A.

Dermatofitosis
Definisi Dermatofitosis adalah mikosis super-fisialis (mengenai lapisan permukaan kulit, rambut dan kuku) yg disebabkan oleh jamur golongan dermatofita. Disebut juga sebagai

tinea,ringworm, kurap, teigne, herpes sirsinata. Epidemiologi Infeksi dermatofita 5 kali lebih banyak pada laki-laki daripada perempuan. Namun Tricophyton tonsurans (penyebab tinea capitis) lebih banyak pada wanita daripada pria dewasa, dan paling sering pada anak-anak afrika amerika. Pola perpindahan manusia bisa mempengaruhi distribusi endemik yang cepat, seperti pada kasus T. Tonsurans. Dalam waktu ¼ abad, T. Tonsurans mendominasi sebagai penyebab tinea capitis menggantikan M. Audouinii di Amerika Serikat, karena adanya resistensi T. Tonsurans terhadap griseofulvin, serta berkaitan dengan adanya imigrasi populasi Meksiko dan Karibbia. Etiologi: Golongan jamur dermatofita merupakan kelompok jamur berfilamen, yang terbagi dalam 3 genus yaitu Trychophyton, Mycrosporum, dan Epidermophyton. Jamur ini dapat menginfeksi jaringan keratin manusia maupun binatang. Klasifikasi Dermatofitosisi dibagi oleh beberapa penulis, misalnya SIMSONS dan GOHAR (1954), menjadi dermatomikosis, trikomikosis, onikomikosis berdasarkan bagian tubuh yang terserang. Pembagian yang lebih praktis yang dianut para spesialis kulit adalah yang berasarkan lokasi. Dengan demikian dikenal bentuk-bentuk: Tinea Kapitis, dermatofitosis pada kulit dan rambut kepala Tinea Barbe, dermatofitosis pada dagu dan jenggot Tinea kruris, dermatofitosis pada daerah genitokrural, sekitar anus, bokong dan kadangkadang sampai perut bagian bawah. Tinea Pedis et Manum, dermatofitosis pada kaki dan tangan

-

Tinea unguium, dermatofitosis pada kuku tangan dan kaki Tinea Korporis, dermatofitosis pada bagian yang lain yang tidak termasuk bentuk 5 tinea diatas.

Selain 6 tinea, masih dikenal istilah yang mempunyai arti khusus, yaitu: Tinea imbrikata, dermatofitosis dengan susunan skuama yang konsentris dan disebabkan Trichophyton concentricum Tinea favosa atau favus, dermatofitosis yang teutama disebabkan Trichophyton schoenleini: secara klinis antara lain terbentuk skutula dan berbau seperti tikus (mousy odor). Tinea fasialis, tinea aksilaris, yang juga menunjukan daerah kelainan. Tinea sirsinata, arkuata yang merupakan penamaan deskriptif morfologis.

Keenam istilah tersebut diatas dapat dianggap seagai sinonim tinea korporis. Faktor Risiko      Area dari tubuh yang hangat, intertriginus (lipatan-lipatan pada kulit), yang hampir selalu lembab, menyebabkan maserasi kulit dan kemungkinan organisme masuk. Pasien-pasien terimunosupresi Dermatitis atopik Tinggal pada iklim dengan kelembaban tinggi Pakaian atau alas kaki yang oklusif

Gejala Klinis Umumnya dermatofitosis pada kulit memberikan morfologi yang khas yaitu bercak-bercak yang berbatas tegas disertai efloresensi-efloresensi yang lain, sehingga memberikan kelainan-kelainan yang polimorf, dengan bagian tepi yang aktif serta berbatas tegas sedang bagian tengah tampak tenang. Gejala objektif ini selalu disertai dengan perasaan gatal, bila kulit yang gatal ini digaruk maka vesikel-vesikel akan pecah sehingga menimbbulkan daerah yang erosit dan bila mongering jadi

krusta dan skuama. Kadang-kadang bentuknya menyerupai dermatitis (ekzema marginatum), tetapi kadang-kadang hanya berupa macula yang berpigmentasi saja (Tinea korporis) dan bila ada infeksi sekunder menyerupai gejala-gejala pioderma (impetigenisasi). Predileksi Predileksi pada dermatofitosis bermacam-macam sesuai dengan klasifikasinya. Namun secara garis besarnya dermatofitosis predileksinya di bagian Kuku, lipat paha, Bagian kulit yang tidak berambut, Rambut dan kulit kepala, Punggung, bahu, dada, lengan, muka. Patomekanisme Terjadinya penularan dermatofitosis adalah melalui 3 cara yaitu: Antropofilik, transmisi dari manusia ke manusia. Ditularkan baik secara langsung maupun tidak langsung melalui lantai kolam renang dan udara sekitar rumah sakit/klinik, dengan atau tanpa reaksi peradangan (sileny “carrier”). Zoofilik, transmisi dari hewan ke manusia. Ditularkan melalui kontak langsung maupun tidak langsung melalui bulu binatang yang terinfeksi dan melekat di pakaian, atau sabagai kontaminan pada rumah / tempat tidur hewan, tempat makanan dan minuman hewan. Sumber penularan utama adalah anjing, kucing, sapi, dan kuda. Geofilik, transmisi dari tanah ke manusia. Secara sporadis menginfeksi manusai dan menimbulkan reaksi radang. untuk dapat menimbulkan suatu penyakit, jamur harus dapat mengatasi pertahanan tubuh non spesifik dan spesifik. Jamur harus mempunyai kemampuan melekat pada kulit dan mukosa penjamu, serta kemampuan un tuk menembus jaringan penjamu, dan mampu bertahan dalam lingkungan pejamu, menyesuaikan diri dengan suhu dan keadaan biokimia penjamu untuk dapat berkembang biak dan menimbulkan reaksi jaringan atau radang. Infeksi dermatofita meliputi 3 langkah : perlekatan ke keratinosit, penetrasi melalui dan diantara sel, perkembangan respon host. Perlekatan ke keratinosa

Perlekatan artokonidia pada jaringan keratin tercapai maksimal setelah 6 jam, dimediasi oleh seraut dinding terluar dermatofit yang memproduksi keratinase (keratolitik) yang dapat menghidrolisis keratin dan memfasilitasi pertumbuhan jamur ini di startum korneum. Dermatofit juga melakukan aktifitas proteolitik dan lipolitik dengan mengeluarkan serine proteinase (urokinase dan aktivator plasminogen jaringan) yang menyebabkan katabolisme protein ekstrasel dalam menginvasi penjamu. Proses ini dipengaruhi oleh kedekatan dinding dari kedua sel, dan pengaruh sebelum antara artrospor dan korneosit yang dipermudah oleh adanya proses trauma atau adanya lesi pada kulit. Penetrasi melalui dan diantara sel Spora harus tumbuh dan menembus masuk stratum korneum dengan kecepatan melebihi proses deskuamasi. Proses penetrasi menghasilkan sekresi proteinase, lipase, dan enzim musinolitik, yang menjadi nutrisi bagi jamur. Diperlukan waktu 4-6 jam untuk germinasi dan penetrasi ke stratum korneum setelah spora melekat pada keratin. Dalam upaya pertahan dalam menghadapi pertahanan imun yang terbentuk tersebut, jamur patogen menggunakan beberapa cara yaitu:  Penyamaran, antara lain dengan membentuk kapsul polisakarida yang tebal, memicu pertumbuhan filamen hifa, sehingga β glucan yang terdapat pada dinding sel jamur tidak terpapar oleh dectin-1, dan dengan membentuk biofilamen, suatu polimer ekstrasel, sehingga jamur dapat bertahan terhadap fagositosis.  Pengendalian, dengan sengaja mengaktifkanmekanisme penghambatan imun penjamu atau secara aktif mengendalikan respons imun mengarah kepada tipe pertahanan yang tidak efektif, contohnya Adhesin pada dinding sel jamur berkaitan dengan CD14 dan komplemen C3 (CR3, MAC1) pada dinding makrofag yang berakibat aktivasi makrofag akan terhambat.  Penyerangan, dengan memproduksi molekul yang secara langsung merusak atau memasuki pertaanan imun spesifik dengan mensekresi protease yang dapat menurunkan barrier jaringan sehingga memudahkan proses invasi oleh jamur, dan memproduksi siderospore (suatu molekul penangkap zat besi yang dapat larut) yang digunakan untuk menangkap zat besi untuk kehidupan aerobik. Respon imun penjamu

Terdiri dari dua mekanisme, yaitu imunitas alami yang memberikan respons cepat dan imunitas adaptif yang memberikan respons lambat. Pada kondisi individu dengan sistem imun yang lemah (immunocompromized), cenderung mengalami dermatofitosis yang berat atau menertap. Pemakaian kemoterapi, oabat-obatan transplantasi dan steroid dapat meningkatkan kemingkinan terinfeksi oleh dermatofit non patogenik.

Diagnosis ANAMNESIS Anamnesis pada sistem tropis pada dasarnya sama dengan sistem lainnya hanya saja ada beberapa hal yang perlu ditanyakan untuk menunjang diagnosis yaitu: tanyakan kapan kelainan tersebut mulai muncul, hilang timbul atau menetap, dimana lokasi awalnya, apakah menyebar atau tidak..? apakah disertai gatal atau tidak..? apakah bercak ini ada hubungannya dengan gigitan serangga atau luka (trauma)..? apakah ada minum oabatobat tertentu...? apa sebelumnya pernah menderita dermatitis Atopik...? PEMERIKSAAN FISIK Pada pemeriksaan fisik bisa ditemukan gejala” berupa Kuku retak-retak, lapuk, erosi, krusta, pustula, penipisan rambut kepala, Makula kelabu atau kecoklatan. PEMERIKSAAN PENUNJANG Identifikasi laboratorium: 1. Pemeriksaan Langsung Sediaan dari bahan kerokan (kulit, rambut dan kuku) dengan larutan KOH 10-30% atau pewamaan Gram. Dengan pemeriksaan mikroskopis akan terlihat elemen jamur dalam bentuk hipa panjang, spora dan artrospora. 2. Pembiakan/Bakteriologik Tujuan pemeriksaan cara ini untuk mengetahui spesies jamur penyebab, dilakukan bila perlu. Bahan sediaan kerokan ditanam dalam agar Sabouroud dekstrose; untuk mencegah pertumbuhan bakteri dapat ditambahkan antibiotika (misalnya khloramfenikol) ke dalam media tersebut. Perbenihan dieramkan pads suhu 24 – 30°C. Pembacaan dilakukan dalam waktu 1 – 3 minggu. Koloni yang tumbuh diperhatikan mengenai wama, bentuk, permukaan dan ada atau tidaknya hipa.

3.

Histpopatologik Untuk menegakkan diagnosis dermatofitosis, tidak bermakna.

4.

Serologik Pemeriksaan cara ini tidak bermanfaat untuk dermatofitosis.

Penatalaksanaan 1. Medikamentosa Topikal: Dengan krim atau salep yang mengandung obat antimikotik seperti asam salisilat (210%), resorsinol (1-2%), viroform (3%), asam undesilenat (5-15%). Boleh dalam bentuk tingtura. Bila terdapat tanda-tanda infeksi sekunder atau dermatitis, maka komplikasi ini harus diobati lebih dulu. Sistemis: Dapat diberikan griseofulvin untuk jangka waktu yang lama (1/2 bln), terutama pada onikomikosis. Pada tinea kapitis dapat dilakukan penyinaran dengan sinar x (dosis epilasi). 2. Non-Medikamentosa Mengurangi atau menghilangkan factor predisposisi. Komplikasi 1. Infeksi sekunder oleh bakteri 2. Hiperpigmentasi karena infeksi jamur kronik 3. Efek samping pemakaian obat steroid topikal dapat mengakibatkan eksaserbasi penyakit

Prognosis Prognosis penyakit ini baik

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful