You are on page 1of 45

BAB l PENDAHULUAN

A. Penegasan Judul

Skripsi ini berjudul Analisis butir soal tes hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam ( PAI ) kelas l di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta tahun ajaran 2012/2013. Untuk menghindari kesalahan dalam menafsirkan dan memaknai judul skripsi ini, maka penulis akan menjelaskan istilah-istilah tersebut sebagai berikut. 1. Analisis analisis adalah penyelidikan terhadap suatu peristiwa untuk

mengetahui keadaan yang sebenarnya.1 2. Butir Soal Soal merupakan pertanyaan atau pernyataan yang menimbulkan situasi masalah yang harus dipecahkan oleh siswa.Penguasaan siswa diketahui dari kemampuannya membuat pemecahan masalah.Satuan untuk soal adalah butir sehingga tiap item pertanyaan atau pernyataan dikenal sebagai butir soal2.

Departemen Pendidikan Nasional, Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa, ( Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama, 2012 ),hlm . 58. 2 Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, ( Yogyakarta: Pustaka Pelajar,2008),hlm.74.

3. Tes hasil belajar Tes hasil belajar, yaitu tes yang menilai sampai di mana hasil belajar yang dicapai oleh siswa, setelah mereka menjalani perbuatan belajar dalam waktu tertentu. Jadi tes ini dilakukan setelah siswa mengalami proses belajar, dan bahan yang dijadikan soal tes tidak keluar dari bahan yang telah dipelajari oleh siswa.3 4. Pendidikan Agama Islam Pendidikan Agama Islam adalah usaha berupa bimbingan dan usaha terhadap anak didik agar kelak setelah selesai pendidikannya dapat memahami dan mengamalkan ajaran Agama Islam serta menjadikan sebagai pandangan hidup.4 5. Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sekolah Dasar Negeri Sariharjo adalah sekolah yang berada di Dusun Sariharjo Kecamatan Ngaglik Kabupaten Sleman. Maksud judul skripsi ini adalah penelitian tentang analisis butir soal untuk mengetahui koefisien validitas butir soal, koefisien tingkat kesukaran butir soal, koefisien daya pembeda butir soal.

3 4

Slameto,Evaluasi Pendidikan,( Jakarta: PT Bumi Aksara,2001), hlm. 30. Zakiyah Darajat,dkk, Ilmu Pendidikan Islam, ( Jakarta: Bumi Aksara,1996 ), hlm. 86.

B. Latar belakang masalah Tes merupakan metode pengukuran yang menggunakan alat ukur berbentuk satu set pertanyaan untuk mengukur sampel tingkah laku, dan jawabannya biasa dikategorikan benar dan salah.5 Tes adalah suatu cara untuk mengadakan penilaian yang berbentuk suatu tugas atau serangkaian tugas yang harus di kerjakan oleh anak sehingga menghasilkan suatu nilai tentang tingkah laku atau prestasi anak tersebut, yang dapat dibandingkan dengan nilai yang dicapai oleh anak-anak lain atau nilai standar yang ditetapkan.6 Tes hasil belajar atau achievement tes ialah tes yang dipergunakan untuk menilai hasil-hasil pelajaran yang telah diberikan oleh guru kepada muridmuridnya, atau oleh dosen kepada mahasiswa, dalam jangka waktu tertentu.7 Keberhasilan dalam dunia pendidikan dapat diketahui dari cara penilaian hasil belajar yang telah ditentukan sesuai dengan kurikulum yang berlaku di dalam pendidikan. Penilaian adalah salah satu bagian yang paling penting dalam rangkaian proses pembelajaran dalam pendidikan. Sehingga

Bambang Subali, Prinsip Asesmen & Evaluasi Pembelajaran, ( Yogyakarta : UNY Press, 2012 ),hlm. 1. 6 Sudirman, Ilmu Pendidikan, ( Bandung : PT. Remaja Rosdakarya, 1992 ), hlm. 243. 7 M.Ngalim Purwanto, Prinsip-Prinsip Dan Tehnik Evaluasi Pengajaran, ( Bandung :PT.Remaja Rosdakarya,2010 ), hlm. 33.

dapat dikatakan baik tidaknya kegiatan pendidikan, salah satunya di tentukan oleh penilaian hasil belajar. Tes sebagai salah satu alat evaluasi hasil belajar mempunyai peranan yang penting dalam mengukur prestasi hasil belajar siswa. Dalam langkah-langkah penyusunan tes antara lain menetapkan tujuan, analisis sumber materi belajar, menyusun kisi-kisi soal, menulis indikator soal, menulis soal, uji coba, analisis soal, revisi soal, menentukan soal yang baik serta merakit soal menjadi tes. Untuk mengetahui apakah butir soal itu baik atau jelek, dapat dilakukan dengan menganalisis butir soal. Apabila butir soal dianalisis dalam kurva normal dan hasilnya tercermin sebagian besar siswa berada didaerah sedang, sebagian kecil berada disebelah kiri, dan sebagian kecil yang lain berada di sebelah kanan kurva maka butir soal telah memenuhi kriteria butir soal yang baik. Apabila butir soal dianalisis tidak sesuai yang diharapkan dalam kurva normal berarti butir soal belum memenuhi kriteria butir soal yang baik. Butir soal merupakan alat atau instrumen yang akan dijadikan sebagai obyek penelitian. Butir soal tersebut berbentuk tes obyektif pilihan ganda yang berjumlah 20 butir soal yang diambil dari soal tes hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman.

Kelas I di Sekolah Dasar Sariharjo merupakan tempat yang akan dijadikan penelitian yang siswanya berjumlah 16 siswa untuk dijadikan responden dalam penelitian. Karena tes hasil belajar sebagai alat ukur untuk mengukur prestasi siswa, maka dalam perangkat soal tes hasil belajar harus memiliki butir soal yang baik sebagaimana kriteria butir soal yang baik memiliki validitas, memiliki tingkat kesukaran yang tidak terlalu mudah dan tidak terlalu sulit dan juga mempunyai daya beda soal yang dapat membedakan. Untuk mengetahui kualitas butir soal tes hasil belajar tersebut, maka kiranya perlu dilakukan penelitian dengan cara melakukan analissi butir soal sehingga hasil analisis butir soal tersebut dapat dijadikan sebagai informasi yakni bagi guru, sekolah dan khususnya bagi team pembuat soal sehingga dapat melakukan penyempurnaan butir soal, apabila butir soal tersebut nelum memenuhi kriteria butir soal yang baik. C. Alasan pemilihan judul 1. Menarik, karena dengan analisis butir soal, penulis dapat mengetahui kualitas butir soal. 2. Penting, karena analisis butir soal merupakan bagian dari evaluasi pendidikan. 3. Karena sepengetahuan penulis dalam sebuah penelitian belum begitu banyak meneliti tentang analisis butir soal.

D. Rumusan masalah Berdasarkan latar belakang masalah diatas, maka dapat diketahui rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana koefisien validitas butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta? 2. Bagaimana koefisien tingkat kesukaran butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta? 3. Bagaimana koefisien daya beda butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta? E. Tujuan penelitian 1. Untuk mengetahui koefisien validitas butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta. 2. Untuk mengetahui koefisien tingkat kesukaran butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta. 3. Untuk mengetahui koefisien daya beda butir soal test hasil belajar kelas I di Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta. F. Kegunaan penelitian 1. Menambah khazanah ilmu pengetahuan khususnya dalam evaluasi pendidikan islam. 2. Bagi Kelompok kerja Guru ( KKG ) akan memperoleh gambaran secara rinci tentang keadaan butir soal sehingga dapat digunakan untuk penyempurnaan butir soal.

3. Bagi Guru, akan memperoleh gambaran secara rinci tentang keadaan butir soal.

G. Metode penelitian Untuk memudahkan pengumpulan dan analisis data, serta mengacu pada penelitian yang relevan dengan judul skripsi maka penulis menggunakan langkah-langkah sebagai berikut; 1. Metode penentuan subyek a. Kepala sekolah yang merupakan subyek yang bersifat sekunder, penulis akan mendapatkan data yang berupa gambaran umum Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta. b. Guru Pendidikan Agama Islam adalah subyek yang bersifat primer, maka penulis akan mendapatkan data perangkat soal test hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam beserta kunci jawabannya. c. Siswa kelasI Sekolah Dasar Negeri Sariharjo adalah subyek yang bersifat primer, maka penulis akan mendapatkan jawaban siswa terhadap butir soal tes hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam. Peneliti menggunakan teknik populasi, karena subyeknya kurang dari 100, Suharsimi Arikunto berpendapat :

Apabila subyeknya kurang dari 100, lebih baik diambil semua sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi, selanjutnya jika jumlah subyeknya besar dapat diambil antara 15% - 20% atau 20% 25 %.

2. Teknik pengumpulan data a. Metode dokumentasi Metode Dokumentasi merupakan catatan peristiwa yang sudah berlalu, dokumen bisa berbentuk tulisan, gambar, atau karya-karya monumental dari seseorang.8 1) Perangkat soal test hasil belajar mata pelajaran Pendidikan Agama Islam kelas I tahun ajaran 2012/2013 beserta kunci jawabannya. 2) Hasil jawaban siswa tes hasil belajar kelas Imata pelajaran Pendidikan Agama Islam tahun ajaran 2012/2013. 3) Gambaran umum Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman Yogyakarta yang merupakan tempat penulis meneliti yang meliputi tujuan didirikannya sekolah, data guru dan karyawan sekolah, jumlah siswa dan struktur organisasi sekolah.
8

Sugiyono, Metode Penelitian Pendidikan ( Pendekatan Kuantitatif dan R & D ) , ( Jakarta: Alfabeta, 2007 ), hlm. 329.

b. Metode wawancara Metode wawancara merupakan pertemuan dua orang untuk bertukar informasi dan ide melalui tanya jawab, sehingga dapat dikonstruksikan makna dalam suatu topik tertentu.9 Metode ini digunakan untuk mendapatkan data tentang gambaran umum sekolah yang meliputi sejarah singkat sekolah dan letak sekolah.

3. Metode analisis data Analisis data yang digunakan untuk mengumpulkan data dan mengolah data sampai pada kesimpulan. Teknik yang digunakan dalam dalam penelitian ini maka penulis akan menggunakan teknik statistik yaitu analisis deskrptif kuantitatif. Yang artinya data yang diperoleh dalam penelitian ini disajikan apa adanya kemudian disajikan secara deskriptifkuantitatifuntuk mengetahui : a. Koefisien validitas butir soal Untuk menentukan validitas butir soal bentuk tes obyektif pilihan ganda skor untuk item biasa diberikan dengan 1 ( bagi item yang dijawab benar ) dan 0 ( item yang di jawab salah ) sedangkan skor total selanjutnya merupakan jumlah dari skor untuk semua item

Ibid, hlm. 317.

yang membangun skor tersebut. Selanjutnya perhitungan dilakukan dengan menggunakan rumus korelasi product moment. Adapun rumus korelasi product momet adalah sebagai berikut :

Keterangan : rXY = koefisien korelasi antara X dan Y X =skor butir soal Y = skor total N = jumlah subyek

b. Koefisien tingkat kesukaran Untuk mengetahui tingkat kesukaran dapat digunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan: P = indeks kesukaran B = banyaknya siswa yang menjawab soal itu dengan benar JS = jumlah siswa tes

c. Koefisien daya beda butir soal

Untuk menentukan daya beda butir soal dapat digunakan rumus sebagai berikut:

= PA - P Keterangan : J = jumlah peserta tes J = banyaknya peserta kelompok atas J = banyaknya peserta kelompok bawah B = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar B = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar P = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar P = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

H. Sistematika Skripsi Sistematika adalah urutan permasalahan yang dibahas dalam skripsi secara keseluruhan dari permulaan sampai akhir, oleh karena itu dalam penulisan skripsi ini terdiri dari tiga bagian yaitu bagian awal, bagian pokok dan bagian akhir. 1. Bagian awal skripsi terdiri dari : halaman judul, nota dinas, halaman pengesahan, halaman motto, halaman persembahan, kata pengantar, daftar isi, daftar tabel dan daftar lampiran. 2. Bagian pokok skripsi yang terdiri dari : a. BAB I. Pendahuluan Pendahuluan meliputi penegasan judul, latar belakang masalah, alasan pemilihan judul, rumusan masalah, tujuan penelitian, keguanaan penelitian, metode penelitian dan sistematika skripsi. b. BAB II. Landasan teori

Dalam bab ini menerangkan tentang : pengertian tes, fungsi tes, komponen tes, penggolongan tes, bentuk-bentuk tes, ciri-ciri tes hasil belajar yang baik, prinsip penyusunan tes hasil belajar, langkah-langkah penyusunan tes, analisis butir soal, analisis validitas, analisis tingkat kesukaran dan analisis daya pembeda. c. BAB III. Penyajian dan analisis data Dalam bab ini terdiri dari gambaran secara umum Sekolah Dasar Negeri Sariharjo Sleman yang terdiri dari deskripsi mengenai sejarah singkat sekolah, letak sekolah, data guru dan karyawan sekolah, tujuan didirikan sekolah, visi misi sekolah, sarana dan prasarana sekolah, jumlah siswa, dan struktur organisasi sekolah, pada sub bab yang lain yaitu analisis data meliputi koefisien tingkat kesukaran butir soal dan koefisien daya beda butir soal. d. BAB IV. Penutup Dalam bab ini terdiri dari kesimpulan, saran-saran dan kata penutup. 3. Bagian akhir. Bagian akhir meliputi: Daftar pustaka, lampiran dan biodata penulis.

BAB II LANDASAN TEORI

A. Tes hasil belajar 1. Pengertian tes Secara harfiyah, kata test berasal dari bahasa perancis kuno :testum yang artinya piring untuk mengisikan logamlogam mulia. Dalam bahasa inggris ditulis dengan test

yang dalam bahasa indonesia diterjemahkan dengan tes, ujian atau percobaan. Beberapa istilah yang memerlukan penjelasan sehubungan dengan masalah diatas, yaitu istilah test, testing, tester, dan testee.Test adalah alat atau prosedur yang dipergunakan dalam rangka pengukuran dan penilaian; testingberarti saat dilaksanakannya pengukuran dan

penilaian; tester artinya orang yang melaksanakan tes atau pembuat tes; sedangkan testee adalah peserta tes.10 Tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengetahui atau mengukur sesuatu dalam suasana, dengan cara dan aturan-aturan yang sudah ditentukan.11 Tes merupakan salah satu prosedur evaluasi yang komprehensif, sistematik, dan objektif yang hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan dalam proses pengajaran yang dilakukan oleh guru.12 Tes adalah cara yang dapat dipergunakan atau prosedur yang perlu ditempuh dalam rangka pengukuran dan penilaian dibidang pendidikan, yang berbentuk pemberian tugas atau serangkaian tugas baik berupa pertanyaanpertanyaan yang harus dijawab, atau perintah-perintah
10

Anas Sudijono, Pengantar Evaluasi Pendidikan, ( Jakarta: PT Raja Grafindo Persada, 2011 ), hlm. 67. 11 Suharsimi Arikunto,Op. Cit, hlm. 53. 12 Djaali & Muljono, Pengukuran dalam Bidang Pendidikan, ( Jakarta: PTGrasindo, 2008 ), hlm. 7.

yang harus dikerjakan oleh testee, sehingga atas dasar data yang diperoleh dari hasil pengukuran tersebut dapat dihasilkan nilai yang melambangkan tingkah laku atau prestasi testee; nilai mana dapat dibandingkan dengan nilainilai yang dicapai oleh testee lainnya atau dibandingkan dengan nilai standar tertentu.13 Dari beberapa pengertian tersebut, dapat disimpulkan bahwa tes merupakan alat atau prosedur yang digunakan untuk mengevaluasi individu maupun kelompok yang mempunyai standar obyektif untuk mengamati satu atau lebih karakteristik seseorang yang hasilnya dapat dijadikan sebagai dasar dalam pengambilan keputusan. 2. Fungsi tes Beberapa fungsi tes dalam evaluasi pendidikan adalah: a. Sebagai alat untuk mengukur prestasi belajar siswa. b. Sebagai motivator dalam pembelajaran.Tes dianggap sebagai motivator ekstrinsik, yaitu siswa akan belajar lebih giat dan berusaha lebih keras untuk memperoleh nilai dan prestasi yang baik. c. Sebagai upaya perbaikan kualitas pembelajaran.

13

Anas Sudijono, Op. Cit, hlm. 67.

d. Sebagai penentu berhasil tidaknya siswa sebagai syarat untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi dengan melaksanakan tes sumatif.14 3. Komponen tes Tes hasil belajar mempunyai beberapa komponen.Pada tes berbentuk esai terdiri dari petunjuk pengerjaan dan soal.Lebih dari itu pada tes berbentuk obyektif terdiri dari perangkat soal, butir soal, pilihan, kunci jawaban dan pengecoh. Adapun penjelasan masing-masing komponen sebagai berikut: a. Perangkat soal Perangkat soal adalah keseluruhan butir pertanyaan atau pernyataan berikut segala kelengkapannya. b. Petunjuk pengerjaan Petunjuk pengerjaan mendeskripsikan detail petunjuk yang harus dilakukan dalam mengerjakan soal. c. Butir soal Soal merupakan pertanyaan atau pernyataan yang menimbulkan situasi masalah yang harus dipecahkan oleh siswa.Penguasaan siswa diketahui dari kemampuannya memecahkan masalah.Satuan untuk

14

Djaali & Muljono, Op. Cit, hlm. 7.

soal adalah butir sehingga tiap item pertanyaan atau pernyataan disebut sebagai butir soal. d. Pilihan ( option ) Pilihan adalah sejumlah alternatif yang ditawarkan. e. Kunci jawaban ( key ) Kunci jawaban adalah pilihan yang merupakan jawaban atas pertanyaan yang diajukan dalam soal. f. Pengecoh ( distractor ) Pengecoh adalah pilihan yang bukan kunci jawaban.15 Komponen dalam tes terdiri dari : a. Buku tes, yaitu lembaran atau buku yang memuat butirbutir soal yang harus dikerjakan oleh siswa. b. Lembar jawaban tes, yaitu lembaran yang disediakan oleh penilaian bagi peserta tes untuk mengerjakan tes. c. Kunci jawaban tes, yaitu berisi jawaban-jawaban yang dikehendaki. Kunci jawaban ini dapat berupa huruf atau kalimat. d. Pedoman penilaian Pedoman penilaian atau pedoman scoring berisi keterangan perincian tentang skor atau angka yang

15

Purwanto, Evaluasi Hasil Belajar, ( Yogyakarta : Pustaka Pelajar, 2008 ), hlm. 73-74.

diberikan kepada siswa bagi soal-soal yang telah dikerjakan.16 4. Penggolongan tes Tes hasil belajar dapat digolongkan dalam beberapa golongan. a. Tes berdasarkan fungsi sebagai alat pengukur perkembangan atau kemajuan peserta didik. Tes sebagai alat pengukur perkembangan peserta didik, tes dapat digolongkan menjadi enam golongan yaitu : tes seleksi, tes awal, tes akhir, tes diagnostik, tes formatif dan tes sumatif. Adapun penjelasan masing-masing tes sebagai berikut: 1. Tes seleksi Tes seleksi seringdikenal dengan ujian saringan atau ujian masuk.Tes ini dilaksanakan dalam rangka penerimaan calon siswa baru, dimana tes digunakan untuk memilih calon peserta didik yang tergolong paling baik dari sekian banyak calon yang mengikuti tes. 2. Tes awal Tes awal sering dikenal dengan istilah pre-tes.Tes ini bertujuan untuk mengetahui sejauh mana materi
16

Suharsimi Arikunto, Dasar-Dasar Evaluasi Pendidikan, ( Yogyakarta : Bumi Aksara, Edisi Revisi ), hlm. 76.

atau bahan pelajaran yang diajarkan telah dapat dikuasai oleh peserta didik. 3. Tes akhir Tes akhir sering dikenal dengan istilah post-tes.Tes akhir dilaksanakan dengan tujuan untuk mengetahui apakah semua materi pelajaran yang tergolong penting sudah dapat dikuasai dengan sebaik-baiknya oleh peserta didik. 4. Tes diagnostik Tes diagnostik adalah tes untuk menentukan jenis kesukaran yang dihadapi oleh peserta didik dalam mata pelajaran tertentu.

5. Tes formatif Tes formatif adalah tes hasil belajar yang bertujuan untuk mengetahui sejauh manakah peserta didik telah berbentuk sesuai dengan tujuan pengajaran yang telah ditentukan setelah mereka mengikuti proses pembelajaran dalam jangka waktu tertentu. 6. Tes sumatif Tes sumatif adalah tes hasil belajar yang

dilaksanakan setelah satuan program pengajaran

selesai diberikan. Di sekolah tes ini dikenal dengan istilah ulangan umum atau Evaluasi Belajar Tahap Akhir ( EBTA ), dimana hasilnya untuk mengisi nilai rapor dan mengisi ijazah ( STTB ). b. Tes berdasarkan aspek psikis yang ingin diungkap. Tes ditilik dari aspek psikis yang ingin diungkap, tes dapat dibedakan menjadi lima golongan yaitu: tes intelegensi, tes kemampuan, tes sikap, tes kepribadian dan tes hasil belajar. Adapun penjelasan masing-masing tes sebagai berikut: 1. Tes intelegensi Tes intelegensi adalah tes yang dilaksanakan dengan tujuan untuk mengungkap atau mengetahui tingkat kecerdasan seseorang. 2. Tes kemampuan Tes kemampuan adalah tes yang dilaksanakan untuk mengungkap kemampuan dasar atau bakat yang dimiliki oleh peserta tes. 3. Tes sikap Tes sikap adalah tes yang dipergunakan untuk mengungkap kecenderungan seseorang untuk

melakukan respon tertentu terhadap alam sekitar, baik berupa individu maupun obyek tertentu.

4. Tes kepribadian Tes kepribadian adalah tes yang dilaksanakan dengan tujuan mengungkap ciri-ciri khas dari seseorang yang banyak sedikitnya bersifat lahiriyah seperti gaya bicara, cara berpakaian, nada suara, hobi atau kesenangan dan lain-lain. 5. Tes hasil belajar Tes hasil belajar sering dikenal dengan tes percapaian, yaitu tes yang biasa digunakan untuk mengungkap belajar. c. Tes ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes. Tes ditilik dari segi banyaknya orang yang mengikuti tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu tes individual dan tes kelompok. Adapun penjelasan masing-masing tes sebagai berikut: 1. Tes individual Tes individual adalah tes dimana tester hanya berhadapan dengan satu orang testee saja. tingkat percapaian atau prestasi

2. Tes kelompok

Tes kelompok adalah tes dimana tester berhadapan dengan lebih dari satu orang testee. d. Tes ditilik dari segi waktu yang disediakan bagi testee untuk menyelesaikan tes, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan, yaitu: 1. Power test adalah tes dimana waktu yang disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut tidak dibatasi. 2. Speed test, adalah tes dimana waktu yang

disediakan buat testee untuk menyelesaikan tes tersebut dibatasi. e. Tes ditilik dari segi bentuk responnya Tes ditilik dari segi responnya, tes dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu verbal test dan nonverbal test. Adapun penjelasan masing-masing tes sebagai berikut: 1. Verbal test Verbal test adalah tes yang menghendaki respon ( jawaban ) yang tertuang dalam bentuk ungkapan kata-kata atau kalimat, baik secara lisan maupun secara tertulis. 2. Nonverbal test

Nonverbal test adalah tes yang menghendaki respon ( jawaban ) dari testee bukan berupa ungkapan katakata atau kalimat, melainkan berupa tindakan atau tingkah laku. f. Tes ditilik dari segi cara mengajukan pertanyaan atau memberikan jawabannya, tes dapat dibedakan menjadi dua yaitu tes tertulis dan tes lisan. Adapun penjelasan masing-masing tes sebagai berikut: 1. Tes tertulis Tes tertulis adalah tes dimana tester dalam mengajukan butir-butir pertanyaan atau soalnya dilakukan secara tertulis dan tester memberikan jawabannya juga secara tertulis. 2. Tes lisan Tes lisan adalah tes dimana tester didalam mengajukan pertanyaan-pertanyaan atau soalnya dilakukann secara lisan, dan testee memberikan jawabannya juga secara lisan. 5. Bentuk-bentuk tes Tes dapat dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu sebagai berikut: a. Tes subyektif

Tes subyektif pada umumnya berbentuk esai ( uraian ). Tes esai adalah tes kemajuan belajar yang memerlukan jawaban yang bersifat pembahasan atau uraian katakata. Ciri-ciri pertanyaannya diawali dengan kata-kata seperti uraikan, jelaskan, bagaimana, simpulkan dan

sebagainya. Adapun kebaikan dan kelemahan tes subyektif sebagai berikut: 1) Kebaikan-kebaikan tes subyektif (a) Mudah disiapkan dan disusun. (b) Tidak memberi kesempatan untuk berspekulasi atau untung-untungan. (c) Mendorong siswa untuk mengemukakan

pendapat serta menyusun dalam kalimat yang bagus. (d) Memberi kesempatan kepada siswa untuk mengutarakan maksudnya dengan gaya bahasa dengan caranya sendiri. (e) Dapat diketahui sejauh mana siswa mendalami masalah yang diteskan. 2) Kelemahan-kelemahan tes subyektif

(a) Kadar validitas dan reliabilitas rendah karena sukar diketahui segi-segi mana dari pengetahuan siswa yang telah dikuasai. (b) Kurang representatif dalam hal mewakili seluruh bahan pelajaran yang akan dites karena soalnya hanya beberapa saja (terbatas). (c) Cara memeriksanya dipengaruhi oleh unsurunsur subyektif. (d) Pemeriksaanya lebih sulit sebab membutuhkan pertimbangan individual lebih banyak dari penilai. b. Tes obyektif Tes obyektif adalah tes yang dalam pemeriksaanya dapat dilakukan secara obyektif. Adapun kebaikan dan kelemahan dari tes obyektif adalah sebagai berikut: 1) Kebaikan tes obyektif (a) Lebih banyak mengandung segi-segi positif misalnya: lebih representatif mewakili dan luas bahan lebih obyektif, dapat dihindari dari campur tangan unsur-unsur subyektif.

(b) Lebih mudah dan cepat cara memeriksanya karena dapat menggunakan kunci tes bahkan alat-alat kemajuan teknologi. (c) Pemeriksaanya dapat diserahkan kepada orang lain. (d) Dalam pemeriksaan, tidak ada unsur subyektif yang dipengaruhi. 2) Kelemahan tes obyektif (a) Persiapan untuk mengukurnya jauh lebih sulit daripada tes esai karena soalnya banyak dan harus teliti untuk menghindari kelemahankelemahan yang lain. (b) Soal-soalnya cenderung mengungkapkan

ingatan dan daya pengenalan saja dan sukar untuk mengukur proses mental yang tinggi. (c) Banyak untungan. (d) Kerja sama antar siswa pada waktu mengerjakan tes lebih terbuka. Dalam hal tes obyektif, tes obyektif terdiri dari beberapa macam yaitu: 1) Tes benar-salah ( true-false) kesempatan untuk main untung-

Soal-soalnya

berupa

pernyataan-

pernyataan.Pernyataan tersebut ada yang benar dan ada yang salah.Orang yang ditanya bertugas untuk menandai masing-masing pernyataan dengan melingkari huruf B jika pernyataan itu betul menurut pendapatnya dan melingkari huruf S jika pernyataannya salah. 2) Tes pilihan ganda ( multiple choice test ) Tes pilihan ganda terdiri dari keterangan atau pemberitahuan tentang suatu pengertian yang belum lengkap.Untuk melengkapinya harus memilih satu dari kemungkinan atas jawaban yang disediakan.Kemungkinan jawaban terdiri dari kunci jawaban dan beberapa pengecoh. 3) Menjodohkan ( matching test ) Matching test dikenal dengan istilah atau

mempertandingkan,

mencockkan

menjodohkan.Matching test terdiri dari satu seri pertanyaan dan satu seri jawaban.Masingmasing pertanyaan mempunyai jawabannya yang tercantum dalam seri jawaban. 4) Tes isian (completion tes )

Completion test dikenal dengan istilah tes isian, tes menyempurnakan atau tes melengkapi. Completion test terdiri dari kalimat-kalimat yang ada bagiannya yang dihilangkan atau yang harus oleh murid ini adalah merupakan pengertian yang kita minta dari murid. 6. Ciri-Ciri tes hasil belajar yang baik Terdapat empat ciri atau karakteristik yang harus dimiliki oleh tes hasil belajar, sehingga tes tersebut dapat dinyatakan sebagai tes yang baik, yaitu: a. Bersifat valid, kata valid dapat diartikan dengan tepat, benar, absah. Tes hasil belajar dikatakan valid apabila tes dapat mengungkap atau mengukur hasil-hasil belajar yang telah dicapai oleh peserta didik, setelah mereka menempuh proses belajar mengajar dalam jangka waktu tertentu. b. Bersifat reliabel atau memiliki reliabilitas, kata

reliabilitas sering diterjemahkan dengan keajegan atau kemantapan. Apabila tes dikaitkan dengan fungsi tes sebagai alat pengukur mengenai keberhasilan belajar peserta didik, maka sebuah tes hasil belajar dapat dinyatakan reliabel apabila hasil pengukuran yang dilakukan dengan menggunakan tes tersebut secara

berulangkali terhadap subyek yang sama, senantiasa menunjukkan hasil yang sama atau sifatnya ajeg dan stabil. c. Bersifat obyektif, tes hasil belajar dikatakan tes hasil belajar yang obyektif, apabila tes tersebut disusun dan dilaksanakan menurut apa adanya. Ditinjau dari materi tes maka istilah apa adanya itu mengandung pengertian bahwa materi tes bersumber dari bahan pelajaran yang telah diberikan sesuai dengan tujuan instruksional. Ditilik dari segi pemberian skor dan penentuan hasil tes istilah apa adanya itu mengandung pengertian bahwa pekerjaan koreksi, pemberian skor dan penentuan nilai terhindar dari unsur-unsur subyektivitas yang melekat pada penyusunan tes. d. Bersifat praktis dan ekonomis, bersifat praktis

mengandung pengertian bahwa tes hasil belajar dilaksanakan dengan mudah, karena tes itu bersifat sederhana dalam arti tidak memerlukanperalatan yang banyak atau peralatan yang sulit pengadaannya, lengkap dalam arti bahwa tes tersebut telah dilengkapi dengan kunci jawaban dan pedoman scoring serta penentuan nilainya. Bersifat ekonomis mengandung pengertian

bahwa tes hasil belajar tersebut tidak memakan waktu dan tidak memerlukan tenaga serta biaya yang banyak. Suatu tes agar dapat menjalankan fungsinya sebagaimana yang diharapkan, maka diperlukan ciri-ciri yang baik yang harus dimiliki oleh tes. Adapun ciri-ciri tes yang baik adalah sebagai berikut: a. Validitas b. Reliabilitas c. Tingkatan kesukaran d. Kemampuan diskriminasi. 7. Prinsip-Prinsip dasar penyusunan tes hasil belajar Ada beberapa prinsip dasar yang perlu diperhatikan di dalam menyusun tes hasil belajar agar tes tersebut benarbenar dapat mengukur tujuan pelajaran yang telah diajarkan, keterampilan atau mengukur yang kemampuan diharapkan dan atau siswa

siswa

setelah

menyelesaikan suatu unit pengajaran tertentu. a. Tes tersebut hendaknya dapat mengukur secara jelas hasil belajaryang telah ditetapkan sesuai dengan tujuan instruksional. b. Mengukur sample yang representatif dari hasil belajar dan bahan pelajaran yang telah diajarkan.

c. Mencakup bermacam-macam bentuk soal yang benarbenar cocok untuk mengukur hasil belajar yang diinginkan sesuai tujuan. d. Didesain sesuai dengan kegunaannya untuk

memperoleh hasil yang diinginkan. e. Dibuat seandal mungkin sehingga mudah

diinterpretasikan dengan baik. f. Digunakan untuk memperbaiki cara belajar siswa dan cara mengajar guru. 8. Langkah-langkah penyusunan tes Dalam menyusun tes diperlukan langkah-langkah yang sistematis sehingga dapat diperoleh tes efektif. Langkahlangkah tersebut sebagai berikut: a. Menentukan atau merumuskan tujuan tes Tes prestasi belajar dapat dibuat untuk bermacammacam tujuan. Karena perlu ditetapkan terlebih dahulu untuk tujuan apa tes yang disusun itu dipergunakan. b. Analisis kurikulum Analisis kurikulum untuk menetapkan isi bahan yang akan ditanyakan melalui tes dengan memperhatikan tujuan kurikuler, tujuan instruksional umum (TIU), serta pokok bahasan dan sub bahasan yang terdapat

dalam buku garis-garis besar program pengajaran (GBPP). c. Analisis buku pelajaran dan sumber belajar lainnya Tes yang akan disusun hendaknya mengenai seluruh materi dan pokok bahasan esensial yang telah ditetapkan. Pkok bahasan dan sub bahasan itu secara terinci terdapat dalam buku pelajaran. d. Menyusun kisi-kisi Kisi-kisi disusun dalam bentuk matriks yang memuat komponen-komponen tertentu.Adapun komponen-

komponen suatu kisi-kisi tes ditentukan oleh tujuan penulisan soal tersebut. Komponen tersebut antara lain jenis sekolah, program atau jurusan, mata pelajaran, kurikulum yang diacu, tujuan instruksional umum (TIU), pokok bahasan atau sub bahasan, bahan kelas, uraian materi, ranah kognitif atau aspek tingkah laku dan tujuan instruksional khusus (TIK) atau indikator, bentuk soal, tingkat kesukaran soal dan jumlah soal dan waktu yang diperlukan. e. Menulis TIK / indikator Penulisan TIK harus sesuai dengan ketentuan-ketentuan yang telah ditetapkan dalam kisi-kisi. f. Menulis soal

Soal-soal ditulis tidak boleh menyimpang dari TIK yang telah dirumuskan dalam kisi-kisi. Dalam bagian penulisan soal dapat dimasukkan beberapa kegiatan lain yaitu: 1. Review ( menelaah soal ) 2. Seleksi soal 3. Merakit soal g. Reproduksi tes terbatas Tes yang sudah jadi diperbanyak dalam jumlah yang cukup untuk tujuan uji coba. h. Uji coba Tes yang sudah diperbanyak diujicobakan pada sampel yang telah ditentukan. i. Analisis soal Tes yang telah diujicobakan dianalisis butir-butir soalnya.Melalui analisis soal dapat diketahui kualitas suatu butir soal.Kualitas soal dapat diketahui dengan melihat taraf kesukarannya, funsi pokok soal, fungsi pengecoh serta penyebaran pada pengecoh dalam kelompok total. j. Revisi soal Merevisi kembali apabila ada butir soal yang jelek. k. Menentukan soal-soal yang baik

Menetapkan butir-butir soal yang baik. l. Merakit soal menjadi tes Semua soal yang baik, kalau sudah banyak data yang terkumpul dan meliputi semua pokok bahasan serta aspek yang hendak diukur, dapat dirakit menjadi tes yang standar. Dalam pengembangan tes hasil belajar diperlukan langkah-langkah yang efektif sebagai berikut: a. Pengembangan spesifik tes b. Penulisan soal c. Penelaahan soal d. Perakitan soal ( untuk tujuan uji coba ) e. Uji coba tes f. Seleksi dan perakitan soal ( bentuk akhir ) g. Percetakan tes h. Administrasi tes bentuk akhir i. Penyusunan skala dan norma. 9. Penilaian dan hasil belajar Dalam kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan, penilaian hasil belajar harus mencakup beberapa aspek atau ranah yaitu ranah kognitif, afektif dan psikomotor. Menurut Bloom, ranah kognitif berhubungan memahami, erat dengan

kemampuan

menghafal,

mengaplikasi,

menganalisis , mensintesis dan mengevaluasi. Ranah psikomotorik adalah ranah yang berhubungan erat dengan aktivitas fisik. Sedangkan ranah afektif berhubungan erat dengan watak, perilaku seperti sikap, minat, konsep diri, nilai dan moral. B. Analisis butir soal Analisis butir soal merupakan pengkajian pertanyaan-

pertanyaan tes agar diperoleh perangkat pertanyaan yang memiliki kualitas yang memadai. Analisis butir soal bertujuan untuk memperoleh kualitas soal yang baik sehingga

memperoleh gambaran tentang prestasi siswa yang sebenarnya. Adapun cara melakukan analisis butir soal, yakni dengan analisis validitas , analisis reliabilitas, analisis tingkat kesukaran dan analisis daya pembeda. Adapun penjelasannya sebagai berikut: 1. Analisis validitas Kata validitas berasal dari kata validity yang mempunyai arti sejauh mana ketepatan dan kecermatan suatu alat ukur dalam melakukan fungsi ukurnya. Suatu tes atau instrumen pengukur dapat dikatakan mempunyai validitas tinggi apabila alat tersebut menjalankan fungsi ukurnya, atau memberikan hasil ukur yang sesuai dengan maksud pengukuran tersebut.

Dalam menentukan valid atau tidaknya tes hasil belajar dapat dilakukan dari dua segi yaitu dari segi validitas tes sebagai suatu totalitas dan validitas itemnya. a. Validitas tes sebagai suatu totalitas Validitas tes sebagai suatu totalitas dapat ditempuh dengan dua cara yaitu dengan analisis validitas rasional dan analisis empirik. 1) Analisis validitas rasional Analissi rasional dilakukan dengan jalan berfikir secara rasional atau menggunakan logika. Untuk menganalisis validitas rasional tersebut dapat dilakukan dari dua segi yaitu segi validitas isi (content validity)dan validitas konstruksi ( construck validity). 2) Analisis validitas empirik Analisis validitas empirik dilakukan dengan

mendasarkan pada kenyataan empiris,. Adapun untuk menganalisis validitas empirik tersebut dapat dilakukan dari dua segi yaitu dari segi ramalan (predictifvalidity) dan validitas bandingan ( concurrent validity). Dari uraian dua macam analisis validitas, yakni analissi validitas rasional yang ada dua macam, maka secara keseluruhan validitas tes dapat dikelompokkan menjadi empat macam yaitu: validitas isi (content validity),

validitas konstruksi

(construct validity), validitas

ramalan ( predictif validity) dan validitas bandingan (concurrent validity). Adapun penjelasan masing-masing validitas adalah sebagai berikut: (a) Validitas isi Validitas isi merupakan validitas yang berhububgab dengan representativitas sampel butir dari semua populasi butir. (b) Validitas konstruksi Validitas konstruksi merupakan perngujian validitas yang dilakukan dengan melihat kesesuaian

konstruksi butir dengan kisi-kisi. (c) Validitas ramalan Validitas ramalan merupakan pengujian validitas yang dilakukan dengan menggunakan kriteria eksternal dimana kriteria pembandingnya belum ada pada saat tes hasil belajar dikembangkan. Kriteria sebagai pembandingnya harus diramalkan dengan menggunakan skor hasil pengukuran tes hasil belajar. (d) Validitas bandingan

Validitas bandingan merupakan pengujian validitas dengan menggunakan kriteria eksternal dimana kriteria yang digunakan telah ada saat pengujian tes hasil belajar dilakukan. b. Validitas item atau butir soal Validitas butir soal adalah ketepatan mengukur yang dimiliki oleh butir item dalam mengukur apa yang seharusnya diukur melalui butir item tersebut. Sebuah butir soal atau item dikatakan memiliki validitas tinggi jika skor pada butir soal atau item mempunyai kesejajaran dengan skor total. Kesejajaran ini dapat diartikandengan korelasi. Adapun untuk skor soal bentuk obyektif untuk item diberikan 1 bagi item yang dijawab benar dan 0 bagi item yang dijawab salah, sedangkan skor total merupakan jumlah dari skor untuk semua item yang membangun soal tersebut. Untuk menghitung kesejajaran skor item dengan skor total tersebut yaitu dengan cara mengkorelasikan skor item atau butir soaldengan skor total dengan menggunakan rumus korelasi product moment sebagai berikut:

Keterangan : rXY = koefisien korelasi antara X dan Y X = skor butir soal Y = skor total N = jumlah subyek Dalam hal validitas butir, untuk kesejajaran atau korelasi perlu adanya interpretasi koefisien korelasi untik menunjukkan kesejajaran atau korelasi tersebut. Berikut interpretasi koefisien korelasi: Antara 0,00 sampai dengan 0,20 : sangat rendah Antara 0,20 sampai dengan 0,40 : rendah Antara 0,40 sampai dengan 0,70 : cukup Antara 0,70 sampai dengan 0,90 : tinggi Antara 0,90 sampai dengan 1,00 : sangat tinggi.

2. Analisis tingkat kesukaran Tingkat kesukaran adalah pengukuran seberapa besar derajat kesukaran suatu item atau test. Jika suatu item atau test memiliki tingkat kesukaran seimbang, maka test tersebut dapat dikatakan baik. Dengan kata lain suatu item atau test hendaknya tidak terlalu sukar dan tidak terlalu mudah. Dalam hal tingkat kesukaran, tingkat kesukaran dinyatakan oleh suatu indeks yang dinamakan indeks kesukaran dan disimbolkan oleh huruf P (Proporsi). suatu item sedemikian sukarnya sehingga tidak seorang siswa pun siswa menjawab dengan benar maka harga P akan sama dengan 0, sedangkan apabila suatu tesitem sedemikian mudahnyasehingga seluruh siswa menjawab dengabn benar maka harga P akan sama

dengan 1,. Jadi kisaran tinggat kesukaran antara 1 samapai dengan 0. Suatu tes yang baik harus mempunyai proporasi butir soal yang tingkat kesukarannya seimbang, artinya bedistribusi secara normal. Mengingat distribusi normal ini, maka dapat dijadikan pedoman bahwa proporsi tingkat kesukaran butir soal yang mudah, sedang dan sukar masing-masing adalah 27%, 46% dan 27%. Makinsukar dan makin mudah suatu butir soal hendaknya merupakan bagian yang sedikit jumlahnya. Untuk menghitung tingkat kesukaran soal dapat menggunakan rumus sebagai berikut:

Keterangan : P = indeks kesukaran B = banyaknya siswa yang menjawab soal dengan betul JS = jumlah seluruh peserta test. Tingkat kesukaran mempunyai rentang nilai, adapun untuk menentukan rentang nilai tingkat kesukaran dapat

dikategorikan dalam tiga kelompok. Berikut kategori tingkat kesukaran dalam tiga kelompok:

Tabel 1: kriteria tingkat kesukaran butir soal.

Rentang TK 0,00 - 0,32 0,33 0,66 0,67 1,00

kategori Sukar Sedang mudah

3. Analisis daya pembeda Daya pembeda adalah bagaimana kemampuan suatu soal untuk membedakan antara siswa yang termasuk kelompok siswa yang pandai dengan siswa-siswa yang termasuk kelompok kurang. Suatu aitem dikatakan memiliki daya diskriminasi tinggi haruslah dijawab dengan benar oleh semua atau sebagian kelompok tinggi dan tidak dapat dijawab dengan benar oleh semua siswa kelompok rendah atau sebagian besar siswa kelompok rendah. Angka yang menunjukkan besarnya daya pembeda disebut indeks diskriminasi, disingkat dengan D. Adapun untuk mementukan indeks diskriminasi (D) dapat dilakukan dengan membedakan kelompok kecil ( kurang dari 100) dan kelompok besar ( 100 orang keatas). Kelompk kecil, seluruh kelompok testee dibagi dua sama besar, 50% kelompok atas dan 50%

kelompok

bawah

kemudian

seluruh

kelompok

testee

dideretkan mulai skor teratas sampai terbawah, kemudian dibagi 2, kelompok besar hanya diambil kedua kutubnya, yaitu 27% skor teratas sebagai kelompok atas (JA) dan 27% skor terbawah sebagai kelompok bawah (JB). Untuk menghitung indeks diskriminasi tersebut dapat

menggunakan rumus sebagai berikut:

= PA - P Keterangan: J = jumlah peserta tes J = banyaknya peserta kelompok atas J = banyaknya peserta kelompok bawah B = banyaknya peserta kelompok atas yang menjawab soal itu dengan benar B = banyaknya peserta kelompok bawah yang menjawab soal itu dengan benar P = proporsi peserta kelompok atas yang menjawab benar P = proporsi peserta kelompok bawah yang menjawab benar

Dalam hal daya pembeda, indeks diskriminasi yang ideal adalah yang sebesar mungkin mendekati agka 1, semakin besar indeks diskriminasi ( mendekati angka 1) berarti item tersebut semakin mampu membedakan antara mereka yang menguasai bahan yang diujikan dan mereka yang tidak.. semakin kecil indeks ( mendekati 0) berarti semakin tidak jelaslah fungsi

item yang bersangkutan dalam membedakan mana subyek yang menguasai bahan pelajaran dan subyek yang tidak tahu apa-apa. Daya pembeda atau indeks diskriminasi dapat diklasifikasikan sebagai berikut: Tabel 2: kriteria daya pembeda butir soal. Besarnya Angka indeks Diskriminasi item (D) Kasifikasi interpretasi

Kurang dari 0,20

Poor

0,20-0,40

Satisfactory

Butir item daya pembedanya lemah sekali (jelek), dianggap tidak memiliki daya pembeda yang baik

0,40-0,70

Good

Butir item telah memiliki daya pembeda yang cukup ( sedang) Butir item telah memilki daya pembeda yang baik Butir item telah memiliki daya pembeda yang baik sekali

0,70-1,00

Excellent

Bertanda negatif

Butir item daya pembedanya negatif ( jelek sekali)

4. Analisis reliabilitas

Reliabilitas adalah ketepatan atau konsistensi dari nilai yang diperoleh sekelompok individu dalam kesempatan yang berbeda dengan tes yang sama ataupun itemnya yang ekuivalen. Reliabilitas dapat diartika dengan keterandalan. Artinya suatu tes memiliki keterandalan apabila tes tersebut dapat dipakai mengukur berulang-ulang hasilnya sama. Dengan demikian reliabilitas dapat juga diartikan keajegan atau stabilitas. Reliabilitas diartikan keajegan apabila tes tersebut diujikan berkali-kali hasilnya relatif sama, artinya setelah tes pertama dengan tes berikutnya dikorelasikan terdapat korelasi

signifikan. Metode dalam menguji reliabilitas tersebut secara garis besar dapat dikelompokkan menjadi dua kelompok berdasarkan perbedaan dalam mendefinisikan reliabilitas. a. Reliablitas adalah kesetabilan hasil pengukuran apabila tes hasil belajar (THB) diujikan beberapa kalai ( stabilitas eksternal ). Reliablitas sebagai stabilitas eksternal

memandang bahwa THB dikatakan reliabel apabila diujikan beberapa kali akan memberikan hasil pengukuran yang relatif konsisten. Metode yang tegolong dalam kelompok ini dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jumlah butirnya.

b. Reliabilitas

merupakan

konsistensi

internal

hasil

pengukuran butir-butir THB. Reliabilitas sebagai konsistensi internal memandang bahwa THB dikatakan reliabel apabila diantara butir-butir THB memberikan hasil pengukuran yang konsisten. Metode yang tergolong dalam kelompok ini dapat dibagi menjadi dua berdasarkan jumlah butirnya. Apabila jumlah butirnya genap maka dapat menggunakan metode belah dua, flanagan dan rulon, apabila jumlah butir soalnya ganjil maka metode yang dapat digunakan adalah metode Kuder-Richardson, hoyt dan Alpha Cronbach.