METODE ANALISIS KUALITATIF DAN KUANTITATIF KARBOHIDRAT

Oleh :

Ni Luh Mega Desyanti P07134011035

KEMENTERIAN KESEHATAN REPUBLIK INDONESIA POLITEKNIK KESEHATAN DENPASAR JURUSAN ANALIS KESEHATAN 2013

Metode Analisis Kualitatif Dan Kuantitatif Karbohidrat
A. Uji Kualitatif 1. Uji Molisch Uji ini untuk semua jenis karbohidrat. Monosakarida, disakarida, dan polisakarida akan memberikan hasil positif. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. a. Prinsip Prinsip reaksi ini adalah dehidrasi senyawa karbohidrat oleh asam sulfat pekat. Dehidrasi heksosa menghasilkan senyawa hidroksi metil furfural, sedangkan dehidrasi pentosa menghasilkan senyawa fulfural. Uji positif jika timbul cincin merah ungu yang merupakan kondensasi antara furfural atau hidroksimetil furfural dengan a-naftol dalam pereaksi molish. Uji molisch adalah uji kimia kualitatif untuk mengetahui adanya karbohidrat. Uji ini untuk semua jenis karbohidrat. Mono-, di-, dan polisakarida akan memberikan hasil positif. b. Cara Kerja 1. 15 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. 3 tetes pereaksi Molisch ditambahkan dan dicampur dengan baik. 3. Tabung reaksi dimiringkan lalu dialirkan dengan hati-hati 1 mL H2SO4 pekat melalui dinding tabung agar tidak tercampur. 4. Reaksi positif ditandai dengan terbentuknya cincin berwarna ungu pada batas antara kedua lapisan 2. Uji Benedict Uji Benedict adalah uji kimia untuk mengetahui kandungan gula (karbohidrat) pereduksi (yang memiliki gugus aldehid atau keton bebas) . Gula pereduksi meliputi semua jenis monosakarida dan beberapa disakarida seperti laktosa, glukosa dan maltosa. Uji benedict berdasarkan reduksi Cu2+ menjadi Cu+ oleh gugus aldehid atau keton bebas dalam

terjadi perubahan oleh HCl panas menjadi asam levulinat dan 4hidroksilmetilfurfural. a. Uji Seliwanoff Uji Seliwanoff bertujuan untuk mengeahui adanya ketosa (karbohidrat yang mengandung gugus keton). kadang disertai dengan larutan yang berwarna hijau. Disakarida sukrosa yang mudah dihidrolisa menjadi glukosa dan fruktosa memberi reaksi positif dengan uji Seliwanoff. Dimasukkan kedalam penangas air selama 5 menit. biasanya ditambahkan zat pengompleks seperti sitrat atau tatrat untuk mencegah terjadinya pengendapan CuCO3. Amati perubahan warna endapannya. kuning. Alat dan bahan disiapkan 2. Prinsip : Gula yang mempunyai gugus aldehid atau keton bebas akan mereduksi ion Cu b. Pembentukan warna endapan hijau. atau orange. 3 tetes sampel(dalam bentuk larutan) dimasukkan kedalam tabung reaksi yang masih kering dan bersih 3. Uji positif ditandai dengan terbentuknya endapan merah bata. Cara kerja 1. kemudian dikocok. 2+ dalam suasana alkalis menjadi Cu+ yang mengendap sebagai Cu2O berwarna merah bata. Pada pereaksi seliwanoff. 5. 3. Prinsip : Dehidrasi fruktosa oleh HCl pekat menghasilkan hodroksimetilfurfural dan dengan penambahan resorsinol akan mengalami kondensasi membentuk senyawa kompleks berwarna merah oranye. a. atau merah menunjukan reaksi positif karbohidrat.suasana alkalis. Glukosa dan karbohdrat lain dalam jumlah banyak dapat juga memberi warna yang sama. 4. merah. 2 mL pereaksi Benedict ditambahkan. Jika dipanaskan karbohidrat yang mengandung gugus keton akan menghasikan warna merah pada larutannya. .

1 mL pereaksi Barfoed ditambahkan. kemudian dikocok. 4. Tabung dimasukkan kedalam penangas air selama 3 menit. a. lakukan pemanasan selama 15 menit sampai terlihat adanya reduksi. 5. Tabung dididihkan di atas api kecil selama 30 detik atau dalam penangas air mendidih selama 1 menit. Cara kerja 1. Bila tidak terjadi reduksi selama 5 menit. Cara kerja 1. Uji Osazon Untuk membedakan bermacam-macam karbohidrat dari gambar kristalnya. 3. Uji Barfoed Uji ini untuk membedakan monosakarida dan disakarida dengan jalan mengontrol kondisi-kondisi percobaan.b. Prinsip . 4. seperti pH dan waktu pemanasan. 5. 5 tetes larutan uji dan 15 tetes pereaksi Seliwanoff dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. b. Hasil positif ditandai dengan terbentuknya larutan berwarna merah orange. Pada analisa ini. Dinginkan dalam air mengalir. 1 mL larutan uji karbohidrat dimasukkan kedalam tabung reaksi yang masih kering dan bersih. Disakarida juga akan memberikan hasil positif bila didihkan cukup lama hingga terjadi hidrolisis. 3. 2. a. karbohidrat direduksi pada suasana asam. Prinsip Ion Cu2+ (dari pereaksi Barfoed) dalam suasana asam akan direduksi lebih cepat oleh gula reduksi monosakarida daripada disakarida dan menghasilkan endapan Cu2O berwarna merah bata.

adalah larutan basa dari perak nitrat. Untuk mencegah pengendapan ion perak sebagi oksida pada suhu tinggi. Amonia membentuk kompleks larut air dengan ion perak. Tabung dipanaskan dalam penangas air mendidih selama beberapa menit. Masukkan beberapa tetes larutan uji karbohidrat kedalam tabung rekasi yang telah diisi 2 mL pereaksi Tollens. Perhatikan perubahan warna yang terjadi. Cara kerja 1. Didinginkan perlahan dibawah air keran. . Larutannya jernih dan tidak berwarna. 3. b. Masukan kedalam penangas air selama 1 menit. Kristal osazon yang terbentuk khas sesuai dengan jenisnya. maka a. 4. Uji positf ditandai dengan terbentuknya cermin perak pada dinding dalam tabung reaksi. Prinsip Aldehid dioksidasi menjadi anion karboksilat. Seujung spatel fenilhidrazin-hidroklorida dan kristal natrium asetat ditambahkan ke dalam tabung. Perhatikan kristal yang terbentuk dan diidentifikasi dibawah mikroskop. 3. 2 mL larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. Pereaksi tollens. 6. 2. 5. pengoksidasi ringan yang digunakan dalam uji ini. Hasil dicatat ditambahkan beberapa tetes larutan amonia. Uji Tollens Uji ini untuk positif terhadap karbohidrat pentosa yang membedakannya dengan heksosa. Aldehida dapat mereduksi pereaksi Tollens sehingga membebaskan unsur perak (Ag). ion Ag+ dalam reagensia Tollens direduksi menjadi logam Ag. b.Suatu aldosa atau ketosa dengan fenil hidrazin akan membentuk Kristal osazon. Cara kerja 1.

10 tetes peraksi Bial dan 2 tetes HCl pekat ditambahkan . Catat hasil dan buatlah kesimpulannya 8. Isi tabung reaksi dengan 5 mL larutan uji sukrosa. Dinginkan perlahan-lahan. Hasil pemanasan akan menghasilkan warna biru hijau yang menunjukkan adanya gula pentosa. Pemanasan pentose dengan HCl pekat akan menghasilkan furfural yang berkondensasi dengan orcinol dan ion feri. Uji Barfoed menjadi positif pula dan menunjukkan bahwa hidrolisis sukrosa menghasilkan monosakarida. b. Prinsip Dehidrasi pentosa oleh HCl pekat menghasilkan furfural dengan penambahan orsinol (3. 5. lalu menghasilkan fruktosa dan glukosa. kemudian netralkan. Hidrolisa Sukrosa Mengidentifikasi hasil hidrolisis sukrosa a. 3. Prinsip Sukrosa dalam HCl dalam keadaan panas akan terhidrolisis. Cara kerja 1.5-dihidroksi toluena) akan berkondesasi membentuk senyawa kompleks berwarna biru. 2.7. a. Seliwanoff dan Barfoed. Uji Bial Uji bial untuk menguji adanya gula pentose. 4. Hal ini menyebabkan uji Benedict dan Seliwanoff yang sebelumnya hidrolisis menghasilkan hasil negative menjadi positif. Tambahkan 1 mL HCl 10%. Tes hidrolisa dengan pereaksi Benedict. 6. Masukan kedalam penangas air selama 15 menit. 5 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi. 2. Cara kerja 1. b.

b. Campurlah dengan baik. Prinsip Polisakarida dengan penambahan iodium akan membentuk kompleks adsorpsi berwarna yang spesifik. 10. Hasil akhir hidrolisis ditegaskan dengan uji Benedict. Terbentuknya warna biru menunjukan adanya pentose. 4. Amilum atau pati dengan iodium menghasilkan warna biru . lalu dipanaskan di atas api kecil sampai timbul gelembung-gelembung gas dipermukaan larutan. 3 tetes larutan uji dimasukkan ke dalam tabung reaksi 2. Hidrolisa Pati Mengidentifikasi hasil hidrolisis amilum (pati). dekstrin menghasilkan warna merah anggur. sedangkan glikogen dan sebagian pati yang terhidrolisis bereaksi dengan iodium membentuk warna cokelat. a. sedangkan karbohidrat berantai pendek seperti disakarida dan monosakaraida tidak membentuk struktur heliks sehingga tidak dapat berikatan dengan iodin. a. Perhatikan warna atau endapan yang terbentuk. Reaksi antara polisakarida dengan iodin membentuk rantai poliiodida. 9.3. Diamati perubahan warna yang terjadi 4. . Polisakarida umumnya membentuk rantai heliks (melingkar). Hasil hidrolisis dapat diuji dengan iodium dan menghasilkan warna biru sampai tidak berwarna. Cara kerja 1. Uji iod juga dapat membedakan amilum dengan nitrogen. Prinsip Pati dalam suasana asam bila dipanaskan akan terhidrolisis menjadi senyawa-senyawa yang lebih sederhana. sehingga dapat berikatan dengan iodin. Ditambahkan 2 tetes larutan iodium 3. Uji Iodium Uji iod bertujuan untuk mengidentifikasi polisakarida.

Selanjutnya diamati di bawah mikroskop.5 mL HCl 2 N 2. . Campurlah dengan baik. 2. lalu netralkan dengan NaOH 2%. Prinsip Larutan uji dicampurkan dengan HNO3 pekat kemudian dipanaskan. lalu dimasukkan ke dalam penangas air mendidih. a. dan perhatikan terbentuknya kristal-kristal keras seperti pasir. 7. Namun. b. Cara kerja 1. Lanjutkan hidrolisis selama 5 menit lagi. Simpulkan apa yang dihasilkan hidrolisis pati. Lakukan uji iodium setiap 3 menit sampai hasil berwarna kuning pucat. 8. kemudian ditambahkan 2. Setelah didinginkan. Lalu didinginkan perlahan-lahan. 3. diambil 2 mL larutan hasil hidrolisis.b. 6. 10 tetes larutan uji dan 2 tetes HNO3 pekat dimasukkan di dalam tabung reaksi. 5. 3. Selanjutnya dipanaskan dalam penangas air mendidih sampai volumenya kira-kira tinggal 2-3 tetes. Uji dengan kertas lakmus. 5 mL amilum 1% dimasukkan ke dalam tabung reaksi. Cara kerja 1. laktosa dan galaktosa menghasilkan asam musat yang dapat larut. 11. 4. Uji Asam Musat Dilakukan untuk membedakan antara glukosa dan galaktosa. Setelah 3 menit. Catatlah perubahan warna yang terjadi. Kemudian ujilah dengan Benedict. 4. ujilah dengan iodium dengan mengambil 2 tetes larutan ditambah 2 tetes iodium dalam porselin tetes. Karbohidrat dengan asam nitrat pekat akan menghasilkan asam yang dapat larut.

Intensitas warna yang terbentuk diukur dengan spektofotometer. Cara kerja 1.Uji Kuantitatif 1.2 mg/ml). d) Panaskan tabung reaksi di atas penangas air 100 oC selama 12 menit. Analisis total gula (Metode Anthrone) Gula dapat bereaksi dengan sejumlah pereaksi menghasilkan warna spesifik. Intensitas absorbansnya diukur pada λ=630nm.6. Metode ini digunakan untuk analisis total gula bahan padat atau cair.10-dihidro-9-oksoantrasena) 0. a.0. pipet larutan glukosa standar sebanyak 0. Voertex dan kocok hingga merata.2. c) Tambahkan pereaksi 5 ml Anthrone dengan cepat ke dalam larutan glukosa standard an blanko kemudian tutup. Senyawa anthrone (9. Dinginkan e) Pindahkan larutan ke dalam kuvet dan baca absorbans dengan UV-Vis spektrofotometer pada 630 nm. Pembuatan kurva standar : a) Kedalam tabung reaksi bertutup. b) Buat larutan blanko dengan cara memipet 1 ml air destilata ke dalam tabung reaksi lain.0 ml. Intensitas warna dipengaruhi oleh konsentrasi gula.0. Pereaksi Anthrone bereaksii dengan karbohidrat dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna biru kehijauan.10dihydro-9.4.1% dalam asam sulfat pekat. Prinsip : Prinsip dasar dari metode anthrone adalah senyawa anthrone akan bereaksi secara spesifik dengan karbohidrat dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna biru kehijauan yang khas. dan 1. f) Buat plot kurva yaitu konsentrasi (g) glukosa standar pada sumbu x dan nilai absorbans pada sumbu y.0. lalu encerkan sehingga total volume masing-masing tabung 1.B.oxanthracene) merupakan hasil reduksi anthraquinone. b.0 ml (glukosa standar 0. .8. Pereaksi Anthrone (9.

dan turunannya dapat bereaksi dengan fenol dalam asam sulfat pekat menghasilkan warna oranye kekuningan yang stabil. Rumusnya dapat ditulis sebagai berikut. Analisis contoh : a) Lakukan pengenceran contoh b) Masukkan sebanyak 1ml contoh kedalam tabung reaksi tertutup c) Lakukan tahap seperti pada pembuatan kurva standar 3.2. Prinsip Gula sederhana. Analisis total gula (Metode Fenol) Metode ini digunakan untuk menetapkan total gula semua bahan pangan. Prosedur 1. oligosakarida. b. polisakarida. a. Total gula (%) = ((GxFP)/W)x100 Dimana: G (gram) FP W = faktor pengenceran = berat contoh (gram) = konsentrasi gula dari kurva standar 2. Sebelumnya contoh harus disiapkan seperti pada persiapan contoh untuk analisis gula. Perhitungan Perhitungan metode ini adalah dengan menentukan konsentrasi gula dalam contoh mengguanakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitunkan pengenceran yang dilakukan. Pembuatan kurva standar : .

Rumus perhitungannya dapat ditulis sebagai berikut.a) Ambil sebanyak 2ml larutan pada beberapa konsentrasi b) Tambahkan 1ml larutan fenol (5%). dan tempatkan dalam penangas air selama 15 menitUkur absorbansnya pada 490nm untuk hekstosa sedangkan untuk pentosa dan asam uronat 480 nm. Analisis contoh a) Lakukan pengenceran contoh b) Masukkan 2ml contoh ke dalam tabung reaksi dan lakukan tahap seperti pada pembuatan kurva standar. Lalu tentukan persamaan regresi linier. 2. Analisis gula reduksi (Metode Lane-Eynon) . e) Buat plot kurva standar. 2. Total gula (%) = ((GxFP)/W)x100 Dimana: G FP W = konsentrasi gula dari kurva standar (gram) = faktor pengenceran = berat contoh (gram) 3. Perhitungan Perhitungan menggunakan metode fenol adalah konsentrasi gula dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitungkan pengenceran yang dilakukan. lakukan vortex c) Tambahakan 5 ml larutan asam sulfat pekat dengan cepat secara tegak lurus kepermukaan cairan d) Diamkan selama 10 menit. vorteks.

b) Kemudian lakukan tahapan seperti pada analisis contoh. Prinsip Metode Lane-Eynon didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi Fehling oleh gula-gula pereduksi. Metode ini digunakan untuk penentuan gula pereduksi dalam bahan padat atau cair seperti laktosa. 2. Titik akhir titrasi ditunjukkan dengan metilen blue yang warnanya akan hilang karena kelebihan gula pereduksi di atas jumlah yang dibutuhkan untuk mereduksi semua tembaga b. Penetapan gula pereduksi dengan melakukan pengukuran volume larutan gula pereduksi standar yang dibuthkan untuk mereduksi pereaksi tembaga (II) basa menjadi tembaga (II) oksida (Cu2O). Analisis contoh : a) Campurkan larutan fehling A dan B dengan volume yang sama b) Pipet 10 ml larutan dari hasil persiapan contoh kedalam erlemeyer . fruktosa. maltosa. Standarisasi larutan fehling : a) Masukkan 10 ml laruta campuran Fehling A dan B kedalam erlenmeyer dan tambah 2-4 tetes metilen blue 0. Prosedur 1. Udara yang mempengaruhi reaksi dikeluarkan dari campuran reaktan dengan cara mendidihkan laruta selama titrasi. glukosa.Gula pereduksi dalam bahan pangan dapat ditentukan konsentrasinya berdasarkan pada kemampuannya untuk mereduksi pereaksi lain. a.2%. Analisis gula pereduksi dengan metode Lane-Eynon dilakukan secara volumetri dengan titrasi/titrimetri.

a. Gula . lakukan titrasi sengan larutan gula standart sampai warna biru hilang f) Titrasi tertentu.c) Tambahkan 0. Perhitungan Gula pereduksi (%) = [(V0-Vs)xGxTsxFx100]/(TxW) Dimana: Vo Vs (ml) G Ts T W F = konsentrasi larutan glukosa standar (g/ml) = volume contoh total dari persiapan contoh (ml) = volume contoh yang diperlukan untuk titrasi (ml) = berat contoh (g) = faktor pengenceran = volume larutan glukosa standar untuk titrasi larutan = volume larutan glukosa standar untuk titrasi contoh Fehling (ml) dilakukan dengan cepat. 3.2 %. Analisis Gula Reduksi (Nelson-Somogyi) Metode in digunakan unttuk mengetahui kadal gula pereduksi dalam sampel. maka perlu ditambahkan larutan glukosa standar dengan volume 3. Prinsip Metode Nelson-Somogyi didasarkan pada reaksi reduksi pereaksi tembaga sulfat oleh gula-gula pereduksi. kedalam erlenmeyer 10 ml larutan campuran fehling A dan B serta 2-4 tetes metilen blu d) Panaskan campura larutan di atas hot plate magnetic stirrer e) Setelah mendidih.

8 dan 1 ml larutan glukosa standar. f) Tambahkan 7 ml aquadest. 0. lakukan prosedur yang sama dengan pembuatan kurva standar mulai dari no. Pembuatan kurva standar a) Siapkan 6 tabung reaksi masing masing diisi dengan 0.6. kocok homogen sampai semua endapan kuprooksida larut semua.2. 3 – 7.4. 3. 0. 0. b. b) Tambahkan aquadest dalam tiap tiap tabung tersebut sehingga volume untuk tiap-tiap tabung mencapai 1 ml c) Tambahkan 1 ml reagensia Nelson pada tiap-tiap tabung dan panaskan dalam air mendidih selama 20 menit d) Dinginkan semua tabung dengan cara direndam dalam air dingin hingga suhu mencapai 250C e) Tambahkan 1 ml reagen Arsenomolibdat pada tiap-tiap tabung.kocok homogen g) Tera absorbansinya pada λ 540 nm dengan spektrofotometer h) Buat kurva standar hubungan antara absorbansi dan konsentrasi i) Tentukan persamaan kurva standarnya 2. Cu2O ini bersama dengan arsenomolibdat membentuk senyawa komplek berwarna. Perhitungan .pereduksi mereduksi pereaksi tembaga (II) basa menjadi tembaga (I) oksida (Cu2O). Penentuan kadar gula reduksi sampel: a) Ambil 1 ml larutan sampel jernih. Intensitas warna menunjukkan banyaknya gula pereduksi dengan pengujian menggunakan λ=520 nm. Prosedur Kerja 1. b) Tentukan kadar gula reduksi sampel dengan menggunakan persamaan kurva standar. 0.

Kandungan glukosa dapat ditentukan menggunakan metode penetapan gula seperti metode Anthrone. Sehingga kandungan pati adalah kandungan glukosa x 0. Amilopektin Kandungan pati dalam bahan pangan dapat ditentukan secara volumetrik/titrimetri atau kolorimetri. metode Nelson-Somogyi. Total gula = gula pereduksi + gula non-reduksi 4. metode Lane-Eynon.9. Prosedur kerja 1. Dapat ditentukan untuk analisis kadar pati pada contoh padat atau cair. Dapat juga terjadi secara enzimatis (enzim α-amilase dan glukoamilase) yang memecah molekul-molekul amilosa dan amilopektinn menjadi gula sederhana. Apabila kandungan gula pereduksi diketahui. Hidrolisis pati menjadi gula dapat terjadi saat ada perlakuan asam yaitu memecah ikatan glikosidik yang menghubungkan antar glukosa. a. Analisis Total Pati. Amilosa. Aduk selama 1 jam . maka kandungan gula non-pereduksi dapat ditentukan sebagai selisih antara kadar total gula dengan kadar gula pereduksi.9). Penentuan total pati adalah dengan cara menghidrolisis pati secara sempurna menjadi glukosa.Perhitungan dalam metode ini adalah kandungan gula pereduksi dalam contoh ditentukan dengan menggunakan kurva standar (hubungan antara konsentrasi gula standar dengan absorbans) dan memperhitungkan pengenceran yang dilakukan. Persiapan sampel a) Masukkan sebanyak 2 – 5 g contoh padat atau cair ke dalam gelas (untuk contoh padat perlu dihaluskan dahulu) b) Tambahkan ke dalam gelas piala sebanyak 50 ml alkohol 80%. Kandungan pati ditentukan menggunakan fakor pengali (0. metode fenol.

i) Tepatkan larutan sampai tanda tera dengan menggunakan air destilat. . Saring setiap pencucian dengan kertas saring. Panaskan tabung reaksi di dalam air mendidih sekitar 10 menit sampai semua amilosa membentuk gel. Biarkan menguap eter yang tersisa dalam residu. e) Cuci lagi residu dengan 150 ml alkohol 10% untuk membebaskan lebih lanjut karbohidrat yang terlarut. 2. g) Tutup suspensi residu di dalam gelas piala dengan pendinginan balik (kondensor). Pembuatan kurva standar 1. 2. Timbang sebanyak 40 mg amilosa murni dan masukkan ke dalam tabung reaksi.c) Saring suspensi yang terbentuk dengan kertas saring dan cuci dengan air sampai volume filtrat 250 ml (filtrat ini mengandung karbohidrat yang larut dan dibuang) d) Untuk menghilangakn lemak. netralkan larutan yang terbentuk dengan larutan NaOH 45% dan masukkan ke dalam labu takar 500 ml secara kuantitatif. cuci pati yang terdapat sebagai residu dengan 10 ml eter (sebanyak 5 kali). Tambahkan ke dalam tabung reaksi 1 ml etanol 95% dan 9 ml NaOH 1N. 3. f) Pindahkan residu secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam gelas piala dengan cara pencucian dengan 200 ml air. h) Setelah didinginkan. j) Saring kembali larutan dengan menggunakan kertas saring. Tambahkan 20 ml HCl 25%.

8. Tepatkan larutan iod dengan air hingga tanda tera. kemudian tambahkan masing – masing 2 ml larutan iod. Pipet gel amilosa (beberapa seri konsentrasi) ke dalam labu takar 100ml 6. pindahkan campuran secara kuantitatif ke dalam labu takar 100ml dan tepatkan dengan air sampai tanda tera 5. Tambahkan ke dalam masing – masing labu takar asam asetat 1N. Analisis contoh : 1. Setelah didiamkan selama 20 menit. 3. Setelah didinginkan. 7. Tambahkan ke dalam tabung reaksi 1ml etanol 95% dan 9ml NaOH 1 N. Gunakan contoh tepung yang mengandung pati (apabila contoh mengandung komponen lain maka pati perlu diekstrak dahulu) 2. Panaskan tabung reaksi selama 10 menit untuk menggelatinisasi pati 4. ukur absorbans dari intensitas warna biru dengan spektrofotometer pada panjang gelombang 625 nm. Buat kurva standar sebagai hubungan antara kadar amilosa (sumbu x) dengan absorbans (sumbu y) 3.4. 9. Setelah didinginkan. Timbang sebanyak 100mg contoh dan masukkan ke dalam tabung reaksi 2. masukkan pasta pati ke dalam labu takar 100ml dan tepatkan hingga tanda tera dengan menggunakan air .

ukur absorbansinya dengan spektrofotometer pada 625 nm. Kandungan amilopektin ditentukan sebagai selisih antara kandungan pati dengan amilosa. C= konsentrasi amilosa contoh dari kurva standar (mg/ml) V FP W = volume akhir contog (ml) = faktor pengenceran = berat contoh (mg) Perhitungan kadar amilosa ditentukan dengan menggunakan kurva standar. lalu ditambahkan asam asetat 1N. Intensitas warna biru tergantung pada kadar amilosa dan dapat ditentukan secara spektofotometri. dengan menggunakan . Perhitungan Kandungan amilosa ditentukan berdasarkan kemampuan amilosa untuk bereaksi dengan senyawa iod yang menghasilkan kompleks berwarna biru. Angka 0.5.9 adalah faktor konversi untuk pembentukan glukosa dari hidrolisa pati. Setelah didiamkan selama 20 menit. Pipet larutan pati tersebut dan dimasukkan ke dalam labu takar 100ml. 2 ml larutan iod. 4. dan air hingga tanda tera 6. rumus: Kadar amilosa (%) = (CxVxFPx100)/W Dimana. Pati = amilosa + amilopektin Perhitungan dalam menentukan berat pati dalam contoh diperoleh dengan mengalikan berat glukosa dengan 0.9.

Terdiri dari selulosa.Kadar amilopektin (%) = Kadar pati (%) – Kadar amilosa (%) 5. Kadar hemiselulosa diperoleh dengan menghitung selisih kadar NDF dengan kadar ADF. . dan lignin. dan sebagian kecil hemiselulosa dan substansi pektat sehingga umumnya dianggap sebagai selulosa dan lignin.Serat kasar ditentukan dari residu setelah contoh diperlakukan dengan asam dan basa kuat. Analisis Karbohidrat Yang Tidak Dapat Dicerna Analisis Karbohidrat Yang Tidak Dapat Dicerna yaitu meliputi Analisis serat kasar (crude fiber) dan analisis serat makanan (dietary fiber). Prosedur Kerja • Giling contoh sampai halus sehingga dapat melewati saringan berdiameter 1 mm. Kadar selulosa diperoleh dengan menghitung selisih kadar ADF dan kadar Lignin. hemiselulosa. a. sedikit lignin dan pentose. Serat kasar yaitu residu dari bahan makanan yang telah diperlakukan dengan asam dan alkali mendidih. • Timbang sebanyak 2 gram contoh dan ekstrak lemaknya dengan menggunakan soxhlet dengan pelarut petrolium eter. NDF terdiri dari selulosa.5 g asbes yang telah dipijarkan dan 2 tetes zat anti buih. Sedangkan penetapan substansi pekat dengan metode spektrifotometer. Tambahkan 0. Penetapan lignin yaitu dengan metode klason. maka digiling hingga homogen. ADF itu sendiri terdiri dari sebagian besar selulosa dan lignin. • Pindahkan contoh yang sudah bebas lemak secara kuantitatif ke dalam erlenmeyer. Bila contoh tidak dapat dihaluskan. Serat makanan ditentukan berdasarkan kadar acid detergent fiber (ADF) dan neutral detergen fiber (NDF). Total serat makanan dihitung dengan menjumlahkan kadar NDF dengan kadar substansi pektat.

• Pindahkan residu secara kuantitatif dari kertas saring ke dalam erlenmeyer kembali. Pencucian dilakukan hingga air cucian tidak bersifat asam lagi (diuji dengan kertas lakmus). • Cuci residu yang tertinggal dengan air mendidih. • Setelah selese saring suspensi dengan kertas saring. • Didihkan contoh di dalam erlenmeyer selama 30 menit dengan sesekali digoyang-goyangkan.• Tambahkan ke dalam erlenmeyer sebanyak 200 mL larutan H2SO4mendidih. timbang conto • Hitung berat residu serat kasar dengan menghitung selisih antara berat contoh dan kertas saring dengan berat kertas saring. • Cuci residu di kertas saring dengan air mendidih kemudian dengan alkohol 95%. • Letakkan erlenmeyer di dalam pendingin balik. • Cuci kembali sisa residu di kertas saring dengan 200 mL larutan NaOH mendidih sampai semua residu masuk ke dalam erlenmeyer. • Keringkan kertas saring dalam oven 1100C sampai 1-2 jam. • Didihkan kembali contoh selama 30 menit dengan pendingin balik sambil sesekali digoyang-goyangkan. • Setelah didinginkan dalam desikator. . • Saring kembali contoh melalui kertas saring yang diketahui beratnya sambil dicuci dengan K2SO4 10%.

serat kasar (g/100 g contoh) = [(W2- . Perhitungan Kadar W1)/W]/x100 Dimana: W2= berat residu kertas saring yang telah dikeringkan (g) W1 W = berat kertas aring = berat contoh yang dianalisis.b.

Liberty : Yogyakarta Yazid. B. .html) Diakses pada tanggal 22 April 2013 Sudarmaji. Nursanti. Winarno. F.2009. 1982.G. Andi Offset : Yogyakarta.Wahyu. Diakses pada tanggal 22 April 2013. Diakses dalam (http://filzahazny. dkk. Penuntun Praktikum BIOKIMIA untuk Mahasiswa Analis.Karbohidrat. 2009 . Kimia Pangan dan Gizi.blogspot 10/uji-kualitatif- karbohidrat.com /2009/ Diakses dalam (http://wahyuriyadi. Analisa Bahan Makanan dan Pertanian. 2006. Gramedia : Jakarta .wordpress. Riyadi. Estien dan Lisda.Uji Kualitatif Karbohidrat. 1986.com / 2009/07/10/ karbohidrat/).Daftar Pustaka Nurlita.

Related Interests