DAFTAR PUSTAKA YANG Q BUAT

DAFTAR PUSTAKA

1.

Anonimous. Pengaruh faktor predisposing, faktor enabling, dan faktor reinforcing ibu balita terhadap pencegahan penyakit pneumonia pada balita di Kelurahan Batangberuh Kecamatan Sidikalang Tahun 2011. USU 2011; (online), (http://repository.usu.ac.id, diakses tanggal 30 Desember 2012). Suhartono, Laporan Bulanan Puskesmas Sei Besar 2012.Banjarbaru: Puskesmas Sei Besar, 2012. Anonimous. Hubungan pengetahuan ibu dan sanitasi rumah terhadap kejadian ispa balita di puskesmas depok jaya. USU Tanpa tahun; (online), (http://repository.usu.ac.id, diakses tanggal 30 Desember 2012). Nurhaeny R. Hubungan status gizi dengan kejadian ispa. Blogspot 2012; (online), (http://raninurhaeny.blogspot.com, diakses tanggal 11 Desember 2012). Rochima A. Hubungan Pengetahuan Ibu Tentang Gizi Balita dengan Status Gizi Balita Penderita Pneumonia. Blogspot 2009; (Online), (http://abhique.blogspot.com, diaskes tanggal 14 Januari 2013) Qonitun U. Gambaran Pemberian ASI Eksklusif dengan Kejadian ISPA pada Balita Usia 1-4 Tahun di Puskesmas Tuban. Tuban : STIKES NU Tuban, 2010). Ariefudin Y. Hubungan pemberian asi eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada bayi 0-12 bulan. Wordpress 2010; (online), (http://yanuarariefudin.wordpress.com, diakses tanggal 11 Desember 2012).

2.

3.

4.

5.

6.

7.

8.

Gozali A. Skripsi: Hubungan antara status gizi dengan klasifikasi pneumonia pada balita di puskesmas gilingan kecamatan banjarsari surakarta. Surakarta: Fakultas Kedokteran Universitas Sebelas Maret, 2010. Asmidayanti S. Hubungan status gizi dengan morbiditas ispa anak usia balita di desa tanjung tanah kecamatan danau kerinci kabupaten kerinci. Padang: Fakultas Teknik Universitas Negeri Padang, 2012.

9.

10. Abbas P, Haryati AS. Hubungan pemberian asi eksklusif dengan kejadian infeksi saluran pernapasan akut (ispa) pada bayi. Semarang: Fakultas Kedokteran Universitas Sultan Agung, 2011.

11. Bamuqaddam C. Arah dan kebijakan tatalaksana ISPA. Scribd tanpa tahun; (online), (http://www.scribd.com, diakses tanggal 11 Desember 2012). 12. Sukamawa AAA, Sulistyorini L, Keman S. Determinan sanitasi rumah dan sosial ekonomi keluarga terhadap kejadian ispa pada anak balita serta manajemen penanggulangannya di puskesmas. Jurnal Kesehatan Lingkungan, 2006; 3 (1): 49-58. 13. WHO. Pencegahan dan pengendalian infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) yang cenderung menjadi epidemi dan pandemi di fasilitas pelayanan kesehatan: pedoman interim who 2007. Jenewa: WHO, 2008. 14. Rasmaliah. Infeksi saluran pernafasan akut (ispa) dan penanggulangannya. Medan: USU Digital Library, 2004; hal. 1-8. 15. Kementerian Kesehatan RI. Pneumonia Balita. Buletin Jendela Epidemiologi, 2010; 3: 1-36. 16. Samodo P. Patofisiologi ISPA. Blogspot 2008; (http://pugud.blogspot.com, diakses tanggal 12 Desember 2012). (online),

17. Anonimous. Buku bagan manajemen terpadu balita sakit (mtbs) indonesia. Jakarta: Depkes RI, 2008. 18. Yusri. ISPA (infeksi saluran pernapasan akut) pada anak-anak. Kesehatan123 2011; (online), (http://www.kesehatan123.com, diakses tanggal 11 Desember 2012). 19. Yayasan Institut Danone. Tentang gizi seimbang. Danonenutrindo 2012; (online), (http://www.danonenutrindo.org, diakses tanggal 14 Desember 2012). 20. Mega S. Prinsip gizi seimbang bagi balita. Blogspot 2011; (online), (http://sintiamega.blogspot.com, diakses tanggal 14 Desember 2012). 21. Wirawan S. Gizi seimbang untuk balita. 4shared 2010; (http://www.4shared.com, diakses tanggal 14 Desember 2012). 22. Anonimous. Bab II (tanpa judul). Unimus 2000; (http://digilib.unimus.ac.id, diakses tanggal 30 Desember 2012). (online).

(online),

23. Anonimous. Definisi air susu ibu (asi). Blogspot 2011; (http://blogkesmas.blogspot.com, diakses tanggal 01 Januari 2013).

(online),

24. Anonimous. Pengaruh pemberian asi eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernafasan akut (ispa) pada bayi usia 6-12 bulan di puskesmas wedarijaksa ii kabupaten pati. Patikab 2011; (online), (http://litbang.patikab.go.id, diakses tanggal 01 Januari 2013). 25. Roesli U. Mengenal asi eksklusif. Jakarta: PT. Niaga Swadaya, 2000.

LATAR BELAKANG YANG Q BUAT ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri, virus maupun riketsia, tanpa atau disertai radang parenkim paru. ISPA merupakan suatu penyakit yang terbanyak dan tersering diderita oleh balita karena sistem pertahanan tubuh masih rendah, terjadi baik di negara berkembang maupun di negara yang sudah mampu. Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk kasus pneumonia pada balita pada Tahun 2006 dengan jumlah penderita mencapai enam juta jiwa. ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok balita, selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak. Laporan Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Ditjen P2M-PLP) Depkes RI Tahun 2007 menyebutkan dari 31 provinsi ditemukan 477.429 balita dengan pneumonia atau 21,52% dari jumlah seluruh balita di Indonesia. Proporsinya 35,02% pada usia di bawah satu tahun dan 64,97% pada usia satu hingga empat tahun.

ISPA di Indonesia menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Kematian balita karena ISPA secara nasional diperkirakan 6 orang per 1000 balita per tahun atau sekitar 150. Jumlah penduduk di wilayah kelurahan Sei Besar yang tercatat hingga November 2012 adalah 17568 jiwa dengan jumlah balita 1757 jiwa (usia 0-5 tahun).19% balita tercatat pernah berobat dengan penyakit batuk bukan pneumonia Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) Tahun 2005 menyatakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19% atau berkisar 1.000 balita per tahun. Survei mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA menyatakan ISPA sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentasi 22.6-2. ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak.30% dari seluruh kematian balita. Dari seluruh balita tersebut.Di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru. . ISPA merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama pada tahun daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Sei Besar tahun 2012. Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia.2 juta. di mana sekitar 70% terjadi di negara-negara berkembang terutama di Afrika dan Asia Tenggara.82% dari jumlah balita yang tercatat di wilayah kelurahan Sei Besar hingga November 2012 dan 671 atau 38. Data yang dihimpun WHO memperkirakan insiden ISPA di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% per tahun pada golongan usia balita. tercatat 155 balita menderita pneumonia atau 8.

sosial ekonomi. seperti ISPA. Kondisi gizi yang baik akan mempengaruhi banyak organ dan sistem. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang.Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada anak bayi dan balita yakni faktor intrinsik (umur. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru. . statu gizi. pendidikan. karena dapat menyebabkan kematian. Gizi yang bagaimana yang menurunkan ISPA? Meningkatnya status gizi berakibat meningkatnya kekebalan tubuh terhadap berbagi infeksi . balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama. Gizi yang bagaimana yang menyebabkan ISPA? Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. sehingga anakanak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. ISPA pada anak dibawah dua tahun harus diwaspadai oleh orang tua. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. Pada keadaan gizi kurang. jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan. Gizi yang baik akan memperkuat sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. status imunisasi.). karena kondisi gizi baik ini juga sering disertai dengan meningkatnya asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. Risiko akan berlipat ganda pada anak usia dibawah dua tahun yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna.

.ASI yang bagaimana yang menyebabkan ISPA ASI eksklusif enam bulan merupakan salah satu upaya untuk mencegah kejadian ISPA karena ASI Eksklusif berdampak kepada pemenuhan kecukupan gizi. Bayi yang mendapat ASI Ekslusif lebih tahan terhadap ISPA. karena dalam air susu ibu terdapat zat anti terhadap kuman penyebab ISPA. Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi. sehingga menghindarkan bayi dari malnutrisi dan resiko peningkatan infeksi pada bayi. Bagaimana hubungan gizi dan ASI sehingga menurunkan ISPA? Saat ini di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru belum ada gambaran mengenai hubungan antara status gizi dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita. Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk melihat seberapa kuat hubungan tersebut. bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif.

02% pada usia di bawah satu tahun dan 64. ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok balita. selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak. Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk kasus pneumonia pada balita pada Tahun 2006 dengan jumlah penderita mencapai enam juta jiwa. tanpa atau disertai radang parenkim paru.429 balita dengan pneumonia atau 21. virus maupun riketsia.52% dari jumlah seluruh balita di Indonesia. terjadi baik di negara berkembang maupun di negara yang sudah mampu. ISPA merupakan suatu penyakit yang terbanyak dan tersering diderita oleh balita karena sistem pertahanan tubuh masih rendah. Proporsinya 35.97% pada usia satu hingga empat tahun. .ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri. Laporan Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Ditjen P2M-PLP) Depkes RI Tahun 2007 menyebutkan dari 31 provinsi ditemukan 477.

Survei mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA menyatakan ISPA sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentasi 22. .82% dari jumlah balita yang tercatat di wilayah kelurahan Sei Besar hingga November 2012 dan 671 atau 38. ISPA di Indonesia menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita.2 juta. Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia. di mana sekitar 70% terjadi di negara-negara berkembang terutama di Afrika dan Asia Tenggara.6-2. Jumlah penduduk di wilayah kelurahan Sei Besar yang tercatat hingga November 2012 adalah 17568 jiwa dengan jumlah balita 1757 jiwa (usia 0-5 tahun). tercatat 155 balita menderita pneumonia atau 8.Di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru. Kematian balita karena ISPA secara nasional diperkirakan 6 orang per 1000 balita per tahun atau sekitar 150. ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak.19% balita tercatat pernah berobat dengan penyakit batuk bukan pneumonia Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) Tahun 2005 menyatakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19% atau berkisar 1. Dari seluruh balita tersebut.30% dari seluruh kematian balita.000 balita per tahun. Data yang dihimpun WHO memperkirakan insiden ISPA di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% per tahun pada golongan usia balita. ISPA merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama pada tahun daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Sei Besar tahun 2012.

Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. seperti ISPA. Gizi yang baik akan memperkuat sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. ISPA pada anak dibawah dua tahun harus diwaspadai oleh orang tua. karena dapat menyebabkan kematian. Meningkatnya status gizi berakibat meningkatnya kekebalan tubuh terhadap berbagi infeksi . jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan. statu gizi. ASI eksklusif enam bulan merupakan salah satu upaya untuk mencegah kejadian ISPA karena ASI Eksklusif berdampak kepada pemenuhan kecukupan gizi. Pada keadaan gizi kurang. karena kondisi gizi baik ini juga sering disertai dengan meningkatnya asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. sehingga . balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama.Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada anak bayi dan balita yakni faktor intrinsik (umur. Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru. sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Risiko akan berlipat ganda pada anak usia dibawah dua tahun yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan mengakibatkan kekurangan gizi. status imunisasi.). sosial ekonomi. pendidikan. Kondisi gizi yang baik akan mempengaruhi banyak organ dan sistem.

Jumlah konsumsi ASI bayi akan sangat mempengaruhi imunitas bayi. Saat ini di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru belum ada gambaran mengenai hubungan antara status gizi dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita. Bayi yang mendapat ASI Ekslusif lebih tahan terhadap ISPA. bayi yang diberi ASI secara eksklusif akan memiliki daya tahan tubuh yang lebih baik dibandingkan dengan bayi yang tidak diberi ASI secara eksklusif.menghindarkan bayi dari malnutrisi dan resiko peningkatan infeksi pada bayi. . Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk melihat seberapa kuat hubungan tersebut. karena dalam air susu ibu terdapat zat anti terhadap kuman penyebab ISPA.

sakit telinga. Salah satu yang termasuk dalam infeksi saluran pernapasan bagian atas adalah batuk pilek biasa. terutama pada balita. radang tenggorokan. ISPA merupakan suatu penyakit yang terbanyak dan tersering diderita oleh balita karena sistem pertahanan tubuh masih rendah. tanpa atau disertai radang parenkim paru. terjadi baik di negara berkembang maupun di negara yang sudah mampu. virus maupun riketsia. ISPA meliputi infeksi saluran pernapasan bagian atas dan saluran pernapasan bagian bawah. influenza. bronchitis dan sinusitis . Hal ini disebabkan masih tingginya angka kesakitan dan angka kematian karena ISPA khususnya pneumonia.LATAR BELAKANG YANG DIBUAT DISTY Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) merupakan salah satu masalah kesehatan yang ada di negara berkembang dan negara maju. ISPA adalah radang akut saluran pernapasan atas maupun bawah yang disebabkan oleh infeksi jasad renik atau bakteri.

Dari data SEAMIC Health Statistic 2001 pneumonia merupakan penyebab kematian nomor 6 di Indonesia. Data yang dihimpun WHO memperkirakan insiden ISPA di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% per tahun pada golongan usia balita. ISPA selalu menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok balita.2 juta.52% dari jumlah seluruh balita di .sedangkan infeksi yang menyerang bagian bawah saluran napas seperti paru itu salah satunya adalah pneumonia.429 balita dengan pneumonia atau 21. Berdasarkan laporan World Health Organization (WHO) Tahun 2005 menyatakan kematian balita akibat pneumonia di seluruh dunia sekitar 19% atau berkisar 1. selain itu ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak. Laporan Direktorat Jenderal Pencegahan Penyakit Menular dan Penyehatan Lingkungan Pemukiman (Ditjen P2M-PLP) Depkes RI Tahun 2007 menyebutkan dari 31 provinsi ditemukan 477.6-2. Indonesia menduduki peringkat ke-6 di dunia untuk kasus pneumonia pada balita pada Tahun 2006 dengan jumlah penderita mencapai enam juta jiwa. di mana sekitar 70% terjadi di negara-negara berkembang terutama di Afrika dan Asia Tenggara. Gambaran klinik yang jelek dan tampak lebih berat tersebut terutama disebabkan oleh infeksi virus pada balita yang belum memperoleh kekebalan alamiah. ISPA yang terjadi pada balita akan memberikan gambaran klinik yang lebih jelek bila dibandingkan dengan orang dewasa.

ISPA menempati prevalensi tertinggi pada balita yaitu lebih dari 35%.30% dari seluruh kematian balita.97% pada usia satu hingga empat tahun.02% pada usia di bawah satu tahun dan 64. Kematian balita karena ISPA secara nasional diperkirakan 6 orang per 1000 balita per tahun atau sekitar 150. Banyak faktor yang mempengaruhi tingginya kejadian ISPA pada anak bayi dan balita yakni faktor intrinsik (umur. Berdasarkan hasil laporan Riset Kesehatan Dasar (Riskesdas) 2010. karena dapat menyebabkan kematian. statu gizi. ISPA di Indonesia menempati urutan pertama penyebab kematian pada kelompok bayi dan balita. Menurut Blum. Prevalensi ISPA juga cenderung terjadi lebih tinggi pada kelompok ibu dengan pendidikan dan tingkat pendapatan rumah tangga yang rendah. faktor pelayanan kesehatan (seperti status imunisasi). ISPA pada anak dibawah dua tahun harus diwaspadai oleh orang tua. pendidikan). Risiko akan berlipat ganda pada anak usia dibawah dua tahun yang daya tahan tubuhnya masih belum sempurna. .Indonesia. faktor perilaku (seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah). status imunisasi. faktor-faktor yang memengaruhi derajat kesehatan antara lain faktor lingkungan (seperti kualitas udara). dan faktor keturunan. sosial ekonomi.000 balita per tahun. Survei mortalitas yang dilakukan oleh subdit ISPA menyatakan ISPA sebagai penyebab kematian bayi terbesar di Indonesia dengan persentasi 22. Proporsinya 35. jenis kelamin) dan faktor ekstrinsik (perumahan. ISPA juga sering berada pada daftar 10 penyakit terbanyak.

status gizi. perumahan. Faktor-faktor di atas diduga sebagai penyebab terjadinya ISPA. faktor risiko yang menyebabkan ISPA pada balita adalah sosio-ekonomi (pendapatan. sedangkan faktor pelayanan kesehatan seperti status imunisasi merupakan faktor yang dapat membantu mencegah terjadinya penyakit infeksi seperti gangguan pernapasan sehingga tidak mudah menjadi parah. jenis lantai. Menurut Sutrisna (1993). pendidikan orang tua). tingkat pengetahuan ibu dan faktor lingkungan (kualitas udara). kepadatan hunian dan jenis bahan bakar masak yang dipakai. dan tindakan. jenis dinding. Pengetahuan dan sikap yang baik diharapkan mampu menumbuhkembangkan tindakan yang positif. sedangkan sikap akan mengamalkan tindakan seseorang. di mana kualitas rumah berdampak terhadap kesehatan anggotanya. Kualitas rumah dapat dilihat dari jenis atap. sebagaimana diketahui pengetahuan merupakan pangkal dari sikap. sedangkan Depkes (2002) menyebutkan bahwa faktor penyebab ISPA pada balita adalah bayi berat lahir rendah .Asap dapur dan faktor perilaku seperti kebiasaan merokok keluarga dalam rumah sangat berpengaruh karena asap tersebut dapat menyebabkan gangguan kesehatan akibat terhirup asap rokok yang umumnya adalah anak-anak. Perilaku manusia merupakan hasil daripada segala macam pengalamannya yang terwujud dalam bentuk pengetahuan. sikap. Lingkungan yang berpengaruh dalam proses terjadinya ISPA adalah lingkungan perumahan.

status gizi buruk. b) melalui cairan (imunitas humoral). dan pada penderita KEP aktivitas leukosit untuk memfagosit maupun membunuh kuman menurun. dan lingkungan fisik. Gizi buruk akan memporak porandakan sistem pertahanan tubuh terhadap mikroorganisme maupun pertahanan mekanik sehingga mudah sekali terkena infeksi. . Kondisi gizi buruk akan mempengaruhi banyak organ dan sistem. walaupun ringan berpengaruh negatif terhadap daya tahan tubuh terhadap infeksi. Tubuh memiliki 3 macam pertahanan untuk menolak infeksi. tetapi pada KEP terdapat gangguan imunitas humoral yang disebabkan oleh menurunnya komplemen protein. Infeksi berat dapat memperburuk keadaan gizi melalui gangguan masukan makanannya dan meningginya kehilangan zat-zat gizi esensial tubuh. bahkan meninggi. karena kondisi gizi buruk ini juga sering disertai dengan defisiensi (kekurangan) asupan mikro/makro nutrien lain yang sangat diperlukan bagi tubuh. yaitu a) melalui sel (imunitas seluler).(BBLR). kepadatan tempat tinggal. Keduanya bekerja sinergistik. Dari penyelidikan terdahulu dapat diambil kesimpulan walaupun Dari kadar imunoglobulin tidak menurun. Telah lama diketahui adanya interaksi sinergistis antara malnutrisi dan infeksi. Sebaliknya malnutrisi. maka malnutrisi bersamasama dengan infeksi memberi dampak negatif yang lebih besar dibandingkan dengan dampak oleh faktor infeksi dan malnutrisi secara sendiri-sendiri. Infeksi derajat apapun dapat memperburuk keadaan gizi. dan c) aktivitas leukosit polimorfonuklear. imunisasi yang tidak lengkap. Menurunnya status gizi berakibat menurunnya kekebalan tubuh terhadap berbagi infeksi.

mineral. yang pada akhirnya berpengaruh terhadap status gizinya. Berkaitan dengan status gizi. Anak balita pada umumnya merupakan kelompok umur yang paling sering menderita penyakit akibat kekurangan gizi. Riyadi mendefinisikan “Status gizi sebagai keadaan kesehatan tubuh seseorang atau sekelompok orang yang diakibatkan oleh konsumsi. Hal ini disebabkan anak balita dalam periode transisi dari makanan bayi ke makanan orang dewasa. diantaranya penyakit gizi lebih (obesitas) dan penyakit gizi kurang. Kesehatan seseorang terutama anak balita dipengaruhi oleh jenis makanan yang . Bayi yang menderita obstruksi nasal kronis akan mengalami kesulitan menyusu pada ibunya. penyerapan dan penggunaan zat gizi makanan yang ditentukan berdasarkan ukuran tertentu”. Terdapat berbagai zat gizi yang amat mempengaruhi kondisi kesehatan manusia khususnya anak seperti vitamin.Infeksi saluran napas mengurangi nafsu makan sehingga makanan yang masuk juga berkurang yang berakibat memburuknya keadaan gizi penderita. Dikatakan bahwa “Makanan yang bergizi akan mempengaruhi perkembangan fisik anak”. Apabila konsumsi zat gizi tidak seimbang dengan kebutuhan tubuh seseorang dalam hal kuantitas maupun kualitasnya maka akan muncul berbagai penyakit. protein dan lain sebagainya. yang belum mampu mengurus dirinya sendiri dan sering pengurusannya diserahkan kepada orang lain yang juga rendah akan pengetahuan tentang perkembangan anak balita. Anak-anak yang menderita infeksi saluran napas membutuhkan makanan lebih banyak daripada biasanya. tumbuh dan berkembang. karbohidarat. apabila pemasukan kalori dan protein ingin dipertahankan. Manusia mendapatkan zat gizi dalam makanan yang merupakan kebutuhan dasar manusia untuk hidup. dan ini mengakibatkan pertumbuhannya terganggu dan dapat menyebabkan timbulnya marasmus.

Bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 16 bayi (10. Bayi yang diberi ASI non eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 50 bayi (32.8%). sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 56 bayi (36. pemberian ASI satu jam . selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat. Dari data SDKI 1997 cakupan ASI eksklusif masih 52%.Jika anak balita tidak mengkonsumsi makanan yang mengandung berbagai macam zat-zat gizi yang seharusnya dibutuhkan oleh tubuh mereka. Zink juga dapat menurunkan lama dan derajat keparahan ISPA.4%). Jawa Tengah terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi 0-12 bulan. ASI merupakan makanan alamiah terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. Permasalahan utama yang dihadapi adalah kesadaran akan pentingnya ASI eksklusif. Di Indonesia. pemberian ASI eksklusif belum dilaksanakan sepenuhnya. diare dan penyakit infeksi lainnya.4%).4%). Menurut penelitian Ariefudin (2010) di daerah Tegal. ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindarkan dari berbagai penyakit infeksi.dikonsumsinya dan penggunaan zat-zat gizi yang pada makanan itu sendiri. Salah satu penyakit berbahaya pada masa balita adalah penyakit infeksi. maka keadaan status gizi mereka dapat dikatakan buruk (gizi kurang) dan mudah terjangkit penyakit-penyakit berbahaya. sedangkan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 32 bayi (20. ASI mengandung mineral zinc yang terbukti efektif untuk menurunkan penyakit pneumonia (radang paru).

pemberian hari pertama 52. Jabar. Terdapat pengaruh terhadap kejadian ISPA pada bayi. Jatim.82% dari jumlah balita yang tercatat di wilayah kelurahan Sei Besar hingga . terjadi sedikit peningkatan bila dibandingkan dengan tahun 2005 yang mencapai 27.08%. Dari survei yang dilaksanakan pada tahun 2002 oleh Nutrition & Health Surveillance System (NSS) kerjasama dengan Balitbangkes dan Helen Keller International di 4 perkotaan (Jakarta. sedangkan dipedesaan 4%-25%. 2005).49%. Surabaya. Berdasarkan data yang diperoleh dari Profil Kesehatan Jawa Tengah (2006) menunjukkan cakupan pemberian ASI Eksklusif hanya sekitar 28.8% terhadap ISPA pada bayi umur 0-4 bulan. Jumlah penduduk di wilayah kelurahan Sei Besar yang tercatat hingga November 2012 adalah 17568 jiwa dengan jumlah balita 1757 jiwa (usia 0-5 tahun). Di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru. Banten. di mana lebih tinggi pada bayi yang diberikan susu formula dibandingkan dengan bayi yang diberikan ASI. Dari seluruh balita tersebut.pasca persalinan 8%. ISPA merupakan penyakit yang menduduki peringkat pertama pada tahun daftar 10 penyakit terbanyak di Puskesmas Sei Besar tahun 2012. Jateng. Sulsel). sedangkan di pedesaan 2%-13% (Depkes. ASI juga terbukti memberikan efek protektif 39. bayi yang mendapat ASI eksklusif mempunyai angka kesakitan dan kematian yang secara bermakna lebih rendah dibandingkan dengan yang diberikan susu formula. Pencapaian ASI eksklusif 5-6 bulan di perkotaan berkisar antara 1%-13%. Makasar) dan 8 perdesaan (Sumbar. Di negara-negara berkembang. menunjukan bahwa cakupan ASI eksklusif 4-5 bulan di perkotaan antara 4%-12%. NTB. Semarang.7%. Lampung. tercatat 155 balita menderita pneumonia atau 8.

. Maka dari itu dilakukan penelitian ini untuk melihat seberapa kuat hubungan tersebut.19% balita tercatat pernah berobat dengan penyakit batuk bukan pneumonia. Untuk pasien lama. dilihat dari rekam medisnya hampir setiap bulan balita tersebut datang berobat dengan diagnosis ISPA. Saat ini di Puskesmas Sei Besar Banjarbaru belum ada gambaran mengenai hubungan antara status gizi dan riwayat pemberian ASI eksklusif dengan kejadian ISPA pada balita.November 2012 dan 671 atau 38. Di poliklinik anak/MTBS Puskesmas Sei Besar dalam waktu sekitar satu bulan terakhir juga didapatkan sebagian besar balita yang dibawa berobat adalah balita yang menderita ISPA. bahkan dalam satu bulan dapat lebih dari satu kali berobat dengan diagnosis ISPA.

Menganalisis hubungan status gizi pada balita yang tidak ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru Tujuan khusus yang Disty buat 1. Menilai hubungan status gizi pada balita yang tidak ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru 3. Menilai hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru 2. Menganalisis hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru 4.Tujuan khusus yang q buat 1. Menilai dan menganalisis hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru .

2. Menilai dan menganalisis hubungan status gizi dengan kejadian ISPA pada balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru Manfaat penelitian yang q buat Menjadi masukan bagi Puskesmas Sei Besar yang merupakan penanggung jawab program kesehatan di wilayah kerjanya dan instansi lain yang terkait sebagai landasan upaya penyehatan balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar untuk menanggulangi kejadian ISPA balita. Menjadi masukan bagi Puskesmas Sei Besar yang merupakan penanggung jawab program kesehatan di wilayah kerjanya dan instansi lain yang terkait sebagai landasan upaya penyehatan balita di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar untuk menanggulangi kejadian ISPA balita. 2. . Manfaat penelitian yang dibuat disty 1. Memberikan gambaran status gizi dan riwayat pemberian ASI eksklusif pada balita yang menderita ISPA di wilayah kerja Puskesmas Sei Besar Banjarbaru.

bersatu dengan kamar tidur. Pencemaran udara dalam rumah Asap rokok dan asap hasil pembakaran bahan bakar untuk memasak dengan konsentrasi tinggi dapat merusak mekanisme pertahan paru sehingga akan memudahkan timbulnya ISPA. Hal ini lebih dimungkinkan karena bayi .FAKTOR RESIKO ISPA YANG Q BUAT Secara umum terdapat 3 (tiga) faktor resiko terjadinya ISPA yaitu faktor lingkungan. serta faktor perilaku. ruang tempat bayi dan anak balita bermain. 1. faktor individu anak . Faktor lingkungan a. Hal ini dapat terjadi pada rumah yang keadaan ventilasinya kurang dan dapur terletak di dalam rumah.

6. 3.dan anak balita lebih lama berada di rumah bersama-sama ibunya sehingga dosis pencemaran tentunya akan lebih tinggi. Ventilasi rumah Ventilasi yaitu proses penyediaan udara atau pengerahan udara ke atau dari ruangan baik secara alami maupun secara mekanis. b. dimana efek ini terjadi pada kelompok umur 9 bulan dan 6 – 10 tahun. Mensuplai panas agar hilangnya panas badan seimbang. 4. Mensuplai udara bersih yaitu udara yang mengandung kadar oksigen yang optimum bagi pernapasan. diantaranya ada peningkatan resiko bronchitis. Kepadatan hunian rumah . 5. asap ataupun debu dan zat-zat pencemar lain dengan cara pengenceran udara. Hasil penelitian diperoleh adanya hubungan antara ISPA dan polusi udara. Membebaskan udara ruangan dari bau-bauan. 2. kondisi. Mendisfungsikan suhu udara secara merata. c. evaporasi ataupun keadaan eksternal. Mensuplai panas akibat hilangnya panas ruangan dan bangunan. Mengeluakan kelebihan udara panas yang disebabkan oleh radiasi tubuh. pneumonia pada anak-anak yang tinggal di daerah lebih terpolusi. Fungsi dari ventilasi dapat dijabarkan sebagai berikut : 1.

2. Umur anak Sejumlah studi yang besar menunjukkan bahwa insiden penyakit pernapasan oleh veirus melonjak pada bayi dan usia dini anak-anak dan tetap menurun terhadap usia. Insiden ISPA tertinggi pada umur 6 –12 bulan.Kepadatan hunian dalam rumah menurut keputusan menteri kesehatan nomor 829/MENKES/SK/VII/1999 tentang persyaratan kesehatan rumah. tingkat sosial. Faktor individu anak a. Berat badan lahir Berat badan lahir menentukan pertumbuhan dan perkembangan fisik dan mental pada masa balita. Keadaan tempat tinggal yang padat dapat meningkatkan faktor polusi dalam rumah yang telah ada. Bayi dengan berat badan lahir rendah (BBLR) mempunyai resiko kematian yang lebih besar dibandingkan dengan berat badan lahir normal. terutama pneumonia dan sakit saluran pernapasan lainnya. Penelitian menunjukkan ada hubungan bermakna antara kepadatan dan kematian dari bronkopneumonia pada bayi. tetapi disebutkan bahwa polusi udara. Dengan kriteria tersebut diharapkan dapat mencegah penularan penyakit dan melancarkan aktivitas. . dan pendidikan memberi korelasi yang tinggi pada faktor ini. b. terutama pada bulan-bulan pertama kelahiran karena pembentukan zat anti kekebalan kurang sempurna sehingga lebih mudah terkena penyakit infeksi. satu orang minimal menempati luas rumah 8m².

kesehatan fisiologis pencernaannya. Disamping itu adanya hubungan antara gizi buruk dan terjadinya campak dan infeksi virus berat lainnya serta menurunnya daya tahan tubuh anak terhadap infeksi. Data ini mengingatkan bahwa anak-anak dengan riwayat berat badan lahir rendah tidak mengalami rate lebih tinggi terhadap penyakit saluran pernapasan. Balita dengan gizi yang kurang akan lebih mudah terserang ISPA dibandingkan balita dengan gizi normal karena faktor daya tahan tubuh yang kurang. sehingga anak-anak yang bergizi buruk sering mendapat pneumonia. Penyakit infeksi sendiri akan menyebabkan balita tidak mempunyai nafsu makan dan . Beberapa penelitian telah membuktikan tentang adanya hubungan antara gizi buruk dan infeksi paru. keadaan fisik. kondisi kesehatannya. tinggi badan. Status gizi Masukan zat-zat gizi yang diperoleh pada tahap pertumbuhan dan perkembangan anak dipengaruhi oleh : umur. Keadaan gizi yang buruk muncul sebagai faktor resiko yang penting untuk terjadinya ISPA. panjang badan. lingkar lengan atas.Penelitian menunjukkan bahwa berat bayi kurang dari 2500 gram dihubungkan dengan meningkatnya kematian akibat infeksi saluran pernafasan dan hubungan ini menetap setelah dilakukan adjusted terhadap status pekerjaan. c. tetapi mengalami lebih berat infeksinya. pendidikan. tersedianya makanan dan aktivitas dari si anak itu sendiri. pendapatan. Penilaian status gizi dapat dilakukan antara lain berdasarkan antopometri : berat badan lahir.

Balita yang mendapat vitamin A lebih dari 6 bulan sebelum sakit maupun yang tidak pernah mendapatkannya adalah sebagai resiko terjadinya suatu penyakit sebesar 96. e. Keduanya haruslah dipandang dalam suatu kesatuan yang utuh.000 IU vitamin A pada balita dari umur satu sampai dengan empat tahun. berkembang dan berangkat dewasa dalam keadaan yang sebaik-baiknya. Pada keadaan gizi kurang. Vitamin A Sejak tahun 1985 setiap enam bulan Posyandu memberikan kapsul 200.mengakibatkan kekurangan gizi. Bila antibodi yang ditujukan terhadap bibit penyakit dan bukan sekedar antigen asing yang tidak berbahaya. Pemberian vitamin A yang dilakukan bersamaan dengan imunisasi akan menyebabkan peningkatan titer antibodi yang spesifik dan tampaknya tetap berada dalam nilai yang cukup tinggi. Karena itu usaha massal pemberian vitamin A dan imunisasi secara berkala terhadap anak-anal prasekolah seharusnya tidak dilihat sebagai dua kegiatan terpisah.5% pada kelompok kontrol. Status Imunisasi . balita lebih mudah terserang “ISPA berat” bahkan serangannya lebih lama. d.6% pada kelompok kasus dan 93. niscaya dapatlah diharapkan adanya perlindungan terhadap bibit penyakit yang bersangkutan untuk jangka yang tidak terlalu singkat. yaitu meningkatkan daya tahan tubuh dan erlindungan terhadap anak Indonesia sehingga mereka dapat tumbuh.

Bayi dan balita yang mempunyai status imunisasi lengkap bila menderita ISPA dapat diharapkan perkenbangan penyakitnya tidak akan menjadi lebih berat. Sebagian besar kematian ISPA berasal dari jenis ISPA yang berkembang dari penyakit yang dapat dicegah dengan imunisasi seperti difteri. diupayakan imunisasi lengkap. . Dengan imunisasi campak yang efektif sekitar 11% kematian pneumonia balita dapat dicegah dan dengan imunisasi pertusis (DPT) 6% lematian pneumonia dapat dicegah. Untuk mengurangi faktor yang meningkatkan mortalitas ISPA. Faktor perilaku Faktor perilaku dalam pencegahan dan penanggulangan penyakit ISPA pada bayi dan balita dalam hal ini adalah praktek penanganan ISPA di keluarga baik yang dilakukan oleh ibu ataupun anggota keluarga lainnya. maka akan berpengaruh terhadap anggota keluarga lainnya. maka peningkatan cakupan imunisasi akan berperan besar dalam upaya pemberantasan ISPA. satu dengan lainnya saling tergantung dan berinteraksi. Bila salah satu atau beberapa anggota keluarga mempunyai masalah kesehatan. pertusis. Cara yang terbukti paling efektif saat ini adalah dengan pemberian imunisasi campak dan pertusis (DPT). campak. Keluarga merupakan unit terkecil dari masyarakat yang berkumpul dan tinggal dalam suatu rumah tangga.Bayi dan balita yang pernah terserang campak dan selamat akan mendapat kekebalan alami terhadap pneumonia sebagai komplikasi campak. 3.

Keluarga perlu mengetahui serta mengamati tanda keluhan dini pneumonia dan kapan mencari pertolongan dan rujukan pada sistem pelayanan kesehatan agar penyakit anak balitanya tidak menjadi lebih berat. . Berdasarkan hal tersebut dapat diartikan dengan jelas bahwa peran keluarga dalam praktek penanganan dini bagi balita sakit ISPA sangatlah penting. pencarian pertolongan pada pelayanan kesehatan. sehingga ibu balita dan anggota keluarga yang sebagian besar dekat dengan balita mengetahui dan terampil menangani penyakit ISPA ini ketika anaknya sakit.Peran aktif keluarga/masyarakat dalam menangani ISPA sangat penting karena penyakit ISPA merupakan penyakit yang ada sehari-hari di dalam masyarakat atau keluarga. sebab bila praktek penanganan ISPA tingkat keluarga yang kurang/buruk akan berpengaruh pada perjalanan penyakit dari yang ringan menjadi bertambah berat. Hal ini perlu mendapat perhatian serius oleh kita semua karena penyakit ini banyak menyerang balita. tindakan yang segera dan pengamatan tentang perkembangan penyakit balita. Dalam penanganan ISPA tingkat keluarga keseluruhannya dapat digolongkan menjadi 3 (tiga) kategori yaitu: perawatan penunjang oleh ibu balita.

tergantung pada patogen penyebabnya. dan faktor pejamu (pencegahan dan pengendalian infeksi ispa juni 2007). Hal ini bertolak belakang dengan situasi di Negara maju. faktor lingkungan. Hasil penelitian fungsi paru di negara sedang berkembang menunjukkan bahwa kasus pneumonia berat pada anak disebabkan oleh bakteri. ISPA menyebabkan empat dari 15 juta kematian anak berusia di bawah 5 tahun setiap tahunnya.2003).Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA) adalah penyakit saluran pernapasan atas atau bawah. . Infeksi saluran pernapasan akut (ISPA) merupakan salah satu penyebab kematian tersering pada anak di negara sedang berkembang. Selain itu.2005). biasanya menular. biasanya Streptococcus pneumonia atau Haemophillus influenza. (WHO. lingkungan atau tempat tinggal juga menjadi salah satu factor yang mempengaruhi kejadian ISPA yaitu apabila luas bangunan tidak sebanding dengan jumlah penghuni akan menyebabkan kurangnya asupan oksigen dan memudahkan terjadinya penularan infeksi (Cahaya. yang penyebab utamanya adalah virus. yang dapat menimbulkan berbagai spektrum penyakit yang berkisar dari penyakit tanpa gejala atau infeksi ringan sampai penyakit yang parah dan mematikan.

2000). Menurut WHO ± 13 juta anak balita di dunia meninggal setiap tahun dan sebagian besar kematian tersebut terdapat di Negara berkembang.500 korban perbulan atau 416 kasus sehari atau 17 anak perjam atau seorang bayi/balita tiap lima menit (Depkes.World Health Organization (WHO) memperkirakan insidens ISPA di negara berkembang dengan angka kematian balita di atas 40 per 1000 kelahiran hidup adalah 15%-20% pertahun pada golongan usia balita. 2003). ASI mengandung mineral zinc yang terbukti efektif untuk menurunkan penyakit pneumonia (radang paru). Pemberian ASI juga mempunyai pengaruh emosional yang luar biasa yang mempengaruhi hubungan batin ibu dan anak serta perkembangan jiwa anak (Azwar. dimana pneumonia merupakan salah satu penyebab utama kematian dengan membunuh ± 4 juta anak balita setiap tahun (Depkes.000 pertahun bayi/balita meninggal tiap tahun atau 12. Zink juga dapat menurunkan lama dan derajat keparahan ISPA.Berdasarkan data dari pusat penanggulangan masalah kesehatan Departemen Kesehatan menyebutkan bahwa kematian akibat pneumonia sebagai penyebab utama ISPA di Indonesia pada akhir tahun 2000 sebanyak 5: 1000 bayi/balita. selain komposisinya sesuai untuk pertumbuhan dan perkembangan bayi yang berubah sesuai dengan kebutuhan bayi pada setiap saat. ASI merupakan makanan alamiah terbaik yang dapat diberikan oleh seorang ibu kepada anak yang baru dilahirkannya. ASI juga mengandung zat pelindung yang dapat menghindarkan dari berbagai penyakit infeksi. 2001). Dapat diartikan angka kematian akibat pneumonia sebanyak 150. . diare dan penyakit infeksi lainnya.

. Bayi yang diberi ASI non eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 50 bayi (32. Selain itu di daerah ini mayoritas penduduknya berpenghasilan rendah yang mengakibatkan tingkat kesehatannya kurang baik sehingga penulis memilih daerah ini untuk mengadakan penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif dengan angka kejadian ISPA pada anak usia 12 bulan.2001) perlu dilakukan penelitian tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi usia 12 bulan di Kelurahan Sungai Besar Banjarbaru.8%). Bayi yang diberi ASI eksklusif mengalami ISPA sering sebanyak 16 bayi (10. Melihat tingginya angka kejadian ISPA dan rendahnya tingkat pemberian ASI eksklusif (Dinkes.4%).Menurut penelitian Ariefudin (2010) didaerah Tegal. Selain itu hasil penelitian ini juga diaharapkan dapat menambah wawasan ilmu pengetahuan. Lokasi penelitian ini dipilih karena di wilayah ini merupakan daerah dengan lingkungan yang kurang bersih dan padat hunian sehingga kemungkinan terjadinya ISPA sangat tinggi. sedangkan bayi yang mengalami ISPA jarang sebanyak 56 bayi (36. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui adanya hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada anak usia 12 bulan.4%). Jawa Tengah terdapat hubungan yang bermakna antara pemberian ASI eksklusif terhadap kejadian ISPA pada bayi 0-12 bulan.4%). Kemudian tingkat keeratan dari hubungan tersebut dan mengetahui insiden kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada anak usia 12 bulan Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi kepada masyarakat dan ibu-ibu pada khususnya tentang hubungan pemberian ASI eksklusif terhadap penurunan kejadian infeksi saluran pernapasan akut pada anak usia 12 bulan. sedangkan yang mengalami ISPA jarang sebanyak 32 bayi (20.

1 Status Gizi Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang dikonsumsi secara normal melalui proses digesti. metabolisme dan pengeluran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan kehidupan.1. Med. Marsetyo. pertumbuhan.2. Fungsi zat gizi antara lain sebagai berikut: 1) Memelihara proses tubuh dalam pertumbuhan dan perkembangan. dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan energi (I Dewa Nyoman Supariasa. 2001:1). transportasi.6 Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi ISPA 2. Kebutuhan zat gizi setiap orang berbeda-beda. 2002:17). absorpsi. Bachsyar Bakri dan Ibnu Fajar. Hal ini dikarenakan berbagai faktor antara lain umur.6.1. penyimpanan. terutama bagi yang masih dalam pertumbuhan 2) Memperoleh energi guna melakukan aktivitas fisik sehari-hari 3) Mengganti sel-sel yang rusak dan sebagai zat pelindung dalam tubuh (dengan cara menjaga keseimbangan cairan tubuh) 4) Berperan dalam mekanisme pertahanan tubuh terhadap berbagai penyakit sebagai zat anti oksidan (Kertasapoetra. Masukan zat gizi yang berasal . jenis kelamin dan macam pekerjaan.

Penelitian di Cikutra Bandung yang dilakukan oleh Kartasasmitha pada tahun 1993 juga menunjukkan kecenderungan kenaikan prevalensi dan insidensi pada anak dengan gizi kurang (Dinkes. 2001:9). Penelitian yang dilakukan oleh Chandra pada tahun 1979 menunjukkan bahwa kekurangan gizi akan meningkatkan kerentanan dan beratnya infeksi suatu penyakit.2 Pemberian ASI Eksklusif ASI adalah suatu komponen yang paling utama bagi ibu dalam memberikan pemeliharaan yang baik terhadap bayinya. Status gizi yang baik terjadi bila tubuh memperoleh asupan zat gizi yang cukup sehingga dapat digunakan oleh tubuh untuk pertumbuhan fisik. Karena ASI bisa . produktivitas kerja serta daya tahan tubuh terhadap infeksi secara optimal (Sjahmien Moehji. perkembangan otak dan kecerdasan. Bachsyar Bakri dan Ibnu Fajar.6. untuk memenuhi pertumbuhan dan perkembangan psikososialnya. 2002:18). terbaik dan termurah yaitu ASI. Penelitian lain yang dilakukan oleh Pio dkk (1985) menunjukkan adanya hubungan antara kekurangan zat gizi dan ISPA karena kekurangan gizi akan cenderung menurunkan daya tahan balita terhadap serangan penyakit. Karena sesuatu yang baik tidaklah harus mahal bahkan bisa sebaliknya. 2000:14). Status gizi merupakan ekspresi dari keadaan keseimbangan dalam bentuk variabel tertentu atau perwujudan dari nutriture dalam bentuk variabel tertentu (I Dewa Nyoman Supariasa.dari makanan yang dimakan setiap hari harus dapat memenuhi kebutuhan tubuh karena konsumsi makanan sangat berpengaruh terhadap status gizi seseorang.1. 2.

Sedang penelitian yang 18 dilakukan oleh Shah juga menunjukkan bahwa ASI mengandung bahan-bahan dan anti infeksi yang penting dalam mencegah invasi saluran pernapasan oleh bakteri dan virus. 2001:15). 2001:18). Zat kekebalan pada ASI dapat melindungi bayi dari penyakit mencret atau diare. . Sistem imun bawaan pada bayi menurun namun sistem imun yang dibentuk oleh bayi itu sendiri belum bisa mencukupi sehingga dapat mengakibatkan adanya kesenjangan zat kekebalan pada bayi dan hal ini akan hilang atau berkurang bila bayi diberi ASI. dan penyakit alergi. ASI juga menurunkan kemungkinan bayi terkena penyakit infeksi.membuat anak lebih sehat. batuk. Walaupun balita sudah mendapat ASI lebih dari 4 bulan namun bila status gizi dan lingkungan kurang mendukung dapat merupakan risiko penyebab pneumonia bayi (Dinkes. 2001:9). telinga. Penelitian yang dilaksanakan oleh Pisacane membuktikan bahwa pemberian ASI memberikan efek yang tinggi terhadap ISPA. Bayi yang baru lahir secara alamiah mendapat imunoglobulin (zat kekebalan tubuh) dari ibunya lewat ari-arinya. tapi juga cerdas dan lebih menyesuaikan diri dengan lingkungan (Depkes RI. Tubuh bayi dapat membuat sistem kekebalan tubuh sendiri waktu berusia sekitar 9-12 bulan. Dan pada kenyataannya bayi yang diberi ASI eksklusif akan lebih sehat dan jarang sakit dibandingkan dengan bayi yang tidak mendapatkan ASI eksklusif (Depkes RI. pilek. Kolostrum mengandung zat kekebalan 10-17 kali lebih banyak dari susu matang.