Penentuan Kadar Papaverini Hydrochloridum Menggunakan Metode Argentometri

OLEH :
NAMA NIM : LUH GEDE RUWIDIANINGSIH : P07134012018

KEMENTERIAN KESEHATAN RI POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR DIII JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2013

Penentuan Kadar Papaverini Hydrochloridum Menggunakan Metode Argentometri a. Pengendapan terjadi jika Q > Ksp 2. Reaksi tersebut merupakan reaksi penetapan kadar secara volumetri. AgNO3 + 2KCN K[Ag(CN)2] + KNO3 Jika reaksi telah sempurna maka reaksi akan berlangsung lebih lanjut membentuk senyawa kompleks yang tidak larut. Larutan tepat jenuh jika Q = Ksp (Petrucci. 104) Pada titrasi argentometri. (Abdul Rahman. Pengendapan tak terjadi jika Q < Ksp 3. 1989. endapan perak klorida (AgCl) yang terbentuk dari larutan perak nitrat dan natrium klorida dapat digunakan dalam menentukan titik akhir dalam titrasi volumetri. Ag+ + [Ag(CN)2] Ag [Ag(CN)2] . 2007: 128) Titrasi argentometri adalah titrasi dengan menggunakan perak nitrat sebagai titran diman akan terbentuk garam perak yang sukar larut. Jika larutan perak nitrat ditambahkan pada larutan kalium sianida maka mula-mula akan terbentuk endapan putih dan pada pengadukan akan larut membentuk larutan kompleks yang stabil. Jika Q adalah nilai hasil kali ion-ion yang ditentukan dalam larutan. maka kesimpulan yang lebih umum mengenai pengendapan dasar larutan adalah: 1. penetapan kadar dari suatu obat yang mengandung natrium bromida atau kalium iodida dapat dilakukan dengan argentometri dan juga dapat dilakukan untuk penetapan kadar ionion halida. Titik akhir tersebut ditandai dengan habisnya semua klorida diendapkan menjadi perak klorida. Teori Reaksi pengendapan ialah apakah reaksi ini dapat terjadi pada suatu keadaan tertentu.

tetapi pada permukaan endapan. Namun selain dari halogen.(Svehla. c. (Alexayev. Metode Mohr Metode ini dapat digunakan untuk menetapkan kadar klorida dan bromida dalam suasana netral. ada juga zat bukan halogen yang biasa ditetapkan kadarnya yaitu kalium tiosianat. . Ketika larutan AgNO3 ditambahkan pada larutan alkali sianida akan terbentuk endapan putih. ada beberapa metode yang dapat digunakan. 1985: 216) Dalam menentukan titik akhir titrasi. Metode Liebig Pada metode ini. 1969: 406-410) Dalam bidang farmasi. tetapi dengan terjadi kekeruhan. dengan larutan baku perak nitrat dengan penambahan larutan kalium kromat sebagai indikator. tetapi pada penggolongan akan larut kembali karena terbentuk kompleks sianida yang stabil dan larut. diantaranya yaitu : a. b. yang mana pada titik ekuivalen indikator teradsorbsi oleh endapan. dengan ion besi (III) dipergunakan untuk mendeteksi kelebihan ion tiosianat. Umumnya zat yang ditetapkan kadarnya adalah zat yang mengandung halogen karena halogen mudah bereaksi dengan ion Ag+ dan membentuk endapan. Metode fajans Pada metode ini. Titrasi Volhard ini dilakukan dalam suasana asam. digunakan indikator adsorbsi. Metode Volhard Metode ini didasari oleh pengendapan dari perak tiosianat dalam larutan asam nitrit. d. argentometri sering digunakan ntuk menetapkan kadar obat seperti Papaverin HCl. Indikator ini tidak memberikan perubahan warna pada larutan. titik akhir titrasinya tidak ditentukan dengan indikator.

1035 N e. c. Sendok tanduk Bahan yang digunakan : 1. Cara Kerja Pembuatan larutan baku AgNO3 0. Metode Metode titrasi volumetri yang digunakan pada percobaan penentuan kadar Papaverin HCl ini adalah Metode Argentometri. Metode yang digunakan adalah metode Mohr. Air suling 2. yang mana pada metode Mohr K2CrO4 digunakan sebagai indikator dan sampel yang digunakana adalah Cl-. Gelas kimia 4. Statif 8. Prinsip Penentuan kadar papaverin HCl secara volumetri dengan metode argentometri berdasarkan reaksi pengendapan dengan indikator K2CrO4 dan titran AgNO3 dan titik akhir titrasi ditandai dengan adanya perubahan warna dari kuning ke merah bata. Perak nitrat 0.1 N . Gelas ukur 5. Pipet tetes 11. Klem 7.b. Papaverin HCl 4. Buret 2. Alat dan Bahan Alat yang digunakan : 1. Neraca analitik 10. Kertas timbang 6. d. Labu ukur 9. Erlenmeyer 3. K2CrO4 3.

Diaduk hingga homogen. 7. Diimbang seksama kurang lebih 11-12 g AgNO3 murni dalam cawan. Dikeringkan pada suhu 105-110oC selama ± 2 jam dalam oven. Ditambahkan 0.5-1 ml larutan K2CrO4 5 %. 5. Diimbang AgNO3 yang telah didinginkan sebanyak 8. Dipindahkan kedalam labu tentukur 500 ml melalui corong. Dipindahkan ke dalam labu tentukur 500 ml. 6. 9. Dicukupkan volumenya hingga 500 ml.1 N 1.1. . Kemudian didinginkan dalam desikator. 4. 3. Ditimbang ± 4 gram NaCl murni dalam gelas arloji. 2. Diulangi perlakuan dua kali lagi. 9. 3. 10. Dipipet sebanyak 25 ml kemudian pindahkan kedalam Erlenmeyer.92 g NaCl yang telah didinginkan. 8. Standarisasi larutan AgNO3 0. Dititrasi dengan larutan AgNO3 melalui buret hingga terjadi perubahan warna dari kuning menjadi cokelat merah. Dipindahkan ke dalam botol yang bersih dan bubuhi label. 4. 2. 8. Dianaskan dalam oven pada suhu 100-110oC selama kurang lebih 1 jam. 5. Dibilas botol timbang dengan air suling hingga bersih dan air bilasan dimasukkan kedalam labu tentukur. 6. Dipindahkan ke dalam gelas piala dan larutkan dengan air suling sebanyak 50 ml. 7. homogenkan. Kemudian didinginkan dalam desikator.5 g dalam botol timbang. 11. Dicukupkan volumenya hingga 500 ml. Ditimbang seksama 2.

7. Dicatat volume titrasi dan dihitung kadarnya. 6. BE . Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan. Diisi buret dengan larutan baku AgNO3. N . 5. Ditambahkan 50 ml air suling.85 mg NaCl.12. BE x 100 %  Sampel II Mgrek sampel (H2O2) ~ Mgrek larutan baku (KMnO4) =V. Dikocok hingga larut.1 N setara dengan 5.N mg = V . Ditambahkan indikator kalium kromat 5%. Dititrasi dengan larutan baku AgNO3 hingga terbentuk endapan yang berwarna merah bata. 4. Perhitungan  Sampel I Mgrek sampel (Papaverin HCl) ~ Mgrek larutan baku (AgNO3) = V. Penatapan kadar papaverin HCl 1. Tiap ml AgNO3 0. Ditimbang sampel papaverin HCl sebanyak 250 mg dengan menggunakan neraca analitik. Dihitung normalitas larutan AgNO3. N . Kemudian dimasukkan kedalam erlenmeyer. 3. f. 2.N mg % Kadar I = = V .

% Kadar II = x 100 % % Kadar rata-rata (Papaverin HCl) = .

H. R. Konsep Dasar Kimia Analit. Analisis Kimia Kuantitatif. Abdul. G. Kimia Dasar Prinsip dan Terapan Modern. Jakarta: Erlangga. 2002 . Jakarta: Erlangga.M. W. Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semimikro Edisi V. 2007 Svehla. Quantitative Analysis. 1985 Underwood. 1986 Khopkar. Jakarta: Depkes RI.DAFTAR PUSTAKA Alexeyev. Jakarta: PT Gramedia. 1989 Rahman. Yogyakarta: Pustaka Pelajar. Jakarta: PT kalman Media Pustaka. 1969 Dirjen POM. Jakarta: UI Press. Ilmu Kimia Analitik Dasar. Moscow: MIR publisher. Farmakope Indonesia Edisi III. & AL. V. 1990 Petrucci. J. 1979 Harjadi. Kimia Farmasi Analisis.