1

ASUHAN KEPERAWATAN ANAK PADA PASIEN DENGAN DENGUE HAEMORAGIC FEVER

A. PENGERTIAN DHF adalah suatu infeksi arbovirus akut yang masuk ke dalam tubuh melalui gigitan nyamuk spesies aides. Penyakit ini sering menyerang anak, remaja, dan dewasa yang ditandai dengan demam, nyeri otot dan sendi. Demam Berdarah Dengue sering disebut pula Dengue Haemoragic Fever ( DHF ). B. PATOFISIOLOGI Setelah virus dengue masuk ke dalam tubuh, pasien akan mengalami keluhan dan gejala karena viremia, seperti demam, sakit kepala, mual, nyeri otot, pegal seluruh badan, hiperemi ditenggorokan, timbulnya ruam dan kelainan yang mungkin muncul pada system retikuloendotelial seperti pembesaran kelenjar-kelenjar getah bening, hati dan limpa. Ruam pada DHF disebabkan karena kongesti pembuluh darah dibawah kulit. Fenomena patofisiologi utama yang menentukan berat penyakit dan membedakan DF dan DHF ialah meningginya permeabilitas dinding kapiler karena pelepasan zat anafilaktosin, histamin dan serotonin serta aktivasi system kalikreain yang berakibat ekstravasasi cairan intravaskuler. Hal ini berakibat berkurangnya volume plama, terjadinya hipotensi, hemokonsentrasi, hipoproteinemia, efusi dan renjatan. Adanya kebocoran plasma ke daerah ekstravaskuler dibuktikan dengan ditemukannya cairan dalam rongga serosa, yaitu dalam rongga peritoneum, pleura dan perikard. Renjatan hipovolemik yang terjadi sebagai akibat kehilangan plasma, bila tidak segera teratasi akan terjadi anoxia jaringan, asidosis metabolic dan kematian. Sebab lain kematian pada DHF adalah perdarahan hebat. Perdarahan umumnya dihubungkan dengan trombositopenia, gangguan fungsi trombosit dan kelainan fungsi trombosit. Fungsi agregasi trombosit menurun mungkin disebabkan proses imunologis terbukti dengan terdapatnya kompleks imun dalam peredaran darah. Kelainan system koagulasi disebabkan diantaranya oleh kerusakan hati yang fungsinya memang tebukti terganggu oleh aktifasi system koagulasi. Masalah terjadi tidaknya DIC pada DHF/ DSS, terutama pada pasien dengan perdarahan hebat.

1

Panas 2-7 hari. ekimosis. FDP. BUN. Asites Cairan dalam rongga pleura ( kanan ) Ensephalopati : kejang. creatinin serum. hematemesis. 3. 2 . sopor koma. gelisah. Derajat I Demam disertai gejala klinis lain. 2. tanda dangejala lain adalah : Hati membesar. ditambah dengan gejala-gejala perdarahan spontan seperti petekie.2 C. tekanan darah tidak teatur ( denyut jantung ≥ 140x/mnt ) anggota gerak teraba dingin. EKG. yaitu : 1. nyeri spontan yang diperkuat dengan reaksi perabaan. PEMERIKSAAN DAN DIGNOSIS Trombositopeni ( ≤ 100. periksa : Hb. Derajat II Sama dengan derajat I. melena. Faal hemostasis. tanpa perdarahan spontan. KLASIFIKASI DHF WHO. Uji tourniquet positif. D. berkeringat dan kulit tampak biru. E. ( 120/80 → 120/100 → 120/110 → 90/70 → 80/70 → 80/0 → 0/0 ) 4. Foto dada.000/mm3) Hb dan PCV meningkat ( ≥ 20% ) Leukopeni ( mungkin normal atau lekositosis ) Isolasi virus Serologi ( Uji H ): respon antibody sekunder Pada renjatan yang berat. perdarahan gusi. Derajat III Ditandai oleh gejala kegagalan peredaran darah seperti nadi lemah dan cepat ( >120x/mnt ) tekanan nadi sempit ( ≤ 120 mmHg ). Derajat IV Nadi tidak teaba. 1986 mengklasifikasikan DHF menurut derajat penyakitnya menjadi 4 golongan. PCV berulang kali ( setiap jam atau 4-6 jam apabila sudah menunjukkan tanda perbaikan ). trombositipenia. TANDA DAN GEJALA Selain tanda dan gejala yang ditampilkan berdasarkan derajat penyakitnya. dan hemokonsentrasi. tekanan darah menurun.

Apabila anak tidak suka minum sama sekali sebaiknya jumlah cairan infus yang harus diberikan sesuai dengan kebutuhan cairan penderita dalam kurun waktu 24 jam yang diestimasikan sebagai berikut : • • • • • 100 ml/Kg BB/24 jam. Hb dan PCV meningkat. PENATALAKSANAAN Indikasi rawat tinggal pada dugaan infeksi virus dengue : Panas 1-2 hari disertai dehidrasi ( karena panas. Untuk kasus yang menunjukkan gejala dehidrasi disarankan minum sebnyakbanyaknya dan sesering mungkin. Dengan Renjatan . untuk anak dengan BB 31-40 kg 50 ml/KgBB/24 jam. untuk anak dengan BB 26-30 kg 60 ml/KgBB/24 jam.3 F. Belum atau tanpa renjatan: 1. Panas disertai perdarahan Panas disertai renjatan. Jika nadi dan tensi stabil lanjutkan infus tersebut dengan jumlah cairan dihitung berdasarkan kebutuhan cairan dalam kurun waktu 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi dengan sisa waktu ( 24 jam 3 . masukan kurang ) atau kejang-kejang. kesan sakit keras ( tidak mau bermain ). a. uji tourniquet positif / negatif. darah 15 cc/kgBB/hari perdarahan hebat. muntah. air buah atau susu secukupnya. b. Grade I dan II : Oral ad libitum atau Infus cairan Ringer Laktat dengan dosis 75 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg atau 50 ml/Kg BB/hari untuk anak dengan BB < 10 kg bersama-sama diberikan minuman oralit. antipiretik untuk anti panas. untuk anak dengan BB 41-50 kg Obat-obatan lain : antibiotika apabila ada infeksi lain. a. Grade III Berikan infus Ringer Laktat 20 mL/KgBB/1 jam Apabila menunjukkan perbaikan (tensi terukur lebih dari 80 mmHg dan nadi teraba dengan frekuensi kurang dari 120/mnt dan akral hangat) lanjutkan dengan Ringer Laktat 10 mL/KgBB/1jam. Panas 3-5 hari disertai nyeri perut. 2. pembesaran hati. untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 ml/KgBB/24 jam.

Perhitungan kebutuhan cairan dalam 24 jm diperhitungkan sebagai berikut : • • • • b.4 dikurangi waktu yang dipakai untuk mengatasi renjatan ). akral dingin maka penderita tersebut harus memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau lainnya ) sebanyak 10 Ml/Kg BB/ 1 jam. 4 . c. Apabila satu jam setelah pemakaian cairan RL 20 mL/Kg tensi masih terukur kurang dari 80 mmHg dan andi cepat lemah. Jika keadaan umum membai dilanjutkan cairan RL sebanyk kebutuhan cairan selama 24 jam dikurangi cairan yang sudah masuk dibagi sisa waktu setelah dapat mengatasi renjatan. akral dingin maka penderita tersebut memperoleh plasma atau plasma ekspander ( dextran L atau yang lainnya ) sebanyak 10 mL/ Kg BB/ 1 jam dan dapat diulang maksimal 30 mL/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. tetapi masih terukur kurang 80 mmHg dan nadi cepat lemah. 50 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 41-50 Kg. Dan dapat diulang maksimal 30 mg/Kg BB dalam kurun waktu 24 jam. Apabila satu jam setelah pemberian cairan Ringer Laktat 10 mL/Kg BB/ 1 jam keadaan tensi menurun lagi. 60 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB 31-40 Kg. BB/1 jam keadaan 100 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dengan BB < 25 Kg 75 mL/Kg BB/24 jam untuk anak dng berat badan 26-30 Kg.

nyeri ulu hati. cyanosis sekitar mulut. 5. perdarahan melalui hidung. mual dan nafsu makan menurun. penyakit DHF adalah penyakit yang bisa ditularkan melalui gigitan nyamuk aides aigepty. 2. pada auskultasi terdengar ronchi. ban bekas. pegal seluruh tubuh. sakit kepala. 5 . hidung dan jari-jari. remaja dan dewasa ( Effendy. uji tourniquet positif. pergerakan dada simetris. Identitas DHF merupakan penyakit daerah tropis yang sering menyebabkan kematian anak. pada grade III dapat terjadi kegagalan sirkulasi. lemah. hipotensi. Keluhan Utama Pasien mengeluh panas. nyeri otot. Pengkajian 1. mual. Sistem Cardiovaskuler Pada grde I dapat terjadi hemokonsentrasi. epistaksis. sakit pada waktu menelan. Riwayat penyakit sekarang Riwayat kesehatan menunjukkan adanya sakit kepala. trombositipeni. Riwayat Kesehatan Lingkungan Biasanya lingkungan kurang bersih. Riwayat penyakit terdahulu Tidak ada penyakit yang diderita secara specific. dan nafsu makan menurun. karena 6. pernapasan dangkal. Sistem Persyarafan Pada grade III pasien gelisah dan terjadi penurunan kesadaran serta pada grade IV dapat trjadi DSS 3. nadi cepat. banyak genangan air bersih seperti kaleng bekas. Riwayat Tumbuh Kembang Pengkajian Per Sistem 1. perkusi sonor. 3. 4. tempat air minum burung yang jarang diganti airnya. 1995 ) 2. bak mandi jarang dibersihkan. pada grade IV nadi tidak teraba dan tekanan darah tak dapat diukur. Riwayat penyakit keluarga Riwayat adanya penyakit DHF pada anggota keluarga yang lain sangat menentukan.5 ASUHAN KEPERAWATAN I. lemah. panas. lemah. Sistem Pernapasan Sesak. krakles.

5. pada grade III dapat terjadi perdarahan spontan pada kulit. kencing berwarna merah. Diagnosa Keperawatan 1. Sistem Integumen. kesulitan menelan. pembesarn limpa. Berika / anjurkan pasien untuk banyak minum 1500-2000 cc/hari ( sesuai toleransi ) 6 . nyeri saat menelan. terjadi pethike. penurunan nafsu makan. melena. 6. dengan pindahnya ciran intravaskuler ke Rencana Asuhan Keperawatan. Beri komres air kran Rasional : Kompres dingin akan terjadi pemindahan panas secara konduksi b. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurangya informasi. 1. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekwat akibat mual dan nafsu makan yang menurun.6 4. Resiko terjadi perdarahn berhubungan dnegan penurunan factor-fakto pembekuan darah ( trombositopeni ) 6. Hipertermie berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh normal Kriteria hasil : Suhu tubuh antara 36 – 37 Nyeri otot hilang Intervensi : a. Sistem perkemihan Produksi urine menurun. kulit kering. Hipertermi berhubungan dengan proses infeksi virus dengue 2. nyeri tekan pada epigastrik. Sistem Pencernaan Selaput mukosa kering. Resiko defisit cairan berhubungan ekstravaskuler 3. muntah. abdomen teregang. dapat hematemesis. mual. akan mengungkapkan nyeri sat kencing. kadang kurang dari 30 cc/jam. pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler 4. pembesaran hati. pada grade I terdapat positif pada uji tourniquet. 5. Terjadi peningkatan suhu tubuh. Resiko syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. Kecemasan berhubungan dengan kondisi klien yang memburuk dan perdaahan 7.

Catat warna urine / konsentrasi. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Tanda vital merupakan acuan untuk mengetahui keadaan umum pasien. Observasi capillary Refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer c. d. Anjurkan pasien untuk menggunakan pakaian yang tipis dan mudah menyerap keringat Rasional : Memberikan rasa nyaman dan pakaian yang tipis mudah menyerap keringat dan tidak merangsang peningkatan suhu tubuh. Tujuan : Tidak terjadi devisit voume cairan Kriteria : Input dan output seimbang Vital sign dalam batas normal Tidak ada tanda presyok Akral hangat Capilarry refill < 3 detik Intervensi : a. 7 . tanda vital ( suhu. Anjurkan untuk minum 1500-2000 ml /hari ( sesuai toleransi ) Rasional : Untuk memenuhi kabutuhan cairan tubuh peroral e. BJ Rasional : Penurunan haluaran urine pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. Awasi vital sign tiap 3 jam/lebih sering Rasional : Vital sign membantu mengidentifikasi fluktuasi cairan intravaskuler b. 2. c. Obat khususnyauntuk menurunkan suhu tubuh pasien. Observasi intake dan output. nadi.7 Rasional : Untuk mengganti cairan tubuh yang hilang akibat evaporasi. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Dapat meningkatkan jumlah cairan tubuh. Kolaborasi : pemberian cairan intravena dan pemberian obat sesuai program. Rasional : Mendeteksi dini kekurangan cairan serta mengetahui keseimbangan cairan dan elektrolit dalam tubuh. untuk mencegah terjadinya hipovolemic syok. Rasional : Pemberian cairan sangat penting bagi pasien dengan suhu tubuh yang tinggi. Observasi intake dan output. d. tekanan darah ) tiap 3 jam sekali atau lebih sering. e.

dan segera laporkan jika terjadi perdarahan Rasional : Dengan melibatkan psien dan keluarga maka tanda-tanda perdarahan dapat segera diketahui dan tindakan yang cepat dan tepat dapat segera diberikan. Resiko gangguan pemenuhan kebutuhan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh berhubungan dengan intake nutrisi yang tidak adekuat akibat mual dan nafsu makan yang menurun. Kolaborasi : pemeriksaan : HB. Berikan makanan sedikit namun sering dan atau makan diantara waktu makan 8 . trombo Rasional : Untuk mengetahui tingkat kebocoran pembuluh darah yang dialami pasien dan untuk acuan melakukan tindakan lebih lanjut. Kolaborasi : Pemberian cairan intravena Rasional : Cairan intravena diperlukan untuk mengatasi kehilangan cairan tubuh secara hebat. Perawat segera mengetahui tanda-tanda presyok / syok b. pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. Timbang BB tiap hari (bila memungkinkan ) Rasional : Mengawasi penurunan BB / mengawasi efektifitas intervensi. Untuk memonitor kondisi pasien selama perawatan terutama saat terdi perdarahan. Kaji riwayat nutrisi. Monitor keadaan umum pasien Raional . e. termasuk makanan yang disukai Rasional : Mengidentifikasi defisiensi. menduga kemungkinan intervensi b. Intervensi : a. Observasi vital sign setiap 3 jam atau lebih Rasional : Perawat perlu terus mengobaservasi vital sign untuk memastikan tidak terjadi presyok / syok c.8 3. Resiko Syok hypovolemik berhubungan dengan perdarahan yang berlebihan. PCV. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : Tanda Vital dalam batas normal Intervensi : a. d. 4. Tujuan : Tidak terjadi gangguan kebutuhan nutrisi Kriteria : Tidak ada tanda-tanda malnutrisi Menunjukkan berat badan yang seimbang. Jelaskan pada pasien dan keluarga tanda perdarahan. d. Observasi dan catat masukan makanan pasien Rasional : Mengawasi masukan kalori/kualitas kekurangan konsumsi makanan c.

Antisipasi adanya perdarahan : gunakan sikat gigi yang lunak. Resiko terjadi perdarahan berhubungan dengan penurunan factor-faktor pembekuan darah ( trombositopeni ) Tujuan : Tidak terjadi perdarahan Kriteria : TD 100/60 mmHg. dapat diketahui tingkat kebocoran pembuluh darah dan kemungkinan perdarahan yang dialami pasien. 5. pulsasi kuat Tidak ada tanda perdarahan lebih lanjut. Rasional : Mencegah terjadinya perdarahan lebih lanjut. Rasional : Penurunan trombosit merupakan tanda adanya kebocoran pembuluh darah yang pada tahap tertentu dapat menimbulkan tanda-tanda klinis seperti epistaksis. DP. Rasional : Menurunkan distensi dan iritasi gaster. Monitor trombosit setiap hari Rasional : Dengan trombosit yang dipantau setiap hari. Anjurkan pasien untuk banyak istirahat ( bedrest ) Rasional : Aktifitas pasien yang tidak terkontrol dapat menyebabkan terjadinya perdarahan. c. e.9 Rasional : Makanan sedikit dapat menurunkan kelemahan dan meningkatkan masukan juga mencegah distensi gaster. pelihara kebersihan mulut. 9 . Berikan penjelasan kepada klien dan keluarga untuk melaporkan jika ada tanda perdarahan spt : hematemesis. Monitor tanda-tanda penurunan trombosit yang disertai tanda klinis. Rasional : Meningkatkan nafsu makan dan masukan peroral f. ptike. N: 80-100x/menit reguler. d. Hindari makanan yang merangsang dan mengandung gas. e. trombosit meningkat Intervensi : a. Rasional : Keterlibatan pasien dan keluarga dapat membantu untuk penaganan dini bila terjadi perdarahan. berikan tekanan 5-10 menit setiap selesai ambil darah. melena. epistaksis. Berikan dan Bantu oral hygiene. b.

tetapi sekarang sudah sembuh. : An. Riwayat penyakit dahulu Sebelumnya klien tidak penah dirawat karena penyakit apapun. 5. Keluhan Utama : Sakit kepala. dan lingkungan wilayah belum pernah disemprot. dibawa ke puskesmas dapat paracetamol. makan tidak mau. SOETOMO SURABAYA A. Menurut ibu kondisi lingkungan rumah cukup bersih. dibawa ke IRD. Riwayat penyakit keluarga Menurut keluarga ( Ibu ) tidak ada keluarga yang dalam waktu dekat ini menderita sakit DBD. Menurut ibu seminggu yang lalu ada tetangga gang yang menderita DHF.C : 9 thn : Tambak Asri 23/27 Surabaya : Kristen : Ny. bak mandi dikuras setiap seminggu 1 kali. 4.10 ASUHAN KEPERAWATAN PADA ANAK E. Kamis jam 03 pagi keluar darah dari hiding pada waktu bersin.C DENGAN DHF GRADE II DI RUANG MENULAR ANAK RSUD DR. Riwayat penyakit sekarang : Senin pagi panas. E. PENGKAJIAN 1. mencret air. walaupun tinggal dekat kali kecil. keluhan pusing. panas dan tidak nafsu makan. Riwayat kesehatan lingkungan. Rabu malam anak tiba-tiba muntah-muntah air. 3. sekitar rumah terdapat beberapa ban bekas untuk menanam tanaman yang belum dipakai. Panas turun. T : : Tn S : SMA : Karyawan swasta : DBD Grade II : 13 Desember 2001 10 . 6. minum masih mau. Identitas Nama Umur Alamat Agama Nama Ibu Pendidikan Nama Ayah Pendidikan Pekerjaan Diagnosa Medik Pengkajian tanggal 2.

ibu tidak tahu mengapa kehamilannya hanya 7 bulan. Pergerakan napas simetris. Lahir spontan dan selama 1 tahun anak mendapat imunisasi lengkap dan minum PASI Lactona s/d 2 tahun. anak hanya mau makan 3 sendok makan. h. Terdapat nyeri tekan daerah hepar dan asites positif. warna kuning agak pekat ditampung oleh ibu untuk diukur. b. Sistem Respirasi. nadi 98x/mnt. tidak terdapt pernapasan cuping hidung. 6 Sistem Neurosensori Tidak ada kelainan Sistem Endokrin Tidak ada kelainan Sistem Integumen. a. pethikae bekas rumple leed. S : 37 turgor baik. harus dipaksakan baru mau minum. c. pd saat pengkajian tanda-tanda epistaksis sudah tidak ada.30 11 . kekuatan otot baik. Riwayat kehamilan Anak lahir pada usia kehamilan 7 bulan. Sistem Cardiovaskuler TD : 100/60. Sistem Genitourinary BAK lancar. tidak terdapat perdarahan spontan pada kulit. tidak ada luka. Pengkajian Persistem Sistem Gastrointestinal Nafsu makan menurun. Bunyi nafas tambahan tidak terdengar. Mual tidak ada. Pemeriksaan Penunjang Hb : 11. tanda-tanda petikhie spontan tidak terlihat. 9. tidak ada deformitas. akral dingin. e. d. Sistem muskuloskeletal : Tidak terdapat kontraktur sendi.8 Leko : 5. tidak terjadi perdarahan spontan. hanya tanda pethike bekas rumple leed. g. keempat ekstremitas simetris. f. spontan. cap.11 7.5 Trombo : 133 PCV : 0. bising usus 8x/mnt. minum tidak suka. 8. muntah tidak terjadi. Frekuensi napas 25x/menit. Refill < 3 detik. BAB dari malam belum ada. tidak terdapat tanda-tanda cyanosis. dengan berat badan lahir 4 kg.

133. O : Turgor kulit baik Mukosa bibir kering Urine banyak warna kuning pekat Panas hari ke 2 panjang Trombosit . Etiologi Proses infeksi virus dengue  Viremia  Thermoregulasi Masalah Peningkatan suhu tubuh Peningkatan suhu tubuh Ektravasasi cairan Intake kurang  Volume plasma berkurang  Penurunan volume cairan tubuh 12 . TTV : S : 37 Nadi 98x/mnt. S : Klien mengatakan tidak suka terasa terus. O : KU lemah Makan sendok pagi hanya mau 3  Intake nutrisi tidak adekuat  Nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh Nutrisi minum dan perut minum kenyang Cairan tubuh 6. TD : 100/60.000 TD : 100/60.12 10. 98x/mnt. ANALISA DATA No 1 Data S : Klien mengatakan badanya terasa panas. tetapi tidak mual. Terapi Infus D ½ saline 1600 cc/24 jam Minum manis Vit B compleks / C 3 x 1 Diet TKTP 1600 Kkal + 50 gr Protein. N . pusing O : Akral dingin Panas hari ke 2 panjang. Nasi 3 x sehari Susu : 3 x 200 cc B. Nafsu makan menurun S : Klien menyatakan tidak mau makan. RR 25x/mnt.

Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun. Anjurkan klien untuk banyak minum 1500 – 2000 ml Rasional : Mengganti cairan tubuh yang keluar karena panas dan memacu pengeluaran urine guna pembuangan panas lewt urine. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler 3. 6. Kolaborasi untuk pemberian antipiretik Rasional : Antipireik berguna bagi penurunan panas. Tujuan : Tidak terjadi syok hipovolemik Kriteria : TD 100/70 mmHg. D. Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue Tujuan : Suhu tubuh kembali normal Kriteria : TTV khususnya suhu dalam batas normal ( 365 – 375 ) Membran mukosa basah. Berikan kompres air biasa / kran Rasional : Kompres akan memberikan pengeluaran panas secara induksi. 2. N: 80-120x/mnt Pulsasi kuat Akral hangat 13 . PERENCANAAN 1. 2. 4. DiAGNOSA KEPERAWATAN : 1. Resiko defisit volume cairan berhubungan dengan pindahnya cairan intravaskuler ke ekstravaskuler. 1. 3. Observasi TTV setiap 1 jam Rasional : Menentukan intervensi lanjutan bila terjadi perubahan 2.13 C. Observasi intake dan out put Rasional : Deteksi terjadinya kekurangan volume cairan tubuh. Anjurkan untuk memakai pakaian yang tipis dan menyengat keringat. Rencana Intervensi . Peningkatan suhu tubuh berhubungan dengan proses infeksi virus dengue. Rasional : Memberikan rasa nyaman dan memperbesar penguapan panas 5.

Rasional : Penurunan haluaran urine / urine yang pekat dengan peningkatan BJ diduga dehidrasi. 14 . asam. catat jumlah. Tujuan : Nutrisi terpenuhi Kriteria : Nafsu makan meningkat Porsi makan dihabiskan Rencana Intervensi : 1. Rasional : Menghindari mual dan muntah 4. muntah atau penurunan nafsu makan Rasional : Menentukan intervensi selanjutnya. Anjurkan anak untuk banyak minum 1500-2000 mL Rasional : Untuk pemenuhan kebutuhan ciran tubuh 5. 2. Kolaborasi pemberian cairan parenteral Rasional : Nutrisi parenteral sangat diperlukan jika intake peroral sangat kurang.14 Rencana Intervensi . 3. Hindari makanan yang merangsang : pedas. 3. Rasional : Mencegah terjadinya distensi pada lambung yang dapat menstimulasi muntah. 2. 3. 4. Beri makanan kesukaan klien Rasional : Memungkinkan pemasukan yang lebih banyak 6. Observasi capillary refill Rasional : Indikasi keadekuatan sirkulasi perifer. 5. Kaji keluhan mual. Rasional : Meningkatkan jumlah cairan tubuh untuk mencegah terjadinya hipovolemik syok. Resiko gangguan nutrisi kurang berhubungan dengan nafsu makan yang menurun. Observasi Vital sign setiap jam atau lebih. Kolaborasi pemberian cairan intra vena atau plasma atau darah. warna / konsentrasi urine. Berikan makanan porsi kecil tapi sering. 1. Observasi intake dan output. Rasional : Mengetahui kondisi dan mengidentifikasi fluktuasi cairan intra vaskuler. Berikan makanan yang mudah ditelan mudah cerna Rasional : Mengurangi kelelahan klien dan mencegah perdarahan gastrointestinal.

15 15 .

16 16 .

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful