You are on page 1of 403

(Primary Survey

)
A : airway  control servikal - Kelancaran jalan napas - Obstruksi jalan napas : Breathing  ventilasi Fungsi paru : dinding dada dan diafragma : Circulation  kontrol perdarahan - Tingkat kesadaran - Warna kulit - Nadi

PS

B C

D

: Disability  evaluasi neurologis A : Alert (sadar) V : respons terhadap rangsangan vokal (suara) P : respons terhadap rangsangan nyeri (pain) U : unresponsive (tidak ada respons) E : Exposure  kontrol lingkungan - Daerah / regio terjadinya luka - Buka pakaian penderita - Perhatikan suhu tubuh penderita

1

Secondary Survey
head to toe examination re evaluasi px tanda vital pemeriksaan neurologis lengkap scor GCS foto rontgen

A. Anamnesis A : alergi M : medikasi sebelumnya P : past illness (peny penyerta) L : last meal E : event / environment (lingkungan yang berhubungan dengan kejadian perlukaan) B. Pemeriksaan fisik - Kepala - Maxillo facial - Vertebra servikal dan leher - Thoraks - Abdomen - Perineum - Muskuloskeletal - Neurologis 2

Status Urologi CVA : bulging NT CVA Balotement Suprapubik : NT Massa MUE : Darah Lendir Perineum : laserasi Rectal Toucher (RT) : Sfingter cekat / longgar Mukosa licin Ampula terisi feses / kosong Nyeri tekan +/Massa +/Prostat kesan membesar

Sarung tangan (ST) : - Darah +/- Feses +/- Lendir +/-

Glasgow Coma Scale (GCS) : - Respons Buka Mata (eye opening) (E) 4 : spontan 3 : terhadap suara 3

2 1

: terhadap nyeri : tidak ada respons

- Respons motorik (M) 6 : ikut perintah 5 : melokalisir nyeri 4 : fleksi normal menarik anggota yang dirangsang nyeri 3 : fleksi abnormal (dekortikasi) 2 : ekstensi abnormal (deserebrasi) 1 : tidak ada (flaksid) - Respons verbal (V) 5 : berorientasi baik 4 : bicara mengacau (bingung) 3 : kata-kata tidak teratur 2 : suara tidak jelas 1 : tidak ada GCS 14 – 15  CKR 9 – 13  CKS 3–8  CKB Resep Hecting
R/ Lidocain inj amp Aquades pro inj ATS Profilaksis Dispo 1 cc Dispo 3 cc Dispo 5 cc Dispo 10 cc Sol NaCl fl

No. No. No. No. No. No. No. No.

I II II I I I I I

4

i.m.m

Resep Luka Lecet tidak perlu dijahit :
R/ Sol NaCl fl Daryan tule sachet Gaas steril kotak Amoksisilin tab Asam mefenamat tab i.m.m No. I No. I No. I No. XV No. X

Resep Fraktur Clavikula
R/ Elastic verband G “ Sofban G“ Verband roll 4” Kaltrofen supp i. m.m No. No. No. No. II

Resep Kateter : R/ Kateter folley Urine bag Dispo 10 cc Aqua pro inj Xylocain jelly tube Handscoen steril no. 7 i.m.m Resep IVFD R/ Blood ad set 5

No. I No. I No. I No. I No. I No. I

No. I

Sol Asering 5% fl Abbocath dws 16/18 anak 20 bayi 22 i.m.m Paling besar : 14

No. I No. I

Resep ATS R/ ATS Profilaksis inj amp No. I Aqua pro inj No. I Dispo 1 cc No. I Dispo 3 cc No. I i.m.m Terapi tetanus • ATS terapeutik : 20.000 IU/hr (5 hr) • ATS profilaksis : dws : 1500 IU  pasif (pasif) anak : 750 IU (aktif) : 0,5 cc 3 bulan berturutturut Tetagam : 250 IU Cara skin test : Perbandingan 1 : 10 - tarik 0,1 ml ATS + 0,9 aquadest - Suntik intracutan ± 0,03 sampai menggembung di volar lengan bawah ATS Pro : 1 amp ATS IM lengan atas Tanda alergi : merah, bengkak, gatal.

6

Terapi Rabies : 1. Suntik ATS 1 amp IM (pakai dispo 3 cc). Skin test 0,1 cc, pengenceran 1 : 10 2. Setelah 2 minggu : lihat apakah anjing mati / tidak. Kalau mati : potong kepalanya untuk diperiksa. Kalau (+) : suntik Verorab I. Verorab : lengan kiri dan kanan 7 hr 1 amp 1 amp II. Verorab 1 amp 28 hr soluent/ III. Verorab 1 amp diluen Protap CKS / CKB
- Sol Asering 5 fl No. II - Acran inj amp No. I (Ranitidin 25 mg/ml) - Antrain inj amp No. I (Metamizole Na 500mg (analgetik)) - Ergotika inj amp No. I (Digoksin oxilat 0,3 mg) (neurotropik) - Na phenitoin inj amp No. I (anti kejang) - Dispo 3 cc

Jika kejang  Diazepam IV Suhu rectal ≥ 380C  Xylomidon + Delladryl IM  2:1 Anak  1 : ½ 7

Xilodela Jika muntah  Ondansentron Sedantron

CTB dan Medula Spinalis Kunci menentukan titik sensasi sensorik 1. C5 area diatas deltoid 2. C6 jempol 3. C7 jari tangan tengah 4. C8 kelingking 5. T4 papila mamae 6. T8 ksifis sternum 7. T10 umbilikus 8. T12 simfisis 9. L4 bagian medial betis 10. L5 ruang antara jari kaki I dan II 11. S1 batas lateral pedis 12. S3 daerah tuberositas iskhii 13. S4 dan S5 daerah perianal

8

Adequat blood supply . Facialis : Temporalis Zigomatikus Bucalis Mandibularis 9 .Gentleness . A. 4. A. A.Carefull approximation . 3. A.Asepsis .Dalam menutup luka perlu diikuti prinsip Halsted. a. 2.No tension .Hemostasis .Obliteration of dead space Miotom – otot-otot yang penting C5 deltoid C6 ekstensor pergelangan C7 ekstensor siku / triceps C8 fleksor jari 5 sampai 3 T1 abduktor jari 5 (kelingking) L2 fleksor panggul L3 ekstensor lutut L4 dorsofleksi pergelangan kaki L5 ekstensor jari kaki II S1 fleksi pergelangan kaki Periksa suhu badan paling bagus di esofagus menggunakan alat : cord temperature Cabang 1. yaitu : .

Lokalisasi nyeri / port d’entri 5 .Masa inkubasi 5 .Faktor yang memberatkan 10 .tidak ada 8 .< 48 jam 16 4 . kepala.tidak diketahui .Imunisasi 10 .internal / umbilikal 4 .> 14 hari utk menilai grade - Ringan : <9 Sedang : 9 Berat : > .mungkin ada / ibu mendapat 4 .2 – 5 hari 16 3 .leher. A. dinding tubuh 3 .11 – 14 hari 1 .proteksi lengkap .> 10 tahun yang lalu 2 .ekstremitas proksimal 2 .< 10 tahun 0 .ekstremitas distal 1 . Cervikalis PHILLIPS SCORE tetanus .6 – 10 hari 2 .5.

10 jiwa 8421- penyakit / trauma yg membahayakan kead yg tdk lgs membahayakan jiwa kead yg tidak membahayakan jiwa trauma / penyakit ringan ASA – derajat status fisik penderita VISUM ET REPERTUM PRO JUSTICIA Pada hari ini minggu tanggal enam maret dua ribu lima pukul tujuh lewat lima menit waktu Indonesia bagian tengah telah dilakukan pemeriksaan terhadap titik dua nama Deni Malik umur dua puluh tahun jenis kelamin laki-laki alamat malalayang satu lingkungan dua pekerjaan anggota POLRI titik dengan hasil pemeriksaan titik dua pada daerah kepala bagian belakang ditemukan luka memar ukuran dua sentimeter kali satu sentimeter dan daerah tangan kiri bawah ditemukan luka gores ukuran sepuluh sentimeter kali satu sentimeter titik Demikian visum ini dibuat untuk dipergunakan semestinya titik Mengetahui Dokter jaga 11 .

…………… Contoh laporan operasi : 1.Operasi selesai WDx : Ruptur tendon ekstensor digiti II manus Dekstra Dislokasi terbuka interpalang prox digiti manus dekstra imm uc = = in manus medicus Diberikan di tangan dokter usus cognitus 12 .Lap operasi dipersempit dengan doek steril 3.Luka operasi ditutup lapis demi lapis 8.9% …… / sampai bersih 7.Dilakukan pemasangan back slab 9.Dilakukan pencucian luka dengan NaCl 0.Dr.Tindakan aseptic dan antiseptic daerah 2.Dilakukan debridemant dan nekrotomi jaringan yang mati 5.Dilakukan penyambungan tendon ekstensor digiti I manus dekstra secara modified kessler 6.Dilakukan anestesi block pada palang proksimal digiti II manus dekstra 4.

traumatikum V. Caesum (luka potong) V. punctum (luka tusuk) V. laceratum (luka robek) tepi luka tidak rata V.ue = pemakaian sudah diketahui usus externus (pemakaian luar) JENIS – JENIS LUKA Vulnus contussum (luka memar) V. excorlatio (luka lecet) V. Morsum (luka gigitan binatang) Log Roll Position Yang komando di kepala I tangan I di bahu II di bokong II tangan I masuk di tangan I orang I Tangan II di paha Tujuan : mencegah terjadinya fraktur servikal dan vertebral. 13 . penetrans (bila mengenai abdomen dan thoraks) V. scissum / incisivum (luka sayat) tepi luka tajam dan licin V. Scloperosum (luka tembak) V.

tidak boleh kelihatan.Prinsip penanganan kalau ada avuisi dan bone expose : tulang harus ditutup. Hematoma : perdarahan di bawah kulit Contusio : luka memar Abrasio : kerusakan hanya terjadi pada lapisan superfisial kulit Avulsi : sebagian jaringan lepas Decleving : sebagian jaringan terangkat Bone expose : tulang kelihatan Diastase : luka menganga (tepi saling melebar) Proses penyembuhan luka : • Fase inflamasi : sampai 5 hari • Fase proliferasi : sampai akhir mgg ke 3 • Fase penyudahan : berbulan Perawatan luka paling baik dikerjakan dalam 68 jam sesudah terjadi kejadian (GOLDEN PERIODE) 14 .

Tentu saja cara ini memakan waktu lebih lama. yang terjadi pada luka terbuka atau tidak dijahit. Sanatio per secundam intentionem atau penyembuhan sekunder. lebih-lebih kalau lukanya menganga lebar. 3. atau bila luka segera dipertautkan dengan bantuan jahitan. Sanatio per priman intentionem atau penyembuhan primer. Pada luka-luka tersebut diperkirakan akan terjadi infeksi kalau langsung dijahit. Proses berjalan secara alami melalui pembentukan jaringan granulasi kemudian ditutup dengan epitel. 2. Cara penyembuhan ini terjadi pada luka insisi tanpa gap.KLASIFIKASI PENYEMBUHAN LUKA Penyembuhan luka dapat berlangsung secara: 1. Parut yang terjadi biasanya minimal / kecil dan halus. Merupakan penyembuhan luka tanpa pertolongan dari luar. Penyembuhan primer tertunda Pada luka-luka yang sangat kotor / terkontaminasi berat atau luka compang camping atau pada luka tembak. 15 . dan meniggalkan parut yang tidak baik / jelek.

Sesudah 4 – 7 hari jika tidak terjadi infeksi baru dilakukan penjahitan. saraf.Dalam hal ini luka itu setelah dilakukan pembersihan sesuai dengan penanganan luka. tetap dibiarkan terbuka tidak dijahit.Kalau perlu pemasangan penyalir (drain) Sama seperti penyembuhan luka maka penutupan luka juga dikenal : 16 . pembuluh darah . Secara berurutan pada luka sbb : - tindakan Anestesi local atau umum Pembilasan luka Sterilisasi kulit sekitar luka Luka dikelilingi dengan kain steril Pembersihan luka (debrideman) : o Kotoran o Benda asing o Eksisi jaringan mati o Eksisi pinggir luka .Kalau perlu : Ekplorasi  kerusakan tendon.Luka : o Ditutup  penyembuhan primer o Biarkan terbuka  penyembuhan primer tertunda .Hemostasis yang baik .

Primary Suturing : penjahitan primer. dengan indikasi sama sepert yang ditemukan dalam penyembuhan luka primer tertunda Perbedaan antara hipertrofik : keloid dan parut 17 .Delayed primary suturing : penjahitan primer tertunda dimana sesudah debrideman. dimana luka sesudah debrideman langsung dijahit / ditutup. setelah 4-7 hari kalau tidak ada tandatanda infeksi baru dijahit.. untuk mencapai penyembuhan primer . luka dibiarkan terbuka.

waktu beberapa setelah minggu beberapa bulan. Dapat timbul di pipi. atau satu-dua minggu Invasi Meluas ke Terbatas pada daerah bekas kerusakan kerusakan epitel Penyembuh Tidak ada Hilang sendiri an regresi Predileksi Sternum.Parut Hipertrofik Permulaan Mungkin timbul TImbul dalam kemudian. bahu. mana pun pinggang Ras / Terutama ras Lebih banyak bangsa kulit gelap atau pada bangsa hitam kulit putih Luka bakar Mungkin Sering Gatal Jarang hebat Biasanya sangat menganggu Keloid SUTURE MATERIAL. TECHNIQUES & KNOTZ 18 . telinga.

Serafit® -silk/seide .seracor ® (polyester) (sutra) (Polyglycolic acid) -chromik -nylon -novafil Penyerapan catgut  dilakukan secara enzim Polymersyntetic  secara hidrolisis Wkt penyerapan penyerapan total (half life) time) Chromic 15-20 hr hr Plain catgut 6-8 hr Dexon 15-20 hr hr Benang monofilament multifilament wkt (disolution 60 30 hr 90-100 Benang 19 .Dexon -seralon® -terylene® polyamide) .Benang jahit Absorbable Synthetic Mono multi filament filament Nonabsorbable synthetic natural mono natural mono multi mono multi -plain cat gut multi .

Terbuat dari bahan polymer synthetic.atraumatik .Suatu bahan benang operasi steril yang tidak dapat diserap oleh jaringan hidup mamalia.tidak punya kapiler tinggi .sukar buat simpul simpul . . SUTURE Surgical silk Nylon (ethylon) COMPOSITION silkworms spun polyamide polymer 20 .traumatic aman/mudah capillarity buat relative Absorbable suture .. SUTURE COMPOSITION Surgical Gut submukosa (sheep intestine) Dexon poly-glycolic acid Vicryl co-polymer of glycolide Polydioxanone (PDS) polyester of p-dioxane Non absorbable suture .Suatu bahan benang operasi steril yang terbuat dari derivat kolagen dari mamalia yang sehat. yang dapat diserap oleh jaringan mamalia hidup.

Polypropylene (Prolene)polymer of propylene Ethibond polyesther fibers Surgical stainless steel iron. nickel. crom Pengenceran Lidocain 2%: 1 amp Lidocain 2% = 2 ml (2 cc) 1 ml = 20 mg Jadi 2 ml = 40 mg ½ amp = 1 cc = 20 mg Lidocain 1cc 2 cc : Aquadest 4 cc (dispo 5 cc) 8 cc (dispo 10 cc) Toksis lidocain : 500 mg (± 12 amp) Dosis aman : 10 amp Dosis max lidocain murni : 200 mg (30-60 mnt) Lidocain adrenalin : 500 mg (120-360 mnt) Hitung cairan infus : 500 cc = 1 fl Bila 500 cc dalam 24 jam  7 X 1= 7 tetes Bila 1000 cc dalam 24 jam  7 x 2 = 14 tetes 21 .

sehingga ujung jarum langsung dihubungkan dengan benang. Disebut traumatis karena pada bagian ujung / yang bermata ukuran penampang lebih besar dari bagian ujung yang tajam sehingga akan menimbulkan bekas luka yang lebih besar. Ukuran penampang jarum hampir sama besar dengan ukuran benangnya Kerugian : 22 .• • • • Sterilisasi : tindakan untuk membuat suatu alat / bahan menjadi bebas hama Asepsis : keadaan bebas hama / bakteri Antisepsis : tindakan untuk membebashamakan suatu bahan. alat ataupun ruangan terhadap bakteri/kuman patogen untuk mencegah sepsis Sepsis : suatu keadaan masuknya bakteri ke dalam aliran darah Jarum : • Traumatis : jarum punya “ mata” untuk memasukkan benang di bagian ujung yang tumpul. Keuntungan : Dapat dipakai berulang kali Harga lebih murah • Atraumatis : jarum yang tidak bermata.

Dipakai untuk jahit jaringan lunak.Cutting : jarum yang penampangnya berbentuk segitiga/pipih dan tajam sehingga ketika dipakai dapat menyanyat jaringan dan menimbulkan lubang yang lebih besar.Hanya bisa dipakai sampai benang habis Harganya jauh lebih mahal Jarum menurut bentuk dan penampang : .Non cutting/tappered/rounded : jarum yang penampangnya bulat dan ujungnya saja yang tajam sehingga tidak menimbulkan sayatan yang lebar. Dipakai untuk jahit kulit dan tendon (merupakan jaringan yang sangat liat). fasia dan otot. . 23 .

Reverse cutting .JARUM Eye .Conventional cutting .Swaged Body (1/2) .Vertical  Round  Triangle  Flat side Point .Non swaged .Blunt 24 .Spatulla .Longitudinal  traight  Curve • Full • Half (1/4) .

Surgeon’s knot 25 .SIMPUL Tekhik simpul : 1. Reef knot 2.

Deep tying Slip knot ujung bulat ujung pipih : Novafil 4-0 / 5-0 seidu 2-0 catgut 3-0 Jarum otot : Jarum kulit : Jahit kulit wajah Jahit kulit luar : Jahit dalam otot: Indikasi : RK : setiap waktu bila tidak ada regangan SK : dipakai kalau ada regangan DT & SK : untuk penyimpulan dalam Cabut benang (tidak boleh terlambat) • Wajah : ± 4-5 hr • Badan : ± 7-10 hr • Kaki/tangan : ± 14 hr Teknik incisi dan penjahitan pada kulit Incisi : Linier Elips Jahitan : Interrupted Continous Matrass : vertikal  kalau luka besar Horisontal  kalau …… Subcuticular 26 .3. 4.

Benang cargut / Novafil warna bening  diserap Novafil biru tidak diserap  non traumatik. 27 .Benang seide warna hitam  tidak diserap tubuh  jadi jahitan harus dibuka.

Cabut Benang 28 .

Xylocain gel .Urine bag .Aqua pro inj .Pasang Kateter Prinsip : memasukkan perlahan-lahan Indikasi : .Folley kateter .Perlu kontrol urine (syok) Alat dan bahan : .Dekompresi buli-buli .Pada pasien retensi urin .Gaas steril .Betadine 29 .Dispo 10 cc Teknik : asepsis dan antisepsis .Handsoen steril .Kateter logam .

Desinfeksi OUE. glands . tarik pelan-pelan sampai terasa ada tahanan .Dokter di kanan penderita .Masukkan cairan aqua pro ing 10 cc. jangan paksa  bisa jadi stricture uretra 30 .Hubungkan dengan urine bag .Lebih mudah pada penderita perempuan o/k ureter lebih pendek . dorong pelanpelan kateternya .Bila tidak bisa masuk.Fiksasi Tanda - kateter sudah masuk : Keluar urine Selang sudah tidak keluar lagi Tanyakan pada penderita terasa sakit apakah Pasang kateter : . lutut fleksi . dorong kuat-kuat sampai gel masuk ke ureter .Pada penis insersi tegak lurus.Masukkan Xylocain.Pasien terlentang.Cara : .

33 mm 30 Fr = 10 mm • Bahan Kateter: • Karet / lateks (Siliconized) • Plastik • Poli Uretan • Silikon • Logam 31 .• Kateter : • Pipa berlobang • Desain khusus • Keperluan Medis • Ukuran Kateter : • Diameter luar • Satuan: French (Fr) = Cherriere (CH) 1 Fr = 0.

Macam Macam Kateter Kateterisasi Kateterisasi : Memasukkan kateter lewat urethra 32 .

Informasi lengkap dan Informed consent 2. Spalk urethra Indikasi kontra : Radang akut urethra Persiapan Kateterisasi : 1. Instilasi ke dalam buli-buli 7.Pakai sarung tangan 4. Retentio urine 2. Buli-buli neuropathy 5. Monitoring ketat produksi urin 3.Indikasi kateterisasi : 1.Desinfeksi 33 .Cuci tangan hingga bersih Teknik Kateterisasi : 1. Urine sampling 6. Operasi urethra / bladder outlet 4.Baringkan penderita 2.Operator di sebelah kiri 3.Antibiotika profilaksis 3.Siapkan alat yang diperlukan 4.

5.Pegang glans penis dan luruskan 7.Pasang doek lubang 6. penderita relaks  Tarik nafas panjang / menelan  Tanda masuk buli-buli 34 .Masukkan kateter (16 Fr / 18 Fr)  Secara gentle.

keruh.  Tarik nafas dalam. isi balon. 35 .  Dorong dengan gentle.  Sampai diafragma UG. relaks. merah. Pegang kateter (16 Fr / 18 Fr) seperti pegang pencil.8.  Masukkan meatus. volume total (catat).  Untuk dauer kateter. dorong lagi.  Tanda kateter masuk buli-buli.  Perhatikan: Jernih.

11. Pasang Infus Indikasi : .Masuk tibia  cortex  intramedula 36 . Hubungkan dengan urine bag. sephalika .V. basilica Pada V. perifer tangan : . Colok dubur. Fiksasi. Saphena magna .V. 10. Saphena parfa Intra osseus (pada anak-anak) : 2 jari dibawah tibia . sample urin ke lab. perifer kaki : .Syok .V.9.V.Akses untuk obat Pada V.

Kapas alkohol .Gaas betadine .Desinfeksi tempat tusuk dengan betadine dari tengah ke tepi .Fiksasi dengan plester 37 .Bendung vena .Hubungkan dengan selang infus .Set tetes cairan .Plester untuk fiksasi Cara pasang : .Cairan .Tusuk sampai tembus intra lumen (darah tembus ke trokard) . .Masuk cairan langsung guyur supaya vena-vena langsung mengembang Alat dan bahan : ..Blood ad set .Tarik trokard..Abbocath no. tinggal kanul . .Jarum harus masuk intramedula .Trokard (besi) dan canul (plastik) .Identifikasi vena ..Kanul .Taruh gaas betadine .

Mencegah regurgitasi Kontraindikasi : Fraktus basis kranii  bisa tembus sampai belakang 38 .Paling bagus pasang infus di v. Sentral oleh karena : Flebitis kurang (tekanan hemostasis kurang/ kecil) NGT Indikasi : Dekompresi lambung (OPL) 1.Nutrisi 2.

Keluar cairan lambung 3.Tidak tersedak (bila tersedak berarti masuk trakea) 2.Salep direndam .Alat : .Dispo  angin terdengar di epigastrium Indikasi cabut : . flatus (+) o Tidak kembung Cara : 39 .Handscoen . Digestivus yang proc Tanda sudah masuk : 1.NGT : FR 3. membuka jalan tr.Jika sudah bisa makan / minum oral .5 (paling kecil) .Doek . mulut ditutup  epiglotis menutup trakea.Obst ileus tidak ada lagi (cairan lambung/hari : 1500) o peristaltik (+).Dispo 10 cc Teknik : Patokan dari glabela  proc Xyphoideus Dari temporalis – dorsum nasal – xyphoideus Tahan nafas.

. Dx : .Disuruh menelan / tahan nafas sehingga epiglotis menekan trakea dan saat NGT masuk ke esofagus .hijau  ileus obs .Masukkan ke esofagus .ukur dr glabela ke proc xyphoideus sampai angka 2 .Hitam  peptic ulcer VENA SEKSI Definisi : 40 .Jangan buka mulut karena akan masuk ke mulut Jika ada obs usus  lambung jadi besar  bahaya karena menyebabkan susah bernapas.Merah (darah)  luka tikam .

V.V.Pada bayi Lokasi : Vena superfisial terutama Tersering pada : .Penderitanya gemuk yang mana vena terbenam dalam kulit dan lemak .V. sebelah ventrokranial maleolus medialis tibia . dehidrasi berat) .V.V. Temporalis 41 . atau : .Keadaan vena punksi gagal dilakukan pada keadaan dimana vena kolaps (pada syok. Kubiti . Indikasi : Untuk memasukkan cairan langsung ke dalam vena untuk waktu yang lama.V.Bila vena telah habis dipakai untuk vena punksi .Vena-vena di dorsal tangan . pada bagian volar tangan atas . presyok. Jugularis . Sefalika. Femoralis (terutama untuk hemodialisa) . Safena magna.Suatu tindakan mencari vena di dalam jarignan bawah kulit dengan membuat sayatan dan diseksi jaringan disekitar vena yang dicari.

Jarum jahit untuk kulit 42 .3 dan mata pisau untuk kulit .Nald voeder .Pinset chirurgis .gagang pisau no.Gunting benang .Gunting diseksi .Instrumen : .Pinset anatomis .klem bengkok dan lurus .

000. Lakukan tindakan asepsis dan antisepsis pada daerah tindakan 3.Bahan - : Sarung tangan Kasa steril Doek berlubang steril Dispo Cairan antiseptik Benang plain catgut no. masing-masing diklem dengan klem lurus. Selanjutnya tarik dan angkat benang di sebelah distal. Satu ditarik ke proksimal. Bebaskan vena dari jaringan sekitar. Lakukan tindakan anastesi 5. Identifikasi vena  vena tampak keputihan seperti tali dengan warna biru di tengah. vena dicari secara tumpul. Lakukan insisi kulit diatas vena melintang dengan sumbu panjang vena. 6. Zeide 00 Lidocain Teknik vena seksi : 1. Pilih vena yang akan diseksi 2. Pasang doek berlubang 4. tusukkan 43 . Insisi diperdalam hingga lemak subkutan. satu kedistal. lalu diluksasi keluar dengan klem bengkok 7. Masukkan 2 lembar benang plain catgut di bawah vena. Dengan klem bengkok.

Luka ditutup dengan kasa steril yang telah diberi antiseptik (Betadine) 44 . 9. fiksasi abbocath pada kulit 11. 10.jarum (jika mungkin abbocath) yang sesuai pada vena. periksa apakah berjalan lancar. Benang disebelah distal disimpul 3x pada vena. benang di proksimal disimpul kendor mengikat vena yang berisi abbocath. Kulit dijahit dengan zeide dengan jahitan longgar 12. Jarum/abbocath dihubungkan ke set infus. 8.

Komplikasi vena seksi : .Perforasi dinding belakang vena .Robekan saraf .Pungsi suprapubik . batu uretra.Sistotomi terbuka 45 .Hematom .Sistotomi trokar .Neurogenik bladder Macam-macam drainage urin supra pubik : .Robekan arteri DRAINASE SUPRA PUBIK Indikasi : .Flebitis .Selulitis .Penderita dengan retensi urin (strikture uretra. BPH yang besar) .Trombose pembuluh .

Kateterisasi per urethram gagal 2.Indikasi Sistostomi : 1. pelipatan paha kanan dan kiri didesinfeksi dengan larutan betadine 2-3 kali.Kulit perut bawah sampai dasar penis. Diversi urin 3. . Pemeriksaan Urodinamik Kontra Indikasi (relative) : Pernah operasi perut bagian bawah SISTOTOMI TERBUKA . .Lapangan operasi dipersempit dengan doek steril . Kadang diperlukan tambahan pengangkat sakrum (menambah beberapa bantal di bawah sakrum atau seluruh tungkai diletakkan lebih rendah) terutama dalam hal diperlukan kemudahan mencapai ruangan (rongga) retropubik.Penderita diletakkan dengan posisi terlentang biasa.Dilakukan penyuntikan anastesi lokal 46 .

Buli-buli dikenal karena banyak pembuluh darah vena yang berjalan sebagian besar vertikal. yaitu irisan transversal menurut Cherney. .Dinding buli-buli disanggah oleh 2 buah jahitan yang diletakkan di sisi kiri dan kanan dinding buli-buli sebelah depan (dapat pula digunakan klem dari Allis).Irisan yang digunakan disini adalah di garis median tegak lurus keatas sampai dibawah pusat. Kedudukan ini dipertahankan dengan meletakkan kasa basah diatasnya dan menarik keatas (pakai refrakter). Luka buli- 47 .Irisan ini dimulai dari kulit yang diperdalam terus-menerus sampai lapisan subkutan.Setelah dilakukan eksplorasi dan buli-buli dimasukkan kateter uk 20-24. . dinamakan : linea alba . lipatan peritoneum sudah terdorong keatas. Bila ternyata air seni punksi tadi dan selanjutnya diperlebar dengan menggunakan klem dari pean.Dilakukan penyisihan lipatan peritoneum diatas buli-buli keatas. . Bila buli-buli penuh.Untuk meyakinkan dapat dilakukan punksi buli-buli.. Disamping ini masih ada bentuk irisan yang lain. fascia dari musc rektus yang digaris tengah. . .

kulit dengan sutra. maka selain balon kateter dikembangkan. .Luka operasi ditutup / dijahit lapis demi lapis otot dengan catgut chromic. lemak dengan cargut plain. juga dilakukan penjahitan fiksasi kateter dengan kulit.Bila diperlukan diversi suprapubik untuk jangka waktu lama.Untuk mencegah terlepasnya kateter. maka dinding buli-buli digantungkan di dinding perut dengan jalan menjahit dinding buli-buli pada otot rektus kanan dan kiri . . fascia dengan catgut chromis.buli ditutup kembali dengan melakukan 1 lapis jahitan benang Chrom cat gut 0. 48 .

Mengembangkan paru-paru yang kolaps .WSD (Water Seal Drainage / Penyakit Sekat Air) Fungsi : .paru-paru sudah mengembang  lihat dari foto 49 .Mengeluarkan udara .Mengeluarkan darah / cairan WSD dicabut apabila : .

Pada hemotórax : ICS V linea mid axiallis anterior (setinggi puting susu) 50 .Stem fremitus kiri = kanan . Lokasi pemasangan WSD : .Suara pernapasan kiri = kanan ..Sonor kiri = kanan WSD dicabut pada saat : Tekanan intra toraks (+) Yaitu : penderita disuruh inspirasi dalam lalu kemudian tahan.Sudah tidak produksi Ada perbaikan secara klinis : .Pada penumotoraks : biasanya pada ICS II linea mid clavicula .Hemotoraks sudah minimal  sudah tidak sesak / WSD sudah tidak produksi .Pneumotoraks sudah minimal  sudah tidak sesak .

.Sumbatan dalam bekuan darah pada drain .Darah inisial .Yang perlu diperhatikan : tanda WSD berfungsi : . cc  Torakotomi : awalnya keluar 1500cc/200cc perjam dalam 24 jam.Ada bekuan diantara drain/sambungan drain 51 .Undulasi  gerakan cairan dalam drain / selang yang mengikuti irama pernapasan .Buble  gelembung-gelembung udara .Tube terlipat dalam rongga dada .Fogging  berembun / berkabut di selang Sebab kegagalan WSD : .Dapat terjepit diantara ke-2 costa . .Produksi / jam  3 jam I cairan kekuningan / kental ..

Tidak dikoreksi cairan  terlalu banyak  cup tenggelam.5 0-6 bulan Bayi Prasekolah Remaja 3-6 12 16 35 180160 160 120 100 Colok Dubur (RT) 52 . Selang WSD : chest tube No. 38 French Bila tidak ada gunakan : selang NGT / rectal tube FUNGSI-FUNGSI VITAL Kelompo k umur BB HR / (kg) menit TD mmH g 60-80 80 120 100 RR x/m nt 60 40 90 20 Produksi urine ml/kgBB/ja m 2 15 1 0..

Prostate 3. Kavum douglasi E. Orientasi pada serviks uterus 1. Serviks uterus 2. B. Vagina 4. Sakrum 4. Sacrum 5. Buli-buli 6. Rektosigmoid 5. Letak miring : adakah eksoriasi. hemoroid Pendekatan salah : sfingter akan berkontraksi Pendekatan benar : dengan tekanan ringan sfingter akan mengendur & memungkinkan telunjuk masuk Orientasi pada kelenjar prostate 1. Rektrosigmoid 6. Uterus 3. D. C. Buli-buli 7. Uretra 2. fisura. Uretra 8. Cavum douglasi 53 .A.

F. Karsinoma rectum: konsistensi keras. sulkus median tdk teraba.Pemeriksaan penunjang Penilaian cedera kepala. tonus sfingter 3. Diagnosa: . mukosa dpt digerakkan pd permukaannya Prostat maligna : noduler. Prostat membesar benigna: agak padat. agak keras. berdasarkan GCS: CKR : 14 – 15 54 .Kelainan anatomis . 1. ada drh melekat dan/lendir pd sarung tangan 6.Kelainan klinis . Fisura anus 2. massa di kavum Douglasi TREPANASI Prinsip menurunkan tekanan dengan cara Burr hole (kraniotomi). mukosa tdk dpt digerakkan pd permukaannya 4. sulkus median. feses 5.

CKS CKB : 9 – 13 :3–8 Lucid interval : oleh karena penekanan lobus frontalis/temporalis Perdarahan subdural: .Fraktur linier .penurunan kesadaran . Penderita cedera kepala sedang dan berat 55 .Fraktur depresi / kompresi (jika sudah melewati ketebalan 1 tabula) .nyeri kepala .Fraktur basis cranii Tanda cedera kepala: .akut : < 3 hari .muntah yang proyektil .sub akut : 4 – 8 minggu .amnesia (pasien yang murni cedera kepala tidak syok) Indikasi rawat inap cedera kepala: 1.kronik : > 8 minggu Fraktur : .

Mual muntah 5. pusing / vertigo 7. Ada patah tulang linier. Jejas kepala > 5 cm 4. tidak nyeri kepala hebat 4.Tidak ada patah tulang linier. multi trauma 8.Tidak disertai multitrauma atau alcohol Indikasi rawat jalan dari ruang perawatan: 1.Tidak muntah.Komplikasi ekstrakranial membaik 3. Nyeri kepala hebat 6. Tinggal jauh dari fasilitas kesehatan 11. tidak ada sanak keluarga di rumah Indikasi rawat jalan dari IRDB : 1.Penderita telah dilakukan rehabilitasi / mobilisasi (duduk atau jalan) 4.Perawatan luka sudah optimal (tidak ada tanda-tanda infeksi atau kebocoran CSF) 5.Penderita mulai nutrisi oral 56 . depresi.CKR 2.2. depresi dan basis cranii 3. basis cranii 3. kejang. Korpus alienum cedera kepala 9.Kesadaran membaik 2. Alkohol 10.

Tidak febris 7.Jejas diatas clavicula .Penurunan kesadaran .Coup  kerusakan di tempat cedera . penurunan kes 57 TRIAS CUSHING muntah.Heart rate ↓ .Intermediate coup  antara 2 tempat tersebut  karena robekan pembuluh darah. .Tensi ↑ .Obat telah / masih diberikan secara oral Tanda-tanda TIK ↑ : (Kocher) . Kompensasi : peningkatan TIK CSS dikeluarkan  hidrosefalus akut  nyeri.Penurunan kesadaran .Counter coup  kerusakan berlawanan / berjauhan dari tempat benturan .Respiratory rate ↓ Curiga cedera servikal : .Multiple trauma Mekanisme cedera kepala : .6.

CT Scan Co: CKB ® parietal dex hematom subdural Tanda-tanda herniasi : . battle sign . brill hematom (kiri dan kanan) .Fossa cranii ant : rinorea / perdarahan hidung.Kesadaran ↓ 58 . pelvis Tekan di lat–med.Nyeri kepala . (sternum) ant-post Exitasi : tanda-tanda hipoxia awal DAI : difus axona injuri  kerusakan axon scr difus Diagnosa cedera kepala : scr klinis. Kompresi test : di dada.Fossa cranii med : otorea  cairan serebro spinal + darah.!! Pada bayi dan anak-anak ok sutura masih terbuka Lihat tanda peningkatan TIK tersamar Perdarahan di : .Bradikardi .Fossa cranii post : biasa langsung mati. anatomi.

Penderita tidak sadar. kesadaran menurun 2.Posisi AP o Identitas o Posisi kanan dan kiri o Intensitas voltase o Posisi kepala tegak. hematoma) 3.Patah tulang kepala terbuka 59 . tidak boleh ada bayangan yang terpotong . memori : penglihatan waspada Foto polos kepala Syarat baca foto : .Jejas di kepala > 5 cm (ekskoriasi. luka.Corpus alienum intracranial 5.® ® ® ® Frontales Temporalis Occipitales Parietalis : : motorik : sensorik.Posisi lateral : C1 – C7 harus tampak Indikasi Foto kepala : 1.Ada lateralisasi 4.

6.Tidak ada perbaikan sesudah trepanasi 7.Mual muntah 10.Kejang 3.Selama perawatan di ruangan > hari tidak membaik / tetap 6.Ada lateralisasi a.Luka di kepala keluar CSF dan / jaringan otak. Indikasi CT-Scan kepala :  biasanya potongan axial 1. RP (+) 2. Nyeri kepala hebat atau menetap 60 .Pupil anisokor (midriasis di hemilesi) b.Hemiparesa / hemiplegi c. bradikardi 8.Jejas di kepala > 5 cm 5.Untuk pe↑ diagnosa (pada pasien rujukan) 9.Penurunan kesadaran 8.Tidak sadar dan bradikardi (nadi ≤ 60x/m) 4.Muntah.Penderita sadar yang disertai nyeri kepala hebat 7.

Fraktura terbuka. Syarat : Antibiotika sesuai dengan organisme yang diketahui sering menyebabkan infeksi misalnya pada colon yaitu E.Operasi-operasi “Clean-Contaminated” . luka tembus sendi.Vascular surgery.Indikasi antibiotika profilaksis adalah : . . 61 .Debridemant yang tidak adekuat .Luka penertrasi dari organ abdomen yang berongga . Klebsiella. operasi tulang / sendi yaitu Stafilokokus dan Streptokokus.Histerektomi .Luka di mana jelas ada “gross bacterial contamination” . prothese tulang / sendi . Coli.Kemungkinan terjadi infeksi Clostridium .Luka kecelakaan dengan kontaminasi / kerusakan jaringan yang hebat.Reseksi / anastomose usus .

Ternyata pemberian dalam jumlah kecil untuk waktu pendek (bolus) lebih baik dari kontinu melalui infuse (drips). Waktu pemberian : Sebaiknya 1 jam sebelum operasi. sebab dengan pemberian bolus akan cepat mesuk dengan kadar dalam serum yang tinggi dengan akibat tingginya konsentrasi dini obat dalam cairan luka. Dosis obat harus tepat. Pada operasi lebih dari 4 jam boleh diberikan ulang.Cara pemberian : IV (Intra venous). 62 . dengan maksud agar kadar obat selama operasi cukup.

Afterload = darah yang keluar dari jantung Yang berperan terhadap preload dan afterload = diameter pembuluh darah.Vasokonstriksi 3.Paru 3.Otot CO = SV x HR Mekanisme kompensasi yang menimbulkan gejala: 1.Heart rate meningkat 2.Syok Syok idefinisikan sebagai gangguan perfusi jaringan oksigenasi Ditentukan oleh 3 komponen: .Otak 2.Pump . Organ-organ banyak: 1.Preload = darah yang kembali ke jantung .Penurunan kesadaran (mempengaruhi kematian sel limbik/fungsi luhur) 63 yabg membutuhkan perfusi .Jantung 4.

5 cc/kgBB/jam 1.Asidosis  nafas tinggal satu-satu 6.5-2 cc/kgBB/jam Pengecualian: Orang yang sudah tua (tanda2 penurunan suhu badan kurang jelas) dan anak-anak Atlit / orang gunung 64 . Produksi urine 1-1.Takipnue  alkalosis respiratorius hanya sementara disusul 5.4.Menurunkan produksi urin Setelah primary survei T =akan menurun. preload meningkat Shock memiliki grading dinilai dari jumlah (%) darah yang keluar I = 1-15% II = 15-30% III = 30-40% IV = > 40% Jumlah volume darah orang dewasa 70 cc/kgBB x BB ideal 80-90 cc/kgBB x BBI untuk bayi.

Kontrol TNRS. petemuan ke-3 tinea coli 65 .Syok dapat sebabkan hipoksia otak sehingga terjadi agitasi Syok tidak selalu dilihat dari jumlah darah yang keluar. 5.Tidak harus whole blood tapi idealnya Packed Red Cell. Penanganan: 1.1 : 3 dengan catatan darah HB cukup 4.Ringer laktat infus (2 L pertama kalo perlu guyur 3. bisa saja terjadi internal bleeding.Oksigen 2. kateter APPENDICITIS Definisi : peradangan appendiks Anatomi : Terletak di ileocaeccum.

Iliacal . mesenterica sup Histologi : 1.Fecolith  35% 3. appendikularis  cabang dari a.Hiperplasia KGB  60% 2.Sub mucosa 3.Otot sirkuler 4.Epitel kubik 2.Otot longitudinal 5.Jenis posisi : .Antecaecal .Retrocaecal retroperitoneal) (intraperitoneal & Perdarahan : A.Striktura lumen  1% Infeksi : E. colica dextra  cab dr a. iliocaecal  cabang dari a.Corpus alienum  4% 4.Serosa Etiologi : Penyebab pasti Belem diketahui Factor yang berpengaruh : obstruksi infeksi Obstruksi : 1. coli dan Streptokokus 66 dan .

Obstruksi lumen appendiks menyebabkan mukus yang diproduksi mukosa terbendung.Patofisiologi : Sumbatan  sekresi mucus  FOKAL Tekanan intralumen >  ulu hati Gangguan drainage limfe  udem mukosa. Burney Kuman  pus peritonitis lokal Tekanan intralumen >>> GANGRENOSA  gangguan arteri  nekrosis Kuman  gangren APP  perforasi  peritonitis umum Patofisiologi : . sehingga mengganggu 67 . Makin lama mukus yang terbendung makin banyak dan menekan dinding appendiks. Kuman  ulserasi mucosa 10 APP nyeri krn AKUT visceral di regangan reffered pain Th- Tekanan intralumen >>  APP SUPURATIF 8jam Ggn vena  trombas  iskemia nyeri di Mc.

Keluhan yang timbul adalah nyeri visceral akibat regangan mukosa. Akibatnya seluruh appendiks akan terinvasi oleh kuman. 68 . Adanya kuman dan edema appendiks menyebabkan terjadinya ulcerasi muksoa appendiks. . Torakalis X. karena edema maka resistensi selaput lendir berkurang sehingga mudah terjadi infeksi oleh kuman yang akan menyebabkan mukus tersebut menjadi pus.aliran limfe dan menyebabkan dinding appendiks edema. Umumnya fase in disertai rasa mual dan muntah. Hal ini dirasakan sebagai rasa sakit disekitar umbilikus ok persarafan appendiks sama dengan usus. Setelah mukosa terkena.Tingkat selanjutnya akibat sekresi yang terus menerus serta meningkatnya tekanan intralumen. maka selain terganggunya aliran limfe juga terjadi sumbatan vena yang mengakibatkan terjadinya trombosis dan iskemia. menyusul serosa juga terinvasi sehingga akan merangsang peritoneum parietal maka timbul rasa nyeri somatik yang khas untuk appendisitis yaitu di perut kanan bawah (titik Mc Burney). Fase ini disebut ” Appendiks akut supurativa”. yaitu dari n. Fase ini disebut ”Focal appendiks acuta”.

Perforasi 4. sulit terbentuk infiltrat sehingga kemungkinan terjadi perforasi lebih besar. setelah 48 jam : 1. ileum terminalis.Sembuh 2. caecum dan omentum akan membentuk ”barier” dalam bentuk infiltrat.Kronik 3.Pada akhirnya akan terjadi perforasi yang disebut ”appendisitis perforata”. Pada fase ini dapat timbul komplikasi hingga morbiditas juga meningkat. Pada anak-anak dimana omentum pendek dan orang tua dengan daya tahan tubuh yang sudah menurun.Jika tidak dilakukan pengobatan maka arteri juga akan tersumbat hingga terjadi nekrosis yang kemudian diikuti terjadi gangren.. Diagnosa : Anamnesa : 69 .Infiltrat / abses Bila proses berjalan lambat. Pada fase ini isi appendiks menyebar ke dalam rongga perut dan menyebabkan peritonitis. Appendisitis akut. . Fase ini disebut ”Appendisitis Gangrenosa”.

Fleksi ringan art.Nyeri (mula-mula di daerah epigastrium kemudian menjalar ke Mc. Coxae dextra Status lokalis : Abdomen kuadran kanan bawah .Tampak kesakitan . Burney) 2.Defence muskular (+)  m.Muntah (rangsang viseral) 3.Rovsing sign  pada penekanan perut bagian kiri terasa nyeri di Mc Burney karena abdomen terisi udara .Demam . rektus abdominalis .Mc Burney : o Nyeri tekan (+) o Nyeri lepas (+)  rangsangan peritoneum o Nyeri ketok (+) .Panas (infeksi akut) Pemeriksaan Fisik : Status generalis : .Peritonitis umum (perforasi) : 70 .1.Obturator sign  (+) pada appendiks iliacal .Perbedaan suhu axila dan rektal : > 1/2 0C .Psoas sign  (+) pada appendiks retrocaecal .

nyeri 71 .Rectal touche : nyeri tekan pada jam 9 – 12 Pemeriksaan penunjang : Leukositosis.o Nyeri seluruh abdomen o Pekak hati hilang o Bising usus hilang . shift to the left : pd app akut Pada app infiltrate  LED meningkat Penjelasan nyeri appendicitis : • pada Nyeri di sekitar umbilicus (ulu hati) yang berpindah ke perut kanan bawah  pada permulaan app sebelum radang mencapai permukaan peritoneum.

terjadinya akibat rangsangan peritoneum yang merupakan nyeri somatic. Foregut (usus depan) : lambung. mis: karena udara atau radang • Pasien yang merasakan nyeri viseral biasanya tidak dapat menunjukkan secara tepat letak nyeri sehingga biasanya ia menggunakan seluruh telapak tangannya untuk menunjuk daerah yang nyeri. sistem hepatobilier. Pada saat ini nyeri dirasakan tepat pada letak peritoneum yang meradang yaitu di perut kanan bawah (titik Mc Burney) Nyeri : terjadi bila terdapat rangsangan pada organ/struktur dalam rongga perut.visceral dirasakan disekitar pusat disertai rasa mual sebab appendiks secara embrional termasuk mid gut (usus tengah)  setelah radang terjadi diseluruh dinding appendiks termasuk peritoneum visceral. Midgut (usus tengah) : usus halus dan usus besar sampai pertengahan transversus  nyeri disekitar umbilikus 72 visceral . páncreas  nyeri di ulu hati / epigastrium 2. • Pada nyeri khas sesuai dengan persarafan embrional saluran cerna : 1. duodenum.

nyeri di perut kanan bawah. nyeri di perut kanan bawah • 73 . Hindgut (usus belakang) : pertengahan colon transversum sampai rektosigmoid + buli-buli  nyeri di perut bagian bawah Nyeri somatik : terjadi karena rangsangan pada bagian yang dipersarafi oleh saraf tepi mis: remangan pada peritoneum parietal dan luka pada dinding perut. • Nyeri dirasakan seperti ditusuk/disayat • Pasien dapat menunjukkan secara tepat letakknya dengan jari • Rovsing sign (+)  tekan di perut kiri bawah. Peradangannya sendiri maupun gesekan antara kedua peritoneum dapat menyebabkan perubahan intensitas nyeri  Gesekan inilah yang menjelaskan nyeri kontralateral.  Gesekan antara visera yang meradang akan menimbulkan rangsangan peritoneum dan menyebabkan nyeri. Blumberg sign (+)  tekan di perut kiri bawah kemudian dilepas.3.

ISK 2. Kista ovarium terpuntir 74 . Perforasi ulkus duodeni 10. Enteritis regional 6. KET. Salphingitis akut (adnexitis) 3. Kolik ureter 11. Batu ureter 5. Nyeri dirasakan karena ada udara yang berpindah dari kiri ke kanan (kolon desenden meregang) DD : 1. Divertikel meckel 4. Ileitis akut 9. Amubiasis 8. Gastroenteritis akut 7.

Operasi cito (appendisitis akut. Konservatif kemudian operasi elektif (apendicitis infiltrat) Konservatif : menurut Ochiner – Sheeren .metronidazol (untuk E. Coli dan kuman anaerob) .Monitor : o Infiltrat (ukuran massa) o Tanda-tanda peritonitis (perforasi) o Suhu tiap 6 jam o LED o Leukosit Tehnik operasi : Appendectomy .Fascia transversa dibebaskan 75 .Insisi Mc Burney sampai mencapai m.antibiotik spektrum luas (5 hari) . obliques ext sampai terlihat m. obliques int . Obliques externa .Penatalaksanaan : 1.Sisihkan m.diet rendah serat .bed rest total posisi Fowler / anti Tredelenberg (tidur ½ duduk) . abses dan perforasi) 2.A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya . Operasi elektif (apendicitis kronik) 3.

M.Peritoneum dibuka .Mesoappendiks dipotong diantara klem dan vena diligasi .Subkutis dengan kulit ditutup seperti biasa 76 .Jahitan purse-string pada dinding caecum basal appendiks . interrupted .Omentum dikembalikan .Aponeurosis m. Oblique int dan sarung otot rektus dijahit interrupted .Cari appendiks pada pertemuan 3 taenia coli ..Peritoneum dijahit dengan benang silk 00.Invaginasi basis appendiks ke dalam caecum .Appendiks ditampakkan dan dipotong . oblique int jahit interrupted dengan silk 00 .Appendiks dijepit dengan klem. kemudian diligasi .

Karena app mass  patologik. App mass = periappendikular infiltrat Diagnosa yang benar : periapendikuler flegmon Flegmon : ada didalam suatu rongga (pd app  abd) Cincin Waldeyer  jg tdp pembengkakan di app  obstruksi  bisa sembuh (dengan obat. Kec : .Indikasi pendidikan .Pekerjaan di laut .Diskusi Appendisitis Jangan mendiagnosa massa appendiks (App mass)  ini salah. dll)  bisa timbul lagi  App kronik eksaserbasi akut  bukan indikasi operasi ok dalam beberapa saat bisa hilang.Tempat tinggal jauh dari centre RS 77 .

Penanda sekum : 78 . teraba App. bimanual.RT  posisi ½ duduk. jangan ke atas.Sign .Rangsangan peritonitis local  akut app . Setelah preperitoneal fat dibuka  cari sekum. preperitoneal fat disingkirkan ke lat bawah. Pada waktu buka preperitoneal fat. oleh karena ada arteri epigastrika. nyeri jam 9 – 12 Anatomical parking : terlihat umbilikus dan SIAS  lokasi lap operasi yang terlihat setelah lap op diperkecil.App kuta  dalam 48 jam keluhan hilang  kronik  wall off  periapendikular flegmon  abses  patologik Greide iron  sesuai laporan Appendektomi  langsung sampai ke perforasi untuk mencegah penyebaran infeksi  flegmon Px klinis App : .

Mesenterika sup. Bila posisi appendiks antecaecal  tarik ke atas caecumnya karena origonya diatas Appendiks itu adalah caecum!!! 79 .Ada 3 tinea .Lebih pucat. I : colon transversal) Sigmoid  banyak appendiks epiploika (tetesan-tetesan lemak yang tebal) Caecum  tiga tinea. tinea mengecil ke appendiks dan juga rektum.Lebih kecil . Iliocaecal  cabang dari a. Mesoappendiks terdapat a. (O: lambung.Tidak punya haustra Omentum : pembungkus usus  disingkirkan ke atas ok origo insersinya diatas.Lebih merah . Colica dextra  cabang dari a. mengkilat Ileum : . lebih besar .Lebih tebal. Appendikularis  cabang dari a..

colica media Chromic catgut : cat gut yang dilapisi chrom Untuk jahit purise string  pake benang chromic catgut 3 0 Proses penyembuhan luka di usus : 2 hari Kulit : 7 hari Fascia : 3-4 mgg Setelah operasi app  penderita belum beraktifitas yang aktif setelah 6-8 minggu (1 ½ .Tinea mesocolica . colica sin  colon ki .A. A.A. 3 tinea yang berada di appendiks : . Nama jahitan tersebut : Over hecting / tight hecting.Tinea libra .Setelah apendiks dipotong kemudian dibenamkan (tabac sac)  kemudian jahit diatas benaman tersebut.2 bulan).Tinea omentalis Posisi appendektomi : posisi terlentang 80 . Pasien post op app jangan langsung dipulangkan. Biasanya dipulangkan seseudah 4 hari post operasi karena biasanya infeksi timbul pada hari ke-4.A. mesenterika sup : . Colica dex  colon ka .

2 question point : nyeri perut kanan bawah sebelumnya di epigastrium . obliqus abd ext o M.3 hal penting pada anamnesis app : . obliqus abd int o M. tranversalis Insisi menurut Rouz (muscle cutting incision)  lokasi dan arah sayatan sama dengan Mc Burney hanya sayatannya langsung menembus otot dinding perut tanpa memperdulikan arah serabut sampai tampak peritoneum. 81 .Mual/muntah / tidak nafsu makan  karena rangsangan viseral Insisi appendektomy Menurut Mc Burney (grid iron/muscle splitting incision)  sayatan dilakukan pada garis yang tegak lurus pada garis yang menghubungkan SIAS dengan umbilicus pada batas sepertiga lateral (titik Mc Burney)  1/3 atas & 2/3 bwh dr titik Mc Burney  sayatan grid iron  dilakukan sayatan secara tumpul untuk membuka serat-serat otot sesuai dengan perjalanan seratnya : o M.Panas : karena ada proses radang .

mudah diperluas. untung : lapangan operasi lebih luas. sederhana. kemungkinan memotong saraf dan pembuluh darah lebih besar 82 . mudah  rugi : • Diagnosa harus tepat sehingga lokasi dapat dipastikan • Lebih banyak memotong saraf dan pembuluh darah  perdarahan jadi lebih banyak • Masa istirahat pasca bedah lebih lama  karena ada benjolan yang mengganggu • Nyeri pasca operasi lebih sering terjadi • Masa penyembuhan lama Insisi Pararektal  dilakukan sayatan pada garis batas lateral m.r ektus abdominis dextra secara vertikal dari kranial ke kaudal sepanjang 10 cm  untung : teknik ini dapat dipakai pada kasus-kasus apendiks yang belum pasti dan kalau perlu sayatan dapat diperpanjang dengan mudah  rugi : • sayatan tidak secara langsung mengarah ke apendiks atau sekum.

M. cargut chrom 1-0 .Waktu operasi lebih lama Jika waktu operasi ternyata apendiks normal. 1-0 . Kerugian : .Kulit : interrupted Untung insisi gridiron : .Peritoneum : jahit jelujur. catgut plain 3-0 .Sulit diperluas .lapangan operasi terbatas  dapat diperluas dengan memotong otot secara tajam . apa yang harus dilakukan? 83 .tidak mungkin terjadi herniasi . Transversus : jahit interuped.trauma operasi minimum pada alat-alat tubuh .masa istirahat pasca bedah lebih pendek karena penyembuhan lebih cepat.MOI & MOE : jahit interrupted. catgut chrom 1-0 .• Untuk menutup luka operasi diperlukan jahitan penunjang Penutupan luka operasi : . cat gut plain no.Lemak : interrupted.tidak terjadi benjolan .

Ileum terminalis. Kelainan pada sekum berupa peradangan atau divertikulitis 5. ovarial abses. Adakah perforasi duodenum atau lambung dan adakah perforasi kantong empedu yaitu adanya cairan yang berwarna kehijauan di rongga perut bagian atas. 84 . kita harus memeriksa / eksplorasi adakah kelainan/penyakit lain sebagai penyebab keluhan 1.Antibiotik 3. Instruksi post operasi (perawatan pasca bedah) : 1. kemungkinan adanya ileitis terminalis atau adanya perforasi ileum karena tifus abdominalis 4. miring ke kiri dan kanan bergantian dan duduk. Keadaan genitalia interna (adneksitis. Adakah peradangan pada divertikel meckel (dapat diketahui dengan mengeluarkan ileum sejauh 60 cm dari ileocaecal junction) 2. Penderita boleh jalna pada hari I pasca bedah. tuba falopii?) 3.Analgetik 4.IV line RL dan dextrosa (maintenance) ±2-3 L 2.Mobilisasi : secepatnya setelah penderita sadar dengan mengerakkan kaki (fleksi dan ekstensi).

Posisi letak intraperitoneal (ujungnya bisa terletak dimana saja)  kedudukan menentukan letak keluhan 85 .Jahitan diangkat pada hari ke 5 – hari ke 7 pasca bedah. 6. Biasanya hari pertama / hari II pasca bedah penderita boleh diberi makan.5. p ± 10 cm Berpangkal di sekum Lumen sempit bagian proks dan melebar di bagian distal Posisi appendiks : 1.Boleh minum sedikit-sedikit (50cc) tiap jam bila sudah ada aktivitas usus (flatus / bising usus (+)). Posisi pelvika  ujung appendiks terletak agak ke kaudal  posisi ini app mungkin melekat pada tuba/ovarium kanan 2. APPENDISITIS AKUT Anatomi App jarang terjadi pd bayi krn berbentuk kerucut (lebar pd menyempit di ujung) Bentuk normal : apendiks pangkat.

Appendikularis . Letak ini tidak menimbulkan keluhan atau tanda yang disebabkan oleh regangan peritoneum setempat. RT tidak nyeri 4. maka appendiks akan mengalami gangren..Simpatis : n.merupakan arteri tanpa kolateral . Torakalis X : karena itu nyeri viseral pada app bermula disekitar umbilikus Perdarahan : berasal dari a. Vagus . Persarafan : ..Parasimpatis : cab n. Appendiks = appendiks vermiformis = umbai cacing Patologi : Sembelit kompeten Flora kuman kolon me↑ katup iliosekal tek didalam sekum ↑ 86 . tanda nyeri perut kanan bawah tidak jelas.jika arteri ini tersumbat. mis: infeksi.3. karena ada rangsangan dari reaksi radang sehingga kontraksi peristaltik usus meningkat. nyeri saat berjalan karena kontraksi otot polos mayor yang menegang . Iliosekal  sering menyebabkan gejala diare. Retrosekal (retroperitoneal)  nyeri kearah perut sisi kanan.

Sesuai etiologi. histolitika) pengosongan isi terhambat : Stenosis.Appendisitis mukosa Erosis selaput lendir appendiks (E.Dalam massa periappendikuler terjadi: o Nekrosis jaringan berupa abses  dapat perforasi o Tidak terbentuk abses  massa akan tenang  mengurai diri secara lambat . appendisitis dapat mulai di mukosa dan kemudian melibatkan seluruh lapangan dinding appendiks dalam 24-48 jam I . mesoapendiks pendek Appendisitis komplit . pita/adhesi. Pada suatu ketika.Usaha tubuh  membatasi proses radang  menutup appendiks dengan omentum.Appendiks yang pernah meradang tidak akan sembuh sempurna  bentuk jaringan parut  perlengkatan dengan jaringan sekitar  timbulkan keluhan berulang di kanan bawah. usus halus dan adneksa  sehingga terbentuk massa periappendikuler . organ ini 87 .

muntah Semua organ-organ midgut  nyeri sekitar umbilikus Manifestasi klinik : . Nyeri disekitar umbilikus. muntah . mungkin kolik .dpt meradang akut lagi  dinyatakan sbg EXASERBASI AKUTA.Appendisitis komplit. nyeri pindah ke kanan bawah 2.Appendisitis mukosa  nyeri tekan kanan bawah (rangsangan autonomik) .Peradangan awal  kurang enak ulu hati/epigastrium. mual. mual.Radang diseluruh ketebalan dinding  nyeri sentral pindah ke kanan bawah. defans muskular lokal 88 . Two Question Point : 1. radang peritoneum parietal apendiks  rangsangan peritoneum lokal (somatik) nyeri pada gerak aktif dan pasif. Nyeri perut didahului anoreksia  tanya nafsu makan.

.Appendisitis gangrenosa  demam sedang. syok. keadaan umum toksik. Pemeriksaan : .a + demam tinggi. rectum .d. panas. ureter.Tidak berhadil  s. mulai toksik. VU.5 – 38.Perforasi  nyeri dan defans muskular seluruh perut Penanganan : . ovarium).psoas.5 . lekositosis 2 bulan setelah app akut. leukositosis . toksik . keluhan dan tanda o Tindakan : insisi abses App mass : nyeri.Inspeksi : tidak spesifik : o Kembung  komplikasi perforasi 89 . dehidrasi. takikardi.Abses demam rekuren.Berhasil  massa perut kanan bawah. keadaan umum berangsur membaik . besar massa. m.Suhu : demam biasanya ringan 37.Radang alat/jaringan yang menempel pada appendiks  genitalia interna (tuba.

Uji Psoas : pasien diminta mengangkat tungkainya dengan lutut ekstensi dan pemeriksa memberi tekanan melawan gerak tungkai sehingga m. berjalan.o Penonjolan perut : massa atau abses appendiks . maka nyeri (+).Palpasi : o Nyeri tekan pada titik Mc Burnye o Nyeri lepas o Defans muskuler lokal  menunjukkan adanya rangsangan peritoneum parietal Nyeri rangsangan langsung peritoneum tidak o Nyeri kanan bawah pada tekanan di kiri (Rovsing sign) o Nyeri kanan bawah bila tekanan di kiri dilepas (BLUMBERG) o Nyeri kanan bawah bila peritoneum bergerak seperti napas dalam. 90 . mengedan . Iliopsoas dipaksa berkontraksi kuat  bila appendiks yang meradang menempel di psoas.

.RT (colok dubur) : pada appendiks retrosekal dan retroilial diperlukan palpasi dalam untuk menentukan adanya rasa nyeri. pada posisi menekuk 900 dilutut maupun lipat paha.Uji Obturator : tungkai penderita diputar dengan arah endorotasi dan eksorotasi. RT nyeri bila daerah 91 .  Untuk melihat apakah appendiks yang meradang kontak dengan m. Nyeri jam 9-12. . Obturator internus yang merupakan dinding panggul kecil.

Secara anatomik apendiks bentuknya seperti kerucut (lebar dipangkal sempit didistal) .Terlambat didiagnosa . gejala awal sering hanya rewel dan tidak mau makan. Pada orang usia lanjut .Terdiagnosa setelah perforasi Pada orang hamil Keluhan utama app (nyeri perut. anak menjadi lemah.Gejala pada anak tidak khas / tidak spesifik.Gejala sering samar-samar . mual.infeksi bisa dicapai dengan jari telunjuk mis: app pelvika Anak-anak jarang didiagnosa appendisitis . sering app diketahui setelah perforasi anak sering tidak bisa melukiskan rasa nyerinya.  karena gejala tidak khas ini. muntah) sama dengan keluhan kehamilan trimester I (mual muntah) 92 . Dalam beberapa jam kemudian akan timbul muntahmuntah.

Appendisitis kronik Dx : perexciosionum kemungkinan disingkirkan) Diagnosa pasti : PA (setelah semua Diagnosa app kronik dapat ditegakkan jika dipenuhi semua syarat .Radang kronik apendiks secara makro dan mikroskopik .Pada kehamilan lanjut.Riwayat nyeri perut kanan bawah > 2 minggu .Adanya jaringan parut dan ulkus lama di mukosa 93 .Keluhan menghilang setelah appendektomi Kriteria mikroskopik app kronik : .Fibrosis menyeluruh dinding apendiks . sekum dengan appendiks terdorong ke kraniolateral sehingga keluhan tidak dirasakan diperut kanan tapi lebih ke regio lumbal kanan.Sumbatan parsial / total lumen appendiks .

Incisi pada daerah Mc Burney ± 20 cm. Lapangan operasi diperkecil dengan doek steril 4. Apponeurosis dibuka diperlebar kearah kaudal dan cranial 7. Dilakukan asepsis dan antisepsis lap op dengan povidon iodine 3. Peritoneum dibuka. dan diperdalam sampai peritoneum a. M.Infiltrasi sel inflamasi kronik Contoh laporan operasi appendisitis : 1. 5. Incisi dieprdalam sampai apponeurosis MOE 6. pasien tidur terlentang dengan GA 2. ø 1 cm. Dilakukan identifikasi caecum. tampak appendiks P ± 8 cm hiperemis. tampak appendiks letak retrocaecal dan melekat pada usus halus c. obligus eksternus.. internus dan transversalis dibuka sampai tampak preperitoneum fat 94 . Dilakukan pembebasan secara tumpul. keluar cairan serous ± 10 cc b.

M. Kontrol perdarahan  eksplorasi organ lain tidak ada kelainan 13. obligus abd ext 5. 9 lapisan abdomen: 1.M. obligus abd int 6. Keluar cairan serous 50 cc 10.Kulit 2.Retrograd : ligasi mesoapendiks dari pangkal ke ujung lalu apendektomi Tanda / ciri caecum : ada 3 tinea coli.Lemak subkutan 3. transversal and 95 . Identifikasi caecum. caecum dielixir keluar tampak appendiks panjang 6 cm.8. Operasi selesai Jenis appendektomi : . Preperitoneum fat disisihkan dan peritoneum dibuka 9.Fascia scarpel 4. Dilakukan appendektomi antegrad. ada pangkal appendiks. 12. punctum appendiks dibenamkan dalam jahitan tabac sac. Luka operasi ditutup lapis demi lapis 14.M. letak antecaecal 11.Antegrad : ligasi mesoapendiks dari ujung ke pangkal lalu potong .

Roux .Peritonium Incisi app: .7.Lemak preperitoneal 9.Fascia transversalis 8.Mc Burney (grid insision / uscle splitting insision) .Pararectal 96 .

Ensefalokel 4. Cedera tulang belakang CEDERA KEPALA I. yang kemudian akan digunakan pada Na K Pump sehingga sel otak tetap utuh. Mempertahankan integritas sel otak sehingga sel otak tidak hancur dan tetap utuh 2.Penanganan Dini Metabolisme otak terbagi atas 2 proses yaitu Aerob ( 80% ) dan Anaerob ( 20% ) yang akan menghasilkan 38 ATP.ATP ini kemudian berfungsi dalam: 1. akan menuju ke mitokondria dan akan menghasilkan 38 ATP. Memberi transmisi impuls Glukosa dan oksigen yang masuk dalam tubuh manusia.melalui siklus krebs. Hidrosefalus 3.BEDAH SARAF Bedah saraf dibagi atas 4 bagian. Cedera kepala 2. Hukum Monroe Kellie : 97 . yaitu: 1.

Respon motorik Ada 3 prinsip penanganan yaitu : 1.Buka mata b. juga akan menyebabkan syok hipovolemik karena pada sel darah merah kerja hemoglobin dalam mengikat oksigen iku terhambat. Mekanisme  anamnesa c.Volume otak + Volume darah + Volume CSS = Konstan Jika ada proses hematom atau cedera otak maka akan terjadi herniasi. ditentukan oleh : a. ada 3 respon yaitu : a.Morfologi  kelainan anatomi Cedera otak primer akan mengakibatkan obstruksi saluran nafas yang akan menghambat aliran oksigen ke otak.Kedua hal ini pada akhirnya dapat mengakibatkan cedera otak sekunder.Bicara c. Derajat kesadaran b. hentikan perdarahan 98 . Klasifikasi. septik aseptik 2. Pada GCS.

3.VII pd fossa cranii media c) Darah/CSF rhinorrhoe  hidung berdarah d) Tinitus e) Gangguan pendengaran f) Anosmia : gangguan telinga kerusakan N. sedang. debridement Diagnosa ditentukan oleh : 1. oleh karena itu darah harus 99 .I g) Battle Sign ( hematoma di belakang telinga ) Pada hematoma epidural ada perdarahan di bagian epidural. dan berat Patah tulang dasar kepala. Tanda klinis : a) Brille hematom  seperti muka panda b) Darah/CSF otorrhoe  telinga berdarah akibat kerusakan N.Klasifikasi 2.Alat diagnosa bantu Derajat cedera kepala berdasarkan GCS dibagi atas ringan.Pemeriksaan fisik 3. prinsip dasarnya adalah meringis dan mata biru seperti model muka panda.

Jejas di temporal b.Pupil an-isokor e. Jika hal ini tidak segera dilakukan.tidak perlu darah II.cepat .aman .Kesadaran 9.Bradikardi Pada hematoma subdural ada perdarahan di bawah subdural. dll. Tanda klinisnya : a.Penanganan lanjut Ada 15 langkah yg dilakukan dlm penanganan lanjut untuk mencegah komplikasi yaitu: 1.dikeluarkan dengan terlebih dahulu melepas tulang kepala. terlihat seperti bentuk bulan sabit.Lucid interval d. jadi perdarahannya tidak kelihatan. Teknik bedah yang sekarang dilakukan adalah : .Nyeri kepala c. Miksi 100 .Hemiparesa-plegi f. Tindakan bedah yang paling umum adalah membersihkan luka. maka otak akan tertekan sehingga akan terjadi herniasi dan mengakibatkan kelumpuhan. kerusakan motorik. Pada foto komputer.

Nyeri 14.Pernafasan 4.Lingkungan Komplikasinya dapat : a. Anatomy Of The Head And Brain 101 .Intrakranial seperti perdarahan intrakranial b.Defikasi 11.Untuk melengkapi diagnosa Dengan cara : ABC-ATLS dan surat rujukan.Extrakranial seperti pneumonia Rujukan dilakukan bila : 1.2.Kelainan saraf 3.Mata 13.Fisio 15.Ada komplikasi intrakranial dan extrakranial 2.Kulit 12.Elektrolit dan nutrisi 10.Kejang terapi 7.Gelisah 8.Sirkulasi 5.Suhu badan kepala 6.

The fluid is normally clear and looks like water. It is made inside the brain and provides nutrients to the brain. They are called the dura.The Skull: The skull is a hard bony covering that encases and protects the brain. arachnoid and pia. Cerebrospinal Fluid (CSF): Cerebrospinal fluid surrounds the brain in a space between the arachnoid and pia. The Meninges: The three membrane layers inside the skull that cover the brain are called meninges. It provides a protective cushion. 102 . These layers provide additional protection to the brain.

Each hemisphere is divided into 4 lobes. temporal and occipital. It is responsible for transmitting messages back and forth from the cerebral cortex to various parts of the body.The Cerebral Cortex (Cerebrum): The cerebral cortex makes up the largest portion of the brain. parietal. Twelve pairs of nerves. It connects the cerebral cortex to the spinal cord. heart rate and blood pressure. The left hemisphere controls the right side of the body and right hemisphere controls the left side of the body. These lobes are the frontal. It is divided into two identical halves called the right and left hemispheres. The Brain Stem: The brain stem is located beneath the cerebral cortex. Each lobe controls specific body functions. The brain stem also controls functions such as breathing. called cranial nerves. emerge from the 103 .

hearing. eyesight.Laseratio serebri  robekan jaringan otak 104 . CEDERA KEPALA Pembagian secara traditional : .Contusio serebri  kerusakan kortikal. tidak ada gangguan struktural (gangguan kesadaran) . taste. swallowing. It helps to coordinate movement of the arms and legs and plays a role in allowing a person to maintain balance and stand upright. The Cerebellum: An area of the brain that lies at the back of the skull beneath the cerebral cortex is the cerebellum.Comotio cerebri  gangguan fungsi otak sementara. berupa perdarahan kecil. These nerves control smell. coughing. nekrosis parenkim otak .base of the brain and brain stem. eye movements and other body functions.

Cedera .Pembagian . Gangguan kesadaran oleh karena kompresi oleh hematoma  disertai oleh gejala neurologis / lateralisasi Epidural 105 . Gangguan kesadaran oleh karena trauma kepala (initial unconceiousness) 2. Gejala : 1.Cedera .Cedera menurut graduil : kepala ringan GCS : 14-15 kepala sedang 13-9 kepala berat 3-8 Hematoma intrakranial Hematoma  Pengumpulan darah antara duramater – tulang kepala.

kaku tengkuk. demam. Tetap tidak sadar dari awal. Tetap sadar dari saat trauma. dilatasi pada sisi hematoma b. iritabilitas. gangguan kesadaran awal overlap dengan gangguan kesadaran oleh karena kompresi hematom Foto kepala : fraktur tulang kepala pada sisi hematom Hematoma  perdarahan terjadi di ruangan antara araknoid dan permukaan otak Gejala : Nyeri kepala. fotofobia. 2. penurunan kesadaran + gej lateralisasi. hingga timbul gangguan kesadaran dan gejala lateralisasi 3. Refleks patologi Gejala tersebut dapat terjadi bersamaan / terpisah Macam-macam perjalanan gangguan kesadaran : 1.a. pernurunan kesadaran dan Cheyne stokes Rongga subaraknoid : 106 Sub Araknoid .Pupil anisokor. Gangguan kesadaran awal – sadar tanpa gejala – lucid interval.Hemiparesa kontralateral dari hematoma c.

Gejala : 1. Gangguan kesadaran awal tergantung beratringannya kerusakan otak 2.Biasanya trauma berat . Gangguan refleks (timbul refleks patologi) X.foto kepala : letak menunjukkan letak hematom. Gejala neurologik : • Pupil dilatasi.Gangguan kesadaran mulai sejak trauma kepala  tergantung berat/ringannya kerusakan jaringan otak.mengandung banyak pembuluh darah. 107 . berisi cairan otak Hematoma Subdural  pengumpulan darah dalam ruang subdural. Bentuk bulan sabit fraktur tidak Hematoma Intraserebral  pengumpulan darah dalam jaringan otak Gejala : . ipsilateral • Hemiparesa / hemiplegi kontralateral 3.

Diplopia .Parastesi 108 .Fraktur linier .Fraktur impresi o Terbuka o Tertutup .Flatening .Fraktur tulang kepala .Fraktur basis Fraktur zigoma dilihat dan tanya : .

cranialis (I.Biasanya mengenai : o Pars petriosa os. tinitus. kontusio atau avulsi : N.Echymosis pada proc mastoidea 5. IV. VII N.Fraktur basis cranii . nistagmus. V. ggn pendengaran Nervus cranialis lain dapat mengalami fraktur. VIII : anosmia : facial paralisis : vertigo. II.Biasanya lanjutan dari fraktur kalvarium . VI 109 . perdarahan dari telinga 4.Kebocoran CSS (otorea dan rinorea) 3. Temporalis o Atap orbita o Basis occipital Ant Med Post : rhinorea + brill hematom : othorea + battle sign : langsung mati Gejala : 1.Hemotympani. III. VII. I N.Bisa berdiri sendiri .Periorbital echymosis (brill hematom) 2.Lesi n. VIII) N.

Status neurologis Klasifikasi trauma tulang belakang berdasarkan status neurologis (menurut FRANKEL) FRANKEL A : kehilangan fx motorik & sensorik B : ada fx sensorik. motorik tidak ada C : fx motorik ada tapi tidak berfx D : fx motorik ada tapi tidak sempurna 110 .Penonjolan / cekungan segmen tulang belakang .Trauma tulang belakang Anamnesa : riwayat trauma tulang belakang. nyeri Pemeriksaan : .Jejas .Hematom .

tangani dulu airway .E : fx sensorik & motorik baik.tahan leher dengan 2 cara : o Jaw thrust o Chin lift .gargling : bunyi kumur ok ada cairan dalam mulut Diagnosa cedera kepala : klinis + anatomi + CT-Scan kepala Contoh : cedera kepala sedang Regio parietal dex dengan SDH 111 . hanya ada refleks abnormal Fraktur cervikal . cervical coler Gangguan airway : .Pasang penyangga leher.snoring : bunyi ngorok ok lidah jatuh ke belakang .

112 .

113 .

Tunika intima .Palsu Aneurisma Asli Ada 3 bentuk Fusiform med Sakus Bisecam  kerusakan pd Aneurisma palsu 1.ANEURISMA = pelebaran pembuluh darah Pembuluh darah ada 3 lapisan : .drh .Asli (vera) . drh putus terbentuk hematom Tanda-tanda a.Tunika media Aneurisma : .Tumor berdenyut.Robekan total  biasanya ok trauma  dinding p.Robekan parsial 2. getaran 114 .Tunika adventitia . Palsu : .Tumor pd jaringan p.

Infeksi  sifilis .Repair arteri : o Graft o Anastomosis (bila < 2 cm) o Jahit arteri .A. Dorsalis pedis tidak teraba / menghilang Thrill (+) Bruit (+) : getaran : bising Etiologi aneurisma : .Arteriosklerosis degeneratif (paling baik) .Infeksi jamur DD : arteri vena fistula (AV fistel)  bengkak seluruh..Graft : 115 .Trauma : o Tumpul o Tajam . ada Thrill dan Bruit A V Terapi : .Ada bising  dengar dengan stetoskop .

Cara : ambil vena kemudian kebalikan Awal : P set op: D putar D P TUMOR MAMMAE 116 .o Bisa dari vena langsung o Sintetik .

Non neoplastik o Inflamasi :  Mastitis akut (piogenik)  Mastitis sel plasma  Nekrosis lemak o Hiperplasia  Hipertrofi  Ginekomastia o Displasia : mastitis chronica cyctica . cyctosarcoma phylloides o Ganas :  Prognosa baik : Paget Ca. fibroma  Campuran  fibroadenoma (FAM). papiloma  Stroma  lipoma.Def : benjolan pada payudara Klasifikasi : .Neoplastik : o Jinak  Parenkim  adenoma. Komedo Ca 117 .

 Prognosa dubia : dengan mucinasi  Prognosa buruk carcinomatous schirrous. T1a.b. T2a. T1b N0. T2b N1b M0 Stad IIIa T3a. T1b N1b M0 T2a.c setiap N M0 Stad IV setiap T setiap N M1 T1 T2 T3 T4 < 2 cm a. : Ca mastitis Staging Berdasarkan UICC Stad I T1a. N1a M0 T2a. T2b N0.b. Dengan perlekatan fascia/otot > 5 cm ekstensi ke dinding dada / kulit a. T3b N0. T2a.udema kulit / infiltrasi / ulserasi 118 . T3a.b N2 M0 Stad IIIb T1a.b. T3a.b. N1a M0 Stad II T0.b.b N3 M0 T4a.dinding dada b. N1 M0 T1a. Tanpa perlekatan fascia/otot 2-5 cm b.

Wanita dengan riwayat tumor jinak sebelumnya 4.c. Wanita dengan riwayat keluarga (+) 119 .dianggap bukan metastasis b. keduanya N1 KGB axilla mobil a. Wanita dengan benjolan payudara yang fibrokistik / dengan nipple discharge 3. Wanita dengan thermogram meragukan dengan / tanpa mammogram meragukan 2.dianggap metastasis N2 KGB axilla fixed N3 KGB supraclavicula / edema lengan Marsupilialisasi : penyuliran ekstern Eksisi : suatu tindakan pengangkatan massa tumor dan jaringan sehat disekitarnya Ekstirpasi : tindakan pengangkatan seluruh massa tumor beserta kapsulnya. Diagnosa : Kelompok High-Risk (Stark & Way) : 1.

Wanita tanpa anak / anak sedikit / hamil pertama > 35 tahun 6. Wanita dengan menarche cepat / menopause lambat 7. Ulkus berdasarkan tumro (ulkus carcinomatous) 3. Wanita dengan riwayat Ca endometrium Nipple discharge  getah yang keluar sendiri dan berwarna lain .Berdarah : penumbuhan proliferasi di duktus. lebih besar atau mengisut lebih kecil 2. Tumor jelas menyebabkan mammae bersangkutan berbeda bentuknya (deformitas) dibandingkan dengan mammae lain. Ca .Serous kuning sekali : papiloma intra duktur.Bernanah / membiru : radang Gejala utama Ca mammae : 1. Kulit merah dan mengeras (Cancer encurasse) 120 .Air / kuning : carcinoma .5. kebanyakan benigne tapi dapat juga maligna .

> 35 tahun : keganasan 2.Rasa nyeri  umumnya tumor jinak dan tumor ganas pada permulaan sekali tidak memberikan keluhan subyektif.Usia : a. Kelenjar limfe axilla dan supraclavikula yang membesar dengan jelas.Pemakaian obat hormonal 5.25-35 tahun : mammary displasia c.Kapan mulai timbul 6. Adanya tonjolan anak tumor (peau d’orange) 6.Nyeri tekan c.4.Riwayat keluarga 3. Kulit merah licin dengan bagian yang melunak (mastitis karsinomatosa) 5.15-25 tahun : fibroadenoma mammae b.Sakit b. Tetapi dapat juga dari mula sudah memberi gejala 121 .Gejala lokal / umum : a. Nipple discharge d.Perubahan berat badan 7.Riwayat penyakit dahulu  Ca endometrium 8.Menarche / siklus haid / menopause /kehamilan 4. Nyeri baru timbul pada tumor mammae lanjut. Anamnesa : 1.

terutama kontur bawah d.Simetri mamma kiri dan kanan b.Apakah ada tumor yang turut bergerak di bawah kulit b.pegal. panas (rasa nyeri adalah gejala yang tidak teratur pada Ca mammae dini). Lengan tegak keatas di samping mama  perhatikan: a. Lengan digerakkan perlahan-lahan keatas bersama-sama  perhatikan : a. Tinggi dan besar kontur mamma.Tumor kecil dalam fase ini telah mungkin terlihat 3. Bandingkan mammae kiri & kanan mengenai : a.Tinggi dan besar papila dan areola mamma 122 . Lengan ke bawah di samping tubuh. dingin.Adanya perubahan bentuk oleh tumor (membesar / mengisut) 2. relax. Pemeriksaan fisik : Pasien dalam posisi duduk : 1.Besarnya mammae c.Simetri mammae kiri dan mamma kanan b. terutama lipatan bawah d.Besar mamma c. Tinggi dan besar kontur mamma.

gambaran vena perdarahan. Pemeriksa berdiri disamping os  sebelah mammae yang diperiksa 2. nanah). discharge (darah.e. Posisi berbaring : 1. sekret. retraksi (akibat serabut fascia yang melekatkan kulit dan tumor mengalami pemendekan)  terlihat jelas dengan tangan di belakang kepala / crista iliaka & hiperekstensi (untuk menegangkan fascia). jangan jatuh ke kaudal / ke lateral. Peau d’orange  akibat obstruksi limfatis d. Perubahan kulit : dimpling. Perubahan mamae / areola : ekskoriasi. edema b. pointing nipple (arah putting susu biasanya berbelok ke arah tumor) c. diatur supaya jaringan mammae itu tersebar rata sehingga kulit mamma tidak terlipat dan tepi diskus atau hemisfer jaringan mamma itu sama tipis / tebal.Adanya perubahan bentuk oleh tumor Pasien dalam posisi berbaring :  sedapatnya dengan ganjalan di bawah bahu. Adanya tumor 123 . Inspeksi a.

Untuk pemeriksaan separuh lateral mamma  lengan os diletakkan ke atas ke samping kepala b.konsistensi 4.pectoralis dan sebelah dinding toraks 124 . IV bersama-sama a.Utk memeriksa separuh medial mamma lengan os diletakkan relax disamping badan os c. III. pada kwadran mammae 2. dari tepi sternum ke tepi latisimus dorsi. Palpasi dilakukan pada seluruh daerah mamma. Palpasi dilakukan dengan kulit volar phalanx II phalanx akhir dan jari II.Paramammae dan paraglandula di tepi mammae dan m.letaknya. sistematik dari clavicula sampai iga ke-6.Ukuran 3.pectoralis mayor b.batas 5. Bila ditemukan tumor tentukan : 1.mobilitas Dalam keadaan berbaring  palpasi KGB 1.Interpectoralis dan subpectoralis di bawah m.Axilla  KGB dibagi dalam beberapa kelompok: a. garis axilla depan.3.

trombosit LFT : alkali fosfatase. diff . laboratorium : Hb. Jugularis dan subclavia b.Supraklavikula : kel leher yang pertama membesar di sudut clavikulasternocleidomastoideus a.axilla kontralateral CTT : untuk menentukan tumor mammae sudah lengket pada iga / m. LED. os diminta: Melakukan kontraksi pectoralis dengan cara tekan tangan dua-dua. P.Pada pertemuan v.Sekitar v. Interkostalis.Di puncak axilla  infrasubscapuler 2. SGPT Ureum.mammae kontralateral 4. Leuko. satu sama lain diatas kepala / tekankan tangan diatas krista iliaka  bila tumor bergerak berarti LENGKET Pemeriksaan penunjang : 1. Subscapula disudut bawah scapula dan sebelah scapula d.c. kreatinin sitologi vagina (pada wanita post menopause) 125 .Pada pertemuan jugularis dan transversus coli 3.axilla sebelah humerus e. serum Ca.

Radiologi : a. mis: nyeri.Potong beku 126 . pelvis dan femur 4.Penyakit Paget dari putting susu f. Bone survey – lumbal. Termografi : berdasarkan hipervaskularisasi dan termogenesis yang berlainan Termotomografi : berdasarkan pemantulan gelombang oleh lapisan abnormal 5. indikasi : a.Parafin b. Mammograf. Baik dengan / tanpa rasa nyeri ii.Foto polos perut – hepar c.2. Os dengan riwayat risiko tinggi menderita keganasan payudara d.Foto thoraks b.Pada os dengan cancer – fobia 3. Histopatologik : a.Adanya benjolan pada payudara i. Adanya penyebaran metastasis tanpa diketahui asal tumor primer g.Adanya rasa tidak enak pada payudara. Dirasakan oleh os tetapi dokter belum dapat meraba b.Pembesaran KGB axilla yang meragukan e. sangat peka dan kelainan puting susu c.

mastektomi radikal + rad KGB regional atau: .Bila dilakukan mastektomi simpleks diikuti radiasi tumor bed + KGB regional (rad lokal + regional) Stadium II : T0 N1b dan T1 N1b .Bila kGB axila tidak mengandung metastasis – radiasi post op (-) . Stad lanjut loko regional tanpa metastasis jauh: T3N1-2M0 : SM + rad tumor bed & KGB regional 127 .Biopsi - yang dilakukan berupa : Biopsi insisional Biopsi eksisional Pungsi Sitodiagnostik Penatalaksanaan : Stadium I : mastektomi radikal .mastektomi simpleks + radiasi tumor bed & KGB regional Stadium IIIa : T3N0-1a  mastektomi simpleks + rad tumor bed & KGB regional Stadium lanjut : 1.Bila KGB axila metastasis (+)  rad post op KGB regional .

T3N2-3M0/T4N0-3M0 : super voltage pada tumor + KGB regional 2. Stad lanjut dengan metastasis jauh :  perhatikan status menstruasi os. a. Premenopause : rad lokal dae tumor Bila estrogen binding reseptor (ER) (+)  + kastrasi + sitostasika Bila ER (-)  + sitostatika b. Menopause 1-5 tahun : ER (+)  rad lokal tumor + kastasi + sitostasika ER (-)  kombinasi sitostatika c. Menopause > 5 tahun : rad lokal tumor + sitostatika + terapi estrogen Tehnik Operasi : - Mastektomi simpleks : mengangkat seluruh jaringan payudara tanpa mengangkat KGB regional tetapi dilakukan pengangkatan dascia pektoralis - Mastektomi radikal : mengangkat seluruh jaringan payudara dengan seluruh kulit dan putting susu + seluruh m. Pectoralis mayor dan minor diseksi KGB aksila jaringan lemak di sekitar KGB. Kriteria operabilitas (Haagensen) : Ca mammae pada wanita dari segala umur yang keadaan umumnya baik untuk 128

menjalankan operasi harus diobati dengan Mastektomi radikal, kecuali bila ditemukan, hal-hal sbb: 1.Edema luas di kulit payudara (peau d’orange) 2.Benjol satelit di kulit payudara 3.Ca inflamatoris 4.Benjol tumor parasternal 5.Benjol tumor supraklavikula 6.Edema lengan 7.Metastasis jauh ke paru, hati, tulang, usus dan alat kelamin 8.Dua atau lebih gejala-gejala berikut: a.Ulserasi kulit b.Edema terbatas di kulit (<1/3 kulit payudara) c. Fiksasi keras tumor ke dinding dada d.Kelenjar limfe aksila  diameter < 2,5 cm e.Kelenjar limfe yang lengket di kulit / struktur lain aksila. Prognosa : Tergantung: 1.Ukuran tumor 2.Jumlah, tempat, ukuran KGB yang terkena 3.Skin involvement 4.Fiksasi tumor primer / KGB (+) 5.Histologis : Ductal: baik  meduler

129

Papiler cystadenoma Comedo Paget Lambat  Schirrous Ca Degenerasi epiderm Buruk  Ca mastoides Acinus : baik  lobuler 6.Derajat anaplasia 7.Usia status menstruasi 8.Kelambatan terapi 9.Kehamilan Hitung Jumlah Kantong Darah - PRC : (Hb target – Hb sekarang) x BB x 3 - WB : (Hb target – Hb sekarang) x BB x 6 Jumlah tetes cairan : jumlah cairan (cc) 3 x jml jam Contoh : PRC = (10 – 7,7) x 50 x 3 = 2,3 x 150 = 345 cc = 2,3 kantong Tetes : 1500 cc = 3 x 24 jam 1500 72 = 21 gtt

250 cc, 20 gtt, ......... jam? 130

20 gtt x 60 menit = 1200 = 4,8 250 cc 250

TETANUS
Etiologi : Clostridium tetani • gram positif • anaerob • membentuk spora • berbentuk ”drum stick” / batang korek api • menghasilkan eksotoksin Inkubasi : 3 hr – 4 mgg, rata” 8 hari (< 1 mgg mortalitas ↑) Eksotoksin 1.Tetanolisin Tidak langsung menimbulkan tetanus tapi optimalisasi kondisi setempat untuk berkembangnya kuman 2.Tetanospasmin 131

Bersifat toksik terhadap sel saraf. Toksin yang sudah terikat pada sel saraf inilah yang timbulkan gejala pada tetanus, dan tidak dapat dinetralkan lagi.

Gejala : Tetanus lokal : jarang  kaku otot sekitar luka Tetanus umum : - trismus - opistotonus - risus sardonikus - kejang hipertonus - dinding perut keras seperti papan - kaku otot ekstremitas - gangguan menelan Kesadaran tidak terganggu!!! Penyebab kematian pada tetanus : - Kelemahan otot pernapasan - Infeksi sekunder paru (pneumoni)  kegagalan pernapasan - Juga gangguan keseimbangan cairan / elektrolit

132

Prinsip penanganan tetanus : - Eliminasi kuman penyebab : • Antibiotik : Penicilin Prokain (IM) 3x1,5 juta unit/hari) • Antimikroba : metronidazol 3x1 gr/hr - Menetralisir toksin • ATS terapeutik selama 5 hari Hari I : 20.000 IU (IV) dan 20.000 IM Hari 2-5 : 20.000 IM/hr • TT (TIG) 3000 – 6000 IU (IM) - Mengatasi kejang  Diazepam - Mencegah komplikasi : O2, NGT, kateter Tetanus ringan : Trismus > 3 cm, kejang (-) walau dirangsang Tetanus sedang : Trismus < 3 cm, kejang (+) bila dirangsang Tetanus berat : Trismus < 1 cm, kejang spontan

133

Tabel Klasifikasi Luka
Gambaran Klinis Luka-luka yg cenderung tidak menyebabkan tetanus ≤ 6 jam Luka yang rata (linear), abrasi ≤ 1 cm Luka tajam, misalnya pisau, kaca Tidak ada Tidak ada Tidak ada Luka-luka yg cenderung menyebabk an tetanus > 6 jam Luka yang tidak (stella), avulse > 1 cm Ada Ada Ada Ada

Umur Luka Konfigurasi luka rata Dalam luka Mekanisme trauma Tanda infeksi Jaringan mati Bahan2x kontaminasi (debu, feses, liur, dll) Jar denervasi &/ jaringan iskemik

Tidak ada

Ada

Tabel Ringkasan tentang Profilaksis terhadap Tetanus pada Penderita Luka.

134

Vaksinasi tetanus Toksoid

Tidak tahu atau < tiga ≥ tiga 2 Tidak 3 Keterangan :

cenderung tidak menyebabkan tetanus Td1 TIG Ya Tidak Tidak

cenderung menyebabkan tetanus Td1 Ya Tidak 4 TIG Tidak Tidak

1. Untuk anak-anak < 7 tahun : DTP (DT, kalau ada kontra indikasi vaksin pertusis) lebih baik dari pada diberi tetanus toksoid saja. Untuk anakanak > 7 tahun dan orang dewasa : Td lebih baik dr pada toksoid saja. 2. Kalau hanya tidak dosis toksoid cair telah diterima, dosis ke-4 dari toksoid harus diberikan bahkan lebih baik lagi bila diberikan suatu absoebed toksoid. 3. Ya, kalau > 10 tahun sejak dosis paling akhir 4. Ya, kalau > 5 tahun sejak dosis paling akhir, (bosters lebih sering tidak diperlukan, dan bisa meningkatkan efek samping) Td TIG = = Tetanus dan diphtheria absoebed – untuk orang dewasa Tetanus Immune Globulin – Untuk human

HAEMORRHOID
135

Berasal dari pl. iliaka int  v. Haemorrhoidalis sup  v.Pleksus vena Haemorrhoidalis inferior Aliran darah : • V.Def : pelebaran pembuluh darah / plexus vena Haemorrhoidalis yang memberikan keluhan / gejala. Vena Haemorrhoidalis inf .Berasal dari pl.Pleksus vena Haemorrhoidalis medius . Mesenterika inf  v.Permukaannya kulit (epitel gepeng) 136 . Vena Haemorrhoidalis sup dan med . porta • V. Anatomi : Pleksus Haemorrhoidalis terdiri dari : . Sigmoidalis  v.Pleksus vena Haemorrhoidalis superior .Permukaannya mukosa (epitel toraks) Haemorrhoid Externa : .Terletak 1/3 bawah saluran anus . Haemorrhoidalis inf  v. Cava inferior Klasifikasi : Haemorrhoid Interna : . pudenda int  v.Terletak 2/3 atas saluran anus .

Tumor intraabdominal.porta) c. Herediter (kelemahan pembuluh darah) b. Tonus sfingter ani lemah Patofisiologi : Haemorrhoid Interna : Sumbatan aliran darah sistem porta menyebabkan timbulnya hipertensi portal dan terbentuk kolateral pada v. Faktor gravitasi (sering berdiri) d. Sirosis hepatis b. terutama pelvis 2. Idiopatik. Kelainan organis : a. Haemorrhoidalis sup Haemorrhoid Eksterna : Robeknya v. Trombosis vena porta c.Etiologi : 1. Faktor anatomi (tdk ada katup pd v. Tekanan intraabdomen tinggi kronik (batuk. 137 . Haemorrhoidalis inf membentuk hematoma subkutis yang berbentuk kebiruan. kenyal-keras dan nyeri. dll) e. predisposisi : a.

Nyeri Pemeriksaan Fisik : 1. masuk dengan manual d. masuk spontan c. Grade 3 : prolaps (+). Prolaps : a. Inspeksi : • Haemorrhoid eksterna : terlihat benjolan diantara kulit dan perineum • Haemorrhoid interna : terlihat benjolan mukosa keluar dari anus 138 .Grade 1 : prolaps (-). lendir timbul karena iritasi mukosa rektum 4. BAB berlendir. perdarahan (+) b.Grade 2 : prolaps (+).Komplikasi : Anemia. jarang terjadi Trombosis akut pada prolaps rekti Diagnosa : Anamnesa : 1. biasanya berupa darah segar yang menetes pada akhir defekasi 2. inkarserata 3. Pruritis ani sampai dermatitis 5. BAB berdarah.Grade 4 : prolaps (+).

Rubber band ligation 139 .Warna biru  vaskular type. Diagnosa banding : 1. faeces menjadi lunak 2.2. tidak mudah berdarah. Diet tinggi serat. belum terbentuk trombus Cara : 1.Warna merah  muscular type. mudah berdarah .Tampak pelebaran vena pada jam 3. 7. Palpasi : pada RT tidak teraba apa-apa kecuali jika ada trombus atau penebalan mukosa Pemeriksaan Penunjang : Anuskopi .Prolaps anus : jari dapat dimasukkan di antara benjolan dan kulit tanpa tahanan 3.Prolaps rekti : • Tidak sakit • Permukaan mukosa dengan rugae • Jari dapat dimasukkan diantara benjolan dan kulit tapi tidak dalam 2. 11 (Morgan’s piles) .Fisura ani : nyeri dan obstipasi Penatalaksanaan : Konservatif : grade 1-2 < 6 jam.Untuk melihat Haemorrhoid interna .

Park 7.Grade 3-4 .Morgan Milligan 5.Langenback 2.Modifikasi Langenback 3.Nyeri Kontraindikasi : Toleransi pasien terhadap operasi tidak baik Timing operasi : Secepatnya Grade 4 dpt lgs dilakukan operasi Teknik operasi : 1.Eksisi radier dan jahitan primer pada jam 3.3.Perdarahan . Phlebodynamic drugs.Takano Langenback : .Sulman 6. penyembuhan baik Modifikasi Langenback : .Operasi ± 15 menit. Sclerosing agent 4. 11 .Whitehead 4. dinding vena lebih elastik Operatif : Indikasi : . 7.Eksisi dan suture 140 .Untuk haemorrhoid yang tidak begitu besar .

Semua primary piles mencegah residif diangkat.Hasil operasi lebih rapi .. 141 .Untuk mencegah striktur  dilatasi dengan Bougie dan mukosa tidak diangkat (eksisi dan ligasi) Morgan Milligan : .Penjahitan pedicle haemorrhoid .Eksisi jaringan diatas klem Whitehead : .Eksisi sirkuler dan jahitan primer longitudinal . tetapi mempunyai kerugian komplikasi post operasi. abses. fistula ani Prognosa : Haemorrhoidectomy tampaknya lebih efektif dan permanen.Eksisi dan ligasi rendah . retention urine 48 jam Lanjut : stenosis. untuk Komplikasi Operasi : Segera : sakit.Penjahitan zig-zag di bawah klem .Insisi kulit dari dasar berbentuk ”V” dan pembebasan jaringan . perdarahan.Sering terjadi striktur anus .

Interna vena di dalam pleksus Garis mukokutan morgagni) . eksterna (kripta Hemoroid interna : 142 .HAEMORRHOID Def : pelebaran hemoroidalis Hemoroid : .H.H.

mengedan pada waktu defekasi .Merupakan pelebaran dan penonjolan pleksus hemoroid inferior terdapat di sebelah distal garis mukokutan di dalam jaringan di bawah epitel anus . Hemoroidalis superior dan selanjutnya ke v.Darah di anus / feses .Perasaan tidak nyaman anus (mungkin pruritus anus) 143 .Konstipasi menahun .Pleksus V..Pleksus hemoroid eksternus mengalirkan darah ke peredaran sistemik melalui daerah perineum dan lipat paha ke v.Kehamilan . interna : • Kanan – depan • Kanan – belakang • Kiri – lateral Hemoroid eksterna : . porta .Prolaps .3 posisi primer H. iliaka Faktor penyebab : .Pleksus Hemoroid interna mengalirkan darah ke v.Obesitas Diagnosis hemoroid : .. Hemoroidalis sup diatas garis mukokutan dan ditutupi oleh mukosa .

Perdarahan umumnya merupakan pertama H.. Eksterna yang mengalami trombosis. 144 .Pengeluaran lendir .Anemia sekunder (mungkin) Nyeri yang hebat jarang ada hubungan dengan hemoroid interna dan hanya timbul pada H. Interna (darah segar) tanda Keluarnya mukus dan terdapatnya feses pada pakaian dalam merupakan ciri hemoroid yang mengalami prolaps menetap.

Kolitis ulserosa 5. RT diperlukan untuk menyingkirkan kemungkinan karsinoma rektum Nyeri hanya timbul apabila terdapat trombosis yang luas dengan udem dan radang DD : 1.Divertikel 3.Prolaps rektum 6.Pada pemeriksaan RT.Polip 4.Karsinoma kolorektum 2. H. Interna tidak dapat diraba  sebab tekanan vena dalamnya tidak cukup tinggi.Kondiloma perianal 7.Tumor anorektal Derajat H. Interna: Derajat Berdarah I II III IV + + + + Menonjol + + tetap Reposisi Spontan Manual Tidak dapat FISURA ANUS 145 .

Iritasi akibat diare .Papil hipertrofik . terletak di garis tengah post TRIAS Fisura Anus : . sebab hemoroid intern tidak menyebabkan nyeri.Fisura anus .Penggunaan laksans . feses keras  disebabkan ketakutan defekasi sehingga ditunda terus menerus • nyeri : spontan sewaktu defekasi • darah segar dipermukaan tinja Inspeksi : umbai kulit Bila ada keluhan nyeri pada penderita hemoroid biasanya ada fisura.Umbai kulit / skin tag Etiologi : . Diagnosa : 146 .Iatrogenik Gambaran klinik : Anamnesis : • konstipasi.Cedera partus . merupakan luka epitel memanjang sejajar sumbu anus.

Sfingterotomi intern FISTEL PERIANAL = fistel anus / fistel para anal Disebabkan oleh perforasi / penyaliran abses anorektum sehingga kebanyakan fistel mempunyai satu muara di kripta (di 147 .• nyeri : spontan sewaktu defekasi • Perdarahan • Konstipasi • Spasme sfingter • Pada pemeriksaan : o Fisura / tukak o Papila hipertropik o Umbai kulit Terapi : .Diit kaya serat .Topikal anastetik .

puborektalis dan dapat membentuk satu lobang perforasi atau lebih di sebelah anterior. Etiologi : kolitis disertai proktitis seperti tbc.pengeluaran bahan purulen kronik dari lubang perianal 148 .anterior  bentuk lurus .perbatasan anus dan rektum) dan lubang lain di perineum (di kulit perianal).subkutis .menembus sfingter .posterior / dorsal  tidak lurus / bengkok ke depan karena radang dan pus terdorong ke anterior di sekitar m. morbus Crohn Letak : .antar sfingter . sesuai HUKUM GOODSALL Bentuk : .Bengkok .lateral .Mirip sepatu kuda Diagnosa Fistel Perianal : .submukosa .Lurus . amubiasis.

149 .Fistel dapat diraba secara bidigital pada RT . Kulit dibiarkan terbuka sehingga penyembuhan mulai dari dasar per sekundam intentionem.Fistulotomi : fistel dibuka dari lubang asaknya sampai ke lubang kulit..Fistel mungkin dapat di sonde garis batas (pertengahan anus) Pada RT : Fistel dapat diraba antara telunjuk di anus (bukan di rektum) dan ibu jari di kulit perineum sebagai tali setebal kira-kira 3 mm. Terapi : . Luka biasanya sembuh dalam waktu agak singkat. Kadang dibutuhkan operasi 2 tahap untuk hindari terpotongnya sfingter anus.

Fistel perineum jarang sebabkan gangguan sistemik. Fistel kronik yang lama sekali  dapat mengalami degenerasi maligna  jadi karsinoma planoseluler kulit.- Fistulektomi  tracknya diangkat semua. Klasifikasi : 150 . FRAKTUR Definisi : putusnya hubungan kesinambungan / diskontinuitas permukaan tulang dan atau tulang rawan.

Berdasarkan hubungan dengan dunia luar : o Tertutup : antaran fragmen-fragmen tulang tidak terdapat hubungan langsung dengan dunia luar o Terbuka : bila terdapat hubungan antara fragmen tulang dengan dunia luar karena ada luka di kulit II. Berdasarkan garis patah o Komplet : mengenai seluruh korteks o Inkomplet : mengenai satu sisi korteks III. Berdasarkan jumlah garis patah o Simple : satu garis patah o Komunitif : > 1 garis patah yg saling berhub o Segmental : > 1 grs patah yg tdk saling berhub 151 .I.

Berdasarkan dislokasi fragmen o Undisplaced o Displaced Kedua fragmen tulang masih searah: (ad Latus) .Ad latus 152 . ”T”. sering pada permukaan sendi V. Berdasarkan lokasinya o Tulang panjang :  1/3 proksimal  1/3 tengah  1/3 distal o Tulang letak melintang :  ¼ medial  ¼ lateral VI.IV. ”Y”. Berdasarkan arah garis patah o Melintang o Miring o Spiral o Kompresi o Berbentuk ”V”.

Krepitasi 6.Nyeri (setempat dan sumbu) 3.Ad latus cum contractionum .Ad axin cum contractionum . Proliferasi sel subperiosteal / endosteal 3. Callus 4. 5. Hematoma 2.Ad latus cum discontractionum Kedua fragmen tulang membentuk sudut: (ad Axin) . Konsolidasi 5.Gangguan dalam pergerakan Stadium penyembuhan tulang : 1.deformitas :  memanjang / memendek  rotasi  angulasi 5. Remodelling 153 .Ad axin cum discontractionum Fragmen distal periferiam) memutar (dislokasi Ad Tanda klasik fraktur : 1.Riwayat trauma 2.Bengkak 4..

Krepitasi MOVE : .Nyeri tekan setempat .Lokalisasi nyeri 4.Fraktur tertutup : • Deformitas • Vulnus • Perdarahan • Fragmen tulang FEEL : .Fraktur terbuka : deformitas (udema.riwayat penyakit dahulu : kelenjar paratiroid Pemeriksaan Fisik : LOOK : .Diagnosa : Anamnesa : 1.Riwayat trauma 3.Gangguan fungsi 5.Nyeri tekan sumbu .Nyeri pada pergerakan aktif Pemeriksaan Radiologik : Untuk menentukan : .Jenis fraktur 154 .Umur dan jenis kelamin : menentukan jenis fraktur patologis 2.Nyeri pada pergerakan pasif . dll) . hematoma.

aligment .Fiksasi eksterna: gips. Cara : .Fiksasi interna 155 .Jumlah fraktur . Jenis : .contact .manual .traksi . dll .rotation ..operasi Yang dinilai pada reposisi : .discrepancy Imobilisasi : mempertahankan agar tulang yang patah tidak banyak melakukan pergerakan yang akan memperlambat proses penyembuhan.Kedudukan fraktur Penatalaksanaan : Reposisi : mengembalikan kedudukan tulang yang patah ke tempat semula. traksi.

Leher 3. Dasar collum • • • • Fraktur Fraktur Fraktur Fraktur inter-trochanter sub-trochanter inter-condyler supra-condyler Gb skematis femur proksimal: 1.Fraktur Femur Klasifikasi : • Fraktur caput femoris • Fraktur collum femoris a.Daerah trokanterik 156 . Trans-cervical c. Sub-capital b.Kaput 2.

Penatalaksanaan : Fraktur tertutup : reposisi imobilisasi Fraktur terbuka : .anak/remaja.perbaiki KU .ATS – toxoid.debridemant.toleransi penderita terhadap operasi tidak baik .tutup luka dengan kassa bersih .penderita menolak operasi 157 .Reposisi . kultur .jenis fraktur yg tdk sesuai untuk fiksasi interna . diharapkan msh ada pertumbuhan tulang .ada infeksi / diperkirakan akan timbul infeksi .Imobiliassi Reposisi dan imobilisasi : • Konservatif • Operatif KONSERVATIF : Traksi kontinu Indikasi : . antibiotik .

Jenis traksi : • Skin traction: a. Russel traction • Skeletal traction : Balanced traction Bryant’s traction/ Gallow’s traction : utk anak < 4 thn Russel traction : untuk usia 4-15 tahun Balanced traction : untuk usia remaja 158 . Bryant’s traction/ Gallow’s traction b.

Pada orang tua. dan radiologist setelah kira-kira 12-14 minggu. Pemeriksaan radiologist 2 hari sekali sampai didapat reposisi yang sempurna dengan cara mengatur traksi dan manipulasi. traksi dikurangi beratnya sampai ± 5 kg.flexores dimulai pada minggu ke-4. traksi dilepas. Setelah terjadi Clinical-union. dewasa mobilisasi bertahap dengan bantuan tongkat topang-ketiak. partial-weight bearing sampai full-weight bearing.quadriceps dimuali setelah 1-2 minggu. Tongkat dilepas jika callus betul-betul kuat. Pada anak-anak dipasang gips hemispica atau gips celana.Dipasang Steinmann’s pen atau Kirschner-wire pada proksimal tulang tibia. Latihan tungkai bawah kaki dan jari kaki harus segera dimulai. Dimulai dari Non-weight bearing. Setelah didapat reposisi yang benar pemeriksaan radiologist 1 minggu sekali. tergantung keadaan penderita. Jika kedudukan sudah baik. Bila union 159 . Latihan terhadap m. Dan akhirnya bekerja aktif. Periksa urin secara klinis. Latihan terhadap m.

Fraktur tungkai bawah multiple .anak-anak dan remaja Timing : .Frikasi .meragukan.Sukar reposisi tertutup .Fraktur patologis Kontraindikasi : .terjadi infeksi . OPERATIF Indikasi (relatif) : .< 4 jam pada fraktur terbuka + kelainan neurovaskuler .Usia lanjut . teruskan traksi dengan beban yang dikurangi 4-8 minggu.toleransi operasi tidak baik . 7 cm proksimal insersi adduktor 160 .Secepat mungkin Tehnik : Pre-operatif dilakukan Skin-traksi (Russel’s atau Buck’s) dengan tujuan mengurangi spasme otot-otot femur Intramedullary Nail  KUNTSCHER NAIL Ideal untuk fraktur 1/3 proksimal atau 1/3 tengah Dipasang kira-kira 5 cm di bawah trochanter minor.

Impaksi .Crush syndrome .proksimal 3.Shortening : pemendekan .Infeksi .Berkesampingan Status ditulis pada fraktur.Overridong .Emboli lemak .Trombosis vena .Kekakuan otot dan sendi Deformitas tulang : .Shock neurogenik / hipovolemik .Fiksasi 3 titik : 1. ada 3 komponen.Distraksi : pemanjangan .Angulasi : bengkok . mis di pemeriksaan: • Pulsasi arteri bagian dorsal fraktur • senisibilitas 161 .Emboli paru .tempat fraktur 2.distal (os cancelleous) Komplikasi : .Decubitus .Rotasi : terputar .

Radius & ulna 150-250 ml . leuko.Tibia & fibula 500 ml Penanganan fraktur femur: .Kompakta < spongiosa Pelvis : Klasifikasi fraktur panggul menurut Qiunby 1.Pro debridemant dgn GA Tulang pada anak-anak : .Humerus 250 ml .Pertumbuhan tulang  epifisis .• motorik Average blood loose untuk cloced fracture: . tidak 162 .Tanpa komplikasi.X-foto femur AP/lat. trombo .IV line RL .Imobilisasi  pasang spalk .Px Hb. hanya berupa fraktur sederhana tanpa pergeseran.Spongiosa >>  vaskularisasi >> .Analgetik . pelvis AP .Pelvis 1500-3000 ml .Antibiotic .Femur 1000 ml .Pasang kateter .

Fiksasi . Penderita masuk dalam keadaan syok dan diperlukan transfusi masif sampai 8 liter.ditemukan syok dan tidak diperlukan transfusi.  perlu transfusi segera dan eksplorasi untuk mengatasi kerusakan yang lain 3.Non rigid • Traksi  Skin traksi  Skeletal traksi • gips 163 screw.Rigid • Interna : plat & intermedulary nail • Eksterna .Fraktur dengan trauma pada organ-organ lain disertai perdarahan dan syok. .Fraktur dengan perdarahan yang masif dan segera  terdapat pergeseran sendi sakroiliaka. K-wive. denyut arteri pada satu tungkai menghilang karena adanya robekan pada salah satu cabang arteri iliaka interna. tidak ditemukan komplikasi pada abdominal atau urologis 2.

 sirkuler  slab ♠ back slab ♠ fore slab FRAKTUR PELVIS % dari seluruh fraktur !!!  Penting karena sering disertai trauma jaringan lunak. rektum serta pembuluh darah. syok 2/3 akibat KLL dan 10 % disertai disertai trauma pada alat-alat dalam rongga pelvis  urethra. buli-buli. Angka Mortalitas  10 % Fungsi Panggul 164 . perdarahan.

asetabulum dan dilanjutkan ke femur o Melindungi struktur dalam rongga panggul Anatomi: Pelvic Ring Sacrum  2 tulang Inominata dan Os Posterior oleh Lig. Sacro iliac di kiri dan kanan Anterior oleh Symphisis Pubis Tulang Inominata dibentuk oleh penyatuan os ilium.o Mentransmisi berat badan melalui SI joints ke ilium. os ischium dan os pubis melalui suatu  Tri radiate cartilage Pada posisi berdiri maka rongga pelvis tertutup baik dari depan dan atas  obliq Pada posisi supine  obliq longitudinal 165 .

Pada berat B.A. 166 . pelvis menghantarkan ke tuberositas ischium Tulang yang dilewati garis yang menghantarkan berat akan menebal. pelvis menghantarkan ke acetabula . Pada berat saat berdiri dari vertebra saat duduk dari vertebra . Berat akan di transfer dari vert. lumbal V ke 3 segmen atas sacrum melalui SI joints melewati lengkungan Ilium ke acetabulum dan tuberositas ischium.

Os Ilium 167 .

Inferior gluteal artery/ vein 3. Internal pudendal artery/ vein ONE MUSCLE Piriformis Os Ischium 168 .The Greater Sciatic Foramen SEVEN NERVES 1. Superior gluteal nerve 3. Nerve to obturator externus THREE VESSEL SETS 1. Sciatic nerve 2. Superior gluteal artery/ vein 2. Internal pudendal nerve 5. Nerve to quadratus femoris 7. Posterior femoral cutaneous nerve 6. Inferior gluteal nerve 4.

semitendinosus.Hamstring muscle : Semimembranosus. adductor magnus Os Pubis Dihubungkan dengan suatu fibrocartilage Os Sacrum dan Os Coccyx 169 .

trdpt pergeseran cincin yang minimal dari fraktur  tipe A termasuk fraktur avulsi atau fraktur yang mengenai cincin panggul 170 .Os sacrum  5 vertebrae Os coccyx  4 vertebrae yang menyatu Klasifikasi trauma pelvis menurut Tile : .Tipe A : stabil A1 : fraktur pelvis tidak mengenai cincin A2 : stabil.

tanpa atau cincin. stabil secara vertikal B1 : open book B2 : kompresi lateral : ipsilateral B3 : kompresi lateral : kontralateral (Bucket = handle)  tipe B mengalami rotasi eksterna yang mengenai satu sisi panggul (open book) atau rotasi interna atau kompresi lateral yang dapat menyebabkan fraktur pada ramus isiopubis pada satu atau kedua sisi disertai trauma pada bagian posterior tetapi simfisis tidak terbuka (closed book) .Tipe C : unstabil secara rotasi dengan vertikal C1 : unilateral C2 : bilateral C3 : disertai fraktur asetabulum  terdapat disrupsi lig post pada satu atau kedua sisi disertai pergeseran dari salah satu sisi panggul secara vertikal. Proses penyembuhan fraktur : 171 . mungkin juga disertai fraktur asetabulum.Tipe B : unstabil secara rotasional. sedikit sekali pergeseran .

kita juga harus memikirkan suatu keadaan pasien secara keseluruhan dan dipikirkan apakah ada multitrauma atau keadaan lain yang dapat menyebabkan kematian 2.Fase hematom  perdarahan disekitar fraktur . ABCD  meskipun pasien datang dengan fraktur.. ATS profilaksis 172 .Fase konsolidasi  terbentuk struktur lamelar seperti tulang normal pada foto Ro garis fraktur tidak terlihat lagi (radiographic union) Langkah-langkah penanganan fraktur terbuka: 1. Antibiotik 3.Fase jaringan fibrosis  timbul kalus fibrosa Osteogenik + osteoblas  penulangan  calus tulang .Fase penyatuan /penyembuhan (clicical union) .

8. Segera lakukan debridemant dan irigasi yang baik. lakukan bone graft antogenous secepatnya 8. Biarkan luka tetap terbuka antara 5-7 hari 7. 5. Analgetik Debridemant Reposisi Fiksasi Bone graft (bila perlu  tulang diambil dari os pelvis kemudian disambungkan ke tempat yang memerlukan) 9. 7. 6. ulangi setelah 24-72 jam berikutnya kalau perlu 5.4. Rehabilitasi anggota gerak yang terkena Beda communitiva dan segmental 173 . Rehabilitasi Prinsip dasar penanganan fraktur terbuka: 1. Stabilisasi fraktur / fiksasi 6. Berikan antibiotik dalam ruang gawat darurat. Fraktur terbuka selalu dianggap sebagai keadaan gawat darurat 2. di kamar operasi dan setelah operasi 4. Lakukan evaluasi awal dan diagnosa adanya kelainan lain yang dapat menyebabkan kematian 3. Biarkan luka terbuka 10.

Derajat II : 174 .Comunitiva : bila ditarik garis imajiner pada fraktur line maka garis-garis tersebut akan saling berpotongan . biasanya berupa bekas tusukan jarum yang diakibatkan tusukan fragmen tulang yang tajam dari dalam menembus keluar kulit . oblique atau comminutive ringan.Segmental : garis imajiner tidak pernah bersinggungan Klasifikasi fraktur terbuka menurut Gostilo dan Anderson: Derajat I : ..Bentuk frakturnya transversal.Luas luka < 1 cm2.Kerusakan jaringan lunak sangat minimal .

Bentuk fraktur comminutive berat atau segmental B. Schickewei: 1..menentukan prognosis Kriteria untuk amputasi primer pada Lengan atas menurut W. Sebagian tulang yg patah terbuka disertai juga kerusakan periosteum C.Bentuk fraktur comminutive sedang Derajat III : A.Luka terkontaminasi .Luas luka > 1 cm2 disertai kerusakan yg tdk luas . kulit).menentukan penanganan . Jaringan lunak yg rusak tidak cukup menutupi tulang yg patah.Fraktur terbuka derajat III (bustilo) 2.Disertai kerusakan saraf lengan (ruptur n. Kontaminasi berat. Jaringan lunak masih cukup menutupi tulang yang patah.Lama iskemik > 6 jam 3. Brachialis) 4. Apabila disertai cedera vaskuler Digrading untuk : . Luas luka > 2 cm2. saraf.Shock yang lama 5.Penderita usia tua 175 . kerusakan yang luas dari jaringan lunak (otot.

Yang menentukan derajat luka : 1. Kerusakan kulit luas yg 2 memerlukan skin graft jar / myocutaneus flap 2 2.Bila saraf tibialis posterior putus 2.6.Multiple trauma dan polytrauma (DM.Luasnya luka 3.Jenis fraktur 4.Terdapat poli trauma 2. Patah tulang sangat comminutive atau kehilangan segmen tulang 2 3.Kontaminasi Menurut Pozo Angka maksimal 1.Trauma remuk dan iskemi panas > 6 jam Indikasi relatif : 1.Terdapat trauma yang ebrat pada kaki ipsilateral 3.Menderita penyakit sebelumnya neuropathy) 7. Kerusakan otot-otot yang perlu 2 176 .Ukuran luka 2.Terdapat kekurangan jar utk menutup defek kulit atau tulang tibia yang patah. Indikasi amputasi primer untuk tungkai bawah menurut LANGE Indikasi absolut : 1.

Tibialis 5. Tibialis post 6.Disarticulatio falocrun? Level amputasi yang msih dapat diterima: . Kerusakan saraf termasuk sciaticus atau n.Syme’s • Fraktus pada pergelangan tangan  > pada wanita • Radius dan ulna dihubungkan oleh TFCC (Trianular Fibro Cartilago Compleks) = kompleks rawan fibroid triangularis. tulang serta kontaminasi yang cukup berat. 177 . prognostik untuk menyelamatkan tungkai bawah hasilnya buruk.Lisfrane’s . Kerusakan pembuluh darah yang mengenai a.Disarticulatio coxae .dilakukan eksisi 4. kulit.Disarticulatio genu . a.Pirogott . Femoralis. Level amputasi yang harus dihindari : .Chopart’s . kontaminasi 2 2 Bila skor mencapai angka 8 untuk kerusakan otot. Poplitea atau a.Amputasi metatarsal .

Gaya tarik untuk melepas impaksi 178 .• Fraktur radius 1 inchi diatas pergelangan tangan • Angulasi dorsal fragmen distal • Pergeseran ke dorsal dari fragmen distal • Fraktur procesus stiloid ulna Mekanisme :Jatuh pada permukaan tangan sebelah volar menyebabkan dislokasi fragmen Fraktur disebelah distal arah dorsal  Dislokasi ini menyebabkan bentuk lengan bawah dan tangan dilihat dari samping seperti ”Garpu”. Kebalikannya  fraktur Smith FRAKTUR SMITH • Jatuh pada permukaan tangan dorsal menyebabkan dislokasi ke arah volar • >> pada wanita Sikap fr Colles :  fiksasi dengan plate buttress • Direduksi dengan cara tarik sampai impaksi pecahan tulang terlepas. kemudian reposisi ke arah volar • Imobilisasi dengan posisi zero dan deviasi ulna sedikit (lama imobilisasi 4 minggu dengan gips) 1.

2.Sertai fiksasi radial untuk lepaskan impaksi radial 3.Kontratraksi 4.Reposisi Fraktur Colles Fraktur Smith Fraktur Monteggia : fraktur 1/3 prox ulna disertai dislokasi radius prox. Fraktur colles 2. Fraktur Barton Fraktur Barton : fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi ke arah volar. Fraktur smith 3. Fraktur Galeazzi : fraktur 1/3 distal radius + dislokasi sendi radioulna distal Fraktur distal radius : 1. Fraktur suprakondiler humeri: 179 .

180 . ketok di patella).6 bulan kemudian  bila belum terbentuk calus  berarti calus (-)  non union Tanda pembentukan calus dan cara periksa: .ketok tulang (bila fraktur di femur.1. Tipe posterior (tipe ekstensi) 99%. Fragmen distal bergeser ke arah anterior. Fragmen distal bergeser ke arah post 2. Tipe anterior (tipe fleksi). Kapan foto pada fraktur? .sesudah pasang spalk (pre op) .tidak nyeri . (banyak pada wanita).sesudah op . dengar hantaran bunyi tulang dengan stetoskop pada simfisis  bila ada fraktur maka hantaran bunyi kiri dan kanan tidak sama.3 bulan kemudian  bila belum terbentuk calus .1 bulan kemudian  bila belum terbentuk calus  foto lagi . Pulled Elbow : fraktur sendi siku (os radius) karena adanya traksi longitudinal yang mendadak sewaktu sendi siku dalam posisi ekstensi dan lengan bawah dalam keadaan pronasi.

Gambaran klinis fraktur : 1.Nyeri.Riwayat trauma 2.Hilangnya fungsi anggota badan dan persendian yang terdekat 5.Krepitasi Daerah sensibilitas nervus medianus serta inervasinya ke otot profundus jari telunjuk dan tengah (C) dan fleskor pollicis longus (D) Daerah sensibilitas nervus ulnaris serta mempersarafi fleksi falang distal jari manis dan kelingking (C) 181 . pembengkakan dan nyeri tekan pada daerah fraktur (tenderness) 3.Perubahan bentuk (deformitas) 4.Gerakan-gerakan yang abnormal 6.

sebab kadang-kadang pada foto pertama segera sesudah trauma tidak jelas adanya fraktur sebaiknya sesudah kira-kira 10 hari. . Pada beberapa fraktur terutama tulang-tulang kecil dan vertebrae mungkin diperlukan posisi obliqual. (mis pada fraktur naviculare). dibuat foto ulangan. 182 .Daerah sensibilitas nervus radialis serta uji untuk lesi nervus letak tinggi (C) Syarat Pemeriksaan Radiologis (foto) pd tulang : .TWO OCCASIONS : Kalau perlu foto dalam 2 kesempatan.TWO VIEWS : Foto sekurang-kurangnya dalam 2 posisi yaitu AP dan lateral. karena dengan resorbsi tulang pada tempat fraktur maka garis fraktur jadi jelas.TWO JOINS : Bagian fraktur harus difoto sekaligus meliputi dua sendi terdekat (satu proksimal dan satu distal dari tempat fraktur). .

Tertutup • Manual (dengan tangan) • Traksi mekanis (ditarik dengan alat) b.Terbuka (orif) Open reduction internal fixation II.Mencapai fungsi yang optimal Untuk mencapai tujuan tersebut.Menghilangkan nyeri 2. Reposisi a. Pengobatan patah tulang pada prinsipnya ditujukan untuk : 1.TWO LIMBS : Sering perlu untuk perbandingan dilakukan foto dari bagian yang sehat. Terutama pada anak-anak misalnya trauma siku dimana epifise yang normal dapat keliru sebagai satu fraktur.Mendapatkan serta mempetahankan satu posisi yang baik 3. perlu dilakukan: I. dan gambaran dari siku lainnya yang normal akan sangat membantu diagnosa. Imobilisasi / Fiksasi 183 .Memungkinkan kalau perlu merangsang union 4. Jadi dikerjakan pada fraktur disekitar sendi..

Pembidaian eksternal (eksternal splint) Co : Gips (plester of Paris) Pemakaian gips ada 2 bentuk : .Cara-caranya: a. ke proksimal sampai dibawah ketiak Full length arm plester (pembalut gips lengan penuh)  hanging cast (pemasangan gips tergantung)  Untuk fraktur antebrachii  Gips dr bawah ketiak sampai dekat artikulasi metacarpophalangeal.U-Slabs (lempengan U)  untuk fraktur humerus  Gips dipasang dari bhu ke distal melingkari siku. siku 0 fleksi 90 Posisi tangan : palmar manus menghadap badan  kalau fraktur di region brachialis palmar 184 .Round and round bandage = pembalut / bebatan gips .Longitudinal strips / slabs = lempengan gips Macam-macam gips : Untuk anggota gerak : .

Jaket spica 185 . lutut fleksi 5100 Cylinder plester (pembalut gips silinder)  Gips dari pangkal paha ± diatas maleolus Gips below knee (pembalut gips di bawah lutut)  Gips dari pangkal jari-jari kaki sampai tuberositas tibia - - Untuk badan : Pembalut gips Minerva untuk vertebra cervical dan Thoraks bagian atas ..Spica bahu . ke bawah dengan Lokasi fraktur : 1/3 prox : posisi tangan supinasi 1/3 tengah : posisi netral 1/3 distal : posisi pronasi Long leg plester (pembalut gips kaki penuh) Untuk fraktur cruris Gips dari pangkal paha sampai pangkal jari-jari kaki.menghadap …….

Traksi Bryant (Gallow) 186 . Traksi Russel (Hamilton) ..Paling sederhana .Balanced traction : tarikan / tegangan berasal dari: tegangan yaitu horizontal pada kaki dan vertikal pada lutut .Hip spica b.Buck’s ekstension + tarikan vertikal melalui sling di belakang lutut .Untuk fraktur femur. Imobilisasi dengan traksi • Traksi kulit (skin traction) 1. pada orang dewasa post luksasi coxae 2.Plester dilekatkan pada kedua sisi tungkai lalu dilakukan penarikan .Sangat baik untuk fraktur femur pada anak-anak (>2 tahun) 3. Buck’s ekstension .

- Untuk fraktur femur pada bayi (13 tahun) - Dilakukan traksi bilateral (pada kedua tungkai) - Traksi vertikal dengan berat anak sebagai counter traction, hingga bokong anak sedikit terangkat dari tempat tidur - Pada anak lebih besar tidak dikerjakan, sebab:  Menyebabkan ”Volkman’s contracture” kaki akibat gangguan sirkulasi  Dapat menyebabkan Legg Perthe’s disease

4.Traksi Dunlop - Untuk fraktur cupracondyler atau trancondyler anak (yang sukar dilakukan reposisi manual /

187

karena ancaman gangguan sirkulasi kalau siku difleksikan) - Traksi diganti dengan pemakaian gips atau collar and cuff sling jika sudah mulai union - Traksi pada ujung tangan (beban 5 kg) dan melalui sling diatas siku pada tempat fraktur (beban 1-1,5 kg)

• Traksi Tulang (Sceletal traction) Pakai Kirschner wire atau Steinmann pin 1. Traksi tulang dengan Bohler Braun Frame a. Untuk fraktur femur, dengan pin/wire pada proksimal tibia

188

b. Untuk fraktur cruris terbuka dengan pin/wire pada calcaneus

2. Balanced suspension traction a. Merupakan traksi yang baik, karena penderita dapat lebih leluasa bergerak tanpa terjadi perubahan besar traksi b. Fleksi lutut dapat dilakukan walaupun dalam keadaan traksi III. Fiksasi Interna a.Screw : untk fraktur obliq, screw dipasang tegak lurus pada garis fraktur b.Plate and screw : untuk tulang-tulang panjang c. Bone graft dan screw : plate berupa sepotong tulang lalu ditahan dengan screw 189

d.Intramedulary nail : • Satu pen dipasang intrameduler Co : - Pada fraktur femur dipasang Kuntscher pin - Fraktur collum femur dipakai Smith Peterson pin • Wire : dilakukan pengikatan dgn kawat Co : - Kirschner (K-wire) - Tension band wiring pd fraktur olecranon / patella !! Fiksasi interna tidak dianjurkan sebagai tindakan definitif pada patah tulang terbuka IV. Fiksasi Eksterna  2 atau 3 pin / screw dipasang pada tiap fragmen tulang (proksimal dan distal) dan sesudah fraktur direposisi lalu pin tersebut di fiksasi dengan suatu ”external bars” hingga posisi jadi rigid. 5P : (Compartement syndrome) : - Pain - Pallor (pucat) - Pulselessness / [araesthesia 190

-

Paralysis Puffune’s (bengkok)

Indikasi Penggunaan traksi tulang: 1.Apabila diperlukan traksi yg lebih berat dari 5 kg 2.Traksi pada anak-anak yang lebih besar 3.Pada fraktur yang bersifat tidak stabil, oblik atau komunitif 4.Fraktur-fraktur tertentu pada daerah sendi 5.Fraktur terbuka dengan luka yang sangat jelek dimana fiksasi eksterna tidak dapat dilakukan 6.Dipergunakan sebagai traksi langsung pada traksi yang sangat berat, misalnya dislokasi panggul yang lama sebagai persiapan terapi definitif.

Cara baca foto rontgen pelvis 1. Cocokkan identitas penderita pada film 2. Baca tanggal pembuatan foto 3. Tentukan posisi foto yang telah dilakukan 4. Periksa foto secara sistematik  Lebar simfisis pubis – pemisahan > 1 cm  cedera pelvis posterior  Integritas ramus sup dan inf pubis bilateral 191

   

Integritas asetabulum, kaput dan kolum femur Simetri ileum dan lebarnya sendi sakroiliaka Simteri foramen saktum dengan evaluasi linea arkuata Fraktur proc transversus L5

Hal-hal yang perlu / titik-titik / garis-garis bantu dalam foto pelvis: - Shanton line  garis antara pelvis dan ke femur - Ilioischial  ramus post - Ileopectineal / ileoischiadika  ramus ant 3 sendi yang perlu dilihat : 1.Sacroiliaca 2.Simfisis pubis 3.Sendi panggul  antara pelvis dan femur True lenght : SIAS (krista iliaca) – maleolus medialis Appereant lenght : Umbilikus – maleolus medialis / Proc xyphoideus – maleolus medialis Anatomic lenght : Tuberositas tibia – m. medialis (untuk os tibia)

192

Trochanter mayor–condilus medial (utk os femur) Dislokasi colum femur: - Posterior : Adduksi fleksi Endorotasi - Anterior : Abduksi Eksorotasi - Dislokasi sentral • Ada fr asetabulum • Kolum femoris terus masuk ke dalam asetabulum

Fraktur klavikula
Merupakan tulang yang berbentuk S, disebelah medial berhubungan dengan sternum dan bagian lateral dengan akromion. DIhubungkan dengan korakoid oleh ligament korakoklavikular.

193

Mekanisme trauma : Fraktur klavikula terjadi karena penderita jatuh pada bahu, biasanya tangan dalam keadaan out stretched. Klasifikasi : 1. 1.Sepertiga Sepertiga tengah (80%) 2. 2.Sepertiga Sepertiga lateral (15%) 3. 3.Sepertiga Sepertiga medial (5%) GK : Adanya anamnesis trauma dan pembengkakan serta nyeri pada daerah klavikula Pemeriksaan radiologis: Pada fraktur 1/3 tengah, klavikula bagian medial terangkat ke atas oleh tarikan otot sternokleidomastoideus dan fragmen lateral tertarik ke bawah oleh m. pektoralis mayor.

194

Fraktur badan skapula Pengobatan : 1. Fraktur klavikula 1/3 lateral 3. Fraktur klavikula 1/3 medial 4. verban bentuk delapan 195 . 1.Gambar skematis lokalisasi fraktur pada scapula dan klavikula : 1. Fraktur klavikula 1/3 tengah 2. Fraktur prosesus akromion 6. Fraktur prosesus korakoid 7. Fraktur leher scapula 5.Konservatif Konservatif Dengan mitela.

Indikasi operasi : 1. 4. 5. 2.2.Penderita Penderita aktif yang segera kembali pada pekerjaan semula Operasi dengan memasang pin Kirschner atau plate and screw.Adanya Adanya tekanan pada pembuluh darah 3.Operasi Operasi Sebagian besar sembuh dengan baik. 2.Kerusakan Kerusakan pembuluh darah atau paru-paru 3. 3.Deformitas Deformitas yang jelek berupa penonjolan tulang ke arah kulit 5. 5.Fraktur Fraktur 1/3 lateral 5.Non-union Non-union 4.Fraktur Fraktur terbuka 2. 3. 4. 1.Artritis Artritis pasca traumatic 196 . 2. Komplikasi : 1. 1.Non-union Non-union 4.Mal-union Mal-union 2.

Fraktur kondiler 6.Fraktur Humerus Lokalisasi fraktur pada humerus 1. Fratkur diafisis 4. Fraktur leher 2. Fraktur epicondylus medialis 197 . Fraktur suprakondiler 5. Fraktur tuberkulum mayus 3.

Indikasi operasi : 1.Pderita Pderita yg segera ingin kembali bekerja scr aktif.Fraktur Fraktur terbuka 2. 4.Terjadi Terjadi dilakukan reposisi 3.Pemasangan gips tergantung (hanging cast) Pengobatan operatif dengan pemasangn plate and screw atau pin dari Rush atau pada fraktur terbuka dengan fiksasi eksterna.Pada setiap fraktur humerus harus diperiksa adanya lesi nervus radialis terutama pada daerah 1/3 tengah humerus. . 1. 198 .Non-union Non-union 4. lesi nervus radialis setelah 2. 3. Pengobatan : Prinsip pengobatan fraktur diafisis humerus adalah konservatif karena angulasi dapat tertutup oleh otot dan secara fungsional tidak terjadi gangguan.Pemasangan U salb .

Tipe III dengan cara eksisi fragmen dan melekatkan kembali trisep pada olekranon.Fraktur Prosesus Olekranon Terjadi karena seseorang jatuh dan mengalami trauma langsung pada siku. Tipe II dengan tindakan operatif dan fiksasi interna menggunakan screw atau tension band wiring. 199 . Klasifikasi : Tipe I : tjd keretakan olekranon ≠ pemisahan Tipe II : keretakan disertai pemisahan Tipe III : fraktur komunitif ada Pengobtan : Pengobatan tipe I dengan terapi konservatif dengan gips sirkuler.

Tipe I (A) Tipe III (B&C) Fraktur Diafisis Radius Ulna Pengobatan : 200 . Pengobatan : Pada orang dewasa sebaiknya dilakukan operasi dengan fiksasi interna yang rigid dan mobilisasi segera sendi siku.Fraktur Monteggia Fraktur 1/3 proksimal ulna disertai dislokasi radius proksimal.

Apabila ada kelainan perlekatan otot pronator dan supinator tulang radius dan ulna. 201 . Reduksi yang akurat sangat diperlukan karena tangan yang mempunyai fungsi untuk pronasi dan supinasi. Pengobatan yang paling baik adalah dengan pemasangan fiksasi rigid dengan plate and screw. Fraktur Galeazzi Fraktur pada 1/3 distal radius disertai dislokasi sendi radio-ulnar distal. reduksi serta imobilisasi yang baik sulit dilakukan.Pengobatan fraktur yang tidak bergeser berupa pemasangan gips diatas siku dengan meletakkan lengan bawah dalam posisi pronasi pada fraktur 1/3 distal. posisi netral pada fraktur 1/3 tengah dan pada fraktur 1/3 proksimal dengan pemasangan gips diatas siku dalam posisi supinasi.

Fraktur Colles 202 .Pengobatan : Harus dilakukan reposisi secara akurat dan mobilisasi segera karena bagian distal mengalami dislokasi. Fraktur Distal Radius 1. Apabila reposisi spontan tidak terjadi maka reposisi dlakukan dengan fiksasi K-wire. Operasi terbuka dengan fiksasi rigid mempergunakan plate and screw. Dengan reposisi yang akurat dan cepat maka dislokasi sendi ulna distal juga tereposisi dengn sendirinya.

supinasi dan impaksi ke arah proksimal. Fraktur Smith 203 . Gambaran ini terjadi karena adanya angulasi dan pergeseran ke dorsal. lengan bawah dalam keadaan pronasi. deviasi ulna erta fleksi. Pengobatan : Fraktur tanpa pergeseran diobati dengan pemasangan gips sirkuler dibawah siku.- Fraktur Colles terdri atas : Fraktur radius 1 inchi diatas pergelangan tangan Angulasi dorsal fragmen distal Pergeseran ke dorsal dari fragmen distal Fraktur prosesus stiloid ulna GK : Terdapat riwayat trauma dengan pembengkakan pergelangan tangan pada orang yg berumur > 50 thn. Imobilisasi dengan gips dilakukan selama 6 minggu dan dilanjutkan dengan fisioterapi yang intensif. Pada fraktur dengan pergeseran fragmen dilakukan reposisi dengan GA. deviasi radial. nyeri dan deformitas garpu. 2.

Jatuh dan mengenai langsung tulang patella. misalnya menekuk secara keras dan tibatiba 2. 204 .3. Fraktur Barton Fraktur pada radius distal dengan fragmen distal melalui sendi dan terjadi pergeseran fraktur serta seluruh komponen sendi kearah volar. Mekanisme trauma: 1. Kontraksi yang hebat otot kuadriseps. Disebelah proksimal melekat otot kuadriseps dan di bagian distal melekat ligament patella. Fraktur patela Patela merupakan tulang sesamoid yang paling besar pada tubuh dan mempunyai fungsi mekanis dalam ekstensi anggota gerak bawah.

GK : Adanya trauma pada daerah lutut disertai pembengkakan. nyeri dan hemartrosis.Klasifikasi : Tipe I : fraktur tanpa adanya pergeseran dan bersifat transversal (fraktur crack) Tipe II : fraktur transversal dengan pergeseran Tipe III : fraktur transversal pada kutub atas/bawah Tipe IV : fraktur komunitif Tipe V : fraktur vertical Fraktur transversal biasanya karena kontraksi hebat Fraktur komunitif karena trauma langsung pada patella. 205 .

3. 4. Bila ada hemartosis yang besar. Pada pemeriksaan didapatkan adanya cekungan dan penderita tidak dapat melakukan ekstensi anggota gerak bawah. Pada fraktur transversal diperlukan operasi dan rekonstruksi kembali ekspansi ekstensor serta tulang patella dengan menggunakan tension band-wiring. 206 . dilakukan aspirasi secara steril dan dipasang gips silinder selama 4-6 minggu. Fraktur komunitif.Mungkin dapat diraba adanya ruang fragmen patella. Fragmen kecil yang komunitif dilakukan eksisi dan rekonstruksi kemali ligament patella. Fraktur yang tidak bergeser. sebaiknya patella dieksisi. Fraktur yang bergeser. Pengobatan : 1. Terutama pada orang tua dimana rekonstruksi kembali patella tidak mungkin dilakukan. Fraktur kutub bawah. 2.

Lebih Lebih sering ditemukan 2.Penyembuhan Penyembuhan fraktur sangat cepat 4. Perisoteum sangat tebal dan kuat dan menghasilkan kalus yang cepat dan lebih besar daripada orang dewasa. Perbedaan anatomi: Anatomi tulang pada anak terdapat lempeng epifisis yang merupakan tulang rawan pertumbuhan.FRAKTUR DAN DISLOKASI SENDI PADA ANAK Fraktur pada anak berbeda dengan orang dewasa karena adanya perbedaan anatomi.Periosteum Periosteum sangat aktif dan kuat 3. maka fraktur pada anak-anak mempunyai gambaran khusus. 3. Atas dasar perbedaan anatomi. 4. biomekanik dan fisiologis. biomekanik serta fisiologi tulang. 2. yaitu: 1.Terdapat Terdapat problem khusus dalam diagnosis 207 . 1.

6.Berbeda Berbeda dalam metode pengobatan 8. Bengkok b. 5.Terdapat Terdapat perbedaan didalam komplikasi 7. Lengkap 208 .5.Robekan Robekan ligament dan dislokasi lebih jarang ditemukan 9.Koreksi Koreksi spontan pada suatu deformitas residual 6.Kurang Kurang toleransi terhadap kehilangan darah Macam-macam fraktur pada anak : a. 7. 9. Green stick c. 8. Buckle d.

sel-sel pertumbuhan lempeng epifisis masih melekat pada epifisis. Fraktur ini terjadi oleh karena adanya shearing force dan sering terjadi pada bayi baru lahir dan pada anak-anak yang lebih 209 .Klasifikasi fraktur lempeng epifisis menurut Salter Haris Tipe I Terjadi pemisahan total lempeng epifisis tanpa adanya fraktur pada tulang.

muda. Tipe II Merupakan jenis fraktur yang sering ditemukan. Tipe III Merupakan fraktur intra-artkuler. Perisoteum mengalami robekan pada daerah konveks tetapi tetap utuh pada daerah konkaf. Sel-sel pertumbuhan pada lempeng epifisis juga masih melekat. Trauma yang menghasilkan jenis fraktur ini biasanya terjadi karena trauma shearing force dan membengkok dan umumnya terjadi pada anakanak yang lebih tua. Garis fraktur melalui sepanjang lempeng epifisis dan membelok ke metafisis dan akan membentuk suatu fragmen metafisis yang berbentuk segitiga yang disebut tanda Thurston-Holland. tergantung kerusakan pembuluh darah. Prognosis biasanya baik bila direposisi dengan cepat. Jenis fraktur ini bersifat intraartikuler dan biasanya ditemukan pada epifisis 210 . Pengobatan dengan reduksi tertutup mudah oleh karena masih ada perlekatan perisot yang utuh dan intak. Garis fraktur mulai permukaan sendi melewati lempeng epifisis kemudian sepanjang garis lempeng epifisis. Pengobatan dengan reposisi secepatnya tidak begitu sulit kecuali bila reposisi terlambat harus dilakukan tindakan operasi. Prognosis biasanya baik.

Prognosis jelek karena dapat terjadi kerusakan sebagian atau seluruh lempeng pertumbuhan. Biasanya terjadi pada daerah sendi penopang badan yaitu sendi pergelangan kaki dan sendi lutut. Pengobatan dengan operasi terbuka dan fiksasi interna karena fraktur tidak stabil akibat tarikan otot. 211 .tibia distal. Jenis fraktur ini misalnya fraktur kondilus lateralis humeri pada anak-anak. Oleh karena fraktur ini bersifat intra-artikuler dan diperlukan reduksi yang akurat maka sebaiknya dilakukan operasi terbuka dan fiksasi interna dengan mempergunakan pin yang halus. Tipe IV Fraktut ini juga merupakan fraktur intraartikuler yang melalui permukaan sendi memotong epifisis serta seluruh lapisan lempeng epifisis dan berlanjut pada sebagian metafisis. Diagnosis sulit karena secara radiologik tidak dapat dilihat. Tipe V Merupakan fraktur akibat hancurnya epifisis yang diteruskan pada lempeng epifisis. Prognosis jelek bila reduksi tidak dilakukan dengan baik.

kantung (peritoneum parietale) 2.HERNIA Def : Protrusi (penonjolan) isi suatu rongga melalui defek / bagian lemah dr dinding rongga bersangkutan Unsur : 1.lemak 212 . Pintu (locus minoris resistentiae) Anatomi : dinding abdomen Superfisial : .kulit . Isi (viscus) 3.

- fascia Scarpen - m. Obliqus ext - apponeurosis Profunda : - canalis inguinalis - m. Oblique int - m. Transversus abd - fascia transversa - peritoneum Canalis inguinalis : dikelilingi oleh m. Cremaster Batas : Atas  apponeurosis m. Oblique ext Medial  conjoin tendon Lateral  lig. Inguinale Bawah  trig Hasselbach Berisi : 1. Funikulus spermatikus 2. A/V spermatika 3. N. Ilioinguinal 4. N. Iliofemoral Klasifikasi : Hernia kongenital: Hernia umbilikalis Hernia diafragmatika Hernia inguinalis lateralis Hernia didapat : Hernia inguinalis medialis Hernia femoralis 213

Jika hernia inguinalis lateralis turun dalam scrotum disebut Hernia scrotalis. Hernia inguinalis lateralis Hernia inguinalis medialis  indirect  direct

Klinis: - Reponibilitas - Ireponibilitas (viscus melekat pada kantung, infeksi (+) - Inkarserata (terdapat gangguan pasase usus) • Hernia lateralis bentuk : lonjong, masuk dari anulus inf, keluar ke anulus ext (kantong lonjong) • Hernia medialis bentuk bulat langsung keluar dari trigonum Hasselbach Tes invaginasi : masukkan jari ke kantong scrotum diraba ada impulse H. Lateralis : teraba di ujung jari H. Medialis : teraba di sisi jari  medial Tes Oklusi (Ziemenn test) Tes dengan 3 jari 1 jari di anulus inf (di tuberc pubicum)  bila teraba pulsasi di posisi ini  H. Ing lat 214

-

1 jari di trig Hesselbach  H. Ing med 1 jari di femoris (bawah log inguinale)  H. femoralis

Anamnesis : H. lateralis : benjolan turun sampai skrotum (+) H. medialis : benjolan tidak pernah turun sampai skrotum. Membedakah hernia dengan hidrokel : Tes transiliuminasi / diafonoskopi test Sinari skrotum / testis dengan senter Bila transiluminasi (-) : tdk tembus pandang : Hernia Transiluminasi (+) : tembus pandang : Hidrokel Karena berisi usus / omentum  benda padat, tdk tembus cahaya Karena berisi cairan Transiluminasi (-) : belum tentu herniasi (-) Bayi umur beberapa hari TI (-) karena ususnya belum banyak berisi feses padat. Silk test :

215

Daerah inguinal digosok-gosok, teraba seperti ada lapisan kain sutra dibawah kulit  Hernia (+). Hernia pada wanita : - terutama timbul pada neonati dan usia 1-2 tahun - pada usia tua lbh banyak terjadi hernia femoralis - jarang terdapat procesus persisten yang disebut kanalis Nuck yang dapat menyebabkan timbulnya hidrokel - H. inguinalis lateralis pada wanita disebut : hernia labialis Hernia pada pria - terbanyak pada neonatus (terutama 2 minggu I) dan usia 1-2 tahun - Usia dewasa muda 18-30 tahun  karena umumnya bekerja keras - Usia 50-70 tahun  lebih sering terjadi H. Ing medialis  karena otot-otot dinding perut sudah lemas - Locus minoris resisten : Proc vaginalis persisten Anamnesa : Bayi / anak kecil  Orang tuanya mengeluh bila anaknya berdiri / menangis kuat-kuat timbul 216

benjolan di daerah inguinal atau skrotum dan bila anak tidur, benjolan akan hilang  Hal ini sudah cukup untuk mendiagnosa Hernia Inguinalis Lateral  Ingat DD dengan hidrokel!! Bila pada hidrokel : benjolan tetap ada saat anak tertidur. Orang dewasa  Penderita mengeluh adanya benjolan di daerah inguinal / scrotum yang hilang bila penderita tidur atau berbaring  Ingat!! Saat anamnesa harus dilengkapi dengan saat timbulnya hernia tersebut.  Biasanya ada faktor-faktor pencetus, seperti: mengangkat benda berat, batukbatuk kronik (asma, TBC, dll), serta hal-hal lain yang meningkatkan tekanan intraabdominal  Bila pada penderita pria yang usia tua tanyakan tentang pembesaran prostat (BPH) karena sering mengedan saat BAK bisa sebagai pencetus timbulnya hernia. Bila pada 1 penderita terdapat 2 hernia : 1 sisi terdapat H. Inguinalis lateralis, sisi lain terdapat H. Inguinalis madialis  disebut Pantaloon Hernia Etiologi : Hernia kongenital : 217

- Procesus vaginalis peritoneum persisten - Dapat timbul pada masa bayi atau sesudah dewasa - Hernia indirect pada bayi berhubungan dengan Kriptorkismus dan hidrocele - Jika timbul pada usia tua, biasanya ada faktor predisposisi. Hernia didapat - Ada faktor predisposisi - Kelemahan struktur apponeurosis dan fascia transversa - Pada orang tua karena degenerasi / atrofi Faktor predisposisi : tekanan intra-abdominal meningkat. - pekerjaan mengangkat barang-barang berat - Batuk kronik - Gangguan BAB, mis: striktura ani, feses keras - Gangguan BAK, mis: hipertrofi prostat, vesikolotiasis - Sering melahirkan  hernia femoralis Diagnosa : Anamnesa : - Timbul benjolan dilipat paha yang hilang timbul, pada keadaan lanjut dapat 218

-

menetap (irreponibilis), kecuali pada hernia inguinalis medialis tidak terjadi irreponible Benjolan timbul jika tekanan intraabdominal meningkat Benjolan dapat hilang jika pasien tiduran atau dimasukkan dengan tangan (manual) Dapat terjadi gangguan pasase usus (obstruksi), terutama pada hernia inkarserata Nyeri pada keadaan strangulasi Terdapat faktor-faktor predisposisi

Pemeriksaan Fisik : - Benjolan pada lipat paha atau scrotum dengan batas atas tidak jelas, bising usus (+), transiluminasi (-). - Hernia inguinalis lateralis :  terletak di atas lig inguinale  anulus internusnya lateral terhadap vasa epigastrika inferior  Jika dapat dimasukkan, kemudian pasien disuruh valsava dengan tangan di cincin eksterna teraba tekanan pada ujung jari jalan keluar hernia tertutup. - Hernia inguinalis medialis :  Terletak diatas lig inguinale  mediale terhadap vasa epigastrika inferior 219

 jika dapat dimasukkan, kemudian pasien disuruh valsava dengan tangan di cincin eksterna teraba tekanan pada sisi medial, dan hernia timbul lagi. - Hernia femoralis : terletak di bawah lig Inguinale Diagnosa banding: 1. Hidrocele 2. Torsio testis 3. varicocele 4. undesensus testis (berhenti di inguinal) 5. limfogranuloma venereum 6. limfadenopati Penatalaksanaan : Konservatif : Hanya pada keadaan yang masih reponible. Dengan cara mengatasi faktor-faktor predisposisi. Bukan penatalaksanaan ideal. Pada anak-anak dengan hernia indirect irreponible diberikan terapi konservatif dengan obat penenang, posisi tradelenberg dan kompres es. Jika dalam 8 jam tidak ada perbaikan maka segera dilakukan herniotomi. Operatif :

220

Herniorafi (tidak dilakukan pada anak) anak- Tehnik operasi : Herniotomi : .Kantong proksimal dan distal dipisahkan . iliofemoralis serta n.Sayatan sejajar lig inguinale (2 jari diatasnya) .Kantung hernia dibuka.Pada keadaan inkarserata atau strangulata dilakukan operasi cito.Kantong distal dibiarkan terbuka .Sayat sampai ketemu kentung hernia .Herniotomi 2. sampai dicapai pre-peritoneal fat . Obliqus ext . namun KU diperbaiki dahulu. Ilioinguinalis .Luka operasi ditutup. Herniorafi : 221 .Kantong proksimal diikat setinggi mungkin. isinya didorong ke dalam rongga abdomen . Jenis operasi : 1.Sisihkan n.A & antisepsis daerah operasi dan sekitarnya .Sayat sampai fascia m.

luka operasi ditutup Hernia inguinalis terletak di regio pubica . Oblique int) dengan tuber pubikum .setelah dilakukan herniotomi. pakai fascia m.Pada hernia lateralis terdapat anulus eksterna dimana dasar dari anulus adalah simfisi yang merupakan jaringan keras.Duodenum .jahit conjoint tendon (jika tidak ada. sebelum luka operasi ditutup . karena: .jahit conjoint tendon dengan lig inguinale .Colon desenden Hernia lateralis lebi sering terjadi inkarserata dari pada hernia medialis.Colon asenden ..anulus internus terletak di linea mid clacicularis .anulus eksternus di dekat simfisis (masuk ke scrotum) cekatan biasanya di anulus eksterna anulus internus : di lateralis anulus eksternus : di medialis Organ retroperitoneal : . sehingga apabila ada usus yang masuk ke 222 .

lambung. pankreas. hati. Transversus internus abdominis dan m. duodenum. duodenum . udara bebas Organ yang rusak : usus.Bassini  menjahitkan pertemuan m. Obligus internus abdominis (dikenal dengan conjoint tendon) ke lig inguinal Poupart. darah Organ yang rusak : limpa.Lower abd (1/3 bagian bawah)  infiltrat.Upper abd (1/3 bagian atas)  cairan bebas. urine Organ yang rusak lambung. . Pembagian trauma pada abdomen: . cincin tidak elastis dan akhirnya terjepit. . Selain itu dasar dari hernia medialis adalah trigonum hasselbach yang merupakan jaringan ikat yang elastis. Teknik hernioplasti : Insisi : sejajar SIAS – tuberculum pubicum. Insisi mulai dari pertengahannya panjang ± 10 cm. . ginjal.kantong hernia. 223 .Pada hernia medialis tidak terdapat cincin.Mid abd (1/3 bagian tengah)  cairan bebas.

m. Tranversus abdominis.kemerahan .. Tanda usus masih viabe : . . m. Hernia femoralis : diantara lig inguinale dan lig lacunare gimbernatii.Mc Vay  menjahitkan fascia transversa. Obligus internus abdominis ke ligamentum Cooper.Shouldice  Langkah I : fascia transversa di iris / dibagi 2 dan dijahit ke dinding belakang  Langkah II : fascia trasversa dan ligamentum inguinale dijahit secara ”overlapping” secara continous  Langkah III : conjoint tendon dan app ligamentum inguinal dijahit lagi secara continous.pulsasi .peristaltik usus 224 .

Kongenital  Proc vaginalis persisten . Pada saat kantong sudah terlihat  terlihat crus medial dan crus lateral Batas atas :  untuk menentukan apakah ada sesuatu dari atas yang turun ke testis. BPH c. Obstipasi lama  Kelemahan dinding perut Pada saat operasi yang perlu dijaga : N. Iliinguinalis dan funikulus spermatikus. Desensus testis : 8 – 9 bulan intrauterin Defek besar : hernia Defek kecil : hidrokel 225 .Aqiusita  Tekanan intraabdominal meningkat : a. Batuk keras b.Hernia : .

Transiluminasi (+).transversal incisi . 226 . iluminensi (+) dan tidak dapat dimasukkan lagi.Hidrokel  batas atas tegas. tanda-tanda toksik Prinsip penanganan hernia pada anak .Hidrokel  operasi  marsupilisasi Kenapa jadi ireponible? Bekas diurut  serosa pernah trauma / jejas  penyembuhan luka jadi proliferasi  menempel Inkarserata : gangguan di vena Strangulasi : gangguan di arteri. lakukan buka cincin  potong sampai apponeurosis MOE DD Hernia inguinal (benjolan dilipat paha) : .high ligation  kantong hernia di ligati setinggi mungkin sampai preperitoneal fat . Testis pada pasien hidrokel tidak dapat diraba.Jahitan subcutikuler Jika ada ancaman strangulasi tapi tidak ada / tidak bisa.

isi hernia 227 .Testis ektopik (undesensus testis)  testis yang masih berada di kanalis inguinalis .Orkitis  radang testis Gb hernia : Hernia terdiri dari : .Limfadenopati inguinal  perhatiakan apakah ada infeksi pada kaki sesisi .kantong .Lipoma atau herniasi lemak preperitoneal melalui cincin inguinal .cincin ..

tidak dapat kembali ke dalam rongga perut  Disertai gangguan pasase usus  Ireponible .Hernia strangulata  Isi kantong terperangkap  Disertai gangguan vaskularisasi .H.Hernia inkarserata  Isi kantong terperangkap. reponible  isi hernia dapat keluar masuk  usus keluar jika berdiri / mengedan. masuk lagi bila berbaring / didorong masuk  tidak ada keluhan nyeri / gejala obstruksi usus .Hernia dibedakan menurut sifatnya: . ireponible  Kantong hernia tidak dapat masuk lagi’ .Hernia Richter 228 .H.Hernia akreta  Perlekatan isi kantong peritoneum kantong hernia  Menyebabkan hernia ireponible pada .

resesus retrosekalis atau defek dapatan pada mesenterium misalnya pada anastomosis usus.Hernia insipiens  Hernia yang berada di kanalis inguinalis yang ujungnya tidak keluar dari anulus eksternus .Hernia interna  Tonjolan usus tanpa kantong hernia melalui suatu lobang dalam rongga perut seperti foramen Winslow. .Hernia eksterna  Hernia yang menonjol keluar melalui dinding perut.Hernia geser / sliding hernia  Apabila sebagian dinding kantong hernia terbentuk dengan organ yang 229 . pinggang atau perineum .Hernia interparietalis / Hernia interstitialis  Kantong hernia yang menonjol ke dalam celah antara lapisan dinding perut . Jika yang mengalami strangulasi hanya sebagian dinding usus  Biasanya pasase usus masih ada .

Hernia diafragmatika  melalui foramen Bochdalek di diafragma .Hernia littre  hernia dengan divertikulum meckel sebagai isi kantong hernia .Hernia spleghel  Hernia interstitial dengan atau tanpa isinya melalui fascia spleghel  Muncul melalui tempat lemah diantara tepi lateral m. kolon sigmoid atau kandung kemih  Terjadi karena isi kantong berasal dari organ yang letaknya retroperitoneal  Alat tersebut tidak masuk kantong hernia.Hernia lumbalis 230 .Hernia epigastrika  Menonjol melalui defek di linea alba kranial dari umbilikus . tapi tergeser dari retroperitoneal .Hernia obturatoria  foramen obturatorius hernia melalui .merupakan isi hernia seperti sekum. Rektus abdominalis dengan linea semisirkularis .

Sensibilitasi kulit regio inguinalis. Iliofemoralis : .Kraniolateral : anulus inguinalis internus  merupakan bagian terbuka dari fascia transversalis dan apponeurosis m. Transversus abdominalis . Batas-batas kanalis inguinalis (sumber WIM DE JONG hal.Medial bawah : anulus inguinalis eksternus 231 .Mempersarafi otot di regio inguinalis sekitar kanalis inguinalis dan tali sperma (funikulus spermatikus) . skrotum dan sebagian kecil kulit tungkai atas bagian proksimomedial. hernia di trigonum lumbale inferior petit dan di trigonum lumbale superior Grijnfelt N.  Di dinding perut bagian lateral Contoh : hernia sikatriks pada bekas luka operasi ginjal.74) . ilioinguinalis dan N.

A/V femoralis lig Hernia Inguinalis Indirek : • Disebut juga hernia inguinalis lateralis.N.Dasar : ligamentum inguinale Isi kanalis inguinalis : Pada pria: . ilioinguinal . terletak di atas tuberkulum pubikum  bagian terbuka dari apponeurosis m. karena keluar dari rongga peritoneum melalui annulus inguinalis internus yang terletak lateral dari A & V apigastrika inferior kemudian hernia masuk ke dalam canalis inguinalis dan menonjol keluar dari anulus inguinalis eksternus. ilioinguinal .Atap : apponeurosis m.Lig rotundum .Funikulus spermatikus . 232 . Obliqus eksternus.N. . Obliqus eksternus .A/V femoralis  dibawah / dasar inguinale Pada wanita : .

skrotalis Hernia Inguinalis Direk • Disebut juga hernia inguinalis medialis • Menonjol langsung ke depan melalui segitiga Hesselbach. umumnya tidak disertai strangulasi karena cincin hanya longgar HERNIA INGUINALIS Etiologi : .• Apabila hernia ini berlanjut. • Batas-batas : o Inf : lig inguinale o Lat : A/V epigastrika inf o Med : tepi otot rektus • Dasar segitiga Hesselbach yang diperkuat oleh serat apponeurosis M.didapat 233 .kongenital . tranversus abd yang kadang-kadang tidak sempurna sehingga daerah ini potensial jadi lemah • H. tonjolan akan sampai ke skrotum  H. medialis karena tidak keluar dari kanalis inguinalis dan tidak ke skrotum.

konstipasi lama . Peninggian tekanan dalam rongga abdomen dan batuk kronis. Obliqus internus abdominis yang menutup anulus inguinalis internus ketika berkontraksi • adanya fascia transversa yang kuat yang menutupi trigonum Hesselbach yang umumnya hampir tidak berotot Gambaran klinik: Inspeksi : Benjolan di lipat paha / keadaan asimetri pada skrotum 234 .Faktor yang mendorong isi hernia melewati pintu yang sudah terbuka cukup lebar tersebut.Kelemahan otot dinding perut karena usia 3 mekanisme yang dapat mencegah terjadinya hernia inguinalis: • kanalis inguinalis yang berjalan miring • adanya struktur m. Pembentukan pintu masuk hernia pada anulus internus yang cukup lebar sehingga dapat dilalui oleh kantung dan isi hernia .Pria > wanita Faktor penyebab: . BPH.Prosesus vaginalis yang terbuka.

235 . Testis kiri lebih dulu turun.Batas atas tidak jelas .Menghilang pada waktu istirahat  reponible . batuk.Diraba konsistensinya .Dicoba mendorong apakah benjolan dapat direposisi (setelah benjolan tereposisi dengan jari ke V.Taktile impuls pada ujung jari ke V >> terjadi di kanan karena: berhubungan dengan decensus testis. Dan proc vaginalis ini kadang belum menutup pada saat bayi lahir  hernia Bila terdapat hernia inguinalis di kiri.Yang timbul pada waktu mengedan. mengangkat beban berat .Perhatikan warna kulit benjolan. bandingkan dengan kulit sekitar Palpasi : .. kadang cincin hernia dapat diraba berupa anulus inguinalis yang melebar) . kemudian disusul oleh testis kanan sehingga prosesus vaginalis terlambat menutup di kanan. maka kemungkinan besar di kanan juga ada.

femoralis : dibawah lig inguinale Penanganan : Konservatif (6-8 jam) : • Terbatas pada tindakan melakukan reposisi dan pemakaian penyangga untuk mempertahankan isi hernia yang telah direposisi. benjolan bentuk bulat 9. benjolan bentuk lonjong 9. • Reposisi tidak dilakukan pada H. kecuali pada anak-anak • Reposisi dilakukan dengan menidurkan anak dalam posisi Tradelenberg dan 236 . Inguinalis : diatas Lig inguinale H. impulse pada permukaan / sisi jari 8. >> org muda (<< 50 thn) 3. hilang cepat / spontan 5. bisa masuk ke skrotum 6. bisa strangulasi 7. timbul pelan-pelan 4.Perbedaan hernia inguinalis lateralis (indirect) dan hernia inguinalis medialis (direct) : Hernia inguinalis Hernia inguinalis lateralis medialis (indirect) (direct) 1. timbul cepat / spontan 4. Inguinalis strangulata. Acquired] 2. hilang pelan-pelan 5. impulse pada puncak jari 8. jarang strangulasi 7. batas atas tidak jelas 1. batas atas tidak jelas Letak H. tidak masuk ke scrotum 6. Embryologic 2. >> org tua (> 50 thn) 3.

isi hernia dimasukkan.diberikan sedatif dan kompres es diatas hernia.Hernioplasti : sering dilakukan pada orang tua (karena kelemahan dinding abdomen) Tindakan memperkecil anulus ing internus dan memperkuat dinding belakang canalis inguinalis 3.Herniotomi : sering dilakukan pada anakanak Kantong hernia dibebaskan. 2. Kantong dijahit – ikat setinggi mungkin lalu dipotong. • Jika reposisi hernia tidak brhasil. kantong dibuka. dalam waktu 6 jam harus operasi segera.Hernioraphi : tindakan herniotomi yang kemudian dilanjutkan dengan hernioplasti 237 . Operatif : 1.

ULKUS PEPTIKUM Patogenesis : Ketidak seimbangan antara faktor pertahanan mukosa / faktor penyerang Defensive factors • mukus  disekresi oleh sel-sel mukosa sal cerna 238 .

menetralisir ion H+. hambat sekresi bikarbonat. Aggresive factors: • Asam lambung  cederai sel mukosa. Gejala dan tanda: . menghasilkan sitotoksin • NSAIDS  hambat biosintesis prostaglandin • Rokok  ganggu motilitas. menekan sekresi as lambung. • Aliran darah  pertahankan keutuhan mukosa • Prostaglandin  sekresi mukus dan bikarbonat. muntah.Perforasi .Anoreksia dan muntah .• Bikarbonat  disekresi oleh epitel lambung. perut kembung) 239 . aktifkan pepsin • Helicobacter pylori  mengurangi mucus. Gastroduodenalis .Perdarahan  erosi a. pelebaran pembuluh darah.Nyeri epigastrik (sekitar ulu hati) Komplikasi : .Obstruksi dan stenosis  penyempitan daerah pilorus pada tukak kronik yang mengalami fibrosis (mual.

Napas cepat dan dangkal RT sfingter longgar  tanda-tanda peritonitis sudah timbul. tidak bisa melakukan pekerjaan Tanda-tanda perforasi gaster (tukak) : .BU / peristaltik menurun / tidak ada . 2.Ulkus peptikum yang perlu intervensi bedah : 1.Hal lain : • Henti rokok 240 .Lekositosis .Perut tegang . Perforasi : tanda-tanda akut abdomen karena perforasi ulkus 3.Diet : ubah pola makan dengan cara 5 / 6 kali makan porsi kecil . yang kemudian menyebar ke punggung dan bahu kanan ke seluruh perut  peritonitis (timbul 6-12 jam setelah perforasi)  kimiawi & bakterial. scar kontractor 4.Hiperamilasemia . pingsan / syok.Pekak hati (-) . Perdarahan : 1500 – 2000 cc darah hilang (Ht 25% / ↓. Terapi : . . Intractibility : nyeri tidak hilang dengan antasida.DM (+) .Nyeri epigastrium tiba-tiba. Obstruksi : sikatriks kroniks.

Ranitidine .Famotidine anti . Pilori .Operasi Tindakan bedah ulkus peptikum : 1. Reseksi lambung parsial tanpa vagotomi Billroth I Rour-Y Billroth II Shomaker 241 .Omeprazole .• Hindari pakai NSAIDS • Hindari stress .Obat : • Antasida • Reseptor H2 blocker .Pantoprazole • Mucosal protectant  sucralfate • Antibiotik  Amok + Metronidazole  basmi H.Rabeprazole .Lansoprazole .Nizatidine agent • Prostaglandin  Misoprostol • Proton pump inhibitor (mengikat H+K+ ATP ase) .Cimetidine secretory .

.Dilatasi akut lambung . Piloroplasti cara Heineke – Mikulike .Untuk itu diperlukan penyaliran (drainage) berupa piloroplasti (m. Sfingter pilorus dipotong memanjang (dr 1 – 2) .M.Diare pasca vagotomi 242 .(Gastroduodenostomi) (Gastrojejunistomi) = Hofmeister 2.Obstruksi ..Kebocoran oungtum duodenum . 3 dg 4) Komplikasi pasca bedah : . Vagus) yang mempersarafi antrum dan pilorus ikut terpotong.Sindrom dumping (pengosongan lambung terlalu cepat) .Menurukan prod asam tetapi akan menyebabkan retensi lambung karena cabang saraf Laterjet (cabang dari N. Vagotomi trukus Selektif ..Sindrom lambung kecil . . Sfingter pilorus dilebarkan) atau gastrojejunostomi (Billroth II) untuk menjamin pengosongan lambung....Kemudian dijahit lagi secara melintang (1 dg 2... dan disfungsi lambung .

- Gastritis karena refluks empedu Gangguan absorbsi makanan Steatore Sindrom lengkung aferen Tukak marginal CA COLON & REKTUM Colon normal adenoma Cancer Advanced adenoma 243 .

Tidak khas 244 . Mengakibatkan penyempitan sehingga terjadi stenosis dan gejala obstruksi b. Tipe Ca : 1.Radang kronik colon (kolitis ulserosa.Polip kolon yang berdegenerasi Ca . Terutama di sekum dan colon ascenden 2. Tipe ulseratif a. kelebihan lemak hewani  faktor resiko Letak : >> (70 – 75%) pada colon sigmoid dan rektum  sesuai lokasi polip kolitis ulserosa dan kolitis amuba kronik. berbentuk bunga kol b. Tipe Scirus (keras) / infiltratif a. Tumbuh menonjol ke dalam lumen usus.Kekurangan serat dan sayut. kolitis amuba kronik) . Terutama di colon desenden.Faktor genetik . sigmoid dan rektum 3. Tipe polipoid / vegetatif a.Etiologi: . Tjd krn nekrosis di bag sentral tdp di rektum Gambaran klinik : Kanan : .

.Konstipasi / defekasi dengan tenesmus .Perdarahan tersembunyi .Darah di feses (permukaan feses) .Bentuk tumor Chinus / sirkuler Tenesmus  darah rektrosigmoid Perdarahan rektum Darah di feses Pebubahan pola defekasi Pasca defekasi perasaan tidak puas atau rasa penuh  Perdarahan akut jarang terjadi      245 . obstruksi .Blood occult : gampang ulceratif  mudah berdarah.- Anemia dan kelemahan Dispepsia Darah di feses Perasaan kurang enak di perut kanan bawah Penurunan BB Tumor bentuk bunga kol Feses masih cair / diare  sering terjadi stenosis.Makin ke distal  feses makin menipis (seperti kotoran kambing) .Ca bersifat sklerotik  feses padat  sering timbulkan stenosis / obstruksi .Tes benzidine Kiri : Perubahan pola defekasi .

Nyeri visceral colon kanan  usus tengah  dirasa di ulu hati / epigastrium dan daerah atas pusat 2. buli dan KGb. Paliatif : 246 . 1. Nyeri daerah panggul  tanda peny ginjal  Bila pada obstruksi  penderita flatus rasa lega di perut. Terapi : tujuan utama : memperlancar saluran cerna USG : .Nyeri viseral colon kiri  usus belakang  dirasa diperut bagian bawah / bermula di bawah pusat 3.lihat metastase ke liver. nyeri dirasakan berbeda karena asal embriologk berlainan yaitu usus tengah dan usus belakang. Klasifikasi : Colon kiri lebih dirasakan nyata daripada kolon kanan.Penyusupan Ca rektum ke daerah panggul dan / anus  menyebabkan nyeri di panggul dalam dasar panggul atau daerah anus. Ca rekti : lakukan Punch Biopsi Jangan lakukan insisi biopsi  perdarahan (ambil dengan jaringan sehat sedikit).

.Reseksi anterior rendah (pada rektum) Kerugian : tidak bersih...Reseksi cara Hartman Tindakan bedah yang didahului dan disusuli radioterapi disebut : TERAPI SANDWICH Reseksi tumor secara paliatif bertujuan untuk mencegah / mengatasi obstruksi atau menghentikan perdarahan supaya kualitas hidup penderita lebih baik.Radiasi Kuratif ..Kemoterapi ... Close loop syndrome : 247 . kemudian melalui insisi perineal anus di eksisi dan dikeluarkan seluruhnya dengan rektum melalui abdomen.. Tumor tidak dapat diangkat  dilakukan bedah . / anus preternateralis (kolostomi)... sering kambuh. .Pembedahan abdominoperineal menurut Quenu-Miles Rektum dan sigmoid dengan mesosigmoid diepaskan termasuk kelenjar limf pararektum dan retroperitoneal sampai kelenjar limf retroperitoneal. .

Kolostoma kait (loop kolostoma) kolostomi partial .Kolostoma laras ganda (double barrel) .Obstruksi dari colon yang disebabkan oleh tumor dimana valvula Baighininya masih bagus. .Tetap : pada reseksi retroanal abdominopurine menurut QuineMiles 248 . .Stoma sementara untuk bedah reseksi usus pada radang atau perforasi .Kolostoma ujung (end kolostoma)  Indikasi kolostomi : .Sebagai anus setelah reseksi usus distal untuk melindungi anastomosis distal Kolostomi = kolokutanoustomi yang disebut juga anus preternaturalis yang dibuat untuk sementara atau menetap. Macam-macam kolostoma : .Sementara :  Pada anastomosis cara Hartmant  Pada penderita gawat perut dengan peritonitis yang telah dilakukan reseksi sebagian kolon.Dekompresi usus pada obstuksi .

proksimal 2 cm) 249 .5 cm distal tumor .10 cm proksima tumor Dukes B : menembus lapisan muskularis mukosa Dukes C : metastasis kelenjar limfe C1 : beberapa kelenjar limfe dekat tumor primer C2 : dalam kelenjar limfe jauh Dukes D : metastasis jauh Pembedahan Ca colon dan rektum Pembedahan menurut Quenu-Miles Potong 5 cm kemudian dilakukan end kolostomi.Tumor dipotong kemudian dilakukan anastomosis kolorektal atau koloanal (distal 5 cm. (kalau tumor sampai anus)  kolostomi tetap Low anterior resection : .Klasifikasi Ca colon dan rektum menurut Dukes : Dukes A : terbatas di dinding usus  segmental reseksi : .

keutuhan sal cerna dapat dipulihkan kembali.Tumor sigmoid dipotong. Trauma tumpul abdomen dengan DPL (Diagnosa Peritoneal Lavage) (+) 2.Setelah keadaan baik. Indikasi Laparotomi 1.Sebelumnya dilakukan kolostomi laras ganda Kolostomi sementara Pembedahan cara Hartmann Pada tumor yang sebabkan obstruksi . Peritonitis Tanda rangsangan peritonitis : DM (+) 250 . kemudian proksimal tumor dilakukan kolostomi (end kolostomi) bagian distal (pungtum) ditutup / dijahit . Trauma tumpul abdomen dengan syok lambung 3..

Supine : gambaran penyebaran udara di usus 3. nyeri ↑ terus menerus 4.00 Bubur kecap  makan H III 07. Tegak : air fluid level  udara diatas. anus pada luka tembus 5. air dibawah 2. Eviserasi Posisi Foto Abdomen : 1. Terlihat sampai caecum. LLD : Left Lateral Deability  jangan kanan karena ada udara di lambung 4. KI : pada peritonitis / perforasi Jika ada gambaran hearing bone (gambaran seperti tulang ikan)  berarti ada distended usus yang disebabkan adanya obstruksi usus. Protap Sterilisasi Usus : H I jam 06.RT : sfingter longgar. Colon in loop / barium enema  pasang NGT dulu.00 Dulcolax 2 x 1 tab lavament 251 + .00 minum obat : Metronidazol 3 x 1 tab Kanamycin 3 x 1 tab B comp 3 x 2 tab 10. Perdarahan dari NGT.

00 lavament Operasi 12.00 Bubur kecap  makan minum obat : Metronidazol 3 x 1 tab Kanamycin 3 x 1 tab B comp 3 x 2 tab IV pagi = H I – H II Sore pasang infus 20.00 puasa 06.00 Otot-otot pengunyah : 252 .00 lavament V sama dengan H IV 20.00 Pasang lavament Bubur kecap  makan minum obat : Metronidazol 3 x 1 tab Kanamycin 3 x 1 tab B comp 3 x 2 tab 06.00 : garam inggris Lavament 24.H H minum obat : Metronidazol 3 x 1 tab Kanamycin 3 x 1 tab B comp 3 x 2 tab Bubur kecap  makan 18.

Trauma pelvis . pterygoideus lateralis : proc pterygoidei – proc condylaris mandibula  menutup rahang dan gerakan ke depan (protusi) Trauma yang bisa bikin syok: . M. menarik balik rahang bawah (retrusi)  m.Trauma femur 253 . masseter : arcus zygomaticus – angulus mandibulae  menutup rahang  m. temporalis : os temporalis – proc coronoideus  menutup rahang. pterygoideus medialis : fossa pterygoidea os sfenoid – angulus mandibula  menutup rahang  m.Trauma retroperitoneal .Trauma abdomen .Trauma thoraks .Luka / robek di SCALP S : Skin C : Conective tissue A : Apponeurotica galea L : loose areolar P : pericranium .

Sumber perdarahan berasal dari dalam tulang atau dari a femoralis. fraktur femur berbahaya  bisa terjadi perdarahan 1500 cc. Bila ada fraktur femur harus pasang infus  untuk hindari syok. ANATOMI SALURAN KENCING 254 .

POTONGAN MELINTANG GENITALIA PRIA 255 .

POTONGAN MELINTANG GENITALIA WANITA 256 .

Uterus Bladder Peritoneum Ureter Pubovesical Lig. Urethra Vagina Rectum UROLOGI Organ urinaria terdiri dari ginjal dan saluransalurannya (ureter. buli-buli. Fungsi ureter : mengalirkan urine dari pielum ginjal ke dalam buli-buli 257 . uretra).Median Umbilical lig.

Pada saat ureter masuk buli-buli Ureter masuk buli-buli dalam posisi miring dan berada di dalam otot buli-buli (m. Tempat-tempat penyempitan ureter :  batu / benda-benda lain yang berasal dari ginjal sering tersangkut di tempat tersebut. Kontraksi itu dirasakan sebagai nyeri kolik yang datang secara berkala. waktu menjelang M. Psoas 4. Iliaca comunis di rongga pelvis 3. 1. sesuai dengan irama peristaltik ureter. Uretropelvijunction (perbatasan antara pelvis renalis dan ureter) 2. Tempat ureter menyilang a. 258 .Jika oleh karena sebab terjadi sumbatan pada aliran urine. terjadi kontraksi otot polos yang berlebihan yang bertujuan unutk mendorong / mengeluarkan sumbatan dari saluran kemih. Detrusor/intramural)  keadaan ini mencegah terjadinya aliran balik urine dari buli-buli ke ureter / refluks vesiko-ureter pada saat buli-buli berkontraksi.

Trigonum .Inferiolat 259 dgn rongga .Bladder neck (leher buli)  ada muara uretra interna Produksi urin normal : 1500 cc/24 jam Tdd 3 permukaan : .BULI .Superior  berbatasan peritoneum .BULI Anatomi: .Fundus .

Detrusor. Hal ini menyebabkan kontraksi m. Saat kosong buli-buli terletak di belakang simfisis pubis Saat penuh buli-buli diatas simfisis pubis  sehingga dapat dipalpasi dan perkusi.Anak-anak (menurut formula dari KOFF) : {umur (thn) + 2 } x 30 ml.Posterior  lokus minoris (daerah terlemah) dinding buli-buli. Buli-buli yang terisi penuh memberikan rangsangan pada saraf aferen  menyebabkan aktivasi pusat miksi di medula spinalis segmen sakral S2-4. Fungsi : menampung urine dari ureter dan mengeluarkan melalui uretra (miksi) Kapasitas maximum buli-buli: ..Vol orang dewasa : ± 300 – 450 ml . terbukanya leher buli-buli dan relaksasi sfigter uretra  terjadilah MIKSI 260 .

Inflamasi akut pada organ padat lebih nyeri  pielonefritis. epididimis akut Inflamasi pada organ terasa kurang nyaman. prostatitis.  buli-buli.NYERI DI UROLOGI Nyeri lokal (nyeri tekan dan nyeri ketok CVA) Reffered pain (nyeri yang dirasakan jauh dari tempat organ yang sakit) Contoh : nyeri akibat kolik ureter dapat dirasakan sampai ke daerah inguinal. uretra. Nyeri ginjal berongga hanya 261 . testis. bahkan sampai ke tungkai bawah.

TBC. sistomiasis) 262 . Nyeri kolik Nyeri terjadi akibat spasmus otot polos ureter karena gerakan peristaltiknya terhambat oleh batu. Tidak jarang nyeri kolik diikuti dengan keluhan pada organ pencernaan seperti mual dan muntah. awalnya dirasakan di daerah CVA kemudian menjalar ke dinding depan abdomen ke regio inguinal hingga ke daerah kemaluan. hilang timbul sesuai gerakan peristaltik ureter. Nyeri vesica Dirasakan di daerah suprasimfisis Nyeri terjadi akibat over distensi buli-buli yang mengalami retensi urine atau ada inflamasi pada buli-buli (sistitis interstitialis.Nyeri yang terjadi akibat regangan kapsul ginjal Regangan dapat terjadi karena pielonefritis akut yang menyebabkan edema saluran kemih yang menyebabkan hidronefrosis atau tumor ginjal. bekuan darah atau benda asing Nyeri sangat sakit.

tidak jauh. pancarannya menjadi lemah. inguinal. retensi urine) Nyeri testis / epididimis Nyeri penis Keluhan miksi GEJALA OBSTRUKSI  Pada keadaan normal. seperti ditusuk-tusuk pada akhir miksi kadang disertai hematuria (disebut stranguria) Nyeri prostat Oleh karena inflamasi yang mengakibatkan edema kelenjar prostat dan distensi kapsul prostat Nyeri pada abdomen bawah. saat sfingter uretra eksterna berelaksasi beberapa detik kemudian urine mulai keluar. perineal. 263 .  Akibat adanya obstruksi intravesika. urine jatuh di dekat pasien.Sering pasien sistitis merasa nyeri hebat. disuria. kecil. menyebabkan hesistensi atau awal keluarnya urine menjadi lebih lama dan sering pasien harus mengejan untuk memulai miksi. lumbosakral atau nyeri rektum Keluhan miksi (frekuensi.  Setelah urine keluar.

bercabang-cabang. miksi berhenti dan kemudian memancar lagi. yang dikenal dengan inkontinensia paradoksal. deras. keadaan ini terjadi berulang-ulang disebut intermitensi  Miksi diakhiri dengan perasaan masih terasa ada sisa urine di dalam buli-buli dengan masih keluar tetesan urine (terminal dribbling)  Jika pada suatu saat buli-buli tidak mampu lagi mengosongkan isinya. kadang berputar-putar. Dipertengahan miksi. Jenis pada: Paradoksal (BPH) Stress panggul Urine keluar pd saat buli-buli penuh tek abd me ↑ obsts kelemahan tdp infravesika otot 264 .  Obstruksi uretra oleh karena striktura uretra ant biasanya ditandai pancaran kecil. sehingga keluar urine sering menetes tanpa disadari.  Lama kelamaan buli-buli isinya makin penuh. menyebabkan retensi urine yang terasa nyeri pada daerah suprapubik dan diikuti dengan keinginan miksi yang sangat sakit (urgensi).

Cara menentukan pembesaran prostat: 1. Etiologi : Belum diketahui dengan pasti. Pemeriksaan bimanual 2. ureter kerusakan sfingter ext. kencing urine selalu keluar uretero vag. pada usia lanjut estrogen relatif lebih banyak daripada androgen. HIPERTROFI PROSTAT Definisi Hiperpalsi kelenjar periuretral (sel-sel glanduler dan intersisial) dari prostat. Clinical grading 265 .Urge neurogen Continous ektopik atau true ada keinginan utk sistitis. diduga adanya ketidakseimbangan antara hormon androgen dan estrogen. buli-buli. Rectal grading 3.

berat < 10 gram Stage 1 : prostat teraba 1-2 cm. berat 60-100 gram Stage 4 : prostat teraba > 4 cm. berat > 100 gram Clinical grading: Pada pagi hari atau setelah banyak. pasien disuruh BAK sampai habis. berat 20-25 gram Stage 2 : prostat teraba 2-3 cm. Intravesical grading 6. Ultrasonography Pemeriksaan Bimanual: Dengan melakukan RT dan penekanan pada suprapubik. berat 25-60 gram Stage 3 : prostat teraba 3-4 cm. dengan kateter diukur sisa urin dalam buli-buli. Rectal Grading : Dengan rectal touche: Stage 0 : prostat teraba < 1 cm.4. Normal : sisa urin tidak ada Grade 1 : sisa urin 0 – 50 cc 266 . Intrauretral grading 5. jika teraba pembesaran prostat maka dapat diperkirakan besar prostat > 50 gram.

Grade 2 Grade 3 Grade 4 : sisa urin 50-150 cc : sisa urin > 150 cc : retensio urin total Intrauretral grading Dilakukan pemeriksaan dengan panendoskopi untuk melihat seberapa jauh penonjolan prostat ke dalam lumen uretra Intravesikal grading: Dengan menggunakan pemeriksaan Cystogram Diagnosa: Anamnesa: Prostatismus : 1. BAK menetes 3.Palpasi suprapubik (vesika penuh. BAK tidak lampias 2.Foto polos perut : trabekulasi (penebalan otot detrusor) 267 . Nokturia Usia > 50 tahun Pemeriksaan fisik : .Rest urine (clinical grading) .RT + bimanual  menentukan besar prostat Pemeriksaan penunjang . nyeri) .

Ca Prostat :  > 60 tahun  Prostatismus + gross hematuria  Nyeri lumbosakral menjalar ke tungkai  RT : benjolan keras. melekat  Peningkatan fosfatase asam 2. Prostatitis :  Nyeri perineal  Demam  Disuri. polakisuri  Retentio urin akut  RT : jika terjadi abses  fluktuasi (+) 3. Neurogenik bladder :  Lesi S2-4  Rest urin (+)  Inkontinensia urin 268 .- Sakulasi (kantung otot) IVP :Divertikel (mukosa menembus ke luar) Indentasi Endoskopi DD : 1.

Striktura uretra :  Retentio urin  Pancaran urin bercabang Penatalaksanaan : Operatif Indikasi operasi : 1.Lama operasi < 1 jam 269 . Transuretral reseksi (TUR) Transuretral resection: . Tanda sumbatan dengan infeksi 4. Rest urin > 50 cc 2.Dilakukan jika perkiraan berat prostat < 50 gram . Retentio urin total 5. Retropubik ekstra-vesikal (Millin) 2. Transvesikal (von Frey) 4. Perineal (Reinshock) 3. Perdarahan Kontraindikasi operasi : toleransi tidak baik Teknik operasi: 1. Panendoskopi  trabekulasi jelas 7. Retentio urin kronis 6.4. Tanda sumbatan dengan fungsi ginjal menurun 3.

bisa menyumbat vesika 2. Perdarahan post operatif. retrograd ejakulasi ke dalam buli-buli (3040%) 5. 270 . Urin bocor lewat luka operasi 3.- Irigasi dengan air. Infeksi dan striktur karena pemasangan kateter yang lama 4. jika > 1 jam timbul intoksikasi air  hemodilusi  hiponatremia  udem otak  gangguan kesadaran Komplikasi : 1. inkontinensia karena unstable – bladder.

Komponen kelenjar .Otot polos 271 .BENIGN PROSTATE HYPERPLASIA (BPH) Anatomi : Prostat tdd : .Stroma .

D&S 2.Inf buli2. post. lat sentral. sfingter ant BPH : Lobus medius/ lateral. depan rektum.Topografi : . 4 x 3 x 2. zona transisional 272 . 20 g Pembagian Anatomi : 1. segmen med. transisional. bungkus uretra post . preprostatika.McNeal : Zona perifer.5 cm.Lowsley : 5 lobus  Ant.Proksimal (basis prostate) = leher buli-buli .Distal (apex prostate) • Diafragma urogenital / sfingter eks • Uretra anterior Letak : .Btk spt buah kemiri.

Obstruksi mekanis . zona perifer Teori terjadinya BPH: Testosterone 5-α reduktase DHT DHT + AR (androgen reseptor)  sintesis protein growth faktor Sel tumbuh Teori terjadinya BPH 1.Ca prostate : Lobus posterior.Obstruksi dinamis .Berkurangnya kematian sel prostate 5.Teori dihidrotestoteron 2.Interaksi stroma epithel 4.Adanya ketidakseimbangan antara estrogen – testoteron 3.Obstruksi detrusor Patofisiologi : Prostatismus  Kompleks gangguan akibat penekanan/ sumbatan pd uretra (oleh BPH) 273 .Teori stem sel Keluhan BPH dipengaruhi : .

Disuria Pemeriksaan fisik Px. nyeri? 274 . Umum : . BPH  =4:1 Manifestasi klinis LUTS (Lower Urinary Tract Symptoms) Gejala : sindroma prostatismus Gejala obstruktif .penyakit lain Px. pemb darah.Incontinency .Post voiding / terminal dribbling Gejala iritatif . massa.Weak stream . Ikat.pinggang …. Urologis : .1.Hesistensi .Voiding .Faktor statis : Prostat / sumbatan pd uretra (oleh BPH) 5.Nokturia . otot polos) Normal  stroma : epitel = 2 : 1.Urgensi .Faktor dinamis : Stroma (jar.tanda vital .Intermitten . saraf..

. • Kateteral indwelling 275 .Uretrosistoskopi Terapi BPH .Konservatif :  untuk mengatasi retensio urin • Kateteral intermitten Buli-buli dapat dikosngkan dan kateter segera dilepaskan. o Konsistensi prostat o Besar prostate o Menentukan s.Uroflowmetri . saraf VUS (BCR) Lab.Colok dubur ….Imaging : o KUB/BOF o IVP (Intravenous pyelografi) .PSA .Buli-buli ….. Klinis Lab rutin Khusus : . & Dx.Observasi (Watchfull waiting) .USG : o Transektal o Abdominal . kosng? . penuh. Beberapa pasien kemudian akan dapat miksi sendiri dengan spontan..

Close :  TURP (Trans urethral Resection of the prostate)  TUIP (Trans urethral incision of the prostate) Cat: Bila pada pasien BPH tidak bisa masuk kateter  lakukan cystostomi untuk mengatasi retensio urin (keadaan gawat darurat).BPH dengan penyulit 276 .Sisa kencing pasca miksi > 100 ml . Tiap hari pasien terpasang kateter dan membawa urine bag di setiap waktu .Sangat berguna terutama bila penderiita dulunya juga pernah mengalami retensi urin akut.Open :  suprapubik transvesikal (Freyer)  retropubik intravesikal (Millin)  transperineal .Operatif : . diuretic) • supresi androgen . Indikasi operasi .Medikamentosa • α-bloker (prosasin.ISK berulang .Retensi urin .

Flowmetri pola obstruksi Diagnosa banding • Striktura uretra • Stenosis leher buli-buli • Batu buli/uretra yang menyumbat • Ca prostate • Prostatitis/prostatodinia • Buli neuropati • Obat-obatan Penyulit BPH • Menurunnya kualitas hidup • ISK • Terbentuk batu buli • Sakulasi – divertikel –hidronefrosis • Hernia • Hemoroid • Hematuria • Gangguan fungsi ginjal • Inkonstinensia paradoksal 277 .Tx.. Medikamentosa gagal .

Cat: 278 .

yang disebut sindroma TURP : .udem otak Keadaan RT pada BPH dan Ca prostate Normal .S.muntah.hiponatremi . Kenyal (simetris) & elastis . Keras Konsistensi .TURP ≠ boleh lebih dari 1 jam  bisa jadi intoksikasi cairan.Simetris teraba . TD meningkat.Pul atas ≠ teraba teraba .Konst.BernodulPermukaan nodul. gelisah.Middle hipertrofi 279 . Mudah rata berdarah BPH tidak teraba pada Px.S. rata kenyal . RT apabila : . mediana . kesadaran menurun .≠ simetris Besar ki = ka . bradikadi .Konst.Perm.Pul teraba - BPH Ca prostat atas . mediana Sulcus mendatar mendatar mediana .mual.Prostat membesar transvesika .Pul atas ≠ .

peningkatan tek.Penyakit-penyakit pada urologi : • Kelainan congenital • Trauma/cedera • Infeksi • Keganasan/tumor • Batu Mengakibatkan ggn aliran urine  stasis stasis Infeksi batu Akibat hal itu terjadi: .peningkatan tek.peningkatan tek. intravesikel . intrauretral . intrarenal Akibat peningkatan tsb akan merusak bagian fungsional ginjal 280 .

apakah air kencing bapak langsung mudah keluar. dsb) SKOR MADSEN – IVERGEN 1.Apakah harus mengejan saat kencing Voiding . ggn hemostasis.Ya.Jika ingin kencing dan sudah di WC.Tidak 0 . ggn asam-basa.Menetes 4 2.Tidak tentu 1 . mengejan 2 3. atau harus menunggu dulu baru dapat keluar? Hesitancy 281 . Bagaimana pancaran air kencing bapak? Stream Besar dan lancar 0 .Gangguan fungsi ginjal (peningkatan ureum.Kecil dan lemah 3 .

Terputus-putus 3 5.Apakah merasa puas ssdh kencing?Bladder empty .Pernah 1x dipsg kateter br kencing biasa 3 Sudah lebih dari sekali dipasang kateter/selang 4 6.Pernahkah kencing tdk terasa / spt ngompol? 282 .Hrs ditunggu dl baru air kencing dpt keluar 3 4.Lampias 0 ..Apakah air kencing yg keluar sekaligus / terputus-putus? Intermittency .Sekaligus 0 .Kadang kurang lampias 1 .Selalu tidak lampias 2 .Sesudah di WC langsung kencing dpt keluar 0 .

pernah seperti ngompol .Ya.Tdk pernah / kadang-kadang saja 1x semalam 0 283 .Tidak pernah sama sekali 0 2 . untuk pergi ke WC : Urgency .Berapa kali bapak terbangun malam hari untuk kencing di WC? Nocturia . kencing keluar lg seperti ngompol 2 7.Incontinency .Apakah tidak terburu-buru karena yakin kencing dapat ditahan 0 .Selalu air kencing keburu keluar sampai siap di WC 3 8. rasanya kencing sukar ditahan lagi.Hrs terburu-buru. kadang air kencing keburu keluar sebelum sampai di WC 2 .Ssdh kencing & pakai celana.Saat sudah merasa ingin kencing.

Antara 2-3 jam sekali (5-6x kencing siang hari) 1 .Tiap 1-2 jam sekali (7-8 x kencing siang hari) 2 .Pada siang hari.Tiap sebentar kencing.Tiga-empat kali semalam 2 .Sampai dua kali semalam 1 .> 3 jam sekali / ± 3-4 kali selama siang hari 0 .Lebih dari empat kali semalam 3 9. berapa sering bapak buang air kecil? Diuria .. tidak sampai 1 jam harus kencing lagi 3 HASIL:  RINGAN  SEDANG  BERAT : : : < 10 10-20 > 20 284 .

Urinarius Obstruksi tractus urinarius Bawah 285 atas .UROSEPSIS Definisi : Septikemia yang berasal dari fokus infeksi di trak.

Trauma buli-buli .Ca prostate ureter . Urinarius : . Pemeriksaan penunjang : Untuk mengetahui adanya obstruksi lesi .Batu ginjal .Trauma ureter .Ca cervix Contoh lesi trak.IVP  px ureum dan kreatinin dulu.USG .Ca buli-buli Batu .Instrumentasi trak.Ca rectum Tumor ginjal .- BPH Strictura uretra Ca uretra Ca cervix . Urinarius sistokopi) (bougle. kalau tinggi : tidak boleh  lakukan RPG (Retropyelografi) .Renogram IVP • • • mengetahui : Macam kelainan primer urologi Lokalisasi & derajat obstruksi Fungsi dari ginjal 286 .Trauma tumpul ginjal .

Leukositosis (> 10.5) + menggigil 3.Stab > 5 8.Fungsi masing-masing ginjal . USG mengetahui : • Kelainan anatomi ginjal : o batu o hidronefrosis o tumor o kista • Kelainan anatomi buli2 : o Batu o divertikel buli-buli o Tumor o BPH/ Ca prostat o bekuan darah Sindroma urosepsis 1.Febris (≥ 38. Bakteriuria Tx urosepsis • Antibiotika • Resusitasi cairan & elktrolit • Diversi urin sementara 287 .Sistole .000) 7.Adanya obstruksi traktus urinarius bagian atas.Renogram mengetahui : . Urinarius 2.100 mmHg 4.Ada obstruksi/ lesi trak.Leukosituria 10.Nadi > 100x/m 5.LED meningkat 9.RR > 30x/m 6.

pada : • Orang tua • KU jelek • Dengan kortikosteroid Definisi sepsis  SIRS  terdapat paling sedikit dari 2 kriteria ini : 1.Frek.000 atau > 10 % bentuk leukosit muda  Sepsis  SIRS dengan tanda-tanda infeksi  Sepsis berat Sepsis disertai hipotensi (sistole < 90) atau terdapat disfungsi organ.Suhu tubuh > 38oC atau < 36oC 2.000 atau < 4.Denyut nadi > 90 3.Leukosit darah > 12. atau hipoperfusi (terdapatnya salah satu dari keadaan: hipoksemi.Sefalosporin generasi III Sepsis tanpa febris. atau oliguri) 288 . Laktat.Sesuai kultur urin .• Tindakan definitif urologi primer terhadap kelainan Pilihan antibiotika : . peningkatan as.Ampisilin + Bentamisin . Napas > 20 atau PaCO2 < 32 4.

 Syok septic  Sepsis hipotensi dan hipoperfusi disertai dengan BATU SALURAN KEMIH Batu 1. 3. vit A 289 . 2. 4.def.infeksi . saluran kemih meliputi : Batu ginjal Batu ureter Batu buli-buli Batu prostate (jarang) Penyebab pasti belum diketahui Etiologi : Teori : .

Biasanya anak 290 .Inorganic stones : kalsium-oksalat. kadang-kadang dapat terjadi prolapsus ani. cystins. xantin Jenis - batu yang sering ditemui di RSCM : kalsium-oksalat as. kalsium-phosphate 2. kalsium. Urat. triple phosphate. diet yang salah . Urat triple phosphate kalsium phosphate Secara radiologik : . as. Urat.hipersaturasi bahan-bahan yang relative tak larut dalam urin. karena kurang minum.radiopaque  inorganic stones .. mis: Oksalat.radiolusccent  organic stones Diagnosa : Anamnesa : Batu buli-buli : • Pada anak-anak ditemui rasa sakit pada saat BAK sehingga anak menangis dan menarik-naarik penisnya.Organic stones : as.faktor lingkungan Jenis batu : 1.

• Sering disertai perut kembung. • Jika batu sudah masuk ke dalam uretra maka akan terjadi retensio urin. Gangguan pancaran • Nyeri dapat hilang pada perubahan posisi. nausea dan vomitus • Hematuria .Batu ginjal • Tidak mempunyai keluhan yang khas • Keluhan dapat timbul akibat :  Infeksi (pielonefritis)  Batu masuk ke ureter (kolik)  Peregangan pelvio-kalises menyebabkan pegal2. Disuri 3. - Baru ureter : • Colic pain. Nyeri tidak hilang pada perubahan posisi. • Pada orang dewasa. menyebar dari pinggang kea rah testis. Trias : 1. • Kolik ginjal 291 . Hematuria 2.akan mengambil posisi tertentu yang memungkinkan urin keluar.

as.Benjolan buli-buli (pada retensio urin) .Diet Pemeriksaan fisik : status urologis • Regio CVA : o Nyeri o Ballotement/massa • Region supra-simfiser : .Usia penderita .Disamping itu perlu ditanyakan : . dan fosfat dalam darah atau urin 24 jam.Tingkat sosial . Urat.Riwayat keluar batu .Rabaan batu (dengan bimanual) • Genitalia eksterna : Mungkin dpt meraba batu jk batu terletak pd uretra pars anterior.Nyeri tekan . Radiologik : 292 . : Perlu pemeriksaan kalsium. • RT : Untuk mendeteksi adanya hipertrofi prostate Pemeriksaan penunjang: LAB. untuk menyelidiki faktor penyebab timbulnya batu yang penting untuk pencegahan.

Intra vena pielografi : .Kontur ginjal .Struktur sist.Lokasi batu .8 Jika pH jadi basa (>6.5)  garam organic yang mengendap Perbedaan batu buli-buli.Dinding buli-buli .Batu radiopaque .Pancaran kuat.Batu radioluscent (filling defect) 3. normal kemudian bercabang menetes (seperti air selang yang -Luas dipencet) 293 .Ureter .Fungsi eksresi ginjal .Besar batu 2.6)  garam2an anorganik akan mengendap Jika urin jadi asam (<5.1. Pelviokalises . Retrograd dilakukan IVP pielografi : jika tdk dapat pH urin normal + 5. hipertrofi prostate dan striktura uretra: Batu buliHipertrofi Striktura buli prostat uretra -Miksi mula-mula -Pancaran lemah. . Foto polos perut : .

 Teori inhibitor kristal : Beberapa substansi dalam urin menghambat terjadinya kristalisasi.  Teori matriks : Matriks organic yang berasal dari serum atau protein-protein urin memberikan kemungkinan pengendapan kristal. jika posisi diubah bisa miksi lagi -Luas penampang -Luas normal penampang kecil -Pada akhir miksi tidak puas Batu struvit . Teori pembentukan batu :  Teori inti (nucleus) : Kristal dan benda asing merupakan tempat pengendapan kristal pada urin yang sudah mengalami supersaturasi.penampang normal -Miksi lalu berhenti. 294 . kosnentrasi yang rendah atau absennya substansi ini memungkinkan terjadinya kristalisasi. batu MAP (magnesium amonium phosphate) disebut juga sebagai batu infeksi karena terbentuknya batu ini disebabkan oleh adanya ISK.

kemih melalui 295 . dan kemudian mengeluarkannya dari sal. kemih yang tdd dari memecah batu. memperlancar aliran urin dengan diuretikum dan minum banyak supaya dapat mendorong batu keluar dari sal.Ketok dengan BOUGIE : (+)  pasti batu (-)  belum tentu bukan batu Penatalaksanaan urolitiasis Medikamentosa  force diuresis • Ukuran batu < 5mm. ESWL (extracorporeal shock wave lithoripsi)  Memecahkan batu tanpa melalui tindakan invasif dan tanpa bius  Batu dipecah menjadi fragmen kecil sehingga mudah dikeluarkan melalui sal. kemih. karena diharapkan batu dapat keluar spontan • Tx untuk mengurangi nyeri. kemih Endourologi  Tindakan invasif minimal untuk mengeluarkan batu sal.

Alat dimasukkan melalui uretra atau insisi pada kulit (per kutan) Proses pemecahan batu dapat dilakukan secara mekanik. kemih.Litotripsi  Pakai alat pemecah batu (litotripsi)  Pecahan batu dikeluarkan dgn evakuator Ellik 3. dengan memakai : energi hidraurik.Ureteroskopi / uretero-renoskopi  Masukkan alat ureteroskopi per uretram  Dapat pecahakan batu dengan pakai energi tertentu 4.Ekstraksi Dormia : 296 . Macam-macam tindakan endourologi : 1. Suara atau energi laser. 2.  alat yang dimasukkan langsung ke dalam sal.PNL (percutaneus nephro litholapary)  Untuk keluarnya batu dari ginjal dgn cara masukkan alat endoskopi ke system kalises melalui insisi pada kulit  batu dipecah jadi fragmen kecil  kemudian dikeluarkan. energi gel.

Pielonefritis akut • Batu buli-buli 1.Tumor sel transisionil sist. Mengeluarkan batu ureter dengan manjaring melalui keranjang Dormia Bedah terbuka: • Pielolitotomi sal.Hipertrofi prostate 2.Striktur uretra 3.TBC ginjal 5.Tumor primer ureter 2. ginjal • Nefrolitotomi • Ureterolitotomi • Nefrektomi Mengambil batu pd Diferensial Diagnosa : • Batu ginjal : 1.Nekrosis papiler 6.Sumbatan bekuan darah dari ginjal 3.Adenocarcinoma ginjal 3.Infark ginjal • Batu ureter : 1.Pielonefritis akut 2. Pelviokalises 4.Tumor vesika bertangkai 297 .

Mengetahui etiologi untuk mencegah residif Batu buli-buli :  Batu kecil < 1 mm  konservatif  Batu 1-2 cm  lithoripsi  Batu besar > 3 cm  section alta Batu ureter :  Ekstraksi dengan basket/loop untk batu < 1 cm. cupping sudah menjadi bola 298 .Pada - anak : Phimosis/paraphimosis Striktur uretra congenital Katup uretra posterior congenital Penatalaksanaan : Tujuan : 1. cupping sudah mulai datar Grade 3: Bendungan (+). cupping terlihat baik Grade 2: Bendungan (+). letak distal  Pull through pada batu letak distal  Uretrolitotomi Grading bendungan : Grade 1: Bendungan (+). Menghilangkan batu untuk mempertahankan fungsi ginjal 2.

Cat: Untuk batu ureter yang kecil.Hemi-nefrektomi.Nefrolitotomi. atas indikasi :  Obstruksi  Gangguan fungsi ginjal  Nyeri yang mengganggu . diuretika. bentuk memanjang dan diameter < 1 cm sedangkan bendungan yang ditimbulkan grade 1 atau 2. selalu diambil sikap menunggu.Nefrektomi. Setelah itu dinilai lagi secara radiologik. jika kerusakan pada salah satu pool ginjal. yaitu dengan terapi konservatif (minum banyak. harus dilakukan uretrolitotomi. Batu ginjal : . jika ginjal sudah tidak berfungsi lagi . Bila batu tetap ditempat semula dan bendungan bertambah hebat berarti batu sudah melekat pada dinding (incrusted). antispasmodic) dan diobservasi 3-6 bulan. Beda lokasi batu : Ginjal : 299 .

kolik / nyeri di pinggang. pada pria sampai scrotum. Pegal pada CVA. Buli-buli : miksi tiba-tiba berhenti. NK (+) CVA.A dan antisepsis daerah operasi dan sekitarnya 300 . NT (+). hematuri.Tanda-tanda infeksi . disuri. dengan perubahan posisi  lancer lagi Pada anak-anak suka menarik penisnya Uretra : retensi urin Full blast dan NT suprapubik Kolik.Pasien terlentang dalam analgesia epidural . ballottement jika sudah hidronefrosis. gangguan pancaran.Batu > 5 cm KI : fungsi ginjal (-) Gejala tergantung pada : besar batu dan lokasi TEHNIK SECTIO ALTA : . batu kecil > gejala Indikasi operasi : .

sehingga tampak buli-buli .Luka dicuci .Dilakukan pengisian buli-buli melalui kateter.Peritoneum dicapai secara tajam .Dibuat drainage cavum Retzii .Uretra pars bulosa 301 .Uretra pars membrabosa 3.Peritoneum disisihkan kearah cranial.Dibuat jahitan kendali pada dinding buli-buli .Uretra pars prostatikus Uretra pars post 2.Ginjal sudah tidak berfungsi .Berisi nanah (pionefrosis) .Batu dikeluarkan dengan Steen-tang . tidak bocor ..Luka operasi ditutup Indikasi Nefrektomi : .Korteks sudah sangat tipis .Dinding buli-buli dijahit dengan cara overhecting .Dibuat insisi 2 cm diatas simfisis pubis pada linea mediana sepanjang 6 cm .Insisi diantara kedua jahitan kendali .Mengalami pengkerutan akibat batu saluran kemih yang menimbulkan obstruksi dan infeksi menahun TRAUMA URETRA Uretra pada pria : 1.

Ada darah dari MUE  (bukan urine) disebut blood discharge . Melalui B.Uretra pars naviculare  bbrp mm dr OUE Uretra pars ant Trauma pada uretra: . Melalui D.Retensio urine 302 . Melalui C.kontusio . Melalui uretra pars bulbosa uretra pars pendulosa uretra pada bagian koronal penis fossa navicularis Tanda dan gejala cedera uretra : .robekan o sebagian (partial) o keseluruhan (rupture) A.4.Uretra pars pendulosa / cavernosa 5.

Pada pemeriksaan: hematom daerah selangkangan bentuk kupu-kupu  disebut butterfly hematoma Ruptur uretra posterior : RT : didapatkan prostate yang mengambang (floating prostate). Bila cedera disertai patah tulang panggul  90-95% disertai robekan uretra pars membranosa. Ruptur uretra anterior  disebabkan oleh straddle injury (mis kecelakaan motor.Bloody discharge dari MUE .Stradle injury . Ruptur uretra posterior : .Butterfly hematoma .Retensio urine .Untuk membedakan cedera di daerah mana : posterior atau anterior  lihat mekanisme trauma.Foating of the prostate Trias rupture uretra anterior : . dsb).Darah dari uretra dan retensi urin  cardinal sign. Penanganan : 303 .

Retensi urine  urine dialihkan dengan cara sitostomi (buat saluran kencing buatan di VU). Suspek trauma uretra : jangan pasang kateter karena bisa sebabkan trauma tambah parah  timbul fistel uretracutaneus. Pemeriksaan : Bipolar uretrosistografi. Patah tulang panggul : Straddle injury 304 .

Fibrosis minimal D.Jenis Striktur Uretra A. Lipatan mukosa / mucosal fold B. Spongiofibrosis E.Inflamasi dan fibrosis sampai corpus spongiosum 305 jaringan . Kontriksi iris / iris constriktion C.

Dapat terbentuk abses. Striktur dengan komplikasi fistel.F. fistel kearah kulit dan rectum CARA PENYEBARAN TERJADINYA ISK 306 .

berbau. putih. sebaceous) * Pada acini/pangkal hidung. sudut alis luar mata 307 .KELAINAN KULIT Atheroma : Cyste sebaceous * Obstruksi gland sebaseus  Kiste rotensi * Pada semua bagian tubuh kecuali telapak tangan dan kaki. lunak / fluktuasi o bebas dari dasar. Kiste / Dermoid * Berasal dari sisa epitel yang tertinggal pada garis-garis funembrional * Kongenital * Berisi macam-macam struktur epidermal (rambut material. * Berkapsul dari epitel squamous berisi sel deskuamus (keratin)  creamy. * Klinik : o tumor bulat / lonjong. melekat pada kulit o ada puacta (bintik pada puncak penonjolan pada kulit) * Terapi : ekstirpasi.

tendon sheath * Berisi cairan jernih. dengan septasepta fibrosis * dibungkus oleh satu kapsul tipis. sering subcutan * Suatu massa multilobuler. sering kontraksi / gerakan tendon. dorsum pedis * Klinis : benjolan yang keras tetapi sedikit fluktuasi. warna benjolan sama dengan sekitar 308 . * Terapi : Eksisi  mungkin rekuren. melekat pada dasar.* * Klinis : tumor bulat. Kulit diatasnya mobil. Lipoma * Tumor jinak dr jaringan lemak. mukoid (gelatinous) * Biasa pada dorsal manus / pergelangan tangan. sendi. bebas dari kulit. tidak begitu mobil. Ganglion * Tumor cystic berasal dari selubung synovia. Implatation Dermoid / Kiste Epidermoid * Implantasi epitel ke dalam jaringan subkutis oleh karena luka tusuk * Biasa pada telapak tangan dan kaki / jarijari disebut juga traumatis epitel cyste * Terapi : ekstirpasi. konsistensi lunak Terapi : eksisi.

kavernosa H.terutama pada wajah dan leher 309 . ektoder Ep. kapilaria “ Port Wine Strains” = seperti tumpahan anggur . Ganglio Atherom Dermoi epidermo n a d id Struktu Gl.sejak lahir . kapilaria * Diameter besar : H.* * Klinis : tumor lunak. K. Isi bahan putih. jernih. berbau putih berbau kental Hemangioma * Perkembangan setempat yang berlebihan dari pembuluh darah berdinding tipis * Diameter kecil : H. mobil lobulated  kalau dipencet terlihat cekungan-cekungan ( kulit diatasnya seperti jeruk). Terapi : ekstirpasi Kista K. synovia r asal sebasea m epidermis Ttk di + ± pundak Kulit tipis biasa biasa biasa Dinding rapuh liat tebal tipis Minyak Keratin Cairan Sabun. kulit diatasnya normal.

lesi rata atau sedikit meninggi.benjolan pada kulit. kapilaria .Terapi : kecil  eksisi. warna merah suram.dapat infiltrasi ke jaringan sekitar  terapi jadi sulit . kompensibel  tanda khas . Kadang-kadang eksisi  kosmetik H.suatu papula / benjolan batas ejlas.kambuh cepat (4 – 6 minggu) .lesi tetap seumur hidup. ditekan jadi pucat . Kavernosa .mengalami involusi (sempurna pada usia 37 tahun) .Terapi : sukar : kecil  eksisi besar  suntik …… Radio tx : kurang baik Srawberry :  bentuk ke-2 dari H.Tx sebenarnya tidak perlu. konsistensi seperti spons .warna kebiruan.kalau bagian badan yang bersangkutan ditinggikan  mengecil . berkembang sesuai perkembangan anak .timbul tidak lama / segera sesudah lahir .. 310 . merah terang  seperti buah strawberry dibelah 2 lalu diletakkan di kulit .

USUS HALUS Tek intraluminar : 2 – 4 mmHg (istirahat) Tek waktu peristaltik : 20 – 30 mmHg  jadi isi usus didorong ke distal dan akhirnya keluar tek > 30 mmHg kapiler > 50 mmHg > 90 mmHg 120-230 mmHg usus halus : statis  limfe. : sumbatan vena : sumbatan arteri : tek memecahkan Obstruksi simpleks : o Tekanan 5 – 20 mmHg o Limfe drainage o Mempercepat penimbunan caran limfe o Tek ↑  regurgitasi via lambung Obstruksi CLOSED – LOOP : o Tekanan 40 – 70 mmHg o Gangguan vascularisasi & aliran limfe o Nekrosis dinding usus  perforasi 311 .

obstruksi  50 % plasma + cairan interstitial ( ± 10L/24 jam) hilang ke dalam lumen usus lalu keluar usus  SHOCK .Obstruksi usus halus : . kehilangan cairan + elektrolit 2.hipotensi 3.obstruksi pylorus : alkalosis.obstruksi usus halus : Na ↓↓  asidosis Efek lokal : 1.peritonitis Pemeriksaan Fisik 1.usus halus untuk pencernaan dan penyerapan .takikardia karena dehidrasi / peritonitis 2. proliferasi bakteri 4.abdomen : distensi 312 .kelembaban mukosa 6.vol ekstra sel ↓ 2.turgor kulit 5.sirkulasi darah setempat ↓ 3. kehilangan plasma darah 3.demam  kemungkinan strangulasi 4.toxemia 4. as lambung ↓↓ . perforasi Efek umum : 1.

bising usus me ↑ : high pitch. gel peristaltic usus nampak pada dinding abdomen (Darm Steifung) 10. RT (rectal toucher) 313 . steifung (peristaltic waves dr ddg abdomen) scars (pasca bedah) -> jar ikat hernia incarserata (orang gemuk  samarsamar) massa dalam abdomen : neoplasma. musical character 12. intususepsi nyeri tekan abdomen (+) nyeri lokal mungkin nyeri rebound strangulasi defence musculorum  auskultasi : high pitched (nada tinggi) tinkling (metal-metal sound) musical character  rectal expl : massa dalam lumen feses (+)  px lab  darah  sigmoidoskopi  kadang pada obstruksi colon 7. dehidrasi  turgor ↓ . nyeri tekan abdomen 11. perut membuncit 9. tinkling.d. membran mukosa kering 8.

penyakit sistemik.Stasis  pertumbuhan bakteri me ↑ kan konsentrasi bakteri dalam lumen usus. bila ada dimana lokalisasinya 3. bagaimana keadaan anatomis / patologi dari lesi obstruksi 4.Tekanan diafragma me ↑  gangguan respirasi abd. bagaimana KU penderita ( balance electrolit. Evaluasi penderita dgn suspect Obstruksi Usus : 1.Pemeriksaan Roentgen: Untuk lebih tepat tentukan lokasi obstruksi Multiple gas fluid levels pada usus dan distensi usus Bentuk U terbalik  foto tagak : gas diatas & cairan dibawah.Gangguan drainage limfe  edema usus  kapasitas absorpsi me ↓  cairan > banyak tertimbun  gangguan kontraksi otot-otot usus  memperbesar permeabilitas mukosa (Bacterial Risk. dll) DISTENSI ABDOMEN USUS . 314 . apa ada obstruksi usus 2. ventilasi paru me ↓ . apakah sudah ada strangulasi 5. Absorpsi Toxin) .

Bunyi usus  jarang hilang 6.Nyeri tekan abdomen 3.Distensi abdomen 2.Rectum kosong & / kembung Obstruksi strangulasi 1. obstruksi. flatus (-) Kolik lama-lama  hilang ↓ timbul nyeri abdomen kontinu ↓ persangkaan strangulasi + peritonitis Gejala obstruksi usus : Obstruksi simpleks 1. luka me ↑ SINDROM OBSTRUKSI INTESTINAL Nyeri.Kegagalan sirkulasi lebih jelas Gambaran klinik Obstruksi intestinalis 315 .Gb anak tangga 4.Rebound fenomena 5. muntah.Visible peristaltic / Darm Steifung 3. distensi abdomen.Insidens peritonitis.Iritasi peritoneal 2.Defence musculair 4. infeksi. abses.

7° C < 37. minim al Jelas.7° C > 37. minim al Jelas. difus lokal Suh u < 37.7° C < 37.7° C ++++ +++ (kontinu (cepat) ) Pada Roentgenologik obstruksi usus Ileus Paralitik +++ +++ (merata pd usus halus & colon) + ++ + cenderung sama tinggi dengan abdomen tengah U Obstruksi Mekanis + + (hanya prox dr obstr) +++ + ++ cenderung pd perm(≠ sama tinggi) 316 .Mekani k/ simplex Usus halus prox Usus halus distal Nyeri ++ abd atas +++ abd tengah +++ abd bawah ++++ (terus”) + Dis tensi + +++ cepat +++ lambat ++ ++++ Munta Buny Nyeri h i tekan usus +++ ++ promoto r pecah + fecal +++ (terus”) + +++ ↑ ↑ ↑ ↓.7° C < 37.7° C < 37. minim al Difus. ideal Difus. minim al Difus. ≠ tentu ↓ ↓ Difus.

Nyeri tekan 70%  20% strangulasi .distensi abdomen .konstipasi akut Penanganan dengan obstruksi usus seharusnya segera diberi cairan IV (NaCl.Shock.Nyeri mendadak Diagnosa dini Obstruksi intestinal: . strangulasi ≠ begitu meyakinkan .nyeri  kolik .follow through Faktor-faktor penunjang obstruksi strangulasi : .nyeri kolik (jejunum – ileum)  3 – 5’ (6-10’) . > strangulasi . Gluc 5%)  produksi urin cukup 317 .Tanda – tanda obstruksi strangulasi usus . timbul cepat pada strangulasi .………..Nadi > 100  20% strangulasi .Perlangsungan cepat me↓  strangulasi .dehidrasi .Leukosit ≠ 50 .Suhu ↑.borborygmi didengar dengan stetoskop .muntah : retrograde peristaltic .operasi harus cepat  < 4 jam ( 4 – 6 jam) kec ada alasan-alasan khusus dapat ditunda X-Ray – plain : • legal • LLO / samping .

tindakan operasi dimulai : nadi. pertimbangan resiko adanya strangulasi obstruksi 24 – 30 jam : ggn metab minimal ≠ ada riwayat peny jantung. ggn asam basa b.- cairan IV cukup  CVP 5 – 10 cc NaCl darah. ggn cairan-elektrolit. strangulasi ↓ . tergantung factor : a. plasma IV  syok. ginjal operasi segera setelah diagnosa ditegakkan 318 . dengan beberapa kekecualian kapan waktu operasi. prod urine  N . paru.lama obstruksi  berat / ringan.CVP.kemajuan factor organ vital (peny jantung pada ortu) c.antibiotika  strangulasi UG tube (Levin tube)  1 MA tube  < aspirasi ke paru < distensi usus Penanganan obstruksi intestinalis hilangkan obstruksi dengan pembedahan. TD.

Fistula entero cutaneus  colostomy prox dp colon 4. dengan ggn elektrolit & cairan beberapa hari  18 – 24 jam persiapan pembedahan Terapi pembedahan 1.. colon transverstomi 3.Eksisi lesi / anastomosis reseksi  ileo – transverocolostomi (hemicolostomi) Colon bagian kiri – 3 tahap Colon bagian kanan – hemikolektomi By pass ileo transv – colostomy OBSTRUKSI SIMPLEKS COLON Causa : 319 . incarserata. adhesi) 2.Obstruksi sederhana  lepaskan obsruksi (H.…..Intestinal cypos (obstr Chron’s disease)  anastomosis ileum.

Obstruksi karena metastase Ca intra abdominal 4. resusitasi.Faeces (orang tua) Distensi timbul kemudian (> besar) Muntah timbul kemudian 50 – 60 %  distensi segmen usus halus valv ileocoecal yang inkompeten Tek intra luminer : 2 – 4 mmHg Perlu 50 – 70 mmHg  dapat pecah Tanda / gejala sama dengan obstruksi usus halus Hanya perlangsungan lebih lambat Pembedahan Ditunda / Rawat Konservatif.Exaserbasi akut Chron’s disease 7.Volvulus .stenosis pylorus  koreksi cairan & elektrolit 2.Obstruksi intestinal pasca bedah abdomen 3.Bayi dengan intisusepsi  reduksi hidrostatika 5.Volvulus sigmoid  sigmoidoscopy decompresi 6.Penderita dengan obstruksi usus parsial menahun (Chronic partial obstruction) Penanggulangan  px. bila : 1..Ca 90% . operasi 320 .

≠ peny jantung. lamanya obstruksi 2.. ggn metab minimum 3. risiko strangulasi . ginjal . pulsasi arterial  bila ragu  kompres NaCl 15’  masih ragu  RES Obstruksi Colon kiri (3 tahap) COLON 321 .operasi ditunda (perlu bedah) sdh bbrp ……….penderita yang segera dioperasi setelah diagnosa ditegakkan 1. paru. persiapan pra Pendekatan operasi : Selalu melalui laparotomi (insisi garis tengah perut) Kec pada obstruksi oleh hernia inguinalis Penilaian segmen usus yang viable : Warna. motilitas. gejala-gejala 24 – 30 jam 2. baik/buruknya fungsi organ vital 3.waktu yang tepat untuk operasi langsung pada 1.

neurogen : tumor MS.keracunan retroperitoneum : fraktur. trauma.kolostomi prox • reseksi anastomosis + kolostomi tetap • tutup kolostomi Colon kanan • hemikolektomi kanan + ileotransverso – colostomy • By pass ileo trans colost (poor risk P) • Ileus ParalItIk Etiologi : 1. nekrose.Faktor metabolic  hipokalemi intestino- 1.intraperitoneum : peritonitis Pemeriksaan Rontgen : Foto iktisar perut tengah : batas udara – cairan ↓ gb anak tangga dinding usus yang melebar – tebal fluid level yang kecil – kecil dan multiple Obstruksi mekanik Paralitik obstruksi 322 .kausa tidak jelas . Paralitik / Neurogenik / Adinamik .Faktor neurologik  refluks intestinalis 2. hematom .

Invaginasi ileocaecum 5.Tindakan operasi obstruksi belum dapat dilakukan: 1. Obstruksi intestinalis pasca badah segera 3. Obstruksi partialis VOLVULUS Volvulus : obstruksi usus yang disebabkan oleh melilitnya/terpelintirnya usus atau membentuk simpul. Volvulus sigmoid 6. 323 . Stenosis pylorus  koreksi cairan dan elektrolit 2. Obstruksi karena ileitis terminal  Chron’s disease Reseksi obstruksi 7. Obstruksi karena metastase Ca abdomen 4.

Vovulus sigmoid : Mesenterium yang panjang dengan basis yang sempit.Sigmoid  pada orang tua.Sekum  pada orang tua Etiologi : Volvulus sekum : Terjadi karena kelainan bawaan kolon kanan yang tidak terletak retroperitoneal tetapi tergantung pada perpanjangan mesenterium usus halus.Volvulus sering terjadi di: . jadi ada faktor mesenterium yang panjang dan sekum yang mbil karena tidak terfiksasi. Sumbu rotasi volvulus terletak sekitar a. rotasi bisa mencapai 720 derajat. Diagnosis volvulus : Nyeri kolik Antara koluik terdapat nyeri perut menetap Perut besar sekali karena distensi Kadang mual muntah Gambaran foto rontgen : o Ban mobil karena belokan raksasa 324 . laki” > wanita . Ileokolika.Usus halus (terutama ileum)  dewasa muda .

325 . Kolon disambung setelah KU baik. Vitelinus) sebelah intestinal / intraabdominal tetap terbuka True divertikel  anti mesenterik semua lap usus Divertikulum meckel sering disebut dengan Disease of Two.o Dengan bubuk barium rektal terlihat tanda paruh burung Sikap : Sigmoidektomi dengan anastomisis terminoterminal Bila keadaan umum buruk  prosedur Hartman Reseksi sigmoid & kolokutanotomi  kolostomi pada kolon proksimal dan kolon bagian distal ditutup. DIVERTIKEL MECKEL Def : suatu keadaan dimana duktus omphalomesentericus (duct.

1.Dapat terjadi pada setiap umur.Fistula umbilikalis (umbilikus dan usus) Dalam perkembangan selanjutnya dari umbilikus sering keluar cairan yang berbau feses 2. sering pada 2 tahun I Terjadi : berhubungan dengan perkembangan midgut dan yolk sac.2 feet dari valvula Bauhini/ ileocaecal valve (60 cm) 4.Terdapat 2% dari penduduk 2.DD dengan 2 penyakit : a.Didalamnya terdapat 2 jaringan ektopik  gaster dan pancreas 6. berhubungan dengan suatu tuba dalam umbilical cord (ductus omphalomesenterikus) yang umumnya hilang dalam minggu VII Jika tidak hilang : 1.Pria : wanita = 2 : 1 3.Sinus umbilikalis / kista umbilikalis 326 .2 komplikasi : perforasi dan perdarahan 7.appendisitis akut 8.Panjangnya 2 inchi (4-5 cm) 5.perforasi gaster b.

Divertikel Meckel umbilikus 4.Rasa mual .Demam 327 .Nyeri periumbikal .Fibrous band Hanya berupa jaringan ikat True DM Anti mesenterik mesenterik Seluruh dinding usus submukosa False DM tumbuh di daerah hanya mucosa & Gejala divertikulitis akut = app akut .Daerah bawah berbentuk kantong 3.Muntah ± .

Perasaan tidak enak  bandingkan dengan invaginasi Pemeriksaan radiologi pada obstruksi usus : .pada foto posisi tegak  air fluid level (udara diatas dan cairan dibawah) .adanya kolik disertai muntah hilang timbul dengan interval makin lama makin dekat ( 15’-11’-5’) diluar serangan anak normal 328 .Pada foto supine : gambaran penyebaran udara diusus tidak sampai ke distal .Feses campur darah ..Tanpa nyeri . pem fisik. pem penunjang Anamnesa : .Ada gambaran hearing bone (gambaran seperti tulang ikan)  hal ini menandakan adanya distensi usus Bila obstruksi letak tinggi / proksima : lebih menonjol di muntah Bila obstruksi letak distal / rendah : lebih menonjol kembung (distensi) Diagnosis : anamnesa.Lekositosis Perdarahan : .

dehidrasi  febris.Multiple buble appereance 329 . sehat.bila dibiarkan : kesadaran ↓ .anak / bayi 4 – 10 bulan.nyeri perut peri umbilicus . abdomen : ☻ tanda – tanda ileus obstruksi ☻ massa tumor (sausage shaped structure) ☻ dance’s sign (region iliaca dextra kosong)  karena dg adanya invaginasi caecum akan tertarik keatas Tanda – tanda ileus obstruksi : .Counter usus + .lemah  syok . syok Pemeriksaan fisik : a.Steifung usus + ( peristaltic usus kelihatan) .stadium awal BAB masih biasa  ± 12 – 24 jam BAB darah + lendir tanpa feses : “ red currant jelly stool” (kuah bayam merah) ( bubur kismis merah) . pucat. apatis.dehidrasi (mata cakumg.. turgor kulit jelek) c.Metallic sound + .selama serangan : pucat. gemuk (bertentangan dengan Negara berkembang) b.

.sarung tangan : darah + lendir Pemeriksaan penunjang : radiologist ♥ BNO  multiple bubble app (diminum) ♥ Barium enema : o Cupping o Coil spring app (dimskan dr anus) Distal prox Cupping (bentuk mangkuk warna putih) 330 .RT : .ampulla recti kolaps .Multiple step ladder pattern  foto polos d.spincter cekat .pseudo portio ( bila puncak/ apeks invaginasi sudah sampairektum) .

red currant jelly stool KOLELITHIASIS Anatomi saluran empedu: 331 .Coil spring appereance (post evakuasi  waktu Ba keluar) karena ada sisa Ba yg tertangkap di lipatan-lipatan mukosa Trias invaginasi : 1.massa tumor 3.sakit perut (kolik) + muntah 2.

saluran empedu. Ductus Ductus Ductus Ductus hepatikus sistikus koledokus pancreas 1. 7. 2. D. 3. kolangitis Terut’ duct hepaticus Kolangiol. 4. C.kandung empedu kolesistolitiasis Koledoko.cab duct hepaticus kolangiolitis 332 . 5.duct koledokus koledokolitiasis Kolangi(o). 6. Hepar Kantong empedu Lambung Pilorus Duodenum Pankreas Papila Vateri (sfingter Oddi) Awalan Mengenai Contoh Koleempedu kolelitiasis Kolesisto. B.A.

Kalau batu berhenti didalam duct sistikus karena diameternya terlalu besar atau tertahan oleh striktur. atau pada dua-duanya. Batu dapat berpindah ke dalam ductus koledokus melalui duktus sistikus. terutama batu kolesterol  terbentuk di dalam kandung empedu. batu akan tetap berada disana sebagai batu duct sistikus (kolesistolitiasis). Istilah kolelitiasis  menunjukkan penyakit batu empedu yang dapat ditemukan di dalam kandung empedu atau di dalam duct koledokus. Hepatolitiasis: batu empedu yang terdapat di dalam saluran empedu dan awal percabangan ductus hepaticus kanan dan kiri meskipun percabangan tersebut mungkin terdapat di luar parenkim hati. 333 .dan pemb drh kecil lain di hati Lokasi batu empedu: Sebagian besar batu empedu. Kalau batu kandung empedu (kolesistolitiasis) berpindah ke dalam saluran empedu ekstrahepatik  disebut batu saluran empedu sekunder atau koledokolitiasis sekunder.

. dyspepsia disertai intolerans makanan berlemak . 334 .Pruritus ditemukan pada ikterus obstrukstif yang berkepanjangan dan lebih banyak ditemukan di daerah tungkai dari pada di badan . kuadran atas kanan atau prekordium  Kolik bilier. tapi 1/5 kasus timbul tiba-tiba. kadang menghilang beberapa jam kemudian awal nyeri kebanyakan perlahan-lahan.2/3 penderita batu empedu : asimptomatik.Pada kolangitis dengan sepsis yang berat dapat terjadi keadaan kegawatan disertai syok dan gangguan kesadaran.½ .Biasanya terdapat ikterus. ikterus yang hilang timbul.Pada batu ductus koledokus : riwayat nyeri atau kolik di epigastrium dan perut kanan atas akan disertai tanda sepsis.Urin berwarna gelap yang hilang timbul .Simtomatik :  Nyeri daerah epigastrium. berbeda dengan ikterus karena hepatitis . seperti demam dan menggigil bila terjadi kolangitis.Anamnesis: . . mungkin memanjang > 15 menit.

karena kandung empedu yang meradang tersentuh ujung jari tangan pemeriksa dan pasien berhenti menarik napas.Bila timbul serangan kolangitis yang umumnya disertai obstruksi.Kadang teraba hati agak membesar dan sclera ikterik (kadar bilirubun darah < 5 mg/dl  ikterik tidak jelas) aoabila sumbatan saluran empedu bertambah berat  baru akan timbul ikterus klinik . . Batu Saluran empedu: . empiema kandung empedu.Tanda Murphy (+) : apabila nyeri tekan bertambah sewaktu penderita menarik napas panjang.Kalau ditemukan kelainan. akan 335 .Tidak menimbulkan gejala / tanda dalam fase tenang .Pemeriksaan Fisik: Batu kandung empedu: .Ditemukan nyeri tekan dengan pungtum maksimum di daerah letak anatomic kandung empedu. biasanya berhubungan dengan komplikasi seperti: kolesistitis akut dengan peritonitis local atau umum. hidrops kandung empedu. atau pankreatitis .

ditemukan gejala klinik yang sesuai dengan berat ringannya kolangitis tersebut.demam dan menggigil. .nyeri di daerah hati.duktus hepatikus eksternus – duktus hepaticus communicans – ductus sistikus – duktus koledokus – masuk ke pancreas melalui ampula Vateri (sfingter Odi) – duktus pankreatikus. b.Kolangitis akut. Diagnosis Banding Abdomen Akut 336 . Duktus hepatikus interna . Empedu dihasilkan di hepar  disimpan di kantong empedu  dialirkan ke pancreas.Bila terjadi kolangiolitis : biasanya kolangitis piogenik intrahepatik akan timbul gejala: Pentade Reynold (+) : Trias Charcot + syok + kekacauan mental / penurunan kesadaran. ikterus . yang ringan – sedang : biasanya kolangitis banterial non piogenik yang ditandai Trias Charcot (+) : a. Jika penderita tidak ikterus  sumbatan di duktus hepatikus / di duktus coledokus. c.

Abdomen Kanan Atas atas Kolesistitis akut Pankreatitis akut Perforasi tukak peptik Hepatitis akut Kongestif hepatomegali akut Abses hati pleura Pneumonia dengan rx pleura Pielonefritis akut Angina pektoris Abdomen kiri Ruptur limpa Perforasi lambung Pankreatitis akut Aneurisma Ao pecah Perforasi kolon Pneumonia dgn rx Pielonefritis akut MCI Abdomen Kanan Bawah Kiri Bawah Apendisitis Adnexitis Adnexitis/endometriosis Endometriosis KET Kista ovarium terpuntir Puntiran apendises epiploicae /sigmoid Hernia inkarserata Divertikulitis Ileitis regional Perforasi caecum Abses psoas Batu ureter Adenitis mesenterik Abdomen Divertikulitis KET Kista ovarium terpuntir Hernia inkarserata Perforasi kolon Abses psoas Batu ureter Periumbilikal Obstruksi Usus 337 .

Apendisitis Pankreatitis akut Oklusi pembuluh darah mesenterial Hernia strangulasi Ruptur Aneurisma aorta Divertikulitis Ca PENIS 338 .

Glands 3. lesi datar atau lesi ulseratif  kemudian membesar dan merusak jaringan sekitar  mengadakan invasi limfogen ke kelenjar limfe inguinal  menyebar ke kelenjar limfe daerah pelvis hingga subclavia.Riwayat fimosis (+) . Karsinoma sel basal b.Tumor ganas pada penis tdd : a. 339 . Batang penis Etiologi : .Sirkumsisi memperkecil angka kejadian . lesi eksofitik. Melanoma c.Yang paling banyak .Ada hubungan dengan hygiene penis yang tidak bersih  iritasi smegma  akibatkan inflamasi kronik  rangsang keganasan penis . Karsinoma sel squamous .Tumor (lesi pre maligna) . Kulit prepusium 2.Virus  HPV 16 Patologi Ca penis stadium awal : tumor papiler. Tumor mesenkim d.Berasal dari : 1.

Stadium Ca penis (Jackson.Lesi primer berupa tumor yang kotor.Pembesaran kelenjar limfe inguinal . ulserasi. berbau. 1966) :  I : tumor terbatas pada glans penis atau prepusium  II : tumor sudah mengenai batang penis  III : tumor terbatas pada batang penis tetapi sudah didapatkan metastasis pada kelenjar limfe inguinal  IV : tumor sudah melampai batang penis dan kelenjar limfe inguinal sudah tidak dapat dioperasi (inoperable) atau telah terjadi metastasis jauh.Benjolan tidak nyeri . sel-sel kanker jadi lebih mudah invasi melalui hematogen. sering mengalami infeksi. sehingga jika fascia ini telah terinfiltrasi oleh tumor.Sulit BAK . perdarahan. . .Pembesaran kelenjar limfe inguinal yang nyeri karena infeksi .Fascia Buck berfungsi sebagai barier dalam penyebaran sel-sel kanker penis.Sekret bau Pemeriksaan : PA : biopsy pada lesi primer 340 .

Terapi laser dengan Nd : YAG  eksisi tumor dengan sinar laser e.X-ray : menentukan penyebaran tumor ke organ lain DD : veruka (tumor kulit) Kondiloma akuminata Terapi : 1.Untuk tumor yang terbatas pada glans penis atau pada batang penis sebelah distal c.Penektomi parsial .Terapi topical dengan kemoterapi : 341 .mengangkat tumor serta jaringan sehat sepanjang ± 2 cm dr batas proksimal tumor . Panektomi total dan uretrostomi perineal : untuk tumor yg terletak sebelah proksimal batang penis atau jika pada panektomi parsial ternyata sisa penis tidak cukup untuk dipakai miksi dgn berdiri dan melakukan penetrasi ke dalam vagina.Sirkumsisi  bila tumor terbatas di prepusium penis b. d.Menghilangkan lesi primer a. Setelah itu dibuatkan uretrostomi perineal atau perineostomi shg pasien miksi dgn duduk.

STRUMA Definisi : pembesaran kelenjar tiroid Anatomi : . Pakai krim 5 FU 5% f. karena pembesaran KGB inguinal mungkin karena reaksi inflamasi akibat infeksi pada lesi primer. . sternocleidomastoideus. Kelenjar tiroid diluar region ini disebut tiroid ektopik atau struma aberrant. dan manubrium sterni. Untuk karsinoma in eritoplasia Queyart ii.Berat normal 20-30 gram 342 . m. Bila KGB terlalu besar  sitostatika / radiasi paliatif  Down staging. apalagi tumor stadium dini.i.kelenjar tiroid berada di region coli anterior dengan batas-batas m. digastrikus. Kalau pembesaran KGB menghilang  tidak perlu diseksi KGB inguinal  observasi lagi. Radiasi situ atau Terapi kelenjar limfe regional (inguinal) Beri AB dulu selama 4-6 minggu (setelah operasi pada lesi primer). Kalau KGB tetap besar  diseksi kelenjar limfe inguinal bilateral.

Hurtle 2. Iodium defisiensi gravida 343 endemic goiter. Papiler c. Struma non-toksik 2.  . Carcinoma meduler (embrional) Etiologi : 1. Nodosa : tirotoksikosis sekunder Neoplasma : 1. kelenjar tiroid ikut bergerak. Carcinoma anaplastik c.- Kelenjar tiroid terdiri dari 2 lobus yang dihubungkan oleh 1 lobus piramidalis yang berada di garis media Kartilago tiroidea melekat pada trakea. Papiler iii. Jinak (adenoma) : a. Folikuler ii. sehingga pada saat menelan. Mixed b. Klasifikasi : 1. Folikuler b. Adenocarcinoma : i. tirotoksikosis primer ii. Difusa : Grave. Struma toksik i. Ganas a.

Grave. Palpitasi 6.Asal / tempat tinggal . Gemuk 2. Keringat banyak 4. de Quervain’s. Defisiensi enzim congenital  dyshormogenetic goiter 4. Idiopatik : struma Riedel.Tekanan darah meningkat (systole) 344 . Tidak tahan udara panas . Autoimun  tiroiditis Hashimoto 3. Kurus 2. Gangguan pertumbuhan Pemeriksaan Fisik : Status Generalis . Malas dan banyak tidur 3. lama dan pembesarannya .Riwayat keluarga .2.Benjolan pada leher.Struma non-toksik : 1. Neoplasma Diagnosa : Anamnesa . Nervous 5.Gangguan menelan suara serak (gejala penekanan) . Irritable 3.Struma toksik : 1.

- Nadi meningkat - Mata : 1. Exoftalmus 2. Stellwag sign : palpebra sup tidak mengikuti bulbus okuli waktu melihat ke bawah 3. Morbius sign : sukar konvergensi 4. Joffroy sign : tidak dapat mengerutkan dahi 5. Rossenbach sign : tremor palpebra jika mata ditutup - Hipertoni simpatis : kulit basah – dingin, tremor - Jantung : takikardia Status lokalis : Regio colli anterior Inspeksi : benjolan, warna, permukaan, waktu menelan

bergerak

Palpasi : permukaan, suhu Batas Atas : kartilago tiroid Bawah : insisura jugularis Medial : garis tengah leher Lateral : m. sternokleidomastoideus Struma kistik : - mengenai 1 lobus - Bulat, batas tegas, permukaan licin 345

Struma Struma -

Fluktuasi (+) nodosa : Batas jelas Konsistensi kenyal sampai keras Bila keras, curiga neoplasma difusa : Batas tidak jelas Konsistensi kenyal

Struma vaskulosa : - Tampak pembuluh darah - Berdenyut Auskultasi : Bruit pd neoplasma & struma vaskulosa Kelenjar getah bening : - paratracheal - jugular chain Pemeriksaan penunjang : 1.Scanning tiroid

Dasar : presentasi uptake dari I 131 yang didistribusikan tiroid. Dari uptake dapat ditentukan fungsi dari tiroid Uptake normal : 15 – 40 dalam 24 jam Hot area : uptake > normal, jarang pd neoplasma

346

Cold area : uptake < normal, sring pd neoplasma Cold Cold area curiga ganas jika : Moth eaten appereance Pada pria / usia tua / anak-anak area : Kista Hematoma / perdarahan Radang Neoplasma

Hot area : - struma adenomatosa - adenoma kistik - radang - neoplasma 1. Ultrasonografi Membedakan kelainan kistik atau solid Neoplasma biasanya solid 2. Radiologik - Foto leher : carcinoma kadang-kadang disertai perkapuran - Foto soft tissue : jika batas bawah tidak jelas (retrosternal) - Foto thoraks : coin lesion  Ca tiroid papiler 347

cloudy  Ca tiroid folikuler - Bone scanning : bone survey 3. Fungsi tiroid - BMR : (0,75 x N) + (0,74 x N) – 72% (formula read) - PBI, mendekati kadar hormone tiroid, normal 4-8% - Serum kolesterol, meningkat hipertiroid (N: 150-300 mg%) - Free tiroksin index : T3 / T4 4. Potong beku : durante operasi 5. Needle biopsy - Large needle cutting biopsy : jarum besar, sering perdarahan - Fine needle aspiration biopsy : jarum no.22 Diagnosa banding : 1. Colloid goiter 2. Tiroiditis 3. Dishormonognetic goiter 4. Struma Riedel 5. Neoplasma Solider Nodul Curiga Ganas : 1. Pada anak usia dibawah 12 tahun 348

2. 3. 4. 5. 6.

Pada usia tua Pada pria Disertai pembesaran KGB leher Pembesaran progresif Disertai pembengkakan tulang-tulang pipih (ca folikuler) 7. Riwayat radiasi (+) 8. Benjolan terfiksir, suara serak Penatalaksanaan : Konservatif Indikasi : 12. Toleransi operasi tidak baik 13. Struma yang residif 14. Pasien usia lanjut Struma non toksik : - Iodium - Ekstrak Tiroid 30-120 mg/dl Struma toksik : - bed rest - Lugol 5-10 mg 3 x sehari, selama 14 hari - PTu 100 -200 mg 3 x sehari, periksa leukosit - I 131

349

Operatif : Indikasi : 1.Curiga / pasti ganas 2.Timbul tanda-tanda desakan esophagus 3.Struma toksik 4.Struma besar (kosmetik) 5.Struma retrosternal 6.Preventif

trakea

/

Persiapan operasi : - Rawat, best rest - Laboratorium, terutama protrombin time (obat anti-tiroid mempengaruhi pembekuan darah) - BMR - Lugolisasi : 3 x gtt I s/d gtt XXX - Takikardia : propanolol 2 x 10 mg - Neomereazale (anti tiroid) : 3 x tabs I - Hemostatic drugs Jenis operasi : 1. Lobectomi / isthmolobectomi : pada tonjolan jinak 2. Subtotal tiroidektomi : pada kelainan metabolic Radiasi : keganasan dengan metastase jauh 3. Total tiroidektomi 350

a. Perikapsuler nodul dan jaringan areolar : tumor terbatas pada kelenjar tiroid b. Compartmental dissection : KGB terdapat di sepanjang jalan n. reccurens diseksi diantara carotid shealth dari incisura jugularis sampai bagian atas kartilago tiroidea c. Radical Beck Dissection (RND) : terdapat pembesaran KGB leher lainnya Radical Neck Dissection : M. sternocleidomastoideus M. digastricus V. jugularis eksterna KGB subclavia sampai submental

Komplikasi operasi : 1. Perdarahan, terutama a. tiroidea superior 2. Kel. Paratiroid terangkat  hipokalsemia  tetani 3. Gangguan n. reccurens 4. Tracheomalasia 5. Krisis tiroid (8-24 jam pasca operasi)

KRISIS TIROID
Tanda : - Gelisah - Gangguan GIT 351

-

Kulit hangat dan basah Suhu > 380C Nadi > 160 x/menit Tekanan darah naik

Terapi : 1. NaI 1-2 gr dalam dextrose 10% IVFD dalam 24 jam Neomercazole 100-200 mg 2. Inderal 20-80 mg/4 jam 3. Antipiretik 4. Hidrokortison 100-300 mg/24 jam IM 5. Oksigen 6. Digitalisasi 7. Diuretik 8. Lytic Cocktail : a. Largactil 100 mg b. Fenergan 90 mg c. Pethidin 100 mg Dalam dextrose 10% 500 cc IVFD

352

lambung. Spatium Retroperitoneal 353 . REGIO ABDOMEN 3 Kompartemen Anatomis : 5. Cavum peritonei .Abdomen bagian atas (Upper Abd) : Batas dinding thoraks bagian bawah : diafragma. hati.Abdomen Bagian bawah (Lower Abd ) : Usus halus. Colon Intraabdomen 6.TRAUMA ABDOMEN Kerusakan intra-abdominal yang tidak ditemukan akibat trauma abdominal tetap sering merupakan sebab kematian yang menyedihkan. kematian mana sebenarnya dapat dicegah : • Tanda-tanda peritoneal sering kurang jelas • Tanda-tanda dikalahkan oleh nyeri trauma extra abdominal • Ditutupi oleh tanda-tanda Trauma kepala/intoksikasi • Cavum peritonei adalah suatu reservoir potensial • Setiap penderita dengan kerusakkan deselerasi/luka tembus perut harus dianggap telah merusak alat/organ dalam perut. colon transversum . limpa.

Intubasi D.Rektum . pankreas. ureter. Riwayat kejadian B.Penderita (Sadar) . 354 .Petugas lapangan Pra RS dan Polisi : * Waktu kejadian * Mekanisme kejadian * Keadaan penderita waktu itu * Respons terhadap tindakan * Dll.Kandung kencing . kolon retroperitoneal. Pemeriksaan Sinar tembus F.Pembuluh darah iliaca . vena cava. Pelvis . ginjal. Duodenum 7.Genitalia interna pada wanita Penilaian : Faktor utama dalam penilaian trauma abdomen adalah menentukan bahwa telah terjadi suatu kerusakan intraabdomen dan bukan diagnosis yang tepat oleh salah satu jenis kerusakan : A. Pemeriksaan Diagnostik khusus Riwayat Kejadian / KLL .Aorta. Pemeriksaan fisik C. Pemeriksaan darah E.

Luka-luka lecet . fraktur / trauma pelvis.Luka laserasi .Luka tembus Auskultasi : Bising usus + / Perkusi : Palpasi : Nyeri Tanda rangsangan peritoneum Pem.Diagnosa kerusakan trauma gastro intestinal 355 .Mengeluarkan isi lambung * Volume lambung berkurang * Tekanan lambung berkurang * Aspirasi berkurang . Vagina Pem. Genitalia Externa. dada bagian bawah dan perineum : .PEMERIKSAAN FISIK Insp : Pakaian ditanggalkan ð Perut depan / belakang.Memar jaringan . posisi prostat Pem. Rektum :Darah. INTUBASI Pipa Lambung (Nasogastric tube) .

Count .Dekompresi kandung kencing . usus halus  Fraktura vertebra lumbalis (Proc.Diagnosa kerusakan kandung kencing (darah) PEMERIKSAAN DARAH .) ðginjal/organ.Psoas shadow hilang  Fraktur iga-iga ðHati.Monitor produksi Urine (Perfusi jaringan) .Tes kehamilan / Alkohol / obat lain PEMERIKSAAN SINAR TEMBUS PERUT  Foto abdomen tegak : .Udara bebas dibawah diafragma .Hematokrit / Hb .Urinalysis .organ dalam perut  Fraktur pelvis ð Organ dalam Pelvis : 356 . Kateter kandung kencing .Amylase .bagian atas (darah dalam esophagus dan lambung). limpa  Fraktur vertebra thorakalis bagian bawah ð pankreas. Transv.Golongan darah / Cross Match .Leukosit / DIFF.

Thorakalis bag bwh ðPankreas. kolon. usus halus Fraktura proc.    o Pembuluh-pembuluh darah o Retroperitoneum Urethrography Cystography IVP Foto kontras traktus GIT bagian atas dan bawah ð kerusakan duodenum. dan lain-lain. KERUSAKAN ORGAN TERKAIT KERUSAKAN TULANG Fraktura iga-iga toraks bagian bwh ð Hepar dan limpa Fraktura vert. pelvis dan fraktur vertebra lumbalis 357 . Pemeriksaan ragu (fraktur iga. Transv lumbalis ð Organ dalam abdomen ð ginjal Fraktura panggul (Pelvis) ð Organ pelvis/pemb drh ð retroperitoneal PEMERIKSAAN DIAGNOSTIK KHUSUS • DPL • CT-SCAN Indikasi DPL/CT-SCAN 1.

Benturan organ/tabrakan C. Cedera sabuk pengaman A.kecepatan mobil .jatuh . peluru. 3. 2.tabrakan . Intensitas energi : .2. pohon.ketinggian tempat jatuh . pisau. Tipe trauma : . Yang ada abdomen : hubungan dengan organ Benturan organ : 1. dll. Benturan penumpang/pengemudi B. Cedera kompresi. Cedera deselerasi 3. Cedera pejalan kaki 358 . Pemeriksaan tak praktis oleh karena lamanya pemeriksaan radiologi/CTScan BIOMEKANIKA CEDERA Fase Anamnesa : 1. Jenis trauma : mobil. Pemeriksaan tak dapat dipercaya oleh karena ada : • trauma kepala • intoksikasi • paraplegia 3.kaliber senjata.luka tembus 2.

Trauma tembus abdomen : .Kolon .D.Ginjal . Cedera ledak (blast injury).Hati . TRAUMA Organ yang paling sering rusak : • Organ padat : Limpa (trauma tumpul) Hati (trauma tajam) • Organ berongga : Usus halus.Abdomen 359 .Usus halus Trauma tumpul abdomen : .Lambung ABDOMINAL COMPARTMENT SYNDROME (ACS) Common sites : . Terjatuh F.Orbita .Ginjal . Cedera Roda dua/sepeda E.Hati .Skull .Ekstremitas .Limpa .

Distensi perut yang hebat 5.Drainase cairan 10 .Produksi urine yang menurun 4.subkutis . blast Lain-lain : ischemia 5 gambaran kelainan utama ACS : 1.Persiapan-persiapan .15 menit kemudian 360 .Reversal kelainan-kelainan di atas setelah dekompresi abdomen. Teknik operasi DPL: .CVP yang meningkat 3.pubis .Masukan kateter ke dalam rongga peritoneum .Anestesi lokal : Lidokain/infiltrasi midline .fascia . Bila darah (+) ð kerusakan organ intra peritoneal Darah/cairan (-) : masukkan 500cc .Tekanan ventilasi yang meninggi 2.Common cause : Trauma : fraktura.1/3 prox umbilicus .Identifikasi peritoneum . crush.Lanjutkan kateter ke rongga pelvis .peritoneum dibuka .Incisi vertikal : kulit .1000 cc RL/NaCl (10 cc/kgBB) .Aspirasi.

Foto : udara Ekstra luminer 5..Peritonitis .d.Ipotensi yang berulang setelah resusitasi yang cukup 4.d.Luka tembak . Ginjal 361 .000/mm3 ð operasi s.Hipotensi segar .Cairan aspirat ð laboratorium : s.m > 100. GIT.Laserasi kandung kencing . Hati.Peritonitis 3.Trauma tumpul + DPL darah 2.Foto (cystografi ) : Perforasi kandung kemih 7.Luka tusuk .CT-Scan : Kerusakan pankreas.Perdarahan dinding abdomen .Infeksi luka intra- Indikasi laparotomi ( Celiotomi) 1.p > 500/mm3 ð operasi Komplikasi DPL .Foto : Diafragma rusak 6.Kerusakan organ abdomen/retroperitoneal . Limpa.

Duodenum .Sukar dinilai dan sukar didiagnosa • Aneka ragam organ/sistem • Perubahan-perubahan derajat kesadaran • Variasi penanggaulangan Pra-RS bagian emergency .Foto (kontras) : saluran cerna bagian atas dan bawah 9.Pankreas 362 .8.Kecepatan/cara trauma : • Benturan langsung • Benturan tarikan • Closed loop .Amylase tetap tinggi Trauma Tumpul perut .Diafragma .

Sukar dievaluasi ð retroperitoneal .Putting susu ð depan sela iga IV ð full expiration .Jumlah darah yang keluar saat itu Luka pada dinding dada bagian bawah diafragma : .kerusakan organ intra abdomen/kolon 363 . Luka pada pinggang dan belakang : .Jarak tembakan .Waktu kejadian .Frekwensi tusukan/tembakan ..Usus halus Trauma tembus abdomen Penting pada penilaian : .Tipe senjata .Ujung bawah scapula ð sela iga VII batas belakang kerusakan organ-organ intra abdomen.Genitourinary .

dada bagian bawah. 364 . bokong.KESIMPULAN 2 tipe trauma abdomen : • trauma tumpul • trauma tembus Trauma tumpul • Diagnosa sukar • Tanda/gejala sering jelas/menyesatkan • DPL kadangkala diperlukan kurang Trauma tembus • Semua luka tembus harus dievaluasi yaitu trauma tembus di pinggang.

1. Menggambarkan kembali mekanisme kerusakan. 6. 4. Menentukan secara dini intervensi bedah dan pembedahan secara dini.PENANGGULANGAN TRAUMA TUMPUL DAN TRAUMA TEMBUS ABDOMEN. Tetap menaruh kecurigaan yang besar terhadap perdarahan pembuluh darah dan kerusakan retroperitoneal. Memilih pemeriksaan diagnostik khusus yang cepat. 3. Pemeriksaan fisik yang teliti dan berulangulang (untuk mengetahui /menilai perubaha-perubahan) 5. 365 . Memulihkan kembali fungsi-fungsi vital dan mengoptimalkan oksigenasi perfusi jaringan. 2.

A L G O R IT H M F O R P E N E T R A T IN G IN J U R IE S T O S M A L L B O W E L P e n e t r a t in g A b d o m in a l I n ju r y U n s t a b le E v is c e r a t io n P e r it o n e a l S ig n s E k s p lo r a t o r y L a p a ra to m y G unshot W ound E k s p lo r a t o r y L a p a ra to m y S t a b le S ta b W o u n d Lokal E k s p lo r a t io n ( .) P e r it o n e a l V io la t io n O b s e rv e ( + ) P e r it o n e a l V io la t io n P e r it o n e a l L a v a g e ( + ) E k s p lo r a t o r y L a p a ra to m y (-) O b s e rv e 366 .

TRAUMA KEPALA DI UGD 367 .

hal ini perlu diingat bahwa trauma anggota badan lain / multi trauma yang justru berakibat fatal. Dilakukan pemberian oksigen 4-8 L/menit dan suction sesering mungkin. Cara suction harus tepat dan benar. dimasukkan selama 10 detik. gunakan maagslang ukuran 8 atau 10. nasal dsb) dan basis cranii. Tentukan GCS sesuai dilakukan ABC dengan baik dan tepat. Setiap penderita baru : lakukan tindakan ABC dulu  Sering disertai dengan trauma maksilofascial (fract maxilla. Cara motion yang salah dapat meningkatkan CVP!! 3. bahaya aspirasi!! Posisi pasien miring (hati-hati pada penderita yang dicurigai fraktur cervical) 4.1. nilai GCS 368 . sehingga dijumpai banyak darah di hidung dan mulut. bukan hanya didaerah kepala saja. depan dan belakang. Bila muntah. tetapi dari kepala sampai dengan ujung kaki. 2. Bila penderita shock. GCS anak dan dewasa berbeda.  Penderita juga datang disertai muntah (isi lambung)  Buka pakaian dan periksa dengan seksama.

Heteroanamnesa kepada keluarga / pengantar (sebab sering penderita tidak sadar). jalan/pengemudi/penumpang. sadar/pernah sadar sebelumnya/pingsan terus. pakai helm. refleks batang otak lainnya dan patologik 6.l: kapan. a. sehingga dimonitor ketat. jenis kecelakaan (lalu lintas. Heteroanamnesa itu berisi a. vital sign terus 5. Bila diantar oleh perawat RS / puskesmas rujukan. paresa/plegi. pejalan kaki/penyeberang. Semua hasil pemeriksaan tersebut catat di observasi list. yang kemudian ditempelkan di dekat penderita.l: refleks cahaya. ukuran pupil. 8. sudah berobat/belum dan modusoperandinya. baca teliti surat rujukan dan bila perlu ditanyakan: tindakan / pengobatan apa saja yang sudah diberikan. dimana. 7. 369 .tidak sesuai. kerja atau tindak criminal). secara rignkas periksa status neurologist. Selain diperiksa vital sign.

Indikasi pembuatan foto kepala harus jelas. Ada gejala dan kelainan neurology (lateralisasi (+)) d.Penderita sadar tapi ada amnesia c. Bila penderita kondisi tidak memungkinkan. yaitu: a.Penderita yang tidak sadar.Harus simetri 370 . Corpus alienum intracranial 23.Jejas yang bermakna (> 5 cm) e. GCS < 15 b. dapat diketahui. bila memenuhi syarat al: a. foto dapat dilakukan di dalam UGD (cito bed foto) 22. Foto kepala dapat dilihat jelas.21. al:  Patah tulang linier  Patah tulang depresi (ada bagian yang masuk)  Patah tulang stelate (seperti bintang)  Diastase sutura (patah tulang pada daerah sutura)  Patah tulang komunitiv (banyak garis patah)  Corpus alienum (pecahan anak peluru /pisau)  Emfisema kutis kulit kepala 24.Patah tulang terbuka f. Dari hasil foto kepala.

Harus ada beda opasitas udara. Tidak ada bagian yang terpotong dan juga terlihat vertebra cervical ke 3 d. sebenarnya ini istilah yang tidak tepat. Bila penderita sangat jelek / prognosa dubois ad malam. Bila penderita comotio cerebri. karena:  Manuver pembuatan foto dapat memperburuk keadaan  Kompleksnya struktur basis kranii menyebabkan sulitnya penilaian  Apapun hasil foto tidak merubah penanganan 26. cukup resusitasi dengan baik.b. jaringan lunak dan tulang c.Pada depresi fraktur dibuat foto oblique / tangensial 25. foto kepala AP/lateral tidak perlu dibuat. dilakukan observasi 2 jam di UGD 371 . Penderita dengan fraktur basis kranii. refleks batang otak tidak ada sebaiknya dihindari prosedur diagnostic (tidak perlu foto dsb). midriasis kanan kiri. dengan GCS 1-1-1. dan beri penjelasan kepada keluarga 27.

keluhan penderita tambah hebat. 32. penderita comotio MRS atas indikasi observasi dan perawatan. dengan alasan social yi: rumah jauh atau tidak ada anggota keluarga lain 31. sakit kepala/pusing/muntah makin bertambah. Setiap penderita comotio cerebri harus dicari amnesia (retrograde amnesia) 29. Observasi. Jika kesadaran cepat menurun. 372 . maka segera disiapkan eksplorasi burr-hole.28. untuk deteksi dini komplikasi. Selain hal diatas. Penderita comotio cerebri diberikan infuse. sedang perawatan terutama mencakup membuat suasana optimal. juga untuk mendorong penderita agar istirahat dan factor psikis. jejas jelas dan timbul lateralisasi sesuai lokasi jejas. Bila selama observasi itu. 30. Secara prinsip. mencegah komplikasi lebih lanjut serta merawat komplikasi yang sudah ada. penderita comotio cerebri di MRSkan. maka penderita harus MRS. karena curiga hematom epidural. selain untuk memasukkan obat intravena.

Penderita comotio cerebri selama observasi keadaan membaik / keluhan menghilang. Bila suatu ketika dijumpai:  Pusing / vertigo hebat  Sakit kepala / cephalgia hebat  Muntah makin hebat  Mengantuk / kesadaran menurun / tidur ngorok (sulit dibangunkan)  Kejang  Kelumpuhan anggota gerak Maka penderita segera dibawa ke UGD. setiap saat di UGD kondisi penderita dapat membaik/memburuk dan mempermudah dokter ruangan melakukan evaluasi dengan baik dan tepat. Hal ini penting. maka harus dilakukan sekali lagi pemeriksaan/penilaian GCS.33. Kerap kali. sewaktu penderita tiba di ruangan. 373 . 34. Sebelum mengirim penderita ke rumah/MRS. 35. maka penderita dapat dipulangkan dengan disertai ADVIS / pesan. Pesan disampaikan dengan jelas kepada keluarga/pengantar. GCS dan lateralisasi ada perbedaan yang akhirnya merubah penanganan. Penderita harus terus dijaga dan diawasi ditempat tidur (paling sedikit 48 jam). kapan saja dan secepat mungkin. lateralisasi dan vital sign.

X. Salah satu pengantar/keluarga harus mulai mengurus surat tidak mampu dari pejabat asal daerah bersangkutan.36. Kalau perlu beri analgesic (IV) sebelum dikirim ke ruangan. Ini akan lebih sulit bila penderita berstatus TM atau Mr. Jalan napas harus bebas. 37. 39. dengan jumlah dan jenis terbatas. terutama bagi penderita tidak sadar. Dauer kateter pre-op. dipasang sesudah dianastesi di OK!! 38. sebab kandung kencing yang penuh menyebabkan penderita makin gelisah dan menyebabkan tekanan intracranial meningkat. cek apakah obat dan kelengkapan yang lain sudah tersedia/dibeli oleh keluarga. Transportasi yang tidak benar akan menambah gerak / goncangan pada kepala dan keluhan akan meningkat. kalau perlu didampingi seorang dokter. sehingga di 374 . Penderita dengan GCS yang jelek dianjurkan menggunakan dauer kateter. Sebelum penderita dikirim MRS/ruangan. Pengiriman penderita untuk pemeriksaan radiology pun harus diperhatikan. obat-obat harus pinjam/bon RS.

46. tidak perlu panic. 375 . Jika tidak dijahit. Luka pada kulit kepala sering mengakibatkan perdarahan. maka harus dilakukan eksplorasi (dengan sarung tangan) pada dalam luka dengan teliti. dapat segera 40. Apabila diketemukan galea robek harus dijahit. Dilakukan tindakan awal. Kotoran dibersihkan / korpus alienum harus 45. 42. Raba dalam luka tersebut. bebat tekan dengan doek steril. Sebelum melakukan penjahitan. apakah ada celah / gab pecahan tulang / defek atau tanda depresi fraktur dan patah tulang kepala lainnya. galea akan retraksi. 44. Setelah dilakukan anastesi local dan pencucian dengan H2O2 dan BWC. Awas. galea yang robek sering diduga depresi fraktur. 41.ruangan penderita memperoleh obat. harus ingat anatomi SCALP 43.

50. dilakukan foto kepala posisi oblique. Open depresi fraktur. hati-hati banyak perdarahan. Pada depresi fraktur yang tertutup dipilih tindakan konservatif. beri antibiotic profilaksis. Bila garis fraktur tersebut di daerah sinus sagitalis. cek Hb. 51. balanced cairan dan bila perlu transfusi darah.timbul defek dan barier infeksi. Pada anak-anak/bayi. luka pada kulit kepala dapat menyebabkan shock hipovolemik. 47. Bila curiga depresi fraktur. 48. disiapkan debridemant di OK. Open depresi fraktur disertai laserasi serebri (otak yang keluar dari rongga kepala) juga disiapkan untuk acara 376 . cukur rambut. Luka yang tembus galea harus dijahit dua lapis. Perhatikan. siapkan darah. Tulis permintaan foto dengan jelas. 52. penurunan kesadaran dianjurkan dilakukan pemeriksaan CT Scan. dan inform concent. kecuali disertai gangguan neurologist/lateralisasi. 49.

sadar dan tanpa gangguan neurologist.debridemant di OK. Penderita dengan patah tulang linier di daerah temporal yang diwaspadai terjadi hematom epidural. termasuk cek Hb dan beri antibiotika profilaksis dan tutup luka sementara dengan doek steril. di status harus ditulis observasi ketat pula. 377 . Bila penderita dengan luka tembak kepala dengan kondisi yang masih baik. Hal tersebut juga berlaku pada kasus dengan diastase sutura sagitalis yang sering timbul hematom epidural pada verteks/atap kepala (ada sub galeal hematom). Luka tembak pada kepala dianjurkan pemeriksaan skull foto AP / lateral / oblique dan CT Scan kepala 56. 55. Kalau perlu disudut bawah formulis MRS ditulis observasi ketat agar dokter ruangan lebih waspada!! 54. Jika diminta pemeriksaan CT Scan OM line harus sampai atas atau posisi coronair. serta pecahan peluru di tempat yang tidak dalam dan tidak vital (missal: batang otak) dapat MRSkan untuk urgent operasi di COT dengan image. Lengkapi pemeriksaan. 53.

Pada kasus trauma kepala. tak perlu tunggu CT Scan kepala tetapi siapkan eksplorasi burr-hole segera 61. bila perlu analisa blood gas oksigen jika penderita sesak. thoraks. penderita makin jelek dan letak peluru tidak dalam-vital. dengan penurunan kesadaran progresif. Persiapan luka tembak kepala untuk operasi cito sama dengan persiapan operasi cito trauma kepala lainnya. dilengkapi foto. Bila penderita disertai jejas di jangan lupa terhadap trauma periksa secara klinis. 59. thoraks dan beri 62. Jangan lupa. 378 . 60. harus diperiksa lubang peluru masuk dan keluar. lateralisasi sesuai jejas. Tentukan arah tembakan yang penting untuk mengetahui pendekatan operasi dan organ penting yang terkena. Bila penderita disertai multiple trauma (abdomen dan thoraks) harus dimintakan serial Hb.57. Bila hal tersebut. disiapkan untuk operasi cito di UGD 58. bila ditemukan lucid interval. thoraks.

missal: internal bleeding. umumnya tidak dapat menyebabkan hipovolemik shock (kecuali pada luka kulit kepala pada anak) sehingga harus dicari sebabnya yaitu factor ekstrakranial. 67. Rasa nyeri akibat patah antebrachii. femur dan costae dapat menyebabkan penderita makin gelisah. Imobilisasi segera. 64. 379 . yang menunjukkan proses herniasi. Pada trauma kepala saja. 66. sehingga perhatikan timbulnya “Spinal shock”. bradikardia dan gangguan nafas. bantal pasir.63. Jangan lupa tentang “ Cushing trias” yaitu: tensi tinggi. dan hati-hati pada waktu transportasi ke pemeriksaan radiology (foto cervical AP/lateral) dan ke ruangan/OK. Trauma kepala sering disertai trauma cervical (20%). Penderita trauma kepala sering diketemukan jejas dileher yang harus waspada terhadap patah tulang cervical yang cukup berbahaya. Beri anakgetik iv dan imobilisasi segera 65.

Periksa dan catat. Pupil anisokor. Bedakan brill hematom dengan trauma langsung pada bola mata 74. VIII. Irama / ritme nafas seperti : Cheyne stokes dan hiperventilasi neurogenik dapat menunjukkan tinggi lesi. Lesi perifer n. 380 . 72. dan battle sign harus penderita trauma kepala. 71. VII dan n. Hal itu hendaknya ditulis di status. 69. diperhatikan pada fraktur yang ditandai CSF otorhoe – rhinorrea. Basis cranii dengan: bloody / brille hematome. CSF bocor harus sedini mungkin diberikan antibiotika dosis tinggi iv (cloxacillin) 73.68. Tampon telinga pada basis kranii fraktur tidak dianjurkan karena resiko infeksi tinggi. Basis cranii fraktur sering disertai komplikasi lesi perifer n. 70. periksa juga apakah trauma langsung pada mata. Penderita dianjurkan miring ke arah telinga yang sehat agar CSF tidak terus mengalir dan fistula dapat menutup spontan.

TRAUMA KEPALA DI RUANGAN 1. Pada trauma kepala. Pemeriksaan pupil pada mata orang tua sering tidak dapat dinilai karena ada katarak. tidak perlu CT Scan. 76. Pupil anisokor tetapi sadar baik. Bila penderita sadar.Observasi  Penderita tiba di ruangan. 75.III dapat terjadi karena trauma langsung pada mata. 77. II akibat rusaknya canalis opticum. segera tentukan:  GCS  Lateralisasi  Pupil  Defisit neurologist  TNR  Kondisi pendertia mungkin berbeda dengan kondisi di UGD!! (Ingat. dapat terjadi lesi n. Ini perlu foto khusus (rheze foto). jangan selalu percaya pada status) 381 . dianjurkan periksa visus.

2. evaluasi intracranial (CT Scan kepala) 3.  Pada fraktur basis  miring ke telinga sehat (tanda telinga sakit: bloody / CSF ototthea).Kesadaran menurun:  Perhatikan factor ekstrakranial  Respirasi (pO2 dan pCO2)  Trauma thoraks (contusio pulmonum)  Hb (anemia)  Shock hipovolemik (multiple trauma)  Bila factor ekstrakranial tidak ada. sehingga diharapkan fustule dapat tutup spontan. Bila tidak? 4.Antibiotik  Profilaksis : Cloxacillin (3 x 2 gram)  kuman Staphylococcus aureus) pada kasus bedah saraf.Mobilisasi penderita:  Miring kanan.  Definitif : sesuai kultur  Secara intravena 382 . miring kiri per 2 jam (hati-hati pada fraktur cervical)  Kepala pakai bantal (tipis)  Tubuh miring ganjal guling (2) dan kaki merangkul guling.

Analgesik :  Bila peroral tidak ada / tidak bias: injeksi metampiron (Novalgin)  Peroral : Metampiron / parasetamol  Profenid (Kaltrofen)  rectal supp. Kebijakan balance negative sudah ditinggalkan!! o Pilihan : D5 ½ saline. 6. tidak perlu analgesic) 5.Infus: o Infus dipertahankan sampai penderita stabil (dengan diet personde.  Kortikosteroid : digunakan pada kasus tumor otak dan abses otak 7. jelek. biasanya 35 hari).Kortikosteroid  Pada penderita cedera kepala : kortikosteroid tidak digunakan lagi. RD 5 o Infus jangan terlalu lama o Jumlah :  Hari I dan II : 1500 cc/24 jam  Hari III dst : >> sesuai kebutuhan 383 . Trauma kepala + pneumonia  PP + Chloramfenikol  Stop sampai dengan aff drain : bila dura robek : 3-5 hari (GCS 1-1-2.

Anti kejang  Bila profilaktik : selama 1 minggu diberikan  Bila untuk epilepsy/pernah kejang: diberikan sampai 2 tahun bebas kejang  Jenis pilihan: Difenilhidantoin dengan dosisi 2-8 mg/kgBB/hr.o Bila febris (naik 1 derajat celcius)  perlu tambahan 10% dari kebutuhan basal o Hal itu berlaku bagi : kondisi seperti hypermetabolik (kejang. 8. dan hiperventilasi) o Dehidrasi  penderita udem cerebri lebih hebat dan kesadaran menurun o Bila syok hipovlemik beri RL o Bila phlebitis harus segera diobati o Bila infuse aff.5 mg/kgBB/hr  Waktu kejang: jangan lupa bebaskan jalan napas  Semua obat anti kejang via iv (bila tidak bisa: per rectal)  Oksigenasi terus diberikan  Selama pemberian obat.  Masa akut: Diazepam 0. gelisah. obat injeksi lebih baik iv (lewat venflon). dokter terus disamping penderita  Kasus-kasus yang diterapi seperti itu adalah: 384 .3-0.

oleh karena infeksi (pneumonia dan sepsis) o Dehidrasi / reaksi transfusi obat  Intrakranial o Segera setelah trauma o Xyllodela tidak ada gunanya o Beri kipas angin o Kompres basah / alcohol  Evaluasi temperature: harus temperatul rectal (karena axiler lebih besar deviasinya)  Jangan lupa balanced cairan  Febris bukan kontra indikasi transfuse!!!  Febris + menggigil  diberi CPZ (awas tensi drop) 10.o Trauma kepala + kejang o Open depressed fracture o Robekan dura.Febris:  Dapat oleh karena ekstra maupun intracranial  Bila ekstrakranial: o Lab (leuko dan LED) o Keringat ada o Terjadi > 4 hari. Gelisah:  Sering diruangan 385 . corpus intracranial alienum 9.

 Petunjuk adanya: o Vesika urinaria penuh o Sesak o Kesadaran menurun atau membaik o Tempat kotor o Panas / febris o Diikat / posisi tidak enak o Rasa sakit yang hebat (pada ekstremitas)  Pada kasus epidural hematoma kadang penderita gelisah + menunjuk sakit kepala pada salah satu kepala dengan tepat  Kondisi ini jangan diremehkan sebab sering penderita dengan kesadaran baik  gelisah  tidak diobservasi dan terapi  tidak lama kemudian meninggal 11.   Cek Hb Penting pada penderita trauma kepala dan multiple trauma Trauma kepala sendiri jarang menyebabkan Hb menurun (kecuali pada anak dengan laserasi scalp) Post op / pindahan dari OK – RR harus cek Hb Cek Hb dapat berkala   386 .

Cek blood gas :  Sesuai rumus diatas. Rumus: Delivery O2 = ADO2 x CBF (ke otak) : :  PO2 (cek blood gas) :  Hb (cek Hb dengan cara Sahli) Bila Hb menurun  DO menurun  kesadaran menurun. harus ditransfusi (bila orang tua: PRC)  Febris ingat bukan kontraindikasi transfuse (beritahu perawatnya!!!)  Hb adalah salah satu factor penting oksigenasi jaringan otak. penting untuk oksigenasi otak  Factor yang penting: o pO2 (N: 80-100) o pCO2 (N: 25-35)  Perfusi paru sangat berperan O2 menurun  produksi 2 ATP + asam laktat  laktoasidosis  udem otak meningkat. 387 . 12. Bila Hb kurang atau sama dengan 10 gr%.

fungsi lambung baik) Bila penderita jelek.     388 . misalnya GCS: 1-12. sesak. Cek elektrolit  Penting pada penderita tirah baring lama dan infuse lama dan pemberian manitol dan muntah hebat / diare  Na dan K : penting dalam biokimiawi sel otak  Normal: Na keluar dan K masuk Kapan diet sonde: Idealnya lebih cepat lebih baik Diet sonde gagal  diganti TPN Biasanya 4-5 hari diruangan. dengan trakeostomi  tidak usah NS 14. Indikasi harus jelas o Ada ronchi paru o Ada aspirasi / pneumonia o Trauma thoraks  Pengambilan pada penderita gelisah dapat salah dari darah vena (hasil tidak cocok!!) 13. bila penderita stabil (tidak syok. respirasi baik. kesadaran cenderung meningkat.

untuk evaluasi balance cairan  DK tidak boleh terlalu lama (5 hari) karena dapat menyebabkan infeksi dan druk nekrosis (ganti kondom kateter)  DK penting pada kasus diabetes insipidus (Komplikasi trauma kepala / post op) : urine produksi lebih 200 cc per jam 389 . Sebelum masukkan. lakukan tes retensi lambung (2-3 jam  tidak ada aspirat 300 cc  normal)  Menu: dapat diberikan susu + air buah (jumlah sesuai dengan kebutuhan)  Susu : dapat dicampur dengan kuning telur ayam (1) dan 2 sendok makan madu tawon. Pemasangan DK (dauer kateter) :  Penting pada penderita tidak sadar.  Maagslang untuk sonde beda dengan untuk dekompresi  Penderita tidak boleh “puasa” lama!! 15.  Tindakan tersebut harus oleh perawat (awal aspirasi!!)  Pakai maagslang : ukuran kecil # 10 atau # 12 (jangan terlalu besar  mengganggu jalan napas dan iritasi)  Fiksasi maagslang harus baik.

      Perawatan dekubitus Dekubitus menyebabkan infeksi dan hipoalbumin Cek albumin (pada penderita tirah baring lama lebih dari 1 minggu) Rawat dekubitus dengan BWC kompres (dengan gula pasir) Posisi harus dipidah-pindahkan Diet harus diperhatikan / TKTP Albumin < 3 mg/l transfuse plasma segar (=fresh plasma) / albumin (jika penderita mampu beli) 390 . LIhat jumlah urine tiap hari dan warnanya  Fiksasi DK harus tepat (jangan terlalu kecil / bocor)  Pada penderita tidak sadar + gelisah  DK sering dicabut  bloody discharge pada uretra  curiga rupture uretra  konsul urologi segera.  Fiksasi tidak baik sering terjadi hematuria  Kateter bocor  banyak urine di tempat tidur  infeksi dan bau tidak sedap  penderita makin gelisah  Lokasi urobag / kantong urine harus disamping atau di bawah tempat tidur 16.

.       18. consul mata Perawatan mulut  Mulut secara berkala dibasahi dan dibersihkan  BIbir kering dan pecah boleh diberi haas basah / madu Evaluasi CT Scan :  Bila selama diruangan penderita kesadaran menurun (setelah factor ekstrakranial disingkirkan) dan atau disertai lateralisasi  CT Scan 391 19.17. 8 jam kmd  2 cc/kgBB Per drip selama 15 menit Perawatan mata:  Sering dilupakan. bila ada trauma occuli  mata terbuka + palsy  harus dilindungi (bahaya expose keratitis)  Tutup kasa steril basah  Beri salep mata (Garamycin salep / Cloramphenicol). Manitol Diberikan pada udema cerebri (pada trauma kepala jarang kecuali pada pre / durante operasi) Dosis 5 cc/kgBB Manitol 20% Evaluasi elektrolit dan deficit cairan Penderita harus pakai DK 5 cc/kgBB. 20.

selama perawatan (5-7 hari) kondisi tetap jelek  curiga komplikasi trauma kepala. Komplikasi ada 2: o Akut : perdarahan.kejang 21.dementia 4. dan tapottage / tepuk dada secara berkala) Perawatan telinga dan hidung:  Bila ada bloody / CSF leakage  tidak boleh ditampon haas karena mudah infeksi  Tidur miring ke sisi yang sehat  Bila ada tinnitus / gangguan pendengaran (nervus VIII)  konsul ke THT (pada kasus fraktura basis kranii) 392 22. Rehabilitasi:  Setiap penderita tidak sadar harus secepatnya di fisio terapi (pasif  aktif)  Rawat bersama / konsul ke UPF rehab medik  Keluarga diberi petunjuk untuk caracara sederhana fisio terapi (mis: gerakkan kaki. tangan.Infeksi 2. .Hidrosefalus 3. Pada kasus trauma kepala. dsb o Kronik : 1.

Kalori :  Kebutuhan 2500 kcal  Pemberian diet dapat bersama-sama UPF gizi (konsul)  Penderita tidak boleh kelaparan (puasa lama) Vitamin  Dapat diberi vitamin C dan B compleks injeksi / oral (terutama yang dirawat lama diruangan) Evaluasi thoraks foto:  Penting pada kasus trauma kepala dengan kelainan thoraks seperti: o Contusio pulmonum o Aspirasi pneumonia o KP o Asthma bronkialis (beri bronkodilator) Tracheostomi:  Bila secret banyak dan obstruksi jalan napas (setelah suction dan posisi telah diperbaiki)  Perawatan cukup sulit 393 24. Bila hidung ada rhinorea (klinis positif)  tidak boleh bersin atau di manipulasi 23. . 26. 25.

secepatnya!!! AB pun distop (tak perlu batas waktu) 394 . Pilih kanul yang cocok (jangan terlalu kecil)  Harus ada inform consent  Setelah di ruangan harus rajin di suction (satu penderita satu selang isap  beri resep maagslang # 10)  Harus septic – aseptic (sevlon + pinset)  Masukkan ke dalam kanul hanya 10 detik lalu tarik keluar  Sebelumnya dapat diberi nebulizer (8x15’) dan fisioterapi nafas (kalau perlu + bronkiolitik)  Perhatikan posisi dan oksigen penderita  Bila anak kanul buntu segera cabut dan cuci air panas serta bersihkan (tiap pagi  karena kerak >>)  Bila ada pus pada lubang kanul  kultur  Bila secret berkurang dan obstruksi tidak ada  aff (kembalikan ke OK UGD) 27. Angkat drain:  Angkat drain luka operasi harus oleh dokter (karena risiko infeksi besar)  Bila perdarahan berkurang.

CSF.   Angkat jahitan: Manipulasi dura. jaringan otak  di ruangan (di poli: bahaya infeksi besar) Biasanya hari ke5 (kecuali ada luka basah) Harus septic – aseptic Tidak perlu angkat jahitan separuh  risiko infeksi tinggi (angkat jahitan harus sekaligus) Sebaiknya oleh dokter Kapan pasien pulang? Bila penderita sudah dapat berdikari dan keluhan berkurang Bila vegetatif state dapat pula dipulangkan dengan diberi surat untuk dokter yang terdekat dengan penderita Beri advis sebelum pulang Pesan untuk control ke poli bedah saraf Fisio terapi di rumah terus Lingkungan rumah / keluarga secara psikis bagi penderita sangat menguntungkan (walaupun kesadaran penderita menurun) daripada di RS 395     .      29. Botol drain dikembalikan ke OK/UGD 28.

tracheostomi. harus di cek apakah ada 396 . thoraks foto) Oksigenasi diberikan dengan masker Bila perlu diusulkan untuk respirator (pada kasus ARDS) Cek pupil:  Untuk pemeriksaan refleks cahaya. otot lidah lumpuh dan secret / cairan lambung Keadaan ini dapat terjadi oleh gangguan sentral / intra cranial.30. cek blood gas.       31. Sesak napas: Sering karena obstruksi jalan napas (perifer) karena posisi tubuh. lampu dari samping  Bila ada beda diameter pupil / anisokor. Ingat type pernafasan Cheyne stokes. lampu harus dari depan  Untuk cek ukuran pupil. irregular dan ataxia Apapun sebabnya jalan napas harus bebas Sesak oleh karena factor perifer harus segera diatasi dan evaluasi (ef: suction. lidah jatuh ke belakang. hiperventilasi neurogenik.

Bila tidak sadar dapat diberikan rangsangan sehingga sisi yang aktif dapat diketahui Tetraparesa: sering pada trauma cervical Monoparesa: lesi saraf perifer   397 . Bila setelah tiba di ruangan visus menurun atau 0 dan sebelumnya baik.     Cek hemiparesa Penting untuk mengetahui fokal di otak Pada umumnya fokal otak berlawanan dengan sisi hemiparesa Sedangkan anisokor mata sesisi dengan fokal otak Cek kekuatan otot bila sadar. kita harus waspada!!! Bila perlu cek foto Rheeze untuk mengetahui foramen optikum.trauma loka (ada subcinjungtiva bleeding / hifema dan jejas pada mata disekitarnya  Lihat juga apakah penderita memiliki katarak  Refleks cahaya baik langsung atau kosensuil penting untuk mengetahui fungsi nervus II dan III  Visus juga perlu dicek (bila penderita sadar). 32.

Trauma cervical / spinal : 10-20% pada trauma kepala  Tentukan tinggi lesi setelah tiba diruangan sebab mungkin berbeda dengan kondisi di UGD (ascending myelopathi)  Tinggi lesi dapat ditentukan dengan pemeriksaan sensibilitas dan perspirasi tes (tes tepung)  Awal terjadi spinal shock  Pemeriksaan kekuatan otot. refleks patologis juga refleks sfingter dan respirasi  Pasang DK bila ada inkontinensia urine  Pada trauma cervical: o Cek posisi dan beban dari crutch field o Gangguan nafas perlu diperhatikan o Awas dekubitus dan infeksi o Bila sewaktu-waktu apnea segera hubungi anastesi untuk intubasi 398 .33. Refleks patologis:  Merupakan salah satu tanda lateralisasi  Yang sering digunakan: Babinsky refleks (telapak kaki)  Bandingkan kanan kiri 34. refleks fisiologis.

urologi 35. rehab. Muntah:  Bila muntah segera miringkan.(respirator) dan siapkan stabilisasi kelumpuhan otot dada dan diafragma o Pada daerah traksi (kulit) harus dicek adanya infeksi o Diet penderita harus diperhatikan  Rawat bersama dengan orthopedic.   Cephalgia atau vertigo: Keduanya wajib dibedakan karena kausa dan terapi berbeda Vertigo sering oleh gangguan vestibuler dan dapat diberikan Dramamine (Diphenhydrinate) Cephalgia diberi analgetik Cephalgia hebat  analgesic  tidak baik  awas epidural / intracranial hematoma   36. suction dan muntahan dibersihkan  Terjadi seringkali saat penderita pertama kali tiba di ruangan oleh karena mobilisasi >> pada pengiriman dari UGD  Muntah juga petunjuk TIK meninggi 399 .

 Pada muntah yang sering perhatikan balans cairan dan elektrolit  Vertigo atau cephalgia berat dapat menyebabkan muntah dan harus diterapi segera  Bila sering muntah penderita harus puasa sementara (keluarga / penjaga penderita harus diberitahu) 37. Diare:  Sering pada perawatan dengan diet sonde (terlalu pekat) dan intolerance  Juga bisa karena infeksi saluran cerna 400 .  Stress ulcer: Sering pada contusion berat (GCS < 6) dan atau disertai sepsis atau multitrauma Dilihat dari produk maagslang atau melena Terjadi pada lebih dari hari ke 4-5 Terapi: o Cimetidine / ranitidine (H2 reseptor blocker) o Antasida o Gastric lavage (es) secara berkala Cek Hb harus dilakukan     38.

ganti haas tiap hari    41. eg: hematoma epidural)  indikasi CT Scan cito 40. Trauma maksilo fascial:  Sering menyertai trauma kepala 401 . Diare profus harus dicegah (balance cairan)  pakai RL  syok hipovolemik  expafusin!  Bila perlu konsul interna 39.  Perawatan luka operasi: Pada penderita gelisah sering haas/plester dicabut sehingga harus diganti Luka operasi + jahitan harus ditutup haas steril Luka + pus  kultur Beritahu perawat. Cushing triad: Gejalanya:  Tensi meningkat  Nadi menurun (bradikardi)  sering dilupakan  Gangguan pernafasan Penting observasi T N R Merupakan tanda dari TIK yang meningkat (karena SOP.

Indkasi CT Scan kepala pada trauma kepala:  Lateralisasi: o Pupil anisokor o Hemiplegi o Kejang pada satu sisi o Refleks patologi pada satu sisi  Corpus alienum 402 . Prognosa jelek:  Bila: o GCS < 6 o Umur tua o Cushing triad o Multiple trauma ekstrakranial ada) o Deserebrasi o Respirasi ataxia o Febris tinggi ( > 390C) o CT Scan : kelainan >>>  Beri penjelasan keluarga (factor 43. Bila ada gangguan jalan napas (eg: Le Fort III – IV) harus dilakukan trakeostomi  Penderita harus rawat bersama dengan seksi Kepala Leher dan Plastik 42.

al: hidrosefalus  Depressed fraktur + lateralisasi  Bradikardia (Cushing triad) 403 . kondisi tetap/menurun  Sakit kepala / cephalgia hebat (dengan obat-obatan tidak membaik)  Curiga komplikasi akut / kronis trauma kepala. Post op (tanpa CT Scan sebelumnya) tidak membaik/tetap seperti sebelum op  Selama di ruangan.