You are on page 1of 4

*GULA REDUKSI* Gula reduksi adalah monosakarida yang mempunyai kemampuan untuk mereduksi suatu senyawa.

Sifat pereduksi dari suatu gula ditentukan oleh ada tidaknya gugus hidroksil bebas yang reaktif. Prinsip analisanya berdasarkan pada monosakarida yang memiliki kemampuan untuk mereduksi suatu senyawa. Adanya polimerisasi monosakarida mempengaruhi sifat mereduksinya (Baedhowie, 1982). Pada praktikum kali ini dilakukan penetapan karboohidrat melalui penetapan kadar gula reduksi dengan metode… Penentuan gula reduksi dengan metode Luff-Schoorl ditentukan bukan kuprooksidanya yang mengendap tetapi dengan menentukan kuprooksida dalam larutan sebelum direaksikan dengan gula reduksi sesudah reaksi dengan sample gula reduksi yang dititrasi dengan Na-Thiosulfat. Selisihnya merupaka kadar gula reduksi. Reaksi yang terjadi selama penentuan karbohidrat dengan cara LuffSchoorl adalah mula-mula kuprooksida yang ada dalam reagen akan membebaskan Iod dari garam KI. Banyaknya iod dapat diketahui dengan titrasi menggunakan Na-Thiosulfat. Untuk mengetahui bahwa titrasi sudah cukup maka diperlukan indicator amilum. Apabila larutan berubah warna dari biru menjadi putih berarti titrasi sudah selesai. Selisih banyaknya titrasi blanko dan sample dan setelah disesuaikan dengan tabel yang menggambarkan hubungan banyaknya Na-Thiosulfat dengan banyaknya gula reduksi (Sudarmadji, 2000). Reaksi yang terjadi adalah : R – COOH + CuO Cu2O + R – COOH Cu2O + arsennomolybdat molybdine blue Untuk menentukan kadar gula reduksi, pertama- tama ilakukan preparasi sample. Sebelum dianalisa bahan dipisahkan atau dikupas terlebih dahulu untuk membebaskan bahan dari zat pencampur. Pertama-tama diambil 1 gr sampel dan dimasukkan ke dalam beaker glass. Kemudian tambahkan aquades sebanyak 75 ml untuk melarutkan bahan dan untuk mempermudah ekstraksi gula reduksi dan stirer selama 15’ agar larutan benar-benar tercampur dan homogen. Tambahkan 1 gr CaCO3 agar selama penghilangan zat-zat pencampur tidak terjadi inversi dan hidrolisa dari sukrosa oleh asam-asam organik yang ada dalam bahan. Kemudian panaskan selama 30’ untuk melarutkan asam-asam organik yang terdapat dalam sampel dan juga mempercepat terjadinya reaksi. Dinginkan dan saring sehingga diperoleh filtrat. Tambahkan BaOH untuk memisahkan endapan dan cairan dan ZnSO4 untuk menjernihkan.kemudian saring dan tera sebanyak 100 ml sampai diperoleh filtrate sampel. Beberapa perlakuan dalam penetapan gula reduksi berdasarkan metode ini adalah dengan menyiapkan 3 tabung dengan jumlah volume sampel yang berbeda-beda. Ambil masing-masing (25µl, 50µl dan 75µl) dan tambahkan 1 ml Nelson (25 A + 1B) yang berfungsi sebagai oksidator yang dapat mengalami reduksi dari kuprioksida dengan gula reduksi menjadi kuprooksida yang terbentuk ekuivalen dengan banyaknya gula reduksi yan ada dan panaskan selama 20’. Pemenasan berfungsi untuk mempercepat terjadinya reaksi. Setelah itu dinginkan dan tambahkan 1 ml arsennomolybdat dan aquades hingga 10 ml. Hasil reaksi dengan Arsennomolybdat akan mengalami reaksi menjadi molybdine blue yang membentuk senyawa kompleks warna biru. Tambahkan aquades untuk melarutkan sampel. Kemudian vortex dan absorbansi pada panjang gelombang 540 nm yang merupakan panjang gelombang optimum sampel tersebut. Selain itu juga dibuat kurva standart yaitu dengan cara menggunakan larutan glukosa standart dengan volime pengambilan 0 – 900 µl, kemudian ditambah dengan 1 ml reagen Nelson lalu dipanaskan selama 20 menit. Setelah dingin, kemudian ditambah denga arsenomolybdat sebanyak 1 ml dan ditambah dengan aquadest hingga 10 ml. Kemudian divortex dan diukur absorbansinya pada panjang 540 nm. Kurva

Selanjutnya diperoleh persamaan linier sebagai persamaan kurva standart yang dapat digunakan untuk menentukan kadar gula reduksi dan kadar pati. . Kurva standart yang diperoleh merupakan hubungan antara nilai absorbansi larutan glukosa sebagai sumbu Y dan volume dalam mg glukosa sebagai sumbu X.standart yang diperoleh mempunyai tujuan yaitu untuk mengetahui besarnya konsentrasi sample dengan mudah.

diusahakan larutan mendidih dalam waktu 3 menit dan biarkan mendidih selama10 menit. maka hasil titrasi akanmenjadi lebih rendah daripada sebenarnya. sampel dinetralkan denganlarutan NaOH 60%. Kemudian ditambahkan 5 ml Pb-asetat 5% dandikocok. Sampel yang dipergunakandalam praktikum ini adalah tepung sorgum dan tepung beras.+ H+4HOI + S2O3= + H2O 2SO4= + 4I. Gula reduksi adalah gula yangdapat mereduksi zat lain. Agar tidak terjadi pengendapan seluruh Cu 3+ yang tereduksi menjadi Cu + sehingga tidak adakelebihan Cu 2+ . Tujuan penambahan Pb-asetat adalah sebagai larutan penjernih danmengendapkan asam-asam organik. hal ini dimaksudkan agar proses reduksi berjalan sempurna. Sampel yangdipakai pertama-tama ditimbang sebanyak 2. Hidrolisis pada sampel dapat memisahkankarbohidrat dalam sampel.Larutan tersebut direfluks dengan tujuan untuk menguapkan senyawa-senyawa volatil namun tidak mengurangi volume larutan. Penambahan HCl dimaksudkan untuk menghidrolisis karbohidrat. Larutan luff schrool akan bereaksi dengansampel yang mengandung gula pereduksi:R ± COH + CuO Cu2O + R ± COOHSeharusnya campuran tersebut ditambahkan batu didih untuk mencegahterjadinya letupan (bumping). larutan A diambil 50 ml dan masukkanke labu ukur.+ 6H+Setelah dinetralkan sampel diencerkan kembali hingga volume 100 ml dandihasilkan larutan B.Dari larutan A. Dalam pengujian karbohidrat dengan metode luff schrool ini pH larutan harusdiperhatikan dengan baik.+ 4H+ 2I2 + 2H2OSedangkan apabila pH terlalu tinggi (terlalu basa). karena pada pH tinggi akan terjadiresiko kesalahan. Gula pereduksi biasanya golongan monosakarida. sampai sampel dan campuran didalamnya netral.Polimer karbohidrat sulit untuk bereaksi sehingga dengan penambahan asam. campuran sampel dan HCldipanaskan selama 30 menit.Untuk menentukan kadar gula total.O2 + 4I. Proses refluks. karena pH yang terlalu rendah (terlalu asam) akanmenyebabkan hasil titrasi menjadi lebih tinggi dari sebenarnya. Kemudian ditambahkan 5 tetes metil orange sebagai indikator dan 20 mL HCl 4N. Larutansudah netral dengan ditandai perubahan warna menjadi kuningorange. Halini disebabkan oleh golongan monosakarida mengandung gugus aldehid dangugus keton yang aktif mereduksi senyawa lain. Kemudian larutan B dipipet sebanyak 25 ml danditambahkan larutan luff schoorl. Sampel dikocok dan disaringkemudian diambil filtratnya sebanyak 50 ml. karena terjadireaksi oksidasi ion iodide menjadi I2.Metode luff schrool merupakan salah satu metode yang dapat digunakandalam penentuan kadar karbohidrat secara kimiawi. Selanjutnya sampel dievaporasisampai volume sampel setengah dari volume awal. dan Cudapat tereduksi dalam waktu kurang lebih 10 menit. bisa ditentukan kadar gula total dan kadar gula reduksinya. Kemudian sampel diencerkanmenjadi 100 ml dan dihasilkan larutan A. yaitu terjadinya reaksi I2 yang terbentuk dengan air (hidrolisis). Sampel yang telah ditimbangdimasukkan ke dalam labu ukur 250 ml kemudian ditambahkan akuades 50 mluntuk melarutkan sampel. Sampel diencerkan denganakuades sampai tanda batas labu ukur yaitu 250 ml.5 g. Setelah ditambahkan HCl. Setelah dipanaskan.I2 + H2O HOI + I. Sedangkan kadar gula reduksi adalahkandungan gula pereduksi dalam bahan pangan. polimer akan terpecah menjadi monomer-monomer yang akan lebih mudah untuk bereaksi dengan senyawa lain.Kadar gula total adalah kandungan gula keseluruhan dalam suatu bahan pangan baik monosakarida maupun oligosakarida. Kemudian ditambahkan 5ml Na phospat 5%dengan tujuan untuk mengatasi kelebihan Pb-asetat.

564% dan 7.yang dititrasi maka larutan harus mendidih atau diusahakan mendidih dalam waktu 3 menit. Titrasi cepat dilakukanuntuk menghindari penguapan KI.6032% . Penentuan kadar gula total dan gula reduksi ini meggunakan blangko yaitu pengujian denganmetode luff schoorl namun tanpa sampel. Reaksi tersebut ditandai dengan timbulnya buih dan warna larutan menjadi coklat.Setelah campuran dingin kemudian ditambahkan KI 30% sebanyak 10 mLdan 25 ml H 2 SO 4 6N perlahan-lahan. Penambahan larutan-larutan ini akanmenimbulkan reaksi antara kuprioksida menjadi CuSO 4 dengan H 2 SO 4 . hal ini dilakukan karenaapabila dilakukan pada awal titrasi maka amilum dapat membungkus iod danmengakibatkan warna titik akhir menjadi tidak terlihat tajam. larutan tidak cepat-cepat di titrasi sehingga hasil yang didapat gagal. Maka berdasarkan praktikum dan perhitungan.Indikator yang dipergunakan adalah amilum 1%. kadar gula total dalam sampel tepung sorgum dan tepung berasadalah 7.1 N. Penambahan indikator amilumdilakukan setelah campuran mendekati titik akhir titrasi. danCuSO 4 tersebut bereaksi dengan KI. Campuran tersebut kemudian didinginkan dalamair agar pendinginan berlangsung cepat. Larutan tersebut kemudian dititrasi cepatdengan menggunakan larutan tio sulfat (Na 2 S 2 O 3 ) 0. Namun hal yang terjadi adalah setelahdirefluks.