You are on page 1of 9

CEDERA DADA Perhatian • Manajemen trauma dada mengikuti protokol ATLS : 1. Amankan ABC merupakan protokol. 2.

Berikan penanganan secepatnya untuk mendeteksi lesi 3. keterlibatan tim trauma dari RS harus segera dilakukan. • Selama Primary Survey, dokter harus mendeteksi kondisi yang mengancam nyawa namun bersifat reversible, a.l: 1. Obstruksi jalan nafas (karena laryngeal injury atau fraktur dislokasi sternoclavicular joint posterior). 2. Tension Pneumothorax (sucking chest wound) 3. Pneumothorax terbuka 4. Flail Chest 5. Hemothorax massif 6. Tamponade jantung Tatalaksana Awal • Rujuk px pada Critical care atau area resusitasi pada ED. • Aktifkan in-house Trauma Team menurut protocol institutional • Tangani penderita sesuai protokol ATLS • Pertimbangkan intubasi dengan menggunakan teknik RSI dengan kondisi: 1. airway compromised 2. ventilasi inadekuat 3. SpO2 tidak dapat dipertahankan diatas 94% walaupun telah menggunakan non-rebreathing mask. Catatan : Jika mungkin, perikardiosentesis harus dilakukan sebelum intubasi karena adanya excessive ventilation pressure akan mengurangi venous return dan dapat menyebabkan henti jantung. • Pasang jalur IV ukuran besar (14G/16G) pada kedua fossa cubiti. Pilihan pertama cairan resusitasi awal adalah kristaloid (Hartmann’s atau NS). • Cek darah untuk : 1. GXM 6 unit WB 2. FBC, urea/elektrolit/Kreatinin, dan BGA Indikasi pemasangan Chest Tube setelah trauma • Pneumothorax, Hemathorax, atau luka terbuka pada dada • Fraktur tulang iga yang membutuhkan ventilasi tekanan positif • Penderita dengan suspek severe lung injury, terutama mereka yang ditransfer melalui jalur udara atau kendaraan darat. • Pasien yang akan menjalani general anestesi dalam rangka terapi trauma yang lain (cranial, atau ekstremitas), yang dicurigai mengalami trauma paru.

hipotensi. respirasi spontan. pada ICS 2 midklavikular line. antara anterior dan midaxillary line. diikuti dengan Tube Thoracotomy pada ICS 5. meskipun tanpa tanda kehidupan pada tempat kejadian atau pada ED (yang terbaik bila disertai dengan short duration of CPR). 2. Lakukan Needle Thoracotomy : jarum 14G. Diagnosa 3 Kondisi yang potensial Mengancam Nyawa: • Trauma dada dan hipotensi.Indikasi Thorakotomi di ruang ED • Kehilangan darah pada ED yang tidak berespon terhadap infus kristaloid cepat • Witnessed arrest atau deteriorasi akut • Trauma penetrating dengan tanda vital atau tanda kehidupan (refleks cahaya pupil. • Trauma tumpul tanpa tanda kehidupan di ED. respon gerakan terhadap nnyeri. Haemothorax massif 2. ED thoracotomy yang tidak direkomendasikan • Trauma penetrasi non-thoracic tanpa tanda kehidupan di tempat kejadian. Catatan: sebuah simple traumatik pneumothorax jangan diacuhkan karena dapat berkembang menjadi tension pneumothorax. tutup defek dengan kassa steril. Melakukan CXR untuk mengkonfirmasi diagnosa akan menyebabkan keterlambatan dan kematian. Diagnosa didasarkan pada klinis. • Terapi segera: 1. Terapi untuk Kondisi dada yang Spesifik Tension Pneumothorax • Kunci Gambaran Diagnostik : tanda trauma dada. • Luka penetrasi pada thorax. . Berikan oksigenasi dan ventilasi yang adekuat 2. dengan merekatkan di 3 sisi untuk menghasilkan efek ‘flutter-valve’. Pneumothorax terbuka • Patofisiologi : defek dinding dada yang luas dengan adanya kesamaan tekanan intrathoracic dan tekanan atmosfer akan menyebabkan ‘sucking chest wound’. Tension pneumothorax 3. distres nafas berat dan distensi vena leher. non-agonal cardiac rhythm) pada ED. tanda pneumothorax. dan keputusan terapi sangat bergantung pada Kecurigaan yang tinggi. 2. • Poin penting: 1. Pertimbangkan 3 penyebabnya: 1. • Penatalaksanaan : 1. Tamponade pericardial • Sangat penting untuk mengatasi keadaan tersebut dalam hitungan menit Karena dapat menyebabkan kematian ! tidak ada waktu untuk melakukan pemeriksaan investigasi.

• Penatalaksanaan : 1. Flail Chest • Definisi : terjadi ketika ada 2 atau lebih tulang rusuk yang fraktur pada 2 tempat yang berbeda. Gerakan paradoksikal segment dinding dada (keadaan ini saja tidak akan menyebabkan hipoksia). Fraktur tulang rusuk ≥ 8 6. 2. Penyakit paru sebelumnya 5. ≥ 3 asosiated injuries 3. • Indikasi Early Mechanical Ventilation pada Flail Chest: 1. • Diagnosis didasarkan pada : 1. 3. Syok 2. Jangan merekatkan pada keempat sisi karena dapat menyebabkan tension pneumothorax. Nyeri pada usaha bernafas catatan : penyebab utama hipoksia pada flail chest adalah karena kontusi paru penyerta. Analgesik adekuat yang diberikan melalui IV. Catatan: Chest tube tidak boleh diinsersikan melalui luka penetrasi karena akan secara tepat mengikuti alur yang terbentuk menuju paru atau diafragma sehingga akan merusak organ tersebut atau menyebabkan perdarahan yang massif. kemudian lakukan insersi chest tube. Pastikan oksigenasi yang adekuat 2. Cedera kepala Berat 4. usia > 65 tahun Catatan : ketika penderita membutuhkan ventilatory support. terutama jika nyeri dada dapat dikurangi secara adekuat. lebih aman untuk mengaplikasikan ‘propilaksis’ sebelum kegagalan nafas yang sebenarnya terjadi.3. Distress nafas 3. Bukti eksternal adanya trauma dada 4. 4. 4. Terapi Kontroversial : Splinting flail segment dapat memperburuk ventilasi • Haemothorax Masif • Definisi : kehilangan darah > 1500 ml ke dalam cavum dada. Berikan terapi cairan dengan bijaksana. Pasang 2 jalur IV besar dan lakukan resusitasi cairan . Catatan : overload cairan harus dihindari atau cepat dikoreksi pada penderita flail chest dengan kontusio paru atau pada adult respiratory distress syndrome. Pastikan oksigenasi adekuat (berikan oksigen 100%) 2. walaupun adanya nyeri menyebabkan restriksi gerakan dinding dada. Pastikan ventilasi yang adekuat Catatan : pasien dengan isolated flail chest injury dapat ditangani tanpa support ventilatory. pada pengeluaran pertama dari chest tube • Penatalaksanaan : 1.

Trauma dada dan pulseless electrical activity 4. lakukan perikardiosentesis dengan : a.l: 1. muffled heart sound/suara jantung yang terdengar jauh. Dapat bersifat diagnostic atau terapetik. 300ml/jam pada 2 jam berikutnya atau 200 ml/jam pada 3 jam berikutnya. pembesaran jantung yang terlihat pada CXR (jarang) atau 2. instabilitas hemodinamik yang terus-menerus 6. 3. terutama jika terkait dengan perdarahan yang terus menerus. Cairan pericardial yang terlihat pada 2D Echo atau FAST (definitive) • Penatalaksanaan : 1. struktur hilar dan jantung pada luka penetrasi dada bagian anterior. Indikasi Thorakotomy (konsul TKV secepatnya): 1. pasang jalur IV ukuran besar 3. 5.• 3. Drainase darah awal > 1500 ml 2. cardiac. Berikan Cairan IV bolus 500 ml 4. Tanda Kussmaul (peningkatan neck distension selama inspirasi dan pulsus paradoksus) • Bukti lain yang menyokong diagnosa a. kasus yang membutuhkan transfusi darah persisten 4. 3. Muffled heart sound merupakan tanda yang paling sedikit terjadi pada trias Beck’s. Panduan EKG (dengan Lead EKG yang terhubung dengan jarum perikardiosentesis) b. Catatan : pikirkan kemungkinan kerusakan pembuluh darah besar. Pastikan oksigenasi yang adekuat (O2 100%) 2. periksa untuk mengetahui sumbatan. Trias Beck’s (hipotensi. Catatan : Resusitasi cairan yang agresif akan membantu mempertahankan cardiac output dan memberikan waktu untuk px. ongoing drainase > 500 ml/jam pada jam pertama. retained pneumothorax besar. Waspada terhadap penghentian mendadak dengan drainase. distensi pembuluh vena di leher) Catatan : Trias Beck’s hanya terlihat pada 50% kasus. Tamponade jantung • Diagnosa membutuhkan kecurigaan yang tinggi. Tube thoracocentesis 5. pembuluh darah besar atau bronkus utama. kecurigaan injury esophageal. transfusi darah dan koreksi koagulopati 4. Trauma dada dan hipotensi 2. 1. sebelah medial dari nipple line dan luka dada posterior medial dari scapula. Jangan melakukan tusukan . Kombinasi dari keadaan dibawah ini akan membawa kita pada kemungkinan diagnosa. Vena di leher yang mengalami distensi tidak akan didapatkan pada tamponade jantung sampai paling tidak terjadi koreksi parsial hipovolemi. Voltase EKG yang rendah (tidak lazim) atau 3. Panduan 2D Echo.

pnumothorax persistent setelah terapi • Penatalaksanaan : 1. Adanya fraktur sternum tidak dapat menjadi prediktor adanya BCI. dorongan akselerasi-deselerasi 3. krepitasi pada lapang paru yang terkena 4. berikan support vantilasi. jika diperlukan 3. compressive injuries • Tanda klinis yang mungkin. a. Lakukan terapi cairan dengan bijaksana Tracheobronchial Injuries • Sulit diketahui pada penderita trauma. trauma tumpul atau penetrasi 2. • Penyebab. 3. konsultasi TKV dini Blunt Cardiac Injury (BCI)/ Kontusi Miokard • Pertimbangan khusus : 1.l: 1. Hipoksemia • Penatalaksanaan : 1. • Manifestasi kontusio paru baisanya butuh waktu untuk timbul. secara klinis hanya ada beberapa tanda dan gejala yang reliable untuk BCI 2. penurunan suara nafas 3. a.dengan jarum tanpa panduan karena resiko iatrogenic cardiac injury sangatlah tinggi. blast injuries • tanda klinis meliputi: 1. berikan suplementasi O2 2. Kontusio Pulmonal • Trauma yang terjadi akibat rusaknya susunan jaringan paru. Haemoptysis 2. blast injury 3. . Distress respiratori 2. • Etiologi yang mungkin: 1. Tension pneumothorax 4. berikan support ventilasi 3.l: 1. Trauma penetrasi 2. kerusakan membrane alveoli dengan perdarahan dan edema pada alveolar space. Emfisema subkutaneus 3. analisa CK-MB atau cardiac troponin T juga kurang berguna dalam memprediksi keadaan ini. penderita mungkin membutuhkan lebih dari 1 buah chest tube 4. Berikan supplementasi O2 2.

Tujuan utama CXR pasien dengan kemungkinan fraktur costae adalah untuk mengeliminasi haemothorax yang terkait. serta injury organ lain. echocardiogram harus dilakukan. • Fraktur costa atas (1-3) dan fraktur Skapula 1. 3. perubahan segmen ST. triage penderita ke dalam area critical care 2. EKG yang abnormal (perubahan ST dan gelombang T) sensitive terhadap BCI. lakukan pemeriksaan EKG keputusan penanganan: 1. AV block. Catatan: Nuclear medicine studies hanya sedikit membantu jika dibandingkan dengan Echo sehingga tidak bermanfaat jika Echo telah dilakukan.• • 4. pulsasi perifer yang lemah atau negative 5. hipotensi tanpa adanya sumber perdarahan eksternal 3. 2. blunting of left aortic knuckle • Penatalaksanaan : 1. • Penderita yang selamat sampai RS mungkin mengalami contained haematoma dan secara potensial akan mengalami deteriorasi secara cepat. Haemothorax massif 4. berikan O2 3. • Telltale sign: 1. Jika EKG abnormal /disritmia. Traumatic Aortic disruption • sebagian besar penderita dengan traumatic aortic Disruption mati pada tempat kejadian. pelebaran mediastinum b. CT thorax jika memungkinkan 3. gambaran CXR yang prinsip : a. kontusio paru. Sediakan darah setidaknya 6unit : hubungi TKV dan bedah umum Fraktur Costae • Manajemen dipengaruhi oleh level dan jumlah costae yang terkena juga pada underlying visceral injuries. Catatan : banyak fraktur costae yang tidak terlihat pada CXR. Amankan ABC. Jika EKG normal. sinus takikardi yang tidak terjelaskan) px harus di-MRS-kan untuk monitoring kardiak lanjutan. trauma tumpul/penetrasi pada dada atau acceleration/deceleration injury 2. sesuai protocol ATLS 2. px dapat dipulangkan (diasumsikan bahwa tidak ada alas an lain bagi penderita untuk MRS). perubahan iskemik. Akibat dari tenaga yang besar . jika hemodinamik px tidak stabil. pneumothorax. efusi pleural left sided c. Penatalaksanaan 1.

2. Bising usus pada dada 3. Associated injuries sering terlewatkan meliputi :kontusio kardiak. Penderita berusia tua d. Vague dan bayang diafragmatik yang tidak dapat dibedakan b. MRS jika pada observasi : a. peningkatan signifikansi jika multiple. • Traumatic Diafragmatic Rupture • Indikator : 1. Plethora pada tubuh bagian atas 2. Herniasi organ abdominal ke dalam cavitas dada c. meningkatnya resiko trauma kepala dan leher. Mengeluh nyeri yang tidak dapat dihilangkan c. Penderita dispneu b. Pastikan oksigenasi 2. pembuluh darah besar 3. < 5 menit (transient force applied dan prognosis bagus) 2. Edema serebral • Penatalaksanaan : 1. Fraktur Costae bawah (10-12) : terkait dengan resiko injury pada hepar dan spleen Catatan : insersi chest tube sebagai profilaksis harus dilakukan pada semua px trauma yang diintubasi pada adanya fraktur kostae. rupture diafragmatik dan injury esophageal. Displacement NGT ke dalam cavitas dada lebih sering terjadi di sisi kiri • Diagnosa membutuhkan kecurigaan yang tinggi • Semua penderita harus dirujuk pada bedah umum untuk laparotomi Crush Injuries pada Dada • Prognosis tergantung pada aplikasi crushing force: 1. terapi associated injuries 4. Berikan ventilasi 3. MRS untuk observasi . > 5 menit (prognosis buruk) • Crush injury pada dada menyebabkan traumatic asphyxia 1.2. Memiliki preexisting lung function yang buruk. spinal cord. paru. distress nafas yang persisten atau progresif 2. gambaran CXR a. Petekiae pada tubuh bagian atas 3. Fraktur kosta simple tanpa komplikasi dapat ditangani pada rawat jalan. mortalitas sampai 35% • Fraktur Costae tengah (4-9) : 1.

Injury paru dan pleural 3. 6. Trauma Laring • Walaupun merupakan injury yang jarang terjadi. selalu pertimbangkan Subkutaneus emfisema • Etiologi: 1. • Penatalaksanaan : emfisema subkutaneus jarang membutuhkan terapi. Krepitus 2. 7. leher dan jaringan yang terlibat. Blast Injury • Tanda : 1. Fraktur yang dapat terpalpasi • Penatalaksanaan : 1. Left-side pleural effusion : tes drainase positif untuk amylase 5. Udara retrofaringeal pada x ray leher lateral 4. maka lakukan intubasi . Untuk luka penetrasi dibawah garis intraabdominal injuries. adanya cairan pada chest tube setelah darah menjadi jernih. Injury jalan nafas 2. Tangani penyebab dasarnya. jika jalan nafas px mengalami obstruksi total atau jika px berada dalam keadaan distress respiratori hebat. Pembengkakan wajah. yang dapat terjadi bersamaan dengan obstruksi jalan nafas akut. hantaman yang kuat pada bagian bawah sternum atau epigastrium dan pasien mengalami nyeri atau shock out proportion terhadap injury yang terlihat. • Px harus dirujuk ke bedah umum untuk penanganan lebih lanjut. Trauma Esofageal • Indikasi adanya trauma esophageal: 1. left pneumo atau haemothorax tanpa fraktur kosta. jangan memindahkan benda asing dari luka 2. nipple. injury esophagus dan faringeal 4. Hoarseness (suara parau) 2.Trauma penetrasi pada Dada • Yang harus diingat adalah : 1. udara mediastinum tanpa adanya pneumothorax 3. Asumsikan bahwa emfisema subkutaneus memiliki penyebab dasar pneumothorax walaupun tidak terlihat pada CXR. Sehingga tindakan insersi chest tube harus dilakukan sebelum ditempatkan pada ventilator. emfisema subkutaneus 3. Emfisema subkutaneus 2. • Diagnosis berdasarkan trias sbb: 1.

walaupun tidak disukai pada situasi ini. . 4. surgical cricothyroidotomy.2. 3. dapat menyelamatkan nyawa jika terdapat kegagalan trakeostomi. kontak spesialis THT dan ahli anestesiologi secepatnya. jika intubasi tidak berhasil dilakuakan. emergency tracheostomi merupakan indikasi.