P. 1
Disaster Victim Identification

Disaster Victim Identification

|Views: 41|Likes:
Published by Like Olivia

More info:

Published by: Like Olivia on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOC, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/11/2013

pdf

text

original

DISASTER VICTIM IDENTIFICATION

I. PENDAHULUAN

Form PostMortem INTERPOL

from

Bencana massal merupakan suatu kejadian yang mendadak, tak terduga, dapat terjadi pada siapa saja, dimana saja, kapan saja serta mengakibatkan kerusakan dan kerugian harta benda dan korban manusia baik korban mati maupun cidera, sehingga memberi pertolongan medik menggunakan sarana, fasilitas, dan tenaga yang lebih dari yang tersedia sehari-hari. Penyebab bencana massal dapat diakibatkan oleh penyebab alam (natural) : gunung api meletus, banjir, tanah longsor, gempa bumi dan sebagainya, sedangkan penyebab oleh manusia : kelalaian manusia (kecelakaan lalu lintas, pesawat udara dan kapal laut), kebakaran, gedung runtuh serta peledakan bom oleh teroris. Bagi korban kejadian tertentu dan korban massal memerlukan proses identifikasi.1 Identifikasi korban bencana diperlukan sebagai perwujudan Hak Azasi Manusia dan penghormatan kepada orang meninggal dan ahli warisnya yaitu mengenali, merawat, mendoakan, menguburkan sesuai dengan agama dan keyakinan, adat istiadat dan menyerahkan kepada keluarganya. Identifikasi mutlak diperoleh untuk menentukan secara hukum masih hidup atau matinya seseorang, juga berkaitan dengan bidang santunan, warisan, asuransi jiwa, hak pensiun, kemungkinan untuk menikah lagi bagi pasangan yang ditinggalkan dan membantu

21 tentang Penyelenggaraan PB. Initial Action at the Disaster Site Merupakan tindakan awal yang dilakukan di tempat kejadian peristiwa (TKP) bencana. Sebuah tim pendahulu (kepala tim DVI. yang terdiri dari Fase TKP-‘The Scene’.1 DVI adalah suatu prosedur yang telah ditentukan untuk Mengidentifikasi korban mati secara ilmiah dalam sebuah insiden atau bencana masal berdasarkan Protokol INTERPOL . Agar benar dan diakui dalam proses kerja berdasar ilmiah. Ketika suatu bencana terjadi.3 · · · Pemenuhan salah satu HAM Dapat merupakan bagian dari proses investigasi Dapat bermanfaat dalam merekontruksi tentang sebab bencana · Merupakan suatu prosedur yang sah dan dapat dipertanggungjawabkan hasilnya kepada masyarakat dan hukum. · · · Pemenuhan aspek hukum perdata Pengembalian jenazah dengan identitas secara pasti kepada keluarganya Pemenuhan Pasal 51 ayat 5 PP No.2.kepolisian dalam rangka proses Penyidikan. II. · Diperlukan karena karena pada banyak kasus identifikasi visual tidak dapat dipertanggungjawabkan atau diterapkan karena kondisi korban yang sudah rusak tidak mungkin lagi dikenali. Fase Pembandingan-‘Reconciliation’ and Fase analisa dan evaluasi-‘Debriefing’. Dalam kebanyakan kasus.6 A. dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Fase Pengumpulan data jenazah-‘The Mortuary’ atau Post Mortem. PROSES DVI Adapun proses DVI meliputi 5 fase. polisi memikul tanggung jawab komando untuk operasi secara keseluruhan.2. . Sebuah organisasi resmi harus mengasumsikan komando operasi secara keseluruhan untuk memastikan koordinasi personil dan sumber daya material yang efektif dalam penanganan bencana. prioritas yang paling utama adalah untuk mengetahui seberapa luas jangkauan bencana. Fase Pengumpulan data jenazah sewaktu hidup-‘Ante Mortem Information Retrieval’. ahli patologi forensik dan petugas polisi) harus sedini mungkin dikirim ke TKP untuk mengevaluasi situasi berikut :7 * Keluasan TKP : pemetaan jangkauan bencana dan pemberian koordinat untuk area bencana.3.

7 Pada langkah to secure organisasi yang memimpin komando DVI harus mengambil langkah untuk mengamankan TKP agar TKP tidak menjadi rusak. · Periksa semua individu yang hadir di lokasi untuk menentukan tujuan kehaditan dan otorisasi. misalnya dengan memasang police line. Evaluasi durasi yang dibutuhkan untuk melakukan DVI. Penyimpanan mayat. · · Menandai gerbang untuk masuk ke lokasi bencana.* * * * * * * * Perkiraan jumlah korban. Langkah pertama adalah to secure atau untuk mengamankan. Kerusakan properti yang terjadi. Langkah – langkah tersebut antara lain adalah :7 · Memblokir pandangan situs bencana untuk orang yang tidak berkepentingan (penonton yang penasaran. Institusi medikolegal yang mampu merespon dan membantu proses DVI. Pada langkah to collect organisasi yang memimpin komando DVI harus mengumpulkan korban – korban bencana dan mengumpulkan properti yang terkait dengan korban yang mungkin dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi korban. ada tiga langkah utama. wakil – wakil pers.7 . langkah kedua adalah to collect atau untuk mengumpulkan dan langkah ketiga adalah documentation atau pelabelan. Keadaan mayat. · Data terkait harus dicatat dan orang yang tidak berwenang harus meninggalkan area bencana. Transportasi mayat. Metode untuk menangani mayat. Pada prinsipnya untuk fase tindakan awal yang dilakukan di situs bencana. Menyediakan jalur akses yang terlihat dan mudah bagi yang berkepentingan. dll). · Menyediakan petugas yang bertanggung jawab untuk mengontrol siapa saja yang memiliki akses untuk masuk ke lokasi bencana.

DLL).7 B. Collecting Ante Mortem Data . dari bentuk tubuh. Pada fase ini dilakukan berbagai pemeriksaan yang kesemuanya dilakukan untuk memperoleh dan mencatat data selengkap – lengkapnya mengenai korban. tatto hingga cacat tubuh dan bekas luka yang ada di tubuh korban. misalnya dengan meletakkan jenazah pada lingkungan dingin untuk memperlambat pembusukan. berat badan. o Pemeriksaan DNA. o Pemeriksaan sidik jari. tinggi badan.7 Setelah ketiga langkah tersebut dilakukan maka korban yang sudah diberi nomor dan label dimasukkan ke dalam kantung mayat untuk kemudian dievakuasi. Pemeriksaan dan pencatatan data jenazah yang dilakukan diantaranya meliputi :7 o Dokumentasi korban dengan mengabadikan foto kondisi jenazah korban. o Pemeriksaan antropologi forensik : pemeriksaan fisik secara keseluruhan. MEDIK-ANTROPOLOGI (TINGGI BADAN. Selain mengumpulkan data paska kematian. baik pemeriksaan luar maupun pemeriksaan dalam jika diperlukan. RAS.Pada langkah documentation organisasi yang memimpin komando DVI mendokumentasikan kejadian bencana dengan cara memfoto area bencana dan korban kemudian memberikan nomor dan label pada korban. tidak ada profil gigi yang identik pada 2 orang yang berbeda. FOTOGRAFI. o Pemeriksaan odontologi forensik : bentuk gigi dan rahang merupakan ciri khusus tiap orang . o Pemeriksaan fisik. PROFIL GIGI. DNA. § SECONDARY : VISUAL. pada fase ini juga ekaligus dilakukan tindakan untuk mencegah perubahan – perubahan paska kematian pada jenazah. Data – data hasil pemeriksaan tersebut kemudian digolongkan ke dalam data primer dan data sekunder sebagai berikut :7 § PRIMER : SIDIK JARI.7 C. o Pemeriksaan rontgen. PROPERTI JENAZAH. Collecting Post Mortem Data Pengumpulan data post-mortem atau data yang diperoleh paska kematian dilakukan oleh post-mortem unit yang diberi wewenang oleh organisasi yang memimpin komando DVI.

. data dilakukan dengan menggunakan 2.4 Pada prinsipnya identifikasi adalah prosedur Penentuan identitas individu. Apabila korban tidak teridentifikasi maka data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah. Pada identifikasi Pengumpulan sebanyak mungkin metode identifikasi. sampel DNA orang tua maupun kerabat korban. Returning to the Family Korban yang telah diidentifikasi direkonstruksi hingga didapatkan kondisi kosmetik terbaik kemudian dikembalikan pada keluarganya untuk dimakamkan. Jika ada data yang tidak cocok. Reconciliation Pada fase ini dilakukan pembandingan data post mortem dengan data ante mortem. baik hidup ataupun mati.7 D. bekas luka. Apabila data yang dibandingkan ternyata tidak cocok maka identifikasi dianggap negatif dan data post mortem jenazah tetap disimpan sampai ditemukan data ante mortem yang sesuai dengan temuan post mortem jenazah.7 III. Sebagai prinsip umum dapat dikatakan bahwa :5 1. Data ini biasanya diperoleh dari keluarga jenazah maupun orang yang terdekat dengan jenazah. data sidik jari korban semasa hidup. rekaman pemeriksaan gigi korban. yang dilakukan pembandingan berbagai data dari individu yang diperiksa dengan data dan orang yang disangka sebagai individu tersebut. Apabila data yang dibandingkan terbukti cocok maka dikatakan identifikasi positif atau telah tegak. METODE IDENTIFIKASI Identifikasi Massal adalah proses pengenalan jati diri korban massal yang terjadi akibat bencana. Ahli forensik dan profesional lain yang terkait dalam proses identifikasi menentukan apakah temuan post mortem pada jenazah sesuai dengan data ante mortem milik korban yang dicurigai sebagai jenazah. serta informasi – informasi lain yang relevan dan dapat digunakan untuk kepentingan identifikasi. tindikan. Data yang diperoleh dapat berupa foto korban semasa hidup.7 E. maka kemungkinan tersangka sebagai individu tersebut dapat disingkirkan eksklusi. misalnya informasi mengenai pakaian terakhir yang dikenakan korban. Identifikasi dilakukan dengan memanfaatkan ilmu Kedokteran dan Kedokteran gigi pada korban baik hidup maupun mati. interpretasi ciri – ciri spesifik jenazah (tattoo.Pada fase ini dilakukan pengumpulan data mengenai jenazah sebelum kematian. dll). Sertifikasi jenazah dan kepentingan mediko-legal serta administrative untuk penguburan menjadi tanggung jawab pihak yang menguburkan jenazah. dan pemakaman jenazah menjadi tanggung jawab organisasi yang memimpin komando DVI.

6 Metode sederhana. Untuk mengidentifikasi dikumpulkan:8 korban bencana.3. sedih.3. termasuk data vital tubuh. Fotografi. surat jati diri) masih melekat pada tubuh korban. dua data yang berbeda harus ü Data tentang orang yang hilang. Cara visual. mutilasi serta harus mempertimbangkan faktor psikologis keluarga korban (sedang berduka. Primary Identifiers mempunyai nilai yang sangat tinggi bila dibandingkan dengan Secondary Identifiers. . Namun demikian Interpol menentukan Primary Indentifiers yang terdiri dari Fingerprints-sidik jari. data sidik jari. Yang dimaksud dengan Metode identifikasi adalah cara atau teknik yang dapat digunakan untuk menentukan identifikasi seseorang melalui metode daktiloskopi. KTP atau SIM dan lain sebagainya. dll) 2. perhiasan. Sinyalemen dan Raut Wajah. foto sekolah. Melalui kepemilikan (property) identititas cukup dapat dipercaya terutama bila kepemilikan tersebut (pakaian. Prinsip dari proses identifikasi ini adalah dengan membandingkan data Ante Mortem yaitu datadata yang penting dari korban sebelum kejadian atau pada waktu korban masih hidup. ü Data mayat yang ditemukan dari tempat kejadian. Setiap kesesuaian data akan menyebabkan ketetapan identifikasi semakin tinggi. Property-barang kepemilikan dan Photography. diantaranya :6 1. Cara ini tidak dapat diterapkan bila mayat telah busuk. foto keluarga. Superimpuse. cara ini mudah karena identitas dikenal melalui penampakan luar baik berupa profil tubuh atau muka. stress.4 Dalam melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode dan tehnik identifikasi yang dapat digunakan. dan data kepemilikan yang dipakai atau dibawa dan Post Mortem yaitu data-data hasil pemeriksaan forensik yang dilihat dan ditemukan pada jenazah korban. terbakar. DNA. dapat bermanfaat bila kondisi mayat masih baik. yaitu orang-orang yang diketahui atau diduga telah hadir ketika bencana terjadi dan tidak terdaftar sebagai korban. Odontologi. semakin banyak yang cocok maka akan semakin baik. foto diri. Dental Records-hasil pemeriksaan gigi geligi dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical-data medis. Antropometri. Dokumentasi.2. data gigi. 3.

5. seperti data foto rontgen untuk mengetahui keadaan sutura. 6. tungkai dan sebagainya. adanya tatoo. Metode ini hanya dapat dilakukan jika tubuh atau bagian tubuh tersebut masih utuh atau masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan yang lanjut.Metode ilmiah. rambut. warna kulit. 2.6 Identifikasi personal dilakukan dengan melakukan pemeriksaan berdasarkan beberapa metode identifikasi. berat badan. seperti cincin. 4) Antropologi dan 5) Biologi. Dokumen Dokumen seperti SIM. Data khusus adalah data yang belum tentu dimiliki oleh setiap individu atau data yang tidak dengan mudah dikonfirmasi kepada keluarganya. gelang. foto dalam liontin. Pakaian Pakaian luar dan dalam yang dipakai korban merupakan data yang amat berharga untuk menunjukkan identitas si pemakainya. tehnik rekonstruksi wajah.11 1. Metode Visual Identifikasi dilakukan dengan melihat tubuh atau bagian tubuh korban secara visual. Identifikasi secara medis Pemeriksaan medis dilakukan untuk mendapatkan data umum dan data khusus individu berdasarkan pemeriksaan atas fisik individu tersebut. bentuknya yang unik atau yang mempunyai label tertentu (label nama. khususnya jika dokumen tersebut dibawa sendiri oleh pemiliknya dan tidak palsu. Ada 9 macam metode identifikasi yaitu:5. Pada pengumpulan data umum dicari data yang umum diketahui dan dimiliki oleh setiap individu dan mudah dikonfirmasi kepada keluarga. dan sebagainya. seperti data ras. seperti gravir nama. Pasport. 2) Serologi. arloji. Perhiasan mempunyai nilai yang lebih tinggi jika ia mempunyai ciri khas. bentuk atau bahan yang khas dan sebagainya. dan sebagainya. data laboratorium. misalnya muka. rantai. Odontologi forensik . bekas patah tulang atau pen serta pasak yang dipakai pada perawatan penderita patah tulang. dan sebagainya dapat mengarahkan kita kepada identitas korban tersebut. 3. bekas operasi atau jaringan parut. jenis kelamin. Perhiasan Beberapa perhiasan yang dipakai korban. penjahit. kartu golongan darah. umur. tehnik superimposisi. antara lain: 1) Sidik jari. KTP. binatu atau merek) memiliki nilai yang lebih karena dapat mempersempit kemungkinan tersangka. tanda pembayaran dan lain sebagainya yang ditemukan dalam dompet atau tas korban dapat menunjukkan identitas orang yang membawa dokumen tersebut. 3) Odontologi. 4. liontin.

maka satu individu terakhir diputuskan tanpa pemeriksaan (per ekslusionam) sebagai individu yang tersisa menurut daftar tersebut. 2. Sidik jari Telah lama diketahui bahwa sidik jari setiap orang di dunia tidak ada yang sama sehingga pemeriksaan sidik jari dapat digunakan untuk identifikasi individu. visual property (Barang kepemilikan) data medis (Medical) . 2. 8. Catatan atau hasil pemeriksaan gigi geligi (Dental Records) sidik jari (Finger Prints) DNA (b). Perkembangan ilmu kedokteran menyebabkan ruang lingkup serologi diperluas dengan pemeriksaan polimorfisme protein lain yaitu pemeriksaan terhadap enzim eritrosit serta pemeriksaan antigen Human Lymphocyte Antigen (HLA). Khusus pada korban bencana massal. data pegawai dan sebagainya). Hal ini memberikan dampak kecenderungan penggantian istilah serologi dengan istilah hemereologi yang mencakup semua hal diatas.Pemeriksaan atas gigi geligi dan jaringan sekitarnya serta berbagai perubahan akibat perawatan gigi dapat membantu menunjukkan identitas individu yang bersangkutan. Eksklusi Dalam kecelakaan massal yang menyebabkan kematian sejumlah individu. 3. melainkan hampir seluruh sel tubuh kita. telah ditentukan metode identifikasi yang dipakai yaitu :2. Sekunder/pendukung 1. yang nama-namanya ada dalam daftar individu (data penumpang. 9. 7. Serologi forensik Pada awalnya yang termasuk dalam kategori pemeriksaan serologi adalah pemeriksaan terhadap polimorfisme protein yaitu pemeriksaan golongan darah dan golongan protein serum.6 (a). Primer/utama 1. 3. maka jika (n-1) individu telah teridentifikasi. bidang ini menjadi lebih luas lagi karena bahan pemeriksaan bukan lagi darah.3. Pada saat ini dengan berkembangnya analisis polimorfisme DNA.

Gigi merupakan suatu cara identifikasi yang dapat dipercaya. Karena gigi komposisinya sebagian besar terdiri dari bahan anorganik sehingga tidak mudah rusak.12 Sebagai suatu metode identifikasi pemeriksaan gigi memiliki keunggulan sebagai berikut :5. umur b. sinar-X dan pencetakan gigi dan rahang. khususnya bila rekam dan foto gigi pada waktu masih hidup yang pernah dibuat masih tersimpan dengan baik. Pemeriksaan ini meliputi pencatatan data gigi (Odontogram) dan rahang yang dapat dilakukan dengan menggunakan pemeriksaan manual. tambalan.13 a. Satu keterbatasan pemanfaatan gigi sebagai sarana identitas adalah belum meratanya sarana untuk pemeriksaan gigi. maka setiap individu memiliki susunan gigi yang khas. Gigi dan restorasinya merupakan jaringan keras yang resisten terhadap pembusukan dan pengaruh lingkungan yang ekstrem. Pemeriksaan gigi ini menjadi amat penting apabila mayat sudah dalam keadaan membusuk atau rusak. protesa gigi dan sebagainya. b. ras d. (1: 1050). jenis kelamin c. susunan. Informasi ini dapat diperoleh antara lain mengenai: a.6.6. golongan darah e. sehingga dapat dikatakan gigi merupakan pengganti dari sidik jari. Karakteristik individual yang unik dalam hal susunan gigi geligi dan restorasi gigi menyebabkan dimungkinkannya identifikasi dengan ketepatan yang tinggi. demikian pula pendataannya (dental record). Seperti halnya dengan sidik jari. sedangkan bahan organik dan airnya sedikit sekali. menjadikan pemeriksaan gigi ini mempunyai nilai tinggi dalam hal penentuan jati diri seseorang. seperti halnya kebakaran. Dengan demikian dapat dilakukan identifikasi dengan cara membandingkan data temuan dengan data pembanding antemortem. sedemikian khususnya sehingga dapat dikatakan tidak ada gigi atau rahang yang identik pada dua orang yang berbeda. Odontogram memuat data tentang jumlah. bentuk. bentuk wajah .11. dimana dalam keadaan tersebut pemeriksaan sidik jari tidak dapat dilakukan.Berikut ini akan di bahas metode-metode tersebut untuk identifikasi korban bencana secara massal : 1. Dental Records Bentuk gigi dan bentuk rahang merupakan ciri khusus seseorang.

merupakan prodedur yang harus diketahui oleh dokter.f. c.11 Menurut Francis Galton (1822-1916) mengatakan bahwa tidak ada dua sidik jari yang sama. Individuality. dokter masih punya kewajiban yaitu untuk mengambil (mencetak) sidik jari. serta mencopot kulit ujung jari yang telah mengelupas dan memasangnya pada jari pemeriksa. Tipe Whorl. 15 . pemeriksaan sidik jari merupakan pemeriksaan yang diakui paling tinggi ketepatannya untuk menentukan identitas seseorang. Perennial nature.15 2. kemudian mulai naik di tengah. Pemeriksaan Sidik Jari Metode ini membandingkan gambaran sidik jari jenazah dengan sidik jari antemortem. yaitu sidik jari seseorang tidak pernah berubah. sidik jari merupakan sarana yang penting khususnya bagi kepolisian didalam mengetahui jati diri seseorang. yaitu guratan-guratan pada sidik jari yang melekat pada kulit manusia seumur hidup. Pada patern ini kerutan muncul dari sisi jari. kecuali mendapatkan kecelakaan yang serius. 2. Berdasarkan klasifikasi. walaupun kedua orang tersebut kembar monozigot. artinya setiap sidik jari dimiliki seseorang adalah unik. dan berakhir di ujung yang lain. Pada patern ini kerutan berbentuk sirkuler yang mengelilingi sebuah titik pusat dari jari. pola sidik jari dapat dinyatakan secara umum ke dalam tiga bentuk yaitu :14 1. khususnya sidik jari pada korban yang tewas dan keadaan mayatnya telah membusuk. Tipe Arch. DNA c. Sampai saat ini. oleh karena selain kekhususannya. juga mudah dilakukan secara masal dan murah pembiayaannya. pola sidik jari adalah unik dan berbeda untuk setiap orang. Pada patern ini kerutan sidik jari muncul dari ujung. Immutability. dan menuju keluar dari sisi yang sama ketika kerutan itu muncul.14 a. kemudian membentuk sebuah kurva. Walaupun pemeriksaan sidik jari tidak dilakukan dokter. Tipe Loop. b. Atas dasar ini. Teknik pengembangan sidik jari pada jari telah keriput. Dapat dikatakan bahwa tidak ada dua orang yang sama mempunyai sidik jari yang sama.15 3. Kemungkinan tersedianya data ante mortem gigi dalam bentuk catatan medis gigi (dental record) dan data radiologis. baru kemudian dilakukan pengambilan sidik jari. Sifat yang dimiliki oleh sidik jari antara lain :12.

sedangkan yang satu terdapat di mitokondria dan disebut DNA mitokondria. Sebagai contoh untuk sampel sperma dan rambut. dan kuku. menghimpun dan menginventarisir file-file khas karakter tubuh. yang satu dalam inti sel sehingga disebut DNA inti sel. Tetapi karena keunikan dari pola pewarisan DNA mitokondria menyebabkan DNA mitokondria dapat dijadikan sebagai marka (penanda) untuk tes DNA dalam upaya mengidentifikasi hubungan kekerabatan secara maternal. sedangkan untuk potongan rambut yang paling penting diperiksa adalah akar rambutnya.16 Tes DNA umumnya digunakan untuk 2 tujuan yaitu (1) tujuan pribadi seperti penentuan perwalian anak atau penentuan orang tua dari anak dan (2) tujuan hukum. Untuk tes DNA.16 DNA yang biasa digunakan dalam tes ada dua yaitu DNA mitokondria dan DNA inti sel. tulang. tetapi yang sering digunakan adalah darah. Yang paling penting diperiksa adalah kepala spermatozoanya karena didalamnya terdapat DNA inti. Adanya kesalahan bahwa kemiripan pola DNA bisa terjadi secara random (kebetulan) sangat kecil kemungkinannya. air liur atau sampel biologis apa saja yang ditemukan di tempat kejadian perkara (TKP) dapat dijadikan sampel tes DNA. Atau secara sederhananya adalah metode untuk mengidentifikasi. daging. Tetapi dengan . rambut. DNA dalam mitokondria dapat berubah karena berasal dari garis keturunan ibu yang dapat berubah seiring dengan perkawinan keturunannya. usapan mulut pada pipi bagian dalam (buccal swab).16 Untuk akurasi kebenaran dari tes DNA hampir mencapai 100% akurat. sperma. sehingga untuk mengenali identitasnya diperlukan pencocokan antara DNA korban dengan terduga keluarga korban ataupun untuk pembuktian kejahatan semisal dalam kasus pemerkosaan atau pembunuhan. sebenarnya sampel DNA yang paling akurat digunakan dalam tes adalah DNA inti sel karena inti sel tidak bisa berubah. Perbedaan kedua DNA ini hanyalah terletak pada lokasi DNA tersebut berada dalam sel. Sehingga dalam tubuh seorang anak komposisi DNA nya sama dengan tipe DNA yang diturunkan dari orang tuanya.3. DNA ini akan menjadi cetak biru (blue print) ciri khas manusia yang dapat diturunkan kepada generasi selanjutnya. Hampir semua sampel biologis tubuh dapat digunakan untuk sampel tes DNA. Sedangkan tes DNA adalah metode untuk mengidentifikasi fragmen-fragmen dari DNA itu sendiri. Pemeriksaan DNA DNA atau DeoxyriboNucleic Acid merupakan asam nukleat yang menyimpan semua informasi tentang genetika. kulit. warna kulit dan sifat-sifat khusus dari manusia. yang meliputi masalah forensik seperti identifikasi korban yang telah hancur. DNA inilah yang menentukan jenis rambut. mungkin satu diantara satu juta. Jikapun terdapat kesalahan itu disebabkan oleh faktor human error terutama pada kesalahan interprestasi fragmen-fragmen DNA oleh operator (manusia). Untuk kasus-kasus forensik.

16 4.12 Upaya identifikasi pada kerangka bertujuan membuktikan bahwa kerangka tersebut adalah kerangka manusia. cacat kongenital. Identifikasi Medik Metode ini menggunakan data umum dan data khusus.12 Bila terdapat dugaan berasal dari seseorang tertentu. mata. Melalui metode ini diperoleh data tentang jenis kelamin. Data umum meliputi tinggi badan. jaringan parut. Keberadaan DNA yang sesuai dengan DNA Probe dapat dilihat dari pendaran sampel tersebut. Data khusus meliputi tattoo.12 . deformitas. perkiraan umur. ciri-ciri khusus.16 Keunggulan metode ini dibandingkan dengan metode konvensional adalah pada kecepatan dan harganya yang jauh lebih cepat dan murah dibandingkan metode elektroforesis DNA.11. Partikel emas berukuran nano dalam metode ini berperan dalam mengikat Probeyang tidak terhibridasi. Probe ini dirancang spesifik untuk gen sampel tertentu dan hanya akan menempel/berhibridisasi dengan DNA sampel tersebut. perkiraan umur. Prinsip metode ini adalah mempergunakan untai pendek DNA yang disebut Probe yang telah diberi zat pendar. ras. tinggi badan. berat badan. patah tulang dan sejenisnya. hidung. dan bila memungkinkan dapat dilakukan rekonstruksi wajah. Pendeteksian dilakukan dengan penyinaran pada panjang gelombang tertentu. Dengan demikian dapat dicari adanya titik-titik persamaan. Dicari pula tanda kekerasan pada tulang. ras. Sedangkan metode tes DNA yang terbaru adalah dengan menggunakan kemampuan partikel emas berukuran nano untuk berikatan dengan DNA. Jumlah DNA target tersebut kira-kira berbanding lurus terhadap intensitas pendaran sinar yang dihasilkan. Perkiraan saat kematian dilakukan dengan memperhatikan keadaan kekeringan tulang. gigi dan sejenisnya. tahi lalat. Bahkan pada tengkorak/kerangka pun masih dapat dilakukan metode identifikasi ini. rambut.menerapkan standard of procedur yang tepat kesalahan human error dapat diminimalisir atau bahkan ditiadakan. dapat dilaksanakan metode superimposisi. maka dilakukan identifikasi dengan membandingkannya dengan data ante mortem. Metode ini mempunyai nilai tinggi karena selain dilakukan oleh seorang ahli dengan menggunakan berbagai cara atau modifikasi (termasuk pemeriksaan dengan sinar-X) sehingga ketepatannya cukup tinggi.16 Metode tes DNA yang umumnya digunakan di dunia ini masih menggunakan metode konvensional yaitu elektroforesis DNA. Bila terdapat foto terakhir wajah orang tersebut semasa hidup. jenis kelamin. yaitu dengan jalan menumpukkan foto rontgen tulang tengkorak di atas foto wajah yang dibuat berukuran sama dan diambil dari sudut pemotretan yang sama. kelainan pada tulang dan sebagainya. tinggi badan.

ketebalan. lebih berat dan lebih kasar. seperti : tulang panggul. 75% kasus dapat ditentukan hanya dari pemeriksaan tersebut. Tulang paha (os. tengkorak.11 v Tengkorak Untuk dapat menentukan jenis kelamin dari tulang tengkorak. sternum. Pada wanita manubrium sterni melebihi separuh panjang corpus sterni. tulang-tulang panjang.11 v Tulang panjang Pria pada umumnya memiliki tulang yang lebih besar panjang.11 v Tulang dada Ratio panjang dari manubrium sterni dan corpus sterni menentukan jenis kelamin. serta impresinya lebih banyak.12 Jenis kelamin ditentukan berdasarkan pemeriksaan tulang panggul. dan ini mempunyai ketepatan sekitar 80%. jenis kelamin sudah dapat ditentukan pada sekitar 90% kasus. dimana yang mempunyai nilai tinggi di dalam hal penentuan jenis kelamin adalah tunggal panggul baru kemudian tengkorak. tulang panjang serta scapula dan metacarpal. Arcus zygomaticus dan gigi insicivus atas pertama yang berbentuk seperti sekop memberi petunjuk ke arah ras Mongoloid. indeks iso-pubis (panjang pubis dikali 100 dibagi panjang ischium) merupakan ukuran yang paling sering digunakan. gigi geligi dan tulang panggul atau tulang lainnya. diperlukan penilaian dari berbagai ciri-ciri yang terdapat pada tengkorak tersebut.11 b) Penentuan Umur pada kerangka .femur) merupakan tulang panjang yang dapat diandalkan dalam penentuan jenis kelamin ketepatannya pada orang dewasa sekitar 80%.Penentuan ras mungkin dilakukan dengan pemeriksaan antropologik pada tengkorak. Bentuk dari “Greater schiatic notch” mempunyai nilai tinggi dalam penentuan jenis kelamin dari tulang panggul. ukuran dan caput femoris serta bentukan dari otot dan ligament serta perangai radiologis perlu diperhatikan. Ketepatan penentuan jenis kelamin atas dasar pemeriksaan tengkorak dewasa adalah 90%.12 a) Identifikasi jenis kelamin pada kerangka Penentuan ini didasarkan pada ciri-ciri yang mudah dikenali pada tulang-tulang. Ciri-ciri ini akan tampak jelas setelah usia 14-16 tahun. Pada panggul. Konfigurasi. tulang dada. Secara umum dapat dikatakan bahwa rangka wanita mempunyai bentuk dan tekstur yang lebih halus bila dibandingkan dengan rangka seorang pria.11 v Panggul Pemeriksaan panggul secara tersendiri tanpa pemeriksaan lain. tulang tengkorak.

11 c) Penentuan Tinggi badan pada kerangka Penentuan tinggi badan menjadi penting pada keadaan dimana yang harus diperiksa adalah tubuh yang sudah terpotong-potong atau yang didapatkan rangka. Sutura spheno-parietal umumnya tidak akan menutup hingga usia 70 tahun. dipergunakan oleh STREETER. coronarius. Tinggi badan mempunyai nilai yang lebih bila dibandingkan dengan berat badan di dalam hal perkiraan umur. Penutupan pada bagian tubula interna biasanya mendahului tabula externa.Untuk kepentingan menghadapi kasus – kasus forensik. Tulang belakang (ossis vertebrae). anak – anak yang dan dewasa sampai umur 30 tahun dan dewasa diatas 30 tahun. Tulang selangka merupakan tulang panjang yang terakhir mengalami unifikasi. Pada umumnya perkiraan tinggi badan dapat dipermudah dengan pengertian bahwa tubuh yang diperiksa itu pendek. dan pusat-pusat penulangan. tetapi dapat juga tetap terbuka atau menutup sebagian pada umur 60 tahun.11 Tinggi badan diukur dari puncak kepala sampai ke tumit (crown heel). Persambungan speno-occipital terjadi dalam umur 17-25 tahun. Sutura sagittalis. dan viabilitas. yaitu : bayi yang baru dilahirkan.11 v Bayi yang baru dilahirkan Perkiraan umur bayi sangat penting bila dikaitkan dengan kasus pembunuhan anak dalam hal ini penentuan umur kehamilan (maturitas). Perkiraan tinggi badan dapat diketahui dari pengukuran tulangtulang panjang.11 v Anak – anak dan dewasa di bawah 30 tahun Saat terjadinya unifikasi dari dyaphises memberi hasil dalam bentuk perkiraan. Unifikasi dimulai pada umur 18-25 tahun. tinggi badan. atau sebagian dari tulang saja. Pada wanita. Cara pengukuran lain yaitu dari puncak kepala ke tulang ekor (crown-rup). saat persambungan tersebut antara 17-20 tahun. dibagi dalam tiga fase. dan mungkin tidak lengkap sampai 25-30 tahun. maka penentuan atau lebih tepatnya perkiraan umur. sedang atau jangkung.dapat digunakan untuk perkiraan umur dan menurut rumus dari HAASE.sebelum 30 tahun akan menunjukkan alur – alur yang dalam yang berjalan radier pada bagian permukaan atas dan bawah dalam hal ini corpus vertebranya. Lima tahun berikutnya terjadi penutupan sutura parieto-mastoid dan sutura squamosa.11 v Dewasa di atas 30 tahun Perkiraan umur dilakukan dengan memeriksa tengkorak. Kriteria yang umum dipakai adalah : berat badan. Dalam usia 31 tahun ke atas unifikasi menjadi lengkap. yaitu :11 . yaitu sutura – suturanya. dan sutura lambdoideus mulai menutup pada umur 20 -30 tahun.

35 persen dari tinggi badan v Tulang belakang. sehingga pada kecelakaan masal tas seseorang dapat terlempar sampai pada orang lain yang bukan pemiliknya.v Tulang paha (femur). Pada pria dompet biasanya terdapat dalam saku baju atau celana. 22 persen dari tinggi badan. sedangkan pada wanita tas biasanya dipegang. dokumen yang terdapat dalam tas atau dompet yang berada dekat jenazah belum tentu adalah milik jenazah yang bersangkutan karena ada kebiasaan seseorang di dalam menaruh dompet atau tasnya. paspor. 35 persen dari tinggi badan Yang perlu diperhatikan di dalam pengukuran tulang:11 v Pengukuran dengan osteometric board.11. dsb) dan sejenisnya yang kebetulan ditemukan dalam saku pakaian yang dikenakan akan sangat membantu mengenali jenazah tersebut. Dokumen. 5.11.12 . khususnya bila kondisi korban sudah busuk atau rusak. Identifikasi Visual Metode ini dilakukan dengan cara memperlihatkan jenazah pada orang-orang yang merasa kehilangan anggota keluarga atau temannnya. v Tulang lengan atas (humerus). Walaupun metode ini sederhana. emosi serta latar belakang pendidikan. kartu golongan darah. ii. Dokumen seperti kartu identitas (KTP. untuk mendapatkan hasil yang diharapkan perlu diketahui bahwa metode ini baru dapat dilakukan bila keadaan tubuh dan terutama wajah korban masih dalam keadaan baik dan belum terjadi pembusukan lanjut. Pemeriksaan Barang Kepemilikan (Property) a.12 6. Perlu diingat pada kecelakaan masal. jika hal ini tidak diperhatikan kekeliruan identitas dapat terjadi. v Tulang kering (tibia). SIM. menunjukkan 27 persen dari tinggi badan. Formula Stevenson Formula Trotter dan Gleser Formula Trotter dan Gleser dan Stevenson merupakan formula untuk manusia ras mongoloid. tanda pembayaran. mengingat adanay kemungkinan faktor-faktor tersebut turut berperan untuk membenarkan atau sebaliknya menyangkal identitas jenazah tersebut. Selain itu perlu diperhatikan faktor psikologis. v Tulang harus dalam keadaan kering (dry bone) v Formula yang dapat dipergunakan untuk pengukuran tinggi badan adalah : i.

Dental Records-hasil pemeriksaan gigi geligi dan DNA serta Secondary Indentifiers yang terdiri dari Medical-data medis. tanah longsor. penjahit. Bagi korban kejadian tertentu dan korban massal memerlukan proses identifikasi. bahan yang dipakai. KESIMPULAN DVI adalah suatu prosedur yang telah ditentukan untuk Mengidentifikasi korban mati secara ilmiah dalam sebuah insiden atau bencana masal berdasarkan Protokol INTERPOL. seperti: merek pakaian. mode serta adanya tulisan-tulisan. serta cincin yang ada pada tubuh korban. adalah merupakan tindakan yang sangat tepat agar korban masih dapat dikenali walaupun tubuhnya telah dikubur. menyimpan pakaian secara keseluruhan atau potongan-potongan dengan ukuran 10 cm x 10 cm. yang terdiri dari Fase TKP-‘The Scene’. [Online] 2009 [Cited on 2011 Agustus 31]: [1-4]. Adapun proses DVI meliputi 5 fase. Fase Pengumpulan data jenazah sewaktu hidup-‘Ante Mortem Information Retrieval’. Bencana massal yang dimaksud seperti gunung api meletus. Fase Pembandingan-‘Reconciliation’ and Fase analisa dan evaluasi-‘Debriefing’ Dalam melakukan proses tersebut terdapat bermacam-macam metode dan tehnik identifikasi yang dapat digunakan. Mengingat kepentingan tersebut maka penyimpanan dari perhiasan haruslah dilakukan dengan baik. Pakaian dan Perhiasan. kecelakaan lalu lintas.html . khususnya bila pada perhiasan itu terdapat initial nama seseorang yang biasanya terdapat pada bagian dalam gelang atau cincin. gempa bumi dan sebagainya. gelang. dapat memberikan informasi yang berharga. Fase Pengumpulan data jenazah-‘The Mortuary’ atau Post Mortem. Khusus anggota ABRI. Bagi korban yang tidak dikenal. Perhiasan seperti anting-anting.blogspot. pesawat udara.com/2009/01/dvi-disaster-victimidentification. milik siapakah pakaian tersebut. DVI (Disaster Victim Identification). banjir. serta NRP yang tertera pada kalung logam yang dipakainya.b.Available from : URL : http://dvibiddokkespoldasulsel. DAFTAR PUSTAKA 1. akan membantu dokter atau pihak penyidik di dalam menentukan identitas korban. kapal laut. DVI BIDDOKKES POLDA SULSEL. kebakaran. gedung runtuh serta peledakan bom oleh teroris. Pencatatan yang diteliti atas pakaian. dimana setiap fasenya mempunyai keterkaitan satu dengan lainnya. Property-barang kepemilikan dan Photography.12 IV.11. Namun demikian Interpol menentukan Primary Indentifiers yang terdiri dari Fingerprints-sidik jari. identifikasi dipermudah oleh adanya nama. laundry atau initial nama. kalung.

12.ac. Available from : URL : http://odontologiforensikinvestigasi. [ Cited on 2011 Agustus 31]: [1-4].com/index. Penatalaksanaan Identifikasi Korban.blogspot.com/2009/01/blog-post_15. PERANAN ODONTOLOGI FORENSIK DALAM PENYIDIKAN. DVI Indonesia. M.4.SpF.htm 9.wordpress. DFM.php?option=com_content&task=view&id=755&Itemid=1 . Edisi 1.Available from : URL : http://dvibiddokkespoldasulsel. PhD. [Online] 2010 [Cited on 2011 Agustus 31] : [1-2]. PDGI. Available from : URL : http://www. Available from : URL: http://www.pdgionline. Available from : URL : http://puradini. [Cited on 2011 Agustus 31]: [1-3]. [Online] 2004. [Online] 2011. DVI INDONESIA. DVI BIDDOKKES POLDA SULSEL.com/2009/01/form-ini-adalah-yellow-antemortem-form. Available from : URL: http://disastervictimidentificatioguide/chapitre4. Dalam: Pedoman Ilmu Kedokteran Forensik. Sugiharto Pradini.php?id=7 4.html 10.sulut. Disaster Victim Investigation (DVI). [Cited on 2011 Agustus 31]: [1-7]. [Cited on 2011 Agustus 31] : [1-3].id/index. 13. 7. Available from : URL: http://id. [Cited on 2011 August 31]: [1-18/24]. Launtz LL. SH. Disaster Victim Identification.DSF. Singh Surjit. [Online] 2011.2. [Online] 2011. [Online] 2008. dr. Desember 2008.php? option=com_content&view=article&id=67&Itemid=63 3. 1997. DVI BIDDOKKES POLDA SULSEL. Reichs KJ. AtmadjaDS.staff. Available from : URL : http://www. Available from : URL : http://adjisuwandono. Ante Mortem.polri.com/v2/index.asp. Suwandono Adji. Mun’im A.com/2011/02/19/disaster-victim-investigation-dvi/ 8. Gani. [Online] 2010 [Cited on 2011 Agustus 31]: [1-2]. Hal 32-50.[Online] 2009 [Cited on 2011 Agustus 31]: [1].wikipedia. POLDA SULUT. Medan.Husni dr. Identifikasi Korban Bencana Massal. [Cited on 2011 Agustus 31]: [12].Available from : URL : http://dvibiddokkespoldasulsel.uns.[Online] 2009 [Cited on 2011 Agustus 31]: [1]. Jakarta: Binarupa Aksara. Pentingnya Dokter Gigi Identifikasi Korban Bencana Massal.go. Identifikasi Forensik. [Online] 2009.html 11. Post Mortem. DVI (Disaster Victim Identification) FASE I.com/ 6.id/2010/07/22/identifikasi-korban-bencanamassal/ 5.blogspot. Dalam : Majalah Kedokteran Nusantara Volume 41 No.dvi-indonesia.org/wiki/Identifikasi_forensik.blogspot. Identifikasi. Interpol. FK USU. Krogman WM dan Iscan MY.

Winanti W.pdf 16. Sistem Keamanan Akses Menggunakan Pola Sidik Jari Berbasis Jaringan Saraf Tiruan. Elvayandri. [Online] 2007 [Cited on 2011 September 02]. [Online] 2002 [Cited on 2011 Agustus 31]: [1/5]. Putra Evan Sinly. Available From : URL : http://one.org/artikel_kimia/biokimia/di-balik-teknologi-tes-dna/ . Di Balik Teknologi Tes DNA. [Cited on 2011 September 02] : [1-6]. Available from : URL: 2007/Makalah_2007/MakalahSTMIK2007-017. Aplikasi Algoritme Pencocokan String KPM dalam Pengenalan Sidik Jari. Available from : URL : http://www. [Online] 2008.chem-istry.14.com/judul-skripsi/matematika/pengenalan-polasidik-jari-manusia-dengan-metode-probabilistic-neural-network-pnn 15.indoskripsi. [1-5].

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->