www.rajaebookgratis.

com

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah memberikan rahmat, berkah dan hidayahNya, sehingga draft dokumen Strategi Penanggulangan Kemiskinan Nasional (SPKN) ini dapat di selesaikan. Dokumen ini merupakan produk intelektual yang dihasilkan secara kolektif oleh berbagai representasi masyarakat dan institusi pemerintah, dunia usaha, LSM, perguruan tinggi, organisasi kemasyarakatan dan keagamaan serta organisasi profesi yang tergabung didalam gugus-gugus tugas yang ada di dalam Tim Koordinasi Penyiapan Penyusunan Perumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan (TKP3KPK). Nama gugus-gugus tugas tersebut, sesuai empat pilar kebijakan penanggulangan kemiskinan yang tertera di dalam dokumen sementara strategi penanggulangan kemiskinan adalah Perluasan Kesempatan, Pemberdayaan Masyarakat, Peningkatan Kapasitas dan Pengembangan Sumberdaya Manusia dan Perlindungan Sosial. Dokumen ini memuat pula isu strategis lintas bidang (cross cutting issues), yaitu: lingkungan, tata pemerintahan, desentralisasi dan pengarusutamaan gender. Isi dokumen ini terdiri dari lima bagian pokok. Kelima bagian tersebut adalah: (1) kondisi dan penyebab kemiskinan; (2) kaji ulang kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan; (3) landasan strategi penanggulangan kemiskinan; (4) kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan; dan (5) sistem monitoring dan evaluasi penanggulangan kemiskinan.

Penyusunan draft SPKN ini dilaksanakan dengan proses partisipasi yang meliputi kajian kemiskinan partisipatif (Participatory Poverty Assessment), pertemuan, seminar dan lokakarya gugus tugas, kaji bersama masyarakat akar rumput serta pertemuan koordinasi regional, dan nasional. Proses partisipasi tersebut melibatkan lintas pelaku (cross multi stakeholder), yaitu: pemerintah, lembaga swadaya masyarakat, organisasi masyarakat, organisasi profesi, dunia usaha, anggota legislatif, akademisi dan masyarakat miskin. Sesuai mandat yang diberikan Menko Kesra selaku Ketua KPK melalui Surat Keputusan No 16 Tahun 2002, maka selanjutnya draft dokumen SPKN ini disampaikan kepada Komite Penanggulangan Kemiskinan untuk ditetapkan. Kepada semua pihak yang telah ikut menyumbangkan pikiran dan tenaganya dalam menyusun draft dokumen SPKN ini kami ucapkan terima kasih. Mudah-mudahan Allah SWT meridhoinya dan dokumen ini bermanfaat bagi upaya penanggulangan kemiskinan di Indonesia

Jakarta, 28 Mei 2004 Deputi Menko Kesra Bidang Koordinasi Penanggulangan Kemiskinan Selaku Ketua TKP3KPK

Drs. Djoharis Lubis, MSc

www.rajaebookgratis.com

DAFTAR ISI
BAB V. Halaman BAB I. PENDAHULUAN 1.1. Latar Belakang.......................................... 1.2. Tujuan Penyusunan Dokumen SPKN........... 1.3. Ruang Lingkup.......................................... KONDISI DAN PENYEBAB KEMISKINAN 1 1 4 4

BAB II.

7

4.2. Visi dan Misi…………………………… 4.3. Tujuan dan Sasaran………........................ 4.4. Kondisi Makro Penanggulangan Kemiskinan………..….............................. KEBIJAKAN DAN PROGRAM 5.1. Kebijakan Umum ...................................... 5.2. Kebijakan dan Program Perluasan Kesempatan ..…..................................…… 5.3. Kebijakan dan Program Pemberdayaan Masyarakat ................................................. 5.4. Kebijakan dan Program Peningkatan Kapasitas dan Sumberdaya Manusia .......... 5.5. Kebijakan dan Program Perlindungan Sosial........................................................... 5.6. Mekanisme Pelaksanaan dan Kelembagaan

34 36 37 38 39 40 42 51 55 58

2.1. Kondisi Kemiskinan................................... 1 2.2. Penyebab Kemiskinan................................ 10 BAB III. KAJIULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM

BAB VI. SISTEM MONITORING DAN EVALUASI 60 6.1. Mekanisme dan Prosedur Monev……… 62 6.2. Indikator.................................…………… 68

16 BAB VII. PENUTUP

3.1. Evaluasi Kebijakan dan Program Penganggulangan Kemiskinan ................ 18 3.2. Pembelajaran…………………................. 25 BAB IV. LANDASAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN

33

4.1. Paradigma ......................………………… 34

www.rajaebookgratis.com

DAFTAR TABEL

DAFTAR GAMBAR

Nomor Teks

Halaman

Nomor Teks 6.1. Mekanisme Monitoring Kondisi Kemiskinan di Tingkat Nasional 6.2. Mekanisme Monitoring Kondisi Kemiskinan di Tingkat Daerah

Halaman

6.1. Monitoring dan Evaluasi Kondisi Kemiskinan 6.2. 6.3. Monitoring dan Evaluasi Kebijakan dan Program Indikator Kondisi Kemiskinan Sampai Tahun 2015

63 64

65

65

70

www.rajaebookgratis.com

BAB I.

PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang Tujuan nasional sebagaimana diamanatkan dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945 antara lain adalah meningkatkan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial. Untuk mencapai tujuan nasional tersebut kemiskinan harus ditanggulangi karena tujuan nasional tersebut tidak mungkin terwujud jika kemiskinan ada dimana-mana. Berdasarkan data BPS, jumlah penduduk miskin masih sebesar 37,3 juta jiwa atau 17,4 persen pada tahun 2003. Kemiskinan yang terjadi di Indonesia tidak hanya dari segi pendapatan saja, tetapi juga dari kemiskinan insani (human poverty) dan kemiskinan martabat (voicelessness, powerlessness, dan vulnerability). Kondisi kemiskinan ini menampakkan kemiskinan multidimensi dan telah berlangsung lama bahkan dalam beberapa generasi, sehingga menjadi kemiskinan kronis. Keadaan tersebut sangat ironis apabila dibandingkan dengan kekayaan alam Indonesia yang berlimpah. Indonesia merupakan negara kepulauan dengan kekayaan alam yang beragam dan letak geostrategis dan peran yang sangat penting dalam lingkup regional. Kekayaan laut memiliki keanekaragaman hayati yang sangat tinggi dan kandungan mineral serta benda-benda arkeologis yang sangat berharga. Indonesia juga mempunyai hutan hujan tropis terluas nomor dua di dunia, yaitu hampir mencapai 114 juta hektar, yang antara lain

merupakan sumber bahan kayu, plasma nuftah, dan obat-obatan. Kekayaan alam lainnya berupa potensi lahan dan iklim tropis sangat mendukung untuk pengembangan pertanian. Indonesia juga kaya dengan sumberdaya mineral, minyak dan gas bumi. Dengan potensi kekayaan alam tersebut seharusnya kemiskinan tidak terjadi di Indonesia. Kenyataan menunjukkan bahwa kemiskinan terjadi di mana-mana, baik di perkotaan, perdesaan, pesisir, daerah terpencil dan terasing, kawasan transmigrasi, pulau-pulau kecil di kawasan perbatasan dan daerah konflik. Secara indikatif menunjukkan bahwa sebagian besar kemiskinan yang terjadi di Indonesia bukan karena kemiskinan kultural tetapi lebih disebabkan oleh kemiskinan struktural. Pemerintah telah melakukan upaya-upaya penanggulangan kemiskinan dan telah dapat menurunkan jumlah penduduk miskin secara nyata. Upaya-upaya tersebut berupa kebijakan, program dan anggaran biaya penanggulangan kemiskinan namun belum dilaksanakan secara terintegrasi, sehingga masih terjadi tumpang tindih. Akibatnya kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan tidak mencapai sasaran. Belajar dari pengalaman tersebut, maka perlu disusun strategi penanggulangan kemiskinan secara terintegrasi dengan partisipasi seluruh stakeholder. Pada bulan Januari 2003 telah disahkan Interim-Poverty Strategy Paper (I-PRSP). I-PRSP merupakan panduan (road map) bagi penyusunan Strategi Penanggulangan Kemiskinan Nasional (SPKN). Dalam I-PRSP tersebut dinyatakan ada dua pendekatan utama penanggulangan kemiskinan, yaitu: (1) meningkatkan pendapatan melalui peningkatan produktivitas; dan (2) mengurangi pengeluaran melalui pengeluaran beban kebutuhan dasar. Upaya tersebut ditempuh melalui empat pilar kebijakan yaitu: (1) perluasan I - 1

baik di pusat dan daerah. SPKN selain mengacu kepada I-PRSP. kaji bersama masyarakat akar rumput pertemuan koordinasi regional. antara lain juga memperhatikan kepada kesepakatan-kesepakatan internasional seperti Millennium Development Goals (MDGs). dan (4) perlindungan sosial.com kesempatan. Dalam rangka konsultasi publik di DI Yogyakarta dan Klaten dilakukan Kaji Bersama Masyarakat Akar Rumput (JISAMAR). dan nasional. Batam. Proses Penyusunan SPKN SPKN disusun melalui beberapa tahapan. Proses partisipasi tersebut melibatkan lintas pelaku (stakeholder). Konsultasi publik juga telah dilakukan di Kupang. (2) mengkaji ulang kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. Kendari. I .2 . SPKN mengakomodasikan pula Rencana Pembangunan Nasional (REPENAS) transisi.2. dan Participatory Poverty Mapping (PPM) oleh URDI. 1. organisasi profesi. yaitu: pemerintah. ruang lingkup dokumen SPKN mencakup sinkronisasi kebijakan makro strategis dengan makro operasional dan mikro strategis dengan mikro operasional. konsolidasi PPA oleh SMERU. anggota legislatif.rajaebookgratis.www. organisasi masyarakat. yaitu dengan pendekatan partisipatif melalui konsesus dan komitmen bersama semua pihak yang terkait. 1. dan (3) menunjukkan komitmen bangsa Indonesia sebagai bagian dari gerakan penanggulangan kemiskinan global. (3) perumusan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. dunia usaha. (3) peningkatan kapasitas dan sumberdaya manusia. Tujuan Penyusunan Dokumen SPKN Tujuan disusunnya dokumen SPKN adalah: (1) memberikan arah bersama bagi pemerintah. (2) menerapkan paradigma baru dalam penanggulangan kemiskinan. (2) pemberdayaan masyarakat.3. seminar dan lokakarya gugus tugas. Surabaya.4. Tahapan tersebut adalah: (1) mengkaji kondisi dan penyebab kemiskinan. dimulai dari perumusan strategi dan kebijakan. dan diharapkan menjadi bagian inti dari Pembangunan Jangka Menengah (PJM) dan Pembangunan Jangka Panjang (PJP) melalui pendekatan regional sesuai dengan karakteristik dan potensi masing-masing daerah. 1. dan (4) pengembangan sistem monitoring dan evaluasi penanggulangan kemiskinan. Ruang Lingkup Sesuai yang tertera dalam I-PRSP. Makassar dan Karanganyar. swasta dan masyarakat sebagai pelaku pembangunan. dan Konferensi Internasional tentang Kependudukan dan Pembangunan di Kairo tahun 1994. Penyusunan SPKN dilaksanakan dengan proses partisipasi yang meliputi kajian kemiskinan partisipatif (Participatory Poverty Asessment-PPA). dalam menanggulangi kemiskinan. Medan. Bogor. Konferensi Dunia tentang Wanita di Beijing tahun 1995. pertemuan. SPKN merupakan strategi payung yang memberikan arah kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan baik sektoral maupun daerah. LSM. Untuk memahami suara masyarakat miskin antara lain dilakukan PPA di 40 lokasi oleh Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat dan BAPPENAS bekerjasama dengan KIKIS. akademisi dan masyarakat miskin.

3 persen dari jumlah penduduk Indonesia.5 persen pada tahun 1999 atau terjadi peningkatan sebesar 5.0 juta jiwa atau sebesar 56. Jumlah tersebut lebih besar apabila dibandingkan dengan angka kemiskinan sebelum krisis 1996 yang mencapai 22. Sedangkan kemiskinan kronik meningkat dari 3. Kondisi Kemiskinan Kemiskinan yang akan diuraikan dalam dokumen ini adalah kemiskinan dari segi pendapatan. Tingkat kemiskinan penduduk ditinjau dari segi pendapatan diukur dari pengeluaran kebutuhan dasar. kondisi pembangunan manusia. Dari berbagai aspek kemiskinan tersebut. KONDISI DAN PENYEBAB KEMISKINAN Miskin adalah ketidakmampuan berpartisipasi dalam bermasyarakat secara ekonomi. Pengenalan dan pemahaman terhadap kondisi dan penyebab kemiskinan sangat penting dilakukan agar dapat disusun strategi penanggulangan kemiskinan yang tepat. Pengkajian kondisi dan penyebab kemiskinan dilakukaan dengan menggunakan data dan informasi dari instansi seperti BPS dan BKKBN.4 persen dari jumlah penduduk Indonesia.www. Krisis ekonomi juga meningkatkan kelompok rentan dari 18. jumlah penduduk Indonesia yang berada di bawah garis kemiskinan pada tahun 2003 mencapai 37.88 II 1 .46 persen.4 persen dari jumlah penduduk Indonesia.2 persen pada tahun 1996 menjadi 9.1 persen pada tahun 1996 menjadi 33. budaya dan politik. jumlah penduduk miskin mencapai 53. ketenagakerjaan.5 juta jiwa atau 11.9 persen pada tahun 1999 atau terjadi peningkatan sebesar 6. berdasarkan kriteria US $ 1 per hari per kapita. jumlah penduduk miskin di Indonesia pada tahun 2003 sebanyak 7.1. ketimpangan struktur usaha. pendidikan.4 persen. dan kesenjangan antar golongan dan antar wilayah. yaitu tidak tamat SD sebanyak 21. Demikian pula halnya dengan indeks keparahan kemiskinan di perdesaan lebih tinggi daripada perkotaan. sosial.6 juta jiwa atau 28. 2. Kemiskinan sementara meningkat dari 12.4 persen pada tahun 1996 menjadi 17.rajaebookgratis. Kondisi kemiskinan berdasarkan kategori kemiskinan kronik dan kemiskinan sementara setelah terjadinya krisis ekonomi terjadi peningkatan.3 persen. Berdasarkan data BPS. Indeks kedalaman kemiskinan di perdesaan dalam kurun waktu 1996 – 2003 lebih tinggi daripada indeks kedalaman kemiskinan di perkotaan. permasalahan utama kemiskinan yang terjadi saat ini sampai beberapa tahun ke depan masih berkaitan dengan kecukupan kebutuhan dasar.3 juta jiwa atau 17.23 persen dan tamat SD sebanyak 10. Menurut data Bank Dunia.7 persen pada tahun 1999 atau terjadi peningkatan sebesar 15. Jika menggunakan US $ 2 per kapita per hari.6 persen Sebagian besar kepala rumah tangga penduduk miskin pada tahun 2003 paling tinggi berpendidikan dasar enam tahun. ketimpangan jender. serta dapat dilakukan dengan melibatkan masyarakat miskin secara langsung dengan kajian kemiskinan partisipatif.5 persen. penyandang masalah kesejahteraan sosial. ketakberdayaan.com BAB II. kesehatan. Sedangkan sisanya menyelesaikan pendidikan SLTP sebesar 9.

Menurut BPS.08 persen untuk kelompok umur 13-15 tahun. atau masih merupakan ciri-ciri umum di negara-negara sedang berkembang. Angka kematian bayi pada tahun 2003 sebesar 35 per seribu kelahiran.19 persen. kemudian peninjauan lapangan (34-44 persen).23 persen. pengelolaan air bersih. pada tahun 2003.00 persen dari 27. forum komunikasi (25-40 persen) dan pertemuan warga (30-35 persen). Sedangkan rasio partisipasi usia sekolah untuk kelompok umur 13-15 tahun lebih dari 70 persen.86 persen.13 persen. pada wanita daripada pria. dan Papua 41. keamanan. dan 5. kecuali Gorontalo 66. Kondisi kemiskinan dalam bidang kesehatan di Indonesia pada 10 tahun terakhir (1993-2003). Jumlah tersebut naik 12.48 persen.89 persen. Pada tahun 2003 rasio partisipasi usia sekolah mencapai 96.79 persen pada tahun 2003. Berdasarkan data empat macam kebijakan publik. dan kebersihan lingkungan.70 persen. Bangka Belitung 13.2 tahun.rajaebookgratis.47 persen pada tahun 2002 menjadi 8. Untuk kelompok umur 13-15 tahun. angka putus sekolah yang melebihi 10.91 persen. dan 81.52 persen. seperti pembangunan jalan.www. tamat SLTA sebesar 5.13 persen dan di atas SLTA sebesar 0. Berdasarkan data BPS. dan Sulawesi Tengah 69. Namun di beberapa provinsi masih terdapat lebih dari 50. Tidak semua orang yang dikategorikan sebagai PMKS terkait dengan masalah kemiskinan II 2 .42 persen untuk kelompok umur 7-12 tahun. rasio partisipasi usia sekolah relatif baik. Riau 47. yaitu dari 89. partisipasi masyarakat tertinggi dilakukan melalui Musyawarah Pembangunan Desa (38-82 persen). Jambi 49. pelayanan kesehatan. Balita yang berstatus gizi buruk meningkat dari 7. pada umumnya masih dalam varian yang klasik.55 persen pada tahun 2003.35 persen pada tahun 2002 menjadi 19.00 persen rumah tangga yang belum menikmati air bersih.9 juta jiwa pada tahun 2000. Angka melek huruf mengalami peningkatan.14 persen untuk kelompok umur 7-12 tahun. Partisipasi masyarakat dalam proses penentuan kebijakan publik masih rendah. pada kelompok berpendidikan rendah daripada berpendidikan tinggi.00 persen adalah Provinsi Gorontalo 16.33 persen.3 juta jiwa.com persen. dan Nusa Tenggara Timur 12. Sedangkan media massa masih relatif rendah yaitu 6-9 persen. Status gizi Balita pada tahun 2003 relatif lebih buruk daripada tahun 2002.55 persen pada tahun 2002 menjadi 89. Terdapat kecenderungan lebih rendahnya partisipasi dalam pengambilan keputusan pada kelompok termiskin daripada kelompok kaya. Sementara itu terdapat perbedaan tingkat partisipasi berbagai kelompok masyarakat dalam pengambilan keputusan perencanaan programprogram pembangunan pada tingkat lokal. sedangkan Balita yang berstatus gizi kurang meningkat dari 18. rumah tangga yang telah menggunakan air bersih sebanyak 77. Menurut data dari Departemen Sosial Penyandang Masalah Kesejahteraan Sosial (PMKS) pada tahun 2002 berjumlah 31. yaitu Provinsi Kalimantan Barat 20. Angka putus sekolah tahun 2003 pada umumnya relatif rendah. angka kematian Balita sebesar 46 per seribu kelahiran dan angka harapan hidup mencapai 66.01 persen untuk kelompok umur 13-15 tahun.31 persen.88 persen. Kalimantan Tengah 46.62 persen pada tahun 2003. Di semua provinsi rasio partisipasi usia sekolah untuk kelompok umur 7-12 tahun mencapai lebih dari 90 persen kecuali Papua hanya 83. yaitu sekitar 1. Bentuk kemiskinan yang lain adalah penyandang masalah kesejahteraan sosial.97 persen.

Berdasarkan data BPS jumlah keluarga fakir miskin meningkat cukup besar dari 13. korban sindroma HIV/AIDS. Beberapa alat untuk mengukur kemiskinan relatif adalah Indeks Gini.0 persen pada tahun 2002. Beberapa indikator IPM Indonesia yang masih jauh dari nilai standar internasional.0 tahun. yaitu dari 27. Demikian juga halnya dengan angka kematian bayi pada tahun 1960 mencapai 159 per seribu kelahiran hidup dan pada tahun 2003 turun menjadi 35 per seribu kelahiran hidup. kecuali untuk keluarga berumah tak layak huni. namun meningkat kembali menjadi 0. dan lain-lainnya.rajaebookgratis. Pemberian bantuan sosial berupa bantuan makanan. Pembahasan kemiskinan absolut akan sangat bermanfaat pada aras kabupaten/kota. Namun demikian. dan meningkat menjadi 66. dan kebutuhan dasar lainnya. yaitu minimal sebesar 80.885 jiwa dan 1.0 persen pada tahun 1960 menjadi 90. kondisi pembangunan manusia Indonesia mengalami kemajuan yang pesat apabila dibandingkan dengan pertengahan dekade 1970-an.8 persen dan balita berstatus gizi kurang mencapai 25.com seperti PMKS korban narkotika dan zat adiktif lainnya. pada tahun 1996 nilai IPJ sebesar 58.8 juta keluarga rentan.2 tahun pada tahun 2002. Adapun penambahan jenis kategori PMKS dilakukan sejak tahun 2002 yakni pekerja migran terlantar dan keluarga rentan berjumlah 1.5 juta jiwa menjadi 2. pelayanan kesehatan. Berdasarkan data BPS selama periode 1990 – 2001 telah terjadi penurunan IKM.0.7 pada tahun 2002. Nilai IPJ pada periode 1996 – 2002 fluktuatif.4 juta jiwa pada tahun 2000 menjadi 16. terlihat cukup efektif mengurangi jumlah korban bencana alam dan sosial. Menurut laporan UNDP. dan korban bencana alam yang mengalami penurunan jumlah. Indeks Gini Indonesia sejak tahun 1964 sampai tahun 1998 mengalami penurunan dari 0. bantuan bahan bangunan. IPM menurun menjadi 64. Indeks Theil dan dan Indeks L.8 pada tahun 2002.7 juta jiwa pada tahun 2002 atau meningkat sebesar 24. Sedangkan pada aras nasional kemiskinan relatif akan lebih penting dibandingkan dengan kemiskinan absolut. perkembangan IPM tersebut masih jauh dari standar internasional.5 pada tahun 1975 menjadi 69.3 pada tahun 1997 dan meningkat kembali menjadi 65. Sedangkan keluarga yang berada di daerah rawan bencana meningkat dari 1.9 persen. Hal ini dapat dilihat dari Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dan Indeks Kemiskinan Manusia (IKM).35 pada tahun 1964 menurun menjadi 0. angka harapan hidup hanya mencapai 41.9 persen pada tahun 1999 dan meningkat lagi menjadi 67.6 pada tahun 1990 menjadi 25.32 pada tahun 1998. sedangkan Indeks Pembangunan Jender (IPJ) menggambarkan perbedaan kondisi pembangunan manusia yang dicapai antara laki-laki dan perempuan.7 persen pada tahun 2001.34 pada tahun 2002.40 persen. kemudian menurun menjadi 55. Sebagian besar jenis kemiskinan yang telah diuraikan di atas adalah kemiskinan absolut. Perkembangan IPM pada tahun 1975 – 1996 meningkat dengan pesat dari 46.8 persen.2 pada tahun 1999 dan 22. Penyumbang kesenjangan antar II 3 . korban bencana sosial. Sedangkan angka melek huruf meningkat dari 39. Hampir semua jenis PMKS mengalami peningkatan jumlah.57 persen.0 pada tahun 1996. IPM menggambarkan kondisi pembangunan manusia secara umum. Indikator yang menyumbang terhadap tingginya nilai IKM pada tahun 2002 adalah persentase penduduk tanpa akses terhadap air bersih yang mencapai 44.0 juta jiwa atau ada kenaikan sebesar 34. Pada tahun 1960.www.

sedangkan masyarakat miskin sebagian besar tidak dapat mengakses kredit. khususnya dalam kebijakan pemanfaatan sumberdaya alam maupun sistem keuangan. Sedangkan kesenjangan antar propinsi terhadap kesenjangan Indonesia sebesar 17 sampai 22 persen.com golongan dapat dilihat dari sumbangan kesenjangan di dalam propinsi maupun antar propinsi dari Indeks Theil dan Indeks L. Pengangguran terbuka pada tahun 2003 mencapai 10. Penyebab Kemiskinan Mengingat kemiskinan bersifat multidimensi. telah memarjinalkan masyarakat yang berada di lokasi eksploitasi tersebut dan konsesinya hanya diberikan kepada pengusaha-pengusaha besar. Penyebab kemiskinan lainnya adalah pengaruh eksternal terhadap perekonomian Indonesia.2. dan rendahnya kesempatan bekerja serta berusaha merupakan penyebab kemiskinan dari segi ekonomi lainnya. Kondisi ini menyebabkan tidak dapat terserapnya tenaga kerja dengan baik sehingga pengangguran semakin meningkat. Pelaksanaan otonomi daerah dalam masa transisi telah menyebabkan terjadinya korupsi bukan hanya di aras nasional namun sampai di aras paling bawah sistem pemerintahan. Demikian juga apabila dilihat dari nilai Indeks L. Sistem kredit yang ada lebih membuka akses kepada pengusaha besar. korupsi bukan hanya terjadi di kalangan eksekutif dan yudikatif namun juga telah menyebar di lembaga legislatif.www. seperti yang terjadi pada tahun 1997. Pada kurun waktu 1990 – 1999. 2. Kondisi ini mendorong terjadinya korupsi dan kebijakan pembangunan yang tidak pro-poor yang lebih lanjut mengakibatkan terjadinya kemiskinan dan proses pemiskinan. yaitu sebesar 79 persen dampai dengan 87 persen. Kebijakan pembangunan pada masa lalu juga belum berpihak kepada kelompok miskin (pro-poor policy). Sistem kredit pada masa lalu juga kurang dapat menjangkau dan memberdayakan masyarakat banyak. pada periode 1990 – 2002.rajaebookgratis. apabila dilihat dari Indeks Theil ternyata sumbangan kesenjangan berasal dari kesenjangan di dalam propinsi. II 4 . ekonomi dan sosial budaya yang tidak adil dan memiskinkan. ternyata penyumbang kesenjangan Indonesia adalah kesenjangan di dalam propinsi. Sedangkan sumbangan kesenjangan antar propinsi sebesar 13 sampai 22 persen. Struktur perekonomian Indonesia yang lemah telah diperparah oleh dampak faktor eksternal tersebut. Kepemilikan aset yang rendah. maka penyebabnya juga bersifat multidimensi diantaranya karena faktor bencana alam seperti kegagalan panen. etos kerja yang rendah. Demi mengejar pertumbuhan ekonomi. terbatasnya akses terhadap modal dan faktor produksi. pendidikan dan kwalitas kesehatan rendah serta sebab struktur dan proses transaksi politik. kebijakan eksploitasi sumberdaya alam. yaitu menyumbang sekitar 78 sampai 83 persen. Kondisi ini bukan hanya telah memiskinkan masyarakat akan tetapi telah menimbulkan kesenjangan antar golongan. Bahkan pada masa sekarang. Timbulnya korupsi ini karena lemahnya penegakan hukum dan sistem kontrol masyarakat belum berjalan dengan baik yang disebabkan karena demokratisasi belum berjalan dengan semestinya. Kondisi ini telah mengakibatkan terjadinya kebocoran yang sangat luar biasa dalam anggaran pembangunan.1 juta jiwa atau mencapai 10 persen dari angkatan kerja.

(b) rendahnya partisipasi dalam penentuan kebijakan publik. (2) kurang berkembangnya kepemimpinan kelompok. perdagangan dan keuangan yang tidak didahului dengan peningkatan kapabilitas II 5 . fasilitas pendidikan dan fasilitas kesehatan. Kurangnya sarana dan prasarana transportasi misalnya. yaitu: (1) Penguasaan sumberdaya alam oleh negara dan pemberian konsesi kepada pengusaha besar yang bukan dimanfaatkan untuk kemakmuran rakyat. dan (3) lemahnya jejaring kaum miskin. Terhambatnya mobilitas sosial terutama disebabkan oleh: (1) terbatasnya pengembangan potensi diri dan (2) keterasingan sosial. politik dan budaya. Dari segi ekonomi penyebab ketidakberdayaan dan keterdiaman ada tiga.com Penyebab kemiskinan lainnya adalah karena terbatasnya akses masyarakat terhadap prasarana dan sarana dasar seperti transportasi. Sedangkan faktor-faktor yang mempengaruhi terbatasnya ruang publik disebabkan oleh: (1) birokrasi terlalu berkuasa. menyebabkan banyak daerah terisolasi. dan (c) disfungsi kelembagaan lembaga sosial.rajaebookgratis. komunikasi/informasi. (3) Peminggiran peran kelembagaan dan kearifan lokal demi mementingkan kesatuan daripada persatuan serta keragaman. Sedangkan keterasingan sosial disebabkan oleh: (a) melemahnya modal sosial. (4) Proses perencanaan dan penganggaran yang belum pro-miskin dan pro-pemberdayaan sangat menghambat kesempatan mobilitas sosial keatas kelompok miskin. (b) rendahnya motivasi pengembangan diri. yaitu: (a) terhambatnya mobilitas sosial ke atas. (2) Pembatasan ruang publik demi stabilisasi telah mempersempit kesempatan masyarakat untuk berpartisipasi dalam menetapkan kebijakan publik yang menyangkut hidup kelompok miskin. (2) kecurangan praktek bisnis dan degradasi sumberdaya alam dan lingkungan. Sedangkan fakto-faktor yang mempengaruhi berkurangnya kesempatan ekonomi/berusaha adalah: (1) kepincangan distribusi kekayaan. Rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha disebabkan oleh: (1) terbatasnya kepemilikan produktif. (2) lemahnya sumberdaya modal usaha. telah menggusur hakhak masyarakat. Berbagai dampak negatif sistem pemerintahan yang kurang baik telah mengakibatkan ketidakberdayaan dan pemiskinan. pasar. Kurangnya representasi si miskin disebabkan oleh: (1) lemahnya swa-organisasi. dan (4) rendahnya tingkat kewirausahaan sosial. Terbatasnya pengembangan potensi diri disebabkan oleh: (a) kondisi kesehatan dan pendidikan rendah. dan (b) berkurangnya kesempatan ekonomi/berusaha. Penyebab ketidakberdayaan dan keterdiaman kelompok miskin disebabkan oleh faktor-faktor ekonomi. dan (c) tata pemerintahan yang otokratis. dan (c) rendahnya keterlibatan dalam kegiatan ekonomi. dan (b) terbatasnya ruang publik. (b) elit politik yang tidak responsif. (5) Berbagai kebijakan industri. (3) terbatasnya pasar dan informasi pasar kurang sempurna/asimetris. berakibat membelenggu kreativitas dan daya inovasi masyarakat. (b) menghilangnya kepercayaan sosial. Faktor-faktor yang menyebabkan rendahnya keterlibatan dalam kegiatan ekonomi produktif adalah: (a) rendahnya kemampuan mengakses kesempatan berusaha.www. dan (c) tertekannya kesadaran hakhak dasar consciousness. Faktor-faktor yang mempengaruhi rendahnya tingkat partsipasi masyarakat dalam kebijakan publik adalah: (a) kurangnya representasi si miskin. sehingga mengakibatkan tidak berfungsinya sistem perekonomian masyarakat.

Maulu. rendahnya pendapatan. II - 6 . cenderung lebih banyak dijadikan acuan di perkotaan. Berdasarkan ekosistemnya. Bagi masyarakat hutan dan perkebunan faktor penting yang dijadikan acuan adalah menyekolahkan anak. persaingan dalam mengakses sumber daya. sedangkan di perdesaan. pendidikan. yaitu berdasarkan data dan informasi dari BPS atau institusi lainnya. tidak memiliki lahan atau kepemilikan lahan yang sangat sempit. pendidikan dan keahlian yang rendah. Sedangkan bagi kelompok perempuan.www. Penyebab kemiskinan lainnya adalah adanya bencana alam. rendahnya harga produk. berbagai masalah dalam produksi akibat adanya hama. kondisi penghidupan sehari-hari yang serba kekurangan. nelayan. kelompok laki-laki cenderung menggunakan ukuranukuran yang berkaitan dengan pendapatan. seperti banjir. kepemilikan bermacam-macam aset dan tingkat pendidikan. dan pemenuhan kebutuhan pangan. kekeringan dan lain sebagainya. faktor kepemilikan tanah dan ternak menjadi karakteristik yang cukup penting. misalnya. bagi komunitas lahan kering. jenis pekerjaan dan pemenuhan kebutuhan pangan. kurangnya keterampilan kurangnya lapangan kerja. pekerjaan yang tidak menentu dan tingkat pendapatan yang rendah. meskipun tampaknya Jenis pekerjaan. perumahan dan pakaian. Kondisi fisik rumah merupakan faktor yang dijadikan acuan di sebagian besar daerah di KTI. kondisi kesehatan yang buruk. Maluku Utara dan Papua. Demikian juga kerusuhan sosial baik yang bersifat horisontal dan vertikal yang terjadi di beberapa lokasi seperti Nanggroe Aceh Darussalam. Kotak 1 Karakteristik dan Penyebab Kemiskinan Berdasarkan Kajian Kemiskinan Partisipatif (KKP) Hasil konsolidasi KKP di 76 lokasi menunjukkan bahwa kemiskinan pada umumnya dicirikan dengan ketidakmampuan untuk memenuhi berbagai kebutuhan pangan. tanah longsor. telah memarginalkan banyak petani. Berdasarkan gender. Penyebab kemiskinan menurut masyarakat miskin adalah tidak adanya modal usaha. seperti banyaknya anggota keluarga dan adanya anak yang bekerja. karakteristik kemiskinan yang dikemukakan cenderung lebih mengarah pada kondisi kehidupan sehari-hari dan kondisi keluarga. Karakteriristik kemiskinan dan penyebabnya berdasarkan hasil konsolidasi kajian kemiskinan partisipatif (participatory poverty assessment) yang dilakukan oleh SMERU pada tahun 2003 disajikan pada Kotak 1. pemenuhan kebutuhan konsumsi pangan lebih sering dijadikan acuan. dan UMK (usaha mikro/informal dan kecil). buruh. Kondisi dan penyebab kemiskinan yang telah diuraikan di atas merupakan kemiskinan obyektif. kondisi kesehatan yang buruk. dan hubungan sosial-kemasyarakatan. kurang berusaha. sulitnya transportasi. takdir. sama-sama menghadapi persoalan dalam pemenuhan kebutuhan perumahan. rendahnya pendidikan. tiga karakteristik utama kemiskinan yang menjadi acuan adalah buruknya kondisi fisik rumah. gempa bumi.com serta kelembagan kelompok ekonomi lemah. tingkat kesulitan yang dihadapi berbeda-beda. Baik di perkotaan maupun di perdesaan. dan bantuan pemerintah yang tidak sampai pada penduduk miskin. ketidakmampuan menyekolahkan anak. dan keterkucilan sosial karena keterbatasan kemampuan untuk berpartisipasi dalam kegiatan sosial-kemasyarakatan. Sulawesi Tengah. tetapi di KBI lebih sedikit daerah yang menggunakan kondisi fisik rumah sebagai acuan kemiskinan.rajaebookgratis. dan pekerjaan sebagai buruh/kuli atau pekerjaan yang tidak menentu. Sedangkan bagi masyarakat nelayan. pekerjaan yang memberi penghidupan yang layak.

Kebijakan pembangunan pada awal dekade 1970-an bertumpu pada Trilogi Pembangunan: pertumbuhan ekonomi. dan pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. karena didasarkan pada kebijakan padat karya. Kebijakan delapan jalur pemerataan dilaksanakan sampai Pelita IV.rajaebookgratis. walaupun masih bersifat parsial sektoral dan regional. Pada Pelita III kebijakan penanggulangan kemiskinan menjadi priotitas utama. KAJI ULANG KEBIJAKAN DAN PROGRAM Usaha penanggulangan kemiskinan sudah dilakukan sejak lama walaupun intensitasnya beragam sesuai dengan kondisi sosial ekonomi masyarakatnya. yaitu pangan. penurunan persentase penduduk hanya sekitar 1. Pada masa itu pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya belum merupakan prioritas pertama. Pembangunan yang telah dilaksanakan pada awal Orde Baru sampai dengan Pelita V telah mengurangi kemiskinan (pendapatan) secara nyata. selain penanggulangan kemiskinan secara sektoral dan regional. kesehatan. stabilitas nasional. Kebijakan penanggulangan kemiskinan terdiri dari tiga kelompok.3 juta orang. Oleh karena itu pemerintah pada Pelita VI memandang perlu untuk melakukan usaha penanggulangan kemiskinan secara khusus bagi penduduk miskin. dengan penekanan pembangunan kepada peningkatan kesejahteraan dan perluasan kesempatan kerja. yaitu: (1) kebijaksanaan yang bersifat tidak langsung dan mengarah pada sasaran terwujudnya kondisi yang mendukung keberhasilan upaya penanggulangan kemiskinan. dengan pengembangan sumberdaya manusia sebagai satu wahana sentralnya. sandang. Bahkan pada kurun waktu waktu 1990 – 1993. Program penanggulangan kemiskinan khusus dilakukan dengan mendorong semangat keswadayaan dan kemandirian penduduk miskin. (2) pertumbuhan ekonomi yang sangat tinggi. namun prioritas pembangunan saat itu lebih ditekankan kepada upaya stabilitas nasional dan pertumbuhan ekonomi. Pada Pelita V terdapat perubahan landasan kebijakan pembangunan. dan pendidikan. Pertumbuhan ekonomi pada kurun waktu tersebut telah mengurangi kemiskinan. dan (3) stabilitas nasional yang sehat dan dinamis.com BAB III. dan (3) kebijakan khusus yang diutamakan pada peningkatan keswadayaan dan penyiapan penduduk miskin agar dapat melakukan kegiatan sosial III 1 . Secara eksplisit landasan pembangunan Pelita III berdasarkan prioritasnya adalah: (1) pemerataan pembangunan dan hasilhasilnya menuju pada terciptanya keadilan sosial bagi seluruh rakyat.www. papan. Azas pemerataan yang menuju pada terciptanya keadilan sosial tersebut dituangkan dalam delapan jalur pemerataan.4 persen atau sekitar 1. namun laju penurunannya makin mengecil. Kebijakan pembangunan pada Pelita V adalah memadukan pertumbuhan ekonomi dan transformasi struktur ekonomi dengan pemerataan pembangunan khususnya melalui penciptaan lapangan kerja produktif yang makin luas dan merata. (2) kebijakan yang bersifat langsung yang ditujukan kepada kelompok penduduk miskin yang terbatas kemampuannya dan diarahkan pada peningkatan penyediaan prasarana dan sarana yang mendukung pemenuhan kebutuhan dasar. karena merupakan landasan dan pijakan bagi era tinggal landas di Pelita VI.

Salah satu kebijakan khusus tersebut adalah Inpres Desa Tertinggal (IDT). good governance jauh dari terwujud dan KKN. dan (3) kesenjangan antara kebijakan dengan pelaksanaannya. (4) memposisikan masyarakat sebagai obyek dalam keseluruhan proses penanggulangan kemiskinan. Kebijakan pemerintah sampai saat ini belum sepenuhnya berpihak kepada kelompok miskin. seperti: (1) faktor lingkungan berupa krisis multidimensi yang belum usai. (5) cara pandang tentang kemiskinan yang hanya berorientasi ekonomi. Upaya penanggulangan kemiskinan yang lalu yang perlu dikoreksi secara mendasar adalah: (1) Terlalu berorientasi pada pertumbuhan ekonomi makro namun. kurang menekankan pada pertumbuhan ekonomi yang berkeadilan . (2) kesalahan pada tataran paradigma yang mempengaruhi pada kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. anggaran. hal ini dapat dilihat dari sasaran penurunan tingkat kemiskinan menjadi 14 persen pada tahun 2004 mustahil tercapai. sampai saat ini belum berpihak kepada masyarakat miskin. kebijakan fiskal. Kebijakan-kebijakan yang sudah dilaksanakan selama ini belum menunjukkan keberpihakan kepada kelompok miskin. dan perburuhan. (6) asumsi permasalahan dan penanggulangan kemiskinan yang sering dipandang sama (one-fit-for-all). moneter. (3) lebih bersifat karikatif.1. Khususnya dalam aspek pemanfaatan sumberdaya alam. Kebijakan eksploitasi sumberdaya alam. Hal ini diakibatkan oleh beberapa faktor. (2) kebijakan yang terpusat dan seragam. kebijakan penanggulangan kemiskinan ditujukan langsung kepada penduduk miskin maupun yang rentan. (8) pendekatannya top down. Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah sampai saat ini belum menyentuh permasalahan utama penyebab kemiskinan. bahwa perhatian pemerintah Indonesia terhadap penanggulangan kemiskinan telah berlangsung sejak lama. Hasil Kaji Ulang Kebijakan dan Program Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan secara makro masih belum tepat sasaran.com ekonomi dengan penyediaan modal kerja bergulir dan pendampingan sesuai budaya setempat. seperti pengembangan sistem ekonomi rakyat. III 2 . Kebijakan penanggulangan kemiskinan tersebut dicantumkan dalam Program Pembangunan Nasional (PROPENAS) tahun 2000 – 2004. (11) kebijakan yang bersifat sektoral dan daerah kurang diberdayakan dalam keseluruhan proses penanggulangan kemiskinan. yaitu kebijakan yang tidak pro-poor dan sistem kontrol dari seluruh lapisan masyarakat belum berjalan secara efektif. (9) kelompok sasaran antara program yang satu dan program lainnya seringkali tumpang tindih. Pada akhir dekade 1990-an. Berdasarkan uraian di atas dapat disimpulkan. (10) peranan negara yang besar tanpa melibatkan masyarakat madani sebagai beneficiary dan stakeholder.rajaebookgratis.www. (7) kurang memperhatikan keragaman budaya. beban hutang yang sangat besar. Kebijakan penanggulangan kemiskinan tersebut ternyata tidak berlangsung lama bersamaan dengan bergantinya pemerintahan. dan (l2) pemantauan dan evaluasi program tidak independen dan tidak efektif. dan kondisi sosial-politik. dengan program-program bantuan sosial langsung seperti jaring pengaman sosial (JPS) dan lain-lain yang sifatnya crash program dan reaktif. 3.

maupun pemanfaatannya. sasaran. Dalam tiga tahun terakhir anggaran APBN untuk penanggulangan kemiskinan hanya berjumlah antara Rp. telah III 3 . dan pertambangan serta perkreditan masih belum berpihak kepada kelompok miskin. seperti hak ulayat dan pengetahuan tradisional lainnya. Penurunan perluasan kesempatan kerja yang terjadi setelah krisis ekonomi disebabkan oleh perubahan hubungan industrial yang drastik sejak tahun 1998. Sementara itu. hal itu disebabkan oleh penciptaan lapangan kerja yang masih relatif kecil. pemanfataan sumberdaya alam dan lingkungan hidup. kecil dan menengah (UMKM) dan koperasi. Peraturan perundangan tentang kehutanan.8 – Rp. dan reformasi politik dan demokrasi telah mendorong peningkatan tuntutan terhadap perbaikan hak-hak pekerja.8 triliun.com bahkan memarjinalkan mereka. dan pemogokan yang merugikan baik bagi pekerja maupun bagi pemberi kerja. terutama diluar Jawa. yang berarti hanya sekitar 7. (4) kredit melalui kelompok pertanggungan jawabnya tidak jelas. antara lain. Upaya untuk menurunkan jumlah pengangguran terbuka melalui peningkatan pertumbuhan ekonomi ternyata masih belum mampu mengurangi jumlah pengangguran terbuka tersebut secara signifikan.18. Berbagai kebijakan ketenagakerjaan belum memberikan porsi keberpihakan yang seimbang antara perlindungan yang diberikan kepada tenagakerja dan pemberi kerja. Dalam kaitannya dengan upaya mengembangkan usaha mikro. Beberapa kebijakan dan program pembangunan di bidang ekonomi.Hal tersebut di sebabkan : (1) masyarakat cenderung tidak mengembalikan kredit dari pemerintah karena dianggap tidak ada kewajiban untuk mengembalikan. dan (8) banyak kredit yang dimanipulasi oleh oknum pelaksananya. Kondisi yang demikian telah mengakibatkan pergeseran dari usaha yang semula bersifat padat tenaga kerja ke usaha yang relatif padat modal. perikanan. (3) pengelola enggan menagih.rajaebookgratis. (2) kebijakan pusat dan daerah yang tumpang-tindih. (2) tidak ada sanksi yang kuat bila tidak dikembalikan. (3) kurangnya kepastian hukum. Angka pengangguran terbuka meningkat dibandingkan tahun sebelumnya.5 persen dari total anggaran pemerintah pusat. diantaranya kurang sukses. (5) gangguan keamanan. Disamping itu program pemberdayaan masyarakat. masalah TKI yang bekerja di luar negeri masih perlu penanganan yang lebih sistimatik dan berkelanjutan. Kinerja pencapaian investasi masih menunjukkan penurunan. perselisihan. (5) sistem pendampingan kurang berjalan baik. Kondisi ketenagakerjaan masih belum mengalami perbaikan yang berarti. 18.. Perubahan-perubahan tersebut telah mengakibatkan ketidakpastian dalam hubungan industrial sehingga sering terjadi konflik. (6) pemberian kredit tidak melalui seleksi yang ketat. serta pembangunan daerah yang berkaitan dengan upaya perluasan kesempatan telah memberikan hasil yang positif. Kebijakan lain yang mengakibatkan pergeseran usaha dari yang sifatnya padat tenaga kerja ke usaha yang padat modal adalah ketentuan PHK dan pemberian pesangon.www. Di samping itu. 12.8 triliun. Anggaran yang tersedia untuk program penanggulangan kemiskinan masih terlalu kecil. Untuk tahun 2004. (7) penerima kredit tidak tepat waktu. (4) kurang kondusifnya pasar tenaga kerja. serta (6) kurangnya insentif investasi. dengan tidak mengindahkan hakhak perolehan masyarakat. adalah: (1) prosedur investasi yang panjang dan berbelit. faktor-faktor domestik yang menghambat. anggaran penanggulangan kemiskinan hanya sekitar Rp.

JPS serta PKPS-BBM) justru menimbulkan ketergantungan masyarakat atas bantuan tersebut. masyarakat terasing dan terpencil. belum mencakup sektor informal. Dampak upaya perlindungan sosial berbasis tabungan III 4 . Kebijakan perlindungan sosial khususnya bantuan sosial belum bersifat menyeluruh dan berkelanjutan. kurang didukung pendanaan yang memadai. Dampak upaya perlindungan sosial yang berbasis kearifan lokal berperan sebagai lini utama dan pertama dalam menghadapi masalahmasalah sosial. Sebagai contoh adalah pembentukan komite sekolah dan dewan sekolah yang dibentuk berdasarkan surat keputusan sebagian besar tidak berfungsi sebagaimana mestinya. kurang dapat memberi nilai tambah ekonomi. kapasitas perbankan dalam penyaluran kredit kepada UMKM dan fasilitasi pembiayaan dari pemerintah dalam bentuk dana bergulir dan penjaminan kredit bagi UMKM juga meningkat. dan belum mampu mengatasi masalah-masalah sosial. tidak tepat jumlah. perkembangan akses UMKM terhadap sumberdaya produktif non finansial ditandai dengan adanya peningkatan ketersediaan penyedia jasa layanan pengembangan usaha (business development services-BDS). Tingkat partisipasi untuk anak seusia SD sangat baik. Dampak bantuan sosial belum sepenuhnya berhasil memecahkan masalahmasalah sosial. Kebijakan perlindungan sosial yang berbasis kearifan lokal. Pelaksanaan kebijakan dan program dalam bidang pendidikan sering belum dirancang dengan baik dan lebih menekankan kepada akses. Akan tetapi dalam pelaksanaannya kredit yang tersalurkan kepada usaha mikro dan kecil sangat sedikit. Pelaksanaan upaya perlindungan sosial yang berbasis kearifan lokal masih berskala sangat kecil dan terbatas. 14 bank komersial mengalokasikan kredit untuk UMKM yang mencapai 42 triliun rupiah untuk tahun anggaran 2003. melemahkan inisiatif lokal. sulit disalurkan karena adanya hambatan transportasi yang tidak didukung oleh infrastruktur aparat yang kompetent. kurang memberdayakan masyarakat. dan berkembangnya klaster/sentra UMKM di berbagai daerah. namun kurang memperhatikan pada mutu pelayanan. karena kurang terkoordinasi. kurang memberi nilai tambah ekonomi. dan kerap kali disalahgunakan dengan mengorbankan kepentingan keluarga miskin itu sendiri. Demikian juga dengan Konsultan Keuangan Mitra Bank (KKMB) belum banyak membantu UMKM untuk memperoleh kredit. Kebijakan perlindungan sosial yang berbasis tabungan. pencapaian hasil pelaksanaan upaya untuk mengembangkan UMKM masih belum maksimal. sehingga belum sepenuhnya dapat menjawab kebutuhan social masyarakat.www. khususnya musibah akibat terjadinya bencana alam. Sementara itu. bantuan kepada para korban bencana. belum membudaya. kurang terkoordinasi.rajaebookgratis. Demikian juga banyak gedung sekolah maupun puskesmas dibangun namun mutunya memprihatinkan. Pada tahun 2003 ditandatangani MoU antara Bank Indonesia dengan Komite Penanggulangan Kemiskinan (KPK) dalam rangka upaya pengentasan kemiskinan. Pelaksanaan upaya perlindungan sosial yang berbasis tabungan masih berskala kecil. secara umum. tidak tepat waktu. bencana konflik sosial.com dilakukan agenda penyelesaian hutang. Berdasarkan kesepakatan tersebut. Pelaksanaan bantuan sosial (stimulan. namun mutunya masih dipertanyakan. Meskipun demikian. kurang transparan. terbatas untuk kegiatan dan kelompok tertentu. kurang tepat sasaran. belum dikembangkan secara optimal. Di samping itu.

Hal ini cukup misalnya menonjol dalam programprogram PIDRA. dengan memperhatikan hal-hal sebagai berikut: (1) Kredit III 5 . seperti Bogasari. jimpitan. kegiatan dan penyebarannya berbeda-beda. dan belum terpadu. Kebijakan jaminan sosial belum bersifat wajib bagi seluruh penduduk. agar efektif dan berkelanjutan. lumbung paceklik. misalnya: arisan. yaitu dengan memberi bantuan langsung kepada penyandang masalah kemiskinan berupa bantuan sembako.rajaebookgratis. PPK. dan memadukan praktek-praktek yang baik (good practices) ke dalam design program baru. yaitu: (1) pendekatan karitatif. Oleh karena itu yang diperlukan adalah perubahan paradigmatik. yaitu dengan meningkatkan kapasitas orang miskin agar mampu mengorganisasikan diri menjadi kelompok swadaya masyarakat. harus terkait dengan agenda tranformasi kelembagaan dan kebijakan ke arah good governance dan kebijakan yang pro-poor. terbatas pada sektor formal dengan cakupan rendah. Upaya tersebut dilakukan berdasarkan kesepakatan warga dan dikelola serta dilaksanakan secara bersama-sama oleh masyarakat itu sendiri. diperlukan kebijaksanaan khusus dalam pengembangan keuangan mikro dan kelembagaannya. BUMN melalui Program Pembinaan Usaha Kecil dan Koperasi (PUKK) menyisihkan sebagian keuntungan (1 – 5 persen) untuk pemberdayaan usaha kecil dan koperasi. mapalus dsb. Masyarakat miskin sendiri sebenarnya dengan kapasitas yang dimilikinya secara swadaya dan menggunakan kearifan lokal sesuai dengan kemampuan masing-masing telah berusaha sendiri untuk menanggulangi kemiskinan. Proses tersebut sejalan dengan perkembangan pemahaman terhadap kemiskinan. Pada masa mendatang. Sedangkan perusahaan swasta melalui yayasan atau salah satu unit perusahaannya atau bekerjasama dengan LSM melakukan penanggulangan kemiskinan melalui community development. CERD. Paradigma pembangunan dan penanggulangan kemiskinan yang ada masih belum memberikan perhatian khusus pada masalah kemiskinan kronis yang multidimensional dan akar kemiskinan struktural. 3. Pembelajaran Bila kita telaah dalam kurun waktu yang cukup panjang (25-30 tahun) kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan telah mengalami suatu proses evolusi. organisasi non pemerintah banyak ikut ambil bagian dalam penanggulangan kemiskinan dengan berbagai pendekatan. tengelan. Yayasan Aqua dan Yayasan Astra. P2KP dan PEMP walaupun dalam pelaksanaannya belum sesuai seperti yang diharapkan. Pelaksanaan jaminan sosial masih berorientasi keuntungan. Sektor bisnis. Selain pemerintah.com berperan dalam menjamin rasa aman terhadap risiko finansial. dan belum berorientasi pada kepentingan peserta.www. yaitu untuk mempengaruhi kebijakan pembangunan pemerintah agar memihak orang miskin. Demikian juga agenda penanggulangan kemiskinan pada masa mendatang. Terdapat beberapa program di era reformasi yang telah secara arif mengambil pelajaran dari berbagai program penanggulangan kemiskinan sebelumnya. masih terbatas pada beberapa jaminan tertentu.2. sehingga bentuk kelembagaan. (2) pendekatan pemberdayaan. dan (3) pendekatan advokasi. Dampak jaminan sosial belum mampu menjawab masalah-masalah sosial yang dihadapi. baik BUMN maupun perusahaan swasta juga melakukan upaya penanggulangan kemiskinan.

Upaya tersebut adalah dalam rangka meningkatkan keterwakilan suara orang-orang miskin dalam proses persiapan. peningkatan usaha produktif dan lain sebagainya.com program dialihkan pengelolaannya melalui Lembaga Keuangan Mikro. Proses penyusunan kebijakan tidak lagi top-down tetapi bottom-up dan partisipatif. Untuk mendekatkan kebijakan publik yang diformulasikan (kebijakan makro) dengan operasionalisasi program-program di lapangan. III 6 . melainkan bersifat lokal dan bermanfaat bagi yang bersangkutan. (2) Pemerintah ditingkat Kabupaten mempunyai fungsi pengaturan dan pengawasan LKM. maupun berdampak tidak langsung yang sifatnya berjangka menengah dan panjang seperti penyediaan prasarana dan sarana untuk memberikan akses. dan (f) Perlu diciptakan sistem penjaminan kredit alternatif (substitutional collateral) bagi orang miskin. Program-program tersebut hendaknya disesuaikan dengan kebutuhan setempat sehingga akan ada model-model program penanggulangan kemiskinan yang tidak bersifat umum nasional. diperlukan pendekatan yang holistik yang memadukan baik kebutuhan program yang berdampak langsung dan berjangka pendek seperti crash program. Dalam masa pertumbuhan ekonomi yang lambat. (e) Kredit mikro yang disalurkan dan dikelola oleh perempuan ternyata jauh lebih efektif dari pada yang dikelola oleh laki-laki. Kebijakan-kebijakan ekonomi makro sudah seharusnya lebih berorientasi pada pemerataan dan pertumbuhan dan saling melengkapi dengan kebijakan-kebijakan sektoral. Hal ini akan mewarnai bentuk kebijakan di tingkat makro (Departemen dan Non-Departemen) yang akan berdampak pada tugas pokok dan fungsi organisasi. (3) Masyarakat miskin tidak memerlukan kredit bersubsidi karena sudah terbiasa dengan rentenir yang diperlukan adalah akses terhadap pendanaan secara mudah. Dengan landasan pembangunan yang memihak si miskin (pro-poor development) akan berpengaruh pada perumusan kebijakan ditingkat makro. karenanya pendampingan harus mempertimbangkan skala ekonomi atau mencapai cost – effective. sehingga dapat memberikan dampak yang lebih berkeadilan (more equitable impact).rajaebookgratis. (2) merumuskan programprogram bersama masyarakat serta (3) melibatkan mereka dalam rangka ikut memonitor dan mengevaluasi pelaksanaan di lapangan. (d) Diperlukan pendampingan dalam pelayanan kredit mikro kepada kelompok miskin. kemudahan serta menunjang mobilitas kehidupan sosial ekonomi masyarakat khususnya orang-orang miskin. dengan hanya sedikit prospek untuk mendapatkan pembiayaan luar negeri dan masih terus mengalirnya modal ke luar negeri. penyusunan dan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan dan juga di dalam proses keterlibatan mereka untuk mempengaruhi kebijakan publik. Pengalaman menunjukkan bahwa biaya pendampingan merupakan biaya yang recoverable dari system pendampingan mandiri. Kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan pada masa yang akan datang lebih mengedepankan pada proses pelibatan orang-orang miskin dan perempuan untuk ikut serta dalam : (1) merancang program-program pemerintah apakah telah sesuai dengan kebutuhan mereka. maka kombinasi anggaran berimbang dengan hanya sedikit upaya untuk memobilisasi sumber daya domestik akan menghambat proses pembangunan yang berpihak pada masyarakat miskin.www. yaitu perlunya mengakomodasikan dengan konsisten semangat pembangunan yang partisipatif dan yang memihak masyarakat miskin sesuai dengan paradigma baru penanggulangan kemiskinan menuju Indonesia sejahtera.

santunan yang diberikan serta iuran dapat ditingkatkan secara berkala tentu sesuai kesepakatan dengan peserta.com Upaya mengatasi masalah pengangguran harus dilakukan dengan merumuskan dan menetapkan kebijakan terpadu yang diarahkan pada penciptaan iklim investasi yang kondusif. sangat berperan dalam membantu mengurangi beban pengangguran. Dengan demikian diharapkan sector pertanian dapat meningkatkan penyerapan tenaga kerja dan sekaligus sebagai jembatan pergeseran tenaga kerja sektor pertanian ke sektor industri dan jasa. agar nilai manfaat santunan dapat terus berarti. Pengelolaan program jaminan sosial yang komprehensif dan menyatu diharapkan dapat meningkatkan kualitas manfaat kepada peserta disamping memperbaiki efisiensi pengelolaan program. Perluasan kepersertaan menjadi penting sehingga skala ekonomis penyelenggaraan program dapat dicapai. Di samping itu. dalam rangka meningkatkan nilai tambah dan produktivitas tenagakerja di sektor pertanian. Pemberian prioritas pembangunan pada sektor pertanian melalui peningkatan dan perluasan usaha diharapkan dapat meningkatkan produktivitas tenaga kerja di sektor pertanian. Beberapa penyempurnaan kebijakan dan program ketenagakerjaan yang perlu dilakukan. (b) menyesuaikan besaran uang pesangon. Kebijakan dan program bantuan sosial seperti JPS yang merupakan crash program dalam rangka penanggulangan kemiskinan untuk kelompok rentan perlu diperbaiki operasionalisasinya khususnya dalam hal ketepatan kreterian identifikasi kelompok sasaran penerima. dua kritik tajam yang ditujukan banyak pihak kepada pengelola jaminan sosial. Partisipasi wakil pekerja dan pemberi kerja sudah mutlak dilakukan agar perimbangan aspirasi atau kepentingan serta transparansi pengelolaan dapat terjadi. di samping menghasilkan devisa yang cukup tinggi. pengaturan ketenagakerjaan yang tidak terlalu memberatkan para penanam modal tetapi seimbang antara pekerja dan pemberi kerja. Selain itu. Partisipasi pemerintah pusat dan pemerintah daerah dalam perluasan cakupan peserta jaminan sosial kepada sektor informal dan orang miskin mutlak diperlukan melalui pembayaran iuran atau premi. dan (c) menyusun skema pesangon atas dasar kontribusi dari tenagakerja. antara lain. kecelakaan. atau meninggal dunia. pengelolaan demikian dapat meningkatkan kualitas pengawasan dan evaluasi kebijakan pengelolaan investasi dana yang dihimpun dari masyarakat. Askesos yang kini tengah diujicobakan dibeberapa wilayah di Indonesia sejak tahun 2003 yang diharapkan dapat memberi manfaat kepada pekerja sektor informal dan pekerja mandiri atau resiko kehilangan penghasilan bilamana pekerja tersebut mengalami sakit. adalah. perlu dikembangkan dan ditingkatkan agroindustri di perdesaan. Disamping itu.www. Prioritas program dalam hal ini diberikan bagi program jaminan pemeliharaan kesehatan (JPK) kepada kelompok tersebut. Demikian juga dengan program Beras Murah untuk Orang Miskin (RASKIN) perlu dipertimbangkan mekanisme penyaluran yang lebih efektif dari yang saat ini III 7 . Pengiriman TKI ke luar negeri. Tingkat kepatuhan perusahaan yang masih rendah sekitar 40 persen dapat diperbaiki dengan meningkatkan pengawasan dan penegakan hukum yang dapat dilakukan oleh pengelola program jaminan sosial bekerja sama dengan aparat kepolisian. (a) memudahkan persyaratan tanpa menghilangkan hak-hak pengusaha untuk memperoleh izin dalam pengurangan tenagakerja dan PHK.rajaebookgratis.

untuk menghindari pengurangan beasiswa bagi siswa. Dengan pendekatan keluarga. dan lain-lain. maka program pendidikan akan memberi bantuan beasiswa atau sekolah kepada si anak. Kriteria penggunaan DBO oleh sekolah perlu diperjelas. YAE.com Pendekatan program bidang pendidikan. and Practices) untuk berjuang keluar dari belenggu kemiskinan. seperti JPS beasiswa apabila akan diteruskan. termasuk kebijakan pemerintah yang tidak pro-miskin. III - 8 . Program penanggulangan kemiskinan dalam bidang pendidikan. Untuk itu diperlukan upaya-upaya yang membangun kapasitas dan sekaligus mengembangkan relasi baru yang mendekatkan kembali pemerintah dan rakyat. Untuk itu perlu ditambahkan kriteria dimaksud hanya untuk anak keluarga miskin yang berprestasi. Pada akhirnya keberhasilan program penanggulangan kemiskinan sangat tergantung pada kapasitas si miskin sendiri yang tercermin dalam KAP (Knowledge. program padat karya. Attitude. dalam bentuk good governance. yaitu ditujukan bagi peningkatan dan perbaikan kualitas belajar-mengajar siswa dan guru dan bukan penyediaan atau rehabilitasi infrastruktur sekolah. karena beasiswa justru akan jatuh kepada anak yang berasal dari keluarga mampu. perlu dilakukan koordinasi untuk pengambilan beasiswa. Potensi masyarakat yang bersumber pada nilai-nilai etik dan kearifan lokal itu perlu digali dan diaktualisasikan melalui lembaga perantara yang profesional dan amanah seperti Dompet Dhuafa.sedangkan kepala keluarga akan memperoleh bantuan seperti misalnya program dana bergulir.www. terutama kelompok miskin. Bina Swadaya. Pengalaman empiris menunjukkan bahwa kepedulian dan kapasitas masyarakat membantu mereka yang miskin dan lemah masih ada. Selain itu.rajaebookgratis. Hasil kaji ulang kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan langsung bersama masyarakat melalui Kaji Bersama Masyarakat Akar Rumput (JISAMAR) di Desa Sriharjo. sementara bagi si ibu khususnya dan seluruh anggota keluarga diberi bantuan kesehatan. Evaluasi prestasi penerima beasiswa juga penting dilakukan secara rutin oleh pihak komite sekolah untuk melihat kemajuan perkembangan pendidikan siswa tersebut. kriteria penentuan sasaran berupa anak berprestasi harus diterapkan secara sangat hati-hati. Kabupaten Bantul disajikan pada Kotak 2 dan KKP oleh KIKIS di 20 lokasi di Indonesia disajikan pada Kotak 3. kesehatan dan pemberdayaan masyarakat apabila akan diteruskan perlu dilakukan secara terintegrasi berbasis keluarga. Namun semua kapasitas. dan lainnya. YAPPIKA. aset dan perjuangan tersebut akan sulit membuahkan hasil yang memuaskan bila terkendala oleh faktor-faktor eksternal.

Sedangkan IDT tidak dipakai untuk modal tetapi untuk kebutuhaan rumah tangga yang seharusnya menjadi kelompok sasaran. pelaksanaan sampai kepada proses monitoring dan evaluasi. pelaksanaan sampai kepada monitoring dan evaluasi. dapat mencukupi segala kebutuhan sehari-hari. Kaji Ulang Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan Hasil JISAMAR di Yogyakarta dan Klaten Masyarakat merasakan bahwa sebagian besar program penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah gagal dan hanya sebagian saja yang berhasil. serta dapat mengembangkan usaha dan menambah modal kerja. III - 9 . Sehingga pada masa mendatang perlu dilakukan kajian kemiskinan partisipatif generasi kedua terlebih dahulu sebelum dilaksanakan program penanggulangan kemiskinan dalam rangka penetapan akurasi penetapan sasaran dan jenis kegiatannya. Sebagai contoh untuk program JPS-BK. mulai dari perencanaan. Juga program penanggulangan kemiskinan harus disesuaikan dengan kondisi social budaya dan kelembagaan masyarakat.rajaebookgratis. PEMP hanya untuk orang tertentu dan tidak bergulir sehingga terjadi kecemburuan social. Kotak 3 Kaji Ulang Kebijakan dan Program Penanggulangan Kemiskinan Hasil KKP oleh KIKIS Dalam pengembangan kebijakan dan pelaksanaan program penanggulangan kemiskinan banyak terjadi penyimpangan dan tidak sesuai dengan sasaran. Program penanggulangan kemiskinan dianggap berhasil atau bermanfaat oleh masyarakat apabila program tersebut bermanfaat untuk semua orang miskin. termasuk tidak tepatnya penetapan sasaran program. Program penanggulangan kemiskinan juga seharusnya disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat dalam jangka pendek maupun jangka panjang.www. Masyarakat miskin perlu dilibatkan dalam seluruh proses penanggulangan kemiskinan. RASKIN dibagikan kepada seluruh penduduk dengan jatah sama walau tingkat kesejahteraan berbeda. Seringkali bahwa program penaggulangan kemiskinan tidak sesuai dengan kebutuhan masyarakat. P2D dan PDMDKE manfaatnya tidak dirasakan oleh keluarga miskin. menimbulkan salah persepsi tentang kegunaan program yang bersangkutan.com Kotak 2. Selain itu kurangnya sosialisasi dan advokasi baik kepada sasaran mauoun aparat. kartu sehat dibagikan kepada keluarga dekat kepala desa yang bukan orang miskin. Kegagalan program penanggulangan kemiskinan tersebut terutama karena masyarakat miskin tidak dilibatkan secara substansial dari mulai proses perencanaan.

LANDASAN STRATEGI PENANGGULANGAN KEMISKINAN Penanggulangan kemiskinan pada masa mendatang memerlukan perubahan paradigmatik. kolusi dan nepotisme. Konsep dan metode x Menumbuhkembangkan partisipasi masyarakat menuju keswadayaan dan kemandirian.www. (5) orientasi pembangunan kepada pemerataan dan pertumbuhan ekonomi. Untuk mencapai tersebut di atas. Visi dan Misi Visi penanggulangan kemiskinan nasional adalah: Masyarakat madani yang bermartabat. Perubahan paradigma tersebut mencakup nilai dasar. (8) pembangunan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan.1. (7) pengambilan keputusan dan penetapan kebijaksanaan bottom up. maka miisi penanggulangan kemiskinan nasional adalah: a. bebas dari korupsi. b. (2) Masyarakat sebagai subyek pembangunan yang partisipatif (people centered development). adalah: a.2. x Menegakkan HAM. memihak dan mendahulukan rakyat miskin. (9) penanggulangan kemiskinan berdimensi jender. metode dan praksis. 4. Praksis x Penanggulangan kemiskinan sebagai arus utama pembangunan berkelanjutan. (6) peran pemerintah hanya sebagai fasilitator atau enabler. (4) desentralisasi fungsi tatapemerintahan. dan good governance. dan (10) penanggulangan kemiskinan berdasarkan pendekatan wilayah 4. demokratisasi. desentralisasi. Mewujudkan sistem sosial politik yang demokratis dan tata pemerintahan yang baik serta pemerintahan bersih. Nilai Dasar x Mengutamakan kepentingan rakyat. yang menjadi acuan bersama dalam penanggulangan kemiskinan. IV 1 . (3) demokratisasi. demokratis.rajaebookgratis. Paradigma yang melandasi strategi penanggulangan kemiskinan pada masa mendatang tersebut antara lain: (1) inklusi sosial (social inclusion).com c. konsep. sejahtera. Aspirasi masyarakat miskin dilakukan dengan mendesakkan suara si miskin untuk transformasi kebijakan sosial. ekonomi dan politik yang dilandasi semangat kemitraan dan kesetaraaan. x Transformasi masyarakat menuju masyarakat Indonesia sejahtera yang adil dan makmur. BAB IV. x Pengembangan hubungan antara masyarakat dan pemerintah melalui interaksi yang menumbuhkan hubungan ketergantungan antar stakeholders. keadilan dan kemartabatan. dan bebas dari kemiskinan. x Menjunjung tinggi nilai-nilai kebebasan. Paradigma Unsur-unsur pokok paradigma penanggulangan kemiskinan.

c. Mewujudkan kemitraan yang setara untuk menanggulangi kemiskinan oleh seluruh stakeholders. mengembangkan keunggulan komparatif menjadi keunggulan kompetetif serta mengutamakan pengembangan usaha mikro. Meningkatkan akses dan partisipasi masyarakat miskin dalam pengambilan kebijakan publik melalui peningkatan kualitas sumberdaya manusia. g. akademisi dan kelompok masyarakat lainnya (termasuk kelompok masyarakat miskin). f. keamanan dan pertahanan yang kondusif agar tujuan dan sasaran tersebut dapat dicapai. Meningkatknya kapasitas dan kualitas sumberdaya manusia c. jangka menengah dan jangka panjang diperlukan syarat-syarat baik kondisi ekonomi. e. Tujuan Tujuan penanggulangan kemiskinan adalah menurunkan jumlah penduduk miskin pada tahun 2015 sebesar setengahnya dari kemiskinan pada tahun 1990 dan mensejahterakan seluruh masyarakat Indonesia sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar 1945. Memanfaatkan sumberdaya alam untuk sebesarsebesarnya kemakmuran rakyat secara berkelanjutan. Menerapkan pengarusutamaan jender dalam penanggulangan kemiskinan. kecil dan koperasi. Langkah-langkah penanggulangan kemiskinan meliputi: a. dunia usaha. Meningkatkan partisipasi masyarakat kemandirian organisasi masyarakat miskin d. 4. dan pemantapan kelembagaan sosial.4.www. Memperluas cakupan sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin. IV - 2 . 4. Membangun sistem perlindungan sosial bagi masyarakat miskin dan kelompok masyarakat rentan.com b. organisasi profesi.3. Membangun sistem ekonomi kerakyatan yang berorientasi pada mekanisme pasar terkendali. Mengurangi ketimpangan jender. yaitu institusi Pemerintah (Pusat dan Daerah). h. politik. lembaga legislatif. d. Berikut disajikan syarat-syarat yang harus dipenuhi agar tujuan dan sasaran penanggulangan kemiskinan sampai pada tahun 2015 dapat dicapai. Kondisi Makro Penanggulangan Kemiskinan Untuk mencapai tujuan dan sasaran penanggulangan kemiskinan baik untuk jangka pendek. b. LSM. serta memperoleh pelayanan publik yang tidak diskriminatif.rajaebookgratis. e. i. ekonomi dan politik. sosial. Meningkatknya kesempatan kerja dan berusaha bagi masyarakat miskin serta mengurangi pengangguran. Menciptakan iklim yang mampu mendorong perluasan kesempatan bagi masyarakat miskin dalam kehidupan sosial dan ekonomi. Meningkatkan kapasitas penduduk miskin melalui peningkatan pelayanan bagi pemenuhan kebutuhan dasar dan peningkatan ketrampilan.

Kondisi Ekonomi Makro Prasyarat ekonomi makro yang harus dipenuhi agar dapat dicapai tujuan dan sasaran penanggulangan kemiskinan pada tahun 2015 adalah sebagai berikut: (1) Pertumbuhan ekonomi meningkat secara bertahap dari 5 persen pada tahun 2005 menjadi 6 persen pada tahun 2009 dan diharapkan minimal pertumbuhan 6 % sampai tahun 2015. Pada tahun 2007 konflik sosial politik di Nanggroe Aceh Darussalam berkurang dan pada tahun 2010 sudah selesai. b. terutama di Sulawesi Tengah. Politik dan Keamanan Diharapkan bahwa konflik sosial pada tahun 2005 sudah berkurang. Maluku Utara dan Papua.www. Diharapkan bahwa pada tahun 2007 konflik sosial di daerah-daerah tersebut sudah mereda.rajaebookgratis. Maluku.000. (4) Tingkat suku bunga SBI sebesar 7-8 %. Kondisi sosial politik diharapkan stabil dan demokratis dan tidak ada gejolak sosial politik yang berarti sampai tahun 2015. (2) inflasi diharapkan tidak melebihi satu digit sampai tahun 2015 yaitu dibawah 7 persen. (5) investasi berasal dari dalam negeri dan luar negeri terutama dalam bentuk foreign direct investment ke usaha kecil dan menengah.com a. (3) nilai tukar rupiah yang stabil yaitu berkisar antara Rp 8.000 – Rp 9. IV - 3 . Kondisi Sosial.

koperasi. Kebijakan penanggulangan kemiskinan bertumpu pada kebijakan publik yang berpihak kepada orang miskin (pro-poor policy). namun dalam masa lima sampai sepuluh tahun ke depan. organisasi profesi. bersama-sama menumbuhkembangkan gerakan penanggulangan kemiskinan (GEMA PENANGKIS).www. Kebijakan yang berpihak kepada orang miskin tersebut harus diterjemahkan dalam pembangunan yang berpihak kepada orang miskin (pro-poor development) dan pertumbuhan (ekonomi) yang berpihak kepada orang miskin (pro-poor growth). dan kebijakan fiskal dan moneter. OSMS. organisasi non-pemerintah dan komponen masyarakat lainnya. dan mekanisme pelaksanaan dan kelembagaan. visi. kebijakan dan program dari masing-masing keempat pilar penanggulangan kemiskinan.1. Seiring dengan berjalannya waktu diharapkan bahwa dunia usaha. V1 Berdasarkan pembelajaran dari kaji ulang kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. sehingga diharapkan menjadi gerakan masyarakat. 5. misi dan tujuan penanggulangan kemiskinan. Disamping itu lembaga swadaya masyarakat. lembaga swadaya masyarakat dan masyarakat sendiri dapat menanggulangi kemiskinan bersama-sama dengan pemerintah.rajaebookgratis. makro operasional dan mikro strategis ini sebagai acuan penanggulangan kemiskinan yang dilakukan oleh pemerintah pusat dan daerah. dunia usaha. analisis penyebab kemiskinan. agar kontrol sosial terhadap jalannya sistem pemerintahan semakin baik.com BAB V. CSRO. kebijakan perburuhan. baik di tingkat pusat maupun daerah. yayasan kederwamawanan berikut sektor swasta dan pemerintah untuk . masih memerlukan dukungan kuat pemerintah. Kebijakan Makro Strategis bersama KEBIJAKAN DAN INDIKASI PROGRAM Kebijakan makro strategis dalam penanggulangan kemiskinan sesuai dengan akar penyebab kemiskinan dan hasil kaji ulang kebijakan penanggulangan kemiskinan adalah penciptaan sistem demokrasi pemerintahan yang lebih substantif. Pemerintah walaupun tidak lagi menjadi provider. Pemerintah dan legislatif terus menerus harus didesak untuk membuat sistem politik yang lebih demokratis. Sehingga korupsi. Kebijakan makro strategis. dalam bab ini disajikan kebijakan umum. Kebijakan pemerintah yang berpihak kepada orang miskin terutama dalam bidang pemanfaatan sumberdaya alam (pertambangan. kebijakan pertanahan. kolusi dan nepotisme dapat dikurangi. kehutanan. Atas dasar hal tersebut diperlukan sinkronisasi kebijakan makro strategis dengan makro operasional (program utama) dan kebijakan mikro strategis (program) dengan mikro operasional (proyek). perikanan). Diharapkan dengan demikian akan mendorong tumbuh dan berkembangnya gerakan aliansi strategis berbagai kelembagaan yang peduli dan bersama perjuangan kelompok miskin termasuk: LSM. yang lebih lanjut dapat meningkatkan efisiensi dan efektifitas anggaran pembangunan. penanggulangan kemiskinan. organisasi masyarakat dan akademisi terus menerus memberdayakan masyarakat agar sadar tentang hak dan kewajibannya untuk menjadi warga negara yang baik dalam alam demokrasi.

rajaebookgratis. dan (4) memfasilitasi akses kredit untuk usaha produksi barang dan jasa penduduk miskin (termasuk usaha mikro. maupun dana alokasi khusus). Demikian juga kebijakan-kebijakan pemerintah daerah harus berpihak kepada orang miskin baik dalam eksploitasi sumberdaya alam.2. mengharuskan bahwa pemerintahan yang baik bukan hanya keharusan pemerintahan pusat akan tetapi juga pemerintahan daerah (good local governance). dan alokasi anggaran pembangunan (pro-poor budget). sehingga tidak memarjinalkan masyarakat yang berakibat terhadap pemiskinan. Kebijakan makro strategis penanggulangan kemiskinan masa mendatang harus responsif gender. Indikasi Kebijakan Makro Operasional dan Kebijakan Mikro Strategis Perluasan Kesempatan Dalam rangka memperluas kesempatan (promoting opportunity). kecil. (3) menjamin kepastian hukum dan penegakan hukum serta memperlancar investasi dan ekspor. Kebijakan ekonomi makro dalam rangka penanggulangan kemiskinan melalui upaya perluasan kesempatan adalah: (1) meningkatkan alokasi fiskal untuk penanggulagan kemiskinan (baik melalui dana sektor. Dalam eksploitasi sumberdaya alam untuk meningkatkan anggaran pembangunan daerah juga harus mengikuti kaidah-kaidah pelestarian alam dan memperhatikan hak-hak peroleh masyarakat (entitlement) seperti hak ulayat dan kearifan lokal (indigeneous knowledge) lainnya. dan koperasi. dan (4) menyederhanakan prosedur dan memantapkan koordinasi antara pusat dan daerah serta antar institusi daerah.www. serta penyiapan dan pengiriman TKI ke luar negeri). Penetapan kebijakan dan pelaksanaan program perluasan kesempatan secara umum harus diarahkan kepada upaya perbaikan kondisi sosial dan ekonomi serta hak-hak politik masyarakat miskin. dan kebakaran hutan. tanah longsor. Kebijakan Makro Strategis. perburuhan. kecil. dan koperasi). 5. Kebijakan meningkatkan investasi dan ekspor untuk menunjang perluasan kesempatan adalah dengan: (1) menciptakan iklim usaha yang kondusif khususnya bagi sektor swasta. banjir. yang akan berdampak makin menyengsarakan masyarakat miskin.com Kebijakan pemanfaatan sumberdaya alam selain harus pro-poor juga harus mengikuti kaidah-kaidah pelestarian lingkungan dan juga mempertimbangkan kearifan lokal. (3) memberikan subsidi harga komoditas strategik (misalnya BBM secara selektif. Berdasarkan pengalaman masa lalu. beras. dana alokasi umum. V- 2 . agar tidak menimbulkan eksternalitas yang akan berdampak pada kerusakan lingkungan seperti polusi. pola kebijakan dan program yang perlu dikembangkan adalah dengan menciptakan kondisi ekonomi makro yang kondusif untuk mendukung pelaksanaan upaya perluasan kesempatan dalam rangka penanggulangan kemiskinan. pertanahan. (2) menyelaraskan peraturan perundang-undangan dari pusat sampai ke daerah. Desentralisasi yang bertumpu kepada otonomi daerah di aras kabupaten dan kota. (2) menetapkan pajak langsung yang progresif (atas barang dan jasa yang tidak terkait langsung dengan kepentingan masyarakat miskin). dan gula) dan barang modal serta pengurangan pajak untuk hasil usaha produksi barang dan jasa yang dihasilkan oleh kelompok masyarakat miskin (termasuk usaha mikro. ternyata perempuan mempunyai peranan yang penting dalam penanggulangan kemiskinan.

memperbaiki pelayanan lembaga keuangan mikro dan memperluas sumber keuangan bagi UMKK. (2) meningkatkan kesempatan kerja.www. dan dan (6) membangun jejaring kerjasama dan informasi kesempatan kerja. Kebijakan meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha masyarakat miskin tersebut antara lain meliputi upaya-upaya untuk memberdayakan dan meningkatkan pendapatan masyarakat miskin. relokasi. (4) memerbaiki dan peningkatan pelayanan sarana dan prasarana.based organization) agar masyarakat di perdesaan lebiadalah h mampu merencanakan. Sedangkan kebijakan mikro strategisnya adalah sebagai berikut: V- 3 . memberikan perlindungan UMKK dari praktek persaingan tidak sehat. memperkuat organisasi dan manajemen usaha. peningkatan kemampuan masyarakat desa untuk berproduksi dan memasarkan hasil produksinya sesuai dengan potensi ekonomi setempat. pembangunan perkotaan untuk menyeimbangkan pertumbuhan wilayah perkotaan dan perdesaan yang efisien dan efektif dan sekaligus dapat menahan laju perpindahan penduduk dari desa-desa dan kota-kota (urbanisasi). mempercepat perkembangan wilayah terpencil dan wilayah perbatasan.rajaebookgratis. Kebijakan mendorong pengembangan wilayah dalam rangka perluasan kesempatan diarahkan untuk mengembangkan wilayah-wilayah strategis dan cepat tumbuh. (5) mendistribusikan penduduk dan aset negara dengan jalan membuka kawasan potensial di kawasan Timur Indonesia melalui transmigrasi. pembangunan sarana dan prasarana perdesaan dalam rangka membangkitkan perekonomian di perdesaan. Indikasi kebijakan makro operasional berdasarkan kebijakan makro strategis perluasan kesempatan di atas adalah sebagai berikut: (1) meningkatkan investasi dan ekspor. membangun dan mengembangkan daerah perdesaan melalui penataan kawasan perdesaan menjadi kawasan yang layak huni dan layak usaha. (2) mengembangkan dan mendayagunakan lembaga kerja sukarela. (4) meningkatkan dan perlindungan tenaga kerja di luar negeri. (3) mengembangkan tenaga kerja mandiri. dan (5) mempercepat pengembangan wilayah. dan resettlement.com Kebijakan menciptakan kesempatan kerja diarahkan untuk membuka kesempatan kerja khususnya bagi kelompok masyarakat miskin yang meliputi: (1) mengembangkan kesempatan kerja untuk mengurangi pengangguran khususnya pengangguran terbuka termasuk pengangguran usia muda. mengembangkan sistem insentif. Kebijakan meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha masyarakat miskin diarahkan untuk meningkatkan kemampuan dan membuka peluang usaha bagi masyarakat miskin antara lain dilakukan dengan meningkatkan kemampuan dan pendapatan melalui berbagai usaha produktif serta mengembangkan usaha mikro. kecil dan koperasi (UMKK) yang banyak menyerap tenaga kerja khususnya yang berasal dari kelompok masyarakat miskin. serta merehabilitasi daerah-daerah pasca konflik melalui transmigrasi. (3) meningkatkan pendapatan dan pengembangan usaha masyarakat miskin. penguatan organisasi kemasyarakatan (communit. mengarahkan dan memanfaatkan sumber dana secara efektif dan efisien. serta mengembangkan jaringan produksi dan distribusi dengan memanfaatkan teknologi informasi. menyelaraskan peraturan perundang-udangang terkait dan menyederhanakan prosedur perizinan.

(6) Pengembangan skim kemitraan antara usaha besar dan menengah dengan usaha mikro. (5) Perluasan sumber keuangan usaha mikro. dan pembinaan transmigran (petani dan penduduk miskin lainnya). b.www. (2) pemberian kemudahan dan insentif bagi pelaku ekonomi yang berinvestasi di Kawasan Timur Indonesia (KTI) dan di wilayah miskin (misalnya dalam bentuk kemudahan administrasi. dan (7) pengembangan jejaring kerjasama dan informasi kesempatan kerja. (3) pengembangan tenaga kerja mandiri profesional. c. (7) pengembangan industri substitusi barang dan jasa impor. dan koperasi. dan perpajakan). V4 . penempatan. (8) pengembangan industri manufaktur yang kompetitif (yang berpotensi meningkatkan nilai ekspor).rajaebookgratis. dan koperasi (termasuk usaha industri dan dagang kecil serta yang dikembangkan oleh berbagai sektor lainnya). (2) Pengembangan usaha dan peningkatan pendapatan masyarakat miskin (melalui berbagai usaha produktif yang dikembangkan oleh berbagai sektor misalnya sektor informal. sektor industri dan perdagangan). penempatan. (3) penciptaan iklim usaha yang kondusif untuk mendukung upaya meningkatkan investasi dan ekspor yang menyerap banyak tenaga kerja (khususnya penduduk miskin). Kebijakan Makro Operasional Meningkatkan Pendapatan dan Pengembangan Usaha Masyarakat Miskin Kebijakan mikro strategis indikatif yang perlu dilakukan untuk meningkatkan pendapatan dan mengembangkan usaha masyarakat miskin adalah: (1) Percepatan Sertifikasi Tanah (secara massal) dan reformasi agraria. kecil. pemberangkatan. Kebijakan Makro Operasional Meningkatkan Investasi dan Ekspor Kebijakan mikro strategis indikatif yang perlu dikembangkan untuk meningkatkan investasi dan ekspor untuk mendukung pertumbuhan ekonomi yang cukup tinggi adalah: (1) penyelarasan peraturan perundang-undangan dan penyederhanaan perizinan untuk mendukung upaya meningkatkan investasi dan ekspor. (3) Pembinaan usaha mikro. (2) pengembangan kesempatan kerja bagi tenaga kerja usia muda. maupun pemasaran barang dan jasa yang dihasilkan). (5) penetapan upah minimum regional dalam hubungan industrial yang serasi (tingkat upah yang wajar bagi tenaga kerja dan kondusif bagi pengembangan usaha). dan (7) Pengembangan jaringan produksi dan distribusi produk usaha mikro. kecil. (6) pengembangan produk pertambangan (yang berpotensi meningkatkan nilai ekspor). dan pemulangan). dan koperasi dengan memanfaatkan teknologi informasi. (4) pengembangan sektor pertanian dalam arti luas. kecil. dan koperasi (baik yang menyangkut penyediaan modal. kecil. Kebijakan Makro Operasional Meningkatkan Kesempatan Kerja Kebijakan mikro strategis indikatif yang perlu dikembangkan untuk memperluas kesempatan kerja adalah: (1) pengembangan kesempatan kerja dan lingkungan kerja yang layak.com a. (6) penyiapan. (5) Pengembangan agroindustri. (4) Pengembangan dan perbaikan pelayanan lembaga keuangan mikro dan koperasi simpan-pinjam. (4) Fasilitasi dan perlindungan TKI (penyiapan. alih teknologi. sektor pertanian dalam arti luas. dan (9) pengembangan sistem informasi pasar.

(2) pengembangan sarana dan prasarana perdesaan (untuk mendukung pertumbuhan ekonomi lokal) khususnya desa-desa tertinggal dan daerah transmigrasi. khususnya di wilayahwilayah yang dihuni oleh komunitas adat setempat). (5) Penyediaan perumahan bagi masyarakat miskin. Kebijakan Makro Operasional Memprcepat Pengembangan Wilayah Kebijakan makro operasional indikatif yang perlu dikembangkan untuk mendorong pengembangan wilayah dalam rangka perluasan kesempatan adalah: (1) penataan ruang dan pengelolaan pertanahan (khususnya yang menyangkut akses masyarakat miskin terhadap tanah dan ruang usaha). V- 5 . Kebijakan Makro Operasional Memperbaiki Meneningkatkan Pelayanan Sarana dan Prasarana dan Kebikan makro operasional indikatif yang perlu dikembangkan untuk memperbaiki dan meningkatkan pelayanan sarana dan prasarana dalam rangka perluasan kesempatan adalah: (1) penanggulangan banjir dan bencana alam lainnya. (3) pengembangan irigasi kecil melalui perhimpunan petani pemakai air (P3A). mengarahkan dan memanfaatkan sumber dana secara efektif dan efisien. dunia usaha. dan masyarakat). e. (4) Pembangunan perdesaan (untuk meningkatkan sinergi serta keterkaitan dan interaksi sosial ekonomi yang saling melengkapi antara kawasan perkotaan dan perdesaan melalui peningkatan pembangunan perkotaan dan perdesaan. yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi wilayah dan sekaligus dapat menahan laju perpindahan penduduk dari desa dan kota). peningkatan sarana dan prasarana ekonomi. (4) pengembangan sarana dan prasarana permukiman dan lingkungan kumuh di perkotaan. (5) Percepatan pengembangan wilayah tertinggal (termasuk wilayah perbatasan. peningkatan kerjasama antar daerah.com d. dan merehabilitasi daerah-daerah pasca konflik dengan mengembangkan wilayah-wilayah yang sangat tertinggal. (2) pengembangan sarana dan prasarana daerah terpencil dan perbatasan (termasuk pulau-pulau kecil). peningkatan kemampuan masyarakat desa untuk berproduksi dan memasarkan hasil produksinya pemantapan struktur kegiatan perekonomian di perdesaan sesuai dengan potensi ekonomi setempat). (2) pengembangan wilayah-wilayah strategik dan cepat tumbuh (melalui peningkatan dan pengembangan produk unggulan sesuai dengan potensi di masing-masing wilayah. peningkatan kerjasama ekonomi sub regional antar negara tetangga. penataan kawasan pedesaan menjadi kawasan yang layak huni dan layak usaha. (3) Pengembangan perkotaan (untuk menyeimbangkan pertumbuhan wilayah perkotaan dan perdesaan yang efisien dan efektif melalui peningkatan peran dan fungsi kota besar/metropolitan kota menengah dan kecil. dan (6) Pengembangan sarana dan prasarana air bersih.www. dan (6) Penataan kelembagaan pemerintah desa dan penguatan organisasi kemasyarakatan agar masyarakat di perdesaan lebih mampu merencanakan. penciptaan iklim yang kondusif bagi investor. baik di pedalaman maupun di pulau-pulau kecil. serta pembangunan sarana dan prasarana perdesaan dalam rangka membangkitkan perekonomian di perdesaan. peningkatan sistem perdagangan antar daerah. serta peningkatan kapasitas aparat pemerintahan.rajaebookgratis.

dan (2) perluasan ruang publik dan kebebasan masyarakat untuk mengembangkan swa-organisasi dan aliansi strategis V6 .rajaebookgratis. Dalam rangka menanggulangi proses pemiskinan ditempuh dua kebijakan pokok. terutama kelompok miskin dan yang terpinggirkan. Dalam jangka menengah dan jangka panjang strategi penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat diarahkan untuk mendukung terwujudnya transformasi struktural masyarakat melalui pencerahan kultural. dan diarahkan untuk mencapai tujuan ganda: (1) meningkatkan aset dan kapabilitas masyarakat miskin agar mampu keluar dari belenggu kemiskinan atas dasar keswadayaan dan kemandirian. sosial dan politik. perlindungan serta pemenuhan hak-hak dasar mereka. yang meliputi: (1) Penghormatan. sikap saling percaya (mutual trust). Tranformasi struktural dari bawah pada aras mikro yang secara simultan didukung oleh reformasi kelembagaan dan kebijakan dari atas diharapkan dapat memperkuat serta mempercepat proses tranformasi. (2) penciptaan aset baru yang diprioritaskan bagi kelompok miskin. dan kuatnya jejaring sosial. (4) penerapan pajak progresif dan subsidi silang. termasuk transmigrasi. yaitu : (a) Restrukturisasi kepemilikan aset terutama melalui: (1) peningkatan aset insansi bagi kelompok miskin.www. terutama kelompok miskin. dan (2) mendesakkan suara/tuntutan masyarakat.com 5. dan mobilitas sosial ke atas bagi kelompok miskin dan yang terpinggirkan. (2) pemilihan wakil-wakil rakyat dan pejabat publik termasuk peningkatan representasi perempuan. baik hak kewargaan dan politik maupun hak sosial. perlindungan dan pemenuhan hak-hak dasar. dan reformasi peran donor. dengan perspektif penghormatan. untuk mempengaruhi kebijakan publik serta mewujudkan good governance pada aras lokal/daerah. yang meliputi: (1) Pengakuan dan pengukuhan norma keadilan dan kemanusiaan. antara lain melalui : (1) reformasi perundang-undangan. Dalam rangka peningkatan keberdayaan masyarakat dan inklusi sosial ditempuh beberapa kebijakan sebagai berikut: Pertama. sebagai dampak peningkatkan efektivitas suara masyarakat miskin dan daya tawar masyarakat miskin dalam transaksi ekonomi. dan (v) dukungan bagi kepemilikan saham oleh karyawan. dan (3) Peningkatan kapabilitas dan partisipasi masyarakat dalam penentuan kebijakan publik ke arah hidup yang bermartabat. terutama kemiskinan kronis yang disebabkan oleh faktor-faktor struktural yang tidak adil. reformasi kebijakan. (3) redistribusi dan pemanfaatan aset negara yang menganggur serta aset-aset hasil KKN yang disita. reorientasi ekonomi rakyat. dan (b) Demokratisasi sebagai reformasi proses dalam penentuan kebijakan publik dan aktivitas masyarakat. dan (3) demokratisasi substantif berdasarkan kedaulatan rakyat menuju restrukturisasi relasi politik. Kebijakan Makro Strategis. redistribusi aset publik. (b) Aset sosial (social capital). Indikasi Kebijakan Makro Operasional dan Mikro Strategis Pemberdayaan Masyarakat Kebijakan makro strategis penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat dimaksudkan untuk memberikan solusi masalah-masalah mendasar yang terkait dengan akar kemiskinan dan pemiskinan. (2) Penyadaran (conscientization) menuju kesadaran kritis masyarakat.3. Kebijakan tersebut diorientasikan pada upaya pemulihan dan pengembangan keberdayaan masyarakat. kebijakan yang terkait dengan aset masyarakat: (a) Aset insani (human capital). ekonomi dan budaya.

adalah: (1) pemberdayaan masyarakat pada aras mikro. (3) pengakuan atas keberadaan kearifan lokal (spiritual and cultural capital). Keempat. yang meliputi: (1) Pengakuan dan pengukuhan hak-hak masyarakat atas sumberdaya alam. oleh dan untuk rakyat. (c) sumber daya alam (natural capital). atas dasar kombinasi pendekatan yang berbasis sumberdaya dan berbasis pasar. (e) aset finansial (financial capital). (3) Pengakuan dalam bentuk legalitas atas keberadaan keuangan mikro dan keanekaragaman LKM. (2) pengembangan lebih lanjut demokratisasi terutama demokrasi akar rumput.rajaebookgratis. kecil dan koperasi) dan penyederhanaan prosedur/persyaratan akses permodalan. keunikan dan keterkaitan pengembangan keuangan mikro dengan penanggulangan kemiskinan. Ketiga. Berdasarkan kebijakan makro strategis pemberdayaan masyarakat di atas. kebijakan yang terkait dengan pengembangan Lembaga Keuangan Mikro (LKM) meliputi: (1) Pengakuan atas eksistensi LKM sebagai entitas tersendiri dan mandiri.com penanggulangan kemiskinan. (2) Penghormatan terhadap keragaman. termasuk hak ulayat. (d) aset fisik (physical capital). melalui optimalisasi pemanfaatan sumber daya lokal. (b) mengembangkan jaringan kerjasama usaha ke arah terbentuknya klaster-klaster usaha ekonomi masyarakat perdesaan yang menghasilkan produk-produk unggulan bernilai tambah tinggi dan berdaya saing. maka dilaksanakan tiga kebijakan makro operasionalnya yang saling terkait. yang meliputi: (1) peletakan basis legal bagi keuangan mikro dan organisasi apex-nya. dan (3) manajemen pemanfaatan sumberdaya alam secara produktif dan berkelanjutan. Kedua.www. yaitu: (a) mendorong/memfasilitasi berkembangannya Badan Usaha Milik Desa (BUMDes). dan (2) Memperluas akses informasi termasuk pengembangan teknologi informasi dan komunikasi. meliputi : (1) elaborasi dan aktulisasi HAM kearah entitlement bagi kelompok miskin. kebijakan yang terkait dengan pengorganisasian masyarakat dan pembangunan wilayah dalam rangka pengembangan sentra-sentra kemandirian ekonomi rakyat. (2) pengembangan tata pemerintahan di daerah. yang meliputi: (1) Pengembangan sarana dan prasarana dasar untuk mengurangi keterisolasian dan memperkecil biaya transaksi. dan (2) berkembang dan berdampingan dengan koperasi sesuai dengan prinsip-prinsip International Cooperatives Association (ICA). dan (5) Pengakuan dan apresiasi terhadap arti dan peran perempuan dalam usaha pengembangan keuangan mikro. yang : (1) Berfungsi sebagai badan usaha milik masyarakat yang dikelola sebagai usaha bersama dari. dan 2) peningkatan portofolio pembiayaan UMKK (usaha mikro. (2) penyusunan tata ruang partisipatif. dan (3) pengembangan otonomi daerah kearah otonomi masyarakat. (c) mendorong berkembangnya gerakan masyarakat terkait dengan: (1) peningkatan aset dan kapabilitas serta partisipasi kelompok miskin. (2) penanggulangan kemiskinan sebagai tanggung jawab bersama serta meningkatnya kepedulian dan kesetiakawanan sosial berdasarkan kearifan lokal. kebijakan perluasan ruang publik sebagai aktualisasi dan kelanjutan dari tiga kebijakan dasar yang telah diletakkan dalam era reformasi. (4) Perlindungan kepada masyarakat miskin yang ambil bagian dalam kegiatan keuangan mikro. dan (3) penguatan kelembagaan dan V7 . dan pemanfaatannya dalam pemberdayaan masyarakat. dan (3) peningkatan kemampuan ekonomi masyarakat secara keseluruhan.

terutama (a) pengembangan swa-organisasi melalui penumbuhan KSM (Kelompok Swadaya Masyarakat). Sasaran utama program adalah kelompok miskin kronis. dan (d) peningkatan akses terhadap sumberdaya produktif. Kebijakan Makro Operasional Pemberdayaan Masyarakat pada Aras Mikro Kebijakan makro operasional ini bertujuan untuk secara langsung meningkatkan kapasitas dan daya tawar kelompok miskin agar secara bertahap dan sistematis mampu keluar dari belenggu kemiskinan berdasarkan prinsip keswadayaan dan kemandirian. (d) pengembangan jejaring bagi peningkatan efektivitas suara orang miskin. (c) pengembangan kerjasama antar kelompok secara horizontal maupun vertikal. Penguatan kelembagaan masyarakat. (c) klaster-klaster usaha ekonomi rakyat yang menghasilkan produk-produk unggulan bernilai tambah tinggi sebagai sentra-sentra kemandirian ekonomi rakyat. Pengembangan usaha ekonomi dan mata pencaharian berkelanjutan (sustainable livelihoods). Upaya ini bertumpu pada pengembangan inisiatif dan kreatifitas masyarakat dengan memanfaatkan secara optimal potensi sumberdaya dan kearifan lokal. (b) pemahaman tentang penyebab dan akar kemiskinan dan alternatif cara pemecahaannya. Secara operasional perancangan program dan implementasinya disesuaikan dengan akar kemiskinan dan potensi sumberdaya lokal pada masing-masing wilayah. dalam bentuk : (a) usaha ekonomi rakyat (usaha kecil. Disamping itu dimasyarakatkan pola hidup hemat dan pengelolaan ekonomi rumah tangga yang sehat. (c) dukungan untuk berkembangnya inisiatif dan kreativitas masyarakat. (b) BUMR (badan usaha milik rakyat) yang dapat berkembang berdampingan dengan koperasi (berdasarkan prinsip ICA). (c) peningkatan kemampuan pengambilan keputusan secara individu maupun kolektif. seperti komunitas wilayah pesisir. (b) pengembangan demokrasi akar rumput (grassroot democracy) serta peningkatan kedalaman dan mutu partisipasi masyarakat.www. Pemanfaatan dana APBN untuk penanggulangan kemiskinan dan PUKK sebagai dana penjamin bagi LKM.com jejaring masyarakat madani. Sedangkan kebijakan mikro strategis berdasarkan kebijakan makro operasional tersebut adalah sebagai berikut: a. terutama sumberdaya alam dan modal. wilayah sekitar hutan dan wilayah perkotaan. serta (e) pengembangan secara bertahap lembaga-lembaga pelayanan masyarakat yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat. mikro dan koperasi) yang memanfaatkan sumberdaya lokal secara optimal dan lestari. wilayah pertanian/perkebunan. yang dilaksanakan melalui pendekatan berbasis komunitas dan karakteristik kewilayahan/kawasan. Kegiatan pokok kebijakan makro operasional ini meliputi : (1) Peningkatan kesadaran kritis masyarakat melalui : (a) penyadaran tentang hak-hak dasar dan kewajiban sebagai anggota masyarakat serta warga negara. (2) Peningkatan aset dan kapasitas melalui : (a) peningkatan pengetahuan dan keterampilan dan (b) pendidikan dan (3) (4) (5) pelatihan untuk orang dewasa yang dialogis dan membebaskan. pengembangan dinamika kelompok serta dorongan bagi munculnya kepemimpinan lokal dan kader-kader.rajaebookgratis. V8 .

yang dikembangkan secara partisipatif sesuai dengan prioritas masyarakat. pengembangan demokrasi akar rumput (grassroot democracy). transparansi. antara lain: teknologi. pemilihan dan pengangkatan pejabatpejabat publik yang lebih demokratis. (2) Peningkatan aset dan kapabilitas masyarakat. dikelola dan digulirkan oleh masyarakat. Dukungan bagi kelancaran dan efektivitas upaya pokok tersebut di atas. (c) melakukan pendampingan oleh pendamping profesional atau konsultan keuangan mitra bank (KKMB) kepada masyarakat miskin untuk mengkaitkan pelayanan keuangan mikro dengan pelayanan lainnya. lembaga pendampingan usaha mikro dan LKM berdasarkan kesetaraan. (e) melakukan transformasi perundang-undangan dan peraturan pemerintah tentang lembaga keuangan agar mampu mendorong tumbuh dan berkembangnya LKM untuk penanggulangan kemiskinan. Kebijakan Makro Operasional Pengembangan Pemerintahan di Daerah (Local Good Governance) Tata Kebijakan makro operasional ini bertujuan untuk mendekatkan Pemerindah dengan masyarakat. dengan mengedepankan peran Pemerintah sebagai fasilitator dan regulator melalui: (1) Penciptaan iklim yang kondusif bagi peningkatan akses dan partisipasi masyarakat. dan (e) manajemen program penanggulangan kemiskinan yang terdesentralisasi dan partisipatif melalui proses yang demokratis dan transparan. (e) mengembangkan jaringan kerjasama antar LKM dan membangun organisasi apex sebagai lembaga induk bagi LKM. seperti : (a) prasarana fisik yang memperlancar transportasi dan komunikasi. terutama rakyat miskin. pengolahan dan pemasaran. dan (3) Perlindungan masyarakat dari praktek dan kekuatan yang memiskinkan dan meminggirkan. serta proses perencanaan dan alokasi anggaran secara transparan dan partisipasif. (c) perluasan ruang publik pada aras masyarakat yang mendukung otonomi masyarakat. b. Untuk mencapai tujuan tersebut. dan. ditempuh upaya – upaya dan kegiatan pokok sebagai berikut: (1) Aktualisasi perluasan ruang publik pada tingkat komunitas melalui pemenuhan hak-hak dasar rakyat (entitlement). serta entitlement bagi kelompok miskin. (d) mengembangkan pola hubungan antara lembaga keuangan. (d) pembentukan SIF (social investment fund) sebagai dana abadi yang dapat dimanfaatkan.rajaebookgratis. pasokan sarana produksi. (b) pelayanan dasar sesuai SPM (standar pelayanan minimum). serta penguatan otonomi masyarakat. peningkatan akuntabilitas publik. (b) mendekatkan lembagalembaga keuangan dengan masyarakat miskin dan usaha mikro atau sektor informal dalam pelayanannya. (2) Restrukturisasi alokasi sumber daya ekonomi dan politik melalui peningkatan akses masyarakat terhadap informasi. (3) Peningkatan mutu pelayanan publik melalui peningkatan kapasitas dan profesionalisme aparatur.www. penyenggaraan pelayanan masyarakat V9 . demokrasi akar rumput. akuntabilitas dan kemitraan.com (6) (7) Pengembangan keuangan mikro meliputi : (a) membangun sistim keuangan dengan menyertakan seluruh pelaku keuangan termasuk lembaga keuangan mikro (LKM) dan lembaga keuangan syariah. penataan prosedur.

serta swaorganisasi masyarakat miskin. Kebijakan Makro Strategis. 5. Kebijakan Makro Operasional Penguatan Kelembagaan dan Jejaring Masyarakat Madani Tujuan utama kebijakan makro operasional ini adalah mendukung peningkatan efektifitas suara kelompok miskin dan marginal untuk mempengaruhi kebijakan publik dan menciptakan tata pemerintahan yang baik. Disamping itu kelembagaan dan jejaring masyarakat madani yang kuat diharapkan dapat secara efektif melaksanakan peran-peran penting dalam : (1) Pendampingan masyarakat untuk meningkatkan kesadaran kritis. (2) Mendorong berkembangnya berbagai kelembagaan yang peduli terhadap perjuangan kelompok miskin. dan Mendukung dan memfasilitasi usaha pembentukan People Charter yang menjamin hak-hak dasar rakyat dan upaya pemenuhannya. dan (3) Pengembangan secara menyeluruh dan terpadu yang diarahkan pada peningkatan kompetensi dan kemandirian tenaga kerja. termasuk LSM/LPSM dan CSRO (Civil Society Resources Organization). termasuk berkembangnya lembaga-lembaga pelayanan yang dimiliki dan dikelola oleh masyarakat sendiri. c.rajaebookgratis. serta (iii) Kekuatan kontrol dan penyeimbang terhadap kekuatan sektor pemerintah dan dunia usaha. (3) (4) Memfasilitasi pembentukan jejaring dan aliansi strategis masyarakat madani untuk penanggulangan kemiskinan.10 .com berdasar SPM (Standar Pelayanan Minimum) serta aktualisasi prinsip-prinsip kepemerintahan yang baik lainnya. koperasi. Dalam rangka ini kebijakan pro masyarakat miskin diarahkan pada tiga bidang terdiri dari: (1) Peningkatan akses pada pelayanan kesehatan dasar.4. organisasi profesi. (2) Peningkatan akses dan perbaikan mutu pendidikan keluarga. Agar kebijakan makro strategis dalam tiga bidang tersebut dapat tercapai diperlukan dukungan kebijakan pendukung sebagai berikut: (1) kebijakan pembiayaan yang peduli masyarakat miskin mengutamakan pembiayaan yang melaksanakan kebijakan dan program umum. (2) Advokasi kebijakan yang pro–miskin. pendidikan usia dini. termasuk untuk pencegahan sekaligus pemberantasan penyakit menular dan akses pada air bersih. penguatan kapasitas. yang mudah menjangkau dan dijangkau oleh V . Indikasi Kebijakan Makro Operasional Mikro Strategis Peningkatan Kapasitas dan Sumberdaya Manusia Dalam rangka upaya peningkatan kemampuan (capacity building) maka kebijakan makro strategis yang diajukan bertujuan meningkatkan kemampuan dasar masyarakat miskin agar dapat memperoleh pekerjaan yang dibayar layak. Kegiatan pokok yang dilaksanakan dalam program ini meliputi: (1) Meningkatkan swaorganisasi masyarakat miskin untuk memperkuat upaya collective self-empowerment.www. dan yayasan kederwamanan. pendidikan dasar 9 tahun dengan menerapkan kebijakan Multi Entry-Multi Exit dan pendidikan luar sekolah agar tercapai Pendidikan Dasar Bagi Semua (Education for All) tahun 2015.

meliputi Bidan di Desa. (4) Upaya pengobatan dan pemulihan kesehatan diperluas jangkauannya dengan kegiatan pengobatan di luar gedung. seperti program kartu sehat perlu dilanjutkan. serta independensi lembaga pemantau dan penilai (monitoring dan evaluasi).com orang miskin. (6) Pemberian makanan dan memberikan pelayanan perbaikan gizi bagi ibu hamil/nifas dan bagi bayi/anak 6-59 bulan. (7) Program PMTAS bagi murid SD terutama di daerah miskin. serta SDM pelaksana kebijakan penyedia pelayanan kesehatan dan pendidikan dasar. (2) Ketersediaan sarana dan prasarana para medis untuk daerah perdesaan. Puskesmas Pembantu. (8) Penyediaan vaksin dan pemberian imunisasi hepatitis B bagi bayi keluarga miskin perlu diupayakan agar V . Indikasi kebijakan makro operasional berdasarkan kebijakan makro strategis peningkatan kapasitas dan sumberdaya manusia di atas adalah: (1) Pelayanan Kesehatan Dasar.www. termasuk pertanggungan jawaban pimpinan daerah seperti gubernur dan walikota/bupati. lengkap dan baik. dan (3) Penganggaran daerah yang pro masyarakat miskin disertai insentif bagi SDM yang bertugas di daerah terpencil. pendidikan dan ketenaga kerjaan. (2) Kebutuhan insentif bagi pengembangan SDM Daerah yang memprioritaskan pengembangan SDM profesional dan mengelakkan kepentingan putra daerah. (5) Penyediaan rumah singgah/rumah pemondokan oleh Pemda Kabupaten bagi pasien ibu hamil dan penduduk miskin yang sakitnya berisiko tinggi agar memudahkan tindakan obstetric operatif atau sakit keras sedangkan rumahnya jauh dari tempat pelayanan kesehatan. monitoring dan evaluasi program untuk masyarakat miskin. Puskesmas Pembantu. (4) Mengembangkan sistem insentif bagi terlaksananya program yang menjangkau masyarakat miskin. (7) Pemberdayaan lembaga. (2) Pelayanan Pendidikan Dasar. (5) Mengembangkan sistem targeting yang lebih efektif dan efisien untuk mengatasi keragaman keadaan dan penyesuaian dengan keadaan yang telah berbeda. (6) Melibatkan peran serta masyarakat (kemitraan) dalam melaksanakan proses pelaksanaan. dan Pemberdayaan Dukun Bayi dengan dilengkapi dengan sarana pengobatan yang sehat. Selanjutnya. di Era Otonomi Daerah diperlukan strategi pelaksanaan yang memperhitungkan: (1) Peninjauan dan penyesuaian UU.11 . sarana Program Keluarga Berencana. terutama daerah terpencil. (3) Subsidi pelayanan kesehatan (biaya berobat) untuk penduduk miskin. dan Puskesmas Keliling. Kebijakan Makro Kesehatan Dasar Operasional Peningkatan Pelayanan Kebijakan makro operasional ini meliputi kebijakan mikro strategis: (1) Pelayanan kesehatan dasar melalui Puskesmas. dan (8) Mengembangkan sistem informasi yang memudahkan semua pihak untuk mememahami dan mengevaluasi kondisi masyarakat miskin dan dampak dari program untuk masyarakat miskin. (3) Memberikan akses yang sama pada perempuan dan laki-laki dengan memperhatikan perbedaan kebutuhan menurut jender. Puskesmas Keliling dan Posyandu. (2) Menetapkan SPM (standar pelayanan minimum) yang menjadi rujukan pemerintah pusat dan pemerintah daerah. dan (3) Peningkatan Kompetensi dan Kemandirian Tenaga Kerja. Landasan Hukum dan Kebijakan yang berlaku pada bidang kesehatan. Sedangkan indikasi kebijakan mikro strategis berdasarkan kebijakan makro operasional tersebut adalah sebagai berikut: a.rajaebookgratis.

berbagai penyakit infeksi lain dan kesehatan lingkungan. ditambah dengan pembelajaran mengenai life skills yang banyak diperlukan. (3) Untuk meningkatkan peran serta swasta dalam bidang pendidikan maka pendirian sekolah negeri harus mempertimbangkan keberadaan dan kelangsungan hidup sekolah swasta pada daerah tertentu melalui sistem pemetaan sekolah. (13) Penelitian. kegiatan ekstrakurikuler. (10) Pengadaan obat bagi keluarga miskin perlu diserahkan kepada daerah. dan Pendidikan Luar Sekolah melalui program :(a) Perbaikan/renovasi gedung sekolah SD/MI yang rusak serta tambahan sekolah di daerah terpencil. Program Paket B untuk setingkat SMP. Kebijakan Makro Pendidikan Dasar Operasional Peningkatan Pelayanan Kebijakan makro operasional peningkatan pelayanan pendidikan dasar merliputi program-program: (1) Meningkatkan akses dan perbaikan mutu pendidikan dasar 9 tahun agar tercapai Pendidikan Dasar Bagi Semua (Education For All) tahun 2015. (4) Pendidikan non-formal atau pendidikan luar sekolah ditujukan pada masyarakat agar (a) memperoleh pendidikan keluarga melalui posyandu. malaria. diperluas dan berkesinambungan. dan dasa wisma dengan bantuan lembaga dan organisasi terkait. khususnya masyarakat miskin. (b) Perbaikan/renovasi gedung sekolah SMP/MTs yang rusak dan perluasan gedung sekolah SMP/MTs ke daerah perdesaan melalui sekolah kecil. (11) Program penyelesaian masalah kesehatan/penyakit yang banyak diderita oleh penduduk miskin. kurang gizi. tenaga kependidikan. (12) Upaya untuk apresiasi edukasi dan sosialisasi tentang pentingnya kesehatan perlu terus diintensifkan. dan Program Paket C untuk setingkat SLTA. (9) Konsumsi sehat secara menyeluruh bagi keluarga miskin perlu diprioritaskan bagi ibu hamil. bayi. yang sangat dibutuhkan oleh orang tua dan anak-anak itu sendiri (e) Program Multi-Entry-Multi Exit menurut umur. (d) V . berdasarkan situasi dan kondisi kesehatan masyarakat suatu daerah tertentu.12 . (b) dapat mengikuti program pemberantasan buta huruf fungsional. (g) kurikulum yang relevan dengan keadaan suatu daerah. (f) Perbaikan mutu pendidikan di SD/MI dan SMP/MTs melalui program perbaikan mutu dan peningkatan jumlah buku dan perpustakaan yang dapat dijangkau oleh anak miskin. pendidikan kesejahteraan keluarga. (14) Penanggulangan penyakit catasthrophic bagi orang miskin yang memerlukan layanan/rujukan rawat inap di rumah sakit. ibu menyusui. pelatihan.rajaebookgratis. (2) Sistem kemitraan dengan swasta perlu dikembangkan terus dan ditingkatkan melalui kerjasama dalam pemanfaatan fasilitas pendidikan. dan anak balita. dan olah raga. (c) dapat memperoleh pelatihan dan kemungkinan mengikuti dan menyelesaikan program kesetaraan hingga ikut ujian akhir siklus suatu tingkat pendidikan tertentu seperti Program Paket A untuk setingkat SD.www. peningkatan kuantitas dan kualitas guru yang dapat mengajar secara efektif.com menjadi bagian penting dari program imunisasi nasional. dan perbaikan manajemen sekolah. (d) Program Makanan Tambahan Bagi Anak Sekolah (PMTAS). (c) Peningkatan akses pada pendidikan dasar oleh anak miskin dengan menghilangkan semua pungutan dan tetap menyediakan beasiswa. seperti TBC. pengembangan dan sosialisasi tentang cara-cara pengobatan dan penggunaan ramuan/obat-obatan tradisionil yang ada dekat dengan lingkungan mereka dan mudah mendapatkannya agar bermanfaat terutama bagi masyarakat miskin. b.

(6) Pegembangan sistem standardisasi kompetensi yang bersifat lokal. nasional. pemasaran dan lain sebagainya.com pelatihan life skills. Semua potensi pemerintah. Institusi penyelenggara diarahkan agar berbentuk wali amanat serta berorientasi peningkatan kemanfaatan kesejahteraan peserta dan bukan berorientasi keuntungan usaha. Perhatian khusus perlu diberikan pada penyelenggaraan jaminan sosial. Pemerintah dan pemerintah V . (5) Pendidikan keterampilan dasar dan pendidikan kejuruan bagi pekerja anak dan pekerja muda. proses pelatihan. dan masyarakat diarahkan untuk mendukung kesalingterkaitan dan harmonisasi berbagai bentuk perlindungan sosial. c.5. regional. jaminan kecelakaan kerja. dan (d) program Kelompok Belajar Usaha (KBU) dengan memberikan pelatihan keterampilan berusaha. dan internasional. Kebjakan Makro Operasional Peningkatan Kompetensi dan Kemandirian Tenaga Kerja Kebijakan makro operasional peningkatan kompentensi dan kemandiriketenaga kerja meliput kebijakan mikro strategis sebagai berikuti: (1) Pengembangan pelatihan life skills yang bertujuan untuk membekali pengetahuan. sikap dan keterampilan praktis untuk menghadapi kehidupan sehari-hari. dalam berbagai bidang pekerjaan. (4) Peningkatan etos dan produktivitas kerja melalui pembelajaran dan pengenalan berbagai teknologi produksi dan pengolahan. Jaminan sosial diarahkan untuk secara bertahap mencakup seluruh sector formal tanpa kecuali dan sedikit demi sedikit mulai menyentuh para pekerja di sektor informal dan penduduk miskin yang tidak mampu dengan prioritas awal yakni jaminan pemeliharaan kesehatan. saling mengisi dan melengkapi.13 . serta Sanggar Kegiatan Belajar (SKB). kurikulum. Kebijakan dan Indikasi Program Perlindungan Sosial Arah kebijakan perlindungan sosial adalah menjadikan semua bentuk perlindungan sosial berjalan sinergis. dan jaminan tunjangan tidak bekerja dan pendidikan anak. serta penyediaan sarana dan prasarana pelatihan secara memadai dan berkualitas. khususnya pelatihan keterampilan bagi masyarakat miskin sesuai dengan kebutuhan daerah dengan memberdayakan lembaga kursus swasta dan Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM). dengan jaminan sosial dikembangkan sebagai bentuk utama dan didukung oleh bentuk bantuan sosial. (3) Pelatihan bagi usaha kecil dalam kewirausahaan dalam bidang manajemen keuangan. dunia usaha. dan strategi penilaian. Selanjutnya.rajaebookgratis.www. dan (7) Sesuai dengan tuntutan kebutuhan pelatihan yang berkualitas perlu dikembangkan lembaga pelatihan tenaga kerja yang profesional khususnya untuk aspek manajemen. tabungan dan kearifan lokal. Penyederhanaan sistem serta penyelenggara perlu dilakukan segera dengan penataan peraturan perundangan guna peningkatan skala ekonomi sistem asuransi sosial ini dan peningkatan efektifitas kemanfaatan bagi peserta. ketenagaan. 5. secara bertahap diperluas dengan program jaminan hari tua. permodalan. agar usaha kecil dapat berkembang dengan baik. (2) Permagangan tenaga kerja bagi keluarga miskin diberbagai sektor bisnis untuk memperoleh pengalaman kerja dan memperoleh kesempatan belajar kerja serta agar terbiasa dengan lingkungan kerja. pendampingan dan dibarengi dengan modal usaha yang diintegrasikan dengan program pengentasan kemiskinan lainnya.

Mekanisme penyaluran bantuan sosial hendaknya memanfaatkan institusi-institusi masyarakat dan infrastruktur pemerintah yang dekat dengan sasaran bantuan. Fakir miskin. Sistem jaminan sosial yang memberi perlindungan dasar tetap memberi ruang kepada pemberi kerja untuk memberi fasilitas perlindungan lebih baik kepada pekerjanya tanpa menghindari atau mengurangi kewajiban pemberi kerja untuk berpartisipasi dalam sistem jaminan sosial nasional yang bersifat wajib. beban premi pemberi kerja bisa diberikan bebas pajak (tax deduction). komunitas terasing atau terpencil. Arah kebijakan tabungan wajib adalah mendorong masyarakat luas terutama kelompok miskin untuk memiliki alat perlindungan bagi diri dan keluarganya dalam menghadapi resiko sosial seperti sakit. serta penegakan hukum yang adil dan transparan bagi pemberi kerja yang menolak berpartisipasi dalam jaminan sosial dan melakukan pemalsuan data pekerja. Penentuan target sasaran sebagai titik krusial efektifitas bantuan sosial harus dilakukan secara hati-hati dan partisipatif. dan meningkatkan kemampuan masyarakat untuk dapat memenuhi kebutuhan dasar hidup yang diberikan baik sementara ataupun permanen. anak terlantar. prinsip membangun kemandirian secara bertahap. Pendataan tingkat masyarakat sangat penting dengan melakukan identifikasi sasaran prioritas dan tambahan. V . pemerintah secara bertahap dapat menurunkan batasan jumlah pekerja dan tingkat penghasilan minimum pengusaha. adalah beberapa contoh kelompok masyarakat produktif yang bila memperoleh bantuan sosial berupa pemberdayaan yang tepat. pemerintah bersama pemerintah daerah perlu mendorong pengembangan dan penguatan lembaga keuangan mikro dan usaha simpan pinjam di tingkat lokal agar dapat efektif dan mandiri melayani kebutuhan masyarakat. Bagi individu atau masyarakat yang tegolong produktif.www. penderita cacat. kelompok usaha bersama. pemutusan hubungan kerja. anak jalanan. dan lainnya. serta pemenuhan kebutuhan lainnya.14 . atau lanjut usia. Untuk meningkatkan kepesertaaan jaminan sosial. bagi premi jaminan sosial untuk penduduk miskin yang tidak mampu dan pekerja sektor informal.com daerah diharapkan dapat mengalokasikan anggarannya dengan prinsip pembiayaan bersama (cost sharing). Arah kebijakan bantuan sosial adalah melindungi. Usaha swasta nasional termasuk perbankan. didorong untuk mendukung penyelenggaraan tabungan wajib ini dengan tetap memperhatikan prinsip kehati-hatian. pengangguran akibat PHK. mencegah. Untuk itu. kecelakaan kerja. Sebagai insentif kepada pengusaha dan pemberi kerja. secara bertahap dapat keluar dari situasi kemiskinan dan ketergantungan atas bantuan sosial tersebut. memulihkan. kebutuhan akan jenis dan jumlah bantuan. disamping pengembangan model-model spesifik tabungan sosial masyarakat di daerah. meninggal dunia. Kebijakan pembentukan tabungan sosial ini dapat dikaitkan dengan kebijakan pengembangan usaha mikro. korban bencana alam dan konflik sosial. Mekanisme tersebut sejauh mungkin menerapkan prinsip partisipasi wakil sasaran dalam pengelolaan bantuan. dan hasil yang ingin dicapai. koperasi.rajaebookgratis. harus terlihat dalam setiap kebijakan dan program. Bantuan sosial harus memiliki prinsip utama yakni membangun martabat individu atau masyarakat yang bersangkutan.

dimana intervensi pemerintah sejauh mungkin diminimalisasi. atau memperbesar bentuk kearifan lokal yang ada. Ketiga. pemerintah daerah dan pemerintah harus menahan diri untuk mereplikasi. para pengungsi akibat bencan konflik sosial. Pemerintah daerah melakukan identifikasi dan kajian atas bentuk. Indikasi kebijakan makro operasional berdasarkan kebijakan makro strategis perlindungan sosial di atas adalah sebagai berikut: (1) Bantuan Sosial. penyandang cacat ganda. Tugas utama pemerintah daerah dan pemerintah adalah melakukan desiminasi dan fasilitasi keberadaan dan manfaat kearifan lokal. pengemis dan lainnya. Pembentukan dan pengembangan kearifan lokal sepenuhnya merupakan kebutuhan spesifik masyarakat lokal. (2) Pelestarian dan Peningkatan Pemanfaatan Kearifan Lokal. mekanisme. (b) Bantauan sosial permanen ditujukan kepada PMKS yang karena suatu kondisi tertentu mengakibatkan konndisi social dan phisiknya memang sudah tidak lagi potensial berproduksi dan tidak mempunyai kemampuan untuk menyelesaikan masaalah kesejahteraan socialnya tanpa bantuan orang lain dan atau pemerintah serta masyarakat .com Arah kebijakan perlindungan sosial melalui kearifan lokal terdiri dari tiga bagian. (4) Jaminan Sosial. Kebijakan Makro Operasional Bantuan Sosial Kebijakan makro operasional bantuan sosial meliputi kebijakan mikro strategis: (1) Bantuan sosial sementara ditujukan untuk mengembalikan kemampuan dan keberdayaan keluarga miskin transient dan rentan termasuk komunitas adat terpencil dan terasing . Kebijakan mikro strategis berdasarkan kebijakan makro operasional di atas adalah sebagai berikut: a. demi untuk kelangsungan hidup dan tumbuh kembangnya dikemudian hari menjadi tenaga kerja yang produktif. Kedua. (d) Bantuan sosial permanen dalam bentuk program rehabilitasi sosial ditujukan untuk membantu memulihkan fungsi sosial keluarga dengan memberikan pelayanan sosial kepada para PMKS khsusunya kepada para korban bencana alam.15 . dan praktek kearifan lokal yang ada di masing-masing daerah serta kebutuhan masyarakat miskin atas bentuk perlindungan sosial.rajaebookgratis.www. seperti kelompok lansia jompo. (3) Peningkatan Tabungan Sosial Masyarakat. V . (c) Program bantuan sosial bentuk lainnya adalah memberikan bantuan kepada kelompok rentan dan miskin untuk dapat memenuhi kewajibanya membayar iuran/kontribusi jaminan sosial. anak-anak terlantar gelandangan. Kepada mereka pada umumnya diberikan bantuan kesejahteraan secara berulang dalam jangka panjang dan melalui panti atau organisasi masyarakat yang bergerak dalam bidang bantuan sosial semacam itu. menyeragamkan. dengan memberikan bantuan perpanganan dan sarana rehabilitasi bagi korban bencana alam dan bencana konflik social serta korban akibat perubahan dan gangguan ekonomi yang drastis. (5) Pemberdayaan Potensi dan Pengembangan Perangkat Peraturan Perundangan tentang Perlindungan Sosial. termasuk anak terlantar. pemerintah daerah dapat memberi pengakuan dan perlindungan atas entitas kearifan lokal tersebut yang diakui bermanfaat bagi masyarakat miskin misalnya melalui peraturan daerah.

(b) Peningkatan kualitas dan kuantitas manfaat kearifan lokal. dan (c) Mengkaji. (2) Mengembangkan pola tabungan masyarakat. Kebijakan Makro Operasional Pelestarian dan Peningkatan Pemanfaatan Kearifan Lokal Kebijakan makro operasional ini ditujukan untuk melestarikan dan meningkatkan kemanfaatan kearifan lokal sebagai salah satu bentuk perlindungan sosial yang berakar dari budaya bangsa. menguji coba dan memperkenalkan model-model kearifan lokal dalam perlindungan sosial untuk pengembangan pada komunitas yang sesuai . e. dapat disertakan dalam jaminan sosial ini dengan mendapatkan bantuan dari pemerintah dalam bentuk pembayaran iuran oleh pemerintah/Negara agar mereka tercakup dan mendapkan kemanfaatan jaminan sosial. Ada 5 (lima) jenis kegiatan program yang tersedia untuk para pekerja sektor formal yaitu: jaminan pemeliharaan kesehatan. melindungi. Kebijakan Makro Operasional Peningkatan Tabungan Sosial Masyarakat Kebijakan makro operasional ini ditujukan untuk meningkatkan upaya pemupukan Dana Sosial Nasional Masyarakat melalui tabungan sosial masyarakat dalam kaitannya dengan peningkatan upaya perlindungan sosial.com b. Kebijakan Makro Operasional Pemberdayaan Potensi dan Pengembangan Perangkat Peraturan Perundangan tentang Perlindungan Sosial. Kebijakan makro operasional pelestarian dan pemanfaatan kearifan lokal kebijakan mikro strategis: (a) Pemerintah memfasilitasi. melestarikan dan mengembangkan bentuk-bentuk kearifan lokal. Para peserta jaminan sosial menanggung dan berkewajiban memberikan kontribusi iuran atau premi untuk mendapatkan manfaat tertentu. kajian V . jaminan hari tua . c.. Kebijakan Makro Operasional Jaminan Sosial Kebijakan makro operasional jaminan sosial bertujuan untuk memberikan jaminan perlindungan sosial bagi setiap warga Negara dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar hidupnya yang dilaksanakan melalui mekanisme asuransi. Kebijakan makro operasional peningkatan tabungan sosial masyarakat adalah: (1) Menggalakkan gerakan tabungan nasional.www. jaminan kecelakaan kerja. (3) Pengembangan usaha keuangan mikro. Kebijakan makro operasional ini ditujukan untuk menyerasikan dan menata kembali pelbagai kebijakan penyelenggaraan perlindungan sosial di tingkat nasional dan daerah. termasuk keserasian pelbagai sistem perlindungan sosial yang semntara ini ada dan penyelenggaraannya. dan lainnya yang terkait dengan upaya yang mendorong pembentukan dan pemupukan tabungan sosial masyarakat.rajaebookgratis. jaminan pensiun. Kepada kaum fakir miskin yang merupakan tanggungan Negara . koperasi. rancangan penyelenggaraan Sistem Jaminan Sosial Nasional (SJSN). d.16 . jaminan kematian. Program ini sebagai bahagian daripada upaya pemasyarakatan SJSN serta pemupukan ketersediaan dana perlindungan social sekaligus akan menjadi wahana peningkatan ketahanan social masyarakat.

serta meningkatkan kemampuan. Prinsi lembaga tersebut adalah: independen. maka perlu dibentuk komite nasional penanggulangan kemiskinan (KOMNAS Penanggulangan Kemiskinan). maka diperlukan lembaga yang bertanggung jawab agar terjaminnya pelaksanaan program yang tepat sasaran. Penjabaran kegiatan dari program tersebut tentunya disesuaikan dengan kondisi lokal setempat.www. kabupaten dan kota. penyelenggaraan dan pelaksanaan program-program pembangunan untuk memberdayakan para PMKS. 5. Tugas pokok Komnas terutama: (1) berbagi informasi yang berkaitan dengan penanggulangan kemiskinan. dan ketahanan sosial masyarakat. nasional maupun global. organisasi sosial kemasyarakatan. Mengingat sasaran masyarakat miskin dapat menjadi pelaksanaan berbagai program. Program Penanggulangan Kemiskinan dapat dilaksanakan secara nasional atau secara spesifik di daerah tertentu. tetapi lebih berfungsi sebagai lembaga perencanaan. (3) pengembangan jejaring penanggulangan kemiskinan baik di tingkat lokal. dan koordinasi. demokratis. Mekanisme Pelaksanaan dan Kelembagaan bukan lembaga operasional. multistakeholder. Mengingat belum ada lembaga khusus yang menangani penanggulangan kemiskinan. Sumber utama pembiayaan komnas adalah APBN. khususnya tenaga pekerja kesejahteraan sosial masyarakat (TKSM)/relawan sosial. dan dunia usaha.17 . pengawasan.6.rajaebookgratis. Lembaga yang sama perlu dibentuk juga di tingkat propinsi. (2) peningkatan sumberdaya manusia dan kelembagaan.com strategi. kesetaraan. kepedulian. dan (4) memobilisasi dana untuk penanggulangan kemiskinan. dan kemitraan. Program Penanggulangan Kemiskinan yang telah diuraikan dalam bab sebelumnya dilaksanakan oleh sektoral sesuai dengan lingkup pekerjaannya. Komnas penanggulangan kemiskinan V .

berdasarkan indikator kinerja yang telah diuraikan pada bab terdahulu. MONEV partisipatif dalam rangka penanggulangan kemiskinan dilakukan dengan pendekatan hasil. sehingga hasil yang diinginkan dapat dicapai. Pelaksanaan monitoring dan evaluasi (Monev) program penanggulangan kemiskinan sesuai dengan prinsip partisipatif. diperlukan suatu motivasi dan kemauan yang kuat disertai kejujuran dari semua stakeholders yang terlibat. berkesinambungan dan berdasarkan indikator. bukan dengan pendekatan tujuan.www. yaitu: (a) sebagai alat manajemen untuk meningkatkan efisiensi dan efektivitas. dan juga perbandingan antar waktu serta gambaran kondisi terkini. Monitoring partisipatif melibatkan masyarakat akar rumput dalam menghitung. selain VI - 1 . Di atas segalanya. Pada banyak kasus. hendaknya sistem ini dapat ditempatkan sebagai instrumen pembanding. di bawah ini. tepat waktu. untuk menjamin diterapkannya prinsip-prinsip monitoring dan evaluasi di atas. mengumpulkan. Oleh karena itu yang tidak boleh dilupakan dalam mengembangkan sistem monitoring dan evaluasi penanggulangan kemiskinan. dilaksanakan monitoring dan evaluasi partisipatif. dan mereorganisasi kelembagaan atau merelokasi sumber daya. Mekanisme dan Prosedur Monev Sistem monitoring dan evaluasi program penanggulangan kemiskinan dapat dilihat dalam Tabel 6. mereformulasi kebijakan atau tujuan.1 dan 6. monev hanya bagus di atas kertas tetapi tidak di dalam pelaksanaan. terdapat beberapa prinsip yang seyogyanya dipenuhi demi menjamin tercapainya tujuan kegiatan monitoring dan evaluasi. Seperti telah dibahas di depan.1. Sehingga dari hasil proses MONEV tersebut dijadikan dasar untuk perbaikan kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan. mencatat. Sedangkan evaluasi partisipatif merupakan analisis yang sistematis oleh pengelola program/proyek dan warga masyarakat agar mampu melakukan penyesuaian. memproses dan mengkomunikasikan informasi dan data dalam membantu pengelola program/proyek dan anggota kelompok dalam pengambilan keputusan.com BAB VI.. akuntabel. partisipatif. Prinsip-prinsip tersebut diantaranya adalah: transparan. Dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi program pelanggulangan kemiskinan.rajaebookgratis. 6. dan (b) sebagai proses pembelajaran untuk meningkatkan kesadaran dan pemahaman atas berbagai faktor yang mempengaruhi. Monitoring dan evaluasi yang partisipatif mempunyai tujuan ganda. kegiatan monev seringkali tidak dilakukan secara serius.2. Selain ketersediaan data yang cukup akurat. SISTEM MONITORING DAN EVALUASI Pengembangan sistem monitoring dan evaluasi mutlak diperlukan untuk menjamin agar strategi penanggulangan kemiskinan yang dilaksanakan dapat berjalan secara efisien dan terukur. Monitoring merupakan sistem umpan balik yang berkesinambungan selama daur hidup program/proyek berlangsung termasuk melakukan kaji ulang secara berkala setiap kegiatan pada setiap tingkat pelaksanaan program/proyek yang sedang berjalan.

BAPPEDA x Proses (lihat Gambar 6. RW. Lembaga Penelitian. Monev yang dilakukan oleh mekanisme internal. Mekanisme: x LSM. Monitoring dan Evaluasi Kondisi Kemiskinan Tingkat Indikator x MDGs x Kantor Menko Kesra x Bappenas x BPS x Sektoral Ruang Lingkup dan Mekanisme Ruang Lingkup: x Data Makro s/d Kabupaten/kota x Susenas Inti (tiap 1 tahun sekali) Mekanisme: x Network: BPS. x Proses (lihat Gambar 6.1.2) Ruang Lingkup: x Data Mikro x Sektora. Monev secara internal menuntut adanya kejujuran. BKM. dalam hal ini kegiatan monev suatu kebijakan/program dilakukan oleh pihak-pihak yang terkait langsung di dalam pengelolaan kebijakan/program. Tabel 6. Sebagai konsekuensinya. Bappenas. Monev yang dilakukan oleh mekanisme eksternal. RT dan DKM x Proses: Pengenalan Masalah dengan musyawarah Nasional x x x BPS Daerah Sektoral Indikator local Daerah x Indikator lokal Komunitas VI - 2 . Dilihat dari posisi pelakunya. yaitu kegiatan monev yang kebijakan/program (eksternal). Pokmas. dunia usaha dan masyarakat). sistem monev penanggulangan kemiskinan harus terbuka bagi keterlibatan seluruh pihak yang berkepentingan (pemerintah. Hal terpenting yang berhubungan dengan mekanisme pelaksanaan monev adalah pemahaman bahwa penanggulangan kemiskinan merupakan suatu upaya bersama. Sektoral. dilakukan oleh pihak di luar pengelola bahkan sampai batas-batas tertentu (terutama kegiatan monitoring) dapat melibatkan masyarakat. sehingga lebih bersifat sebagai gerakan sosial yang mengedepankan pendekatan partisipatif dalam setiap elemen kegiatannya. lembaga independen.1) Ruang Lingkup: x Data Makro s/d Kabupaten/kota x Data Mikro x Susenas Inti (tiap 1 tahun sekali) Mekanisme: x Network: BPS Daerah. objektivitas dan tanggung jawab moral dari semua pihak yang terlibat dalam pelaksanaan kegiatan. adalah masalah mekanisme pelaksanaannya. mekanime monev dibedakan mekanisme internal dan mekanisme eksternal.com masalah teknik dan metodologi.www. baik yang terlibat secara langsung maupun tidak langsung dalam pengelolaan kebijakan / program penanggulangan kemiskinan.rajaebookgratis. Sektoral. Lembaga Penelitian. misalnya oleh lembaga atasan dari pengelola program/kegiatan. BPMD. MENKO KESRA.

yaitu: 1. (3) dan (4). (3) dan (4).2). dan (c) Peran sektoral pada seluruh kegiatan (1). Menko Kesra dibantu oleh Bappenas. (b) Peran MENKO KESRA lebih dititikberatkan kepada kegiatan (2) dan (3). secara garis besar mekanisme pelaksanaan monev dapat dibedakan atas dua bentuk. Khusus untuk point 2 Menko Kesra dibantu BPS sedangkan untuk point 3. Indikator monitoring pelaksanaan program: o Input o Proses o Output Indikator kinerja kebijakan program: o Outcome o Dampak Indikator untuk tiap pilar. Monitoring dan Evaluasi Kebijakan dan Program Tingkat Indikator x x Nasional x Indikator untuk tiap pilar.com Tabel 6. Mekanisme monitoring kondisi kemiskinan di tingkat nasional pada dasarnya terbagi atas kegiatan-kegiatan: (1) pengumpulan data. Sedangkan mekanisme monitoring kondisi kemiskinan di tingkat daerah juga terdiri atas empat komponen seperti halnya pada mekanisme monitoring kondisi kemiskinan di tingkat nasional (Gambar 6.1). (2). Indikator monitoring pelaksanaan program: o Input o Proses o Output Indikator kinerja kebijakan program: o Outcome o Dampak Ruang Lingkup Mekanisme dan x x Daerah x Disesuaikan dengan kondisi daerah Komunitas x x x Disesuaikan kondisi setempat dengan komunitas Menurut tingkatan atau tatarannya. VI - 3 . (2).www. 2. (2) analisa data. dan (c) Peran sektoral pada seluruh kegiatan (1). yaitu: (a) Peran BPS Daerah dan Lembaga Penelitian lebih dititikberatkan kepada kegiatan (1) dan (2). Indikator monitoring pelaksanaan program: o Input o Proses o Output Indikator kinerja kebijakan program: o Outcome o Dampak Indikator untuk tiap pilar. (3) pemanfaatan (perencanaan/pengambilan keputusan) dan (4) tindakan. Masing-masing institusi atau lembaga memiliki penekanan masing-masing.2. Khusus untuk point 2 dibantu oleh BPS Daerah dan untuk point 3 dibantu oleh Bappeda. (b) Peran BPMD lebih dititikberatkan kepada kegiatan (2) dan (3). Kegiatan-kegiatan ini merupakan suatu siklus kegiatan yang runut (Gambar 6. yaitu: (a) Peran BPS lebih dititikberatkan kepada kegiatan (1) dan (2). Masing-masing institusi atau lembaga memiliki penekanan masing-masing.rajaebookgratis.

Mekanisme Monitoring Kondisi Kemiskinan di Tingkat Nasional Pengumpulan Data Pengumpulan Data (1) (1) Tindakan Tindakan (4) (4) Analisa Analisa (2) (2) Pemanfaatan Pemanfaatan (Perencanaan/Pengambilan (Perencanaan/Pengambilan Keputusan) Keputusan) (3) (3) Gambar 6. Apabila ternyata pada Bagian (1) kondisinya tidak lebih baik.3 disajikan beberapa indikator kinerja kondisi kemiskinan sampai tahun 2015. Indikator-indikator ini akan digunakan untuk membandingkan kondisi sebelum dan sesudah suatu kebijakan/program dilaksanakan.1. Sedangkan pada kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan adalah bersifat monitoring dan evaluasi.www. maka perlu dilakukan peninjauan terhadap Bagian (1). VI - 4 . Mekanisme Monitoring Kondisi Kemiskinan di Tingkat Daerah Perumusan indikator sangat penting dalam sistem monitoring dan evaluasi karena terkait dengan tujuan dan sasaran yang hendak dicapai oleh kebijakan/program. maka perlu dilakukan peninjauan ulang secara menyeluruh terhadap kebijakan dan program penanggulangan kemiskinan yang telah dilaksanakan. di mana pada bagian ini dititik beratkan pada penetapan indikator dan mekanismenya. Kegiatan evaluasi dimaksudkan dapat memberikan umpan balik kepada pelaksanaan program apabila indikator tidak dapat dipenuhi.2. Indikator digunakan untuk menangkap suatu fenomena/kondisi yang akan dimonitor serta merupakan alat untuk mengukur kemajuan implementasi program/kebijakan.2.com Pengumpulan Data Pengumpulan Data (1) (1) 6.rajaebookgratis. Pada bagian Kondisi Kemiskinan adalah bersifat monitoring. Sistem monitoring dan evaluasi Penanggulangan Kemiskinan (PK) terbagi atas dua bagian besar: (1) Kondisi Kemiskinan dan (2) Kebijakan dan Program penanggulangan kemiskinan. Indikator Tindakan Tindakan (4) (4) Analisa Analisa (2) (2) Pemanfaatan Pemanfaatan (Perencanaan/Pengambilan (Perencanaan/Pengambilan Keputusan) Keputusan) (3) (3) Gambar 6. Hubungan antara Bagian 1 dan Bagian 2 pada sistem monev adalah apabila pada Bagian (2) diperoleh hasil evaluasi yang menyatakan indikator telah terpenuhi. Pada Tabel 6. apakah indikator tersebut telah tercapai atau apakah kondisi kemiskinan telah menjadi lebih baik.

10. 6. 3. Indikator di sini merupakan dampak yang dijadikan sebagai acuan dalam pemantauan (monitoring) di tingkat nasional. indikator berasal dari keempat pilar dan indikator monitoring pelaksanaan program yang meliputi input.000 bayi lahir) Imunisasi campak pada anak umur 1 tahun (%) Angka Kematian Ibu (AKI) Presentasi kelahiran yang dihadiri oleh tenaga kesehatan terlatih (%) % Penduduk yang memliki tabungan hari tua % penduduk miskin sebagai peserta SJSN % pegawai formal peserta SJSN % pegawai informal peserta SJSN % Penduduk yang tercakup dan komunitas yang mengembangkan kearifan lokal Alokasi dana APBN yang diperuntukkan bagi penanggulangan kemiskinan berbasis pemberdayaan masyarakat Tingkat parstisipatif substantif kelompok miskin dalam perancangan pelaksanaan dan pengawasan program. 22. 23. 5. 2. **Data Tahun 1996 VI - 5 . 12. Sedangkan indikator untuk kebijakan dan program di tingkat daerah dapat ditentukan dengan mengacu pada indikator di tingkat nasional. Peran organisasi masyarakat madani dalam mendesakkan suara kelompok miskin 1990 15. SL. Indikator kondisi kemiskinan di daerah adalah berdasarkan indikator yang ditetapkan oleh BPS Daerah. Indikator ini juga dapat dijadikan sebagai sebagai acuan. 9. 18. kecil dan menengah dalam PDB (%) Tingkat melek huruf Rasio perempuan terhadap laki-laki dalam pendidikan Rasio perempuan dalam melek huruf Prevalensi Balita yang mempunyai berat badan rendah (%) Mencapai pendidikan dasar Universal Promosikan pemberdayaan gender dan pemberdayaan perempuan x Rasio siswa Perempuan/Laki-laki di SD. Indikator Kondisi Kemiskinan Jumlah penduduk di bawah garis kemiskinan (%) Gap kemiskinan (%) Bagian kuintil termiskin dalam konsumsi nasional (%) Sumbangan pengusaha mikro. 20.3 100 86 38 12 60 83 57. 21.www. & PT x % perempuan bekerja sebagai buruh/karyawan di sektor non-pertanian x % perempuan Anggota DPR Tingkat kematian bayi Tingkat kematian Balita (bayi/1.3. proses dan output dan juga indikator kinerja kebijakan program yang meliputi outcome dan dampak.4* 84 18.rajaebookgratis.5 3-4 20 2015 7. 15. sektoral dan indikator lokal. 19. 17. 8. 7. 13. Tabel 6. Sedangkan dalam kebijakan dan program di tingkat nasional. Indikator Kondisi Kemiskinan sampai Tahun 2015 No 1.com Pada tabel tersebut tertera bahwa indikator kondisi kemiskinan di tingkat nasional berasal dari sasaran yang tercantum dalam Millenium Developmet Goals (MDGs) yang disesuaikan dengan kondisi Indonesia.5 1–2 10 95 86 97 35. 4.5 470** 47 11. 16. 14. 30 42 90 90 * Data Tahun 1995. Indikator kondisi kemiskinan di tingkat komunitas ditentukan berdasarkan indikator lokal yang diterapkan bagi komunitas setempat.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful