You are on page 1of 14

Laporan Kasus TRAUMA THERMAL

Oleh: Fadillah Nur Herbuono 030.06.085

Pembimbing: dr. Sihol, Sp.M

KEPANITRAAN KLINIK ILMU PENYAKIT MATA RSAL dr. MINTOHARDJO PERIODE 6 MEI 2013 – 8 JUNI 2013 FAKULTAS KEDOKTERAN UNIVERSITAS TRISAKTI

terus menerus berair . terasa panas. pukul 20. Jakarta Selatan : Tukang kabel Status pernikahan : Menikah II.00 WIB Keluhan Utama Nyeri pada kedua mata sejak 1 hari SMRS Keluhan Tambahan Mata merah. rasa panas pada kedua mata.penglihatannya buram dan silau ketika melihat 2 . Mampang Prapatan. Identitas Nama Usia Jenis Kelamin Agama Alamat Pekerjaan : Tn. Pasien juga mengeluhkan kedua matanya merah. J : 42 tahun : Laki . Anamnesis Autoanamnesis dilakukan di poli mata RS Sukmul Sisma Medika tanggal 23 Mei 2013. gangguan penglihatan Riwayat Penyakit Sekarang Pasien datang dikonsulkan ke poli mata setelah sehari sebelumnya dirawat akibat terkena luka bakar pada daerah wajah.JAKARTA BAB I STATUS PASIEN I. Pasien datang dengan keluhan kedua matanya nyeri sejak 1 hari yang lalu terutama ketika membuka mata. mata berair.laki : Islam : Pancoran Barat 9A.

III. Riwayat Penyakit Keluarga Riwayat Kebiasaan Merokok (+). konsumsi obat-obatan tertentu (-). Hipertensi (-).Status Generalisata : Keadaan umum/kesadaran : Tampak sakit sedang/compos mentis Tanda vital Tekanan darah Nadi Suhu Pernapasan : 130/80 mmHg : 85x/menit : 36. Pasien sebelumnya belum pernah mengobati lukanya. alergi. pasien juga tidak memakai alat pelindung diri. Saat bekerja pasien tidak pernah mematikan terlebih dahulu aliran listriknya.5 ◦C : 22x/menit 3 . Pemeriksaan Fisik . Riwayat trauma. Keluhan mulai dirasakan setelah pasien terkena percikan api yang tiba-tiba keluar dari kabel listrik yang sedang disambungnya saat bekerja lapangan. Tidak menggunakan kacamata sebelumnya. dan gangguan penglihatan sebelumnya pada kedua mata disangkal. hanya mengkompresnya dengan air biasa sewaktu dalam perjalanan menuju ke rumah sakit.cahaya terang. alkohol (-). Pasien menyangkal adanya keluar kotoran dari mata. Pasien belum pernah mengalami hal seperti ini sebelumnya. DM (-). Riwayat Penyakit Dahulu Riwayat penyakit dan operasi sebelumnya pada kedua mata disangkal.

Trikiasis (-). Hematoma (-). Enteropion (-). sekret -/: Trakea letak di tengah. Enteropion (-). Papil (-) 4 . Folikel (-). Hematoma (-). Distrikiasis (-) Edema (+).Kepala Wajah Mata Telinga Hidung Leher Jantung Paru Abdomen Extremitas . tidak teraba pembesaran KGB : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan : Tidak ada kelainan Occuli Sinistra Visus Kedudukan bola mata Pergerakan bola mata 6/15 Ortophoria Bola mata baik bergerak ke segala arah Palpebra superior Ptosis (-). Trikiasis (-). Hematoma (-). sekret -/: Septum deviasi -/-. Ekteropion (-). Edema (+). Ekteropion (-). Enteropion (-). Distrikiasis (-) Hiperemis (+). Trikiasis (-). Folikel (-). Distrikiasis (-) Konjungtiva tarsal superior Hiperemis (+). Enteropion (-).Status Oftalmologis Occuli Dextra 6/15 Ortophoria Bola mata baik bergerak ke segala arah Ptosis (-). area muka dan mata ± 7% : (Lihat status oftalmologis) : Normotia. Hematoma (-). serumen -/-. Ekteropion (-). Distrikiasis (-) Palpebra inferior Edema (+). Ekteropion (-). Trikiasis (-). Edema (+). Papil (-) : : Normocephali : Luka bakar derajat 1.

Sinekia (-) Tepi reguler. Papil (-) Konjungtiva bulbi Injeksi konjungtiva (+). Folikel (-). Edema (+). A/V 2/3 Normal/palpasi Positif Konjungtiva tarsal inferior Hiperemis (+). Bentuk bulat. juga mengeluhkan kedua matanya merah. Opticus batas tegas. Pingekuela (-). RCL (+). Ukuran 3mm.penglihatannya buram dan silau ketika melihat cahaya terang setelah pasien terkena percikan api yang tiba-tiba keluar dari kabel listrik yang sedang disambungnya.3. Sinekia (-) Tepi reguler. Isokor. Subkonjungtival Bleeding (-). Papil N. Opticus batas tegas. RCTL (+) Lensa Vitreus humour Funduskopi Jernih Tidak dilakukan Refleks fundus (+). Papil N. warna kuning kemerahan. warna kuning kemerahan. Sentral. Erosi (+) luas ±6x6mm. Sikatrik (-) Dalam. RCTL (+) Jernih Tidak dilakukan Refleks fundus (+). Subkonjungtival Bleeding (-). Edema (+). Bentuk bulat. 5 . Papil (-) Injeksi konjungtiva (+). area wajah dan mata ± 7%. Pterigium (-) Kornea Jernih. Erosi (+) luas ±6x6mm. CDR 0. Jernih Warna cokelat.Hiperemis (+). terus menerus berair . A/V 2/3 TIO Test Flourosin Normal/palpasi Positif IV. Ukuran 3mm. Tidak terdapat keluar kotoran dari mata. RCL (+). Pingekuela (-). Ulkus (-). Injeksi silier (+).3. Resume Pasien laki-laki 42 tahun datang dengan keluhan kedua matanya nyeri sejak 1 hari yang lalu terutama ketika membuka mata. Isokor. Sikatrik (-) COA Iris Pupil Dalam. Pada pemeriksaan fisik didapatkan luka bakar derajat 1. Sentral. Jernih Warna cokelat. Pterigium (-) Jernih. terasa panas. Infiltrat (-). Folikel (-). Infiltrat (-). CDR 0. Ulkus (-). Injeksi silier (+).

Erosi (+) luas ±6x6mm. Edema (+). Hematoma (-). Sinekia (-) Tepi reguler. Injeksi silier (+). Distrikiasis (-) Hiperemis (+). Papil (-) Hiperemis (+). Ekteropion (-). Folikel (-). Ukuran 3mm. Bentuk bulat. RCTL (+) Jernih Positif 6 .Status Oftalmologis : Occuli Dextra 6/15 Ortophoria Bola mata baik bergerak ke segala arah Ptosis (-). Edema (+). Papil (-) Injeksi konjungtiva (+). Trikiasis (-). Sikatrik (-) Dalam. Pingekuela (-). Jernih Warna cokelat. Sikatrik (-) Dalam. Pterigium (-) Jernih. Folikel (-). Trikiasis (-). Papil (-) Injeksi konjungtiva (+). Pingekuela (-). Trikiasis (-). Ekteropion (-). Infiltrat (-). Sentral. Hematoma (-). Injeksi silier (+). Subkonjungtival Bleeding (-). Infiltrat (-). Ekteropion (-). Hematoma (-). Enteropion (-). RCTL (+) Jernih Positif Lensa Test Flourosin COA Iris Pupil Kornea Konjungtiva bulbi Konjungtiva tarsal inferior Konjungtiva tarsal superior Palpebra inferior Palpebra superior Visus Kedudukan bola mata Pergerakan bola mata Occuli Sinistra 6/15 Ortophoria Bola mata baik bergerak ke segala arah Ptosis (-). Isokor. Ulkus (-). Enteropion (-). Enteropion (-). Hematoma (-). Ulkus (-). Erosi (+) luas ±6x6mm. Isokor. Pterigium (-) Jernih. RCL (+). Papil (-) Hiperemis (+). Edema (+). Ekteropion (-). Bentuk bulat. Folikel (-). Distrikiasis (-) Edema (+). Trikiasis (-). Distrikiasis (-) Edema (+). Sentral. Ukuran 3mm. Edema (+). Distrikiasis (-) Hiperemis (+). Folikel (-). RCL (+). Enteropion (-). Sinekia (-) Tepi reguler. Jernih Warna cokelat. Subkonjungtival Bleeding (-).

Diagnosis Kerja Erosi kornea post trauma thermal VI. Jenis luka dapat beraneka ragam dan memiliki penanganan yang 7 .radiasi. kerusakan jaringan atau kehilangan jaringan yang diakibatkan sumber panas yang tinggi. DEFINISI Trauma bakar adalah trauma yang merupakan jenis luka. Penatalaksanaan Medikamentosa : Cendo lyteers 6 dd gtt ODS Hyalux Cendo floxa VII. cahaya.V. sumber listrik. bahan kimiawi. Prognosis Ad vitam : bonam Ad functionam : bonam Ad sanationam : dubia ad bonam BAB II PEMBAHASAN TRAUMA BAKAR 1.

dan komplikasi yang terjadi akibat luka tersebut. uap panas) . Pengaruh bahan kimia sangat bergantung pada pH. air panas. luka bakar dapat juga menyebabkan distress emosional (trauma) dan psikologis yang berat dikarenakan cacat akibat luka bakar dan bekas luka (scar).pembuluh darah dan jaringan epidermal yang mengakibatkan kerusakan yang berada di tempat yang lebih dalam dari akhir sistem persarafan. larutan garam fisiologik dan asam berat. kecepatan dan jumlah bahan kimia tersebut mengenai mata. Seorang korban luka bakar dapat mengalami berbagai macam komplikasi yang fatal termasuk diantaranya kondisi shock. tulang. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat dibedakan dalam bentuk trauma asam dan trauma basa atau alkali.Panas (misal api.Radiasi . Luka bakar dapat merusak jaringan otot. Bila bahan asam mengenai mata maka akan segera terjadi pengendapan ataupun penggumpalan protein permukaan sehingga bila konsentrasi tidak tingi maka tidak akan bersifat destruktif seperti trauma alkali. Luka bahan kimia harus dibilas secepatnya dengan air yang tersedia pada saat itu. Selain komplikasi yang berbentuk fisik. ketidak seimbangan elektrolit (inbalance elektrolit) dan masalah distress pernapasan. seperti dengan air keran.Kimia 3.berbeda tergantung jenis jaringan yang terkena luka bakar. Bahan kimia yang dapat mengakibatkan kelainan pada mata dapat dibedakan dalam bentuk: Trauma asam Bahan asam yang dapat merusak mata terutama bahan anorganik. pekerjaan pertanian dan peperangan yang memakai bahan kimia di abad modern. ETIOLOGI . industry. infeksi. KLASIFIKASI . pekerjaan yang memakai bahan kimia. tingkat keparahan.Trauma Bakar Kimia Trauma bahan kimia dapat terjadi pada kecelakaan dapat terjadi pada kecelakaan yang terjadi di dalam laboratorium. maka trauma oleh bahan alkali cepat dapat merusak dan menembus kornea. organic anhidrat (asetat). Dibanding bahan asam. Bahan asam dengan konsentrasi tinggi dapat 8 . Setiap trauma kimia pada mata memerlukan tindakan segera karena dapat memberikan penyulit yang lebih berat. 2.

Trauma basa atau alkali Trauma akibat bahan kimia basa akan memberikan akibat yang sangat pada mata. Pada trauma alkali akan terbentuk kolagenase yang akan menambah bertambah kerusakan kolagen kornea. Menurut klasifikasi Thoft maka trauma basa dapat dibedakan dalam :  Derajat 1 : hiperemi konjungtiva disertai dengan keratitis pungtata  Derajat 2 : hiperemi konjungtiva disertai dengan hilang epitel kornea  Derajat 3 : hiperemi disertai dengan nekrosis konjungtiva dan lepasnya epitel kornea  Derajat 4 : konjungtiva perilimal nekrosis sebanyak 50% Tindakan bila terjadi trauma basa adalah dengan secepatnya melakukan irigasi dengan garam fisiologik. sehingga tajam penglihatan tidak banyak terganggu. petasan.5% untuk menetralisir. EDTA untuk mengikat basa.5% atau buffer asam asetat pH 4. asam asetat 0. Bila mungkin irigasi dilakukan selama 60 menit segera setelah trauma. atau kecelakaan lainnya. Luka bakar termal pada kelopak mata diterapi dengan antibiotik topikal dan pembalut steril. Trauma akibat asam normal kembali. sedang untuk basa larutan asam borat. antibiotika. Bahan kimia alkali bersifat koagulasi sel dan terjadi proses persabunan. Alkali akan menembus dengan cepat kornea. Pengobatan dilakukan dengan irigasi jaringan yang terkena secepatnya dan selama mungkin untuk menghilangkan dan melarutkan bahan yang mengakibatkan trauma. dan sampai pada jaringan retina. EDTA diberikan setelah 1 minggu trauma alkali diperlukan untuk menetralisir kolagenase yang terbentuk pada hari ke tujuh. Apabila terjadi kerusakan 9 . kebakaran. Bahan akustik soda dapat menembus ke dalam bilik mata depan dalam waktu 7 detik.Trauma Bakar Thermal Luka bakar panas dapat diakibatkan oleh api. disertai dengan dehidrasi. Pada trauma basa akan terjadi penghancuran bahan kolagen jaringan kornea. Untuk bahan asam digunakan larutan natrium bikarbonat 3%. Penderita diberi sikloplegia. . Sebaiknya irigasi dilakukan selama mungkin. Alkali yang menembus ke dalam bola mata akan merusak retina sehingga akan berakhir dengan kebutaan penderita. bilik mata depan.bereaksi seperti terhadap trauma basa sehingga kerusakkan yang akan diakibatkannya akan lebih dalam. Trauma ini didapatkan akibat terjadinya ledakan.

Pupil akan terlihat miosis. Sinar ultraviolet banyak terdapat pada saat bekerja las. tajam 10 . demikian pula iris yang mengabsorpsi sinar infra merah akan panas sehingga berakibat tidak baik terhadap kapsul lensa di dekatnya.kornea. Pasien akan merasa mata sangat sakit. fotofobia. Steroid sistemik dan local deberikan untuk mencegah terbentuknya jaringa parut pada macula atau untuk mengurangi gejala radang yang timbul. Sinar ultraviolet biasanya memberikan kerusakan terbatas pada kornea sehingga kerusakan pada retina dan lensa tidak akan terlihat secara nyata. Tidak ada pengobatan terhadap akibat buruk yang sudah terjadi kecuali mencegah terkenanya mata oleh sinar infra merah ini. mata terasa kelilipan atau kemasukkan pasir. Setelah 2-3 hari mulai terjadi ektropion dan retraksi kelopak mata. dan menatap sinar matahari atau pantulan sinar matahari diatas salju. katarak kortikal anterior posterior dan koagulasi pada koroid. Kaca yang mencair seperti yang ditemukan di tempat pemanggangan kaca akan mengeluakan sinar infra merah. Absorpsi sinar infra merah oleh lensa akan mengakibatkan katarak dan ekspoliasi kapsul lensa. Kerusakan ini akan membaik setelah beberapa waktu dan tidak akan memberikan gangguan tajam penglihatan yang menetap. maka biasanya tidak perlu dilakukan bebat tekan karena adanya pembengkakan kelopak yang ekstensif. blefarospasme dan konjungtiva kemotik. . Selain itu sinar infra merah akan mengakibatkan keratitis superpisial. Kornea akan menunjukkan adanya infiltrate pada permukaannya.Trauma Bakar Radiasi Trauma radiasi yang sering ditemukan adalah : Trauma sinar infra merah Akibat sinar infra merah dapat terjadi saat menatap gerhana matahari dan pada saat bekerja di pemanggangan. Sinar ultraviolet akan segera merusak epitel kornea. Pasien yang telah terkena sinar ultra violet akan memberikan keluhan sekitar 4-10 jam setelah trauma. Trauma sinar ultraviolet (sinar las) Sinar ultraviolet merupakan sinar gelombang pendek yang tidak terlihat mempunyai panjang gelombang antara 350-295 Nm. Tarsorafi dan ruang basah yang dibuat dari plastik dapat melindungi kornea. Bergantung akibat beratnya lesi akan terdapat skotoma sementara ataupun permanen. yang kadang-kadang disertai dengan kornea yang keruh dan pada uji fluoresein positif. Bila seseorang berada pada jarak satu kaki selama 1 menit di depan kaca yang mencair dan pupilnya melebar atau midriasis maka suhu lensa akan naik naik sebanyak 9ºC. Kerusakan ini dapat terjadi akibat terkonsentrasinya sinar infra merah terlihat.

analgetik. dan mata ditutup untuk selama 2-3 hari. Pengobatan yang diberikan adalah sikloplegia. perdarahan. Ekstremitas bawah kanan : 18%. mikroaneuris mata dan eksudat. Pada keadaan yang berat dapat mengakibatkan parut konjungtifa atrofi sel goblet yang akan mengganggu fungsi air mata. Genetalia : 1 %  Grade I 11 Sinar ionisasi dibedakan dalam bentuk : . Ekstremitas bawah kiri : 18% 6. Badan bagian depan : 18% 7. Akibat dari sinar ini pada lensa terjadi pemecahan diri sel epitel secara tidak normal. Sinar ionisasi dan sinar X  Sinar alfa yang dapat diabaikan  Sinar beta yang dapat menembus 1 cm jaringan. Ekstremitas atas kanan : 9% 3.penglihatan akan terganggu.  Sinar gama  Sinar X Sinar ionisasi dan sinar X dapat mengakibatkan katarak dan rusaknya retina. Dosis kataraktogenik bervariasi dengan energy dan tipe sinar. Sinar X merusak retina dengan gambaran seperti kerusakan yang diakibatkan diabetes mellitus berupa dilatasi kapiler. Luka bakar akibat sinar X dapat merusak kornea yang mengakibatkan kerusakkan yang permanen sehingga sukar untuk diobati. Ekstremitas atas kiri : 9% 4. Badan bagian belakang : 18% 8. Pengobatan yang diberikan adalah antibiotika topical dan steroid 3x sehari dan sikloplegik 1x sehari bila terjadi semblafaron pada konjungtiva dilakukan tindak pembedahan. Biasanya sembuh setelah 48 jam. antibiotika local. lensa yang lebih mudah dan lebih peka. Derajat luka bakar secara umum 1. Kepala dan leher : 9% 2. 5. Biasanya akan terlihat keratitis dengan iridosiklitis ringan.

Atasi semua masalah yang mengancam jiwa.  Lepaskan pakaian dan perhiasan. luka merah keputih-putihan (seperti merah yang terdapat serat putih dan merupakan jaringan mati) atau hitam keabu-abuan (seperti luka yang kering dan gosong juga termasuk jaringan mati). sembuh dalam 3 . tampak kering.  Lakukan penilaian dini. Bila ada bahan kimia alirkan air terus menerus selama 20 menit atau lebih. luka merah dan basah. terdapat vesikel (benjolan berupa cairan atau nanah) dan oedem kutan (adanya penimbunan dibawah kulit). mengkilap.7 hari dan tidak ada jaringan parut. 12 . 4. sangat nyeri.  Hentikan proses luka bakarnya. Bila ada berikan oksigen sesuai protokol. kulit kering kemerahan.Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar). Jika pakaian melekat gunting sekitarnya.28 hari tergantung komplikasi infeksi. jangan memaksa untuk melepas bagian yang melekat tersebut. PENATALAKSANAAN Penanganan Trauma Thermal • • • • • • Daerah kulit diperlakukan seperti luka bakar Bila terjadi karena percikan besi diperlakukan seperti trauma zat kimia Untuk mendinginkan suhu dengan Cryosurgery Untuk mejaga mata tetap basah diberikan air mata buatan AB untuk mencegah infeksi skunder Bila terjadi jaringan parut dilakukan tindakan bedah Penanganan Luka Bakar secara umum :  Nilai keamanan tempat kejadian dan keselamatan diri penolong. lapisan yang rusak tidak sembuh sendiri (perlu skin graf).  Grade II Kerusakan pada epidermis (kulit bagian luar) dan dermis (kulit bagian dalam). sembuh dalam 21 .  Tentukan derajat berat luka bakar selama pemeriksaan fisik.  Grade III Kerusakan pada semua lapisan kulit. nyeri sekali. nyeri tidak ada. Alirkan air dingin pada bagian yang terkena.

bulu hidung yang terbakar. Jangan lupa cari kemungkinan cedera lain.  Antibiotika Sistemik Bakteri yang berada pada luka umumnya gram positif dan hanya berkembang setempat. Periksa juga apakah ada trauma-trauma lain yang dapat menghambat gerakan pernapasan.  Breathing .  Rujuk ke fasilitas kesehatan.eschar yang melingkari dada dapat menghambat gerakan dada untuk bernapas. maka segera pasang Endotracheal Tube (ET). Hitung derajat. Penanganan Luka Bakar secara Khusus :  Airway . cairan antiseptic atau es pada luka bakar. luas permukaan tubuh terkena lokasi luka bakar dan faktor komplikasi. dapat diberikan dengan Formula Baxter. tetapi bakteri gram negatif seperti pseudomonas sangat invasif dan banyak 13 .  Tutup luka bakar.  Manajemen cairan Pada pasien luka bakar.  Jika luka bakar mengenai mata. dan sisanya dalam 16 jam berikutnya  Pengelolaan Nyeri Nyeri yang hebat dapat menyebabkan neurogenik syok yang terjadi pada jam-jam pertama setelah trauma.05 mg/Kg (iv). Jangan gunakan lemak. salep. pastikan kedua mata ditutup. segera lakukan escharotomi. Gunakan penutup luka steril atau lembaran penutup luka bakar steril sekali pakai. pada luka bakar yang luas dapat terjadi syok hipovolumik karena kebocoran plasma yang luas. hematothorax. Morphin diberikan dalam dosis 0.  Jagalah suhu tubuh penderita dan rawat cedera lain yang perlu. dan fraktur costae  Circulation . Tanda-tanda adanya trauma inhalasi antara lain adalah: riwayat terkurung dalam api. jangan memecahkan gelembung. formula baxter : Total cairan = 4cc x berat badan x luas luka bakar Berikan 50% dari total cairan dalam 8 jam pertama. Bila yang terbakar jari-jari maka masing-masing jari dibalut terpisah. luka bakar pada wajah. misalnya pneumothorax.apabila terdapat kecurigaan adanya trauma inhalasi.luka bakar menimbulkan kerusakan jaringan sehingga menimbulkan edema. dan sputum yang hitam.

cephapirin dan cephalotin). gangguan keseimbangan cairan dan elektrolit Fase Subakut : infeksi dan sepsis Fase Lanjut : parut hipertropik 14 . baik luka.menimbulkan sepsis. dapat dilakukan transplantasi kornea. Macam antibiotika ditentukan dari kultur dari bagian yang terinfeksi. Karena banyaknya jaringan nekrotik pada luka bakar maka penetrasi antibiotika sistemik ke luka tidaklah meyakinkan. darah maupun urine. Oleh karena itu antibiotika sistemik digunakan bila timbul gejala sepsis. KOMPLIKASI Fase Akut : syok. Antibiotika pilihan adalah cephalosporin generasi pertama (cefazolin.  Nutrisi Dukungan nutrisi yang baik sangat membantu penyembuhan luka bakar 5. namun bila trauma bakar mengakibatkan kerusakan yang parah dapat menyebabkan kebutaan permanen. Generasi ketiga khususnya ceftazidim mempunyai efektifitas besar terhadap pseudomonas  Pembedahan Bila trauma bakar merusak jaringan.