P. 1
Teknik Penjelasan Al-Qur'an - Sofyan Hadi

Teknik Penjelasan Al-Qur'an - Sofyan Hadi

4.0

|Views: 874|Likes:
Published by Sofyan Hadi

More info:

Published by: Sofyan Hadi on Apr 23, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

05/11/2014

pdf

text

original

LSQ

[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

TEKNIK PENJELASAN AL-QUR’AN: Suatu Kajian Metodologi Pendidikan Islam dengan Pendekatan Tafsir Tematik Sofyan Hadi
Dosen Fakultas Tarbiyah dan Keguruan UIN Sultan Syarif Kasim Riau
Alamat Rumah:
Jln. Taman Sari 43 Tangkerang Selatan Bukit Raya Pekanbaru Riau Indonesia 28282 E-mail: sofyan-pku@hotmail.com

A. Pendahuluan Al-Qur’an yang merupakan dasar dan sumber ajaran Islam bukanlah sekedar sebuah kitab doktrin teoretis yang hanya mengatur urusan aqidah dan ubudiyah dalam arti sempit, tetapi lebih dari itu ia merupakan sebuah kitab petunjuk dan pedoman bagi tatanan kehidupan manusia untuk memperoleh kebahagiaan di dunia dan akhirat. Ayat-ayat yang terkandung di dalamnya bukanlah sekedar ungkapan-ungkapan eksistensional, melainkan suatu penjelasan yang fungsional. Dalam bidang pendidikan, Al-Qur’an dan sunnah Nabi merupakan dasar dan sumber asasi ilmu pendidikan Islam. Sebab, dari kedua dasar dan sumber tersebut dapat dijabarkan berbagai persoalan dasar kependidikan, dapat ditetapkan pandangan filosofis dalam mengungkap realitas manusia, serta dapat pula dijadikan pedoman dalam menggariskan landasan metodologis pendidikan Islam.1 Menurut al-Jamâlîy, gaya bahasa (uslûb) dan ungkapan (`ibârah) yang terdapat dalam ayat-ayat Al-Qur’an menunjukkan bahwa ayat-ayat itu mengandung nilai-nilai metodologis kependidikan dengan corak dan ragam yang berbeda-beda sesuai dengan waktu dan tempat serta sasaran (khithâb) yang dihadapi.2 M. Arifin secara lebih tegas mengatakan bahwa metodologi pendidikan Islam dalam penerapannya banyak menyangkut wawasan keilmuan pendidikan yang bersumber dari Al-Qur’an dan hadits.3 Oleh karena itu, untuk meningkatkan dan mengembangkan metodologi pendidikan Islam perlu digali dan diungkapkan implikasi-implikasi metodologis kependidikan dalam kitab suci Al-Qur’an dan hadits Nabi Muhammad saw. Salah satu kegiatan yang sangat esensial dan fundamental dalam proses pendidikan adalah menjelaskan. Sebab, dengan penjelasanlah pemahaman peserta didik dapat ditimbulkan, sedangkan pemahaman merupakan asas dalam proses belajar.4 Tanpa pemahaman, usaha untuk membentuk perilaku anak didik, baik menyangkut aspek pengetahuan, sikap, keterampilan, maupun akhlaknya, sesuai dengan tujuan pendidikan yang dicita-citakan sangat sulit direalisasikan. Dengan
1

`Abd al-Fattâh al-Jalâl, Min Ushûl al-Tarbiyyat fî al-Islâm, diterjemahkan oleh Herry Noer Ali dengan judul Asas-asas Pendidikan Islam (Cet. I; Bandung: CV. Diponegoro, 1988), hlm. 15. 2 Muhammad Fâdlil al-Jamâlîy, Tarbiyyat al-Insân al-Jadîd (Tunisia: Mathba`at al-Ittihâd al`Âm, 1967), hlm. 111. 3 M. Arifin, Ilmu Pendidikan Islam (Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1993), hlm. 62. 4 Sa`îd Ismâ`îl `Alî, Nasy’at al-Tarbiyyat al-Islâmiyyah (Kairo: `Âlam al-Kutub, 1978), hlm. 170.

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

1

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

demikian, keterampilan menjelaskan merupakan kompetensi yang harus dimiliki oleh setiap pendidik. Dalam strategi pengajaran, secara operasional memberi penjelasan dikenal dengan expository approach, yaitu peserta didik diberi tahu atau diberi penjelasan serta petunjuk-petunjuk terlebih dahulu agar dapat mengerti, menanggapi, atau supaya bisa berbuat sesuatu kemudian.5 Ini berarti bahwa penjelasan itu penting dalam menumbuhkan pengertian, tanggapan, dan keterampilan peserta didik. Berdasarkan kenyataan bahwa Al-Qur’an, sebagai yang diintrodusir Allah, antara lain merupakan kitab petunjuk (hudâ)6 dan penjelasan (bayân, tibyân),7 sedangkan dalam interaksi komunikasi edukatif menjelaskan merupakan salah satu kegiatan yang esensial dan fundamental, maka sangat penting untuk mengkaji dan meneliti teknik penjelasan Al-Qur’an dalam rangka mengembangkan metodologi pendidikan Islam. Pertanyaan mendasar yang menjadi problem pokok dalam kajian dan penelitian ini adalah “bagaimana teknik penjelasan Al-Qur’an sebagai metode pendidikan Islam.” Dari pertanyaan pokok ini dapat dirumuskan permasalahanpermasalahan khusus sebagai berikut. (1) Bagaimana hakikat penjelasan yang dapat dipahami dari ungkapan ayat-ayat Al-Qur’an? (2) Komponen apa yang harus ada dalam proses penjelasan menurut Al-Qur’an sebagai metode pendidikan Islam? (3) Bagaimana teknik penjelasan yang digunakan dalam Al-Qur’an sebagai metode pendidikan Islam? Pada dasarnya, secara keseluruhan ayat-ayat Al-Qur’an merupakan penjelasan bagi umat manusia (QS. Alû `Imrân, 3/89: 138). Namun, dalam AlQur’an terdapat ungkapan-ungkapan yang secara eksplisit dan spesifik digunakan untuk menunjukkan makna “penjelasan”. Oleh karena itu, untuk membahas rumusan masalah di atas penelitian ini dibatasi hanya pada ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat ungkapan-ungkapan dimaksud denagn menggunakan pendekatan tafsir tematik (mawdlû`îy).8 Di samping itu, pembahasan rumusan masalah di atas juga dibatasi hanya dalam kerangka metodologi pendidikan Islam. B. Terminologi Al-Qur’an tentang Penjelasan Al-Qur’an menggunakan tiga bentuk pengungkapan untuk menunjuk konsep penjelasan, yaitu bayân, tafshîl dan tafsîr. Dalam bahasa Arab, bayân adalah bentuk (shighat) ism mashdar (kata benda abstrak, infinitif) dari fi`l mâdlî tsulâtsîy mujarrad ma`lûm (kata kerja lampau simpel aktif) dengan wazn (pola kata) bayân yang berakar dengan huruf-huruf bâ’, yâ dan nûn.9 Dalam Al-Qur’an, term bayân dengan berbagai musytaqq (kata bentukan)-nya diulang sebanyak 257 kali.10 Kata kerja yang berakar dengan huruf-huruf bâ’, yâ’, dan nûn secara etimologis sebagaimana yang dikemukakan oleh Ibn Fâris mengandung makna "menjauhkan

Vernon S. Gerlach dan Donald P. Ely, Teaching and Media: A Systematic Approach (Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1971), hlm. 15. 6 Lihat QS. al-Baqarah (2/87): 2, 97, 185; QS. al-Mâ’idah (5/112): 46. 7 Lihat QS. al-Nahl (16/70): 89; QS. Alu `Imrân (3/89): 138. 8 Mengenai langkah-langkah metode tafsir mawdlû`îy lihat `Abd al-Hayy al-Farmâwîy, AlBidâyat fî al-Tafsîr al-Mawdlû`îy (Mesir: Maktabat Jumhûriyyat Mishr, 1977), hlm. 61-62. 9 Lihat al-Thâhir Ahmad al-Zâwîy, Tartîb al-Qâmûs al-Muhîth `alâ Tharîqat al-Mishbâh alMunîr wa Asâs al-Balâghah, juz I (Cet. III; Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.), hlm. 251. 10 Muhammad Fu’âd `Abd al-Bâqîy, al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâz al-Qur’ân al-Karîm (Cet. II; Bayrût: Dâr al-Fikr, 1401/1981), hlm. 141-154.

5

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

2

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

sesuatu dan menyingkapkannya"11 dan secara leksikal menurut Ibn Manzhûr berarti "jelas, nyata, menerangkan, menjelaskan dan memberitahukan".12 Lebih lanjut, Ibn Manzhûr memberi arti bayân dengan al-ifshâh ma`a zakâ'13 "menjelaskan maksud disertai dengan kecerdasan". Menurut, lafal bayân dalam Al-Qur’an digunakan dengan makna "pengungkapan sesuatu di dalam hati dengan kata-kata yang fasih; dan kemampuan memahami penjelasan orang lain".14 Al-Ashfahânîy mengartikan dengan al-kasyf `an al-syay’15 "mengungkapkan sesuatu". Lebih lanjut, ia mengatakan bahwa bayân itu lebih umum daripada berbicara (al-nuthq) yang dikhususkan bagi manusia.16 Term bayân, dilihat dari segi bentuknya, dalam Al-Qur’an muncul dengan lima bentuk musytaqq, yaitu: fi`l mâdlî (kata kerja yang menunjuk waktu lampau); fi`l mudlâri‘ (kata kerja yang menunjuk waktu sekarang dan atau akan datang); fi`l amr (kata kerja yang mengandung perintah); mashdar (kata benda abstrak, infinitif); dan ism fâ`il (kata benda yang mengandung arti pelaku/subjek). Dalam bentuk (shighat) kata kerja lampau ( fi`l mâdlî ), term bayân diungkapkan dengan menggunakan dua wazn (pola kata), tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai, yaitu: pola bayyana yang diulang sebanyak 5 kali; dan pola tabayyana yang diulang sebanyak 12 kali.17 Term bayân dalam bentuk kata kerja yang menunjuk waktu sekarang atau akan datang (fi`l mudlâri`) dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan menggunakan empat pola kata (wazn), tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai, yaitu: pola yubayyinu diulang sebanyak 30 kali; pola yubînu diulang sebanyak 1 kali; pola yatabayyanu diulang 3 kali; dan pola yastabînu diulang sebanyak 1 kali.18 Term bayân dalam bentuk kata kerja yang mengandung perintah (fi`l amr) hanya diungkapkan dengan satu wazn (pola kata), yaitu pola tabayyan, tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai, diulang sebanyak 3 kali.19 Pengungkapan term bayân dalam bentuk mashdar (infinitif) dalam Al-Qur’an menggunakan dua wazn (pola kata), yaitu: pola bayân yang diulang sebanyak 3 kali, tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai; dan pola tibyân yang diulang sebanyak 1 kali.20 Pola bayân merupakan mashdar dari kata kerja bâna-yabînubayân(an), sedangkan pola tibyân merupakan mashdar dari kata kerja bayyana-

Abû al-Husayn Ahmad bin Fâris bin Zakariyâ, Mu`jam Maqâyis al-Lughah, diteliti dan dikoreksi oleh `Abd al-Salâm Muhammad Hârûn, juz I (Cet. II; Mesir: Syirkat Maktabat wa Mathba`at Mushthafâ al-Bâbîy al-Halabîy wa Awlâduh, 1391/1971), hlm. 327. 12 Abû al-Fadl Jamâl al-Dîn Muhammad bin Mukarram bin Manzhûr, Lisân al-`Arab, juz XVI (t.tp.: Dâr al-Mishriyyat li al-Ta’lîf wa al-Tarjamah, t.th.), hlm. 214-215. 13 Ibid., hlm. 216. 14 Muhammad Ismâ`îl Ibrâhîm, Mu`jam al-Alfâz wa al-A`lâm al-Qur’âniyyah (Kairo: Dâr alFikr al-`Arabîy, t.th.), hlm. 81. 15 Al-Râghib al-Ashfahânîy, Mu`jam Mufradât Alfâz al-Qur’ân, ditahkik oleh Nadîm Mar`asylî (Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.), hlm. 67. 16 Ibid. 17 Muhammad Fu’âd `Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 141-142. 18 Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 142. 19 Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Loc. Cit. 20 Ibid.

11

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

3

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

yubayyinu-tibyân(an). Pola bayân dan tibyân, menurut al-Sayûthîy,21 mengandung pengertian yang sama. Dalam bentuk ism al-fâ‘il (kata benda yang mengandung arti pelaku), term bayân diungkapkan dengan menggunakan empat pola kata, yaitu: pola bayyin(un), tanpa memperhatikan jenis kelamin dan jumlah pelaku, diulang sebanyak 72 kali; pola mubayyinat, tanpa memperhatikan jumlah pelaku, diulang sebanyak 6 kali; pola mubîn diulang sebanyak 119 kali; dan pola mustabîn diulang sebanyak 1 kali.22 Penggunaan ism al-fâ‘il dengan pola mubîn pada ayat-ayat alQur'an menunjukkan bahwa kata tersebut dalam Al-Qur’an digunakan sebagai sifat dari semua perkara atau hal, yang baik maupun yang buruk, yang konkret maupun yang abstrak. Adapun bentuk ism al-fâ‘il yang diungkapkan dengan pola mustabîn yang merupakan musytaqq dari kata kerja mâdlî dengan pola istabâna dalam Al-Qur’an digunakan dengan makna al-mubîn23 "jelas,' "menjelaskan", yaitu dalam QS. al-Shâffât (37/56): 117. Term bayân dengan berbagai bentuk dan polanya dalam Al-Qur’an secara konseptual dan spesifik digunakan untuk mengungkapkan konsep penjelasan. Di samping itu, dari bentuk-bentuk term bayân dan penggunaannya juga dapat dipahami bahwa bayân sebagai proses memberi penjelasan terdiri atas beberapa komponen dasar yang meliputi subjek, objek, materi, alat, cara atau langkahlangkah, serta tujuan yang hendak dicapai. Ungkapan lain yang digunakan Al-Qur'an yang menunjuk makna penjelasana adalah tafshîl. Kata tafshîl merupakan bentuk mashdar (infinitif) dari kata kerja yang berakar dengan huruf-huruf fâ’, shâd, dan lâm. Menurut Ibn Fâris, kata kerja ini secara etimologis mengandung makna "membedakan sesuatu dari sesuatu yang lain dan memisahkannya"24 dan secara leksikal berarti "keluar", "memisahkan", "memutuskan", "menjauhkan", "memotong", "menyapih", "memberi keputusan', "membagi-bagi", dan "menjelaskan".25 Dari sini terlihat bahwa kata tafshîl memiliki beberapa pengertian yang berbeda sesuai dengan konteks penggunaannya. Dalam Al-Qur’an, term tafshîl diulang sebanyak 43 kali dengan empat musytaqq,26 yaitu: fi`l mâdlî; fi`l mudlâri‘; ism mashdar; dan ism fâ‘il. Term tafshîl dalam bentuk fi`l mâdlî diungkapkan dengan menggunakan dua wazn (pola kata), yaitu: pola fashala yang diulang sebanyak 2 kali; dan pola fashshala yang diulang sebanyak 9 kali, baik dalam bentuk kata kerja aktif maupun kata kerja pasif, tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai. Term tafshîl dalam bentuk kata kerja yang menunjuk waktu sekarang dan atau akan datang (fi`l mudlâri‘) dalam Al-Qur’an diungkapkan dengan menggunakan dua pola kata, yaitu: pola yafshilu yang diulang sebanyak 3 kali; dan yufashshilu yang diulang sebanyak 8 kali, tanpa memperhatikan kata ganti (dlamîr) yang menyertai. Pola yafshilu dalam Al-Qur’an 2 kali digunakan dengan makna "memberi keputusan", yaitu dalam QS. al-Sajdah (32/75): 25 dan QS. al-Hajj (22/103): 17; dan 1 kali digunakan dengan makna "memisahkan",27 yaitu dalam
Lihat ‘Abd al-Rahmân Jalâl al-Dîn al-Sayûthîy, al-Muzhir fî ‘Ulûm al-Lughat wa Anwa‘ihâ, diberi anotasi dan dikomentari oleh Muhammad Ahmad Jâd al-Mawlâ, et al., jilid II (Bayrût: Dâr al-Jayl, t. th.), hlm. 138. 22 Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 142-145. 23 Lihat Abû Thâhir bin Ya`qûb al-Fayrûzâbâdîy, Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn `Abbâs (Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th.), hlm. 378. 24 Ibn Fâris, Op. Cit., juz IV, hlm. 505. 25 Ibrâhîm Anîs, et al., al-Mu`jam al-Wasîth, juz II (Bayrût: Dâr al-Fikr, t. th.), hlm. 691. 26 Lihat Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 520-521 27 Lihat Muhammad Ismâ‘îl Ibrâhîm, Loc. Cit.
21

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

4

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

QS. al-Mumtahinah (60/91): 3. Sedangkan pola yufashshilu, dalam Al-Qur’an semuanya digunakan dengan makna "menjelaskan". Pengungkapan term tafshîl dalam bentuk ism mashdar (kata benda abstrak) dalam Al-Qur’an menggunakan empat pola kata, yaitu: pola fashl yang diulang sebanyak 9 kali; pola fishâl yang diulang sebanyak 3 kali; pola tafshîl yang diulang sebanyak 5 kali; dan pola mufashshal yang diulang sebanyak 2 kali. Term tafshîl yang diungkapkan dengan pola fa`îl dalam Al-Qur’an digunakan dengan makna "memisahkan",28 "memutuskan",29 dan yang dirangkai dengan lafal yawm "hari" bermakna "Hari Kiamat".30 Pola fishâl yang hanya digunakan tiga kali dalam Al-Qur’an semuanya berarti "menyapih".31 Sedangkan term tafshîl yang diungkapkan dengan pola tafshîl mengandung makna "menjelaskan" dan "jelas". Sementara itu, kata tafshîl dengan makna "jelas" hanya digunakan satu kali dalam Al-Qur’an, seperti terlihat dalam QS. al-Isrâ’ (17/50): 12. Bentuk ism mashdar dengan pola mufashshal yang hanya digunakan dua kali dalam Al-Qur’an mengandung makna "jelas" dan "terperinci",32 sebagaimana terlihat dalam QS. alA‘râf (7/39); 133 dan QS. al-An‘âm (6/55): 114. Dalam bentuk ism fâ‘il, term tafshîl diungkapkan dengan menggunakan dua pola kata, yaitu: pola fâshilîn yang diulang sekali dalam QS. al-An‘âm (6/55): 57 dengan makna "pemberi keputusan", dan pola fashîlat yang juga diulang sekali dalam QS. al-Ma‘ârij (70/79): 13 dengan makna "kaum kerabat".33 Dikaitkan dengan konsep penjelasan dalam Al-Qur’an, maka dapat dipahami bahwa tafshîl merupakan salah satu cara menjelaskan suatu maksud atau pengertian sesuatu dengan cara atau teknik merinci atau menguraikannya. Meskipun demikian, dari beberapa bentuk dan pola term tafshîl yang digunakan Al-Qur’an dengan konotasi penjelasan dapat diketahui bahwa tafshîl merupakan kegiatan sistemis yang terdiri atas komponen-komponen subjek, objek, materi, alat dan tujuan yang saling terkait satu sama lain. Di samping kata bayân dan tafshîl, Al-Qur'an juga menggunakan kata tafsîr untuk menunjuk makna penjelasan. Kata tafsîr dalam bahasa Arab merupakan mashdar (infinitif) dari kata kerja fassara-yufassiru-tafsîr(an) yang berakar dengan huruf-huruf fâ‘, sîn dan râ‘ yang mendapat tambahan satu huruf pada ‘ayn al-fi`lnya. Menurut Ibn Fâris, kata kerja ini secara etimologis menunjukkan makna "menjelaskan sesuatu dan menerangkannya".34 Sedangkan secara leksikal, menurut Ibn Manzhûr berarti "mengungkapkan" dan "menjelaskan". Lebih lanjut, ia mengartikan kata tafsîr dengan "mengungkapkan maksud suatu perkataan yang tidak jelas".35 Dalam Al-Qur’an, term tafsîr hanya diulang sekali36 dalam bentuk mashdar, yaitu dalam QS. al-Furqân (25/42): 33. Menurut al-Zamakhsyarîy bahwa kata tafsîr dalam ayat di atas berarti al-taksyîf ‘ammâ yadullu ‘alayh al-kalâm37 "mengungkapkan
QS. al-Thâriq (86/36): 13 dan QS. Shâd (38/38): 20. QS. al-Syûrâ (42/63): 21. 30 QS. al-Mursalat (77/33): 13,14,38; QS. al-Shâffât (37/56): 21; QS. al-Dukhân (44/64): 40; dan QS. al-Naba' (78/80): 17. Lihat Muhammad Ismâ‘îl Ibrâhîm, Loc. Cit. 31 QS. Luqmân (31/57): 14; QS. al-Ahqâf (46/66): 15; dan QS. al-Baqarah (2/87): 233. Lihat al-Râghib al-Ashfahânîy, Loc. Cit. 32 Lihat Muhammad Ismâ‘îl Ibrâhîm, Loc. Cit. 33 Lihat al-Râghib al-Ashfahânîy, Loc. Cit. 34 Ibn Fâris, Op. Cit., juz IV, hlm. 504. 35 Ibn Manzhûr, Op. Cit., juz VI, hlm. 361. 36 Lihat Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 519. 37 Ibid.
29 28

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

5

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

sesuatu yang ditunjukkan perkataan". Ini sejalan dengan pengertian kata tafsîr yang dikemukakan Ibn Manzhûr terdahulu. Jadi, term tafsîr dalam Al-Qur’an digunakan dengan makna memahami pengertian atau maksud suatu perkataan. Dikaitkan dengan konsep penjelasan, maka term tafsîr mengandung konotasi mencari kejelasan tentang pengertian atau maksud sesuatu. Kendatipun demikian, dalam proses memberikan penjelasan tafsîr merupakan langkah awal yang sangat penting, sebab untuk memberikan penjelasan tentang sesuatu perlu dipahami terlebih dahulu pengertian dan maksud sesuatu itu sendiri. C. Komponen-Komponen Dasar Penjelasan Beradasarkan analisis dan interpretasi terhadap ayat-ayat Al-Qur'an yang menggunakan lafal bayân, tafshîl, dan tafsîr dengan berbagai bentuk dan polanya, dapat diidentifikasi komponen-komponen dasar penjelasan menurut AlQur’an melîuti tujuan, subjek, objek, materi, dan alat penjelasan. 1. Tujuan Tujuan38 merupakan komponen penting dalam proses penjelasan, sebab ia berfungsi menentukan arah, materi, cara atau teknik, dan akhir suatu penjelasan.39 Di sini, yang dimaksud dengan tujuan penjelasan adalah sesuatu yang hendak dicapai dengan proses penjelasan. Dalam Al-Qur’an, adanya tujuan dari proses penjelasan dapat diketahui dari partikel la‘alla yang berfungsi sebagai penghubung dan berkonotasi “tujuan”,40 yang mengikuti term bayân dalam bentuk kata kerja. Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat term dimaksud dan disertai partikel tersebut, dapat diidentifikasikan tujuan-tujuan penjelasan dalam Al-Qur’an adalah untuk (1) membentuk manusia yang bertakwa, QS. alBaqarah (2/87): 187; (2) mendorong berpikir, QS. al-Baqarah (2/87): 219; (3) memberi pelajaran, QS. al-Baqarah (2/87): 221; (4) memberikan pemahaman, QS. al-Baqarah (2/87): 242; (5) memberi Petunjuk, QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 103; (6) mendorong Bersyukur, QS. al-Mâ’idah (5/112): 89. 2. Subjek Salah satu komponen dasar penjelasan sebagai kegiatan sistemik dalam AlQur’an adalah subjek yang memberi penjelasan. Subjek pemberi penjelasan yang ditunjukkan ayat-ayat Al-Qur’an yang menggunakan term bayân, terutama dalam

Dalam kamus bahasa Indonesia, kata “tujuan” diartikan sebagai berikut: “1) arah; haluan (jurusan); 2) yang dituju; maksud; tuntutan (yang dituntut); 3) kata yang menjadi pelengkap dan menderita perbuatan kata kerja; objek.” Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 965. 39 Dalam konteks pendidikan, menurut Marimba ada empat fungsi tujuan pendidikan. Pertama, tujuan berfungsi mengakhiri usaha; kedua, mengarahkan usaha; ketiga, sebagai titik pangkal untuk mencapai tujuan-tujuan lain; dan keempat, memberi sifat (nilai) pada usaha itu. Lihat Ahmad D. Marimba, Pengantar Filsafat Pendidikan Islam (Cet. VII; Bandung: Al-Ma‘arif, 1987), hlm. 45-46. 40 Dalam bahasa Arab, partikel la‘alla selain mengandung makna al-tarajj³ “harapan”, ia juga mengandung makna al-ta‘lîl “memberi sebab atau alasan”. Lihat al-Murâdîy, Op. Cit., hlm. 379.

38

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

6

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

bentuk kata kerja transitif (muta`addîy) yang menunjukkan makna “menjelaskan” atau “menerangkan”, adalah Allah41 dan para rasul.42 Dari ayat-ayat yang menggunakan lafal bayân dalam bentuk kata kerja dengan Allah sebagai subjeknya ditemukan dua sifat Allah yang diungkapkan secara eksplisit yang dapat dijadikan sebagai petunjuk mengenai kualifikasi yang harus dimiliki oleh subjek pemberi penjelasan. Kedua sifat dimaksud adalah al-‘alîm "Yang Maha Mengetahui" dan al-hakîm “Maha Bijaksana”, seperti terlihat dalam QS. al-Nûr (24/102): 18. Hal ini menunjukkan bahwa subjek pemberi penjelasan harus mempunyai pengetahuan yang luas dan mendalam mengenai sesuatu yang akan dijelaskan, serta dilakukan dengan penuh perencanaan, disertai dengan caracara yang tepat dan tujuan yang jelas. Kedudukan para rasul sebagai pemberi penjelasan pada dasarnya sejalan dengan tugas yang diamanatkan kepada mereka, seperti terlihat dalam QS. alSyûrâ (42/62): 13 dan QS. al-Baqarah (2/87): 151. Ayat pertama dengan tegas menyatakan bahwa tugas para rasul adalah menegakkan agama yang telah diwasiatkan kepada mereka. Sedangkan dari ayat kedua dapat dipahami bahwa tugas rasul Tuhan adalah memberikan pengajaran dan pendidikan kepada umatnya.43 Dengan demikian, aktivitas memberi penjelasan yang dilakukan para rasul merupakan bagian dari proses pendidikan dan pengajaran juga dalam rangka pelaksanaan tugas pokok tersebut. Selain Allah dan para rasul, terdapat 2 ayat dengan subjek ulama Ahli Kitab, yaitu QS. al-Baqarah (2/87): 160 dan QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 187 yang berisi celaan terhadap mereka karena tidak mau menjelaskan keterangan-keterangan dan petunjuk yang telah diturunkan kepada mereka, sekaligus merupakan seruan untuk menjelaskan kebenaran kepada umat manusia. 3. Objek Komponen dasar penjelasan yang ketiga adalah objek. Pemakaian istilah objek44 di sini secara operasional dimaksudkan untuk menggambarkan adanya sasaran penjelasan. Dalam Al-Qur’an, objek yang diberi penjelasan dapat diketahui dari partikel lâm yang mengandung konotasi “penyampaian” (al-

Dalam Al-Qur’an, Allah merupakan subjek atau pelaku terbanyak dari lafal bayân dalam bentuk kata kerja, baik yang ditunjukkan secara eksplisit dengan lafal jalâlah (Allah) maupun yang ditunjukkan dengan kata ganti (dlamîr) yang merujuk kepada-Nya. Dari 35 ayat yang menggunakan lafal bayân dalam bentuk kata kerja transitif (muta`addîy) yang menunjukkan makna “menjelaskan” atau “menerangkan”, baik dalam bentuk kata kerja yang menunjuk waktu lampau (fi`l mâdlî) maupun yang menunjuk waktu sekarang dan atau akan datang (fi`l mudlâri`), terdapat 27 ayat dengan Allah sebagai subjeknya. 42 Para rasul sebagai subjek pemberi penjelasan dalam Al-Qur’an diungkapkan dalam 6 ayat dari 35 ayat yang menggunakan lafal bayân dalam bentuk kata kerja transitif (muta‘addîy) yang menunjukkan makna “menjelaskan atau menerangkan.” Dari jumlah ini, satu ayat digunakan untuk menunjuk semua rasul secara umum, yaitu QS. Ibrâhîm (14/72): 4. 43 Abd. Muin Salim, Fiqh Siyasah: Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994), hlm. 206-207. 44 Dalam kamus bahasa Indonesia, kata “objek” antara lain diartikan dengan “benda, hal dan sebagainya yang dijadikan sasaran untuk diteliti, diperhatikan dan sebagainya.” Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989), hlm. 698.

41

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

7

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

tablîgh)45 yang menyertai term bayân dalam bentuk kata kerja transitif (muta‘addîy) yang berarti “menjelaskan” atau “menerangkan”. Dari penelusuran lebih lanjut terhadap ayat-ayat yang memuat term dimaksud dengan disertai partikel tersebut ditemukan objek-objek yang diberi penjelasan dalam Al-Qur’an adalah umat manusia,46 Ahlu Kitab,47 orang-orang yang beriman,48 kaum yang menuntut ilmu,49 kaum yang mencari keyakinan,50 dan suatu kaum.51 4. Materi Materi penjelasan merupakan komponen dasar penjelasan yang keempat. Yang dimaksud di sini adalah segala sesuatu yang merupakan bahan yang dijelaskan dalam proses penjelasan untuk mencapai tujuan penjelasan. Dalam AlQur’an, materi penjelasan dapat diketahui dari maf‘ûl bih (objek penderita) term bayân dalam bentuk kata kerja transitif (muta‘addîy). Dari penelusuran terhadap ayat-ayat Al-Qur’an yang memuat term dimaksud, ditemukan materi penjelasan dalam Al-Qur’an secara umum adalah ‘ayat-ayat’ Allah52 seperti terlihat dalam QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 103. Kata âyât dari frase âyâtih yang menjadi fokus pembahasan dalam ayat ini adalah bentuk jamak dari kata âyat.53
45 Lihat Jamâl al-Dîn ibn Hisyâm al-Anshârîy, Mughnî al-Labîb ‘an Kutub al-A‘ârîb, ditahkik dan diberi anotasi oleh Mâzin al-Mubârak dan Muhammad ‘Alî Hamdallâh (Cet. VI; Bayrût: Dâr al-Fikr, 1985), h. 281. Di sini disebutkan bahwa lâm al-tablîgh ialah al-jârat li ism alsâmi` li qawl(in) aw fî ma`nâhu "(partikel) yang (berfungsi) mengkasrahkan kata benda (sebagai) pendengar untuk perkataan atau yang semakna dengannya." Lihat juga al-Murâdîy, Op. Cit., hlm. 99. 46 Sebagai objek yang diberi penjelasan, umat manusia dalam Al-Qur’an secara eksplisit diungkapkan dengan lafal al-nâs yang didahului partikel lâm yang diulang sebanyak 6 kali, seperti terlihat dalam QS. al-Baqarah (2/87): 187; QS. al-Nahl (16/70): 39,44; QS. al-Baqarah (2/87): 159, 221; dan QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 187. 47 Ahli Kitab sebagai objek yang diberi penjelasan dalam Al-Qur'an disebut dengan term ahl al-kitâb, dan ditemukan sebanyak 8 kali, yaitu Tiga kali diungkapkan secara eksplisit dengan term ahl al-kitâb, yaitu: QS. al-Mâ’idah (5/112): 15,19, dan 75; tiga kali menunjuk kaum Yahudi yang diungkapkan dengan qawmih (qawm mûsâ), yaitu: QS. al-Baqarah (2/87): 68, 69 dan 70; satu kali menunjuk kaum Nasrani yang diungkapkan dengan qawm ‘Îsâ, yaitu: QS. al-Zukhruf (43/63): 63; dan satu kali lagi diungkapkan dengan umam min qablik “umat-umat sebelum kamu” yang dapat dirujukkan juga kepada Ahli Kitab, yaitu: QS. al-Nahl (16/70): 64. 48 Orang-orang beriman sebagai objek yang diberi penjelasan dalam Al-Qur'an ditemukan pada 13 ayat, yaitu QS. al-Nûr (24/102): 58; QS. al-Nûr (24/102): 18, 59, 61; QS. al-Baqarah (2/87): 219, 242, 266; QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 103, 118; QS. al-Nahl (16/70): 92; QS. al-Nisâ’ (4/92): 26, 176; dan QS. al-Mâ’idah (5/112): 89. 49 Kaum yang menuntut ilmu sebagai objek yang diberi penjelasan dalam Al-Qur'an antara lain terdapat pada QS. al-Baqarah (2/87): 230. 50 Kaum yang mencari keyakinan sebagai objek yang diberi penjelasan dalam Al-Qur’an dapat dipahami dari QS. al-Baqarah (2/87): 118. 51 Terdapat dua ayat yang menunjuk suatu kaum sebagai objek penjelasan, yaitu QS. Ibrâhîm (14/72): 4 dan QS. al-Tawbah (9/113): 115. 52 Term bayân dalam bentuk kata kerja transitif dengan maf`ûl bih ayat-ayat Allah yang diungkapkan dengan kata âyâtih atau al-âyât secara eksplisit ditemukan dalam 15 tempat, yaitu dalam QS. al-Baqarah (2/87): 118, 187, 219, 221, 242, 266; QS. Âlu ‘Imrân (3/89): 103, 118; QS. al-Hadîd (57/94): 17; QS. al-Nûr (24/102): 18, 58, 59, 61; QS. al-Mâ’idah (5/112): 75 dan 89. 53 Secara etimologis, kata ini berakar dengan huruf-huruf hamzah dan yâ’ ganda yang memliki makna pokok “menunggu”. Dari sini terbentuklah ungkapan ayyâ bi al-makân yang

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

8

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

Dalam Al-Qur’an, kata âyat yang diulang sebanyak 382 kali,54 baik dalam bentuk tunggal maupun dalam bentuk jamak, secara konseptual digunakan dengan dua makna,55 yaitu (1) makna konotasi ayat-ayat Al-Qur’an56 dan (2) makna konotasi alam, baik alam semesta (makrokosmos) maupun alam manusia (mikrokosmos) yang merupakan makhluk ciptaan Tuhan yang dapat disebut sebagai al-âyât al-kawniyyah.57 Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa materi penjelasan dalam AlQur’an mencakup dînullâh berupa hukum-hukum agama yang tertulis dalam kitab suci Al-Qur’an, dan sunnatullâh berupa hukum-hukum alam yang tergelar di alam semesta dan dalam diri manusia. Dalam konteks pendidikan, materi penjelasan itu relevan dengan materi pendidikan. Oleh karena itu, dikaitkan dengan konsep pendidikan Islam, maka kesimpulan di atas berimplikasi bagi perlunya pengembangan materi pendidikan Islam yang integratif, yang memadukan antara ilmu-ilmu yang diperoleh dari pemahaman manusia terhadap sunnatullâh dan ilmu-ilmu yang diperoleh dari pemahaman manusia terhadap dînullâh. Sebab, kedua-duanya merupakan hukumhukum Allah yang mengandung pedoman dan petunjuk bagi manusia untuk mencapai kesejahteraan dan kebahagiaan hidup di dunia dan akhirat. Hal ini menegaskan bahwa secara ideal-normatif, dalam Islam tidak dikenal adanya dualisme antara ilmu-ilmu agama dan ilmu-ilmu umum (sekuler), atau dikotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. 5. Alat Komponen dasar penjelasan yang lain adalah alat penjelasan. Dalam bahasa Indonesia, kata “alat” antara lain berarti yang dipakai untuk mencapai maksud.58 Di sini yang dimaksud dengan alat penjelasan adalah sesuatu yang digunakan untuk membantu proses penjelasan dalam pencapaian tujuan penjelasan. Alat sebagai komponen dasar dalam proses penjelasan dapat diketahui dari penegasan QS. Ibrâhîm (14/72): 4. dari ayat ini ditemukan bahwa alat penjelasan menurut Al-Qur’an meliputi bahasa, baik lisan maupun tulisan, dan benda-benda59 sebenarnya. Sesuai dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, alat-alat tersebut dalam penerapannya dalam proses belajar mengajar dapat dikembangkan berupa visualaids, yaitu alat-alat penjelasan yang dapat ditangkap indera penglihatan; audioaids, yaitu alat-alat penjelasan yang dapat ditangkap indera pendengaran; maupun

bermakna “mendiami atau tinggal di suatu tempat”, dan ungkapan ayyâ-âyat(an) yang bermakna “meletakkan suatu tanda”. Dari ungkapan terakhir inilah kata âyat secara leksikal berarti “alamat, tanda, pelajaran, mukjizat, pribadi, kumpulan, dan ayat Al-Qur’an merupakan kalimat atau beberapa kalimat yang diikuti tanda pemberhentian di akhirnya. 54 Lihat Muhammad Fu’âd ‘Abd al-Bâqîy, Op. Cit., hlm. 103-108. 55 Lihat Abd. Muin Salim,“Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran,” Diktat (Ujungpandang: LSKI, 1992), hlm. 9-10. 56 Seperti terlihat dalam QS. Yûnus (10/51): 15. Menurut catatan al-Wâhidîy dari Mujâhid, bahwa ayat ini diturunkan berkenaan dengan orang-orang musyrik Makkah.56 Berdasarkan keterangan ini dan klausa a’ti bi qur’ân ghayr hâdzâ “datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini,” maka dapat dipahami bahwa yang dimaksud kata âyât dalam ayat di atas adalah ayat-ayat AlQur’an yang dibacakan kepada orang-orang musyrik. 57 Seperti terlihat dalam QS. Fushshilat (41/61): 53. Dari ayat ini dapat diketahui bahwa ayatayat Allah itu juga terdapat pada alam semesta dan pada diri manusia. 58 Lihat Tim Penyusun Kamus,Op. Cit., hlm. 20. 59 Seperti terlihat dalam QS. Fushshilat (41/61): 53.

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

9

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

audio-visual aids, yaitu alat-alat penjelasan yang dapat ditangkap indera penglihatan dan pendengaran. D. Teknik-Teknik Penjelasan Teknik60 penjelasan yang dimaksud di sini adalah cara-cara praktis untuk melakukan penjelasan. Seperti telah dijelaskan, bahwa ungkapan Al-Qur’an yang secara spesifik digunakan untuk mengungkapkan konsep penjelasan adalah lafal bayân dengan berbagai bentuk dan polanya. Dari penelusuran terhadap ayat-ayat dimaksud, ditemukan adanya teknik-teknik penjelasan menurut Al-Qur’an yang meliputi pengulangan, demonstrasi, perincian, dialog, metafora, perumpamaan, cerita, dan kronologi. 1. Pengulangan Sebagai teknik penjelasan, pengulangan dapat dipahami dari QS. al-'An`âm (6/55): 105. Dalam ayat ini, kata kunci yang menunjukkan bahwa pengulangan sebagai bentuk penjelasan adalah kata nusharrifu. Kata ini merupakan bentuk kata kerja mudlâri` dari sharrafa yang berakar dengan huruf-huruf shâd, râ', dan fâ'. Struktur akar kata ini secara etimologis bermakna “mengembalikan sesuatu”.61 Dari makna ini terbentuk kata kerja sharafa-yashrifu yang secara leksikal memiliki berbagai makna sesuai konteks penggunaannya, misalnya: “(pintu atau pena) berbunyi, mengulang (sesuatu), membelanjakan (harta), menukarkan (uang), menghias (perkataan), dan tidak mencampur (minuman)”.62 Kemudian dari sharafa-yashrifu terbentuk kata kerja sharrafa-yusharrifu yang secara morfologis berpola fa``ala-yufa``ilu dan antara lain bermakna al-taktsîr “memperbanyak”,63 sehingga kata tersebut dalam konteks ayat di atas bermakna “mengulang-ulang (ayat)”. Pada ayat di atas, Allah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya yang diungkapkan dengan klausa nusharrifu al-'âyât bertujuan untuk menjelaskan Al-Qur’an. Hal ini dapat dipahami dari klausa li nubayyinahu “supaya Kami menjelaskan AlQur’an” yang didahului partikel lâm (li)64 yang menunjukkan tujuan pengulangan tersebut. Ini berarti bahwa untuk menjelaskan Al-Qur’an, Allah mengulang-ulang ayat-ayat-Nya. Dari sini dapat disimpulkan bahwa pengulangan merupakan salah satu teknik penjelasan dalam Al-Qur’an. 2. Demonstrasi
Kata “teknik” dalam kamus bahasa Indonesia diartikan “1) pengetahuan dan kepandaian membuat sesuatu yang berkenaan dengan hasil industri (bangunan, mesin, dan sebagainya); 2) cara (kepandaian dan sebagainya) membuat sesuatu atau yang berhubungan dengan seni; dan 3) metode atau sistem untuk mengerjakan sesuatu”. Lihat Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Op. Cit., hlm. 915-916. 61 Lihat Abû al-Husayn Ahmad bin Fâris bin Zakariyâ, Mu`jam Maqâyis al-Lughah, ditahkik oleh `Abd al-Salâm Muhammad Hârûn, juz III (Bayrût: Dâr al-Fikr, 1399/1979), hlm. 342. 62 Lihat Ibrâhîm Anîs, et al., Op. Cit., hlm. 513. 63 Lihat Amîn `Alî al-Sayyid, Fî `Ilm al-Sharf (Cet. III; Mesir: Dâr al-Ma`ârif, 1976), hlm. 48; Ahmad Hamlâwîy, Kitâb Syâdzdz al-`Urf fî Fann al-Sharf (Mesir: Mushthafâ al-Bâbî alHalabî wa Awlâduh, 1384/1965), hlm. 43. 64 Dalam bahasa Arab, partikel lâm yang mendahului kata kerja mudlâri` antara lain disebut dengan lâm al-`âqibah atau al-natîjah sehingga memiliki konotasi tujuan. Lihat Muhammad alTawnjîy dan Râjî al-Asmâ’, al-Mu`jam al-Mufashshal fî `Ulûm al-Lugah, diedit oleh Imayl Ya`qûb, juz I (Cet. I; Bayrût: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1414/1993), hlm. 493.
60

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

10

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

Demonstrasi sebagi teknik penjelasan dalam al-Qur'an. Demonstrasi yang dimaksudkan di sini adalah teknik penjelasan yang dilakukan dengan memperlihatkan secara lansung sesuatu yang dijelaskan. Teknik ini dapat dipahami dari QS. Fushshilat (41/61): 53. Dalam ayat ini, kata kunci yang menunjukkan demonstrasi sebagai teknik penjelasan adalah kata nurî dari klausa sanurîhim âyâtinâ. Kata ini berarti “memperlihatkan secara lansung (dengan mata kepala)”. Berangkat dari pengertian ini, maka klausa di atas dapat diartikan “Kami (Allah) akan memperlihatkan secara lansung kepada mereka (manusia) tanda-tanda (kekuasaan) Kami”. Dengan demikian, dapat dipahami bahwa untuk menjelaskan kebenaran Al-Qur’an kepada manusia, maka Allah menggunakan cara memperlihatkan secara langsung untuk mendemonstrasikan ayat-ayat-Nya di segenap ufuk dan pada diri manusia itu sendiri. 3. Perincian Perincian sebagai teknik penjelasan dalam Al-Qur'an dapat dipahami dari QS. al-'An`âm (6/55): 55. Menurut Wahbat al-Zuhaylîy, ayat ini menunjukkan bahwa tafshîl (perincian) merupakan salah satu cara atau teknik penjelasan (bayân).65 Kata nufashshilu pada ayat di atas mengandung makna “merinci”. Kejelasan jalan orang-orang yang berdosa yang diungkapkan dengan klausa li tastabîna sabîl almujrimîn yang didahului partikel lâm (li) yang mengandung konotasi “akibat” (al`âqibah) atau “hasil” (al-natîjah),66 merupakan tujuan dari pekerjaan yang diungkapkan dengan klausa nufashshilu al-âyât “Kami (Allah) merinci ayat-ayat Al-Qur’an”. Dengan kata lain, untuk menjelaskan jalan orang-orang yang berdosa, Allah menjelaskannya dengan merinci ayat-ayat Al-Qur’an yang berbicara tentang kesesatan jalan mereka. Dari sini dapat dipahami bahwa perincian merupakan salah satu teknik penjelasan dalam Al-Qur’an. 4. Dialog Dialog sebagai teknik penjelasan dalam Al-Qur'an. Dialog (hiwâr) ialah percakapan silih berganti antara dua pihak atau lebih melalui tanya jawab mengenai suatu topik yang mengarah kepada suatu tujuan.67 Sebagai teknik penjelasan dalam Al-Qur’an, dialog terdapat pada QS. al-Baqarah (2/87):67-71. Ayat ini menceritakan tentang dialog yang terjadi antara Nabi Mûsâ a.s. dengan kaumnya. Dalam dialog tersebut, yang menjadi topik atau pokok persoalan adalah perintah Allah kepada kaum Nabi Mûsâ a.s. untuk menyembelih seekor sapi betina. Karena mereka belum jelas tentang sapi betina yang dimaksud, maka mereka menanyakan sifat-sifat dan ciri-ciri sapi betina itu kepada Nabi Mûsâ a.s. Kemudian Nabi Mûsâ a.s. menjelaskan sifat-sifat dan ciri-ciri sapi betina itu sehingga terjadilah dialog yang intens antara Nabi Mûsâ a.s. dengan kaumnya sampai jelas bagi mereka hakikat sapi betina yang diperintahkan Allah untuk disembelih. Dari sini dapat dipahami bahwa Nabi Mûsâ a.s. menggunakan dialog sebagai teknik menjelaskan perintah Allah kepada kaumnya untuk meyembelih seekor sapi betina.

Wahbat al-Zuhaylîy, al-Tafsîr al-Munîr fî al-`Aqîdat wa al-Syarî`at wa al-Manhaj, juz VII (Cet. I; Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1413/1993), hlm. 220. 66 Lihat Muhammad al-Tawnjîy dan Râjî al-Asmar, Loc. Cit. 67 Lihat `Abd al-Rahmân al-Nahlâwîy, Ushûl al-Tarbiyyat al-Islâmiyyat wa Asâlibuhâ, diterjemahkan oleh Herry Noer Ali dengan judul Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam (Cet. II; Bandung: CV. Diponegoro, 1412/1992), hlm. 284.

65

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

11

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

5. Metafora Teknik penjelasan berikutnya adalah metafora (majâz), yaitu kata atau kalimat yang dipakai bukan berdasarkan makna yang sebenarnya, melainkan sebagai lukisan yang berdasarkan persamaan atau perbandingan.68 Sebagai teknik penjelasan, maka metafora yang dimaksud di sini adalah menjelaskan maksud atau pengertian sesuatu dengan memakai kata atau kalimat yang bukan pada makna sebenarnya, melainkan sebagai kiasan. Hal ini terlihat dalam QS. alBaqarah (2/87): 187 yang menjelaskan tentang kebolehan hubungan seksual (bersetubuh), makan dan minum pada malam hari bulan Ramadan sampai tebit fajar. Untuk menjelaskan hal tersebut, dalam ayat ini, Allah menggunakan kata atau kalimat secara metaforis. kata al-rafats yang berarti “(ucapan) kotor, keji”69 digunakan dengan makna hubungan seksual (bersetubuh). Kalimat hunna libâs(un) lakum wa antum libâs(un) lahunna “mereka itu adalah pakaian bagimu dan kamu pun adalah pakaian bagi mereka”, digunakan untuk melukiskan hubungan antara suami istri. Di sini kata libâs “pakaian” tidak digunakan dengan makna yang sebenarnya (haqîqîy), melainkan dengan makna metafora (majâzîy). Demikian pula kata al-khayth al-abyadl “benang putih” dan al-khayth al-aswad ”benang hitam” dalam klausa hattâ yatabayyana lakum al-khayth al-'abyadl min al-khayth al-aswad ”hingga terang bagimu benang putih dari benang hitam” yang digunakan untuk melukiskan terangnya pagi dan gelapnya malam.70 Dengan demikian, dari ayat ini dapat dipahami bahwa metafora merupakan salah satu teknik penjelasan dalam Al-Qur’an. 6. Perumpamaan Perumpamaan (tasybîh/tamtsîl) ialah menghubungkan suatu perkara kepada perkara yang lain dalam satu pengertian dengan alat dan tujuan tertentu.71 Menurut Ahmad Ahmad Badawîy dan al-Sa`dîy, tujuan penggunaan perumpamaan dalam Al-Qur’an adalah untuk menjelaskan dan menegaskan pesan yang terkandung di dalamnya dan biasanya digunakan untuk mengilustrasikan hal-hal abstrak (`aqlîy) dengan hal-hal yang bersifat konkret (hissîy).72 Dari tujuan ini dapat dipahami bahwa perumpamaan merupakan salah satu teknik penjelasan dalam Al-Qur’an. Hal ini terlihat dalam QS. al-Baqarah (2/87): 264-266 yang menyeru agar orang-orang yang beriman menjauhkan diri dari perbuatan riya' yang dapat mendatang kerugian yang nyata dan anjuran agar mereka berbuat demi mencari keridhaan Allah. Untuk menjelaskan dan menegaskan hal
Lihat Tim Penyusun Kamus, Op. Cit., hlm. 580; Lihat juga Pengertian majâz dalam Ahmad Mushthafâ al-Marâghîy, `Ulûm al-Balâghat: al-Bayân wa al-Ma`ânî wa al-Badî` (Cet. III; Bayrût: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1414/1993), hlm. 248; `Abd al-Qâdir al-Jurjânîy, Asrâr alBalâghat fî `Ilm al-Bayân, dikoreksi oleh Muhammad Rasyîd Ridlâ (Bayrût: Dâr al-Fikr, t. th.), hlm. 304. 69 Lihat Lois Ma'louphe, al-Munjid fî al-Lughat wa al-A`lam (Bayrût: Dâr al-Masyriq, 1986), hlm. 270. 70 Lihat Wahbat al-Zuhaylîy, Op. Cit., juz II, h. 147-148; Abû al-Qâsim Jârullâh Muhammad `Umar bin Muhammad al-Zamakhsyarîy, al-Kasysyâf `an Haqâ'iq Ghiwâmidl al-Tanzîl wa `Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh al-Ta’wîl, diteliti dan dikoreksi oleh Muhammad `Abd al-Salâm Syâhin, juz I (Cet. I; Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1415/1995), hlm. 228-229; Muhammad `Alî al-Shâbûnîy, Shafwat al-Tafâsîr, juz I (Cet. II; Bayrût: Dâr al-Qur’ân al-Karîm, 1401/1981), hlm. 123. 71 Lihat Ahmad Mushthafâ al-Marâghîy, Ulûm al-Balâghat… Op. Cit., hlm. 213. 72 Ahmad Ahmad Badawîy, Min Balâghat al-Qur’ân (Kairo: Dâr Nahdlat Mishr li al-Thab` wa al-Nasyr, t. th.), hlm. 190; `Abd al-Rahmân bin Nâshir al-Sa`dîy, al-Qawâ`id al-Hisân li Tafsîr al-Qur’ân (Riyâdl: Maktabat al-Ma`ârif, t.th.), hlm. 76.
68

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

12

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

tersebut, Allah mengumpamakan orang-orang yang berbuat riya seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, lalu ditimpa hujan lebat hingga bersih, dan seperti orang yang memiliki kebun yang penuh buah-buahan tetapi pada masa tua kebun itu ditiup angin kencang yang mengandung api hingga terbakar, padahal ia mempunyai keturunan yang masih kecil-kecil. Hal ini mengilustrasikan betapa rugi dan sia-sia perbuatan mereka karena kehilangan pahala pada saat yang sangat dibutuhkan. Sedangkan orang-orang yang berbuat demi mencari keridaan Allah, mereka diumpamakan seperti kebun di dataran tinggi yang mendapat siraman hujan lebat hingga buahnya berlipat ganda. Hal ini mengilustrasikan betapa untung dan senang mereka karena menerima pahala dari Allah. Dari perumpamaan-perumpamaan ini terlihat bahwa untuk menjelaskan sesuatu yang abstrak digunakan perumpamaan mengenai hal-hal yang bersifat konkret sehingga mudah dipahami dan dimengerti, sekaligus menunjukkan bahwa perumpamaan merupakan salah satu teknik penjelaan dalam Al-Qur’an. 7. Cerita Cerita sebagai teknik penjelasan yang dimaksudkan di sini adalah menjelaskan dengan cara penuturan yang mengungkapkan dan membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal, peristiwa atau kejadian.73 Dalam Al-Qur’an, teknik penjelasan ini dapat dilihat dalam QS. Alu `Imrân (3/89): 103 yang menegaskan tentang perintah Allah kepada orang-orang yang beriman untuk bersatu padu dengan berpegang teguh pada agama Allah, dan melarang mereka bercerai berai. Untuk menjelaskan perintah tersebut, dalam ayat ini Allah mengingatkan kepada orang-orang yang beriman dengan menceritakan keadaan buruk mereka pada masa jahiliyah yang saling bermusuh-musuhan dan dalam kesesatan . Dengan cerita ini dimaksudkan agar mereka mengambil pelajaran dan petunjuk dari masa lalu mereka, sehingga mereka mau melaksanakan perintah Allah untuk bersatu dan tidak bercerai berai. 8. Kronologi Kronologi74 sebagai teknik penjelasan yang dimaksudkan di sini adalah menjelaskan sesuatu berdasarkan susunan urutan waktu dari sejumlah kejadian atau peristiwa. Teknik ini dalam Al-Qur’an misalnya terlihat dalam QS. al-Hajj (22/105): 5. Melalui ayat ini, Allah menegaskan kebenaran adanya kebangkitan manusia dari kubur kepada orang-orang yang meragukannya. Untuk maksud itu, dalam ayat ini Allah menjelaskan secara kronologis kekuasaan-Nya untuk mengatur perjalanan hidup manusia mulai dari penciptaan manusia dari tanah, setetes mani, dan seterusnya sampai dewasa dan akhirnya meninggal dunia. Dari penjelasan kronologis ini, maka orang-orang yang menjadi sasaran pembicaraan (khithâb) Al-Qur’an dapat mengambil pengertian dan pemahaman bahwa kebangkitan dari kubur itu merupakan urutan peristiwa yang mesti dijalani
Dalam Kamus bahasa Indonesia, kata “cerita” diartikan dengan “1) tuturan yang membentangkan bagaimana terjadinya suatu hal (peristiwa, kejadian, dan sebagainya); 2) karangan yang menuturkan perbuatan, pengalaman atau penderitaan orang; kejadian dan sebagainya (baik yang sungguh-sungguh terjadi maupun hanya yang rekaan belaka); 3) lakon yang diwujudkan atau dipertunjukkan dalam gambar hidup (sandiwara, wayang, dan sebagainya); 4) omong kosong; dongengan (yang tidak benar); omongan”. Lihat Tim Penyusun Kamus, Op. Cit., hlm. 165. Dari beberapa makna ini, makna pertamalah yang relevan dengan pembahasan di sini. 74 Kata “kronologi” dalam kamus bahasa Indonesia diartikan “1) Ilmu pengukuran kesatuan waktu (seperti dalam astronomi dan geologi); 2) Susunan urutan waktu dari sejumlah kejadian atau peristiwa”. Lihat Tim Penyusun kamus, Op. Cit., hlm. 466.
73

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

13

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

manusia, sehingga mereka dapat meyakini kebenaran adanya kebangkitan manusia dari kubur. E. Kesimpulan Dalam Al-Qur’an terdapat tiga term yang mengandung makna dasar penjelasan, yaitu bayân, tafshîl dan tafsîr. Bayân merupakan term spesifik yang dipergunakan Al-Qur’an untuk mengungkapkan konsep penjelasan secara komprehensif. Di samping merupakan suatu proses memberikan penjelasan kepada orang lain mengenai maksud atau pengertian sesuatu, bayân yang telah diajarkan Allah kepada seluruh manusia juga mengandung makna kemampuan memahami penjelasan orang lain, sehingga ia merupakan potensi manusia yang memungkinkan terjadinya proses belajar mengajar di antara mereka sebagai interaksi edukatif. Term tafshîl dalam Al-Qur’an dipergunakan dengan berbagai konotasi dan dimensi yang berbeda-beda. Tafshîl dengan konotasi penjelasan merupakan salah satu teknik menjelaskan maksud atau pengertian sesuatu dengan jalan perincian atau penguraian. Adapun term tafsîr dalam kaitan dengan konsep penjelasan, maka tafsîr merupakan langkah awal yang harus dilakukan untuk menjelaskan maksud atau pengertian sesuatu kepada orang lain. Sebab, maksud atau pengertian sesuatu harus dimengerti dan dipahami terlebih dahulu sebelum dijelaskan kepada orang lain. Dengan demikian, meskipun secara konseptual berbeda, tetapi secara esensial ketiga term tersebut merupakan satu kesatuan yang bersifat fungsional. Dari ungkapan ayat-ayat Al-Qur’an yang secara spesifik menunjukkan makna penjelasan dapat diidentifikasi bahwa penjelasan menurut Al-Qur’an merupakan suatu proses kegiatan sistematis, suatu kesatuan yang terdiri atas beberapa komponen dasar yang berdiri sendiri tetapi saling berkaitan satu sama lain. Komponen-komponen dasar dimaksud meliputi subjek, objek, materi, alat dan tujuan. Adapun untuk melakukan penjelasan, dalam Al-Qur'an ditemukan teknikteknik penjelasan sebagai berikut. (1) Pengulangan, yaitu dengan jalan mengulang-ulang materi yang dijelaskan; (2) Demonstrasi, yaitu memperagakan atau memperlihatkan secara langsung sesuatu yang dijelaskan; (3) Perincian, yaitu merinci atau menguraikan materi yang dijelaskan; (4) Dialog, yaitu dengan percakapan silih berganti antara subjek dan objek yang diberi penjelasan mengenai sesuatu yang dijelaskan; (5) Metafora, yaitu dengan menggunakan kata atau kalimat yang bukan pada makna sebenarnya, melainkan sebagai kiasan; (6) Perumpamaan, yaitu mengumpamakan sesuatu yang dijelaskan dengan sesuatu yang lain karena mempunyai kesamaan pengertian; (7) Cerita, yaitu dengan mengungkapkan bagaimana terjadinya sesuatu yang dijelaskan; dan (8) Kronologi, yaitu menjelaskan sesuatu berdasarkan susunan urutan waktu. Penggunaan teknik-teknik tersebut dalam proses belajar mengajar tentu harus mempertimbangkan komponen-komponen dasar penjelasan yang telah diuraikan pada bab terdahulu. Sebab, suatu teknik penjelasan yang sesuai dengan materi tertentu, belum tentu cocok untuk materi yang lain. Demikian pula dengan komponen-komponen dasar penjelasan yang lain, seperti subjek, objek, alat dan tujuan penjelasan.

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

14

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

DAFTAR PUSTAKA Al-Anshârîy, Jamâl al-Dîn ibn Hisyâm. Mughnî al-Labîb ‘an Kutub al-A‘ârîb, ditahkik dan diberi anotasi oleh Mâzin al-Mubârak dan Muhammad ‘Alî Hamdallâh. Cet. VI; Bayrût: Dâr al-Fikr, 1985. Al-Ashfahânîy, al-Râghib. Mu`jam Mufradât Alfâz al-Qur’ân, ditahkik oleh Nadîm Mar`asylî. Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th. Al-Bâqîy, Muhammad Fu’âd `Abd. al-Mu`jam al-Mufahras li Alfâz al-Qur’ân alKarîm. Cet. II; Bayrût: Dâr al-Fikr, 1401/1981. Al-Fayrûzâbâdîy, Abû Thâhir bin Ya`qûb. Tanwîr al-Miqbâs min Tafsîr Ibn `Abbâs. Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th. Al-Farmâwîy, `Abd al-Hayy. Al-Bidâyat fî al-Tafsîr al-Mawdlû`îy. Mesir: Maktabat Jumhûriyyat Mishr, 1977). Al-Jalâl, `Abd al-Fattâh. Min Ushûl al-Tarbiyyat fî al-Islâm, diterjemahkan oleh Herry Noer Ali dengan judul Asas-asas Pendidikan Islam. Cet. I; Bandung: CV. Diponegoro, 1988. Al-Jamâlîy, Muhammad Fâdlil. Tarbiyyat al-Insân al-Jadîd. Tunisia: Mathba`at al-Ittihâd al-`Âm, 1967. Al-Jurjânîy, `Abd al-Qâdir. Asrâr al-Balâgat fî `Ilm al-Bayân, dikoreksi oleh Muhammad Rasyîd Ridlâ. Bayrût: Dâr al-Fikr, t. th. Al-Marâghîy, Ahmad Mushthafâ. `Ulûm al-Balâghat: al-Bayân wa al-Ma`ânî wa al-Badî`. Cet. III; Bayrût: Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1414/1993. Al-Nahlâwîy,`Abd al-Rahmân. Ushûl al-Tarbiyyat al-Islâmiyyat wa Asâlibuhâ, diterjemahkan oleh Herry Noer Ali dengan judul Prinsip-prinsip dan Metode Pendidikan Islam. Cet. II; Bandung: CV. Diponegoro, 1412/1992. Al-Sayyid, Amîn `Alî. Fî `Ilm al-Sharf. Cet. III; Mesir: Dâr al-Ma`ârif, 1976. Al-Sayûthîy, ‘Abd al-Rahmân Jalâl al-Dîn. al-Muzhir fî ‘Ulûm al-Lughat wa Anwa‘ihâ, diberi anotasi dan dikomentari oleh Muhammad Ahmad Jâd alMawlâ, et al. Jilid II. Bayrût: Dâr al-Jayl, t. th. Al-Sa`dîy, `Abd al-Rahmân bin Nâshir. al-Qawâ`id al-Hisân li Tafsîr al-Qur’ân. Riyâdl: Maktabat al-Ma`ârif, t.th. Al-Shâbûnîy, Muhammad `Alî. Shafwat al-Tafâsîr. Juz I. Cet. II; Bayrût: Dâr alQur’ân al-Karîm, 1401/1981. Al-Tawnjîy, Muhammad dan al-Asmâ’, Râjî. al-Mu`jam al-Mufashshal fî `Ulûm al-Lugah, diedit oleh Imayl Ya`qûb. Juz I. Cet. I; Bayrût: Dâr al-Kutub al`Ilmiyyah, 1414/1993.

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

15

LSQ
[Lembaga Studi Al-Qur’an] Al-Hadi

Serial Kajian Tafsir Tarbawi

Al-Zamakhsyarîy, Abû al-Qâsim Jârullâh Muhammad `Umar bin Muhammad. alKasysyâf `an Haqâ'iq Ghiwâmidl al-Tanzîl wa `Uyûn al-Aqâwîl fî Wujûh alTa’wîl, diteliti dan dikoreksi oleh Muhammad `Abd al-Salâm Syâhin. Juz I. Cet. I; Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1415/1995. Al-Zâwîy, al-Thâhir Ahmad. Tartîb al-Qâmûs al-Muhîth `alâ Tharîqat alMishbâh al-Munîr wa Asâs al-Balâghah. Juz I. Cet. III; Bayrût: Dâr al-Fikr, t.th. Al-Zuhaylîy, Wahbat. al-Tafsîr al-Munîr fî al-`Aqîdat wa al-Syarî`at wa alManhaj. Juz VII. Cet. I; Dâr al-Kutub al-`Ilmiyyah, 1413/1993. Anîs, Ibrâhîm. et al. al-Mu`jam al-Wasîth. Juz II. Bayrût: Dâr al-Fikr, t. th. Arifin,M. Ilmu Pendidikan Islam. Cet. II; Jakarta: Bumi Aksara, 1993. `Alî, Sa`îd Ismâ`îl. Nasy’at al-Tarbiyyat al-Islâmiyyah. Kairo: `Âlam al-Kutub, 1978. Badawîy, Ahmad Ahmad. Min Balâghat al-Qur’ân. Kairo: Dâr Nahdlat Mishr li al-Thab` wa al-Nasyr, t. th. Gerlach, Vernon S. & Ely, Donald P. Teaching and Media: A Systematic Approach. Englewood Cliffs: Prentice-Hall, 1971 Hamlâwîy, Ahmad. Kitâb Syâdzdz al-`Urf fî Fann al-Sharf. Mesir: Mushthafâ alBâbî al-Halabî wa Awlâduh, 1384/1965. Ibn Manzhûr, Abû al-Fadl Jamâl al-Dîn Muhammad bin Mukarram. Lisân al`Arab. Juz XVI. t.tp.: Dâr al-Mishriyyat li al-Ta’lîf wa al-Tarjamah, t.th. Ibn Zakariyâ, Abû al-Husayn Ahmad bin Fâris. Mu`jam Maqâyis al-Lughah, diteliti dan dikoreksi oleh `Abd al-Salâm Muhammad Hârûn. Juz I. Cet. II; Mesir: Syirkat Maktabat wa Mathba`at Mushthafâ al-Bâbîy al-Halabîy wa Awlâduh, 1391/1971. Ibrâhîm, Muhammad Ismâ`îl. Mu`jam al-Alfâz wa al-A`lâm al-Qur’âniyyah. Kairo: Dâr al-Fikr al-`Arabîy, t.th. Marimba, Ahmad D. Pengantar Filsafat Pendidikan Islam. Cet. VII; Bandung: Al-Ma‘arif, 1987. Ma'louphe, Lois. al-Munjid fî al-Lughat wa al-A`lam. Bayrût: Dâr al-Masyriq, 1986. Salim, Abd. Muin. Fiqh Siyasah: Konsepsi Kekuasaan Politik dalam Al-Quran (Cet. I; Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 1994. -------“Beberapa Aspek Metodologi Tafsir Al-Quran,” Diktat. Ujungpandang: LSKI, 1992. Tim Penyusun Kamus Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa. Kamus Besar Bahasa Indonesia. Cet. II; Jakarta: Balai Pustaka, 1989.

Sofyan Hadi | Teknik Penjelasan Al-Qur`an

16

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->