Tugas Jurnal Dasar – Dasar Sosiologi

Konflik Suku Etnis Rohingya yang Meluas Hingga Menjadi Konflik antar Agama di Myanmar

Dosen Mata Kuliah : Kurnia Nur Fitriana, S.IP

Disusun Oleh :
Avicenna 12417144003 Ilmu Administrasi Negara 2012 (B)

Fakultas Ilmu Sosial Universitas Negeri Yogyakarta 2013

Abstraks

Konflik Etnis Rohingnya yang terjadi di Rakhime saat ini sudah menjadi konflik agama tidak hanya di wilayah Rakhime,namun telah meluas disebagian besar wilayah Myanmar. Konflik ini dipicu karena ulah beberapa pemuda Muslim Rohingnya yang memperkosa seorang gadis Buddha Rakhime. Padahal kedua etnis ini sudah lama berkonflik, dengan kejadian itu ditambah sentimensi terhadap perbedaan etnis dan agama, konflik ini terus berlanjut dan meluas sehingga jatuh banyak korban jiwa maupun materi. Pemerintah setempat dinilai belum mampu untuk menyelesaikan dan malah terkesan memihak kaum mayoritas dengan cara yang ditunjukan dalam menyikapi konflik ini. Padahal, pemerintah diharapkan menjadi elemen yang sangat penting dalam menyelesaikan konflik yang terjadi. Seharusnya pemerintah mampu menjadi mediator dan bersikap adil dalam menyelesaikan konflik yang sudah terjadi.

BAB I Pendahuluan

1. Latar Belakang
Beberapa tahun ini di media Nasional seperti media elektronik atau koran kita sering diberitakan mengenai konflik etnis yang terjadi di Myanmar, seperti yang diberitakan diwilayah itu sedang terjadi konflik agama dengan adanya tindak kekerasan fisik maupun diskriminasi yang ditujukan kepada warga muslim Rohingnya yang mendiami wilayah Rakhime,Myanmar. Akibat dari konflik ini tidak hanya berbentuk materi,namun sudah banyak korban jiwa yang berjatuhan akibat konflik ini. Anak-anak dan wanita pun tidak luput menjadi korban dari konflik ini,bagi yang selamat jiwanya pun harus kehilangan harta benda mereka,bahkan mereka harus terusir dari wilayah yang telah lama mereka diami. Parahnya,Pemerintah setempat pun seakan tidak berupaya untuk menyudahi konflik yang terjadi itu,bahkan terlihat mendukung dengan keterlibatan Angkatan Bersenjata mereka dalam tindak kekerasan terhadap Etnis Rohingnya. Dunia Barat pun yang selalu mengagung agungkan nilai Hak Asasi Manusia pun dinilai tidak aktif dalam menangani kasus ini bahkan bisa dibilang hanya diam saja. Mengapa konflik ini terjadi dan dibiarkan begitu saja bahkan sudah meluas dengan penghapusan etnis, pemerintah setempat dinilai kurang mampu untuk menyudahinya.dengan alasan apapun tindakan seperti itu tidak bisa dibenarkan dan dibiarkan.

2. Rumusan Masalah
a. Mengapa konflik antar etnis diwilayah Rakhime terjadi? b. Apakah upaya pemerintah Myanmar untuk menyelesaikan konflik yang telah berhasil?

3. Tujuan Penulisan
a. b. Mengetahui penyebab konflik antar etnis di Rakhime. Mengetahui keberhasilan pemerintah Myanmar dalam menyelesaikan konflik yang terjadi.

BAB II Pembahasan

Konflik di negara bagian Rakhime sudah berlangsung lama, awalnya konflik ini terjadi karena penolakan warga rakhime terhadap kedatangan etnis rohingya yang menetap di kawasan rakhime, masyarakat etnis rakhime menolak kedatangan etnis rohingnya karena menganggap tidak kejelasannya etnis rohingnya berasal. Pada Juni tahun lalu terjadi kerusuhan etnis di Negara Bagian Rakhine yang melibat kan kedua etnis ini. Tuduhan adanya pemerkosaan yang dilakukan oleh beberapa lelaki Muslim terhadap seorang wanita beragama Buddha menjadi pemicu yang membuat ketegangan antara kelompok Buddha Rakhine dan etnis Rohingya yang memeluk agama Islam meledak hebat. Puluhan orang telah terbunuh, ratusan rumah telah terbakar serta sedikitnya 75 ribu penduduk, sebagian besar dari etnis Rohingya, mengungsi akibat kekerasan antar-kelompok yang melanda negara bagian itu.

Kekerasan yang meluas terjadi lagi pada 21 Oktober lalu di beberapa tempat lain di Rakhine. Konflik ini membuat jumlah korban tewas akibat konflik ini membengkak hingga 140 jiwa dan jumlah pengungsi meningkat melebihi 110 ribu orang. Babak baru dari rentetan kekerasan ini tak hanya menghantam orang Rohingya tetapi juga kelompok Muslim lainnya. secara data, yang terdiri dari etnis Rohingya dan Muslim Burma setidaknya ada 5 juta jiwa. Akan tetapi di beberapa wilayah konflik jumlah ini turun drastis hanya tinggal beberapa ribu orang saja. Ada indikasi aksi-aksi ini diorganisir secara matang oleh elemen-elemen ekstrim. Sampai kini, pemerintah Myanmar belum mampu mengatasi konflik itu. Malahan dalam beberapa kasus pihak berwenang dan aparat keamanan di Rakhine menunjukan keberpihakan kepada kelompok mayoritas. Selain itu pemerintah maupun kelompok oposisi terkesan membiarkan munculnya berbagai aksi ekstrim anti Muslim yang memantik kekerasan. Perlu dicatat bahwa kelompok Rohingya sudah begitu lama dianggap paria di wilayah Asia ini. Mereka menghadapi diskriminasi berat di Myanmar dan negara tetangga Bangladesh serta hanya punya sedikit dukungan dari tempat lain walau kekerasan belakangan ini telah mendorong solidaritas dan protes dari beberapa negara Asia yang berpenduduk mayoritas Muslim seperti Indonesia. Meskipun begitu, tetap saja masalah di Rakhine yang terus memanas ini amat memprihatinkan. Situasinya amat berbahaya bagi suatu negara dengan beragam etnis dan agama seperti Myanmar. Semakin retaknya hubungan sosial antar kelompok ini tentu akan mengancam stabilitas nasional Myanmar. Pengalaman membuktikan ketegangan komunal dapat dieksploitasi dan dikipas-kipas oleh tujuan-tujuan politik. Secara khusus, ada suatu ancaman nyata kekerasan di Rakhine ini akan benar-benar menjadi pertentangan antara orang Buddha dengan orang Islam yang lebih eksplisit dengan kemungkinan melahirkan bentrokan-bentrokan serupa di wilayah Myanmar lainnya dimana kelompok minoritas Muslim bermukim. Munculnya lobi

solidaritas Buddha karena isu Rakhine ini dengan adanya demonstrasi para bhiksu dan kelompok elit suku Birma mendukung sesama pemeluk agama ini bukanlah hal yang baik. Upaya – upaya yang dilakuan untuk menyudahi konflik agama yang terjadi di Myanmar pun telah dilakukan, Presiden Myanmar telah membentuk komisi investigasi dengan mandat yang luas untuk mendalami sebab-sebab kekerasan ini dan tanggapan yang telah dilakukan serta memberi arahan bagaimana situasi ini dapat diselesaikan demi rekonsiliasi dan pembangunan sosial-ekonomi di daerah ini. Kerja komisi akan sangat penting untuk memberikan jalan bagi masa depan Negara Bagian Rakhine dan memicu refleksi nasional terhadap masalah identitas dan keberagaman di negeri banyak agama ini. Tetapi, apabila laporan akhir dari komisi ini yang diharapkan keluar dalam beberapa bulan lagi hanya dokumen mengambang yang menghindari masalah-masalah kontroversial atau jika hasilnya hanya mengekor pandangan kaum mayoritas yang partisan dan tidak kondusif bagi rekonsiliasi, semua upaya ini tidak akan memberi sumbangan banyak bagi perdamaian. Kekerasan di Negara Bagian Rakhine menjadi ujian besar bagi pemerintah Myanmar yang kini berniat mengedepankan hukum dan ketertiban tanpa kembali ke caracara otoriter masa lalu. Pemerintah Myanmar menilai tinggi jumlah warga Rohingya menjadi biang keladi konflik yang terjadi selama ini. Rencana ini dikeluarkan oleh panel penyelidik dari konflik yang melibatkan warga etnis Rohingya dengan etnis Rakhine tahun lalu. Presiden Thein Sein menunjuk 27 orang untuk bergabung dalam panel tersebut. Rekomendasi panel itu menyebutkan, Pemerintah Myanmar harus membatasi pertumbuhan dari warga Muslim Rohingya di wilayah yang kerap terjadi konflik sektarian. Adapun rekomendasi ini membuahkan kecaman dari aktivis yang menentang sikap Pemerintah Myanmar dalam caranya menangani konflik yang dialami pihak minoritas. Isi dari rekomendasi panel tersebut sudah beberapa kali ditunda. Panel tersebut diisi oleh mantan tahanan politik, warga Islam, Kristen, Hindu, dan Budha di Myanmar. Tetapi panel tersebut tidak diisi oleh perwakilan dari etnis Rohingya. Selain pengendalian pertumbuhan, rekomendasi itu juga menyebutkan penambahan pasukan Myanmar di wilayah yang rawan aksi kerusuhan. Selain mengakui adanya keterlibatan polisi dalam serangan terhadap Muslim Myanmar, rekomendasi itu turut menyebutkan bahwa etnis Budha Rakhine merasa terancam dengan pertumbuhan Muslim Myanmar yang biasa disebut Bengali.

BAB III Penutup

1. Kesimpulan

Konflik memang sering terjadi dimana ada suatu perbedaan ditempat tersebut, tapi tidak seharusnya konflik menjurus ke hal negatif dimana terjadi benturan fisik dan korban pun berjatuhan. Konflik yang terjadi di daerah Rakhime, Myanmar pun dianggap masyarakat dunia sudah sangat serius. Konflik ini terjadi karena perasaan sentimen terhadap perbedaan etnis dan agama yang mereka miliki, memang selama ini 2 hal itu sangat sensitif dan sering menjadi alasan mengapa konflik besar terjadi. Permasalahan yang terjadi di Rakhime mungkin murni tindakan kriminal yang melibatkan 3 orang pemuda Muslim Rohingya dan seorang gadis Budha dari etnis Rakhime, namun karena kedua etnis ini sudah lama berkonflik kemudian permasalahan ini meluas hingga konflik antar etnis di Rakhime khususnya,dan konflik antar agama di Myanmar pada umumnya. Sedangkan upaya pemerintah Myanmar dirasa belum mampu untuk menyelesaikan konflik ini. Masih banyak terjadi gesekan yang terjadi di kawasan Rakhime dan etnis Rohingya terpaksa mengungsi bahkan menjadi penduduk gelap di negara yang berbatasan langsung dengan Myanmar. Gerakan anti muslim dan aksi – aksi kekerasan antar umat beragama di Myanmar masih sering terjadi.

2. Saran
Memang tidak mudah untuk menyelesaikan konflik, apalagi yang terjadi disini sudah menyinggung hal yang sangat sensitif seperti masalah etnis dan agama apalagi sudah berlangsung lama dan dalam skala yang sangat besar. Konflik seperti ini sudah sering terjadi di suatu wilayah maupun negara, peran pemerintah sangat diharapkan mampu untuk menyelesaikan konflik etnis dan agama disuatu negara. Pemerintah diharapkan mampu untuk menjadi media penengah bagi pihak yang berkonflik. Pemerintah diharap adil dan tidak memihak kaum mayoritas dalam menyikapi kasus ini. Pihak – pihak yang dianggap bisa menjadi provokator terjadinya konflik ini seharusnya juga harus segera diredam agar permasalahan ini tidak berlarut – larut. Bantuan luar Negeri juga harus dimanfaatkan maksimal, seperti meminta saran kepada negara yang sudah sering menangani kasus yang sama seperti Indonesia dan masukan – masukan yang diberikan harus dilaksanakan dengan baik dan bijaksana.

3. Daftar Pustaka
http://black-marbles.blogspot.com/2012/08/kronologis-konflik-rohingya-burma.html http://demokrasiindonesia.wordpress.com/2012/07/29/kisah-tragedi-pembantaian-etnismuslim-rohingya-dari-dulu-hingga-kini/ http://drivenjive.com/?p=16537 http://www.republika.co.id/berita/internasional/asean/13/05/26/mnefha-konflik-rohingyameluas-jadi-genosida http://www.dakwatuna.com/2013/05/26/33875/genosida-konflik-antar-etnis-di-myanmarmeluas-menjadi-pembantaian-besar-besaran/#axzz2Vv93ybRl http://www.republika.co.id/berita/nasional/politik/13/04/02/mklbst-rimyanmar-berbagipengalaman-selesaikan-konflik