You are on page 1of 4

JKK, tahun 2013, volume 2 (1), halaman 34-37

ISSN 2303-1077

EKSTRAKSI MANGAN DENGAN PROSES LEACHING ASAM SULFAT MENGGUNAKAN TANDAN KOSONG SAWIT SEBAGAI REDUKTOR
Hendro Wahyudi1*, Titin Anita Zaharah1 dan Nelly Wahyuni1
Program Studi Kimia1, Fakultas MIPA, Universitas Tanjungpura, Jl, Prof. Dr. Hadari Nawawi, email: hendro.wahyudi87@gmail.com

ABSTRAK Tambang mangan di Kalimantan Barat, khususnya dilokasi Menterado, Kabupaten Bengkayang belum dilakukan pengolahan dan pemurnian secara optimal. Oleh karena itu, perlu dilakukan proses pengolahan dan pemurnian untuk memperoleh konsentrat mangan yang tinggi. Pada penelitian ini, telah dilakukan ekstrasi Mangan dengan proses leaching asam sulfat menggunakan reduktor tandan kosong sawit. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan konsentrasi maksimum dari asam sulfat yang digunakan pada proses leaching Mangan. Sebanyak 10 g bijih Mangan dileaching menggunakan asam sulfat dengan 5 g reduktor serbuk tandan kosong sawit pada temperatur 90 oC selama 120 menit (perbandingan rasio bijih dan reduktor, 2:1). Pada proses leaching terjadi reaksi reduksi dimana mangan (IV) dioksida direduksi oleh selulosa dari tankos menjadi mangan (II) sulfat. Konsentrasi asam sulfat yang digunakan dalam penelitian ini yaitu 0,5; 1,0; 1,5 dan 2,0 M. Analisis logam Mn dilakukan menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. Berdasarkan hasil penelitian, kondisi maksimum ekstraksi Mn diperoleh pada konsentrasi asam sulfat 2,0 M dengan perolehan Mn sebesar 81,99%. Kata Kunci: Mangan, ekstraksi, leaching

PENDAHULUAN Kalimantan Barat memiliki potensi kekayaan alam yang berlimpah seperti bahan mineral tambang, perkebunan dan secara geografis berada di posisi strategis. Potensi sumber daya alam jenis tambang seperti bauksit, emas, pasir besi, batu bara, uranium dan mangan telah dilakukan eksploitasi. Tambang Mangan di Kalimantan Barat, khususnya di kabupaten Bengkayang belum dikelola secara optimal dari sisi penambangan, pemurnian, pengolahan maupun pemasarannya. Potensi bahan galian di kabupaten Bengkayang hampir tersebar merata di setiap kecamatan. Salah satunya adalah mineral galian mangan yang merupakan endapan sedimen dan residual. Pemanfaatan mangan sebagian besar digunakan untuk tujuan metalurgi, yaitu untuk proses produksi besi baja sedangkan penggunaan mangan untuk tujuan non metalurgi antara lain untuk produksi baterai kering, keramik, gelas dan bahan kimia (Sahoo, et al., 2001). Banyak upaya penelitian telah diterapkan untuk mengembangkan proses hidrometalurgi komersial untuk memperoleh mangan dari bijih. Bijih mangan dapat diekstraksi dengan penambahan zat pereduksi yang diikuti oleh leaching asam (Sahoo dan Srinivasa, 1989) atau langsung oleh leaching asam reduktif menggunakan zat pereduksi asam yang berbeda, yang meliputi asam klorida dan pirit (Kanungo, 1999), campuran larutan metanol dengan asam sulfat (Momade and Momade, 1999), campuran alkohol dengan asam klorida (Jana, et al., 1995), asam sulfat dengan oksalat (Sahoo, et al., 2001), campuran asam sulfat dengan sukrosa (Veglio dan Toro, 1994), dan larutan glukosa dalam media asam (Trifoni, et al., 2000; Furlani, et al., 2006). Mangan di alam, sebagian besar sebagai pirolusit (MnO2) yang stabil dalam asam atau alkali pengoksidasi, sehingga proses leaching Mangan dari sumber dilakukan dalam kondisi tereduksi. Beberapa zat pereduksi telah digunakan sebelumnya dalam media asam yang berbeda seperti batubara, pirit, besi sulfat, sulfur dioksida dan peroksida (Zhang, et al., 2007). Zat pereduksi seperti sulfur dioksida dan peroksida dapat membahayakan lingkungan. Oleh karena itu, banyak penelitian telah berfokus pada leaching bijih mangan menggunakan reduktor organik terutama karbohidrat seperti glukosa, sukrosa, selulosa, laktosa, asam oksalat dan lain-lain. Karbohidrat bersifat tidak berbahaya, rendah biaya dan mudah diperoleh dalam bentuk murni atau sebagai limbah. Berdasarkan studi bahwa karbohidrat merupakan reduktor yang efektif digunakan pada temperatur kurang dari 90 oC (Su, et al., 2008). Tandan kosong sawit merupakan salah satu limbah padat yang berasal dari proses pengolahan industri kelapa sawit. Menurut

34

JKK, tahun 2013, volume 2 (1), halaman 34-37


(Aryafatta, 2008), komposisi tandan kosong sawit sebagian besar terdiri dari selulosa 45,95%, hemiselulosa 22,84%; lignin 16,49%; dan abu 1,23%. Ekstraksi Mangan dari bijih Mangan yang berasal dari Menterado, Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat belum dikaji dan diteliti lebih lanjut mengenai poses pemurniannya. Pada penelitian dilakukan proses ekstraksi Mangan dengan leaching asam sulfat menggunakan reduktor tandan kosong sawit pada kondisi temperatur 90 oC selama 120 menit. METODOLOGI PENELITIAN Penetuan Kadar Air Bijih Mangan (ICS 13.080.99) Analisis kadar air pada bijih mangan dilakukan dengan metode Gravimetri. Ditimbang dan dicatat berat cawan porselin yang digunakan, dimasukkan contoh uji sebanyak 5 g ke dalam cawan porselin yang telah ditimbang, lalu dipanaskan pada oven dengan suhu 105 oC selama 2 jam. Kemudian didinginkan dan dimasukkan ke dalam desikator sampai dingin. Selanjutnya ditimbang dan dicatat berat cawan porselin. Diulangi sampai berat konstan. Penentuan Kadar MnO2 dalam Bijih Mangan (SNI 13-4698-1998) Preparasi Sampel Sampel bijih mangan yang digunakan diambil dari area tambang di Menterado, kabupaten Bengkayang. Bijih mangan dicuci dengan akuades, dikeringkan dalam oven pada temperatur 60-80 oC selama 2 jam. Kemudian sampel digiling hingga halus dan diayak menggunakan ayakan 200 mesh. Selanjutnya sampel disimpan dalam wadah tertutup dan siap untuk digunakan. Leaching Mangan (Sue, et al., 2008). Sebanyak 10 g sampel hasil preparasi ditambahkan 50 ml H2SO4 diaduk pada T= 90 oC, dan proses leaching dimulai setelah penambahan serbuk tandan kosong sawit kedalam larutan. Rasio perbandingan bijih dan reduktor = 2:1. Setelah 120 menit, campuran disaring dan residu dicuci dengan akuades. Filtrat yang diperoleh kemudian diencerkan dengan larutan HNO3 (pH=2) untuk analisis selanjutnya. Analisis Logam Mn hasil leaching dianalisis menggunakan Spektrofotometer Serapan Atom. HASIL DAN PEMBAHASAN

ISSN 2303-1077

Analisis Kadar Air dan Penentuan Kadar MnO2 Analisis kadar air dilakukan untuk mengetahui kandungan air yang terkandung dalam bijih mangan. Kandungan air yang besar dalam bijih akan mengurangi kualitas dari bijih tersebut, karena dapat menyebabkan kelembaban yang tinggi sehingga mempengaruhi berat sampel yang akan dianalisis. Penentuan MnO2 dilakukan dengan metode titrasi permanganometri, pada proses ini terjadi reaksi redoks, dimana mangan (IV) dioksida tereduksi menjadi mangan (II) dalam suasana asam dengan penambahan oksalat. Kelebihan oksalat yang bereaksi dititrasi oleh KMnO 4. Jumlah MnO2 ditentukan berdasarkan jumlah oksalat yang bereaksi dengan MnO 2. Berdasarkan hasil analisis kadar air dan penentuan kadar MnO2 dalam bijih, diperoleh kadar air dalam bijih sebesar 2,0% dan kadar MnO2 sebesar 84,47%. Preparasi Sampel Preparasi sampel bijih Mangan meliputi beberapa tahap yaitu: pencucian, pengeringan, pengerusan (grinding), dan pengayakan. Pencucian bijih mangan dengan akuades yang bertujuan untuk melarutkan pengotor-pengotor yang bersifat menempel pada permukaan bijih. Pengeringan sampel bertujuan mengurangi kandungan air yang terikat dalam sampel yang dapat mempengaruhi pengukuran berat sampel. Penggerusan (grinding) bertujuan memperkecil ukuran partikel, membebaskan ikatan antar mineral bijih dan pengotor dan pengayakan dengan ayankan 200 mesh bertujuan menyeragamkan ukuran partikel sehingga diperoleh distribusi ukuran partikel yang sesuai. Ekstraksi (leaching) Mangan Pada proses leaching, penggunaan asam sulfat encer berfungsi untuk melarutkan logam Mn. Asam sulfat bereaksi dengan kebanyakan logam menghasilkan gas hidrogen dan logam sulfat. Sebagai contoh, asam sulfat encer bereaksi dengan besi, aluminium, seng, mangan, magnesium, dan nikel dengan reaksi penggantian tunggal (Wikipedia, 2010). Dalam asam sulfat, mangan (IV) dioksida akan tereduksi menghasilkan ion mangan (II) dan gas oksigen.
2MnO2 + 2H2SO4 2Mn2+ + O2 + 2SO42- +2H2O

35

JKK, tahun 2013, volume 2 (1), halaman 34-37


Senyawa mangan (IV) bersifat tidak stabil, karena ion mangan (IV), mudah tereduksi menjadi mangan (II). Proses leaching berlangsung setelah penambahan reduktor tandan kosong sawit. Selulosa yang terdapat dalam tandan kosong sawit mengalami reaksi oksidasi dan MnO2 mengalami reaksi reduksi dalam asam sulfat. Berikut reaksi kimia MnO2 dengan selulosa (Hariprasad, et al., 2009).
12n MnO2 + (C6H10O5)n+12n H2SO4 +6n CO2 + 17n H2O 12n MnSO4

ISSN 2303-1077
mengetahui kadar mangan yang diperoleh dari proses leaching.
90 80 70 % Mn ekstraksi 60 81,9935

50
40 30 20 10 0 0,5 1,0 1,5 31,792 40,1245

45,527

2,0

Penggunaan reduktor organik telah banyak digunakan dalam proses leaching karena sifatnya yang ramah lingkungan dan rendah biaya. Reduktor organik yang umum digunakan merupakan kelompok monomer karbohidrat, turunan aldehid, dan keton karena memiliki gugus fungsi yang mudah teroksidasi. Menurut (Su, et al., 2008; Hariprasad, et al., 2009; Veglio, et al., 1994), proses leaching dipengaruhi oleh beberapa faktor antara lain ukuran partikel, konsentrasi zat leaching, efek temperatur dan waktu leaching. Laju leaching meningkat dengan berkurangnya ukuran partikel, karena semakin kecil partikel maka luas permukaannya akan semakin besar sehingga memungkinkan terjadinya kontak antara padatan terhadap cairan. Laju leaching juga dipengaruhi oleh konsentrasi zat leaching, dengan meningkatnya konsentrasi akan menyebabkan laju leaching meningkat. Pada proses leaching dilakukan pengadukan yang bertujuan mempermudah terjadinya dispersi partikel yang menyebabkan terjadinya tumbukan antar partikel menjadi lebih cepat. Pemilihan temperatur leaching pada 90oC dan waktu leaching 120 menit didasarkan pada kondisi optimal leaching mangan yang dilakukan Su, et al., 2008; dan Hariprasad, et al., 2009. Karena pada kondisi ini, efisiensi perolehan logam Mangan meningkat dengan menurunnya efisiensi logam-logam lain. Peningkatan temperatur dan waktu leaching memberikan pengaruh terhadap jumlah pengotor logam lain yang larut dalam larutan, sehingga perlu diketahui temperatur dan waktu leaching yang optimal agar dapat memaksimalkan perolehan logam mangan. Pada proses leaching, filtrat dan residu yang terbentuk dipisahkan dengan penyaringan menggunakan kertas saring. Selanjutnya filtrat yang mengandung logam mangan dianalisis menggunakan spektrofotometer serapan untuk

Konsentrasi H2SO4

Gambar 1. Pengaruh terhadap % Mn ekstraksi

konsentrasi

H2SO4

Berdasarkan Gambar 1, konsentrasi asam sulfat memberikan pengaruh yang besar terhadap peningkatan persen ekstraksi. Dengan meningkatnya konsentrasi asam sulfat, maka terjadi peningkatan perolehan logam mangan. Konsentrasi maksimum H2SO4 2,0 M memiliki perolehan mangan paling besar yaitu 81,99%. Dengan demikian, dapat dikatakan bahwa pada konsentrasi H2SO4 2,0 M merupakan konsentrasi yang paling efektif untuk mengekstraksi logam mangan dalam bijih. Peningkatan konsentrasi asam sulfat menyebabkan peningkatan intensitas serangan meningkatnya proton H+. Penyerangan proton terjadi karena ukurannya yang kecil dan potensial ionnya yang besar sehingga ion H + dapat masuk ke dalam kisi-kisi mineral dan menggantikan posisi kation yang lepas. Berdasarkan rentang konsentrasi yang dilakukan pada penelitian ini, dapat dilihat bahwa semakin meningkatnya konsentrasi H2SO4 yang digunakan pada ekstraksi logam mangan, maka kemampuan H2SO4 melarutkan mineral akan semakin besar, sehingga meningkatkan perolehan logam Mangan SIMPULAN Berdasarkan hasil penelitian yang telah dilakukan, maka dapat disimpulkan bahwa ekstraksi mangan berhasil dilakukan dengan proses leaching asam sulfat menggunakan reduktor tandan kosong sawit. Konsentrasi H2SO4 2,0 M merupakan konsentrasi maksimum yang efektif dalam proses ekstraksi mangan tersebut dengan perolehan Mn, yaitu sebesar 81,99%.

36

JKK, tahun 2013, volume 2 (1), halaman 34-37


DAFTAR PUSTAKA Aryafatta, 2008, http://new.infogue.com/ mengolah-limbah-sawit-jadi-bioetanol, diakses pada tanggal 5 mei 2010. Das, S.C., Sahoo, P.K., 1982, Extraction of Manganese from Low Grade Mnganese Ore by FeSO4 Leaching, Hydrometallurgy 8, 35- 47. Furlani, G., Pagnanelli, F., Toro, L., 2006, Reductive Acid Leaching of Manganese Dioxide with Glucose: Identification of Oxidation derivatives of Glucose, Hydrometallurgy 81, 234-240. Haifeng, Su., Yanxuan Wen, Fan Wang, Y. Sun, Zhangfa Tong., 2008, Reductive Leaching of Manganese from Low Grade Manganese Ore in H2SO4 Using Cane Molasses as Reductant, Hydrometallurgy 93, 136-139. Hariprasad, D., Dash B, Gosh M.K., and Anand, S., 2009, Mn recovery from medium grade ore using a waste cellulosic reductant, Indian Journal of Chemical Technology 16 , 322-327. Hazek, M.N. EI, Lasheen, T.A., Helal, A.S., 2006, Reductive Leaching of Manganese from Low Grade Sinai Ore in HCl using H2O2 as Reductant, Hydrometallurgy 84, 187-191. Ismangil dan Hanudin, E., 2005, Degradasi Mineral Batuan oleh Asam-asam Organik, Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan , Vol 5(1), 1-7. Jana, R.K., Singh, D.D.N., Roy, S.K., 1995, Alcohol-modified Hydrocloric Acid Leaching of Sea Nodules, Hydrometallurgy 38 (3), 289-298. Jiang, T., Yang, Y., Huang, Z., Zhang, B., Qiu, G., 2004, Leaching Kinetics of Pyrolusite from Manganese Silver Ore in the Presence of Hydrogen Peroxide, Hydrometallurgy 72, 129-138. Kanungo, S.B.,1999, Rate Process of the Reduction Leaching of Manganese Nodule in Dilute HCl in Presence of Pyrite, Part 1: Dissolution behavior of Iron and Sulphur Species during Leaching, Hydrometallurgy 52, 313-330. Momade, F.W.Y., Momade, Z.G., 1999, Reductive Leaching of Manganese Ore in Aqueous Methanol-Sulphuric Acid Medium, Hydrometallurgy 51, 103113. Trifoni, M., Toro, L., Vegli, F., 2001, Reductive Leaching of Manganiferous Ores by Glucose and H2SO4: Effect of Alcohols, Hydrometallurgy 59, 1-14.

ISSN 2303-1077

37