ADNAN ADIN NUGRAHA 10/305376/TK/37488 S1 PERENCANAAN WILAYAH DAN KOTA

TUGAS PENGEMBANGAN MASYARAKAT
Berikut adalah hasil wawancara saya dengan seorang ibu yang bekerja sehari-hari sebagai pengemis di sekitar Jalan Kaliurang, Sleman. Ibu tersebut bertempat tinggal di daerah Pingit bersama suami dan tiga orang anaknya. Hasil wawancara ini sekiranya dapat memberikan persepsi baru mengenai masyarakat miskin dalam usaha pemenuhan kebutuhan sehari-hari mereka.

HASIL WAWANCARA Sejak kapan Ibu bekerja sebagai pengemis? Kira-kira hampir sepuluh tahun semenjak saya pindah dari Purwodadi ke Yogyakarta bersama suami dan anak-anak saya. Kalau boleh saya tahu, mengapa Ibu memilih menjadi pengemis? Saya bukannya memilih, tetapi karena sudah keadaan. Penghasilan sehari-hari suami yang hanya bekerja sebagai tukang parkir belum cukup untuk mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untungnya untuk biaya sekolah anak-anak, saya masih mendapat subsidi dari pemerintah. Jadi anak-anak Ibu masih bersekolah? Menurut Ibu seberapa penting pendidikan untuk anakanak? Iya, sangat penting malah. Inginnya anak-anak saya bisa bersekolah sampai SMA dan mendapat pekerjaan yang baik. Saya tidak ingin anak-anak saya nantinya hanya akan bernasib seperti saya. Tidak bersekolah, tidak punya ketrampilan, akhirnya cuma jadi pengemis seperti saya ini. Saya ingin anak-anak saya nantinya bisa hidup lebik baik daripada saya sekarang.

Kemudian beberapa saat setelah itu. bahkan beberapa juga memberi makanan. tidak diusir lagi sama yang punya ruko. Karena sudah tidak punya lahan dan modal untuk berjualan. Seharusnya untuk orang-orang seperti saya ini juga diberikan ketrampilan agar nantinya bisa punya pekerjaan yang lebih layak. berkecukupan. Namun pernah juga saya hanya didiamkan dan diusir karena dianggap mengganggu. Usaha angkringan itu dimodali dari suatu LSM yang dengan senang hati membantu orang-orang seperti saya ini. Tetapi ternyata usaha itu tidak bertahan lama. Teko dan tempat duduk yang saya gunakan mendadak hilang. Apa harapan ibu untuk kedepannya? Harapannya. Kalau bisa saya ingin kembali berjualan angkringan dan mempunyai tempat berjualan sendiri. Ketika Ibu mengemis kendala apa saja yang sering muncul? Tidak banyak sebenarnya. ya pastinya ingin hidup enak. kemudian saya kembali menjadi pengemis. roda angkringan pun dirusak sampai tidak bisa dipakai lagi. Orang-orang masih banyak yang bersedia dengan ikhlas memberi saya uang. barang-barang modal untuk angkringan saya juga dicuri. . Pemilik ruko tersebut tidak mengijinkan saya untuk berjualan dan mengusir saya. Saya diusir dari tempat berjualan saya karena saya berjualan di depan sebuah ruko.Apakah ibu tidak terpikirkan untuk mencari pekerjaan lain yang lebih layak? Sebenarnya dulu saya pernah berjualan angkringan di daerah Pingit. Pemerintah seharusnya tidak hanya memberi bantuan berupa uang atau bahan pokok saja.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful