You are on page 1of 3

Berpikir Kritis

Anak sering mengalami kekacauan dalam sikap dan berpendapat, tentu dilihat dari tata pikir dan rasio orang dewasa, sehingga secara signifikan ia tergantung pada orang dewasa. Logika dan rasional anak memang berbeda dengan rasio dan logika orang dewasa. Anak berpikir pre operasional konkrit atau operasional konkrit, sehingga ia mendasarkan berpikirnya secara konkrit atau operasi benda-benda nyata, sementara orang dewasa logika berpikirnya dapat secara formal bahkan simbolis. Sehingga wajar mereka masih tergantuing pada orang dewasa. Kondisi demikian justru suatu keberuntungan bagi anak atau boleh dikatakan sebagai sebuah proses. Anak dapat belajar untuk menjadi tergantung pada orang lain, dapat menempatkan dirinya sebagai manusia yang bergantung pada pihak lain menjadikan anak yang tidak egois. Anak ia bisa belajar bagaimana bersopan santun, bersikap, menerima pendapat orang lain. Pada posisi demikian anak dapat didorong untuk menilai kapasitasnya dalam bernalar dan mempertimbangkan segala sesuatu bahwa anak dapat membedakan kepercayaan dan pandangan mereka. Jika seorang anak menjadi terbuka dan kritis, ia tidak akan berpikir sesuatu yang salah. Kita tidak dapat selalu berpikir tentang segala hal tetapi kita selalu berpikir tentang sesuatu. Keluasan berpikir sedang memikirkan sesuatu. Berpikir kritis menjelaskan bagaimana sesuatu sedang dibicarakan. Belajar berpikir kritis secara berarti: (1) belajar bagaimana bertanya, kapan bertanya, dan apa pertanyaan yang ditanyakan, (2) belajar bagaimana menalar, ketika menggunakan penalaran, dan metode penalaran yang digunakan (Fisher, 1990). Kata penalaran disederhanakan dari bentuk kata rasio/nalar yang berarti keseimbangan. Anak dapat hanya berpikir secara kritis atau secara rasional bila dapat diterima untuk memperluas apa yang dapat dilakukan secara hati-hati untuk menguji pengalaman, mengases pengetahuan dan ide-ide, dan memperluas argument untuk meraih pertimbangan yang seimbang. Menjadi pemikir kritis juga harus consist dalam perkembangan sikap seperti keragaman dalam bernalar. Kesiapan bernalar Anak pada dasarnya memiliki kebutuhan untuk menemukan atau membuat sebuah runtutan pengertian berdasar pengalaman hidup. Mereka ingin dapat bernalar secara baik atau paling tidak ia bisa teliti tentang apa yang penting dan apa yang tidak penting, tentang apa yang benar dan apa yang salah, mana yang menenuhi syarat dan mana yang tidak. Mereka ingin berpikir dengan benar dan untuk kebenaran ini mereka mengkonfirmasikan dengan pengalaman. Namun, anak adalah individu yang egosentris yang pertumbuhan pengertiannya tergantung padanya, meningkat secara perlahan dan tersembunyi sangat dalam (tak terlihat). APakah saya berpikir harus benar. Jika belum maka orang tua yang membimbingnya untuk membenarkan aras

berpikir anak itu dan ini adalah implementasi bahwa anak itu bergantung pada orang lain dalam menumbuhkan segala aspek pada diri anak itu. Mendorong anak untuk membuat dan berusaha dalam menalar, dan kita perlu mendemonstrasikan penalaran yang benar dan penalaran yang salah, tentu dalam kealamiahan. Anak boleh berbuat salah, tetapi persoalannya adalah bagaimana membenarkannya dengan cara yang elegant tanpa membuat anak jatuh, merasa bodoh, merasa tidak bisa apa-apa. Menunjukkan cara berpikir benar harus memperhatikan martabat anak sebagai individu yang memiliki harga diri. Kemauan Menantang Tanda-tanda pemikir kritis adalah kesiapan untuk menantang ide-ide orang lain. Ini berarti bahwa jika kita mengharap anak kita menjadi pemikir kritis, kita mencoba mendorong mereka untuk menerima tantangan tentang ide-ide dan cara-cara mereka berpikir. Berdiskusi, berdebat, berargumen dapat dikembangkan di lingkungan keluarga dan doronglah mereka untuk memberikan argument, alasan, latar belakang, tujuan, menunjukkan cara kerja, cara mencapai tentang apa yang disampaikan anak. Kita dorong anak mampu membuat keputusan yang didasarkan bukti dan penilaian terhadap bukti itu. Memberikan tantangan terhadap mereka menanggapi ide dan dorong membuat keputusan. Terbuka terhadap tantangan pihak ketiga. Memasukkan unsur entertain dapat dipertimbangan . Kegiatan ini seyogyata tersinergikan anatara kegiatan di rumah dan kegiatan di sekolah. Sekolah adalah rumah kedua dari siswa, maka kooperasi anatara orang tua dan guru di sekolah adalah sebuah keniscayaan. Belajar berawal dari rumah dan berkembang pesat di sekolah, demikian sebaliknya tantangan dari sekolah dan berkembang di rumah. Keterampilan Berpikir Kritis Robert Ennis bapak berpikir kritis di Amerika Utara mengidentifikasi 12 aspek dalam wujud pelatihan keterampilan, namunke duabelas aspek ini sebanrnya berkaitan. 1. Memahami arti pernyataan. Apa ini berarti? 2. Mempertimbangkan adanya ambigunitas dalam penalaran. Apakah jelas? 3. Mempertimbangkan pernyataan yang kontradiktif satu dengan yang lain. Apakah konsisten? 4. Mempertimbangkan kesimpulan yang diikuti. Apakah logis? 5. Mempertimbangkan pernyataan yang cukup spesifik. Apakah tepat? 6. Mempertimbangkan pernyataan penerapan satu prinsip. Apakah mengikuti aturan?

7. Mempertimbangkan satu pernyataan hasil observasi. Apakah akurat? 8. Mempertimbangkan kesimpulan induktif yang diperingatkan. Apakah dipertimbangkan? 9. Mempertimbangkan masalah yang telah dikenali. Apakah relevan? 10. Mempertimbangkan sesuatu sebagai asumsi. Apakah diambil untuk disetujui? 11. Mempertimbangkan definisi yang tepat. Apakah definisi yang benar? 12. Mempertimbangkan pernyatan yang diambil oleh otoritas yang diterima. Apakah benar? Selain ke 12 cara mengembangkan keterampilan berpikir kritis, Bloom yang diperbaiki oleh Anderson (2000), mengkategorikan sebuah urutan latihan berpikir kritis yang dapat dilakukan melalui sebuah runtutan berpikir. Model ini diberi nama tujuan-tujuan kognitif dalam pendidikan. Yang terbangun dalam urutan (1) mengingat atau pengetahuan, (2) memahami atau mengerti, (3) menerapkan, (4) analisis dan sintesis, (5) menilai, dan (6) membuat. Anak belajar dengan (1) berujuan memperoleh pengetahuan atau menginga, ini dapat dilakukan t dengan cara belajar: memberi nama, mengidentidikasi, mendaftar, menyebutkan. (2) belajar untuk memperoleh pemahaman dan pengertian melalui cara belajar: membedakan, menjelaskan arti dan makna, mencari persamaan, mengkontraskan, membandingkan, menafsirkan, menerjemahkan, memperkirakan, dan sebagainya. (3) belajar bertujuan agar siswa mampu menerapkan dengan cara belajar: mengubah, menerapkan, menggunakan rumus, membuat pola, meniru, dan sebagainya. (4) belajar bertujuan menganalisis dan menyimpulkan dengan cara: memnguraikan dilanjutkan menyatukan makna, membongkar komponen dilanjutkan merakitnya kembali, membedah dilanjutkan menyusun ulang, merancang dilanjut menyusun, dan sebagainya, (5) belajar bertujuan menilai dengan cara : melihat kelebihan dan kekurangan masing-masing dilanjutkan memilih mana yang kelemahannya paling sedikit, membandingkan dilanjutkan menentukan mana yang terbaik dengan berbagai argument, dan sebagainya. (6) membuat dengan langkah mengetahui, memahami kerja, mencoba menganalisis, menyimpulkan, memilih, dan membuat hal yang baru, hal yang berbeda, hal yang lebih bermanfaat. Semoga kita bisa menjadi orang tua dan guru yang mendorong anak berpikir kritis, amin!