You are on page 1of 10

KONSEP KEPERAWATAN

A. Pengkajian a) Biodata: Kaji secara lengkap tentang umur: kusta dapat menyrang semua umur, jenis kelamin, rasio pria dan wanita 2,3:1,0. Status social: paling sering terjadi pada daerah dengan social ekonomi rendah Daerah tropis: insidennya meningkat pada daerah tropis/ subtropics Jenis pekerjaan : untuk mengetahui tingkat social ekonomi, risiko trauma pekerjaan dan kemungkinan kontak dengan penderita kusta b) Keluhan utama: pasien sering datang ke tempat pelayanan kesehatan dengan keluhan adanya bercak putyih yang tidak terasa, atau datang dengan keluhan kontraktur pada jarijari c) Riwayat penyakit sekarang: pada saat melakukan anamnesis pada pasien, kaji kapan lesi atau kontraktur tersebut timbul, sudah berapa lama timbulnya, dan bagaimana proses perubahannya baik warna kulit ataupun keluhan lainnya. Kaji juga apakah klien pernah menjalani pemeriksaan laboratorium. Ini penting untuk mengetahui apakah klien pernah menderita penyakit tertentu sebelumnya. d) Riwayat penyakit terdahulu: salah satu factor penyebab penyakit kusta adalah daya tahan tubuh yang menurun. Oleh karena itu, perlu dikaji adakah riwayat penyakit kronis atau penyakit lain yang pernah diderita. e) Riwayat penyakit keluarga. Penyakit kusta bukan penyakit turunan, tetapi jika anggota keluarga atau tetangga menderita penyakit kusta, resiko tinggi tertular sangat mungkin terjadi. f) Riwayat psikososial: kusta terkenal sebagi penyakit yang menakutkan dan menjijikkan. Ini disebabkan adanya deformitas atau kecacatan yang ditimbulkan. Oleh karena itu, perlu dikaji bagaiman konsep diri klien dan respon masyarakat di sekitar klien: g) Kebiasaan sehari-hari: pada saat melakukan anamnesis tentang pola kebiasaan seharihari, perawat perlu mengkaji status gizi, pola makan/nutrisi klien. Hal ini sangat penting karena factor gizi berkaitan erat dengan system imun. Apabila sudah ada deformitas

atau kecacatan, maka aktivitas dan kemampuan klien dalam menjalankan kegiatan sehari-hari dapat terganggu. h) Pemeriksaan fisik: Inspeksi: dilakukan untuk untuk menetapkan ruam yang ada pada kulit. Biasanya, dapat ditemukan adanya macula hipopigmentasi/hiperpigmentasi dan eritematosa dengan permukaan yang kasar atau licin dengan batas yang kurang jelas atau jelas, bergantung pada tipe yang diderita. Palpasi: ditemukan penebalan serabut saraf, macula anestetika pada tipe T dan macula non anestetika pada tipe L, serta permukaan lesi yang kering dan kasar. Selanjutnya dapat dilakukan pemeriksaan sederhana untuk menunjang kepastian diagnostic penyakit kusta dan juga untuk mengetahui ada/tidaknya anestesi pada lesi yang dicurigai melalui beberapa pengujian: Uji kulit: terlebih dahulu penderita diberitahu dan dijelaskan tentang prosedur pengujian yang akan dilakukan secara jelas. Penggunaan jarum untuk

mengetahui rasa nyeri dilakukan dengan meminta klien menyebutkan tempat mana yang lebih sakit atau lebih terasa. Dapat pula menggunakan kapas atau bulu ayam untuk mengetahui sensasi raba. Jika belum jelas, dilakukan

pengujian sensasi suhu yaitu panas dan dingin, dengan menggunakan dua tabung reaksi yang disentuhka secar bergantian dengan catatan penderita tidak melihat pada waktu pengujian dilakukan dan menyebutkan rasa apa yang dirasakan. Uji keringat: menggores lesi dengan dengan pensil tinta mulai dari beberapa cm diluar lesi melewati permukaan lesi dan keluar batas lesi. Hasilnya, pada bagian luar goresan pensil akan mengembang berwarna ungu sedangkan di daerah lesi tidak Uji lepromin: dilakukan untuk menentukan diagnosis dan klasifikasi penyakit kusta. Tipe I, T, dan BT: uji lepromin positif. Tipe BB, BL, LL: uji lepromin negative. i) Pemeriksaan penunjang: M. leprae merupakan bakteri berbentuk batang, dapat dibuktikan melalui pemeriksaan kerokan jaringan atau sediaan apus (smear). Setelah

dicat dengan Zichl Nielsen, sediaan selanjutnya dilihat dibawah mikroskop. pengambilan sediaan adalah sebagai berikut: Beri penjelasan pada penderita tentang tindakan yang akan dilakukan. Korek septum nasi dengan oese untuk mendapatkan secret hidung

Cara

Kerokan dihasilkan dengan membuat irisan dangkal dengan scalpel pada cuping telinga yang sebelumnya didesinfeksi dengan kapas alcohol kemudian dijepit dengan dengan jari hingga terlihat pucat. Kerokan yang dihasilkan setelah mengadakan irisan dangkal dengan scalpel pada lesi (makula) yang sebelumnya dijepit dengan pinset hingga pucat. Luka sayatan cukup ditekan dengan kapas steril yang kering untuk menghentikan perdarahan.

B. Diagnose 1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan adanya lesi pada kulit, perubahan bentuk wajah 2. Resiko injuri berhubungan dengan anatesi atau hilang rasa 3. Gangguan persepsi penglihatan berhubungan dengan kelumpuhan m. orbicularis 4. Bersihan jalan nafas takefektif berhubungan dgn akumulasi secret meningkat 5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hipopigmentasi 6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi terhadap penyakit 7. Kecemasan berhubungan dengan perubahan bentuk tubuh

C. Intervensi 1. Gangguan citra tubuh berhubungan dengan perubahan bentuk wajah dan bagian tubuh ditandai dengan adanya lesi dan kontraktur. Tujuan: setelah melakukan tindakan keperawatan tubuh dapat berfungsi secara optimal dan konsep diri meningkat Criteria hasil: Pasien menyatakan penerimaan situasi diri Memasukkan perubahan dalam konsep diri tanpa harga diri negatif INTERVENSI Observasi: RASIONAL

Kaji makna perubahan pada pasien

Episode traumatic mengakibatkan perubahan tiba-tiba, ini memerlukan dukungan dalam perbaikan optimal

Tindakan mandiri: Akui ekpresi frustasi, Penerimaan perasaan sebagai respon normal terhadap apa yang terjadi membantu perbaikan

ketergantungan dan kemarahan. Perhatikan diri Berikan parameter harapan situasi dalam individu, perilaku menarik

Meningkatkan perilaku positif dan memberikan kesempatan untuk

jangan memberikan keyakinan yang salah Berikan penguatan positif

menyusun tujuan dan rencana untuk masa depan berdasarkan realitas Kata-kata mendukung koping positif penguatan terjadinya dapat perilaku

Health education: Anjurkan diskusi untuk memulai Dapat masalah membantu yang menurunkan mempengaruhi

tentang/pecahkan

masalah tentang penyakit yang diderita

penerimaan pengobatan

2. Resiko injuri berhubungan dengan anatesi atau hilang rasa ditandai dengan factor resiko gangguan penglihatan Tujuan: tidak terjadi cedera Criteria hasil: tidak ada cedera pada bagian tubuh yang mengalami anastesi maupun uang tidak mengalami anastesi INTERVENSI Observasi: Kaji factor-factor penyebab Memberikan informasi dasar RASIONAL

atau pendukung terjadinya

tentang hal yang mempengaruhi

terjadinya injuri Tindakan mandiri: Kurangi atau hilangkan factor factor penyebab jika mungkin Beri penjelasan pada klien dan keluarga tentang penyebab Menghindari terjadinya cedera yang dapat menjadi port the entry infeksi Keluarga sebagai system pendukung membantu koping pasien

ansietas atau hilang rasa serta akibat yang ditimbulkannya Health education: Ajari cara-cara pencegahan Hal tersebut dapat menyebabkan terjadinya cedera yang dapat

misalnya gunakan alas kaki, gunakan pipa rokok dan jangan merokok sambil tiduran,

menyebabkan terjadinya infeksi

gunakan pelindung tangan saat mengangkat barang dari

kompor, jangan gunakan baju panjang memasak, ketika hati-hati sedang dan

waspada selalu jika beraktivitas di dapur. Diskusikan dengan keluarga Keluaga dapat membantu /

tentang cara pencegahan di rumah.

mengingatkna pasien factor-facor yang dapat menyebabkan cedera

3. Gangguan sensori persepsi penglihatan berhubungan dengan kelumpuhan m. orbicularis ditandai dengan kelopak mata tidak dapat menutup dengan sempurna. Tujuan: tidak terjadi infeksi pada mata Criteria hasil: pasien tidak mengalami gangguan penglihatan INTERVENSI Observasi: RASIONAL

Tentukan

ketajaman

Kebutuhan individu dan pilihan intervensi kehilangan bervariasi penglihatan sebab terjadi

penglihatan , catat apakah satu atau kedua mata terlibat.

lambat dan progresif. Tindakan mandiri: Orientasikan pasien terhadap lingkungan, staf dan orang lain diareanya Memberikan kenyamanan dan peningkatan kekeluargaan.

Menurunkan kecemasan terhadap perubahan penglihatan.

Kolaborasi: Pemberian obat tetes mata Membantu keratitis untuk yang jangkuan mengurangi resiko

sesuai indikasi dokter Health education: Ingatkan pasien

Agar debu atau kotoran tidak dapat masuk ke dalam mata Memungkinkan objek lebih mudah. pasien melihat

menggunakan kacamata. Letakkan dibutuhkan pasien barang dalam

4. Bersihan jalan nafas tidak efektif berhubungan dengan akumulasi secret meningkat ditandai dengan perubahan kedalaman dan/ atau kecepatan pernapasan. Tujuan: pola nafas efektif Criteria hasil: Menunjukkan pola napas efektif dengan frekwensi dan kedalaman dalam rentang normal INTERVENSI Observasi: Kaji frekwensi, kedalaman Kecepatan biasanya meningkat. RASIONAL

pernapasan dan catat upaya pernapasan penggunaan termasuk otot

Kedalaman pernapasan bervariasi bergantung derajat gagal napas.

bantu/pelebaran nasal. Tindakan mandiri: Auskultasi bunyi napas dan catat adanya bunyi seperti napas krekel, Bunyi napas menurun/ tak ada bila obstruksi sekunder terhadap kolaps jalan napas.

adventisius

mengi dan gesekan pleural. Tinggikan kepala dan bantu mengubah posisi. Bangunkan pasien turun dari tempat tidur dan ambulasi sesegera Duduk tinggi memungkinkan

ekspansi paru dan memudahkan pernapasan. pengubahan posisi dan ambulasi meningkatkan pengisian udara segmen paru berbeda

mungkin.

sehingga memperbaiki difusi gas. Kolaborasi: Beri oksigen tambahan dada Memaksimalkan bernapas dan

menurunkan kerja napas. Bantu fisioterapi Memudahkan upaya pernapasan

(misalnya drainase postural)

dalam dan meningkatkan drainase secret.

Health education: Dorong pasien dalam napas dalam dan latihan batuk. Dapat meningkatkan/ banyaknya

sputum dimana gangguan ventilasi dan ditambah ketidaknyamanan

upaya bernapas. Bantu pasien mengatasi Ansietas berhubungan dengan

mengatasi kecemasan

ketidakmampuan bernapas

5. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan lesi dan hipopigmentasi Tujuan: setelah dilakukan tindakan keperawatan lesi dapat hilang Criteria hasil: mencapai penyembuhan lesi tepat waktu Menunjikkan regenerasi jaringan

INTERVENSI Observasi: Kaji/catat warna lesi, perhatikan jika ada jaringan nekrotik dan kondisi sekitar luka terjadi

RASIONAL

Memberikan

informasi

dasar

tentang terjadinya inflamasi dan atau mengenai sirkulasi darah yang terdapat lesi.

Kaji

jaringan

yang

Perkembangan lesi dan inflamasi dapat mengidentifikasi terjadinya komplikasi.

inflamasi, perhatikan adakah penyebaran sekitar. Tindakan mandiri: Berikan perawatan khusus pada daerah yang terjadi lesi. Bersihkan lesi dengan sabun pada waktu direndam pada jaringan

Menurunkan terjadinya penyebaran inflamasi pada jaringan sekitar Kulit yang mengalami lesi perlu perawatan khusus untuk

mempertahnkan kebersihan lesi. Kolaborasi: Berikan diindikasikan obat sesuai yang dengan Menghambat penyebaran lesi dan penularan serta mempercepat proses penyembuhan untuk

jenis lepra yang diderita Health education: Anjurkan pasien

Tekanan

pada

lesi

dapat

mengistirahatkan bagian yang terdapat lesi dari tekanan.

menghambat proses penyembuhan.

6. Kurang pengetahuan berhubungan dengan kurang informasi terhadap penyakit ditandai dengan pernyataan salah konsepsi dan meminta informasi. Tujuan: melakukan perubahan gaya hidup yang perlu dan berpartisipasi dalam aturan pengobatan Criteria hasil: pasien meemahami penyakit yang diderita dan hal-hal yang harus depierhatikan sehubungan dengan penyakinya tersebut.

INTERVENSI Observasi: Tinjau ulang dengan pasien/ orang terdekat pemahaman

RASIONAL

Memvalidasi tingkat pemahaman saat ini

diagnose khusus Tindakan mandiri: Berikan informasi yang jelas dan akurat dalam cara nyata tapi sensitive. Membantu penilaian diagnose lepra, memberikan diperlukan menyerapnya. Health education Anjurkan pasien untuk umpan balik konsep verbal dan perbaikan lepra dan Kesalahan konsep tentang penyakit lebih kenyataan pengobatan menganggu dan daripada informasi selama yang waktu

tentang

mempengaruhi

pengobatannya

7. Kecemasan berhubungan dengan kurang pengetahuan tentang penyakitnya ditandai dengan mengekspresikan masalah mengenai perubahan dalam kejadian hidup. Tujuan: rasa cemas berkurang/hilang. Criteria hasil: pasien dapat beradaptasi dengan keadaannya sekarang INTERVENSI Observasi: Kaji tingkat kecemasan yang dialami oleh pasien. Untuk menentukan tingkat RASIONAL

kecemasan yang dialami pasien sehingga perawat bisa memberikan intervensi yang cepat dan tepat

Tindakan mandiri Beri kesempatan pada pasien untuk mengungkapkan rasa Dapat meringankan beban pikiran pasien.

cemasnya. Gunakan komunikasi terapeutik. Agar terbina rasa saling percaya antar perawat-pasien sehingga

pasien kooperatif dalam tindakan keperawatan. Beri informasi yang akurat Informasi penyakitnya yang dan akurat tentang

tentang proses penyakit dan anjurkan pasien untuk ikut serta dalam tindakan keperawatan. Berikan keyakinan pada pasien bahwa perawat, dokter, dan tim kesehatan lain selalu berusaha memberikan pertolongan yang terbaik dan seoptimal mungkin. Berikan kesempatan pada

keikutsertaan

pasien dalam melakukan tindakan dapat mengurangi beban pikiran pasien. Sikap positif dari timkesehatan akan membantu menurunkan kecemasan yang dirasakan pasien.

Rasional : Pasien akan merasa lebih tenang bila ada anggota keluarga yang menunggu.

keluarga untuk mendampingi pasien secara bergantian. Ciptakan lingkungan yang

Lingkungan nyaman

yang dapat

tenang

dan

tenang dan nyaman.

membantu

mengurangi rasa cemas pasien. Health education: Anjurkan mengembangkan pasien pendukung dengan untuk interaksi system Mengurangi perasaan isolasi.