1

DINAMIKA KEAGAMAAN, SOSIAL POLITIK, DAN INTELEKTUAL DINASTI BUWAIHI
Drs. Suprayetno W, M.A

I.

PENDAHULUAN

Mengkaji sejarah merupakan hal yang penting dalam proses kehidupan seseroang dan manusia secara umum. Dengan mengkaji sejarah akan terbentuk pemahaman yang mendalam tentang eksistensi manusia itu sendiri dengan segala kekuatan dan kelemahannya. Sejarah merupakan rekaman perubahan sosial masyarakat manusia. Ia adalah eksistensi manusia itu sendiri yang selalu mengalami dua hal bertentang dalam kehidupannya, suka dan duka, senyum dan tangis, kejayaan dan keterpurukan. Dengan demikian melalui pendalaman sejarah manusia diharapkan akan bisa lebih arif dan bijaksana dalam kehidupannya sebab ia telah mampu mengkaji masa lalu untuk memahami masa kini dan menata masa depan. Mengingat bahwa tidak ada yang abadi di dunia ini kecuali perubahan, maka paradigma sejarah juga mengalami perubahan sejalan dengan permasalahan yang dihadapi oleh umat manusia. Sejarah merupakan saksi sekaligus bukti yang tidak saja menggambarkan realitas dan kenangan indah, tapi juga menyingkap kebenaran walaupun itu pahit untuk diungkap. Oleh sebab itu walaupun sejarah mengkaji masa lalu namun ia tetap harus selalu disuguhkan secara aktual. Hal ini penting agar materi sejarah dapat dijadikan pedoman hidup bagi masa kini dan esok. Makalah ini membahas dinamika keagamaan, sosial politik, dan intelektual pada masa dinasti Buwaihi. Pada bagian dinamika sosial penulis hanya memfokuskan pada kota Baghdad. Hal ini terutama disebabkan oleh keterbatasan waktu dan juga literatur yang tersedia. Makalah ini bertujuan untuk memotivasi pembaca dalam menemuan kebenaran, eksplanasi kritis tentang sebab dan genesis kebenaran dinasti Buwaihi serta kedalaman pengetahuan tentang bagaimana dan mengapa peristiwa-persitiwa di masa Buwaihi terjadi. Tujuan ini berlandaskan pada pandangan bahwa salah satu komponen masyarakat yang berkompeten dan memiliki tanggungjawab lebih dalam penelusuran akan suatu sejarah adalah masyarakat akademis, khususnya dosen dan mahasiswa.

II. KONDISI PRA PEMBENTUKAN DINASTI BUWAIHI
Pada periode pertama dinasti Abbasiyah mampu mengatasi berbagai gerakan politik internal dan eksternal yang merongrong pemerintah dan gerakan-gerakan massa yang mengganggu stabilitas yang muncul dimana-mana. Keberhasilan ini semakin mengukuhkan posisi dan kedudukan mereka sebagai pemimpin yang tangguh. Namun dalam perjalan selanjutnya pencapaian kemajuan peradaban dan kebudayaan periode pertama ini membawa para penguasa Abbasiyah, hartawan dan anak-anak pejabat untuk hidup mewah. Keadaan ini ditambah lagi dengan kelemahan khalifah dan faktor lainnya menyebabkan roda pemerintah terganggu dan rakyat menjadi miskin. Kondisi ini memberi peluang kepada tentara profesional asal Turki yang semula diangkat oleh Khalifah al-Mu’tashim untuk mengambil kendali pemerintah. Usaha mereka berhasil, sehingga kekuasaan sesungguhnya berada di tangan mereka. Kekuasaan khalifah Yn mulai memudar merupakan awal dari keruntuhan dinasti ini. Dan merupakan prestasi sejarah tersendiri bahwa walaupun kekuasaan khalifah telah pudar namun dinasti ini masih dapat bertahan lebih dari empat ratus tahun. Merupakan kecelakaan sejarah tersendiri ketika khalifah al-Mu’tashim memilih unsur Turki dalam kemiliteran. Walaupun dari sisi kondisi konflik horizontal pada masa itu dapat dimaklumi bahwa pilihan terhadap unsur Turki ini terutama berlatarbelakang persaingan antara golongan Arab dan Persia pada masa sebelum al-Ma’mun. Bahkan, perebutan kekuasaan antara al-Amin dan al-Ma’mun dipicu oleh persaingan antara golongan Arab yang mendukung al-Amin dan golongan Persia yang mendukung al-Ma’mun. Tentu saja eksistensi unsur Turki dalam pemerintahan Abbasiyah semakin menambah persaingan antar bangsa ini.

2 Keberadaan militer unsur Turki ini awalnya tidak membawa masalah bagi dinasti Abbasiah. Hal ini disebabkan karena khalifah Al-Mu’tashim dan khalifah Al-Watsiq, memiliki kemampuan memanage mereka. Namun ketika pemerintahan dikendalikan oleh khalifah yang lemah yakni al-Mutawakkil terjadilah ”pagar makan tanaman”, kalangan militer unsur Turki ini merebut kekuasaan dengan cepat. Praktis setelah al-Mutawakkil wafat kalangan militer inilah yang memilih dan mengangkat khalifah. Pada level defacto kekuasaan berada di tangan militer dan bukan berada di tangan Bani Abbas, meskipun mereka tetap memegang jabatan khalifah.1 Tentu saja ini membuat wibawa khalifah merosot tajam. Hukum evolusi tetap berlaku, seiring dengan degradasi kekuatan tentara Turki dengan sendirinya muncullah tokoh-tokoh yang kuat di daerah-daerah, yang kemudian memerdekakan diri dari kekuasaan pusat dan mendirikan dinasti-dinasti kecil. Terjadilah disintegrasi dalam sejarah politik Islam Bani Abbasiah.2 Secara faktual banyak daerah yang tidak dikuasai khalifah melainkan berada dalam kekuasaan gubernur-gubernur propinsi bersangkutan. Hubungannya dengan khalifah Abbasiah hanya ditandai dengan pembayaran upeti. Asumsi yang muncul adalah atas rasa puas khalifah Abbasiah atas pengakuan nominal daerah adalah: Pertama, para khalifah tidak cukup kuat untuk menundukkan pemerintah daerah. Kedua, para khalifah lebih terkonsentrasi pada pembangunan peradaban dan kebudayaan dari pada politik (termasuk perluasan daerah). Akibatnya propinsi-propinsi tertentu di pinggiran mulai melepaskan diri dari kekuasaan Dinasti Abbasiyah melalui pemberontakan yang kemudian menghasilkan kemerdekaan penuh. Yang masuk kategori ini adalah Daulah Umayyah di Spanyol dan Idrisiyah di Marokko. Sementara itu gubernur yang ditunjuk khalifah semakin bertambah kuat kedudukannya juga melepaskan diri dari Dinasti Abbasiyah, seperti Daulat Aghlabiyah di Tunisia dan Thahiriyyah di Khurasan. TABEL I di bawah ini menunjukkan diantara dinasti-nasti yang lahir dan melepaskan diri dari kekuasaan Baghdad pada masa Abbasiyah berdasarkan kategorinya, sedangkan TABEL II diindeks berdasarkan tahun kekuasaan mereka.3

1

Sepanjang pemerintahan Abbasiyah selalu dilakukan usaha-usaha untuk melepaskan diri dari cengkeraman para perwira Turki, tetapi selalu gagal. Dari dua belas khalifah pada periode kedua ini, hanya empat orang yang wafat dengan wajar, selebihnya, kalau bukan dibunuh, mereka diturunkan dari tahta dengan paksa. 2 Disintegrasi dalam bidang politik sebenarnya juga terjadi di akhir zaman Dinasti Umayyah. Perbedaan antara Dinasti Umayyah dengan Abbasiah dalam hal ini adalah bahwa wilayah kekuasaan Dinasti Umayyah, mulai dari awal berdirinya sampai masa keruntuhannya, sejajar dengan batas-batas wilayah kekuasaan Islam. Sementara kekuasaan Dinasti Abbasiah tidak pernah mendapat pengakuan di Spanyol dan seluruh Afrika Utara dan di Mesir pengakuan itu bersifat pasang surut dan umumnya bersifat nominal. 3 Badri Yatim, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, (Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006), 65-66. Philip K. Hitti, History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, (Jakarta: Serambi, 2006), 570-602. Lihat juga Taufik Abdullah, dkk. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah, (Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, t.thn), 85.

3 TABEL I DINASTI-NASTI YANG LAHIR DAN MELEPASKAN DIRI DARI KEKUASAAN ABBASIYAH DIINDEKS BERDASARKAN KATEGORI KATEGORI
Bangsa Arab

NAMA DINASTI
Idrisiyyah Aghlabiyyah Dulafiyah Alawiyah Hamdaniyyah Mazyadiyyah Ukailiyyah Mirdasiyyah

WILAYAH
Marokko Tunissia Kurdistan Tabaristan Aleppo Dan Maushil Hillah Maushil Aleppo

TAHUN BERKUASA
172-375 H/788-985 M 184-289 H/800-900 M 210-285 H/825-898 250-316 H/864-928 M 317-394 H/929-1002 M 403-545 H/1011-1150 M 386-489 H/1095 M 414-472 H/1023-1079 M 348-406 H/959-1015 M 380-489 H/ 990-1095 M 564-648 H/1167-1250 M

Bangsa Kurdi

Al-0barzuqani Abu Ali Ayubiyah

Bangsa Persia

Thahiriyyah Shafariyah Samaniyyah Sajiyyah Buwaihiah

Khurasan Fars Tarsoxania Azerbaijan Baghdad Kirman Syria Irak Dan Kurdistan Asia Kecil Mesir Turkistan Afghanistan Baghdad Spanyol Mesir

205-259 H/820-872 M 254-290 H/868-901 M 261-389 H/873-998 M 266-318 H/878-930 M 320-447 H/932-1055 M 433-583 H/1040-1187 M 487-511 H/1094-1117 M 511-590 H/1117-1194 M 470-700 H/1077-1299 M 254-292 H/837-903 M 320-560 H/932-1163 M 351-585 H/962-1189 429-522 H/1037-1127

Bangsa Seljuk

Seljuk Kirman Seljuk Syria Atau Syam Seljuk Irak Seljuk Rum Atau Asia Kecil Thuluniyyah Ikhsyidiyah Ghaznawiyyah Seljuk Besar/ Agung

Bangsa Turki

Mengaku Khalifah

Mu’awiyyah Fathimiyah

4 TABEL II DINASTI-NASTI YANG LAHIR DAN MELEPASKAN DIRI DARI KEKUASAAN ABBASIYAH DIINDEKS BERDASARKAN TAHUN BERKUASA NAMA DINASTI
Idrisiyyah Aghlabiyyah Thahiriyyah Dulafiyah Alawiyah Shafariyah Thuluniyyah Samaniyyah Sajiyyah Hamdaniyyah Buwaihiah Ikhsyidiyah Al-0barzuqani Ghaznawiyyah Abu Ali Ukailiyyah Mazyadiyyah Mirdasiyyah Seljuk Besar/ Agung Seljuk Kirman Seljuk Rum Atau Asia Kecil Seljuk Syria Atau Syam Seljuk Irak Ayubiyah Mu’awiyyah Fathimiyah Spanyol Mesir Maushil Hillah Aleppo Baghdad Kirman Asia Kecil Syria Irak Dan Kurdistan Afghanistan

WILAYAH
Marokko Tunissia Khurasan Kurdistan Tabaristan Fars Mesir Tarsoxania Azerbaijan Aleppo Dan Maushil Baghdad Turkistan

TAHUN BERKUASA
172-375 H/788-985 M 184-289 H/800-900 M 205-259 H/820-872 M 210-285 H/825-898 M 250-316 H/864-928 M 254-290 H/868-901 M 254-292 H/837-903 M 261-389 H/873-998 M 266-318 H/878-930 M 317-394 H/929-1002 M 320-447 H/932-1055 M 320-560 H/932-1163 M 348-406 H/959-1015 M 351-585 H/962-1189 380-489 H/ 990-1095 M 386-489 H/1095 M 403-545 H/1011-1150 M 414-472 H/1023-1079 M 429-522 H/1037-1127 M 433-583 H/1040-1187 M 470-700 H/1077-1299 M 487-511 H/1094-1117 M 511-590 H/1117-1194 M 564-648 H/1167-1250 M

KATEGORI
Bangsa Arab Bangsa Arab Bangsa Persia Bangsa Arab Bangsa Arab Bangsa Persia Bangsa Turki Bangsa Persia Bangsa Persia Bangsa Arab Bangsa Persia Bangsa Turki Bangsa Kurdi Bangsa Turki Bangsa Kurdi Bangsa Arab Bangsa Arab Bangsa Arab Bangsa Turki Bangsa Seljuk Bangsa Seljuk Bangsa Seljuk Bangsa Seljuk Bangsa Kurdi Mengaku Khalifah Mengaku Khalifah

Kemunduran Bani Abbas yang disebabkan oleh berbagai faktor mengakibatkan banyak daerah memerdekakan diri. Faktor-faktor tersebut antara lain: 1. Keluasan wilayah kekuasaan daulat Abbasiyah yang tidak diimbangi dengan upaya komunikasi yang baik antara pusat dengan daerah. 2. Tingkat kepercayaan dialektis para penguasa dan pelaksana pemerintahan sangat rendah. 3. Keprofesionalan angkatan bersenjata mengakibatkan tingkat ketergantungan khalifah kepada mereka sangat tinggi. 4. Kesulitan kondisi keuangan negara. 5. Perebutan kekuasaan di pusat pemerintahan. Setelah kekuasaan berada di tangan orang-orang Turki pada periode kedua, pada periode ketiga (334 h/945 – 447 h/1055 m) Daulat Abbasiyah berada di bawah kekuasaan bani Buwaih.

I PEMBENTUKAN DINASTI BUWAIHI II.

5 Periode Buwaihi dimulai pada tahun 320 H/932 M sampai tahun 447 H/1055 M. Masyarakat Buwaihi merupakan suku Dailami yang berasal dari kabilah Syirdil Awandan dari dataran tinggi Jilan sebelah selatan Laut Kaspia. Profesi mereka yang terkenal adalah sebagai tentara, khususnya infantri, bayaran. Mereka adalah penganut syiah yang dikenal kuat dan keras serta memiliki kebebasan yang tinggi. Perkenalan mereka dengan syiah diawali dengan pengungsian golongan ‘Aliyyah yang ditindas oleh Bani ‘Abbasiyah pada awal tahun 175 H/ 791 M.4 Al-Hasan ibnu Zaid (al-Dâ’î al-Kabîr/w. 270 H/884 M) seorang kalangan ‘Aliyyah menyebarkan Syi’ah di wilayah Dailam dan mendirikan sebuah kerjaaan ‘Aliyah yang independen di Dailam dan Jilan. al-Hasan ibnu Zaid emudian digantikan oleh saudaranya Abû ‘Abdullah Muhammad ibnu Zaid (al-Dâ’î ilâ al-Haq/w. 287 H/ 900 M).5 Kehadiran bani Buwaihi berawal dari tiga orang putra Abu Ayuja Buwaihi yang berprofesi sebagai pencari ikan yang tinggal di daerah Dailam, yaitu: 1. ‘Alî ibnu Bûwayh yang oleh Khalifah al-Mustakfî digelar sebagai ‘Imâd al-Daulah 2. Hasan ibnu Bûwayhi bergelar Rukn al-Daulah 3. Ahmad ibnu Bûwayhi bergelar Mu’iz al-Daulah, Sejarah mencatat bahwa Mardâwij ibnu Ziyâr al-Jîlî pendiri Dinasti Ziyâriyah, di Thabaristân dan Jurjân, bersekutu dengan Buwaihi. Persekutuan ini dimungkinkan karena Mardâwij memiliki rasa kepersiaan yang kuat sedangkan kalangan Buwaihi sendiri, khususnya Rukn al-Daulah, sangat terpengaruh dengan gagasan kepersiaannya. Karena prestasi mereka, Mardawij mengangkat ‘Ali menjadi gubernur al- Karaj, dan dua saudaranya diberi kedudukan penting lainnya. Dari al-Karaj itulah ekspansi kekuasaan bani Buwaihi bermula. Pertama-tama ‘Ali berhasil menaklukkan daerah-daerah di Persia dan menjadikan Syiraz sebagai pusat pemerintahan. Sayangnya dalam perkembangan selanjutnya Mardâwij mengandalkan pasukannya yang berkebangsaan Turki dalam kemiliteran yang akhirnya pada tahun 323 H/935 M ia dibunuh oleh anggota pasukannya sendiri. Dengan kematian Mardâwij Kalangan Buwaihi kemudian menyebar dan menyusun pasukan militernya sendiri sehingga mereka menjadi kuat dan akhirnya berhasil memiliki kekuasaan di Fârs, Kirmân, dan Khuzistân. Seiring dengan ini, kekuatan politik khalifah Abbasiyah menurun tajam dan praktis kekuasaan politik yang riil berada di tangan panglima tertinggi (amîr al-umarâ). Sepeninggalnya Mardawij, bani Buwaihi yang bermarkas di Syiraz itu berhasil menaklukan beberapa daerah di Persia seperti Ray, Isfahan, dan daerah-daerah Jabal. ‘Ali berusaha mendapat legalisasi dari khalifah Abbasiyah al-Radi Billah, dan mengirimkan sejumlah uang untuk perbendaharaan negara. Ia berhasil mendapatkan legalitas itu. Kemudian, ia melakukan ekspansi ke Irak, Ahwaz, dan Wasith. Dari sini tentara Buwaihi menuju Baghdad untuk merebut kekuasaan di pusat pemerintahan. Ketika itu, Baghdad sedang dilanda kekisruhan politik, akibat perbuatan jabatan amir al-umara antara wazir dan pemimpin militer. Para pemimpin militer meminta bantuan kepada Ahmad ibnu Buwaihi yang berkedudukan di Ahwaz. Permintaan itu dikabulkan. Ahmad dan pasukannya tiba di Baghdad pada tanggal 11 Jumadil-Ula 334 H/945 M. Ia disambut baik oleh khalifah dan langsung diangkat menjadi amir al-umara, penguasa politik negara, dengan gelar Mu’izz al-Daulah. Saudaranya, Ali, yang memerintah di bagian selatan Persia dengan pusatnya di Syiraz diberikan gelar Imad al-Daulah dan Hasan yang memerintah di bagian utara, Isfahan dan Ray, dianugerahi gelar Rukn al-Daulah. Sejak itu. Sebagaimana terhadap para pemimpin militer Turki sebelumnya, para khalifah tunduk kepada bani Buwaihi. Saat pemerintahan berada di tangan khalifah al-Radî kendali atas politik dan keamanan secara efektif berada di tangan panglima tertinggi. Sejarah mencatat bahwa pejabat panglima tertinggi silih berganti. Pada saat jabatan ini dipangku oleh Ahmad ibnu Bûwayh peletakan dasar dan pembangunan kekuasaannya dilakukan di daerah Ahwâz, Bashrah dan Wâsith dan melakukan persekutuan dengan pihak luar yakni, Barîdiyah dan Hamdâniyah. Kendali pangima tertinggi atas pemerintahan begitu kuat, sehingga pengangkatan dan pemberhentian khalifah juga berada di tangan mereka.

4 5

Pada tahun 250 H / 864 M golongan ‘Aliyah ini membangun sebuah basis perlawanan Joel L. Kraemer, Renaisance Islam, terj.Asep Saefullah, (Bandung: Mizan 2003), 63-64. Lihat juga David Morgan, Medieval Persia 1040 – 1797, (London: Longman, 1988), 21-23.

6 Kemunculan Dinasti Buwaihi yang kemudian mampu mengembangkan diri dan eksis selama 123 tahun menurut analisa Joel L. Kraemer bukanlah suatu kebetulan, ia menyatakan: Munculnya Dinasti Syi’ah yang bersamaan dengan pertumbuhan yang pesat dari sebuah kebudayaan yang sangat besar, ketika para pelaku dan penerusnya sering merupakan orang-orang Muslim non-Sunni, atau Non-Muslim, tentu bukan merupakan fenomena yang bersifat kebetulan. Pandangan luas yang telah memberikan kontribusi terhadap pertumbuhan budaya ini dapat pula dianggap berasal dari orientasi ke-Iran-an (baca: Persia) dari anggota-anggota dinasti ini dan perwakilan-perwakilannya. Penerimaan terhadap kultur Iran pra-Islam menumbuhkan sikap positif terhadap warisan dari peradaban-peradaban besar praIslam. Berbagai faktor memang mendukung kemunculan dinasti Buwaihi, antara lain: 1. Kekuasaan khalifah telah melemah dan mengandalkan panglima perangnya. Dengan demikian Irak berada di bawah kendali amîr al-umarâ 2. Perpecahan dalam Kerajaan Abbasiyah. Pada tahun 324 H/ 935 M kerajaan Islam yang berada di bawah Dinasti Abbasiyah terpecah belah menjadi kerajaan-kerajaan kecil. 3. Kemewahan hidup melanda para pembesar kerajaan dan 4. Perselisihan di masyarakat ibu kota Baghdad

IV. DINAMIKA KEAGAMAAN
Dalam hal keagamaan pada Dinasti Buwaihi, hal yang pertama muncul dalam benak adalah pertanyaan akan sekte syi’ah yang dianut oleh Buwaihi. Hal ini muncul karena berbagai sekte syi’ah sama berkembang dan mendapat dukungan penguasa. Namun demikian, diasumsikan bahwa kalangan Buwaihi menganut sekte Zaidiyyah, mengikuti keyakinan Syi’ah yang dominan di tanah kelahiran mereka. Sedangkan menteri Mu’izz Al-Daulah secara jelas mendukung Syi’ah Dua Belas Imam. Walaupun toleransi keagamaan dikembangkan oleh pemerintah – Mu’izz Al-Daulah misalnya menjalankan kebijakan konsilasi keagamaan antara Sunni dan Syi’ah – namun tetap saja terdapat riak-riak yang menggambarkan intoleransi. Ketegangan-ketegangan antar aliran memang sudah memburuk sebelum Buwaihi berkuasa. Dari sisi ini, maka tidak mengherankan jika kemunculan Buwaihi sebagai pengendali kekuasaan dinyatakan semakin mempersulit masalah. Salah satu contoh kondisi intoleransi ini adalah perampasan kekuasaan oleh golongan Sunni terhadap perkampungan Karkh yang Syi’ah yang terjadi pada musim panas tahun 338 H/949 M dan saat itu Mu’izz Al-Daulah tidak berada di ibu kota. Kerusuhan ini telah menelan banyak korban jiwa dan menyebar sampai ke perkampungan yang sebagian penghuninya adalah Syi’ah. Pada 349 H/960 M, perselisihan antar golongan ini menyebar sampai ke kedua sisi Sungai Tigris. Setahun setelah itu Al-Muhallabi melakukan tindakan untuk meredam kerusuhan tersebut dengan mengerahkan prajurit-prajurit Dailami untuk menduduki pusat kerusuhan, dan membuang beberapa orang Hasyimi yang terkemuka serta anggota-anggota milisi sipil (ahdats) ke Khuzistan dan Oman. Al-Muhallabi menunjukkan keseriusanya dalam menghadapi segala bentuk ekstremisme dari golongan Sufi dan Syi’ah. Ia memerintahkan sejumlah orang untuk dipenjarakan dan dicambuk karena memercayai divinitas Ibn Abi Al-‘Azaqir dan inkarnasi ‘Ali dan Fathimah di dalam diri seorang lelaki dan perempuan dari kelompok mereka. Berbagai fenomena sosial-keagamaan yang terjadi pada masa Buwaihi di Baghdad selama dekade kedua dan ketiga dari abad ke-10 memang ditindak keras. Tindakan-tindakan tersebut antara lain: 1. Al-Hallaj, seorang sufi-martir terkemuka, yang mengajarkan doktrin tentang peleburan dengan Tuhan dan penafsiran spriritual terhadap kewajiban-kewajiban keagamaan, termasuk haji, dihukum mati pada 922 M, dan tubuhnya digantung di salah satu tiang gantungan di Bab Al-Thaq.

7 2. Pada tahun 322 H/943 M dua orang sekretaris, Ibrahim ibn Abi ‘Aun dan Muhammad ibn ‘Ali Al-Syalmaghani (yang terakhir dikenal sebagai Ibn Abi Al-‘Azaqir), dituduh tidak bermoral, banyak melakukan bid’ah, dan memercayai divinitas mereka sendiri dicambuk, dipancung, dan digantung di tiang gantungan. Pada masa awal kemunculan Buwaihi Syi’ah Imamiyyah merupakan aliran Syi’ah yang berpengaruh di Irak dan Iran. Ajarannya secara aktif dielaborasi oleh tokoh-tokohnya yang legendaris seperti: 1. Al-Kulini (atau Al-Kulaini) yang wafat pada tahun 329 H/941 M 2. Ibn Babuya atau Babawaih yang wafat pada tahun 381 H/991 M 3. Al-Syaikh Al-Muftid – juga dikenal sebagai Ibn Al-Mu’allim – yang wafat pada tahun 413 H/1022 M. Walaupun ‘Adud al-Daulah tampaknya lebih dekat kepada Syi’ah Imamiyyah ia memiliki toleransi yang tinggi dalam hal keagamaan. Untuk menyesuaikan dengan aliran yang dianut oleh bani Abbasiyah maka ‘Adud al-Daulah mengundang Abu Bakr al-Baqillani seorang teolog ‘Asy’ari yang terkenal ke Syiraz untuk mengajari putranya. Toleransi ini bahkan sampai menghasilkan “sinkretisme”. Hal ini dapat dilihat dari kebijakannya dengan mengancam akan memperlakukan orang-orang Syi’ah Qum dan Kufah sebagai orang-orang kafir jika mereka menolak melaksanakan shalat tarawih – suatu ibadah yang ditolak oleh Syi’ah Imamiyyah. Sinar bintang syiah Imamiyah memudar pada masa pemerintahan Syaraf al-Daulah. Pada masa ini kaum Zaidiyyah tampil kembali ke posisi depan, dan kaum Zaidiyyah yang telah terdesak hingga ke Fars, kembali lagi ke Baghdad.

V.

DINAMIKA SOSIAL POLITIK

Dinamika sosial masyarakat pada dinasti Buwaihi pada tulisan ini hanya difokuskan pada penduduk Baghdad yang pada abad ke-4 H/9 M telah padat populasinya, yakni sekitar seperempat sampai setengah juta jiwa. Berbagai hal menjadi penyebab kesulitan kehidupan di kota yang padat penduduk ini, antara lain: 1. Kekurangan fasilitas 2. Pelayanan yang tidak tepat 3. Kemulti-etnik-an penduduk, khususnya keragaman komposisi orientasi keagamaan masyarakat. 4. Kekurang-efisienan administrasi perkotaan.6 Menyadari hal-hal di atas maka tidak mengherankan bila Baghdad pada pertengahan dan akhir abad ke-10 M – pada masa kejayaan Buwaihi – telah mencapai puncaknya dalam pertumbuhan kota tetapi dalam saat yang sama memasuki masa kemunduran sosial-ekonomi. Kemulti-variasi-an penduduk kota-kota Islam yang lain tampaknya juga terjadi di Baghdad. Sehingga ia bukanlah merupakan entitas perkotaan yang homogen, melainkan ia merupakan wilayah gabungan (conurbation) yang terdiri dari pemukiman-pemukiman yang memiliki karakter yang sebagian besar heterogen. Oleh karena itu, cukup beralasan untuk mengatakan bahwa Baghdad (seperti kota Islam yang lain pada umumnya) merupakan gabungan dari pemukiman dan daerah pinggiran yang terpisah-pisah, tidak memiliki otoritas atau adminisrasi perkotaan yang melingkupi seluruh bagian. Kota Bab Al-Bashra dan Al-Karkh misalnya, masing-masing kota ini adalah kota mandiri memiliki pasar sendiri dengan pelbagai keahlian dan perdagangan. Nasionalisme kota digantikan dengan nasionalisme distrik atau kelompok. Namun demikian bukan berarti kota ini selalu mengalami ketegangan yang terusmenerus. Pada masa Buwaihi dinamika Baghdad mengalami kemunduran yang pesat. Salah satunya adalah karena rusaknya fasilitas umum dan ekonomi. Sebagian kerusakan ini adalah warisan dari masa sebelumnya. Salah satu contoh adalah pertentangan-pertentangan di kalangan perwira-perwira tinggi yang telah terjadi sebelum kedatangan Buwaihi sepenuhnya telah menghancurkan kanal-kanal irigasi yang tentu saja berdampak pada instabilitas ekonomi.
6

M.A. Shaban, Islamic History: A New Interpretation, jilid 2, (Cambridge: Cambridge University Press, 1990), 162165.

8 Setiap periode pemerintahan Buwaihi berusaha menghentikan derasnya kemunduran kota tetapi tidak terlalu berhasil. Pada masa Mu’izz al-Daulah misalnya, ia berusaha memperbaiki beberapa kanal di Bâdûrayâ, berusaha menciptakan kondisi kehidupan yang lebih menyenangkan. tetapi pengerahan pelbagai usaha perbaikan ini diikuti oleh masa kelalaian, yang selama masa tersebut, kanal-kanal yang mengairi Baghdad tidak bisa dipergunakan lagi. Ini sampai ‘Adhud Al-Daulah naik tahta sampai kemudian ia berupaya membersihkan kanal-kanal tersebut dan memperbaiki jembatan-jembatan serta beberapa pintu air. Kewaspadaannya juga tidak berlangsung lama sehingga kanal-kanal tetap dalam keadaan menyedihkan dalam seluruh periode Buwaihi. Ketakutan akan kemerosotan sosial-ekonomi berbanding terbalik dengan pembangunan istana. Pembangunan istana digalakkan dengan penuh semangat. Pemerintahan Buwaihi memiliki semangat yang menggebu dalam menjalankan program pembangunan kerajaan. Mu’izz Al-Daulah, pada 350H/961 M, mendirikan sebuah istana yang besar (Dar Al-Mu’iziyyah [Istana Keluarga Mu’izz]) di Pintu Gerbang Syammasiyyah, termasuk lapangan upacara yang luas (maidan), dermaga, dan taman-taman. Biaya pembangunan yang dilakukan secara besar-besaran ini diperkirakan mencapai 12 juta atau 13 juta dirham (sekitar 1 juta dinar). Adhud Al-Daulah membangun sebuah istana (‘Adhudi Dar Al-Mamlakah [Istana Kerajaan ‘Adhud Al-Daulah]). Ia membangun taman-taman yang sangat indah dan mengeluarkan biaya yang sangat besar guna melengkapi ketersediaan sarana dan prasarana untuk menyirami taman-taman tersebut dengan mengalirkan air dari Kanal Khalish memakan biaya sekitar 10 juta dirham. Ia juga membangun rumah sakit terkenal yang disebut Bimaristan Al-‘Adhudi (Rumah sakit ‘Adhud Al-Daulah) (372 H/982 M). Sementara periode Buwaihi yang bagi Baghdad (dan provinsi-provinsi lain) merupakan salah satu dari kemakmuran budaya, secara bersamaan merupakan masa kemunduran ekonomi dan kegelisahan sosial. Mungkin bisa dikatakan, dalam konteks menghormati kekuasaan Buwaihi, bahwa proses kemerosotan kota sebenarnya telah terjadi sebelum kemunculan mereka dalam mengendalikan kekuasaan. Seseorang hanya dapat menyalahkan mereka karena mereka tidak mencegahnya, atau karena malah mempercepatnya, sebagaimana kenyataan yang terjadi mungkin memang demikian. Persoalan-persoalan yang dihadapi oleh para pemegang otoritas kekuasaan di Baghdad sangat bertumpuk. Kemampuan manajerial yang tinggi menjadi tuntutan yang harus dipenuhi guna membenahi kota seperti Baghdad ini, dengan makanan dan suplainya yang memadai, guna mempersiapkan fasilitas-fasilitas irigasi dan sanitasi yang tepat, serta guna mengendalikan ketegangan-ketegangan sosial dan keagamaan. Raja-raja memerlukan dana yang sangat besar untuk membiayai usaha mereka yang ambisius. Konsep politik dinasti Buwaihi adalah bentuk kekuasaan bersama Abbasiyyah-Syi’ah, sedangkan bentuknya adalah patrimonial dan kekeluargaan. Oleh sebab itu pola kepemimpinan tiga pemimpin Buwaihi yang pertama dipererat oleh ikatan-ikatan persaudaraan dari para pendirinya.7 Prinsip kekeluargaan ini dapat dilihat dari kebiasaan mendahulukan yang lebih tinggi dan menghormati yang lebih tua. Orientasi “ke-Iran-an” dari Buwaihi sangat jelas, terutama dalam bidang politik. Sementara Samaniyyah membangkitkan gairah kesusastraan Persia dan sebagai yang bertanggung jawab atas kebangkitan kembali (reinasans) kebudayaan Iran, Buwaihi memimpin kelahiran kembali ideologi politik Iran.8 Dinasti Buwaihi yang bertahan selama 123 tahun dapat dibagi ke dalam tiga periode, yaitu: 9 1. Periode pertama sebagai periode konsolidasi kekuasaan yang dilakukan oleh ‘Alî ibnu Bûwayh (‘Imâd al-Daulah), Hasan ibnu Bûwayhi (Rukn al-Daulah), Ahmad ibnu Bûwayhi (Mu’iz al-Daulah) dan kemudian diteruskan oleh keturunan mereka, Bakhtiyar (putra Mu’izz Al-Daulah) dan ‘Adhud Al-Daulah (putra Rukn Al-Daulah). Karena ‘Imad Al-Daulah tidak mempunyai anak, di Fars ia digantikan oleh kemanakan lelakinya, ‘Adud Al-Daulah.
7 8

Namun pada generasi kedua dan ketiga solidaritas kekeluargaan (fanatisme) yang pertama ini semakin berkurang. Vladimir Minorsky mengistilahkan kemunculan dinasti Buwaihi, dinasti Samaniyyah, penguasa Khurasan dan Transoxania sebagai The Iranian Intermezzo (selingan bangsa Iran) dalam sejarah Islam. Joel L. Kraemer, Renaisance, 71. 9 Joel L. Kraemer, Renaisance, 71.

9 2. Periode kerajaan dimulai dengan keberhasilan ‘Adud Al-Daulah meraih kekuasaan di Baghdad, dan terus berlangsung selama masa pemerintahan putra-putranya, Sham-sham AlDaulah (983-87), Syaraf Al-Daulah (987-89), dan Baha’ Al-Daulah (989-1012). Saudara ‘Adhud Al-Daulah, Mu’ayyid Al-Daulah, menggantikan ayahnya di Jibal (Rayy dan Ishfahan). Pada gilirannya, ia kemudian digantikan oleh saudaranya yang lain, Fakhr AlDaulah. 3. ‘Adhud Al-Daulah adalah Raja Buwaihi yang paling terkemuka, yang pada masa pemerintahannya kerajaan mencapai kekuasaannya yang paling besar dan luas meskipun kesatuan yang telah dia bangun menjadi terpecah-pecah setelah kematiannya, percekcokan di antara putra-putranya merupakan gejala kemunduran yang baru dimulai. Meskipun Bani Abbas beraliran sunni dan Buwaihi adalah Syi’ah, namun penguasa Buwaihi tidak berusaha menghapuskan kekhalifahan ‘Abbasiyyah. Tentu saja kebijakan ini didasarkan pada pertimbangan-pertimbangan praktis, yaitu: 1. Mayoritas penduduk Baghdad dan Irak pada umumnya Sunni oleh sebab itu mereka harus mampu menjaga keseimbangan yang sulit antara sentimen Syi’ah di satu pihak dan tekanan Sunni di pihak lain. 2. Buwaihi memerlukan media legislasi atas kekuasaannya dari otoritas khalifah Abbasiah yang tersebar luas di Irak dan di dunia Islam umumnya. 3. Dukungan formal khalifah Abbasiyah diperlukan untuk mendapatkan dukungan dari Bani ‘Aliyyah yang sah. Oleh sebab itu kekhalifahan Abbasiyah tetap dijaga namun roda pemerintahan berada sepenuhnya di tangan Buwaihi. Atau dengan kata lain, khalifah memegang otoritas spiritual tanpa kekuasaan temporal yang riil. Kekuasaannya telah digeser oleh wazir sehingga pengaruhnya hanya terbatas pada pembuataan kebijakan-kebijakan keagamaan berkenaan dengan golongan Sunni di Baghdad dan pengawasan terhadap beberapa urusannya sendiri (yang terbatas). Secara fisik administratif dapat dinyatakan bahwa pergeseran kekuasaan dari khalifah kepada amir adalah pemusatan kontrol politik dan administrasi dari Istana Kekhalifahan (Dar Al-Khilafah) ke Istana Kerajaan (Dar Al-Mamlakah) yang baru saja didirikan di Baghdad. Buwaihi sadar sepenuhnya bahwa berdasarkan hukum syari’ah khalifah berkewajiban memimpin jihad dan membela kaum Muslim. Oleh sebab itu Buwaihi tidak menanggalkan hak prerogratif khalifah ini, tetapi untuk membatasi kekuasaan khalifah dalam hal ini mereka tidak memberikan akses kepada khalifah terhadap sarana-sarana dan sumber-sumber dalam melakukan hak tersebut. Sementara itu pembagian kekuasaan di antara amir (raja) dan khalifah tidak mengandung pengertian adanya pemisahan yang tajam antara bidang-bidang keduniaan dan keagamaan.

VI. DINAMIKA INTELEKTUAL
Sebagaimana dinamika aspek kehidupan masyarakat Buwaihi yang lain, dinamika intelektualnya juga mayoritas dipromotori oleh individu-individu maupun lembaga-lembaga yang secara sukarela dan mandiri berkecimpung dalam bidang-bidang tertentu. Paparan berikut ini akan mengetengahkan individu-individu dan lembaga-lembaga yang beperan dalam dinamika intelektual. Salah satu lembaga keilmuwan yang hidup pada masa ini adalah Lembaga pendidikan Yahya ibn ‘Adi. Yahya ibnu ‘Adi yang Nama lengkapnya adalah Abu Zakariya Yahya ibnu ‘Adi ibnu Hamid ibnu Zakariya al-Takriti al-Manthiqi adalah seorang penganut Kristen Jakobis yang lahir di kota Takrit pada tahun 893 M dan meninggal pada 13 Agustus 974 M. 10 Yahya ibnu ‘Adi mengabdikan seluruh hidupnya dalam profesinya sebagai penyalin naskah, suatu profesi yang diturunnya dari ayahnya. Ia merupakan pencinta ilmu pengetahuan dan selalu berupaya menyalin berbagai manuskrip termasuk kedokteran yang tidak pernah dipraktekkannya. Ia merupakan filosof yang memandang bahwa filsafat adalah sebuah teologi kelasik. Ia memfokuskan diri pada filsafat al-FArabi mengenai agama yang memandang motif-motif keagamaan sebagai simbolsimbol kebenaran filsafat. Baginya gagasan teologis adalah perwujudan dari kebenaran filsafat.
10

Joel L. Kraemer, Renaisance, 155-157.

10 Lembaga ini berkonsentrasi pada bidang filologi dengan akrtifitas-aktifitas penyalinan, penerjemahan, penyuntingan teks-teks filsafat dan ilmu-ilmu pengetahuan kuno. Pembelajaran dilakukan secara kelompok dengan metode diskusi dan ceramah atas materi teks dari sisi filsafat tanpa memfokuskan pada aliran-aliran tertentu. Pada masa pemerintahan Adud al-Daula (di Syiraz 949-978 dan di Baghdad 978-983) Fars dan Iraq diliputi oleh kedamaian dan keamanan sehingga perkembangan kebudayaan mencapai puncaknya. Adud al-Daula sendiri merupakan orang yang mencintai ilmu pengetahuan. Ia pernah memberikan bea siswa sebesar 50.000 dirham bagi orang-orang yang mampu menguasai tata bahasa yang disusun oleh Abû ‘Alî. 11 Salah satu guru Adud al-Daula adalah seorang sufi ‘Abd al-Rahman penulis buku “al-Kitâb al-Kawâkib al-Tsâbitah”. Perhatiannya dalam ilmu pengetahuan juga diwujudkan dengan membangun perpustakaan yang luas di istananya di Syîrâz dengan koleksi berbagai cabang ilmu pengetahuan. Penempatan dan penklasifikasian buku-buku disesuaikan dengan bidang ilmu pengetahuan masing-masing. Perpustakaan hanya dapat diakses oleh mereka yang menguasai ilmu pengetahuan. Kontribusi penting dalam periode Adud al-Daula adalah perkembangan astronomi, matematika, dan kedokteran. 1. Dalam bidang astrologi dan astonomi dikenal ilmuwan-ilmuwan seperti : a. Syarif ibnu al-A’lam yang telah menciptakan beberapa tabel astronomi yang telah digunakan selama tiga ratus tahun. Adud al-Daula sendiri selalu berkonsultasi dengannya untuk rencana danprogram-programnya. b. Abu al-Qâsim ‘Ubaid Allâh yang juga menulis beberapa buku tentang astronomi dan astrologi. c. Abdul Fadl Ja’far seorang astrolog yang merupakan anak khalifah al-Muktafî. 2. Dalam bidang matematika dikenal antara lain: a. Abu al-Qâsim al-Anţâkî. Karyanya antara lain adalah menulis uraian Euclid12 dan buku-buku aritmatika termasuk metode-metode perhitungan aritmatika berikut: • Metode India dalam berhitung • Menghitung dengan jari tanpa pengurangan • Menghitung dengan jari tanpa media • Buku tentang kubus13 b. Abû Nasr al-Kalwàdzâni yang juga menulis metode berhitung sistem India 3. Dalam bidang kedokteran berbagai buku telah diterbitkan, sekolah-sekolah kedokteran juga didirikan disekitar rumah sakit. Adud al-Daula juga mendirikan organisasi kedokteran yang dipimpin oleh Jibrâ’îl ibnu ‘Abdullah ibnu Bakhtîsyû’ yang diberi gaji sebesar tiga ratus syajâ’î (‘adudi) dirham per dwi bulan ditambah tiga ratus dirham sebagai tunjangan profesi. Jibrâ’îl dikenal atas karyanya dalam bidang kedokteran atas terkenal thesisnya al-Kâfi yang salah satu copy-nya dipersembahkannya di Dâr al-‘Ilmi di Baghdâd. 14 Salah seorang ahli dalam bidang ini adalah ‘Alî ibn al-Abbâs al-Majûsî yang dikenal di Barat sebagai Hâly ‘Abbâs yang mengkompilasi ensiklopedia kedokeran Adudî Kunnâsy (juga dikenal sebagai Kitâb al-Mâliki atau dalam bahasa Latin Liber Regius) 15 4. Dalam bidang kesusasteraan merupakan bidang yang sangat tinggi pencapaiannya pada masa Buwaihi, khususnya kesusasteraan Arab. Ilmuwan-ilmuwan sastra pada masa ini antara lain:
11

Mafizullah Kabir, “Cultural Development Under The Buwaihids of Baghdad” dalam Journal of the Asiatic Society of Pakistan, 1, No. 1, (1956), 27.
12

Euclid adalah buku yang banyak diterjemahan dan dipublikasikan serta dikaji di dunia Barat sementara tentang pengarangnya sendiri hampir tidak diketahui. Tecatat bahwa penulisnya mengajar di sekolah matematika di Alexandria, Mesir pada masa pemerintahan Ptolemy I Soter pada tahun 323 sampai 283 M. Diduga bahwa ia bukan menduduki posisi pertama dalam matematika tetapi ia menduduki posisi pertama sebagai guru geometri dan aritmatika. Teorinya tetap tak tertandingi lebih dari 2000 tahun, baru setelah pertengahan abad 19 dikenal teori geometri non Euclidian. Lihat Compton’s Interactive Encyclopedia. Copyright © 1994, 1995 Compton’s NewMedia, Inc.
13 14 15

Mafizullah Kabir, “Cultural, 27. Mafizullah Kabir, “Cultural, 27. Mafizullah Kabir, “Cultural, 31.

11 Ibrâhîm al-Şâbi merupakan salah satu pujangga prosa terbaik pada masanya. Ia merupakan Şahib Diwân al-Insyâ yang ditunjuk pada masa Mu’izz al-Daula. 5. Dalam bidang sejarah dikenal Abû ‘Alî Miskawayh dengan karya monumentalnya Tajârib al-‘Umam. Saat ini yang dapat diakses dari karya ini hanya bagian tahun 295 H dan 369 H.16 Kelebihan Abû ‘Alî Miskawayh dalam sejarah adalah kemampuannya menggambarkan karakter objek-objek sejarah dengan sempurna. Setelah Adud al-Daula meninggal ia digantikan oleh dua putranya Şamşâm al-Daula dan Syaraf al-Daula. Syaraf al-Daula juga berperan sebagai pelindung ilmu pengetahuan. Ia mendirikan perpustakaan di Syîrâz saat ia masih menjabat sebagai gubernur di Fârs. Ia memiliki perhatian yang tinggi dalam bidang astronomi. Tidak mengherankan jika ia membangun observatorium di taman istananya di Baghdad untuk mengobservasi perubahan zodiak.17 Observaotium ini manajemennya diserahkan kepada Abû Sahl Rustum al-Kûhî seorang ahli astronomi tetapi juga menguasai matematika. Dia melakukan dua eksperimen mengagumkan terhadap matahari yang kemudian ia jadikan teori skala dan Crab (?).18 Dalam bidang matematika ilmuwan yang sangat dikenal saat itu adalah Abu al-Wafâ Muhammad al-Buzjânî.19 Ia menulis uraian tentang karya aljabar al-Khawarizmi, Diophantos20, Euclid (tidak terselesaikannya). Karyanya yang lain adalah (1) tabel astronomi al-Zij al-Wâdih, (2) manual aritmatika yang diperuntukkan bagi petugas pajak, (3) Kitâb al-Kâmil yang menurut George Sarton adalah versi sederhana dari Almagest.21 Dalam periode pemerintahan Bahâ’ al-Daula dari tahun 989 M sampai 1012 M semangat kebudayaan pendahulunya pada kadar tertentu tetap terpelihara walaupun tidak dalam perlindungan penguasa. Pada masa ini stabilitas negara sangat lemah untuk melakukan perlindungan kebudayaan dan keilmuwan. Namun demikian tetap juga muncul beberapa ilmuwan yang berkualitas tinggi. Dalam bidang sastra muncul: (1) Wazîr Abû Naşr Ibnu Ardasîr yang puisi-puisinya banyak mendapat perhatian kalangan sastrawan Iraq. (2) Syarîf Abu alHasan al-Radî yang dikenal sebagai pujangga terbaik dari suku Quraisy. Dalam lapangan ilmu pengetahuan hal penting yang terjadi pada masa ini adalah pendirian Dâr al-‘Ilm oleh Wazîr Sâbûr pada tahun 383 H/993 M di Karkh yang berfungsi sebagai pusat belajar. Di Dâr al-‘Ilm disediakan katalog dan terdapat 10.400 koleksi buku, ratusan koleksi al-Qur’an, autograph beberapa ilmuwan. Di era wazir Fakhr al-Muluk Abu Ghâlib muncul sastrawan Mihyâr ibnu Marwaih alDaylamî. Dalam bidang matematika dikenal Muhammad ibnu al-Hasan al-Karakhî yang menyusun kitab aljabar al-Fakhrî (dipersembahakan untuk menghormati Fakhr al-Muluk Abu Ghâlib) dan karya aritmetikanya al-Kâfi. Dalam bidang sejarah dikenal Hilâl al-Şâbî.

16 17

Mafizullah Kabir, “Cultural, 35. Mafizullah Kabir, “Cultural, 38. 18 Mafizullah Kabir, “Cultural, 38. 19 George Sarton menamakan periode al-Buzjânî sebagai periode perkembangan sains pada paruh kedua abad kesepuluh.George Sarton (1884-1956) adalah ilmuwan yang lahir di Ghent, Belgia. Pindah ke U.S. pada tahun 1915, dan menjadi warga negara US pada tahun 1924. Ia seorang dosen Sejarah Sains di universitas Harvard pada tahun 1916-1918 dan, 1920-1940 kemudian menjadi professor pada tahun 1940-1951. Lihat Compton’s Interactive Encyclopedia. Copyright © 1994, 1995 Compton’s NewMedia, Inc. 20 Diophantos (Diophantus) adalah ahli matematika pada masa Yunani yang diperkirakan hidup sekitar tahun 250 M. ia dikenal dengan sebutan Bapak Aljabar. Lihat Compton’s Interactive Encyclopedia. Copyright © 1994, 1995 Compton’s NewMedia, Inc. 21 Almagest adalah karya astronomi oleh Ptolemy (Claudius Ptolemaeus) yang terdiri dari 13 buku mengetengahkan teori bahwa objek-objek menakjubkan mengitari bumi. Teori ini dinyatakan sebagai dasar bagi astronomi sampai masa Copernicus. Lihat Compton’s Interactive Encyclopedia. Copyright © 1994, 1995 Compton’s NewMedia, Inc.

12

LITERATUR
Abdullah, Taufik, dkk. Ensiklopedi Tematis Dunia Islam: Khilafah, Jakarta: Ichtiar Baru Van Hove, t.thn. Bosworth, Clifford Edmund, The Islamic Dynasties, Edinburgh: Edinburgh University Press, 1980. Compton’s Interactive Encyclopedia. Copyright © 1994, 1995 Compton’s NewMedia, Inc. Hitti, Philip K., History of the Arabs, terj. R. Cecep Lukman Yasin dan Dedi Slamet Riyadi, Jakarta: Serambi, 2006 Kabir, Mafizullah, “Cultural Development Under The Buwayhids of Baghdad” dalam Journal of the Asiatic Society of Pakistan, 1, No. 1, 1956 Kraemer, Joel L., Renaisance Islam, terj.Asep Saefullah, Bandung: Mizan 2003 Morgan, David, Medieval Persia 1040 – 1797, London: Longman, 1988. Shaban, M.A., Islamic History: A New Interpretation, jilid 2, Cambridge: Cambridge University Press, 1990. Yatim, Badri, Sejarah Peradaban Islam: Dirasah Islamiyah II, Jakarta: RajaGrafindo Persada, 2006.