You are on page 1of 15

Pendahuluan Sirosis hati merupakan gangguan pada fungsi hati akibat banyaknya jaringan ikat di dalam hati.

Sirosis hati dapat terjadi karena virus hepatitis B yang berkelanjutan, konsumsi alkohol, asupan gizi yang kurang terkontrol, dan tersumbatnya saluran empedu. Komplikasi penyakit yang dapat menyerang penderita sirosis hati adalah perut membesar, mata kuning, muntah dan feses yang bercampur dengan darah, serta koma hepatikum. Koma hepatikum adalah koma radang hati akibat fungsi hati terganggu serta perdarahan dan infeksi saluran pencernaan. Gejala yang timbul umumnya adalah warna kulit tubuh menguning, kulit telapak tangan memerah, anemia, rontok bulu dada, hilang nafsu makan, mudah lelah, gangguan pencernaan dan turunnya berat badan.

Anamnesis 1. 2. 3. 4. Nafsu makan menurun Mual, muntah Berat badan turun Riwayat adanya hepatitis di masa yang lalu atau riwayat hasil pemeriksan HBsAg positif di masa lalu. 5. Keluhan lain sering disebabkan oleh adanya penyulit, misalnya perut besar, muntah darah, serta pennurunan kesadaran. Pemeriksan Fisik Pada sirosis dini biasanya hati membesar, terasa kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri bila ditekan. Gejala yang sering dirasakan antara lain : 1. Kelelahan (sering menjadi tanda pertama dan satu-satunya) 2. Kehilangan nafsu makan 3. Mual dan muntah (disertai dengan penurunan berat badan) 4. Pembesaran hati (disebabkan oleh penumpukkan produk empedu dalam hati) 5. Jaundice (Kuning pada bagian kulit dan putih mata) 6. Pembentukan batu empedu (karena kurangnya empedu dalam batu empedu) 7. Akumulasi air di perut (disebut ascites) 8. Akumulasi air di kaki yang disebut edema 9. Mudah terjadi memar atau pendarahan 10. Spider nevi dan eritema Palmaris 11. Edema tungkai Pada kasus yang lanjut bisa didapatkan gejala-gejala ensefalopatia hepatic, misalnya flapping tremor, kesadaran yang menurun, dan lain-lain. Pemeriksaan laboratorium

Hematologi : darah lengkap, PPT dan INR Biokimia : bilirubin, AST/ALT, alkali fosfatase, gamma GT, albumin dan globulin, bila ada asites, diperiksa ureum, kreatinin, dan elektrolit. Imunologi : anti HCV, alfa-feto protein. Pemeriksaan penunjang : USG, CT scan bila USG kurang jelas, biopsi hati bila diagnostik lain belum jelas, EEG pada penderita dengan kecurigaan ensefalopatia hepatik. Gambaran Laboratorium Sirosis Hati Dekompensata 1. Hematologi a. Sel darah putih: dapat ditemukan pansitopenia karena hipersplenisme b. Penelitian menunjukkan bahwa trombositopenia tidak selalu disertai tanda tanda hipersplenisme c. Penyebab trombositopenia ini belum diketahui tetapi secara umum trombositopenia dapat merupakan indicator derajat sirosis serta prognosis d. PPT dan INR sering memanjang dan pada kasus lanjut tidak membaik dengan pemberian suntikan vitamin K 2. Biokimia a. Bilirubin dapat meningkat b. Albumin menurun dan gamma globulin meningkat Pemeriksaan selisih kadar albumin serum dan kadar albumin asiter dapat menunjukkan asal asites tersebut. Bila perbedaanya >1,1 mg%, kemungkinan besar terdapat hipertensi portal c. Alkali fosfatase meningkat tapi umumnya tidak lebih dari 2x nilai normal d. ALT dan AST dapat meningkat tapi juga sering normal

Patofisiologi Sirosis Hati Sirosis hati merupakan sekelompok penyakit hati kronik yang mengakibatkan kerusakan sel hati dan sel tersebut digantikan oleh jaringan parut sehingga terjadi penurunan jumlah jaringan hati secara normal.Peningkatan jaringan parut tersebut menimbulkan distorsi struktur hati yang normal, sehingga terjadi gangguan aliran darah melalui hati dan terjadi gangguan fungsi hati. Gangguan fungsi hati akibat sirosis antara lain sebagai berikut : a. Gangguan fungsi protein tubuh, faktor-faktor pembekuan empedu dan berbagai macam enzim

b. Gangguan metabolisme kolesterol c. Gangguan penyimpanan enersi (glikogen) d. Gangguan metbolisme karbohidrat e. Gangguan regulasi berbagai macam homron f. Gangguan proses detoksifikasi obat dan racun Sirosis hati juga diakibatkan oleh infeksi hepatitis B baik secara klinik histopatologik maupun laboratorik sama dengan sirosis karena penyebab lain. Sirosis hati akibat hepatitis B timbul akibat progresi hepatitis B kronik. Sirosis hati akibat hepatitis B seperti halnya sirosis dengan penyebab lain umumnya terjadi secara diam-diam (silent ) sehingga sering tidak disadari oleh penderita.

Sirosis hati merupakan penyakit hati kronis yang ditandai dengan kerusakan sel-sel hati oleh jaringan-jaringan ikat, diikuti dengan parut serta sering diiringi pembentukan ratusan nodelus (benjolan). Penyakit ini mengubah struktur hati dari jaringan hati normal menjadi bejolanbenjolan kera yang abnormal dan mengubah pembuluh darah. Jaringan parut menghambat aliran darah ke hati dan menambah tekanan darah di perut. hati yang mengalami sirosis kelihatan berbenjol-benjol, penuh parut, berlemak dan berwarna kuning jingga. Kemungkinan lainnya hati menjadi mengecil, berkerut dan keras. Sirosis hati adalah proses akhir dari perjalanan penyakit hepatitis kronis. Penyakit ini dapat menimbulkan berbagai penyakit gangguan metabolis, seperti ikterus, edema, koagulopati, hipertensi portal, splenomegali, varises gastroesofagus, ensefalopati hepatis, dan asites. Secara Fungsional Sirosis terbagi atas : 1. Sirosis hati kompensata. Sering disebut dengan Laten Sirosis hati. Pada stadium kompensata ini belum terlihat gejala-gejala yang nyata. Biasanya stadium ini ditemukan pada saat pemeriksaan screening.

2. Sirosis hati DekompensataDikenal dengan Active Sirosis hati, dan stadium ini biasanya gejalagejalasudah jelas, misalnya ; ascites, edema dan ikterus. Klasifikasi berbagai jenis sirosis yang sering dilakukan adalah sebagai berikut : 1. Sirosis pascahepatits yang dapat terjadi akibat infeksi virus hepatitis B, atau hepatitis kronis aktif tipe autoimun. 2. Sirosis alkoholik yang dapat terjadi akibat minum alkohol berlebihan. Penghentian minum alkohol dapat memulihkan penyakit ini. 3. Sirosis biliaris primer, ditandai oleh peradangan kronis dan obliterasi fibros saluran empedu intrahepatik yang diperkirakan bersifat autoimun. Komplikasi Sirosis Hati Sirosis hati yang merupakan penyakit kronis yang menyerang organ hati yang membuat organ hati mengalami pengecilan, pengerasan dan pembengkakan hati/liver. Sirosis hati merupakan penyakit kronis yang mengancam jiwa manusia, diketahui dari beberapa sumber informasi yang dihimpun bahwa penyakit akibat sirosis hati ini menyebabkan kematian hingga mencapai 25.000 jiwa dari seluruh total populasi manusia di dunia, dan setiap tahunnya terus bertambah. Penyakit sirosis hati juga dapat menyebabkan komplikasi-komplikasi penyakit lainnya di seputar organ hati akibat sirosis hati, diantaranya : 1. Edema dan ascites Terjadi ketika sirosis hati menjadi parah yang kemudian mengirim gejala dari komplikasi penyakit ini ke organ ginjal untuk menahan garam dan air di dalam tubuh. Awalnya kelebihan garam dan air diakumulasi dalam jaringan dibawah kulit karena efek gaya berat ketika berdiri atau duduk. Akumulasi atau penjumlahan kandungan air dan garam inilah yang kemudian disebut dengan Edema. Ketika sirosis semakin memburuk keadaan akibat kelebihan garam dan air yang tertahan, cairan juga mungkin meningkat dalam rongga perut antara dinding perut dan organ-organ perut. Peningkatan dan tertahannya garam dan air disebut dengan Ascites yang menyebabkan pembengkakan perut, ketidaknyamanan perut dan berat badan yang semakin meningkat. 2. Spontaneous bacterial periotonitis (SBP) Cairan yang mengandung air dan garam dan tertahan di dalam rongga perut yang disebut dengan ascites yang merupakan tempat yang sempurna untuk pertumbuhan dan perkembang biakan bakteri-bakteri. Secara normal, rongga perut juga mengandung sejumlah cairan kecil yang berfungsi untuk melawan bakteri dan infeksi dengan baik. Namun pada penyakit sirosis ini, cairan yang mengumpul dan kelebihan jumlah cairan normal yang dimiliki rongga perut tidak mampu lagi untuk melawan infeksi secara normal. Kelebihan cairan yang masuk ke dalam rongga perut kemudian masuk ke dalam usus dan kedalam ascites yang kemudian menyebabkan infeksi disebut dengan spontaneous bacterial

peritonitis atau SBP. Spontaneous bacterial peritonitis atau SBP merupakan suatu komplikasi dari sirosis yang dapat mengancam jiwa seseorang yang terdiagnosa memiliki penyakit sirosis hati. Seseorang yang menderita komplikasi SBP dari sirosis umumnya tidak menunjukkan gejala, tidak seperti gejala pada sirosis umumnya yang dapat membuat tubuh demam, keidnginan, sakit perut, dan kelembutan perut, diare dan memburuknya ascites. 3. Perdarahan dari varises-varises kerongkongan (esophageal varices) Pada sirosis hati terdapat jaringan parut yang dapat menghalangi jalannya adarah yang akan kembali ke jantung dari usus-usus dan meningkatkan tekanan dalam vena portal (hipertensi portal). Ketika terjadi penekanan dalam vena portal meningkat, ia menyebabkan darah mengalir di sekitar hati melalui vena-vena dengan tekanan yang lebih rendah untuk mencapai jantung. Akibat dari aliran darah yang meningkat dan peningkatan tekanan yang diakibatkan vena-vena pada kerongkongan yang lebih bawah dan lambung bagian atas mengembang dan mereka dirujuk sebagai esophageal dan gastric varices. Semakin tinggi tekanan yang terjadi maka varises-varises dan lebih mungkin seorang pasien mengalami perdarahan dari varices-varices kedalam kerongkongan (esophagus) atau lambung. Perdarahan dari varices-varices kerongkongan ini menunjukkan gejala seperti : - Muntah darah (muntah yang berupa darah merah yang bercampur dengan gumpalan-gumpalan atau disebabkan oleh efek dari asam pada darah). - Warna feces/kotoran yang hitam dan bersifat ter disebabkan oleh perubahan-perubahan dalam darah ketika kotoran atau sisa makanan yang akan dibuang tercampur bakteri kemudian merubah warna dan tekstur feces menjadi hitam dan ter yang diolah terlebih dahulu dalam usus yang disebut dengan melena. - Sering pingsan atau kepeningan orthostatic yang disebabkan tekanan darah yang semakin menurun atau tekanan darah rendah, hal ini akan terjadi ketika duduk atau dalam suatu posisi berbaring terlalu lama. Perdarahan yang terjadi bukan hanya di kerongkongan, namun juga dapat terjadi di usus besar/kolon, sehingga perdarahan juga dapat terjadi dari varces-varices yang terbentuk di dalam usus. 4. Hepatic encephalopahty Hepatic encephalopahty yang merupakan suatu kondisi dimana tubuh ketika unsur-unsur beracun berakumulasi secara cukup dalam darah, fungsi dari otak terganggu. Gejala dari hepatic encephalophaty ini cukup unik, seperti : a. Sering tidur di siang hari dan terjaga di malam hari (kebalikan dari pola tidur yang normal) b. Mudah marah

c. Penurunan kemampuan berkonsentrasi atau kefokusan yang semakin menurun terutama melakukan suatu perhitungan-perhitungan d. Kehilangan memori atau kemampuan daya ingat e. Terlihat seperti orang yang kebingungan karena tingkat kesadaran yang semakin tertekan. Gejala demikian dapat menyebabkan seseorang yang mengalami komplikasi pada hepatic encephalopathy ini dapat menyebabkan koma dan mengancam pada kematian. 5. Hepatorenal syndrome Hepatorenal syndrome atau sindrom kerusakan pada ginjal. Sindrom ini mengakibatkan penurunan komplikasi yang serius diimana fungsi dari organ ginjal semakin berkurang. Hepatorenal syndrome diartikan sebagai kegagalan yang sangat serius dan fatal pada penurunan fungsi organ ginjal dalam membersihkan unsur-unsur dari darah dan menghasilkan jumlah urin yang cukup banyak. Ginjal yang diketahui memiliki tugas dan fungsinya sebagai penahan garam. Jika pada seseorang yang menderita penyakit hati disertai oleh komplikasi demikian, maka yang harus dibenahi atau diperbaiki adalah fungsi kerja organ hati dalam keadaan baik , maka ginjal akan bekerja normal kembali. Komplikasi akibat penyakit sirosis yang merambah pada terganggunya fungsi kerja organ ginjal ini diakibatkan oleh peningkatan unsur-unsur beracun dalam darah ketika organ hati tidak lagi berfungsi dengan baik. 6. Kanker hati (hepatocellular carcinoma) Sirosis yang merupakan penyebab dari timbulnya berbagai komplikasi penyakit gangguan hati ini dapat meningkatkan resiko pda timbulnya kanker hati yang awal mulanya kan terbentuk tumor di dalam hati. Diagnosis Banding Karsinoma hepato seluler (KHS) atau disebut juga hepatoma adalah penyakit kanker hati primer yang paling banyak ditemukan dibandingkan dengan kanker hati primer lainnya. Penyakit ini lebih banyak ditemukan pada laki-laki dibandingkan perempuan, tersebar di seluruh dunia, dimana kasus terbanyak terjadi di Sub-sahara Afrika dan Asia Tenggara. Kanker yang berasal dari sel-sel hati ini secara makroskopis dibedakan atas tipe masif, nodular, dan difus. Tipe masif umumnya terjadi di lobus kanan, berbatas tegas, dan dapat dikelilingi nodul-nodul kecil. Tipe nodular tampak berupa nodul-nodul dengan ukuran bervariasi dan terjadi di seluruh hati. Adapun karsinoma tipe difus sukar ditentukan batas-batasnya. Beberapa faktor yang diduga sebagai penyebabnya antara lain virus hepatitis B dan C, sirosis hati, aflatoksin, infeksi beberapa macam parasit, keturunan maupun ras. Keluhan dan gejala yang timbul sangat bervariasi. Pada awalnya penyakit kadang tanpa disertai keluhan atau sedikit keluhan seperti perasaan lesu, dan berat badan menurun drastis. Penderita sering mengeluh rasa sakit atau nyeri tumpul (rasa nyeri seperti ditekan jari atau benda tumpul)

yang terus menerus di perut kanan atas yang sering tidak hebat tetapi bertambah berat jika digerakkan. Pada pemeriksaan didapat hati membesar dengan konsistensi keras dan sering berbenjol-benjol, terjadi pembesaran limpa, serta perut membuncit karena adanya asites. Kadang-kadang dapat timbul ikterus dengan kencing seperti air teh dan mata menguning. Keluhan yang disertai demam umumnya terjadi akibat nekrosis pada sentral tumor. Penderita bisa tiba-tiba merasa nyeri perut yang hebat, mual, muntah, dan tekanan darah menurun akibat pendarahan pada tumornya. Diagnosis KHS selain memerlukan anamesis dan pemeriksaan fisik juga beberapa pemeriksaaan tambahan seperti pemeriksaan radiologi (rontgen), ultrasonografi (USG), computed tomography scanning (CT scan), peritneoskopi, dan test laboratrium. Diagnosa yang pasti ditegakkan dengan biopsi hati untuk pemeriksaan jaringan. Hepatoma selain menimbulkan gangguan faal hati juga membentuk beberapa jenis hormon yang dapat meningkatkan kadar hemoglobin, kalsium, kolesterol, dan alfa feto protein di dalam darah. Gangguan faal hati menyebabkan peningkatan kadar SGOT, SGPT, fosfatase alkali, laktat dehidrogenase, dan alfa-L-fukosidase. Pengobatan KHS yang telah dilakukan sampai saat ini adalah dengan obat sitostatik, embolisasi, atau pembedahan. Prognosis umumnya jelek. Tanpa pengobatan, kematian penderita dapat terjadi kurang dari setahun sejak gejala pertama. Gejala seseorang yang terkena kanker hati : 1. Mengalami sakit perut dan pembengkakan di perut 2. Organ hati yang terkadang membesar, perut terlihat seperti melembung seperti orang hamil 3. Berat badan yang semakin berkurang dan menurun secara cepat 4. Terkadang demam Kanker hati juga dapat menyebabkan tubuh melepaskan banyak unsur-unsur penting dalam tubuh, seperti menyebabkan terjadinya peningkatan jumlah sel darah merah (erythrocytosis), gula darah yang rendah (hypoglycemia) dan meningkatkan jumlah kalsium darah (hypercalcemia). Diagnosis Kerja Diagnosis pada penderita suspek sirosis hati dekompensata tidak begitu sulit, gabungan dari kumpulan gejala yang dialami pasien dan tanda yang diperoleh dari pemeriksaan fisis sudah cukup mengarahkan kita pada diagnosis. Namun jika dirasakan diagnosis masih belum pasti, maka USG Abdomen dan tes-tes laboratorium dapat membantu Pada pemeriksaan fisis, kita dapat menemukan adanya pembesaran hati dan terasa keras, namun pada stadium yang lebih lanjut hati justru mengecil dan tidak teraba. Untuk memeriksa derajat asites dapat menggunakan tes-tes puddle sign, shifting dullness, atau fluid wave. Tanda-tanda

klinis lainnya yang dapat ditemukan pada sirosis yaitu, spider telangiekstasis (Suatu lesi vaskular ang dikelilingi vena-vena kecil), eritema palmaris (warna merah saga pada thenar dan hipothenar telapak tangan), caput medusa, foetor hepatikum (bau yang khas pada penderita sirosis), dan ikterus Tes laboratorium juga dapat digunakan untuk membantu diagnosis, Fungsi hati kita dapat menilainya dengan memeriksa kadar aminotransferase, alkali fosfatase, gamma glutamil transpeptidase, serum albumin, prothrombin time, dan bilirubin. Serum glutamil oksaloasetat (SGOT) dan serum glutamil piruvat transaminase (SGPT) meningkat tapi tidak begitu tinggi dan juga tidak spesifik. Pemeriksaan radiologis seperti USG Abdomen, sudah secara rutin digunakan karena pemeriksaannya noninvasif dan mudah dilakukan. Pemeriksaan USG meliputi sudut hati, permukaan hati, ukuran, homogenitas, dan adanya massa. Pada sirosis lanjut, hati mengecil dan noduler, permukaan irreguler, dan ada peningkatan ekogenitas parenkim hati. Selain itu USG juga dapat menilai asites, splenomegali, thrombosis vena porta, pelebaran vena porta, dan skrining karsinoma hati pada pasien sirosis. Sirosis Hati ec hepatitis B Sirosis hati adalah penyakit hati menahun yang mengenai seluruh organ hati. Keadaan tersebut terjadi karena infeksi akut dengan virus hepatitis dimana terjadi peradangan sel hati yang luas dan menyebabkan banyak kematian sel. Akibatnya bentuk hati yang normal akan berubah disertai terjadinya penenkanan pada pembuluh darah dan terganggunya aliran darah. Pada sirosis dini biasanya hati membesar, terasa kenyal, tepi tumpul, dan terasa nyeri bila ditekan. Gejala yang sering dirasakan antara lain : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. Kelelahan (sering menjadi tanda pertama dan satu-satunya) Kehilangan nafsu makan Mual dan muntah (disertai dengan penurunan berat badan) Pembesaran hati (disebabkan oleh penumpukkan produk empedu dalam hati) Jaundice (Kuning pada bagian kulit dan putih mata) Pembentukan batu empedu (karena kurangnya empedu dalam batu empedu) Akumulasi air di perut (disebut ascites) Akumulasi air di kaki yang disebut edema Mudah terjadi memar atau pendarahan

Sirosis menyebabkan proses penyaringan racun melambat dan memungkinkan racun untuk tetap berada dalam aliran darah. Racun ini mempengaruhi otak dan menyebabkan kebingungan mental (ensefalopati). Karena proses penyaringan hati melambat, kemampuannya untuk memproses obat-obatan juga terpengaruhi. Hati tidak menghapus obat dari darah pada tingkat biasa, sehingga obat bertindak lebih lama dari yang diharapkan. Sirosis hati merupakan sekelompok penyakit hati kronik yang mengakibatkan kerusakan sel hati dan sel tersebut digantikan oleh jaringan parut sehingga terjadi penurunan jumlah jaringan hati secara normal.Peningkatan jaringan parut tersebut menimbulkan distorsi struktur hati yang normal, sehingga terjadi gangguan aliran darah melalui hati dan terjadi gangguan fungsi hati. Gangguan fungsi hati akibat sirosis antara lain sebagai berikut : a. Gangguan fungsi protein tubuh, faktor-faktor pembekuan empedu dan berbagai macam enzim b. Gangguan metabolisme kolesterol c. Gangguan penyimpanan enersi (glikogen) d. Gangguan metbolisme karbohidrat e. Gangguan regulasi berbagai macam homron f. Gangguan proses detoksifikasi obat dan racun Epidemiologi Di negara maju, sirosis hati merupakan penyebab kematian terbesar ketiga pada pasien yang berusia 45 46 tahun (setelah penyakit kardiovaskuler dan kanker). Penderita sirosis hati lebih banyak dijumpai pada kaum laki-laki jika dibandingkan dengan kaum wanita sekita 1,6 : 1 dengan umur rata-rata terbanyak antara golongan umur 30 59 tahun dengan puncaknya sekitar 4049 tahun. Diseluruh dunia sirosis menempati urutan ke tujuh penyebab kematian. Sekitar 25.000 orang meninggal setiap tahun akibat penyakit ini. Sirosis hati merupakan penyakit hati yang sering ditemukan dalam ruang perawatan Bagian Penyakit Dalam. Perawatan di Rumah Sakit sebagian besar kasus terutama ditujukan untuk mengatasi berbagai penyakit

yang ditimbulkan seperti perdarahan saluran cerna bagian atas, koma peptikum, hepatorenalsindrom, dan asites, Spontaneous bacterial peritonitis serta Hepatosellular carsinoma. Gejala klinis dari sirosis hati sangat bervariasi, mulai dari tanpa gejala sampai dengan gejala yang sangat jelas. Apabila diperhatikan, laporan di negara maju, maka kasus Sirosis hati yang datang berobat ke dokter hanya kira-kira 30% dari seluruh populasi penyakit ini, dan lebih kurang 30% lainnya ditemukan secara kebetulan ketika berobat untuk penyakit lain, sisanya ditemukan saat atopsi. Etiologi Istilah Sirosis hati diberikan oleh Laence tahun 1819, yang berasal dari kata Khirros yang berarti kuning orange (orange yellow), karena perubahan warna pada nodul- nodul yang terbentuk. Pengertian sirosis hati dapat dikatakan sebagai berikut yaitu suatu keadaan disorganisassi yang difuse dari struktur hati yang normal akibat nodul regeneratif yang dikelilingi jaringan mengalami fibrosis. Secara lengkap Sirosis hati adalah suatu penyakit dimana sirkulasimikro, anatomi pembuluh darah besar dan seluruh sitem arsitektur hati mengalami perubahan menjadi tidak teratur dan terjadi penambahan jaringan ikat (fibrosis) disekitar parenkim hati yang mengalami regenerasi. Sirosis hati juga diakibatkan oleh infeksi hepatitis B baik secara klinik histopatologik maupun laboratorik sama dengan sirosis karena penyebab lain. Sirosis hati akibat hepatitis B timbul akibat progresi hepatitis B kronik. Hepatitis B didefinisikan sebagai suatu penyakit yang disebabkan oleh Virus ditandai dengan suatu peradangan yang terjadi pada hati (Liver). Penyakit ini banyak dikenal sebagai penyakit kuning, padahal penguningan (kuku, mata, kulit) hanya salah satu gejala dari penyakit Hepatitis itu (Misnadiarly, 2007). Keadaan ini mengakibatkan perdangan dan pembengkakan hati, dan kadang-kadang kerusakan hati yang nyata. Sering terjadi bahwa penderita sama sekali tidak merasakan dan menyadari bahwa dirinya sedang terinfeksi oleh virus, karena keluhan yang khas yaitu keluhan seperti flu tidak berkembang segera, bahkan tidak muncul sama sekali. Seseorang bisa terkena infeksi jika ia tidak imun terhadap virusdan terpapar dengan darah atau cairan tubuh dari penderita atau pengidap HBV. Virus hepatitis B mempunyai envelope/selubung, DNA serat ganda parsial (partially double stranded) melingkar, panjang genom sekitar 3200 pasangan basar. Virus ini merusak fungsi liver dan terus berkembang biak dalam sel-sel hati (Hepatocytes). Akibat serangan ini sistem kekebalan tubuh kemudian memberi reaksi dan melawan. Kalau berhasil maka virus dapat terbasmi habis. Tetapi jika gagal virus akan tetap tinggal dan menyebabkan Hepatitis B kronis (si pasien sendiri menjadi carrier atau pembawa virus seumur hidupnya). Dalam seluruh proses ini liver mengalami peradangan (Misnadiarly, 2007). Protein yang dibuat oleh virus ini yang bersifat antigenik serta memberi gambaran tentang keadaan penyakit adalah: 1. Antigen permukaan/surface antigen/HbsAg, bnerasal dari selubung. Antigen yang semata-mata disandi oleh gen D disebut sebagai mayor protein, yang oleh daerah pre-S2 dinamakan middle protein dan yang oleh Pre-S1 disebut large protein. 2. Antigen core/ core antigen HbsAg, disandi oleh daerah core.

3. Antigen e/ e antigen/HbsAg, disandi oleh gen pre-core.

Penyebab lainnya 1. Alkohol 2. Kelainan metabolic : Hemakhomatosis (kelebihan beban besi), Penyakit Wilson (kelebihan beban tembaga), Defisiensi Alpha-antitripsind. Glikonosis type-IV, Galaktosemia. 3. Kolestasis Saluran empedu membawa empedu yang dihasilkan oleh hati ke usus, dimana empedu membantu mencerna lemak. Pada bayi penyebab sirosister banyak adalah akibat tersumbatnya saluran empedu yang disebut Biliary atresia. Pada penyakit ini empedu memenuhi hati karena saluran empedu tidak berfungsi atau rusak. Bayi yang menderita Biliary berwarna kuning (kulit kuning) setelah berusia satu bulan. Kadang bisa diatasi dengan pembedahan untuk membentuk saluran baru agar empedu meninggalkan hati, tetapi transplantasi diindikasikan untuk anak-anak yang menderita penyakit hati stadium akhir. Pada orang dewasa, saluran empedu dapat mengalami peradangan, tersumbat, dan terluka akibat Primary Biliary Sirosis atau Primary Sclerosing Cholangitis Secondary Biliary Cirrosis dapat terjadi sebagai komplikasi dari pembedahan saluran empedu. 4. Sumbatan saluran vena hepatica- Sindroma Budd-Chiari- Payah jantung 5. Gangguan Imunitas (Hepatitis Lupoid) 6. Toksin dan obat-obatan (misalnya : metotetrexat, amiodaron,INH, dan lain-lain)

Pemeriksaan Penunjang Hepatitis B Ada tiga pemeriksaan standar yang biasa digunakan untuk menegakkan diagnosa infeksi hepatitis B yaitu: 1. HBsAg (hepatitis B surface antigen) adalah satu dari penanda yang muncul dalam serum selama infeksi dan dapat dideteksi 2-8 minggu sebelum munculnya kelainan kimiawi dalam hati atau terjadinya jaundice (penyakit kuning). Jika HBsAg berada dalam darah lebih dari 6 bulan berarti terjadi infeksi kronis. Pemeriksaan HBsAg bisa mendeteksi 90% infeksi akut. Fungsi dari pemeriksaan HBsAg diantaranya : -indikator paling penting adanya infeksi virus hepatitis B -mendiagnosa infeksi hepatitis akut dan kronik -tes penapisan (skrining) darah dan produk darah (serum, platelet, dll) -skrining kehamilan

2. Anti HBs (antobodi terhadap hepatitis B surface antigen): jika hasilnya reaktif/positif menunjukkan adanya kekebalan terhadap infeksi virus hepatitis B yang berasal dari vaksinasi ataupun proses penyembuhan masa lampau. 3. Anti HBc (antibodi terhadap antigen inti hepatitis B), terdiri dari 2 tipe yaitu Anti HBc IgM dan anti HBc IgG. Anti HBc IgM : -muncul 2 minggu setelah HBsAg terdeteksi dan bertahan hingga 6 bulan -berperan pada core window (fase jendela yaitu saat dimana HBsAg sudah hilang tetapi anti HBs belum muncul. Anti HBc IgG : -muncul sebelum anti Hbc IgM hilang -terdeteksi pada hepatitis akut dan kronik -tidak mempunyai efek protektif Interpretasi hasil positif anti-HBc tergantung hasil pemeriksaan HBsAg dan Anti HBs. Masa inkubasi (saat terinfeksi sampai timbul gejala) sekitar 180 hari (rata-rata 60-90 hari). Pencegahan Hepatitis B Upaya pencegahan dapat dilakukan melalui program imunisasi. Imunisasi adalah upaya untuk mendapatkan kekebalan terhadap suatu penyakit dengan cara memasukkan kuman yang telah dilemahkan atau dimatikan ke dalam tubuh yang diharapkan dapat menghasilkan zat antibodi yang pada saatnya nanti digunakan untuk melawan kuman atau bibit penyakit yang menyerang tubuh (Hadinegoro, 2008). Program imunisasi di Indonesia dibagi menjadi 2 (dua), yaitu: 1. Imunisasi Wajib Imunisasi yang diwajibkan meliputi BCG (Bacille Calmette Guerin), Polio, Hepatitis B, DTP (Difteria, Tetanus, Pertusis) dan campak. 2. Imunisasi yang Dianjurkan Imunisasi yang dianjurkan diberikan kepada bayi/anak mengingat beban penyakit (burden of disease) namun belum masuk ke dalam program imunisasi nasional sesuai prioritas. Imunisasi dianjurkan adalah Hib (Haemophillus Influenza Tipe b), pneumokokus, influenza, MMR (Measles, Mumps, Rubella), tifoid, Hepatitis A, varisela, rotavirus, dan HPV (Human Papilloma Virus) (Hadinegoro, 2008). 2.2. Imunisasi Hepatitis B

Vaksin Hepatitis B harus segera diberikan setelah lahir, mengingat vaksinasi Hepatitis B merupakan upaya pencegahan yang efektif untuk memutuskan rantai penularan melalui transmisi maternal dari ibu kepada bayinya. Ada dua tipe vaksin Hepatitis B yang mengandung HbsAg, yaitu (1) vaksin yang berasal dari plasma, dan (2) vaksin rekombinan. Kedua vaksin ini aman dan imunogenik walaupun diberikan pada saat lahir karena antibodi anti HBsAg ibu tidak mengganggu respons terhadap vaksin (Wahab, 2002). Imunisasi Hepatitis B pasif dilakukan dengan memberikan Hepatitis B Imunoglobulin (HBIg) yang akan memberikan perlindungan sampai 6 bulan. HBIg tidak selalu tersedia di kebanyakan negara berkembang, di samping itu harganya yang relatif mahal. Imunisasi aktif dilakukan dengan vaksinasi Hepatitis B. Dalam beberapa keadaan, misalnya bayi yang lahir dari ibu penderita Hepatitis B perlu Universitas Sumatera Utaradiberikan HBIg mendahului atau bersama-sama dengan vaksinasi Hepatitis B. HBIg yang merupakan antibodi terhadap VHB diberikan secara intra muskular dengan dosis 0,5 ml, selambat-lambatnya 24 jam setelah persalinan (Dalimartha, 2004). Vaksin Hepatitis B (hepB) diberikan selambat-lambatnya 7 hari setelah persalinan. Untuk mendapatkan efektivitas yang lebih tinggi, sebaiknya HBIg dan vaksin Hepatitis B diberikan segera setelah persalinan (Dalimartha, 2004). 2.3. Program Imunisasi Hepatitis B Pedoman nasional di Indonesia merekomendasikan agar seluruh bayi diberikan imunisasi Hepatitis B dalam waktu 12 jam setelah lahir, dilanjutkan pada bulan berikutnya. Program Imunisasi Hepatitis B 0-7 hari dimulai sejak tahun 2005 dengan memberikan vaksin hepB-O monovalen (dalam kemasan uniject) saat lahir, pada Tahun 2006 dilanjutkan dengan vaksin kombinasi DTwP/hepB pada umur 2-3-4 bulan (Hadinegoro, 2008). Tujuan vaksin hepB diberikan dalam kombinasi dengan DTwP (Difteria, Tetanus, Pertusis Whole cell) untuk mempermudah pemberian dan meningkatkan

cakupan hepB-3 yang masih rendah (Hadinegoro, 2008). Pada umumnya bayi mendapatkan imunisasi Hepatitis B melalui puskesmas, rumah sakit, praktik dokter dan klinik (Dalimartha, 2004). Penatalaksanaan 1. Suportif, yaitu : a. Istirahat yang cukup b. Pengaturan makanan yang cukup dan seimbang;misalnya : cukup kalori, protein 1gr/kgBB/hari. 2. Pengobatan yang spesifik dari sirosis hati akan diberikan jika telah terjadi komplikasi seperti : a. Asites. Dapat dikendalikan dengan terapi konservatif yang terdiri atas : Istirahat diet rendah garam : untuk asites ringan dicoba dulu dengan istirahat dan diet rendah garam dan penderita dapat berobat jalan dan apabila gagal maka penderita harus dirawat. Pemberian diuretic hanya bagi penderita yang telah menjalani diet rendah garam dan pembatasan cairan namun penurunan berat badannya kurang dari 1 kg setelah 4 hari. Mengingat salah satu komplikasi akibat pemberian diuretic adalah hipokalemia dan hal ini dapat mencetuskan encepalophaty hepatic, maka pilihan utama diuretic adalah spironolacton, dan dimulai dengan dosis rendah, serta dapatdinaikkan dosisnya bertahap tiap 34 hari, apabila dengan dosis maksimal diuresinya belum tercapai maka dapat kita kombinasikan dengan furosemid.

Terapi lain: Sebagian kecil penderita asites tidak berhasil dengan pengobatan konservatif. Pada keadaan demikian pilihan kita adalah parasintesis. Mengenai parasintesis cairan asites dapat dilakukan 5 10 liter / hari,dengan catatan harus dilakukan infus albumin sebanyak 6 8 gr/l cairan asites yang dikeluarkan. Ternyata parasintesa dapat menurunkan masa opname pasien. Prosedur ini tidak dianjurkan pada Childs C, Protrombin < 40%, serum bilirubin > dari 10 mg/dl, trombosit <40.000/mm, creatinin > 3 mg/dl dan natrium urin < 10 mmol/24 jam. b. Spontaneous bacterial peritonitis Infeksi cairan dapat terjadi secara spontan, atau setelah tindakan parasintese. Tipe yang spontan terjadi 80% pada penderita sirosis hati dengan asites, sekitar 20% kasus. Keadaan ini lebih sering terjadi pada sirosis hati stadium kompesata yang berat. Pada kebanyakan kasus penyakit ini timbul selama masa rawatan. Infeksi umumnya terjadi secara Blood Borne dan

90% Monomicroba. Pada sirosis hati terjadi permiabilitas usus menurun dan mikroba ini beraasal dari usus. Pengobatan SBP dengan memberikan Cephalosporins Generasi III(Cefotaxime), secara parental selama lima hari, atau Qinolon secaraoral. Mengingat akan rekurennya tinggi maka untuk profilaxis dapatdiberikan Norfloxacin (400mg/hari) selama 2-3 minggu c. Ensefalopati Hepatik Suatu syndrome Neuropsikiatri yang didapatkan pada penderita penyakit hati menahun, mulai dari gangguan ritme tidur, perubahan kepribadian, gelisah sampai ke prekoma dan koma. Pada umumnya enselopati Hepatik pada sirosis hati disebabkan adanya factor pencetus,antara lain : infeksi, perdarahan gastro intestinal, obat-obat yang Hepatotoxic. Prognosis

1. Ali Sulaiman, dkk. Gastroenterologi Hepatologi. Sagung Seto. 1997 2. Aru Sudoyo. Ilmu Penyakit Dalam Jilid I Edisi IV. Pusat Penerbitan IPD FKUI. Jakarta. Juli 2006 3. David,C.Wolff MD. Cirrhosis. http://www.emedicine.com/med/topic3183.htm. 2007 4. Jeffrey A Gunter, MD. Cirrhosis.http://www.emedicinehealth.com/cirrhosis/article_em.htm#Cirrhosis%20Overview. 2005 5. Rodney Rhoades, George Tanner. Medical Physiology. Lippincott Williams & Wilkins. 2003