You are on page 1of 6

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SEBAGAI PUPUK ALTERNATIF

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SEBAGAI PUPUK ALTERNATIF ( Oleh : Boeing Kristiawan )

PENGGUNAAN PUPUK ORGANIK SEBAGAI PUPUK ALTERNATIF Latar Belakang Usaha dibidang pertanian yang dilakukan para petani pada umumnya mencakup 3 hal Pokok yaitu : 1. Usaha Pertanian berwawasan Industri. 2. Usaha pertanian berwawasan ekonomis. 3. Usaha pertanian berwawasan sosial Yang dimaksud Usaha pertanian berwawasan industri adalah segala usaha budidaya pertanian yang dimana hasil / produk yang dihasilkan tidak dapat langsung dinikmati / merupakan bahan mentah yang mana dalam proses selanjutnya untuk menjadi bahan jadi harus melalui proses industri, dalam hal ini petani tidak mampu melakukan proses ini, hasil pertanian yang berwawasan industri antara lain kakao,rosela,mengkudu,dll, dimana untuk dapat dimanfaatkan oleh masyarakat harus ada proses industri yang menyertainya. Yang dimaksud Usaha pertanian berwawasan ekonomis adalah segala usaha budidaya pertanian dimana hasil / produk yang dihasilkan dapat langsung dinikmati oleh konsumen tanpa perlu ada sentuhan pabrikasi, hasil pertanian berwawasan ekonomis pada umumnya adalah tanaman hortikultura. Yang dimaksud Usaha pertanian berwawasan sosial adalah segala usaha budidaya pertanian dimana hasil / produk yang dihasilkan dapat langsung dinikmati oleh konsumen tanpa perlu ada

sentuhan pabrikasi, hasil pertanian yang berwawasan sosial adalah tanaman jenis tanaman pangan. Apabila petani memilih jenis usaha pertama ini maka posisi petani adalah lemah sekali karena harga selalu dipermainkan oleh tengkulak dan pada umumnya petani tidak mampu menembus langsung / mengakses langsung ke pabrik, selain itu sarana produksi yang menyertai usaha ini biasanya berasal dari pabrikasi ( pupuk urea,SP,Kcl dll ) hal ini menambah ongkos produksi yang semakin tinggi yang berakibat semakin berkurangnya keuntungan yang di dapat oleh petani. Apabila petani memilih jenis usaha yang kedua, maka posisi tawar petani lebih baik karena petani bisa menjadi tidak bergantung pada tengkulak, hal ini disebabkan petani mampu menjual hasil produksinya langsung ke konsumen / pasar. Jenis usaha ini mampu menguntungkan petani karena harga hortikultura relatif lebih tinggi dibanding dengan jenis tanaman pangan dan seandainya petani dalam proses produksinya menggunakan saprodi yang berasal dari pabrikasi ( pupuk urea,SP,Kcl dll ) petani masih mendapatkan keuntungan karena selisih harga yang cukup tinggi, namun modal yang digunakan jenis usaha ini lebih besar dibanding dengan jenis usaha yang berwawasan sosial dan apabila petani mengalami kegagalan panen maka petani akan langsung kolaps karena saprodi yang mahal. Namun jenis usaha ini menggiurkan petani karena harga produk jenis hortikultura relatif tinggi dan tidak ada patokan harga yang diatur oleh pemerintah. Apabila petani memilih jenis usaha yang ketiga, maka posisi tawar petani sangat lemah sekali karena petani menjadi tergantung dengan tengkulak,karena petani pada umumnya tidak dapat menjual hasil produksinya langsung ke konsumen atau ke pasar. Jenis usaha ini tidak mampu menguntungkan petani karena produk yang dihasilkan bernilai sosial artinya apabila ( ambil contoh beras ) harganya mahal maka setiap hari aka ada demo yang menuntut penurunan harga beras, namun biasanya dan kebanyakan petani dalam memilih jenis usaha ini saprodinya berasal dari proses pabrikasi ( pupuk urea,SP,Kcl dll ) hal inilah yahg menjadi ketidak seimbangan dalam proses usaha, dimana produk yang dihasilkan berwawasan sosial sementara saprodinya berwawasan industri, apabila petani terus menerus melakukan kegiatan usaha yang seperti ini maka hanya ketidak seimbangan saja yang dialami oleh petani, agar petani menjadi untung dengan melakukan kegiatan usaha yang berwawasan sosial ini maka saprodinya juga harus berwawasan sosial dan sprodi yang berwawasan sosial ini mampu dilakukan oleh petani dengan membuat sendiri pupuk organik, pupuk organik cair maupun pengendali OPT ( Organisme Pengganggu Tanaman ) berupa pestisida alami dan mengembangbiakkan musuh alami ( Predator OPT ), semua saprodi mampu dihasilkan oleh petani dengan memanfaatkan semua yang ada disekitar rumah / lingkungan. Pembuatan pupuk organik dengan cara gotong royong inilah yang dimaksud dengan saprodi yang berwawasan sosial, karena pembuatan dengan sistem gotong royong sangat memungkinkan apabila ada anggota kelompok tidak memiliki ternak, maka dia tetap dapat memperoleh pupuk berkualitas dengan proses ini, hal ini karena adanya subsidi silang dimana yang tidak memiliki ternak maka dia akan menyumbangkan bahan baku yang lain bisa berupa serbuk gergaji atau abu. PUPUK BOKASHI

Oleh : Boeing Kristiawan

Apa sebenarnya yang dinamakan Bokashi itu ? Bokashi adalah pupuk organik dimana proses dekomposisinya melalui proses fermentasi, karena melalui proses fermentasi maka proses dekomposisinya menjadi lebih cepat sekitar 4 10 hari dan ada campur tangan mikroba berupa bakteri fermentasi, bakteri fotosintesis bakteri yang tergabung dalam bakteri asam laktat, proses dekomposisi yang dihasilkan dari proses pembusukan oleh jasad renik dan berlangsung dalam waktu lama dan dalam situasi aerob serta bau yang dihasilkan adalah bau tidak sedap. Bahan-bahan yang dibutuhkan untuk membuat Bokashi adalah : 1. Kotoran hewan lembu pedaging / domba / kuda / kerbau / ayam ras jangan menggunakan kotoran dari lembu perah karena kotorannya benar benar ampas, hal ini disebabkan makanan konsumsi sekitar 70-90 % dirubah menjadi susu dan energi sehingga yang terbuang memang benar benar sisa berbeda dengan lembu pedaging dimana makanan yang dikonsumsi hanya sekitar 15 20 % yang dirubah menjadi daging dan energi selebihnya terbuang dalam bentuk kotoran. Kotoran ini sebagai penyedia unsur Nitrogen dan Phospor. 1. Serbuk gergaji sebagai penyedia unsur Nitrogen untuk menambah unsur Nitrogen yang kurang pada kotoran hewan. 2. Abu yang masih berwarna hitam sebagai penyedia unsur Kalium 3. Fermentator sebagai penyedia mikroba untuk proses fermentasi. 4. Gula merah dan bekatul sebagai bahan penyedia energi permulaan bagi mikroba. 5. Air sebagai wahana pengkondisian lingkungan yang sesuai untuk proses fermentasi.

Aplikasi Untuk pembuatan 1 ton Bokashi dibutuhkan bahan-bahan sebagai berikut : 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. Kotoran hewan yang masih baru ( maksimal 7 hari ) sebanyak 600 kg. Serbuk gergaji sebanyak 300 kg. Abu ( yang masih berwarna hitam) sebanyak 100 kg. Fermentator 1 Liter. Gula merah 1 kg dicairkan dengan air 1 Liter. Bekatul 1 kg. Air secukupnya.

Cara membuat :

Bekatul 1 kg dilarutkan dalam 100 liter air, diperas dan disaring, kemudian dicampur dengan fermentator dan larutan gula merah, diamkan selama 10-15 menit. Campurkan kotoran sapi, serbuk gergaji dan abu dan diaduk hingga homogen. Setelah campuran homogen ambil larutan fermentator tadi kemudian semprotkan secara merata pada campuran bahn baku tadi secara merata dengan menggunakan hand sprayer sampai campuran bahan baku tadi menjadi megar ( kadar air sekitar 30 % ). Setelah semua adonan tercampur dengan fermentator, adonan diatur tinggi timbunan tidak lebih dari 50 cm, kemudian dilakukan penutupan secara rapat dengan menggunakan karung. Setelah 1 hari, maka suhu adonan akan bergerak naik dan setelah suhu adonan menurun dan stabil pada suhu sekitar 25 28 derajat celcius sekitar 4 7 hari dari proses awal, maka Bokashi dikatakan sudah jadi / siap untuk di aplikasikan atau jika sudah nampak ada tumbuhan yang hidup / biji yang mulai tumbuh.

Untuk hasil terbaik, sebelum pupuk Bokashi disebarkan, lebih baik disimpan dulu selama 1-2 bulan.

Berikut adalah kandungan unsur yang ada pada beberapa bahan pembuat pupuk organik : Bahan KandunganN KandunganP ( % ) (%) 1 2,1 1,5 1,7 0,5 1,6 0,6 0,7 3,0 3,2 4,5 4,15 2,91 8,9 10 3,6 3,9 2,4 2,9 2,0 2,5 3,2 3,4 0,5 0,27 0,28 KandunganK ( % )

Kotoran ayam Kotoran kuda Kotoran sapi pedaging Kotoran kerbau Kotoran Kelelawar (Guano) Azola Gliricidea Lamtoro gung

0,4 4 0,55 0,4 0,7 1 3 2,34

sedangkan kandungan yang ada dalam pupuk Bokashi adalah lengkap karena mengandung unsur makro yaitu N,P,K serta mikro Ca. Mg, S, Cl, Fe, Mn, Cu, Bo, Zn, Si

KHASIAT TIAP-TIAP UNSUR BAGI TANAMAN Oleh : Boeing Kristiawan

Nitrigen ( N ) : untuk merangsang pertumbuhan tanaman serta keseluruhan batang, cabang, dan daun, pembentukan hijau daun, membentuk protein dan lemak. Fosfor ( P ) : untuk merangsang pertumbuhan akar, khususnya benih dan tanaman muda, mempercepat pembuangan, pemasakan biji dan buah. Kalium ( K ) : membantu pembentukan protein dan karbihidrat, memperkuat tubuh tanaman agar daun, bunga, dan buah tidak mudah gugur, sebagai sumber kekuatan bagi tanaman menghadapi kekeringan dan penyakit. Kalsium ( Ca ) : merangsang pembentukan bulu bulu akar, pembentukan biji dan mengeraskan batang. Magnesium ( Mg ) : terciptanya hijau daun yang sempurna dan karbohidrat, lemak dan minyakminyak, berperan dalam transportasi fosfat dalam tanaman sehingga penambahan Mg berkorelasi positif menaikkan kandungan P dalam tanaman. Sulfur ( S ) : pembentukan bintil bintil akar, membantu pertumbuhan anakan,dan merupakan bagian penting pada tanaman-tanaman penghasil minyak, sayuran seperti cabai, kubis dll. Chlorida (Cl ) : memperbaiki dan meningkatkan hasil kering dari tanaman. Besi ( Fe ) : untuk pernafasan tanaman dan pembentukan hijau daun.

Mangan ( Mn ) : merupakan komponen penting pembentukan enzim. Tembaga ( Cu ) : mendorong terbentuknya hijau daun dan bahan utama pembentukan enzim. Boron ( Bo ) : sebagai transportasi karbohidrat, penghisapan unsur kalsium dan perkembangan bagian bagian tanaman yang tumbuh aktif ( menaikkan mutu tanaman sayuran dan buah buahan ). Seng ( Zn ) : memberikan dorongan terhadap pertumbuhan tanaman, karena membentuk hormon tubuh. Silikat ( Si ) : membentuk zat antibody / kekebalan terhadap penyakit bagi tanaman.

Semua unsur diatas baik unsur makro ( dibutuhkan oleh tanaman dalam jumlah banyak ) yaitu unsur hara ( N P K ) maupun unsur mikro ( dibutuhkan tanaman dalam jumlah sedikit ) yaitu unsur hara (Ca,Mg,S,Mn,Cu,Zn,Bo,Fe,Si ) sudah dapat terpenuhi dalam satu pupuk yaitu Bokashi.