You are on page 1of 10

R o b y H a m b a l i

PENGUAPAN
Penguapan merupakan salah satu proses penting yang terjadi pada daur hidrologi.
Penguapan dapat terjadi di semua permukaan yang mengandung air (moisture), yaitu
permukaan air, permukaan tanah, permukaan tanaman, permukaan yang tertutup tanaman
(vegetated surface) (Sri Harto, 2000). Dengan kata lain, penguapan hanya akan terjadi
apabila terdapat perbedaan tekanan uap air antara permukaan dan udara.
Proses penguapan yang terjadi di suatu areal tertentu sebenarnya adalah evaporasi
langsung dari permukaan tanah dan tanaman melalui intersepsi, serta penguapan air dari
tanaman melalui stomata daun yang disebut transpirasi. Jadi, keseluruhan proses penguapan
ini disebut dengan istilah evapotranspirasi (evpotranspiration).
Beberapa istilah dan defenisi penguapan dapat dijabarkan sebagai berikut ini:
1. Evaporasi (evaporation)
Evaporasi adalah proses perubahan dari zat cair atau padat menjadi gas, atau dengan
istilah lain, evaporasi adalah proses transfer air (moisture) dari permukaan bumi ke atmosfir.
Besarnya evaporasi dapat diperkirakan dengan pendekatan teoritis maupun pengukuran
langsung. Namun demikian, pengukuran langsung lebih sering digunakan untuk keperluan
analisis secara lebih praktis. Nilai-nilai penguapan berubah-ubah, tergantung pada faktor
meteorologis dan keadaan dari permukaan yang menguap. Menurut Sri Harto (2000), faktor-
faktor meteorologis yang berpengaruh terhadap evaporasi antara lain Suhu, kelembaban
(humidity), tekanan udara (barometer) dan angin.
a. Suhu
Suhu udara, suhu permukaan bidang penguapan (air, vegetasi dan tanah) adalah
faktor penting yang perlu dipertimbangkan dalam menghitung besarnya evaporasi. Makin
tinggi suhu udara diatas permukaan bidang penguapan, makin mudah terjadi perubahan
bentuk dari zat cair menjadi gas. Suhu air maupun suhu udara, sangat tergantung dari besar
kecilnya radiasi matahari. Oleh karena itu, terdapat ketergantungan yang baik antara radiasi
matahari, suhu dan penguapan.
b. Kelembaban (humidity)
Ketika proses penguapan berlangsung, udara di atas permukaan bidang penguapan
secara bertahap menjadi lebih lembab sampai pada tahap ketika udara menjadi jenuh dan
tidak mampu menampung uap lagi. Pada tahap ini, udara jenuh diatas permukaan bidang
penguapan tersebut akan berpindah ke tempat lain akibat beda tekanan dan kerapatan udara
dan dengan demikian proses penguapan air dari bidang penguapan tersebut akan
berlangsung secara terus menerus. Hal ini terjadi karena adanya pergantian udara lembab
oleh udara yang lebih kering.
1
R o b y H a m b a l i
c. Tekanan udara (barometer)
Perubahan tekanan udara dapat diikuti oleh perubahan faktor meteorologis seperti
angin dan suhu (bila ketinggian berubah).
d. Angin
Peran angin untuk memindahkan udara yang telah tercampur molekul uap air dan
menggantikan dengan massa udara lain yang masih lebih mampu menampung uap air, akan
menaikkan/ mempertahankan laju penguapan. Makin tinggi kecepatan angin, maka laju
penguapan juga akan bertambah.
Sifat alamiah bidang permukaan penguapan juga akan mempengaruhi proses
evaporasi melalui perubahan pola perilaku angin. Pada bidang permukaan kasar atau tidak
beraturan, kecepatan angin akan berkurang oleh adanya proses gesekan. Namun demikian,
pada tingkat tertentu, permukaan bidang penguapan yang kasar juga dapat menimbulkan
gerakan angin berputar yang dapat memperbesar evaporasi.
2. Intersepsi (interception)
Hujan yang jatuh di atas vegetasi sebagian akan melekat pada daun maupun batang,
bagian ini disebut tampungan/simpanan intersepsi yang akhirnya segera menguap. Proses
intersepsi terjadi selama berlangsungnya hujan dan setelah hujan berhenti sampai permukaan
vegetasi menjadi kering kembali. Proses ini akan mengurangi hujan yang menjadi run off.
Besar kecilnya intersepsi dipengaruhi oleh sifat hujan (terutama intensitas hujan dan
lama hujan), kecepatan angin, jenis vegetasi (kerapatan daun dan bentuk daun). Intersepsi
tidak hanya terjadi pada daun bagian atas saja, melainkan juga terjadi pada bagian bawah
vegetasi. Faktor-faktor yang mempengaruhi proses intersepsi dapat dikelompokkan menjadi
dua yaitu vegetasi dan iklim.
3. Transpirasi (transpiration)
Transpirasi adalah penguapan air yang terserap tanaman, tidak termasuk penguapan
dari permukaan tanah (Sri Harto, 2000). Besarnya kecilnya laju transpirasi secara tidak
langsung ditentukan oleh radiasi matahari melalui membuka dan menutupnya pori-pori
tanaman. Oleh karena fotosintetis (pada vegetasi) sangat tergantung pada radiasi yang
diterima, maka sekitar 95% dari transpirasi harian terjadi pada saat matahari bersinar (Linsley,
dkk., 1986). Kecepatan transpirasi sangat ditentukan oleh jenis tanaman, ketersediaan air
tanah yang ada dan permukaan yang seluruhnya tertutup oleh vegetasi. Transpirasi juga
dibatasi oleh suatu keadaan, di mana kelengasan yang diperlukan tanaman telah tersedia.
4. Evapotranspirasi (evapotranspiration)
Telah dijelaskan sebelumnya bahwa evapotranspirasi adalah seluruh proses
penguapan yang terjadi dari permukaan tanah dan tanaman atau dengan kata lain, seluruh
2
R o b y H a m b a l i
permukaan yang bertanaman (vegetated surface). Evapotranspirasi dibedakan menjadi
evapotranspirasi potensial (PET) dan evapotranspirasi aktual (AET). PET lebih dipengaruhi
oleh faktor-faktor meteorologis, seperti radiasi, kelembaban, angin dan temperatur, serta
adanya penutup hutan atau tidak (permukiman dan pertanian), sementara AET lebih
dipengaruhi faktor fisiologi tanaman dan unsur tanah. Di hutan sebagian hujan dihambat oleh
tajuk daun tetumbuhannya dan selanjutnya diuapkan (penguapan air hambatan), untuk
tanaman pertanian penguapan air hambatan diabaikan (Weert,1994).
PERHITUNGAN EVAPOTRANSPIRASI ACUAN (ETO)
Evapotranspirasi acuan (ETo) adalah besarnya evapotranspirasi dari tanaman
hipotetik (teoritis) yaitu dengan ciri ketinggian 12 cm, tahanan dedaunan yang ditetapkan
sebesar 70 det/m dan albedo (pantulan radiasi) sebesar 0,23, mirip dengan evapotranspirasi
dari tanaman rumput hijau yang luas dengan ketinggian seragam, tumbuh subur, menutup
tanah seluruhnya dan tidak kekurangan air (Smith, 1991 dalam Weert, 1994). Nilai ETo dapat
dihitung dari data meteorologi. Perlu diperhatikan, bahwa perkiraan ETo rata-rata untuk DAS
lebih kompleks, karena ragam kondisi dalam suatu DAS dapat jauh berbeda. Rumus yang
menjelaskan evapotranspirasi acuan secara teliti adalah rumus Penman-Monteith, yang pada
tahun 1990 oleh FAO dimodifikasi dan dikembangkan menjadi rumus FAO Penman-Monteith
(Anonim, 1999) yang diuraikan sebagai berikut:
ETo =
( ) ( )
( )
2
2
34 . 0 1
273
900
408 0
u
e e u
T
G Rn .
a s
+ +

+
+

(1)
keterangan :
ETo = Evapotranspirasi acuan(mm/hari),
Rn = Radiasi netto pada permukaan tanaman (MJ/m
2
/hari),
G = Kerapatan panas terus-menerus pada tanah (MJ/m
2
/hari),
T = Temperatur harian rata-rata pada ketinggian 2 m (
o
C),
u2 = Kecepatan angin pada ketinggian 2 m (m/s),
es = Tekanan uap jenuh (kPa),
ea = Tekanan uap aktual (kPa),
= Kurva kemiringan tekanan uap (kPa/
o
C),
= Konstanta psychrometric (kPa/
o
C).
Untuk penyelesaian Persamaan (1) di atas, terlebih dahulu perlu didapatkan nilai-nilai
dari beberapa variabel dan konstanta yang berkaitan, berdasarkan rumus-rumus berikut ini:
a. Konstanta psychrometric ()
Konstanta psykometrik dapat ditentukan menggunakan tabel sebagai fungsi dari
ketinggian (z), atau dapat pula dihitung berdasarkan rumus berikut ini:
3
R o b y H a m b a l i
P x
P c
p 3
10 665 . 0

(2)
26 . 5
293
0065 . 0 293
3 . 101
,
_

z
P (3)
dimana:
= konstanta psychrometric (kPa/
o
C),
P = tekanan atmospher (kPa),
= laten heat of vaporization = 2.45 (MJ/kg),
cp = pemanasan spesifik pada tekanan konstan = 1.013x10
-3
(MJ/kg/
o
C),
= perbandingan berat molekul uap air/ udara kering = 0.622.
b. Temperatur rata-rata (Tmean)
Temperatur rata-rata dihitung dengan Persamaan (4) berikut ini:
2
min max
T T
T
mean

(4)
dimana:
T
mean
= temperatur udara harian rata-rata (
o
C),
T
max
= temperatur udara harian maksimum (
o
C),
T
min
= temperatur udara harian minimum (
o
C).
c. Kelembaban relatif (RH)
Kelembaban relatif (RH) yang digunakan adalah nilai rata-rata dari kelembaban
relatif maksimum (RHmax) dan minimum (RHmin) yang dinyatakan sebagai kelembaban
relatif rata-rata RHmean (Anonim, 1999).
( ) T e
e
RH
o
a
100
(5)
( )
1
]
1

3 . 237
27 . 17
exp 6108 . 0
T
T
T e
o
(6)
dimana:
RH = kelembaban relatif (%)
ea = tekanan uap aktual (kPa)
e
o
(T) = tekanan uap jenuh pada temperatur udara T (kPa)
T = temperatur udara (
o
C)
d. Tekanan uap jenuh (es)
Tekanan uap jenuh dapat dihitung menggunakan Persamaan 7 berikut ini:
2
) ( ) (
min max
T e T e
e
o o
s
+
(7)
dimana:
e
s
=tekanan uap jenuh (kPa),
e
o
(Tmax) = tekanan uap jenuh pada temperatur udara maksimum (kPa),
4
R o b y H a m b a l i
e
o
(Tmin) = tekanan uap jenuh pada temperatur udara minimum (kPa).
Tekanan uap jenuh (es) yang ditentukan berdasarkan nilai e
o
(Tmean) akan
memberikan hasil yang lebih kecil untuk nilai es, sehingga dapat mempengaruhi nilai
perhitungan selanjutnya (Anonim, 1999).
e. Tekanan uap aktual (ea)
Tekanan uap aktual dapat dihitung dengan beberapa rumus berdasarkan data yang
tersedia, diantaranya melalui data temperatur titik embun (Tdew), data psychrometric, dan
data kelembaban relatif (RH). Rumus berikut merupakan perhitungan tekanan uap aktual
(ea) berdasarkan kelembaban relatif.
2
100
) (
100
) (
min
max
max
min
RH
T e
RH
T e
e
o o
a
+

(8)
atau
100
) (
max
min
RH
T e e
o
a
(9)
atau
1
]
1

2
) ( ) (
100
min max
T e T e RH
e
o o
mean
a (10)
dengan:
ea = tekanan uap aktual (kPa),
e(Tmin) = tekanan uap jenuh pada temperatur harian minimum (kPa),
e(Tmax) = tekanan uap jenuh pada temperatur harian maksimum (kPa),
RHmax = kelembababn relatif maksimum (%),
RHmin = kelembababn relatif minimum (%),
RHmean = kelembababn relatif rata-rata (%).
Menurut FAO (1999), apabila data kelembaban relatif tidak tersedia atau kualitas
datanya diragukan, maka pendekatan lain yang dapat diambil adalah ea = e
o
(Tmin).
f. Kurva kemiringan tekanan uap (
Kurva kemiringan tekanan uap dapat dihitung menggunakan Persamaan (11)
berikut ini:
( )
2
3 . 237
3 . 237
27 . 17
exp 6108 . 0 4098
+
1
]
1

,
_

+

T
T
T
(11)
dengan:
= kurva kemiringan tekanan uap jenuh pada temperatur udara T (kPa),
T = temperatur udara (
o
C).
5
R o b y H a m b a l i
g. Radiasi netto (Rn)
Radiasi netto dapat dihitung menggunakan Persamaan (12) berikut ini:
nl ns n
R - R R
(12)
s ns
R R ) 1 (
(13)
a s s s
R
N
n
b a R
,
_

+
(14)
s
N

24

(154)
Bila nilai n tidak tersedia pada data klimatologi, maka rumusnya dapat diganti dengan:
( ) Ra T T K Rs
Rs min max

(16)
R
so
= (0.75 + 2 l0
-5
z)R
a
(17)
( ) ( ) ( ) ( ) ( ) [ ]
s s r sc a
d G R

sin cos cos sin sin


) 60 ( 24
+
(18)

,
_

+ J d
r
365
2
cos 033 . 0 1

(19)

,
_

39 . 1
365
2
sin 409 . 0 J

(20)
( ) ( ) [ ] tan tan arccos
s
(21)
( )

,
_


1
]
1

+
35 . 0 35 . 1 14 . 0 34 . 0
2
4
min
4
max
so
s
a nl
R
R
e
K T K T
R
(22)
keterangan:
Rn = radiasi netto (MJ/m
2
/hari),
Rns = radiasi matahari netto (MJ/m
2
/hari),
= koefisien albedo,
Rs = radiasi matahari yang datang (MJ/m
2
/hari),
Rso = radiasi matahari (clear-sky) (MJ/m
2
/hari),
n = durasi aktual penyinaran matahari (jam),
N = durasi maksimum yang memungkinkan penyinaran matahari (jam),
as+bs = fraksi radiasi ektrateresterial yang mencapai bumi pada hari yang cerah (n = N),
KRs = Koefisien tetapan = 0.16 untuk daerah tertutup dan 0.19 untuk daerah pantai
(
o
C
-0.5
),
z = elevasi stasiun di atas permukaan laut (m),
Ra = radiasi ekstrateresterial (MJ/m
2
/hari),
Gsc = konstanta matahari = 0.0820 (MJ/m
2
/min),
dr = inverse jarak relatif bumi-matahari (pers.19),

s
= sudut jam matahari terbenam (pers. 21),
= garis lintang (rad),
= deklinasi matahari (rad),
J = nomor hari dalam tahun antara 1 (1 Januari) sampai 365 atau 366 (31
Desember),
Rnl = radiasi netto gelombang panjang yang pergi (MJ/m
2
/hari),
6
R o b y H a m b a l i
= konstanta Stefan-Boltzmann (4.903 10
-9
MJ/K
4
/m
2
/hari),
Tmax, K = temperatur absolut maksimum selama periode 24 jam (K = C + 273.16),
Tmin, K = temperatur absolut minimum selama periode 24 jam (K = C + 273.16),
h. Kerapatan panas terus-menerus pada tanah (G)
Kerapatan panas terus-menerus pada tanah (G) dihitung menggunakan Persamaan
(23) berikut ini:
z
t
T T
c G
i i
s

1
(23)
dimana:
G = kerapatan panas terus-menerus pada tanah (MJ/m
2
/hari),
cs = kapasitas pemanasan tanah (MJ/m
3
/C),
Ti = temperatur udara pada waktu i (C),
Ti-1 = temperatur udara pada waktu i-1 (C),
t = panjang interval waktu (hari),
z = kedalaman tanah efektif (m).
Untuk periode harian atau 10-harian, nilai G sangat kecil (mendekati nol), sehingga
nilai G tidak perlu di perhitungkan (FAO, 1999).
i. Kecepatan angin pada ketinggian 2 m (u2)
Kecepatan angin pada ketinggian 2 m (u2) dihitung menggunakan Persamaan (24) berikut
ini:
) 42 . 5 8 . 67 ln(
87 . 4
2

z
u u
z (24)
dimana:
u2 = kecepatan angin 2 m di atas permukaan tanah (m/s),
uz = kecepatan angin terukur z m di atas permukaan tanah (m/s),
z = ketinggian pengukuran di atas permukaan tanah (m).
CONTOH
Contoh tahapan perhitungan ETo harian tanggal 14 Oktober 1994. diketahui suhu maksimum
(Tmax) 32
o
C, suhu minimum (Tmin) 23.4
o
C, kecepatan angin rata-rata (uz) 5 knot = 2.57 m/s.
Tentukan evapotranspirasi acuan (Eto) pada tanggal tersebut.
Diketahui :
Garis lintang : 7
o
00 49 S
Elevasi dari permukaan laut (z) : 350 feet = 106.68 m
Ketinggian pengukuran angina (z) : 10 m
Jumlah hari dalam 1 tahun : 365 hari
7
R o b y H a m b a l i
Nomor hari dalam tahun (J) : 287
T max : 32
o
C
Tmin : 23.4
o
C
Kecepatan angin rata-rata (uz) : 5 knot = 2.57 m/s
Koefisien albedo () : 0.23
Konstanta matahari (Gsc) : 0.082
: 2.45 kPa/
o
C
cp : 1.013x 10
-3
MJ/kg/
o
C
: 0.622
KRS (daerah tertutup) : 0.16
: 4.903 x 10
-9
MJ/K
4
/m
2
/hari
Penyelesaian:

26 . 5
293
z 0.0065 - 293
101.3 P
,
_

=
26 . 5
293
106.68 x (0.0065 - 293
101.3
,
_

= 100.045 kPa

P c

p
=
2.45 x 622 . 0
100.045 x 10 x 1.013

-3
= 0.0665 kPa/
o
C

2
T T
T
min max
mean
+

=
2
4 . 3 2 2 3 +
= 27.7
o
C

( ) 5.42 - 67.8z ln
4.87
u u
z 2

=
( ) 5.42 - 106.68) x 67.8 ( ln
4.87
2.57
= 1.92 m/s

1
]
1

3 . 237 T
T x 17.27
exp 0.6108 ) (T e
max
max
max
o
=
1
]
1

+ 3 . 237 32
32 x 17.27
exp 0.6108
= 4.755 kPa

1
]
1

3 . 237 T
T x 17.27
exp 0.6108 ) (T e
min
min
min
o
8
R o b y H a m b a l i
=
1
]
1

+ 3 . 237 4 . 23
23.4 x 17.27
exp 0.6108
= 2.878 kPa

1
]
1

3 . 237 T
T x 17.27
exp 0.6108 ) (T e
min
mean
mean
o
=
1
]
1

+ 3 . 237 7 . 27
27.7 x 17.27
exp 0.6108
= 3.714 kPa

2
) (T e ) (T e
e
min
o
max
o
s
+

=
2
2.878 4.755 +
= 3.816 kPa
e
a
= e
o
(T
min
) = 2.878 kPa
Karena data kelembaban diragukan, maka pendekatan tersebut dapat digunakan.


,
_

+ J
365
2
cos 0.033 1 d
r

=

,
_

+ 87 2
365
3.14 x 2
cos 0.033 1
= 1.007


,
_

1.39 - J
365
2
sin 0.409

,
_

1.39 - 287
365
.14 3 x 2
sin 0.409
= - 0.162 rad

lintang garis x
180

,
_

(minus untuk lintang selatan)


=
( )
1
]
1

,
_

,
_

3600
49 -
7 - x
180
14 . 3

= - 0.122 rad

( ) ( ) [ ] tan tan - arccos


s

=
( ) ( ) [ ] 162 . 0 tan 122 . 0 tan - arccos
= 1.591

( ) ( ) ( ) ( ) ( ) [ ]
s s r sc a
sin cos cos sin sin d x G x
60 x 24
R

+
9
R o b y H a m b a l i
=
( ) ( )
( ) ( ) ( )
1
]
1

+

1.591 sin 162 . 0 cos 122 . 0 cos
162 . 0 . sin 122 . 0 sin 1.591
1.007 x 0.082 x
14 . 3
60 x 24
= 38.286 MJ/m
2
/hari
Karena data penyinaran matahai tidak tersedia, maka Rs dihitung dengan rumus
berikut:
( )
a min max RS s
R x T - T K R
=
( ) 38.286 x 23.4 - 32 0.16
= 17.964 MJ/m
2
/hari

( )
s ns
R - 1 R
=
( ) 17.964 .23 0 - 1
= 13.832 MJ/m
2
/hari

( ) ( )
a
-5
so
R z 10 x 2 0.75 R +
= ( ) ( ) 38.286 68 . 06 1 10 x 2 0.75
-5
+ = 28.796 MJ/m
2
/hari

( )

,
_


1
]
1

+
35 . 0
R
R
35 . 1 e 14 . 0 34 . 0
2
K T K T
R
so
s
a
4
min
4
max
nl
=
( ) ( )
( )

,
_

1
]
1

+ + +
35 . 0
28.796
17.964
35 . 1 x
2.878 14 . 0 34 . 0
2
273.16 23.4 273.16 32
4.903x10
4 4
9 -
= 2.029 MJ/m
2
/hari
nl ns n
R - R R
= 13.832 2.029 = 11.803 MJ/m
2
/hari

( )
2
mean
mean
o
237.3 T
) (T e x 4098

+

=
( )
2
237.3 27.7
3.714 x 4098
+
= 0.217 kPa

( ) ( )
( )
2
a s 2
mean
n
u 0.34 1
e - e u
273 T
900
G - R 0.408
ETo
+ +
+
+

=
( ) ( )
( ) ( ) 1.92 x 0.34 1 0665 . 0 217 . 0
2.878 - 3.816 1.92
273 27.7
900
0665 . 0 0 - 11.803 0.217 x 0.408
+ +
+
+
= 4.294 mm/hari
10