You are on page 1of 12

TUGAS KOMPUTER JURNAL KEBIJAKAN PUBLIK

Dosen : Kurnia Nur Fitriana, S.IP

Disusun Oleh :

AVICENNA 12417144003 ILMU ADMINISTRASI NEGARA 2012(B)

FAKULTAS ILMU SOSIAL UNIVERSITAS NEGERI YOGYAKARTA 2013

ABSTRAK
Kenaikan harga BBM yang disebabkan pemotongan subsidi yang diberikan oleh pemerintah sangat memberatkan masyarakat secara langsung. Ini terjadi karena anggaran pemerintah yang membengkak sehingga mau tidak mau pemerintah memotong subsidi yang diberikan. Banyak dampak yang terjadi dari kebijakan ini dari segi ekonomi maupun segi lainya.

BAB I Pembukaan

1. Latar Belakang

Akhir – akhir ini berita mengenai pemotongan subsidi yang dilakukan oleh pemerintah terhadap subsidi bahan bakar minyak (BBM) sangat sering di bincangkan dari mulut ke mulut maupun di media. Hal ini terjadi menurut sidang paripurna sebelumnya yang menunda kenaikan BBM pada saat itu dan DPR memberi wewenang kepada pemerintah untuk menaikan harga BBM jika dirasa sudah dibutuhkan. Saat ini pengeluaran pemerintah yang membengkak,memaksa pemerintah untuk menaikan harga BBM dengan memotong subsidi yang diberikan. Harga BBM (Premium) yang semula Rp 4500,00/liter menjadi RP 6000,00/liter dan BBM (Solar) semula Rp 4500,00/liter menjadi Rp 5500,00 / liter. Kebijakan ini tentu dirasa sangat memberatkan masyarakat secara langsung,karena BBM yang merupakan kebutuhan pokok tidak bisa di elakan dari pembelian. Kenaikan BBM juga akan mengakibatkan harga-harga barang/bahan lainya ikut melonjak karena alasan produksi dan pendistribusian yang memerlukan BBM. Tentu pemerintah dalam kebijakan ini tidak asal dan mempunyai alasan.

2. Rumusan Masalah
a. Mengapa pemerintah memotong subsidi BBM ? b. Apakah dampak kenaikan harga BBM ?

3. Tujuan

a. Mengetahui alasan pemerintah memotong subsidi BBM. b. Mengetahui dampak dibidang ekonomi karena kebijakan memotong subsidi untuk BBM.

BAB II Pembahasan

1. ISI

Alasan pemerintah menaikan harga BBM biasanya terjadi akibat krisis ekonomi dan politik yang terjadi di negara-negara penghasil minyak, mengakibatkan melambungkan harga Minyak Mentah Indonesia (ICP) kemudian berimbas kepada APBN. Kenaikan harga BBM merupakan upaya yang dilakukan pemerintah untuk menyelamatkan APBN yang banyak dihabiskan oleh subsidi. Naiknya harga minyak dunia memaksa pemerintah untuk melakukan penyesuaian terhadap harga minyak di dalam negeri. Harga minyak dunia yang melebihi dari APBN memicu membengkaknya tambahan subsidi yang harus dikeluarkan pemerintah. Kita ambil contoh, ketika harga minyak dunia mencapai harga USD100 dan asumsi harga minyak di APBN pada angka USD80 per barrel untuk nilai tersebut pemerintah harus mengeluarkan tambahan subsidi sebesar 64 Trilliun.

Dari kenaikan tersebut secara otomatis berdampak buruk untuk masyarakat yang diantaranya :
 

Harga-harga bahan pokok menjadi naik karena biaya transportasi yang naik; Biaya hidup semakin tinggi dari sandang, pangan dan papan karena juga terkena dampaknya;

Bertambahnya tingkat penganguran karena disebagian sektor industri tidak dapat meneruskan usahanya; Bertambahnya tingkat kriminalitas, akan timbul dalam pemikiran masyarakat miskin untuk bagaimana cara mempertahankan hidup berbagai cara pun dilakukan meskipun melanggar hukum (hidup untuk makan dan makan untuk hidup).

Dengan telah disahkannya APBN-P 2013 maka selanjutnya tinggal menunggu langkah Pemerintah untuk menaikan harga bahan bakar minyak (BBM) yang akan disampaikan melalui pengumuman oleh Menteri Energi Sumber Daya Mineral. Kenaikan harga BBM ini sudah barang tentu akan menjadi momok yang sangat menakutkan bagi rakyat kecil. dampak dari kenaikan harga BBM : Pertama : Kenaikan BBM sudah pasti akan di ikuti melambungnya harga bahan kebutuhan pokok, akibatnya daya beli masyarakat berkurang, awalnya rakyat miskin hanya mampu makan sehari satu kali kini mereka jadi makan satu kali untuk tiga hari sebab mereka sudah tidak mampu lagi membeli bahan kebutuhan pokok yang harganya semakin mahal. Karena rutin mereka makan satu kali untuk tiga hari, lama-lama mereka mati kelaparan, akibatnya orang miskin jadi berkurang. Kedua : Kenaikan BBM akan berdampak pada naiknya tarif angkutan umum, Rakyat miskin yang tadinya biasa naik angkutan umum, sekarang harus jalan kaki, karena dalam keadaan lapar dan haus serta pikiran stres akibat kenaikan BBM hingga tidak konsentrasi di jalan, akibatnya sering ketabrak angkutan umum yang lagi ngebut karena ngejar setoran gara-gara BBM nya naik. Pejalan kakinya pun akhirnya mati, akibatnya orang miskin jadi berkurang. Ketiga : Kenaikan BBM membuat rakyat miskin menjadi panik dan nekat, terdorong untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, mereka akhirnya berani melakukan pencurian dan perampokan, aksi pencuriannya akhirnya ketahuan oleh warga dan ditangkap, lalu digebukin massa sampai mati, akibatnya orang miskin jadi berkurang.

Keempat : Kenaikan harga BBM membuat ibu-ibu rumah tangga menjadi stress, beban hidup semakin berat. Sehingga membuat mereka frustasi tidak sanggup menanggung derita hidup yang berkepanjangan, akhirnya banyak yang kurang iman dan nekad melakukan bunuh diri, terkadang bunuh diri ini juga mengikutsertakan anak-anaknya agar terlepas juga dari penderitaan hidup didunia. Akibatnya orang miskin jadi berkurang.

Kelima : Kenaikan harga BBM ini juga berdampak naiknya harga obat generik yang selama ini menjadi andalan masyarakat tidak mampu, karena harga obat tidak terjangkau, kondisi penyakit pun, sangat sulit untuk diharapkan bisa sembuh.

Bagaimana dengan dampak ekonomi lainnya?
Jika di antara mereka yang 70% tadi bekerja untuk orang lain sebagai buruh ataupun karyawan, maka subsidi BBM akan cukup membantu meringankan permasalahan internal perusahaan atau pemilik kapital. Pihak perusahaan tidak harus banyak dipusingkan urusan kesejahteraan karyawan ataupun tuntutan untuk menaikkan upah minimum. Tentu saja kondisi tersebut akan memperkecil oportunitas biaya, sehingga akan terbuka kesempatan untuk lebih meningkatkan produktivitas usaha. Di tahun 2010 dan 2011, pemerintah selalu mengklaim telah terjadi pertumbuhan jumlah kewirausahaan di kelompok UKM setiap tahunnya. Pada tahun 2012 ini bahkan pemerintah masih mengekspos data mengenai trend pertumbuhan pelaku usaha UKM yang dianggap cukup signifikan memberikan kontribusi bagi perekonomian nasional. Pemerintah pula selalu mengklaim melalui APBN jika penerimaan dari sektor perpajakan senantiasa meningkat setiap tahun, terutama perpajakan di dalam negeri. Tidak bisa dipungkiri lagi, apabila fakta ekonomi tersebut menunjukkan apabila pemberian subsidi BBM dianggap tepat sasaran, sesuai dengan definisi maupun kriterianya. Perlu diketahui, apabila komoditas bahan bakar memiliki eksternalitas yang termasuk cukup luas dalam perekonomian (Coady, et al, 2007). Pemakaian (konsumsi) bahan bakar tidak bisa dipungkiri lagi menjadi motor penggerak perekonomian maupun pertumbuhannya. Industri otomotif akan semakin tumbuh dan berkembang yang kemudian diikuti dengan industri komponen. Belum pula ditambahkan eksternalitasnya dengan keberadaan kelompok

jasa perawatan dan perbaikan. Bisa dibayangkan dampaknya jika dari eksternalitas semacam ini kemudian dihubungkan dengan kapasitas penyerapan tenaga kerja. Keberadaan industri otomotif pula terintegrasi dengan sektor jasa keuangan, seperti perbankan maupun lembaga pembiayaan (financing). Kelembagaan perbankan saat ini pun telah menyediakan layanan pembiayaan khusus untuk kepemilikan kendaraan bermotor. Jika dibandingkan dengan periode sebelum reformasi tahun 1998, maka perkembangan eksternalitas dari konsumsi BBM di Indonesia jauh lebih terintegrasi dan semakin melebar. Tentu saja, akibat semakin meluasnya dampak tersebut mendorong dilakukannya pembangunan infrastruktur seperti jalan raya, jalan tol, dan jembatan penyeberangan.

BAB III Penutup
1. Kesimpulan
Naiknya harga BBM yang diakibatkan adanya krisis yang terjadi di negara-negara penghasil minyak membuat harga minyak didunia naik. Hal ini berimbas kepada APBN pemerintah yang melambung, menurut pemerintah jika subsidi tidak dipotong, dampaknya akan buruk bagi APBN. Pemerintah mengambil langkah ini untuk menyelamatkan APBN karena selama ini dana APBN dihabiskan untuk subsidi minyak (BBM). Dampak yang sangat terlihat dari kenaikan ini adalah melambungnya kebutuhan – kebutuhan pokok. Hal ini jelas menambah kesengsaraan masyarakat secara langsung. Tetapi dalam kebijakan ini, pemerintah sudah jelas memikirkannya dengan matang. Pemerintah juga mengeluarkan kebijakan BLSM untuk untuk membantu masyarakat dari segi ekonomi. Tidak ada pemerintah yang berniat buruk kepada rakyat – rakyatnya.

2. Saran

Jika alasan pemerintah memotong dana subsidi BBM untuk menyelamatkan APBN, maka pemerintah harus berbenah dengan menaikkan infrastruktur lainya seperti di bidang pendidikan,kesehatan dll. BLSM yang diberikan sekitar Rp 150.000,00 /bulan dinilai politisasi dan seakan “membeli” orang miskin. Maka dari itu, sebaiknya dana subsidi yang dipotong itu dipakai untuk menaikan infrastruktur – infrastruktur yang dirasa selama ini sangat tidak memadai.

3. Daftar Pustaka

http://leo4kusuma.blogspot.com/2012/03/meluruskan-pandangan-salahsasaran.html#.UcPTT-xZinw http://politik.kompasiana.com/2013/06/18/cerita-tragis-anggota-dpr-terlibatpembunuhan-massal-569844.html http://dhekkazone.blogspot.com/2012/03/alasan-pemerintah-menaikan-hargabbm.html

BAB III Penutup