FAKTOR-FAKTOR YANG MEMPENGARUHI PERMINTAAN UANG DI INDONESIA PERIODE 2002-2012 DWIKA JULIA MUTIARA Mahasiswa Jurusan

Ilmu Ekonomi dan Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email : mutiara.julia@rocketmail.com Pembimbing Tony S Chendrawan, ST., SE., M.Si ABSTRACT

Based on the research results, this study used secondary data and quantitative research using time series method, and the method used is multiple linear regression (Multiple Regression) by means of SPSS 17.0. This analysis aimed to determine the effect of independent variables on the dependent variable. Based on the model of summery, Demand Money (Y) is affected by the variables of 99.3% of National Income (X1) and inflation (X2), while the rest (100% -99.3% = 0.7%) is explained by other factors. So the correlation of national income and inflation on money demand is very strong. yyyyyyyyyyyyyyy F test results explained that the national income and inflation and significant effect on the demand for money. This is explained by the level of significance of 0.000 with a confidence level of 5%

Keyword: Nasional Income, Inflation

1. PENDAHULUAN Perkembangan perekonomian dunia dewasa ini ditandai dengan semakin terintegrasinya perekonomian antar negara. Indonesia mengikuti perkembangan tersebut melalui serangkaian deregulasi keuangan dan perbankan yang di mulai tahun 1983. Implikasi dari deregulasi tersebut adalah semakin meningkatnya integrasi dan interaksi antar berbagai unsur ekonomi yang menyebabkan struktur ekonomi menjadi dinamis dan kompleks. Struktur ekonomi yang kompleks akan merubah perilaku pelaku ekonomi yang diindikasikan dengan munculnya berbagai fenomena yang relatif baru bagi perekonomian Indonesia Selain itu, terlihat pula gejala merenggangnya hubungan antar variabel makro ekonomi. Kondisi ini pada akhirnya akan mempersulit otoritas moneter untuk mengambil keputusan dalam manajemen moneternya. Di Indonesia, kebijakan moneter sepenuhnya diserahkan kepada otoritas moneter yaitu Bank Indonesia. Dalam hal ini, jumlah uang beredar merupakan alat yang digunakan oleh Bank Indonesia dalam menetapkan kebijakan moneter. Jumlah uang beredar dipengaruhi oleh berapa besarnya jumlah uang kartal, jumlah tabungan masyarakat dan jumlah uang kuasi. Analisis jangka panjang dengan pendekatan yang relatif tentang permintaan uang terutama uang kuasi, yang didefenisikan sebagai aset moneter yang memiliki likuiditas tinggi, namun secara langsung tidak dapat berfungsi sebagai medium of exchange. Yang termasuk dalam kategori uang kuasi adalah deposito berjangka baik dalam bentuk rupiah maupun dalam bentuk valuta asing. Jumlah uang kuasi di suatu negara dipengaruhi banyaknya faktor-faktor antara lain kebijakan pemerintah, politik, dan keamanan. Selain itu faktor-faktor yang mempengaruhi adalah tingkat suku bunga, tingkat pendapatan nasional dan perubahan-perubahannya, jumlah uang yang beredar, inflasi, ekspektasi mengenai

keadaan ekonomi masa depan, tingkat keuntungan yang diramalkan akan diperoleh, dan keuntungan yang diperoleh perusahaan. Ekonomi indonesia saat ini optimis pertumbuhan ekonomi yang meningkat.dengan pertumbuhan dan pendapatan nasional yang semakin meningkat kita dapat melihat perkembangan dan kemajuan kita pada negara lain. dengan pendapatan nasional per tahun indonesia mampu memberikan kemajuan.ekonomi makro yang sangat berpengaruh dalam pertumbuhan ekonomi saat ini. Salah satu pertumbuhan ekonomi itu dapat dilihat dengan permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi. Permintaan domestik masih akan menjadi penopang utama kinerja perekonomian. Selain itu, ekspor dan impor, serta investasi, juga akan tumbuh pesat. Indonesia sudah melalui tantangan yang di 2010. Dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik di tahun lalu, yakni 6,1 persen, akan mempermudah mencapai target pertumbuhan di 2011. Meski demikian, inflasi tinggi masih akan menjadi tantangan serius di tahun ini. Inflasi Idonesia cenderung turun dalam lima tahun terakhir. Hal itu didukung oleh penurunan inflasi inti dan membaiknya inflasi harga bahan pangan. Perkembangan inflasi atau Indeks Harga Konsumen dalam lima tahun terakhir menunjukkan tren yang menurun. Turunnya angka inflasi, didukung oleh menurunnya inflasi inti dari sekitar 6 persen pada awal 2007 menjadi 4-5 persen pada tahun 2012. Lalu, inflasi harga bahan pangan atau volatile food, pun membaik. Dari angka sekitar 12 persen Pada tahun 2010, perkembangan permintaan terhadap M2 (Deposito, tabungan dan giro) mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 1,856,720 miliyar dengan jumlah persentase sebesar 14,46 % dan pada 2010 terjadi krisis ekonomi di eropa dan berpengaruh pada perekonomian global, kondisi itu sangat berdampak terhadap Negara-Negara berkembang salah satunya Indonesia yang sangat bergantung pada lembaga bank dunia dan IMF. Pada saat itu menunjukkan laju inflasi Indonesia sebesar 6,96. pendapatan nasional sebesar 8,412,617.54 juta dengan jumlah persentase sebesar 6,27 %

pada tahun 2007 sekarang menjadi sekitar 7 persen.Turunnya inflasi tersebut merupakan suatu pencapaian kinerja yang dapat dibanggakan. Hal itu tidak terlepas dari peran aktif Pemerintah Daerah dalam menjaga stabilitas harga. Peran Pemerintah Daerah sangat penting karena kontribusi daerah di luar Jakarta dalam pembentukan inflasi nasional sangat besar mencapai 77 persen dari seluruh angka inflasi nasional. Berdasarkan data statistik jumlah perkembangan permintaan uang (uang kuasi), inflasi dan pendapatan nasional di Indonesia mengalami pertumbuhan yang cukup bervariasi. Perkembangan jumlah uang kuasi, inflasi dan pendapatan nasional di Indonesia dalam kurun waktu 2010 hingga tahun 2012 dapat dilihat pada Tabel 1 TABEL 1

Pada tahun 2011 indonesia berhasil mengantisipati krisis ekonomi yang terjadi di dunia dengan kondisi ekonomi yang stabil laju inflasi pada tahun 2011 sebesar 3,78. Pada tahun 2011, perkembangan permintaan terhadapuang kuasi (M2)) mengalami kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 2,139,840 miliyar dengan kenaikan jumlah persentase sebesar 15,24 % dan Pada tahun 2011 indonesia berhasil mengantisipati krisis ekonomi yang terjadi di dunia dengan kondisi ekonomi yang stabil laju inflasi pada tahun 2011 sebesar 3,79. dengan kenaikan pendapatan nasional sebesar 9,025,532.92 juta dengan jumlah persentase sebesar meningkat 7,28 % dari tahun sebelumnya. Pada tahun 2012, perkembangan permintaan terhadap uang kuasi di Indonesia mengalami

kenaikan dari tahun sebelumnya yaitu sebesar 2,452,503 miliyar dengan jumlah persentase sebesar 14.61 % dan diikuti dengan kenaikan inflasi sebesar 4.3% yang pada tahun sebelumnya sebesar 3.79%. sementara itu, pendapatan nasional sjuga mengalami kenaikan sebesar 9,490,533.09 juta dengan jumlah persentase sebesar 14,46 % Di Indonesia, jumlah permintaan uang tiap tahunnya selalu mengalami perubahan. Terutama pada jumlah uang kuasi, yang meliputi tabungan, giro dan deposito baik yang dalam bentuk rupiah maupun dalam bentuk Atas dasar itulah, judul yang diangkat dalam penelitian ini adalah Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang Di Indonesia Priode 2002-2012 2. KERANGKA TEORITIS DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1 PENDAPATAN NASIONAL Pendapatan Nasional adalah suatu angka/nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran ataupun pendapatan yang dihasilkan dari semua pelaku atau sektor ekonomi dari suatu negara dalam kurun waktu tertentu. Pendapatan Nasional (produk nasional) adalah nilai barang-barang atau jasa yang dihasilkan suatu negara dalam suatu tahun tertentu. Pendapatan nasional pada harga berlaku adalah pendapatan negara yang dihitung menurut harga-harga pada tahun produksi nasional yang dihitung. Pendapatan nasional riil atau menurut harga tetap adalah pendapatan nasional yang dihitung pada harga-harga disuatu tahun tertentu yang berbeda dengan tahun dimana produksi nasionalnya dihitung. Pertumbuhan suatu ekonomi dapat diukur melalui pendapatan nasional pada suatu negara. Pendapatan nasional sering dipergunakan sebagai indikator ekonomi dalam hal : - Menentukan laju tingkat perkembangan atau pertumbuhan perekonomian suatu negara. - Mengukur keberhasilan suatu negara dalam mencapai tujuan pembangunan ekonominya. - Membandingkan tingkat kesejahteraan masyarakat suatu negara dengan negara lainnya. 1. Teori Keynes Keynes berpendapat faktor utama yang akan menentukan prestasi kegiatan ekonomi suatu negara adalah pengeluaran

valuta asing. Dengan adanya kenaikan dan penurunan jumlah uang kuasi tersebut, mengakibatkan terjadinya fluktuasi terhadap kondisi likuiditas perekonomian Indonesia. Jumlah uang beredar diluar kendali dapat menimbulkan konsekuensi atau pengaruh yang buruk bagi perekonomian secara keseluruhan. Konsekuensi atau pengaruh yang buruk dari kurang terkendalinya jumlah uang beredar tersebut antara lain dapat dilihat pada kurang terkendalinya perkembangan variable-variabel ekonomi utama, yaitu tingkat produksi (output) dan harga. agregat yaitu perbelanjaan masyarakat keatas barang dan jasa. Dan Keynes berpendapat bahwa dalam sistem pasar bebas penggunaan tenaga kerja penuh tidak selalu tercipta dan diperlukan usaha dan kebijakan pemerintah untuk mencapai tingkat penggunaan tenaga kerja penuh dan pertumbuhan ekonomi yang teguh. Karena pengeluaran agregat (permintaan agregat) akan menentukan tingkat kegiatan sesuatu perekonomian dalam satu periode tertentu dan pendapatan nasional / produksi nasional yang akan tercipta. 2.2 INFLASI Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus dalam waktu yang panjang. Harga barang yang ada mengalami kenaikan nilai dari waktu-waktu sebelumnya dan berlaku dimana-mana dan dalam rentang waktu yang cukup lama dampak sosial dari Inflasi dapat menyebabkan gangguan pada stabilitas ekonomi di mana para pelaku ekonomi enggan untuk melakukan spekulasi atau Investasi dalam perekonomian. Di samping itu inflasi juga dapat memperburuk tingkat kesejahteraan masyarakat akibat menurunnya daya beli masyarakat secara umum akibat hargaharga yang naik. Inflasi terjadi karena ada dua faktor yaitu pertama Tarikan permintaan atau kelebihan likuiditas/uang/alat tukar yang biasa kita sebut sebagai demand pull inflation. Inflasi ini terjadi akibat adanya permintaan agregat yang berlebihan, hal ini biasanya dipicu oleh banyaknya likuiditas di pasar sehingga terjadi permintaan yang tinggi dan memicu perubahan pada tingkat harga. Bertambahnya volume alat

tukar atau likuiditas yang terkait dengan permintaan terhadap barang dan jasa mengakibatkan bertambahnya permintaan terhadap faktor-faktor produksi tersebut. Meningkatnya permintaan terhadap faktor produksi itu kemudian menyebabkan harga faktor produksi meningkat. Kedua tekanan biaya produksi /distribusi (cost push inflation) Inflasi ini terjadi akibat adanya kenaikan biaya agregat karena kelangkaan produksi dan/atau juga termasuk adanya kelangkaan distribusi, walau permintaan secara umum tidak ada perubahan yang meningkat secara signifikan. Adanya ketidaklancaran aliran distribusi ini atau berkurangnya produksi yang tersedia dari ratarata permintaan normal dapat memicu kenaikan harga sesuai dengan berlakunya hukum permintaan-penawaran, dan juga karena terbentuknya posisi nilai keekonomian yang baru terhadap produk tersebut akibat pola atau skala distribusi yang baru. 1. Teori Inflasi Klasik Teori ini berpendapat bahwa tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti apabila relalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka solusinya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit. Pendapat Klasik tersebut lebih jauh dapat dirumuskan sebagai berikut : Inflasi = f(jumlah uang beredar, kredit) 2. Teori Inflasi Keynes Teori ini mengasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap tingkat permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk

investasi dan akan melunakkan tekanan inflasi. Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besar-besaran dalam kapital sosial. Dengan demikian pemikiran Keynes tentang inflasi dapat dirumuskan menjadi : Inflasi = f(jumlah uang beredar, pengeluaran pemerintah, suku bunga, investasi) 3. Teori Kuantitas Teori yang menganalisis peranan dari Jumlah uang beredar, dan ekspektasi masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga (peranan psikologis). Menurut teori ini, pertambaham volume uang yang beredar sangat dominan terhadap kemungkinan timbulnya inflasi. Kenaikan harga yang tidak dibarengi dengan pertambahan jumlah uang beredar sifatnya hanya sementara. Dengan demikian menurut teori ini, apabila jumlah uang tidak ditambah, kenaikan harga akan berhenti dengan sendirinya. Ekspektasi masyarakat mengenai kemungkinan kenaikan harga (peranan psikologis). Berdasarkan teori ini, walaupun jumlah uang bertambah tetapi masyarakat belum menduga adanya kenaikan, maka pertambahan uang beredar hanya akan menambah simpanan atau uang kas karena belum dibelanjakan. Dengan demikian harga barang-barang tidak naik. Jika masyarakat menduga bahwa besok bahwa dalam waktu dekat harga barang akan naik, masyarakat cenderung membelanjakan uangnya karena khawatir akan penurunan nilai uang, sehingga akan memicu inflasi.

2.3 PERMINTAAN UANG Pengertian permintaan uang dapat didefinisikan sebagai keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan (Sadono Sukirno:2000). Dalam kajian mengenai teori permintaan uang, ada beberapa golongan yang berpendapat.

1. Teori Klasik, golongan ini menganggap bahwa uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, suku bunga, kesempatan kerja dan pendapatan nasional. Uang hanya berpengaruh terhadap harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja, sedangkan jumlah output yang dihasilkan tidak berubah. Teori permintaan uang Klasik dikenal dengan teori kuantitas uang yang dirumuskan oleh Irving Ficher dan dikembangkan oleh Marshall. 2. Teori moneter Keynesian Teori ini menyatakan bahwa tingkat bunga sangat berpengaruh terhadap perilaku masyarakat untuk memilih memegang uang tunai atau surat-surat berharga. Penekanan faktor tingkat bunga terhadap keinginan memegang uang inilah yang memungkinkan analisis permintaan uang sebagai alat untuk memperoleh keuntungan. Permintaan uang menurut Keynes yaitu permintaan uang sebagai alat transaksi dan permintaan uang untuk spekulasi (Mandala & Pratama : 2004). Menurut kaynes masyarakat memegang uang untuk tiga tujuan, yaitu permintaan uang untuk transaksi, berjaga-jaga (Pendapatan rill) dan untuk spekulasi. (Tingkat Bunga) Keyness : mengakui Klasik + ada permintaan uang untuk spekulasi yang besarnya tergantung tingkat bunga. Menurut teori ini makin tinggi tingkat bunga makin rendah keinginan masyarakat akan uang kas untuk tujuan spekulasi. Alasannya = tingkat bunga tinggi = ongkos memegang uang kas tinggi = keinginan memegang uang kas turun. Liquidity trap = pada tingkat bunga yang relatif rendah (menurut pengalaman masa lalu), permintaan uang kas besar sekali. Masyarakat tidak ingin memegang surat berharga pada tingkat bunga ini karena khawatir keuntungannya lebih kecil dari pada kerugiannya. (Tony S. Chendrawan)

2.4 Kerangka Pemikiran PENDAPATAN NASIONAL KEYNES INFLASI KEYNES PERMINTAAN UANG KEYNES

2.5 Hipotesis H0 = β1 = β2 = 0 : tidak ada pengaruh inflasi dan pendapatan nasional terhadap permintaan uang H1 = β1 ≠ β2 ≠ 0 : ada pengaruh inflasi dan pendapatan nasional terhadap permintaan uang

3. METODELOGI PENELITIAN Penelitian ini menggunakan satu variabel dependen (terikat) dan dua variabel independen (tidak terikat). Variabel dependen yang digunakan yaitu Permintaan Uang (Uang Kuasi), sementara dua variabel independen yang digunakan adalah Inflasi (Inf) dan Pendapatan Nasional (PN). Data yang digunakan dalam penelitian ini adalah data sekunder, yaitu data yang diperoleh berdasarkan informasi yang disusun dan dipublikasikan oleh instansi tertentu. Dalam penelitian ini data yang digunakan untuk memperoleh data Inflasi dan Pendapatan Nasional dari Badan Pusat Statistik (BPS) dan untuk memperoleh data Permintaan Uang diperoleh dari Bank Indonesia (www.bi.go.id). penelitian ini bersifat kuantitatif dengan menggunakan metode time series, serta metoda ini menggunakan regresi linear berganda (Multiple Regression). Analisis ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Permintaan Uang daat digambarkan dengan fungsi permintaan uang = f(Inflasi,PendapatanNasional) Y= β0+β1 Inf + β2 PN + ϵ;5%

Tabel Operasional Variabel No Variabel 1 Inflasi Konsep/Teori Inflasi adalah kenaikan harga barang secara umum dan terus menerus dalam waktu yang panjang Skala Rasio

2

3

Pendapatan Pendapatan Nasional Nasional adalah suatu angka/nilai yang menggambarkan seluruh produksi, pengeluaran ataupun pendapatan yang dihasilkan dari semua pelaku atau sektor ekonomi dari suatu negara dalam kurun waktu tertentu. Permintaan permintaan uang Uang adalah keseluruhan jumlah uang yang ingin dipegang oleh masyarakat dan perusahaan

Rasio

Rasio

3.1 Asumsi Klasik Untuk mengetahui pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen secara simultan, maka digunakan regresi linear berganda (multiple regression) dan alpha yang digunakan adalah 5%, sebelum dilakukan pengujian dengan regresi berganda, variabelvariabel penelitian diuji dengan asumsi klasik yaitu data terdistribusi normal (uji normalitas), tidak terjadinya heteroskedostisitas, tidak terjadinya autokolerasi dan tidak terjadinya multikolinearitas (Suyatmin dan Sujadi,2006:22). a. Uji Normalistas Uji statistik kolmogorav-smirnov (K-S) merupakan uji yang digunakan untuk mengetahui apakah sampel berasal dari populasi dengan distribusi tertentu dalam hal ini adalah distribusi normal (widarjono,2010) uji normalitas adalah uji statistik non-paramatrik b. Uji Multikolinearitas Multikolinearitas terjadi ketika dua atau lebih variabel independen yang digunakan dalam model mempunyai hubungan (correlated), baik yang

sifatnya moderat maupun tinggi. Uji multikolinearitas dilakukan untuk memastikan baahwa variabel independen satu dengan yang lainnya digunakan dalam model tidak mempunyai hubungan (uncorrelated). Keputusan untuk mengetahui ada atau tidak adanya multikolinearitas dilakukan dengan menggunakan matriks kolerasi, jika nilai koefisien kolerasi +1 mengidentifikasi adanya hubungan positif yang sempurna, dan juka nilai koefisien kolerasi -1 mengidentifikasi adanya hubungan negatif yang sempurna. c. Uji Autokorelasi Autokorelasi adalah korelasi antara residual data time series pada titik-titik waktu berbeda. Dalam kasus khusus dimana residual berdekatan pada waktu terpisah (misalnya t dan t+1) mempunyai hubungan, disebut firstorder autocorrelation (Mendenhall dan Sincich,2003). Pengujian autokorelasi dilakukan dengan menggunakan rumus Durbin-Watson. Keputusan untuk mengetahui tidak adanya autokolerasi dilakukan dengan cara, juka DW semakin mendekati angka 2 maka tidak ada autokolerasi, jika DW menjauhi angka 2 maka semakin ada autokolerasi, dan jika DW angka 0 maka terjadi autokolerasi positif dan jika DW mendekati angka 4 maka terjadi autokolerasi negatif. d. Uji Heteroskedastisitas Pengujian Heteroskedastisitas biasanya dilakukan dengan menggunakan uji white-heteroscedastic. Kelebihan alat uji ini adalah tidak sensitif terhadap asumsi normalitas dan mudah diaplikasikan. (Gujarati,2003) gejala heteroskedastisitas dapat dideteksi dengan cara apabila nilai chi-square (Χ2) menunjukan angka yang lebih besar dari nilai kritis chi-square pada tingkat signifikasi 5% maka terdapat gejala heteroskedastisitas. 4. HASIL DAN PEMBAHASAN
TABEL 2

Berdasarkan tabel 2, hasil deskriptif variabel Permintaan Uang (Y) dijelaskan bahwa rata-rata (mean) sebesar 1352849.09 miliyar, dengan simpangan baku (standar deviasi) sebesar 600684.052 miliyar dan jumlah kasus (N) sebanyak 11 Hasil deskriptif variabel Pendapatan Nasional (X1) dijelaskan bahwa rata-rata (mean) sebesar 7.5279E6 juta dengan nilai error 6 , dengan simpangan baku (standar deviasi) sebesar 1.10862E6 juta dan jumlah kasus (N) sebanyak 11 Hasil deskriptif variabel Inflasi (X2) dijelaskan bahwa rata-rata (mean) sebesar 7.3345 (persen), dengan simpangan baku (standar deviasi) sebesar 4.08046 (persen) dan jumlah kasus (N) sebanyak 11

Ttabel : 2,89646 Berdasarkan table 3, Hasil hipotesis penelitian pengaruh pendapatan nasional dan inflasi terhadap permintaan uang secara parsial adalah sebagai berikut : a. Nilai probabilitas sig pendapatan nasional adalah 0,000 lebih keci dari nilai probabilitas 0,05, dan Thitung lebih besar dari Ttabel 30,392 > 2,89646 dengan demikian Ho ditolak, maka terdapat pengaruh pendapatan nasional terhadap permintaan uang b. Nilai probabilitas sig inflasi adalah 0,248 lebih besar dari nilai probabilitas 0,05, dan Thitung lebih kecil dari Ttabel 1,247 < 2,89646 dengan demikian Ho diterima, maka tidak terdapat pengaruh inflasi terhadap permintaan uang TABEL 4

Bedasarkan model regresi yang telah dijelaskan bedasarkan analisis menggunakan SPSS 17.0 , hubungan antara pendapatan nasional dan inflasi terhada permintaan uang di Indonesia, dapat disimpulkan persamaan garis regresi dari tabel coefficienta sebagai berikut : Y= -2598349,344 + 0,531X1 – 5913,67X2 TABEL 3

Hasil dari tabel 4 Model Summary, R= 0,997 dan koefisien Determinasi (Rsquare) sebesar 0,993(adalah pengkuadratan dari nilai 0,9972 = 0,993. Hal ini menunjukan pengertian bahwa Permintaan Uang (Y) dipengaruhi sebesar 99.3% oleh variabel Pendapatan Nasional (X1) dan Inflasi (X2), sedangkan sisanya (100%99,3%= 0,7%) dijelaskan oleh faktor lain. Rsquare berkisar pada angka 0 sampai 1, semakin kecil angka Rsquare maka makin lemah hubungan kedua atau lebih variabel tersebut. Jadi korelasi pendapatan nasional dan inflasi terhadap permintaan uang sangat kuat. TABEL 5

Apabila Thitung lebih besar atau sama dengan Ttabel maka H0 ditolak, artinya signifikan Thitung lebih kecil atau sama dengan Ttabel maka H0 diterima, artinya tidak segnifikan

Berdasarkan tabel 5, Hasil Uji ANOVA, diperoleh adalah nilai F= 575.730 dengan tingkat probabilitas sig. 0,000. Oleh karena probabilitas (0,000) jauh lebih kecil dari 0,05, maka model regresi berganda dipakai untuk memprediksi Permintaan uang. Jika Fhitung lebih besar atau sama dengan Ftabel. Maka H0 ditolak, artinya signifikan Fhitung lebih kecil atau sama dengan Ftabel. Maka H0 diterima, artinya tidak signifikan Ftabel = F(0.95) (2) (8) Ftabel = 4,46 Ternyata Fhitung < Ftabel, atau 575.730 > 4,46, maka H0 ditolak, artinya signifikan. Terdapat pengaruh PendapatanNasional dan Inflasi terhadap Permintaan Uang.

1. Uji Asumsi Klasik a. Uji Normalitas
TABEL 6

Menurut Singgih (2002), bahwa tujuan uji normalitas adalah untuk mengetahui apakah distribusi sebuah data mengikuti atau mendekati distribusi normal, yakni distribusi data dengan bentuk lonceng (bell shaped). Menurut Purbaya dan Ashari (2005), model regresi yang baik adalah yang memiliki distribusi data normal atau mendekati normal.untuk mengetahui sebaran data yang diperoleh harus dilakukan uji normalitas terhadap data yang bersangkutan (Nugroho,2000) Uji normalitas dalam penelitian menggunakan uji kolmogorav-Smirnov. Uji kolmogorav-Smirnov adalah salah satu cara untuk menguji goodness fit. Dalam hal ini yang diperhatikan adalah tingkat kesesesuaian antara distribusi nilai sample dengan distribusi teoritis tertentu (normal, uniform atau poison) Berdasarkan tabel 6, one-simple kolmogorav Smirnov Test dapat disimpulkan 1) Nilai kolmogorav-Smirnov Z dan nilai Asymp sig (2 tailed) variabel pendapatan nasional adalah 0,457 dan 0,985 > 0,05. Dengan demikian H0 diterima, hal ini berarti variabel pendapatan nasional terdistribusi normal. 2) Nilai kolmogorav-Smirnov Z dan nilai Asymp sig (2 tailed) variabel inflasi adalah 0,875 dan 0,428 > 0,05. Dengan demikian Ho diterima. Hal ini berarti variabel inflasi terdistribusi normal. 3) Nilai kolmogorav-Smirnov Z dan nilai Asymp sig (2 tailed) variabel permintaan uang adalah 0,509 dan 0,958 >. H0 diterima. Hal ini berarti variabel permintaan uang terdistribusi normal. b. Uji Multikolinearitas TABEL 7

Sumber: data diolah SPSS 17.0

Berdasarkan tabel 7, terlihat bahwa variance inflation factor (VIF) tidak lebih dari angka 10 untuk setiap variabel,yang ditunjukan dengan nilai VIF masing-masing sebesar 1.204 untuk variabel pendapatan nasional dan inflasi.

Maka berdasarkan nilai VIF tidak ditemui masalah multikolinearitas antar variabel independen. c. Uji autokolerasi TABEL 8

Bedasrkan table 8 diperoleh nilai DurbinWatson sebesar 1.607 dengan derajat kepercayaan 5%, berarti tidak terdapat autokorelasi. d. Uji Heteroskedastisitas Gambar dibawah ini menjelaskan mengenai ada tidaknya heteroskedastisitas dilakukan dengan melihat ada tidaknya pola tertentu pada grafik scatterplot antara SPESID dan ZPRED, yang diperlihatkan pada gambar 1. GAMBAR 1

Penelitian ini bertujuan mengetahui pengaruh pendapatan nasional dan inflasi terhadap permintaan uang, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: a. Nilai probabilitas sig pendapatan nasional adalah 0,000 lebih keci dari nilai probabilitas 0,05, dan Thitung lebih besar dari Ttabel 30,392 > 2,89646 dengan demikian Ho ditolak, maka terdapat pengaruh pendapatan nasional terhadap permintaan uang b. Nilai probabilitas sig inflasi adalah 0,248 lebih besar dari nilai probabilitas 0,05, dan Thitung lebih kecil dari Ttabel 1,247 < 2,89646 dengan demikian Ho diterima, maka tidak terdapat pengaruh inflasi terhadap permintaan uang c. Pendapatan nasional, inflasi berpengaruh secara simultan dan signifikan terhadap permintaan uang. Hal ini dijelaskan dari tingkat signifikansi sebesar 0,000. d. Permintaan Uang (Y) dipengaruhi sebesar 99.3% oleh variabel Pendapatan Nasional (X1) dan Inflasi (X2), sedangkan sisanya (100%-99,3%= 0,7%) dijelaskan oleh faktor lain. Jadi korelasi pendapatan nasional dan inflasi terhadap permintaan uang sangat kuat. e. Dalam penelitian ini, masing-masing variabel pendapatan nasional, inflasi dan permintaan uang data terdistribusi dengan normal, tidak ada autokolerasi, tidak ada multikolinieritas dan tidak ada heteroskedastisitas.

Berdasarkan gambar 1, Dari grafik scaterplot terlihat bahwa titik-titik menyebar secara acak baik diatas maupun dibawah angka 0 pada sumbu Y. hal ini dapat disimpulkan bahwa tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi, sehingga model regresi layak digunakan untuk memprediksi permintaan uang berdasarkan variabel yang mempengaruhinya, yaitu pendapatan nasional dan inflasi. 5. KESIMPULAN

6. DAFTAR PUSTAKA

 http://ramadunja.blogspot.com/2011/ 05/teori-inflasi.html  http://wordskripsi.blogspot.com/201 0/03/faktor-faktor-yangmempengaruhi-jumlah.html  Modul statistic ekonomi Dr.Lukman  Riduwan, Adun Rusyana, Enas, cara mudah belajar spss 17.0 dan

  

aplikasi statistik penelitian, alfabeta:Bandung. 2011 Sukirno, sadono, makroekonomi teori pengantar, edisi ketiga, grafindo:jakarta. 2004 www.bi.go.id www.bps.go.id

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful