Analisis Penerapan Pelaksanaan Manajemen Keperawatan Profesional

Analisis Penerapan pelaksanaan Manajemen Keperawatan Profesional (MPKP) di ruang perawatan Hidayah RSU PKU Muhammadiyah Gombong A.

Pendahuluan Mutu pelayanan kesehatan di rumah sakit dipengaruhi oleh banyak sekali faktor. Faktor yang berpengaruh dapat dikelompokkan ke dalam faktor pelayanan medik, faktor pelayanan nonmedik dan faktor pasien. Faktor pelayanan medik ditentukan oleh dokter, perawat atau petugas kesehatan, alat kesehatan, standar pelayanan yang dipakai dan sebagainya.1 Pelaksanaan penerapan manajemen keperawatan professional di ruang perawatan Hidayah telah dimulai pada bulan Nopember 2008. untuk mengetahui kemajuan perkembangan manajemen ini sangat diperlukan evaluasi pelaksanaannya. B. Tujuan Penelitian Tujuan penelitian ini adalah: 1. mengidentifikasi input dan permasalahannya di ruang perawatan Hidayah dalam pelaksanaan manajemen MPKP. 2. mengidentifikasi proses permasalahannya di ruang perawatan Hidayah dalam pelaksanaan manajemen MPKP. 3. mengidentifikasi output dan permasalahannya di ruang perawatan Hidayah dalam pelaksanaan manajemen MPKP. C. Metode Penelitian

Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah: penelitian evaluatif kualitatif dengan pendekatan sistem (masukan-proses-keluaran) dari sudut pandang organisasi. Informan dalam penelitian ini adalah seluruh pengelola dan pelaksana di ruang perawatan Hidayah yang berjumlah 34 orang . Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, Focus Group Discussion (FGD), pengamatan dan penelitian dokumen. Data yang didapatkan kemudian diolah secara manual dan dilakukan analisis isi. D. Konsep teori MODEL PRAKTEK KEPERAWATAN PROFESIONAL (MPKP) 1. Orientasi Pasien Baru : 2. Konfrensi 3. Operan 4. Ronde Keperawatan 5. Presentase Kasus 6. Pra Interaksi : i. Mencari Informasi ttg nama,umur,alamat& riw.Medis ii. Mempelajari catatan status Kesehatan klien iii. Menjelaskan pd PA ttg klien baru yg akn mjd t.jawab tim

iv. Menginformasikan Dr/Tim Kes lainnya yg b’T.Jawab trhadap Kes Klien v. Menyiapkan diri untuk interaksi 1. ORIENTASI PASIEN BARU : Orientasi pasien baru merupakan kontrak antara perawat dank lien / keluarga dimana terdapat kesepakatan antara perawat dengan klien/keluarganya dalam memberikan Asuhan keperawatan.Kontrak ini diperlukan agar hubungan saling percaya antara perawat dan klien / keluarga dapat terbina ( Trust ) Hal – hal yang perlu diperhatikan : 1. Orientasi dilakukan saat pertama kali oleh klien datang ( 24 jam pertama ) dan kondisi klien sudah tenang. 2. Orientasi dilakukan oleh PP.Bila PP tidak ada PA dapat memberikan orientasi untuk klien dan keluarga, selanjutnya orientasi harus dilengkapi kembali oleh PP sesegera mungkin.Hal ini penting karena PP yang bertanggung jawab terhadap semua kontrak atau orientasi yang dilakukan 3. Orientasi diberikan pada klien dan didampingi anggota keluarga yang dilakukan dikamar klien dengan menggunakan format orientasi.Selanjutnya klien diinformasikan untuk membaca lebigh lengkap format orientasi yang ditempelkan dikamar klien

Pada saat penggantian dinas ( dikamar klien ). 2. bertujuan : Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien.ingatkan klien nama perawat yang bertugas saat itu. Persiapan kedua kelompok dalam keadaan siap . Kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan 2. terutama tentang daftar nama tim yang sudah diberikan .bila perlu anjurkan klien atau keluarga melihat pada daftar nama tim. OPERAN / TIMBANG TERIMA Adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien. berikan daftar nama tim atau badge kepada klien dan keluarga kemudian gantungkan daftar nama tersebut pada laci klien. Prosedur timbang terima Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi . sekaligus menginformasi kan perkembangan kondisi keperawatan klien dengan mengidentifikasi kebutuhan klien. 1. Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya. Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya. Orientasi ini diulang kembali minimal setiap dua hari oleh PP atau yang mewakili.Setelah orientasi . Pelaksanaan .

Dalam penerapannya. Timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan b. misalnya operasi. 2) Masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul. c. Tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan. Identitas klien dan diagnosa medik. 6) Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi. 3). Intervensi kolaborasi dan dependensi. 7) Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan jelas. 10) . 5). persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara rutin. 4). rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan. pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya. 8) Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci. Rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya. Hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah 1). 9) Pelaporan untuk timang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat. dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung jawab: a. Dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien. tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas.

Konfrensi bertujuan untuk : 1. Masalah Keperawatan . Menetapkan klien yang menjadi tanggung jawab masing – masing PA 3. Membahas masalah setiap klien berdasarkan renpra yang telah dibuat oleh PP 2. 3. Keadaan Umum Klien b. Mengidentifikasi tugas PA untuk setiap klien yang menjadi tanggung jawabnya. Keluhan Utama c. 11) Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan kien. Kegiatan dalam Konfrensi : a.Rencana tindakan didasarkan pada renpra yang ditetapkan oleh PP 4.sore atau malam sesuai dengan jadwal dinas PP. TTV dan Kesadaran d.Konfrensi dilakukan setelah melakukan operan dinas .Konfrensi sebaiknya dilakukan ditempat tersendiri sehingga dapat mengurangi gangguan dari luar. Membahas rencana tindakan keperawatan untuk setiap klien pada hari itu.Penyampaian operan di atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru . KONFRENSI : Konfrensi merupakan pertemuan tim yang dilakukan setiap hari. Hasil pemeriksaan Laboratorium/diagnostik terbaru e.

seperti:keterlambatan. RONDE KEPERAWATAN Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat. a. Perawat aosiaet. Rencana Medis 2. Ketepatan pemberian oral atau injeksi. Ketepatan pemantauan asupan haluaran cairan (I/O ).kebisingan elayanan. Perubahan terapi medis h.f. Ketepatan pelaksanaan tindakan lain. Karakteristik : a. Ketepatan pemberian infuse. disamping klien dilibatkan untuk mermbahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus terntentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim. Ketepatan Dokumentasi. PP mendiskusikan dan mengarahkan PA tentang masalah yang terkait dengan keperawata lien meliputi : Keluhanklienyangterkaitdengan pemberian makan. Klien merupakan fokus kegiatan c. perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama .ketidakhadiran dokter yang dikonsulkan.kesalahan pengunjung lain. Klien dilibatkan secara langsung b. Renpra hari ini g.

Menilai kemampuan justifikasi 5. perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah. Peran 1. Kosuler memfasilitasi kreatifitas e. Konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet. Tujuan : 1. Meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan. b.d. Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien b) Menjelaskan masalah keperawatan utama . Menumbuhkan pemikran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien 3. Meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja 6. Perawat primer dan perawat asosiet Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain : a). Meningkatkan vadilitas data klien 4. menumbuhkan cara berfikir secara kritis 2.

d). Memberikan justifikasi b). Pemberian informed consent kepada klien/keluarga e. Pelaksanaan Ronde 1). Mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari d. Penjelasan tentang klien oleh Perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan 2).tindakan yang rasional.c) Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan d) Menjelaskan tindakan selanjtunya e) Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil 2. intervensi keperawatan serta. Pesiapan 1). Peran perawat primer lain dan atau konsuler a). Memberikan reinforcement c). pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan .Menilai kebenaran dari suatu masalah. Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde 2). Mengarahkan dan koreksi e).

Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan Pasca Ronde Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan.. Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan 3). EGC. Jakarta Ratna Sitorus. Upaya Peningkatan Pelayanan Medik (Suatu Pengalaman). Dalam: Seminar Sehari: Peningkatan Mutu Pelayanan Medik Di Rumah Sakit Dalam Era Kompetitif. Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit Panduan Implementasi.. Model Praktek Keperawatan Profesional di Rumah Sakit. 1996.2). Dinas Kesehatran DKI Jakarta. DAFTAR PUSTAKA Sitorus Ratna. Hernawan. Kanwil Depkes DKI Jakarta. 2005.blogspot. EGC. Yulia. Ikatan Rumah Sakit Jakarta Metropolitan (IRSJAM).html . Jakarta.com/2011/08/analisis-penerapanpelaksanaan. 2005. Jakarta http://triyo-rachmadi-skep.

Nilai – nilai professional Pada model ini PP dan PA membangun kontrak dengan klien/keluarga. pendekatan manajemen terutama dalam perubahan pengambilan keputusan serta sistem kompensasi dan penghargaan. mengatur pemberian asuhan keperawatan. Hoffart & Woods (1996) menyimpulkan bahwa MPKP tediri lima komponen yaitu nilai – nilai professional yang merupakan inti MPKP.1. metode pemberian asuhan keperawatan. proses dan nilai-nilai profesional). Pada pelaksanaan dan evaluasi . termasuk lingkungan tempat asuhan tersebut diberikan. Model Asuhan Keperawatan Profesional adalah sebagai suatu sistem (struktur. Pengertian MPKP Model praktik keperawatan profesional (MPKP) adalah suatu sistem (struktur. hubungan antar professional. yang memfasilitasi perawat profesional. menjadi partner dalam memberikan asuhan keperawatan. proses dan nilai. 1996). a. 2. 2006). Komponen MPKP Berdasarkan MPKP yang sudah dikembangkan di berbagai rumah sakit. (Ratna sitorus & Yulia.nilai) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan untuk menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart & Woods.

hal ini berarti PP mempunyai tanggung jawab membina performa PA agar melakukan tindakan berdasarkan nilai-nilai professional. PP mempunyai otonomi dan akuntabilitas untuk mempertanggungjawabkan asuhan yang diberikan termasuk tindakan yang dilakukan oleh PA. Pendekatan manajemen Pada model ini diberlakukan manajemen SDM. d. performa PA dalam satu tim menjadi tanggung jawab PP. b. Sebagai seorang efektif. PP akan mengevaluasi perkembangan klien setiap hari dan membuat modifikasi pada renpra sesuai kebutuhan klien. yaitu ada garis koordinasi yang jelas antara PP dan PA. Kompensasi dan penghargaan yang diberikan kepada perawat bukan bagian dari asuhan medis atau kompensasi dan penghargaan berdasarkan prosedur. PP yang paling mengetahui perkembangan kondisi klien sejak awal masuk. Metode pemberian asuhan keperawatan Metode pemberian asuhan keperawatan yang digunakan adalah modifikasi keperawatan primer sehingga keputusan tentang renpra ditetapkan oleh PP. e. PP harus dibekali dengan kemampuan manajemen dan kepemimpinan sehingga PP dapat menjadi manajer yang efektif dan pemimpin yang . Pemberian informasi yang akurat akan membantu dalam penetapan rencana tindakan medik. c.renpra. manajer. Sistem kompensasi dan panghargaan. Sehingga mampu memberi informasi tentang kondisi klien kepada profesional lain khususnya dokter. PP adalah seorang manajer asuhan keperawatan. Dengan demikian. Hubungan antar professional Hubungan antar profesional dilakukan oleh PP. PP dan timnya berhak atas kompensasi serta penghargaan untuk asuhan keperawatan yang dilakukan sebagai asuhan yang profesional.

Pengarahan Dalam pengarahan terdapat kegiatan delegasi. misi. 4. Pilar – Pilar MPKP Dalam model praktik keperawatan professional terdiri dari empat pilar diantaranya adalah : a. Menjelaskan dengan tegas ruang lingkup dan tujuan asuhan keperawatan bagi setiap tim keperawatan. jadwal dinas dan daftar alokasi pasien. Menjaga konsistensi asuhan keperawatan.dan tahunan) Pengorganisasian dengan menyusun stuktur organisasi. harian. Mengurangi konflik. komunikasi efektif yang mencangkup pre dan post conference. Tujuan MPKP a.bulanan. b. tumpang tindih dan kekososongan pelaksanaan asuhan keperawatan oleh tim keperawatan.3. kebijakan dan rencana jangka pendek . d. dan manajemen konflik Pengawasan . supervise. Pilar I : Pendekatan manajemen keperawatan Dalam model praktik keperawatan mensyaratkaan pendekatan manajemen sebagai pilar praktik perawatan professional yang pertama. manajemen waktu. Pada pilar I yaitu pendekatan manajemen terdiri dari : Perencanaan dengan kegiatan perencanaan yang dipakai di ruang MPKP meliputi (perumusan visi. c. Memberikan pedoman dalam menentukan kebijakan dan keputusan. Menciptakan kemandirian dalam memberikan asuhan keperawatan. filosofi. menciptakan iklim motifasi. e.

selain itu pemimpin kelompok bertanggung jawab dalam mengarahkan anggota tim. Pilar III: Hubungan professional Hubungan professional dalam pemberian pelayanan keperawatan (tim kesehatan) dalam penerima palayana keperawatan (klien dan keluarga).proses ini selalu dilakukan sebelum membuka ruang MPKP dan setiap ada penambahan perawatan baru.- Pengendalian. staf perawat. d.seleksi kerja orientasi. Pembagian tugas di dalam kelompok dilakukan oleh pemimpin kelompok. c. perawat dengan tim kesehatan dan lain – lain.sebelum tugas dan menerima laporan kemajuan pelayanan keperawatan klien . Sedangkan hubungan professional secara eksternal adalah hubungan antara pemberi dan penerima pelayanan kesehatan. Pilar IV : manajemen asuhan keperawatan Salah satu pilar praktik professional perawatan adalah pelayanan keperawat dengan mengunakan asuhan manajemen keperawat asuhan keperawatan di di MPKP adalah tertentu. Macam – Macam Metode Asuhan Keperawatan a. Kelompok ini dipimpin oleh perawat yang berijazah dan berpengalaman serta memiliki pengetahuan dalam bidangnya. asuhan Manajemen yang diterapkan MPKP keperawatan dengan menerapkan proses keperawatan 5. Metode Tim Yaitu pengorganisasian pelayanan keperawatan oleh sekelompok perawat. Pilar II: Sistem penghargaan Manajemen sumber daya manusia diruang model praktik keperawatan professional berfokus pada proses rekruitmen. Pada pelaksanaan nya hubungan professional secara interal artinya hubungan yang terjadi antara pembentuk pelayanan kesehatan misalnya antara perawat dengan perawat. penilaian kinerja. b.

Kelebihan metode tim : Saling memberi pengalaman antar sesama tim. Rapat tim memerlukan waktu sehingga pada situasi sibuk rapat tim ditiadakan atau trburu-buru sehingga dapat mengakibatkan kimunikasi dan koordinasi antar anggota tim terganggu sehingga kelanncaran tugas terhambat. Metode ini menggunkan tim yang terdiri dari anggota yang berbeda-beda dalam memberikan askep terhadap sekelompok pasien. . Pasien dilayani secara komfrehesif Terciptanya kaderisasi kepemimpinan Tercipta kerja sama yang baik . Kekurangan metode tim: Tim yang satu tidak mengetahui mengenai pasien yang bukan menjadi tanggung jawabnya. Selanjutnya pemimpin tim yang melaporkan kepada kepala ruangan tentang kemajuan pelayanan atau asuhan keperawatan klien. Ketenagaan dari tim ini terdiri dari : Ketua tim Pelakaana perawatan Pembantu perawatan Adapun tujuan dari perawatan tim adalah : memberikan asuhan yang lebih baik dengan menggunakan tenaga yang tersedia.serta membantu anggota tim dalam menyelesaikan tugas apabila mengalami kesulitan. Memberi kepuasan anggota tim dalam hubungan interpersonal Memungkinkan menyatukan anggota tim yang berbeda-beda dengan aman dan efektif.

Pengkajian : Mengidentifikasi masalah terkait fungsi manajamen 2. - Akuntabilitas dalam tim kabur. Peran Kepala Ruang dalam tahap: 1. Perencanaan : Fungsi perencanaan dan fungsi ketenagaan Menunjuk Ka Tim Mengikuti serah terima klien Mengidentifikasi tingkat ketergantungan Mengidentifikasi jumlah perawat yang dibutuhkan berdasarkan aktifitas dan kebutuhan klien Merencanakan strategi pelaksanaan keeperawatan Merencanakan lgistik ruangan/failitas ruangan Melakukan pendokumentasian 3.- Perawat yang belum terampil dan belum berpengalaman selalu tergantung atau berlindung kepada anggota tim yang mampu atau ketua tim. Implementasi : Fungsi pengorganisasian : Merumuskan system penugasan Menjelaskan rincian tugas Ketua Tim Menjelaskan rentang kendali di ruang rawat Mengatur dan mengendalikan tenaga keperawatan diruang rawat Mengatur dan mengendalikan logistik ruangan/fsilitas ruangan Mengatur dan mengendalikan situasi lahan praktik .

Fungsi pengendalian: Mengevaluasi kinerja katim Memberikan umpan balik pada kinserja katim Mengatasi masalah di ruang rawat dan menetapkan tidak lanjut Memperhatikan aspek legal dan etik keperawatan Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Peran Ketua Tim dalam tahap 1.- Mendelegasikan tugas kepada ketua Tim Fungsi pengarahan: Memberikan pengarahan kepada ketua Tim Memberikan motivasi dalam meningkatkan pengetahuan. Pengkajian : mengumpukan data kesehatan klien 2. ketrampilan dan sikap anggota Tim Memberi pujian kepada anggota Tim yang melaksanakan tugas dengan baik Membimbing bawahan Meningkatkan kolaborasi dengan anggota tim Melakukan supervisi Memberikan informasi tentang hal-hal yang berhubungan dengan yankep diruangan 4. Perencanaan : Fungsi perencanaan dan ketenagaan : Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Evaluasi .

Bersama Karu melaksanakan serah terima tugas Bersama karu melaksanakan pembagian tugas Menyusun rencana asuhan keperawatan Menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan Melakukan ronde keperawatan bersama kepala ruangan Mengorientasikan klien baru pada lingkungan Melakukan pelaporan dan pendokumantasian Implementasi Fungsi pengorganisasian: - Menjelaskan tujuan pengorganisasian tim keperawatan Membagi pekerjaan sesuai tingkat ketergantungan pasien Membuat rincian tugas anggota tim dalam keperawatan Mampu mengkoordinir pekerjaan yang harus dilakukan bersama tim kesehatan lain - Mengatur waktu istirahat anggota tim Mendelegasikan proses asuhan keperawatan pada anggota tim Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Fungsi pengarahan : Memberikan pengarahan kepada anggota tim Memberikan bimbingan pada anggota tim Memberikan infromasi yang berhubungan dengan askep Mengawasi proses pemberian askep Melibatkan anggota tim sampai awal dan akhir kegiatan .3.

Fungsi perencanaan dan ketenagaan : 3. Pengkajian : mengkaji kesiapan klien dan diri sendiri untuk melaksanakan asuhan keperawatan. 2. Fungsi pengorganisasian : Menerima penjelasan tujuan pengorganisasian tim Menerima pembagian tugas Melaksanakan tugas yang diberikan oleh katim Melaksanakan program kolaborasi dengan tim kesehatan lain Bersama Karu mengadakan serah terima tugas Menerima pembagian tugas dari katim Bersama katim menyiapkan keperluan untuk melaksanakan asuhan keperawatan Mengikuti ronde keperawatan Menerima klien baru Implementasi Perencanaan: .4. Memberikan pujian/motivasi kepada anggota tim Melakukan pelaporan dan pendokumentasian Evaluasi: Fungsi pengendalian : - Mengevaluasi asuhan keperawatan Memberikan umpan balik pada pelaksana Memperhatikan aspek legal dan etik Melakukan pelaporan dan pendokumantasian Peran pelaksana dalam tahap : 1.

mencatat tindakan keperawatan yang dilaksanakan Fungsi pengarahan : Menerima pengarahan dan bimbingan dari katim Menerima informasi yang berkaitan dengan askep dan melaksanakan askep dengan etik dan legal 4. Tugas perawat primer adalah : Menerima pasien Mengkaji kebutuhan Membuat tujuan. rencana. Fungsi pengendalian : Menyiapkan menunjukkan bahan yang diperlukan untuk proses evaluasi serta ikut mengevaluasi kondisi pasien. Metode Primary Team Yaitu pemberian askep yang ditandai dengan keterikatan kuat dan terus menerus antara pasien dan perawat yang ditugaskan untuk merencanakan. b.- Menyesuaikan waktu istirahat dengan anggota tim lainnya Melaksanakan asuhan keperawatan Menunjang pelaporan. pelaksanaan dan evaluasi. melakukan dan mengkoordinasikan askep selama pasien dirawat. Mengkoordinasi pelayanan Menerima dan menyesuaikan rencana Menyiapkan penyuluhan pulang Memahami pemahaman yang telah dicapai Menunjang pelaporan dan pendokumentasian Evaluasi .

Perawat profesional sebagai primer dan perawat non profesional sebagai asisten. . side.Konsep dasar : Ada tanggung jawab dan tanggung gugat Ada otonomi. Kelebihan dari metode perawat primer: Mendorong kemandirian perawat. Ada keterlibatan pasien dan keluarganya Ketenagaan : Setiap perawat primer adalah perawat bed. Menyusun jadwal dinas Memberi penugasan pada perawat asisten. Memberikan kepuasan kerja bagi perawat Memberikan kepuasan bagi klien dan keluarga menerima asuhan keperawatan. Beban kasus pasien maksimal 6 pasien untuk 1 perawat Penugasan ditentukan oleh kepala bangsal. Ada keterikatan pasien dan perawat selama dirawat Berkomunikasi langsung dengan Dokter Perawatan adalah perawatan komprehensif Model praktek keperawatan profesional dapat dilakukan atau diterapkan. Kepala bangsal : Sebagai konsultan dan pengendali mtu perawat primer Orientasi dan merencanaka karyawan baru.

Mengkoordinasi pelayanan yang diberikan oleh disiplin lain maupun perawat lain . Peran Kepala Ruang : Sebagai konsultan dan pengendalian mutu perawatan primer Orientasi dan merencanakan karyawan baru Menyusun jadual dinas Memberi penugasan pada perawat asisten/asosiat (PA) Evaluasi kerja Merencanakan /menyelenggarakan pengembangan staf Peran Perawat Primer : Menerima pasien Mengkaji kebutuhan pasien untuk asuhan Membuat tujuan Membuat rencana keperawatan Melakukan konferens untuk menjelaskan rencana asuhan kepada PA yang menjadi anggota timnya. Memantau PA dalam melaksanakan rencana asuhan keperawatan.Kelemahan dari metode perawat primer: Perlu kualitas dan kuantitas tenaga perawat Hanya dapat dilakukan oleh perawat profesional. Melaksanakan rencana yang telah dibuat selama dinas bersama PA yang menjadi anggota timnya. Biaya relatif lebih tinggi dibandingkan metode lain. Melakukan kolaborasi dengan t9im kesehatan lainnya.

Pelayanan terputus-putus . Kerugian metode fungsional: Pasien mendapat banyak perawat. Melaksanakan asuhan keperawatan yang telah dibuat oleh PP Memberi informasi/masukan yang diperlukan kepada PP tentang klien untuk keperluan asuahan keperawatan selanjutnya. c. perawat melaksanakan tugas ( tindakan) tertentu berdasarkan jadwal kegiatan yang ada (Nursalam. Kebutuhan pasien secara individu sering terabaikan Pelayanan pasien secara individu sering terabaikan. Pada saat itu karena masih terbatasnya jumlah dan kemampuan perawat maka setiap perawat hanya melakukan 1 – 2 jenis intervensi keperawatan kepada semua pasien di bangsal. Metode Fungsional Model fungsional dilaksanakan oleh perawat dalam pengelolaan asuhan keperawatan sebagai pilihan utama pada saat perang dunia kedua. Mencatat tindakan keperawatan yang telah dilakukan dalam catatan tindakan keperawatan. catatan tindakan - Mengikuti konferens untuk menerima penjelasan tentang asuhan yang direncanakan oleh PP.- Mengevaluasi keberhasilan yang dicapai Menerima dan menyesuaikan rencana Menyiapkan penyuluhan untuk pulang Melakukan keperawatan) Peran Perawat Asosiat : pendokumentasian (catatan perkembangan. 2002). Model ini berdasarkan orientasi tugas dari filosofi keperawatan.

Pasien akan dirawat oleh perawat yang berbeda untuk setiap shift dan tidak ada jaminan bahwa pasien akan dirawat oleh orang yang sama pada hari berikutnya. Perawat terampil untuk tugas atau pekerjaan tertentu. d. Mudah memperoleh kepuasan kerja bagi perawat setelah selesai tugas. Metode penugasan kasus biasa diterapkan satu pasien satu perawat. . Metode Kasus Setiap perawat ditugaskan untuk melayani seluruh kebutuhan pasien saat ia dinas. dan hal ini umumnya dilaksanakan untuk perawat privat atau untuk keperawatan khusus seperti isolasi. Kekurangan metode kasus : Kemampuan tenga perawat pelaksana dan siswa perawat yang terbatas sehingga tidak mampu memberikan asuhan secara menyeluruh Membutuhkan banyak tenaga. Beban kerja tinggi terutama jika jumlah klien banyak sehingga tugas rutin yang sederhana terlewatkan. - Memudahkan kepala ruangan untuk mengawasi staff atau peserta didik yang praktek untuk ketrampilan tertentu. Perawat bertanggung jawab terhadap asuhan dan observasi pada pasien tertentu (Nursalam. intensive care. 2002).Metode ini berdasarkan pendekatan holistik dari filosofi keperawatan. Kekurangan tenaga ahli dapat diganti dengan tenaga yang kurang berpengalaman untuk satu tugas yang sederhana.- Kepuasan kerja keseluruhan sulit dicapai Kelebihan dari metode fungsional : - Sederhana Efisien.

Metode Modul / Distrik Yaitu metode gabungan antara Metode penugasan tim dengan Metode perawatan primer. Masalah pasien dapat dipahami oleh perawat.- Pendelegasian perawatan klien hanya sebagian selama perawat penaggung jawab klien bertugas. Pasien merasa puas. Metode MPKP Suatu sistem (Struktur.2005). mengembangkan kurikulum keperawatan dan mengembangkan standar praktik . Departemen Kesehatan. Peningkatan profesionalisme keperawatan di Indoneasia dimulai sejak diterima dan diakui sebagai suatu profesi pada Lokakarya Nasional Keperawatan (1983). dan organisasi profesi dengan terus mengembangkan keperawatan keperawatan. Kelebihan metode kasus: Kebutuhan pasien terpenuhi. 1996 dalam Sitorus. yang dapat menopang pemberian asuhan tersebut (Hoffart&Woods. Metode ini menugaskan sekelompok perawat merawat pasien dari datang sampai pulang. e. Keuntungan dan Kerugian : Sama dengan gabungan antara metode tim dan metode perawat primer. diantaranya membuka pendidikan pada tingklat sarjana. Kepuasan tugas secara keseluruhan dapat dicapai. f. Proses dan nilai-nilai profesional) yang memungkinkan perawat profesional mengatur pemberian asuhan keperawatan termasuk lingkungan. Sejak itu berbagai upaya telah dilakukan oleh Departemen Pendidikan Nasional.

menentukan kebutuhan perawatan pasein. Kepala Ruangan. Di ruangan tersebut juga dilakukan penelitian keperawatan. Model Praktek Keperawatan Profesional II Tenaga perawat yang bekerja di ruangan ini mempunyai kemampuan spesialis yang dapat memberikan konsultasi kepada perawat primer. c. Metode yang digunakan pada model ini adalah kombinasi metode keperawatan primer dan metode tim yang disebut tim primer. tetapi baru tahap awal pengembangan yang akan menuju profesional I. 2.7. membuat penugasan. tugasnya : Merencanakan pekeriaan. khususnya penelitian klinis. b. melakulan supervisi. sehingga praktik keperawatan berdasarkan evidence based. Perawat staf : -Melakukan askep langsung pada pasien . metode pemberian asuhan keperawatan dan dokumentasi keperawatan. menerima instruksi dokter. Tingkatan MPKP Model praktek Keperawatan Profesional III Tenaga perawat yang akan bekerja di ruangan ini semua profesional dan ada yang sudah doktor. d. Di ruangan ini digunakan hasil-hasil penelitian keperawatan dan melakukan penelitian keperawatan. Model Praktek Keperawatan Profesional I Model ini menggunakan 3 komponen utama yaitu ketenagaan. Model Praktek Keperawatan Profesional Pemula Model ini menyerupai MPKP I. 8. Peran Staf MPKP 1.

Timbang terima Timbang terima adalah suatu cara dalam menyampaikan dan menerima sesuatu (laporan) yang berkaitan dengan kedaan klien. mencatat pasien masuk dan pulang. mengerjakan pekerjaan administrasi ruangan. Prosedur timbang terima Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam prosedur ini meliputi : 1. membuat permintaan lab untuk obatobatan/persediaan yang diperlukan atas instruksi kepala ruangan. pasein dalam masa pemulihan kesehatan dan pasein dengan penyakit kronik dan membantu tindakan sederhana (ADL). dan membagikan alat tenun bersih. memberi informasi. menyampaikan pesan. Kegiatan dalam MPKP a.. membuat duplikat rostertena ruangan.Melaksanakan askep langsung pada pasien dengan askep sedang. Persiapan -kedua kelompok dalam keadaan siap . bertujuan : Menyampaikan kondisi atau keadaan secara umum klien Menyampaikan hal-hal penting yang perlu ditindaklanjuti oleh dinas berikutnya Tersusunnya rencana kerja untuk dinas berikutnya. antu Perawat : Membantu pasien dengan melaksanakan perawatan mandiri untuk mandi.Membantu supervisi askep yang diberikan oleh pembantu tenaga keperawatan at Pelaksana : . 9. a Administrasi ruangan Menjawab telpon. menbenahi tempat tidur.

tanya jawab dan melakukan validasi terhadap hal-hal yang kurang jelas. Penyampaian operan di pemeriksaan laboratorium/pemeriksaan penunjang lainnya. Lama timbang terima untuk setiap klien tidak lebih dari 5 menit kecuali pada kondisi khusus dan memerlukan penjelasan yang lengkap dan rinci. hal-hal yang sifatnya khusus dan memerlukan perincian yang lengkap sebaiknya dicatat secara khusus untuk kemudian diserahterimakan kepada perawat yang berikutnya Hal-hal yang perlu disampaikan pada saat timbang terima adalah : identitas klien dan diagnosa medik masalah keperawatan yang kemungkinan masih muncul tindakan keperawatan yang sudah dan belum dilaksanakan intervensi kolaborasi dan dependensi rencana umum dan persiapan yang perlu dilakukan dalam kegiatan selanjutnya. rutin. misalnya operasi. persiapan untuk konsultasi atau prosedur lainnya yang tidak dilaksanakan secara . Pelaksanaan Dalam penerapannya. Penyampaan pada saat timbang terima secara singkat dan jelas. rencana tindakan yang sudah dan belum dilaksanakan serta hal-hal penting lainnya yang perlu dilimpahkan.-kelompok yang akan bertugas menyiapkan buku catatan 2. dilakukan timbang terima kepada masing-masing penanggung jawab: timbang terima dilaksanakan setiap penggantian shift/operan dari nurse station perawat berdiskusi untuk melaksanakan timbang terima dengan mengkaji secara komprehensif yang berkaitan tentang masalah keperawatan klien. Pelaporan untuk timbang terima dituliskan secara langsung pada buku laporan ruangan oleh perawat. Perawat yang melakukan timbang terima daat melakukan klarifikasi.

Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara 2. Post conference Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana tentang hasil kegiatan sepanjang shift dan sebelum operan kepada shift berikutnya. Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan reinforcement 5. Post conference dipimpin oleh kepala primer atau penanggung jawab primer. maka pre conference ditiadakan.atas (point c) harus dilakukan secara jelas dan tidak terburu-buru. 2006) .2006) Waktu : setelah operan Tempat : meja masing-masing perawat primer PJ : kepala primer atau penanggung jawab primer : Kegiatan 1. Perawat penanggung jawab dan anggotanya dari kedua shift bersama-sama secara langsung melihat keadaan kien. (modul mpkp. Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara c. Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan rencana harian masing-masing perawat pelaksana 3. (modul mpkp. Isi pre conference adalah rencana tiap perawat (rencana harian) dan tambahan rencana dari kepala primer dan penanggung jawab primer. Preconference Komunikasi kepala primer dan perawat pelaksana setelah selesai operan untuk rencana kegiatan pada shift tersebut yang dipimpin oleh ka primer atau penanggung jawab primer. Jika yang dinas pada primer tersebut hanya 1 orang. Kepala primer atau penanggung jawab primer memberikan masukan dan tindakan lanjut terkait dengan asuhan yang diberikan saat itu 4. b. Isinya adalah hasil asuhan keperawatan tiap perawatan dan hal penting untuk operan (tindak lanjut).

Kepala primer atau penanggung jawab primer menyakan tindakan lanjut asuhan klien yang harus dioperkan kepada perawat shift berikut nya 4. Kepala primer atau penanggung jawab primer membuka acara 2. Karakteristik : klien dilibatkan secara langsung klien merupakan fokus kegiatan perawat asosiet. Ronde keperawatan Suatu kegiatan yang bertujuan untuk mengatasi masalah keperawatan klien yang dilaksanakan oleh perawat. perawat primer untuk meningkatkan kemampuan dalam mengatasi masalah. disamping klien dilibatkan untuk membahas dan melaksanakan asuhan keperawatan akan tetapi pada kasus tertentu harus dilakukan oleh penanggung jawab jaga dengan melibatkan seluruh anggota tim. perawat primer dan konsuler melakukan diskusi bersama kosuler memfasilitasi kreatifitas konsuler membantu mengembangkan kemampuan perawat asosiet. Kepala primer atau penanggung jawab primer menanyakan kendala dalam asuhan yang telah diberikan 3. Kepala primer atau penanggung jawab primer menutup acara d.Waktu : sebelum operan ke dinas berikutnya Tempat : meja masing-masing primer PJ : kepala primer atau penanggung jawab primer : Kegiatan 1. Tujuan : menumbuhkan cara berfikir secara kritis .

- menumbuhkan pemikiran tentang tindakan keperawatan yang berasal dari masalah klien - meningkatkan vadilitas data klien menilai kemampuan justifikasi meningkatkan kemampuan dalam menilai hasil kerja meningkatkan kemampuan untuk emodifikasi rencana perawatan. intervensi keperawatan serta. Pesiapan .tindakan yang rasional mengarahkan dan koreksi mengintegrasikan teori dan konsep yang telah dipelajari Tahap pelaksanaan ronde keperawatan 1. Peran perawat primer dan perawat asosiet Dalam menjalankan pekerjaannya perlu adanya sebuah peranan yang bisa untuk memaksimalkan keberhasilan yang bisa disebutkan antara lain : - Menjelaskan keadaan dan adta demografi klien Menjelaskan masalah keperawatan utama Menjelaskan intervensi yang belum dan yang akan dilakukan Menjelaskan tindakan selanjtunya Menjelaskan alasan ilmiah tindakan yang akan diambil Peran perawat primer lain dan atau konsuler memberikan justifikasi memberikan reinforcement menilai kebenaran dari suatu masalah.

Ary. peristiwa. e. Pelaksanaan ronde Penjelasan tentang klien oleh perawat dalam hal ini penjelasan difokuskan pada masalah keperawatan dan rencana tindakan yang akan atau telah dilaksanakan dan memilih prioritas yang perlu didiskusikan Pemberian justifikasi oleh perawat tentang masalah klien serta rencana tindakan yang akan dilakukan Tindakan keperawatan pada masalah prioritas yang telah dan yang akan ditetapkan 3. Case studi Menurut bogdan dan bikien (1982) studi kasus merupakan pengujian secara rinci terhadap satu latar atau satu orang subjek atau satu tempat penyimpanan dokumen atau satu peristiwa tertentu . jacobs. dan dokumen. Surachrnad (1982) membatasi pendekatan studi kasus sebagai suatu pendekatan dengan memusatkan perhatian pada suatu kasus secara intensif dan rinci. Sementarayin (1987) memberikan batasan yang lebih bersifat teknis dengan penekanan pada ciri-cirinya. Para peneliti berusaha menernukan sernua variabel yang penting. Berdasarkan batasan tersebut dapat dipahami bahwa batasan studi kasus meliputi: (1) sasaran penelitiannya dapat berupa manusia. latar.-Penetapan kasus minimal 1 hari sebelum waktu pelaksanaan ronde -Pemberian informed consent kepada klien/keluarga 2. Pasca ronde Mendiskusikan hasil temuan dan tindakan pada klien tersebut serta menerapkan tindakan yang perlu dilakukan. . dan razavieh (1985) menjelasan bahwa dalam studi kasus hendaknya peneliti berusaha menguji unit atau individu secara mendalarn. (2) sasaran-sasaran tersebut ditelaah secara mendalam sebagai suatu totalitas sesuai dengan latar atau konteksnya masing-masing dengan maksud untuk mernahami berbagai kaitan yang ada di antara variabel-variabelnya.

5. pengabdian hidup seseorang. Studi kasus observasi. Misalnya terjadinya pengeluaran siswa pada sekolah tertentu. dan lahir hingga sekarang. Studi kasus sejarah hidup. karena sumbernya kunang mencukupi untuk dikerjakan secara minimal. maka haruslah dipelajari dari sudut pandang semua pihak yang terkait. sekolah. Langkah-langkah penelitian studi kasus . mengutamakan teknik pengumpulan datanya melalul observasi peran-senta atau pelibatan (participant observation). merupakan studi tentang kasus kemasyarakatan (community study) yang dipusatkan pada suatu lingkungan tetangga atau masyarakat sekitar (kornunitas). Studi kasus kemasyarakatan. guru dan mungkin tokoh kunci lainnya. Studi ini sering kurang memungkinkan untuk diselenggarakan. bukannya pada satu organisasi tertentu bagaimana studi kasus organisasi dan studi kasus observasi. seperti suatu bagian sebuah ruang kelas atau suatu kegiatan organisasi yang sangat spesifik pada anak-anak yang sedang belajar menggambar. orang tuanya. dengan rnenelusuni perkembangan organisasinya. Bagian-bagian organisasi yang menjadi fokus studinya antara lain: (a) suatu tempat tertentu di dalam sekolah. (b) satu kelompok siswa.Jenis-jenis studi kasus 1. Studi kasus kesejarahan mengenai organisasi. Studi kasus analisis situasi. jenis studi kasus ini mencoba menganalisis situasi terhadap peristiwa atau kejadian tertentu. Topik persahabatan dan topik tertentu lainnya. 6.. 2. Masa remaja. teman-temannya. (c) kegiatan sekolah 3. Wawancara sejarah hiclup biasanya mengungkap konsep karier. dipusatkan pada perhatian organisasi tertentu dan dalam kurun waktu tertentu. mulai dari siswa itu sendiri. sedangkan fokus studinya pada suatu organisasi tertentu. 4. Mikroethnografi. merupakan jenis studi kasus yang dilakukan pada unit organisasi yang sangat kecil. yang mencoba mewawancarai satu onang dengan maksud mengumpulkan narasi orang pertama dengan kepemilikan sejarah yang khas. kepala sekolah.

data baru tidak bisa dikelompokkan ke dalam kategori yang sudah ada. proses. 5.1. kategori atau dimasukkan ke dalam tipologi. dalam pendekatan studi kasus hendaknya clilakukan penvempurnaan atau penguatan (reinforcement) data baru terhadap kategori yang telah ditemukan. tetapi yang lebih dipakai dalarn penelitian kasus adalah observasi. Analisis data dilakukan sejak peneliti di lapangan. Pengumpulan data: terdapat beberapa teknik dalarn pengumpulan data. program. Ukuran dan kompleksitas objek studi kasus haruslah masuk akal. wawancara. Agregasi merupakan proses mengabstraksi hal-hal khusus menjadi hal-hal umum guna menemukan pola umum data. dan masvarakat atau unit sosial. dan analisis dokumentasi. . rnudah dibaca. Laporan diharapkan dapat membawa pembaca ke dalam situasi kasus kehidupan seseorang atau kelompok. mengorganisasi. Pemilihan kasus: dalam pemilihan kasus hendaknya dilakukan secara bertujuan (purposive) dan bukan secara rambang. Perbaikan (refinement): meskipun semua data telah terkumpul. Peneliti sebagai instrurnen penelitian. sehingga dapat diselesaikan dengan batas waktu dan sumbersumber yang tersedia 2. sewaktu pengumpulan data dan setelah semua data terkumpul atau setelah selesai dan lapangan 4. dan mengklasifikasi data menjadi unit-unit yang dapat dikelola. serta dapat mengumpulkan data yang berbeda secara serentak 3. Kasus dapat dipilih oleh peneliti dengan menjadikan objek orang. Penulisan laporan: laporan hendaknya ditulis secara komunikatif. dapat menyesuaikan cara pengumpulan data dengan masalah dan lingkungan penelitian. Pengumpulan data baru mengharuskan peneliti untuk kembali ke lapangan dan barangkali harus membuat kategori baru. dan mendeskripsikan suatu gejala atau kesatuan sosial secara jelas. sehingga rnernudahkan pembaca untuk mernahami seluruh informasi penting. Analisis data: setelah data terkumpul peneliti dapat mulai mengagregasi. Data dapat diorganisasi secara kronologis. lingkungan.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful