You are on page 1of 11

PEMERIKSAAN WIDAL 1.1 Tujuan 1. Mahasiswa dapat melakukan pemeriksaan widal untuk menegakkan diagnosis demam typhoid 2.

Mahasiswa mengetahui adanya antibodi spesifik terhadap bakteri Salmonella 1.2 Metode Metode yang digunakan dalam praktikum ini adalah Rapid Slide Test dan tes aglutinasi tabung reaksi 1.3 Prinsip Prinsip dari tes ini adalah reaksi imunologis antara antibodi yang diproduksi oleh bakteri (agglutinin) dengan jenis lain dari antigen fibril. 1.4 Dasar Teori Tes Widal merupakan tes aglutinasi tabung yang digunakan dalam diagnosis serologis demam enterik. Tes ini dinamai oleh Fernand Georges Isidore Widal, seorang dokter dan ahli bakteriologi Perancis, lahir 9 Maret1862, Aljazair, meninggal 14 Januari 1929, Paris (Anonim, 2013). Uji Widal merupakan suatu metode serologi baku dan rutin digunakan sejak tahun 1896 (Mimin, 2013). Pemeriksaan Widal adalah salah satu pemeriksaan yang bertujuan untuk menegakkan diagnosa demam tipoid. Pemeriksaan ini masih banyak dipakai di negara-negara berkembang dikarenakan biayanya yang relatif terjangkau dan hasilnya pun dapat diketahui dengan segera. Pemeriksaan Widal bertujuan untuk mendeteksi adanya antibodi (kekebalan tubuh) terhadap kuman Salmonella dengan cara mengukur kadar aglutinasi antibodi terhadap antigen O dan H dalam sampel darah. Tubuh kita akan membentuk antibodi jika terpapar kuman Salmonela typhi, baik kuman yang masuk secara alamiah dan

1

Nilai normal daerah endemis tidak sama dengan daerah non endemis 3. Negatif palsu Hasil negatif palsu dapat terjadi jika dalam pemberian antibiotika yang dilakukan sebelumnya sehingga dapat menghalangi respon antibodi (ini kejadian paling sering di negara kita). dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). b. uji Widal memiliki spesifitas yang agak rendah dan kesukaran untuk menginterpretasikan hasil tersebut. paratyphi A. Sedangkan beberapa kerugian dari pemeriksaan Widal adalah (Lia.typhi. Dengan alasan ini maka pada daerah endemis tidak dianjurkan pemeriksaan antibodi H S. pembentukan antibodi terganggu maka uji Widal dapat memberikan hasil negatif palsu. kuman yang masuk namun tidak menunjukan gejala (karier) ataupun melalui vaksinasi (Vian. typhi (bukan tifoid). sebab banyak faktor yang mempengaruhi kenaikan titer. mudah dan murah. B.typhi. a. Selain itu antibodi terhadap antigen H bahkan mungkin dijumpai dengan titer yang lebih tinggi. Misalnya. 4. C) yang memiliki antigen O dan juga antigen H. Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. Bila terjadi gangguan proses immunitas. Adanya reaksi silang 2. Beberapa keuntungan dari pemeriksaan Widal adalah tekniknya sederhana. yang disebabkan adanya reaktifitas silang yang luas sehingga sukar untuk diinterpretasikan.menyebabkan sakit. Sebagai sarana penunjang diagnosis demam typhoid. Positif palsu Dapat terjadinya positif palsu misalnya pada beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. saat terdapat gejala demam langsung diberi antibiotika dan tidak sembuh dalam 5 hari sudah dilakukan uji Widal. 2 . Selain itu keterbatasan uji ini juga dapat memberikan hasil positif palsu. Tidak digunakan untuk evaluasi terapi 5. 2012). sehingga dapat menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya. 2011) : 1. Padahal sebenarnya bisa positif jika dilakukan kultur darah. cukup pemeriksaan titer terhadap antibodi O S.

Berikut ini penjelasan macam antigen tersebut (Anonim. Struktur kimianya terdiri dari lipopolisakarida. alkohol dan asam yang encer. uji tabung membutuhkan waktu inkubasi semalam karena membutuhkan teknik yang lebih rumit dan uji Widal peluncuran hanya membutuhkan waktu inkubasi 1 menit saja yang biasanya digunakan dalam prosedur penapisan. Pengenceran tertinggi yang masih menimbulkan reaksi aglutinasi menunjukkan titer antibodi dalam serum (Wikipedia. maka kadar anti dapat ditentukan. sehingga bisa dipertimbangkan antigen import untuk dipakai di laboratorium yang tidak dapat memproduksi antigen sendiri untuk membantu menegakkan diagnosis demam typhoid (Mimin.typhi O dan H import. 2013) : 1. Antigen yang digunakan pada tes Widal ini berasal dari suspense Salmonella yang sudah dimatikan dan diolah dalam laboratorium. Antigen O Antigen O merupakan somatik yang terletak di lapisan luar tubuh kuman. Antigen ini tahan terhadap pemanasan 100°C selama 2–5 jam. Walaupun begitu. Perbedaannya. Umumnya sekarang lebih banyak digunakan uji Widal peluncuran. Dengan jalan mengencerkan serum.Prinsip pemeriksaan Widal adalah reaksi aglutinasi yang terjadi bila serum penderita dicampur dengan suspense antigen Salmonella typhosa. Pada pemeriksaan uji Widal dikenal beberapa antigen yang dipakai sebagai parameter penilaian hasil uji Widal. 2012). Pemeriksaan yang positif ialah bila terjadi reaksi aglutinasi antara antigen dan antibodi (aglutinin). Teknik pemeriksaan uji Widal dapat dilakukan dengan dua metode yaitu uji hapusan atau peluncuran (slide test) dan uji tabung (tube test). menurut suatu penelitian yang mengukur kemampuan uji tabung Widal menggunakan antigen import dan antigen lokal. 3 . terdapat korelasi yang bermakna antara antigen lokal dengan antigen S. 2013). Sensitivitas dan spesifitas tes ini amat dipengaruhi oleh jenis antigen yang digunakan. Menurut beberapa peneliti uji Widal yang menggunakan antigen yang dibuat dari jenis strain kuman asal daerah endemis (lokal) memberikan sensitivitas dan spesifitas yang lebih tinggi daripada bila dipakai antigen yang berasal dari strain kuman asal luar daerah endemis (import).

terdiri atas protein OMP C. Porin merupakan komponen utama OMP. Outer Membrane Protein (OMP) Antigen OMP S. OMP ini terdiri dari 2 bagian yaitu protein porin dan protein nonporin. Antigen H Antigen H merupakan antigen yang terletak di flagela. 2. typhi merupakan bagian dinding sel yang terletak di luar membran sitoplasma dan lapisan peptidoglikan yang membatasi sel terhadap lingkungan sekitarnya. Uji Widal positif artinya ada zat anti (antibodi) terhadap kuman Salmonella. Namun.2. fimbriae atau fili S. tetapi fungsinya masih belum diketahui dengan jelas. ini juga pengertian yang salah. akan rusak bila dipanaskan selama 1 jam pada suhu 60°C. dengan pemberian asam dan fenol. OMP D. S. menunjukkan bahwa seseorang pernah kontak atau terinfeksi dengan kuman Salmonella tipe tertentu. Beberapa peneliti menemukan antigen OMP S typhi yang sangat spesifik yaitu antigen protein 50 kDa/52 kDa. Antigen Vi Antigen Vi terletak di lapisan terluar S. typhi mempunyai antigen H phase-1 tunggal yang juga dimiliki beberapa Salmonella lain. Pemeriksaan Widal yang diulang setelah pengobatan dan menunjukkan hasil positif dianggap masih menderita tifus. Protein nonporin terdiri atas protein OMP A. Antigen ini digunakan untuk mengetahui adanya karier. 4. Sifatnya resisten terhadap proteolisis dan denaturasi pada suhu 85–100°C. bersifat sensitif terhadap protease. 4 . typhi (kapsul) yang melindungi kuman dari fagositosis dengan struktur kimia glikolipid. 3. Pemeriksaan Widal positif dianggap ada kuman dalam tubuh. 2013) : 1. Antigen ini tidak aktif pada pemanasan di atas suhu 60°C dan pada pemberian alkohol atau asam. hal ini pengertian yang salah. protein a dan lipoprotein. typhi dan berstruktur kimia protein. Uji Widal hanya menunjukkan adanya antibodi terhadap kuman Salmonella. dalam hasil uji Widal. masih ada beberapa hal yang sering disalahartikan yaitu (Vian. OMP F dan merupakan saluran hidrofilik yang berfungsi untuk difusi solut dengan BM < 6000.

terdapat kesulitan dalam interpretasi hasil uji Widal karena sebagian besar populasi sehat juga pernah kontak atau terinfeksi. bukan indikasi untuk mengulang pengobatan bilamana tidak lagi didapatkan gejala yang sesuai. Uji Widal umumnya menunjukkan hasil positif 5 hari atau lebih setelah infeksi. Hasil uji negatif dianggap tidak menderita tifus. Hasil survei pada orang sehat di Jakarta pada 2006 menunjukkan hasil uji Widal positif pada 78% populasi orang dewasa. 2013). 5 . stadium penyakit.Setelah seseorang menderita tifus dan mendapat pengobatan. dengan uji Widal positif tidak dapat dikatakan menderita tifus. Untuk menentukan seseorang menderita demam tifoid tetap harus didasarkan adanya gejala yang sesuai dengan penyakit tifus karena uji Widal hanya sebagai pemeriksaan yang menunjang diagnosis. 2011). 3. faktor antigen. 4. 2011) : 1. Keadaan umum : gizi buruk dapat menghambat pembentukan antibodi. sehingga menunjukkan hasil uji Widal positif. Untuk itu perlu kecermatan dan kehatihatian dalam interpretasi hasil pemeriksaan Widal (Vian. Dengan demikian. teknik serta reagen yang digunakan. hasil uji Widal tetap positif untuk waktu yang lama sehingga uji Widal tidak dapat digunakan sebagai acuan untuk menyatakan kesembuhan. terutama pada beberapa hari pertama demam belum dapat menyingkirkan kemungkinan tifus (Nurahmad. hasil uji Widal negatif. Seorang tanpa gejala. Beberapa faktor yang dapat mempengaruhi uji Widal dapat dijelaskan sebagai berikut. spesifitas. Hasil ulang pemeriksaan Widal positif setelah mendapat pengobatan tifus. antara lain (Anonim. sering kali hasilnya masih negatif dan baru akan positif bilamana pemeriksaan diulang. gambaran imunologis dari masyarakat setempat (daerah endemis atau non endemis). saat pengambilan specimen. Pada daerah endemik. faktor penderita seperti status imunitas dan status gizi yang dapat mempengaruhi pembentukan antibodi. Karena itu bila infeksi baru berlangsung beberapa hari. Interpretasi dari uji Widal ini harus memperhatikan beberapa faktor antara lain sensitivitas.

C) memiliki antigen O dan H juga. 3. tetanus.2. Namun hampir semua ahli sepakat bahwa kenaikan titer agglutinin lebih atau sama dengan 4 kali terutama agglutinin O atau agglutinin H bernilai diagnostic yang penting untuk demam typhoid. Padahal sebenarnya yang positif kuman non S. dkk. sedangkan kenaikan titer pada minggu pertama adalah hanya 85. 9. sirosis dapat menyebabkan positif palsu.7%.7%. 6. pemberian antibiotika sebelumnya dapat menghambat pembentukan antibodi. 8. Begitu juga 6 . Konsentrasi suspense antigen dan strain Salmonella yang digunakan akan mempengaruhi hasil uji Widal. sehingga menimbulkan reaksi silang dengan jenis bakteri lainnya. Kegunaan uji Widal untuk diagnosis demam typhoid masih kontroversial diantara para ahli. Pengobatan dini dengan antibiotika. paratyphi A. Reaksi anamnesa. Obat-obatan immunosupresif dapat menghambat pembentukan antibodi. B. Saat pengambilan spesimen : berdasarkan penelitian Senewiratne. Hal ini dapat dijelaskan bahwa setelah divaksinasi titer agglutinin O dan H meningkat dan menetap selama beberapa waktu. Infeksi akan menunjukkan peningkatan titer. sehingga diperlukan pemeriksaan Widal ulang seminggu kemudian. Penyakit-penyakit tertentu seperti malaria. kenaikan titer antibodi ke level diagnostik pada uji Widal umumnya paling baik pada minggu kedua atau ketiga. 4. Reaksi silang : beberapa jenis serotipe Salmonella lainnya (misalnya S. 7. 5. Vaksinasi terhadap salmonella bisa memberikan reaksi positif palsu. typhi (bukan typhoid). yaitu 95. Jalan keluarnya adalah dengan melakukan pemeriksaan ulang tes Widal seminggu kemudian. kadang-kadang terjadi peningkatan antibodi salmonella saat ia menderita infeksi yang bukan typhoid. sementara pasien yang divaksinasi tidak akan menunjukkan peningkatan titer. tidak dapat membedakan apakah infeksi tersebut merupakan infeksi baru atau lama. Pada individu yang terkena infeksi typhoid di masa lalu. dan bisa menimbulkan hasil positif palsu (false positive). Kenaikan titer agglutinin yang tinggi pada specimen tunggal.

baik pada anak dan dewasa perlu ditentukan (Nurahmad. Brucella melitensis 3.kenaikan titer agglutinin terutama agglutinin H tidak mempunyai arti diagnostik yang penting untuk demam typhoid. Kaca objek berbentuk cincin 2.5 Alat. Brucella abortus 2. Tabung reaksi 5. Serum C. Bahan. namun masih dapat membantu dan menegakkan diagnosis tersangka demam typhoid pada penderita dewasa yang berasal dari daerah non endemik atau pada anak umur kurang dari 10 tahun di daerah endemik. Larutan NaCl 0.typhi dalam dosis subinfeksi masih lebih besar sehingga uji Widal dapat memberikan ambang atas titer rujukan yang berbeda-beda antar daerah endemik yang satu dengan yang lainnya. Antigen Fibril 3. Stik pengaduk 4. Pada orang dewasa atau anak di atas 10 tahun yang bertempat tinggal di daerah endemik. Alat 1. Antigen Salmonella Grup A 4. Pengaduk mekanik (jika diperlukan) B. Dengan demikian. bila uji Widal masih diperlukan untuk menunjang diagnosis demam typhoid. Bahan 1. tergantung dari tingkat endemisitasnya dan berbeda pula antara anak di bawah umur 10 tahun dan orang dewasa. typhi dalam dosis subinfeksi masih amat kecil. Pipet serum 3. Antigen Salmonella Grup B 7 . 2011). maka ambang atas titer rujukan. Reagen 1.9% 2. kemungkinan untuk menelan S. 1. sebab pada kelompok penderita ini kemungkinan mendapat kontak dengan S. dan Reagen A.

7. Untuk tujuan ini bisa juga digunakan kaca jendela yang kecil.04 mL. Serum dan antigen dicampur menggunakan stik pengaduk. Slide digoyangkan dengan tangan atau pengocok mekanik pada kecepatan 150 rpm selama 2-3 menit. Stik pengaduk yang berbeda digunakan untuk setiap jumlah serum atau digunakan stick yang sama dan dikerjakan dari kanan ke kiri. 0. Proteus OX2 10. 6. Aglutinasi diamati dengan pencahayaan tidak langsung berlatar belakang gelap. somatik) 1. 0. 2. 5.5. Serum harus bersih dan tidak panas. Paratyphoid C (Antigen Salmonella Flagellar c ) 9. Dengan memegang penetes secara vertikal. Prosedur ini diulangi dengan serum kontrol positif dan negatif. 0. Sejumlah serum yang akan diuji ditambahkan dengan pipet yang sesuai. 4.05 mL. Typhoid O (Salmonella Group D.1 inch. ditambahkan satu tetes suspensi antigen setiap sejumlah serum. Proteus OX19 11. ke dalam lingkaran kaca objek dari kiri ke kanan dengan urutan: 0.01 mL. Rapid Slide Test 1.08 mL. Kaca objek berbentuk cincin juga dianjurkan untuk digunakan. Antigen dikocok dengan hati – hati untuk memastikan suspensi tercampur merata. Paratyphoid B (Antigen Salmonella Flagellar b ) 8. Paratyphoid A (Antigen Salmonella Flagellar a ) 7. Proteus OXK 12. 3. 0.6 Langkah Kerja A. Antigen Salmonella Grup C 6. Area yang dibentuk setiap campuran harus berukuran ½ inci . 8 . 5 kaca objek disediakan dan masing-masing dibuat lingkaran dengan diameter 1 ½ inci dengan pensil lilin atau sebuah pensil dengan ujung bercahaya.02 mL.

1.kali lipat dari 1: 20 sampai 1: 10240. Satu tetes antigen ditambahkan untuk setiap tabung.0 mL larutan natrium klorida 0.1 mL serum yang akan diuji ditambahkan ke tabung pertama.50 45 .50 Waktu Inkubasi 18 jam 18 jam 18 jam 18 jam 2 jam 9 . Tabung itu dilabeli dengan nama "Control Saline” 6. Sepuluh tabung reaksi berukuran 12 x 75 mm disediakan dan diletakkan di rak yang sesuai 2.8. Rak dikocok untuk mencampur antigen dengan serum dan ditempatkan di waterbath.hati.9% ditambahkan untuk mengencerkan serum.50 45 .0 ml serum yang diencerkan diaduk rata dan dipindahkan dari tabung pertama ke tabung kedua. Prosedur ini diulangi dengan serum kontrol positif dan negatif. Tabung no.9% ditambahkan ke tabung yang tersisa 4. 1 dianggap sebagai pengenceran 1:20. 1.50 45 . Satu tabung ditempatkan di akhir seri tabung pengenceran dan 1.0 mL larutan natrium klorida 0. Waktu dan suhu inkubasi yang dianjurkan adalah sebagai berikut: Antigen Salmonella “O” Group A Salmonella “O” Group B Salmonella “O” Group C Salmonella “O” Group D (Typhoid O) Salmonella “H” a Temperature 45 .9% ditambahkan ke tabung pertama 3. Prosedur ini diulangi sampai kesepuluh tabung mengandung seri pengenceran serum dua .50 45 . Tes Aglutinasi Tabung Reaksi 1. 0.9 mL larutan natrium klorida 0. 1. 7.0 mL pengencer serum diambil dari tabung 10 dan dibuang. 1. Serum positif oleh titer yang dikenali dan serum negatif serum harus termasuk ke dalam control B. 5. Suspensi antigen dihomogenkan dengan mengocok botol hati .

: Tidak ada aglutinasi yang teramati dan muncul kekeruhan pada suspensi 10. rak yang berisi tabung reaksi dipindahkan dengan hati-hati dan diamati aglutinasinya. 4+ : Semua organisme berkumpul di dasar tabung dan cairan supernatan bersih b.50 45 . Titer dari serum reaktif dicatat sebagai pengenceran terakhir yang memberikan reaksi 2 + 10 .50 37 37 2 jam 2 jam 2 jam 48 jam 18 jam Catatan : Typhoid H dan antigen Salmonella flagellar harus diinkubasi selama 2 jam pada suhu 45 . Menggunakan sumber cahaya tidak langsung dengan latar belakang hitam akan memberikan kondisi optimal untuk pembacaan tabung 9. 8.50 45 .50 pada suhu 2 . 2+ : Sekitar 50% organisme berkumpul dan supernatant dengan kekeruhan sedang d.Salmonella “H” b Salmonella “H” c Salmonella “H” d (Typhoid H) Brucella abortus dan Brucella meltonois Proteus OX2.8 dilanjutkan dengan inkubasi 10 jam sebelum pembacaan terakhir. Setelah diinkubasi. 1+ : Sekitar 25 % organisme berkumpul dan supernatant keruh e. OX19 dan OXK 45 . 3+ : Sekitar 75% organisme berkumpul dan supernatant sedikit keruh c. Hasil tes dicatat sebagai berikut : a.

7 Interprestasi Hasil A.1. Rapid Slide Test Derajat aglutinasi sebagai berikut : 4+ 3+ 2+ 1+ + Negatif : 100% organisme mengalami aglutinasi : 75% organisme mengalami aglutinasi : 50% organisme mengalami aglutinasi : 25% organisme mengalami aglutinasi : kurang dari 25% organisme mengalami aglutinasi : tidak ada aglutinasi B. Tes Titrasi Tabung Reaksi 4+ 3+ 2+ 1+ : Semua organisme berkumpul di dasar tabung dan cairan supernatan bersih : Sekitar 75% organisme berkumpul dan supernatan sedikit keruh : Sekitar 50% organisme berkumpul dan supernatan dengan kekeruhan sedang : Sekitar 25 % organisme berkumpul dan supernatan keruh : Tidak ada aglutinasi yang teramati dan muncul kekeruhan Negatif pada suspensi 11 .