You are on page 1of 14

BAB I PENDAHULUAN

A.Latar Belakang Masalah. Khitan perempuan merupakan bagian dari syari’at Islam, yang sudah dilakukan sejak zaman Nabi Ibrahim As. Praktek khitan ini telah dilakukan oleh umat Islam dari generasi ke generasi. khitan perempuan yang sudah menjadi bagian dari syari’at Islam tersebut masih menjadi perdebatan di antara ulama mazhab. Perdebatan tersebut menjadikan hukum khitan perempuan bermacam-macam yaitu wajib, sunnah dan juga hanya di pandang sebagai kehormatan1. Berdasarkan penegasan syari’at Islam terhadap khitan

perempuan menggerakkan umat Islam untuk melakukan praktek khitan tersebut. Hal ini tentunya dalam rangka praktek ibadah yang mengharapkan imbalan pahala dari Allah SWT. Secara tegas khitan perempuan diyakini merupakan bagian dari ragam ibadah yang disyari’atkan Allah melalui nabi-Nya. Ironisnya, pada tahun 2008 Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) yang merupakan lembaga tertinggi Internasional mengeluarkan pernyataan yang berisikan larangan terhadap praktek khitan perempuan. Larangannya tersebut dikeluarkan karena desakan dari kalangan United Nations Children’s Fund (UNICEF), World Health Organization (WHO), dan pihak lainnya2 yang menyuarakan bahwa
Wahbah az- Zuhaili, al-Fiqh al-Islami wa Adillatuhu,(Damaskus : Daar alFikr al-Islami) Jilid III, hal. 341-342, Ahmad bin Abd Halim bin Taimiyyah,Fatawa an-Nisa’, (Beirut : Daar al-Kitab al-Ilmiyyah),hal .52, Fatawa Kibar Ulama al-Azhar as-Syarif : Seputar Khitan Perempuan, hal. 42-43. UNICEF didirikan oleh Majelis Umum PBB pada 11 Desember 1946. Bermarkas besar di Kota New York, WHO didirikan oleh PBB pada 7 April 1948,
2 1

khitan perempuan merupakan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang akan memberikan dampak psikis negative dan bahkan dapat berujung pada kematian3. Himbauan perserikatan bangsa-bangsa (PBB) tersebut

memberikan dampak yang besar terhadap beberapa negaraneraga Islam di dunia termasuk Indonesia, yaitu dengan melakukan pelarangan terhadap praktek khitan perempuan. Di Mesir pada tahun 2003 telah melakukan survey dan mendapat informasi sebanyak 61% wanita tidak akan mengkhitan anak perempuan mereka. Bahkan, studi lain di Mesir di antara mahasiswa kedokteran melaporkan bahwa 72-78% dari mahasiswa kedokteran menentang khitan perempuan . Di Sudan sebuah undang-undang disahkan pada bulan November 2008 yang melarang khitan perempuan di negara bagian Kordofan . Di Indonesia pelarangan khitan perempuan juga sempat menjadi larangan dengan terbitnya surat edaran Depkes RI Nomor HK 00.07.1.31047. Terbitnya surat edaran ini membuat banyak kalangan organisasi masyarakat menjadi resah. Sebab, di dalam surat tersebut dikatakan bahwa sunat perempuan tidak bermanfaat
sejak 1997 banyak usaha telah dilakukan untuk melawan khitan alat kelamin perempuan, melalui penelitian untuk menghasilkan bukti lebih lanjut yang untuk intervensi dasar, melalui bekerja dengan masyarakat, melalui advokasi dan dengan memberikan bantuan hukum. Kemajuan telah dibuat baik internasional dan lokal. Lebih badan PBB yang terlibat badan perjanjian monitoring hak asasi manusia dan resolusi internasional telah mengutuk praktek; kerangka hukum telah meningkat di banyak negara, dan dukungan politik untuk mengakhiri khitan alat kelamin perempuan. Yang paling signifikan, di beberapa negara prevalensi khitan perempuan telah menurun, dan peningkatan jumlah perempuan dan lakilaki dalam masyarakat yang mempraktekkannya adalah menyatakan dukungan mereka untuk ditinggalkan.
3 4 5 5 4

Lampiran press reales PBB

Diakase dari http://www.who.int/bulletin/volumes/86/4/07-042093/en/, pada tanggal 24 februari 2012 pukul 14,00 Diakses dari http://www.ippf.org/en/News/Intlnews/SudanIttakesmorethanalawtostopthecut.ht m, pada tanggal 24 februari 2012 pukul 14,00.

bagi

kesehatan

namun

justru

merugikan

dan

menyakitkan

sehingga tenaga medis tidak boleh membantu melakukan praktik tersebut. Akhirnya pelarangan itu mendapat respon yang sangat keras dari Majelis Ulama Indonesia (MUI) dengan menerbitkan Fatwa Nomor 9A Tahun 2008. Menurut MUI, khitan bagi perempuan adalah makrumah (memuliakan) dan pelarangan khitan bagi perempuan dianggap bertentangan dengan syiar Islam. Akirnya, Kementerian Kesehatan merespon fatwa MUI itu dan mengeluarkan Peraturan Menkes Nomor 1636 Tahun 2010 yang menyetujui dan mendorong pelaksanaan khitan perempuan. Permenkes ini bahkan merinci tahap demi tahap yang harus dilakukan agar praktik sunat bagi perempuan dilakukan dalam rangka perlindungan perempuan dilakukan sesuai dengan ketentuan agama, standar pelayanan, serta standar profesi untuk menjamin keamanan dan keselamatan perempuan yang disunat. Akan tetapi fatwa Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 9A tahun 2008, bertentangan dengan keputusan Daar Ifta’ Mesir yang di terbitkan pada tahun 2008. Fatwa tersebut menyatakan bahwa, khitan khitan perempuan bukanlah merupakan dari bagian syari’at Islam akan tetapi hanya bagian dari tradisi. Sehingga penetuan hukumnya merujuk kepada kandungan manfaat atau bahaya yang ditimbulkannya. Dewasa ini dunia medis telah membuktikan bahwa khitan perempuan lebih banyak menimbulkan bahaya, maka khitan bagi perempuan dinyatakan haram untuk dilaksanakan6. Melihat kedua fatwa diatas saling bertentangan dalam penentuan hukum khitan perempuan. Kedua institusi keagamaan tersebut merupakan lembaga otoritatif dalam mengeluarkan fatwa pada masing-masing negara, ditambah lagi kedua lembaga tersebut terdiri dari para Ulama yang diakui memiliki pemahaman
6

http://www.dar-alifta.org/Viewstatement.aspx?100&text=‫ختان الاناث‬

agama Islam yang mendalam. Tentunya kedua lembaga melakukan istimbatul ahkam berdasarkan kepada Al-qur’an dan hadits yang menjadi landasan hukum Islam. Perbedaan fatwa diatas penting untuk diketahui dasar dan penyebabnya melalui pembahasan dan analisa yang objektif sehingga dapat dipahami hukum khitan perempuan secara lebih benar dan utuh. Agar umat Islam tidak berada dalam kebingungan ketika berhadapan dengan kedua fatwa dari Majelis Ulama dari kedua Negara. Sepanjang pengamatan penulis, belum ada skripsi atau karya ilmiah lainnya yang membahas mengenai perbandingan fatwa tentang khitan perempuan yang dikeluarkan oleh Daar al-Ifta’ Mesir dan Mejelis Ulama Indonesia. Hal ini menjadi latar pemikiran penulisuntuk mengangkat kajian ini dalam bentuk skripsi yang berjudul Indonesia “Studi dan Perbandingan Daar al-Ifta’ Antara Mesir Fatwa Majelis Hukum Ulama Khitan Tentang

Perempuan”.

B.Rumusan Masalah. Berdasarkan latar belakang diatas, maka disusun rumusan masalah sebagai berikut: 1. Bagaimana analisis Majelis Ulama Indonesia dalam melakukan istimbatul ahkam terhadap khitan perempuan ? 2. Bagaimana analisis Dar al-Ifta’ Mesir dalam melakukan istimbatul ahkam terhadap khitan perempuan ? 3. Pendapat manakah yang terpilih (mukhtar) ?

C.Tujuan Penelitian. Berdasarkan rumusan masalah di atas, tujuan yang ingin dicapai dalam penelitian ini adalah: 1. Untuk mengetahui analisis Majelis Ulama Indonesia dalam melakukan istimbatul ahkam terhadap khitan perempuan. 2. Untuk mengetahui Dar al-Ifta’ Mesir dalam melakukan istimbatul ahkam terhadap khitan perempuan. 3. Untuk mengetahui pendapat manakah yang mukhtar (rajih) dalam masalah ini. D. Manfaat Penelitian Penelitian ini, dapat memberikan manfaat bagi banyak pihak: 1. Secara Teoritis a. Memberikan sumbangan akademis kepada Fakultas Syari'ah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara khususnya penerapan ilmu yang sudah didapat dari kegiatan perkuliahan. b. Dapat digunakan sebagai pembanding untuk penelitian serupa dimasa yang akan datang serta dapat dikembangkan lebih lanjut demi mendapatkan hasil yang sesuai dengan perkembangan zaman. c. Memberikan wawasan tentang hukum khitan perempuan bagi civitas akademik, peneliti, alim ulama dan setiap yang memiliki kepentingan terhadap penelitian ini. 2. Secara Praktis a. Untuk memenuhi persyaratan dalam memperoleh gelar Sarjana Hukum Islam (SHI) pada Fakultas Syari’ah Institut Agama Islam Negeri Sumatera Utara Medan. b. Memberikan masukan pemikiran bagi masyarakat umum, pihak medis serta pihak eksekutif lembaga negara berkenaan dengan hukum khitan perempuan.

E. Kerangka teoritis. Penelitian ini memfokuskan diri pada proses istimbatul ahkam (pengambilan hukum) dari dalil-dalil syara’ yang berkenaan dengan khitan perempuan dalam Islam. Untuk memfokuskan bahasan dan analisa mengacu kepada ruang lingkup istimbatul ahkam dan kritik hadits. Hal ini disebabkan karena dalil tentang khitan perempuan bersumber dari hadits. Selanjutnya akan dijelaskan kerangka teori yang megusung analisis pada penelitian ini.

1. Istimbat al-ahkam Sebelum penulis membahas tentang metodologi menetapkan sebuah hukum, penulis mengemukakan dalam sekilas

tentang dalil-dalil syara‟. Dalil menurut bahasa ialah : sesuatu yang menunjukkan hal-hal yang dapat ditanggap secara indrawi atau ditanggap secara ma’nawi. Sedangkan menurut istilah para ahli Ushul Fiqh pengertian dalil itu ialah: sesuatu yang dipergunakan sebagai petunjuk pandangan yang sehat untuk menetapkan hukum syara‟ tentang amal perbuatan manusia secara qath’i (pasti) atau zhanni (dugaan keras). Adilatul al-Ahkam merupakan dasar-dasar hukum. Istilah lain adalah ushul al-ahkam, dapat juga disamakan dengan mashadir al-tasri’iyatu li al-ahkam. Istilah-istilah tersebut dapat diartikan dengan sumber-sumber pembuatan hukum. Menurut jumhur (kebanyakan) ahli Ushul al-Fiqh membagi dalil itu kepada dua bagian, yaitu : a. Dalil Qath’i. Yang termasuk ke dalam kelompok ini adalah AlQur‟an dan hadits-hadits mutawatir. b. Dalil Zhanni. Yang termasuk dalam kelompok ini adalah hadits ahad dan selainnya seperti perkataan sahabat7.
Mukhtar Yahya, Dasar-Dasar Pembinaan Hukum Fiqh Islami , PT. AlMa‟rif, Bandung, 1986. h. 27.
7

Sumber-sumber hukum dalam ajaran Islam banyak. Dari jumlah yang banyak tersebut ada sebahagian yang telah disepakati oleh para ahli Ushul Fiqh dan ada pula sebahagian yang belum disepakati. Dalil-dalil syara‟ yang telah disepakati tersebut ada 4 macam. Mereka juga telah sepakat bahwa dalil-dalil tersebut adalah sebagai alat istidlal (menetapkan dalil suatu peristiwa). Disamping mereka telah sepakat tentang tertib jenjang dalam beristidlal dari dalil-dalil tersebut. Dalil-dalil syara’ yang telah disepakati tersebut adalah sebagai berikut: 1. Al-Qur‟an 2. Al-Sunnah 3. Al-Ijma‟ 4. Al-Qiyas. Keharusan berdalil dengan 4 macam dalil hukum tersebut adalah firman Allah QS.An-Nisa’ 59 : “Hai orang-orang yang beriman! taatilah Allah dan taatilah Rasul dan orang-orang yang memegang kekuasaan di antara kamu. Kemudian jika kamu mempertengkarkan sesuatu kembalikanlah hal itu kepada Allah dan RasulNya, sekiranya kamu benar-benar mengimankan Allah dan hari kemudian. Yang demikian itu adalah lebih utama dan lebih baik akibatnya.” Perintah untuk mengikuti Allah dan Rasul-Nya adalah perintah untuk mengikuti Al-Qur’an dan al-Sunnah. Sedangkan perintah untuk mentaati orang yang memegang kekuasaan ialah perintah untuk mengikuti hukum-hukum dan ketentuan-ketentuan yang dibuat dan disetujui oleh badan-badan hukum yang mempunyai kekuasaan membuat undang-undang dari golongan kaum muslim. Adapun untuk memulangkan perkara yang dipertengkarkan kepada Allah dan Rasul-Nya adalah perintah untuk menggunakan analogi

(Qiyas), selama tidak ada nash-nash Al-Qur‟an, nash-nash alHadits, dan Ijma’. Dikatakan demikian karena Qiyas itu menganalogikan sesuatu kejadian yang tidak ada nashnya dengan sesuatu kejadian yang sudah ada hukumnya di dalam nash. Hal tersebut dapat dilaksanakan bila ada persamaan ilat hukum pada kedua kejadian itu8. Pada dasarnya, menurut al-Syathibi, dalil-dalil syari‟at itu hanya terbatas pada macam pertama (Al-Qur’an dan al-Hadits). Karena itu kami tidak menetapkan dalil macam yang kedua semata-mata dengan akal, tetapi juga dengan dalil pertama, karena atas dasar dalil yang pertamalah dibenarkan berpegang kepada dalil macam kedua, dengan demikian, berpegang kepada Qiyas dan Ijma’ berarti juga berpegang kepada Dalam beristidlal harus dengan tertib jenjang. Maksudnya dalam ber istidlal dari AlQur’an, al-Sunnah, al-Ijma’ dan al-Qiyas harus berurutan; yang pertama Al-Quran, yang kedua al-Sunnah, yang ketiga al-Ijma’, dan yang keempat al-Qiyas. Apabila terdapat suatu kejadian yang memerlukan ketetapan hukum, maka pertama-tama hendaklah dicari lebih dahulu di dalam Al-Qur‟an. Bila ketetapan hukumnya sudah ada dalam Al-quran, ditetapkanlah sesuai dengan yang ditunjuk oleh ayat Al-Qur‟an itu. Akan tetapi apabila ketetapan hukumnya tidak ditemukan di dalam Al-Qur‟an barulah beralih kepada meniliti al-Sunnah. Bila ditemukan hukumnya dalam alSunnah, ditetapkan menurut petunjuk al-Sunnah itu. Jika tidak ada nash al-Sunnah yang dapat dijadikan landasan untuk menetapkan hukumnya, beralih pula pada tahap meneliti Ijma’ para mujthahidin. Kalau ada ditemukan, maka Ijma’ itulah sebagai landasan hukumnya. Bila Ijma’ para mujthahid dalam masalah tersebut tidak ditemukan, maka hendaknya berusaha sungguhsungguh
8

(ijtihad)

dengan

jalan

menganalogkannya

Ibid. h. 27.

(mengkiyaskannya) kepada peristiwa yang sejenis yang telah ada nashnya. 30 Dasar hukum keharusan menertibkan jenjang dalam beristidlal dengan empat macam dalil hukum tersebut diatas ialah sabda Rasulullah Saw. Dalam bentuk dialog dengan Mua‟zd bin Jabal sesaat dia dilantik sebagai penguasa untuk negeri Yaman. Sabda beliau tersebut adalah sebagai berikut : Artinya : “Bagaimana kamu memutusi perkara yang dikemukakan padamu? Kuhukumi dengan kitab Allah, jawabannya, “jika kamu tidak mendapatkannya di dalam kitab Allah, lantas bagaimana?, sambung Rasulullah. Dengan Sunnah Rasulullah, lalu bagaimana?, ujarnya. Jika tidak kamu temukan dalam Sunnah Rasulullah, lalu bagaimana? tanya Rasulullah lebih lanjut. Aku akan menggunakan ijtihad pikiranku dan aku tidak akan meninggalkannya jawabnya dengan tegas. Rasulullah Saw lalu menepuk dadanya seraya memuji, katanya: Alhamdulillah, Allah telah memberi taufiq kepada utusan Rasulullah sesuai dengan apa yang diridhai Allah dan Rasul-Nya.”Dengan demikian jelaslah bahwa dalam beristidlal haruslah dengan tertib jenjang; Al-Qur‟an kemudian Al-Hadits kemudian, Al-Ijma‟ dan terakhir Qiyas. 2. Kritik Hadits. Hadits merupakan sumber kedua setelah al-qur’an dalam pengambilan hukum. Begitu pentingnya kedudukan hadits dalam Islam, maka sangat perlu untuk menela’ah benar (shahih) atau tidaknya hadits yang akan dijadikan landasan hukum. Apabila menetapkan hukum berdasarkan hadits yang tidak shahih, maka tentunya kegiatan ibadah akan menjadi salah karena berdasarkan dari suatu pernyataan yang tiadk benar. Untuk menentukan shahih atau tidaknya sebuah hadits para ulama mengembangkan disiplin keilmuan yang dikenal dengan

kritik hadits yang mencakup kritik sanad dan kritik matan. Pertama, kritik sanad adalah analisis terhadap para perawi hadits. Menurut Imam Nawawi, apabila sanad suatu hadits berkualitas shahih maka hadits tersebut dapat diterima, namun apabila sanadnya tidak shahih maka hadits tersebut harus ditinggalkan9. Sanad suatu hadits baru bisa dikatakan shahih dan diterima (maqbul) sebagai dalilapabila telah memenuhi syarat-syarat berikut : 1) bersambung (muttashil), 2) perawinya adil, 3) dhabith, 4) tidak syadz, dan 5) tidak ber-‘illat.
10

Kedua, kritik matan adalah analisis terhadap kandungan (isi) hadits. Penelitian dari segi kandungan hadits memerlukan pendekatan ilmu pengetahuan (akal) dan sejarah, serta prinsipprinsip pokok ajaran Islam. Oleh karenanya, keshahihan matan hadits dapat dilihat dari sisi ilmu pengetahuan, sejarah dan perinsip-prinsip pokok ajaran Islam, disamping dari sisi bahasa. Pada umunya, dalam penelitian matan dilakukan

perbandingan-perbandingan, sperti perbandingan hadits dengan alqur’an, hadits dengan hadits, hadits dengan peristiwa atau kenyataan sejarah, ilmu pengetahuan atau akal, dan dengan yang lainnya11. Dalam melakukan kritik matan, para Ulama hadits mengemukakan tujuh kaidah sebagai berikut12 : a) Perbandingan hadits dengan Al-qur’an.

an-Nawawi, Shahih Muslim bi Syarah an-Nawawi (Mesir : al-Matba’ah alMisriyyah, 1924), juz 1, h.88 Ibn as-Shalah, ‘Ulumu al-Hadis, Ed.Nur al-Din ‘Atr (Madinah : alMaktabat al-‘Ilmiyyah, Cet.kedua, 1972), hal.10 al-Jawabi, Juhud al-Muhaddisin fi Naqd Matan al-Hadit al-Nabawi alSyarif (Tunis : Muassasat ‘Abd al-Karim ‘Abd Allah, 1991), hal. 456. Nawir Yuslem, Ulumul Hadis, (Jakarta : PT. Mutiara Sumber Widya, Cet. Kedua, 2003), hal. 365-387
12 11 10

9

b) Perbandingan beberapa riwayat tentang suatu hadits, yaitu perbandingan antara satu riwayat dengan dengan riwayat lainnya. c) Perbandingan antara matan suatu hadits dengan hadits lainnya. d) Perbandingan antara matan suatu hadits dengan berbagai kejadian yang diterima akal sehat, pengamatan panca indera atau berbagai peristiwa sejarah. e) Kritik hadits yang tidak menyerupai kalam nabi. f) Kritik hadits yang bertentangan dengan dasar-dasar syari’at dan kaidah-kaidah yang telah tetap dan baku. g) Kritik hadits yang mengandung hal-hal yang mungkar atau mustahil. Hadits-hadits diatas. tentang khitan perempuan akan diteliti

keshahihan matannya dengan mengacu kepada kaidah-kaidah

F. Metodologi Penelitian Untuk memudahkan penulis dalam menyelesaikan karya ilmiah ini, maka penulis menggunakan metode berikut: 1. Penentuan Jenis Data Dalam skripsi ini data yang diteliti adalah data yang berkaitan dengan objek yang dikaji, yaitu mengenai permasalahan hukum khitan perempuan berdasarkan Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Dar al-Ifta’ Mesir. 2. Sumber Data Sumber data penelitian dapat diklasifikasikan kepada:

a. Sumber data primer, yaitu putusan Majelis Ulama Indonesia (MUI) nomor 9A tahum 2008 dan putusan Dar al-Ifta’ Mesir tentang khitan perempuan tahun 2008. b. Sumber data sekunder, yaitu sumber data pendukung yang terdiri dari kitab-kitab yang berhubungan dengan masalah yang dibahas, Al-Umm karangan Imam Syafi’i, Syarah Al-Muhazzab karangan Imam Nawawi, Kutub wa Rasail wa Fatawa Ibn Taimiyah fi al-Fiqh karangan Ibnu Taimiyah, Fiqih Sunnah karanbgan Sayyid Sabiq, dan data lain yang mendukung. 3. Teknik Pengumpulan Data Penelitian ini, sebagaimana yang telah dijelaskan merupakan penelitian kepustakaan, maka pengumpulan data yang dilakukan adalah dengan menelaah teks dari referensi primer dan skunder dan berbagai literatur. 4. Analisa Data Penelitian ini merupakan penelitian kepustakaan ( library research), dan juga menggunakan pendekatan falsafi, yaitu pendekatan sistematis yang didasarkan kepada hasil pemikiran para ulama mazhab yang diteliti. Dalam melakukan analisa data penulis menggunakan metode komperatif dengan cara membandingkan putusan Majelis Ulama Indonesia dan Dar al-Ifta’ Mesir tentang hukum khitan perempuan. Setelah membandingkan pendapat serta dalil yang digunakan oleh masing-masing Majelis maka penulis menyimpulkan permasalahan yang penulis bahas dengan melakukan suatu pembenaran atas salah satu putusan fatwa kedua Majelis.

5. Pedoman Penulisan

Dalam penyusunan skripsi ini penulis bepedoman kepada buku Pedoman Penulisan Skripsi yang dikeluarkan oleh Fakultas Syari’ah IAIN-SU edisi tahun 2007. G. Sistematika Pembahasan Sistematika dengan pembahasan skripsi ini, merupakan sistematika rangkaian dalam urutan

pembahasan dalam penulisan karya ilmiah. Dalam kaitannya penulisan penulisan penelitian ini disusun dalam lima bab sebagai berikut: Bab I, berisi pendahuluan yang memuat gambaran umum tentang pola dasar penelitian dalam sebuah skripsi. Bab ini mencakup beberapa sub bab, yaitu latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penelitian, manfaat penelitian, metodologi penelitian dan sistematika pembahasan. Bab II, khitan perempuan dan permasalahannya yang terdiri dari pengertian khitan perempuan, dampak positif dan negatif khitan perempuan menurut medis, tatacara pelaksanaan khitan pada perempuan, pelaksanaan khitan perempuan menurut Peraturan Menkes Nomor 1636 Tahun 2010. Bab III, Fatwa Majelis Ulama Indonesia dan Dar al-Ifta’ Mesir tentang khitan perempuan yang terdiri dari, analisis MUI dan Dar al-Ifta’ Mesir terhadap dalil khitan perempuan, analisis MUI dan Dar al-Ifta’ terhadap maslahah dan mudharat khitan perempuan. Bab IV, analis dan perbandingan Fatwa Majelis Ulama

Indonesia dan Dar al-Ifta’ Mesir tentang khitan perempuan, yang terdiri munaqasyah adillah dan pendapat yang dipilih (qaul mukhtar). BAB V, merupakan bab penutup dari keseluruhan rangkaian penelitian yang akan menguraikan tentang kesimpulan dan saran.