Pengantar psikologi banget!

Ilmu tentang jiwa itulah selalu yang terngiang di otak kita ketika mendengar kata Psikologi. Ilmu tentang Jiwa adalah arti turunan dari Psyche dan Logos. Akan tetapi sesuai dengan perkembangan zaman psikologi mengalami pembaruan makna secara istilah, dengan menggunakan istilah ilmu tentang prilaku. Tentunya perubahan definisi bukanlah tanpa sebab. Tidak hanya satu akan tetapi dari berbagai sisi, seperti hegemoni Gereja, Renesanse, dan peristiwa tahun 1979 yang dilakukan oleh W. Wundt dengan laboratoriumnya. Perubahan dari jiwa ke prilaku juga dirasa lebih tepat karena prilaku dapat diamati, kongkrit, terukur, objektif dan merupakan ekspresi dari yang abstrak; IQ, emosi, sifat, minat, bakat, sikap, dll. Setelah sekian lama mungkin terbesit pikiran, sebenarnya untuk apa psikologi itu. Psikologi digunakan secara administratif untuk deskripsi, prediksi dan intervensi. Mungkin untuk lebih jelasnya kita dapat lihat contoh-contoh dibawah ini Contoh Penelitian dalam Ruang lingkup Psikologi;
• • • • • • • • • • • •

Merokok pada remaja Tawuran Aborsi Kerusuhan (Ambon-Sambas) Kebersihan lingkungan Lalu Lintas (three in one) Tes Potensi Akademik HIV /Aids Kepribadian Soeharto Rumah Susun Anak Berbakat Dll

Contoh Kasus-kasus dalam Ruang Lingkup Psikologi;
• • • • • • • • •

Tes Bakat Seleksi Pegawai Hubungan Suami Istri Hubungan Anak – Orang tua BT (Patah Hati) PT (Narkoba) Kurang MB (Motivasi Belajar) Kurang PD (Kurang Seksi) Dll.

Contoh Jasa yang bisa dilakukan dalam ruang lingkup Psikologi.
• •

Seleksi Karyawan Assesment Center

• • • • • • • •

Marketing Analisis Jabatan Sosialisasi KB Program Gizi Sehat Konsultasi Remaja Konsultasi Perkawinan Pelatihan Karyawan Pengembangan Budaya Perusahsaan

Jenjang pendidikan Psikologi : • Sarjana Psikologi (S1), 8 Semester – Langsung kerja – Ke S2 • Magister Psikologi (S2), 4 Semester – Profesi Psikolog – Terapan – Akademik • Doktor Psikologi (S3), 6 Semester Spesialisasi S2 Psikolog : Industri, Klinis, Pendidikan Magister Terapan : SDM, Intervensi Sosial, Psikometri, Psikologi Kesehatan, Dll. Akademik : Psikologi Sosial, Psikologi Pendidikan, Psikologi Klinis, Psikologi Perkembangan, Psikologi Industri dan Organisasi. Lapangan Pekerjaan : S.Psi : Play Group, Reporter, Staff HRD, Marketing, Advertising, Community Development, etc. M.Si : Psikolog (Khusus Profesi: RS, Biro Konsultasi, Sekolah, TNI/Polri, Dll.), Konsultan/ Pakar (HRD, Pemerintah, Perusahaan, Olahraga, LSM, Dll.), Peneliti, Dosen. Doktor : Peneliti, Dosen, Konsultan. Dikutip dari perkuliahan Dr Sarlito W Sarwono

Sekilas Tentang Hans Eysenck! Hans Jürgen Eysenck lahir 4 Maret 1916 - meninggal 4 September 1997 Dia adalah seorang Psikolog yang handal, karya terbesarnya kebanyakan pada bidang kepribadian dan intelegensi, walaupun begitu dia bekerja pada bidang yang lebih luas lagi. Sampai pada saat kematiannya Esyenck adalah Psikolog yang paling banyak dikutip oleh jurnal Ilmiah (Haggbloom, 2002) Hans Eysenck dilahirkan di Jerman, kemudian pada tahun 1930 pindah ke Inggris karena dia menjadi opposisi dari partai Nazi. Esyenck adalah pendiri dari jurnal ilmiah Personality and Individual Differences, dia juga telah membuat 50 buku dan lebih dari 900 artikel, dia selalu memberikan perhatian penuh pada karyanya yang paling kontroversial yaitu perbedaan IQ di antara kelompok ras yang berbeda. Hidup dan dedikasinya Eysenck adalah seorang profesor Psikologi di Institute Psikiatri dari tahun 1955 sampai 1983. Dia adalah kontributor terbesar pada teori kepribadian modern dan seorang dosen yang juga memainkan peranan pada perawatan prilaku dari rumah sakit jiwa. Bagaimanapun, buah pikiran Esyenck seringkali sangat kontroversial. Publikasi yang ditampilkan Esyenck selalu menjadi kontrovsi termasuk beberapa karyanya berikut ini : (secara kronologis) * Sebuah paper pada tahun 1950 yang pada intinya adalah “Gagalnya sebuah hipotesa bahwa psikoterapi bisa menyembuhkan gangguan syaraf” (fail to support the hypothesis that psychotherapy facilitates recovery from neurotic disorder). * Sebuah Bab pada Uses and Abuses of Psychology (1953) berjudul “Apa yang salah dalam Psikoanalisis” (What is wrong with psychoanalysis). * Race, Intelligence and Education (1971)(The IQ Argument in the U.S.) * Sex, Violence and the Media (1978). * Astrology - Science or Superstition? (1982) * Smoking, Personality and Stress (1991) Eysenck juga menghasilkan kritik ketika menerima dana dari Pioneer Fund, sebuah LSM yang sangat kontroversial. Peristiwa yang sangat menarik dari beberapa debat yaitu tentang peranan genetic dalam perbedaan IQ, yang kemudian membuat Esyenck terkenal karena ditinju tepat di hidungnya ketika sedang melakukan diskusi di sekolah ekonomi London (London School of Economics). Sikap-sikap Eysenck dirangkum dalam autobiographinya “Berontak dengan sebab” (Rebel with a Cause) (Transaction Publishers (1997), ISBN 1-56000-938-1): "I always felt that a scientist owes the world only one thing, and that is the truth as he sees it. If the truth contradicts deeply held beliefs, that is too bad. Tact and diplomacy are fine in international relations, in politics, perhaps even in business; in science only one thing matters, and that is the facts." “Saya selalu merasa bahwa seorang ilmuwan hanya memiliki satu hal di dunia ini, dan itu adalah kebenaran, jika kebenaran itu bertentangan dengan kepercayaan orang banyak, sangat disayangkan. Diplomasi dan basa-basi dapat diwajarkan dalam hubungan international, politik dan bisnis; dalam ilmu hanya satu hal yang bermasalah dan itu adalah fakta.” Model teori kepribadian Esyenck (P-E-N)

Eysenck adalah satu dari Psikolog pertama yang mempelajari kepribadian dengan metode faktor analisis, sebuah tehnik statistik yang diperkenalkan oleh Charles Spearman. Hasilnya Esyenck menyebutkan dua faktor utama kepribadian. Yang pertama adalah keinginan untuk merasakan emosi negatif, dan Esyenck menyebutnya sebagai Neuroticism. Yang kedua adalah keinginan untuk menikmati peristiwa positif, khususnya peristiwa sosial, dan Esyenck menyebutnya sebagai Ekstraversion. Dua dimensi kepribadian ini digambarkan dalam bukunya yang berjudul dimensi kepribadian (1947). Pada prakteknya dalam Psikologi Kepribadian tertuju pada dimensi dengan menggunakan Huruf depan yaitu E dan N. E dan N mengandung 2 ruang dimensi yang menggambarkan perbedaan individu dalam tingkah laku. Sebuah analogi bisa dibuat gelombang latitude dan longitude menggambarkan titik permukaan bumi. Esyenck juga menambahkan bahwa dua dimensi ini sama dengan empat tipe kepribadian yang disusun oleh ahli jiwa Yunani Galen. * N tinggi dan E tinggi * N tinggi dan E rendah * N rendah dan E tinggi * N rendah dan E rendah = = = = tipe Choleris tipe Melancholis tipe Sanguinis tipe Phlegmatis

Dimensi ketiga, psikoticism ditambahkan pada akhir tahun 1970-an , yang didasarkan pada kolaborasi antara Esyenck dan istrinya, Sybil B. G. Esyenck (Eysenck & Eysenck, 1969; 1976), yang merupakan editornya pada buku Personality and Individual Differences. Kekuatan utama dari model Esyenck adalah menampilkan teori secara detail pada hal-hal yang muncul dalam kepribadian. Contoh : Esyenck mengatakan bahwa extraversion disebabkan oleh variabelvariabel dalam cortical arousal; "karakteristik introvert pada level aktivitas yang lebih tinggi dari pada extraverts dan lebih kronis dan lebih cepat tegang daripada extraverts (Eysenck & Eysenck, 1985). sementara sangat bertolak belakang, yang seharusnya introvert lebih aroused dari pada extravert, dampaknya terlihat pada tingkah laku yaitu introvert menerima stimulus dengan lambat, perubahannya , extravert lebih tinggi dalam ketegangan untuk mencapai level yang optimal. (sebagaimana diprediskikan oleh Yerkes-Dodson Law) dengan berkembangnya aktifitas, hubungan sosial, dan stimulus lain yang menimbulkan tingkah laku. Perbandingan dengan teori lain. Alternatif terpenting dalam tiga faktor teori kepribadian Esyenck adalah model yang menggunakan lima macam prilaku, yang lebih sering disebut sebagai model lima besar. Perlakuan yang diberikan kepada lima besar ini adalah sebagai berikut : 1. Extraversion 2. Neuroticism 3. Conscientiousness 4. Agreeableness 5. Openness to experience Extraversion dan Neuroticism dalam lima besar sama dengan gagasan Esyenck dengan nama yang sama. Bagaimanapun, apa yang Esyenck sebut sebagai gagasan dari Psikoticism merunut pada dua gagasan dalam model lima besar : Conscientiousness dan Agreeableness dalam sistem kepribadian Eysenck tidak searah dengan Openness to experience. Dia berpendapat bahwa pendekatannya memiliki deskripsi kepribadian yang lebih baik.(Eysenck, 1992a; 1992b).

Model kepribadian penting lainnya adalah Jeffrey Alan Gray, salah seorang muridnya. Eysenck selalu menekankan bahwa penggunaan terma "extraversion" tidak merunut pada teori yang digunakan Carl Jung, dan dia juga menantang penganut teorinya bahwa Jung juga tidak menemukan terma itu. Skala Psikometri yang sebanding dengan teori Eysenck Teori kepribadian Eysenck dihubungkan dengan skala yang dikembangkan olehnya. Ini termasuk Maudsley Medical Questionnaire, Eysenck Personality Inventory (EPI), Eysenck Personality Questionnaire (EPQ) dan Sensation Seeking Scale (developed in conjunction with Marvin Zuckerman). The Eysenck Personality Profiler (EPP) memecah perbedaan yang ada dalam tiap perlakuan yang disadari oleh model. Ada beberapa perdebatan tentang apakah facet harus disertai dengan dorongan facet extraversion sebagaimana dideklarasikan oleh Esyanck dalam karya awalnya; atau psychoticism. Eysenck mendeklarasikannnya untuk nanti, dalam pekerjaan nantinya.declared for the latter, in later work. Eysenck's dan karya terbarunya. Pada tahun 1994 dia adalah satu dari 52 orang yang menandatangani "Mainstream Science on Intelligence," sebuah editorial yang ditulis oleh Linda Gottfredson dan diterbitkan di Jurnal Wall Street, yang merupakan benteng pertahanan dari lomba dan kepintaran di bell Curve. Eysenck membuat kontibusi awal dalam bidang kepribadian dengan cepat dan komitment yang kuat untuk masukan yang penting dalam metode ilmiah, sebagaimana Esyenck percaya bahwa metode ilmiah diperlukan untuk perkembangan psikologi kepribadian. Dia menggunakan, sebagai contoh, faktor analisis, sebuah metode statistik yang handal, untuk mendukung model kepribadiannya. Karya awalnya menunjukan bahwa Esyenck adalah kritikus hebat dari psikoanalisis sebagai bentuk therapy, menurut terapi Behaviour. Walaupun ini hanyalah semangat pengetahuan, Esyenck tidak malu, dalam karya berikutnya, ia memberikan perhatian pada Parapsikologi dan Astrologi. Bahkan, dia mempercayai adanya bukti empiris yang mendukung adanya kekuatan paranormal. Referensi * Eysenck, H.J. (1992a). A reply to Costa and McCrae. P or A and C - the role of theory. Personality and Individual Differences, 13, 867-868. * Eysenck, H.J. (1992b). Four ways five factors are not basic. Personality and Individual Differences, 13, 667-673. * Eysenck, H.J. & Eysenck, S.B.G. (1969). Personality Structure and Measurement. London: Routledge. * Eysenck, H.J. & Eysenck, S.B.G. (1976). Psychoticism as a Dimension of Personality. London: Hodder and Stoughton. * H.J. Eysenck & D.K.B. Nias, Astrology: Science or Superstition? Penguin Books (1982) ISBN 014-022397-5 * Haggbloom, S.J. (2002). The 100 most eminent psychologists of the 20th century. Review of General Psychology, 6, 139-152.

Sejarah, metode dan kontroversinya! Tes Bercak tinta Rorschach adalah sebuah metode dari evaluasi Psikologi. Psikolog menggunakannya untuk menguji karakeristik kepribadian dan fungsi emosi dari para pasien. Bercak tinta adalah sebuah metode untuk mengevaluasi prilaku. Psikolog menggunakan tes ini untuk menguji karakeristik kepribadian dan fungsi emosional dari pasien mereka. Rorschach adalah alat tes kedua yang paling sering digunakan dalam pemeriksaan forensik, setelah MMPI, dan sudah lama digunakan dalam mendiagnosis keinginan terpendam yang menyimpang dan membedakan hal pemikiran psikotik dari yang bukan psikotik Sejarah Tes bercak tinta Rorschach telah dikembangkan oleh Hermann Rorschach, seorang psikiater dari Swiss dan pendukung aliran Psikoanalisis, pada awal abad ke dua puluh. Rorschach menyumbangkan sepuluh kartu standard yang sering digunakan sekarang ini dan lebih dikenal dengan sistem skoring. Rorschach menyadari bahwa testnya merupakan test “persepsi dan apersepsi” dari pada imajinasi. Sistem skoring Rorschach yang asli lebih menekankan pada faktor perseptual – sebagai contoh bagaimanapun sebuah respon merupakan dampak dari bentuk, gerakan yang didapat, atau warna dari bercak. Sistem Exner sangat populer di Amerika Serikat, sementara di Eropa menggunakan buku teks dari Evald Bohm, yang lebih mendekati sistem Rorschach asli yang terinspirasi dari psikoanalis dan lebih sering dijadikan standard kerja. Metode Setelah Rorschach wafat sistem skor asli dikembangkan oleh, antara lain, Bruno Klopfer. John E. Exner menghimpun beberapa pengembangan selanjutnya dalam sistem Exner yang lebih komprehensif, dan pada saat yang sama mencoba untuk membuat skor yang secara statistik lebih terlihat. Kebanyakan sistem didasarkan pada teori psikoanalitik dan sistem didasarkan pada hubungan tiap-tiap objek. Ada sepuluh bercak. Lima diantaranya hitam diatas putih, tiga beraneka warna. Psikolog biasanya menunjukan bercak tinta dengan beberapa instruksi dan bertanya pada pasien, pada tiap-tiap kartunya, “Ini mungkin menjadi apa?” setelah pasien melihat dan merespon semua kartu, psikolog kemudian memberikan lagi satu-satu untuk dipelajari. Pasien ditanyakan berbagai hal yang terlihat dalam bercak tinta itu, dimana dia melihatnya, dan apa yang ada dalam bercak tinta itu sehingga membuatnya menjadi seperti itu. Bercak itu juga bisa di putar. Ketika pasien menelusuri bercak tinta itu, psikolog menulis semua yang dikatakan atau dilakukan oleh pasien, walaupun sepele. Psikolog juga mencatat lama waktu terpakai, yang dapat digunakan untuk pemeriksaan lebih lanjut. Metode penafsiran sangat dalam. Metode yang sangat umum digunakan di Amerika Serikat didasari dari hasil kerja John E. Exner. Dalam sistem Exner, respon diberikan skor dengan mengacu pada tingkat ketidak jelasan atau penggabungan dari beberapa gambaran dalam bercak, lokasi respon, yang merupakan kumpulan determinan dan digunakan untuk merespon (sebagai contoh, apapun bentuk dari bercak tinta, warna, atau teksture yang merupakan faktor utama yang membuatnya tampak seperti itu itulah yang harus disusun), kualitas bentuk dari respon (kearah mana sebuah respon terlihat ke bagaimana gambar bercak sesungguhnya), isi dari respon (apa yang sesungguhnya responden lihat dari bercak), tingkatan dari aktivitas organisasi mental terlibat dalam menghasilkan respon, dan segala sesuatu yang tidak logis, tidak kongruen, dan aspek yang tidak koheren dari respon.

Menggunakan skor dari kategori ini, penguji kemudian menampilkan serangkain penghitungan matematis untuk menghasilkan Laporan berstruktur dari data test. Hasil dari laporan berstruktur ditafsirkan menggunakan penelitian empiris mengenai karakter kepribadian yang telah dicoba untuk diasosiasikan dengan beberapa respon yang berbeda. Keduanya penghitungan skor dan penafsiran telah selesai sebuah kesalahan konsepsi dari test Rorschach penafsiran sering kali didasari dari isi respon – apa yang testee lihat dalam bercak tinta. Pada faktanya, isi dari respon hanyalah porsi kecil yang komperatif dari bagian terluar variabel yang digunakan untuk menafsirkan data Rorschach. Kontroversi test bercak tinta Rorschach sangat bertentangan dalam dua hal. Pertama, karena bercak dari tinta secara nyata tidak berarti dan subjektif, pengevaluasian hasil dari test membutuhkan bercak tinta untuk menjadi berarti pada tahap pertama. Jika tidak, gambar yang diproyeksikan ke dalam pola-pola akan menjadi tidak berarti dalam penilaian pemeriksaan kepribadian. Pendukung dari tes bercak tinta Rorschach percaya bahwa respon subjek dalam keadaan ambigu dan ransangan yang tidak berarti dapat menjadi insight dalam proses pengetahuan. Akan tetapi proyek harus dalam polanya untuk memberikan arti dan, dalam sebuah perasaan, bawalah alat test untuk dilihat sendiri. Kemudian hasilnya dari tes apapun tidak hanya akan menunjukan apa yang pasien proyeksikan ke dalam bercak tinta, akan tetapi juga apa yang telah psikolog lihat dalam proyeksi pasien. Ketiga bagian bisa dipanggil kembali untuk dievaluasi apa yang berdampak bagi pentafsiran psikolog dalam hasil test, akan tetapi evaluasi bagian ketiga akan sangat menggugah oleh pentafsiran alam bawah sadar dari pola yang tidak berarti. Proses evaluasi dan mengevaluasi bisa berlangsung selamanya. Ketika ditafsirkan dalam proyektif test, hasilnya sangat susah untuk diverifikasi. Sistem skor Exner, yang mentafsirkan test dalam pola dari faktor (arsiran, warna, garis, dll) bercak tinta yang menuntun pada tiap komentar dari orang-orang yang telah ditest, ini berarti untuk menandai, akan tetapi masalah pada validitas tes masih ada. Bagaimanapu, ada penelitian mendasar yang menunjukan kegunaan dari kondisi yang terdeteksi seperti kondisi gangguan mental, mood, dan gangguan cemas, gangguan kepribadian, dan psikopat. Para pendukung test mencoba menyimpan rahasia dari kartu sehingga jawabannya tidak akan dapat diduga-duga. Latihan ini sesuai dengan standard etik dari menjaga kerahasiaan alat test. Alat tes yang asli hanya akan dijual kepada profesional yang bersertifikat. Etika ini dilanggar pertama kali oleh William Poundstone dalam buku besar rahasianya (1983), yang menggambarkan metode administrasi test dan memberikan outline dari sepuluh gambar resmi. Pada tahun 2004, gambar telah bocor di internet, ini mengurangi nilai dari tes projective pada individu yang telah akrab dengan materi, dan berpotensi merusak perawatan mereka. Komunitas Rorschach telah mengklaim bahwa bercak itu memiliki hak paten, ini telah dilanggar oleh orang lain yang menyatakan bahwa bercak itu harusnya berada di masyarakat secara legal didasarkan pada ketika mereka diciptakan dan bagaimana dan beberapa lama sebelum Rorschach meninggal dunia(over 80 years).

POWERED BY :

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful