You are on page 1of 20

Azolla Azolla berasal dari bahasa Yunani dan terdiri dari dua kata yaitu, azo yang memiliki

arti mengering dan ollyo yang memiliki arti mati, nama itu sesuai dengan syarat hidup Azolla yang sensitif dan akan mati dalam waktu beberapa jam jika kekeringan. Azolla merupakan paku air yang banyak ditemukan di persawahan atau kolam-kolam. azollae Azolla untuk

bersimbiosis

dengan

Anabaena

memfiksasi nitrogen.

Pada tahun 1783 J. B. Lammarck pertama kali menempatkan Azolla dalam family Salviniaceae, namun setelah penelitian lebih lanjut, para peneliti menempatkan Azolla pada family tersendiri yaitu family Azollaceae. Menurut Khan (1983) dalam Rizal (2010) terdapat sebanyak 701 turunan Azolla yang berhasil didata oleh The International Rice Research Institue (IRRI). Genus Azolla terbagi dalam dua subgenus yaitu Euazolla dan Rhizosperma. Terdapat 5 spesies yang termasuk dalam subgenus Euazolla yaitu A.

caroliniana, microphylla

A. dan

filiculoides, A. rubra.

A.

mexicana,

A.

Sementara

dalam

subgenus Rhizosperma terdapat 2 spesies, A. pinnata dan A. nilotica. A. pinnata tersendiri persebarannya terbagi 2 sesuai dengan subspesiesnya yaitu A. pinnata var. Imbricata yang tersebar di sekitaran Asia dan A. pinnata var. Pinnata yang tersebar di Afrika dan biasa dikenal dengan Afrika Strain. A. pinnata adalah jenis Azolla yang banyak ditemukan dan dibudidayakan di Indonesia. Oleh sebab itulah, buku ini akan membahas mengenai Azolla pinnata serta pemanfaatannya supaya memberikan manfaat.

Klasifikasi Menurut Kahn (1983) dalam Arizal (2010)

klasifikasi Azolla pinnata adalah sebagai berikut : Kingdom Divisi Class Ordo Family Genus : Plantae : Pteridophyta : Leptosporangiopsida : Salviniales : Azollaceae : Azolla (Rhizosperma)

Species

: Azolla pinnata

Morfologi Azolla pinnata merupakan salah satu anggota pteridophyta yang sudah termasuk dalam jenis tumbuhan kormus sehingga sudah bisa dibedakan antara daun, akar, dan batang namun A. pinnata tidak memiliki batang atau cabang melainkan rimpang tempat tumbuhnya akar dan menempelnya daun. A. pinnata tumbuh mengambang di atas air dengan akar adventitif yang berada di dalam air. Akar soliter tersebut memiliki panjang 1-5 cm dan membentuk kelompok 3-6 rambut akar. Daunnya kecil berbentuk triangular atau trapezoidal dengan ukuran 2-4 x 1 cm. Susunan daun membentuk 2 atau 3 bariasan dengan duduk daun yang menyirip bervariasi dan tumpang tindih. Tiap-tiap daun memiliki 2 cuping, cuping dorsal berada di atas permukaan air, sementara cuping ventral berada di bawah

permukaan air. Di cuping ventral terdapat alga Cyanophyta, yaitu Anabaena azollae yang

merupakan simbion A. pinnata untuk memfiksasi nitrogen (Kahn, 1998 dalam Arizal, 2010). Habitat Azolla pinnata merupakan contoh pteridophyta yang sangat sensitif dan tidak tahan dengan kekeringan sehingga akan langsung mati dalam waktu beberapa jam. A. pinnata biasa hidup di perairan tawar, contohnya di kolam-kolam dan persawahan. Menurut Arizal (2010) terdapat beberapa syarat agar Azolla pinnata dapat hidup, diantaranya : 1. Air Ketersediaan air harus mencukupi selama pertumbuhan A. pinnata. Ini disebabkan A. pinnata merupakan tanaman air yang tumbuh dan berkembang di atas permukaan air. Air yang cukup selama pertumbuhannya dapat meningkatkan laju pertumbuhan relatif, total biomassa dan kandungan nitrogen. 2. Suhu Secara umum A. pinnata sangat peka terhadap perubahan suhu. Tumbuhan A.

pinnata dapat berkembang dengan baik pada kisaran suhu 20-35


o o

C. Pertumbuhan A.

pinnata kurang baik pada suhu lebih dari 35 C atau kurang dari 0 oC. Namun beberapa

spesies A. pinnata dapat bertahan hidup sampai suhu 40 oC. 3. Intensitas cahaya Penyinaran matahari yang terus menerus pada A. pinnata secara umum dapat menyebabkan daun A. pinnata berwarna merah. Hal ini dapat menyebabkan gangguan fisiologis

selama proses fotosintesis. Kebutuhan A. pinnata terhadap cahaya berkisar antara 2550% dari penyinaran matahari penuh dengan intensitas cahaya 15 KLux selama 12 jam setiap hari. Pada area yang terbuka dengan rata-rata intensitas cahaya yang tinggi A. pinnata diduga hanya mampu bertahan 4-6 jam. Namun apabila terdapat naungan seperti tanaman padi, A. pinnata akan dapat

menyerap 25-50% dari rata-rata intensitas

cahaya sesuai dengan kebutuhannya dan mampu bertahan selama 12 jam. 4. pH Perubahan pH yang terdapat di air dapat mempengaruhi pertumbuhan dan proses

fiksasi nitrogen dari tumbuhan A. pinnata. Kisaran pH optimum yang dibutuhkan A. pinnata untuk tumbuh dengan baik adalah 4,5-7. Namun beberapa jenis A. pinnata dapat tumbuh dan bertahan hidup pada kisaran 3,510. Sebagian besar biota akuatik sensitif terhadap perubahan pH dan menyukai nilai pH sekitar 7-8,5. Reduksi nitrat dapat berlangsung secara optimal pada pH 4,5 dan suhu 30 oC. 5. Unsur hara Kandungan fosfor yang optimum dapat meningkatkan pertumbuhan A. pinnata.

Jumlah minimum fosfor yang dibutuhkan adalah sekitar 1,1 mg P/liter. Kondisi fosfor yang melimpah yaitu sekitar 20 ppm dapat mempercepat pertumbuhan A. pinnata.

Perkembangbiakkan Azolla pinnata Azolla pinnata dapat berkembangbiak dengan 2 cara, yaitu secara vegetatif dan generatif. Vegetatif terjadi dengan cara pemisahan cabang samping dari cabang utama, yang dapat membentuk tumbuhan baru. Pertumbuhan cabang samping sampai menjadi A. pinnata memerlukan waktu 10-15 hari. Pada tumbuhan yang sudah tua A. pinnata dapat membentuk sporocarp (seperti kapsul), yang terletak di bawah daun. Pada umumnya terdapat sepasang sporacarp yaitu mikrosporocarp dan megasporocarp. Mikrosporocarp berisi 7-100 mikrosporangium dan tiap mikrosporocarp, yang berisi mikrospora. satu

Megasporocarp

hanya

membentuk

megasporocarp, yang berisi megaspora. Megaspora dan mikrospora berkecambah (gametofit (gametofit membentuk jantan) betina). dan

mikrogametofit megagametofit

Kemudian,

gametofit jantan berkembang menjadi sel sperma

yang dapat membuahi sel telur gametofit betina. Selsel hasil peleburan gametofit jantan dan gametofit betina tumbuh menjadi sporofit, yang berkembang menjadi tumbuhan A. pinnata diploid proses terjadi pertumbuhan ini di dalam air (Djojosuwito, 2000 dalam Anam, 2013).

Sumber : (Anam, 2013) Gambar . Siklus hidup Azolla pinnata

Simbiosis antara Azolla pinnata dan Anabaena azollae Selama hidupnya Azolla pinnata bersimbiosis

dengan ganggang hijau-biru yang menumpang tinggal dalam rongga di antara klorofil daunnya. A. pinnata menyediakan tempat berlindung dan hasil fotosintesis bagi Anabaena, sedangkan Anabaena memfiksasi nitrogen dari udara bagi A. pinnata. Hubungan ini menyebabkan A.pinnata dapat tumbuh berkembang secara vegetatif dengan sangat cepat dan mengakumulasi nitrogen dalam jumlah yang sangat besar. Kemampuan simbiosis A. pinnata dengan Anabaena. untuk mereduksi nitrogen dari atmosfer menjadi ammonia melalui enzim dnitrogenase telah dilalui dengan baik dalam lingkungan air. Simbiosis A. pinnata dengan Anabaena terjadi pada rongga pangkal daun A. pinnata. Pada simbiosis ini proses penambatan N udara dilakukan oleh ganggang biru dan N yang ditambat diberikan pada tanaman A. pinnata. Di bagian tengah dekat pangkal pada sisi bawah daun atas terdapat rongga daun.

Rongga-rongga daun tersebut dibentuk dalam lapisan epidermis. Bentuknya cekungan dan di setiap rongga daun terdapat ganggang biru. Ganggang biru yang bermukim dalam rongga daun A. pinnata biasanya anggota suku Nostocaseae yaitu Anabaena azollae. Di dalam rongga daun A. pinnata ganggang biru berada pada lender yang mengisi rongga tersebut. Lendir disekresikan oleh bulu-bulu yang terdapat didalam rongga (Khan,1982).

Sumber : Abdul Gambar . Irisan atas lembar daun Azolla pinnata. An adalah serabut Anabaena azollae

Asosiasi Azolla pinnata dengan Anabaena azollae saling menguntungkan sedangkan karena A. dapat mengikat

nitrogen,

pinnata

memberikan

perlindungan kehidupan bagi Anabaena azollae. Penambatan nitrogen dipengaruhi oleh kandungan unsur hara tertentu dalam medium tumbuhnya dan keadaan lingkungan.

Sumber : Gambar Hubungan simbiosis antara Azolla sp dan Anabaena azollae

Manfaat dan kandungan Azolla pinnata Kandungan nitrogen pada Azolla pinnata berkisar antara 4,0- 5,0% dari bobot keringnya. Nilai fosfor sebesar 0,5-0,9% dan klorofil sebesar 0,34-0,55% dari bobot kering A. pinnata. Produktivitas pertanian

dapat meningkat saat menggunakan A. pinnata sebagai pupuk tanaman padi. Spesies A. pinnata memiliki kandungan protein yang baik sehingga dapat dimanfaatkan sebagai pakan hewan ternak, unggas, dan ikan. Penelitian A. pinnata yang diekstrak untuk digunakan sebagai pakan burung menghasilkan ekstrak nitrogen bebas sebesar

30,08%, protein kasar sebesar 25,78%, dan berat kering sebesar 90,8%. (Basak et al, 2002 dalam Arizal, 2010).

Menurut Raja, et al (2012), ada beberapa manfaat Azolla pinnata bagi tumbuhan dan juga lingkungan, yaitu : 1. 2. Meningkatkan kualitas hasil panen Mengurangi kemungkinan terjadinya

penyakit pada tanaman 3. Mempercepat pembuahan 4. 5. Memproduksi tanaman yang lebih sehat Membuat tanaman lebih tahan terhadap kekeringan proses perbungaan dan

6.

Berpengaruh

besar

dalam

peningkatan

kualitas unsur hara tanah dan siklus nitrogen

Azolla

pinnata

sebagai

biofertilizer

dalam

penanaman padi Azolla pinnata yang digunakan sebagai biofertilizer dapat menghasilkan 300 ton per hektar dalam setahun di suhu subtropikal yang sama dengan sejumlah 800 kg nitrogen atau setara dengan 1800 kg pupuk urea. Faktor penting penggunaan A. pinnata sebagai biofeltilizer pada penanaman padi adalah mempercepat dekomposisi tanah dan membuat penggunaan nitrogen lebih efisien.

Menurut Raja, et al (2012) A. pinnata memiliki beberapa ciri khas sehingga dapat digunakan sebagai biofertilizer padi, yaitu : 1. 2. A. pinnata dapat memfiksasi nitrogen. A. pinnata dapat tumbuh secara cepat.

3.

Karena A. pinnata tumbuh mengambang di atas air, sehingga tidak mengganggu

penerimaan cahaya pada padi dan tidak mempersempit daerah tumbuh padi. 4. Ketika padi sudah cukup dewasa, sehingga pertumbuhannya tidak dapat menjadi kanopi bagi A. pinnata, A. pinnata akan mati dan berdekomposisi mengeluarkan nutrisi bagi padi. 5. A. pinnata memiliki kemampuan untuk mengakumulasi kalium lebih baik dibanding padi. Azolla pinnata sebagai pupuk hijau bagi tanaman Dari beberapa penelitian yang dilakukan (Hasbi dan Ahmadi, 2002) diketahui bahwa penggunaan Nlabelled Azolla berpengaruh nyata terhadap umur kultur dan komposisi kimia bagi ketersediaan NAzolla pada tanaman padi sawah. Hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa 24 kg N terfiksasi selama 26 hari.

Sementara itu menurut Xiao (1997) dalam Hasbi (2009), dalam hubungannya dengan dekomposisi ketersediaan N- Azolla secara signifikan lebih

rendah dibandingkan dengan N-Milk Vetch. Hanya lebih kurang 20% N-Azolla yang mampu diserap tanaman padi dan 74%nya tertinggal di dalam tanah, sedangkan N-Milk Veltch hanya 42 dan 46%.

Sementara itu sekitar 450 kg N-atmosfir difiksasi oleh Azolla pinnata tiap tahun (Liu, 1999 dalam Hasbi, 2009).

Efisiensi

penggunaan A. pinnata

membutuhkan

pengetahuan tentang dekomposisi dan transformasi bagaimana pengaruhnya pada tanaman. Meskipun pengaruh positif A. pinnata pada hasil padi sawah dan sifat fisik tanah telah banyak diteliti dan dibuktikan, namun reaksi utama A. pinnata dalam tanah belum diketahui dengan jelas. Disamping itu juga sangat sedikit data yang tersedia tentang sebaran original Azolla dan rantai residual C dan N. (Xiao, et al., 1997 dalam Hasbi, 2009)

Berikut adalah kandungan unsur hara Azolla pinnata dalam kondisi kering hasil dari penelitian

internasional yang diseponsori oleh Badan Tenaga Atom Internasional (IAEA-Wina) (dalam %): 1. Nitrogen 2. Fosfor 3. Kalium 4. Kalsium 5. Magnesium 6. Sulfur 7. Silikat 8. Natrium 9. Klorin 10. Alumunium 11. Besi 12. Mangan 13. Tembaga 14. Seng : 2.5-3.5 : 0.15-1.00 : 0.25-5.50 : 0.45-1.25 : 0.25-0.50 : 0.20-0.75 : 0.15-3.50 : 0.15-1.25 : 0.50-0.75 : 0.04-0.50 : 0.04-0.50 : (ppm ) 60-2500 : (ppm ) 2-250 : (ppm ) 25-750

Menurut

Anam

(2013),

berikut

adalah

cara

penggunaan Azolla pinnata sebagai pupuk hijau untuk lahan persawahan : 1. Tebar Azolla bersamaan atau 1 minggu sebelum padi di bibit 2. Setelah lapangan penuh dengan Azolla, lahan dibajak agar Azolla terbenam 3. Selanjutnya dilakukan penaman padi dan Azolla yang tidak terbenam dibiarkan tumbuh. Azolla yang tumbuh di permukaan ini dapat : a. mengambil N yang hanyut dan menguap b. menahan pertumbuhan gulma

Selain untuk pupuk persawahan, Azolla pinnata juga bisa dijadikan sebagai pupuk kompos dan media tanam. Dalam bentuk kompos ini, A. pinnata juga baik untuk media tanam aneka jenis tanaman hias mulai dari bonsai, suplir, kaktus sampai mawar. Untuk media tanaman hias, selain digunakan secara langsung, kompos A. pinnata ini juga bisa dengan pasir dan tanah kebun dengan perbandingan 3:1:1.

Untuk membuat kompos A. pinnata, caranya cukup mudah. Dengan membuat lubang ukuran (P x L x D) 3 x 2 x 2 meter. Kemudian A. pinnata segar dimasukkan ke dalam lubang. Seminggu kemudian A. pinnata dibongkar. Untuk mengurangi kadar air menjadi 15 per-sen, A. pinnata yang sudah terfermentasi tersebut lantas dijemur. Setelah agak kering, baru dikemas dalam kantong plastik atau langsung digunakan sebagai media tanam.

Azolla pinnata sebagai pakan ternak Selain untuk pupuk dan media tanam, Azolla pinnata juga bisa dimanfaatkan untuk pakan ternak,

khususnya itik dan beragam jenis ikan omnivora dan herbivora. Sebagai pakan ternak, kandungan gizi A. pinnata cukup menjanjikan. Kandungan protein misalnya, mencapai 31,25 persen, lemak 7,5 persen, karbohidrat 6,5 persen, gula terlarut 3,5 persen dan serat kasar 13 persen.

Bila digunakan untuk pakan itik, penggunaan A. pinnata segar yang masih muda (umur 2 - 3 minggu) dicampur dengan ransum pakan itik. Berdasarkan hasil penelitian, campuran A. pinnata 15 persen ke dalam ransum ini, terbukti tidak berpengaruh buruk pada itik. Maksudnya, itik tetap menyantap pakan campuran A. pinnata ini dengan lahapnya. Produksi telur, berat telur dan konversi pakan juga tetap normal. Ini bearti penggunaan A. pinnata bisa menekan 15 persen biaya pembelian pakan itik. Tentu saja hal ini cukup menguntungkan peternak karena bisa mengurangi biaya pembelian pakan itik.

Sama seperti untuk itik, bila akan dimanfaatkan untuk pakan ikan, A. pinnata bisa diberikan secara langsung dalam keadaan segar. Boleh juga dengan mengolahnya terlebih dulu menjadi tepung. Tepung A. pinnata ini, selanjutnya digunakan sebagai bahan campuran untuk membuat pakan buatan (pelet) untuk ikan.

Berdasarkan kaji terap di lapangan, dalam keadaan segar A. pinnata bisa diberikan untuk pakan ikan gurami, tawes, nila dan karper. Dengan pemberian pakan berupa azolla, terbukti ikan tetap bisa tumbuh pesat. Tak kalah dengan ikan lainnya yang diberi pakan buatan berupa pelet. Di saat harga pupuk, pakan ternak dan ikan mahal seperti belakangan ini, tak ada salahnya bila azolla ini menjadi salah satu alternatif pilihan yang secara finansial cukup menguntungkan. Baik digunakan sendiri secara langsung atau untuk dibisniskan. A. pinnata juga bisa digunakan untuk campuran konsentrat sapi. Caranya azola dikeringkan dahulu, kemudian digiling dan dicapurkan kekonsentrat.