BENTUK-BENTUK MALPRAKTEK Malpraktek yang menjadi penyebab dokter bertanggung-jawab secara profesi bisa digolongkan sebagai

berikut: 1. Tidak Punya Keahlian (Jahil) Yang dimaksudkan di sini adalah melakukan praktek pelayanan kesehatan tanpa memiliki keahlian, baik tidak memiliki keahlian sama sekali dalam bidang kedokteran, atau memiliki sebagian keahlian tapi bertindak di luar keahliannya. Orang yang tidak memiliki keahlian di bidang kedokteran kemudian nekat membuka praktek, telah disinggung oleh Nabi Shallallahu 'alaihi wa sallam dalam sabda beliau:

"Barang siapa yang praktek menjadi dokter dan sebelumnya tidak diketahui memiliki keahlian, maka ia bertanggung-jawab" [4] Kesalahan ini sangat berat, karena menganggap remeh kesehatan dan nyawa banyak orang, sehingga para Ulama sepakat bahwa mutathabbib (pelakunya) harus bertanggung-jawab, jika timbul masalah dan harus dihukum agar jera dan menjadi pelajaran bagi orang lain. 2. Menyalahi Prinsip-Prinsip Ilmiah (Mukhâlafatul Ushûl Al-'Ilmiyyah) Yang dimaksud dengan pinsip ilmiah adalah dasar-dasar dan kaidah-kaidah yang telah baku dan biasa dipakai oleh para dokter, baik secara teori maupun praktek, dan harus dikuasai oleh dokter saat menjalani profesi kedokteran [5]. Para ulama telah menjelaskan kewajiban para dokter untuk mengikuti prinsip-prinsip ini dan tidak boleh menyalahinya. Imam Syâfi'i rahimahullah –misalnya- mengatakan: "Jika menyuruh seseorang untuk membekam, mengkhitan anak, atau mengobati hewan piaraan, kemudian semua meninggal karena praktek itu, jika orang tersebut telah melakukan apa yang seharusnya dan biasa dilakukan untuk maslahat pasien menurut para pakar dalam profesi tersebut, maka ia tidak bertanggung-jawab. Sebaliknya, jika ia tahu dan menyalahinya, maka ia bertanggung-jawab."[6] Bahkan hal ini adalah kesepakatan seluruh Ulama, sebagaimana disebutkan oleh Ibnul Qayyim rahimahullah [7]. Hanya saja, hakim harus lebih jeli dalam menentukan apakah benar-benar terjadi pelanggaran prinsipprinsip ilmiah dalam kasus yang diangkat, karena ini termasuk permasalahan yang pelik. 3. Ketidaksengajaan (Khatha') Ketidaksengajaan adalah suatu kejadian (tindakan) yang orang tidak memiliki maksud di dalamnya. Misalnya, tangan dokter bedah terpeleset sehingga ada anggota tubuh pasien yang terluka. Bentuk malpraktek ini tidak membuat pelakunya berdosa, tapi ia harus bertanggungjawab terhadap akibat yang ditimbulkan sesuai dengan yang telah digariskan Islam dalam bab jinayat, karena ini termasuk jinayat khatha' (tidak sengaja).

dan itu bisa membuat mereka meninggalkan profesi mereka. meskipun mungkin juga factor kesengajaan ini dapat diketahui melalui indikasi-indikasi kuat yang menyertai terjadinya malpraktek yang sangat jelas. Apalagi dalam hal yang membahayakan diri sendiri. dokter dan paramedis terzhalimi. Qishash . Tentu saja sulit diterima bila ada dokter atau paramedis yang melakukan hal ini. Catatan Medis. Demikian pula. dan para dokter bisa jadi berbuat seenak mereka. biasanya pengakuan ini menunjukkan kejujuran. adanya perselisihan antara pelaku malpraktek dengan pasien atau keluarganya. Yaitu catatan yang dibuat oleh dokter dan paramedis. Pengakuan Pelaku Malpraktek (Iqrâr ). Dalam dugaan malpraktek. Bentuk-bentuk tanggung-jawab tersebut adalah sebagai berikut: 1. Sebaliknya. Jika tuduhan langsung diterima tanpa bukti. ada beberapa bentuk tanggung jawab yang dipikul pelakunya. seperti ganti rugi. dibutuhkan kesaksian dua pria yang adil. dibolehkan kesaksian satu pria ditambah dua wanita. Misalnya. seperti persalinan. tuduhan malparaktek harus diiringi dengan bukti. karena catatan tersebut dibuat agar bisa menjadi referensi saat dibutuhkan. karena merupakan persaksian atas diri sendiri.4. Kasus seperti ini terhitung jarang dan sulit dibuktikan karena berhubungan dengan isi hati orang. Jika kesaksian akan mengakibatkan tanggung jawab materiil. 3. dibolehkan persaksian empat wanita tanpa pria. dan ia lebih mengetahuinya. hendaknya hakim juga memperhatikan tidak memiliki tuhmah (kemungkinan mengalihkan tuduhan malpraktek dari dirinya) [8]. ia bisa menjadi bukti yang sah. 2. sementara mereka telah menghabiskan umur mereka untuk mengabdi dengan profesi ini. dan jika terbukti harus ada pertanggungjawaban dari pelakunya. PEMBUKTIAN MALPRAKTEK Agama Islam mengajarkan bahwa tuduhan harus dibuktikan. Adapun kesaksian dalam hal-hal yang tidak bisa disaksikan selain oleh wanita. Kesaksian (Syahâdah). Di samping memperhatikan jumlah dan kelayakan saksi. pasien terzhalimi. sehingga akhirnya membahayakan kehidupan umat manusia. seorang hakim bisa memakai bukti-bukti yang diakui oleh syariat sebagai berikut: 1. jika tidak ada pertanggungjawaban atas tindakan malpraktek yang terbukti. Untuk pertanggungjawaban berupa qishash dan ta'zîr. Sengaja Menimbulkan Bahaya (I'tidâ') Maksudnya adalah membahayakan pasien dengan sengaja. Ini adalah bentuk malpraktek yang paling buruk. Iqrar adalah bukti yang paling kuat. BENTUK TANGGUNG JAWAB MALPRAKTEK Jika tuduhan malpraktek telah dibuktikan. Biasanya pembuktiannya dilakukan dengan pengakuan pelaku. Jika catatan ini valid. Ini adalah salah satu wujud keadilan dan kemuliaan ajaran Islam.

kemudian terjadi malpraktek. tapi pasien tidak mengetahuinya. seorang dokter yang bertugas melakukan pemeriksaan awal sengaja merekomendasikan pasien untuk merujuk kepada dokter bedah yang tidak ahli. c. tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah [10]. d. Ketika memberi contoh tindak kriminal yang mengakibatkan qishash. [9]" 2. mengikuti prinsip-prinsip ilmiah. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian.Qishash ditegakkan jika terbukti bahwa dokter melakukan tindak malpraktek sengaja untuk menimbulkan bahaya (i'tida'). atau yang lain. tapi menyalahi prinsip-prinsip ilmiah. PIHAK YANG BERTANGGUNG-JAWAB Tanggung-jawab dalam malpraktek bisa timbul karena seorang dokter melakukan kesalahan langsung. sedangkan dokter pemeriksa ikut menyebabkan malpraktek secara tidak langsung. dan memanfaatkan profesinya sebagai pembungkus tindak kriminal yang dilakukannya. Pelaku memiliki keahlian. Pelaku memiliki keahlian. tapi tidak mendapat ijin dari pasien. Pelaku memiliki keahlian. sehingga secara tidak langsung menyebabkan terjadinya malpraktek. Para dokter dan paramedis hendaknya takut kepada Allâh Azza wa Jalla dan menjalankan amanat dengan baik. Khalil bin Ishaq al-Maliki mengatakan: "Misalnya dokter yang menambah (luas area bedah) dengan sengaja. Dhamân (Tanggung Jawab Materiil Berupa Ganti Rugi Atau Diyat) Bentuk tanggung-jawab ini berlaku untuk bentuk malpraktek berikut: a. karena hanya Allâh Azza wa Jalla yang bisa menghindarkan mereka dari kesalahan. rumah sakit atau klinik juga bisa ikut bertanggung-jawab jika terbukti teledor dalam tanggung-jawab yang diemban. dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya. cambuk. Misalnya. Dalam kasus ini. tapi pasien tidak mengetahuinya. Jadi. tapi terjadi kesalahan tidak disengaja. Karenanya. Ta'zîr berupa hukuman penjara. misalnya mengetahui dokter yang dipekerjakan tidak ahli. Pelaku memiliki keahlian. Ta'zîr berlaku untuk dua bentuk malpraktek: a. Hendaknya mereka bertawakal kepada Allâh Azza wa Jalla dalam menjalankan tugas. dan tidak ada kesengajaan dalam menimbulkan bahaya. dalam satu kasus malpraktek kadang hanya ada satu pihak yang bertanggung-jawab. b. Kadang juga ada pihak lain lain yang ikut bertanggung-jawab bersamanya. dengan membunuh pasien atau merusak anggota tubuhnya. Semoga Allâh melindungi umat Islam dari marabahaya dan berbagai keburukan. Pelaku malpraktek tidak memiliki keahlian. wali pasien atau pemerintah. mengikuti prinsip-prinsip ilmiah. 3. kecuali dalam keadaan darurat. . PENUTUP Demikianlah penjelasan secara singkat tentang aturan Islam mengenai malpraktek dalam bidang pelayanan kesehatan. b. sehingga terhindar dari berbagai tanggung-jawab yang memberatkan diri di dunia sebelum akhirat. dan bisa juga karena menjadi penyebab terjadinya malpraktek secara tidak langsung. dokter bedah adalah adalah pelaku langsung malpraktek.

Al-Mas`ûliyyah al-Jinâiyyah lil Athibbâ'hlm. Lihat: al-Majmû' 20/256. Al-Mishbâhul Munîr. 7. 2. Penerbit Yayasan Lajnah Istiqomah Surakarta. 317 [10]. Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd. 118. Hadits hasan. Sunan an-Nasâ'i. Al-Umm 7/65.8 Selokaton Gondangrejo Solo 57183 Telp. Usamah Qayid. 325. Darun Nahdhah al-'Arabiyyah. al-'Azhim Abâdi. tahqîq Muhammad Fuâd 'Abdul Bâqi.Referensi 1. HR. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. an-Nasâi' no. 5. 4575. Dr. tahqîq Salim al-Hilâli. 160 [6]. Darul Fikr. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. [8]. 10. Solo-Purwodadi Km. Lihat Silsilah al-Ahâdîts ash-Shahîhah no. 9. 3. Maktabah ash-Shahabah. 3466. [9]. [Disalin dari majalah As-Sunnah Edisi 04-05/Tahun XIV/1431/2010M. Kamus Inggris Indonesia. 0271-7574821] ________ Footnote [1]. Abu Dâwud no. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah. 351 Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. Lihat: Tuhfatul Maudûd bi Ahkâmil Maulûd hal. 6. Wasim Fathullah. Sunan Ibnu Mâjah. Dar Ibnul Qayyim. Imam asy-Syafi'I. 332 [3]. Jl. Darul Ma'rifah. Mukhtashar Khalîl hlm. PT Gramedia. 331. Al-Mas`ûliyyah al-Jinâiyyah lil Athibbâ'. John M. Lihat al-Mishbâhul Munîr hlm. 301 [4]. Dr. Echols dan Hassan Shadily. Ta'zîr: hukuman di luar hudud yang tidak ditentukan syari'ah. Muhammad asy-Syinqîthi. 334 . Al-Umm. Al-Khatha' ath-Thibbi Mafhûmuhu wa Aatsâruhu. Kamus Inggris – Indonesia hlm. Dar Qutaibah. Dr. 8. Taisîrul Karîm ar-Rahmân hlm. Dar Ihya' at-Turats. 4845 dan Ibnu Mâjah no. Muassasah ar-Risalah. 4. 635 [5]. 'Aunul Ma'bûd. Ahkâmul Jirâhah ath-Thibbiyyah hlm. 371 [2]. [7].

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful