BAB II KAJIAN TEORI A. Konflik 1.

Pengertian konflik Teori konflik berasal dari Eropa dalam karya-karya Karl Marx, Max Weber, dan George Simmel. Dalam konteks modern menurut Ritzer (2005: 134) teori konflik muncul di Amerika, meskipun terdapat fakta bahwa teori ini muncul kembali pada pertengahan abad kedua puluh dengan terinspirasi dari Eropa yang merupakan asal kritik fungsionalisme struktural. Awal kritik fungsionalisme menurut Turner (1978: 143) datang dari David Lockwood dan Ralf Dahrendorf, yang berpendapat bahwa teori fungsional, khususnya yang dipaparkan oleh Talcott Parsons, mempresentasikan kaitan pandangan organisasi sosial yang tidak bisa memprediksikan konflik dan perubahan. Kritik ini ditopang oleh teoretisi kritis Lewis Coser (1964: 26) yang berpendapat bahwa teori konflik dan fungsional yang terlalu ekstrim, membutuhkan penilaian fungsi konflik. Konflik merupakan suatu bentuk interaksi sosial ketika dua individu mempunyai kepentingan yang berbeda dan kehilangan keharmonisan di antara mereka. Pada dasarnya konflik merupakan hal yang alamiah dan sering terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Walter (Maftuh, 2008:1) menyatakan bahwa “ the history of humankind and the rise and fall of civilization is unquestionably a story of conflict. Conflict is inherent in human activities. Iti is omnipresent and foreordained”. Dalam bahasa biasa Dahrendorf (Jeong, 2008: 6), menafsirkan konflik telah secara luas dikaitkan dengan ketegangan dalam mengambil

20

keputusan pada berbagai pilihan, dan terkadang diwujudkan dalam konfrontasi antara kekuatan sosial. Dalam arti luas, konsep konflik telah ditarik dan dipergunakan untuk menggambarkan setiap perselisihan yang dihasilkan oleh setiap aspek dari situasi sosial. Konflik manusia menurut Campbell (2006: 157) mempunyai derajat kompleksitas dan intensitas yang dapat di temui dalam individu, kelompok dan negara-negara seluruh dunia. Konflik sosial biasanya timbul ketika dua belah pihak atau lebih mencapai tujuan yang tidak kompatibel dan pada tahap berikutnya keduanya melakukan perjuangan untuk mencapai tujuan dan saling mengalahkan. Potensi konflik akan meningkat seiring dengan meningkatnya partisipasi sosial dan perubahan budaya yang cepat. Variasi budaya menyebabkan bervariasinya tingkatan dan bentuk konflik. Ritzer (2005: 134) membagi konsep teori konflik yang muncul di Amerika menjadi tiga, dua dikhususkan untuk menghidupkan kembali Marx dan Weber (dengan memasukkan unsur-unsur Simmelian) dan sepertiga menggabungkan unsur-unsur baik Marx dan Weber. Hal ini menandai tumbuhnya teori konflik neo-Marxis, neo-Weberian, dan historis-komparatif. Di samping itu muncul juga teori umum yang lebih spesifik terkait dengan gerakan sosial dan identitas politik (misalnya, etnis dan gender). Bagaimanapun teori kritis tidak mengalami kebangkitan yang sama di Amerika, sebagian didominasi Eropa atau telah dimasukkan ke dalam kebangkitan teori konflik Marxis. Pendekatan yang agak berbeda dari Marxis dan Weberian menurut Ritzer (2005: 136) adalah teori konflik dalam tradisi sejarah komparatif dengan

21

menekankan pada dua faktor dasar. Satu faktor adalah kondisi yang menyebabkan massa melakukan mobilisasi ideologi, politik, dan organisasi untuk melakukan konflik terhadap negara dan elit yang mendominasi mereka. Faktor dasar kedua adalah kekuatan yang mengarah pada kerusakan pada kekuasaan negara dan dikarenakan kapasitasnya untuk melakukan kontrol terhadap populasi. Faktor pertama memiliki penekanan Marxis, dengan perbaikan Weberian, sedangkan yang kedua adalah lebih sejalan dengan kekhawatiran Weber tentang kapasitas negara untuk mendominasi populasi. Termasuk juga dalam teori ini menurut penulis adalah Teori collective behavior NJ. Smelser. Hal ini sebagaimana dikemukakan dalam bukunya Collective Behavior (1971: 4) bahwa dalam konteks pendekatan historis menurut Smelser meneliti perilaku kolektif dilakukan dengan tiga alasan. Pertama karena perilaku kolektif terjadi secara spontan dan berubah-ubah. Perilaku ini bisa berawal dari perilaku seseorang yang menjadi sentral kemudian berkembang menjadi kerumunan, kelompok massa menjadi terpengaruh dan akhirnya mencari sebuah pembenar perilaku bersama. Kedua, banyak perilaku kolektif

membangkitkan reaksi emosional yang kuat. Ketiga, Kejadian perilaku kolektif rata-rata tidak dapat diamati dengan eksperimen . Hal ini ditegaskan kembali oleh Smelser dalam bukunya International Encyclopedia of the Social & Behavioral Sciences (2001: 2207) bahwa perilaku kolektif ini apabila dirunut secara ilmiah merupakan keberlanjutan dari pendekatan historis komparatif dalam teori konflik. Dalam menguak latar belakang terjadinya konflik kekerasan pasca pilkada di Tuban tahun 2006, pendekatan collective behavior menurut penulis sesuai dan

22

dapat diterapkan dalam menganalisis. Kesesuaian tersebut menurut asumsi penulis didasarkan pada kasus kerusuhan pasca pilkada yang terjadi di Tuban dilakukan oleh massa dengan jumlah yang sangat banyak. Massa tersebut bukan hanya dari satu elemen masyarakat, akan tetapi berasal dari berbagai elemen yang bersatu. Ada sebuah kondisi menyebabkan massa melakukan mobilisasi ideologi, politik, dan organisasi untuk melakukan konflik terhadap pemerintah dan elit yang mendominasi mereka. Kerusuhan yang ditimbulkan pun tidak di tempat yang sembarangan, akan tetapi pada setiap aset-aset yang dimiliki oleh lawan. 2. Perilaku Kolektif (Collective Behavior) Istilah collective behavior/perilaku kolektif belum ada sebuah pembakuan. Istilah yang paling umum selama ini dipergunakan adalah “perilaku kolektif” meskipun tidak mengacu pada fenomena penyerangan sebuah kelas. Brown dalam Smelser (1971: 2) seorang psikolog menyatakan bahwa istilah perilaku kolektif dinisbatkan untuk tindakan yang mencakup perilaku massa dan dinamika kolektif. Istilah dinamika kolektif kemudian di dukung oleh Lang-lang yang

menggambarkan tentang hubungan khusus dalam perubahan sosial tentang perilaku kolektif. Istilah yang lebih akurat yang mencakup peristiwa yang terjadi dalam kelompok-kelompok adalah ledakan kolektif dan gerakan kolektif. Ledakan kolektif menurut Smelser (1971: 3) mencakup kepanikan, kegilaan, ungkapan permusuhan, semua ini ada pemicunya dan melakukan gerakan bersama dalam perombakan nilai dan norma. Dalam arti luas perilaku kolektif mengacu pada perilaku dari dua atau lebih individu yang bertindak secara bersama-sama secara

23

banyak perilaku kolektif membangkitkan reaksi emosional yang kuat. a. kelompok masa menjadi terpengaruh dan akhirnya mencari sebuah pembenar perilaku bersama. elemen-elemen ini muncul secara langsung. banyak unsur mitos sosial. Perilaku ini bisa berawal dari perilaku seseorang yang menjadi sentral kemudian berkembang menjadi kerumunan. 1971: 5) telah menggolongkan beberapa dimensi dalam pengelompokan yaitu: (a) Ukuran adalah penting untuk mengetahui apakah kelompok termasuk kelompok kecil. (b) frekuensi peserta (c) frekuensi polarisasi perhatian 24 . kita dapat mengamati kejadian yang asli yaitu perilaku kolektif dalam bentuk seperti penyimpangan dan hal ini menjadikan laboratorium lapangan di mana kita dapat belajar langsung tentang komponen perilaku tertentu yang jarang kita temukan. Selama terjadi perilaku kolektif.kolektif. ideologi. Sifat Dari Perilaku Kolektif Dalam pembatasan dan mengklasifikasikan bidang perilaku kolektif. Menurut Smelser (1971:4) sejarawan meneliti perilaku kolektif dengan tiga alasan. kita dapat melanjutkan dengan berbagai tingkat formalitas. Ketiga. dll baik yang dikendalikan atau yang sudah ditentukan dan karenanya tidak mudah diamati. Keuntungan dari mempelajari Perilaku Kolektif menurut Smelser (1971:4) adalah dalam kondisi interaksi yang stabil. dan untuk memahami perilaku dengan cara ini harus mengerti semua kehidupan kelompok. menengah atau besar. Pertama karena perilaku kolektif terjadi secara spontan dan berubah-ubah. Roger Brown (Smelser. Kedua. potensi kekerasan. Kejadian perilaku kolektif rata-rata tidak dapat diamati dengan eksperimen.

(d) Tingkat kedalaman identifikasi psikologis dari anggota. Dengan mempergunakan beberapa kriteria diatas. Kriteria ketiga mengacu pada cara di mana partisipasi yang dimobilisasi untuk bertindak. 25 . norma-norma).kelompok. Brown membedakan perilaku kolektif sebagai sebuah fenomena massa dan perilaku kolektif sebagai bentuk tindakan. Kelompok kedua merujuk pada modus komunikasi dan interaksi. Diantaranya (1) karakteristik perilaku kolektif tidak didefinisikan secara fisik ataupun temporal. juga ukuran psikologi yang dipergunakan dimana individu memiliki rasa kontrol pribadi ataupun perintah dari pimpinan kelompok. Kelompok pertama adalah kelompok kecil selain ukuran fisik. dengan interpretasi yang dikendalikan oleh masingmasing peserta aksi yang lain. Smelser (1971: 6) mengutip pendapat Herbert Blumer dalam membatasi kajiannya pada perilaku kolektif yang meliputi (a) perilaku kelompok kecil (ukuran fisik). Smelser (1971: 9-11) mengungkapka tiga hal yang perlu diperhatikan. dan (b) sebuah budaya perilaku (ukuran peraturan. (3) perilaku kolektif tidak didefinisikan secara psikologis. (2) karakteristik perilaku kolektif tidak didefinisikan dengan kebohongan pada tataran komunikasi maupun interaksi. Dalam kelompok besar bentuk-bentuk baru komunikasi dan interaksi timbul. atau komunikasi satu arah dari media massa. Dalam melakukan penelitian tentang perilaku kolektif sebagaimana telah dilakukan oleh Brown dan Blumer. seperti reaksi melingkar tidak terkendali kerumunan psikologis. Dalam kelompok kecil proses ini ada pada konfrontasi pribadi dan pola dialog.

faktor sosiologis meliputi kurangnya solidaritas kelompok. Sebuah pernyataan efektif dari mekanisme sebab-akibat kepanikan tidak bisa dibuat hanya dengan mendaftar faktor penyebab dikarenakan faktorfaktor ini sangatlah beragam sifatnya. Proses pentahapan ini akan menjadi lebih spesifik dengan membawa bebrapa elemen terpenting yang akan menjadi sebuah ciri khas tertentu. kecemasan. dan sejenisnya. Setiap tahapan dan tahapan berikutnya akan terus meningkat dan saling berkaitan membenuk suatu jaringan yang sempurna dalam melihat sebuah fenomena. kurang tidur. Dalam meneliti faktor prnyebab perilaku kolektif harus menggabungkan beberapa elemen penting dalam perilaku untuk dirangkai menjadi sebuah tahapan yang akan menjadi sebuah analisa akhir dalam pola tertentu. Hasil akhir hanyalah sebuah penampakan dari beberapa proses sebelumnya yang menjadi dasar hingga kemunculan teori-teori yang dapat dipergunakan dalam analisa perilaku kolektif. Faktor Penyebab Perilaku Kolektif Kondisi kepanikan secara kasar menurut Smelser (1971: 12) dapat digolongkan menjadi tiga kategori: fisiologis. perasaan terisolasi. kondisi racun tubuh. kesadaran atau ketidakberdayaan sebelum harapan tak terelakkan dari bahaya. dan sosiologis. Faktor psikologis yang mengejutkan. ketidakpastian. psikologis. kondisi kerumunan.b. kurangnya kepemimpinan resimen dalam kelompok. 26 . kekurangan gizi. Terbentuknya tahapantahapan ini tidak menutup kemungkinan adanya hambatan yang yang akan semakin memantapkan aplikasi tahapan-tahapan tersebut. faktor psikologis diantaranya kelelahan.

(4) Precipitating factors.Posisi metodologis menurut Smelser (1971: 14) telah dikembangkan oleh Meyer dan Conrad dengan penjelasan referensi dalam sejarah ekonomi. pendidikan. Hal ini berkaitan erat dengan aspek ekonomi. Tindakan pengabaian dari hak dan kewajiabn yang telah berlaku dalam struktur sosial yang ada dan merubahnya dengan sebuah pola baru biasanya dilakukan berdasarkan sebuah kajian terhadap 27 . Dari beberapa kajian ini. Jika keinginan dari ahli sejarah ini untuk mengetahui dan menjelaskan sebuah fenomena yang spesifik maka harus mengikuti sebuah merode ilmiah. 2001: 2205) adalah sebuah keadaan dimana beberapa struktur sosial yang telah ada baik keberadaannya didasarkan atas agama. Benturan dalam bentuk pemaksaan sebuah pola/struktur baru ini akan menyebabkan sebuah pemberontakan pada masing-masing anggota kelompok yang memungkinkan menjadi sumber konflik apabila menemukan momentumnya. politik yang menjadi sebuah tujuan tertentu penguasa walaupun dengan mengorbankan beberapa nilai-nilai tradisional. 2001: 2205-2206) memetakan enam faktor yang menjadi penyebab perilaku kolektif yaitu (1) structural conduciveness. ataupun keturunan tidak lagi diakomodasi pada berbagai kepentingannya. (5) Mobilization of participants for action. Structural strain menurut Smelser (1971: 15-16. social. akhirnya Smelser (1971: 15-17. structural conduciveness menurut Smelser (1971: 15. (3) Growth and spread of a generalized belief . (2) structural strain. kekayaan. (6) The operation of social control. 2001: 2205) adalah sebuah pemaksaan atas sebuah pola atau struktur baru dari pola atau struktur yang lama sebagai alat untuk melaksanakan tujuan tertentu penguasa.

realita yang ada. Kekecewaan yang terjadi dalam struktur inilah yang akan memungkinkan menjadi sumber konflik nanti di kemudian hari. Kondisi ini juga tidak 28 . Growth and spread of a generalized belief menurut Smelser (1971: 16. 2001: 2205) adalah sebuah kondisi dimana ada satu nilai sentral atau tujuan utama dalam masyarakat yang terbentuk ketika nilai-nilai tradisisional hancur beserta tujuan-tujuannya. Meskipun hal ini dilakukan dengan pertimbangan yang rasional. Precipitating factor menurut Smelser (2001: 2206) adalah suatu kondisi dimana tatanan social telah ambruk yang di barengi dengan memudarnya nilainilai social. Satu nilai sentral yang kemudian dianut secara bersama-sama menjadi sebuah kesadaran dalam masyarakat sangat berpengaruh terhadap terjadinya sebuah gerakan pemberontakan bersama. Disini agama dinilai sebagai sebuah solusi terakhir permasalahan-permasalahan kemanusiaan yang terjadi dan telah menghancurkan nilai-nilai tradisional. tetapi keadaan struktur sosial yang telah menjadi kultur setempat akan menjadi penyebab adanya kekecewaan di tingkatan elit-elit sosial yang ada terutama yang kepentingannya tidak terakomodir. Ikatan dalam bentuk tujuan bersama ini dapat menjadi penggerak akan adanya gerakan pemberontakan terhadap realita ketidak adilan yang dilakukan oleh penguasa. Pergerakan masyarakat yang semula terikat oleh nilai-nilai tradisi dan memudar mencoba mencari penyelesaian melalui nilai-nilai agama. Dalam kondisi ini banyak orang mencari sebuah pengharapan pada nilai-nilai spiritual yang banyak memberikan inspirasi tentang nilai-nilai yang ada. Satu cita-cita yang sama apalagi didasari dengan sebuah landasan keagamaan melalui ikatan-ikatan spiritual akan mengikat masyarakat dengan kuat dalam sebuah perjuangan.

konsolidasi yang endingnya dapat digerakkan untuk melakukan pemberontakan. agama maupun social sehingga mereka melakukan pertemuan-pertemuan informal yang dapat meningkatkan semangat perjuangan. (2) untuk mengendalikan massa ketika telah terjadi pemberontakan bersama. 29 . Menurut Smelser (1971: 17) tujuan analisis ini antara lain untuk membedakan dua tipe dari kontrol sosial (1) untuk mencegah terjadinya pemberontakan bersama. Mobilization of participants for action menurut Smelser (2001.terlepas dari gerakan para elit politik. 2206) adalah sebuah pola pengumpulan massa melalui konsolidasi ikatan-ikatan yang ada dalam masyarakat. ada faktor mobilization for action yang dilakukan oleh para elit agama ataupun elit sosial. ekonomi. Ikatan-ikatan yang ada dalam masyarakat ini dapat dipergunakan untuk melakukan agitasi. Adanya ikatan ini sangat penting untuk menunjang keberhasilan sebuah gerakan pemberontakan sehingga dalam kemunculan sebuah kekerasan. agama yang beberapa kepentinganya tersingkirkan untuk melakukan konsolidasi. The operation of social control menurut Smelser adalah memudarnya kontrol terhadap masyarakat yang dilakukan oleh pihak penguasa untuk mengantisispasti terjadinya sebuah gerakan perlawanan oleh masyarakat. Kondisi ini dipicu oleh tindakakan represif pemerintah yang melarang diadakannya pertemuan-pertemuan formal oleh para elit politik. sehingga memunculkan gelombang protes yang mereka gerakkan dari ikatan-ikatan keagamaan yang semakin menguat. ikatan budaya maupun ikatan sosial. Ikatan-ikatan tersebut dapat berupa ikatan yang bersifat formal maupun informal dan dapat berupa ikatan keagamaan.

(2) pemecahan. kelompok dalam beberapa hal dimana satu pihak menginginkan daripada yang lain. Kheel (1999: 8) memberikan definisi resolusi konflik dengan memilah satu persatu antara konflik dan resolusi. karena akan memberikan pengertian bahwa kejadian sebelumnya (konflik) seakan-akan tidak pernah terjadi.Secara tidak langsung tindakan represif yang dilakukan penguasa akan menjadikan tindakan masyarakat menjadi semakin massif seiring dengan adanya stigma musuh bersama yang dibangun melalui pertemuan-pertemuan informal. Pengertian yang paling akhir adalah yang sangat tepat. Resolusi didefinisikan sebagai penyelesaian 30 . Resolusi Konflik 1. Adanya konsoslidasi informaal ini yang tidak disadari oleh pihak penguasa memberikan daya dorong yang sangat kuat terhadap terjadinya sebuah pemeberontakan. (3) penghapusan atau penghilangan permasalahan. Hal ini akan menempatkan permasalahan tersebut memang benar-benar selesai dan sudah hilang dari pemikiran setiap orang yang sebelumnya terlibat dalam konflik tersebut. Menurutnya konflik adalah perbedaan antara dua atau lebih individu. Resolusi dalam definisi kamus Webster menurut Levine (1998: 3) adalah (1) tindakan mengurai sesuatu permasalahan yang membingungkan meskipun dalam bentuk pertanyaan. Pengertian Resolusi Konflik Resolusi konflik atau dalam bahasa Inggris dinamakan conflict resolution diberikan pemaknaan yang berbeda-beda oleh para ahli yang konsen meneliti tentang konflik berdasarkan konteks dan kegunaan istilah kata ini. B.

Resolusi konflik adalah pemecahan masalah dengan menggunakan kolaborasi dimana pihak ketiga yang netral membantu para pihak yang sedang bersengketa untuk melakukan konsiliasi. Burton (Nimer. Sedangkan Peter Wallensteen (2002: 8) mengartikan resolusi konflik sebagai sebuah kondisi setelah konflik dimana pihak-pihak yang berkonflik melaksanakan perjanjian untuk memecahkan persoalan yang mereka perebutkan. Confict settlement adalah pemecahan masalah dengan memenuhi kebutuhan semua pihak dan diterima dalam waktu yang sementara karena paksaan pihak yang kuat. 31 . Pada konteks ini resolusi konflik adalah sesuatu yang pasti datang setelah konflik dan secara otomatis kita harus mempunyai konsep dan alat untuk menganalisa konflik sebelumnya. 1999: 13) menambahkan bahwa resolusi konflik adalah proses interdisipliner analisis dan intervensi yang berkaitan dengan pemecahan masalah dari konflik yang bersifat destruktif. Definisi Lane dan Burton ini mencoba membawa resolusi konflik sebagai sebuah proses pemecahan masalah atau problem solving. fasilitator dan mediator dalam resolusi. dan menghentikan segala perbuatan kekerasan satu sama lain. Lane dan Cornick (Nimer 1999: 13) memberikan definisi resolusi konflik dengan membedakannya dengan managemen konflik ataupun conflict settlement.konflik dengan cara sukarela seperti mediasi. Tujuannya adalah pada penghapusan sumber konflik. Manajemen konflik menyiratkan permasalahan organisasi dan dapat dikelola dengan perubahan kondisi organisasi dan tidak terjadi perubahan struktur social yang nyata. Pemaknaan senada diberikan oleh Weitzman yang memfokuskan pada problem solving dan decision making. negosisasi dan arbitrasi.

1 : model problem solving dalamresolusi konflik Sumber: Morton (2000:187) 32 . Problem solving dimaknai sebagai proses menganalisa konflik kemudian mengembangkan kemungkinan alternatif untuk pemecahan konflik tersebut. 2000: 187) dapat dimulai untuk memahami dan membuat sebuah pemaknaan yang komprehensif tentang resolusi konflik dengan gambar berikut ini Gambar 3. Kata problem solving di sinonimkan dengan kata decision making yang keduanya merupakan proses yang saling integral dalam konteks conflict resolution. Dari kedua kata ini.Weitzman (Morton. Sedangkan decision making dimaknai sebagai keputusan yang diambil berdasarkan pertimbangan beberapa orang yang terlibat dalam resolusi konflik baik dilakukan secara individual maupun bersama-sama termasuk didalamnya kemungkinan alternatif dan komitmen terhadap keputusan yang telah dibuat. menurut Wetzman (Morton. 2000: 185) memberikan pemaknaan conflict resolution sebagai tindakan pemecahan masalah bersama (solve a problem together).

Definisi resolusi konflik secara umum adalah setiap usaha untuk mengurangi konflik sosial dengan upaya kesepakatan. pengaruh pihak ketiga. membuat kami berasumsi bahwa konflik yang berujung pada kekerasan pada saat itu bukan hanya karena kasus pilkada semata antara pihak Noor Nahar Husein-Go Tjong Ping dan pendukungnya dengan Haeny Relawati-Lilik Suhandjono dan pendukungnya. pengaruh pihak ketiga. perubahan lingkungan. Dalam penelitian terhadap peristiwa konflik kerusuhan pasca pilkada yang terjadi di Kabupaten Tuban pada tahun 2006. Dalam kajian ini resolusi konflik dapat di definisikan secara umum ataupun secara khusus. Secara khusus resolusi konflik di definisikan sebagai segala bentuk pengurangan dalam konflik yang ditandai dengan kesadaran terhadap permasalahan yang disengketakan diantara pihak-pihak yang berkonflik. Konflik yang kemudian menjadi rusuh tersebut menurut asumsi penulis adalah akumulasi dari rasa kekecewaan masyarakat dari masa-masa sebelum pilkada atas berbagai kebijakan pemerintah yang kemudian berafiliasi kepada pasangan Noor Nahar Husein-Go Tjong Ping dan menemukan momentumnya pada saat pilkada. Oleh karena itu definisi yang kami pergunakan 33 . kemenangan salah satu pihak dan sebagainya. dipergunakan definisi yang terakhir dari James Schlenberg bahwa resolusi konflik adalah setiap usaha untuk mengurangi konflik sosial dengan upaya kesepakatan. perubahan lingkungan. Melihat kronologi konflik pasca pilkada 2006 yang terjadi di Kabupaten Tuban dan kondisi sekarang pasca konflik yang masih memperlihatkan konflik secara laten.James Schlenberg (1996: 9) mengemukakan bahwa resolusi konflik merupakan isu sentral dalam kajian konflik. kemenangan salah satu pihak dan sebagaianya.

tentang resolusi konflik terhadap peristiwa kekerasan pasca pilkada tahun 2006 di kabupaten Tuban adalah melalui perubahan lingkungan seperti yang dipaparkan oleh James Schlenberg khususnya melalui pendidikan IPS. Tidak ada masalah dengan orang-orang sebagai individu f. Konflik tidak selalu merusak ataupun merupakan sebuah kegagalan dari system yang ada. Konflik disebabkan oleh berbagai jenis kegiatan tertentu e. Konflik merupakan bagian intrinsik dari semua hubungan interaksi d. Sebaliknya konflik seringkali merupakan kekuatan kreatif yang menghasilkan alternatif pilihan baru dan solusi untuk masalah yang ada. Konflik bisa positif bila: 1) Meningkatkan komunikasi dan kepercayaan 2) Permasalahan dapat dipecahkan 34 . 2. g. Konflik adalah proses alami yang dapat memiliki hasil konstruktif dan destruktif c. akan tetapi terdapat beberapa asumsi dasar yang mendasari kebanyakan proses penerapan resolusi konflik. Memiliki tujuan yang jelas dan eksplisit merupakan bagian yang sangat krusial dan penting dari setiap proses resolusi untuk mencapai kesepakatan atau memahami isu yang ada. Menurut Nimer (1999: 15-16) asumsi dasar dan prinsip-prinsip resolusi konflik antara lain: a. Teori dan Model dalam Resolusi Konflik Dalam resolusi konflik tidak ada teori atau model tunggal yang disepakati. b.

Hal ini dapat menyebabkan hubungan baru atau yang dapat ditingkatkan dan membantu mengidentifikasikan criteria baru hasil sumber daya. kebanyakan orang cenderung untuk mendekati konflik dengan beberapa harapan dalam pikiran. Ketrampilan resolusi konflik termasuk menganalisa situasi konflik.3) Hasilnya dapat meningkatkan pembangunan dan pertumbuhan 4) Dapat mengungkapkan ide yang tersimpan 5) Dapat meningkatkan pekerjaan dan kinerja h. Konflik dapat negatif apabila 1) Berkembang menjadi perang atau kekerasan 2) Mencegah dan menghalangi pengembangan pribadi dan kelompok 3) Mencegah orang dalam mengatasi permasalahan yang ada 4) Memotivasi orang menjadi tidak kooperatif i. Meskipun terdapat banyak jenis konflik dan berbagai jenis proses untuk menyelesaikan. j. Proses resolusi konflik dapat menjadi kreatif. Tidak semua konflik dapat dinegosiasikan atau di akhiri. maka resolusi cenderung dapat di terapkan dengan efisien dan tahan lama k. Tetapi ketika hasil saling memuaskan dapat ditemukan. m. dan sering didasarkan pada pengalaman sebelumnya. membawa pihak bersama-sama. membantu pihak untuk mengalihkan 35 . Konflik dapat dikelola atau diselesaikan secara konstruktif melalui komunikasi. l. Namun tidak semua konflik dapat diselesaikan dengan membuktikan komunikasi.

Perbedaan penggunaan istilah ini dengan sendirinya akan mengelompokkan para ahli pada kelompok yang menggunakan istilah teori diantaranya James A. (3) asumsi yang belum terbukti. Pengertian istilah teori dalam kamus Merriam-Webster (Furlong. Sedangkan istilah model (Furlong. dan kelompok yang menggunakan istilah model diantaranya Garry T Furlong. Dasar resolusi konflik adalah kolaborasi pemecahan masalah. yang mencoba untuk mengalihkan pihak dengan perbedaan substantive asli terhadap resolusi produktif. membangun kerjasama dan kepercayaan.focus dari kompetisi menang/kalah untuk memecahkan masalah bersama. (2) dipergunakan untuk merepresentasikan sesuatu. akan tetapi beberapa peneliti memberikan istilah yang berbeda pada kajian mereka. Para ahli dalam memberikan kategori terhadap penelitian mereka terdapat perbedaan pada penggunaan istilah teori dan model dalam resolusi konflik. Dalam konteks resolusi konflik teori dipergunakan dalam penyelidikan yang 36 . n. mendengarkan dan berbicara. 2005: 8) mengandung pengertian (1) penjelasan yang dipergunakan untuk membantu memvisualisasikan sesuatu yang tidak dapat diamati secara langsung. Schlenberg. mengamati ketrampilan komunikasi. (2) prinsip umum atau bagian penting prinsip yang menjelaskan fenomena. Pengelompokan ini tidak menutup kemungkinan adanya ahli yang mempergunakan kedua istilah tersebut yaitu Deutch Morton akan tetapi dalam pembahasan ini tidak dibahas lebih lanjut. Sebenarnya antara teori dan model dalam resolusi konflik tidak terdapat perbedaan yang signifikan. 2005: 7) antara lain (1) pemikiran yang abstrak.

teori formal. Burges. Schellenberg (1996: 14-20) KONFLIK RESOLUSI TEORI KARAKTERISTIK INDIVIDU Agresi sebagai warisan Agreasi sebagai proses fisiologi Agresi sebagai sifat kepribadian Agresi dari frustasi umum Agresi dari teori belajar Pengendalian dorongan agresi Rekayasa genetika Penempatan posisi Pembuatan agenda yang teratur Perubahan kondisi pembelajaran TEORI PROSES SOSIAL Kompetisi (Park. Schellenberg (1996: 13) salah satu ahli yang menggunakan istilah teori dalam resolusi memaparkan bahwa dalam mengkaji konflik dan resolusi dapat dilihat dalam kategori-kategori berikut: teori karakteristik individu.1: teori-teroi dalam resolusi konflik Sumber: James A. Kedua istilah ini adakalanya dipergunakan secara bergantian dan tidak dibedakan satu dengan yang lainnya dikarenakan esensinya sama yaitu mengarah pada hasil kajian terhadap resolusi konflik.bersifat abstark dan aplikasi yang kurang. Keempat teori ini apabila dirangkum adalah sebagaimana berikut ini: Tabel 2. sedangkan model lebih pada penyederhanaan sesuatu untuk kemudian dapat diaplikasikan secara praktis. teori struktur sosial. teori proses sosial. Simmel) Fungsi lembaga social (Simmel dan Coser) Bentuk dasar interaksi (Strauss) System yang membantu (Lewin dan Deutsch) Prinsip ekonomi (Boulding) Kekuatan impersonal social ekonomi Ekuitas dan kekuasaan Kerjasama dalam hubungan social Perhatian pada dinamika konflik Managemen konflik 37 . James A.

Gary T Furlong seorang ahli yang menggunakan istilah model dalam bukunya The Conflict Resolution Toolbox (2005: 19) memaparkan. terdapat delapan model dalam kajian resolusi konflik. c. (3) reformasi bertahap. The Circle of Conflict models yang melihat konflik dari perbedaan penyebab yang menggerakkannya. Model model tersebut dipilih oleh Furlong dengan alasan (1) model-model ini seimbang dalam kesederhanaann dan kompleksitas. (2) penerimaan. (4) konfrontasi tanpa kekerasan. b. 38 .Eskalasi ketakutan (Pruitt. dan (5) konfrontasi kekerasan. Model-model dalam resolusi konflik menurut Furlong (2005: 20-24) tersebut diantaranya: a. mendalam dan fungsional. (2) kejelasan model-model ini dalam memberikan arahan dan panduan dan terfokus pada ide pemecahan masalaha konflik. memebrikan wawasan kedalam dunia yang hamper tidak terlihat batas pengelolaannya dan kejadian sehari-hari bagi kita semua. The Triangle of Satisfaction models yang melihat perbedaan jenis kepentingan dan melakukan penilaian secara lebih signifikan. Rubin. Kriesberg) Resolusi pada kondisi tertentu TEORI STRUKTUR SOSIAL Perubahan social dan peran kekuasaan (Weber) Faktor ekonomi dan politik (Dahrendorf) Konsekuensi pembagian kelas (Horkheimer) Pembagian kerja (Plato) Lembaga politik (Madison) TEORI FORMAL Logis matematis Game theory / teori permainan (1) penghindaran. The Boundary models yang melihat konflik dari perspektif yang unik.

bagaimana kepercayaan terkikis. dan membawa arah yang jelas pada pengelolaan dan menyelesaikan komunikasi dengan gaya isu-isu interpersonal.d. h. f. serta proses kritis untuk mencapai resolusi. Right/hak dasar. mediator ataupun pihakpihak yang akan melakukan praktek resolusi konflik secara langsung dilapangan. (3) dimensi perilaku (bagaimana kita bertindak dan berperilaku terhadap konflik). The Interest/Rights/Power models adalah dasar negosisasi ke lapangan dan resolusi konflik. The Moving Beyond models yang melihat pada proses emosional yang keluar ketika terjadi konflik dan perubahannya. Model-model tersebut akan memberikan ketrampilan secara prakis dan dapat 39 . The Social Style models yang meilhat konflik melalui bagian-bagian lensa kehidupan. Power/ kekuasaan (IRP) dan mendiagnosa karakteristik masing-masing dari ketiga jenis tersebut. The Dimensions models yang melihat perbedaan secara luas pada tiga dimensi yaitu (1) dimensi kognitif (bagaimana kita memandang dan berfikir tentang konflik). e. g. membantu dengan mengelompokkan berbagai proses dalam tiga jenis yaitu Iinterest/ kepentingan. dan bagaimana kurangnya kepercayaan dan dampak proses resolusi. Model-model tersebut diatas dibahas oleh Furlong (2005: 250) dengan maksud untuk memberikan pedoman praktis bagi para praktisi. (2) dimensi emosional (bagaimana perasaan kita terhadap konflik). The Dynamics of Trust models yang menangani isu penting tentang bagaimana menciptakan kepercayaan.

penulis akan mempergunakan model bukan teori. proses dan solusi dari model model dapat diterapkan dalam pembelajaran di sekolah. hubungan. hubungan dan ekstend/moods dapat diberikan dalam pembelajaran. 3. Alasan dipergunakan model antara lain: model langsung diterapkan secara praktis. 2005:29) pada Collaborative Decision Resources (CDR) Associates di 40 . Model yang akan peneliti pergunakan adalah model The Circle of Conflict. Model-model tersebut adalah panduan praktis untuk melakukan aplikasi. Tiga wilayah lainnya yaitu data.meningkatkan kompetensi terhadap penguasaan ketrampilan resolusi konflik. Model ini kami pergunakan dengan alasan bahwa tiga ranah yang ada dalam model the circle of conflict yaitu nilai. struktur dan interest merupakan permasalahan yang menjadikan kasus kerusuhan pilkada tuban menjadi unik. Sebagaimana dijelaskana diatas. yaitu bukan karena bukan hanya disebabkan oleh permasalahan pilkada un-sich tetapi terdapat factor latar belakang yang mempengaruhinya. model the Circle of Conflict adalah model resolusi konflik dengan memfokuskan pada enam hal yaitu nilai. Dalam melakukan penelitian terhadap resoluai konflik kekerasan pasca pilkada di tuban tahun 2006 melalui pendidikan IPS. Model The Circle of Conflict Model circle of conflict bermula dikembangkan oleh Christopher Moore (Furlong. data. model dapat dipergunakan untuk menganalisis secara langsung. struktur dan interest. tes maupun penilaian terhadap proses resolusi konflik yang akan dilakukan sehingga dapat meningkatkan kompetensi ketrampilan resolusi konflik. ekstend/moods.

informasi yang salah. Enam sudut pandang tersebut menurut Furlong (2005: 30) antara lain: (1) hubungan yang terdiri atas: pengalaman negatif masa lalu. Model ini lebih lanjut menawarkan saran konkret dalam menganalisa masing-masing penggerak konflik dan mengarahkan praktisi kearah data. nilai baik dan buruk. Dari sudut pandang diagnostic. kondisi psikologis dan fisiologis. keenam kategori. data. Konflik akan didiagnosa penyebabnya dan kemudian model circle of conflict akan menawarkan beberapa arah strategis secara praktis untuk mengarahkan konflik pada resolusi. struktur.Boulder Colorado dan merupakan model utama yang dipergunakan oleh CDR dalam pelatihan mediator. masa-masa yang buruk. nilai benar dan salah. stereotip. (3) nilai yang terdiri atas: sistem keyakinan. nilai adil dan tidak adil. model circle of conflict akan menganalisa penyebab utama yang menggerakkan konflik dari enam sudut pandang. minat sebagai focus untuk resolusi. (4) data yang terdiri atas: kurangnya informasi. moods/ eksternal. kegagalan komunikasi. perilaku negatif yang berulang. Model Circle/lingkaran adalah model yang mendiagnosis dan mengkategorikan penyebab yang mendasari atau yang menggerakkan konflik. (2) eksternal/moods yang terdiri atas: faktor yang tidak terkait secara langsung dengan konflik. struktur dan kepentingan. hubungan . Model ini mengkategorikan penyebab dan gerakan konflik dalam enam kategori yaitu nilai. menawarkan kerangka kerja untuk mendiagnosa dan memahami faktor-faktor yang menciptakan dan memicu konflik. 41 . The circle of conflict sebagai model atau peta konflik mencoba mengkategorikan penyebab yang menggerakkan konflik dari situasi yang praktis. terlalu banyak informasi.

kebutuhan. 2005: 31) mencakup semua nilai-nilai dan keyakinan yang dimiliki oleh pihak yang berkontribusi terhadap terjadinya konflik. Hal ini mencakup tujuan hidup atau pemahaman tentang nilai-nilai seperti keyakinan agama. HUBUNGAN NILAI EKSTERNAL DATA STRUKTUR KEPENTINGAN Gambar 2.pengumpulan masalah. Nilai-nilai moral dan etika sangat penting bagi manusia dan cenderung akan menjadi penyebab utama konflik. Nilai-nilai terhadap konflik yang berbeda dari para pihak yang sedang berkonflik akan menjadi salah satu penyebab atau dapat memperburuk keadaan. moral serta nilai-nilai sederhana sehari-hari yang dipergunakan dalam konteks pekerjaan atau bisnis. minat.2 : model the circle of conflict Sumber: Furlong (2005: 30) a. etika. kendala geografis. otoritas isu. (6) Kepentingan yang terdiri atas: kepentingan. 42 . (5) struktur yang terdiri atas: keterbatasan sumberdaya fisik seperti waktu dan uang. Konsep-konsep pokok model the circle of conflict 1) Nilai Nilai menurut Furlong. struktur organisasi.

Konflik dapat terjadi apabila ada hubungan antara pengalaman sejarah masa lalu yang menjadi penyebab terjadinya konflik saat ini. Kondisi ini sering menimbulkan data/informasi negatif dan membuat asumsi pada sebagian pihak dan menjadi sebuah 43 . 3) Eksternal/moods Furlong (2005: 32) menafsirkan faktor ini mencakup kondisi eksternal yang tidak secara langsung menjadi bagian dari situasi dan memberikan kontribusi terhadap terjadinya konflik. Dorongan eksternal terjadi pada saat kekuatan dari luar dapat membuat sebagian atau seluruh permasalahan masuk dalam kondisi yang buruk.2) Hubungan Hubungan menurut Furlong (2005: 31) berkaitan dengan pengalaman negatif masa lalu sebagai penyebab konflik. Faktor ini akan menjadi sangat dominan ketika terjadi kondisi yang sangat tidak menguntungkan bagi kedua belah pihak dan akan mendorong terjadinya konflik. Data konflik dapat menjadi penyebab ketika informasi benar/salah tentang sesuatu terjadi perbedaan atau pihak satu memiliki dan pihak lainya tidak memiliki. Hubungan antara masalah masa lalu dengan sekarang seringkali menjadi strereotipe. 4) Data Data atau informasi oleh Furlong (2005: 32) diidentifikasikan sebagai pemegang kunci dalam konflik. mendorong orang untuk membatasi atau mengakhiri komunikasi dengan pihak lain dan sering mengarah pada perilaku saling membalas dimana satu pihak merasakan ketidak adilan pada masa lalu dan membalasnya pada pihak lain dan pihak lain akan berlaku demikian dan terjadilah konflik tanpa akhir.

5) Struktur Struktur ditafsirkan Furlong (2005: 34) mencakup berbagai jenis situasi. Konflik dalam struktur organisasi dapat terjadi apabila orang harus bekerja bersama-sama dalam departemen yang berbeda namun memiliki prioritas berbeda pada pekerjaan masing-masing. Terbatasnya sumberdaya akan menyebabkan para pihak untuk bersaing dan menyebabkan terjadinya konflik struktural. Hal ini akan 44 . Situasi sering disebut tanggung jawab tanpa kewenangan. semua terfokus pada masalah dengan sifat atau struktur dari sistem dimana para pihak berada didalamnya. 6) Kepentingan Kepentingan menurut Furlong (2005: 42) mencakup semua kepentingan yang berkaitan dengan kedua belah pihak yang ketika bertemu akan memungkinkan saling berebut untuk memenuhi kepentingan masing-masing. Otoritas akan menjadi masalah ketika ada pihak yang akan menyelesaikan masalah tetapi tidak mempunyai wewenang dalam membuat keputusan. Kondisi ini dikarenakan budaya kita mengajarkan bahwa fakta-fakta berbicara untuk mereka sendiri oleh karena itu memerlukan penafsiran yang secara langsung membuka celah perbedaan dalam penafsiran. dan sangat khas dalam konflik yang akan menjadi penyebab terjadinya konflik. masalah otoritas dan struktur organisasi.permasalahan. Hal lain yang membuat data menjadi penyebab konflik adalah ketika terjadi pemaknaan yang berbeda terhadap sebuah data atau informasi. Tiga masalah utama dalam struktur adalah terbatasnya sumberdaya. Kendala geografis yang dapat menjadi penyebab konflik adalah pengelolaan yang harus di lakukan pada daerah yang tidak bisa dijangkau.

Bagian atas terdiri atas nilai. 3. b. 4. 1. 2005: 38) memberikan beberapa panduan praktis tentang apa yang harus dilaksanakan terkait dengan berbagai penggerak konflik yang telah diidentifikasikan. 2. 3. Strategi model the circle conflict Dari perspektif strategis. Tabel 2. 2. 4. hubungan dan eksternal/moods dan bagian bawah terdiri atas 45 . 3. 1. 2.2: penjabaran the Circle of Conflict Sumber: Furlong (2005: 30) HUBUNGAN pengalaman negative masa lalu stereotip kegagalan komunikasi perilaku negative yang berulang EKSTERNAL/MOODS factor yang tidak terkait secara langsung dengan konflik kondisi psikologis dan fisiologis masa-masa yang buruk STRUKTUR keterbatasan sumberdaya fisik seperti waktu dan uang otoritas isu kendala geografis struktur organisasi. Intensitas kepentingan yang akan menjadi kebutuhan pokok bagi masing-masing pihak akan menjadi penyebab terjadinya konflik. 1. Disamping itu minat dari masing-masing pihak juga akan mempengaruhi seberapa besar konflik yang akan terjadi. 2. NILAI system keyakinan nilai benar dan salah nilai baik dan buruk nilai adil dan tidak adil DATA kurangnya informasi informasi yang salah terlalu banyak informasi pengumpulan masalah INTEREST kepentingan kebutuhan minat 1. 2. Model ini membagi lingkaran menjadi dua wilayah yaitu bagian atas dan bawah. 4. 2. 1. 3. 4. 1. Kondisi ini akan menjadi lebih buruk jika masing-masing pihak bersikukuh akan kebutuhannya masing-masing. model the circle of conflict (Furlong. 3. 3.berkaitan dengan seberapa besar kebutuhan atau focus dari masing-masing pihak dalam meperebutkannya.

Kemudian dapat melihat pola hubungan yang menjadi latar belakang konflik dan dapat mencarai sebuah pola hubungan baru sebagai sebuah resolusi. Pada bagian atas khususnya nilai menurut peneliti dapat dilakukan dengan pendidikan yang nantinya akan dipraktekkan untuk resolusi konflik kasus kerusuhan pilkada di kabupaten Tuban tahun 2006. 4. dan dapat menganalisa lingkungan luar yang dapat meyebabkan konflik dengan mengganti dengan lingkungan baru. Untuk wilayah atas. Bagian bawah lingkaran yang terdiri atas data.data struktur dan interes. eksternal/moods atau lingkungan yang dapat diterapkan lewat pendidikan. Model ini akan dapat diterapkan dalam meneliti resolusi konflik pilkada tuban tahun 2006 dari latar belakang terjadinya konflik dan dapat mendapatkan nilai-nilai apa yang bisa digali. Resolusi Konflik Melalui Pendidikan Konflik dan resolusi konflik adalah bagian yang alami dari pengalaman manusia. kepentingan dan struktur menurut Moore dapat diselesaikan secara langsung praktis dilapangan. Kelebihan model the circle conflict daripada teori atau model lain dalam resolusi konflik adalah: (1) model ini lebih praktis. (2) menganalisa konflik dan resolusi dari latar belakang tejadinya konflik. hubungan. (3) mencakup analisa tentang nilai. (2006: 157) studi sistematis tentang 46 . akan tetapi menurut Campbell. hubungan dan eksternal/moods tidak dapat dipecahkan secara langsung melainkan membutuhkan waktu yang cukup lama dikarenakan berkaitan dengan hal yang cukup fundamental. Pembagian ini untuk membantu para pihak untuk berada pada fokusnya masing-masing dan dapat bergerak pada arah resolusi dengan tepat. yaitu nilai.

kelompok pendidik di Eropa dan Amerika memprakarsai gerakan mengajarkan perdamaian di sekolah. Setelah perjanjian perdamaian pertama di Den Haag tahun 1899. 47 . Setelah itu pada tahun 1926. Riset tentang resolusi konflik pertama kali muncul selama 20 tahun yaitu pada tahun 1945-1965 dengan didirikannya Laboratorium Riset Perdamaian oleh Theodore F Lentz di St. Dilihat dari konteks sejarah adanya pendidikan resolusi konflik. Louis Missouri. menurut Campbell (2006: 163) sebenarnya baru terjadi pada abad ke-20 ketika ada upaya pertama kali untuk mengintegrasikan studi perdamaian dan resolusi konflik pada pendidikan formal. Dalam hal ini pendidikan dipahami sebagai persiapan untuk hidup dan sangat tepat menemukan tempat pada kurikulum untuk mempelajari penyebab dan dampak konflik dan cara konflik dapat ditransformasikan menjadi kekuatan positif dalam pembangunan manusia. masalah pelucutan senjata. biro pendidikan internasional memperkenalkan toleransi dan pengertian akar budaya sebagai alat untuk mengatasi konflik internasional. Studi sistematis tentang konflik dan resolusi dalam analisis Miall (2002: 63-69) muncul setelah perang dunia kedua. Tujuan pendidikan resolusi konflik adalah untuk membentuk pengetahuan dasar yang handal dan dapat berfungsi sebagai sarana untuk memperbaiki hubungan antar manusia. pemecahan masalah dan kebutuhan untuk memahami keragaman budaya.proses penyelesaian konflik baru dikembangkan sekitar 60 tahun terakhir. hak asasi manusia. Gerakan ini berlanjut pada tahun 1945 melalui PBB dan selanjutnya yang paling menonjol adalah UNESCO yang berupaya membangun kesadaran akan isu-isu dunia.

Program ini termasuk pengembangan masalah. pada tahun 1966 membuka Institut Perdamaian Internasional Stockholm (SIPRI) dan pad atahun 1969 Galtung menjadi editor pendiri Journal of Peace Research. Pada tahun 1967 asosiasi pendidik internasional di Jenewa memberikan pendidikan hak asasi manusia dan perdamaian kepada guru K-12. visualisasi harapan dunia dan perencanaan kearah kemajuan dunia. alternatif evaluasi. partisipasi pihak minoritas dalam politik. sosial dan keadilan sebagai sarana pencegahan perang dengan resolusi konflik. dan pada tahun 1969 telah disebarkan ke 50 negara sebagai bentuk pendampingan terhadap pendidikan resolusi konflik dan HAM. metode pnegajaran dan bahan ajar. Johan Galtung sebagai seorang ahli konflik kontemporer pada tahun 1960 menjadi pelopor pembentukan Riset Perdamaian Internasional Institut Oslo (PRIO). Pendidikan resolusi konflik yang lebih terstruktur menurut Campbell (2006: 163) dilakukan pada tahun 1960 dengan membentuk WOMP (World Order Models Project) yang mencoba mengembangkan kurikulum berbasis masalah yang berfokus pada masalah kesejahteraan ekonomi. perbaikan lingkungan.Pada tahun 1957 Herbert Kelman dan Robert Cooley menerbitkan Journal of Conflict Resolution dan mendirikan pusat penelitian penyelesaian konflik pad atahun 1959. Pada tahun 1978 UNESCO menyelenggarakan Konferensi Pengajaran Hak Asasi Manusia dengan mengembangkan pedoman untuk kurikulum. Hal ini dilanjutkan pada tahun 1980-an UNESCO mengeluarkan buku pedoman bagi guru untuk pendidikan resolusi konflik sebagai sarana integrasi kurikulum. Pada penutupan abad ke-20 (Campbell 2006: 165) 48 .

Perbedaan etnis. ketrampilan menjadi lahan subur bagi konflik serta kesempatan untuk pertumbuhan. Sekolah sangat penting sebagai tempat pendidikan resolusi konflik sebagaimana Morton dan Susan (Frydenberg. rasisme. masalah dunia. Dalam konteks ini sekolah telah merespon dengan program-program studi baru untuk membangun kompetensi dan pemahaman lingkungan pendidikan. Sekolah harus mengubah dalam cara dasar mendidik anak-anak sehingga mereka bukan melawan satu dengan yang lainnya akan tetapi mengembangkan kemampuan untuk mengatasi konflik secara konstruktif daripada destruktif dan siap untuk melaksanakan kehidupan secara damai. pelatihan dalam resolusi konflik. Hal ini berarti membangun di seluruh system sekolah. terorisme. penggunaan tema kontroversi konstruktif dalam mengajar mata pelajaran dan menciptakan resolusi pada pusat senketa. resolusi konflik. nasional maupun internasional. intoleransi etnis dan agama serta kekerasan remaja.setelah perang dingin selesai. gender. pendidikan multikultural. kemewahan dan kemiskinan. sikap dan ketrampilan 49 . perdamaian dan ketrampilan social. belajar bersama. 2005: 139) berpendapat bahwa sekolah adalah pusat kehidupan sosial siswa. perlombaan nuklir. Pada saat dewasa siswa akan bisa mengembangkan pengetahuan. usia. pendidikan resolusi konflik telah konsisten sejak masa lalu dikarenakan konflik selalu terjadi dalam kehidupan manusia. fokus konflik beralih pada kebangkitan nasionalisme. persaingan ekonomi. Pendidikan memberikan pemahaman kepada siswa akan kesadaran terhadap isu-isu social dan politik yang menyebabkan konflik baik dalam tataran regional. krisis lingkungan.

(8) kegiatan dirancang dengan memadukan iklim sekolah yang baik termasuk manajemen kelas. Pendidikan merupakan salah satu metode yang paling penting dalam memaparkan rekonsiliasi. Hal ini menurut Yaacov (2004:31) terutama melibatkan penggunaan system sekolah untuk pendidikan perdamaian. (4) mengembangkan kompetensi pribadi dan social. (7) memasukkan pengembangan staf untuk keteraturan program. teman sebaya. (2) di mulai di kelas dasar. karena system ini merupakan satu-satunya lembaga masyarakat yang formal. sikap.yang akan memungkinkan mereka untuk bekerjasama dengan orang lain dan menyelesaikan konflik dalam kehidupan yang tidak terelakkan secara konstruktif. Penerapan program resolusi konflik menurut Le Blanc (2009: 146) dapat meningkatkan sikap prososial dan menurunkan sikap antisosial terkait. (6) mencerminkan identitas etnis/budaya penerima. (3) pembelajaran dilakukan sesuai dengan tahapan pemebalajaran. Pendidikan resolusi konflik adalah salah satu bentuk reformasi sekolah yang peling cepat perkembangannya dengan program utamanya mediasi. ketrampilan dan pola perilaku dengan cara memberikan sebuah kenyataan social dari proses perdamaian dan menyiapkan mereka untuk hidup di era perdamaian dan 50 . (5) menggunakan variasi teknik mengajar yang interaktif. media dan masyarakat. (1) mengambil pendekatan yang komprehensif termasuk keluarga. keberadaannya disengaja dan dipergunakan secara luas untuk mengubah kondisi psikologis anggota masyarakat. motivasi. (9) mengembangkan kegiatan untuk menciptakan iklim perdamaian. Program pencegahan kekerasan meliputi Sembilan komponen. Pendidikan perdamaian/resolusi konflik bertujuan untuk membangun pandangan siswa akan keyakinan.

pencegahan terhadap kekerasan struktural dan ketimpangan social. pengembangan bahan ajar. sifat hubungan damai.rekonsisliasi. Pendidikan resolusi harus dapat mengembangkan sikap ketrampilan baru dikalangan siswa misalnya toleransi. bertujuan mengajar generasi muda tentang hak asasi manusia. Disamping sikap. sifat perdamaian dan resolusi konflik. empati. Usaha ini dalam skala besar memerlukan pengaturan dalam tujuan pendidikan. makna permintaan maaf dan sifat hubungan damai di Jepang pasca perang Dunia II. di Irlandia Utara pendidikan perdamaian berupaya untuk meningkatkan pemahaman tentang perdamaian dengan budaya asli di sekolah protestan dan katolik. norma-norma dan nilai yang mendorong kerjasama menurut Morton (2000: 36) juga diperlukan ketrampilan dalam menerapkan kerjasama. penetapan isi buku pelajaran. Morton (2002: 38) memaparkan bahwa penerapan resolusi konflik dalam konteks pembelajaran social. Dalam pembelajaran perdamaian di Amerika Serikat berkait. menekankan kerja sama. Pendidikan perdamaian menurut Yaacov (2004: 32) telah diterapkan di beberapa negara seperti Jepang dengan materi pembelajaran tentang kekejaman Jepang di Perang Dunia II. resolusi konflik konstruktif dan kotroversi kreatif. membangun iklim di sekolah yang kondusif untuk pendidikan perdamaian. berfikir kritis dan keterbukaan. Hal ini mempunyai arti bahwa system sekolah harus memberikan pengetahuan yang selaras kepada siswa tentang prinsip-prinsip resolusi konflik seperti perihal komunitas lain selama konflik. Alasan diperlukan keterampilan dalam menerapkan 51 . penyusunan kurikulum. pengendalian diri. kepekaan terhadap orang lain. pelatihan guru.

Ini adalah tujuan fundamental dan jangka panjang yang merupakan tugas dari pendidikan perdamaian dan resolusi konflik di Indonesia. Ketiga. sikap terhadap konflik dan perilaku konflik ketika berhadapan dengan konflik. pendidikan perdamaian atau pendidikan resolusi konflik harus dapat memberikan kontribusi terhadap warga negara untuk secara otonom dapat bebas bertindak dan memilih untuk diri sendiri dan dapat menolak otoritas secara internal. lembaga dan organisasi di tingkat negara dan masyarakat harus di desain untuk tujuan konstruktif. Karakteristik ini harus ditanamkan pada lembaga-lembaga publik dan organisasi serta interaksi social dan sehari-hari. pemerintah dan masyarakat harus mulai melihat konflik sebagai masalah yang harus dipecahkan dan bukan dianggap sebagai tindakan agresi yang dapat ditekan. Samsu Rizal Pangabean dalam Copel (2006: 223) berpendapat tentang pendidikan untuk perdamaian atau resolusi konflik di Indonesia harus fokus pada empat hal. (2) pengembangan keterampilan dalam mempertahankan proses kerjasama dalam resolusi konflik yang sedang berlangsung. 52 . Kedua. warga negara harus dididik dalam ketrampilan dalam menangani konflik.kerjasama antara lain: (1) terdapat keterampilan yang dapat dipergunakan untuk membangun hubungan kerja yang efektif dengan pihak-pihak yang berkonflik baik sebagai mediator ataupun peserta konflik. Keempat. Dalam konteks pembelajaran resolusi konflik di Indonesia. kesadaran masyarakat perlu ditingkatkan tentang berbagai aspek dari situasi konflik. (3) keterampilan berkaitan dengan kreatifitas dan produktifitas dalam pemecahan masalah dan pengambilan keputusan. Pertama melihat konflik harus dengan cara yang konstruktif bukan destruktif.

and sociology. Tujuan utama penelitian sosial adalah untuk membantu kaum muda mengembangkan kemampuan untuk membuat kebijakan informasi dan dasar yang baik sebagai warga masyarakat. philosophy. filsafat. 1994: 3) sebagai keanggotaan organisasi salah satu pendidikan ilmu social didefinisikan: social studies is the integrated study of the social sciences and humanities to promote civic competence. sejarah. psychology. geografi. mathematics. and natural sciences. agama. Pendidikan Ilmu pengetahuan Sosial menurut Somantri (2001: 73) adalah aspek-aspek dari ilmu penegetahuan sosial yang telah dipilih dan disesuaikan baik secara material maupun penerapannya untuk dipergunakan dalam pembelajaran di 53 . Within the school program. social studies provides coordinated. democratic society in an interdependent world. law. archaeology. arkeologi. Artinya: pendidikan IPS Pendidikan ilmu-ilmu sosial adalah studi terintegrasi dari ilmu-ilmu sosial dan humaniora untuk memperkenalkan kompetensi sipil. hukum. economics. Dalam program sekolah. Pendidikan IPS Pendidikan IPS atau yang dalam bahasa inggris disebut social studies menurut menurut National Council for the Social Studies (NCSS. systematic study drawing upon such disciplines as anthropology. history. ilmu politik. religion. The primary purpose of social studies is to help young people develop the ability to make informed and reasoned dicisions for the public good as citizens of a culturally diverse. political science. untuk keragaman budaya dan demokrasi di dunia yang saling tergantung. dan sosiologi. matematika. ekonomi.C. psikologi. serta konten yang sesuai dari humaniora. dan ilmu alam. studi sosial diberikan dalam bentuk interdisipliner. as well as appropriate content from the humanities. studi sistematis menggambarkan pada disiplin ilmu seperti antropologi. geography.

Program studi sosial membantu siswa membangun basis pengetahuan dan sikap yang diambil dari disiplin akademik sebagai cara khusus dalam memandang realitas. d. b. atau tujuan akhir (summum bonum) yang mewadahi berbagai teori moral yang berbeda-beda. dan sikap internal dan diseluruh disiplin ilmu. menurut Katsoff (1989: 335) nilai tidak dapat didefinisikan tidak berarti tidak dapat dipahami. Karakteristik pendidikan ilmu sosial menurut NCSS (1994: 3-5) antara lain a. Program studi sosial memiliki tujuan utama untuk memperkenalkan pengetahuan kompetensi sipil. 1. Program studi sosial mencerminkan sifat perubahan pengetahuan. Ilmu-ilmu sosial diorganisasikan secara sistematis dan dibangun melalui penyelidikan ilmiah dan terencana. Program studi sosial mengintegrasikan pengetahuan. Bertolak dari gagasan filsafat moral yang menganggap perwujudan diri sebagai kebaikan tertinggi. Secara umum menurut Wiliam F O’neil (2002: 94-95) terdapat enam sudut pandang tentang bagaimana cara hidup dengan baik 54 . sasaran puncak. mengembangkan pendekatan yang baru dan sangat terintegrasi dalam memecahkan masalah yang penting bagi kehidupan manusia. Nilai-nilai Pendidikan Secara filosofis. ketrampilan dan sikap yang dibutuhkan siswa untuk menjadi warga Negara yang baik dalam Negara demokrasi. ketrampilan. Perbedaan antara ilmu-ilmu sosial dengan pendidikan ilmu sosial tidaklah terlalu prinsipil. muncul beragam pandangan tentang bagaimana cara manusia menjalani hidup yang baik atau mengaktualisasikan diri. sedangkan pendidikan Ilmu pengetahuan sosial (social studies) terdiri atas bahan yang telah disederhanakan dan diorganisisr secara psikologis dan ilmiah sehingga dapat dipergunakan untuk kepentingan pembelajaran. c.sekolah.

Kebaikan tertinggi tumbuh dari kecerdasan praktis (yakni pemecahan masalah secara efektif) 5. Kebaikan tertinggi tumbuh dari pengembangan lembaga-lembaga social yang baru dan lebih manusiawi (humanistic) 6. Kebaikan tertinggi tumbuh dari pencerahan filosofis atau keagamaan yang didasarkan pada penalaran spekulatif serta kebijaksanaan metafisi 3. dan kesesuaian. Nilai secara garis besar menurut Elmubarok (2009: 7) dibagi menjadi dua kelompok. Kebaikan tertinggi tumbuh dari penghapusan pembatasan-pembatasan kelembagaan. Kebaikan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap berbagai tolok ukur (standar intuitif atau yang terungkap pada keyakinan dan perilaku) 2. potensi. cinta damai. kemurnian.1. keandalan diri. Yang termasuk pada kelompok nilai-nilai memberi adalah setia. tahu batas. Nilai-nilai nurani adalah nilai yang ada dalam diri manusia kemudian berkembang menjadi perilaku serta cara kita memperlakukan orang lain. keberanian. sebagai sebuah cara untuk memajukan perwujudan kebebasan personal yang sepenuh-penuhnya. yaitu nilai-nilai nurani (value of being) dan nilai-nilai memberi (value of giving). 55 . disiplin. Yang termasuk nilai nurani menurut Linda dalam Elmubarok (2009: 7) antara lain kejujuran. Nilai-nilai memberi adalah nilai yang perlu dipraktikan atau diberikan yang kemudian akan diterima sebanyak yang diberikan. dapat dipercaya. Kebijakan tertinggi tumbuh dari ketaatan terhadap tolok ukur yang mapan (konvensional) tentang keyakinan dan perilaku 4.

Dalam pendidikan terdapat lima pendekatan pendidikan nilai menurut Elmubarok (2009: 60) yang meringkas dari delapan pendekatan pendidikan nilai menurut Superka dalam bukunya A typology of valuing theories and values adecation spproaches. Pendekatan pembelajaran berbuat (action lerning approaches) Dalam penelitian ini akan dipergunakan pendekatan analisis nilai terhadap kasus kerusuhan yang terjadi di Tuban untuk selanjutnya dapat dipergunakan dalam pendidikan sebagai langkah solusi. Pendekatan perkembangan moral kognitif (cognitive moral development approaches) 3. yaitu: pertama. baik hati. peka. cinta. kasih sayang. Pendekatan klarifikasi nilai (values clarification approaches) 5. kedua. tidak egois. dan murah hati. nilai diperoleh melalui hati dan fungsi rasa yaitu masuk melalui pintu intuisi dan bersarang dalam keyakinan hati. nilai diperoleh melalui paradigm berfikir logis-empiris dengan bukti-bukti nyata untuk menguji kebenaran dan keutamaan sesuatu. adil. Cara memperoleh nilai menurut Rohmat Mulyana (2004: 81-83) ada tiga.hormat. nilai dapat diperoleh dengan melalui cara berfikir kontemplatif (paradigm logis-abstrak) yaitu seseorang dapat menemukan makna (nilai) dari sesuatu yang abstrak atau makna yang ada dibelakang obyek konkrit. ramah. Pendekatan analisis nilai (values analysis approaches) 4. Pendekatan penanaman nilai (inculcation approach) 2. Pendekatan analisis nilai (values 56 . Lima pendekatan tersebut antara lain: 1. ketiga.

Menguji kebenaran fakta yang berkaitan 4. pertama. terdapat enam langkah dalam melakukan analisis nilai yaitu 1. Beberapa cara yang dapat ditempuh dalam mendapatkan hasil yang terbaik dalam social studies antara lain: (a) Mengedepankan kepentingan umum. Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai 2. dalam menghubungkan dan merumuskan konsep tentang nilai-nilai mereka. membantu siswa untuk menggunakan proses berfikir rasional dan analitik. Kedua. pendekatan analisis nilai lebih menekankan pada pembahasan masalah-masalah yang memuat niali-nilai sosial dalam hal ini adalah kasus kerusuhan Tuban 2006. Menurut Elmubarok (2009: 68) mengutip pendapatnya Hersh. Tujuan utama pendidikan nilai dalam pendekatan ini adalah. Menguji prinsip moral yang digunakan dalam pengambilan keputusan. Menghubungkan fakta yang berhubungan 3. Merumuskan keputusan moral sementara 6. Menjelaskan kaitan antara fakta yang bersangkutan 5. 2. (b) 57 .analysis approaches) memberikan penekanan pada perkembangan kemampuan siswa untuk berfikir logis. siswa membantu siswa mempergunakan kemampuan berfikir logis dan penemuan ilmiah dalam menganalisis masalah-masalah sosial yang berhubungan dengan nilai moral tertentu. dengan cara menganalisis masalah yang berhubungan dengan nilai-nilai sosial. Resolusi Konflik sebagai Salah Satu Ketrampilan yang dikembangkan dalam Pendidikan Ilmu social.

berargumen dalam resolusi konflik dan perbedaan. argument dan cerita. Dalam buku ini Mindes mengemukakan bahwa ketrampilan resolusi konflik adalah salah satu pengetahuan dan ketrampilan yang harus dimiliki oleh setiap siswa. (2) mengembangkan dan memutuskan kebijakan. (3) membangun pengetahuan baru. 58 . Ketrampilan resolusi konflik dalam pendidikan ilmu sosial juga ditegaskan oleh Gayle Mindes dalam bukunya Teaching Young Children Social Studies. Dalam keterampilan pilihan ini resolusi konflik masuk dalam ketrampilan dalam interaksi kelompok yaitu: berpartisipasi dalam bernegosiasi. kompromi serta mengembangkan rasa keadilan. Dalam penerapan keterampilan. kompromi. Hubungan antara pendidikan ilmu social dengan resolusi konflik di tegaskan kembali dalam ketrampilan penting yang dikembangkan oleh NCSS (1994: 149) berkaitan dengan hubungan interpersonal dan pertisipasi social.mengadopsi berbagai perspektif yang umum. Menurut Mindes (2006: 24) resolusi konflik merupakan kemampuan untuk menyelesaikan perbedaan dengan yang lainnya dan merupakan aspek penting dalam pembangunan social dan moral yang memerlukan ketrampilan dan penilaian untuk bernegosiasi. (c) menerapkan pengetahuan. terdapat empat keterampilan dasar yang dikembangkan yaitu: (1) memperoleh informasi dan memanipulasi data. Resolusi konflik merupakan salah satu ketrampilan dasar yang dikembangkan oleh NCSS (1994: 8) berkaitan dengan kemampuan dalam berpartisispasi dalam kelompok. keterampilan. (4) berpartisipasi dalam kelompok. dan nilai-nilai sipil. Hal ini dikembangkan sebagai wujud tanggung jawab pendidikan terhadap warga negara untuk menjadikan masyarakat sebagai warga negara yang baik dalam negara demokrasi.

Guru dan siswa harus mampu dan mau untuk ikut campur tangan dalam situasi konflik. losing. apologizing. deciding what to do. Knoff dalam Mindes (2006: 27) kemudian menegaskan bahwa dalam pengembangan ketrampilan social yang harus dimiliki oleh siswa antara lain: 1. Interpersonal skills—sharing. Keterampilan resolusi konflik masuk menjadi salah satu keterampilan sosial yang harus diajarkan dalam pendidikan. ignoring distractions. speaking up for self 2.com/filez8932/. joining an activity 3..teachchildrenesl. peer pressure Resolusi konflik sebagai salah satu ketrampilan menurut Knoff harus diberikan dalam pembelajaran diruang kelas dan diharapkan dapat memberikan bekal skil pribadi pada masing-masing siswa untuk dapat ikut menyelesaikan konflik dari tingkatan yang paling rendah.3: ketrampilan sosial (www./social_skills_list. Problem-solving skills—asking for help. Survival skills—listening.pdf) 59 .. waiting for a turn. Conflict-resolution skills—handling teasing. following directions. Hal ini sebagaimana elemen social skills yang diajarkan dalam pembelajaran ilmu-ilmu sosialyaitu: empathy assertiven ess basic skills must be thaught social skills conflict skills frienship skills peace skills joining skills Gambar 2. accepting consequences 4.

we hear again calls for the schools to return to their primary task of cultural transmission. The promotion of civil rights and desegregation is one recent example of using the schools to bring about major social change. sebenarnya ada empat filsafat yang dan essensialisme. Meskipun posisi sekolah serba dilematis harus menujuk pada dua arah pertentangan yaitu perubahan social dan stabilitas sosial yang harus menjadi pemeran utama. But although schools have been pointed in both directions vis-avis social change. Sekolah harus dapat mempromosikan hak-hak sipil dan desegregasi sebagai salah satu bentuk kepedulian sekolah dalam membawa perubahan sosial yang besar. Berbicara mendasarinya tentang yaitu pendidikan. Filsafat pendidikan essensialisme berpandangan bahwa pendidikan di sekolah harus dalam bentuk utuh pendidikan keilmuwan dengan memberikan penekanan 60 .3. In the current debate over schooling. Pendidikan IPS Sebagai salah Satu Solusi Permasalahan Konflik Pendidikan tidak boleh dijauhkan dari realita kehidupan dan harus dapat memberikan kontribusi terhadap permasalahan yang ada di lingkungan sosial. penanaman nilai-nilai penting dan pemberian pengetahuan dasar bagi semua kebutuhan warga negara. promotion of social stability has been the major role of schooling. the emphasis on core values and the basic knowledde that all our citizens need. perenialisme. progresivisme rekonstruksionisme menurut Ornstein dan Levine dalam Maftuh (2008: 81). Maksud dari William adalah: Sekolah harus terpanggil untuk melakukan upaya perubahan sosial dan transformasi sosial. schools have also been called on to promote social change and social transformation. Perdebatan saat ini mengharuskan sekolah untuk kembali kepada fungsi utamanya yaitu transmisi budaya. William Stanley dalam Hursh (2000: 65) mengungkapkan tentang peran sekolah Conversely.

Dalam menanggapi independensi pendidikan sebagai sarana perubahan social. Karena itu. In part. Filsafat pendidikan progresivisme dikembangkan oleh John Dewey yang berakar pada filsafat pragmatisme yang berpendapat bahwa pendidikan harus sesuai dengan minat dan kebutuhan individu siswa. Sedangkan filsafat pendidikan rekonstruksionisme yang dikembangkan oleh Theodore Bramled mengemukakan bahwa masalah masyarakat dan upaya untuk menyelesaikannya yang berguna bagi upaya peningkatan kesejahteraan merupakan tujuan penting pendidikan yang lebih penting daripada hanya sekedar pengembangan intelektualisme keilmuwan. Hursh (2000: 69) mengutip pendapat Dewey: The upholders of indoctrination rest their adherence to the theory. These facts unfortunately are facts. Pendidikan sejarah berdasarkan filsafat esensialisme harus diajarkan berdasarkan struktur disiplin ilmu sejarah yang diajarkan secara terpisah.pada pengembangan intelektualisme siswa. 61 . upon the fact that there is a great deal of indoctrination now going on in the schools. Filsafat pendidikan perenialisme berpandangan bahwa pendidikan harus diarahkan pada pengembangan intelektual atau rasionalitas siswa. especially with reference to the dominant economic regime. Fungsi pendidikan sebagai tempat untuk menyelesaikan permasalahan dimasyarakat sebagaimana dikemukakan oleh William dalam Hursh (2000: 68) bersesuaian dengan filsafat pendidikan rekonstruksionisme dan agak sejalan dengan filsafat pendidikan progresivisme. pendidikan harus berpusat pada anak dan beorientasi pada kreativitas anak dan dalam aplikasinya menekankan pentingnya problem solving. But they do not prove that the right course is to seize upon the method of indoctrination and reverse its object. terutama melalui studi liberal arts dan buku-buku besar (klasik).

Bagi Dewey. Kita harus merangkul peringatan rekonstruksionis tentang bahaya dari kepuasan dan kebutuhan untuk bekerja menuju perbaikan manusia melalui pendidikan. Hal ini bukanlah sebuah pendekatan untuk kurikulum yang akan merasa nyaman dengan status quo. khususnya adalah mengacu pada rezim ekonomi yang dominan. dan tidak akan ditujukan pada realisasi final konsepsi masyarakat. termasuk perlunya kritik social. pada sekolah manapun tidak akan terlepas dari kepentingan rezim yang berkuasa. 62 . Pendekatan ini mencoba untuk menawarkan beberapa pandangan umum tentang tatanan sosial baru yang dihubungkan secara langsung dengan kompetensi siswa yang sangat dibutuhkan untuk menciptakan perubahan sosial untuk perbaikan manusia. Dan kita dapat beralih ke tradisi pragmatis kita sendiri untuk mengilhami imajinasi kita dan kemungkinan dari potensi manusia yang tak terbatas. tetapi menyarankan cara lain untuk memahami mimpi ini. Sayangnya fakta ini adalah tinggal fakta.Maksud Dewey adalah bahwa untuk menegakkan fungsi indoktrinasi harus dilakukan dengan kepatuhan pada teori. Dewey lebih menekankan pada kecerdasan penalaran praktis sebagai upaya pencarian kebenaran. Pendekatan dengan kurikulum yang didukung di sini tidak meninggalkan rekonstruksionis harapan untuk dunia yang lebih baik. maka William dalam Hursh (2000: 72) di akhir tulisannya tentang pendidikan dan perubahan social mengemukakan bahwa: Pendekatan rekonstruksi sosial tidak akan netral atau ambivalen. Tapi mereka tidak membuktikan bahwa pendidikan yang adalah untuk merebut posisi metode indoktrinasi dan reverse pada objek. Untuk mendekatkan antara tujuan untuk mengawal perubahan social dan sisi lain independensi sekolah yang masih ambivalen. sehingga sekolah hanya dipergunakan sebagai sarana untuk melanggengkan kekuasaan dengan indoktrinasi. Tetapi pada kenyataan bahwa banyak sekali indoktrinasi yang sekarang terjadi di sekolah-sekolah. Itu akan mengembangkan demokrasi sebagai cara hidup dan sentralitas penilaian praktis.

Penelitian terdahulu Kajian tentang resolusi konflik dalam pembelajaran sejarah telah dilakukan oleh saudara Hasan Iman dalam bentuk tesis pad atahun 2004 dengan judul “Integrasi Conflict Resolution Dalam Pembelajaran Sejarah sebagai sarana mengembangkan kesadaran sejarah siswa (Penelitian PTK di kelas 2 IPS 1 SMUN 8 Bandung pada pokok bahasan tradisi Hindu-Budha di Indonesia”. D. Hasil yang didapatkan ternyata ada peningkatan dalam kesadaran sejarah siswa dari pembelajaran sebelumnya yang tidak mengintegrasikan resolusi konflik. yang senantiasa diruntut agar mampu menciptakan kehidupan yang damai dan harmoni. misalnya nilai gotong royong. Dalam penelitian ini Hasan Iman mamfokuskan pada peningkatan kesadaran sejarah siswa melalui pengintegrasian resolusi konflik dalam pembelajaran sejarah. NCSS (2000: 5) memasukkan menjadi salah satu karakteristik penting dalam pendidikan IPS. 63 . Dari pendapat yang dikemukakan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa pendidikan IPS dapat berperan dalam upaya menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan (social).Khusus peran pembelajaran IPS dalam menyelesaikan permasalahan yang terjadi di masyarakat. Pendekatan yang dipakai dalam penelitian Hasan adalah Classroom action research dengan metode kualitatif. Kenyataan ini telah menempatkan PIPS pada fungsi perannya sebagai wahana untuk memupuk modal sosial (social capital) yaitu “mengembangkan nilai-nilai budaya yang berkaitan dengan kehidupan social yang sebenarnya sudah ada pada dir masyarakat sejak dulu. kemampuan memecahkan masalah sosial. solidaritas sosial dan toleransi. ketarmpilan sosial dalam era global.

Kajian selanjutnya tentang resolusi konflik dilakukan oleh saudara Sriyanto. akibat yang ditimbulkan yang menyimpang jauh dari pangkal konflik sampai bagaimana solusi yang tepat. sehingga ketika terjadi ketegangan dalam masyarakat tidak berimbas kemana-mana. 64 . berupa tesis pada PIPS UPI tahun 2009 dengan judul “Konflik Horisontal Dan Resolusi Konflik (Studi Nilai-Nilai Pluralitas Dalam Kerusuhan Tasikmalaya 1996)”. Oleh karena itu menempatkan pendidikan sebagai sebuah solusi dalam resolusi konflik merupakan hal yang sangat tepat dan dapat mendapatkan hasil yang maksimal. Tesis ini membahas tentang penyelesaian terhadap konflik berdarah yang pernah terjadi di maluku dengan menggunakan peranan kepemimpinan para tokoh masyarakat. Dalam penelitian ini sriyanto menggunakan pendekatan kualitatif dalam menguak tentang penyebab. Sriyanto menyimpulkan bahwa konflik di Tasikmalaya yang dipicu oleh ketegangan dua pihak bisa merembet ke berbagai pihak yang lain lintas etnis dan lintas agama. Hal ini ternyata menunjukkan kompleksitas permasalahan yang dihadapi pemerintah yang harus segera diselesaikan. Dalam tesis ini difokuskan pada peranan tokoh masyarakat dalam rekonstruksi social dan belum difokuskan pada peranan pendidikan dalam meyelesaikan permasalahan konflik. Untuk kajian resolusi konflik terhadap kasus kekerasan ada salah satu tesis program studi pendidikan IPS di Universitas Pendidikan Indonesia dengan judul “Peranan Kepemimpinan Masyarakat Dalam Penyelesaian Konflik Sosialisasi Di Kota Masohi Kabupaten Maluku” oleh saudara Samuel Patra Ritiauw.

Penelitian ini mempergunakan pendekatan kualitatif fenomenologis pada kasus RI-GAM di Aceh. Sambas dan Poso. social. Penelitian ini telah menjembatani konflik melalui sebuah kerangka konseptual berupa pendidikan multicultural sebagai sebuah alternatif dalam menjembatani penyelesaian konflik yang terjadi di Ambon. Hasil dari penelitian ini adalah bahwa konflik yang terjadi di Tanah Mirah yang dahulu hidup dalam ketentraman penuh nilai-nilai islami dipicu oleh kepentingan sekelompok orang. Sambas. politik dan budaya. Diperlukan langkah-langkah taktis dalam melakukan rekonstruksi baik dalam bidang ekonomi. Sampit dan Poso berdasarkan corak pelaporan media masa. dan poso)”.Kajian tentang penyelesaian konflik melalui pendidikan dilakukan isnarmi muis pada tahun 2006 dalam bentuk disertasi yang berjudul “Kerangka Konseptual Pendidikan Multikultural Transformatif Berdasarkan Pola HubunganKonflik Antar Etnik (kajian kritis terhadap laporan media massa mengenai konflik ambon. Di sini diperoleh sebuah gambaran tentang konflik tersebut menurut media masa dan analisis bagagaimana solusi terbaik yang dapat dilakukan terutama melalui pemdidikan multicultural. 65 . Pada penelitian ini menggunakan pendekatan grounded research yang ditekankan pada penggunaan kerangka konseptual pendidikan multicultural sebagai sebuah solusi terhadap konflik yang terjadi di Ambon. Sampit. sambas dan sampit. Kajian selanjutnya tentang penyelesaian konflik dilakukan oleh saudara Zulfadhli PIPS UPI tahun 2009 yang berjudul “Reintegrasi Sosial Pasca Perjanjian Damai Pemerintah RI-GAM (Studi Pada Masyarakat Tanah Mirah Kecamatan Peusangan Kabupaten Bireuen)”.

Teori ini akan menguak latar belakang sebenarnya konflik kerusuhan yang terjadi di Tuban Jawa 66 . ternyata sisa-sisa berupa konflik laten masih ada. Kemungkinan masih ada sebab-sebab konflik yang sampai sekarang permasalahannya belum selesai. Kerusuhan tidak akan terjadi dengan begitu dahsyatnya apabila hanya disebabkan proses pemilihan kepala daerah.Dari beberapa penelitian yang telah dilakukan baik yang berupa tesis maupun disertasi. Pilkada hanyalah sebuah letupan karena menemukan momentum 3. kiranya sangat dibutuhkan penelitian tersebut untuk memberikan solusi terhadap permasalahan yang selama ini ada dan memungkinkan juga untuk diterapkan di tempat lain yang mempunyai karakteristik sama. 4. E. belum ada penelitian yang memfokuskan pada Resolusi Konflik Pasca Pilkada Langsung Kabupaten Tuban Tahun 2006 melalui Pendidikan IPS. Oleh karena itu menurut penulis. 2. Langkah pertama yang akan dilaksanakan dalam penelitaian ini adalah dengan meneliti latar belakang konflik dari kronologi kejadian dan kondisi social Tuban saat itu dengan menggunakan teori collective behavior NJ Smelser. Setelah beberapa kali proses resolusi baik melalui pengadilan maupun dalam bentuk mediasi dilakukan. Paradigma Penelitian/Kerangka Penelitian Dalam penelitian ini hal awal yang dilakukan adalah meneliti latar belakang terjadinya kerusuhan pada pasca pemilihan kepala daerah langsung 2006 di kabupaten Tuban. Hal ini dilakukan berdasarkan asumsi awal bahwa: 1.

Langkah kedua adalah langkah resolusi yang akan kami lakukan dengan menggunakan model The Circle Conflict Gary Furlong yang akan difokuskan pada nilai. (2) pengumpulan fakta yang berhubungan. Langkah ini diterapkan sebagai sebuah solusi pendidikan terhadap kasus kerusuhan yang terjadi di Tuban pada tahun 2006. (3) pengujian kebenaran fakta yang berkaitan. Langkah ketiga adalah membuat sebuah skema kerangka konseptual pembelajaran IPS berdasarkan nilai-nilai yang telah didapatkan dengan cara menginntegrasikan dalam pembelajaran Sejarah di Madrasah Aliyah. Berikut paradigm penelitian yang akan penulis lakukan. lingkungan. hubungan. 3 fokus ini yang menurut peneliti dapat mendekatkan resolusi konflik dengan pendidikan.Timur. (5) merumuskan keputusan moral sementara. Langkah ini akan dipadukan dengan analisi nilai yang dikemukakan oleh Superka dengan menggunakan enam langkah yaitu (1) identifikasi nilai. (4) menjelaskan kaitan fakta yang bersangkutan. (6) menguji prinsip moral dengan mengambil keputusan. Disamping itu. apakah memang murni masalah pilkada ansich ataukan ada permasalahan lain menyebabkannya sehingga terjadi dengan begitu masifnya. Focus ini dilakukan dikarenakan Furlong tidak memberikan langkah-langkah dalam 3 hal ini dan hanya memfokuskan pada tiga hal yang lain dalam model ini. 67 .

(b) struktural strain. (e) Mobilization of participants for action. (f) The operation of social control Pendekatan Analisis Nilai Model The Circle Conflict Konflik Kerusuhan pasca pilkada tuban 2006 Nilai Komunikasi Hubungan Latar Belakang Konflik Kerusuhan 2006 Mengidentifikasi dan menjelaskan nilai Menghubungkan fakta Menguji kebenaran fakta Menjelaskan kaitan antara fakta Merumuskan keputusan moral Menguji prinsip moral National Standar for Social Studies NCSS Ketrampilan Resolusi Konflik berpartisipasi dalam bernegosiasi. berargumen dalam resolusi konflik dan perbedaan Nilai-Nilai Pendidikan dari Peristiwa Konflik Kerusuhan 2006 Kerangka Konseptual Pembelajaran Sejarah Berbasis Resolusi Konflik Gambar 2.Teori Konflik (George Ritzer) Smelser (Collective Behavior) Teori (J. kompromi. (d) Precipitating factors. Schlennberg) Resolusi Konflik Model (Garry T Furlong) Pendidikan Nilai (a) structur conductifness. (c) Growth and spread of a generalized belief .4: Paradigma Penelitian 68 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful