You are on page 1of 188

1

ROMAN’S FORENSIK 2nd ed

DAFTAR ISI
BAB I. PENGANTAR & PRINSIP PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK (1) BAB II. VISUM ET REPERTUM SERTA CARA, SEBAB, & MEKANISME KEMATIAN (7) BAB III. IDENTIFIKASI FORENSIK (14) BAB IV. TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP) (21) BAB V. TANATOLOGI (24) BAB VI. ASFIKSIA (33) BAB VII. TRAUMATOLOGI (57) BAB VIII. ABORSI (82) BAB IX. INFANTISID (107) BAB X. KEJAHATAN SEKSUAL (115) BAB XI. KEMATIAN MENDADAK (120) BAB XII. INTOKSIKASI FORENSIK (123) BAB XIII. PEMERIKSAAN DALAM FORENSIK (143)

2

ROMAN’S FORENSIK 2nd ed

BAB I PENGANTAR & PRINSIP PEMERIKSAAN KEDOKTERAN FORENSIK Kedokteran forensik = ilmu pengetahuan yang menggunakan multidisiplin ilmu tujuan untuk membuat terang suatu perkara pidana dan membuktikan ada tidaknya kejahatan atau pelanggaran dengan memeriksa barang bukti (Physical Evidence) dalam perkara tersebut.  Cabang spesialistik ilmu kedokteran yang mempelajari pemanfaatan ilmu kedokteran untuk kepentingan penegakkan hukum serta keadilan.  Persamaan Kedokteran Kehakiman; Legal Medicine; Medical Jurisprudence; Forensic Medicine. Clinical Forensic, Pathology Forensic  ≠ Hukum Kedokteran (Medical Law) Peran Kedokteran Forensik ? Menentukan : Mengapa : Di Masyarakat kerap terjadi peristiwa pelanggaran hukum menyangkut tubuh manusia. Sejarah  forum Bagaimana : Manfaatkan ilmu secara optimal & penuh kejujuran, serta pemeriksaan KF thd korban hidup / mati / bag tubuh manusia Untuk : Temukan kelainan, Bilamana timbul, Penyebab & sebab cedera, Penyebab, mekanisme, saat & cara kematian, serta Identifikasi  Kedokteran Forensik memiliki sub ilmu yaitu :  Autopsi Forensik, berbeda dengan autopsi anatomi  Patologi Anatomi Forensik  Toksikologi Forensik dan Kimiawi Forensik 3 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed

        Misal : berkaitan dengan obat-obatan psikotropika yang bisa diperiksa dengan sampel urine Parasitologi Forensik / Entomolgi Forensik  Misal : kalau pada autopsi ditemukan larva lalat ini harus diperiksa oleh bagian parasitologi forensik supaya bisa membantu menemukan waktu kematian Odontologi Forensik : pemeriksaan gigi Antropologi Forensik : pemeriksaan seluruh tubuh dari tulang sampai gigi Radiologi Forensik  Termasuk disini adalah photo-photo. Laboratorium Forensik  Tidak hanya pemeriksaan kimiawi. dan balistik (senjata api). Traumatologi Forensik  Trauma terdiri dari : trauma fisik. dan USG. CT-Scan.Misal : rambut. PA. dimana pelaku melakukan kejahatan berdasarkan adanya gangguan jiwa dan bagian ini dilakukan oleh psikiater ataupun psikolog. dll Psikiatri Forensik  Pemeriksaan yang dilakukan terhadap pelaku. percikan darah 4 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .  Alat Bantu diatas dapat dipakai sebagai alat bukti pada proses hukum. toksikologi tapi juga DNA yang diambil dari jaringan yang tidak cepat membusuk. trauma kimia.

Proses penyidikan perkara pidana a. masuk Berita Acara Pemeriksaan (BAP) b.mencari informasi/memeriksa TKP dan para saksi peristiwa serta pemeriksaan para saksi 5 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .menerima laporan/informasi dan atau melihat langsung terjadinya perkara.

penyidikan lebih lanjut atas informasi/keterangan para ahli e. melakukan konsultasi terhadap para ahli untuk pemeriksaan barang bukti korban/terdakwa atas dasar legalitas hukum d. pengawalan langsung terhadap pengiriman/konsultasi Barang Bukti atau kasus korban/terdakwa untuk pemeriksaan tertentu g.pemberian label terhadap barang bukti mati dan surat permintaan pemeriksaan/ konsultasi kepada yang lebih berwenang f.c.pendekatan dan penjelasan kepada keluarga korban atau korban untuk macam pemeriksaan Kedokteran Forensik dan persetujuannya (Informed Consent)  Jadi Singkatnya :  ada surat permintaan penyidik  ada surat persetujuan keluarga/korban/terdakwa untuk pemeriksaan  legalitas hukum pengiriman Barang Bukti/korban atau terdakwa untuk pemeriksaan Dalam proses pemeriksaan medis  kesiapan Barang bukti/korban/terdakwa dan penyidik (termasuk keluarga bila perlu)  penyidik siap melihat langsung pemeriksaan dan mengamankan lingkungan. mencatat serta membuat dokumentasi fakta pada korban/BB akibat peristiwa  penyidik siap sebagai konsultan peristiwa dan penghubung keluarga sesuai kebutuhan pihak medis  penyidik siap menerima BB yang lain yang terdapat pada korban/BB untuk pemeriksaan 6 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .

korban hidup dan para saksi/saksi ahli  surat panggilan para saksi/saksi ahli. hakim. Pasal 136 KUHAP) Dalam proses sidang pengadilan  koordinasi penyidik. terdakwa. korban hidup dan terdakwa  kesiapan alat bukti. jaksa. sementara atau definitif  bertanggung jawab terhadap seluruh biaya pemeriksaan medis (Perda.lebih lanjut atau untuk barang bukti di sidang pengadilan  menyerahkan jenazah korban atau korban hidup kepada keluarga setelah pemeriksaan. SK Direktur RS. medis oleh profesi masingmasing 7 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . pengobatan dan perawatan dianggap selesai  menerima hasil pemeriksaan medis. saksi ahli. terdakwa. para saksi/saksi ahli dan penasehat hukum serta keluarga korban/terdakwa  pertanggunganjawab masing-masing para saksi. barang bukti untuk dipertanggungjawabkan dalam forum  kesiapan forum sidang pengadilan sesuai hukum yang berlaku  kesiapan para saksi ahli termasuk dokter untuk mengucapkan sumpah di forum sidang pengadilan Kerahasiaan  kerahasiaan hukum. penyidik serta terdakwa atau korban hidup yang dapat/siap di sidang  pengawalan dan pengamanan lingkungan.

menentukan macam pemeriksaan (PL. TKP. otopsi. dll)  penyidik memiliki Pasal 222 KUHP dalam menentukan pemeriksaan jenazah (PL. khususnya standart pelayanan kedokteran forensik  landasan utama berdasarkan ilmu kedokteran orientasi ilmu hukum  dapat dipertanggungjawabkan secara medis berorientasi / tidak berorientasi dengan ilmu hukum Informed concent  prinsipnya merupakan hak korban/keluarga korban untuk dilakukan pemeriksaan berdasarkan informasi dari pihak penyidik (Pasal 134 KUHAP)  penyidik perlu koordinasi dengan tim medis dan keluarga korban untuk . tanpa/bebas rahasia dalam forum sidang pengadilan khususnya para saksi/saksi ahli dan penyidik  kerahasiaan medis dan hukum tetap terjaga di luar forum pengadilan sebelum dan sesudah perkara selesai  ada sanksi terhadap para personalia pemegang rahasia Prinsip hasil pemeriksaan medis  obyektif sesuai pengamatan/pemeriksaan pihak medis  berdasarkan norma atauran/standart pelayanan medis. penunjang. otopsi)  Jadi Informed Consent :  dari pihak penyidik untuk tim medis dan penyidik berupa surat permintaan V et R 8 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .

berkaitan dengan segala macam pemeriksaan medis serta hasilnya  V et R adalah merupakan laporan data dari RM murni yang sudah dianalisa dari data RM dan pertanggungjawabnya  RM bersifat rahasia medis. 51 KUHP). Rumah Sakit.  RM dan IC berdasarkan hukum tertulis dari Permenkes RI. dari korban/keluarga korban – antara pihak penyidik. PP 10 tahun 1966 dan Pasal 170 KUHAP). 50. 49. tim medis dan keluarga korban berupa surat persetujuan keluarga  dari keluarga korban – untuk :  pangruti jenazah (agama)  pengawetan jenazah (penundaan pemakaman dan WNA)  pengiriman/transportasi jenazah (Ambulance dan pesawat terbang) Rekam Medis  Rekam medis tertuang/tertulis dalam status korban. bila diluar sidang sanksinya menurut hukum yang berlaku. Perbedaan : V et R Surat Keterangan Medis Merupakan pasien bukti Dokter atau dokter gigi Korban/penderit Merupakan a barang medis Pembuat Dokter Awal kontrak /Kontrak Kontrak pemeriksaan permintaan pemeriksaan daridari pasien sendiri pemeriksaan pihak berwenang 9 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . pribadi dan hukum (HAM.  Pelepasan rahasia di sidang pengadilan bebas sanksi (Pasal 48.

SEBAB. Format laporan Dalam bentukDalam bentuk surat visum et repertum keterangan medis (misal surat keterangan sehat) Penyerahan Diserahkan Diserahkan hanya laporan kepada pihakkepada pasien pemohon Masa berlaku Sampai Ada batas waktu berakhirnya tertentenggang waktu proses peradilan tertentu) Informed Tidak diperlukan Harus ada consent BAB II VISUM ET REPERTUM SERTA CARA. & MEKANISME KEMATIAN Pengertian  Menurut bahasa : berasal dari kata latin yaitu visum (sesuatu yang dilihat) dan repertum (melaporkan).  Menurut istilah : adalah laporan tertulis yang dibuat oleh dokter berdasarkan sumpah 10 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .(polisi. hakim) jaksa.

jabatannya terhadap apa yang dilihat dan diperiksa berdasarkan keilmuannya. Ada 5 barang bukti yang sah menurut KUHP pasal 184.Keterangan ahli 3.Petunjuk Ada 3 tujuan pembuatan VeR.Memungkinkan hakim memanggil dokter ahli lainnya untuk membuat kesimpulan VeR yang lebih baru Pembagian Visum et Repertum Ada 3 jenis visum et repertum. yaitu: 11 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . selongsong) atas permintaan tertulis oleh penyidik ditujukan untuk peradilan.Surat-surat 5. yaitu: 1.Keterangan saksi 2. non-biologis (peluru. Maksud dan Tujuan Pembuatan Visum et Repertum Maksud pembuatan VeR adalah sebagai salah satu barang bukti (corpus delicti) yang sah di pengadilan karena barang buktinya sendiri telah berubah pada saat persidangan berlangsung. yaitu: 1.  Menurut lembar negara 350 tahun 1973 : Suatu laporan medik forensik oleh dokter atas dasar sumpah jabatan terhadap pemeriksaan barang bukti medis (hidup/mati) atau barang bukti lain. sperma. darah). biologis (rambut.Keterangan terdakwa 4. Jadi VeR merupakan barang bukti yang sah karena termasuk surat sah sesuai dengan KUHP pasal 184.Menyimpulkan berdasarkan hubungan sebab akibat 3.Memberikan kenyataan (barang bukti) pada hakim 2.

1.VeR jenazah. Dokter menulis kualifikasi luka pada bagian kesimpulan VeR. yaitu VeR yang dibuat dimana luka korban telah dinyatakan sembuh atau pindah rumah sakit atau pindah dokter atau pulang paksa. yaitu VeR yang dibuat seketika. yaitu VeR khusus yang melaporkan keadaan benda atau bagian tubuh korban. jaringan tubuh. 3. yaitu  Menentukan apakah ada tindak pidana atau tidak  Mengarahkan penyelidikan  Berpengaruh terhadap putusan untuk melakukan penahanan sementara terhadap terdakwa  Menentukan tuntutan jaksa  Medical record c. karena korban memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga menghalangi pekerjaan korban. mani. yaitu VeR yang dibuat untuk sementara waktu. rambut. Kualifikasi luka tidak ditentukan dan tidak ditulis pada kesimpulan. dimana korban tidak memerlukan perawatan dan pemeriksaan lanjutan sehingga tidak menghalangi pekerjaan korban. maka dokter membuat VeR jenazah. 2. tulang. Ada sebagian pihak 12 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . Bila korban meninggal. misalnya darah. yaitu: a. Tujuan pembuatan VeR ini adalah untuk menentukan sebab. liur. Ada 5 manfaat dibuatnya VeR sementara.VeR hidup VeR hidup dibagi lagi menjadi 3. b.VeR sementara. cara. yaitu VeR yang dibuat terhadap korban yang meninggal. Kualifikasi luka yang ditulis pada bagian kesimpulan yaitu luka derajat I atau luka golongan C. dan mekanisme kematian.VeR definitif.Ekspertise. dan lain-lain. VeR lanjutan.

yaitu: 1. ekshumasi. yang ditemukan sepanjang pengetahuan kedokteran 13 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . TKP Susunan Visum et Repertum Ada 5 bagian visum et repertum.Pembukaan Ditulis ‘pro justicia’ yang berarti demi keadilan dan ditulis di kiri atas sebagai pengganti materai.VeR sementara.VeR barang bukti benda. VeR jenazah 2.yang menyatakan merupakan VeR.menurut barang bukti : b. 2.menurut peristiwa : a. VeR kejahatan seksual c.VeR mati 3. VeR psikiatrik d.VeR hidup b. bahwa ekspertise bukan Pembagian lain visum et repertum : 1. lanjutan.Pendahuluan Bagian pendahuluan berisi:  Identitas tempat pembuatan visum berdasarkan surat permohonan mengenai jam. berupa:  Apa yang dilihat. VeR perlukaan b. tanggal.menurut sifat : b.Pemberitaan Pemberitaan memuat hasil pemeriksaan. identitas dokter  Identitas peminta visum  Wilayah  Identitas korban  Identitas tempat perkara 3. definitif b. dan tempat  Pernyataan dokter.

dan nama terang dokter yang membuat. Hukuman bagi pelakunya menurut KUHP pasal 352 ayat 1. atau bila korban mati maka dokter menulis sebab kematiannya. harus dengan huruf untuk mencegah pemalsuan.Kesimpulan Bagian kesimpulan memuat pendapat pribadi dokter tentang hubungan sebab akibat antara apa yang dilihat dan ditemukan dokter dengan penyebabnya. Misalnya jenis luka. 2. Sumpah atau janji dokter dibuat sesuai dengan sumpah jabatan atau pekerjaan dokter.Penutup Bagian penutup memuat sumpah atau janji. 5. yaitu: 1. tanda tangan. sifat. Jika diopname  tulis diopname. kualifikasi luka. 4. jika pulang  tulis pulang  Tidak dibenarkan menulis dengan kata-kata latin  Tidak dibenarkan menulis dengan angka. Kualifikasi Luka Ada 3 kualifikasi luka pada korban hidup.Luka sedang / luka derajat II / luka golongan B 14 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Hasil konsultasi dengan teman sejawat lain  Untuk ahli bedah yang mengoperasi  dimintai keterangan apa yang diperoleh.  Tidak dibenarkan menulis diagnosis. dan keadaan luka.Luka ringan / luka derajat I/ luka golongan C Luka derajat I adalah apabila luka tersebut tidak menimbulkan penyakit atau tidak menghalangi pekerjaan korban. melainkan hanya menulis ciri-ciri.

4.Terganggunya akan selama > 4 minggu . kecuali ada permintaan dari Pemda Tk II. dada atau perut dianggap membawa bahaya maut) .Di wilayah sendiri. sesuai KUHP 133 ayat C. Syarat pembuat:  Harus seorang dokter (dokter gigi hanya terbatas pada gigi dan mulut)  Di wilayah sendiri  Memiliki SIP 15 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . sesuai dengan pasal I ayat 1.Gugur atau matinya janin dalam kandungan ibu Prosedur Permintaan.Penyidik. 3.Tidak dibenarkan meminta visum pada perkara yang telah lewat. yaitu: . 2. yaitu pihak kepolisian yang diangkat negara untuk menjalankan undang-undang.Luka atau penyakit yang tidak dapat sembuh atau membawa bahaya maut (NB : semua luka tembus yang mengenai kepala. dan Penyerahan Visum et Repertum Pihak yang berhak meminta VeR 1.Hilangnya salah satu panca indra korban .Luka atau penyakit yang menghalangi pekerjaan korban selamanya .Luka berat / luka derajat III / luka golongan A Luka derajat III menurut KUHP pasal 90 ada 6.Cacat besar .Pada mayat harus diberi label. Hukuman bagi 3.Luka derajat II adalah apabila luka tersebut menyebabkan penyakit atau menghalangi pekerjaan korban untuk sementara waktu. Penerimaan.

dan mencatat nama petugas yang mengantar korban.Ada identitas korban. 6.Harus sedini mungkin.Langsung menyerahkannya kepada dokter. 2. 4. dokter harus mencatat tanggal dan jam. Kesehatan baik Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat VeR korban hidup. penerimaan surat permintaan. tidak boleh dititip melalui korban atau keluarganya. Ada 8 hal yang harus diperhatikan saat pihak berwenang meminta dokter untuk membuat VeR jenazah. 7.Ada alasan mengapa korban dibawa kepada dokter. 6. 8.Mencantumkan tanggal permintaan. tidak boleh secara lisan. 8.Ada identitas pemintanya.Memberikan label dan segel pada salah satu ibu jari kaki. 5.Mencantumkan tanggal permintaan. 5. 3. yaitu: 1. 7. Batas waktu bagi dokter untuk menyerahkan hasil VeR kepada penyidik selama 20 16 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Ada keterangan terjadinya kejahatan. 3. 4.Ada identitas pemintanya.Tidak bisa permintaannya hanya untuk pemeriksaan luar. Juga tidak boleh melalui jasa pos.Harus tertulis.Bukan kejadian yang sudah lewat sebab termasuk rahasia jabatan dokter.Korban diantar oleh polisi. Saat menerima permintaan membuat VeR.Harus tertulis.Korban diantar oleh polisi atau jaksa. tidak boleh secara lisan. 2. yaitu: 1.

robek.tajam : iris. mikrobiologi) CARA. SEBAB.asam . sitologi. GIT.senjata api (balistik) . patologi.bahan peledak/bom b. patah . kecelakaan Sebab Kematian = penyakit atau cedera/luka yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian Sebab kematian : 1. respirasi. Lampiran visum  Fotografi forensik  Identitas.tumpul : memar. panas . SSP. bunuh diri. kelainan-kelainan pada gambar tersebut  Penjelasan  istilah kedokteran  Hasil pemeriksaan lab forensik (toksikologi. batas waktunya menjadi 40 hari dan atas persetujuan penuntut umum.suhu : dingin. lecet.Trauma : a.basa . tusuk. DAN MEKANISME KEMATIAN Cara kematian = macam kejadian yang bertanggung jawab terhadap kematian Cara Kematian : 1. urogenital 2. mekanik : .hari. Bila belum selesai.listrik/petir c. bacok . Wajar : karena penyakit 2. kimiawi : . Tidak wajar : pembunuhan.intoksikasi 17 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .Penyakit : gangguan SCV. fisik : .

Mekanisme Kematian = gangguan/kelainan fisiologik dan atau biokimia yang bertanggung jawab terhadap timbulnya kematian Mekanisme kematian : 1. Refleks vagal 5. Perdarahan 3. Mati lemas (asfiksia) 2. Kerusakan organ vital 4. Emboli 6. dll Mekanisme kematian bisa kombinasi beberapa mekanisme BAB III IDENTIFIKASI FORENSIK Definisi :  Identifikasi adalah penentuan atau pemastian identitas orang yang hidup maupun mati. berdasarkan ciri khas yang terdapat pada orang tersebut.  Identifikasi forensik merupakan usaha untuk mengetahui identitas seseorang yang ditujukan 18 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

6. Tujuan Identifikasi forensik : 1. Pemastian kematian seseorang secara resmi & yuridis Pencatatan identitas administratif & pemakaman untuk keperluan Pengurusan klaim di bidang hukum publik dan perdata Pembuktian klaim asuransi. untuk menentukan siapa orang tuanya o anak hilang o orang dewasa yang karena sesuatu hal kehilangan uangnya o tuntutan hak milik o untuk kepentingan asuransi o tuntutan hak pensiun 2.Pada Orang Hidup o semua kasus medikolegal o penjahat atau prajurit militer yang melarikan diri o orang yang didakwa pelaku pembunuhan o orang yang diakwa pelaku pemerkosaan o identitas bayi baru lahir yang tertukar. 3.untuk kepentingan forensik. Kebutuhan etis & kemanusiaan 2. Pada jenazah. yaitu kepentingan proses peradilan. 5. o kasus peledakan o kasus kebakaran 19 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . pensiun dll Upaya awal dalam suatu penyelidikan kriminal (bila ada) Peran Identifikasi : 1. dilakukan pada keadaan. 4.

Kelemahan : sangat dipengaruhi faktor sugesti dan emosi 2. warna tirai mata. dll 5. bahan.perak. Pengamatan pakaian  catat: model. ukuran. SIM. kuningan dll). Sebaiknya : simpan perhiasan dengan baik 4.Komunitas korban tidak terbatas .o kecelakaan kereta api atau pesawat terbang o banjir o kasus kematian yang dicurigai melanggar hukum Ada dua metode. Syarat : korban dalam keadaan utuh. bahan (emas. cincin dll). Secara visual  keluarga/rekan memperhatikan korban (terutama wajah).Data antemortem & postmoterm tersedia b. tato 20 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . kalung.Dalam komunitas terbatas . Identifikasi Komparatif . a. Sebaiknya : simpan pakaian atau potongan pakaian (20x10 cm).Data antemortem tidak tersedia Cara Identifikasi yang biasa dilakukan : 1.Dokumen : KTP. adanya luka bekas operasi. inisial nama & tulisan pada pakaian. Medis  pemeriksaan fisik : tinggi & berat badan. yaitu . gelang. Pengamatan perhiasan  catat : jenis (anting. kartu golongan darah. inisial nama.Identifikasi Rekonstruktif . foto pakaian 3.

tapi mahal 10. Serologi  korban memeriksa darah dan cairan tubuh 9. Ekslusi  biasanya digunakan pada korban kecelakaan masal. Identifikasi sekunder Cara sederhana : melihat langsung ciri seseorang dengan memperhatikan perhiasan. kedokteran. menggunakan data/daftar penumpang Metode pemeriksaan terbagi menjadi dua macam. Odontologi  bentuk gigi & rahang : khas. dll Pada jenazah yang telah membusuk ditentukan :  Ras  Jenis Kelamin 21 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . odontologi.6. yaitu : 1. perlu diingat : dental record di Indonesia masih sangat terbatas 7. Sidik jari  tidak ada dua orang yang memiliki sidik jari yang sama mudah dan murah 8. Identifikasi primer :  DNA  Sidik Jari  Odontologi Pada jenazah yang rusak/busuk untuk menjamin keakuratan dilakukan 2-3 metode pemeriksaan dengan hasil (+) 2. pakaian dan kartu identitas yang ditemukan. DNA . DNA  sangat akurat. Cara Ilmiah : melalui tektik keilmuan tertentu seperti sidik jari. sangat penting bila jenazah dalam keadaan rusak/membusuk.

 Perkiraan umur  Tinggi badan Penentuan Jenis Kelamin : wajah, potongan tubuh, bentuk rambut, pakaian, ciri-ciri seks, buah dada, pemeriksaan mikroskopik dari ovarium dan testis, rangka, dan histologik/kromosom. Penentuan jenis kelamin berdasarkan rangka : rangka wanita lebih halus, indeks iscium-pubis wanita lebih besar 15% dari ukuran laki-laki, luas permukaan prosesus mastoideus wanita lebih kecil, manubrium sterni wanita separuh panjang korpus sterni, tulang panjang wanita lebih pendek, lebih ringan, lebih halus, dan impressinya lebih sedikit. Penentuan umur : - bayi baru lahir : penentuan umur kehamilan, viabilitas, berat badan, panjang badan, pusat penulangan, tinggi badan ( jarak antara kepala samapai ke tumit/crown-heel, jarak antara kepala ke tulang ekor/crown-rup) - anak-anak & dewasa < 30 thn : persambungan spheno-occipital tjd dlm umur 17-25 thn (pd wanita 17-20 thn), unifikasi tulang selangka mulai umur 18-25 thn & menjadi lengkap usia 31 thn ke atas, korpus vertebrae sblm usia 30 thn menunjukkan alur-alur yang berjalan radier pada bgn permukaan atas&bawah - dewasa > 30 thn : sutura sagitalis. Coronaries, dan lamboideus mulai menutup pada usia 2030 thn, sutura parietomastoid dan sutura squamaeus menutup usia lima tahun kemudian – 60 thn, sutura sphenoparietal menutup usia 70 thn Penentuan tinggi badan : Melalui pengukuran tulang panjang : 22 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed

o o o o

femur 27% dr tinggi badan tibia 22% dr tinggi badan humerus 35% dr tinggi badan tulang belakang dr tinggi badan

Formula Stevenson : o TB = 61,7207 + (2,4378 x pjg Femur) + 2,1756 o TB = 81,5115 + (2,8131 x pjg Humerus) + 2,8903 o TB = 59,2256 + (3,0263 x pjg Tibia) + 1,8916 o TB = 80,0276 + (3,7384 x pjg Radius) + 2,6791 Formula Trotter dan Gleser : o TB = 70,37 + 1,22 (pjg Femur + pjg Tibia) + 3,24 Pengukuran dengan osteometric board & tulang harus kering Melakukan identifikasi jenazah kepada :  Jenazah tidak dikenal  Jenazah yang membusuk atau kerangka  Kasus penculikan anak  Kasus bayi tertukar  Keraguan siapa orang tua anak Identifikasi korban bencana masal :  Organisasi Interpol  Secara internasional identifikasi korban massal adalah tanggung jawab polisi  Interpol Disaster Victim Identification Standing Comittee yang beranggotakan 114 negara di dunia dan bersidang setahun sekali di Lyon Yang harus dilakukan : 23 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

Fase I :Unit Penanganan di TKP (Tempat Kejadian Peristiwa), Kegiatan :  Membuat sektor-sektor/zona pada TKP dgn ukuran 5 x 5 m.  Memberi tanda setiap sektor.  Memberikan label pandang dan label orange pada jenazah dan potongan jenazah diikat pada tubuh/ibu jari kaki korban.  Memberikan label putih pada barang-barang pemilik tercecer.  Membuat sketsa dan foto tiap sektor  Evakuasi dan transportasi jenazah dan barang, dengan : • Memasukkan jenazah dan potongan jenazah dalam karung plastik dan diberi label sesuai nomor jenazah. • Memasukkan barang-barang yang terlepas dari tubuh korban dan diberi label sesuai nomor jenazah. • Diangkut ketempat pemeriksaan dan penyimpanan jenazah dan dibuat berita acara penyerahan kolektif. Fase II : Unit postmortem : • Menerima jenazah/potongan jenazah dan barang dari unit TKP. • Registrasi ulang dan pengelompokan kiriman tersebut berdasarkan jenazah utuh, tidak utuh potongan jenazah dan barang-barang. • Membuat foto jenazah. • Mencatat semua ciri-ciri korban sesuai formulir interpol • Mengambil sidik jari korban dan golongan darah (Ident/Labfor). • Mencatat gigi-gigi korban (Odontogram). 24 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

• Membuat Ro. o Mengumpulkan hasil identifikasi korban. Foto jika perlu. keluarga/kenalan. • Mengambil data-data ke unit pembanding. • Memasukkan data-data yang masuk dalam formulir yang tersedia formulir AM Kuning. o Menerima keluarga korban. polisi (sidik jari). • Melakukan otopsi. dokter-dokter gigi pribadi. o Publikasi yang benar dan terarah oleh komisi identifikasi sangat membantu masyarakat mendapat informasi yang terbaru dan akurat.berdasarkan : o Jenis kelamin o Umur o Kewarganegaraan • Mengirimkan data-data yang telah diperoleh ke unit pembanding data Fase IV Unit pembanding data (rekonsiliasi) o Cek dan recek hasil unit pembanding data. • Mengelompokkan data-data Ante Mortem. Fase III : Unit ante mortem • Mengumpulkan data-data nama korban dari daftar penumpang serta data semasa hidup seperti foto dan lain-lain yang dikumpulkan dari instansi tempat korban bekerja. o Membuat surat keterangan kematian untuk korban yang dikenal dan surat-surat lain yang diperlukan. Fase V 25 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

Penyidik: 1. merupakan suatu persaksian.melakukan pengamatan/observasi TKP 2.penanganan korban 26 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .membuat sketsa/foto 3.Dilakukan Evaluasi • Dilakukan evaluasi yang terhadap masing-masing fase komprehensif BAB IV TEMPAT KEJADIAN PERKARA (TKP) Definisi : Suatu tempat penemuan barang bukti atau tempat terjadinya peristiwa tindak pidana atau kecurigaan suatu tindak pidana.

ukuran luka (cm ditulis sentimeter). apakah kasus pidana atau tidak Jika dokter tidak mau  sanksi KUHP pasal 24 Bantuan dokter dapat berupa: 1. jika korban mati  buat sketsa foto  situasi ruangan. garis tengah luka. lebam mayat.penanganan terhadap pelaku/kerugian lain 5. 6. lihat TKP (porak-poranda atau tenang): • identifikasi  lihat bab identifikasi • lihat tanatologi  suhu rektal. dokumen. lokasi dimana. penurunan suhu. kulit pucat. sifat luka: o tepi luka (jika ditautkan berbentuk garis atau tidak) o sudut luka (tumpul atau tidak) o jembatan jaringan (terpotong atau tidak) 27 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . lebam mayat.4. catat tanggal permintaan. jika korban masih hidup  • identifikasi secara visual: pakaian secara visual terhadap perhiasan. pembusukan) • lihat lukanya  lokasi luka. relaksasi otot. kartu pengenal lainnya • identifikasi medik  dari ujung rambut sampai kaki termasuk gigi dan identifikasi sidik jari 4. (1. dan alat pemeriksa TKP 2. kaku mayat. 4. banyak luka. 3. 7. 5. 2. perubahan mata. persiapan  permintaan tertulis atau tidak. siapa peminta.penanganan terhadap barang bukti KUHP pasal 20  minta bantuan dokter. biaya  ditanggung yang meminta 3. kaku mayat.

tepi garis seperti roda  darah jatuh secara vertikal jarak > 120 cm  darah bulat lonjong  darah jatuh arahnya miring o distribusi darah  dari dada ke kaki  bentuk genangan (bunuh diri). morat marit (pembunuhan) o sumber  dari arteri (pancaran lebih jauh dan warna lebih terang)  darah merah berbuih  dari saluran respirasi  darah coklat hitam  dari saluran cerna 5. jika pada pakaian  digunting 28 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . dll • darah o warna merah/tidak o tetesan.o ada lecet atau memar di sekitar luka o tanda: fraktur atau krepitasi tulang o dasar luka (bersih atau tidak) o koordinat luka Kesan: luka akibat benda tajam/tumpul.identifikasi lanjutan • ada sperma atau tidak • pengambilan darah : jika di dinding kering  dikerok. genangan. tepi seperti jarum  darah jath vertikal jarak 60-120 cm  darah bundar. atau garis o melihat bentuk/sifat darah  dapat diperkirakan sumber darah  darah bundar tepi kecil  darah jatuh vertikal jarak = 60 cm  darah bundar.

ada luka percobaan. ada luka yang mudah dicapai ada yang tidak. luka mudah dicapai oleh korban. ada luka tangkisan karena perlawanan • kecelakaan • mati wajar  karena penyakit Dengan melihat keadaan TKP lakukan : 1.penentuan mati wajar atau tidak 2.menentukan cara kematian/menentukan diagnosis mati Tugas dokter di TKP  untuk membantu visum dan otopsi apakah sesuai dengan TKP atau tidak. luka di sembarang tempat.• darah basah/segar  masukan termos es  kirim ke lab kriminologi 6.identifikasi lanjutan • rambut • sperma kering atau tidak secara visual  sinar UV • air ludah. pakaian masih baik • pembunuhan  TKP morat marit. bekas gigitan  bisa ditentukan golongan darah 7. TKP tengang tidak morat-marit.membuat kesimpulan di TKP • mati wajar atau tidak • bunuh diri  genangan darah. luka multipel.menentukan saat kematian 3. tidak ada luka tangkisan. pakaian robek. 29 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

syaraf +5 menit setelah mati klinis. sesaat setelah kematian somatis ( otak & jar. Fungsi Tanatologi : o Menegakkan diagnosa mati o Memperkirakan saat kematian o Untuk menentukan proses cara kematian o Untuk mengetahui sebab kematian Defenisi mati : Berhentinya ketiga sistem yaitu kardiovaskular. dan sistem daraf pusat. Sist. Atau Ilmu yang mempelajari tentang mati dan diagnostik mati dan perubahan postmortem dan faktorfaktor yang mempengaruhi serta kegunaan apa saja. yang merupakan satu unit kesatuan dan tidak terkonsumsinya oksigen. respirasi . SCV. tetapi beberapa organ & jaringan masih bisa berfungsi sementara  memungkinkan untuk transplantasi. Istilah Mati : o Mati somatis/mati klinis : 3 sistem (SSP.respiratory) mati  ireversibel/menetap. 30 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Aktivitas otak dinyatakan berhenti bila : EEG mendatar selama 5 mnt o Mati seluler/molekuler : kematian organ & jaringan.BAB V TANATOLOGI Pengertian Thanatos : yang berhubungan dengan kematian Logos : ilmu adalah bagian dari ilmu kedokteran forensik yang mempelajari kematian dan perubahan yang terjadi setelah kematian serta faktor yang mempengaruhi perubahan tersebut.

otot +4 jam setelah mati klinis. kornea +6 jam setelah mati klinis). kornea masih dapat ditransplantasikan dan darah masih dapat dipakai untuk transfusi sampai 6 jam pasca mati. dilatasi pupil masih terjadi pada pemberian adrenalin 0. o Mati suri : Dalam stadium somatic death perlu diketahui suatu keadaan yang dikenal dengan istilah mati suri atau apparent death. pemberian pilokarpin 1% atau fisostigmin 0. dan mengalami mati seluler setelah 4 jam. tersengat aliran listrik. otot masih dapat dirangsang (listrik) sampai kira-kira 2 jam pasca mati. Dapat dikemukakan bahwa susunan saraf pusat mengalami mati seluler dalam waktu 4 menit. Mati suri ini terjadi karena proses vital dalam tubuh menurun sampai taraf minimum untuk kehidupan. Dalam literatur lain mati suri adalah terhentinya ketiga sistem kehidupan yang ditentukan dengan alat kedokteran sederhana. kedinginan. Mati suri sering ditemukan pada kasus keracunan obat tidur (barbiturat).5% akan mengakibatkan miosis hingga 20 jam pasca mati. Kulit masih dapat berkeringat sampai lebih dari 8 jam pasca mati dengan cara menyuntikkan subkutan pilokarpin 2% atau asetilkolin 20%. sehingga secara klinis sama dengan orang mati. mengalami acute heart failure. mengalami anestesi yang dalam. Dengan peralatan kedokteran canggih masih dapat dibuktikan bahwa ketiga sistem tersebut masih berfungsi. mengalami 31 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .1% atau penyuntikan sulfat atropin 1% ke dalam kamera okuli anterior. spermatozoa masih bertahan hidup beberapa hari dalam epididimis.

Denyut nadi berhenti pada palpasi.Tidak ada gerakan permukaan air dalam gelas yang kita taruh diatas perut korban pada tes Winslow. yaitu : 1.Tonus tidak ada 5.Areflex 2. 3. 4. termasuk batang otak dan serebelum Diagnosa mati Hilangnya seluruh ataupun pergerakan/aktivitas refleks hilang Mendeteksi tidak berfungsinya Respirasi : 1.Tidak ada uap air pada cermin yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban.Relaksasi 3. 5.neonatal anoxia.Elekto Ensefalografi (EEG) mendatar / flat Ada 6 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem kardiovaskuler.Tidak ada bising napas pada auskultasi. 32 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Tidak ada gerakan bulu burung yang kita letakkan didepan lubang hidung atau mulut korban. o Mati serebral : kerusakan kedua hemisfer otak yang irreversibel. yaitu : 1.Pergerakan tidak ada 4. menderita catalepsy dan tenggelam.Tidak ada gerak napas pada inspeksi dan palpasi. kecuali batang otak dan serebelum (SCV dan respirasi masih berfungsi) o Mati otak/batang otak : kerusakan seluruh isi neuronal intrakranial yang irreversibel. 2. Ada 5 cara mendeteksi tidak berfungsinya sistem saraf.

2.Tidak keluarnya darah dengan pulsasi pada insisi arteri radialis.Tes magnus : tidak adanya tanda sianotik pada ujung jari tangan setelah jari tangan korban kitaikat. darah mengendap terutama pembuluh darah besar 33 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Tanda kematian : Tidak pasti • Pernafasan berhenti. dinilai selama 15 menit • Kulit pucat • Tonus otot menghilang dan relaksasi • Pembuluh darah retina mengalami segmentasi bergerak ke arah tepi retina dan kemudian menetap • Pengeringan kornea menimbulkan kekeruhan Pasti • Lebam mayat (livor mortis) • Kaku mayat (rigor mortis) • Penurunan suhu tubuh (algor mortis) • Pembusukan (decomposition. 4.Detak jantung berhenti selama 5-10 menit pada auskultasi. 5.Tes Icard : daerah sekitar tempat penyuntikan larutan Icard subkutan tidak berwarna kuning kehijauan.Elektro Kardiografi (EKG) mendatar / flat. 3. 6. putrefaction) • Adiposera atau lilin mayat • Mummifikasi Perubahan post mortem : • Kulit wajah pucat : krn sirkulasi berhenti. dinilai selama lebih dari 10 menit • Terhentinya sirkulasi.

RT o F 1. berwarna biru ungu tetapi masih dalam pembuluh darah. jam Saat kematian (dalam jam) dapat dihitung rumus Post Mortem Interval (PMI) oleh Glaister dan Rentoul : Formula untuk suhu dalam derajat Celcius PMI = 37 o C . konveksi dan radiasi serta evaporasi Penurunan suhu = 10x(37-temperatur rektal) = .• Relaksasi primer : krn tonus otot tidak ada → rahang bawah melorot • Perubahan pada mata : pandangan mata kosong. Timbul : 15 – 20 menit Lokalisasi : tempat yang terendah 34 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .RT o C +3 Formula untuk suhu dalam derajat Fahrenheit PMI = 98.. refleks (-) • 10-12 jam → keruh kornea • Penurunan suhu badan : karena perpindahan panas ke dingin melalui konduksi. Korban meninggal -> peredaran darah berhenti -> stagnasi -> akibat gravitasi -> darah mencari tempat yang terendah -> terlihat bintik-bintik merah kebiruan.... Timbul 20-30 menit dan setelah 6-8 jam lebam mayat masih bisa ditekan dan masih bisa berpindah tempat. Suhu tubuh yang tinggi dapat mempercepat timbulnya lebam mayat.5 • Perubahan pada kulit : Lebam mayat (livor mortis) : terjadi karena pengendapan butir-butir ertirosit karena adanya gaya gravitasi sesuai dengan tubuh.6 o F .

seperti tenggelam. Lebam mayat merupakan indikator kurang akurat dalam menentukan mekanisme kematian.tertekan pakaia Perbedaan antara lebam mayat & hematom  lihat bab traumatologi 4 jam setelah meninggal -> extravasasi pigment darah -> letak lebam mayat tidak berubah. Bila terjadi bendungan. hipoksia.tertekan dasar .Kecuali : bagian tubuh yang . dimana tidak ada hubungan antara tingkat kegelapan lebam mayat dengan kematian yang disebabkan asfiksia. tergantung oksigenasi sewaktu korban meninggal.Asphyxia : Dark red Warna Lebam Mayat Lebam mayat sering berwarna merah padam.Keracunan CO : Cherry red . Warna lebam mayat: . Sering kematian sebab wajar oleh karena gangguan koroner atau penyakit lain memiliki lebam yang lebih gelap. Terkadang area lebam mayat berwarna terang dan dilanjutkan dengan area lebam mayat berwarna lebih gelap. Sering kali warna lebam mayat merah terang atau merah muda. tetapi bervariasi. Kematian yang disebabkan hipotermi atau terpapar udara dingin selama beberapa waktu. dimana warna lebam mayat dapat 35 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . bila posisi mayat tidak diubah.Keracunan nitro benzen : Chocolate brown .Keracunan CN : Bright red . mayat memiliki warna lebam yang lebih gelap karena adanya hemoglobin tereduksi dalam pembuluh darah kulit. Hal ini akan berubah seiring memanjangnya interval post mortem.Normal : Merah kebiruan .

Keracunan sianida (CN) memiliki ciri khas tertentu. sehingga perubahan secara kuantitatif lebam dapat ditentukan. Mekanismenya belum pasti. Diketahui bahwa lebam mayat yang merah padam berubah menjadi merah muda pada batas horizontal anggota tubuh bagian atas. dimana metabolisme reduksi dari jaringan gagal mengambil oksigen dari sirkulasi darah. Hal ini dapat dimengerti pada kasus hipotermi. karena pelepasan O2 ke jaringan dihambat). Yang paling sering adalah merah terang (cherry-pink). Bila ahli forensik tidak teliti terhadap penyebab dari riwayat dan bau sianida (CN-bau amandel). tetapi relatif tidak spesifik oleh karena mayat yang terpapar udara dingin setelah mati (terutama bila mayat yang di dalam lemari es mayat) dapat terjadi perubahan lebam dari merah padam menjadi merah muda. Perubahan lainnya pada warna lebam lebih berguna. dimana hemoglobin lebih mudah mengalami reoksigenasi karena eritrosit kurang mengendap pada bagian lebam. tetapi sangatlah jelas merupakan hasil dari perubahan hemoglobin tereduksi menjadi oksihemoglobin. warna lebam pada anggota tubuh bagian bawah tetap gelap. oleh karena karboksihemoglobin (CO-Hb) terletak pada seluruh jaringan. Lebam mayat yang berwarna merah kecoklatan pada methemoglobinemia dan dapat 36 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . warna ini khas dan sering merupakan indikasi pertama adanya keracunan karbonmonoksida (CO).menentukan penyebab kematian. sangatlah susah menggunakan lebam mayat sebagai satu-satunya indikasi penyebab kematian. yaitu warna lebam mayat merah kebiruan yang disebabkan terjadi bendungan dan sianosis (kurang O2.

dada. termasuk berbagai penyakit yang mempengaruhinya. lebam mayat yang terjadi sedikit. Pemeriksaan laboratorium sederhana yaitu test resistensi alkali dapat juga dilakukan. perut dan anggota bawah kemudian kaku lengkap dalam 6-12 jam dan dipertahankan 24-48 jam. Walaupun hal ini tidak timbul pada lebam. warna segera menjadi coklat oleh karena terbentuknya hematina alkali. dan perdarahan (hipovolemia).memiliki warna yang bervariasi pada keracunan aniline dan klor. Faktor-faktor yang mempengaruhi kecepatan pembentukan lebam mayat adalah: viskositas darah. dimulai dari otot kecil : rahang bawah. warna lebih muda dan terjadi biasanya lebih lambat. Selama masih ada energi→aktin miosin masih regang. Pada polisitemia sebaliknya lebam mayat lebih cepat terjadi. Timbul : 1-3 jam postmortem. anggota gerak atas. warna tetap beberapa saat oleh karena resistensi. sedangkan pada CN. Pada anemi berat. bercak berwarna pucat keabuan dapat terkadang terlihat pada kulit. Jika glikogen otot habis dan energi tidak ada maka ADP tidak bisa jadi ATP → ADP tertumpuk → aktin miosin membeku → kaku. Pada CO. dipertahankan 6-12 jam. Kematian yang disebabkan sepsis dimana Clostridium perfringens sebagai agen infeksi. • Perubahan pada otot Rigor mortis : karena adanya kelenturan otot setelah mati karena adanya metabolisme tingkat selular masih berjalan berupa pemecahan cadangan glikogen→energi→ADP→ ATP. 37 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . kadar Hb. yaitu dengan menetesi contoh darah yang telah diencerkan dengan NaOH/KOH 10%.

mati mendaki gunung.Cadaveric spasm (instantaneous rigor) o akibat habisnya cadangan glikogen dan ATP yang bersifat setempat pada saat mati klinis karena kelelahan atau emosi yang hebat sesaat sebelum meninggal o kaku mayat timbul dengan intensitas sangat kuat tanpa didahului oleh relaksasi primer. Cadaveric Spasm Sesaat sebelum meninggal (intravital) dan menetap Kelelahan. • Konstitusi berupa tubuh kurus. emosi hebat. Pembeda Waktu timbul Rigor Mortis Dua jam setelah meninggal. Kaku otot pada satu kelompok otot tertentu. dari otot-otot kecil kemudian otot besar. Habisnya cadangan glikogen pada otot setempat. mayat langsung mengalami kekakuan secara terus-menerus sampai terjadi relaksasi sekunder o Terlihat pada kasus : bunuh diri dengan pistol atau senjata tajam. • Suhu tubuh tinggi. yaitu : • Aktivitas fisik pra kematian / pre mortal. dan lain-lain. Faktor predisposisi Etiologi Pola terjadinya kaku otot 38 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Rigor mortis lengkap setelah 12 jam. pembunuhan dimana korban menggenggam robekan pakaian pembunuh. ketegangan. Habisnya cadangan glikogen secara general.Faktor yang mempercepat terjadinya rigor mortis. Sentripetal. • Umur yaitu anak-anak dan orang tua. mati tenggelam. • Gizi yang jelek. Kekakuan yang menyerupai kaku mayat : 1. • Suhu lingkungan tinggi.

siku. Biasanya pada kasus pembunuhan. Suhu mayat Kematian sel. Perlu tenaga kuat untuk melawannya. membentuk sikap petinju (pugilistic attitude) pada kasus mati terbakar 3. bunuh diri. dan kecelakaan. Dingin. 2. Untuk menunjukkan sikap terakhir masa hidupnya. Tidak ada. Autolisis o Tubuh membentuk enzim merusak sel dari nukleus→sitoplasma→dinding→hancur b. pemadatan jaringan lemak subkutan dan otot • Pembusukan : a. Relaksasi primer Timbulnya Lamanya Koordinasi otot Lokasi otot Rangsangan sel. Kaku otot. Hangat. Dapat dilawan dengan sedikit tenaga.Cold stiffening o terjadi pembekuan cairan tubuh. paha dan lutut. Ada Lambat Cepat hilang Kurang Menyeluruh Tidak ada respon otot. termasuk cairan sendi. Tidak ada Cepat Lambat hilang (dipertahankan) Baik Setempat (yang aktif) Ada respon otot. Heat stiffening : o kekakuan otot akibat koagulasi protein otot oleh panas o serabut-serabut ototnya memendek sehingga menimbulkan fleksi leher. Ada.Mikroorganisme : bakteri patogen dalam sekum 39 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Kepentingan medikolegal Untuk penentuan saat kematian.

o Setelah mati → daya tahan tubuh turun karena leukosit menurun → kuman mudah masuk ke pembuluh darah → media baik untuk tumbuh kuman → hancurkan darah dan bentuk amonia dan H2S → pertama kali terlihat didaerah kanan pada fossa iliaka kanan tepatnya disekum terlihat warna ungu (livide) yang merupakan reaksi Hb dan H2S → methsulf –Hb. 2) Suhu optimal yaitu 21-380C (70-1000F) mempercepat pembusukan. dari dalam 1) Umur. belatung pada 36 jam kemudian. Hukum Casper. o Gas pembusukan masuk ke pembuluh darah → pembuluh darah melebar sehingga perut menggembung → pecahnya kapiler di alveoli → keluar darah lewat hidung. Tubuh gemuk lebih cepat membusuk daripada tubuh kurus. 4) Sifat medium. 3) Keadaan saat mati. yaitu : a. di tanah paling lambat). Bayi yang belum makan apa-apa paling lambat terjadi pembusukan. 2) Konstitusi tubuh. Udem. Berhenti pada suhu 2120F 3) Kelembaban udara yang tinggi mempercepat pembusukan. o Pembusukan dimulai 48 jam postmortem. dari luar 1) Mikroorganisme/sterilitas. infeksi dan sepsis mempercepat pembusukan. b. 40 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Udara : air : tanah = 8 : 2 : 1 (di udara pembusukan paling cepat. Faktor-faktor yang mempengaruhi cepatlambatnya pembusukan mayat. Dehidrasi memperlambat pembusukan.

kelembaban turun → dehidrasi viceral sehingga kumankuman tidak berkembang → tidak terjadi pembusukan → mayat mengecil. diafragma 3) paling lambat : prostate. struktur anatomi masih lengkap sampai bertahun-tahun. usus. o Proses penguapan cairan atau dehidrasi jaringan yang cukup cepat sehingga terjadi pengeringan jaringan 41 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . uterus yang tidak hamil Perbedaan Bulla Intravital dan Bulla Pembusukan Bulla Intravital Kecoklatan Tinggi Hiperemis Intraepidermal Ada Perbedaan Warna kulit ari Kadar albumin & klor Bulla Dasar bulla Jaringan yang terangkat Reaksi jaringan & respon darah Bulla Pembusukan Kuning Rendah atau tidak ada Merah pembusukan Antara epidermis & dermis Tidak ada Variasi-variasi pembusukan: a. ginjal. Wanita baru melahirkan (uterus post partum) lebih cepat mengalami pembusukan. Golongan alat tubuh berdasarkan kecepatan terjadi pembusukan : 1) cepat : otak. paru. lambung. Mummifikasi o Terjadi bila temperatur turun. uterus hamil/post partum 2) lambat : jantung. bersatu berwarna coklat kehitaman.4) Seks.

asam oleat) dihidrogenisasi menjadi asam lemak jenuh yang relatif padat . asam stearat.o Syarat terjadinya mummifikasi : o Suhu relatif tinggi o Kelembaban udara rendah o Aliran udara baik o Waktu yang lama (12-14 minggu) o Yang terlihat pada mummifikasi adalah penyusutan bentuk tubuh. o Syarat terjadinya adiposera : o Suhu rendah. Adipocare o Terjadi karena hidrogenisasi asam lemak tidak jenuh (asam palmitat. misalnya sandwich akan dicerna dalam waktu 1 jam sedangkan makan besar membtuhkan waktu 3 sampai 5 jam untuk dicerna. kulit padat hitam seperti kertas perkamen b. o Suhu tinggi → kelembaban tinggi → lemak → asam lemak → pH turun → kuman tidak bisa berkembang → asam lemak → dehigrogenase → penyabunan → mayat menjadi kebalikannya mumifikasi. kelembaban tinggi o Lemak cukup o Aliran udara rendah o Waktu yang lama Perkiraan Saat Kematian • Perubahan pada mata : Kekeruhan menyeluruh pada kornea terjadi kira-kira 10-12 jam pasca mati • Perubahan dalam lambung : Pengosongan lambung yang terjadi dalam 3-5 jam setelah makan terakhir. Kecepatan pengosongan lambung ini dipengaruhi oleh penyakit42 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

Sedangkan larva dewasa yang akan berubah menjadi pupa ditemukan pada 12-18 hari. Sedangkan predator dan parasit akan memakan serangga Necrophagus. Larva Sarcophaga cranaria mencapai panjang 20 mm pada hari ke-9.• • • • • penyakit saluran cerna.4 mm/hari Pertumbuhan kuku : Pertumbuhan kuku yang diperkirakan sekitar 0. menjadi kepompong pada hari ke-10 dan menjadi lalat pada hari ke-18. Larva ditemukan pada 6-10 hari postmortem. Kadar nitrogen non protein kurang 80 mg% menunjukkan kematian belum 24 jam Metode Entomologik : Larva Musca domestica mencapai panjang 8 mm pada hari ke-7. berubah menjadi kepompong pada hari ke-8. konsistensi makanan dan kandungan lemaknya. kecepatan tumbuh rambut rata-rata 0.1 mm/hari Perubahan dalam cairan serebrospinal : Kadar nitrogen asam amino kurang dari 14 mg% menunjukkan kematian belum lewat 10 jam. mengakibatkan sekresi 43 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . Reaksi supravital : Reaksi jaringan tubuh sesaat pasca mati klinis yang masih sama seperti reaksi jaringan tubuh pada seseorang yang hidup. Necrophagus species akan memakan jaringan tubuh jenazah. menjadi lalat pada hari ke-14. Omnivorus species akan memakan keduanya baik jaringan tubuh maupun serangga. Perubahan rambut : Panjang rambut kumis dan jenggot dapat dipergunakan untuk memperkirakan saat kematian. Rangsang listrik dapat menimbulkan kontraksi otot mayat hingga 90120 menit pasca mati. Telur lalat biasanya akan mulai ditemukan pada jenazah sesudah 1-2 hari postmortem.

kelenjar sampai 60-90 menit pasca mati. trauma masih dapat menimbulkan perdarahan bawah kulit sampai 1 jam pasca mati 44 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

Penyebab asfiksia tidak wajar karena emboli.Histotoksik-hipoksia (HH) (Keadaan yang mengakibatkan O2 tdk bisa digunakan jaringan) 45 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . penjeratan) 2. tumor laring. COPD. racun (barbiturat). emboli.respirasi : hipoksia mekanik : intraluminer (co : tersedak) & ekstraluminer (co : pencekikan. penyebab asfiksia wajar dan tidak wajar. jantung. asma bronkiale. reaksi anafilaksis. Penyebab asfiksia wajar karena penyakit seperti difteri.Anemik-hipoksia (Darah tidak dapat membawa O 2 yang cukup untuk metabolisme ) : biasanya Hb yang kurang atau volume darah yang kurang 3. pneumotoraks. listrik. dan adanya halangan udara masuk ke saluran pernapasan secara paksa. biasanya karena gangguan sist. dan lain-lain. dekomp kordis 4. pneumonia.BAB VI ASFIKSIA Definisi Merupakan suatu keadaan dimana suplai O2 ke jaringan berkurang Penyebab asfiksia terbagi 2 yaitu. vagal refleks.Stagnan-hipoksia (Terjadinya kegagalan sirkulasi) : biasanya gangguan pembuluh darah.Hipoksik-hipoksia (Keadaan dimana oksigen gagal untuk masuk ke dalam sirkulasi darah) : kadar oksigen yang memang rendah atau gangguan masuk. Pembagian menurut London 1.

HH periseluler : gangguan permeabilitas membran sel.strangulation by suspension / hanging / penggantungan 2. gelisah.HH ekstraseluler : gangguan enzim. vertigo • Sianosis  stadium ekspirasi dispneu • sesak saat ekspirasi  Kadar CO2 tinggi  kejang 46 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .chocking / tersedak c.inhalation of suffocation gases Stadium asfiksia versi I :  stadium inspirasi dispneu • sesak napas saat inspirasi • TD dan nadi meningkat • Cemas.Suffocation : a. contoh uremia. tinitus.strangulation by ligature / jeratan 4.HH metabolit : gangguan metabolisme karena end product tidak dapat dieliminir. keracunan CO2 Hipoksik hipoksia bisa terjadi karena: 1.simulated suicidal hanging / pembunuhan yg dibuat seperti gantung diri 5. contoh keracunan eter/kloroform c.a. HH substrat : bahan/substrat yang tidak cukup d.smothering / pembekapan b. contoh keracunan CO b. takut. gagging / mulut disumbat dg kain lalu diikat ke belakang 6.manual strangulation / throttling (cekikan) 3.external pressure of the chest / asfiksia traumatik 8. berat kepala.tenggelam/drowning 7.

denyut jantung melambat. lalu opistotonik. pupil dilatasi. tanda-tanda sianosis • konvulsi : + 2 menit. TD turun • apneu : + 1 menit. klonik dulu baru tonik. & meninggal Penggantungan Definisi Penggantungan (hanging) merupakan suatu strangulasi berupa tekanan pada leher akibat adanya jeratan yang menjadi erat oleh berat badan korban.• pada saat relaksasi  relaksasi spingter ani  keluar kotoran • relaksasi spingter OUI  ada sperma  stadium apneu • kesadaran yang menurun  koma • pupil melebar • reflek cahaya negatif • TD hampir tidak terukur • Nadi tidak teraba  stadium akhir Stadium asfiksia versi II : • dispneu : + 4 menit. nafas berat. nafas lemah. cepat & sukar. kesadaran mulai menghilang. lalu hilang. 47 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . denyut jantung beberapa saat masih ada. Nadi&TD meningkat. kesadaran menurun sampai hilang. relaksasi spinkter • final : paralisis nafas lengkap.

dan TKP tenang tidak morat marit 48 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .• Tanda asfiksia • Alat penggantung : . sehingga yang terjepit hanya vena (vena jugularis) sehingga muka bengkak&kebiruan. mata tidak menonjol • Adanya air liur yang keluar dari mulut • Lidah menonjol  jika gantungan di bawah gld tiroid • Ada air mani atau feses karena ada relaksasi spingter • Ada jejas pada leher tepi meninggi. warna merah kecoklatan. selain vena. mata menonjol karena bendungan . m. arteri juga terjepit  wajah pucat . • Ada resapan darah di bawah kulit di bawah otot  pada m. supra/infrahyoid. hyoglosus.alat penggantung dengan permukaan yang luas (co: sarung)  menyebabkan tekanan hanya pada permukaan saja. • Fraktur os hyoid • Edema pada plika vokalis • Mati gantung bisa bunuh diri/tidak maka lakukan: o Periksa TKP  Ada persiapan gantung diri atau tidak  Jika 1 meter  tidak mungkin gantung diri  Bunuh diri  tidak terlalu jauh jaraknya. arahnya miring ke arah simpul. kongesti vena. pada palpasi keras seperti kertas perkamen.alat penggantung dengan permukaan yang kecil (co: tali jemuran)  menyebab tekanan besar ke dalam. sternokleidomastoideus. m.

lain. tidak ada luka lecet atau memar. Tidak dalam keadaan Tangan yang dalam keadaan terikat. Pada kasus pembunuhan. tidak ada tanda perlawanan.o Simpul dilihat  Simpul hidup  bunuh diri  Simpul mati  dibunuh  Bunuh diri  ikatan membentuk sudut. mendatar. simpul tali bisa dikeluarkan dari kepala o Jika tanda tanda diatas tidak ada  kecelakaan PEMBEDA PENGGANTUNGAN PENGGANTUNGAN PADA PADA BUNUH DIRI PEMBUNUHAN Usia Lebih sering terjadi pada Tidak mengenal batas usia. tali tersebut terikat kuat. Simpul tali. Cedera. karena usaha pembunuh (pelaku) untuk membuat simpul tali. karena sulit untuk terikat mengarahkan dugaan gantung diri dalam keadaan pada kasus pembunuhan. dan (noncontinous) dan terletak letaknya di bagian tengah pada bagian atas leher. tangan terikat. Tanda jejas Bentuknya miring. karena tindakan pembunuhan dilakukan oleh musuh atau lawan dari korban dan tidak bergantung pada usia. Biasanya hanya satu simpul Biasanya lebih dari satu pada yang letaknya pada bagian bagian depan leher dan simpul samping leher. Riwayat Biasanya korban Sebelumnya korban tidak korban. Kemudahan. berupa Berupa lingkaran tidak jeratan. mempunyai riwayat untuk mempunyai riwayat untuk bunuh diri dengan cara bunuh dir. Tangan. 49 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Pada kasus bunuh diri. Luka-luka pada tubuh Cedera berupa luka-luka pada korban yang bisa tubuh korban biasanya menyebabkan kematian mengarah pada pembunuhan. mendadak tidak ditemukan pada kasus bunuh diri. leher. usia remaja dan dewasa. lingkaran terputus terputus.

maka penggantungan adalah kasus pembunuhan. tekanan jalan napas  asfiksia  O2 yang masuk paru kurang 2. ditemukan dalam keadaan tertutup dan terkunci dari dalam. Tanda-tanda perlawanan hampir selalu ada kecuali jika korban sedang tidur. suplai O2 ke otak berkurang  penakanan arteri karotis comunis  vena jugularis tertekan  bendungan vena  gagal jantung 50 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . tidak sadar atau masih anak-anak. Tidak ditemukan pada kasus gantung diri. dimana pintu.Tempat kejadian. maka kasusnya pasti merupakan bunuh diri. Bila sebaiknya pada ruangan ditemukan terkunci dari luar. mayat ditemukan tergantung pada tempat yang sulit dicapai oleh korban dan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut tidak ditemukan. Jika kejadian berlangsung di dalam kamar. jendela. Tanda-tanda perlawanan. mayat biasanya ditemukan tergantung pada tempat yang mudah dicapai oleh korban atau di sekitarnya ditemukan alat yang digunakan untuk mencapai tempat tersebut. Gambar Kasus penggantungan Sebab kematian pada gantung diri 1.

51 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .Kecelakaan.Iskemia otak akibat gangguan sirkulasi 3.Keluar mani. atau feses. karena edema laring  karena obstruksi napas  tanda asfiksia nampak 5.3. vagal reflek  pusat saraf vagus di bagian depan leher.Asfiksia 2. dan penggunaan tali untuk mendapat kepuasan seks. 3.Bunuh diri (paling sering) . Ada 3 cara kematian pada penggantungan (hanging). Kita dapat temukan biasanya pada hukuman mati.spasme laring Ada 4 penyebab kematian pada penggantungan . 3. Ada 4 hal yang bukan petunjuk bagi kita tentang cara kematian pada kasus penggantungan (hanging). termasuk hukuman mati .Lidah terjulur. 2. yaitu : 1. misalnya bermain dengan tali lasso. 2.Pembunuhan. yaitu : 1. tali parasut pada terjun payung.Kerusakan medulla oblongata atau medulla spinalis Rusaknya medulla oblongata atau medulla spinalis pada penggantungan (hanging) disebabkan patahnya tulang leher.Vagal reflex (shock) 4. tanda sianosis tidak ada  kemungkinan mati karena reflek vagal penekanan sinus karotikus di belakang gld tiroid  gangguan blok jantung  kardiak arrest 4. darah. yaitu : 1. urin.Mata melotot.

yaitu : 1. arah serabut tali yang menjauhi korban menjadi bukti bahwa korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung.Mencari bukti yang menunjukkan cara kematian. yaitu : 1.4. Ada 3 bukti yang bisa menunjukkan kepada kita tentang cara kematian korban.Jenis simpul (simpul hidup atau simpul mati). 2. apakah sesuai dengan posisi mayat ataukah tidak.Arah serabut tali penggantung. 3. 3.Memperhatikan jenis simpul tali gantungan. Jenis simpul tali gantungan penting kita perhatikan karena dapat kita jadikan sebagai patokan apakah korban melakukan bunuh diri ataukah korban pembunuhan. Distribusi lebam mayat harus kita perhatikan secara seksama. Sebaliknya. 8.Memperhatikan bahan penggantung.Memperhatikan letak korban di tempat kejadian. 5.Distribusi lebam mayat. Ada 8 hal yang perlu kita lakukan pada pemeriksaan tempat kejadian. 6.Mengamankan bekas serabut tali.Memastikan korban apakah masih hidup atau telah mati. 4.Ada tidaknya alat penumpu korban.Cara menurunkan korban.Mengukur jarak antara ujung kaki korban dengan lantai. 2. misalnya bangku dan sebagainya. baik simpul hidup maupun simpul mati. 7. Serabut tali penggantung yang arahnya menuju korban dapat memberikan petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan bunuh diri. Simpul tali. bilamana melewati lingkar kepala korban dapat 52 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

dan lain-lain. Cara kita menurunkan korban dengan memotong tali gantungan diluar simpul tali.menunjukkan korban melakukan bunuh diri. Sebelum memotong. yaitu: 1. yaitu : 53 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Bahan yang keras dan berdiameter kecil meninggalkan tanda alur jerat yang semakin jelas. 4. Simpul hidup harus kita longgarkan secara maksimal untuk membuktikannya. Hal ini penting kita lakukan untuk pemeriksaan kasus ini lebih lanjut. selendang. kita membuat 2 ikatan lalu kita potong secara miring diantara keduanya. 2. Bahan penggantung yang dapat digunakan pada kasus penggantungan (hanging) antara lain tali. Apabila simpul tali tidak dapat melewati lingkar kepala korban dapat menandakan korban dibunuh lebih dahulu sebelum digantung. Ada beberapa hal yang dapat kita jumpai pada pemeriksaan luar dan dalam otopsi. Setelah itu.Alat kelamin.Anggota gerak (lengan dan tungkai). Tindakan ini untuk mencegah terurainya serabut tali gantungan. 3.Dubur. 5. sprei yang disambung. Bahan dan ukuran diameter penggantung penting juga kita perhatikan.Kepala. kita mengamankan bekas serabut tali gantungan tadi baik serabut tali yang mengikat leher korban maupun serabut tali yang diikatkan pada tempat gantungan. Ada 5 bagian tubuh korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar otopsi. Ada 4 bagian kepala korban yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan luar otopsi. ikat pinggang. kawat.Leher.

Lidah terjulur apabila letak jeratan gantungan tepat berada pada kartilago tiroidea.Konjungtiva. Alur jerat berupa luka lecet atau luka memar dengan ciri-ciri sebagai berikut : 54 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . Muka korban penggantungan (hanging) akan mengalami sianosis dan terlihat pucat karena vena terjepit. Lidah tidak terjulur apabila letaknya berada diatas kartilago tiroidea. 2. Mata korban penggantungan (hanging) melotot akibat terjadinya bendungan pada kepala korban. 3.Mata. Hal ini disebabkan oleh terhambatnya vena-vena kepala tetapi arteri kepala tidak terhambat. bisa juga tidak terjulur.Muka. Bintik-bintik perdarahan pada konjungtiva korban penggantungan (hanging) terjadi akibat pecahnya vena dan meningkatnya permeabilitas pembuluh darah karena asfiksia. pucat pada muka korban juga disebabkan terjepitnya arteri. Selain terjepitnya vena.1. 4.Lidah. Gambar tardieu spot Alur jeratan pada leher korban penggantungan (hanging) berbentuk lingkaran (V shape). Lidah korban penggantungan (hanging) bisa terjulur.

perabaan dan keadaan sekitar luka. Luka yang berada di depan leher kita ukur dari dagu atau manubrium sterni korban. lebar.Lokasi simpul jeratan (belakang dan samping leher). Jenis luka korban penggantungan (hanging) terdiri atas luka lecet.Kulit sekitar alur jerat terdapat bendungan.Tepi alur jerat coklat kemerahan.1. Luka yang berada di samping leher kita ukur dari garis batas rambut korban. samping dan belakang leher. Deskripsi leher korban penggantungan (hanging) yang penting kita berikan antara lain : 1. urin. 2. 4.Jenis luka. Pengeluaran urin 55 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 2.Lokasi luka. Anggota gerak korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya lebam mayat pada ujung bawah lengan dan tungkai. Dubur korban penggantungan (hanging) dapat mengeluarkan feses. Alur jeratan yang asimetris / atipikal menunjukkan letak simpul disamping leher. Luka yang berada di belakang leher kita ukur dari daun telinga atau bahu korban. luka tekan dan luka memar. Penting juga kita ketahui ada tidaknya luka lecet pada anggota gerak tersebut. Alat kelamin korban dapat mengeluarkan mani.Jenis simpul jeratan (simpul hidup dan simpul mati). 3. Alur jeratan yang simetris / tipikal pada leher korban penggantungan (hanging) menunjukkan letak simpul jeratan berada dibelakang leher korban. dan darah (sisa haid). Lokasi luka pada leher korban penggantungan (hanging) dapat berada di depan. 3.Alur jeratan pucat. Penting juga kita mendeskripsikan mengenai warna.

kerusakan medulla spinalis dan medulla oblongata. kartilago krikoidea. dan trakea). Penjeratan Jerat (strangulation by ligature) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban akibat suatu jeratan dan menjadi erat karena kekuatan lain bukan karena berat badan korban. Kedua kerusakan tersebut biasanya terjadi pada hukuman gantung (judicial hanging). dan robekan kecil pada intima pembuluh darah leher (vena jugularis).Kepala. peritoneum. Kepala korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan tanda-tanda bendungan pembuluh darah otak. dan lain-lain) dan bendungan / kongesti organ. Ada 4 bagian tubuh korban penggantungan (hanging) yang kita perhatikan saat melakukan pemeriksaan dalam otopsi.pada korban penggantungan disebabkan kontraksi otot polos pada stadium konvulsi atau puncak asfiksia. 2.Leher. kartilago tiroidea. fraktur (os hyoid. perikard. 4.Darah. 3.Dada dan perut. Dada dan perut korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan (pleura. Leher korban penggantungan (hanging) dapat kita temukan adanya perdarahan dalam otot atau jaringan. Darah dalam jantung korban penggantungan (hanging) warnanya lebih gelap dan konsistensinya lebih cair. yaitu : 1. 56 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Lebam mayat dapat kita temukan pada genitalia eksterna korban.

Vagal reflex menjadi penyebab kematian pada orang yang bersenda gurau.Asfiksia 2. jejeas bersifat horisontal Ada 3 penyebab kematian pada jerat .Kecelakaan. pada gantung  kekeatan karen berat badan • jejas penjeratan bersifat horisontal bersilangan di atas dan dibawah • tanda asfiksia • kausa mati menyerupai gantung diri • pemeriksaan lokal menyerupai gantung diri hanya bedanya pada penjeratan. yaitu : 1.Pembunuhan (paling sering). psikopat yang saling menjerat. orang yang bersenda gurau dan pemabuk.Iskemia 3. yaitu : 1. 3. Pembunuhan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita jumpai pada kejadian infanticide dengan menggunakan tali pusat.Vagal reflex (shock) Ada 3 cara kematian pada kasus jeratan .• kekuatan jerat pada ujung tali jerat. Bunuh diri pada kasus jeratan (strangulation by ligature) mereka lakukan dengan cara melilitkan tali secara berulang dimana satu ujung difiksasi dan ujung lainnya ditarik. dan hukuman mati (zaman dahulu). Kecelakaan pada kasus jeratan (strangulation by ligature) dapat kita temukan pada bayi yang terjerat oleh tali pakaian. Antara jeratan dan leher 57 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 2.Bunuh diri.

Kita hendaknya memperhatikan jeratan pada leher korban dan cara melepaskan jeratan dari leher korban. 3.Distribusi lebam mayat yang berbeda. dasi.Arah jerat mendatar / horisontal.Pada kasus pembunuhan biasanya kita tidak menemukan alat yang digunakan untuk menjerat. jeratan kasus Pencekikan (manual strangulasi) Pencekikan (manual strangulasi) adalah suatu strangulasi berupa tekanan pada leher korban yang dilakukan dengan menggunakan tangan atau lengan bawah. • pakai tangan 1 atau 2 • bersifat pembunuhan 58 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 5. Pemeriksaan otopsi pada kasus (strangulation by ligature) mirip penggantungan (hanging) kecuali pada : 1. 2. 2.Bahan penjerat misalnya tali.Lokasi jeratan lebih rendah daripada kasus penggantungan (hanging). Pemeriksaan tempat kejadian pada kasus jeratan (strangulation by ligature) kita lakukan secara rutin sebagaimana pada kasus yang lain.Jenis simpul penjerat. antara lain : 1.Lokasi jeratan lebih rendah. Ada 5 hal yang penting kita perhatikan pada kasus jeratan (strangulation by ligature). dan lain-lain. serbet.mereka masukkan tongkat lalu mereka memutar tongkat tersebut. serbet. 3. kaus kaki. 4.Alur jeratan mendatar / horisontal.

Tanda kekerasan pada leher (penting). 3.Tanda kekerasan pada tempat lain. Ada 3 hal yang penting kita perhatikan pada pemeriksaan luar dari otopsi kasus pencekikan (manual strangulasi). yaitu : 1.Menggunakan 1 tangan dan pelaku berdiri di depan korban. biasanya mati karena vagal reflex. antara lain : 1. Apabila pelaku berdiri di belakang korban dan menarik korban ke arah pelaku maka ini disebut mugging.Asfiksia 2. 59 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Iskemia 3. 3.Menggunakan 1 lengan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. 2. 2. yaitu : 1.Pembunuhan (hampir selalu).Vagal reflex Ada 2 cara kematian pada kasus pencekikan yaitu : 1.Menggunakan 2 tangan dan pelaku berdiri di depan atau di belakang korban. 2.Tanda asfiksia. Ada 3 cara melakukan pencekikan (manual strangulasi).• status lokalis o luka memer bulat panjang o luka lecet bentuk bulan sabit  jika pakai tangan kiri  jempoknya di kiri • diagnosis menyerupai gantung diri • sebab kematian menyerupai gantung diri Ada 3 penyebab kematian pada pencekikan .Kecelakaan.

Bekas kuku. Gambar. 2. Pencekikan dengan goresan pada sisi lehar bekas kuku dan Bekas kuku dapat kita kenali dari adanya crescent mark. yaitu : 1. atau kongesti daerah kepala.Bantalan jari. Kadang-kadang kita dapat 60 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . leher atau otak. yaitu luka lecet yang berbentuk semilunar/bulan sabit.Tanda-tanda asfiksia pada pemeriksaan luar otopsi yang dapat kita temukan antara lain adanya sianotik. Ada 2 tanda kekerasan pada leher yang penting kita cari. Lebam mayat akan terlihat gelap. petekie.

Arah pencekikan dan jumlah bekas kuku (susunan bekas kuku) juga tak luput dari perhatian kita. 3. Fraktur yang paling sering kita temukan pada os hyoid. Ada 4 hal yang penting kita cari pada pemeriksaan dalam otopsi bagian leher korban pada kasus pencekikan (manual strangulasi). Tanda kekerasan pada tempat lain dapat kita temukan di bibir. 4. dan trakea. Tanda ini dapat menjadi petunjuk bagi kita bahwa korban melakukan perlawanan. kelenjar tiroid. Perdarahan atau resapan darah dapat kita cari pada otot. Perhatikan pula tangan yang digunakan pelaku. dan mukosa & submukosa pharing atau laring.Fraktur. • penutupan pada mulut dan hidung • tanda asfiksia jelas • rekonstruksi tangan yang dipakai  pakai tangan kiri  jempol di kiri pipi korban 61 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . dan lain-lain. kartilago krikoidea.Luksasi artikulasio krikotiroidea dan robekan ligamentum pada mugging. Fraktur lain pada kartilago tiroidea. lidah.menemukan sidik jari pelaku.Perdarahan atau resapan darah. yaitu : 1. apakah tangan kanan (right handed) ataukah tangan kiri (left handed).Memar atau robekan membran hipotiroidea. hidung. 2. kelenjar ludah. Pembekapan Pembekapan (smothering) adalah suatu suffocation dimana lubang luar jalan napas yaitu hidung dan mulut tertutup secara mekanis oleh benda padat atau partikel-partikel kecil.

Ada 3 penyebab kematian (smothering), yaitu : 1.Asfiksia 2.Edema paru 3.Hiperaerasi

pada

pembekapan

Edema paru dan hiperaerasi terjadi pada kematian yang lambat dari pembekapan (smothering). Ada 3 cara kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1.Kecelakaan (paling sering) 2.Pembunuhan 3.Bunuh diri Ada 3 cara kecelakaan pada kematian kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1.Tertimbun tanah longsor atau salju. 2.Alkoholisme. 3.Bayi tertutup selimut atau mammae ibu. Ada 3 cara pembunuhan pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1.Hidung dan mulut diplester. 2.Bantal ditekan ke wajah. 3.Serbet atau dasi dimasukkan ke dalam mulut. Ada 3 cara bunuh diri pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1.Menggunakan plester atau kantong plastik. 2.Bantal yang diikatkan ke kepala. 3.Menggunakan dasi atau serbet. Ada 3 hal yang penting kita pemeriksaan otopsi kasus (smothering), yaitu : 62 ed lakukan pada pembekapan

ROMAN’S FORENSIK 2nd

1.Mencari penyebab kematian. 2.Menemukan tanda-tanda asfiksia. 3.Menemukan edema paru, hiperaerasi sianosis pada kematian yang lambat.

dan

Ada 3 hal penting yang kita cari untuk menemukan penyebab kematian pada kasus pembekapan (smothering), yaitu : 1.Jika kita menemukan bantal, cari apakah ada tanda-tanda kekerasan. 2.Cari ada tidaknya trauma tumpul di sekitar hidung dan mulut. 3.Mencari ada tidaknya kain, handuk, dasi, serbet, atau pasir dalam rongga mulut. Burking merupakan kombinasi antara pembekapan (smothering) dengan external pressure on the chest / traumatic asphyxia. Pelaku melakukan burking dengan cara terlebih dahulu melumpuhkan korban lalu menelentangkan korban dan pelaku duduk diatas dada korban (traumatic asphyxia). Satu tangan pelaku menutup hidung atau mulut korban (smothering) sedangkan tangan yang lain menekan rahang ke atas.

Tersedak (Chocking)

Tersedak (chocking) adalah suatu suffocation dimana ada benda padat yang masuk dan menyumbat lumen jalan udara. • oleh karena benda asing • tanda asfiksia jelas • awalnya batuk keras  asfiksia  mati Ada 2 cara kematian pada (chocking), yaitu : 1.Kecelakaan (paling sering) 63 ed kasus tersedak

ROMAN’S FORENSIK 2nd

2.Pembunuhan (kasus infanticide) Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada kasus tersedak (chocking), yaitu : 1.Gangguan refleks batuk pada alkoholisme. 2.Pada bayi atau anak kecil yang gemar memasukkan benda asing ke dalam mulutnya. 3.Tonsilektomi, aspirasi, dan kain kasa yang tertinggal pada anestesi eter. Ada 4 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan otopsi kasus tersedak (chocking), yaitu : 1.Mencari bahan penyebab dalam saluran pernapasan. Juga kadang-kadang ada tanda kekerasan 1.di mulut korban. 2.Menemukan tanda asfiksia. 3.Mencari tanda-tanda edema paru, hiperaerasi dan atelektasis pada kematian lambat. 4.Tersedak dapat terjadi sebagai komplikasi dari bronkopneumonia dan abses.

Asfiksia traumatik
Asfiksia traumatik (external pressure of the chest) adalah terhalangnya udara untuk masuk dan keluar dari paru-paru akibat terhentinya gerak napas yang disebabkan adanya suatu tekanan dari luar pada dada korban. • penekanan rongga dada, rongga perut, diafragma • penekanan dari luar • co: desak desakan  O2 kurang  asfiksia

64 ed

ROMAN’S FORENSIK 2nd

Kecelakaan (paling sering) 2. Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan posisi mayat. Ada 2 hal yang penting kita lakukan pada pemeriksaan otopsi korban kasus asfiksia traumatik (external pressure of the chest). 2. yaitu : 1. yaitu : 1. 3. 65 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Menemukan tanda asfiksia. antara 2 kendaraan.Submerse drowning 2.Immerse drowning (drowning) Submerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi sebagian tubuh mayat masuk ke dalam air. Tenggelam Tenggelam (drowning) adalah suatu suffocation dimana jalan napas terhalang oleh air / cairan sehingga terhisap masuk ke jalan napas sampai alveoli paru-paru. pasir.Ada 2 cara kematian pada kasus (chocking). yaitu : 1.Berdesakan di pintu sempit akibat panik.Pembunuhan (misalnya burking) tersedak Ada 3 macam kecelakaan yang dapat menimbulkan kematian pada korban kasus asfiksia traumatik (external pressure of the chest).Tertimbun runtuhan benda atau bangunan. 2. atau batubara. seperti bagian kepala mayat. yaitu : 1.Mencari tanda kekerasan di dada. atau antara dinding dengan kendaraan yang mundur.Terjepit antara lantai dengan elevator.

Undeterminated.Bunuh diri. 3. 3.Fibrilasi ventrikel pada kasus tenggelam dalam air tawar. Ada 3 penyebab kematian pada kasus wet drowning.Pembunuhan. yaitu : 1.Serangan asma datang saat korban sedang berenang.Vagal reflex / cardiac arrest / kolaps sirkulasi.Immerse drowning adalah mati tenggelam dengan posisi seluruh tubuh mayat masuk ke dalam air. Ada 2 jenis mati tenggelam berdasarkan penyebabnya. yaitu : 1.Kecelakaan (paling sering).Asfiksia. kasus tenggelam Ada 2 kejadian kecelakaan pada kasus mati tenggelam (drowning) yang dapat kita jumpai. 2.Dry drowning 2. Ada 4 cara kematian pada (drowning).Wet drowning Dry drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi sedikit air sedangkan wet drowning adalah mati tenggelam dengan inhalasi banyak air.Kapal tenggelam. 66 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 4.Spasme laring (menimbulkan asfiksia). yaitu : 1.Edema paru pada kasus tenggelam dalam air asin (laut). 2. 2. yaitu : 1. yaitu : 1. Ada 2 penyebab kematian pada kasus dry drowning. 2.

Kadang-kadang dapat kita temukan tandatanda kekerasan sebelum korban ditenggelamkan.Kulit tubuh mayat terasa basah. 4.Biasanya korban meninggalkan perlengkapannya. tidak ada patognomonis untuk mati tenggelam. Ada 4 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian bunuh diri pada kasus mati tenggelam (drowning).Biasanya tangan korban diikat yang tidak mungkin dilakukan oleh korban. 2.Kadang-kadang tubuh korban diikatkan bahan pemberat. yaitu : 1. Pada pemeriksaan luar otopsi.Kulit telapak tangan / telapak kaki mayat pucat (bleached) dan keriput (washer woman's hands/feet). 2. 3. yaitu : 1. Ada 2 tanda penting yang perlu kita ketahui dari kejadian pembunuhan pada kasus mati tenggelam (drowning).Lebam mayat biasanya sianotik kecuali mati tenggelam di air dingin berwarna merah muda. 3. yaitu : 1. 2.Kedua tangan / kaki korban diikat yang mungkin dilakukan sendiri oleh korban.Penyebab mati tenggelam (drowning) yang termasuk undeterminated yaitu sulit kita ketahui cara kematian korban karena mayatnya sudah membusuk dalam air. 67 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . pucat dan pakaian basah.Kita dapat temukan suicide note. dingin. Ada 7 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning).

Bila terdapat cadaveric spasme maka kotoran air / bahan setempat berada dalam genggaman tangan mayat. tubuh mayat pada kasus mati tenggelam (drowning) mulai membusuk pada hari ke-2 sedangkan di daerah dingin. Pembusukan tersebut ditandai oleh terkelupasnya kulit ari.Benda asing dalam saluran napas masuk sampai ke alveoli. pasir.Lambung mayat berisi banyak cairan.Bila mayat kita miringkan. 3. 5.Terdapat buih putih halus pada hidung atau mulut mayat (scheumfilz froth) yang bersifat melekat. Ada 5 tanda penting yang yang memperkuat diagnosis mati tenggelam (drowning) pada pemeriksaan dalam otopsi. Perbedaan Tempat Air laut Paru paru besar dan berat Air Tawar Paru-paru besar dan ringan 68 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Paru-paru mayat membesar dan mengalami kongesti.Kadang-kadang terdapat cutis anserine / goose skin pada lengan. Kadangkadang berisi lumpur.4.Organ dalam mayat mengalami kongesti. 5. 2. Keadaan ini disebut floaten. tubuh mayat akan mengapung di permukaan air. 4.Saluran napas mayat berisi buih. paha dan bahu mayat. Floaten biasanya terjadi pada hari ke-3 sampai hari ke-6. 6. Jika pembusukannya merata. yaitu : 1. Di daerah tropis. 7. atau rumput air. cairan akan keluar dari mulut / hidung. membusuk setelah 1 minggu.

Basah Bentuk besar kadang overlapping Ungu biru dan permukaan licin Krepitasi tidak ada Busa sedikit dan banyak cairan Dikeluarkan dari torak akan mendatad dan ditekan akan menjadi cekung Mati dalam 5-10 menit, 20 ml/kgBB Darah: 1. BJ 1,0595 -1,0600 2. Hipertonik 3. hemokonsentrasi dan edema paru 4. hipokalemia 5. hipernatremia 6. hiperklorida Resusitasi lebih mudah Tranfusi dengan plasma

Relatif ringan Bentuk biasa Merah pucat emfisematous Krepitasi ada Busa banyak Dikeluarkan tapi kempes dari dan

toraks

Mati dalam 5 menit, 40 ml.kgBB Darah: 1. BJ 1,055 2. hipotonik 3. hemodilusi/hemolisis 4. hiperkalemia 5. hiponatremia 6. hipoklorida Resusitasi aktif Tranfusi dengan PRC

Ada 7 tanda intravitalitas mati tenggelam (drowning), yaitu : 1.Cadaveric spasme. 2.Perdarahan pada liang telinga tengah mayat. 3.Benda air (rumput, lumpur, dan sebagainya) dapat kita temukan dalam saluran pencernaan dan saluran pernapasan mayat. 4.Ada bercak Paltauf di permukaan paru-paru mayat. 5.Berat jenis darah pada jantung kanan berbeda dengan jantung kiri. 6.Ada diatome pada paru-paru atau sumsum tulang mayat. 7.Tanda asfiksia tidak jelas, mungkin ada Tardieu's spot di pleura mayat. Pada kasus mati tenggelam (drowning), dapat kita 69 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed

temukan tanda-tanda adanya kekerasan berupa luka lecet pada belakang kepala, siku, lutut, jari-jari tangan, atau ujung kaki mayat. Ada 4 macam pemeriksaan khusus pada kasus mati tenggelam (drowning), yaitu : 1.Percobaan getah paru (lonset proef). 2.Pemeriksaan diatome (destruction test). 3.Penentuan berat jenis (BD) plasma. 4.Pemeriksaan kimia darah (gettler test). Adanya cadaveric spasme dan tes getah paru (lonset proef) positif menunjukkan bahwa korban masih hidup saat berada dalam air. Percobaan Getah Paru (Lonsef Proef) Kegunaan melakukan percobaan paru (lonsef proef) yaitu mencari benda asing (pasir, lumpur, tumbuhan, telur cacing) dalam getah paru-paru mayat. Syarat melakukannya adalah paru-paru mayat harus segar / belum membusuk. Cara melakukan percobaan getah paru (lonsef proef) yaitu permukaan paru-paru dikerok (2-3 kali) dengan menggunakan pisau bersih lalu dicuci dan iris permukaan paru-paru. Kemudian teteskan diatas objek gelas. Syarat sediaan harus sedikit mengandung eritrosit. Evaluasi sediaan yaitu pasir berbentuk kristal, persegi dan lebih besar dari eritrosit. Lumpur amorph lebih besar daripada pasir, tanaman air dan telur cacing. Ada 3 kemungkinan dari hasil percobaan getah paru (lonsef proef), yaitu : 1.Hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain. 2.Hasilnya positif dan ada sebab kematian lain. 3.Hasilnya negatif. 70 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

Jika hasilnya positif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita interpretasikan bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya positif dan ada sebab kematian lain maka ada 2 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu korban mati karena tenggelam atau korban mati karena sebab lain. Jika hasilnya negatif maka ada 3 kemungkinan penyebab kematian korban, yaitu : 1.Korban mati dahulu sebelum tenggelam. 2.Korban tenggelam dalam air jernih. 3.Korban mati karena vagal reflex / spasme larynx. Jika hasilnya negatif dan tidak ada sebab kematian lain maka dapat kita simpulkan bahwa tidak ada hal hal yang menyangkal bahwa korban mati karena tenggelam. Jika hasilnya negatif dan ada sebab kematian lain maka kemungkinan korban telah mati sebelum korban dimasukkan ke dalam air. Pemeriksaan Diatome (Destruction Test) Kegunaan melakukan pemeriksaan diatome adalah mencari ada tidaknya diatome dalam paruparu mayat. Diatome merupakan ganggang bersel satu dengan dinding dari silikat. Syaratnya paruparu harus masih dalam keadaan segar, yang diperiksa bagian kanan perifer paru-paru, dan jenis diatome harus sama dengan diatome di perairan tersebut. Cara melakukan pemeriksaan diatome yaitu ambil jaringan paru-paru bagian perifer (100 gr) lalu masukkan ke dalam gelas ukur dan tambahkan H2SO4. Biarkan selama 12 jam kemudian panaskan sampai hancur membubur & berwarna hitam. Teteskan HNO3 sampai warna putih lalu sentrifus 71 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

Positif palsu pada pencari pasir dan pada orang dengan batuk kronik. Kadar Na menurun dan kadar K meningkat dalam plasma. air tawar 1. Kadar Na meningkat dan kadar K sedikit meningkat dalam plasma. Untuk hepar atau lien.05951. mengandung Cl lebih tinggi pada jantung kiri daripada jantung kanan.0600). air laut 1. Normal 1.059 (1. Interpretasinya ditemukan darah pada larutan CuSO4 yang telah diketahui berat jenisnya. Korban yang mati tenggelam dalam air laut.055. Interpretasinya adalah korban yang mati tenggelam dalam air tawar. Interpretasi pemeriksaan diatome yaitu bentuk atau besarnya bervariasi dengan dinding sel bersel 2 dan ada struktur bergaris di tengah sel. Pemeriksaan Histopatologi 72 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . mengandung Cl lebih rendah pada jantung kiri daripada jantung kanan. tidak akurat karena dapat positif palsu akibat hematogen dari penyerapan abnnormal gastrointestinal. Pemeriksaan Kimia Darah (Gettler Test) Pemeriksaan kimia darah (gettler test) bertujuan untuk memeriksa kadar NaCl dan kalium.065. Penentuan Berat Jenis (BD) Plasma Penentuan berat jenis (BD) plasma bertujuan untuk mengetahui adanya hemodilusi pada air tawar atau adanya hemokonsentrasi pada air laut dengan menggunakan CuSO4. Endapan kemudian diambil menggunakan pipet lalu teteskan diatas objek gelas.hingga terdapat endapan hitam.

kuku keriput o lebam mayat lebih gelap  hemokonsentrasi karena air asin o jika tenggelam di air tawar  hemodilusi  eritrosit pecah. hitam. dan ada bekas gigitan pada lidah o bulu roma berdiri o kaku mayat muncul 0. buih. trakea. Darah telinga tengah pecah o buih halus keluar dari mulut o lidah menonjol. Sp. Catatan dr.Pada pemeriksaan histopatologi dapat kita temukan adanya bintik perdarahan di sekitar bronkioli yang disebut Partoff spot. buih halus di laring.5 jam post mortem o cadaferik spasme o pakaian basah. bronkus dan sisasisa lumpur o orang mati di air tawar  NaCl lebih tinggi di ventrikel kiri daripada di ventrikel kakan o otopsi  pada gaster  lumpur dari TKP 73 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Mursyad A. hiperkalemia  aritmia  kematian o pembusukan di leher  air masuk ke saluran napas (bengkak) o ada air mani • otopsi ke arah leher o ada benda di saluran napas.F • di air tawar atau air laut • ada lumpur  masuk air  ke dalam alveoli • tanda-tanda tenggelam o asfiksia pada umumnya o muka bengkak. mata menonjol o perdarahan pada telinga  tekanan intra telinga meningkat  pemb.

Paru ditekan tidak kembali (emfisema aquatum)  tepi tumpul  berat paru >> normal  tes air  sedot dari alveoli  bandingkan dengan air dari tempat tenggelam  tes diatom o sebab kematian  asfiksia  air dan enda asing masuk ke lumen saluran napas  refleks vagal  edema laring  air  Hemodilusi/hemokonsentrasi  eritrosit pecah  K+ keluar  hiperkalemia  fibrilasi ventrikel Sufokasi Inhalation of suffocating gasses adalah suatu keadaan dimana korban menghisap gas tertentu dalam jumlah berlebihan sehingga kebutuhan O 2 tidak terpenuhi. • kekurangan O2 di suatu tempat/daerah sekitarnya (daerah tambang) • tanda asfiksia • tanda intoksikasi CO2 • tanda trauma seperti kejatuhan batu 74 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .o pada paru  air masuk  ada krepitasi (ada air dan udara di alveoli).

yang kelainannya terjadi pada tubuh karena adanya diskontinuitas jaringan akibat kekerasan yang menimbulkan jejas. Gas H2S pada tempat penyamakan kulit.H2S Gas CO banyak pada kebakaran hebat. Ada tiga hal yang ciri khas/ hasil dari trauma yaitu : 1. Gas CO2 banyak pada sumur tua dan gudang bawah tanah. cedera serta hubungannya dengan berbagai kekerasan (rudapaksa).Ada 3 cara kematian pada korban kasus inhalation of suffocating gasses. BAB VII TRAUMATOLOGI Definisi : Traumatologi adalah cabang ilmu kedokteran yang mempelajari tentang trauma atau perlukaan. yaitu menghisap gas : 1.CO2 3. Adanya luka 2.CO 2. Perdarahan dan atau skar 75 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

luka bacok. Hambatan dalam fungsi organ Luka adalah hilang atau rusaknya sebagian jaringan tubuh. ditentukan :  Ditentukan panjang luka  Jumlah luka  Sifat luka  Ada atau tidaknya benda asing pada luka  Luka terjadi saat masih hidup atau korban sudah mati  Menyebabkan kematian atau tidak 76 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . zat kimia. luka tembak dan luka gigitan. luka bersih yang terkontaminasi.3. Keadaan ini dapat disebabkanoleh trauma benda tajam atau tumpul. 2. Lokalisasi (Letak luka terhadap garis ordinat atau absis pada tubuh. luka robek. perubahan suhu. dapat disebabkan oleh cedera atau operasi. Garis yang melalui tulang dada dan tulang belakang dipakai sebagai ordinat. luka insisi. atau gigitan hewan atau juga gangguan pada ketahanan jaringan tubuh yang disebabkan oleh kekuatan mekanik eksternal. Jenis Penetrasi yang terbagi atas luka tusuk. ledakan. berupa potongan atau kerusakan jaringan. 3. luka terkontaminasi dan luka kotor. luka memar. Ukuran. sengatan listrik . Tingkat kebersihan dari kontaminasi bakteri terbagi atas luka bersih. Luka di klasifikasikan dapat dibagi berdasarkan : 1.) 2. Waktu terjadinya terbagi atas luka akut ( sebelum 8 jam) dan luka kronik Diskripsi luka : 1.

Jenis kekerasan yang menjadi penyebab luka  Luka akibat kekerasan mekanis: • Luka akibat kekerasan oleh benda tumpul • Luka akibat kekerasan oleh benda tajam • Luka akibat kekerasan oleh tembakan senjata api  Luka akibat kekerasan fisis: • Luka akibat kekerasan oleh suhu tinggi atau rendah • Luka akibat kekerasan auditorik • Luka akibat kekerasan oleh arus listrik dan petir • Luka akibat kekerasan radiasi  Luka akibat kekerasan kimiawi: • Luka akibat kekerasan oleh asam kuat • Luka akibat kekerasan oleh basa kuat • Intoksikasi Klasifikasi trauma (berdasarkan sifat dan penyebab) : 1. tembakan senjata) 2. tekanan udara) 3. Cara terjadinya luka : bunuh diri. Trauma mekanik (Kekerasan oleh benda tajam. kekerasan oleh benda tumpul. radiasi. Trauma Kimia (Asam basa atau kuat) NB : Ada yang memisahkan trauma senjata api tersendiri (balistik) terpisah dari trauma mekanik 77 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . kecelakaan dan pembunuhan 3. Trauma Fisika (Suhu. listrik dan petir. akustik.

takipneu. dan gangguan pada semua sistem organ.Patofisiologi Trauma Transmisi energi pada trauma dapat menyebabkan kerusakan tulang. capillary shunting. heart rate meningkat. bronkhodilatasi. 78 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . takikardia. laserasi.Peningkatan heart rate.Berkurangnya tekanan nadi menunjukkan turunnya cardiac output (sistolik) dan peningkatan vasokonstriksi (diastolik). kontusi. tekanan intrathoracik negatif.Peningkatan frekuensi napas. Mekanisme kompensasi tersebut adalah : 1. Penurunan angka filtrasi glomerulus menyebabkan respon ini. sehingga tubuh melakukan kompensasi akibat ada trauma bila kompensasi tubuh tersebut berlanjut tanpa dilakukan penanganan akan mengakibatkan kematian seseorang. Cardiac output sebanding dengan stroke volume dikalikan heart rate.Aktivasi sistem saraf simpatik menyebabkan peningkatan tekanan arteri dan vena. Jika stroke volume menurun. 3. pembuluh darah dan organ termasuk fraktur. 5.Menurunnya urin output. dan diaforesis. Hormon antidiuretik dan aldosteron dieksresikan untuk menjaga cairan vaskular. Aksi pompa thorak ini membawa darah ke dada dan preloads ventrikel kanan untuk menjaga cardiac output. 2. 4. Saat inspirasi. Tekanan nadi normal adalah 35-40 mmHg.

Memar (kontusio. Capillary refill mungkin melambat.Luka Lecet Geser 3. Patah tulang Luka memar  diskontinuitas PD& jar di bwh kulit tanpa rusaknya jar.Capillary shunting dan pengisian trans kapiler dapat menyebabkan dingin. kulit pucat dan mulut kering.6.Perubahan status mental dan kesadaran disebabkan oleh perfusi ke otak yang menurun atau mungkin secara langsung disebabkan oleh trauma kepala.Benda tumpul yg bergerak pd korban yg diam . 7.Korban yg bergerak pd benda tumpul yg diam Sifat luka akibat persentuhan dengan permukaan tumpul : 1. Luka Lecet -Luka Lecet Tekan . Trauma Mekanik Trauma tumpul : Benda tumpul : benda yang permukaannya tidak mampu utk mengiris Dua variasi utama dalam trauma tumpul adalah : . Kulit Teraba menonjol  pengumpulan darah di jar sekitar PD rusak Bentuk luka  Menyerupai benda yang mengenai Luka Lecet  tjd pd epidermis – gesekan dgn benda yang permukaannya kasar 79 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . hematom) 2. Luka Robek 4.

epidermis yang tertekan  melesak kedalam Luka Lecet Geser  arah kekerasan miring/membentuk sudut  epidermis terdorong & terkumpul pd tmpt akhir gerak benda tersebut Luka Lecet Regang  diskontinuitas epidermis akibat peregangan yang letaknya sesuai dengan garis kulit Luka robek  terjadi pada epidermis/jaringan dibawahnya akibat kekerasan yang mengenainya melebihi elastisitas kulit/jar Syarat : kekuatan peregangan > elastisitas kulit Patah tulang o Bentuk : tgt sifat benda penyebab o Perubahan berdasarkan waktu o Dampak patofisiologi : perdarahan. Kepala diam dibentur oleh benda yang bergerak 2. disfungsi. Benturan pada kepala dapat terjadi pada 3 jenis keadaan : 1. kerusakan jaringan sekitar. Kepala yang tidak dapat bergerak karena bersandar padabenda yang lain dibentur oleh benda yang bergerak (kepala tergencet) 80 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Kepala yang bergerak membentur benda yang diam 3.Luka Lecet Tekan  arah kekerasan tegak lurus pd permukaan tubuh. emboli lemak dan sumsum tulang Fraktur tulang kepala Terjadi akibat trauma langsung terhadap skull. Adanya fraktur tidak selalu disertai dgn adanya cedera otak namun manunjukkan adanya benturan yg cukup kuat dan sebaikknya dievaluasi untuk tau ada tidaknya cedera tambahan.

Besarnya energi yang membentur kepala (Energi kinetik objek) .hole/stellata jika benda yang mengenai kepala permukaannya kecil dan berkecepatan/berenergi tinggi.depressed jika permukaan yang mengenai kepala tidak luas . Luas dan tipe fraktur ditentukan oleh beberapa hal. .gaya langsung ke basis kranii 81 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Lokasi Anatomis tulang tengkorak tempat benturan terjadi Tipe Fraktur pada cedera kepala. contoh : luka tembak Jika kepala bergerak ke permukaan rata&diam : patah linier Fraktur basis kranii : Fraktur yg terjadi pada tulang yg membentuk dasar tengkorak.radiar .Fraktur compound : Pecahnya tulang disertai dengan rusak atau hilangnya kulit Tergantung kecepatan dan gaya . yaitu : 1. 4.Bentuk tiga dimensi objek yang membentur .Fraktur Linier : Pecahnya tulang kepala yg menyerupai garis tipis tanpa distorsi tulang 3.Dalam mekanisme cedera kepala dapat terjadi peristiwa coup yang disebabkan oleh hantaman pada otak bagian dalam pada sisi yang terkena dan contre coup terjadi pada sisi yang berlawanan dengan arah benturan.Arah Benturan . yaitu : .Fraktur depresi : Pecahnya tulang kepala dengan penekanan sebagian tulang kedalam otak.Fraktur simple : Pecahnya tulang kepala yg tidak disertai kerusakan kulit 2.

gaya ke dagu melalui rami mandibulae Adanya Rhinorea jika bercampur dgn darah kadang2 sulit dibedakan dengan epistaksis.Darah tersebut tidak akan membeku karena bercampur CSS 2. perdarahan subdural.Jika terdapat kecurigaan adanya fraktur. dapat mencederai N. kontusio dan perdarahan intraserebral) maupun lesi difus..meninge media – Temporal (50%).Jika fraktur melibatkan kanalis optikus. oksipital (15%) diluar 82 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 3.Tanda “Double Ring atau Hallo Sign” yaitu jika setetes cairan diletakkan diatas kertas tissue/koran maka darah akan terkumpul ditengah dan sekitarnya masih terbentuk rembesan cairan (CSS) yg membentuk cincin kedua yg mengelilingi lingkaran pertama. Ring fraktur :gaya dari atas ke bawah Perdarahan intrakranial : Dapat berbentuk lesi fokal (Perdarahan epidural. Beberapa cara untuk membuktikan adanya rhinorea yaitu : 1. • Epidural hematom : klot terletak duramater. Optikus sehingga tjd gangguan visus. namun di dalam tengkorak – A. .Pemeriksaan Beta-2-transferrin yg merupakan marker spesifik untuk CSS. . jangan memasang NGT krn dapat melewati lempeng kribriformis yang sudah fraktur dan masuk ke intracranial.

TIK normal : 50-200 mmH2O (4-15 mmHg) 83 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . tumor. – Tjd karena robeknya vena bridging.>> dilobus frontal dan temporal Cedera Difusa membentuk kerusakan otak berat progresif yg berkelanjutan. ● Kontusi dan hematoma intraserebral : hamper selalu berkaitan dengan hematoma subdural . Tekanan Intra Kranial (TIK) yang normal tidak berarti tidak ada lesi massa intakranial. karena TIK umumnya tetap dalam batas normal sampai penderita mencapai titik dekompensasi dan memasuki fase ekspansional. Doktrin Monroe Kellie : Vblood + Vbrain + V LCS = konstan Konsep utama : volume intracranial selalu konstan (rongga kranium tidak mungkin mekar). disebabkan oleh meningkatnya jumlah cedera akselerasi deselerasi otak.– Prognosis baik bila dilakukan penanganan segera karena cedera otak disekitarnya biasanya terbatas. focus laserasi atau kontusio – Delayed : subdural – Spontan : leukaemia. infeksi – Kerusakan otak biasanya sangat lebih berat dan prognosisnya lebih buruk dari hematoma epidural – Mortalitas umumnya 60% namun mungkin diperkecil oleh tindakan operasi yg sangat segera dan pengelolaan medis agresif. Sinus draining. • Subdural/subarachnoid bleeding : >> ditemukan pada penderita dengan cedera kepala berat.

Ciri-ciri luka karena benda tajam : • Tepinya rata • Sudut luka tajam • Tidak ada jembatan jaringan • Sekitar luka bersih tidak ada memar • Bila lokasinya pada kepala maka rambutnya terpotong Luka akibat kekerasan benda tajam dapat berupa : 1.Luka iris  dalam luka < panjang irisan luka arah trauma sejajar permukaan kulit . darah (75 ml) Perubahan kompensatoris dapat melalui : .Kapasitas ruang cranial : otak (1400 g). Luka iris atau sayat (panjang > dalam) 84 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Luka tusuk  dalam luka > panjang luka arah trauma tegak lurus permukaan kulit .Luka bacok  dalam ± = panjang luka arah trauma ± 45° dari permukaan kulit dan tergantung beratnya benda yang di pakai.peningkatan aliran vena dari otak .pengalihan LCS ke rongga spinal . LCS (75 ml).sedikit tekanan pada jaringan otak peningkatan TIK sampai 33 mmHg (450 mmH 2O) akan menurunkan aliran darah otak secara signifikan Trauma tajam Benda tajam  benda yg permukaannya mampu mengiris sehingga kontinuitas jaringan hilang .

2. sehingga saluran luka menjadi lebih luas d. Tusukan masuk. Luka Tusuk (dalam > panjang > lebar) ada beberapa faktor yang mempengaruhi bentuk luka tusuk seperti reaksi korban atau saat pisau keluar sehingga lukanya menjadi tidak khas adapun pola yang sering ditemukan yaitu : a. b. keluar. sehingga saluran luka sempit pada titik terdalam dan terlebar pada bagian superfisial e.Jenis senjata biasanya senjata yang digunakan sedikit tajam/ tajam dan relatif berat seperti kapak atau parang. maupun keduanya.Tenaga yang digunakan biasanya lebih besar dari luka tusuk atau luka iris. yang kemudian dikeluarkan sebagian. 85 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 3. sehingga luka yang terbentuk lebih lebar dan memberikan luka pada permukaan kulit seperti ekor. Luka Bacok (panjang = dalam) luka ini tergantung dua faktor yaitu : a. dan kemudian ditusukkan kembali melalui saluran yang berbeda b. Tusukan masuk yang kemudian dikeluarkan dengan mengggunakan titik terdalam sebagai landasan. Tusukan masuk kemudian saat masih di dalam ditusukkan ke arah lain. Sudut luka berbentuk ireguler dan besar. Tusukan diputar saat masuk. Tusukan masuk kemudian dikeluarkan dengan mengarahkan ke salah satu sudut. c.

bentuk luka tepi jembatan jar Tajam Teratur Rata tdk ada Tumpul tidak tidak rata ada/tdk tidak folikel rmbtya/tidak terpotong dasar luka sekitar luka bersih (luka garis/titik tdk teratur bs lecet/memar memar) dan lebam Perbedaan mayat HEMATOM hematom LEBAM MAYAT Kejadian post mortem Pembengkakan (-) Darah akan mengalir keluar dari pembuluh darah yang tersayat Kejadian intravital Terdapat pembengkakan Darah tidak mengalir Penampang nampak kehitaman sayatan Jika dialiri air merah penampang sayatan nampak bersih 86 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . 4.Perbedaan luka pada trauma tajam dan trauma tumpul No Pembeda 1. 2. 5. 6. 3.

bunuh diri atau kecelakaan : Pembunuhan Bunuh Diri Kecelakaan Lokasi Sembarang Terpilih Terpapar luka Banyak Banyak >1 3 luka Pakaian Terkena Tidak Terkena Luka (+) (-) (-) tangkisan Luka (-) (+) (-) percobaa n Cedera Mungkin ada (-) Mungkin Sekunder ada LUKA TEMBAK Ciri-ciri utama luka tembak ialah biasanya luka tembak menghasilkan 2 buah luka: 1. Luka Tembak Masuk: • luka tembak tempel • luka tembak jarak dekat • luka tembak jarak jauh 2.Ciri-ciri luka akibat kekerasan benda tajam pada kasus pembunuhan.Luka Tembak Keluar (luka tembus) 87 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

kelim Tidak terdapat kelim lemak masuk Tidak ada dibawa yang Pada luka bisa tampak Tidak ada hitam. Pada tulang tengkorak. Tampak pinggiran luka bagus gambaran bentuknya. karena kecepatan peluru berkurang hingga menyebabkan robekan jaringan. Pakaian kedalam luka. luka Pinggiran luka tidak mengalami abrasi. Luka tembak keluar Ukurannya lebih besar dan lebih tidak teratur dibandingkan luka tembak masuk. kelim tato atau jelaga. Di sekitar luka tampak Tidak ada 88 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd seperti mirip . kerucut Bisa tampak berwarna Tidak ada merah terang akibat adanya zat karbon monoksida. karena peluru menembus kulit seperti bor dengan kecepatan tinggi Pinggiran luka melekuk kearah dalam karena peluru menmebus kulit dari luar Pinggiran mengalami abrasi Bisa tampak lemak.Luka tembak masuk Ukurannya kecil (berupa satu titik/stelata/bintang). oleh peluru masuk. Pinggiran luka melekuk keluar karena peluru menuju keluar. terbakar.

Hal ini terjadi jika bubuk mesiu tidak berasap dan tidak terdapat bagian kehitaman pada kulit. Perdarahan sedikit. Kelim tato terjadi karena bubuk mesiu senjata yang tidak terbakar. hanya Perdarahan banyak lebih Pemeriksaan radiologi Tidak ada atau analisa aktivitas netron mengungkapkan adanya lingkaran timah atau zat besi di sekitar luka.Jika senjata ditembakkan pada jarak yang sangat dekat atau menempel dengan kulit :  Jaringan subkutan 5 sampai 7.5 cm disekitar luka tembak masuk mengalami  Kulit disekitar luka terbakar atau hitam karena asap. 89 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .kelim ekimosis. Faktor-faktor yang mempengaruhi cedera akibat senjata api : • Jenis peluru • Kecepatan peluru • Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan • Densitas jaringan tubuh dimana peluru masuk Jarak antara senjata api dengan tubuh korban saat penembakan 1.  Walaupun jarang bisa ditemukan bercak berwarna abu-abu atau putih di sekitar luka.  Pakaian yang menutupi luka terbakar karena percikan api dari senjata.  Rambut di sekitar luka hangus.

Deskripsi luka luar  ukuran dan bentuk  lingkaran abrasi. Jika peluru menyebabkan gesekan pada lubang tempat masuk dan menyebabkan lecet.  Ukuran luka jauh lebih kecil dibandingkan peluru. Residu tembakan yang terlihat  grains powder  deposit bubuk hitam. 3. Deskripsi Luka Tembak 1. maka di sebut kelim lecet.  Kehitaman atau kelim tato tidak ada  Bisa tampak kelim lecet. Tembakan jarak dekat  Jaraknya adalah 30-45 cm dari kulit.  Ukuran luka lebih kecil dibandingkan peluru  Warna hitam dan kelim tato lebih luar disekitar luka  Tidak ada luka bakar atau kulit yang hangus. Tembakan jarak jauh  Jaraknya adalah di atas 45 cm. tebal dan pusatnya  luka bakar  lipatan kulit.2. Perubahan  oleh tenaga medis 90 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . utuh atau tidak  tekanan ujung senjata 3. Lokasi  jarak dari puncak kepala atau telapak kaki serta ke kanan dan kiri garis pertengahan tubuh  lokasi secara umum terhadap bagian tubuh 2. termasuk korona  tattoo  metal stippling 4.

91 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Reaksi umum Ada 4 reaksi lokal dari tubuh korban : • Eritem dengan ciri-ciri : epidermis intak.  oleh bagian pemakaman Track  penetrasi organ  arah  kerusakan sekunder  kerusakan organ individu Penyembuhan luka tembakan  titik penyembuhan  tipe misil  tanda identifikasi  susunan Luka keluar  lokasi  karakteristik Penyembuhan fragmen luka tembak Pengambilan jaringan untuk menguji residu Trauma Fisik 1. 8. sembuh tanpa meninggalkan sikatriks. kemerahan. Dry Heat (Burn Heat / Luka Bakar) Dry heat (burn heat / luka bakar) adalah luka bakar yang diakibatkan oleh persentuhan tubuh dengan api atau benda panas (bukan cairan). Reaksi lokal 2. 9. bulla & bleps dengan albumin atau NaCl tinggi.5. • Vesikel. 7. 6. Ada 2 reaksi dari tubuh korban : 1.

Derajat luka bakar : Luka akibat suhu tinggi (luka bakar)  Luka bakar derajat 1 (superficial burn)  Luka bakar derajat 2 (partial thickness burn)  Luka bakar derajat 3 (full thickness burn)  Luka bakar derajat 4 (hitam bagai arang. Kolaps sirkuler Ada 3 hal yang dapat kita temukan pada otopsi sebagai tanda adanya reaksi heat exhaustion : 1. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas 3. Pucat 4. 3. Nadi irreguler 8. Keadaan ini dapat terjadi pada udara 92 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 2. Otot lemah 6. Darah berwarna gelap di jantung. Badan panas 2. Pusing 3. • Karbonisasi (sudah menjadi arang). Berkeringat 5. nekrotik) Ada 3 reaksi umum dari tubuh korban : 1.• Necrosis coagulativa dengan ciri-ciri : warna coklat gelap hitam dan sembuh dengan meninggalkan sikatriks (litteken). Suhu tubuh turun 7. Organ dalam mengalami kongesti. Heat stroke / sun stroke / pingsan panas diakibatkan oleh terjadinya paralise centrum di medulla. Heat exhaustion 2. Arteriosklerosis arteri koroner. Heat cramp Ada 8 gejala heat exhaustion : 1.

yang panas (1000F) dan berlangsung beberapa hari. yaitu : • Nyeri yang sangat hebat  shock dan kematian. • Pugilistik attitude / coitus attitude berupa ekstremitas fleksi. Perdarahan otak. Heat cramp dapat terjadi pada individu yang bekerja dalam ruangan yang bersuhu tinggi. Perdarahan kecil pada ventrikel III & IV. Kongesti (edem berat). Shock sampai beresiko mati dengan tubuh kemerahan Ada 6 hal pada otopsi tanda adanya reaksi heat stroke : 1. Organ mengalami kongesti. Ada 5 gejala umum dry heat (burn heat / luka bakar). 4. 2. 5. Darah berwarna merah gelap. 6. Badan panas 2. endocard atau bundle of his. Kolaps sirkuler 6. Degenerasi sel-sel ganglion. lembab serta telah Ada 6 gejala heat stroke / sun stroke / pingsan panas : 1. 3. Nadi cepat & penuh 5. Sakit kepala 4. kulit menjadi arang & mengelupas. Kita dapat melakukan terapi terhadap reaksi heat cramp dengan menggunakan campuran air & garam atau larutan PZ IV bila korban mengalami konvulsi. epicard. Ekstremitas fleksi akibat koagulasi 93 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Pusing 3.

berkontraksi dan jarijari mencengkeram. • Fraktur tengkorak  pseudoepidural hematom (bedakan dengan epidural hematom).  1% : permukaan alat kelamin. ekstremitas atas kiri. kering. dada. Garis patah melewati sulcus arteri meningeal. • Bukan tanda intravital. Warna bekuan darah hitam. ekstremitas atas kanan. Bentuk otak mengkerut seluruhnya. Penyebab kematian pada kasus dry heat ada 3 kategori. Konsistensi kenyal.  18% : permukaan ekstremitas bawah kanan. Garis patah tidak menentu. Pseudoepidural Hematom Epidural Hematom Warna bekuan darah coklat. yaitu : • Cepat : shock primer (neurogenis) & asfiksia • Sedang : shock dehidrasi • Lambat : shock dehidrasi. perut. Ekstremitas fleksi tidak sampai menimbulkan rigor mortis. ulcus curling. autointoksikasi. Kematian karena gas karbon monoksida (CO) : 94 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd  . Luas dry heat (burn heat / luka bakar) dapat kita tentukan dengan menggunakan rule of nine. Bentuk otak cekung sesuai dengan bekuan darah. yaitu :  9% : permukaan kepala & leher. • Otot merah gelap. Tingkat II yaitu luas dry heat 30% membahayakan jiwa. infeksi & sepsis. ekstremitas bawah kiri. acute renal failure. pinggang. dan pneumonia hipostatik. punggung. Konsistensi rapuh.protein.

kaki. membengkak (skin blister). 2. Reaksi lokal 2.  Diagnosa pasti dapat kita tentukan dengan melakukan pemeriksaan saturasi. hidung.  Lebam mayat yang berwarna merah cherry akibat terbentuknya senyawa HbCO (hemoglobin tereduksi). yaitu lebih 10%. dan pipi. Pembunuhan (infanticide) Ada 2 reaksi dari tubuh korban trauma dingin : 1. Kecelakaan 2. mukosa edema & kemerahan.  Ada jelaga pada lubang hidung. yaitu : 1. Reaksi umum Ada 2 reaksi lokal :  Kulit korban pucat akibat vasokonstriksi  kemerahan akibat vasodilatasi karena paralisis vasomotor center. Gas karbon monoksida (CO) 210 kali lebih kuat dari gas oksidan (O2) dalam mengikat hemoglobin.  Biasanya dry heat (burn heat / luka bakar) hanya sedikit.  Kulit korban lalu berubah menjadi merah kehitaman. Biasanya terjadi pada kebakaran gedung besar.  Saluran napas terdapat jelaga atau lendir. Trauma Dingin (Cold Trauma) Insiden trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot) jarang terjadi dan biasanya terdapat di negara yang bermusim dingin. gatal 95 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Lokasinya bisa pada tangan. telinga. Ada 2 cara kematian kasus trauma dingin (cold trauma / frost bite / immertion foot).

koma. dll Arus listrik bergerak dari tempat yang berpotensial tinggi ke potensial rendah. jantung korban berisi darah berwarna merah cerah. Hal ini karena darah "dipaksa" masuk kembali ke dalam pembuluh darah perifer akibat organ dalam mengalami kongesti.  Lethargy.dan nyeri. Bagian-bagian listrik.  Tengkorak korban dapat retak pada bagian sutura.Arus listrik (I) a.  Cairan tubuh korban berubah menjadi es jika tubuh korban lama baru kita temukan.  Tenaga listrik buatan meliputi arus listrik searah (DC) seperti telepon (30-50 volt) dan tram listrik (600-1000 volt) dan arus listrik bolak-balik (AC) seperti listrik rumah. 3. Arahnya sama dengan arah gerak muatan-muatan positif (berlawanan arah dengan elektron-elektron). Trauma listrik (Electrical Injury) Ada 2 jenis tenaga yaitu :  Tenaga listrik alam seperti petir dan kilat. antara lain : 1. Kemudian timbul gangren superfisial yang irreversibel.Arus listrik searah atau direct current (DC) 96 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .  Organ dalam mengalami kongesti hebat.  Lebam mayat berwarna merah cerah yang bercampur bercak berwarna merah gelap. dan akhirnya mati bila tubuh korban lama terpapar dingin. Ada 8 reaksi umum :  Kulit korban pucat dan menggigil. Kita dapat menemukan cutis anserina.  Pada pemeriksaan otopsi.  Kepucatan yang bercampur warna sianosis. pabrik.

000. jauh lebih berbahaya daripada arus DC.Frekuensi listrik Satuan : cycle per second atau hertz.000-1.mengalir secara terus menerus ke satu arah. pabrik.000 hertz. yang paling sering digunakan 50 dan 60 hertz. Sumber misalnya batere dan accu.00040.000 V) misalnya transpor arus listrik. misalnya pada pemurnian dan pelapisan/penyepuhan logam. dan kereta listrik (600-1500 volt). 3.  Voltase rendah (110-460 V) misalnya penerangan.Tegangan (voltage/V) Satuan : volt.Arus listrik bolak-balik atau alternating current (AC) mengalir bolak-balik. tubuh manusia 4-6 kali lebih sensitif terhadap arus AC. 1 volt = tenaga listrik yang dibutuhkan untuk menghasilkan intensitas listrik sebesar 1 ampere melalui sebuah konduktor (penghantar) yang memiliki tahanan sebesar 1 ohm.  Voltase sangat tinggi (20. dipakai dalam industri elektrolisa. Juga digunakan pada telefon (30-50 volt). b. 2. digunakan di rumahrumah dan pabrik-pabrik. yang paling tinggi 1 jt hertz dengan voltage 20.  Voltase tinggi (= 1. tram listrik. Tubuh sangat tidak peka terhadap frekuensi yang sangat tinggi atau sangat rendah. biasanya 110 volt atau 220 volt. Diatermi : frekuensi 1 juta Hz dan tegangan 97 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . contohnya kurang dari 40 hertz atau lebih dari 1.000 V) misalnya deep X-rays therapy dan diatermi.000 volt tidak begitu berbahaya dapat digunakan sebagai diatermi.

besarnya intensitas listrik (I) sama dengan besarnya tegangan/voltage (V) dibagi dengan tahanan (R) dari medium. Menurut hukum Ohm. Voltage yang paling rendah yang sudah dapat menimbulkan kematian manusia  50 volt.20 ribu .40 ribu volt. Let go current = kuat arus dari aliran listrik dimana korban masih bisa melepaskan diri darinya. Banyak kematian akibat sengatan arus listrik AC dengan tegangan 220 volt. Suatu arus AC dengan intensitas 70-80 mA  kematian. sedangkan pada implikasi biologis kurang berarti.lamanya kontak 3. Kuat arus yang sering kita gunakan dibawah 6 ampere. Makin tinggi voltage akan menghasilkan efek yang lebih berat pada manusia baik efek 98 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . 4. sedangkan arus DC dengan intensitas 250 mA masih dapat ditolerir tanpa menimbulkan kerusakan.tegangan / voltage Hanya penting untuk sifat-sifat fisik saja.banyaknya arus I = ----R 2. Panas yang terjadi tergantung dari : V 1. 2.Tahanan/hambatan listrik (resistance/R) Satuan : ohm.jenis / macam aliran listrik Arus searah (DC) dan arus bolak-balik (AC).besarnya hambatan W = I2 R t Hal ini sesuai dengan rumus : Keterangan : W = panas yang dihasilkan (kalori) I = kuat arus (ampere) R = hambatan (ohm) t = waktu (detik) Faktor-faktor yang Mempengaruhi Efek Listrik pada Tubuh 1.

akan menurun besarnya pada tulang. kelenjar keringat dan lemak. Kematian akibat aliran listrik tegangan rendah terutama oleh karena terjadinya vibrilasi ventrikel. maka tahanannya turun lebih rendah lagi antara 1200-1500 ohm.lokal maupun general. Menurut hitungan Cardieu. Pertimbangkan tentang ”transitional resistance”. lemak. dan lainlain. misalnya baju. ditentukan perbedaan kandungan air pada jaringan tersebut. Tahanan kulit rata-rata 500-10. 99 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . +60% kematian akibat listrik arus listrik dengan tegangan 115 volt. sarung tangan karet. hal ini bergantung pada ketebalan kulit dan jumlah relatif dari folikel rambut. 3. bahwa berkeringat dapat menurunkan tahanan sebesar 3000-2500 ohm. sepatu karet. Di dalam lapisan kulit itu sendiri bervariasi derajat resistensinya. otot. sementara itu pada tegangan tinggi disebabkan oleh karena trauma elektrotermis. yaitu suatu tahanan yang menyertai akibat adanya bahan-bahan yang berada di antara konduktor dengan tubuh atau antara tubuh dengan bumi.tahanan / resistance Tahanan tubuh bervariasi pada masing-masing jaringan.000 ohm. Kulit yang berkeringat lebih jelek daripada kulit yang kering. Tahanan tubuh terhadap aliran listrik juga akan menurun pada keadaan demam atau adanya pengaruh obat-obatan yang mengakibatkan produksi keringat meningkat. darah dan cairan tubuh. Pada kulit yang lembab karena air atau saline. urat syaraf. Tahanan yang terbesar terdapat pada kulit tubuh.

0 Tangan tremor dan lengan bawah spasme 7. persepsi arus 2. 100 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . 1959) : 1 mA Efek 1.kuat arus / intensitas /amperage Adalah kekuatan arus (intensitas arus) yang dapat mendeposit berat tertentu perak dari larutan perak nitrat perdetik.5 Tangan terasa ringan dan kaku 4. Berikut ini disajikan sebuah tabel mengenai efek aliran listrik terhadap tubuh (Lobl. Koeppen menggolongkan akibat kecelakaan listrik dalam 4 kelompok yaitu : a.0 Spasme ringan yang luas sampai lengan atas 10.5 Rasa yang jelas. Kelompok I : kuat arus < 25 mA AC (DC antara 25-80 mA) dengan transitional R yang tinggi efek yang berbahaya (-).0 Dapat sengaja melepaskan diri dari arus listrik 15.0 Sensasi. pada 40 mA dapat menimbulkan hilangnya kesadaran dan kematian akan terjadi pada kuat arus 100 mA atau lebih.0 Kontraksi otot-otot fleksor mencegah terlepas dari aliran listrik 20.0 Tangan mati rasa 3.0 Parestesia lengan bawah 5. Satuannya : ampere.4. O. Arus yang di atas 60 mA dan berlangsung lebih dari 1 detik dapat menimbulkan vibrilasi ventrikel. ambang arus 1.0 Kontraksi otot yang sangat sakit Dikatakan bahwa kuat arus sebesar 30 mA adalah batas ketahanan seseorang.

3s  vibrilasi ventrikel irreversibel. termasuk otot yang tersentuh aliran listrik tersebut. karena akibat arus listrik dengan tegangan tinggi tersebut dapat menyebabkan timbulnya kontraksi otot.b. d.aliran arus listrik (path of current) Adalah tempat-tempat pada tubuh yang dilalui oleh arus listrik sejak masuk sampai meninggalkan tubuh. II. II. efek biologisnya sama dg kel. Kelompok IV : kuat arus > 3A  cardiac arrest 5.3s .3A). Dengan tegangan yang rendah  spasme otot-otot  korban malah menggenggam konduktor  arus listrik akan mengalir lbh lama  korban jatuh dalam keadaan syok yang mematikan Sedangkan pada tegangan tinggi  segera terlempar atau melepaskan konduktor atau sumber listrik yang tersentuh.I  hilangnya kesadaran. maka orang yang berdiri pada tanah yang basah tanpa alas kaki. c. aritmia dan spasme pernafasan. akan lebih berbahaya daripada orang yang berdiri dengan mengggunakan alas sepatu yang kering.1-0. Letak titik masuk arus 101 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Kelompok II : kuat arus 25-80 mA AC (DC 80300 mA) dg transitional R < dari kel. transitional R < dari kel. karena pada keadaan pertama tahanannya rendah. Kelompok III : Kuat arus 80-100 mA AC (DC 300 mA . Jk t = 0.lamanya waktu kontak dengan konduktor Makin lama korban kontak dengan konduktor  makin banyak jumlah arus yang melalui tubuh  kerusakan tubuh akan bertambah besar&luas. 6. Jk > 0.adanya hubungan dengan bumi / earthing Sehubungan dengan faktor tahanan. 7.

u sepatu karet 8. Kebiasaan dan pekerjaan. jarang terjadi karena pembunuhan atau bunuh diri. e.Kesadaran adanya arus listrik.Luas kontak dengan arus listrik. Arus listrik masuk dari sebelah kiri bagiah tubuh lebih berbahaya daripada jika masuk dari sebelah kanan. seperti penyakit jantung.Antisipasi terhadap syok. kondisi mental yang menurun. f. g. yang dapat memperberat efek listrik pada tubuh manusia sampai timbulnya kematian.faktor-faktor lain a.adanya penyakit-penyakit tertentu yang sudah ada pada korban sebelumnya. b. Cara Kematian Paling sering : kecelakaan. c. Kelengahan atau kekurang hati-hatian. Oleh karena itu pemeriksaan Tempat Kejadian Perkara (TKP) sangat penting. sepatu dapat berfungsi sebagai isolator. d.listrik (point of entry) & letak titik keluar bervariasi  efek dari arus listrik tersebut bervariasi dari ringan sampai berat. Patofisiologi 102 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . t. Orang yang tanpa alas kaki lebih berbahaya kalau terkena aliran listrik. Bumi dianggap sebagai kutub negatif. Bahaya terbesar bisa timbul jika jantung atau otak berada dalam posisi aliran listrik tersebut.Konstitusi tubuh yaitu tubuh kurus dan gemuk.dsb.

Seluruh aliran dapat mengakibatkan mionekrosis. 2. dan mioglobinuria dan berbagai komplikasi. Ada kasus karena listrik yang menyebabkan korban jatuh dari ketinggian. Sebab Kematian Kebanyakan oleh energi listrik itu sendiri. Yang paling berbahaya adalah jika arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan kiri dan keluar melalui kaki yang berlawanan/kanan. Sering trauma listrik disertai trauma mekanis.Elektron mengalir secara abnormal melalui tubuh menghasilkan cedera dengan atau kematian melalui depolarisasi otot dan syaraf. inisiasi abnormal irama elektrik pada jantung dan otak. Kalau arus listrik masuk ke tubuh melalui tangan yang satu dan keluar melalui tangan yang lain maka 60% yang meninggal dunia.Ventrikel fibrilasi Tergantung ukuran badan dan jantung. Dalziel (1961) memperkirakan pada manusia arus yang mengalir sedikitnya 70 mA dalam waktu 5 detik dari lengan ke tungkai akan menyebabkan fibrilasi. baik voltase rendah maupun tinggi mengakibatkan penurunan kesadaran segera karena depolarisasi syaraf otak.Respiratori paralisis 103 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Sebab kematian karena arus listrik yaitu : 1. mioglobinemia. Selain itu dapat juga mengakibatkan luka bakar. Aliran listrik yang lama membuat kerusakan iskemik otak terutama yang diikuti gangguan nafas. Arus yang melalui otak. AC dapat menghasilkan ventrikular fibrilasi jika jalurnya melalui dada. dalam hal ini sukar untuk mencari sebab kematian yang segera. atau menghasilkan luka bakar elektrik internal maupun eksternal melalui panas dan pembentukan pori di membran sel.

paralisis pusat pernafasan tetap ada. oleh karena itu dengan bantuan pernafasan buatan korban masih dapat ditolong.Paralisis pusat nafas jika arus listrik masuk melalui pusat di batang otak. Pemeriksaan Korban 1. Pemeriksaan korban di Tempat Kejadian Perkara (TKP) Korban mungkin ditemukan sedang memegang benda yang membuatnya kena listrik. sedangkan ventrikel fibrilasi terjadi pada arus 80-100 mA. Bila aliran listrik diputus. kadangkadang ada busa pada mulut. sehubungan dengan spasme otot-otot karena jantung masih tetap berdenyut sampai timbul kematian. sehingga korban meninggal karena asfiksia. Lalu kemudian korban diperiksa apakah hidup atau sudah meninggal dunia. 3. Menurut Koeppen. spasme otot-otot pernafasan terjadi pada arus 25-80 mA. Hal tersebut bisa terjadi jika kepala merupakan jalur arus listrik. Bilamana belum ada lebam mayat. jantung pun masih berdenyut. maka mungkin korban dalam keadaan mati suri dan perlu diberi pertolongan segera yaitu pernafasan buatan dan pijat jantung dan kalau perlu segera dibawa ke Rumah sakit. Yang perlu dilakukan pertama kali adalah mematikan arus listrik atau menjauhkan kawat listrik dengan kayu kering. tetapi masih di batas bawah yang dapat menimbulkan ventrikel fibrilasi.Akibat spasme dari otot-otot pernafasan. Terjadi bila arua listrik yang memasuki tubuh korban di atas nilai ambang yang membahayakan. disebabkan juga oleh trauma pada pusat-pusat vital di otak yang terjadi koagulasi dan akibat efek hipertermis. Pernafasan buatan ini jika dilakukan dengan baik dan benar 104 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

Current mark adalah tanda luka akibat listrik dan merupakan tempat masuknya aliran listrik. kuning atau coklat keputihan atau coklat kehitaman atau abu-abu kekuningan dikelilingi daerah kemerahan dan edema sehingga menonjol dari jaringan sekitarnya (daerah halo). 2. Pemeriksaan Luar Sangat penting karena justru kelainan yang menyolok adalah kelainan pada kulit. dan aluminium warna perak. luka robek. Pemeriksaan Jenazah a. Tanda-tanda listrik tersebut antara lain : • Terkecil sebesar kepala jarum dengan warna kemerahan • Tanda lain berupa bula • Current mark berbentuk oval. Dalam pemeriksaan luar yang harus dicari adalah tanda-tanda listrik atau current mark/electric mark/stroomerk van jellinek/joule burn. Luka keluar dari luka listrik (electrical burn) tidak khas dapat berupa luka lecet. Metalisasi akibat panas yang ditimbulkan sedemikian besar sehingga ion-ion asam jaringan bereaksi dengan ion-ion logam dari kawat atau kabel membentuk garam dan menyebar di jaringan. Cara mencari t.u pada telapak tangan atau telapak kaki dan sebelumnya harus dicuci dulu dengan sabun dan bila perlu disikat.masih merupakan pengobatan utama untuk korban akibat listrik. misalnya dari besi akan tampak warna hitam kecoklatan. Warna yang terjadi tergantung bahan logam. tembaga warna coklat kemerahan. Usaha pertolongan ini dilakukan sampai korban menunjukkan tanda-tanda hidup atau tanda-tanda kematian pasti. atau luka 105 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

juga ditemukan pneumothorak. Pada paru didapatkan edema dan kongesti. Custer menemukan pada puncak lobus salah satu paru terbakar.bakar. sehingga tubuh akan hangus terbakar dengan kerusakan yang sangat berat dan tidak jarang disertai dengan patahnya tulang-tulang • Panas yang timbul pada suatu waktu demikian besarnya sehingga kawat listrik menguap dan mengkondensir di jaringan tubuh/electric metalisasi b. rambut ikut terbakar. Sepatu korban dan pakaian dapat terkoyak. tulang dapat meleleh dengan pembentukan butir kapur/kalk parels terdiri dari kalsium fosfat • Endogenous burn/Joule burn terjadi jika kontak dengan tubuh lama sehingga bagian tengah yang dangkal dan pucat pada electric mark dapat menjadi hitam dan hangus terbakar • Eksogenous burn dapat terjadi bila tubuh terkena arus listrik tegangan tinggi yang sudah mengandung panas. hal ini mungkin sekali disebabkan oleh aliran listrik yang melalui paru kanan. Organ jantung akan terjadi fibrilasi bila dilalui aliran listrik dan berhenti pada fase diastole. Pemeriksaan Dalam Pada autopsi biasanya tidak ditemukan kelainan yang khas. Pada korban yang terkena listrik tegangan tinggi. Pada otak didapatkan perdarahan kecil-kecil dan terutama paling banyak adalah pada daerah ventrikel III dan IV. • Tanda yang lebih berat yaitu kulit menjadi hangus arang. Organ viscera menunjukkan kongesti 106 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . sehingga terjadi dilatasi jantung kanan.

Petekie atau perdarahan mukosa gastro intestinal ditemukan pada 1 dari 100 kasus fatal akibat listrik.. c.1 Otot korban putus akibat perubahan hialin. pada pengecatan dengan metoxyl lineosin akan bewarna lebih gelap dari normal • Sel-sel pada stratum korneum menggelembung dan vakum • Sel dan intinya dari stratum basalis menjadi lonjong dan tersusun secara palisade • Ada sel yang mengalami karbonisasi dan ada pula bagian sel-sel yang rusak dari stratum korneum 107 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Perikard. pembuluh darah korban mengalami nekrosis dan ruptur lalu terjadi pendarahan kemudian terbentuklah gangren. Pada hati ditemukan lesi yang tidak khas. pleura. Pada ekstremitas. Walaupun pemeriksaan itu tidak spesifik untuk tanda kekerasan oleh listrik tetapi sangat menolong untuk menegakkan bahwa korban telah mengalami trauma listrik. maka jika ada aliran listrik akan terjadi panas sehingga tulang meleleh dan terbentuklah butiran-butiran kalsium fosfat yang menyerupai mutiara atau pearl like bodies. Hasil pemeriksaan akan terlihat sebagai berikut : • Ada bagian sel yang memipih.yang merata. dan konjungtiva korban terdapat bintik-bintik pendarahan. Pemeriksaan Tambahan Yang dilakukan adalah pemeriksaan patologi anatomi pada current mark. sedangkan pada tulang. karena tulang mempunyai tahanan listrik yang besar.

Ada 3 kelainan akibat sambaran petir : 1. Berada di tanah lapang. Efek ledakan. • Aborescent markings. Tanda ini akan hilang sendiri setelah beberapa jam. Tanda ini berupa gambaran seperti pohon gundul tanpa daun akibat terjadinya vasodilatasi vena pada kulit korban sebagai reaksi dari persentuhan antara kulit dengan petir (lightning / eliksem). Logam yang terkena sambaran petir (lightning / eliksem) akan 108 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Ada 3 efek listrik akibat sambaran petir : • Current mark / electrik mark / electrik burn. Berada dibawah pohon yang tinggi. Efek ini termasuk salah satu tanda utama luka listrik (electrical burn). Kehujanan dan memakai perhiasan yang terbuat dari logam. 2. Efek panas. 3. • Magnetisasi. Petir termasuk arus searah (DC) dengan tegangan 20 juta volt dan kuat arus 20 ribu ampere. Ada 3 keadaan yang berpotensi besar terkena petir : 1. Petir (Lightning) Lightning / eliksem adalah kecelakaan akibat sambaran petir. 2. Efek listrik.• Folikel rambut dan kelenjar keringat memanjang dan memutar ke arah bagian yang terkena listrik. 3.

kertas spt kertas perkamen. Arloji korban akan berhenti dimana tanda ini dapat kita gunakan untuk menentukan saat kematian korban.  Basa kuat  memembentuk rx penyabunan  luka basah.berubah menjadi magnet. Cara kematian korban akibat sambaran petir : kecelakaan. sepatu bahkan seluruh tubuh korban dapat terbakar atau hangus. licin  kerusakan sd terus s/d dalam 109 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . • Metalisasi. Logam yang dikenakan korban akan meleleh seperti perhiasan dan komponen arloji. Ada 2 efek panas akibat sambaran petir : • Luka bakar sampai hangus. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). pakaian. udara setempat menjadi vakum lalu terisi oleh udara kembali sehingga menimbulkan suara menggelegar / guntur / ledakan. Efek ledakan akibat sambaran petir (lightning / eliksem) terjadi akibat perpindahan volume udara yang cepat & ekstrim. Setelah kilat menyambar. Rambut. Efek ini juga termasuk salah satu tanda luka listrik (electrical burn). Trauma Kimiawi  Asam kuat & basa kuat  Asam kuat  mengkoagulasikan protein  luka korosif yang kering.

asam sitrat dan asam karbol. kalsium hidroksida.  Kaustik alkali  kalium hidroksida. Ciri luka akibat kimiawi :  Asam karbol  luka bakar dimana kulit yang terkena akan berwarna kelabu keputihan. asam klorida. natrium hidroksida dan amoniak. warna cokelat kemerahan dan pada rabaan teraba lunak dan licin.  Ciri trauma akibat asam  kering. BAB VIII ABORSI 110 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . cokelat kemerahan dan pd perabaan teraba padat dan keras  Ciri trauma akibat basa  bengkak.  Asam sulfat dan asam klorida  kulit mulamula akan berwarna kelabu kmdn jadi hitam.  Asam oksalat  kulit berwarna kelabu kehitaman. edem. asam nitrat dan asam sulfat.  Garam logam berat  merkuri klorida.  Zinc klorida  kulit berwarna keputih-putihan.Bahan kimia yg bersifat korosif dpt dibagi dlm 4 golongan :  Asam organik yg bersifat korosif.  Asam nitrat  kulit berwarna merah kecoklatan yang disertai dengan perdarahan.  asam oksalat. sedangkan  Merkuri klorida  kulit yg terkena berwarna biru keputihan + perdarahan. zinc klorida dan stibium klorida.  Asam anorganik yg bersifat korosif  asam fluoride. asam asetat.

setara dengan umur kehamilan 22 minggu. Dari segi medikolegal maka istilah abortus. Dari aspek kedokteran forensik yang diartikan dengan keguguran kandungan adalah pengeluaran hasil konsepsi pada setiap stadia perkembangannya sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai (38-40 minggu).DEFINISI Peristilahan aborsi sesungguhnya tidak kita temukan pengutipannya dalam Kitab UndangUndang Hukum Pidana (KUHPidana). dan kelahiran prematur mempunyai arti yang sama dan menunjukkan pengeluaran janin sebelum usia kehamilan yang cukup. Anak baru mungkin hidup di luar kandungan kalau beratnya telah mencapai 1000 gram atau umur kehamilan 28 minggu. keguguran. Berdasarkan variasi berbagai batasan yang ada tentang usia / berat lahir janin viable (yang mampu hidup di luar kandungan). akhirnya ditentukan suatu batasan abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia kehamilan 20 minggu. Sinonim dengan kata itu mengenal istilah “kelahiran yang premature” atau miskraam (Belanda).(terakhir. Dalam KUHPidana hanya dikenal istilah pengguguran kandungan. keguguran. Istilah “aborsi” yang berasal dari kata abortus bahasa latin. Ada yang mengambil batas abortus bila berat anak kurang dari 500 gram. 111 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . WHO/FIGO 1998 : 22 minggu). Abortus berdasarkan definisi medis adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. artinya “kelahiran sebelum waktunya”.

yaitu abortus yang terjadi dengan sendirinya. disebut juga keguguran.abortus provokatus kriminalis yaitu abortus yang dilakukan tanpa indikasi medis. ABORTUS PROVOKATUS ATAS INDIKASI MEDIS 112 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Abortus yang disengaja ini dapat bersifat murni medisinalis. Abortus yang sengaja dibuat (abortus provokatus/induksi abortus). dilakukan oleh tenaga yang terdidik khusus untuk melakukannya dengan baik dan bukan dilakukan untuk mempertahankan nama baik atau kehormatan keluarga. yaitu abortus disengaja atau digugurkan. Abortus dengan penyebab yang wajar (abortus spontanea). kanker leher rahim. Biasanya dengan alat-alat dengan alasan bahwa kehamilan membahayakan dan dapat membawa maut bagi ibu contohnya ibu dengan penyakit jantung. Dilakukan secara sembunyi-sembunyi dan dilakukan oleh tenaga yang umumnya tidak terdidik khusus. termasuk oleh wanita hamil itu sendiri. Ini disebut juga illegal abortion.KLASIFIKASI Secara garis besar abortus dapat di bagi dalam 2 kelompok. yaitu: 1. dan lain-lain. tetapi dapat pula bersifat medisinalis kriminalis tergantung dari pelaku abortusnya yang dapat dibedakan antara : 1. merupakan 80 % dari semua kasus abortus. 2. hipertensi.abortus provokatus medisinalis (terapeutik) atau legal abortion yaitu abortus yang dilakukan atas indikasi medis. 2.

tetapi larangan ini tidaklah mutlak sifatnya. humaniter.Faktor kehamilannya sendiri o Ectopic pregnancy yang terganggu o Abortus yang mengancam disertai dengan perdarahan yang terus-menerus. apabila itu satu-satunya jalan untuk menolong jiwa dan kesehatan ibu serta sunguh-sungguh dapat dipertanggung jawabkan dapat dibenarkan dan biasanya tidak dituntut. atau jika janin telah meninggal (missed abortion). dan beberapa negara lainnya. bukan semata-mata untuk menolong ibu. Swiss. jasmani. namun sampai saat ini di Indonesia yang dimaksud dengan indikasi medik adalah demi menyelamatkan nyawa ibu. Indikasi melakukan abortus terapeutik: 1. janin cacat. dan rohani. tetapi juga dengan pertimbangan keselamatan anak. Akan tetapi abortus buatan sebagai tindakan pengobatan. Jadi tidak dibenarkan melakukan abortus atas indikasi : o Ekonomi o Etnis : baik akibat perkosaan atau akibat hubungan diluar nikah. Di Indonesia berdasarkan undang-undang. Indikasi medis akan berubah-ubah menurut perkembangan ilmu kedokteran. melakukan abortus buatan dianggap suatu kejahatan. o Sosial : kuatir adanya penyakit turunan. dan egenetis. membenarkan indikasi yang bersifat sosial medis. Walaupun beberapa ahli telah banyak berdebat tentang kemungkinan perluasan indikasi medik. Di negara Swedia. o Mola hydatidosa 113 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed .Umumnya setiap negara ada undang-undang yang melarang abortus buatan.

Penyakit sistemik ibu : o Toxemia gravidarum o Penyakit jantung organik disertai kegagalan jantung o Penyakit ginjal o Diabetes melitus berat dengan o Gangguan jiwa. yang ditunjuk pemerintah. Pada kasus seperti ini sebelum melakukan tindakan abortus harus berkonsultasi dengan psikiater. (6) Dokumen medik harus lengkap. disertai kecenderungan untuk bunuh diri. agama. (4) Dilakukan di sarana kesehatan yang memiliki tenaga / peralatan yang memadai. seorang dokter perlu mengambil tindakantindakan pengamanan dengan mengadakan konsultsi pada seorang ahli kandungan yang berpengalaman dengan syarat: (1) Dilakukan oleh tenaga kesehatan yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya (yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan) sesuai dengan tanggung jawab profesi. (2) Harus meminta pertimbangan tim ahli (ahli medis lain. (5) Prosedur tidak dirahasiakan. Penyakit diluar kehamilannya : o Ca Cervix o Ca. hukum. Dalam melakukan tindakan abortus atas indikasi medik. (3) Harus ada persetujuan tertulis dari penderita atau suaminya atau keluarga terdekat. ABORTUS PROVOKATUS KRIMINALIS 114 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .o Kelainan plasenta 2. psikologi). Mamma yang aktif 3.

Tidak ada perbedaan hukum untuk pengguran fetus pada awal kehamilan atau pada akhir masa kehamilan. Mengenali Tindakan Arortus Provokatus 115 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . akan dituntut dengan pasal pembunuhan. Kejahatan ini dinyatakan sebagai tindak pidana jika aborsi yang dilakukan berakibat fatal. atau berusaha menggugurkan kandungan dengan cara lain. karena keduanya disebut aborsi. seperti ahli anestetik atau perawat. jika tidak ada indikasi terapeutik untuk operasi. Jika wanita tersebut meninggal akibat prosedur yang dilakukan oleh aborsionis dan orang lain yang berkaitan dengan kejahatan tersebut. fetus pada awal kehamilan sebelum digugurkan dinyatakan memiliki kehidupan yang sama dengan fetus pada akhir masa kehamilan. yaitu. Hukum menekankan pada maksud-maksud ilegal di balik tindakan dan tentang semua hal yang berhubungan dengan kejahatan sebagai prinsip-prinsip kesalahan. Bahkan saudara atau teman yang menemaninya ke aborsionis dinyatakan bersalah sebagai rekan kejahatan. jika dapat dibuktikan bahwa orang tersebut mengetahui tujuan kunjungannya. Aborsi yang dilakukan pada awal masa kehamilan sama bersalahnya dengan yang dilakukan pada akhir masa kehamilan. jika terjadi kematian akibat tindakannya.Aborsi kriminal adalah kerusakan atau pengguguran janin dari rahim ibu oleh orang lain secara paksa. Dalam sebagian besar yuridiksi. Yang termasuk dalam kategori ini adalah individu yang memberi anjuran dan meresepkan obat-obatan. mereka dinyatakan bersalah oleh hukum.

kalium permanganat pekat. pemasangan laminaria stift atau kateter ke dalam serviks. Penyuntikan atau penyemprotan cairan biasanya dilakukan dengan menggunakan Higginson type syringe.Abortus provokatus yang dilakukan menggunakan pelbagai cara selalu mengandung resiko kesehatan baik bagi si ibu atau janin. pengaliran listrik pada serviks dan sebagainya. Penyemprotan ini dapat mengakibatkan emboli udara. sedangkan cairannya adalah air sabun. Kekerasan dari luar dapat dilakukan sendiri oleh si ibu atau oleh orang lain. atau manipulasi serviks dengan jari tangan. aplikasi asam arsonik. jatuh. atau jodium tinktur. Kekerasan dapat pula 'dari dalam' dengan melakukan manipulasi vagina atau uterus. Manipulasi vagina dan serviks uteri. pemijatan/pengurutan perut bagian bawah. dengan melakukan pemecahan selaput amnion atau dengan penyuntikan ke dalam uterus. misalnya dengan penyemprotan air sabun atau air panas pada porsio. kekerasan langsung pada perut atau uterus. Seorang dokter perlu mengenali kelainan yang dapat timbul akibat pelbagai macam cara yang digunakan untuk melakukan pengguguran kriminal ini agar benar-benar dapat membantu secara maksimal pihak penyidik. desinfektan atau air biasa/air panas. Kekerasan mekanik lokal dapat ditakukan dari luar maupun dari dalam. Manipulasi uterus. seperti melakukan gerakan fisik berlebihan. Pemecahan selaput amnion dapat dilakukan dengan memasukkan alat apa saja yang cukup panjang dan kecil melalui serviks. 116 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

pilokarpin. seperti strichnin. bubuk beras dicampur lada hitam. Kombinasi kina atau menolisin dengan ekstrak hipofisis (oksitosin) ternyata sangat efektif. jamu perangsang kontraksi uterus dan hormon wanita yang merangsang kontraksi uterus melalui hiperemi mukosa uterus. Penguguran dengan mengunakan kimia protaglandin 5. laksans dan lain lain. MR (Kuret dengan penyedotan) 3. Pernah dilaporkan penggunaan bahan tumbuhan yang mengandung minyak eter tertentu yang merangsang saiuran cerna hingga terjadi kolik abdomen. nenas muda. Hasil yang dicapai sangat bergantung pada jumlah (takaran). D&X (Intact dilatation & extraction =partial birth abortion) CARA-CARA ABORTUS 117 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Peracunan dengan menyuntikan larutan garam pekat 4. Ada juga yang agak beracun seperti garam logam berat. prostigmin. sensitivitas individu dan keadaan kandungannya (usia gestasi). dikumarol. Akhirakhir ini dikenal juga sitostatika Teknik-Teknik Aborsi pada klinik aborsi : 1. Bahan-bahan tadi ada yang biasa terdapat dalam jamu peluntur.Obat/zat tertentu. atau bahan yang beracun. dan lain lain. Operasi bedah kaisar/histerotomi 6. Dilatasi Dan kuret (D & C) 2. racun umum digunakan dengan harapan agar janin mati tetapi si ibu cukup kuat untuk bisa selamat. kina dan lain lain.

Mengunakan obat-obatan yang diminum 2.Ketuban dipecah . Obat – obat yang menimbulkan kontraksi GIT. Abdominal : Sectio Caecaria Cara-cara melakukan abortus kriminalis : 1.Injeksi 10 unit oxytosin intra uterin 2.Dilatasi dan kuretasi.Dilatasi Cervix . 118 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Obat yang bekerja langsung pada uterus o Echolics (golongan obat yang meningkatkan kontraksi uterus). Obat – obatan Biasanya obat-obatan yang diberikan per-oral tidak menyebabkan abortus kecuali diberikan dalam jumlah besar sehingga bersifat toksik kepada wanita hamil tersebut. Untuk menyebabkan abortus harus diberikan dalam dosis yang besar dan berulang). Klasifikasi obat-obat yang digunakan adalah : 1.Patut diingat tidak ada satupun obat/kombinasi obat peroral yang mampu menyebabkan rahim yang sehat mengeluarkan isinya tanpa membahayakan jiwa wanita yang meminumnya. 2. Karena itulah seorang “abortir profesional” tidak mau membuang-buang waktu/mengambil resiko melakukan abortus dengan menggunakan obat-obatan. o Emmenagagonum (merangsang terjadinya menstruasi. biasanya hal ini hanya dilakukan oleh dokter atau bidan.Cara-cara yang dipakai untuk melakukan abortus atas indikasi medik adalah: 1.Menggunakan kekerasan mekanik (umum dan lokal) 3. Vaginal .

Buah Daucus carota). Tindakan kekerasan yang bersifat lokal : o Merobek selaput amnion. yaitu dengan memasukkan benda tajam seperti kateter.4-0. o Latihan olahraga yang keras misalnya bersepeda. jarum. o Castrol oil . berenang. arsen atau phelavai juice 119 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .o Yang paling sering digunakan adalah emetik tartar. yaitu berupa potongan kayu yang dibungkus dengan kain. o Stik abortus. Dengan demikian akan menyebabkan robeknya selaput amnion dan terjadi abortus. menunggang kuda. naik turun tangga. buah nenas yang masih mentah. dll kedalam rongga uterus. magnesium sulfate / sodium sulfate 3. mendaki gunung. Obat yang bersifat racun sistemik o Racun tumbuhan (buah pepaya yang masih mentah. o Racun logam ( yang paling sering digunakan adalah cairan timah yang mengandung oksida timah dan minyak zaitun). o Pemijatan uterus melalui dinding abdomen. o Pernggunaan ganggang laminaria yang diamternya berukuran 0. Ganggang ini direndam dalam air dan dimasukkan kedalam ostium uteri. o Mengangkat barang-barang berat. madar juice. misalnya pukulan. meloncat. kemudian dicelupkan kedalam madar juice.5 cm. tendangan o Menggunakan ikatan yang kencang pada bagian abdomen. Kekerasan Mekanik Tindakan kekerasan yang bersifat umum : o Penekanan pada abdomen.

mikroskopik dan sebagainya.bercak darah pada vagina . bisa terdapat dan bias juga tidak terdapat robekan.serviks membuka. Ibu 1. 1. Hal ini akan menyebabkan kontraksi uterus dan abortus. pigmentasi.uterus yang membesar .vagina yang longgar .ditemukan cairan . golongan darah 2. Pemeriksaan Kasus Abortus Korban hidup Pada korban hidup perlu diperhatikan tanda kehamilan misalnya perubahan pada payudara.laserasi dan luka yang terdapat pada vagina . menyebabkan kontraksi uterus dan mengeluarkan hasil konsepsi.dan dimasukkan kedalam ostium uteri. o Menyalurkan listrik tegangan rendah. Tanda-tanda partus . umur janin 2. daerah perut bagian bawah.hiperpigmentasi aerola mammae 2. golongan darah janin Korban mati 120 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . misalnya tanda kekerasan pada genitalia interna/eksterna. 3. Perlu pula dibukti adanya usaha penghentian kehamilan. Janin 1. Tanda-tanda kehamilan .striae gravidarum . hormonal.

maka komplikasi yang timbul atau penyakit yang menyertai mungkin mengaburkan tanda-tanda abortus kriminal. Teare (1964) menganjurkan pembukaan abdomen sebagai langkah pertama dalam autopsi bila ada kecurigaan akan abortus kriminalis sebagai penyebab kematian korban. 121 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Pemeriksaan luar dilakukan seperti biasa sedangkan pada pembedahan jenazah. Uterus diiris mendatar dengan jarak antar irisan 1 cm untuk mendeteksi perdarahan yang berasal dari bawah. Abortus yang dilakukan oleh ahli yang terampil mungkin tidak meninggalkan bekas dan bila telah berlangsung satu hari atau lebih. luka atau perforasi. bila didapatkan cairan dalam rongga perut.Temuan autopsi pada korban yang meninggal tergantung pada cara melakukan abortus serta interval waktu antara tindakan abortus dan kematian. Periksa alat-alat genitalia interna apakah pucat. Lakukan pula Tes emboli udara pada vena kava inferior dan jantung. lakukan pemeriksaan toksikologik. krepitasi. Ambil urin untuk tes kehamilan/toksikologik dan pemeriksan organ-organ lain dilakukan seperti biasa. Ambil darah dari jantung (segera setelah tes emboli) untuk pemeriksaan toksikologilk. Pada pemeriksaan jenazah. atau kecurigaan lain. Lagi pula selalu terdapat kemungkinan bahwa abortus dilakukan sendiri oleh wanita yang bersangkutan. Uterus diperiksa apakah ada pembesaran. mengalami kongeti atau adanya memar.

Pemotretan sebelum memulai pemeriksaan Identifikasi umum o Tinggi badan.arteri coronaria . terutama pada pakaian dalam. gelembung sabun. o Periksa dengan palpasi uterus untuk kepastian adanya kehamilan.ventricle kanan . Pakaian. kekerasan yang biasanya terjadi pada dinding posterior misalnya perforasi uterus. cari tanda-tanda kontak dengan suatu cairan. o Menilai setiap penyakit wajar yang ditemukan.arteri pulmonalis . o Menentukan kaitan antara sebab kematian dengan abortus. o Cari tanda-tanda emboli udara. Cara pemeriksaan: 122 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . Pemeriksaan post mortem abortus kriminalis bertujuan : o Mencari bukti dan tanda kehamilan o Mencari bukti abortus dan kemungkinan adanya tindakan kriminal dengan obat-obatan atau instrumen. Ditemukannya sel radang PMN menunjukkan tanda intravitalitas. kerusakan jaringan yang merupakan jejas/tanda usaha penghentian kehamilan. berat badan. o Catat suhu badan. warna dan distribusi lebam jenasah. Pemeriksaan Ibu : 1.arteri dan vena dipermukaan otak . umur.Pemeriksaan niikroskopik meliputi adanya sel trofoblas yang merupakan tanda kehamilan.vena-vena pelvis o Vagina dan uterus diinsisi pada dinding anterior untuk menghindari jejas. cairan pada : .

uterus direndam dalam larutan formalin 10% selama 24 jam, kemudian direndam dalam alcohol 95% selama 24 jam, iris tipis untuk melihat saluran perforasi. Periksa juga tandatanda kekerasan pada cervix (abrasi, laserasi). o Ambil sampel semua organ untuk menilai histopatologis. o Buat swab dinding uterus untuk pemeriksaan mikrobiologi. o Ambil sampel untuk pemeriksaan toksikologis : - isi vagina - isi uterus - darah dari vena cava inferior dan kedua ventricle - urine - isi lambung - rambut pubis Pemeriksaan janin - Umur janin - Golongan darah Pemeriksaan toksikologik dilakukan untuk mengetahui adanya obat/Zat yang dapat mengakibatkan abortus. Perlu pula dilakukan pemeriksaan terhadap hasil usaha penghentian kehamilan, misalnya yang berupa IUFD - kematian janin di dalam rahim dan pemeriksaan mikroskopik terhadap sisa-sisa jaringan. Pertimbangan – pertimbangan saat otopsi Saat melakukan otopsi untuk kasus aborsi, ahli patologi harus membuat catatan khusus tentang kondisi rahim dan genitalia, serta deskripsi umum tentang mayat. Panjang, lebar dan ketebalan uterus, ketebalan dinding uterin, panjang rongga uterin, lingkar sirkumferen internal dan eksternal, 123 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

panjang serviks, diameter corpus luteum, dan ukuran sisa-sisa janin, harus dicatat. Pemeriksaan dilakukan pada tuba ovarium dan payudara. Bagian-bagain janin harus dicari dalam saluran genital dan rongga peritoneal. Luka-luka instrumental dan tanda-tanda tenaculum harus diidentifikasi. semua organ dalam rongga abdominal dapat menyebabkan peritonitis supuratif, seperti appendiks, kandung kemih atau perut, harus diperiksa. Semua kondisi tubuh yang dapat menyebabkan aborsi spontan, seperti penyakit jantung dan hydatidiform mole, harus diperiksa. Kondisi-kondisi septik tubuh harus diperiksa dengan cermat. Vena-vena uterin dan ovarian harus diurutkan dengan cermat sampai ke bagian tubuh yang lebih besar untuk mengetahui terjadinya phlebitis purulen. Pengguanan terapeutik sulfonamid dan obat-obatan antibiotik lainnya dapat menghambat perkembangan bakteri dalam kultur post-mortem. Pemeriksaan kimiawi harus dilakukan pada otak dan viscera parenkimatom, jika perlu. Harus dilakukan pemeriksaan mikroskopis pada mukosa uterin untuk mengetahui apakah terjadi villi chorionic. Struktur-struktur lainnya, seperti tuba, ovarium, appendiks, ginjal, limpa, hati, pankreas, jantung, paru-paru, dan organ-organ lainnya yang terlihat abnormal harus diperiksa/dipotong. Jika terdapat sisa-sisa janin, dapat dilakukan pemeriksaan sinar-x untuk mengetahui pusat-pusat osifikasi. Hal ini sangat penting untuk menentukan usia kehamilan. Benda-benda asing, instrumen, juga harus diawetkan sebagai bukti, jika ditemukan dalam tubuh. 124 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd

Dalam banyak kasus, sisa-sisa janin tidak mudah diidentifikasi. jika seorang wanita meninggal saat aborsi, janin atau bagian dari janin, akan ditemukan dalam saluran genital. Kadang-kadang, terjadi perforasi rahim dan janin dipaksakan masuk ke rongga peritoneal, ini akan ditemukan saat otopsi. Biasanya, tubuh janin telah diangkat, dan daerah plasenta ditandai oleh penonjolan sirkuler pada batas-batas uterus di sekitar fundus, kondisi ini akan bertahan selama beberapa hari. Perforasi dapat terjadi dalam berbagai ukuran dan bentuk, bervariasi mulai dari stellata kasar dan kecil yang terbuka dan berdiameter kurang lebih 1 cm, banyak potongan stellata yang berbentuk oval atau ireguler, dan terlihat seperti-kawah yang kadang menonjol pada fundus uterin. Kadang, ditemukan dua atau beberapa perforasi pada fundus, atau terjadi perlukaaan fundus dan serviks akibat penggunaan kuret Uterus paling mudah mengalami perforasi adalah jenis bicornuate, karena operator yang ragu-ragu, menduga bahwa rongga uterus lebih panjang dan melukai dindingnya pada bagian cornua yang terpisah. Luka pada serviks uteri terjadi sebanyak kurang dari separuh perlukaan instrumental pada uterus, sebagian diantaranya berupa ekskavasasi crateriform dalam dinding servikal, sedangkan yang lainnya mengalami perforasi ke dalam rongga abdominal melalui dinding uterus. Perforasi tersebut berbentuk stellata dan mengarah ke atas mungkin akibat penggunaan instrumen seperti kayu .

125 ed

ROMAN’S FORENSIK 2nd

Karena plasenta merupakan bagian dari janin. Kasus-kasus aborsi yang mengakibatkan perforasi saluran genital dan organ abdominal harus dirujuk ke rumah sakit untuk merawat gejala dan agar dokter bedah dapat melakukan laparotomi. merupakan indikasi yang jelas. Ukuran daerah plasenta bervariasi sesuai dengan usia kehamilan dan jumlah hari setelah aborsi. berupa penyimpangan villi chorionic dan syncytial giant cell. operator dapat mengangkat rahim.Perforasi pada rongga vaginal jarang terjadi pada aborsi yang dilakukan oleh seorang operator. ini merupakan bukti nyata terjadinya kehamilan. dokter bedah harus menyerahkan semua organ. Jika pasien meninggal. operator dapat memperbaiki luka dengan melakukan penjahitan. yang bertolak belakang dengan sel-sel decidual yang merupakan jaringan dari ibu dan bukan. salah satu kasus yang dihadapi oleh penulis adalah seorang ibu hamil yang melukai rongga vaginanya menggunakan jarum panjang. ini dapat dilihat melalui pemeriksaan mikroskopis pada daerah plasenta. jaringan atau benda asing yang diperoleh saat operasi untuk diperiksa dan menyimpan catatan klinis kasus yang akurat. atau reseksi intestinal. 126 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . kondisi payudara dan corpus luteum ovarium. satu-satunya kriteria yang tersisa adalah ukuran dan bentuk rahim. villi chorionic dan syncytial giant cell akan menetap selama beberapa hari kemudian menghilang. Setelah melakukan kuretase pada bagian plasenta yang tersisa pada dinding uterin. Dalam berbagai kasus. namun paling sering terjadi pada aborsi yang dilakukan sendiri. sedangkan dalam kasus lainnya. yang ditusukkan ke dalam perut dan usus beberapa kali sehingga terjadi peritonitis septik.

organisme ini disebut sebagai embrio. kita harus mengetahui perkembangan janin selama masa kehamilan. Dalam kondisi tidak-hamil. lebar 2 inci dan ketebalannya 1 inci. dan terjadinya infeksi intra-uterine akan menganggu atau menghambat proses involusi uterus. Bagian-bagian janin yang tersisa. terjadi pembesaran. Jadi. sulit untuk membuktikan fakta bahwa telah terjadi kehamilan atau usia kehamilan sebelum aborsi dilakukan. disebut sebagai janin. selama periode tersebut. Dimensi uterus yang diukur saat otopsi merupakan satu-satunya data yang dapat diandalkan oleh ahli patologis untuk memperkirakan usia kehamilan. uterus berbentuk seperti buah pir dan memiliki panjang 3 inci. Pemeriksaan sinar roentgen pada bagian-bagian janin yang besar akan menunjukkan pusat-pusat osifikasi dalam berbagai tulang. Selama dua bulan pertama masa kehamilan. Dalam suatu kasus aborsi yang telah terjadi selama beberapa hari dan tidak ada sisa-sisa janin dalam rahim. Pada akhir bulan ketiga. Setelah minggu kelima. ini dapat digunakan untuk menentukan usia bagian-bagian tersebut. Nekrosis sisasisa janin. Biasanya akan terbentuk produk perkembangan pembuahan ovum selama dua minggu pertama masa kehamilan. membran atau jaringan plasenta. panjang serviks 127 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Penemuan janin atau sisa-sisanya biasanya berguna untuk memastikan usia kehamilan saat aborsi dilakukan. panjang rahim akan mencapai 4 sampai 5 inci. membran dan jaringan plasenta akan mempersulit pemeriksaan mikroskopis. akan terjadi perkembangan berbagai organ dan menghasilkan bentuk yang jelas. Mulai dari minggu pertama sampai ke lima.

panjang uterus mencapai 5 sampai 6 inci. 128 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . dan pada akhir bulan ke sembilan. pada akhir bulan ke tujuh. panjangnya mencapai 8 inci. Ukuran pembuluh darah dan limfatik uterus akan bertambah selama masa kehamilan dan akan tetap meregang selama puerperium sampai masa involusi lewat. Pada akhir bulan keempat. setelah dua minggu panjangnya mencapai 4 inci. panjangnya mencapai 101/2 sampai 12 inci. namun tidak ada standar ukuran involusinya setelah aborsi dalam berbagai usia kehamilan. ukuran uterus jelas akan berkurang. pada akhir minggu pertama akan berkontraksi sampai panjangnya 5 inci. Payudara akan membesar selama masa kehamilan. rahim akan berkontraksi dan dindingnya menebal. Peningkatan vaskularitas ini akan meningkatkan kerentanan gravid uterus terhadap perdarahan dan infeksi. pada akhir bulan keenam. Setelah dua hari postpartum. pada akhir bulan ke delapan. Setelah proses kelahiran. Setelah dua bulan ukuran uterus akan kembali normal jika involusi telah sempurna. Dimensi uterus setelah aborsi sulit ditentukan. Pemeriksa hanya dapat menentukan dimensi uterus seakurat mungkin dan menarik kesimpulan sendiri sesuai dengan pengalamannya menghadapi kasus semacam itu. pada akhir bulan keenam panjangnya akan mencapai 6 inci. corpus akan membentuk globular dan serviks memendek. uterus akan membesar. panjangnya akan mencapai 7 inci dan lebar 4 inci. panjangnya mencapai 91/2 inci. jika pasien hidup sebentar setelah ekspulsi janin.mencapai 1 cm dan panjang corpus uteri mencapai 3 sampai 4 inci.

Pada akhir bulan kedua. Pada akhir masa menyusui. kelenjar sebaseous dalam aerola akan bertambah selama masa menyusui dan membentuk nodul subkutan pendek. sekresinya sangat banyak. akan keluar banyak cairan susu dari permukaan yang dipotong. Dalam beberapa kasus aborsi. kematian yang terjadi disebabkan oleh infeksi piogenik parah dan urin mengandung bakteri yang akan membunuh binatang-binatang yang digunakan dalam pengujian dan mengurangi kegunaan reaksi. Ukuran kelenjar Montgomery. cabang-cabang duktus dan jaringan kelenjar akan berproliferasi dan jumlahnya bertambah. jaringan kelenjar berupa beberapa duktus dan sejumlah alveoli dalam suatu stroma fibrosa yang padat. payudara akan membesar dan memiliki konsistensi noduler saat dipalpasi. yang keluar dari payudara saat diberi tekanan ringan. dan aerola di sekitarnya semakin meluas dan pigmentasinya bertambah. jika payudara dipotong. Sebagian urin yang diperoleh post-mortem dari kandung kemih harus disimpan dan dapat digunakan dalam uji Aschheim-Zondek untuk menguji kehamilan. Selama masa kehamilan. jika diperoleh dalam waktu satu minggu setelah aborsi.akibat terjadinya hiperplasia kelenjar-kelenjar payudara. puting susu akan terlihat lebih menonjol. namun seiring dengan perkembangan kehamilan. Beberapa bulan setelah sekresi air susu yang disebut sebagai kolostrum. Pada wanita yang tidak hamil. KETERKAITAN ABORSI DENGAN PIHAK LAIN 129 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

130 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Dalam pasal 7 KUHAP telah kewenangan kepada penyidik untuk: memberikan (1) Menerima laporan atau pengaduan dari seorang tentang adanya tindak pidana. khususnya yang berkaitan dengan penyidikan. Dari dan berdasarkan ketentuan KUHAP. (2) Melakukan tindakan pertama saat ditempat kejadian (3) Menyuruh berhenti seorang tersangka dan memeriksa tanda pengenal diri tersangka (4) Melakukan penagkapan. yang selanjutnya menyebabkan pihak lain tertutup kemingkinan untuk mengetahinya termasuk aparat hukum.Sebelum kita mengetahui apakah hubungan antara seorang dokter dengan seorang yang hendak menggugurkan kandungan harus dianggap kontrak terapeutik. (5) Melakukan pemeriksaan dan penyitaan surat (6) Mengambil sidik jari dan memotret tersangka (7) Mengambil orang untuk didengar dan diperiksa sebagai tersangka atau saksi (8) Mendatangkan orang ahli yang diperlukan dalam hubungannya dengan pemeriksaan perkara (9) Mengadakan penghentian penyidikan (10) Mengadakan tindakan lain menurut hukum yang bertanggung jawab. maka perlu disikapi oleh kita semua apabila dalam pelayanan dokter tersebut berdimensi pidana. petugas aparat hukum dimungkinkan untuk menentukan langkahlangkahnya. Atau dengan kata lain pihak kepolisian boleh melakukan penyidikan dan juga tindakan lain yang diwenangkan oleh hukum. penahanan. penggeledahan dan penyitaan.

apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus provocatus thetapeuticus) (dikutip dari buku Kode Etik Kedokteran Indonesia terbitan 1986. halaman 33). “Ia (baca. Dokter Indonesia) harus berusaha mempertahankan hidup mahluk insani. “Aborsi dalam Perspektif Etika. sedang atau akan terjadinya tindak pidana. Demikian juga tempat praktek dokter yang disinyalir di dalamnya ada praktik aborsi yang illegal. (2) Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki tersebut ditegaskan antara lain bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan. yang menurut ilmu pengetahuan tidak mungkin akan sembuh (eutanasia). Chrisdiono M. termasuk tempat yang patut diduga didalamnya akan dilakukan tindak pidana. Di negara bagian New York. jika seorang dokter dituntut melakukan aborsi ilegal. ijin praktek 131 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Moral dan Hukum” ia memberikan catatan sebagai berikut : (1) Bahwa dalam penjelasan pasal 10 Kodeki disebutkan antara lain.maka dapat disimpulkan bahwa tidak ada larangan bagi pihak penyidik untuk melakukan penyidikannya pada tempat-tempat yang telah. Berarti bahwa menurut agama dan undang-undang negara maupun menurut Etika kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan : (a) Menggugurkan kandungan (abortus provokatus) (b) Mengakhiri hidup seorang penderita. Achadiat dalam artikel berjudul .

seperti Jepang. Inggris. 5.Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi medik. seakan-akan timbul suatu revolusi dalam sikap masyarakat dan pemerintahannya terhadap tindakan pengguguran kandungan. dan India. Swedia. 23 Tahun 1992.Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial. Muangthai. Dalam tahun-tahun terakhir ini beberapa negara dimana legalisasi abortus provocatus masih bersifat terbatas. ABORTUS DITINJAU DARI SEGI MEDIKOLEGAL Sesuai dengan hukum yang berlaku di Indonesia. setiap usaha untuk mengeluarkan hasil konsepsi sebelum masa kehamilan yang lengkap tercapai adalah suatu tindak pidana. Scandinavia.Hukum yang tanpa pengecualian melarang abortus. 2. Polandia. Hukum abortus diberbagai negara dapat digolongkan dalam beberapa kategori sebagai berikut : 1.Hukum yang memperbolehkan abortus atas indikasi sosial-medik. tentang kesehatan). 3. seperti di Perancis dan Pakistan. sehingga terjadi perubahan-perubahan hukum-hukum abortus yang berlaku. Swiss. seperti di Eslandia. apapun alasannya. seperti di Kananda.Hukum yang memperbolehkan abortus demi keselamatan kehidupan penderita (ibu). dan muncul hukum-hukum abortus dengan pembatasan tertentu sampai hadir tanpa pembatasan. seperti di Belanda dan Indonesia (sebelum ada UU No. 4. dan 132 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .kedoktarannya di negara bagian tersebut akan dicabut secara otomatis.

2. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun atau denda paling banyak tiga ribu rupiah. dalam prakteknya dokter yang melakukannya tidak dihukum. Abortus atas indikasi medik ini kini diatur dalam Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan. pidananya dapat ditambah sepertiga. bahwa karena pengobatan itu hamilnya dapat digugurkan. seperti di Bulgaria. atau jika dia seorang tabib.Barang siapa dengan sengaja mengobati seorang wanita atau menyuruhnya supaya diobati. bidan atau juru obat.Hukum yang memperbolehkan abortus atas permintaan. Hongaria. dengan diberitahukan atau ditimbulkan harapan. 133 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . bila ia dapat mengemukakan alasan yang kuat dan alasan tersebut diterima hakim. atau menjadikan perbuatan tersebut sebagai pencarian atau kebiasaan. Meskipun dalam Kitab Undang-undang hukum Pidana tidak terdapat satu pun pasal yang memperbolehkan seorang dokter melakukan abortus atas indikasi medik. janin cacat) 6. (Menghindari penyakit keturunan. sekalipun untuk menyelamatkan jiwa si ibu. Terdapat beberapa pasal yang mengatur abortus provokatus : Kitab Undang-Undang Hukum Pidana (KUHP) Pasal 229 1.Jika yang bersalah.Yugoslavia. berbuat demikian untuk mencari keuntungan.

untuk melaksanakan niat yang ditentukan karena takut akan ketahuan bahwa akan melahirkan anak. karena melakukan pembunuhan anak sendiri dengan rencana. dalam menjalani pencarian maka dapat dicabut haknya untuk melakukan pencarian itu. diancam. dengan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 343 Kejahatan yang diterangkan dalam pasal 341 dan 342 dipandang. Pasal 341 Seorang ibu yang. diancam.3. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian merampas nyawa anaknya. Pasal 346 Seorang wanita yang sengaja menggugurkan atau mematikan kandungannya atau menyuruh orang lain untuk itu. Pasal 347 1. Pasal 342 Seorang ibu yang. pada saat anak dilahirkan atau tidak lama kemudian. bagi orang lain yang turut serta melakukan.Jika yang bersalah. dengan sengaja merampas nyawa anaknya.Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita 134 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . melakukan kejahatan tersebut. sebagai pembunuhan atau pembunuhan dengan rencana. diancam dengan pidana penjara paling lama empat tahun. karena membunuh anak sendiri. dengan pidana penjara paling lama sembilan tahun. karena takut akan ketahuan melahirkan anak.

tanpa persetujuannya. bidan atau juru obat membantu melakukan kejahatan yang tersebut pasal 346. 2.Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. diancam dengan pidana penjara paling lama lima tahun enam bulan. maka dapat ditarik kesimpulan bahwa pihak-pihak yang dapat mewujudkan adanya pengguguran kandungan adalah: (1) Seseorang yang melakukan pengobatan atau menyuruh supaya berobat terhadap wanita tersebut. dikenakan pidana penjara paling lama tujuh tahun. Pasal 348 1.Jika perbuatan itu mengakibatkan matinya wanita tersebut. Pasal 349 Jika seorang dokter. ataupun melakukan atau membantu melakukan salah satu kejahatan yang diterangkan dalam pasal 347 dan 348. dikenakan pidana penjara paling lama lima belas tahun. 2. 135 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Barangsiapa dengan sengaja menggugurkan atau mematikan kandungan seorang wanita dengan persetujuannya. sehingga dapat gugur kandungannya. maka pidana yang ditentukan dalam pasal itu dapat ditambah dengan sepertiga dan dapat dicabut hak untuk menjalankan pencarian dalam mana kejahatan dilakukan. Berdasarkan pasal-pasal tersebut di atas. diancam dengan pidana penjara paling lama dua belas tahun.

Butir c : Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan. (5) Seseorang yang dimaksud dalam angka 1. 3. sehingga dapat gugur kandungannya. norma agama. yaitu seorang dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan. 2. Penjelasan Undang – Undang Republik Indonesia Nomor : 23 Tahun 1992 Tentang Kesehatan : Pasal 15 Ayat (1) : “Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun.(2) Wanita itu sendiri yang melakukan upaya atau menyuruh orang lain. dilarang karena bertentangan dengan norma hukum. ibu hamil dan janinnya terancam bahaya maut. juru obat. (4) Seseorang yang dengan izin meyebabkan gugurnya kandungan seseorang wanita. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya untuk menyelamatkan jiwa ibu atau janin yang dikandungnya dapat diambil tindakan medis tertentu. Ayat (2) Butir a : Indikasi medis adalah suatu kondisi yang benar-benar mengharuskan diambil tindakan medis tertentu. bidan. Butir b : Tenaga kesehatan yang dapat melakukan tindakan medis tertentu adalah tenaga yang memiliki keahlian dan kewenangan untuk melakukannya. dan 4 termasuk di dalamnya dokter. sebab tanpa tindakan medis tertentu itu. norma kesusilaan dan norma kesopanan”. serta pihak lain yang berhubungan dengan medis. (3) Seseorang yang tanpa izin menyebabkan gugurnya kandungan seseorang. kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat 136 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

memberikan persetujuannya.000. dipidana dengan penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp.Ibu yang melakukan aborsi 2.Dokter atau bidan atau dukun yang membantu melakukan aborsi 3. yang dikenal dengan istilah “Abortus Provocatus Criminalis” Yang menerima hukuman adalah: 1. dapat diminta dari suami atau keluarganya.Orang-orang yang mendukung terlaksananya aborsi 137 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Hukum Dan Aborsi Menurut hukum-hukum yang berlaku di Indonesia. aborsi atau pengguguran janin termasuk kejahatan. Butir d : Sarana kesehatan tertentu adalah sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah. Pasal 80 Barang siapa dengan sengaja melakukan tindakan medis tertentu terhadap ibu hamil yang tidak memenuhi ketentuan sebagaimana dalam pasal 15 ayat (1) dan ayat (2).000. tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan. sarana kesehatan yang ditunjuk.00 (lima ratus juta rupiah). Ayat (3) : Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. 500.

Bahwa pada bagian lain penjelasan pasal 10 Kodeki ditegaskan antara lain bahwa abortus provocatus dapat dibenarkan sebagai tindakan pengobatan. Mengakhiri hidup seorang penderita. dalam hal ini Kode Etik Kedokteran Indonesia (Kodeki). kewajiban terhadap teman sejawat. apabila merupakan satu-satunya jalan untuk menolong jiwa ibu dari bahaya maut (abortus provocatus therapeuticus). Kodeki merupakan pedoman tingkah laku bagi para dokter Indonesia ketika melaksanakan profesinya atau tegasnya pedoman dalam melaksanakan kewajiban sebagai dokter Indonesia. 138 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Berarti bahwa baik menurut agama dan undang-undang negara maupun menurut Etik kedokteran seorang dokter tidak dibolehkan: a.Wewenang dokter aborsi adalah : 1. dalam menjalankan praktek Dalam menjalankan profesinya seorang dokter terkait dengan kode etik profesi. Menggugurkan provocatus). c. Jadi. yang menurut ilmu pengetahuan tidak mungkin akan sembuh (eutanasia). Dalam Kodeki tersebut tercakup hal-hal yang berkaitan dengan kewajiban seorang dokter ketika menjalankan profesi kedokteran: yakni kewajiban umum. Bahwa dalam penjelasan pasal 10 Kodeki antara lain Dokter Indonesia harus berusaha mempertahankaan hidup makhluk insani. kewajiban terhadap pasien. b. kandungan (abortus 2. dan kewajiban terhadap diri sendiri.

500. 3. ed . Pasal 15 ayat (1) dan ayat (2) dipidana dengan pidana penjara paling lama 15 (lima belas) tahun dan pidana denda paling banyak Rp. yakni sarana kesehatan yang memiliki tenaga dan peralatan yang memadai untuk tindakan tersebut dan telah ditunjuk oleh pemerintah 139 ROMAN’S FORENSIK 2nd 5. Bahwa. Dengan demikian menurut UU Kesehatan. dapat diambil tindakan medis tertentu. Namun dalam keadaan darurat sebagai upaya menyelamatkan jiwa ibu dan atau janin yang dikandungnya. Sarana yang dipakai dalam praktek aborsi (tindakan pengguguran kandungan) hanya dapat dilakukan di sarana kesehatan tertentu. Bahwa. Dikatakan bahwa Kodeki membenarkan aborsi dengan beberapa syarat dan menyelamatkan jiwa ibu adalah indikasi yang diperkenankan menurut Kodeki." Jadi satu-satunya indikasi yang diperkenankan menurut UU Kesehatan ialah menyelamatkan jiwa si ibu hamil. tidak semua dokter boleh melakukan tindakan aborsi.000. 4. norma agama. norma kesusilaan dan norma kesopanan. dalam penjelasan pasal 15 ayat (1) UU Kesehatan disebutkan bahwa "Tindakan medis dalam bentuk pengguguran kandungan dengan alasan apapun dilarang karena bertentangan dengan norma hukum.000 (lima ratus juta rupiah). sesudah meminta pertimbangan dari tim ahli yang terdiri dari pelbagai bidang keilmuan. pihak-pihak yang diperbolehkan melakukan aborsi adalah dokter ahli kebidanan dan penyakit kandungan.d.

6. kecuali dalam keadaan tidak sadar atau tidak dapat memberikan persetujuannya. tenaga kesehatan mempunyai keahlian dan kewenagan bentuk persetujuan. segera atau beberapa saat setelah dilahirkan. 9 th)  KUHP 343 : orang lain yang melakukannya /turut melakukan (pembunuhan biasa) 140 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . 7 th)  KUHP 342 : pembunuhan anak sendiri dengan rencana (maks. dapat diminta dari suami atau keluarganya. Definisi (Menurut pasal 341 KUHP): pembunuhan bayi yang dilakukan oleh ibu kandungnya sendiri. sarana kesehatan yang ditunjuk. motivasi psikis dan waktu (baru lahir) UU tentang pembunuhan anak  KUHP 341 : pembunuhan anak sendiri tanpa rencana (maks. Dalam Peraturan Pemerintah sebagai pelaksanaan dari pasal ini dijabarkan antara lain mengenal keadaan darurat dalam menyelamatkan jiwa ibu hamil atau janinnya. karena takut diketahui bahwa ia telah melahirkan anak Inggris :Batasan infantisid sampai 12 bulan Unsur yang terkandung : pembunuhan. BAB IX INFANTISID 7. Hak utama untuk memberikan persetujuan ada pada ibu hamil yang bersangkutan. oleh ibu kandung.

 KUHP 305 : membuang (menelantarkan) anak dibawah usia 7 th (maksimum 5 th 6 bln)  KUHP 306 : bila berakibat luka berat atau mati (maks 7. bayi perempuan dianggap kurang berarti • Wanita tuna susila yang tidak menghendaki kelahiran anak Tujuan Pemeriksaan untuk membuktikan :  Pengertian “pembunuhan bayi” mengharuskan untuk membuktikan :  Lahir hidup  Kekerasan  Sebab kematian  Pengertian “baru lahir” mengharuskan penilaian :  Cukup bulan atau belum dan usia kehamilan  Usia pasca lahirnya  Viabel atau tidak  Pengertian “takut diketahui” dibuktikan dengan tidak adanya tanda-tanda perawatan  Pengertian “si ibu membunuh anaknya sendiri” harus dibuktikan bahwa mayat anak yang diperiksa adalah anak dari tersangka 141 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .5-9 th)  KUHP 308 : ibu membuang anaknya yang baru lahir (seperdua dari KUHP 305 dan 306)  KUHP 181 : menyembunyikan kelahiran/kematian (9 bulan) Motif Infantisid : • Anak yang tidak sah • Warisan • Orang tua yang terlalu miskin • Pada beberapa keluarga.

sudah atau belumnya tali pusat dipotong dan uri dilahirkan Lahir mati (still birth) Jika bayi dilahirkan setelah melewati usia kehamilan 28 mgg dan setelah dilahirkan tidak pernah menunjukkan adanya tanda kehidupan Dead born : bila kematian telah terjadi di dalam rahim (IUFD) Tanda-tanda lahir hidup: Anamnesis : adanya tangis bayi Pemeriksaan : 1. Dada :  mengembang  diafragma sudah turun sampai sela iga 4-5  tepi paru menumpul  beratnya kira-kira 1/35 berat badan akibat semakin padatnya vaskularisasi paru 142 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Pemeriksaan kedokteran forensik untuk memperoleh kejelasan dalam hal: • Apakah bayi tersebut dilahirkan mati atau hidup? • Berapakah umur bayi tersebut (intra dan ekstrauterin)? • Apakah bayi tersebut sudah dirawat? • Apakah sebab kematiannya? • Apakah pada anak tersebut di dapatkan kelainan bawaan yang dapat mempengaruhi kelangsungan hidup bagi si anak? Lahir Hidup (live birth) keluar atau dikeluarkannya hasil konsepsi yang lengkap. tanpa mempersoalkan usia gestasi. bernapas atau menunjukkan tanda kehidupan lain. yang setelah pemisahan.

 Pembentukan urin (+/-) 5. teraba derik udara  Pada pengisian paru dalam air keluarnya gelembung udara dan darah  Berat paru bertambah hingga dua kali (1/35xberat badan) karena berfungsinya sirkulasi darah jantung paru  Uji apung paru positif Pemeriksaan mikroskopik paru : alveoli paru yang mengembang sempurna dengan atau tanpa emfisema obstruktif 3. Perubahan ginjal dan kandung kemih : (tidak begitu spesifik & tidak bisa diandalkan)  Kristal asam urat mungkin terdapat pada pelvis ginjal. mekonium. Paru Pemeriksaan makroskopik paru :  Paru sudah mengisi rongga dada & menutupi sebagian kandung jantung  Berwarna merah muda tidak merata  Pleura yang tegang & menunjukkan gambaran mozaik karena alveoli sudah terisi udara  Konsistensi sperti spons. Saluran Cerna  Adanya udara dalam saluran cerna  Lambung dan usus : terdapat darah. Perubahan pada telinga tengah : (kurang dapat diandalkan) Pemeriksaan Wredin diperiksa jaringan konektif gelatin pada telinga tengah yang akan berubah menjadi berisi udara jika bayi telah melakukan pernafasan 143 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .2. & cairan amnion  menunjukkan bahwa bayi telah melakukan usaha pernafasan & pada saat inspirasi menelan cairan tersebut  Adanya cairan susu menunjukkan bayi telah hidup untuk beberapa waktu lamanya 4.

denyut jantung (-) .janin yang tidak bernafas . iga datar & diafragma setinggi iga ke 3-4  Pemeriksaan makroskopik paru :  paru-paru masih tersembunyi di belakang  kandung jantung atau telah mengisi rongga dada  berwarna kelabu ungu merata seperti hati  konsistensi padat  derik udara (-)  pleura yang longgar  berat paru kira-kira 1/70xberat badan  Uji apung paru : negatif  Mikroskopik paru : adanya tonjolan yang berbentuk seperti bantal bertambah tinggi dengan dasar menipis.Lahir mati (still born)  Ditandai : .denyut nadi tali pusat (-) . tampak seperti gada  Mekonium : berbentuk bulat berwarna jernih sampai hijau tua terlihat dalam brokhioli & alveoli  Kolon : dapat menggelembung berisi mekonium tanda usaha untuk bernafas Umur bayi intra dan ekstra uterin Rumus HAASE  Usia kehamilan 1-5 bulan : 144 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .gerakan otot rangka (-)  Maserasi  8-10 hari kematian in utero  Vesikel atau bula  3-4 hari kematian in utero  Dada : belum mengembang.

5 Tulang panjang2 (diafisis) Iskium 3 Pubis 4 Kalkaneus 5-6 Manubrium sterni 6 Talus Akhir 7 Sternum bawah Akhir 8 Distal femur Akhir 9/setelah lahir Proksimal tibia Akhir 9/setelah lahir Kuboid Akhir 9/setelah lahir (bayi wanita lebih cepat) Viable Bayi/janin yang dapat hidup di luar kandungan • umur kehamilan > 28 minggu • PB (kepala-tumit) > 35 cm • PB (kepala-tunggging) > 23 cm • BB > 1000 garam • lingkar kepala > 32 cm • tidak ada cacat bawaan yang fatal Bayi cukup bulan (matur) 145 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Panjang kepala-tumit (cm) = kuadrat umur gestasi (bulan)  Usia kehamilan > 5 bulan : Panjang kepala-tumit (cm) = umur gestasi (bulan) x 5 Pusat Penulangan Umur (bulan) Pada Klavikula 1.

punggung & bahu pembentukan tulang rawan telinga sudah sempurna diameter tonjolan susu 7 mm atau lebih kuku-kuku jari telah melewati ujung jari garis telapak kaki > 2/3 bagian depan kaki testis sudah turun ke dalam skrotum labia minora sudah tertutup labia mayora yang telah berkembang sempurna kulit berwarna merah muda yang setelah 1-2 minggu berubah menjadi lebih pucat atau coklat kehitaman lemak bawah kulit cukup merata sehingga kulit tidak berkeriput (kulit pada bayi prematur berkeriput) Usia Pasca Lahir Udara dalam saluran cerna  Di lambung : baru saja lahir. kadang 20 hari  Sembuh : 15 hari  a/v umbilikalis menutup : 2 hari 146 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . lanugo sedikit : pada dahi. belum tentu lahir hidup  Di duodenum : > 2 jam  Di usus halus : 6-12 jam  Di usus besar : 12-24 jam Mekonium keluar seluruhnya: > 24 jam Perubahan tali pusat :  Kemerahan di pangkalnya : 36 jam  Kering : 2-3 hari  Puput/lepas : 6-8 hari.• • • • • • • • • • • • • • umur kehamilan > 36 minggu PB (kepala-tumit) > 48 cm PB (kepala-tungging) 30-33 cm BB 2500-3000 gram lingkar kepala 33 cm.

keadaan verniks kaseosa. diberi antiseptic dan verban (bisa hilang sebelum diperiksa)  Jalan napas bebas  Vernix caseosa tidak ada lagi  Berpakaian  Air susu di dalam saluran cerna Hubungan ibu dan anak  Mencocokkan waktu partus ibu dengan waktu lahir anak  Mencari data antropologi yang khas pada ibu dan anak  Memeriksa golongan darah ibu dan anak  Sidik jari DNA Pemeriksaan Mayat Bayi • Bayi cukup bulan.Duktus arteriosus menutup : 3-4 mgg Duktus venosus menutup : > 4 mgg Sel darah merah berinti hilang : > 24 jam Tanda-tanda perawatan (Bukan termasuk infantisid)  Tali pusat yang terpotong rata dan diikat diujungnya. berkeriput atau tidak • Mulut : adakah benda asing yang menyumbat • Tali pusat : sudah terputus atau masih melekat pada uri • Kepala : apakah terdapat kaput suksadenum. warna. prematur atau nonviable • Kulit : sudah dibersihkan atau belum. molase tulang tengkorak • Tanda kekerasan • Mulut : apakah terdapat benda asing & perhatikan palatum mole apakah terdapat robekan 147 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

 siulan. baik fisik maupun psikologis. kalkaneus.  gerakan tubuh 148 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . ejekan dan julukan  tulisan/gambar  ekspresi wajah. tibia. Macam-macam kekerasan seksual ringan :  pelecehan seksual  gurauan porno. dan pelecehan seksual.• Rongga dada • Tanda asfiksia :berupa Tardieu’s spots pada permukaan paru. penghinaan seksual di depan umum. Definisi kekerasan seksual ini mencakup pemerkosaan. Pembagian Terdapat dua macam bentuk kekerasan seksual. epiglotis • Tulang belakang : apakah terdapat kelainan kongenital & tanda2 kekerasan • Periksa pusat penulangan : pada femur. talus & kuboid BAB X KEJAHATAN SEKS Pengertian Kejahatan seksual (sexual offences) adalah salah satu bentuk dari kejahatan tubuh yang merugikan kesehatan dan nyawa manusia. dan bentuk-bentuk lain kekerasan seksual seperti penyiksaan seksual. yaitu ringan dan berat. yang dilakukan dengan cara-cara seksual atau dengan mentargetkan seksualitas. Ilmu Kedokteran Forensik berguna dalam pembuktian Kekerasan seksual merupakan segala kekerasan. jantung. perbudakan seksual. timus.

atau cedera Perundang-undangan Persetubuhan tertera pada Bab XIV KUHP Tentang Kejahatan Terhadap Kesusilaan 1.Tanpa ikatan ≈ wanita < 15 tahun : (287 KUHP) ≈ wanita > 15 tahun : (284 KUHP) . seksual dengan cara tidak disukai. rangkul.Dengan Ikatan ≈ wanita < 21 tahun .Pemberian/janji uang/barang (293 KUHP) 149 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . perbuatan menyita perhatian seksual tak dikehendaki korban. melecehkan dan atau menghina korban. terhina  Pemaksaan hubungan seksual  Hub. pelacuran tertentu. merendahkan dan atau menyakitkan  Pemaksaan hubungan seksual dgn orang lain. cium paksa.  Tindakan seksual + kekerasan fisik dengan atau tanpa bantuan alat yang menimbulkan sakit. terteror.  Melakukan repitisi kekerasan seksual ringan dapat dimasukkan ke dalam jenis kekerasan seksual berat. luka.Persetubuhan di luar Perkawinan • Dengan persetujuan si wanita . Macam-macam kekerasan seksual berat:  Pelecehan. sentuh organ seksual. kontak fisik: raba.  Hubungan seksual memanfaatkan posisi ketergantungan/ lemah korban.Persetubuhan dalam perkawinan • Pasal 288 KUHP 2. perbuatan yang rasa jijik.

Asuhan/Pendidikan (294 KUHP) ≈ wanita > 21 tahun . pupil. .Dengan Kekerasan (285 KUHP) . kandungan.Pembuktian persetubuhan : ada / tidak penetrasi penis ke vagina / anus / oral ejakulat / mani pd vagina / anus .. tinggi badan.Berat badan. tanda vital. TTL. ekspresi emosional. kelamin.Dalam pengawasan (294 KUHP) • Tanpa Persetujuan si wanita . peny.Perbuatan Cabul (289 KUHP) Pemeriksaan Medis 1. laserasi (mencakup perkiraan waktu) • Variasi : .Bawahan (294 KUHP) .Kesan penampilan (wajah.Identitas : Nama.Anamnesis Anamnesis umum memuat: . pernah bersetubuh. rambut). . refleks cahaya. umur.hymen elastis 150 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Si wanita pingsan/tidak berdaya (286 KUHP) 3. peny. tanda perkembangan alat kelamin sekunder. kondom ? Anamnesis khusus memuat waktu kejadian 2. lain. status perkawinan. peny.Pemeriksaan Fisik Pemeriksaan fisik umum memuat : . kesan nyeri ? Pemeriksaan fisik khusus memuat: . pupil pinpoint.Spesifik : Siklus haid.korban 3 hr lalu / lebih .Bukti Penetrasi : • Robekan hymen. persetubuhan yang terakhir. tanda-tanda bekas kehilangan kesadaran / obat bius / needle marks.

tinggi badan. ciri-ciri kelamin sekunder .cairan dan sel mani dalam lendir vagina . Wanita sudah ovulasi / belum : vaginal smear Berdasar umur ? : > 16 th Pemeriksaan terhadap Pelaku 151 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . robekan ? lama / baru. bagian dalam paha dan sekitar alat kelamin Perkiraan Umur Umur berkaitan dengan KUHP . gonorrhoea sekret ureter .Dasar berat badan..Luka2 lecet bekas kuku. bentuk tubuh. gigi.toksikologik darah dan urin Pembuktian Adanya Kekerasan .Pemeriksaan Pakaian rapi / tidak. buah dada.penetrasi tidak lengkap • Bukti Ejakulat/mani (mencakup perkiraan waktu) • Perlekatan rambut kemaluan • Ejakulat di liang vagina 3. gigitan (bite marks).Lokasi : Muka. leher.pemeriksaan kehamilan .pemeriksaan terhadap kuman N.Pemeriksaan sinar X : standar waktu penyatuan tulang Penentuan sudah atau belum waktunya dikawin Pertimbangan kesiapan biologis : menstruasi. luka2 memar . melintang ? pada jahitan ? kancing putus ? bercak darah air mani lumpur / kotoran lain TKP ? 4.Pemeriksaan Laboratorium .

.Upaya pengenalan persetubuhan. . kekerasan fisik maupun 152 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .Menerima dan menatalaksana kekerasan terhadap perempuan. .Didirikannya Pusat Krisis terpadu bagi perempuan dan anak-anak .Di cocokkan dengan golongan darah (pelaku / korban) Homoseksual . robekan.Tanda infeksi gonokokus..Smegma Pemeriksaan Penentuan gol.Serologis air mani (antigen ABO) pada orang yg ’sekretor’ .Bentuk tubuh : memungkinkan tindakan kekerasan. terdapat ancaman hukuman bagi seseorang yang cukup umur yang melakukan perbuatan cabul dengan orang lain yang sama kelaminnya yang belum cukup umur Penatalaksanaan Korban Kekerasan Seksual . tanah dan pakaian.Pemeriksaan menyeluruh alat kelamin : mampu seksual ? cedera ? . Darah . .Sekret . .Rambut terlepas.Bercak sperma. darah.Tanda cedera : perlawanan korban ? .Di dalam pasal 292 KUHP.Profesi kedokteran : Sesuai standar pemeriksaan korban kekerasan danpembuatan visum et repertumnya .Kendala → belum berkembangnya Ilmu Kedokteran Forensik Klinik di Indonesia .Homoseksual merupakan salah satu bentuk kejahatan seksual .

Kematian tidak terduga Contoh : seorang pasien nyeri perut gastritis akut kemudian diperiksa dan ternyata meninggal 3. duduk. kemudian meninggal 2. Kematian tidak diketahui penyebabnya 153 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . secara terpadu sehingga diharapkan dapat memperkecil trauma psikologis akibat viktimisasi lanjutan pada korban. BAB XI KEMATIAN MENDADAK Yang termasuk golongan ini adalah : 1. Kematian terjadi seketika Contoh : teman bertamu.seksual.

Apakah 2. Sistem cardiovaskuler • Penyakit jantung koroner 154 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . didapatkan tanda/kekerasan di tubuh.Contoh : orang ditinggal di rumah masih sehat kemudian keesokan harinya meninggal Cara mengatasi kematian mendadak : • Minta keterangan dari pihak keluarga. Mati tidak wajar. Apakah 3. teman dekat atau polisi. Morat-marit 2. Apakah • Keadaan sekitar korban 1. Usia 2. Tanyakan : 1. 2. Apakah didapatkan tanda-tanda kelainan pada korban • Menyimpulkan kemungkinan kematian tersebut 1. Penyakit yang pernah diderita terakhir. bertengkar). Penyebab kematian ditinjau dari perorgan : a. Pintu terkunci 3. Korban diasuransikan atau tidak 5. 3. Harta benda yang hilang 4. Keterangan mengenai kesehatan pernah berobat kemana perlu diketahui dari orang tentang sedang bertengkar sehabis makan kedatangan tamu 4. Mati wajar karena penyakit. didapatkan penyakit pembuluh darah koroner (sehabis aktivitas fisik. Tingkah laku yang aneh • Hal-hal yang korban 1.

cerebri media. coronaria dekstra dan sinistra • Infark miokard akut • Penyakit jantun katup b. coronaria sinistra • Thrombus pada ramus ascendens a. meningitis. Sistem pernapasan • Edem paru • Pneumonia • Bronchopneumonia • TBC • Emfisema pulmonum • Status asamatikus d. ensefalopati. Sistem gastrointestinal • Pecahnya varises esophagus • Ulkus gastrikum kronis • Perdarahan saluran cerna • Apendisitis • Trauma abdomen • Obstruksi usus > dehidrasi > meninggal • Invaginasi • Megakolon congenital • Hernia inkarserata 155 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . epidural. radang. posterior (cabang circulus willisi) • Perdarahan subarachnoid. dan subdural serta intraserebral bleeding • Pelebaran pembuluh darah willisi • Perdarahan cerebello pontinus • Tumor. ensefalitis c.• Thrombus pada ramus circumfleksa a. Sistem syaraf pusat • Perdarahan otak > pecahnya aneurisma cerebri • Trombus a.

Sistem urogenitalia • Perdarahan • Gangguan fungsi ginjal • Sindrom nefrotik • glomerulonefritis BAB XII TOKSIKOLOGI FORENSIK Definisi 156 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .• Perdarahan e.

karakteristik dan kandungan racun. dimana keracunan dinyatakan sebagai over dosis yang mempunyai efek sentral sedangkan intoksikasi merupakan over dosis yang bersifat umum baik sentral maupun perifer. Namun kepustakaan lain menyatakan keracunan dan intoksikasi memiliki pengertian yang sama. Paracelcus (1493-1541) yang lebih dikenal sebagai Theopraksis Bombastus Von Honhenheim. menyatakan semua substansi di alam adalah racun hanya dosis yang membedakan substansi tersebut racun atau bukan (sola dosis facit venenum). Beberapa kepustakaan menyatakan pengertian keracunan dan intoksikasi berbeda.dan penatalaksanaan kasus keracunan. Berbagai definisi racun telah dipublikasikan berdasarkan sudut pandang yang berbeda dari berbagai ahli. orang yang pertama mendefinisikan racun. Dalam berbagai kepustakaan. 5 Sangster secara lebih rinci menyatakan tentang sumber substansi yang dianggap racun. Keracunan dianggap sebagai cidera yang 157 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Semua definisi memiliki kelemahan dan kelebihan tersendiri dalam interpretasi dan banyak definisi yang tumpang tindih satu dengan lainnya. Tosksikologist Seinen (1989) menyatakan racun adalah substansi yang diberikan secara berlebihan sehingga toksikologi dianggap sebagai pengetahuan tentang sesuatu yang berlebihan (toxicology is the knowledge of too much). gejala dan tanda yang disebabkan racun.Toksikologi merupakan ilmu pengetahuan yang berkaitan dengan sumber. terdapat berbagai pengertian tentang keracunan (poisoning) dan intoksikasi. periode fatal. Periode fatal merupakan selang waktu antara masuknya racun dalam dosis fatal rata-rata sampai menyebabkan kematian pada rata-rata orang sehat. dosis fatal.

antara lain : 1.Frekuensi dan waktu paruh 158 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan.diakibatkan konsentrasi berlebihan dari substansi eksogenous (dari luar tubuh manusia). asam kuat dan basa kuat. Toksisitas Racun Dalam pemeriksaan keracunan harus diperhatikan kondisi-kondisi yang mempengaruhi fatalitas racun pada korban.Konsentrasi Fatalitas beberapa zat tergantung konsentrasi seperti halnya gas karbon monoksida (CO). 3. baik pada anamnesis. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeriksaan korban hidup.misalnya unsur sodium. Banyak substansi yang hanya bersifat toksik dalam jumlah yang besar tetapi ada yang bersifat toksik meskipun jumlahnya kecil. Metabolisme zat di dalam hati sebelum beredar ke dalam sirkulasi sistemik (first pass effect) sangat menentukan toksisitas zat yang masuk ke dalam tubuh secara oral.Dosis dan bioavailabilitas Farmakokinetik untuk substansi yang bersifat sistemik sangat tergantung dosis zat yang masuk ke dalam tubuh dan kecepatan metabolisme zat terutama di organ detoksifikasi (hati). Demikian juga adanya substansi tertentu secara tersendiri tidak bersifat toksik atau toksisitasnya rendah tetapi dengan adanya substansi lain. 4. 2.Toksisitas intrinsik Ikatan kimia (struktur kimia) suatu zat secara intrinsik membentuk sifat racun zat tersebut. menyebabkan substansi tersebut menjadi toksik.

. Keracunan dalam Bidang Medis Pelayanan forensik klinis kasus keracunan pada prinsifnya adalah mengumpulkan bukti-bukti penggunaan racun dan menginterpretasikannya dalam bentuk sertifikasi yang dapat dijadikan bukti da dapat diterima di pengadilan.Cara masuk zat ke dalam tubuh Cara masuk zat ke dalam tubuh sangat menentukan kecepatan kecepatan absorbsi dan beredarnya zat secara sistemik. 6. reaksi alergi.Ko-medikasi Adanya zat lain (ko-medikasi) dapat meningkatkan toksisitas zat dengan toksisitas rendah atau mengubah zat yang tidak toksik menjadi toksik.Seringnya kontak. status gizi. dimana penyakit tersebut dapat meningkatkan toksisitas suatu zat. Informasi yang melatarbelakangi keracunan menjadi salah satu bukti yang perlu digali dan dikumpulkan. yaitu atas dasar dari tujuan pemeriksaan itu sendiri.Kondisi pemakai Kondisi korban harus diperiksa dengan teliti terhadap adanya penyakit-penyakit yang melibatkan sistem metabolisme dan detoksifikasi. Yang pertama 159 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . dan idiosinkrasi. jenis kelamin. lama kontak (durasi) dan waktu paruh zat yang kontak juga mempengaruhi toksisitas racun. Pemeriksaan forensik dalam kasus keracunan dapat dibagi dalam dua kelompok. Pemekaian zat per oral relatif lebih lambat dibandingkan secara injeksi dan inhalasi. 7. Demikian juga halnya faktor umur. yang dapat meningkatkan efek depresan dari obat-obat yang menekan sistem saraf pusat. Alkohol merupakan ko-medikasi yang paling sering digunakan. 5.

Motivasi yang biasanya melatarbelakangi. sampai sejauh mana obatobatan atau racun tersebut berperan sehingga kecelakaan pesawat udara misalnya. kecelakaan lalu lintas. misalnya peristiwa pembunuhan.Tipe S (spesific target) Menunjukkan bahwa korban keracunan hanya orang tertentu dan biasanya antara pelaku dan korban sudah saling kenal. apakah timbul akibat kecerobohan (recklessness). keracunan karbonmonoksida serta keracunan insektisida dan lain sebagainya.bertujuan untuk mencari penyebab kematian. Motif keracunan harus ditentukan sebagai unsur men rhea. kealpaan (negligence) atau kesengajaan (intentional). Dengan demikian tujuan yang kedua bermaksud untuk membuat suatu rekaan rekonstruksi atas peristiwa yang terjadi. Yang kedua. Dalam kasus tindak pidana harus dibuktikan adanya perbuatan yang salah (actua rheus) dan situasi batin yang melatarbelakangi tindakan tersebut ( men rhea). 3 Bentuk Keracunan Berdasarkan Motif Salah satu tujuan pelayanan forensik klinik adalah memberikan informasi atau fakta-fakta yang membuat terang kasus keracunan yang mencurigakan termasuk motif yang melatarbelakangi kasus tersebut. antara lain: uang. 160 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . yaitu: 1. sianida. misalnya kematian karena keracunan morfin. adalah untuk mengetahui mengapa suatu peristiwa. motif keracunan dapat dibedakan menjadi dua bentuk (tipe) berdasarkan korban keracunan. dapat terjadi. kecelakaan pesawat udara dan perkosaan dapat terjadi. dan ini sebenarnya yang terbanyak kasusnya akan tetapi belum banyak disadari. Secara umum.

membunuh.Sub grup Q tipe S/Q (spesific/quick) dimana keracunan terjadi secara mendadak dan tanpa perencanaan sebelumnya. pembunuhan lawan politik dan balas dendam. Berdasarkan kejadiannya keracunan tipe R dibagi: a. b.Sub grup S tipe R/S (random/slow). Motivasi bentuk keracunan ini biasanya ego.Sub grup S tipe S/S (spesific/slow) dimana keracunan terjadi secara perlahan dan direncanakan oleh pelaku. b. Pemeriksaan terhadap korban keracunan tipe S/S perlu mendapat perhatian lebih sebab kegagalan pembuktian tanda-tanda keracunan oleh dokter sangat sering membuat kasus tersebut menjadi kasus tersebut menjadi kasus pembunuhan yang sempurna (the perfect murder). sadistik. 2. Keracunan tipe S berdasarkan terjadinya dibagi ke dalam dua sub grup yaitu: a. dan teror. terorisme merupakan salah satu benuk keracunan tipe ini bila racun yang dipakai sebagai alat untuk menjalankan teror. tetapi akibat kegagalan dokter mengenali tanda-tanda keracunan pada korban. Pembunuhan yang sempurna adalah kematian korban yang sesungguhnya akibat tindaan pidana tetapi dokter menyatakan sebagai kematian wajar karena faktor penyakit.Tipe R (random target) Terjadi pada korban yang acak. Kasus pembunuhan yang sempurna terjadi bukan karena keahlian si pembunuh.Sub tipe Q tipe R/Q Pemeriksaan Keracunan Forensik Klinik terhadap Korban 161 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

pemeriksaan fisik dan pemeriksaan tambahan. pin point pupil atau tanda gagal 162 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . adanya tanda suntikan. warna muntahan dan cairan atau sekret yang keluar dari mulut atau saluran napas.Keadaan sikiatri korban .Keadaan kesehatan fisik korban . riwayat alergi atau idiosinkrasi atau penggunaan zat-zat lain (komedikasi) Dalam pemeriksaan fisik. melalui anus atau vagina. melalui penyuntikan. Perbedaan yang ada adalah pada hasil akhir pemeriksaan.Jenis racun . Gejala-gejala dan perlukaan tertentu harus dicatat seperti kejang. dan tanda fenomena drainage.Data tentang kebiasaan dan kepribadian korban . berupa sertifikasi yang memberi batuan pembuktian hukum terhadap korban. Beberapa hal yang perlu ditekankan dalam anamnesis : . anamnesis dapat bersifat autoanamnesis bila korban kooperatif atau alloanamnesis baik terhadap keluarga koban atau penyidik. .Faktor yang menigkatkan efek letal zat yang digunakan seperti penyakit. Dalam pemeriksaan forensik klinis. harus dicatat semua bukti-bukti medis meliputi tanda-tanda mencurigakan pada tubuh korban seperti bau tertentu yang keluar dari mulut atau saluran napas. Sertifkasi yang dimaksud adalah diterbitkannya visum et repertum peracunan. terhisap bersama udara pernafasan.Cara masuk racun (route of administration) : melalui ditelan. penyerapan melalui kulit yang sehat atau kulit yang sakit.Pemeriksaan korban keracunan pada prisifnya sama secara medis maupun secara forensik klinis meliputi anamnesis.

Bila racun per oral. bau pestisida atau bau minyak tanah yang dipakai sebagai pelarut. kloroform. bau dan secara kimia. 163 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . luka suntikan atau kekerasan lainnya. Hasil akhir pemeriksaan forensik klinik adalah diterbitkannya Visum et Repertum Peracunan yang merupakan salah satu alat bukti sah di pengadilan. Demikian juga terhadap luka-luka lecet sekitar mulut. Pemeriksaan Forensik Kasus Keracunan terhadap Koban yang Sudah Meninggal Beberapa pertimbangan yang perlu diperhatikan pada pemeriksaan keracunan pada korban yang sudah meninggal antara lain: 1. Skrening racun diambil dari sampel urin dan darah. misalnya asam hidrosianida. dimana penentuannya berdasarkan penilaian efek racun terhadap metabolisme dan gangguan fungsi organ yang diakibatkan oleh racun. Prosedur penerbitan Visum et Repertum Peracunan sesuai dengan prosedur mediko legal penerbitan visum dimana harus dibuat berdasarkan Surat Permintaan Visum resmi penyidik (pasal 133 KUHAP). Dalam Visum et Repertum peracunan ditentukan kualifikasi luka akibat peracunan. Pemeriksaan luar Pada pemeriksaan luar untuk kasus keracunan. sekret mulut dan hidung. kemungkinan didapatkan: . Bau-bau tertentu harus dikenali dalam pemeriksaan seperti bau amandel pada keracunan sianida. analisis isi lambung harus dilakukan secara visual.Racun jenis tertentu mengeluarkan bau aroma yang khas. darah serta urin. Pemeriksaan post mortem a.napas. Pengambilan dan analisis sampel dilakukan dengan mengambil sisa muntahan. asam karbonat.

.Perubahan warna kulit.Livor mortis yang khas. misalnya menjadi kuning pada keracunan fosfor dan keracunan akut akibat unsur tembaga sulfat. Perubahan warna juga bisa muncul karena berbagai unsur lainnya seperti sari buah. merah terang.Pemeriksaan dalam Pada umumnya tanda-tanda keracunan tampak pada traktus gastrointestinal. dll.Pada permukaan tubuh jenazah mungkin ditemukan bercak-bercak yang berasal dari muntahan.Keadaan pupil mata dan jari tangan yang lemas atau mengepal. Warnanya adalah merah gelap dan hiperemia ini bentuknya bisa merata atau bercak. b. . misalnya pada keracunan arsen hiperemia adalah merah merata. terutama jika keracunan akibat zat korosif atau iritan.alkohol. Hiperemia harus dibedakan 164 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . cherry red atau merah coklat (bila racunnya menyebabkan perubahan warna darah sehingga warna lebam jenazah mengalami perubahan. feses dan kadang-kadang jenis racun itu sendiri. Perubahan yang terjadi adalah: .Pemeriksaan lubang pada tubuh jenazah untuk melihat adanya tanda-tanda bekas zat korosif atau benda asing. Untuk menjaga keutuhan jenazah tidak boleh menggunakan cairan desinfektan yang mempunyai bau (aroma).Hiperemia Warna kemerahan pada membran mukosa paling jelas terlihat pada bagian kardiak lambung dan pada bagian kurvatura mayor. . . Asam nitrat menyebabkan warna kuning pada usus. .

Juga harus dibedakan dengan perlunakan post mortem yang terdapat pada bagian yang lebih rendah dan mengenai seluruh lapisan dinding lambung. Pada bagian yang mengalami perlunakan tidak ada tandatanda inflamasi. Jika disebabkan karena penyakit. mulut. tenggorokan dan esofagus. . . gambaran ini hanya tampak pada lambung.Perlunakan Keadaan ini terjadi pada keracunan korosif. kurvatura mayor. selain itu gambaran membran mukosa lebih banyak terkena pada kasus keracunan. kecuali pada kasus keracunan asam sulfat. 165 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Perforasi juga bisa terjadi akibat tukak kronis. Gambaran yang membedakan dengan hiperemia yang disebabkan oleh penyakit adalah pada hiperemia karena penyakit sifatnya merata dan terdapat pada seluruh permukaan serta tidak berupa bercak.Ulserasi Paling sering ditemukan ditemukan pada kurvatura mayor lambung dan harus dibedakan dengan tukak peptik yang paling sering terdapat di kurvatura minor lambung dan ditandai dengan adanya hiperemia di sekitar tukak tersebut. pinggirnya melekuk ke arah luar dan lambung menunjukkan tanda-tanda perlekatan dengan jaringan sekitar.dengan kongesti vena secara menyeluruh yang terjadi pda kematian akibat asfiksia. .Perforasi Sangat jarang terjadi. lebih sering terlihat pada kardiak lambung. tetapi bentuk perforasi pada kasus ini biasannya lonjong atau bulat.

Uterus dan organ-organ yang berkaitan dengan uterus. gigi dan kuku .Paru-paru terutama pada keracunan kloroform .Setengah bagian dari masing-masing ginjal . rambut.Lambung dan isinya . usus halus. Racun bisa ditemukan dalam lambung.2.Pemeriksaan kimia/toksikologi pada organ tubuh bagian dalam Ditemukannya jenis racun pada darah. Hal yang dibuktikan antara lain : 1.Darah . 3. dan kadang-kadang pada hati. Organ tubuh dan bahan yang diperiksa antara lain : .Urin dan feses .Bukti hukum (legally proving): bukti hukum yang dapat diterima di pengadilan (adminissible) sangat tergantung dari keaslian bukti tersebut sehingga penatalaksanaan terhadap bukti-bukti 166 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . banyak hal yang harus dibuktikan dan dalam pembuktiannya banyak melibatkan dokter forensik klinis.Bagian dari usus halus (duodenum dan jejunum) . urin atau dalam organ tubuh merupakan bukti yang memastikan bahwa telah terjadi keracunan.Pengumpulan bukti-bukti dari sekitar tempat kejadian Kunci Pembuktian Kasus Keracunan Dalam pembuktian kasus keracunan sebagai tindak pidana. limpa dan ginjal.Otak dan korda spinalis. jika ada kecurigaan abortus kriminalis .Organ tubuh lainnya yang dicurigai mengandung racun. feses.Tulang. terutama pada keracunan striknin .Hati .

Racun yang bekerja lokal atau setempat.narkotika. yang bersifat iritan : arsen. kondisi kesehatan. yang bersifat anestetik : kokain. zat-zat korosif : lisol. 4.Racun yang bekerja secara sistemik .Pembuktian motif keracunan 3.Menemukan bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan. 5. HgCl2.Bukti peracunan adalah homicide.Bukti kesengajaan (intentional) 6. asam kuat. 7. pencatatan dan interpretasi bukti keracunan medis dalam upaya memberikan pembuktian hukum .Bila korban meninggal harus ditentukan sebab kematian korban adalah racun dengan menyingkirkan sebab kematian yang lainnya. Dari 7 bukti pembuktian kasus keracunan. 2. dan penyakit serta kesempatan dilibatkannya racun.Pengumpulan.Penentuan sebab kematian bila korban dengan mengeklusi penyebab kematian lainnya Mekanisme Kerja Racun Dalam Tubuh Manusia 1.Kondisi yang memungkinkan dapat diperolehnya racun seperti adanya resep. terutama berpengaruh terhadap susunan saraf pusat 167 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . barbiturat dan alkohol.pada korban sangat diperlukan. toko obat atau toko yang menyediakan substansi yang digunakan. basa kuat. gangguan kepribadian. kondisi fisik dan keadaan psikiatri korban . Terlebih lagi pada kasus tindak pidana yang memerlukan standar pembuktian dengan tingkat kepercayaan yang lebih tinggi yaitu sampai tidak ada keraguan yang beralasan.Bukti-bukti pada korban seperti kebiasaan korban. tampak bantuan dokter sangat diperlukan dalam beberapa langkah terutama : . asam karbol 2.

fumigasi kapal) . 3.asam oksalat ..garam Pb Keracunan Sianida Sianida (CN) merupakan racun yang sangat toksik. Dengan demikian proses oksidasi-reduksi dalam sel tidak berlangsung dan oksihemoglobin tidak dapat berdisosiasi melepaskan O2 ke sel jaringan sehingga timbul anoksia jaringan. terutama sitokrom oksidase juga merangsang pernapasan bekerja pada ujung sensorik sinus (kemoreseptor) sehingga pernapasan cepat.digitalis dan asam oksalat.cantharides dan HgCl2. terutama berpengaruh terhadap ginjal.oral. terutama berpengaruh terhadap sistem enzim pernafasan dalam sel . misalnya gas HCN (gas penerangan. yaitu garam CN yang dipakai pada peyepuhan emas.Racun yang bekerja secara lokal dan sistemik . serta fotografi dan amigdalin yang didapat dari singkong. ubi dan biji apel Setelah diabsorbsi.inhalasi. CN masuk ke dalam sirkulasi sebagai CN bebas dan tidak dapat berikatan dengan Hb kecuali dalam bentuk methemoglobin akan terbentuk sianmethemoglobin. pengelasan besi dan baja. Hal ini merupakan keadaan 168 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . sisa pembakaran seluloid. terutama berpengaruh terhadap jantung .asam karbol . cara masuk ke dalam tubuh dapat secara : .karbonmonoksida dan sianida.arsen . CN akan mengaktifkan enzim oksidatif beberapa jaringan secara radikal.insektisida golongan “chlorinated hydrokarbon” dan golongan fosfor organik .

busa keluar dari mulut. sedangkan KCN atau NaCN adalah 200 mg. vertigo. otot dan penempang organ berwarna merah terang. Pemeriksaan selanjutnya biasanya tidak memberikan gambaran yang khas. lakrimasi. kolaps. pusing. korban mengeluh merasa terbakar pada kerongkongan dan lidah. kejang. 169 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . pusing. Selain itu didapatkan sianosis pada wajah dan bibir. Racun yang diinhalasi menimbulkan palpitasi. dan lebam jenazah berwarna merah terang. Dalam interval yang pendek antara menelan racun sampai kematian.paradoksal karena korban meninggal akibat hipoksia tetapi darahnya kaya akan O2. fotopobia. kelelahan dan sesak napas. dan meninggal. hipersalivasi. Darah. Pada otopsi dapat tercium bau amandel waktu membuka rongga dada. sakit kepala. refleks melambat. udara pernapasan berbau amandel. kesukaran bernapas. salivasi. Pemeriksaan luar jenazah dapat tercium bau amandel yang merupakan tanda patognomonik untuk keracunan CN. muntah. napas cepat dan kadang-kadang tidak teratur. mual. Dapat pula ditemukan sianosis pada muka. koma. Takaran toksik per oral untuk HCN adalah 6090 mg. mual muntah sakit kepala. tinitus. Menjelang kematian sianosis nyata dan timbul kedutan otot-otot berlanjut dengan kejang dengan inkontinensia urin dan alvi. Gas CN 200-400 ppm akan menyebabkan kematian dalam 30 menit sedangkan gas CN 20000 ppm akan menyebabkan meninggal seketika. iritasi mulut dan kerongkongan. Tanda dan gejala keracunan akut CN yang ditelan dapat dengan cepat menyebabkan kegagalan pernafasan dan kematian dapat timbul dalam beberapa menit. nadi cepat dan lemah. perut dan otak. kelemahan ekstremitas. keluar busa dari mulut.

Pemastian diagnosis keracunan CN dilakukan dengan pemeriksaan toksikologis terhadap isi lambung dan darah.5 jam dan setelah 68 jam darah tidak mengandung COHb lagi. kolaps 40% . Bila korban dipindahkan ke udara bersih. Gejala yang ditimbulkan akibat keracunan CO.30% Sakit kepala.20% Rasa berat pada kening. Sumber CO berasal dari hasil pembakaran tidak sempurna motor yang menggunakan bahan bakar bensin. Pernapasan dan nadi cepat.60% Sinkop. koma 170 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .penglihatan buram. Saturasi Gejala COHb 10 % Tidak ada 10% . berdenyut pada pelipis 30% .Juga ditemukan tanda-tanda asfiksia. pusing. kadar COHb berkurang 50% dalam waktu 4. tidak berbau dan tidak merangsang selaput lendir. sebagian besar diikat oleh Hb. CO diserap melalui paru.50% Sama dengan gejala di atas tetapi dengan kemungkinan besar kolaps atau sinkop.40% Sakit kepala keras. Gejala keracunan CO berkaitan dengan kadar COHb dalam darah : Tabel 1. afinitas COHb 208-245 kali afinitas O2. pernapasan dan nadi bertambah cepat. 50% . mual dan muntah. ataksia. lemah. Keracunan Karbon Monoksida Karbon mononoksida (CO) adalah gas yang tidak berwarna. mungkin sakit kepala ringan 20% .

yang pada pemeriksaan jenazah petekie pada substansia alba otak atau gambaran infark atau ensephalomalacia yang simetris. Pada korban keracunan CO yang sempat mendapat pertolongan dan baru meninggal beberapa saat (hari) kemudian. Warna ini disebabkan kadar COHb dalam darah melebihi 20%30% saturasi. Mekanisme kematian pada kasus ini adalah anoksia jaringan otak. Pada kondisi demikian. Keracunan Insektisida 171 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Kadangkadang ditemukan tanda-tanda asfiksia dan hiperemia viscera.60% . depresi jantung dan pernapasan. pernapasan lambat.80% dengan kejang intermitten. Pemeriksaan dalam untuk keracunan yang tidak lama terjadi ditemukan jaringan otot. diagnosis kematian akibat keracunan CO ditegakkan dengan bantuan pemeriksaan di TKP atau gambaran klinis saat korban baru dirawat.70% 70% . mungkin meninggal Nadi lemah. viscera dan darah yang berwarna merah terang. pernapasan Cheyne Stoke Koma dengan kejang. gagal napas dan meninggal. maka kadar COHb dalam darah sudah kembali rendah dan lebam mayat tidak akan berwarna merah terang. Pada kematian korban yang singkat setelah keracunan CO ditemukan lebam mayat berwarna cherry red pada pemeriksaan luar. Pada pemeriksaan luar selanjutnya biasanya tidak terdapat gambara yang khas. Pada otak besar dapat ditemukan petekie di substansia alba bila korban bertahan hidup lebih dari 30 menit.

otak dan paru tampak edem 172 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . sedangkan golongan karbamat bersifat reversibel. Pembunuhan dengan racun jenis ini jarang terjadi. Gejala klinis berupa gangguan penglihatan. Pada pemeriksaan dalam ditemukan tanda pembendungan pada alat dalam. lindane Berdasarkan cara kerjanya. (anonim. diazinon 2.Kasus kematian akibat insektisida seringkali merupakan kematian akibat bunuh diri menggunakan bahan pembunuhan serangga golongan karbamat yang digunakan luas dimasyarakat. Inhibisi mengakibatan terjadinya akumulasi asetilkoloin. Juga dapat tercium bau pelarut insektisida. antara lain : 1. lakrimasi.golongan fosfat organik : malation. konvulsi. saluran pencernaan hiperaktif. chadna) Insektisida yang sering digunakan. kelemahan otot. dan hilangnya kontrol terhadap sfingter. Mukosa lambung dan usus bagian atas tampak hiperemis dan mengalami perdarahan submukosa. miosis. paraxon. koma. Selain itu keracunan juga disebabkan oleh faktor ketidaksengajaan pada proses penyemprotan. salivasi. golongan organofosfat dan karbamat dikategorikan ke dalam antikolinesterase. rangsangan pada saraf kolinergik diperpanjang. sukar bernapas. papil edem. Di dalam lambung ditemukan cairan yang terdiri dari dua lapisan yaitu lapisan cairan lambung dan lapisan larutan insektisida. baygon 3.golongan karbamat : carbaryl. Pada golongan organofosfat inhibisinya bersifat irreversibel. Tanda dan gejala lain yang sering terjadi antara lain sakit kepala. sekresi saluran napas.golongan hidrokarbon yang diklorkan : DDT. paration. sianosis. hiperhidrosis. Kematian terjadi karena gagal napas dan henti jantung. Limpa.

Keracunan Arsen Arsen dalam bentuk metal tidak beracun.nyeri akut pada abdomen. selain itu arsen dianggap merupakan racun kapiler dan menyebabkan dilatasi kapiler. Timbulnya gejala biasanya dalam waktu 2 jam setelah masuknya racun. menekan sisem saraf dan menghalangi respirasi. tidak larut dalam air.dan kongesti.tenesmus yang disertai tinja berwarna hitam karena banyak mengandung darah dan banyak mengandung cairan seperti diare pada kolera . yang beracun adalah dalam bentuk garam. Cara kerja keracunan akut berupa gangguan metabolisme seluler dengan menghambat sistem enzim sulfhidril.berkurangnya produksi urin.rasa terbakar pada tenggorokan. retrosternum dan epigastrium. Arsen mengiritasi jaringan. Arsen tidak berwarna. Bentuknya seperti bubuk giling. mungkin karena perforasi lambung . Jumlah yang sangat sedikit sudah dapat membunuh seseorang (30-300 mg). rasa sangat haus disertai mual. Arsen menyebabkan : Cara kerja keracunan akut berupa gangguan metabolisme seluler dengan menghambat sistem enzim sulfhidril. terdapatnya sel darah merah pada urin dan selanjutnya dapat mengalami gagal ginjal 173 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . tadak berbau (As2O3) dan tidak berasa. Kerusakan jaringan hati biasanya merupakan penyebab kematian pada keracunan kronis. selain itu arsen dianggap merupakan racun kapiler dan menyebabkan dilatasi kapiler . muntah dan diare .

nyeri prekordium.. kehilangan kesadaran dan meninggal. Tetapi pada beberapa kasus. dan tulang akan memberikan hasil positif. Membran mukosa mempunyai rugae dan di antara rugae bisa ditemukan lendir yang kental dan mengikat partikel racun. pasien akan batuk darah dengan dahak yang berbusa. pemeriksaan luar didapatkan tanda-tanda dehidrasi. Pada kasus keracunan kronis. Isi lambung berwarna gelap. delirium. Pasien merasa pusing. kejang dan meinggal Pada kasus racun arsen dalam bentuk serbuk arsen.gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit mengakibatkan dehidrasi dan kejang otot. gangguan pernapasan dan sianosis. Pada pemeriksaan dalam. arsen dalam jumlah besar akan menyebabkan muntah sehingga mengeluarkan sebagian besar racun tersebut dan pasiennya selamat. Mukosa sistem pencernaan mengalami inflamasi. Pasien menjadi gelisah . Selanjutnya mungkin mengalami edema paru akut. seperti mata cekung dan penonjolan tulang-tulang wajah. Untuk mendiagnosis keracunan akibat arsen dilakukan pemeriksaan toksikologi pada isi lambung. gejala-gejala pada sistem pencernaan sangat minimal. kuku.tanda syok akan menonjol pada tahap menjelang kematian . Kematian mendadak akibat syok mungkin terjadi karena arsen dalam dosis tinggi. bahkan tidak sama sekali. pemeriksaan terhadap rambut. 174 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Pada beberapa kasus.koma. berwarna merah disertai perdarahan submukosa. mukosa mulut biasanya normal tetapi bisa tampak tanda-tanda inflamasi. Pada kasus kematian akibat keracunan arsen. Paralisis seluruh anggota badan mungkin terjadi sebelum kematian.

paru-paru. Sisanya 10% diekskresikan melalui kulit. Jika alkohol diminum dalam jumlah yang banyak oleh seseorang yang tidak mempunyai kebiasaan minum alkohol. Kematian lebih sering karena efek kronis alkohol. Alkohol juga dikaitkan dengan kelainan kongenital dan perkembangan tumor ganas. Dosis tidak hanya tergantung dari jumlah yang diminum tetapi juga tergantung pada kebiasaan seseorang dan jenis minumannya. Absorbsi alkohol terutama dari usus halus (80%) dan lambung (20%). Metabolisme alkohol terutama terjadi di hati (90%) da mengalami oksidasi. 4 Keracunan alkohol bisa bersifat akut atau kronis. Dibutuhkan waktu yang lama agar kadar puncak alkohol dalam darah bisa menyebabkan habituasi (ketergantungan) dan keadaan lainnya seperti gastritis dan hiperemia. pada beberapa kasus bisa agak panjang yaitu 5-6 hari. Bagi orang dewasa. bisa menyebabkan kematian dalam beberapa menit. Proses absorbsi semakin cepat jika terdapat air dalam saluran usus atau lambung dalam keadaan kosong. Periode fatal biasanya antara 12-24 jam. Penyakit hati kronis terbukti menyebabkan kematian karena alkohol. dosis fatal adalah sebesar 150-200 ml alkohol absolut.Keracunan Alkohol Kematian akibat overdosis alkohol akut jarang terjadi. Wine (anggur) merupakan jenis minuman yang peling cepat penyerapannya. kelenjar liur dan ginjal. Hampir separuh dari kecelakaan kendaraan bermotor yang terjadi di United States berhubungan dengan penggunaan alkohol. Konsentrasi alkohol dalam darah sudah bisa ditemukan dalam waktu 510 menit setelah meminum alkohol. Keracunan alkohol akut terdiri dari dari 175 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Kadar puncak dalam darah adalah 30 menit setelah meminum alkohol.

Peminum alkohol sering terjatuh dalam keadaan mabuk dan meninggal. Pada orang hidup. Gejala yang dialami berupa penurunan nafsu makan. tahap kebingungan. pasien kemudian tiba-tiba mengalami pingsan dan koma. kemerahan. jantung membesar dan menunjukkan infiltrasi lemak. Kelainan yang ditemukanpada korban meninggal tidak khas. dan tahap koma. darah lebih encer dan berwarna merah gelap). pasien juga mengalami neuritis perifer dan demensia yang semakin nyata pada tahap akhir. diare. pada hati terdapat infiltrasi lemak dan sirosis. tremor pada tangan dan lidah. jika telah berlangsung lama dapat menyebebkan hipoproteinemia yang berakibat edem anasarka. bau alkohol yang keluar dari udara pernapasan merupakan petunjuk awal yang harus dibuktikan dengan pemeriksaan kadar alkohol baik melalui urin atau darah vena. Keracunan alkohol kronis terjadi karena meminum alkohol dalam jangka waktu lama. Mukosa lambung menunjukkan tanda-tanda pembendungan. inflamasi tetapi kadang tidak ada kelainan.tahap merasa dalam keadaan senang. mungkin ditemukan gejala-gejala yang ditemukan pada asfiksia (seluruh organ menunjukkan tanda pembendungan. Selain mengalami stres psikologis. selain itu dapat juga disebabkan secara sekunder akibat pneumonia dan TBC. mual. 176 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Mekanisme kematian pada alkoholisme kronis terutama akibat gagal hati dan ruptur varises esofagus akibat hipertensi portal. muntah. hati dan ginjal mengalami kongesti. Gambaran post mortem pada keracunan alkohol kronis berupa mukosa lambung tampak hipertropi dan hiperemia. gangguan daya ingat dan menilai.

nasal swab pada mereka yang melakukan sniffing. perlu diperhatikan akan adanya bekas suntikan yang baru dan lama. Ahli toksikologi harus membatasi sejumlah material yang dianalisis. Selain itu. Pemeriksaan Toksikologi pada Kematian Akibat Keracunan Investigasi kematian akibat keracunan dapat dibagi menjadi tiga tahap. diinjeksi. isi lambung pada mereka yang menelan narkotika). atau terinhalasi. Pada para pemakai narkotika dengan suntikan dapat diteukan pembesaran kelenjar limfe regional. Pada pemeriksaan jenazah akan ditemukan kelainan pada paru berupa pembendungan hebat dan edema paru hebat. Pemeriksaan toksikologi dilakukan terhadap darah dan urin. Pembendungan ditemukan pula pada organ-organ tubuh lainnya. yaitu: 1. Sebelum memulai 177 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . Pada pemeriksaan kasus yang meninggal akibat narkotika. pemeriksaan toksikologi juga dilakukan pada cairan empedu serta tempat masuknya narkotika tersebut (jaringan sekitar suntikan pada pemakai narkotika suntikan. Kematian akibat narkotika paling sering melalui terjadinya depresi napas. terdapat banyak bahan yang beredar di masyarakat yang dapat menyebabkan kematian jika dicerna.Mengumpulkan keterangan riwayat keracunan dan spesimen yang sesuai Saat ini. Kadangkala ditemukan tatto pada tempat yang tidak lazim. narcotic lung atau gambaran pneumonia lobaris.Keracunan Narkotika Kematian akibat narkotika lebih sering karena kecelakaan. misalnya pada lipat siku. yang dimaksudkan menutupi bakas suntikan.

penting sekali dilakukan pengumpulan informasi yang mungkin berkaitan dengan fakta keracunan. 2. riwayat kesehatan. Pada kasus keracunan dengan racun yang masuk per oral. dan pekerjaan korban. berat badan. obat atau racun pertama-tama dibawa ke hepar sebelum memasuki sirkulasi sistemik. pemberian terapi sebelum meninggal. dan interval waktu antara onset gejala dan kematian. jenis kelamin. isi saluran cerna harus dianalisi pertama kali.Analisis toksikologi Sebelum memulai analisis. temuan pada otopsi. Selanjutnya urin dapat dianalisis. Jika racun tertentu diduga atau diketahui terlibat pada kasus kematian. sifat dasar temuan racun dan biotransformsi racun. ahli toksikologi harus mempertimbangkan beberapa faktor yaitu: jumlah spesimen yang tersedia. analisis pertama dari organ dalam dilakukan pada hepar. Spesimen dari sejumlah cairan tubuh dan organ penting untuk mengambarkan afinitas obat dan racun terhadap jaringan tubuh. Setelah absorbsi pada saluran cerna. Ahli toksikologi harus memperhatikan usia. ahli 178 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . karena ginjal merupakan organ ekskresi utama untuk kebanyakan racun dan racun dalam konsentrasi tinggi sering ditemukan pada urin. ketika sejumlah residu racun yang tak terabsorbsi masih ditemukan. dimana proses ini dapat merusak atau melarutkan racun dan membuat deteksi menjadi tidak memungkinkan. Spesimen harus dikumpulkan sebelum jenazah diawetkan. Contohnya CN dirusak oleh proses pembalseman. oleh karena itu.analisis. Pengumpulan spesimen untuk analisis toksikologi biasanya dilakukan saat dilakukan otopsi. obat yang terdapat pada korban.

179 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . mengumpulkan laporan hasil analisis berdasarkan toksisitas.Cerebro vasculer accident c. kematian yang dikaitkan dengan tindakan abortus.toksikologi memilih menganalisis pertama-tama jaringan dan cairan dimana racun terkonsentrasi. kematian setelah tindakan medis. dan biotransformasi dan membandingkan hasil analisis dengan kasus serupa yang pernah dilaporkan pada literatur yang berkualitas atau kasus serupa dari pengalamannya sendiri. distribusi.Meningitis f.Gejala withdrawal h. Gejala yang Menyerupai Keracunan ( Apperent Intoxicataion) a. 3. Pemeriksaan toksikologi diperlukan pada kondisi seperti kasus kematian mendadak yang terjadi pada seseorang maupun sekelompok orang.Trauma ota dan kematian otak e. kasus penganiayaan dan pembunuhan (selektif). Gejala tak terdga dari penyakit tertentu seperti penyakit Lyme atau tumor otak. Syok neurogenik j. kasus yang memang diketahui atau patit diduga meelan racun. Flash black setelah penyalahgunaan obat g. penyuntikan. Exhaustion setelah kejang atau setelah pemakaian MDMA d.Interpretasi terhadap hasil analisis Setelah mengumpulkan keteranganketerangan tentang riwayat kasus keracunan. kecelakaan transportasi.Koma hipoglikemi b. kasus perkosaan atau kejahatan seksual lainnya. khususnya pada pengemudi dan pilot.Idiosinkrasi dan reaksi hipersensitivitas i. operasi dan lain sebagainya.

bias juga menggunkan jas lab.BAB XIII PEMERIKSAAN DALAM FORENSIK Persiapan sebelum dilakukan pemeriksaan dalam 1. Pembedahan Mayat  Mayat yang dibedah diletakkan terlentang dengan bagian bahu ditinggikan (diganjal) dengan sepotong balok kecil. 180 ROMAN’S FORENSIK 2nd ed . 3. 2. pemeriksa berada disebelah kiri jenazah.Gunakan apron yang terbuat dari plastik warna putih.Menggunkan sepatu tinggi yang terbuat dari karet.Kedua tangan ditutup dengan sarung tangan rangkap supaya tidak tercemar bahan-bahan dari mayat.  Pemeriksa berada disebelah kanan jenazah untuk yang menggunakan tangan kanan tetapi jika menggunakan tangan kiri.

sedangkan otot-ototnya dibiarkan saja.  Pada bagian leher. maka dinding perut dapat ditarik atau diangkat ke atas untuk menghindari terpotongnya alat-alat dalam.  Kulit thorax dan jaringan otot dibawahnya dipegang dengan erat dengan tangan kiri. yang dilepaskan adalah bagian kulitnya saja. lepaskan otot. pada daerah dada potong sampai ke tulang. diteruskan kearah umbilicus dan melingkari umbilicus di sisi kiri dan seterusnya kembali mengikuti garis pertengahan badan sampai di daerah simfisis pubis.  Memeriksa ketinggian diafragma untuk mendeteksi adanya pneumothorax atau hematothoraxyang ditandai dengan penurunan diafragma. yaitu sebaiknya dijepit diantara ibu jari disebelah medial dan jari-jari lain disebelah lateral. Insisi pada dinding perut biasanya dimulai pada daerah epigastrium dengan membuat irisan pendek yang menembus sampai peritoneum. Potong agak tegas sehingga tidak merusak kulit. Dengan jari telunjuk dan jari tengah tangan kiri yang dimasukkan ke dalam lubang insisi ini.  Buka daerah dalam. 181 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . pisau diarahkan ke bagian lateral dan posisi pisau kurang lebih tegak lurus pada costae dan sewaktu mengiris otot-otot yang masih melekat pada costae dibersihkan. Insisi kulit dilakukan mengikuti garis pertengahan badan mulai di bawah dagu. Kemudian jaringan kulit dan otot tersebut ditarik kearah lateral hingga jaringan yang menegang tersebut dapat dipotong dengan pisau pada tangan kanan.

gunakan hak agar lebih mudah. 182 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . cairan atau pus. Dimulai dari iga kedua terus kea rah caudal. tidak ada resapan darah pada otot dan kulit agak tebal. sehingga lidah bias dipegang dengan tangan. Periksa pula akan adanya luka baik pada kandung jantung maupun pada permukaan jantung sendiri. putih. ukuran bervariasi 10-20 ml  Selanjutnya pengeluaran alat leher dimulai dengan melakukan pengirisan dasar mulut menyusuri tepi rahang bawah hingga masuk rongga mulut.Pemeriksa berdiri dibagian kepala jenazah.  Rongga dada dibuka dengan jalan mengiris rawan-rawan iga pada tempat ± 1 cm medial dari batas tulang rawan dengan masing-masing iga.  Lakukan pemeriksaan lebar mediastinum dan periksa juga apa yang ada di rongga dada kiri dengan menarik paru kiri dan jantung untuk mengetahui apakah ada cairan atau darah. jernih. Perhatikan juga dinding perut.  Melepaskan daerah clavicula dengan memotong iga kesatu kearah lateral dan medial pada sendi sternoclavicula. Perhatikan apah rongga kandung jantung terisi cairan atau darah.  Kantung jantung dibuka dengan melakukan pengguntingan pada dinding depan mengikuti bentuk huruf Y terbalik dari tengah. Memeriksa rongga perut apakah terdapat darah. Lepaskan dengan tajam agar tidak memotong alat-alat didalamnya. Dinding perut yang normal adalah licin. tidak ada fibrin. Posisi pisau miring dengan ditekan oleh tangan kiri. Otot dasar mulut terpotong seluruhnya.  Cairan jantung normal: kuning.

 Cari pangkal usus halus yang paling pangkal (retroperitoneal) yaitu duodenum dan dibuat 2 ikatan dan dipotong diantaranya agar isis duodenum tidak keluar.  Rectum dipegang dengan tangan kanan.  Mengeluarkan organ-organ dada dari tulang leher kemudian ditarik dengan tangan kiri sehingga semuanya terangkat.Pengirisan dilakukan dengan pisau diletakkan tegak lurus pada usus dan digerakkan maju mundur seperti gerakan mengegrgaji. Pengirisan dilakukan sepanjang usus halussampai ileum terminalis. Dengan tangan kiri memegang pada ujung distal dan mengangkatnya maka mesenterium yang melepaskan usus halus dengan dinding rongga perut dapat diiris dekat pada usus. Colon sigmoid dapat dilepaskan dari dinding rongga perut dengan memotong mesocolon di bagian belakangnya. Pemotongan dilakukan dengan hati-hati.  Pada daerah colon transversum lepaskan perlekatan antara colon dan lambung. faring medial dari arteri karotis.  Temukan esophagus dan ikat serta dipotong proksimal dari ikatan tadi sehingga alat leher dan dada bisa dilepaskan. Mesocolon kembali diiris disebelah lateral dari colon descendens dengan memisahkannya juga dari limpa dan ginjal kiri. lapis demi lapis agar tidak teriris ginjal kanan serta duodenum pars retroperitonealis. Pada daerah caecum pengirisan dilakukan terhadap mesocolon dengan memotong mesocolon pada bagian lateral dan colon ascendens. Potong tulang leher d\sehingga laring. mulai dari bagian distal dan mengurutnya kearah 183 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd .

 Untuk melepaskan alat rongga panggul dan perut. Membuka rongga tengkorak dengan penggergajian tulang tengkorak melingkari daerah frontal ± 2 cm di atas margo supraorbitalis. alat-alat seperti uretra. iliaca comunis. untuk kemudian diputus diantara 2 ikatan tersebut. Perhatikan permukaan luar tulang tengkorak apakah ada tanda kekerasan baik resapan darah maupun garis/patah tulang. Bulibuli dilepaskan dengan memasukkan tangan subperitoneum.  Alat rongga panggul dilepaskan dengan melepaskan peritoneum didaerah simfisis. Pemotongan otot temporalis agar jika telah selesai dimaksudkan dapat dijadikan tempat jahitan menyatukan kembali atap tengkorak dengan bagian lain tengkorak. masing-masing ginjal sampai memotong a. Kulit kepala kemudian dikupas kearah depan sampai kurang lebih 1-2 cm di atas batas orbita dan kearah belakang sampai protuberantia occipitalis externa. alat panggul setingga prostat dan wanita 1/3 proksimal vagina. melingkari kepala kearah puncak dan berakhir pada prosessus mastoideus sisi lain.  Pemeriksaan kepala dimulai dengan membuat irisan pada kulit kepala dimulai dari prosessus mastoideus.proksimal agar isi rectum dipindahkan ke colon sigmoid dan rectum dapat diikat dengan 2 ikatan. di temporal ± 2 cm di atas daun telinga. 184 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . pengirisan dilakukan dengan memotong diafragma yang dekat/melekat pada dinding dada dari kanan dan kiri. kandung kencing serta alat-alat lainnya. Pada pria. dan pada wanita (vagina) terangkat. rectum.

Jika agak gelap pada daerah tersebut.opticus yang kemudian dipotong sedekat mungkin pada dasar tengkorak. darah serta keadaan selaput lendirnya. duramater yang melekat pada dasar tengkorak harus dilepaskan untuk mengetahui apakah dasar tengkorak utuh. curiga ada contusio. contusion dan laserasi.  Letakkan bagian depan esophagus dibagian bawah untuk melihat isi selaput lendir Esofagus dilihat dari trachea apakah ada varises atau striktur.  Otak dikeluarkan dengan memasukkan dua jari tangan kiri digaris pertengahan daerah frontal. nn. 185 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Dengan sedikit menekan bagian frontal akan tampak falk cerebri yang dapat dipotong sampai dasar tengkorak. potong secara horizontal.  Pembukaan trachea dilakukan dengan melakukan pengguntingan dinding belakang (bagian jaringan ikat pada cincin trachea) sampai mencapai cabang bronchus kanan dan kiri. esophagus sampai meliputi alat tubuh lainnya.  Pemeriksaan alat dalam dimulai dari lidah. busa. infark atau edem cerebri. Setelah otak dikeluarkan. Setelah tengkorak dilepaskan duramater digunting mengikuti garis pemotongan tengkorak. subarachnoid.olfactorius. Iris batang otak. lakukan pengirisan. Perdarahan subdural dengan penyiraman darah akan hilang berbeda dengan subarachnoid. Kedua jari tangan kiri dapat sedikit mengangkat bagian frontal dan memperlihatkan nn.  Pada bagian otak harus diperiksa apakah terdapat perdarahan subdural. Perhatikan adanya benda asing. Pada otak besar lihat dan catat apakah ada perdarahan.

potong vena cava superior dan inferior sehingga terbuka. edem. Potong untuk melihat 186 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . warna dan kelainannya.  Periksa penampang sehat ventrikel apakah ada sikatriks. Jaringan lunak lapisan otot sampai terlihat apakah ada perdarahan. Periksa pembuluh nadi koroner dibagian depan a. Lakukan hal yang sama pada sisi jantung kiri. Normalnya berwarna merah kelabu agak ungu dan pada perabaan seperti busa dan ada derik udara. tebal otot ventrikel dan kiri diukur. tusuk pisau sampai ventrikel kanan lalu potong kearah lateral sehinga atrium dan ventrikel kanan terbuka. coronaria dinilai dengan cara dipotong sehingga terlihat penampangnya . coronaria jantung dipotong sedikit-sedikit apakah ada perkapuran atau penebalan. Timbang paru. Lihat adanya kelainan.  Lepaskan jantung dari jaringan sekitarnya seperti paru. sehingga perdarahan hanya sampai jaringan otot tidak sampai subkutis. luka.  A.  Pemeriksaan rongga perut.  Buka daerah atrium. apakah ada cairan/darh/busa. Paru dibelah untuk melihat penampangnya. normalnya 225-300 gram. periksa katup dan ukur panjang katup serambi dan bilik kanan. Kekerasan pada daerah leher yang sifatnya lunak. Jika busa banyak maka curiga adanya edem paru.  Periksa jantung dengan melihat adanya perdarahan atau sikatriks. Limpa dilepaskan dari jaringan sekitarnya. atau sisa-sisa infeksi sebelumnya. periksa permukaan. Periksa tulang thyroid bila baik. Inspeksi paru apakah ada perdarahan (aspirasi darah). pembuluh darah tidak menebal atau kolaps. Cara membuka daerah atrium kanan.

Kemudian dibelah dan lihat penampangnya tampak kelenjar hati yang jelas. warna merah coklat (normal).penampangnya. Bentuknya tidak teratur atau trapezium.  Angkat diafragma dan lepaskan. rapikan daerah urogenital.  Aorta dibuka sampai a. korteks kuning dan medulla coklat. renalis dari atas ke bawah dilihat permukaannya. Traktus urinarius dipisahkan dari yang lainnya.  Posterior diletakkan di atas.  Pankreas dipisahkan dari jaringan sekitarnya lalu nilai penampangnya. Ginjal dibelah. lakukan pengikisan untuk menilai adanya jaringan ikat. tepi tajam. 187 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . Lambung dibuka dan lihat penampangnya. rata.  Hati: permukaanya licin. cari kelenjar suprarenal kanan dan kiri kemudian lepaskan. normalnya 1/3 dari tebal ginjal dan periksa kalixnya.

BUKU KAPSEL FKUI . Sp.BUKU FORENSIK KARYA PROF.BAHAN KULIAH FORENSIK Dr. Sp.MURSAD.F .BUKU PATOFISIOLOGI EGC .BAHAN REFERENSI .DLL 188 ed ROMAN’S FORENSIK 2nd . TUGAS-TUGAS & PPT TEMANTEMAN FK UNLAM .ABD.E-BOOK KLINIK FORENSIK (MUHAMMAD AL FATIH II) / BUKU AJAR IKK UNHAS .Dr.BAHAN REFERAT.ATLS .F dan Dr.F .MUN’IM IDRIES. IWAN.BUKU AJAR FORENSIK FK UNAIR . Sp.BAHAN KULIAH BEDAH SYARAF .