P. 1
916-907-1-PB

916-907-1-PB

|Views: 80|Likes:
Published by Indra Permadi

More info:

Published by: Indra Permadi on Jun 08, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as RTF, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/26/2013

pdf

text

original

Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kadar Glukosa Darah Pada Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 Di Rumah Sakit

Umum Daerah Raden Mattaher Jambi Mashudi Abstrak PMR adalah suatu prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada otot melalui pemberian tegangan pada suatu kelompok otot dan menghentikan tegangan tersebut kemudian memusatkan perhatian untuk mendapatkan sensasi rileks. Tujuan penelitian ini adalah teridentifikasikannya pengaruh progressive muscle relaxation(PMR) terhadap penurunan kadar glukosa darah (KGD) pada pasien diabetes melitus tipe 2 (DMT2) di RSUD Raden Mattaher Jambi. Penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperimen dengan pre and post with control group, masing-masing kelompok terdiri dari 15 orang responden. Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Hasil analisis menunjukkan adanya pengaruh PMR secara signifikan dalam menurunkan KGD pasien DMT2 di RSUD Raden Mattaher Jambi. Sedangkan variabel umur, jenis kelamin, penyakit penyerta, dan lama menderita DMT2 tidak mempunyai hubungan dengan rata-rata penurunan kadar glukosa darah setelah intervensi. Hasil penelitian ini dapat menjadi masukan bagi perawat untuk menjadikan PMR sebagai salah satu intervensi keperawatan mandiri dan memasukkan PMR dalam protap penatalaksanaan pasien DMT2. Kata kunci : PMR, kadar glukosa darah, pasien DMT2 Relaksasi otot progresif merupakan salah satu teknik relaksasi yang mudah dan sederhana serta sudah digunakan secara luas. PMR merupakan suatu prosedur untuk mendapatkan relaksasi pada otot melalui dua langkah, yaitu dengan memberikan tegangan pada suatu kelompok otot, dan menghentikan tegangan tersebut kemudian memusatkan perhatian terhadap bagaimana otot tersebut menjadi rileks, merasakan sensasi rileks, dan ketegangan menghilang (Richmond, 2007). Relaksasi merupakan salah satu bentuk mind-body therapy dalam terapi komplementer dan alternatif (Complementary and Alternative Therapy /CAM) (Moyad & Hawks, 2009). Terapi komplementer adalah pengobatan tradisional yang sudah diakui dan dapat dipakai sebagai pendamping terapi konvensional medis. Pelaksanaannya dapat dilakukan bersamaan dengan terapi medis (Moyad & Hawks, 2009). PMR merupakan salah satu intervensi keperawatan yang dapat diberikan kepada pasien DM untuk meningkatkan relaksasi dan kemampuan pengelolaan diri. Latihan ini dapat membantu mengurangi ketegangan otot, stres, menurunkan tekanan darah, meningkatkan toleransi terhadap aktivitas sehari-hari, meningkatkan imunitas, sehingga status fungsional dan kualitas hidup meningkat (Smeltzer & Bare, 2002). PMR telah menunjukkan manfaat dalam mengurangi ansietas atau kecemasan, dan berkurangnya kecemasan ini mempengaruhi berbagai gejala psikologis dan kondisi medis. Yildirim & Fadiloglu (2006) dari hasil penelitiannya menyebutkan bahwa PMR menurunkan kecemasan dan meningkatkan kualitas hidup pasien yang menjalani dialisis. Penelitian yang dilakukan oleh Sheu, et al,
686

menyebutkan PMR mengurangi kecemasan yang berimplikasi pada penurunan mual dan muntah pada pasien yang menjalani kemoterapi. pasien juga perlu mendapatkan terapi komplementer berupa latihan relaksasi untuk mengatasi stresnya. RSUD Raden Mattaher adalah rumah sakit umum unit swadana tipe B non pendidikan yang menjadi rumah sakit rujukan dari 10 kabupaten/ kota di provinsi Jambi. METODE Jenis penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan pre and post with control group. Selanjutnya relaksasi otot progresif efektif menurunkan tekanan darah pada pasien hipertensi primer di Kota Malang (Hamarno. Oleh karena itu. selain diberikan terapi standar diabetes. Penelitian ini dilaksanakan di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Raden Mattaher Jambi. 2010). Nomor 3.199 tahun. dan Interne RSUD Raden Mattaher Jambi.60 tahun dengan standar deviasi 7. et al.7% kelompok intervensi dan 66. Maryani (2008). Pinang Masak.3%) untuk kelompok intervensi dan 10 orang (66.48 mmHg pada pasien hipertensi di Taiwan. yaitu 60. Hal ini membuat pasien stres dan berakibat buruk terhadap kesehatannya karena menambah tinggi kadar glukosa darahnya.7%) untuk kelompok kontrol. dengan jumlah sampel 15 responden kelompok intervensi dan 15 responden kelompok kontrol. Berbagai studi yang berbasis terapi relaksasi telah dilakukan untuk mengatasi stres dan kecemasan serta kadar glukosa darah. Penyakit ini merupakan penyakit kronis yang dapat menyebabkan komplikasi pada berbagai sistem tubuh. tetapi penelitian tentang pengaruh PMR terhadap penurunan glukosa darah pada pasien DMT2 belum ada. Volume 5.7% kelompok kontrol. Gazavi. yaitu 66. Sedangkan rata-rata umur responden kelompok kontrol 52. baik di negara maju maupun di negara berkembang karena insidensinya yang terus meningkat (Suyono dalam Soegondo. 2010). Pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling.671 tahun.0% untuk . tetapi tidak dapat disembuhkan. HASIL Hasil dari penelitian ini diperoleh rata-rata umur responden kelompok intervensi 51. yaitu 8 orang (53. Responden dengan jenis kelamin laki-laki lebih banyak dari pada perempuan.87 tahun dengan standar deviasi 7. diperoleh data sebanyak 412 pasien DMT2 yang menjalani rawat inap di RSUD Raden Mattaher Jambi selama tahun 2010 (Medical Record. 2009). Berdasarkan studi pendahuluan yang peneliti lakukan. masalah penelitian ini adalah: Belum diketahuinya pengaruh Progressive Muscle Relaxation terhadap kadar glukosa darah pada pasien DMT2.4 mmHg dan rata-rata tekanan darah diastolik sebesar 3. Sebagian besar responden menderita DMT2 kurang atau sama dengan 8 tahun. dan hanya dapat dikontrol kadar glukosa darahnya. Pengumpulan data dilaksanakan dari tanggal 27 April sampai dengan 31 Mei 2011 di Instalasi Rawat Inap Mayang Mengurai. Dari keterangan perawat yang bekerja di ruang penyakit dalam RSUD Raden Mattaher Jambi belum ada intervensi PMR oleh perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Gapkindo. (2007) menyebutkan bahwa PMR dan masase menurunkan tingkat HbA1C pada diabetes melitus tipe 1 (DM pada anak-anak). Data dianalisis secara univariat dan bivariat. Agustus 2012 687 (2003) memperlihatkan bahwa PMR menurunkan rata-rata tekanan darah sistolik sebesar 5. Sebagian besar responden dirawat dengan penyakit penyerta. Dengan demikian.Jurnal Health & Sport. Umur terendah 42 tahun dan tertinggi 62 tahun. Diabetes melitus menjadi masalah kesehatan yang serius.

436 mg/dl.457 mg/dl.571 0.517 mg/dl.00 Sebelum Setelah Selisih KGD 11.581 mg/dl.53 mg/dl.53 mg/dl. dengan standar deviasi 45.00 Sebelum Setelah Selisih KGD 16. dengan standar deviasi 46.361 168.00 sebelum dilakukan PMR pada kelompok intervensi adalah 182. Setelah intervensi rata-rata KGD jam 06.53 8.00 sebelum intervensi pada kelompok kontrol adalah 206.001* 21.09281.00 adalah 236. Rata-rata KGD jam 06.80 mg/dl. sedangkan rata-rata KGD jam 16. rata-rata KGD jam 11.Mashudi : Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kadar Glukosa Darah 688 kelompok intervensi dan 53.241 *signifikan pada α=0.546 62.131 75. dengan standar deviasi 74.277 mg/dl.83446.118 -5.031125.80 87. Untuk kelompok kontrol rata-rata KGD jam 06. dengan standar deviasi 84.67 mg/dl.777 84.00 Sebelum Setelah Selisih Kontrol KGD 06.970 77.065 mg/dl.33 mg/dl. dengan standar deviasi 77.53 20.30739.641 mg/dl.00 setelah dilakukan PMR pada kelompok intervensi adalah 130.00 Sebelum Setelah Selisih Mean SD P Value 95% CI 182.73 226. dengan standar deviasi 66. Hasil analisis terhadap perbedaan KGD sebelum dan setelah intervensi PMR pada kelompok intervensi dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5.00 197.53 mg/dl. dan rata-rata KGD jam 16.565 -22.47 54. Untuk KGD dapat disimpulkan bahwa rata-rata KGD jam 06.53 12.27 mg/dl.277 55.27 206.00 adalah 148.373141.975 0.87 69.289 mg/dl.187 -6.391 mg/dl.7 Hasil Analisis Perbedaan Kadar Glukosa Darah Pasien DMT2 Sebelum Dan Setelah Intervensi PMR Pada Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol Di RSUD Raden Mattaher Jambi April-Mei 2011 (n1=n2=15) Variabel KGD Intervensi KGD 06. dengan standar deviasi 75.67 51.636 0.00 adalah 197. dengan standar deviasi 62.293 mg/dl.80 mg/dl.00 pada kelompok kontrol adalah 155.53 262.67 148.000* 45.27 155. dengan standar deviasi 69. dengan standar deviasi 54.33 236.33 177.00 177. rata-rata KGD jam 11.05 Hasil analisis perbedaan rata-rata KGD setelah intervensi PMR antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol dapat dilihat pada tabel berikut ini : .80 206.00 adalah 262.00 Sebelum Setelah Selisih KGD 11.20 mg/dl. dengan standar deviasi 53. dan rata-rata KGD jam 16.104 mg/dl.00 adalah 226.67 mg/dl.00 Sebelum Setelah Selisih KGD 16.00 adalah 206.00 mg/dl dengan standar deviasi 45.00 sebelum intervensi adalah 168.3% untuk kelompok kontrol. sedangkan rata-rata KGD jam 16.00 mg/dl.293 35. rata-rata KGD jam 11.065 47.367 0.95132.598 0. rata-rata KGD jam 11.00 85.641 96.20 130.391 72.418 0.003* 34.530 mg/dl.104 54.

00 Intervensi 51.7) P value KGD 11. Peneliti meyakini bahwa PMR memberikan pengaruh yang signifikan dalam menurunkan KGD pasien DMT2 dalam penelitian ini dengan beberapa alasan.025* 7.Jurnal Health & Sport.05 54.090 0. Selama stres. kortisol.3) 20 (66.00.919107.178-73. Agustus 2012 689 Tabel 5. diantaranya penelitian ini menggunakan desain kuasi eksperiman dengan pre and post with control group.7) 13 (43. ACTH.00 Intervensi 85.00.73 KGD 11.00 sebelum dan setelah latihan PMR.422 Selisih Mean SD P Value 95% CI 0. dan 16. Berdasarkan hasil yang diperoleh dalam penelitian ini. Nomor 3.777 47.598 55.00. 11.7) 19 (63.161 0. Mekanisme PMR dalam menurunkan KGD pada pasien DMT2 erat kaitannya dengan stres yang dialami pasien baik fisik maupun psikologis. Dan Lama Menderita DMT2 Dengan Selisih Kadar Glukosa Darah Jam 06. penyakit penyerta.156 0.00 Intervensi 87.281 40.477 Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa pasien DMT2 yang diberi latihan PMR selama tiga hari dengan frekuensi latihan dua kali sehari dan durasi masing-masing sesi ± 15 menit memperlihatkan adanya perbedaan rata-rata KGD baik KGD jam 06.0) 12 (40. 11.00.33 Kontrol 20. dan tiroid akan meningkat. dan lama menderita DMT2 dengan penurunan KGD setelah intervensi PMR dapat disimpulkan tidak adanya hubungan. Volume 5. Hasil analisis selengkapnya dapat dilihat pada tabel di bawah ini : Tabel 5.0) 10 (33.336 0.00 0.518 06. Selain itu .389 0. jenis kelamin.27 KGD 16.00 0.00 16.001* Dari hasil analisis hubungan antara umur. Jenis Kelamin.546 72.533 0.131 96.385 0.3) 18 (60.826 0.014* 4. kortikosteroid.53 Kontrol 12.3) 0.571 0. glukagon.594144.9 Hasil Analisis Umur. terlihat bahwa latihan PMR mempunyai pengaruh yang signifikan terhadap penurunan kadar glukosa darah pada pasien DMT2.00 Di RSUD Raden Mattaher Jambi April-Mei 2011 (n1=n2=15) Variabel Umur -≤ 45 tahun -> 45 tahun Jenis Kelamin -Laki-laki -Perempuan Penyakit penyerta -Tidak ada -Ada Lama menderita DMT2 -≤ 8 tahun -> 8 tahun Total (%) 11 (36. yaitu mengalami penurunan kadar glukosa darah. hormon-hormon yang mengarah pada peningkatan KGD seperti epineprin.873 0. Penyakit Penyerta.47 *Signifikan pada α=0.8 Hasil Analisis Selisih Rata-Rata Kadar Glukosa Darah Pasien DMT2 Setelah PMR Antara Kelompok Intervensi Dan Kelompok Kontrol Di RSUD Raden Mattaher Jambi April-Mei 2011 (n1=n2=15) Variabel KGD KGD 06. Dan 16.87 Kontrol 8.271 17 (56. dan variabel rata-rata kadar glukosa darah sebelum intervensi setara antara kelompok intervensi dan kelompok kontrol.970 35. variabel karakteristik responden setara (homogen) antara kelompok intervensi dengan kelompok kontrol.019 0.

2006. Penilaian terhadap stressor mengakibatkan ketegangan otot yang mengirimkan stimulus ke otak dan membuat jalur umpan balik. dan penggunaan obat-obatan (Smeltzer & Bare. dan 16. enak. 11. Relaksasi PMR merupakan salah satu bentuk mind-body therapy (terapi pikiran dan otot-otot tubuh) dalam terapi komplementer (Moyad & Hawks. mencegah neuropati perifer. pada penelitian tersebut peneliti membandingkan PMR dengan terapi masase dan kelompok kontrol pada pasien DMT1 (anak-anak) untuk mengukur HbA1C bukan KGD. . Individu mempunyai sifat yang multidimensi. nyaman. Perbedaannya dengan penelitian ini adalah. 2009).00 setiap responden berbeda-beda. Tampak pada penelitian ini dengan perlakuan yang sama yaitu terapi PMR ternyata rentang penurunan KGD jam 06. et al (2007). meskipun dirinya bisa melakukan semua langkah atau prosedur PMR. kecemasan. Hal ini sesuai dengan pernyataan Richmond (2007). Namun ada beberapa responden yang melaporkan kurang bisa merasakan sensasi dari latihan PMR yang dilakukannya karena mereka kurang bisa berkonsentrasi dalam melakukan PMR tersebut. 2006). Hasil penelitian ini sejalan dengan temuan Ghazavi. 2008. DiNardo. menurunkan stres. Keuntungan terapi komplementer secara spesifik bagi pasien diabetes juga dikemukakan oleh Riyadi & Sukarmin (2008) yaitu menurunkan KGD. respon individu dalam mengatasi masalah berbeda-beda. oleh karena itu saat melakukan PMR perhatian diarahkan untuk membedakan perasaan yang dialami saat kelompok otot dilemaskan dan dibandingkan ketika otot-otot dalam kondisi tegang. bahwa latihan PMR yang diberikan kepada pasien DM dapat menurunkan kadar HbA1C. Relaksasi PMR akan menghambat jalur tersebut dengan cara mengaktivasi kerja sistem saraf parasimpatis dan memanipulasi hipotalamus melalui pemusatan pikiran untuk memperkuat sikap positif sehingga rangsangan stres terhadap hipotalamus berkurang. 2002. bahwa PMR merupakan salah satu bentuk mind-body therapi. menurunkan kadar katekolamin dan aktivitas otonom. Responden dalam penelitian ini melaporkan bahwa pada saat melakukan PMR ada dua sensasi yang berbeda yaitu merasakan ketegangan otot ketika bagian otot-otot tubuhnya diteganggkan dan merasakan sesuatu yang rileks. meningkatkan keterlibatan pasien dalam proses penyembuhan. Smeltzer. 2009).00. dan depresi. Penelitian ini sejalan dengan pernyataan Dunning (2003) bahwa terapi komplementer memberikan manfaat pada pasien diabetes diantaranya meningkatkan penerimaan kondisi DM saat ini. meningkatkan kontrol metabolik. mengembangkan strategi untuk mencegah stres berkelanjutan.00. latihan. Stres fisik maupun emosional mengaktifkan sistem neuroendokrin dan sistem saraf simpatis melalui hipotalamuspituitari-adrenal (Price & Wilson. Price & Wilson. Brown 1997 dalam Snyder & Lindquist (2002) menyebutkan bahwa respon stres merupakan bagian dari jalur umpan balik yang tertutup antara otot-otot dan pikiran. dan santai ketika otot-otot tubuh yang sebelumnya ditegangkan tersebut direlaksasikan.Mashudi : Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kadar Glukosa Darah 690 peristiwa kehidupan yang penuh stres telah dikaitkan dengan perawatan diri yang buruk pada penderita diabetes seperti pola makan.

Dahlan. (2008).. J.L. Black. SARAN Bagi Pelayanan Keperawatan. diharapkan perawat dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan melalui seminar atau pelatihan terkait teknik PMR dan melakukan evidence based practice. Seri evidence . (2010). S. Tidak ada hubungan antara umur.. 2010. Statistik untuk kedokteran dan kesehatan. penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber bagi perkembangan ilmu pengetahuan keperawatan khususnya yang terkait dengan intervensi keperawatan mandiri. American Diabetes Association. & Hawks. Progressive muscle relaxation can help you reduce anxiety and prevent panic : What is progressive muscle relaxation? April 20. Medical-Surgical Nursing. jenis kelamin.00. & Banasik. Philadelphia : W. bivariat. Bagi manajer keperawatan diharapkan dapat mempertimbangkan untuk menjadikan hasil penelitian ini sebagai dasar dalam menyusun rencana asuhan keperawatan atau standar operasional prosedur.com/ od/living withpd/a/PMR.B. 2010. Berdasarkan hasil penelitian ini.Jurnal Health & Sport. Diabetes Care. deskriptif. Volume 5. penyakit penyerta. J. M. M. H. M.diabetes journals. Bagi Penelitian selanjutnya. jam 11. Diharapkan hasil penelitian ini dapat menjadi inspirasi untuk melakukan penelitian labih lanjut dengan jumlah sampel yang lebih besar sehingga dapat menyempurnakan penelitian ini. (2th ed). Copstead. diharapkan dapat direplikasi atau dikembangkan lagi untuk memperkaya ilmu pengetahuan keperawatan terutama intervensi keperawatan mandiri yang berbasis terapi komplementer.00.psikologizone.about. Bagi pendidikan keperawatan diharapkan dapat memasukkan materi terapi komplementer ke dalam kurikulum pendidikan keperawatan pada mata ajar Kebutuhan Dasar Manusia dan Keperawatan Medikal Bedah. Pathophysiology. Daftar Pustaka Alim.com/langkah -langkah-relaksasi-otot-progresif.B. Ankrom. Agustus 2012 691 SIMPULAN PMR berpengaruh terhadap penurunan rata-rata kadar glukosa darah pasien DMT2 baik kadar glukosa darah jam 06. (2009). S. L. Langkah-langkah Relaksasi Otot Progresif. dan lama menderita DMT2 dengan rata-rata penurunan kadar glukosa darah setelah intervensi PMR. http://care. saunders company. Nomor 3. maupun jam 16. Elsevier Saunders. dan multivariat dilengkapi aplikasi dengan menggunakan SPSS. April 21. (2000). http://panicdisorder. Diakses tanggal 20 April 2010.C.full.00. Clinical Management for Positive Outcomes. org/content/27/suppl1/s5. Bagi Pendidikan Keperawatan. (2010). Hasil penelitian ini diharapkan dapat dijadikan sumber ilmu atau referensi baru bagi para pendidik dan mahasiswa sehingga dapat menambah wawasan yang lebih luas dalam hal intervensi keperawatan mandiri.htm. latihan PMR dapat dijadikan salah satu intervensi keperawatan mandiri untuk membantu menurunkan kadar glukosa darah pasien DM. (2008). (8th edition). penelitian ini bersifat aplikatif. http: //www. J.

Medical-Surgical Nursing. Hamarno. (2003).M. Z.com/2007/07/30/ stresdan-sistem-imun-tubuhsuatupendekatan-psikoneuroimu nologi2/. (tesis). Ignatavicius. T. St. Edisi 6.htm Gunawan. April 20. & Hawks. Care of people with diabetes: a manual nursing practice.ugm.Mashudi : Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kadar Glukosa Darah 692 based medicine (seri 1). (2010). Jakarta: Sagung Seto. (2008). (2007). Istiarini. dan Hawks. Di Nardo. Jacobs. S. C.edu/nurs330484/ ASSIGNMENTS/Assignment%20 7%20Mind%20Body%20Physiolo gy _ 5921200. Moyad. G. & Wolkman. (tesis).com/ pqdweb? Index =8&dib =1662109331& Srchmode=2&side =14&Fmt. ____________. Diabetes spectrum. The journal of alternative and complementary research. Pengembangan Multimedia Relaksasi. Stres dan Sistem Imun Tubuh. Melbourne : Blackwell Publishing.sums..L.. (supplement 1): 83-92. doi:10. http://proquest. (tesis).pdf" Maryani. S. dan Sumadiono. M. 2010. D.. R. (2006). http:// dennyhendrata. Clinical Management for Positive Outcomes. (2008). http://neila. B. (8th edition).H. (2001).L.ac. Price. (2008). (2007). Richmond. Besar sampel dalam penelitian kedokteran dan kesehatan. A.H. Ghazavi.. (5th ed).1089/ 107555301 753393841. Complementary and alternative therapies. (2006). (2007). Jakarta: Sagung Seto. April 20. Talakoob. R. Elsevier Saunders.. M.. Perpustakaan FIK-UI. Pengaruh progressive muscle relaxation terhadap kecemasan yang berimplikasi pada mual dan muntah pada pasien post kemoterapi di poliklinik rumah sakit Hasan Sadikin Bandung. A. 20 April. critical thinking for collaborative care. 2010. (2009). Z. Patofisiologi konsep klinis proses penyakit.A.. wordpress.staff.ir/ vol9/jan2008 /dm.A.utb. April . & Wilson. M. Abdeyazdan. dalam Black. (2009).M. Medical surgical nursing.. Jakarta: Sagung Seto. April 20. http://gemini.. 2010 http://semj.pdf. J.id/wordpr ess/ wpcontent/uploads/2008/05/relaksa si-otot. Suatu Pendekatan Psikoneuroimunologi. (2008).H. ac.D. Seri evidence based medicine (seri 2). Attari. Seri evidence based medicine (seri 3). Perpustakaan FIKUI. dan Joazi. Jakarta : EGC Ramdhani. J. dan Putra.umi.. 2010. N. (2009).M. Dunning. M. Effects of Massage Therapy and Muscle Relaxation on Glycosylated Hemoglobin in Diabetic Children. Diakses tanggal 20 April 2010. ____________. Perpustakaan FIK-UI.. Langkah-langkah membuat proposal penelitian bidang kedokteran dan kesehatan. Pengaruh terapi refleksologi terhadap kadar glukosa darah pada klien diabetes melitus tipe 2 dalam konteks asuhan keperawatan di Sleman Yogyakarta. L. A guide to psychology and its practice. The Physiology of Mind–Body Interactions: The Stress Response and the Relaxation Response. J. Pengaruh relaksasi otot progresif terhadap penurunan tekanan darah pada pasien hipertensi primer di kota malang. Mind-bodies therapy in diabetes management. Louis : Missouri.

http://www.. I. I. Lin. Nursing management diabetes mellitus dalam Lewis.. (materi penyuluhan 1) dalam Soegondo. B. dan Mar. I. dan Yudi. (2006). A.C. Gambaran pola penyakit diabetes melitus di bagian rawat inap RSUD Koja Jakarta tahun 20002004.(materi penyuluhan 2) dalam Soegondo. & Subekti.. http://www.. Soewondo. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 279-287).. S. S. 2010. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 273278). Sastroasmoro. Jakarta : FKUI.. Rochmah. Pengaruh relaksasi otogenik terhadap kadar glukosa darah dan tekanan darah pada pasien diabetes melitus tipe 2 dengan hipertensi di DI Yogykarta dan Jawa Tengah.C.. & Subekti. C. P.W. O’Brien. D. Prinsip penanganan diabetes. & Subekti.. Bare. S. Jakarta : EGC. N. S. S. P. dan Setiati. Holistic nursing practice. M. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 151-162). Jakarta: Sagung Seto. (7 th edition) (hlm 1253-1289) Elsevier Mosby. 2010..nih. Setyawati. (2009). Soewondo. Nomor 3.A. April 20. I.. Alwi.. Smeltzer. K. L.guideto psychology. Jakarta : FKUI. S.W. Medical surgical nursing. (edisi ke-3). (4th ed). (2010). M. I. dalam Sudoyo.(Tesis).W. Effects of progressive muscle relaxation on blood pressure and psychososial status for clients with essential hypertension in taiwan.M. Philadelphia : Lippincott William & Wilkins. R... Soegondo. (2002). Riyadi dan Sukarmin. Cheever.L. assessment and management of clinical problems. Subekti. (4th ed) (hlm 1937-1939). Jakarta : Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FK-UI. (2007).. & Subekti. Perpustakaan FIK UI. Smeltzer.G. (2009). P. S. Agustus 2012 693 20. Hipoglikemia iatrogenik. (edisi 8). S. P.. . dalam Soegondo. A.G. (2010). S. New York : Springer Publishing Company. S. Jakarta : FKUI. Hinkle. (2009)..gov/pub med/12597674. S. Lian.H. Apa itu diabetes: patofisiologi. W. Shaw. Askep pada pasien dengan gangguan eksokrin dan endokrin pada pankreas. (2009). Alwi. Robbins. B. Simadibrata. dan Lindquist. B. Buku ajar keperawatan medikal bedah Brunner & suddarth.. Heitkemper. M. dan bare. dan Lewis. S.L.. Ed. S.. Pemantauan kendali diabetes melitus. Ed. Snyder.. Dirksen. S.Jurnal Health & Sport. (2006). CL. Sukardji. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 111133). Irvin. Cermin Dunia Kedokteran. (2008). I. (2003). Setyohadi. M.ncbi..htm. S. (11th edition)... Jakarta : FKUI. Ed. HS.R. Soewondo. (2002). Yogyakarta : Graha ilmu. Soewondo. dalam dalam Sudoyo.. Bagaimanakah perencanaan makan pada penyandang diabetes. I. Soewondo. Setyohadi.com/ pmr.. A.. Complementary/ alternative therapies in nursing.. dalam Soegondo. dan Ismael. (2006). B. insulin dan obat oral hipoglikemik oral. dan Bucher. Ed..L. (2008). Diabetes melitus pada usia lanjut.nlm. Sumadji. K. Volume 5.G. dan Setiati. S. P. J. B.. Brunner & Suddarth’s Textbook of medicalsurgical nursing.C. Simadibrata. L. Buku ajar ilmu penyakit dalam. Santono. gejala dan tanda. P. Dasar-dasar Metodologi Penelitian Klinis. Sheu..

AM. S. P. dalam Soegondo. Waspadji. P. dan Alligood. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 11-18). S. Soewondo.Mashudi : Pengaruh Progressive Muscle Relaxation Terhadap Kadar Glukosa Darah 694 Buku ajar ilmu penyakit dalam. Kecendrungan peningkatan jumlah penyandang diabetes.. I. Yildirim. Diabetes melitus : Mekanisme dasar dan pengelolaannya yang rasional. Jakarta : FKUI. (2009). The effect of progressive muscle relaxation training on anxity levels and quality of life in dialysis patients. dalam Soegondo. Jakarta : FKUI. ... __________. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 31-45)... I. & Subekti. Tomey. (4th ed) (hlm 1892-1895).. Soewondo. Ed. Jakarta : FKUI. (2009). P. Suyono. dalam Soegondo. dan Fadiloglu. (2006). T. Soewondo. Ed. Ed. Jakarta : FKUI..K. penyulit kronik dan pencegahannya. S. April 20. Elsevier Mosby. (2006). Nursing Theorists and Their Work. _________. I. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 3-10).. & Subekti. S. (2009). Jakarta : Pusat Penerbit Departemen Penyakit Dalam FK-UI. & Subekti. (6th edition).. Patofisiologi diabetes melitus. Y. dalam Soegondo. Soewondo. Ed. P. Diabetes melitus. & Subekti. (2009). S. EDNA/ERCA Journal. S. Penatalaksanaan diabetes melitus terpadu (hlm 175-185).. I.. MR. 2010.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->