.810 g/ml 0.785 g/ml 0.803 g/ml 0.789 g/ml 0.791 g/ml 1.21 g/ml 1.000 g/ml

BAB III METODOLOGI PRAKTIKUM

A. Alat dan Bahan 1. Alat yang digunakan dalam praktikum ini antara lain tabung reaksi, pipet tetes, tissue, dll. 2. Bahan bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah larutan gula, gliserin, etanol, putih telur, minyak kelapa sawit, serbuk parasetamol dan serbuk antalgin sebagai sampel. Adapun reagen reagen dan bahan lain yang digunakan adalah aquadest, metanol, aseton, kloroform dan benzen.

B. Prosedur 1. Ambil 5 tabung reaksi yang bersih, lalu isi masing masing tabung dengan 2 ml : larutan gula, gliserin, etanol, putih telur dan minyak kelapa sawit. Tambahkan 2 ml air ke masing masing tabung reaksi dan amati apa yang terjadi. 2. Percobaan diulangi dengan menambahkan 2 ml : metanol, aseton, kloroform dan benzen. 3. Terakhir ganti sampel dengan jenis obat obatan yang sebelumnya telah digerus halus. Amati kelarutan setiap obat dalam air, metanol, aseton, kloroform dan benzen. Amati apa yang terjadi.

BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Hasil 1. Uji Kelarutan Zat Dalam Air No 1 2 3 4 5 Sampel Larutan Gula Gliserin Etanol Putih Telur Minyak Kelapa Sawit Hasil Pengamatan Larut Tidak Larut Larut Larut Tidak Larut

2. Uji Kelarutan Zat Dalam Berbagai Pelarut a. Larutan Gula No 1 2 3 4 b. Gliserin No 1 2 3 4 c. Etanol No 1 2 3 4 d. Putih Telur No 1 2 3 Pelarut Metanol Aseton Kloroform Benzen Pelarut Metanol Aseton Kloroform Hasil Pengamatan Larut Larut Tidak Larut Tidak Larut Hasil Pengamatan Terdenaturasi Terdenaturasi Terdiri dari 2 fase Pelarut Metanol Aseton Kloroform Benzen Hasil Pengamatan Larut Tidak Larut Larut Larut Pelarut Metanol Aseton Kloroform Benzen Hasil Pengamatan Larut Larut Tidak Larut Tidak Larut

Benzen

Terdiri dari 2 fase

e. Minyak Kelapa Sawit No 1 2 3 4 Pelarut Metanol Aseton Kloroform Benzen Hasil Pengamatan Tidak Larut Larut Larut Larut

3. Uji Tingkat Kelarutan Senyawa Obat Dalam Berbagai Pelarut a. Antalgin No Pelarut Hasil Pengamatan 1 Aquadest Tidak Larut 2 Metanol Tidak Larut 3 Aseton Tidak Larut 4 Kloroform Tidak Larut 5 Benzen Tidak Larut Jumlah endapan : Aquadest << Metanol << Benzen << Kloroform << Aseton b. Parasetamol No Pelarut Hasil Pengamatan 1 Aquadest Tidak Larut 2 Metanol Tidak Larut 3 Aseton Tidak Larut 4 Kloroform Tidak Larut 5 Benzen Tidak Larut Jumlah endapan : Aseton << Metanol << Aquadest << Kloroform << Benzen

B. Pembahasan 1. Uji kelarutan zat dalam air

Air adalah substansi kimia dengan rumus kimia H2O. Air bersifat tidak berwarna, tidak berasa dan tidak berbau. Zat kimia ini merupakan suatu pelarut yang penting, yang memilki kemampuan untuk melarutkan banyak zat kimia lainnya seperti, garam garam, gula, asam, beberapa jenis gas dan banyak macam molekul organik. Air merupakan pelarut yang tergolong pelarut polar sehingga dapat melarutkan senyawa senyawa polar lainnya dengan baik, namun kurang baik atau tidak dapat melarutkan senyawa senyawa yang bersifat non polar. Pada praktikum kali ini, sampel yang digunakan yaitu larutan gula, etanol dan putih telur dapat bercampur atau larut dalam air karena ketiga sampel tersebut bersifat polar. Sementara itu, pada giserin dan minyak kelapa sawit, air dan zat tersebut tidak dapat bercampur karena adanya perbedaan kepolaritasan. 2. Uji kelarutan zat dalam berbagai pelarut Metanol tergolong dalam senyawa alkohol primer dengan rantai alifatik dan bersifat polar. Aseton termasuk dalam senyawa keton alifatik yang dapat bercampur dengan air, etanol, eter dan kloroform, dari kelarutannya tersebut maka aseton dapat digolongkan dalam pelarut semipolar. Sementara itu, pelarut kloroform dan benzen termasuk dalam pelarut non polar yang memilki konstanta dielektrik yang rendah dan tidak dapat larut dalam air. Pada praktikum kali ini, larutan gula yang bersifat polar dapat larut atau bercampur dengan pelarut metanol yang bersifat polar dan aseton

yang merupakan pelarut semipolar, sementara itu pada pelarut klorofom dan benzen yang merupakan pelarut non polar, larutan gula tidak dapat bercampur atau terpisah menjadi dua fase. Pada sampel gliserin yang bersifat dapat bercampur dengan air dan etanol (bersifat polar), zat dapat larut dalam metanol, kloroform dan benzen, sementara pada pelarut

aseton, gliserin tidak larut. Adanya perbedaan antara hasil praktikum dengan teori yang didapatkan kemungkinan karena perbedaan

perbandingan zat dan pelarut, dimana zat yang digunakan lebih sedikit dibandingkan pelarut atau sebaliknya. Pada sampel etanol yang bersifat polar, zat dapat larut dengan pelarut polar yaitu metanol dan pelarut semipolar yaitu aseton dan tidak larut dalam pelarut non polar yaitu kloroform dan benzen, hal yang sama juga terjadi pada putih telur yang merupakan protein yang dapat larut dalam air (bersifat polar) sehingga zat terdenaturasi dengan penambahan metanol dan aseton serta menghasilkan dua fase pada penambahan dengan pelarut kloroform dan benzen. Pada sampel minyak kelapa sawit yang merupakan senyawa yang tergolong lemak, zat dapat larut dalam pelarut non polar yaitu kloroform dan benzen serta pelarut semipolar yaitu aseton, sementara itu pada pelarut metanol, sampel terpisah menjadi dua fase atau tidak bercampur.

3. Uji tingkat kelarutan senyawa obat dalam berbagai pelarut

Pada uji ini, senyawa obat yang digunakan yaitu parasetamol dan antalgin (metampiron). Pada literatur, parasetamol dapat larut dalam air mendidih dan dalam NaOH 1 N serta dalam etanol. Berdasarkan hasil praktikum, parasetamol tidak seluruhnya larut dalam pelarut yang digunakan begitu pula pada antalgin. Hal ini dapat dikarenakan adanya zat zat yang tidak dapat larut dalam pelarut yang ditambahkan saat proses formulasi pembuatan obat, seperti talcum yang berfungsi sebagai pelicin agar serbuk tidak menempel saat dikempa. Dari banyaknya jumlah endapan serbuk antalgin yang tertinggal dari yang paling sedikit sampai paling banyak pada masing masing pelarut adalah sebagai berikut : aquadest << metanol << benzen << kloroform << aseton. Dari hasil tersebut maka dapat diketahui bahwa pada serbuk antalgin lebih banyak zat yang bersifat polar dibanding zat non polar karena jumlah endapan yang terdapat pada aquadest lebih sedikit daripada pelarut lainnya. Pada serbuk parasetamol, jumlah endapan yang terdapat pada masing masing pelarut dari yang paling sedikit sampai paling banyak yaitu : aseton << metanol << aquadest << kloroform << benzen. Dari hasil tersebut maka dapat disimpulkan bahwa zat yang bersifat semi polar hingga polar lebih banyak terdapat pada formulasi dibandingkan zat yang bersifat non polar karena jumlah endapan yang tertinggal lebih sedikit.

BAB V

KESIMPULAN

A. Kesimpulan 1. Pelarut adalah benda cair atau gas yang melarutkan benda padat, cair atau gas, yang menghasilkan sebuah larutan. 2. Secara garis besar, pelarut diklasifikasikan menjadi pelarut protik polar, pelarut aprotik dipolar dan pelarut non polar. 3. Dari hasil praktikum, maka dapat disimpulkan sebagai berikut : a. Uji kelarutan zat dalam air Larutan gula, etanol dan putih telur larut dalam air, sementara itu gliserin dan minyak kelapa sawit tidak larut dalam air. b. Uji kelarutan zat dalam berbagai pelarut 1) Larutan gula : larut dalam metanol dan aseton, tidak larut dalam kloroform dan benzen. 2) Gliserin : larut dalam metanol, kloroform dan benzen, tidak larut dalam aseton. 3) Etanol : larut dalam metanol dan aseton, tidak larut dalam kloroform dan benzen. 4) Putih telur : terdenaturasi dengan metanol dan aseton. 5) Minyak kelapa sawit : larut dalam aseton, kloroform dan benzen, tidak larut dalam metanol.

c. Uji tingkat kelarutan senyawa obat dalam berbagai pelarut

Berdasarkan jumlah endapan yang tertinggal dari yang paling sedikit hingga yang paling banyak : 1) Antalgin : aquadest << metanol << benzen << kloroform << aseton. 2) Parasetamol : aseton << metanol << aquadest << kloroform << benzen.

DAFTAR PUSTAKA Anonim. 1978. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta : Departemen Kesehatan Republik Indonesia. Anonim. Diktat Praktikum Kimia organik. 2010. Jakarta : Universitas Muhammadiyah Prof. DR Hamka. Sumardjo, Damin. 2006. Pengantar Kimia. Jakarta : EGC http://marnalajoshua.wordpress.com/2010/05/03/pelarut-organik/ http://id.wikipedia.org/wiki/Air

KEPOLARAN SENYAWA

Disusun Oleh : Anggrie Fetra Noviasrini Kemala N. Novi Rachmayanti Sudarman Yulianto Thirani D. Yusnia Gulfa Maharani

Kelas II B Kelompok II

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH PROF. DR. HAMKA FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM JURUSAN FARMASI TAHUN 2010