You are on page 1of 2

Kosmopolitan Menggempur, Lokal Tiarap

Rosabeth Moss Kanter pernah mencatat bahwa kini kita memasuki era world class. Yaitu sejarah bangsa-bangsa menuju pada fenomena kosmopolitan. Anggota masyarakat kosmopolitan memliki ciri-ciri: mampu melanglang buana di seluruh pelosok bumi. Di gunung, di hutan, ataupun di kota metropolitan, memegang paspor, mata uang internasional, tiket internasional, menguasai banyak bahasa, dan menuntut barang dan jasa kualitas dunia. Untuk menjadi warga masyarakat kosmopolitan dibutuhkan 3C, yaitu: 1. concept 2. competence 3. connection

ekomunity.com

Baik individu maupun kelompok harus mempunyai konsep yang jelas, selain keterampilan profesional atau kompetensi di bidang tertentu, dan memiliki penguasaan akan bagaimana membangun sebuah jaringan (the power of networking). Masyarakat yang sedemikian kompleks tentu membutuhkan kelas pemimpin yang juga berstatus kosmopolitan bukan pimpinan masyarakat yang berstatus lokal, seperti mereka yang masih gelagapan ketika di tanya soal e-mail korps resmi-nya. Menjadi pemimpin atau wakil dari rakyat, bukan sekedar menerima amanah demokrasi atau suara terbanyak saja, tapi juga harus bisa memahami kondisi global dunia di mana saat ini gelombang kosmopolitan terus menggempur negeri ini, sementara mayoritas warga masyarakat Indonesia masih berstatus lokal. Jika para pimpinan negeri tidak mengantisipasi situasi ini maka Indonesia akan masuk dalam global trap (perangkap global).

Perangkap global ini ialah sebuah keadaan masyarakat 20:80, di mana kebutuhan barang dan jasa seluruh dunia dipenuhi dari 20% saja dari populasi dunia. Sedangkan 80% lainnya adalah sebagai job seeker atau pengangguran, dan terombang-ambing.

kulturcell.kunci.or.id

Lihat saja bagaimana kita kalang kabut dengan penghentian daging sapi impor dari Australia. Para konsumen di Indonesia pun lebih memilih produk-produk kualitas dunia yang jauh lebih baik dari pada produksi barang dan jasa dari lokal. Atau lihat juga bagaimana kita seringkali tidak bisa berbicara tegas tentang kasus pelecehan, perkosaan, penyiksaan, bahkan hingga merenggut nyawa TKW yang sudah tidak terhitung banyaknya itu, kepada negara di mana kasus tersebut terjadi. Karena apa? Karena kualitas para pemimpin kita masih berstatus lokal..! Tidak ada bargaining position yang kuat yang bisa kita tawarkan kepada dunia bahwa barang, jasa, dan tenaga kerja yang kita miliki berkualitas dunia, Maka, wahai para pemimpin dan calon pemimpin, kenalilah tantangan jaman ini untuk menciptakan tatanan sosial yang lebih baik. Jangan karena soal redistribusi kekuasaan dan kekayaan semata tapi malah menghancurkan entitas sosial yang ada secara lebih cepat.