P. 1
FAKTOR – FAKTOR KEBIJAKAN PENERAPAN TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA

FAKTOR – FAKTOR KEBIJAKAN PENERAPAN TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA

|Views: 80|Likes:
Published by Vina Refriana
1111084000024
VINA REFRIANA NURWULANSARI
Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pembimbing
Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.si
1111084000024
VINA REFRIANA NURWULANSARI
Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
Pembimbing
Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.si

More info:

Categories:Types, Research
Published by: Vina Refriana on Jun 14, 2013
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
See more
See less

05/14/2014

FAKTOR – FAKTOR KEBIJAKAN PENERAPAN TINGKAT SUKU BUNGA SERTIFIKAT BANK INDONESIA

VINA REFRIANA NURWULANSARI Mahasiswi Jurusan Ilmu Ekonomi Studi Pembangunan FEB UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Email : Vinarefriana@ymail.com

Pembimbing Tony S. Chendrawan, ST., SE., M.si

ABSTRACT
The purpose of this research to investigate the effect of inflation, and money supply variables composite interest rate SBI variable the period 2002-2012. In this research the writer use secondary data that are quantitative. The data is also based on time series for 11 years and ratio scale. The statistical method that writer uses in this research is the hypothesis namely the multiple linear regression. Data obtained from the Central Bureau of Statistic and the report of Bank Indonesia. Based on research by the writer get the results with the help of SPSS 17.0 program windows with the result that the classical assumption test for normality, multicollinearity test, heteroskedestisitas test, and autocorrelation test. Whereas the statistical test using the test of determination, ‘t’ test (partial), and the ‘f’ test.The result from this research that inflation, and money supply significantly effects composite interest rate SBI. Keyword : INFLATION, MONEY SUPPLY

I.

PENDAHULUAN Tingkat suku bunga merupakan salah satu instrument moneter yang dapat memberikan sinyal positif pada perekonomian. Namun Bank Indonesia mengalami kesulitan dalam memprediksikan besarnya tingkat suku bunga Sertifikat Bank Indonesia yang kini terus meningkat. Fluktuasi yang terjadi pada tingkat suku bunga SBI sangat tergantung pada situasi sosial, politik dan ekonomi. Suku bunga SBI dinilai kalangan perbankan relatif tinggi, karena belum bisa menggerakkan kegiatan sektor ekonomi secara keseluruhan. Tingkat suku SBI ditentukan mekanisme pasar, sehingga BI tak dapat menentukan besarnya tingkat suku bunga. Oleh karena itu, pemulihan faktor-faktor nonekonomis menjadi penentu untuk menekan tingkat suku bunga. Pada saat ini banyak tuntutan dari para pelaku bisnis dan juga ahli ekonomi yang menuntut agar BI selaku penguasa moneter mempengaruhi suku bunga karena dengan turunnya SBI dapat meningkatkan dan mengembangkan sektor riil. Sejak awal Juli 2005, BI menggunakan mekanisme "BI rate" (suku bunga BI), yaitu BI mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan BI untuk pelelangan pada masa periode tertentu. BI rate ini kemudian yang digunakan sebagai acuan para pelaku pasar dalam mengikuti pelelangan. Suku bunga Sertifikat Bank Indonesia (SBI) direvisi dalam pembahasan Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) Perubahan 2010. Diperkirakan suku bunga SBI akan mengalami peningkatan sebesar 0,5 persen. Di APBN 2010, suku bunga SBI dipatok 6,5 persen sedangkan di APBN

Perubahan 2010 asumsinya diperkirakan mencapai 7 persen. Revisi asumsi makro ekonomi juga disebabkan terus naiknya harga minyak mentah di pasar Internasional. Menurut pengamat ekonomi Indonesia fenomena terjadinya tingkat suku bunga yang tinggi diakibatkan dengan adanya kebijakan moneter yang ketat oleh otoritas moneter dalam mengendalikan jumlah uang beredar. Dan inflasi pun juga menjadi salah satu faktornya. Karena bila jumlah uang beredar semakin banyak maka inflasi pun akan semakin tinggi. Inflasi yang terjadi di Negara kita ini bagaikan penyakit yang mematikan. Perekonomian di Indonesia mulai mengalami penurunan pada tahun 1997 dimana pada masa itulah awal terjadinya krisis. Saat itu pertumbuhan ekonomi Indonesia hanya berkisar pada level 4,7 persen, hal itu sangat rendah dibandingkan tahun sebelumnya pada level 7,8 persen. Inflasi yang sangat tinggi yang dikarenakan semakin luasnya jumlah uang beredar yang tidak terkendali ini dapat diatasi dengan menaikkan suku bunga. Disini penulis akan membahas tentang data tiga tahun terakhir sebagai berikut. II. KERANGKA TEORITIS DAN TINJAUAN PUSTAKA 2.1. Inflasi Inflasi menurut A.P. Lehnerinflasi adalah keadaan dimana terjadi kelebihan permintaan (Excess Demand) terhadap barang-barang dalam perekonomian secara keseluruhan. Menurut Teori klasik inflasi merupakan tingkat harga terutama ditentukan oleh jumlah uang beredar, yang dapat dijelaskan melalui hubungan antara nilai uang dengan jumlah uang, serta nilai uang dan harga. Bila jumlah uang bertambah lebih cepat dari pertambahan barang maka nilai uang akan merosot dan ini sama dengan kenaikan harga. Jadi menurut Klasik, inflasi berarti terlalu banyak uang beredar atau terlalu banyak kredit dibandingkan dengan volume transaksi maka obatnya adalah membatasi jumlah uang beredar dan kredit. Menurut Teori Keynes diasumsikan bahwa perekonomian sudah berada pada tingkat full employment. Menurut Keynes kuantitas uang tidak berpengaruh terhadap

Tahun 2010 2011 2012

Inflasi (X1) 6.96 3.79 4.3

Jumlah Uang beredar/M2 (X2) 2,471,206 2,877,220 3,304,645

Suku Bunga SBI (Y) 6.6 5.04 4.8

Sumber: Bank Indonesia, Badan Pusat Statistik

Dari tabel diatas kita dapat melihat bahwa telah terjadi penurunan inflasi pada tahun 2011 hampir 50% yaitu sebesar 3.17% yang didapat dari 6.96% di tahun 2010 lalu dikurangi inflasi pada tahun 2011 sebesar 3.79%. Namun inflasi pada tahun 2012 mengalami peningkatan sebesar 0.51%. Kemudian telah terjadi peningkatan berskala dua kali pada jumlah uang beredar pada tahun 2011 dan 2012 yaitu sebesar Rp 406.014 dan Rp 427.425. Sedangkan telah terjadi penurunan tingkat suku bunga SBI pada tahun 2011 dan 2012 yaitu sebesar 1.56% dan 0.24%.

tingkat permintaan total, karena suatu perekonomian dapat mengalami inflasi walaupun tingkat kuantitas uang tetap konstan. Jika uang beredar bertambah maka harga akan naik. Kenaikan harga ini akan menyebabkan bertambahnya permintaan uang untuk transaksi, dengan demikian akan menaikkan suku bunga. Hal ini akan mencegah pertambahan permintaan untuk investasi dan akan melunakkan tekanan inflasi. Analisa Keynes mengenai inflasi permintaan dirumuskan berdasarkan konsep inflationary gap. Menurut Keynes, inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besarbesaran dalam kapital sosial. Menurut Teori Moneterisme inflasi disebabkan oleh kebijaksanaan moneter dan fiskal yang ekspansif, sehingga jumlah uang beredar di masyarakat sangat berlebihan. Kelebihan uang beredar di masyarakat akan menyebabkan terjadinya kelebihan permintaan

barang dan jasa di sektor riil. Menurut golongan moneteris, inflasi dapat diturunkan dengan cara menahan dan menghilangkan kelebihan permintaan melalui kebijakan moneter dan fiskal yang bersifat kontraktif, atau melalui kontrol terhadap peningkatan upah serta penghapusan terhadap subsidi atas nilai tukar valuta asing. Menurut Boediono, (1993: 162) pengertian inflasi adalah kecenderungan menaiknya tingkat harga umum secara terusmenerus. Ini tidak berarti bahwa harga- harga berbagai barang itu naik dengan persentase yang sama, mungkin terjadi kenaikan tersebut tidaklah bersamaan tetapi terjadi secara terusmenerus selama satu periode tertentu. Inflasi dapat dibagi menjadi beberapa kelompok yaitu: inflasi ringan ( < 10% setahun), inflasi sedang (antara 10% - 30%), inflasi berat ( > 100% setahun). Menurut Dornbusch, bahwa pelaku ekonomi membentuk ekspektasi laju inflasi berdasarkan ekspektasi adaptif dan ekspektasi rasional. Ekspektasi rasional adalah ramalan optimal mengenai masa depan dengan menggunakan semua informasi yang ada. Pengertian rasional adalah suatu tindakan yang logik untuk mencapai tujuan berdasarkan informasi yang ada. Menurut Nopirin (2001) mengklasifikasikan jenis inflasi menurut sebabnya yaitu : Menurut teori kuantitas sebab utama timbulnya inflasi adalah permintaan yang disebabkan karena penambahan jumlah uang yang beredar. 2.2. Jumlah Uang Beredar Menurut paham klasik, uang tidak memiliki pengaruh terhadap sektor riil, tidak ada pengaruhnya terhadap tingkat bunga, kesempatan kerja atau pendapatan nasional. Pendapatan nasional ditentukan oleh jumlah dan kualitas tenaga kerja, jumlah yang dipakai serta tehnologi. Tanpa perubahan dari faktor-faktor produksi maka pendapatan tidak akan berubah. Teori ini sebenarnya adalah teori mengenai permintaan sekaligus penawaran akan uang beserta interaksi antara keduanya. Fokus dari teori tersebut adalah pada hubungan antara penawaran uang (jumlah uang yang

bereda) dengan nilai uang(dengan tingkat harga). Hubungan antara kedua varianel tersebut dijabarkan lewat konsepsi (teori) mengenai permintaan akan uang. Perubahan akan jumlah uang yang beredar berinteraksi dengan permintaan akan uang dan selanjutnya menentukan akan permintaan nilai uang. Uang, pengaruhnya hanyalah terhadap harga harga barang. Bertambahnya uang beredar akan mengakibatkan kenaikan harga saja. Jumlah output yang dihasilkan tidak berubah. Inilah yang disebut dengan classical dichotomy, merupakan pemisahan sector moneter dengan sector riil.sektor moneter tidaka ada hubungannya dengan sector riil. Uang hanya merupakan suatu tudung saja dalam perekonomian. Menurut Teori kuantitas Recardo kuat dan lemahnya nilai uang sangat tergantung dari pada jumlah uang yang beredar. Jika jumlah uang berubah menjadi 2 kali lipat maka nilai uang akan menurun setengah kali dari semula, sebaliknya jika jumlah uang kurang hingga setengah, maka nilai uang akan menjadi dua kali lipat. Hal itu terjadi, karena bila jumlah uang naik menjadi 2 kali lipat maka akan berpengaruh terhadap harga yang naik menjadi dua kali lipat dan otomatis nilai akan menurun menjadi setengahnya. Menurut Teori preferensi liquiditas Keynes menyatakan bahwa permintaan uang dalam arti Md/P tergantung pada pendapatan Y (Output Agregat) dan suku bunga i. Permintaan uang berhubungan positif dengan pendapatan karena dua alasan : 1. Kenaikan pendapatan meningkatkan transaksi dalam perekonomian, yang selanjutnya meningkatkan permintaan atas uang karena pendapatan digunakan untuk melakukan transaksi-transaksi ini. 2. Kenaikan pendapat meningkatkan permintaan uang karena kenaikan pendapatan meningkatkan kekayaan individu yang ingin memegang lebih banyak aset, salah satunya adalah uang. Biaya peluang memegang uang adalah suku bunga. Sejalan dengan kenaikan suku bunga,

biaya peluang dari memegang uang meningkat, dan permintaan uang menurun. Menurut teori preferensi liquiditas, permintaan uang berhubungan positif dengan output agregat dan berhubungan negatif dengan suku bunga. 2.3. Suku Bunga SBI Suku bunga menurut Tajul Khalwaty (2000:145) merupakan instrument konvensional untuk mengendalikan atau menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi. Sertifikat Bank Indonesia (SBI) adalah surat berharga yang dikeluarkan oleh bank Indonesia sebagai pengakuan utang berjangka waktu pendek (1-3 bulan) dengan sistem diskonto/bunga. SBI merupakan salah satu mekanisme yang digunakan Bank Indonesia untuk mengontrol 2.4. Kerangka Pemikiran Dalam kerangka pemikiran ini, penulis mengambil acuan pada teori Keynes. Teori penentuan tingkat suku bunga Keynes dikenal dengan teori liquidity prefence. Keynes mengatakan bahwa bunga adalah gejala moneter, bunga adalah pembayaran dengan menggunakan uang. Berdasarkan pendapat tersebut, ada pengaruh uang terhadap sistem perekonomian seluruhnya. Dalam buku klasiknya The General Theory, Keynes menjabarkan pandangannya mengenai penentuan tingkat bunga dalam jangka pendek. Dalam teorinya ia mengemukakan bahwa tingkat bunga menyesuaikan untuk menyeimbangkan penawaran dan permintaan untuk asset perekonomian yang paling likuid, yaitu uang (Boediono, 1985; Mankiw, 2000; Mishkin, 2001). Bank Indonesia melakukan peningkatan suku bunga SBI yang bertujuan untuk mengendalikan pertumbuhan uang beredar, yang kemudian untuk mengendalikan laju inflasi. Kemudian, setelah mengalami peningkatan secara terus menerus, akhirnya suku bunga SBI mulai mengalami penurunan. Penurunan suku bunga tersebut dilakukan di

kestabilan nilai Rupiah. Dengan menjual SBI, Bank Indonesia dapat menyerap kelebihanuang primer yang beredar.Tingkat suku bunga yang berlaku pada setiap penjualan SBI ditentukan oleh mekanisme pasar berdasarkan sistem lelang. Tingkat Suku Bunga SBI adalah nilai yang harus dibayar oleh Bank Indonesia kepada investor atas surat berharga jangka pendek yang diterbitkan oleh Bank Indonesia (www.bi.go.id). Dalam hal ini Bank Indonesia menggunakan mekanisme BI rate (suku bunga Bank Indonesia), yaitu Bank Indonesia mengumumkan target suku bunga SBI yang diinginkan Bank Indonesia untuk pelelangan pada masa periode tertentu.

tengah inflasi yang masih relativ tinggi. (Friska Sari Ronadiba, 2004) Variabel tingkat bunga SBI berpengaruh negatif terhadap inflasi. satu instrumen yang bisa digunakan untuk mempengaruhi jumlah uang beredar di masyarakat yang pada akhirnya akan mempengaruhi inflasi. Ketika Bank Sentral ingin meredam laju inflasi, maka bisa menaikkan tingkat bunga SBI untuk menarik dana masyarakat untuk membeli SBI melalui mekanisme operasi pasar terbuka (OPT). Dengan demikian jumlah uang beredar akan turun dan inflasi akan juga turun. (Primawan Wisda Nugroho, Maruto Umar Basuki, 2012). Berdasarkan kondisi tersebut, apabila suku bunga SBI naik maka jumlah uang beredar pun akan menurun dan inflasi pun dapat turun pula mengikuti jumlah uang beredar. Meningkatnya tingkat suku bunga SBI dapat mengatasi dalam pengurangan jumlah uang beredar di masyarakat, dengan begitu kenaikan harga yang terus – menerus pun akun menurun. Sehingga perekonomian Indonesia dapat dikatakan membaik.

2.5. Hipotesis Pada penelitian ini terdapat dua macam hipotesis yang diajukan, yaitu: 1. H0 : 1 = 2 = 0 = tidak ada pengaruh tingkat inflasi dan jumlah uang beredar terhadap tingkat suku bunga SBI.
III. METODOLOGI PENELITIAN 1. Jenis dan Sumber Data Dalam penelitian ini menggunakan jenis data sekunder yang bersifat kuantitatif. Data ini juga berdasarkan waktu time series yaitu selama 11 tahun periode 2002-2012 yang menggambarkan tingkat suku bunga SBI. Untuk mendukung variabel penelitian ini penulis memperoleh data yang bersumber dari Laporan Bank Indonesia dan Badan Pusat Statistik.

2. H0 : 1 ≠ 2 ≠ 0 = ada pengaruh tingkat inflasi dan jumlah uang beredar terhadap tingkat suku bunga SBI.

ᵦ ᵦ

2. Metode yang Digunakan Metode dalam penelitian ini dengan menggunakan pengujian hipotesis yaitu analisis regresi berganda. Dengan memiliki satu variabel dependent atau terikat yaitu tingkat suku bunga SBI, dan dua variabel independent atau tidak terikat yaitu inflasi dan jumlah uang beredar (M2). Pengujian hipotesis menggunakan uji t, sedangkan pengujian model regresi menggunakan uji F.

3. Operasional Variabel No Nama Variabel 1 Tingkat Suku Bunga SBI (Y) Konsep / Teori Skala

Menurut Tajul Khalwaty suku Rasio bunga adalah instrument konvensional untuk mengendalikan atau menekan laju pertumbuhan tingkat inflasi. Menurut teori Keynes, inflasi Rasio berdasarkan konsep inflationary gap. inflasi permintaan yang benar-benar penting adalah yang ditimbulkan oleh pengeluran pemerintah, terutama yang berkaitan dengan peperangan, program investasi yang besarbesaran dalam kapital sosial Teori preferensi liquiditas Rasio Keynes jumlah uang beredar adalah permintaan uang dalam arti Md/P tergantung pada pendapatan dan suku bunga. Dimana : Y a b1, b2 X1, X2 ε

2

Tingkat Inflasi (X2)

3

Jumlah Uang beredar/M2 (X2)

4. Model Fungsi Untuk mengetahui hasil dari hubungan yang postif atau negatif antara inflasi dan jumlah uang beredar (M2) terhadap tingkat suku bunga SBI digunakan analisis regresi berganda. data yang digunakan berskala rasio. Model persamaan yang akan digunakan dalam penelitian ini adalah sebagai berikut: Y = a + b1X1 + b2X2 + ε IV. HASIL DAN PEMBAHASAN Setelah mengetahui tingkat inflasi, jumlah uang beredar, dan tingkat suku bunga SBI maka data-data tersebut dianalisis dengan menggunakan analisis regresi berganda. Analisis regresi berganda digunakan untuk mengetahui sejauh mana pengaruh variabel tingkat inflasi dan jumlah uang beredar terhadap tingkat suku bunga SBI. Berdasarkan penelitian yang dilakukan maka penulis mendapatkan hasil

= Variabel Dependent = Konstanta = Koefisien regresi = Variabel Independent = Error

dengan bantuan program Windows SPSS 17.0 dengan menghasilkan uji asumsi klasik yaitu uji normalitas, uji multikolinieritas, uji heteroskedestisitas dan uji autokorelasi. Sedangkan uji statistik menggunakan uji determinasi, uji t, dan uji f. Hasil analisis tersebut seperti terlihat pada tabel – tabel sebagai berikut:

4.1. Uji Asumsi klasik a. Uji Normalitas

Berdasarkan tampilan grafik P-P Plot, dapat dilihat bahwa garis diagonal dalam grafik ini menggambarkan keadaan ideal dari data yang mengikuti distribusi normal. Titik-titik di sekitar garis adalah keadaan data yang penulis uji. Karena

kebanyakan titik-titik berada dekat dengan garis bahkan ada yang menempel pada garis, maka penulis menyimpulkan bila data ini mengikuti distribusi normal.

b. Uji multikolinieritas
Coefficients
a

Model

Collinearity Statistics Tolerance VIF

1 (Constant) inflasi jumlah_uang_beredar a. Dependent Variable: suku_bunga_SBI ,796 ,796 1,257 1,257

Berdasarkan tabel Coefficientsa tersebut dapat dilihat bahwa tidak ada satupun variabel bebas yang memiliki nilai tolerance value lebih kecil dari 0,1 dan VIF lebih dari 5. Jadi dapat disimpulkan bahwa penelitian ini bebas dari adanya multikolinearitas. Dari hasil analisis, c. Uji heteroskedestisitas

didapat nilai tolerance untuk variabel inflasi sebesar 0.796 (>0,1) dan nilai VIF sebesar 1.257 (<5). Nilai tolerance untuk variabel jumlah uang beredar sebesar 0. 796 (>0.1) dan nilai VIF sebesar 1.257 (<5).

Berdasarkan tampilan grafik scatterplot diatas terlihat titik-titik menyebar dan tidak membentuk sebuh pola tertentu yang jelas serta tersebar baik diatas maupun dibawah angka nol.

Hal ini berarti tidak terjadi heteroskedastisitas pada model regresi sehingga model regresi layak dipakai untuk melihat pengaruh variabel independen terhadap variabel dependen.

d. Uji autokorelasi
Model Summary
b

Model

Adjust ed R R R Square ,845 Squar e ,806 Std. Error of the Durbin-

Estimate Watson 1,28134 1,632

1

,919
a

a. Predictors: (Constant), jumlah_uang_beredar, inflasi b. Dependent Variable: suku_bunga_SBI

Berdasarkan tabel Model Summaryb diperoleh nilai Durbin-Watson sebesar 1.632. Angka ini terletak diantara -2 dan +2, dari pengamatan ini dapat disimpulkan bahwa 4.2. Uji Statistik a. Uji determinasi Dalam uji determinasi dapat dilihat pada tabel model summeryb dengan melihat R2 (koefisien determinan) yang diperoleh dari nilai adjusted R2 sebesar 0.806 atau sama dengan 80,6 b. Uji t

tidak terjadi autokorelasi positif maupun autokorelasi negatif dalam penelitian ini atau dapat diartikan bahwa tidak ada autokorelasi.

%. Ini berarti kemampuan variabel dependent mampu diterangkan sebesar 80.6 % oleh variable independent. Dan sisanya sebesar 19.4 % dipengaruhi oleh faktor lain.

Coefficients Model Unstandardized Coefficients B 1 (Consta nt) inflasi jumlah_ uang_b eredar a. Dependent Variable: suku_bunga_SBI ,463 -1,490E-6 ,111 ,000 7,831 Std. Error 1,597

a

Standardized Coefficients Beta t 4,902 Sig. ,001

,650 -,419

4,163 -2,684

,003 ,028

Berdasarkan hasil hipotesis penelitian pada tabel Coefficientsa diatas pengaruh tingkat inflasi dan jumlah uang beredar terhadap tingkat suku bunga SBI secara parsial adalah sebagai berikut : 1. Nilai t-hitung pada inflasi sebesar 4.163 dengan tingkat signifikan 0,003. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H0 ditolak, yang berarti secara bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara seluruh variabel independen (inflasi dan jumlah uang beredar) terhadap variabel dependen (suku bunga SBI). 2. Nilai t-hitung pada jumlah uang beredar sebesar -2,684 dengan tingkat signifikan 0,028. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka H0 ditolak, yang berarti secara

bersama-sama terdapat pengaruh yang signifikan antara seluruh variabel independen (inflasi dan jumlah uang beredar) terhadap variabel dependen (suku bunga SBI).
Dari hasil uji overall (uji kelayakan model) dan parsial maka dapat

diperoleh model persamaan regresi berganda sebagai berikut:
Y = a + b1X1 + b2X2 + ε
Sedangkan untuk estimasinya: Y=7,831 + 0,463X1 + -1,490E-6X2 + ε Dimana: Y = Suku bunga SBI

a b1, b2, X1, X2 beredar ε

= Konstanta = Koefisien regresi = Inflasi, jumlah uang = Error

c.

Uji F
ANOVA
b

Model 1 Regression Residual Total

Sum of Squares 71,464 13,135 84,598

df 2 8 10

Mean Square 35,732 1,642

F 21,763

Sig. ,001
a

a. Predictors: (Constant), jumlah_uang_beredar, inflasi b. Dependent Variable: suku_bunga_SBI

Berdasarkan hasil uji-F pada tabel ANOVAb diatas dapat dilihat bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001a dan nilai F hitung 21,763. Karena nilai signifikansi lebih kecil dari 5%, maka Ho ditolak, yang berarti secara bersama-sama

terdapat pengaruh yang signifikan antara seluruh variabel independen (inflasi dan jumlah uang beredar) terhadap variabel dependen (suku bunga SBI).

V.

KESIMPULAN DAN SARAN a. Kesimpulan Berdasarkan hasil penelitian pada bab sebelumnya, maka dapat diambil kesimpulan sebagai berikut: 1. Pengujian statistik secara parsial pada
variabel inflasi memiliki hubungan yang signifikan yaitu variabel inflasi berpengaruh terhadap variabel suku bunga SBI. Hal ini dikarenakan diperolehnya tingkat signifikan sebesar 0,003. Ini berarti bahwa apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan inflasi sebesar 1 rupiah akan menurunkan suku bunga SBI sebesar 0,003. 2. Pengujian statistik secara parsial pada variabel jumlah uang beredar memiliki hubungan yang signifikan yaitu variabel jumlah uang beredar berpengaruh terhadap variabel suku bunga SBI. Hal ini dikarenakan diperolehnya tingkat signifikan sebesar 0,028. Ini berarti bahwa apabila variabel independen lainnya konstan, maka setiap kenaikan jumlah uang beredar sebesar 1

rupiah akan menurunkan suku bunga SBI sebesar 0,028. 3. Dari hasil koefisien determinan diketahui R square sebesar 0,845. Hal ini berarti tingkat suku bunga SBI dapat menjelaskan tingkat inflasi dan jumlah uang beredar sebesar 84,5% dan sisanya sebesar 15,5% dijelaskan oleh variable lainnya.

b. Saran Berdasarkan kesimpulan dari penelitian ini, penulis memberikan saran sebagai berikut: 1. Penelitian ini dapat digunakan untuk penelitian selanjutnya sebagai tambahan referensi dengan dapat memperbaiki segala kekurangan yang terdapat pada penelitian ini. 2. Untuk peneliti selanjutnya dapat memberikan contoh faktor-faktor yang dapat mempengaruhi kebijakan penerapan tingkat suku bunga lebih banyak lagi.

VI. REFERENSI Boediono, 1985. Teori Moneter. Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi Nomor 5. Edisi 3. BPFE. Yogyakarta. http://ekaprasetyaa.blogspot.com/2013/01/teor i-permintaan-uang-menurut-klasik.html http://www.kajianpustaka.com/2012/10/teorisuku-bunga.html#ixzz0SQorlacK Khalwaty, Tajul, 2000, Inflasi dan Solusinya, PT. Gramedia Pustaka Utama http://broeryhantoro.blogspot.com/2011/03/teo ri-kuantitas-tradisional.html Mankiw, G. 2000. Teori Makro Ekonomi. Edisi 4. Erlangga. Jakarta. Mishkin, F.S. 2001. The Economics of Money, Banking, and Financial Markets. Edisi 6. Columbia University. New York. www.bi.go.id www.bps.go.id

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->