ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL

ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL A PENGERTIAN Penyakit terminal adalah suatu penyakit yag tidak bisa disembuhkan lagi. Kematian adalah tahap akhir kehidupan. Kematian bisa datang tiba-tiba tanpa peringatan atau mengikuti priode sakit yang panjang . Terkadang kematian menyerang usia muda tetapi selalu menunggu yang tua. B. TAHAP-TAHAP BERDUKA Dr.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien menjelang ajal : 1. Denial ( pengingkaran ) Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya 2. Anger ( Marah ) Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal 3. Bergaining ( tawar-menawar ) Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk hidup 4. Depetion ( depresi ) Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati.ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman. 5. Acceptance ( penerimaan) Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan meninggal. Ia akan berusaha keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan. ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL A. PENGKAJIAN 1) Riwayat Kesehatan a. Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang b. Riwayat kesehatan dahulu Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama c. Riwayat kesehatan keluarga Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien 2) Head To Toe Perubahan fisik saat kematian mendekat 1. pasien kurang rensponsif 2. fungsi tubuh melambat 3. pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja

4. rahang cendrung jatuh 5. pernafasan tidak teratur dan dangkal 6. sirkulasi melambat dan ektremitas dingin, nadi cepat dan melemah 7. kulit pucat 8. mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya B. DIAGNOSA KEPERAWATAN a) Ansietas/ ketakutan individu , keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal, sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup b) Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi, penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain c) Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga,takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan ) d) Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan, kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian KRITERIA HASIL a) Klien atau keluarga akan : 1. mengungkapkan ketakutan yang berhubungan dengan gangguan 2. menceritakan pikiran tentang efek gangguan pada fungsi normal , tanggung jawab peran dan gaya hidup b) Klien akan : 1. mengungkapkan kehilangan dan perubahan 2. mengungkapkan perasaan yang berkaitan kehilang dan perubahan 3. menyatakan kematian akan terjadi Anggota keluarga akan melakukan hal berikut : Mempertahankan hubunag erat yang efektif, yang dibuktikan dengan cara berikut: a. menghabiskan waktu bersama klien b. memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien c. berpartisipasi dalam perawatan c) Anggota keluarga atau kerabat terdekat akan: 1. Megungkapkan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien 2. Mengungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkungan tempat perawatan 3. Melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selama perawatan klien d) klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian C. INTERVENSI KEPERAWATAN Diagnosa I Ansietas / ketakutan ( individu , keluarga ) yang berhubungan denga situasi yang tak dikenal. Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negative pada gaya hidup.

Criteria Hasil Klien atua keluarga akan : 1. mengunkapkan ketakutannya yang brhubungan dengan gangguan 2. menceriktakan tentang efek ganmguan pada fungsi normal, tanggungn jawab, peran dan gaya hidup No Intervensi Rasional 1 Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya : a. berikan kepastian dan kenyamanan b. tunjukkan perasaan tentang pemahman dan empti, jangan menghindari pertanyaan c. dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobtannya d. identifikasi dan dukung mekaniosme koping efektif Klien yang cemas mempunbyai penyempitan lapang persepsi denagn penurunan kemampuan untuk belajar. Ansietas cendrung untuk memperburuk masalah. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang, emosional dan nyeri fisik 2 Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan pernyuluhan bila tingkatnya rendah atau sedang Beberapa rasa takut didasari oleh informasi yang tidak akurat dan dapat dihilangkan denga memberikan informasi akurat. Klien dengan ansietas berat atauparah tidak menyerap pelajaran 3 Dorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan mereka Pengungkapan memungkinkan untuk saling berbagi dan memberiakn kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar 4 Berika klien dan keluarga kesempatan dan penguatan koping positif Menghargai klien untuk koping efektif dapat menguatkan renson koping positif yang akan datang Diagnosa II Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang akan dihadapi penurunan fungsi, perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain Klien akan : 1. Mengungkapakan kehilangan dan perubahan 2. Mengungkapakan perasaan yang berkaitan kehilangan dan perubahan 3. Menyatakan kematian akan terjadi Anggota keluarga akan melakukan hal berikut : mempertahankan hubungan erat yang efektif , yang dibuktikan dengan cara sbb: a. menghabiskan waktu bersama klien b. memperthankan kasih sayang , komunikasi terbuka dengan klien c. berpartisipasi dalam perawatan -* No Intervensi Rasional 1 Berikan kesempatan pada klien da keluarga untuk mengungkapkan perasaan, didiskusikan kehilangan secara terbuka , dan gali makna pribadi dari kehilangan.jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat menyebabkan menimbulkan perasaan ketidak berdayaan, marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. Diskusi terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi situasi

koping yang tidak berhasil atau konflik . jawab semua pertanyaan dengan jujur Proses berduka. Mendukung fungsi kemandirian c.dan respon mereka terhdap situasi tersebut 2 Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti yang memberikan keberhasilan pada masa lalu Stategi koping fositif membantu penerimaan dan pemecahan masalah 3 Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri yang positif Memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan penerimaan diri dan penerimaan kematian yang terjadi 4 Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan terjadi. Memberikan obat nyeri saat diperlukandan d. megungkpakan akan kekhawatirannya mengenai prognosis klien 2. Membantu berdandan b. ketakutan dan kekawatiran. menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan keperawatan berikut : a. Saling berbagi memungkinkan perawat untuk mengintifikasi ketakutan dan kekhawatiran kemudian merencanakan intervensi untuk mengatasinya 3 Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU Informasi ini dapat membantu mengurangi ansietas yang berkaitan dengan ketidak takutan 4 Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan berikan informasi spesifik tentang kemajuan klien 5 Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan perawan Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi keluarga berkelanjutan 6 Konsul dengan atau berikan rujukan kesumber komunitas dan sumber lainnya Keluarga denagan masalah-masalh seperti kebutuhan financial . proses berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima 5 Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian. menungkapkan kekawtirannnya mengenai lingkkunagntempat perawatan 3. melaporkan fungsi keluarga yang adekuat dan kontiniu selam perawatan klien No Intervensi Rasional 1 Luangkan waktu bersama keluarga atau orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang empati Kontak yang sering dan me ngkmuikasikan sikap perhatian dan peduli dapat membantu mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran 2 Izinkan keluarga klien atau orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan. meningkatkan kenyamanan fisik ( skoruka dan bonet 1982 ) DIAGNOSA III Perubahan proses keluarga yang berhubunga dengan gangguan kehidupan takut akan hasil ( kematian ) dan lingkungannya penuh stres ( tempat perawatan ) Anggota kelurga atau kerabat terdekat akan : 1.

Memberikan dorongan pada klien unyuk menggunakan teknik relaksasi seperti paduan imajines dan pernafasan relaksasi Diagnosa II 1. 3. Memberikan dorongan penggunaam strategi koping positif yang terbukti memberikan .a atau praktek spiritual lainnya .jangan menghindari petayaan c mendorong klien untuk mengungkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobotannya. IMPLEMENTASI Diagnosa I 1. praktek ini dapat memberikan arti dan tujuan dan dapat menjadi sumber kenyamanan dan kekuatan 2 Ekspesikan pengertrian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien Menunjukkan sikap tak menilai dapat membantu mengurangi kesulitan klien dalam mengekspresikan keyakinan dan prakteknya 3 Berikan prifasi dan ketenangan untuk ritual spiritual sesuai kebutuhan klien dapat dilaksanakan Privasi dan ketenangan memberikan lingkungan yang memudahkan refresi dan perenungan 4 Bila anda menginginkan tawarkan untuk berdo. Mendorong keluarga dan teman untuk mengungkapkan ketakutan atau pikiran mereka 4. kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian Klien akan mempertahankan praktik spritualnuya yang akan mempengaruhi penerimaan terhadap ancaman kematian No Intervensi Rasional 1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual keagamaan atau spiritual yang diinginkan bila yang memberi kesemptan pada klien untuk melakukannya Bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada do.jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat.diskusikan kehilangan secara terbuka dan gali makna pribadi dari kehilangan. Jelaskan ketidak setiaan pelayanan ( kapel dan injil RS ) Tindakan ini dapat membantu klien mempertahankan ikatan spiritual dan mempraktikkan ritual yang penting ( Carson 1989 ) D. Membantu klien untuk mengurangi ansientasnya : a.a bersama klien lainnya atau membaca buku ke agamaan Perawat meskipun yang tidak menganut agama atau keyakinan yang sama dengan klien dapat membantu klien memenuhi kebutuhan spritualnya 5 Tawarkan untuk menghubungkan pemimpin religius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur kunjungan. memberikan kepastian dan kenyamanan b menunjukan perasan tentang pemahaman dan empati . menditifikasi dan mendorong mekanisme koping efektif 2. Memberikan klien dan keluarga dengan kepastian dan penguatan prilaku koping positif 5. Mengkaji tingkat ansientas klien . Memberikan kesempatan pada klien dan keluarga unyiuk mengungkapkan perasaan. d.yang tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk membantu mempertahankankan fungsi keluarga Diagnosa IV Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan.merencanakan penyuluhan bila tingkatnya rendah atau sedang 3.

mengekpresikan pengertian dan penerimaan anda tentang pentingnya keyakinan dan praktik religius atau spiritual klien 3. Menganjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan keperawatan 6. Memberikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut dari yang positif 5. klien tidak merasa sedih dan siap menerima kenyataan 3. klien merasa nyaman dan mengekpresikan perasaannya pada perawat 2. klien sadar bahwa setiap apa yang diciptakan Allah SWT akan kembali kepadanya .keberhasilan pada masa lalu 4. Membantu klien menyatakan dan menerima kematian yang akan terjadi.ketakutan dan kekhwatiran 3. klien selalu ingat kepada Allah dan selalu bertawakkal 4. spiritual sesuai kebutuhan klien dan dapat dilaksanakan 4. Menjelaskankan lingkungan dan peralatan itu 4. Menggali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktik atau ritual keagamaan atau spiritual yang diizinkan bila ia memberikan kesempatan pada klien untuk melakukannya 2. Meningkatkan harapan dengan perawtan penuh perhatian . Memberika privasi dan ketenangan untuk ritual. Menawarkan untuk menghubungi r eligius atau rohaniwan rumah sakit untuk mengatur kunjungan menjelaskan ketersediaan pelayanan misalnya : alqur‘an dan ulama bagi yang beragama islam EVALUASI 1. Menjelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan memberikaninformasi spesifik tentang kemajuan klien 5. menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan Diagnosa III 1. Meluangkan waktu bersama keluarga / orang terdekat klien dan tunjukkan pengertian yang empati 2. Mengkonsul atau memberikan rujukan ke sumber komunitas dan sumber lainnya Diagnosa IV 1.jawab semua pertanyaan dengan jujur 6. mengizinkan keluarga klien / orang terdekat untuk mengekspresikan perasaan .

Bagaimana peran perawat dalam menangani pasien yang sedang menghadapi proses penyakit terminal ? Peran perawat sangat komprehensif dalam menangani pasien karena peran perawat adalah membimbing rohani pasien yang merupakan bagian integral dari bentuk pelayanan kesehatan dalam upaya memenuhi kebutuhan biologis-psikologis-sosiologis-spritual (APA. mempertahankan. 1984). Pentingnya bimbingan spiritual dalam kesehatan telah menjadi ketetapan WHO yang menyatakan bahwa aspek agama (spiritual) merupakan salah satu unsur dari pengertian kesehataan seutuhnya (WHO. Latar Belakang. keluarga. 1999 ). Perawat adalah profesi yang difokuskan pada perawatan individu. Namun peran spiritual ini sering kali diabaikan oleh perawat. 2013 in MUH. Oleh karena itu dibutuhkan dokter dan terutama perawat untuk memenuhi kebutuhan spritual pasien. karena pada dasarnya setiap diri manusia terdapat kebutuhan dasar spiritual ( Basic spiritual needs. Padahal aspek spiritual ini sangat penting terutama untuk pasien terminal yang didiagnose harapan sembuhnya sangat tipis dan mendekati sakaratul maut. Dadang Hawari. 2. . sehingga perawat dapat bertindak sebagai fasilisator (memfasilitasi) agar pasien tetap melakukan yang terbaik seoptimal mungkin sesuai dengan kondisinya.ASKEP PADA PASIEN MENJELANG AJAL Posted: Januari 4. atau memulihkan kesehatan yang optimal dan kualitas hidup dari lahir sampai mati. 1. B. dan masyarakat sehingga mereka dapat mencapai. 1992 ). KETUT IMAM SAUKONI 0 BAB I PENDAHULUAN A. Tujuan Mendefinisikan bagaimana kondisi seseorang yang berada pada tahap terminal Mengetahui konsep teori dari kebutuhan terminal atau menjelang ajal. Karena peran perawat yang komprehensif tersebut pasien senantiasa mendudukan perawat dalam tugas mulia mengantarkan pasien diakhir hayatnya sesuai dengan Sabda Rasulullah yang menyatakan bahwa amalan yang terakhir sangat menentukan.

Stroke Multiple Sklerosis. 4. BAB II PEMBAHASAN TINJAUAN TEORITIS A. Keadaan sakit itu dapat disebabkan oleh suatu penyakit atau suatu kecelakaan. C. Akibat kecelakaan fatal. 3. psikososial dan spiritual bagi individu (KublerRosa. 1999). Manifestasi Klinik Fisik . Penyakit-penyakit kanker. Jenis Penyakit Terminal Beberapa jenis penyakit terminal 1. 1969). B. Penyakit-penyakit infeksi. 6. 5. Memberi intervensi serta mengevaluasi pada klien yang menjelang ajal. Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik. Kondisi terminal adalah suatu proses yang progresif menuju kematian berjalan melalui suatu tahapan proses penurunan fisik. 2. Congestif Renal Falure (CRF). psikososial dan spiritual bagi individu (Carpenito.3. Mengkaji dan memaparkan diagnosa dari kebutuhan terminal. AIDS. Pengertian Penyakit Terminal Keadaan Terminal adalah suatu keadaan sakit dimana menurut akal sehat tidak ada harapan lagi bagi si sakit untuk sembuh. 4.

Suhu klien biasanya tinggi tapi merasa dingin dan lembab terutama pada kaki dan tangan dan ujung-ujung ekstremitas. 2.Elisabeth Kublerr-Ross telah mengidentifikasi lima tahap berduka yang dapat terjadi pada pasien dengan penyakit terminal : 1. 4.1. keras dan cepat ngorok. Penglihatan mulai kabur. Bergaining ( tawar-menawar ) Merupakan tahapan proses berduka dimana pasien mencoba menawar waktu untuk hidup. Kulit kelihatan kebiruan dan pucat. 7. 5. 9. Aktivitas dari GI berkurang. Anger ( Marah ) Terjadi ketika pasien tidak dapat lagi mengingkari kenyataan bahwa ia akan meninggal. Tahap Berduka Dr. 3. 6. 10. Denyut nadi tidak teratur dan lemah. Reflek mulai menghilang. 3. Gerakan pengindaran menghilang secara berangsur-angsur dimulai dari ujung kaki dan ujung jari. Nafas berbunyi. 8. 2. Depetion ( depresi ) . Klien kadang-kadang kelihatan rasa nyeri. 4. Denial ( pengingkaran ) Dimulai ketika orang disadarkan bahwa ia akan meninggal dan dia tidak dapat menerima informasi ini sebagai kebenaran dan bahkan mungkin mengingkarinya. Klien dapat tidak sadarkan diri. D.

― saya tidak percaya itu terjadi ‖. susah tidur. E. Fase denial a. diare. 2.menawar. 3. Acceptance ( penerimaan) Merupakan tahap selama pasien memahami dan menerima kenyataan bahwa ia akan meninggal. Ia akan berusaha keras untuk menyelesaikan tugas-tugasnya yang belum terselesaikan. Verbalisasi.Tahap dimana pasien datang dengan kesadaran penuh bahwa ia akan segera mati. tangan mengepal d. nadi cepat. pucat. 5. Fase bergaining / tawar. letih. gelisah. Fase anger / marah a. lemah. Gejala . Reaksi pertama adalah syok. gangguan pernafasan. mual. menolak makan.Rentang Respon Kehilangan Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance 1.‖ itu tidak mungkin‖. ― kenapa harus terjadi pada saya ? ― kalau saja yang sakit bukan saya ― seandainya saya hati-hati ―. Mulai sadar akan kenyataan b. . letih.ia sangat sedih karna memikirkan bahwa ia tidak akan lama lagi bersama keluarga dan teman-teman. c. tidak mempercayai kenyataan b. Reaksi fisik. 4. Fase acceptance a. Fase depresi a. Marah diproyeksikan pada orang lain c. 5. Perilaku agresif. a. muka merah. menangis. detak jantung cepat. gelisah. tidak mau bicara atau putus asa. Menunjukan sikap menarik diri. Verbalisasi. dorongan libido menurun. Perubahan fisik. susah tidur. b. Pikiran pada objek yang hilang berkurang.

3. menetapkan beberapa petunjuk tentang indikasi kematian. ― yah. World Medical Assembly. baisanya terjadi pada kondisi penyakit yang kronik. 4. G. Tetapi bagi perawat hal ini sangat menyulitkan karena kontak perawat lebih dekat dan sering kepada pasien dan keluarganya. H. Closed Awareness/Tidak Mengerti. khususnya pernafasan. Tanda-tanda Meninggal secara klinis Secara tradisional.‖ apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh‖. kemungkinan sembuh belum pasti.Macam Tingkat Kesadaran atau Pengertian Pasien dan Keluarganya Terhadap Kematian. Pada tahun 1968. 4. 2. yaitu: 1. membagi kesadaran ini dalam 3 type: 1. Terjadi pada pasien dengan sakit kronik dan telah berjalan lama.Kematian yang belum pasti. Gambaran mendatar pada EKG.b. Kematian yang pasti dengan waktu yang diketahui. 3. Tidak adanya gerak dari otot. Tanda-tanda klinis kematian dapat dilihat melalui perubahan-perubahan nadi. Verbalisasi .Kematian yang pasti dengan waktu tidak bisa diketahui. dokter biasanya memilih untuk tidak memberitahukan tentang diagnosa dan prognosa kepada pasien dan keluarganya. yaitu adanya perubahan yang cepat dari fase akut ke kronik. Tidak ada respon terhadap rangsangan dari luar secara total. Pada situasi seperti ini. Tipe-tipe Perjalanan Menjelang Kematian Ada 4 type dari perjalanan proses kematian. biasanya terjadi pada pasien dengan operasi radikal karena adanya kanker. Perawat sering kal . 2. respirasi dan tekanan darah. Strause et all (1970). akhirnya saya harus operasi ― F. Tidak ada reflek.Kemungkinan mati dan sembuh yang tidak tentu. yaitu: 1.

d. Pada Fase Menawar Pada fase ini perawat perlu mendengarkan segala keluhannya dan mendorong pasien untuk dapat berbicara karena akan mengurangi rasa bersalah dan takut yang tidak masuk akal. b. Keadaan ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk berpartisipasi dalam merencanakan saat-saat akhirnya. I. memberikan ras aman dan akan menerima kemarahan tersebut. Bantuan yang Dapat Diberikan Saat Tahap Berduka Bantuan terpenting berupa emosional. a. dan sebagainya. 2. klien dan orang-orang disekitarnya mengetahui akan adanya ajal yang menjelang dan menerima untuk mendiskusikannya. Matual Pretense/Kesadaran/Pengertian yang Ditutupi. c. tetapi tidak semua orang dapat melaksanaan hal tersebut. Akan lebih baik bila kemarahan ditujukan kepada perawat sebagai orang yang dapat dipercaya. Perawat perlu membantunya agar mengerti bahwa masih me rupakan hal yang normal dalam merespon perasaan kehilangan menjelang kamatian. kapan pulang. Pada fase ini memberikan kesempatan kepada pasien untuk menentukan segala sesuatu yang bersifat pribadi walaupun merupakan beban yang berat baginya. Pada Fase Marah Biasansya pasien akan merasa berdosa telah mengekspresikan perasaannya yang marah. Pada Fase Denial Perawat perlu waspada terhadap isyarat pasien dengan denial dengan cara mananyakan tentang kondisinya atau prognosisnya dan pasien dapat mengekspresikan perasaan-perasaannya. serta meneruskan asuhan sehingga membantu pasien dalam menumbuhkan rasa aman.dihadapkan dengan pertanyaan-pertanyaan langsung. Open Awareness/Sadar akan keadaan dan Terbuka. Pada situasi ini. kapan sembuh. 3. walaupun dirasakan getir. Pada Fase Depresi .

Pada fase ini perawat selalu hadir di dekatnya dan mendengarkan apa yang dikeluhkan oleh pasien. Pada Fase Penerimaan Fase ini ditandai pasien dengan perasaan tenang. Akan lebih baik jika berkomunikasi secara non verbal yaitu duduk dengan tenang disampingnya dan mengamati reaksi-reaksi non verbal dari pasien sehingga menumbuhkan rasa aman bagi pasien. BAB III ASUHAN KEPERAWATAN PADA PASIEN TERMINAL . damai. e. Kepada keluarga dan teman-temannya dibutuhkan pengertian bahwa pasien telah menerima keadaanya dan perlu dilibatkan seoptimal mungkin dalam program pengobatan dan mampu untuk menolong dirinya sendiri sebatas kemampuannya.

sifat dan kondisi yang tidak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negatif pada pada gaya hidup 2. Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan. Riwayat kesehatan dahulu Berisi tentang keadaan klien apakah klien pernah masuk rumah sakit dengan penyakit yang sama 3. Riwayat kesehatan sekarang Berisi tentang penyakit yang diderita klien pada saat sekarang 2. Riwayat kesehatan keluarga Apakah anggota keluarga pernah menderita penyakit yang sama dengan klien 4. Head To Toe Perubahan fisik saat kematian mendekat: a. Perubahan proses keluarga yang berhubungan dengan gangguan kehidupan keluarga. c. f. Ansietas/ ketakutan individu . g. PengkajianRiwayat Kesehatan 1. Pasien kurang rensponsif Fungsi tubuh melamban Pasien berkemih dan defekasi secara tidak sengaja Rahang cendrung jatuh Pernafasan tidak teratur dan dangkal Sirkulasi melambat dan ektremitas dingin. h. kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian . d. Kulit pucat Mata memelalak dan tidak ada respon terhadap cahaya B. b. keluarga ) yang berhubungan diperkirakan dengan situasi yang tidak dikenal.takut akan hasil ( kematian ) dengan lingkungnnya penuh dengan stres ( tempat perawatan ) 4. nadi cepat dan melemah. e. penurunan fungsi perubahan konsep diri dan menarik diri dari orang lain 3. Diagnosa Keperawatan 1.A. Berduka yang behubungan dengan penyakit terminal dan kematian yang dihadapi.

keluarga ) yang berhubungan denga situasi yang tak dikenal. peran dan gaya hidup No Intervensi 1 Bantu klien untuk mengurangi ansietasnya : 1. Sifat kondisi yang tak dapat diperkirakan takut akan kematian dan efek negative pada gaya hidup. berikan kepastian dan kenyamanan 2. emosional dan nyeri fisik 2 Kaji tingkat ansietas klien : rencanakan Beberapa rasa takut didasari oleh pernyuluhan bila tingkatnya rendah atau informasi yang tidak akurat dan dapat sedang dihilangkan denga memberikan informasi akurat.C. identifikasi dan dukung mekaniosme koping efektif Rasional Klien yang cemas mempunbyai penyempitan lapang persepsi denagn penurunan kemampuan untuk belajar. Klien dengan ansietas berat atauparah tidak menyerap pelajaran 3 Dorong keluarga dan teman untuk Pengungkapan memungkinkan untuk mengungkapkan ketakutan-ketakutan saling berbagi dan memberiakn mereka kesempatan untuk memperbaiki konsep yang tidak benar 4 Berika klien dan keluarga kesempatan Menghargai klien untuk koping efektif dan penguatan koping positif dapat menguatkan renson koping positif yang akan datang . Criteria Hasil Klien atua keluarga akan : 1. tanggungn jawab. Menjebak klien pada lingkaran peningkatan ansietas tegang. dorong klien untuk mengungkapkan setiap ketakutan permasalahan yang berhubungan dengan pengobtannya 4. mengungkapkan ketakutannya yang brhubungan dengan gangguan 2. Ansietas cendrung untuk memperburuk masalah. Intervensi Keperawatan Diagnosa I Ansietas / ketakutan ( individu . tunjukkan perasaan tentang pemahman dan empti. menceriktakan tentang efek ganmguan pada fungsi normal. jangan menghindari pertanyaan 3.

menghilangkan ketidak nyamanan dan dukungan Memfokuskan pada atribut yang positif meningkatkan penerimaan diri dan penerimaan kematian yang terjadi Proses berduka. proses berkabung adaptif tidak dapat dimulai sampai kematian yang akan terjadi di terima Penelitian menunjukkan bahwa klien sakit terminal paling menghargai tindakan keperawatan berikut : a. Mendukung fungsi kemandirian c. Diskusi terbuka dan jujur dapat membantu klien dan anggota keluarga menerima dan mengatasi situasi dan respon mereka terhdap situasi tersebut Stategi koping fositif membantu penerimaan dan pemecahan masalah 2 3 4 5 Berikan dorongan penggunaan strategi koping positif yang terbukti yang memberikan keberhasilan pada masa lalu Berikan dorongan pada klien untuk mengekpresikan atribut diri yang positif Bantu klien mengatakan dan menerima kematian yang akan terjadi. Memberikan obat nyeri saat diperlukandan d. marah dan kesedihan yang dalam dan respon berduka yang lainnya. didiskusikan kehilangan secara terbuka . meningkatkan kenyamanan fisik ( skoruka dan bonet 1982 ) DIAGNOSA III Perubahan proses keluarga yang berhubunga dengan gangguan kehidupan takut akan hasil ( kematian ) dan lingkungannya penuh stres ( tempat perawatan ) No Intervensi Rasional . perubahan konsep diri dan menark diri dari orang lain No Intervensi 1 Berikan kesempatan pada klien da keluarga untuk mengungkapkan perasaan. Membantu berdandan b.jelaskan bahwa berduka adalah reaksi yang umum dan sehat Rasional Pengetahuan bahwa tidak ada lagi pengobatan yang dibutuhkan dan bahwa kematian sedang menanti dapat menyebabkan menimbulkan perasaan ketidak berdayaan. dan gali makna pribadi dari kehilangan.Diagnosa II Berduka yang berhubungan penyakit terminal dan kematian yang akan dihadapi penurunan fungsi. jawab semua pertanyaan dengan jujur Tingkatkan harapan dengan perawatan penuh perhatian.

a atau praktek spiritual lainnya .1 2 3 Luangkan waktu bersama keluarga Kontak yang sering dan me ngkmuikasikan atau orang terdekat klien dan sikap perhatian dan peduli dapat membantu tunjukkan pengertian yang empati mengurangi kecemasan dan meningkatkan pembelajaran Izinkan keluarga klien atau orang Saling berbagi memungkinkan perawat terdekat untuk mengekspresikan untuk mengintifikasi ketakutan dan perasaan. . koping yang tidak berhasil atau konflik yang tidak selesai memerlukan sumber-sumber tambahan untuk membantu mempertahankankan fungsi keluarga Diagnosa IV Resiko terhadap distres spiritual yang berhubungan dengan perpisahan dari system pendukung keagamaan. intervensi untuk mengatasinya Jelaskan lingkungan dan peralatan ICU Informasi ini dapat membantu mengurangi ansietas yang berkaitan dengan ketidak takutan 4 Jelaskan tindakan keperawatan dan kemajuan postoperasi yang dipikirkan dan berikan informasi spesifik tentang kemajuan klien Anjurkan untuk sering berkunjung dan berpartisipasi dalam tindakan perawan Konsul dengan atau berikan rujukan kesumber komunitas dan sumber lainnya 5 6 Kunjungan dan partisipasi yang sering dapat meningakatkan interaksi keluarga berkelanjutan Keluarga denagan masalah-masalh seperti kebutuhan financial . ketakutan dan kekhawatiran kemudian merencanakan kekawatiran. kurang pripasi atau ketidak mampuan diri dalam menghadapi ancaman kematian No Intervensi 1 Gali apakah klien menginginkan untuk melaksanakan praktek atau ritual Rasional Bagi klien yang mendapatkan nilai tinggi pada do.

Kesimpulan Kondisi Terminal adalah suatu keadaan dimana seseorang mengalami penyakit atau sakit yang tidak mempunyai harapan untuk sembuh sehingga sangat dekat dengan proses kematian. Respon klien dalam kondisi terminal sangat individual tergantung kondisi fisik.2 3 4 5 keagamaan atau spiritual yang praktek ini dapat memberikan arti dan diinginkan bila yang memberi kesemptan tujuan dan dapat menjadi sumber pada klien untuk melakukannya kenyamanan dan kekuatan Ekspesikan pengertrian dan penerimaan Menunjukkan sikap tak menilai dapat anda tentang pentingnya keyakinan dan membantu mengurangi kesulitan klien praktik religius atau spiritual klien dalam mengekspresikan keyakinan dan prakteknya Berikan prifasi dan ketenangan untuk Privasi dan ketenangan memberikan ritual spiritual sesuai kebutuhan klien lingkungan yang memudahkan refresi dapat dilaksanakan dan perenungan Bila anda menginginkan tawarkan untuk Perawat meskipun yang tidak menganut berdo. merespon terhadap berbagai kejadian dan orang disekitarnya sampai kematian itu terjadi. Atau sebagian beranggapan bahwa kematian sebagai jalan menuju kehidupan kekal yang akan mempersatukannya dengan orang-orang yang dicintai. dia akan menjalani hidup. atau mengalami penderitaan sepanjang hidup. Orang yang telah lama hidup sendiri. Sedangkan yang lain beranggapan takut akan perpisahan. social yang dialami. psikologis. mempraktikkan ritual yang penting ( Jelaskan ketidak setiaan pelayanan ( Carson 1989 ) kapel dan injil RS ) BAB IV PENUTUP a. terisolasi akibat kondisi terminal dan menderita penyakit kronis yang lama dapat memaknai kematian sebagai kondisi peredaan terhadap penderitaan. sehingga dampak yang ditimbulkan pada tiap individu juga berbeda. Perhatian utama pasien terminal sering bukan pada kematian itu sendiri tetapi lebih pada kehilangan kontrol . ditelantarkan. dikuncilkan. Hal ini mempengaruhi tingkat kebutuhan dasar yang ditunjukan oleh pasien terminal. kesepian.a bersama klien lainnya atau agama atau keyakinan yang sama dengan membaca buku ke agamaan klien dapat membantu klien memenuhi kebutuhan spritualnya Tawarkan untuk menghubungkan Tindakan ini dapat membantu klien pemimpin religius atau rohaniwan rumah mempertahankan ikatan spiritual dan sakit untuk mengatur kunjungan. Seseorang yang menghadapi kematian/kondisi terminal.

b. Doenges E. Perawat harus lebih toleran dan rela meluangkan waktu lebih banyak dengan klien menjelang ajal. kehilangan orang yang dicintai. Buku Ajar Keperawatan jiwa Edisi 8. Saran 1.. Jakarta: EGC 3. tanggung jawab perawat harus mempertimbangkan kebutuhan fisik. 3. 1999. 2001. Marilynn. untuk mendengarkan klien mengekspresikan duka citanya dan untuk mempertahankan kualitas hidup pasien DAFTAR PUSTAKA 1.terhadap fungsi tubuh. pengalaman nyeri yang menyakitkan atau tekanan psikologis yang diakibatkan ketakutan akan perpisahan. 2. . Moorhouse Frances Mary. Ketika merawat klien menjelang ajal atau terminal. Perawat harus memahami apa yang dialami klien dengan kondisi terminal. Jakarta: EGC. Smeltzer. 2. dan social yang unik. Asuhan Keperawatan Pasien dengan Gangguan dan Penyakit kronik dan terminal Jakarta: Depkes RI. Rencana Asuhan Keperawatan: Pedoman untuk perencanaan dan pendokumentasian perawatan pasien jiwa Edisi 3.Depkes RI Pusdiknakes. tujuannya untuk dapat menyiapkan dukungan dan bantuan bagi klien sehingga pada saat-saat terakhir dalam hidup bisa bermakna dan akhirnya dapat meninggal dengan tenang dan damai. Geisster C Alice. Suzanne C. 995. psikologis.

( 0343) 631255 Pandaan Alat transportasi : Pekerjaan sebelumnya : Wiraswata (koki di Jakarta & terakhir di Sulawesi ± 12 th) Sumber–sumber pendapatan dan kecukupan terhadap kebutuhan : . sehingga Ny. Dari suami kedua yang juga sudah meninggal memiliki anak pertama laki-laki yang sudah meninggal dan yang kedua laki-laki masih hidup dan sudah menikah serta memiliki anak perempuan enam orang sedangkan laki-laki satu orang. Dari suami pertama yang sudah meninggal memiliki anak pertama laki-laki dan dua orang lagi perempuan yang ketiga anak tersebut sudah meninggal dunia. PENGKAJIAN Tanggal Pengkajian : 9 Maret 2004 A.contoh kasus gerontik KEPERAWATAN GERONTIK CONTOH TINJAUAN KASUS I. Riwayat Pekerjaan : Pekerjaan saat ini : tidak ada. Data biografi Nama : Supiah Jenis Kelamin : Perempuan Tempat Lahir : Jember Umur : 90 tahun Pendidikan terakhir : – (tidak sekolah) Agama : Islam Status Perkawinan : Janda (Cerai mati) TB/BB : 145 Cm / 42 Kg Penampilan : Tampak bersih. menikah 2 kali. DR Sutomo Telp. C. memakai sarung dan kebaya Ciri-ciri tubuh : Sudah bungkuk dan menggunakan tongkat Alamat : Kampung tempean Jember Telp : Orang yang dekat dihubungi : tidak ada Lama tinggal dipanti : ± 10 tahun B. hanya tinggal dipanti sosial tresna werdha sejahtera Pandaan-Bangkalan (Wisma Seruni) Alamat pekerjan : JL. S memiliki cucu 6 orang. Riwayat keluarga Genogram. Keterangan : = laki-laki atau perempuan meninggal = laki-laki masih hidup = perempuan masih hidup = hubungan perkawinan = klien Klien adalah anak kedua dari 2 bersaudara. Tapi klien tidak tahu keberadaannya sehingga tinggal di panti.

kalau berjalan terasa mau jatuh. Riwayat rekreasi Hobby/minat : Suka bersih-bersih kamar semampunya dan piara kucing. pinggang dan kaki terasa sakit dan terasa tidak kuat untuk berdiri lama dan bekerja seperti . demikian juga panggul. laki-laki 3 orang dan wanita 5 orang Derajat privasi : baik (ny. F. Keanggotaan organisasi : Liburan perjalanan : Sejauh ini selama di Panti Ny. orang yg tinggal dirumah : 8 orang. S belum pernah melakukan perjalanan jauh dengan alasan tidak tahu tujuan dan tidak punya tenaga karena sudah tua. melaksanakan wiritan sehabis sholat. Ny.S mengaku privasi dapat terlindungi) Tetangga terdekat : Penghuni panti di wisma itu sendiri dan wisma lainnya. D. I. ventilasi baik tidak lembab.Ny. Keluhan utama Ny. sudah tidak kuat lagi‖. penglihatan kabur dan tulang rasa linu-linu. H. bersih tidak pengap Jml. Pada tiap-tiap wisma dikoordinir oleh satu orang petugas dari Pekerja Sosial. S mengatakan saat ini sendi-sendi tangan dan jari terasa linu-linu. S mengatakan ―status kesehatan saya selama satu tahun terakhir ini belum pernah sakit yang serius paling-paling batuk-batuk. S mengatakan masih mampu melaksanakan aktivitas sehari-hari tanpa bantuan : seperti sholat lima waktu. Sistem pendukung Di panti terdapat klinik yang melayani kesehatan lansia dan tenaga dibantu oleh seorang perawat yang melayani kesehatan seluruh penghuni panti serta tenaga dokter yang melakukan pemeriksaan / kontrol kesehatan 1 kali dalam seminggu. G. makanya saya memakai tongkat. Penyakit lain seperti darah tinggi. Riwayat Lingkungan Hidup Tipe tempat tinggal : permanen Jumlah kamar : 1 kamar ukuran 3×3 meter dengan 2 tempat tidur jumlah tongkat : 1 buah Kondisi tempat tinggal : pencahayaan cukup terang. S mengatakan ―sekarang segala kebutuhan saya hanya didapatkan dari panti tempat tinggal saya disini‖. Panti sudah menjalin kerja sama dengan Puskesmas serta RSUD pandaan untuk keperluan bila ada anggota wisma yang perlu dirujuk. rhematoid. dan asthma klien menyangkal. Diskripsi Kekhususan Ny. Sedangkan status kesehatan lima tahun yang lalu pernah panas badan yang tinggi dan seluruh tubuh keluar bengkak-bengkak warna merah dan terasa gatal. Status Kesehatan Ny. S mengaku lebih banyak tinggal didalam wisma dan ngobrol dengan sesama anggota yang tinggal di wisma Seruni. sedangkan untuk pengajian di wisma Cempaka sudah tidak diikuti karena susah berjalan kesana. E. waktu itu saya tidak diberi tahu jenis penyakit apa‖.

L. S mendapat jatah makan 3 kali sehari dengan menu yang cukup.00 dan bangun pagi sekitar pukul 03. • Eliminasi : BAB 2-3 hari sekali dan BAK 2-3 kali sehari. karena Ny. lancar dan tidak ada keluhan yang berarti.mencuci baju/peralatan makan dan menyapu terasa mudah lelah. Berpakaian 4. K. mandi 3. Ambulasi V V V V V V banyak memakai tongkat • Indeks Katz : Skor A yaitu kemandirian dalam hal makan. • Aktifitas : klien dapat melakukan aktifitas sendiri tanpa bantuan. karena alasan uang belanja tidak ada‖. Hal ini dirasakan setiap hari dan sudah kurang lebih satu tahun ini tambah berat penyakit ini‖. keluhannya berkurang namun beberapa hari timbul lagi. dan mandi ( walaupun dengan jalan pelan dan tergopoh-gopoh) • Nutrisi : Ny. bahan kebiasaan jajan di luar panti tidak ada.00 atau 22. tidur malam mulai pukul 21. J. makan /minum 2. S mengaku tidak punya kebiasaan buruk seperti merokok atau minum-minuman keras. mungkin karena sudah tua ini‖.00 WIB. S mengaku takut jatuh. walaupun untuk jalan/ambulasi lebih banyak menggunakan tongkat 1 buah. . sholat dll. terkadang saja tidur paling cuma sekitar 1 jam. • Istirahat & tidur : Tidak ada keluhan tentang istirahat & tidur . misalnya mencuci baju. setiap porsi makan yang diberikan dihabiskannya.00 atau 04. untuk tidur siang tidak tentu. saya minta obat kepada Ibu Emi. Ke WC 5. Pemahaman dan Penatalaksanaan masalah kesehatan : Ny. Transfering/pindah 6. kontinen. menyapu kamar. S mengatakan ―kalau sudah terasa kurang enak dan sakit linu-linu. Pola persepsi pemeliharaan kesehatan dan Riwayat Imunisasi serta Alergi Ny. Ny. ke kamar kecil. S mengatakan ‗tidak pernah diimunisasi dan tidak ada alergi terhadap makanan atau obatobatan‖. berpindah. peralatan makan. Pola aktifitas Hidup sehari hari Kemampuan Perawatan Diri Independen Bantuan Alat Bantuan orang lain Bantun orang lain & peralatan Dependent 1. berpakaian.

S menganggap sudah tidak perlu lagi karena umur sudah tua. Tinjauan Sistem Keadaan umum : penampilan rapi. lidah tampak bersih. Tingkat kesadaran : compos mentis GCS : membuka mata = 4. Setiap kali mau sholat selalu kumur-kumur. dan auskultasi . terbukti dengan pada saat diwawancarai klien selalu menjawab dengan tepat dan meyakinkan c) Emosi : klien sangat tenang tidak pernah menunjukkan emosi yang berlebihan / tidak pernah marah-marah. perkusi terdengar sonor. orientasi waktu. verbal = 5. tensi = 150/90 mmHg. dan lebih sering sabun mandi dipakai untuk mencuci rambut sekaligus. Mata sebelah kanan visusnya 6/300 yaitu hanya bisa melihat gerak jari-jari dari jarak 6 meter. Daun telinga tampak bersih. conjunctiva merah muda. Kebiasaan mandi 2-3 kali sehari dengan menggunakan sabun. dan mudah rontok. Rongga hidung tidak ada polip/benda asing. Pada kulit kepala tidak terdapat lesi/benjolan. dan tidak ada pembesaran tonsil. d) Adaptasi : klien dipanti sudah ± 10 tahun. tipis. Ny.• Personal Hygeine : Ny. kuku tangan bersih dan dipotong pendek. Dada dan Punggung : dada/punggung tampak berbentuk kiposis (bungkuk). • Sexual : selama ditinggal suaminya. pakaian dan tempat tidur tampak bersih. Sclera tampak putih kekuningan (agak keruh). • Psikologis : a) Persepsi klien : klien merasakan kaki agak berat bila dipakai untuk berjalan. S menanyakan ulang pertanyaan dari petugas. Mengenai gigi. letak septum dibagian tengah. psikomotor = 6 Tanda vital : nadi = 82 X/menit reguler. Kaku kuduk tidak ada. RR = 16 X/mnt. wajah tampak pakai bedak. 2. sedang pendengaran cukup karena jarang sekali ny. selain itu klien selalu berdo‘a kepada Tuhan Yang Maha Esa terutama waktu sholat. tidak ada peradangan mukosa hidung. bicara teratur dan terarah. Tidak tampak oedema pada palpebrae. Kebiasaan mencuci rambut sekali seminggu dengan menggunakan shampoo terkadang saja bila ada. jarang sekali sikat gigi karena jumlah gigi hanya tinggal 3 buah (1 di bawah dan 2 di atas). 3. Klien merasa penyakitnya merupakan penyakitnya orang yang sudah tua. e) Mekanisme pertahanan diri : bila ada masalah klien selalu mengutarakan masalahnya kepada petugas kesehatan. pupil isokor dan ada refleks terhadap cahaya. tempat & orang baik. 1. b) Konsep diri : Kepercayaan diri klien masih sangat tinggi. S terlihat rapi dan bersih. Leher : Tidak terdapat pembesaran kelenjar getah bening ataupun kelenjar tyroid. getaran dinding dada sama saat palpasi. M. tapi tidak ada dyspnea. • Rekreasi : Tidak pernah rekreasi dan sudah tidak lagi sering menonton TV karena di wisma seruni tidak ada dan untuk jalan ke wisma lain untuk menonton TV merasa tidak kuat untuk berjalan. S mengaku tidak pernah lagi melakukan hubungan seksual dan sekarang Ny. 1 di atas). hanya tertinggal 3 buah (1 di bawah. rambut bersih dan sudah berwarna putih/uban. dan sangat akrab dengan penghuni panti baik satu wisma maupun penghuni antar wisma. Kepala : rambut putih. tapi klien menceritakan kalau ia jengkel dengan teman sekamar yang malas bersihkan tempat tidurnya sendiri dan jarang mandi.

Pada palpasi tidak ada keluhan nyeri pada region abdomen. yang berarti tingkat depresi klien : tidak ada / minimal 4) APGAR keluarga ( Suatu alat skrining singkat yang dapat digunakan untuk mengkaji fungsi sosial lansia ) : Nilai 10. 6. 4. dan tidak mengeluh nyeri pada costo-vertebral saat diperkusi tersebut.CT Scan : . S masih bisa merasakan asin. tidak tampak adanya benjolan/masa. 1) SPSMQ ( Short Portable Mental Status Quistionnaire ) : jumlah kesalahan 0 yang berarti fungsi intelektualnya masih utuh 2) MMSE (Mini Mental State Exam) : Menguji aspek-aspek kognitif dari fungsi mental nilai total = 25 yaitu aspek kognitif dan mental masih dalam taraf baik 3) Inventaris depresi beck ( untuk mengetahui tingkat depresi lansia ) : Nilai yang didapat adalah 3. Abdomen dan Pinggang : Inspeksi abdomen tampak datar. ANALISA DATA Data (sign / Symptom) Interpretasi (Etiologi) Masalah (Problem) . dan memperlihatkan gigi yang ada. Data penunjang . fungsi sosial lansia adalah baik O. triceps. 5. S masih mampu menyebutkan bau kopi saat matanya ditutup. Ny. Sistem Penciuman : Ny. Ny. 10. tidak ada pembengkakan/edema. Refleks Babinski negatif. Genetalia/ sistem reproduksi : Klien tidak bersedia di periksa kemaluannya. N.Radiologi : . Pemeriksaan Nervus abduscens. tidak ada suara tambahan (murmur/gallop). dan tidak teraba pembesaran hepar. Auskultasi bising usus positif. 9. Ekstremitas Atas dan Bawah : Tidak ditemukan kelumpuhan ekstremitas. terdapat suara ronchi nada rendah. 8. dan atas-bawah.EKG : – .USG : . pahit dengan mata tertutup dan mampu menyebutkan jenis makanan yang dirasakannya saat penkajian dilakukan. kulit keriput. S mengaku sudah tidak haid lagi sejak berumur 50 tahunan. dan achiles dalam keadaan normal (kontraksi otot biasa). Inspeksi pada dinding dada terlihat ictus cordis pada ICS 5. Status kognitif . Sistem Persyarafan : Refleks fisiologik (ketukan tendon) pada biceps. S berjalan tampak sempoyongan dengan menggunakan tongkat. peristaltik 4 kali/menit. Sistem Immune : Tidak dapat terkaji secara jelas karena butuh pemeriksaan khusu tapi menurut Ny. manis. sedangkan auskultasi jantung terdengar S1 S2 tunggal. Sistem Pengecapan : Ny. ny. S masih mampu menggerakkan bola mata kanan-kiri. mengangkat alis. nervus fascialis . 7. tidak ada ascites. Ny. perkusi jantung terdengar pekak. lutut. dan tidak ada keluhan selama ini.Obat-obatan : II. S masih mampu tersenyum.Lab : – . tapi menurutnya wajar-wajar saja. S kalau dirinya mudah tertular batuk-pilek bila musimnya.Afektif dan sosial. patah tulang tidak ada. khususnya titik MC Burney.terdengar vesikuler pada lapang paru. Perkusi abdomen terdengar tympani. merngis.

Resiko injury (cedera) berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skletal dan ketidakseimbangan tubuh serta berkurangnya daya penglihatan. S mengaku ―saya takut jatuh sehingga tidak pernah keluar wisma seruni untuk berkunjung ke wisma yang lain‖. sedangkan untuk jalan/ambulasi lebih banyak menggunakan tongkat 1 buah‖. Skala nyeri 3 (sedang). Klien terlihat bungkuk. Ny. Ny. menyapu kamar. Obyektif : Tulang punggung kifosis. Obyektif : Sesekali terdengar bunyi persendian/ tulang ketika bergerak. S mengatakan ―status kesehatan saya selama satu tahun terakhir ini adalah penglihatan kabur dan tulang rasa linu-linu. wajah tampak meringis. Obyektif : Mata sebelah kanan visusnya 6/300 yaitu hanya bisa melihat gerak jari-jari dari jarak 6 meter. III. kalau berjalan terasa mau jatuh. 3. PROSES KEPERAWATAN Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari spasme otot dan pergerakan sendi/tulang. pinggang dan kaki terasa sakit dan terasa tidak kuat untuk berdiri lama dan bekerja‖. Subyektif : Klien mengatakan ―saya dapat melakukan aktifitas sendiri. Tujuan . tetapi terasa mudah lelah. S mengatakan ―saat ini sendi-sendi tangan dan jari terasa linu-linu. Dampak sekunder dari spasme otot dan pergerakan sendi/tulang. S berjalan tampak sempoyongan dengan menggunakan tongkat.123 Subyektif : Ny. misalnya mencuci baju. demikian juga panggul. Nyeri berhubungan dengan dampak sekunder dari spasme otot dan pergerakan sendi/tulang. perubahan skletal (kiposis) Dampak sekunder perubahan skletal dan ketidakseimbangan tubuh serta berkurangnya daya penglihatan Nyeri Kurang maksimal mobilitas fisik Risiko injury (cedera) PRIORITAS DIAGNOSA KEPERAWATAN 1. 2. peralatan makan. dan klien mengeluh sakit. sholat dll. Kurang maksimal mobilitas fisik berhubungan dengan perubahan skeletal (kiposis). Subyektif : Ny. makanya saya memakai tongkat. Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 5 hari diharapkan nyeri berkurang Kriteria : . ketika mau duduk/berdiri harus berpegangan pada benda/tongkat.

Klien dapat tenang dan istirahat yang cukup . 5. .Menunjukkan penurunan tanda-tanda intoleransi fisiologis.. .Klien akan mengekspresikan perasaan nyerinya . misalnya. Beri kompres hangat intermiten dan pijatan punggung.Melaporkan peningkatan dalam toleransi aktivitas yang dapat diukur . 6. Kurang maksimal mobilitas fisik berhubungan dengan perubahan skeletal (kiposis). .Melaporkan nyeri/ketidak nyamanan hilang/ terkontrol. Tujuan : Setelah diberi tindakan keperawatan selama 5 hari diharapkan klien mampu melakukan mobilitas fisik.Mencegah bertambahnya nyeri pada otot/sendi.Kelelahan dan keletihan dapat menurunkan minat untuk aktivitas sehari-hari. . terlokalisir atau nyeri menyebar pada abdomen atau pinggang. Kriteria : .Klien mampu melakukan ADL secara independent . . .Meningkatkan rasa nyaman dengan merelaksasi otot. .Klien dapat meningkatkan mobilitas fisik . .Alternatif lain untuk mengatasi nyeri pengaturan posisi. pembatasan gerak spinal.Klien dapat mandiri dalam perawatan dan penanganannya secara sederhana . 3. Ajarkan pada klien tentang alternatif lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya.Keyakinan klien tidak dapat mentolelir akan obat yang adequat atau tidak adequat untuk mengatasi nyerinya. 8.Memperbaiki relaksasi otot. 2. Rencanakan pada klien tentang periode istirahat adequat dengan berbaring dengan posisi terlentang/miring kesamping minimal 15 menit. Pantau tingkat nyeri pada punggung. Istirahat baring dapat mengurangi rasa tak nyaman dan stress akibat postur abnormal pada otot yang melemah. antalgin.Menurunkan/ mengontrol nyeri dan menurunkan rangsang sistem saraf simpatis. 7. Kaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri. Jelaskan klien untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan menghindari gerakan memuntir. . Anjurkan untuk fleksi lutut. 4.Mengungkapkan metode yang memberikan pengurangan nyeri INTERVENSI RASIONAL 1. . kompres hangat dan sebagainya.Berpartisipasi dalam aktivitas yang diinginkan/diperlukan . Beri obat analgetika sesuai indikasi.Tulang dalam peningkatan jumlah trabekuler.

¤ ajarkan pentingnya latihan 3.Dasar untuk memberikan alternatif dan latihan gerak yang sesuai dengan kemampuannya. Rencanakan tentang pemberian program latihan : ¤ bantu klien jika diperlukan latihan ¤ ajarkan klien tentang ADL yang bisa dikerjakan.Klien tidak jatuh dan fraktur tidak terjadi . Kaji tingkat kemampuan klien yang masih ada. Ciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya : ¤ Tempatkan klien pada tempat tidur rendah ¤ Amati lantai yang membahayakan klien ¤ Berikan penerangan yang cukup ¤ Tempatkan klien pada ruangan yang tertutup dan mudah untuk diobservasi ¤ Ajarkan klien tentang pentingnya menggunakan alat pengaman di ruangan 2.Klien kooperatif dalam menciptakan lingkungan yang aman dari cedera. .Latihan akan meningkatkan pergerakan otot dan stimulasi sirkulasi darah. Ajarkan pada klien untuk berhenti secara pelan-pelan. . . Bantu klien untuk melakukan ADL secara hati-hati 4.INTERVENSI RASIONAL 1. . 2. Tujuan : Injury (cedera) tidak terjadi Kriteria : . Tingkatkan latihan fisik secara adequat : ¤ Dorong latihan dan hindari tekanan pada tulang saat berjalan ¤ Instruksikan klien latihan selama kurang lebih 30 menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selam 15 menit ¤ Hindari latihan fleksi punggung/ membungkuk dengan tiba-tiba dan mengangkat beban berat. Berikan support ambulasi sesuai dengan kebutuhan : ¤ Kaji kebutuhan untuk berjalan ¤ Konsultasi dengan ahli terapis ¤ Anjurkan klien untuk meminta bantuan bila diperlukan ¤ Ajarkan klien waktu berjalan dan keluar ruangan 3. tidak naik tangga dan mengangkat beban berat.Dengan latihan fisik : ¤ Massa otot lebih besar sehingga memberikan perlindungan pada osteoporosis ¤ Program latihan merangsang pembentukan tulang ¤ Gerakan menibulkan kompresi vertikal dan resiko fraktur vertebrae Resiko injury (cedera) berhubungan dengan dampak sekunder perubahan skletal dan ketidakseimbangan tubuh serta berkurangnya daya penglihatan.Klien dapat menghindari aktivitas yang mengakibatkan fraktur INTERVENSI RASIONAL 1. .

Ambulasi yang dilakukan tergesa-gesa dapat menyebabkan mudah jatuh. Anjurkan klien untuk berjemur/aktivitas ringan dibawah sinar matahari pagi.Diet calsium dibutuhkan untuk mempertahankan kalsium dalam serum.00 Kamis/ 11-3-‗04 09. . . IV.Diperlukan untuk memperbaiki kemampuan tubuh menghasilkan vitamin D yang berguna bagi tulang. Ajarkan pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis : ¤ Rujuk klien pada ahli gizi ¤ Ajarkan diet yang mengandung banyak kalsium ¤ Ajarkan klien untuk mengurangi atau berhenti menggunakan rokok atau kopi.Rokok dapat meningkatkan terjadinya asidosis.5.Penarikan yang terlalu keras akan menyebabkan terjadinya fraktur. Observasi efek samping dari obat-obatan yang digunakan. Ajarkan efek dari rokok terhadap pemulihan tulang 7.Obat-obatan seperti deuritik.Menciptakan lingkungan yang aman dapat mengurangi resiko terjadinya kecelakaan. . I M P L E M E N T A S I TTD 12345 1 2 3 Rabu/ 10-3-‗04 11. IMPLEMENTASI No Hari/tgl Pukul Dx. 6.00 . phenotiazin dapat menyebabkan dizzines. drowsiness dan weaknes yang merupakan predisposisi klien untuk jatuh. mencegah bertambahnya kehilangan tulang. . Alkohol akan meningkatkan asidosis yang meningkatkan resorpsi tulang/kerusakan tulang. Kelebihan kafein akan meningkatkan kehilangan kalsium dalam urine. . . kep. 8. . .Pergerakan yang cepat akan lebih mudah terjadinya fraktur punggung/kompresi vertebrae pada klien dengan osteoporosis.

4. Menjelaskan klien untuk menggerakkan batang tubuh sebagai satu unit dan menghindari gerakan memuntir.00 Senin/ 15-3-04 08. Berusaha menciptakan lingkungan yang bebas dari bahaya : ¤ Menempatkan klien pada tempat tidur rendah ¤ Menjelaskan klien tentang lantai yang dapat membahayakannya. 8. 2. Meningkatkan latihan fisik secara adequat : ¤ Mendorong klien latihan dan menghindari tekanan pada tulang saat berjalan ¤ Mengajak klien latihan selama kurang lebih 30 menit dan selingi dengan istirahat dengan berbaring selama 15 menit. 4. ¤ Menjelaskan pentingnya latihan 3. Mengkaji tingkat kemampuan klien yang masih ada. nyeri pada punggung. 2. Memantau tingkat nyeri klien . Memberi kompres hangat intermiten dan pijatan punggung. Mengajarkan pada klien tentang alternatif lain untuk mengatasi dan mengurangi rasa nyerinya. 1. 2. Mengajarkan klien tentang periode istirahat adequat dengan berbaring dengan posisi terlentang/miring kesamping minimal 15 menit. Mengkaji obat-obatan untuk mengatasi nyeri. Memberikan support ambulasi sesuai dengan kebutuhan : ¤ Mengkaji kebutuhan untuk berjalan ¤ Menjelaskan klien tentang manfaat konsultasi dengan ahli terapis. . 5. Menganjurkan klien untuk menghindari latihan fleksi punggung/ membungkuk dengan tibatiba dan mengangkat beban berat. Menganjurkan untuk fleksi lutut. ¤ Mejelaskan manfaat penerangan yang cukup ¤ Menempatkan klien pada ruangan yang tertutup dan mudah untuk diobservasi ¤ Mengajarkan klien tentang pentingnya menggunakan alat pengaman di ruangan. ¤ Menganjurkan klien untuk meminta bantuan bila diperlukan. 6. 3. 1.30 I II III 1. Merencanakan dengan klien tentang program latihan : ¤ membantu klien jika diperlukan latihan ¤ mengajarkan klien tentang ADL yang bisa dikerjakan.Jum‘at/ 12-3-‗04 09. Memberi obat analgetika berupa antalgin 3×1 selama fase akut. 7. terlokalisir dan kadang nyeri menyebar pada abdomen atau pinggang.

. 6. Mendiskusikan efek dari rokok terhadap pemulihan tulang 7. Membantu klien untuk melakukan ADL secara hati-hati. tidak naik tangga dan mengangkat beban berat.¤ Mengajarkan klien waktu berjalan dan keluar ruangan. 8. ¤ Menjelaskan manfaat mengurangi atau berhenti menggunakan rokok atau kopi. 3. Menjelaskan kepada klien untuk berhenti secara pelan-pelan. 5. Menanyakan obat yang dipakai guna mengobservasi efek samping dari obat-obatan yang digunakan. Mengajarkan pentingnya diet untuk mencegah osteoporosis : ¤ Menjelaskan manfaat rujuk kepada ahli gizi ¤ Menjelaskan diet yang mengandung banyak kalsium. Menganjurkan klien untuk berjemur/aktivitas ringan dibawah sinar matahari pagi. 4.