You are on page 1of 2

Arthropoda Arthropoda merupakan fauna tanah yang macam dan jumlahnya cukup banyak, yang paling menonjol adalah

springtail dan kutu. Fauna ini mempunyai kerangka luar yang dihubungkan dengan kaki, sebagian besar mempunyai semacam sistem peredaran darah dan jantung. Sifat Kimia N-total (%) C-organik (%) Nitrat (mg kg-1 N) P-tersedia (mg kg-1 P2O5) Cadd (mg kg-1 Ca) Ca-total (%) Mgdd (mg kg-1 Mg) KTK (me 100 g-1) KB (%) Bunga Tanah 0,35 5,17 21,9 150,0 2793,0 1,19 492,0 4,67 92,9 Tanah lap. 0-15 cm 0,25 3,35 4,7 20,8 1993,0 0,88 162,0 3,82 74,1 Tanah lap. 20-40 cm 0,08 1,11 1,7 8,3 481,9 0,91 69,0 1,63 55,5

Springtail merupakan serangga primitif (biasanya tanpa mata dan pigmen) berukuran panjang <1 mm, konsumen sisa tanaman/hewan, kotoran, humus dan miselia jamur, hidup dalam pori-pori makro lapisan tanah bawah. Fauna ini menggunakan ekornya untuk melompat/bergerak, melalui mekanisme kembang-kerut (seperti per) bagian ujung bawah posteriornya. Kutu (Arachnida) dicirikan oleh bentuk seperti kantong dengan apendik yang menonjol. Sebagian besar memakan serat organik mati, seperti hipa jamur dan benih, ada yang memakan predator cacing, serangga, telur dan mikrofauna lain seperti springtail. Aktivitas kutu meliputi paenghancuran dan perombakan bahan organik, kemudian translokasinya kelapisan tanah bawah dan dalam memelihara pori-pori tanah. Lipan dan kelabang (Myriapoda) bebbentuk memanjang dan mempunyai beberapa pasang kaki, membuat sarang berupa rimbunan dan hancuran batu/kayu. Lipan merupakan saprophagous (pemakan jaringan organik mati) dan dapat bersarang pada miselia jamur, sedangkan kelabang yang berkaki lebih sedikit ketimbang lipan, merupakan pemakan daging (karnivora) fauna berukuran sebesar kepalanya. Tempayak atau larva serangga sejenis kumbang coklat atau kutu busuk, berbentuk bulat, putih, dan panjang 1-2 cm, berkepala hitam, dan berkaki 3 pasang tepat di belakang kepala, mengerut setengah lingkaran jika terganggu. Makanan utamanya adalah rumput, tetapi juga berbagai tanaman pertanian sehingga menjadi hama tanaman yang penting. Tempayak dan cacing merupakan makanan tikus. Semut dapat menjadi hama tanaman, malahan di beberapa tempat dapat menyebabkan gundulnya kawasan di sekeliling sarangnya. DI Barat Daya Amerika Serikat, Throp cit. Foth (1984) melaporkan bahwa terdapat sekitar 50 bukit semut pada setiap hektar tanah. Pada setiap bukit semut ini kawasan berdiameter sekitar 4 meter menjadi gundul, sehingga secara keseluruhan sekitar 6% permukaan lahan menjadi terbuka dan menjadi sasaran erosi tanah. Penggundulan kawasan ini juga

dipicu oleh merosotnya benih-benih rumput/tetanaman akibat dikonsumsi oleh semut-semut tersebut. Bukit-bukit semut di Prairi Wisconsin Barat (Foth, 1984) merupakan hasil aktivitas semut-semut dalam mengangkut bahan-bahan tanah lapisan bawah ke permukaan, mirip dengan aktivitas cacing tanah. Bukit tanah yang terbesar mempunyai ketinggian sekitar 1 m dan diameter lebih dari 3 m. Pada gundukan tanah setebal 15 cm dan berdiameter lebih dari 30 cm, ternyata bahan-bahannya berasal dari kedalaman tanah hingga 2 m. Gundukan-gundukan tanah ini hampir menutupi 1,7% permukaan lahan, dan diperkirakan dapat tahan hingga 12 tahun. Aktivitas semut-semut ini menyebabkan tanah0tanah dikawasan ini dicirakan dengan horizontal yang tebal, berwarna lebih gelap dan lebih banyak liat. Hal ini terkait dengan translokasi jaringan organik oleh semut kedalam tanah, yang kemudian dikonsumsi oleh jamur. Jamur ini merupakan makanan semut. Hal ini pula yang menyebabkan tingginya unsur hara disekitar karang semut. Rayap merupakan pemakan kayu, sampah organik, dan jamur. Dalam memakan kayu, rayap dibantu oleh protozoa lewat sistem pencernaan. Sarang rayap dapat setinggi 3 m dengan diameter 10-15 m, yang dilengkapi lorong-lorong dalam tanah sedalam hampir 3 m. Adanya aktivitas pembuatan lorong-lorong atau sarang oleh rayap, juga semut dan cacing merupakan faktor kunci dalam translokasi hara atau bahan dari lapisan bawah ke lapisan atas tanah, yang cukup berpengaruh terhadap kesuburan tanah di kawasan aktivitas ketiga jenis fauna tersebut