You are on page 1of 15

ANALISIS DONGENG NINI ANTH DAN RELEVANSINYA SEBAGAI BACAAN ANAK DAN REMAJA MAKALAH disusun untuk memenuhi

tugas mata kuliah Sastra Anak dan Remaja Dosen Pembina Taufiq Ampera, M.Hum Oleh Zulfikar Nuraly Nugraha 180210110007

PROGRAM STUDI SASTRA SUNDA FAKULTAS ILMU BUDAYA UNIVERSITAS PADJADJARAN JATINANGOR 2012

KATA PENGANTAR Puji dan syukur penulis panjatkan kepada kehadirat Allah yang telah memberikan kasih sayangNya sehingga penulis dapat menyelesaikan makalah ini. Makalah ini berjudul Analisis Dongeng Nini Anth dan Relevansinya sebagai Bacaan Anak dan Remaja dengan menggunakan metode pendekatan penelitian dalam sastra yaitu, mimesis dan pragmatik. Penulis mengucapkan terimakasih kepada Bapak Taufiq Ampera, M.Hum. selaku dosen matakuliah sastra anak dan remaja, dan kepada teman-teman Sassun 11 yang telah membantu penulis dalam mengerjakan makalah ini. Semoga Allah memberikan rahmat kasih sayangNya kepada semua pihak yang membantu penulis baik secara langsung maupun tidak langsung. Semoga makalah ini bermanfaat, khususnya untuk penulis dan umumnya untuk semua pembacanya. Amin!

Jatinangor, Desember 2012

Penulis

BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Chamamah (dalam Hudayat, 2007: 29) menguraikan pemahaman sastra sebagai sebuah sistem. Menurut Teeuw (dalam Hudayat, 2007: 29) istilah sastra dipakai untuk menyebut gejala budaya yang dapat dijumpai pada masyarakat seperti sosial, ekonomi, keagamaan, dan lain-lain. Kesimpulannya, sastra adalah bagian dari masyarakat yang memiliki budaya yang tidak bisa dipisahkan karena pada umumnya masyarakat di dunia dari sejak dulu hingga sekarang memiliki karya sastra yang sesuai dengan corak budayanya. Contoh yang umum adalah dongeng, legenda/myth, fabel, novel, cerpen, hingga fiksimini. Dongeng merupakan cerita yang menghibur terutama bagi anak-anak. Pada jaman sekarang dongeng sangat melekat dengan cerita anak. Bagi masyarakat Sunda istilah dongeng diartikan sebagai singkatan dari ngabobodo budak cngng (membodohi anak cengeng), maksudnya dongeng memiliki fungsi untuk menghibur anak yang lagi bersedih. Namun setelah membaca beberapa dongeng ada yang isi ceritanya kurang sesuai jika sasaran pembacanya adalah anak-anak, namun lebih untuk remaja atau kalangan yang sudah akil baligh. Tidak jarang banyak sekali beredar buku-buku atau artikel-artikel yang memuat dongeng untuk anak-anak, tetapi isinya kurang cocok jika untuk dibaca anak-anak. Tujuan dari penulisan makalah ini adalah untuk menguraikan sejauh mana kecocokan/relevansi dongeng Nini Anth untuk bacaan anak dan remaja berdasarkan kajian sastra anak dan remaja.

1.2 Pembatasan Masalah 1 analisis dongeng pendekatan penelitian sastra :

1. Mimesis 2. Pragmatik 2. relavansi dongeng sebagai bacaan anak dan remaja

1.3 Tujuan Penelitian 1. menguraikan dongeng Nini Anteh dalam perspektif ilmu sastra modern 2. mampu membedakan mana yang cocok untuk bacaan anak dan remaja

1.4 Manfaat Penelitian Manfaat dari analisis ini supaya masyarakat bisa memilih bacaan khususnya dongeng yang sesuai dengan karakter anak dan remaja.

BAB II ULASAN TEORI Dalam perkembangan kesusastraan, dongeng adalah salah satu jenis karya sastra yang klasik. Hal ini didasarkan pada isi dari dongeng umumnya menceritakan kejadian masa lampau dan bahkan ada yang bersumber dari legenda masyarakat. umumnya dongeng memiliki latar tempat kerajaan, dengan tokoh-tokoh yang memiliki kemampuan tidak masuk akal untuk jaman sekarang, ada juga yang tokohnya manusia biasa yang mengalami pengalaman luar biasa diluar akal manusia, atau pada umumnya tokohnya adalah kalangan dari kerajaan. Menurut Handajani (2008: 14) mengemukakan bahwa dongeng dikemas dengan perpaduan antara unsur hiburan dengan unsur pendidikan. Unsur hiburan dalam dongeng dapat ditemukan pada penggunaan kosa kata yang bersifat lucu, sifat tokoh yang jenaka, dan penggambaran pengalaman tokoh yang jenaka, sedangkan dongeng memiliki unsur pendidikan ketika dongeng tersebut mengenalkan dan mengajarkan kepada anak mengenai berbagai nilai luhur, pengalaman spiritual, petualangan intelektual, dan masalah-masalah sosial di masyarakat. Merujuk pada pendapat Handajani, dongeng memang diperuntukkan bagi kalangan anak-anak dan sebagian untuk remaja. Menurut Puspita (2009) dongeng memiliki manfaat yaitu : 1. Dongeng dapat mengasah imajinasi dan daya pikir anak. Ketika berhadapan dengan dongeng, anak akan memvisualisasikan cerita tersebut sesuai dengan imajinasinya. 2. Dongeng dapat mempererat ikatan komunikasi antara pendongeng dan audiens. 3. Dongeng merupakan media efektif untuk menanamkan berbagai nilai dan etika. 4. Dongeng dapat membantu menambah perbendaharaan kata pada anak. Namun pada kenyataannya tidak semua dongeng yang beredar saat ini ceritanya cocok untuk anak-anak. Karena ada dongeng yang menceritakan orang-orang dewasa yang watak dalam ceritanya yang lebih cocok untuk remaja atau hanya untuk kalangan dewasa saja, misalnya ada dongeng yang mengisahkan seorang anak yang ingin menikahi ibunya dalam dongeng Sangkuriang, penulis meyakini bahwa dongeng tersebut tentu lebih cocok bagi remaja yang sedang menuju proses kedewasaan ketimbang anak-anak. Coba saja pikirkan! Apakah anak-anak

akan mengerti dengan jalan cerita dongeng tersebut? Tentunya tidak! Karena masa anak-anak adalah masanya untuk bermain bukan untuk urusan yang serius. Dalam tulisan ini, penulis menggunakan pendekatan penelitian sastra, tujuannya agar penulis mampu menemukan apakah dongeng Nini Anth bisa dibaca untuk kalangan anak atau remaja saja. Pendekatan penelitian sastra tersebut adalah mimesis, ekspresif, objektif, dan pragmatik, namun penulis hanya akan menelaah secara mimetik dan pragmatik saja. Selain itu penulis juga akan sedikit menguraikan tentang kajian ilmu sastra anak agar bisa ditemukan relevansinya. 2.1 Jenis-Jenis Pendekatan Sastra Abrams (dalam Hudayat 2007:38) mengemukakan empat komponen utama dalam pendekatan sastra yang sangat berguna bagi teori strukturalisme yaitu: 1. Mimesis Dalam pendekatan mimesis, yang menjadi dasar pertimbangannya adalah dunia pengalaman, yaitu karya sastra itu sendiri yang tidak bisa mewakili kenyataan yang sesungguhnya melainkan hanya sebagai tiruan kenyataan (Abrams dalam Hudayat 2007: 40). Kenyataan yang dimaksud adalah kenyataan di luar karya sastra. Secara metodis, analisis melalui pendekatan mimesis adalah mendeskripsikan data yang mengarah pada kenyataan yang ditemukan dalam teks. 2. Ekspresif Pada pendekatan ini, memusatkan perhatiannya pada diri pengarangya, ciri/karakter, perasaannya dan hasil-hasil karnyanya. Menurut Abrams (dalam Hudayat 2007: 39) pendekatan ekspressif menempatkan karya sastra sebagai curahan, ucapan, proyeksi pikiran dan pengarang.

3. Objektif Pendekatan objektif (Abrams, dalam Hudayat 2007: 48) memusatkan perhatian semata-mata pada unsur-unsur, antarhubungan, dan totalitas. Pendekatan ini mengarah kepada analisis unsur intrinsik. Konsekuensi logis yang ditimbulkan adalah tidak dihiraukannya unsur ekstrinsik seperti unsur sosiologis, politis, historis, dan aspek sosiokultual lainnya. Oleh karena itu, pendekatan objektif sering disebut juga analisis otonomi. 4. Pragmatik Menurut Abrams (dalam Hudayat, 2007: 43) memberikan perhatian terhadap peranan pembaca. Pendekatan ini memberikan perhatian pada pergeseran dan fungsi-fungsi baru pembaca. Pendekatan pragmatik mempertimbangkan implikasi pembaca melalui berbagai kompetensinya. Artinya, pada pendekatan ini pembaca berdasar pada opini, pemikirannya yang dipengaruhi kemampuan pembacaan dalam penafsiran, mempunyai peranan utama dalam pendekatan ini.

2.2 Sastra Anak Sastra anak, tidak hanya diciptakan atau ditulis oleh anak-anak, melainkan juga oleh orang dewasa. Orang dewasa secara sadar mencipta dan menulis sastra tersebut untuk anakanak. Dengan demikian pencipta/penulis sastra anak bisa anak-anak sendiri, bisa juga orang dewasa (Durachman, 2007: 1). Sastra anak tidak hanya meliputi sastra tulis, melainkan juga sastra lisan, selain genre baku dalam sastra tulis berupa puisi, teks naratif (novel dan cerpen) juga drama, kita mengenal juga puisi kaulinan budak/puisi dolanan dalam berbagai bentuk sastra lisan atau folklor lisan lainnya.

Horace (dalam Wellek & Waren, 1977: 24-36) mengatakan fungsi utama sastra (pada awalnya puisi) adalah delce et utite: menghibur dan mendidik. Tentu juga dengan sastra anak dan remaja. Kategori sastra anak itu ada dua yaitu, sastra anak yang mendidik dan yang menghibur. Tentunya ini harus disesuaikan dengan tingkat pemahaman kalangan pembaca (anak dan remaja). Sastra tentang anak bisa saja isinya tidak sesuai untuk anak-anak, tetapi sastra untuk anak sudah tentu sengaja dan disesuaikan untuk anak-anak selaku pembacanya. (Puryanto, 2008: 2). Sastra anak adalah karya sastra yang secara khusus dapat dipahami oleh anak-anak dan berisi tentang dunia yang akrab dengan anak-anak, yaitu anak yang berusia antara 6-13 tahun. Seperti pada jenis karya sastra umumnya, sastra anak juga berfungsi sebagai media pendidikan dan hiburan, membentuk kepribadian anak, serta menuntun kecerdasan emosi anak. Pendidikan dalam sastra anak memuat amanat tentang moral, pembentukan kepribadian anak, mengembangkan imajinasi dan kreativitas, serta memberi pengetahuan keterampilan praktis bagi anak.

BAB III ANALISIS 3.1 Parafrase Dongeng Nini Anth Dongeng Nini Anth adalah dongeng yang mengisahkan seorang perempuan yang hijrah ke bulan ditemani hanya oleh kucingnya, Candramawat. Pada awal cerita, dikisahkan Nini Anth adalah seorang anak dayang pribadi Ratu di kerajaan, Nyai Dasti. Karena Nyai Dasti meninggal dunia, maka anaknya yang bernama Anth diasuh oleh Ratu, bersama dengan anak Ratu yang bernama ndahwarni. Keduanya tumbuh menjadi gadis yang paling cantik jelita di kerajaan. Ketika menginjak usia dewasa, Anth pun diangkat menjadi dayang pribadi Putri ndahwarni. Walaupun keduanya berbeda status sosial, hubungan mereka begitu dekat layaknya kakak beradik. Suatu pagi yang cerah, Anteh sedang mengumpulkan bunga melati untuk menghias sanggul putri Endahwarni. Dia mulai bersenandung dengan gembira. Suara Anteh yang merdu terbang tertiup angin melewati tembok istana, membuat seorang pemuda bernama Anantakusuma kapincut terpesona. Kemudian ia pun jatuh cinta setelah melihat kecantikan Anth dari dekat. Namun pada kenyataannya Anantakusuma adalah calon suami bagi Endahwarni. Ketika hendak melamar bersama Adipati Wtan, Endahwarni pun mengetahui bahwa Anantakusuma lebih menyukai Anth daripada dirinya. Karena sakit hati, Endahwarni pun marah pada Anth, hingga Anthpun harus pergi meninggalkan kerajaan, dan pergi ke kampung halamannya ibunya. Setelah sampai di kampung tersebut, Anteh tinggal di rumah Pamannya di desa. Untuk membantu pamannya, Anteh menerima pesanan menjahit baju. Bertahun-tahun telah berlalu. Anteh kini sudah bersuami dan memiliki dua orang anak. Suatu hari di depan rumahnya berhenti sebuah kereta kencana dan banyak sekali pengawal yang menunggang kuda. Begitu pemilik kereta kencana itu melongokkan kepalanya, Anteh menjerit. Ternyata itu adalah putri Endahwarni. Putri Endahwarni turun dari kereta dan langsung menangis memeluk Anteh.

Akhirnya Anteh dan keluarganya pindah ke istana. Putri Endahwarni telah membuatkan sebuah rumah di pinggir taman untuk mereka tinggal. Namun Anteh selalu merasa tidak enak setiap bertemu dengan pangeran Anantakusuma, suami putri Endahwarni. Pangeran Anantakusuma ternyata tidak pernah melupakan gadis impiannya. Kembalinya Anteh telah membuat cintanya yang terkubur bangkit kembali. Mulanya Pangeran Anantakusuma mencoba bertahan dengan tidak memperdulikan kehadiran Anteh. Namun semakin lama cintanya semakin menggelora, hingga suatu malam Pangeran Anantakusuma nekat pergi ke taman istana, siapa tahu dia bisa bertemu dengan Anteh. Benar saja. Dilihatnya Anteh sedang berada di beranda rumahnya, sedang bercanda dengan Candramawat, kucing kesayangannya, sambil menikmati indahnya sinar bulan purnama. Meski kini sudah berumur, namun bagi pangeran Anantakusuma, Anteh masih secantik dulu saat pertama mereka bertemu. Perlahan-lahan didekatinya Anteh. Tiba-tiba Anteh merasa ada kekuatan yang menarik tubuhnya ke atas. Dia mendongak, dan dilihatnya sinar bulan menyelimutinya dan menariknya. Pangeran Anantakusuma hanya bisa terpana menyaksikan kepergian Anteh yang semakin lama semakin tinggi dan akhirnya hilang bersama sinar bulan yang tertutup awan. Sejak saat itu Nyai Anteh yang sudah nenek-nenek, hingga orang-orang menyebutnya Nini (Nenek) tinggal di bulan, sendirian, hanya ditemani kucing kesayangannya. Dia tidak bisa kembali ke bumi karena takut Pangeran Anantakusuma akan mengejarnya.

3.2 Analisis Melalui Pendekatan Ilmu Sastra 3.2.1 Mimesis Dongeng Nini Anth adalah dongeng menceritakan perjalanan seorang perempuan (manusia) ke bulan. Untuk ilmu pengetahuan saat ini, pergi ke bulan bukanlah perkara yang mustahil. Namun untuk kisah Nini Anth yang diperkirakan hidup berratus-ratus tahun yang lalu atau bahkan ribuan tahun yang lalu pergi hijrah ke bulan, tentu itu menimbulkan pertanyaan yang luar biasa. Bagaimana bisa? Manusia jaman dulu bisa pergi hijrah ke bulan, bahkan bisa tinggal disana. Hanya dua jawaban yang paling memungkinkan untuk menjawab pertanyaan ini. Pertama jelas, secara logis dan realistis dongeng Nini Anth hanyalah sebuah dongeng yang berkembang di masyarakat. Menurut Yus Rusyana (2000) segala peristiwa dalam dongeng baik tokoh ataupun latarnya, oleh pemilik masyarakat pemilik cerita tersebut tidak dijadikan sebagai sebuah kepercayaan, dan diperlakukan sebagai sesuatu yang nyata. Kemunculan cerita Nini Anth bisa jadi karena imajinasi orang-orang terdahulu. Jawaban kedua, yang namanya sastra adalah dunia kemungkinan. Dongeng Nini Anth bisa saja merupakan tanda-tanda dari kehidupan/peradaban masa lalu. Banyak kisah-kisah dari masa lalu yang menceritakan peradaban hebat manusia kala itu yang lebih hebat dari peradaban masa kini seperti, kisah Nabi Sulaiman a.s yang bisa mengendarai angin dan memindahkan istana Ratu Balqies dalam waktu sekejap mata (oleh pengikutnya), kisah Isra Miraj Nabi Muhammad saw dengan naik sebuah kendaraan super cepat bernama buraq dan menjelajahi luar angkasa, atau spekulasi mengenai Atlantis dan Lemuria. Bisa saja cerita Nini Anth memang pernah terjadi, namun sampai saat ini belum ada (atau bahkan tidak ada) bukti kongkrit yang menegaskannya. Kemudian soal Nini Anth ditarik oleh kekuatan cahaya bulan, ini hampir mirip dengan spekulasi manusia yang dihisap oleh pesawat alien piring terbang. Dari berbagai deskripsi orang-orang yang mengaku diculik oleh alien, mereka seperti cahaya yang sangat terang menarik mereka. Bagaimanapun hal semacam itu masih diperdebatkan. Masalah Nini Anth tinggal di bulan juga merupakan persoalan yang mengundang pertanyaan, sebab ilmu pengetahuan saat ini menganggap bulan sebagai tempat layak huni, tidak ada udara sekalipun, dan sangat gelap. Mengenai hal ini, dunia maya (Viva news) dihebohkan oleh berita seputar bulan, bahwa bulan sebenarnya merupakan buatan manusia. Dan bulan itu sendiri adalah pesawat yang dirancang untuk menerangi malam agar bisa terang seperti siang hari. Namun sekali lagi, hal itu mendatangkan perdebatan, apalagi jika nama

Nini Anth dikaitkan dengan nama Nirranthea (, tentunya ini akan menimbulkan perdebatan yang tiada habisnya. Dan memang dalam ilmu pengetahuan saat ini, bulan merupakan benda langit yang paling dekat dengan bumi tetapi merupakan yang paling misterius. Karena setiap temuan baru dari bulan malah menimbulkan kebingungan baru bagi ilmu pengetahuan saat ini. 3.2.2 Pragmatik Dongeng Nini Anth memiliki dua tema cerita. Pertama dari segi isi cerita, dongeng Nini Anth lebih mengangkat tema cinta dan kesetiaan daripada tentang. Cinta Anantakusuma yang tidak terlaksana, dan kesetiaan Anth terhadap Endahwarni dan suaminya. Di dunia ini banyak dan selalu terjadi hal-hal semacam ini, bahkan tema cerita seperti ini sudah banyak diadopsi ke sinetron. Ada sessuatu yang menarik dari dongeng Nini Anth. Ternyata tema cerita tentang penghuni bulan bukan hanya di Tatar Sunda (Nini Anth) saja. Di Jawa terdapat tokoh Nawang Wulan, dia adalah bidadari penghuni bulan yang turun ke bumi dalam cerita Jaka Tarub, yang pada akhir cerita Nawang Wulan harus kembali lagi ke bulan. Tidak hanya di Indonesia, penulis pernah mendengar tentang Kaguya Hime (Putri Kaguya). Putri Kaguya adalah dewi penghuni bulan yang turun ke bumi. Ketika di bumi, putri Kaguya dilamar oleh banyak lelaki, namun Kaguya mengajukan persyaratan agar bisa ditikahi yaitu harus membawa lima benda-benda ajaib yaitu, mangkuk budha, dahan emas yang berkilau, jubah kulit tikus api, mutiara naga, dan kulit kerang bercahaya. Namun tidak ada satupun lamaran yang diterima.Karena Kaguya sangat merindukan keluarganya di bulan dia pun kembali ke bulan. Dongeng putri Kaguya berasal dari jepang dan karakter ini pernah muncul dalam Anime-movie Inuyasha dengan karakteristik yang sama dengan dongeng aslinya, hanya saja Kaguya adalah makhluk kahyangan yang dirasuki setan. Lalu dari Cina ada dongeng tentang penghuni bulan yaitu Dewi Change. Change adalah penghuni kahyangan yang kena hukuman bersama suaminya You Hi oleh Kaisar Langit untuk menjadi manusia bumi karena kesalahan You Hi membunuh sembilan matahari demi menyelamatkan bumi. Karena pada waktu itu bumi mempunyai sepuluh matahari dan membuat kesrusakan di bumi. Sepuluh matahari tersebut adalah anak Kaisar Langit. Sewaktu di bumi Change menelan pil keabadian dan menjadi penghuni bulan bersama kelinci jade.

Dari semua cerita selain Nini Anth, semua penghuni bulan adalah makhluk kahyangan (celestial being), mereka turun ke bumi dan kembali lagi ke bulan. Akan tetapi untuk Nini Anth kasusnya berbeda. Nini Anth benar-benar manusia bumi bukan makhluk kahyangan, tetapi dia hijrah ke bulan dan menjadi penghuni di sana bersama kucingnya Candramawat. Ternyata kesusastraan sunda memiliki keunikan tersendiri khususnya Nini Anth. Dari cerita penghuni bulan dari berbagai kawasan, semua penghuninya adalah makhluk kahyangan kecuali Nini Anth manusia bumi. Bahkan Taufiq Ampera, M.Hum. dosen Sastra Sunda Unpad menulis dalam blognya, Nini Anteh dalam perspektif Von Daniken. Di sana dikemukakan penelaahan Nini Anteh yang kemungkinan merupakan astronot.

3.2 Relevansi Dongeng Nini Anth sebagai Bacaan Anak dan Remaja Sesuai pada ulasan Sastra Anak dan Remaja, maka yang dimaksud bacaan anak/remaja adalah sebuah bacaan yang sesuai dengan kapasitas pemikiran anak/remaja. Dan yang membuat bacaan anak/remaja bukan hanya anak dan remaja saja melainkan orang dewasa juga berperan terutama dalam hal menyaring bacaan-bacaan tersebut. Pada cerita Nini Anth, terdapat intrik percintaan antara Anantakusuma dan Anth juga dilema Anth dengan Endahwarni. Menurut penulis, hal seperti ini adalah hal yang rumit dan akan sulit dimengerti untuk kalangan pembaca anak. Namun untuk kalangan pembaca remaja yang menuju proses kedewasaan, penulis berpendapat ini bisa menjadi media pendidikan.

BAB IV PENUTUP 4.1 Kesimpulan 1. Dongeng Nini Anth lebih cocok untuk kalangan remaja dibandingkan kalangan anak. 2. Dongeng Nini Anth adalah dongeng yang menceritakan tentang manusia bumi yang hijrah ke bulan. 3. Dongeng Nini Anth adalah dongeng tentang keteguhan dan kesetiaan.

4.2 Saran Setelah ditelaah melalui pendekatan mimetik dan pragmatik, penulis menyimpulkan bahwa dongeng ini lebih dianjurkan untuk kalangan remaja dan kalangan terdidik, agar bisa menggali potensi-potensi cerita dari unsur ekstrinsiknya yang lain seperti dari segi sosiokultural

DAFTAR PUSTAKA Durachman, Memen. 2007. Aspek Pendidikan Sastra Anak. Melalui http://file.upi.edu/Direktori/FPBS/JUR._PEND._BHS._DAN_SASTRA_INDONESIA/196 306081988031MEMEN_DURACHMAN/ASPEK_PENDIDIKAN_SASTRA_ANAK.pdf. 11 Desember 2012. Hudayat, Asep Yusup. 2007. Modul Penelitian Sastra. Melalui http://resources.unpad.ac.id/unpadcontent/uploads/publikasi_dosen/metode_penelitian_sastra.PDF. 11 Desember 2012. http://awanadec.wordpress.com/2011/05/13/dongeng-sebagai-media-belajar/. 11 Desember 2012 http://blog.unnes.ac.id/cahsotoy/2009/12/11/halo-dunia/. 11 Desember 2012.