P. 1
UROLOGI

UROLOGI

|Views: 32|Likes:
hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh
hhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhhh

More info:

Categories:Topics, Art & Design
Published by: Byzantine Wulandari Parubak on Jun 10, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as DOCX, PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

12/17/2013

pdf

text

original

UROLOGI

Senin, 30 November 2009
Kegawatdaruratan Urologi Non Trauma
Kegawatdaruratan urologi merupakan kegawatan di bidang urologi yang bisa disebabkan oleh karena trauma maupun bukan trauma. Pada trauma urogenitalia, biasanya dokter cepat memberikan pertolongan dan jika fasilitas yang tersedia tidak memadai, biasanya langsung merujuk ke tempat yang lebih lengkap. Berbeda halnya dengan kedaruratan urogenitalia non trauma, yang sering kali tidak terdiagnosis dengan benar, menyebabkan kesalahan penanganan maupun keterlambatan dalam melakukan rujukan ke tempat yang lebih lengkap, sehingga menyebabkan terjadinya kerusakan organ dan bahkan ancaman terhadap jiwa pasien. Beberapa kedaruratan urologi non trauma tersebut diantaranya adalah: Urosepsis Sumbatan aliran urine akut (Retensi urine, anuria, kolik) Hematuria Strangulasi (torsio testis, priapismus, parafimosis). Makalah ini menjelaskan beberapa kedaruratan urologi non traumatik tentang gejala klinis dan diagnosis agar terdiagnosis dengan benar. Dengan diagnosis yang benar maka dapat dilakukan penanganan yang cepat dan mengurangi komplikasi yang ditimbulkan dari penyakit tersebut. 1. Urosepsis Urosepsis adalah infeksi sistemik yang berasal dari fokus infeksi di traktus urinarius sehingga menyebabkan bakteremia dan syok septik.1 Insiden urosepsis 20-30 % dari seluruh

kejadian septikemia dan lebih sering berasal dari komplikasi infeksi di traktus urinarius.2 Pasien yang beresiko tinggi urosepsis adalah pasien berusia lanjut, diabetes dan immunosupresif seperti penerima transplantasi, pasien dengan AIDS, pasien yang menerima obat-obatan antikanker dan imunosupresan.3 Tabel 1. Kelainan struktur dan fungsi traktus urinarius yang berhubungan dengan sepsis2,3 Obstruksi Kongenital: striktur uretra, fimosis, ureterokel, policystic kidney disease Didapat: calkulus, hipertrofi prostat, tumor traktus urinarius, trauma, kehamilan, radioterapi Instrumentasi Kateter ureter, stent ureter, nephrostomy tube, prosedur urologik. Impaired voiding Abnormalitas metabolik Imunodefisiensi Neurogenic bladder, sistokel, refluk vesikoureteral Nefrokalsinosis, diabetes, azotemia Pasien dengan obat-obatan imunosupresif,

neutropenia. Mortalitasnya mencapai 20-49 % bila disertai dengan syok. Oleh karena itu pertolongan harus cepat dan adekuat untuk mencegah kegagalan organ dan komplikasi lebih lanjut.3 Karena merupakan penyebaran infeksi, maka kuman penyebabnya sama dengan kuman penyebab infeksi primer di traktus urinarius yaitu golongan kuman coliform gram negatif seperti Eschericia coli (50%), Proteus spp (15%), Klebsiella dan Enterobacter (15%), dan Pseudomonas aeruginosa (5%). Bakteri gram positif juga terlibat tetapi frekuensinya lebih kecil yaitu sekitar 15%. Penelitian The European Study Group on Nosocomial Infections (ESGNI-004 study) dengan membandingkan antara pasien yang menggunakan kateter dan non-kateter ditemukan bahwa E.coli sebanyak 30,6% pada pasien dengan kateter dan 40,5% pada non-kateter, Candida spp 12,9% pada pasien dengan kateter dan 6,6% pada non-kateter, P.aeruginosa 8,2% pada pasien dengan kateter dan 4,1% pada non-kateter.2

pemeriksaan fisik. syok sepsis. Dari anamnesa. antara lain tumor necrosis factor alfa (TNF α) dan interlaukin I (IL I). lemak. Hanya 1/3 pasien yang mengeluh demam dan menggigil dengan hipotensi. protein. kolik dan atau benjolan diperut atau pinggang. Diagnosis Diagnosis dari urosepsis dibuat berdasarkan dari anamnesa. serta mengaktifkan faktor-faktor koagulasi. laboratorium dan rontgenologik. Karena terdapatnya resistensi sel terhadap insulin maka glukosa dalam darah tidak dapat masuk ke dalam jaringan sehingga untuk memenuhi kebutuhan sel akan glukosa terjadi proses glukoneogenesis yang bahannya berasal dari asam lemak dan asam amino yang dihasilkan dari katabolisme lemak berupa lipolisis dan katabolisme protein. Perubahan dalam metabolisme karbohidrat.Patogenesis Patogenesa dari gejala klinis urosepsis adalah akibat dari masuknya endotoksin. data yang positif adalah adanya demam. panas badan dan menggigil dengan didahului atau disertai gejala dan tanda obstruksi aliran urin seperti nyeri pinggang. dan oksigen. Sitokin inilah yang memacu reaksi berantai yang akhirnya dapat menimbulkan sepsis dan jika tidak segera dikendalikan akan mengarah pada sepsis berat. Keluhan febris yang terjadi setelah gejala infeksi . dan akhirnya mengakibatkan disfungsi multiorgan atau multi organs dysfunction syndrome (MODS). Rangsangan terhadap sistem komplemen C3a dan C5a menyebabkan terjadinya agregasi trombosit dan produksi radikal bebas. Lipopolisakarida ini terdiri dari komponen lipid yang akan menyebabkan:4 Aktivasi sel-sel makrofag atau monosit sehingga menghasilkan beberapa sitokin. suatu komponen lipopolisakarida dari dinding sel bakteri yang masuk ke dalam sirkulasi darah.

26. hal 688 Pemeriksaan status lokalis daerah abdomen sepanjang traktus urinarius penting untuk menentukan pre eksisting anomalinya dan yang diketemukan sangat bervariasi tergantung . tekanan darah masih normal. pernapasan dan susunan saraf pusat. nadi biasanya meningkat dan temperatur biasanya meningkat antara 38-40 C.5 Tabel 2. Demikian pula febris yang menyertai suatu manipulasi urologik. Definisi Sepsis5 Keadaan SIRS (Systemic Inflammatory Kriteria Terdapat paling sedikit dua dari beberapa kriteria dibawah ini : Denyut nadi > 90 x/’ Frekuensi nafas > 20 x/’ atau PaCO2 <> Leukosit > 12000/mm3 atau <4000/mm3 atau lekosit muda > 10% MODS (Multiple Organ Dysfunction Sydrome) Sepsis Sepsis Berat Syok Septik SIRS dengan tanda-tanda infeksi Sepsis disertai dengan hipotensi (sistole <> Sepsis disertai dengan hipotensi dan hipoperfusi SIRS dengan disfungsi organ dan hemostasis tidak dapat dipertahankan tanpa adanya intervensi Respond Syndrome) suhu tubuh > 38 ° C atau <> Dikutip dari : concencus Conference Criteria Defining Sepsis dalam Lazaron V dan Barke RS. dan demam kemerahan dengan gangguan status mental.3.5.Uro Clin of N Am 1999.5 Sepsis yang telah lanjut memberikan gejala atau tanda-tanda berupa gangguan beberapa fungsi organ tubuh. Pada keadaan yang dini. antara lain gangguan pada fungsi kardiovaskuler. takikardi. keadaan umum penderita masih baik. pencernaan.6 Pada pemeriksaan fisik yang ditemukan dapat sangat bervariasi berupa takipneu.saluran kencing bagian bawah yaitu polakisuria dan disuria juga sangat mencurigakan terjadinya urosepsis. ginjal.3.

kelenjar limfe inguinal. Bila pemeriksaan IVP tidak dapat dikerjakan karena kreatinin serum terlalu meningkat. Selain pemeriksaan tersebut juga dapat dilakukan pemeriksaan CT scan dan MRI.6 Untuk menegakkan diagnosis urosepsis harus dibuktikan bahwa bakteri yang berada dalam darah (kultur darah) sama dengan bakteri yang ada dalam saluran kemih (kultur urin). regio pubis. Pemeriksaan pyelografi intravena (IVP) dapat memberikan data yang penting dari kaliks.kelainan primernya. lekosituria dan bakteriuria. Kultur urin disertai dengan test kepekaan antibiotika sangat penting untuk menentukan jenis antibiotika yang diberikan. abdomen bawah.3. maka pemeriksaan ultrasonografi akan sangat membantu menentukan adanya obstruksi dan juga dapat untuk membedakan antara hidro dan pyelonefrosis. Pada prinsipnya penanganan terdiri dari:4 1.7 Penatalaksanaan Penanganan penderita urosepsis harus cepat dan adekuat. genital. kontur ginjal dan bayangan/garis batas muskulus psoas. resusitasi ABC 2. ureter. Yang diperhatikan pada hasil foto adalah adanya bayangan radio opak sepanjang traktus urinarius. Pemberian antibiotika .5 Pemeriksaan laboratorium yang mendukung diagnosa urosepsis adalah adanya lekositosis dengan hitung deferensial ke kiri. Dilakukan palpasi pada daerah costophrenikus.4. Pemeriksaan ini membantu menunjukkan adanya kalsifikasi. Penanganan gawat (syok) . perubahan posisi dan ukuran dari batu saluran kemih yang mungkin merupakan fokus infeksi. Pemeriksaan roentgen yang sederhana yang dapat dikerjakan adalah foto polos abdomen. dan pelvis yang penting untuk menentukan diagnosis adanya refluk nefropati dan nekrosis papilar. serta pemeriksaan transvaginal dan transrektal.

Keadaan demam/febris juga memerlukan cairan ekstra.4.6 Resusitasi cairan. Kebutuhan cairan dan terapinya dapat dipantau dari tekanan darah. golongan sefalosforin generasi ke III atau golongan florokuinolon. elektrolit dan asam basa adalah mengembalikan keadaan tersebut menjadi normal.8 Bila terdapat gangguan elektrolit juga harus dikoreksi. tekanan vena sentral dan produksi urine. Pemberian antibiotik harus cepat dan efektif sehingga antibiotika yang diberikan adalah yang berspektrum luas dan mencakup semua kuman yang sering menyebabkan urosepsis yaitu golongan aminoglikosida (gentamisin. Sefalosforin generasi ke-3 dianjurkan diberikan 2 gr dengan interval 6-8 jam dan untuk golongan cefoperazone dan ceftriaxone dengan interval 12 jam. Urosepsis adalah penyakit yang cukup berat sehingga biasanya “oral intake” menurun. BUN > 100 mg% atau terdapat edema paru. Resusitasi cairan dan elektrolit 4. Bila penderita dengan hipotensi atau syok (tensi <>2O dan diberikan larutan kristaloid dengan kecepatan 15-20 ml/menit.3. Bila K serum 7 meq/L atau lebih perlu dilakukan hemodialisa. Penelitian selanjutnya oleh Concia dan Azzini terhadap levofloksasin membuktikan bahwa levofloksasin sebagai terapi tambahan memiliki efek pada ekskresi renal dan tersedia dalam bentuk injeksi intravena dan oral. Hemodialisa juga diperlukan bila terdapat Kreatinin serum > 10 mg%.4. tobramisin atau amikasin) golongan ampicilin yang dikombinasi dengan asam klavulanat atau sulbaktam. Penelitian oleh Naber et al membuktikan bahwa pemberian antibiotik injeksi golongan florokuinolon dan piperacillin/tazobaktam direkomendasikan untuk terapi urosepsis.2. Drainase yang segera perlu dikerjakan bila . Tindakan definitif (penyebab urologik) Pemberian antibiotik sebagai penanganan infeksi ditujukan unuk eradikasi kuman penyebab infeksi serta menghilangkan sumber infeksi.

kerusakan uretra (trauma). batu uretra.terdapat timbunan nanah misalnya pyonefrosis atau hidronefrosis berat (derajat IV).4. Akibat retensi urin tersebut akan menyebabkan:4. fimosis.6 Buli-buli akan mengembang melebihi kapasitas maksimal sehingga tekanan didalam lumennya dan tegangan dari dindingnya akan meningkat. Drainase dapat dikerjakan secara perkutan atau dengan operasi biasa (lumbotomi).8 2. sedangkan anak-anak : (umur + 2) x 30 ml. gumpalan darah di dalam buli-buli (clot retention) dll. parafimosis. Penderita yang telah melewati masa kritis dari septikemia maka harus secepatnya dilakukan tindakan definitif untuk kelainan urologi primernya. Ca).8 Adapun penyebab retensi urine antara lain:4. Pyonefrosis dan hidronefrosis yang berat menyebabkan terjadinya iskemia sehingga mengurangi penetrasi antibiotika.6 Kelemahan detrusor Cedera/gangguan pada medula spinalis atau kerusakan saraf perifer (misalnya diabetes melitus). striktura uretra. Adapun kapasitas maksimal pada dewasa adalah 400-500 cc. .4. Gangguan koordinasi detrusor-sfingter (dis-sinergi) : Cedera/gangguan sumsum tulang belakang di daerah cauda equina. Hambatan/obstruksi uretra : kelainan kelenjar prostat (BPH. detrusor yang mengalami peregangan/dilatasi yang berlebihan untuk waktu yang lama. Retensi Urine Retensi urin adalah ketidakmampuan seseorang untuk mengeluarkan urin yang terkumpul didalam buli-buli sehingga kapasitas maksimal dari buli-buli terlampaui.

Retensi urine merupakan predileksi untuk terjadinya infeksi saluran kemih (ISK) dan bila ini terjadi. dapat menimbulkan keadaan gawat darurat yang serius seperti pielonefritis. Keadaan ini disebut inkontinensia paradoksa atau “overflow incontinence” Tegangan dari dinding buli-buli terus meningkat sampai tercapai batas toleransi dan setelah batas ini dilewati. terlihat batu di meatus uretra eksternum. Selain itu. urin akan memancar berulang-ulang (dalam jumlah sedikit) tanpa bisa ditahan oleh penderita. terlihat fistel atau abses di uretra. tekanan yang meningkat didalam lumen akan menghambat aliran urin dari ginjal dan ureter sehingga terjadi hidroureter dan hidronefrosis dan lambat laun terjadi gagal ginjal. Gambaran klinis Pasien mengeluh tertahan kencing atau kencing keluar sedikit-sedikit. urosepsis. tanpa disadari dan tidak mampu ditahan oleh pasien.4 Pemeriksaan pada genitalia eksterna mungkin teraba batu di uretra anterior. yaitu keluarnya urin secara menetes. tampak benjolan kistus pada perut bagian bawah disertai dengan rasa nyeri yang hebat. Pemeriksaan colok dubur setelah buli-buli dikososngkan ditujukan untuk mencari adanya . sementara itu buli-buli tetap penuh dengan urin. atau terlihat darah keluar dari uretra akibat cedera uretra. Bila tekanan didalam buli-buli meningkat dan melebihi besarnya hambatan didaerah uretra. teraba spongiofibrosis di sepanjang uretra anterior.Bila keadaan ini dibiarkan berlanjut. fimosis/parafimosis. dengan akibat kekuatan kontraksi otot buli-buli akan menyusut. Keadaan ini harus dibedakan dengan inkontinensia paradoksa. khususnya pada penderita usia lanjut. otot buli-buli akan mengalami dilatasi sehingga kapasitas buli-buli melebihi kapasitas maksimumnya.

mungkin terlihat bayangan batu opak pada uretra atau pada buli-buli. dan timbul hidroureter dan hidronefrosis yang selanjutnya dapat menimbulkan gagal ginjal. pemakaian . dan pemeriksaan refleks bulbokavernosus untuk mendeteksi adanya buli-buli neurogenik. sistotomi. Anuria sering dihubungkan dengan obstruksi total dari saluran kemih bagian bawah dengan diagnosis banding yang terbatas (tabel 3).9 Tabel 3. Tindakan penyakit primer penyebab retensi urin dikerjakan setelah keadaan pasien stabil. kontraksi otot buli-buli menjadi lemah. Secara umum penyebab dari anuria sendiri bisa bersifat prerenal. atau riwayat menderita penyakit jantung. intrarenal atau postrenal. atau pungsi suprapubik. Perlu ditanyakan kemungkinan pemakaian obat-obat nefrotoksik.hiperplasia prostat/karsinoma prostat. infeksi saluran kemih. Pada pemeriksaan uretrografi tampak adanya striktur uretra. asupan cairan yang berkurang. Anuria Anuria adalah tidak adanya produksi urin tetapi dalam praktek klinik didefinisikan sebagai produksi urin kurang dari 100 mL dalam 24 jam.4 3. harus diwaspadai adanya faktor penyebab pre renal. yang kadang kala didahului oleh keluhan obstruksi yang lain yaitu nyeri di daerah pinggang atau kolik. Urin dapat dikeluarkan dengan cara kateterisasi. Diagnosis banding anuria9 Gambaran klinis Pada anamnesis pasien mengeluh tidak kencing atau kencing hanya sedikit.4 Pemeriksaan foto polos perut menunjukkan bayangan buli-buli penuh. Jika didapatkan riwayat adanya kehilangan cairan. dan tidak jarang diikuti dengan demam.4 Penatalaksanaan Urin yang tertahan lama dalam buli-buli secepatnya harus dikeluarkan karena jika dibiarkan akan menimbulkan beberapa masalah yaitu.

hilang timbul (intermiten) yang terjadi akibat spasme otot polos untuk melawan suatu hambatan. nadi dan perfusinya. atau bayangan pembesaran ginjal.6. yaitu memasang kateter yang diletakkan di kaliks ginjal agar urine atau nanah yang berada pada sistem pelvikalises ginjal dapat dikeluarkan. Diperiksa keadaan hidrasi pasien dengan mengukur tekanan darah.8 Penatalaksanaan Jika tidak segera diatasi. tanda asidosis atau hiperkalemia. Semuanya untuk menyingkirkan kemungkinan penyebab intrarenal. Foto polos abdomen ditujukan untuk mencari adanya batu opak pada saluran kemih. terdapatnya gangguan faal ginjal. maka akan menimbulkan penyulit berupa uremia. Lebih baik jika dapat dipasang manometer tekanan vena sentral atau CVP sehingga dapat diketahui keadaan hidrasi pasien dengan tepat dan mudah.4. Kadang-kadang pasien membutuhkan bantuan hemodialisa untuk mengatasi penyulit akibat uremia. atau riwayat penyakit ginjal sebelumnya. Pemeriksaan laboratorium sedimen urine menunjukkan lekosituria atau hematuria. Oleh karena itu sambil memperbaiki keadaan pasien. infeksi dan terjadi SIRS yang berakhir dengan kematian. riwayat reaksi tranfusi hemolitik. setelah menjalani radiasi di daerah perut sebelah atas.bahan kontras untuk foto radiologi. dan dengan tuntunan USG dapat dilakukan pemasangan kateter nefrostomi. Pemeriksaan darah rutin diketemukan leukositosis. . secepatnya dilakukan diversi/pengeluaran urine.4. Pemeriksaan ultrasonografi abdomen penting karena dapat mengetahui adanya hidronefrosis atau pionefrosis. Pemasangan kateter nefrostomi dapat dilakukan perkutan yaitu dengan tuntunan ultrasonografi atau dengan operasi terbuka.6. Pengeluaran urine dapat dilakukan melalui pemasangan kateter nefrostomi atau mungkin dilakukan pemasangan kateter double J. Kolik Ureter atau Kolik Ginjal Kolik ureter atau kolik ginjal adalah nyeri pinggang hebat yang datangnya mendadak.8 4.

Palpasi pada abdomen dan perkusi pada daerah pinggang akan terasa nyeri. muntah. pielonefritis akut. yaitu kurang lebih terdapat pada 10 % kasus. Jika batu turun mendekati buli-buli biasanya disertai dengan keluhan lain berupa sering kencing dan urgensi. Tetapi pada sumbatan total saluran kemih tidak didapatkan sel-sel darah merah. ke daerah inguinal. Jika disertai demam harus diwaspadai terhadap adanya infeksi yang serius atau urosepsis. Tidak jarang dijumpai adanya pernapasan cepat dan grunting terutama pada saat puncak nyeri. testis atau labium disertai dengan atau tanpa keluhan mual.4. Nyeri ini biasanya disebabkan oleh obstruksi saluran kemih akibat urolitiasis. kemudian berdiri guna memperoleh posisi yang dianggap tidak nyeri. Ditemukannya piuria perlu dicurigai kemungkinan adanya infeksi. nyeri pinggang. Dalam keadaan ini pasien harus secepatnya dirujuk karena mungkin memerlukan tindakan drainase urine. disuria atau hematuria. Perasaan nyeri bermula di daerah pinggang dan dapat menjalar ke seluruh perut. tidur.10 Gambaran klinis Pasien tampak gelisah. selalu ingin berganti posisi dari duduk. bekuan darah. Denyut nadi meningkat karena gelisah dan tekanan darah meningkat pada pasien yang sebelumnya normotensi. apendisitis.4.8 Laboratorium Pemeriksaan sedimen urine sering menunjukkan adanya sel-sel darah merah. dan ruptur aneurisma aorta abdominal. sedangkan .8 Keluhan kolik pada urolitiasis jika batu kecil yang turun ke pertengahan ureter pada umumnya menyebabkan penjalaran nyeri ke pinggang sebelah lateral dan seluruh perut.Keluhan nyeri ini bersifat gawat darurat sehingga harus didiagnosis dengan cepat dan penatalaksanaan yang tepat.4. nyeri pada kegawatan abdomen lain seperti divertikulitis. infark renal.

Obat-obat yang sering dipakai untuk mengatasi serangan kolik adalah antispasmodik dan analgetik.4. Ultrasonografi dapat menilai adanya sumbatan pada ginjal berupa hidronefrosis. Setelah episode kolik berlalu dilanjutkan dengan pemeriksaan foto PIV. obstruksi lama. ukuran batu dan akibat obstruksi terhadap fungsi ekskresi renal. Foto PIV atau CT scan merupakan gold standard untuk menentukan derajat obstruksi. tetapi hal ini seringkali tidak tampak karena tidak disertai persiapan pembuatan foto yang baik. Diuresis pasien harus diperbanyak karena peningkatan diuresis akan mengurangi frekuensi serangan kolik.4.8 .4. nyeri persisten.didapatkannya kristal-kristal pembentuk batu (urat. atau sistin) dapat diperkirakan jenis batu yang menyumbat saluran kemih. atau adanya infeksi.10.12 Jika pasien mengalami episode kolik yang sulit ditanggulangi.8 Pencitraan Pemeriksaan foto polos perut ditujukan untuk mencari adanya batu opak di saluran kemih. ureter hingga buli-buli. Sekitar 70% kasus kolik renal dapat didiagnosis dengan cepat menggunakan USG selain untuk menyingkirkan kegawatan abdomen yang lain. kalsium oksalat. Tindakan penyakit primer penyebab retensi urin dikerjakan setelah keadaan pasien stabil. USG memiliki sensitivitas 90% tetapi spesifisitasnya sekitar 65-84% untuk mendeteksi adanya obstruksi. Pasien yang menunjukkan gejala-gejala gangguan sistem saluran cerna (muntah-muntah atau ileus) sebaiknya dimasukkan ke rumah sakit agar hidrasi pasien tetap terjaga.11 Penatalaksanaan Serangan kolik harus segera diatasi dengan medikamentosa ataupun dengan tindakan lain. Namun terapi konservatif dengan analgetik tidak dianjurkan untuk pasien dengan resiko urosepsis. ditawarkan untuk pemasangan kateter ureter double J (DJ stent) yaitu suatu kateter yang ditinggalkan mulai dari pelvis renalis.

5. urethra (penyakit menular seksual. kanker prostat). BPH.6 Diagnosis Diagnosis pada saat awal adalah dengan memastikan adanya sel darah merah pada urine. phenazopyridine. tumor. batu). trauma. Total hematuria: penyebabnya ada di buli-buli. Hematuria dapat disebabkan oleh faktor renal (infeksi. porphyrin. pada umumnya dikategorikan baik gross maupun mikroskopik. benda asing.4. Adapun sebanyak ± 20 % dari penderita tidak diketahui penyebabnya meskipun telah dilakukan pemeriksaan urologi lebih lanjut. phenolptalein. False/pseudohematuria: adalah diskolorasi dari urine karena pigmen dari pewarna makanan dan myoglobin.4. buli (infeksi. buli-buli dan prostat. instrumentasi). Hematuria Hematuria berarti didapatkannya sel darah merah pada urine. prostat (infeksi. batu. pigmen makanan. zat pewarna makanan. trauma. myoglobinuria. tumor.13 . atau bleeding disorder. Untuk mikroskopik hematuria dikatakan apabila didapatkan >3 s/d 5 sel darah merah/lapang pandang.4. Idiopatic hematuria adalah hematuria dimana penyebabnya tidak dapat ditentukan. Gross hematuria jika didapatkan darah atau bekuan darah berwarna merah atau kecoklatan yang dapat berasal dari perdarahan di ureter/ginjal. trauma). kongenital anomali. ureter atau ginjal. obat-obatan seperti phenothiazine.13 Beberapa jenis hematuria berdasarkan penyebab yaitu: Inisial hematuria: penyebabnya ada pada proksimal urethra atau di leher/dasar buli-buli. Hal ini penting oleh karena warna darah pada urine bisa disebabkan oleh: hemoglobinuria.

Dari anamnesis dicari penyebab hematuria perlu digali data yang terjadi pada saat episode hematuri. kelainan bawaan saluran kemih. Colok dubur dapat memberikan informasi adanya pembesaran prostat benigna maupun karsinoma prostat. sedangkan pH urine yang sangat asam mungkin berhubungan dengan batu asam urat. antara lain : bagaimanakah warna urine yang keluar?. Palpasi bimanual pada ginjal perlu diperhatikan adanya pembesaran ginjal akibat tumor. obstruksi. dan untuk mengetahui adanya metastasis tumor di hepar. IVP dapat mengungkapkan adanya batu saluran kemih. dibagian manakah pada saat miksi urine berwarna merah?. serta beberapa penyakit infeksi saluran kemih. apakah diikuti dengan perasaan sakit?.13 Perlu diperhatikan adanya hipertensi yang mungkin merupakan manifestasi dari penyakit ginjal. Pemeriksaan USG berguna untuk melihat adanya massa yang solid atau kistus. apakah diikuti dengan keluarnya bekuan-bekuan darah?. Massa pada suprasimfisis mungkin disebabkan karena retensi bekuan darah pada buli-buli. Sitologi urine diperlukan untuk mencari kemungkinan adanya keganasan sel-sel urotelial. bekuan darah pada bulibuli/pielum. Sistoskopi atau sistouretero-renoskopi dikerjakan jika pemeriksaan penunjang di atas belum dapat menyimpulkan . ataupun infeksi ginjal. tumor-tumor urotelium. Syok hipovolemik dan anemia mungkin disebabkan karena banyak darah yang keluar. trauma saluran kemih. Pada pemeriksaan pH urine yang sangat alkalis menandakan adanya infeksi organisme pemecah urea di dalam saluran kemih. adanya batu non opak.4 Pemeriksaan Penunjang Pemeriksaan urinalisis dapat mengarahkan kita kepada hematuria yang disebabkan oleh faktor glomeruler ataupun non glomeruler. Pemeriksaan fisik Pada pemeriksaan fisik tanda vital diperhatikan terutama tekanan darah dan suhu badan.

4 Penatalaksanaan Jika terdapat gumpalan darah pada buli-buli yang menimbulkan retensi urine. dicoba dilakukan kateterisasi dan pembilasan buli-buli dengan memakai cairan garam fisiologis. pasien secepatnya dirujuk untuk menjalani evakuasi bekuan darah transuretra dan sekaligus menghentikan sumber perdarahan. Jika terjadi eksanguinasi yang menyebabkan anemia. Akut Skrotum Akut skrotum adalah keadaan-keadaan dimana didapatkan adanya nyeri mendadak yang hebat didalam skrotum dan seringkali disertai pembengkakan dari isi skrotum dan gejala umum lainnya.4.8.14 1.4 6. Keadaan ini memerlukan penanganan yang cepat dan tepat karena beberapa penyebab dari akut skrotum ini adalah problem vaskular sehingga prognosanya sangat dipengaruhi oleh lamanya gangguan vaskular tersebut berlangsung. harus dipikirkan pemberian transfusi darah. Hernia inkarserata . Tindakan ini biasa dilakukan setelah bekuan darah yang ada di dalam bulibuli dibersihkan sehingga dapat diketahui asal perdarahan. Setelah hematuria dapat ditanggulangi.14 Adapun diferensial diagnosis yang harus dipertimbangkan dalam menangani akut skrotum adalah:4. tindakan selanjutnya adalah mencari penyebabnya dan selanjutnya menyelesaikan masalah primer penyebab hematuria. Torsio testis 2. Epididimitis 3. Akut skrotum ini sering terjadi pada remaja. tetapi jika tindakan ini tidak berhasil. dewasa muda dan atlet.penyebab hematuria. demikian juga jika terjadi infeksi harus diberikan antibiotika.

15 Angka kejadiannya 1 diantara 4000 pria yang berumur kurang dari 25 tahun dan paling banyak diderita oleh anak pada masa pubertas (12-20 tahun).4 Ada 2 puncak insiden torsio testis.4. Torsio apendik epididimis 6. Pada masa pubertas resiko meningkat karena mereka mempunyai deformitas yang disebut dengan “bell-clapper”. latihan yang berlebihan. yaitu tahun pertama dan pubertas. Torsio apendik testis 5. Deformitas testis “bell-clapper”15 Secara fisiologis otot kremaster berfungsi untuk menggerakkan testis mendekati dan menjauhi rongga abdomen untuk mempertahankan suhu ideal untuk testis. Torsio Testis Torsio testis terjadi karena testis terputar di dalam skrotum sehingga terjadi obstruksi aliran darah arteri dan vena testis. ketakutan. batuk. celana yang . Perlekatan yang tidak kuat ini menyebabkan testis mudah bergerak dan terputar. Insiden torsio testis pada 24 jam pertama kelahiran cukup tinggi dan mungkin sebagian besar darinya terjadi intrauterin sehingga pada saat lahir penderita ini mempunyai massa intraskrotal padat.15 Gambar 1.4. Bentuk deformitas ini berupa perlekatan testis pada tunica vaginalis yang tidak kuat sehingga testis menggantung bebas dalam skrotum. Tumor testis 7. Beberapa keadaaan yang menyebabkan pergerakan berlebihan dari testis yaitu adalah perubahan suhu yang mendadak (saat berenang). dan akhirnya kehilangan testis karena orchidektomi atau atropi. Adanya kelainan sistem penyangga testis menyebabkan testis dapat mengalami torsio jika bergerak secara berlebihan.

Testis yang membengkak letaknya lebih tinggi dan horisontal dengan funikulus spermatikus yang menebal. Nyeri ini biasanya terbatas pada skrotum tetapi bisa juga menjalar sepanjang perjalanan funikulus spermatikus yakni ke inguinal dan perut bagian bawah. atau trauma yang mengenai skrotum. Pada beberapa penderita nyeri terutama dirasakan di perut bagian bawah ipsilateral bahkan di perut bagian atas atau di pinggang.4 Gambaran Klinis Gejala utama dari torsio testis adalah nyeri testis yang hebat dan biasanya mendadak diikuti pembengkakan pada testis. defekasi. hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya penderita yang mempunyai riwayat serangan yang sama pada masa sebelumnya dan sembuh dengan sendirinya. kadang-kadang bisa diraba adanya lilitan funikulus spermatikus. Akan tetapi banyak ahli yang berpendapat bahwa tanda dari Prehn ini tidak bisa dijadikan pegangan.terlalu ketat. Pada saat permulaan epididimis masih teraba tetapi tidak pada posisi yang normal.6 Penatalaksanaan Evaluasi dan penatalaksanaan harus secepat mungkin karena torsio testis menyebabkan iskemia dan jarang bertahan lebih dari 12 jam. Penderita mengalami mual.6 Torsio testis sering mengalami reposisi spontan. Pada akhirnya testis akan mengalami nekrosis. edema testis. Tanda dari Prehn adalah berkurang atau hilangnya nyeri pada epididimitis apabila testis diangkat. dan iskemia.4.4. sedangkan pada torsio testis nyerinya tidak akan berkurang.15 Penatalaksanaan torsio testis dapat dilakukan dengan: . Kesalahan diagnosa yang seringkali dibuat adalah epididimitis dan merupakan penyebab utama keterlambatan pengobatan dan rendahnya angka viabilitas testis. muntah dan panas badan. Terputarnya funikulus spermatikus menyebabkan obstruksi aliran darah testis sehingga testis mengalami hipoksia.

6. Jika testis masih viable maka dilakukan orchidektomi atau orchidopeksi (fiksasi testis) pada tunika dartos dan dianjurkan orchidopeksi pada testis kontralateral. yaitu memperbaiki viabilitas testis.8 8. Kemudian jika tidak terjadi perubahan dicoba detorsi ke arah medial. Karena arah torsio biasanya ke medial maka dianjurkan untuk memutar testis ke arah lateral dahulu.yaitu dengan jalan memutar testis ke arah berlawanan dengan arah torsio. Korpora kavernosa dibungkus oleh tunika albuginea yang merupakan jaringan elastis dan . Hilangnya nyeri setelah detorsi menandakan bahwa detorsi telah berhasil. Operasi Pembedahan eksplorasi dilakukan dengan tujuan. Keberhasilan detorsi manual tidak menghilangkan indikasi untuk melakukan eksplorasi oleh karena reposisi manual testis tidak menjamin bisa mengembalikan testis ke posisinya yang normal.15 Cara orchidopeksi adalah dengan memasang 3 jahitan antara tunika albuginea dan tunika dartos dengan mempergunakan bahan yang tidak diserap misalnya sutera. Sedangkan Kuntze melaporkan 2 kasus torsio pada testis yang telah difiksasi dengan “chromic catgut”. Tamil melaporkan terjadinya torsio testis kontra lateral 5 tahun setelah orchidopeksi mempergunakan “chromic catgut”. reposisi testis kearah yang benar dan fiksasi testis kontralateral untuk mencegah berulangnya torsio.4.Detorsi Manual Detorsi manual yaitu mengembalikan posisi testis ke asalnya. Kedaruratan Penis Anatomi penis Penis terdiri dari 3 jaringan erektil yaitu 2 buah korpora kavernosa dan 1 korpus spongiosum yang membungkus urethra anterior dan berakhir disebelah distal sebagai glans penis.

psikotropik. obat-obatan (alkohol. Priapismus sekunder dapat disebabkan oleh kelainan pembekuan darah (anemia bulan sabit. Ketiga korpora ini secara bersama-sama dibungkus oleh fasia dari “colles”.8 Gambar 2. Tiap-tiap korpus terdiri dari jaringan berongga yang berupa lakunae atau trabekel dan terdiri atas endotel dan lapisan otot polos. leukemi dan emboli lemak). Potongan melintang anatomi penis Ereksi Yang memegang peranan penting pada proses ereksi adalah jaringan erektil penis yaitu : otot-otot polos kavernosus.6. Korpora akan menjadi tegang dan mengeras bila lakuna-lakuna tersebut penuh berisi darah (saat ereksi) dan jika darah sudah dipompa keluar maka penis akan melemah (flaksid). dilatasi arterial dan kompresi vena sehingga rongga sinusoid akan terisi darah dan korpora menjadi tegang/keras. Sebaliknya rangsangan parasimpatik akan menyebabkan relaksasi sinusoid. keganasan. trauma perineum/genitalia. Priapismus Priapismus adalah ereksi berkepanjangan tanpa disertai hasrat seksual dan sering disertai rasa nyeri.kolagen yang memiliki kemampuan untuk menyesuaikan diri pada saat ereksi atau flaksid. priapismus dibedakan menjadi primer (idiopatik) dan sekunder.8 9. arteriolar dan arteri. nerogen (anestesi regional).6.4 . Menurut etiologinya. antihipertensi) dan injeksi intrakavernosa dengan zat vasoaktif yang saat ini mulai banyak dilakukan oleh para dokter sebagai salah satu cara diagnosis dan terapi impotensia. Pada keadaan flaksid (rangsangan simpatik) terjadi peningkatan tonus dari otot-otot polos tersebut sehingga darah tidak dapat mengisi rongga-rongga sinusoid. Istilah priapismus berasal dari kata Yunani “Priapus” yaitu nama dewa kejantanan.

Lue dkk (1986) membedakan keduanya dengan mengukur tekanan dan memeriksa gas darah intrakavernosa. sehingga dibedakan 2 jenis priapismus yaitu:4 “Low-flow” Priapismus (statis=Ischemic) yaitu berupa ereksi berkepanjangan dan diikuti rasa nyeri. > 48 jam terjadi pembekuan darah dalam kaverne dan destruksi endotel sehingga jaringan-jaringan trabekel kehilangan daya elastisitasnya.kavernosa dengan bantuan Doppler Sonografi dan analisa gas darah yang diambil intrakavernosa dapat membedakan jenis “ischemic” atau “non ischemic”. Spycher & Hauri (1986) menyatakan bahwa akibat kegagalan hemodinamik pada korpora kavernosa pertama-tama akan terjadi edem jaringan pada interstitiel trabekula.Kegagalan penis untuk melemas kembali ini dapat terjadi karena : gangguan mekanisme veno-oklusi (“outflow”) sehingga darah tak dapat keluar dari jaringan erektil. Pemeriksaan lokal akan dijumpai batang penis yang tegang tanpa disertai ketegangan pada glans penis. Ereksi berkepanjangan 4-6 jam harus dicurigai priapismus. yang kemudian setelah 24 jam terjadi kerusakan dan nekrosis sel-sel yang luas. “High-Flow” Priapismus (non-ischemic) yang sering tanpa rasa nyeri dan prognosanya baik.4 Penatalaksanaani .4. pemeriksaan fisik. laboratorium dan pemeriksaan penunjang lainnya. Adanya pulsasi a. atau akibat peningkatan aliran darah ke jaringan erektil (“inflow). Dari anamnesis dan pemeriksaan fisik yang teliti diharapkan dapat diketahui penyebab priapismus. Nyeri biasanya terjadi 6-8 jam.6 Diagnosis Diagnosis ditegakkan berdasarkan anamnesis.

kavernosa yang berakibat iskemi korporal. aspirasi darah intrakavernosa saja atau kemudian disusul irigasi (instilasi) zat adrenergik yang diencerkan. melakukan pintas korpora kavernosa dengan glans penis sehingga aliran darah vena akan keluar dari korpora kavernosa dan diharapkan aliran darah arterial akan kembali normal. sedativa. yaitu:4 Konservatif. memberi respon yang sangat baik pada priapismus akibat injeksi vasodilator intrakavernosal. Terapi priapismus tidak spesifik. . Jalan pintas (shunting) dari kavernosa. dilakukan pada priapismus sekunder sambil mengobati penyakit primernya. enema dengan es saline. tindakan ini harus segera diperkirakan terutama pada priapismus veno-oklusive (static) atau yang gagal dengan terapi medikamentosa/aspirasi. Pintas Korporo-Granular. Hal ini untuk mencegah timbulnya sindrom kompartemen yang akan menekan a. Meliputi pemberian hidrasi yang baik. Cara ini dapat pula dicobakan pada priapismus spontanea non iskemik atau iskemia derajat ringan dengan hasil yang cukup baik. kompres pada skrotum atau penis.Prinsipnya adalah sesegera mungkin mengeluarkan darah yang ada di korpora kavernosa karena akan memperberat kerusakan jaringan erektil yang amat menentukan reversibilitas potensi seksual penderita. masase prostat dan epidural anestesi Aspirasi dan irigasi intrakavernosa.

hipoksemia sampai nekrose jaringan. Merril membedakan .Pintas Korporo-Spongiosum. V. Safena dan pada lateral basis penis. Dibuat terowongan subkutan antara v. dengan anestesi dibuat 2 insisi yaitu diatas v. Gambar 3. Gambar 4. Safena dengan basis penis. Pintas cavernosal-spongiosum proximal (Quackel shunt) Pintas Safeno-Kavernosum. V. sehingga perlu dilakukan pintas disebelah proksimal. Safena ditarik melalui terowongan tersebut kemudian di anastomosekan dengan jendela yang sudah dibuat pada tunika albuginea korpus kavernosum dan dijahit jelujur 2 semisirkuler. Strangulasi Penis Strangulasi penis adalah terjeratnya penis oleh benda yang melingkar pada penis sehingga menimbulkan gangguan hemodinamik disebelah distal jeratan. pada priapismus yang terjadi beberapa hari bagian distal kavernosum sering menjadi fibrotik sehingga tak mungkin mengalirkan darah dari kavernosum ke spongiosum secara adekuat. Pintas cavernosal-saphenous proximal (Grayhack shunt) 10. berupa bendungan aliran darah vena yang berakibat edem. Safena dibebaskan dari insersinya kedalam vena femoralis.

4 Karena strangulasi penis adalah kedaruratan vaskular pada penis maka pada pemeriksaan fisik harus diperhatikan suhu. Diameter penis yang amat besar dan ketegangan penis yang hebat dapat dikurangi dengan menusuk glans dan kulit penis hingga cairan edem beserta darah dapat dikeluarkan dan akan memperkecil diameter penis. denyut nadi (dapat dibantu dengan Doppler Sonografi) dan miksi. Sedang pada anak/bayi dapat disebabkan oleh kelalaian orang tua misalkan melingkarkan tali pada batang penis anaknya dengan tujuan mencegah enuresis. pita dililitkan pada penis yang sebelumnya telah pula diberi pelicin 2-3 cm. pipa. Jeratan oleh cincin baja sulit dikeluarkan apalagi bila ada edem hebat disebelah distal jeratan. ukuran dan lama jeratan. Caranya tergantung pada bahan.4 Penatalaksanaan Pada prinsipnya benda yang menjerat penis harus segera dikeluarkan. atau karena terjerat seutas rambut yang terdapat pada popok bayi. Bila edem belum terlalu besar. Benda yang dimasukkan bisa cincin karet/logam. Seutas pita kecil atau nylon dilewatkan dibawah cincin dengan bantuan klem bengkok yang telah diberi pelicin sampai ke proksimal cincin. botol atau tali. Ujung proksimal pita ditarik ke distal dengan sudut 95° sampai cincin melewati lilitan pita. Cincin baja dapat pula dikeluarkan dengan memotongnya dengan gerinda baja berkecepatan tinggi. sensibilitas. ataupun karena sengaja anak yang lebih besar bermain-main dengan melingkarkan tali pada penis. yaitu yang menimpa orang dewasa dan yang menimpa anakanak/bayi. Disebelah distal cincin. Pada dewasa biasanya karena kesengajaan memasukkan benda berongga atau menjerat penisnya pada saat ereksi. Tetapi alat ini . Prosedur ini diulangi sampai cincin keluar.strangulasi penis menjadi dua. mulai dari edem sampai nekrose penis bagian distal jeratan. Kelainan yang ditemukan tergantung pada lamanya strangulasi. warna. pelepasan dapat dilakukan seperti melepaskan cincin dari jari tangan.

4 Diposkan oleh UROLOGI di 19:27 0 komentar Posting Lama Beranda Langgan: Entri (Atom) . Menarik (retraksi) prepusium ke proksimal biasanya dilakukan pada saat bersenggama/masturbasi atau sehabis pemasangan kateter. Hal ini menyebabkan edema glans penis dan dirasakan nyeri. dilakukan dorsum insisi pada jeratan sehingga prepusium dapat dikembalikan pada tempatnya. Jika usaha ini tidak berhasil. Kerusakan kulit yang luas memerlukan debridemen dan tandur kulit. Jika prepusium tidak secepatnya dikembalikan ke tempat semula. Pengambilan jeratan hanya merupakan awal pengobatan strangulasi penis.4 Penatalaksanaan Prepusium diusahakan untuk dikembalikan secara manual dengan teknik memijat glans selama 3-5 menit diharapkan edema berkurang dan secara perlahan-lahan prepusium dikembalikan pada tempatnya. Setelah edema dan proses inflamasi menghilang. Parafimosis Parafimosis adalah prepusium penis yang diretraksi sampai di sulkus koronarius tidak dapat dikembalikan pada keadaan semula dan timbul jeratan pada penis dibelakang sulkus koronarius.belum tentu tersedia dan sering menimbulkan panas yang dapat merusak jaringan penis. karena itu selama digerinda harus selalu ditetesi air.4 11. pasien dianjurkan untuk menjalani sirkumsisi. perawatan selanjutnya tergantung derajat kerusakannya. Jika dibiarkan bagian penis disebelah distal jeratan makin membengkak yang akhirnya bisa mengalami nekrosis glans penis. Uretrografi perlu dilakukan bila ada kecurigaan lesi uretra. menyebabkan gangguan aliran balik vena superfisial sedangkan aliran arteri tetap berjalan normal.

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->