You are on page 1of 17

1.

Latar Belakang

Proyek Banyu Urip merupakan salah satu proyek dari Mobil Cepu Ltd. yang berencana mengembangkan dan memproduksi minyak mentah di Banyu Urip yang terletak di Blok Cepu, di Desa Mojodelik, Kecamatan Ngasem, Kabupaten Bojonegoro, Jawa Timur. Salah satu proyek dalam pengembangan Mobil Cepu Ltd. di Banyu Urip ini adalah pembuatan tempat penampung air, dimana air dalam penampungan ini diambil dari Bengawan Solo yang airnya disedot dengan menggunakan pompa dan dialirkan melalui pipa ke tempat penampungan air , selanjutnya air dalam penampungan ini akan di didistribusikan ke CFF (Central Field Facilities ),yang salah satunya adalah digunakan sabagai crude desalting sulfur. Kebutuhan air dalam proyek pengembangan ini adalah 5,5 juta m3, sehingga dibutuhkan tempat penampungan air untuk menampung semua kebutuhan air . Pada tempat penampungan air ini dibutuhkan sebuah timbunan dengan tinggi 11 meter yang berfungsi sebagai pemisah dan melimpahkan air dari tempat penampungan sementara ke penampungan yang bertujuan untuk mengendapkan kotoran dan material endapan dari air bengawan solo. Konstruksi timbunan ini dibuat dari tanah di sekitar proyek dengan metode cut and fill lalu dipadatkan. Di atas timbunan dibangun suatu akses yang berfungsi sebagai jalur inspeksi dengan perkerasan untuk kendaraan alat berat. Untuk lereng disekitar penampungan timbunan juga dibuat dengan menggunakan tanah di sekitar proyek. Kebutuhan tanah urugan untuk timbunan disekitar penampungan berbeda beda, tergantung kondisi topografi pada lereng tersebut.. Diatas timbunan ini juga dibangun suatu akses dengan perencanaan perkerasan untuk kendaraan alat berat Yang akan dibahas dalam tugas Akhir ini adalah merencanakan pelimpah dengan menggunakan timbunan tanah setempat yang dipadatkan dan design alternatif pelimpah menggunakan konstruksi portal beton dengan pasangna batu kali sebagai pengisinya

1.2 Permasalahan -Permasalahan Utama


1. Bagaimana merencanakan timbunan yang memenuhi syarat ? 2. Bagaimana merencanakan alternatif pelimpah yang stabil ?

-Rincian Masalah
1. Bagaimana menghitung volume cut and fill ? 2. Berapa tinggi initial (H intial ) timbunan agar tinggi akhir timbunan yang direncanakan tetap tercapai setelah settlement pada lapisan tanah lembek berakhir? 3. Bagaimana merencanakan bangunan atas pelimpah ? 4. Bagaimana merencanakan bangunan bawah pelimpah?

1.3

Tujuan
1. Mengetahui bagaimana merencanakan timbunan yang memenuhi syarat 2. Mengetahui bagaimana merencanakan alternatif pelimpah yang stabil.

1.4

Batasan Studi
1. Analisa geoteknik hanya dilakukan di sekitar tanah yang akan direncanakan penampungan. 2. Analisa hidrologi tidak dibahas dalan tugas akhir ini 3. Analisa sedimen transport tidak dibahas dalam tugas akhir ini. 4. Data tanah yang digunakan adalah data sekunder yang berasal dari Laboratorium Mekanika Tanah dan Batuan S-1 Teknik Sipil ITS. 5. Perencanaan debit air yang masuk ke penampungan tidak dihitung 6. Analisa kapasitas pompa air yang digunakan tidak dibahas dalam tugas akhir ini. 7. Analisa biaya tidak dihitung dalam tugas akhir ini.

METODOLOGI
MULAI

Pengumpulan Data : -Data Tanah Dasar -Data Perencanaan -Data Spesifikasi Geosyntetic dan tiang pancng

Studi Pustaka Perhitungan Volume Cut and fill

Pre-eliminary design Pelimpah Batu Kali Analisa Kekuatan Struktur Beton NOT OK

Perhitungan Penurunan Timbunan

Penentuan Hawal Timbunan Tepi Kolam dan Pelimpah Analisa Stabilitas Timbunan Tepi Kolam dan Pelimpah OK

Cek OK

Perencanaan Pondasi Pelimpah Cek Analisa Daya Dukung Pondasi NOT OK NOT OK Perencanaan Perkuatan Timbunan Cek OK Perencanaan Box Culvert

Kesimpulan Gambar

Kesimpulan Gambar

SELESAI

Gambar 3.1 Bagan Alir Prosedur Pengerjaan Tugas akhir

4.1

Data Tanah Dasar

Seperti telah dijelaskan dalam Bab Metodologi bahwa tanah dasar diperoleh dari Laboraturium Mekanika Tanah Teknisk Sipil FTSP ITS. Berdasarkan data tanah dasar yang diperoleh, jenis tanah pada kedalaman 0 30 m berupa tanah lempung. Profil tanah dasar untuk perencanaan ini diberikan pada Gambar 4.1. Sedang data tanahnya diberikan dalam Tabel 4.1.
Lempung Berlanau Very Soft Lempung Berlanau Soft 0.00 m -2.00 m -5.00 m

Lempung Berlanau Medium

Keterangan : a : 33 m L :6 m H : 11 m 3. Perhitungan Pembebanan : a. Beban mati timbunan sendiri. b. Beban lalu lintas inspeksi. c. Beban alat berat pada pelaksanaan konsruksi timbunan. d. Beban box culvert e. Beban lateral dari tekanan air Dalam tugas akhir ini beban lalu lintas inspeksi diasumsikan sebagai mobil penumpang dengan berat maksimum tiap as adalah 1 ton. Beban alat berat diasumsikan sebagai truk pengangkut material T 1.22 berat total maksimum 25 ton dengan distribusi beban (25% -75%) dan ekskavator Komatsu P 200LC-7 dengan berat 13 ton.

4.2.2 Timbunan di Tepi Kolam


Lempung Berlanau Hard Lempung Berlanau Medium -18.00 m -20.00 m -24.00 m

Data tentang timbunan tepi kolam meliputi sifat fisik timbunan dan dimensi timbunan. 1. Sifat fisik timbunan meliputi : t = 1.67 t/m3, = 50, Cu = 0.25 t/m2 2. Dimensi timbunan : a L H

Lempung Berlanau Stiff -30.00 m

1:4

Gambar 4.1 Profil tanah dasar pada proyek Banyu Urip

Gambar 4.3 Dimensi Timbunan Tepi Kolam Keterangan : a L H

4.2 Data Tanah Timbunan 4.2.1 Timbunan Pelimpah


Data tentang tanah timbunan pelimpah meliputi sifat fisik timbunan dan dimensi timbunan. 1. Sifat fisik timbunan meliputi : t = 1.67 t/m3, = 50, Cu = 0.25 t/m2, karena tanah timbunan diambil dari tanah setempat hasil pengerukan pada kedalaman 0 -11 m dan tanah tersebut sudah dipadatkan sehingga Cu nya naik. 2. Dimensi timbunan : a 1:3 L H

: 44 :6 : 11

m m m

3. Perhitungan Pembebanan : a. Beban mati timbunan sendiri b. Beban lalu lintas inspeksi c. Beban alat berat pada pelaksnaan konstruksi timbunan d. Beban lateral dari tekanan air Dalam tugas akhir ini beban lalu lintas inspeksi diasumsikan sebagai mobil penumpang dengan berat maksimum tiap as adalah 1 ton. Beban alat berat diasumsikan sebagai truk pengangkut material T 1.22 berat total maksimum 25 ton dengan distribusi 3

Gambar 4.2 Dimensi Timbunan Pelimpah

beban (25% -75%) dan ekskavator Komatsu P 200LC-7 dengan berat 13 ton.

dengan menggunakan program Auto Cad 2007. Rumus Perhitungan cut and fill

4.3 Analisa Daya Dukung Pondasi Tiang Pancang


Dengan data tanah di atas kemudian dianalisa daya dukung pondasi tiang pancang. Analisa dilakukan untuk mengetahui daya dukung tiang pancang yang nantinya akan digunakan sebagai pondasi pelimpah alternatif. Perhitungan analisa ini menggunakan metode Luciano Decourt yang ada pada Bab II, analisa dilakukan dengan menggunakan tiga tipe diameter tiang pancang yaitu diameter 40 cm, 50 cm dan 60 cm. setelah itu dibuat grafik hubungan daya dukung (Q L ) dengan kedalaman, dari grafik tersebut maka kita bisa menentukan diameter dan kedalamn tiang pancang yang akan digunakan sesuai dengan berat yang dipikul oleh tiang pancang.

V = ( A1 + A2 )
Keterangan, V A1 A2 d

d 2

= Volume Galian atau Isian = Luas pias pada potongan 1 = Luas pias pada potongan 2 = Jarak antar pias

Gambar 5.2 Mass Diagram Cutt and Fill Dari perhitungan cut and fill didapatkan vulume cut = 4231921.62 m3dan volume fill = 961303.88 m3, Volume material galian yang harus dibuang = 3270617.74 m3. Untuk metode pembuangan materialnya tidak dibahas dalam tugas akhir ini Gambar 4.4 Grafik Hubungan Daya Dukung (Q L ) dengan Kedalaman

5.2

Prakiraan Besar Pemampatan/ Settlement(Sc)

5.1

Perhitungan Pengerukan

Pengerukan pada kolam penampungan air dilakukan sampai kedalaman -11.00 m. Tanah kerukan nanti akan digunakan sebagai material timbunan pada pelimpah dan timbunan pada sekeliling kolam. Untuk mengetahui volume tanah kerukan yang digunakan sebagai material timbuan maka dilakukan perhitugan volume cut and fill. Perhitungan penampang per pias dilakukan 4

Prakiraan besar pemampatan lapisan tanah lempung dilakukan dengan Persamaan 2.11 dan Persamaan 2.12. Hasil prakiraan pemampatan lapisan tanah lempung akibat beban rencana adalah sebesar = 2.3 m. Rincian perhitungan diberikan pada lampiran.

5.3 Perhitungan Waktu Konsolidasi Tanah Lempung


Dengan mengetahui besarnya settlement di lapisan tanah dasar, diperlukan perhitungan terhadap lama pemampatan yang terjadi. Dalam perencanaan Tugas Akhir ini, perhitungan pemampatan dihitung pada saat tanah mencapai derajat konsolidasi 95%. Besarnya pemampatan tanah lempung saat dibebani tanpa adanya PVD yaitu mengandalkan Cv saja. Hal ini karena tidak adanya drainase vertikal (vertical drains) yang berfungsi memperpendek panjang aliran (drainage path) dari air pori. Tabel 5.2 Perhitungan Konsolidasi Tbl Kedalaman Cv Lap. No (H n /Cv n 0.5) (m) (m2/th) (H),m
1 2 3 0.00 2.00 5.00 2.00 5.00 11.00 2 3 6 6.2220528 5.897232 6.3734256 0.80 1.24 2.38 4.4138

No 1 2 3 4 5

q (t/m2) 15 17 19 21 23

Settlement (m) 1.968 2.099 2.205 2.303 2.392

Hinitial (m) 10.114 11.386 12.645 13.899 15.148

Hfinal (m) 8.145 9.287 10.440 11.596 12.755

Dari Tabel 5.2 kemudian dibuat grafik hubungan hubungan antara H initial Vs H final serta H initial Vs Sc yang disajikan dalam Gambar 5.2 dan Gambar 5.3. Grafik tersebut akan dipakai untuk menentukan H initial timbunan sesuai dengan H final yang direncanakan yaitu 11 m. Dari kedua grafik tersebut didapatkan H initial = 13.3 m dan Sc total yang akan terjadi = 2.3 m.

U =95 % Tv 95% = 1.781-0.933*log(100-U%) = 1.129 Waktu konsolidasi yang dibutuhkan untuk mencapai derajat konsolidasi 95% adalah : t = T((H 1 /Cv 1 0.5)+(H 2 /Cv 2 0.5)+(H 3 /Cv 3 0.5) )2 = 1.129 x (4.4138)2 = 21.992 tahun 22 tahun Jadi waktu yang diperlukan untuk menghabiskan settlement 2.15 m pada lapisan tanah lempung diperlukan waktu 22 tahun.

Gambar 5.3 Grafik hubungan H initial dengan H final

5.4 Penentuan Awal (H inisial )

Tinggi

Timbunan

Dalam menentukan tinggi awal timbunan (H initial ) terlebih dahulu dibuat kurva hubungan antara H inisial dengan H final dan H inisial dengan pemampatan (Sc). Dalam pembuatan kurva digunakan beban permisalan sebesar 15 t/m2 , 17 t/m2 , 19 t/m2 , 21 t/m2 dan 23 t/m2. Penentuan H initial timbunan adalah dengan menghitung pemampatan pada tanah dasar terlebih dahulu. Beban yang dipilih untuk menghitung pemampatan ditentukan dari besarnya tinggi timbunan. Tabel 5.3 Perhitungan Sc, H initial, dan H final Pada Lapisan Tanah Dasar 5

Gambar 5.4 Grafik hubungan H initial dengan Settlement (Sc)

5.5 Analisa Pelimpah

Stabilitas

Timbunan

Timbunan pelimpah ini diambil dari tanah asli disekitar proyek, yang merupakan tanah mengembang (swelling soil) yang rawan untuk pecah ketika tidak terkena air, oleh karena itu permukaan timbunan pada kedalaman 2 meter dilapisi dengan pasir. Analisa stabilitas dilakukan dengan menggunakan program bantu Plaxis 8.2, ada beberapa tahapan analisa yaitu timbunan pelimpah pada kondisi sebelum kolam diisi air dan timbunan pelimpah dengan kondisi

pengisian penuh. Parameter yang digunakan adalah sebagai berikut : Timbunan tanah setempat : t = 1.71 t/m3 sat = 1.74 t/m3 C = 2.5 t/m2 = 3.5 E = 5287 kN V = 0.2 Timbunan tanah pasir : t = 1.71 t/m3 sat = 1.71 t/m3 C = 0 t/m2 = 25 E = 8987 kN V = 0.2 Sedangkan untuk parameter tanah dasarnya dikelompokkan berdasarkan konsistensi tanah dasar seperti pada tabel berikut : Tabel 5.4 Parameter Tanah Dasar

Gambar 5.6 Total Displacement Seperti terlihat pada Gambar 5.6 untuk kondisi timbunan sebelum kolam diisi air diperoleh SF = 1.3956. Jadi tidak perlu perkuatan untuk memperkuat stabilitas timbunan karena tidak terjadi kelongsoran. Kondisi timbunan dengan pengisian air penuh

Gambar 5.8 Geometri Timbunan

Dengan input seperti di atas, kemudian dianalisis menggunakan program bantu Plaxis 8.2. Berikut ini adalah hasil dari analisa Plaxis pada tiap tiap tahapan. Kondisi timbunan sebelum kolam diisi air Gambar 5.9 Total Displacement Seperti terlihat pada Gambar 5.9 untuk kondisi timbunan dengan pengisian air penuh diperoleh SF = 1.0513. Jadi tidak perlu perkuatan untuk memperkuat stabilitas timbunan karena tidak terjadi kelongsoran.

5.6 Analisa Stabilitas Timbunan Tepi Kolam


Gambar 5.5 Geometri Timbunan Analisa stabilitas timbunan tepi kolam pada dasarnya sama dengan analisa stabilitas timbunan pelimpah. Bedanya Cuma terletak pada ketinnggian timbunannya saja.

Kondisi timbunan sebelum kolam diisi air

5.7 Perencanaan Boxculvert di Atas Timbunan Air yang melimpah di atas timbunan di alirkan melalui boxculvert dengan dimensi ( 5 x 6 x 3 ) m, boxculvert dipasang setiap jarak 60 m di atas timbunan dengan di perkuat tiang pancang agar tidak terseret oleh arus air. Dengan model perencanaan sebagai berikut :

Gambar 5.11 Geometri Timbunan

Gambar 5.12 Total Displacement Seperti terlihat pada Gambar 5.12 untuk kondisi timbunan sebelum kolam diisi air diperoleh SF = 2.0620. Jadi tidak perlu perkuatan untuk memperkuat stabilitas timbunan karena tidak terjadi kelongsoran. Kondisi timbunan dengan pengisian air penuh

Gambar 5.17 Tampak Samping Boxculvert

5.8 Penentuan Tebal Perkerasan Untuk Jalan Inspeksi


Perkerasan untuk jalan inspeksi direncanakan menggunakan perkerasan lentur. Tebal perkerasannya menggunakan tebal minimum sesuai dengan petunjuk perencanaan tebal perkersan lentur jalan raya yang dikeluarka oleh Departemen Pekerjaan Umum. Tebal perkerasan tersebut adalah sebagai berikut : Surface : Aspal 5 cm

Gambar 5.14 Geometri Timbunan

Base : Batu pecah

15 cm

Sub.base : sirtu

10 cm

Gambar 5.15 Total Displacement Seperti terlihat pada Gambar 5.15 untuk kondisi timbunan dengan pengisian air penuh diperoleh SF = 3.2451. Jadi tidak perlu perkuatan untuk memperkuat stabilitas timbunan karena tidak terjadi kelongsoran. 7

Gambar 5.18 Gambar Susunan Perkerasan

6.1

Umum

Alternatif pelimpah direncanakan dari pasangan batu kali untuk pelimpahnya dan pilar dari beton dengan lantai kendaraan diatas pelimpah untuk jalur inspeksi.

5.00 2.00 2.00

Pembebanan : Beban yang diterima oleh pelat pracetak ini adalah berat sendiri dengan t = 15 cm pada saat pengangkatan dan berat beton cor insitu dengan tebal 15 cm, sehingga beban dihitung dengan tebal pelat = 30 cm. Qd = beton x Sn x t pelat = 2400 x 1 x 0.3 = 720 kg/m

= 8 2 = 2250

= 22,500,000 Nmm

13.00 11.00

Mu =

Mdx 22,500,000 = = 26,470,589 N .mm 0.85 0.85

Penulangan arah-x
Rasio tulangan perlu = 0.0084 lebih kecil dari rasio tulangan maksimum = 0.024, dan lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0018, sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu.
5.00 6.50

0.80

Gambar 6.1 Tampak Samping Pelimpah

6.2

Perencanaan Lantai Kendaraan

Lantai kendaraan direncanakan untuk bisa memikul beban truk dengan beban tiap rodanya adalah 100 kN, dengan tebal 30 cm dimana 15 cm adalah pelat beton pracetak yang sekaligus berfungsi sebagai begisting untuk tebal pelat beton cor insitu 15 cm berikutnya. Perencanaan Pelat Pracetak : Tebal pelat : 15 cm fc : 30 Mpa fy : 400 Mpa tulangan : 12 mm Decking : 40 mm Ln : 5 m Sn : 1 m dx : 9,2 cm : 0.85
Sn = 1 m Ln = 5 m

= perlu x b x d = 0.0084 x 1000 x 92 = 769,833 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 122 = 113 mm2 Jadi setiap satu meter dibutuhkan 7 tulangan sehingga pakai 12 100. Penulangan arah y Bentang arah-y adalah bentang pendek direncanakan dengan menggunkan tulangan susut, dengan rasio tulangan sebesar 20% dari As tulangan utama, susut = 0.0017 < min = 0.0018, sehingga dipakai rasio tulangan minimum = 0.0018. As perlu As perlu = perlu x b x d = 0.0018 x 1000 x 92 = 165,6 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 122 = 113 mm2 Jadi setiap satu meter dibutuhkan 2 tulangan sehingga pakai 12 100. Perencanaan Pelat Cor Insitu Tebal pelat : 30 cm fc : 30 Mpa fy : 400 Mpa tulangan : 12 mm

Gambar 6.2 Geometri Pelat Precast

Ln 5 = = 5 2 ( Pelat satu arah ) Sn 1


8

Decking Ln Sn dx

: : : : :

40 5 5 24,2 0.85

mm m m cm

Mu = 1,2 Md + 1,6 Ml = 395,800,000 N .mm Mn = 395,800,000 = 465,647,058.82.mm 0.85

Penulangan arah-x
Rasio tulangan perlu = 0.00411 lebih kecil dari rasio tulangan maksimum = 0.024, dan lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0018, sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu. As perlu = perlu x b x d = 0.00411 x 5000 x 242 = 4970,55 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 122 = 113 mm2 Jadi setiap 5 meter dibutuhkan 44 tulangan sehingga pakai 12 100. Penulangan arah y Bentang arah-y adalah sama dengan bentang arah-x sebesar 5 m, sehingga untuk beban mati yang diterima bentang arah y sama dengan yang diterima arah-x, hanya saja beban truk yang berbeda dengan bentang arah x Pembebanan : Beban yang diterima oleh pelat pracetak ini adalah berat sendiri dengan t = 15 cm dan beban truk dengan beban sebesar 13 ton tiap roda. qd = beton x Sn x t pelat = 2400 x 5 x 0.3 = 3600 kg/m

Sn = 5 m

Ln = 5 m

Gambar 6.3 Geometri Pelat Cor insitu

Ln 5 = =1 2 Sn 5

( Pelat dua arah )

Pembebanan : Beban yang diterima oleh pelat cor insitu ini adalah berat sendiri dengan t = 15 cm dan beban truk dengan beban sebesar 13 ton tiap roda. qd = beton x Sn x t pelat = 2400 x 5 x 0.3 = 3600 kg/m
1

= 112,500,000 Nmm Garis pengaruh Momen untuk beban 260 kN Truk :

= = 8 2 = 11250

= 112,500,000 Nmm

= = 8 2 = 11250

`Garis pengaruh Momen untuk beban Truk :


260 kN 260 kN
0.81

1.25

0.25 L 5.0
5.00 0.25 L

Gambar 6.4 Garis Pengaruh Momen arah-x Ml = 0,25L x 130 = 0,25 x 5 x 260 = 163 kN.m = 16300 kg.m = 163,000,000 Nmm 9

Gambar 6.5 Garis Pengaruh Momen arah-y Ml = 0,81 x 2 x 260 = 421,2 kN.m = 42120 kg.m = 421,200,000 Nmm

Mu = 1,2 Md + 1,6 Ml = 808,920,000 N .mm Mn = 808,920,000 = 951,670,588.22 N .mm 0.85

Gambar 6.6 Garis Pengaruh Momen arah-x Gaya geser maksimum yang terjadi :

Rasio tulangan perlu = 0.00872 lebih kecil dari rasio tulangan maksimum = 0.024, dan lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0018, sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu. As perlu = perlu x b x d = 0.00872 x 5000 x 242 = 10553.2 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 122 = 113 mm2 Jadi setiap lima meter dibutuhkan 93 tulangan sehingga pakai 12 50. Kontrol pelat terhadap lendutan Tabel 9 SNI 03-2847-2002 memberikan batasan lendutan maksimum sebesar : mak = l/480 , dengan :l = 5000mm =

36 x5 = 350kN = 350000 N = 35000kg 2 V max .Q 35000 x1x0.15 x0.075 max = = = 175000kg / m2 1 b.Ix 3 1x x1x0.3 12 V ' = 175000 * 1 * 0.3 = 52500kg V max = 260 +
Direncanakan shear conector menggunakan tulangan dengan 12 dengan kuat putus 3700 kg/cm2, dengan geometri seperti gambar dibawah:

5000 = 10.417 mm 480

Untuk lendutan pada pelat konvensional dihitung dengan rumus : =

Gambar 6.7 Geometri Shear Conector Kuat geser shear conector : Ab = 0.25 x 3.14 x 122 = 113.04 mm2 Pn = 0.75 x 0.5 x Ab x Fu = 0.75 x 0.5 x 1.1304 x 3700 =1568,43 kg Pu = 52500 kg Jumlah shear conector setiap meter =52500/1568,43 = 33 buah Jarak shear conector = 1000/33 = 30 cm Kontrol kekuatan shear conector saat pengangkatan : Kuat tari beton = 0.7 f ' c = 0.7 30 = 3,834 Mpa Berat Sendiri Beton = 2400 x 0.15 x 5 x 1 =1800 kg Gaya yang diterima setiap pegangan = 1800/4 = 450 kg Kekuatan = 3.14 x 16 x 50 x2 x 3,84 = 19262,3 =1926,23 kg < 450 kg (ok )
Pegangan pengangkatan precast

5 M ln 2 48 Ec Ie

Ie = Ig = 11,25. 109 mm4 sehingga lendutan yang terjadi adalah : (D + L) =

5 M ln 2 48 Ec Ie

5 (239000000)(5000) 2 48 (25742.96)(11.25 x 10 9 )

= 2.149 mm < ijin (10.417 mm) .(aman) Perhitungan tegangan geser pada shear conector :
260 kN 260 kN
0.81 1.25 0.25 L 5.00

6.3

Gambar 6.8 Pegangan pada Precast Perencanaan Pilar Pilar direncanakan untuk mampu menerima semua beban yang diterima oleh pelat dan beban dari air dengan h = 11 m,

10

lumpur pada kolam penampungan diasumsikan dengan c=0 dan =0, sehinngga harga Ka dari lumpur = 1 diasumsikan sama dengan air.
5.00 2.00 2.00

Penulangan Utama Rasio tulangan perlu = 0.0166 lebih kecil dari rasio tulangan maksimum = 0.024, dan lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0035, sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu. As perlu = perlu x b x d = 0.0166 x 300 x 742 = 3695 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 222 = 201 mm2 Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 3695/201 = 9.726 Dipakai 10D22 Penulangan Geser

13.00 11.00

0.80

5.00 6.50

Gambar 6.9 Geometri Pilar Perencanaan Konsol


Ptruk = 13000 kg qd=1800 kg/m

Vd =

qdxl 1800 x1.5 = = 1350kg 2 2 P 13000 = 6500kg Vl = truk = 2 2 Vu = 1.2Vd + 1.6Vl = 12020kg = 120200 N Vc = f ' c xbxd 30 x300 x742 = = 406410,14 N 3 3 Vc = 0,85 x 406410.14 = 325128.11N > Vu

2.00

0.80

Tidak membutuhkan tulangan geser, sehingga dipasang tulangan geser minimum, D12-200

1.50
Gambar 6.10 Geometri dan Pembebanan Konsol b : 30 cm h : 80 cm fc : 30 Mpa fy : 400 Mpa Dtulangan : 22 mm Decking : 40 mm dx : 74,2 cm : 0.85

Perencanaan Kolom Pilar


P

13.00

E air E lumpur

Md =

1 1 xqdxl 2 = x1800 x1.5 2 = 2025kg.m 2 2 Ml = Ptruk xl = 13000 x1.5 = 19500kg.m


Mu = 1.2Md + 1.6Ml = 33630kg.m = 336,300,000 Nmm

Mn =

Mu 336,300,000 = = 395,647,058.8 Nmm 0.85 0.85


11

Gambar 6.11 Pembebanan Pada Pilar

Beban Vertikal : Beban Mati: Pelat=2400x0.3x5x2.5= 9000 kg Sendiri = 2400x98.2x0.3= 70704 kg Beban Kendaraaan: P truk = 2x130 =26000 kg Beban Horisontal: Air = 0.5xairxh2x0.3 = 0.5x1000x112x0.3 = 10890 kg Beban Momen:

Tidak membutuhkan tulangan geser, sehingga dipasang tulangan geser minimum, D13-200 Kontrol Terhadap Gaya Aksial

Pn = 0.80 x (0.85 xf ' c( Ag Ast ) + fyxAst


= 0.80 x 0.85 x (0.85x30(523257,144) + 400 x 76743 = 39770478.88 N > Pu = 1,372,448 N (ok ) 6.4 Perencanaan Pelimpah dan Portal Penahan

M air

H 11 = Pair x air = 10890 x = 39930kg.m 3 3


Pilar direncanakan dengan dimensi sebagai berikut : b : 30 cm h : 200 cm fc : 30 Mpa fy : 400 Mpa Dtulangan : 22 mm Decking : 50 mm dx : 192.6 cm : 0.85 Penulangan Utama :

39930 = 46976kg.m = 469,760,000 Nmm Mnair = 0.85 Rasio tulangan perlu = 0.001064 lebih kecil dari rasio tulangan minimum = 0.0035,sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan minimum. As perlu = perlu x b x d = 0.0035 x 300 x 1926 = 2022 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 222 = 379,9 mm2
Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 2022/379,9 = 5,323 Dipakai 12D22 Penulangan Geser
f ' c xbxd 30 x300 x1962 = = 1,054,913.646 N 3 3

Gambar 6.12 Pembebanan Pada Pilar

Vu = 10890kg = 108900 N
Vc =

Vc = 0,85 x 406410.14 = 325128.11N > Vu

Gambar 6.13 Pemodelan Struktur dengan SAP 2000 Perencanaan Balok Portal Penahan Balok direncanakan dengan beban maksimum yang diperoleh dari perhitungan

12

salah satu balok pada struktur dengan bantuan program SAP 2000. b : 40 cm h : 60 cm fc : 30 Mpa fy : 400 Mpa Dtulangan : 22 mm D geser : 13 mm Decking : 40 mm dx : 53.6 cm : 0.85 Dari Perhitungan dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh Output untuk balok sebagai berikut : M lap = 43408.29 kg.m M tmp = -36744.96 kg.m P max = 100.58 kg P min = -82196.03 kg V max = 45952.18 kg Penulangan Lapangan Balok Mu = 43408.29 kg.m = 434,082,900 N.mm

Penulangan Geser

Vu = 45952.18kg = 459521.8 N f ' c xbxd 30 x 400 x536 = = 391439 N Vc = 3 3 Vc = 0,85 x391439 = 332723.1963 N < Vu
Jadi Perlu Tulangan geser : Gaya geser yang diteriam oleh tulangan adalah sebesar = Vu Vc =126798.6037 N Av tul = 2 x 3.14 x 0.25 x D2 = 265,33 mm2 A xfyxd Jarak Tulangan geser = v = 448 mm

Vs

Sehingga dipasang tulangan geser minimum, D13-200 Kontrol Terhadap Gaya Aksial

Pn = 0.80 x (0.85 xf ' c( Ag Ast ) + fyxAst


= 0.80 x 0.85 x (0.85x30(91980.4) + 400 x 148019.6 = 14,054,652 N > Pu = 821960.3N (ok ) Penulangan Tumpuan Balok

Mn =

Mu = 510,685,765 0.85

Rasio tulangan perlu = 0.0125 lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0035,sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu. As perlu = = = = = = perlu x b x d 0.0125 x 400 x 536 2636 mm2 0.25 x 3.14 x D2 0.25 x 3.14 x 222 379,9 mm2

Mu = 36744.96 kg.m = 367,449,600 N.mm

Mn =

Mu = 459,312,000 0.85

As tiap tul.

Rasio tulangan perlu = 0.010929 lebih besar dari rasio tulangan minimum = 0.0035,sehingga tulangan direncanakan dengan menggunakan rasio tulangan perlu. As perlu = perlu x b x d = 0.010929 x 400 x 536 = 2343 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 222 = 379,9 mm2 Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 2343/379,9 = 6.167 Dipakai 7D22

Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 2636/379,9 = 6.938 Dipakai 8D22

Gambar 6.14 Penulangan Lapangan Balok Gambar 6.15 Penulangan Tumpuan Balok 13


Vc =

Penulangan Geser
f ' c xbxd 30 x 400 x536 = = 391439 N 3 3

Vu = 45952.18kg = 459521.8 N

kolom, mensyaratkan tulangan minimum pada kolom adalah 1% dari penampang beton. Kolom tegak Kolom miring

Vc = 0,85 x391439 = 332723.1963 N < Vu


Jadi Perlu Tulangan geser : Gaya geser yang diteriam oleh tulangan adalah sebesar = Vu Vc =126798.6037 N Av tul = 2 x 3.14 x 0.25 x D2 = 265,33 mm2 Av xfyxd Jarak Tulangan geser = = 448 mm

Vs

Sehingga dipasang tulangan geser minimum, D13-200 Kontrol Terhadap Gaya Aksial

Pn = 0.80 x (0.85 xf ' c( Ag Ast ) + fyxAst


= 0.80 x 0.85 x (0.85x30(201531.86) + 400 x 38468.14 = 18,881,818.45 N > Pu = 821960.3N (ok ) Perencanaan Kolom Penahan Batu Kali Kolom direncanakan dengan beban maksimum yang diperoleh dari perhitungan salah satu kolom pada struktur dengan bantuan program SAP 2000. b h fc fy Dtulangan D geser Decking dx : : : : : : : : : 50 50 30 400 22 13 40 43.6 0.85 cm cm Mpa Mpa mm mm mm cm

Gambar 6.16 Geometri Portal Penulangan Kolom Miring Dari Perhitungan dengan menggunakan program SAP 2000 didapatkan rasio perlu = 0.005 lebih kecil dari rasio tulanagan minimum yang disyaratkan pada buku (Dr. Edward G. Nawy, P.E.) adalah 1%, jadi tulangan kolom didesain dengan menggunkan rasio tulangan minimum. As perlu = = = = = = perlu x b x d 0.01 x 500 x 436 2180 mm2 0.25 x 3.14 x D2 0.25 x 3.14 x 222 379,9 mm2

As tiap tul.

Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 2180/379,9 = 5.738 Dipakai 20D22

Dari Perhitungan dengan menggunakan program SAP 2000 diperoleh Output untuk balok sebagai berikut : M lap = 36198.89 kg.m M tmp = -32212.73 kg.m P max = 71975.21 kg P min = -168132.79 kg kg V max = 44904.23 Dari buku Beton bertulang Dr. Edward G. Nawy, P.E. pada Bab 9.9 yang membahas Tinjauan desain praktis untuk 14

Gambar 6.18 Penulangan Kolom Miring Tulangan Geser Kolom Miring

Vu = 44904.23kg = 449042.83
Vc =

Vc = 0,85 x398011.73 = 398011.73N < Vu

f ' c xbxd 30 x500 x 436 = = 398011.73 N 3 3

Jadi Perlu Tulangan geser : Gaya geser yang diteriam oleh tulangan adalah sebesar = Vu Vc =110732.864 N Av tul = 2 x 3.14 x 0.25 x D2 = 265,33 mm2 A xfyxd Jarak Tulangan geser = v = 417.9 mm

Vs

Sehingga dipasang tulangan geser minimum, D13-200 Kontrol Terhadap Gaya Aksial

Gambar 6.20 Penulangan Kolom Tegak Tulangan Geser Kolom Tegak f ' c xbxd 3 30 x500 x 436 = 398011.73 N 3

Pn = 0.80 x (0.85 xf ' c( Ag Ast ) + fyxAst


= 0.80x0.85x(0.85x30(208112.4)+400x41888 = 20,363,709.02 N > Pu =1,681,327.9N (ok ) Kontrol Terhadap Beban Monen

Vu = 44904.23kg = 449042.83
Vc = =

cb =

600 d = 261.6 mm, 600 + fy

Vc = 0,85 x398011.73 = 398011.73N < Vu


Jadi Perlu Tulangan geser : Gaya geser yang diteriam oleh tulangan adalah sebesar = Vu Vc =110732.864 N Av tul = 2 x 3.14 x 0.25 x D2 = 265,33 mm2 A xfyxd Jarak Tulangan geser = v = 417.9 mm

a Mn = 0.85. f ' c.b.a.( y ) + A' s. fy.( y d ' ) + As. fy.(d y ) 2

= 0.85 a = Cb x = 261.6 x 0.85 = 222.4 mm As = As = 3.14x0.25xD2 = 2280 mm2 d = 436 mm d = 40 mm y = 250 mm

Vs

= 0.85 x 30 x 500 x (250-111.2) + 2280x400 x (250-40) + 2280x400x(436-250) = 924,267,385.8 Nmm = 92,426.74 kg.m> Mu =36198.89 kg.m (ok) Penulangan Kolom Tegak

Sehingga dipasang tulangan geser minimum, D13-200 Kontrol Terhadap Gaya Aksial

Pn = 0.80 x (0.85 xf ' c( Ag Ast ) + fyxAst


= 0.80x0.85x(0.85x30(208112.4)+400x41888 = 20,363,709.02 N > Pu =1,681,327.9N (ok ) Kontrol Terhadap Beban Momen

Dari Perhitungan dengan menggunakan program SAP 2000 didapatkan rasio perlu = 0.005 lebih kecil dari rasio tulanagan minimum yang disyaratkan pada buku (Dr. Edward G. Nawy, P.E.) adalah 1%, jadi tulangan kolom didesain dengan menggunkan rasio tulangan minimum As perlu = perlu x b x d = 0.01 x 500 x 436 = 2180 mm2 As tiap tul. = 0.25 x 3.14 x D2 = 0.25 x 3.14 x 222 = 379,9 mm2 Jumlah tulangan yang dibutuhkan = 2180/379,9 = 5.738 Dipakai 20D22

cb =

600 d = 261.6 mm, 600 + fy

= 0.85 a = Cb x = 261.6 x 0.85 = 222.4 mm As = As = 3.14x0.25xD2 = 2280 mm2 d = 436 mm d = 40 mm y = 250 mm


a Mn = 0.85. f ' c.b.a.( y ) + A' s. fy.( y d ' ) + As. fy.(d y ) 2

= 0.85 x 30 x 500 x (250-111.2) + 2280 x 400 x (250-40) + 2280x400x(436-250) = 924,267,385.8 Nmm = 92,426.74 kg.m> Mu =36198.89 kg.m (ok)

15

6.4

Perencanaan Pondasi ey = 2 x 29.46 x3.3 + 148.34 x 2.5 + 7.5 x 2.5 = 1.294m 214.783

Pondasi direncanakan dengan menggunakan pondasi tiang pancang dengan analisa daya dukung tanahnya dianalisa dengan metode perhitungan Luciano Decourt dan analisa tianga kelomok untuk mengetahui beban yang diterima oleh masing masing tiang pancang, diameter tiang pancang yang digunakan adalag 40 cm dengan anagka kemanan 3. Perhitungan pondasi dilakukan dengan menganalisa tiap bentang 5 meter.

n = 15 tiang P = 855.321 ton Mx = 0 ton.m My = 95.112 ton.m SX2 = (6 x 2. 5) + (6 x 1.25) = 22.5 m2 SY2 = 10 x 2.5 = 25 m2

P max =

p My.x 855.321 95.112 x 2.5 + = + n X 2 15 22.5

= 57.021 + 10.568 = 67.589 ton

P min =

p My.x 855.321 95.112 x 2.5 + = n X 2 15 22.5

Gambar 6.21 Rencana Pondasi Tiang Pancang Beban Beban Yang Diterima Pondasi :
Berat sendiri Struktur setiap potongan 5 meter : NO Uraian 1 Pelimpah 2 3 4 5 6 Pelat Pilar Pile cap Kolom Balok P (m) 5 5 0.3 5 61.550 300.477 LUAS (m2 ) 29.673 1.5 98.2 4 0.25 0.24 VOLUME (m3 ) 148.363 7.5 29.46 20 15.388 72.114
( kg/m3) BERAT (Kg)

= 57.021 10.568 = 46.453 ton Pu = P max x SF = 67.589 x 3 = 202.767 ton Dengan mengambil angka keamanan sama dengan 3 maka diambil kedalaman tiang sama dengan 28 m, dari perhitungan daya dukung tanah terhadap tiang pancang dengan menggunakan metode Luciano Decourt pada lampiran. Menghitung Momen Pada setiap Tiang Pancang Dari perhitungan pada Tabel 6.3 di atas diperoleh : H = 327850 kg H/tiang = 327850/15 = 21856.67 kg P = 855321 kg M = 9511.858 kgm H H

2000 2400 2400 2400 2400 2400 total

296725 18000 70704 48000 36930.24232 173074.6885 643433.9308

NO

Beban Air
Uraian S truktur Besar (kg)

AIR

Pelimpah Pilar

302500 25350

1 2

Beban Mati + Beban Air


P (kg) 855321 Momen (kg.m) 1202116.667 -1107004.809 95111.858 AIR Vertikal TOTAL 327850

NO BEBAN H (kg)

Cap :

Eksentrisitas Beban Terhadap Pile Gambar 6.22 Defleksi Lateral Tiang Pancang Mencari momen yang bekerja pada Pile cap :

Geometri pelimpah dan geometri pilar adalah simetris terhadap sumbu x, sehingga eksentrisitas dicari hanya terhadap sumbu y :

ey =

2 xVpilarx3.3 + Vpel.mpahx 2.5 + Vpelatx 2.5 16 Vtotal

= 2.1 105 kg/cm2 1 = 4 4 64 1 = (604 404 ) 64 = 510250 cm4 q u = 2 C u = 2 x 0.41 kg/cm2 = 0.82 kg/cm2 = 0.84 ton/ft2 Dengan memasukkan harga q u dalam grafik dari Design Manual, NAVFAC DM-7 untuk mencari besarnya f, maka diperoleh : f = 10.5 ton/ft2 = 10.5 x 0.032 = 0.336 kg/cm3 maka : 2.1 105 510250 5 = = 151.72 0.336 L = 28 m = 2800 cm 2800 = = = 18.46 151.72 Dengan memasukkan harga Z dalam grafik dari Design Manual, NAVFAC DM-7 untuk mencari nilai FM maka diperoleh : F M = 0.9 M = F M (H x T ) =0.9 (21856.67 x 151.72) = 2984484.575 kg.cm =29.845 t.m < Mall = 58.m
1

1. Bila perlu data mengenai sedimen seharusnya disertakan dalam melakukan analisa di atas. 2. Studi lanjutan diperlukan untuk membahas metode pelaksanaan dan anggaran biaya agar mempermudah aplikasi dilapangan.

7.1

Kesimpulan

Dalam perencanaan Tugas Akhir ini dapat diperoleh kesimpulan yaitu : 1. Dalam perencanaan tinggi timbunan untuk pelimpah direncanakan setinggi 11 m 2. Tinggi awal timbunan (H initial ) yang harus diletakkan sebelum pemampatan terjadi adalah 13.3 m 3. Total settlement (Sc) yang akan terjadi adalah 2.3 m dan untuk menghilangkan 95% dari total Sc (U% = 95%) diperlukan waktu 22 tahun. 4. Untuk alternatif pelimpah didapatkan dimensi balok penahan batu kali 40/60 dan kolom 50/50, pondasi mengggunkan 15 tiang pancang dengan tebal pile cap sebesar 80 cm

7.2

Saran

Dari hasil analisa perhitungan yang dilakukan dan kesimpulan diatas, maka saran yang diberikan antara lain: 17