P. 1
manajemaem konflik.pdf

manajemaem konflik.pdf

|Views: 228|Likes:
Published by Alif
mankep
mankep

More info:

Categories:Types, Reviews
Published by: Alif on Jun 05, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

02/13/2015

pdf

text

original

Teori konflik berasal dari Eropa dalam karya-karya Karl Marx, Max Weber,

dan George Simmel. Dalam konteks modern menurut Ritzer (2005: 134) teori

konflik muncul di Amerika, meskipun terdapat fakta bahwa teori ini muncul

kembali pada pertengahan abad kedua puluh dengan terinspirasi dari Eropa yang

merupakan asal kritik fungsionalisme struktural. Awal kritik fungsionalisme

menurut Turner (1978: 143) datang dari David Lockwood dan Ralf Dahrendorf,

yang berpendapat bahwa teori fungsional, khususnya yang dipaparkan oleh

Talcott Parsons, mempresentasikan kaitan pandangan organisasi sosial yang tidak

bisa memprediksikan konflik dan perubahan. Kritik ini ditopang oleh teoretisi

kritis Lewis Coser (1964: 26) yang berpendapat bahwa teori konflik dan

fungsional yang terlalu ekstrim, membutuhkan penilaian fungsi konflik.

Konflik merupakan suatu bentuk interaksi sosial ketika dua individu

mempunyai kepentingan yang berbeda dan kehilangan keharmonisan di antara

mereka. Pada dasarnya konflik merupakan hal yang alamiah dan sering terjadi

dalam kehidupan sehari-hari. Walter (Maftuh, 2008:1) menyatakan bahwa “ the

history of humankind and the rise and fall of civilization is unquestionably a story

of conflict. Conflict is inherent in human activities. Iti is omnipresent and

foreordained”. Dalam bahasa biasa Dahrendorf (Jeong, 2008: 6), menafsirkan

konflik telah secara luas dikaitkan dengan ketegangan dalam mengambil

21

keputusan pada berbagai pilihan, dan terkadang diwujudkan dalam konfrontasi

antara kekuatan sosial. Dalam arti luas, konsep konflik telah ditarik dan

dipergunakan untuk menggambarkan setiap perselisihan yang dihasilkan oleh

setiap aspek dari situasi sosial.

Konflik manusia menurut Campbell (2006: 157) mempunyai derajat

kompleksitas dan intensitas yang dapat di temui dalam individu, kelompok dan

negara-negara seluruh dunia. Konflik sosial biasanya timbul ketika dua belah

pihak atau lebih mencapai tujuan yang tidak kompatibel dan pada tahap

berikutnya keduanya melakukan perjuangan untuk mencapai tujuan dan saling

mengalahkan. Potensi konflik akan meningkat seiring dengan meningkatnya

partisipasi sosial dan perubahan budaya yang cepat. Variasi budaya menyebabkan

bervariasinya tingkatan dan bentuk konflik.

Ritzer (2005: 134) membagi konsep teori konflik yang muncul di Amerika

menjadi tiga, dua dikhususkan untuk menghidupkan kembali Marx dan Weber

(dengan memasukkan unsur-unsur Simmelian) dan sepertiga menggabungkan

unsur-unsur baik Marx dan Weber. Hal ini menandai tumbuhnya teori konflik

neo-Marxis, neo-Weberian, dan historis-komparatif. Di samping itu muncul juga

teori umum yang lebih spesifik terkait dengan gerakan sosial dan identitas politik

(misalnya, etnis dan gender). Bagaimanapun teori kritis tidak mengalami

kebangkitan yang sama di Amerika, sebagian didominasi Eropa atau telah

dimasukkan ke dalam kebangkitan teori konflik Marxis.

Pendekatan yang agak berbeda dari Marxis dan Weberian menurut Ritzer

(2005: 136) adalah teori konflik dalam tradisi sejarah komparatif dengan

22

menekankan pada dua faktor dasar. Satu faktor adalah kondisi yang menyebabkan

massa melakukan mobilisasi ideologi, politik, dan organisasi untuk melakukan

konflik terhadap negara dan elit yang mendominasi mereka. Faktor dasar kedua

adalah kekuatan yang mengarah pada kerusakan pada kekuasaan negara dan

dikarenakan kapasitasnya untuk melakukan kontrol terhadap populasi. Faktor

pertama memiliki penekanan Marxis, dengan perbaikan Weberian, sedangkan

yang kedua adalah lebih sejalan dengan kekhawatiran Weber tentang kapasitas

negara untuk mendominasi populasi.

Termasuk juga dalam teori ini menurut penulis adalah Teori collective

behavior NJ. Smelser. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam bukunya

Collective Behavior (1971: 4) bahwa dalam konteks pendekatan historis menurut

Smelser meneliti perilaku kolektif dilakukan dengan tiga alasan. Pertama karena

perilaku kolektif terjadi secara spontan dan berubah-ubah. Perilaku ini bisa

berawal dari perilaku seseorang yang menjadi sentral kemudian berkembang

menjadi kerumunan, kelompok massa menjadi terpengaruh dan akhirnya mencari

sebuah pembenar perilaku bersama. Kedua, banyak perilaku kolektif

membangkitkan reaksi emosional yang kuat. Ketiga, Kejadian perilaku kolektif

rata-rata tidak dapat diamati dengan eksperimen . Hal ini ditegaskan kembali oleh

Smelser dalam bukunya International Encyclopedia of the Social & Behavioral

Sciences (2001: 2207) bahwa perilaku kolektif ini apabila dirunut secara ilmiah

merupakan keberlanjutan dari pendekatan historis komparatif dalam teori konflik.

Dalam menguak latar belakang terjadinya konflik kekerasan pasca pilkada di

Tuban tahun 2006, pendekatan collective behavior menurut penulis sesuai dan

23

dapat diterapkan dalam menganalisis. Kesesuaian tersebut menurut asumsi penulis

didasarkan pada kasus kerusuhan pasca pilkada yang terjadi di Tuban dilakukan

oleh massa dengan jumlah yang sangat banyak. Massa tersebut bukan hanya dari

satu elemen masyarakat, akan tetapi berasal dari berbagai elemen yang bersatu.

Ada sebuah kondisi menyebabkan massa melakukan mobilisasi ideologi, politik,

dan organisasi untuk melakukan konflik terhadap pemerintah dan elit yang

mendominasi mereka. Kerusuhan yang ditimbulkan pun tidak di tempat yang

sembarangan, akan tetapi pada setiap aset-aset yang dimiliki oleh lawan.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->