You are on page 1of 2

PATOGENESIS Molekul adhesin merupakan protein permukaan yang diekspresikan olehS.

mut ans dan berperan sebagai perantara untuk melekat pada pelikel gigi. Perlekatan ini ditandai dengan adanya interaksi antara molekul adhesin dengan reseptor spesifik sebagai proses awal patogenesis karies.7 Molekul adhesin dinding selS.m ut ans berupagluc os yltr ansf er as e (Gtf) danglucan binding protein (Gbp) sedangkan reseptor spesifik dapat berupa glikoprotein pelikel, komponen saliva dan protein permukaan sel oral steptococ i lainnya. Biofilm dalam rongga mulut disebut juga plak gigi. Ia merupakan kumpulan dari glucan, bakteri dan komponen saliva yang membentuk suatu quorum sensing. Terbentuknya biofilm diawali oleh perlekatan molekul adhesin dengan glikoprotein pelikel gigi. Perlekatan bakteri S. mutans pada email diikuti dengan proses koagregasi, kolonisasi dan koadhesi sampai terbentuknyabi ofilm.7 S. mutans menghasilkan dua enzim yaitu glucosyltransferase( Gtf ) dan f r uct osyltransfera e ( Ftf). Enzim-enzim ini bersifat spesifik. Gtf merubah sukrosa menjadigl uc an sedangkan Ftf akan membentuk fructan dari fruktosa.Glucan terdiri dari gugus glukosa ikatan -1,6 dan -1,3. Ikatan glukosa -1.3 ini berfungsi pada perlekatan dan peningkatan koloni bakteri dalam kaitannya dengan pembentukan plak sedangkan fructan digunakan sebagai cadangan energi. Di dalam plak, koloni S.mutans akan memfermentasi sukrosa menjadi asam yang mengakibatkan penurunan pH pada permukaan gigi. Jika sudah mencapai pH kritis (5,2-5,5) maka email akan mengalami dissolusi dan demineralisasi sehingga terjadilah karies. Oleh adanya radang alveoli gigi atau karies gigi mikroorganisme yang berada di daerah gigi premolar akan masuk ke dalam sinus. Dalam inspeksi kadang tidak ditemukan adanya kelainan dari gigi. Setelah masuk ke dalam rongga sinus, kuman akan berkoloni serta akan merusak permukaan sinus, dan akhirnya sinus akan berisi cairan eksudat yang bersifat purulent atau mukopurulent (kebanyakan purulent) dan berbau busuk. Batas antara sinus dengan rongga mulut akhirnya terlarut, hingga tidak mustahil partikel makanan masuk ke dalam sinus; sebaliknya, pus akan mengalir di sela-sela gigi atau menembus gusi, yang biasanya juga mengalami peradangan. Apabila pada suatu saat lubang penghubung antar sinus dengan rongga mulut tertutup, sinus akan penuh dengan eksudat bernanah. Karena dinding sinus yang meradang jadi tipis akhirnya tekanan yang meningkat akan menyebabkan sinus menggembung, yang kearah nasal akan berakibat menyempitnya rongga hidung, dan yang

eksudat akan melimpah ke dalam rongga hidung. Nafsu makan juga terganggu. Pada sapi sinusitis juga di tandai dengan keluarnya ingus unilateral dan asimetri muka yang tidak sejelas pada kuda. Apabila eksudat tidak memenuhi sinus. Pernapasan akan terganggu oleh stenosis pada salah satu saluran hidung. yang akan mengalir keluar waktu kepala ditundukkan.kearah lateral akan berakibat bengkaknya pipi. Pembesaran dinding sinus ke arah lateral menyebabkan muka menjadi asimetris. Perubahan pada rongga gigi akan menyebabkan susunan gigi yang tidak rata. Juga karena terjadi tekanan daerah infraorbital meningkat dapat terjadi eksoptalmus. atau melalui lubang tembusan yang terjadi sebagai akibat rapuhnya tulang pembatas rongga hidung dengan sinus. Karena kebengkaan pipi tesebut pada inspeksi tampakasimetri muka penderita. terutama sinusitis yang di sebabkan oleh kerusakan gigi. suara pekak baru dapat didengar bila kepala penderita ditundukkan posisinya. Konjungtivitis dan eksudat mukopurulen serta pembengkakan daerah kantong airmata tidak jarang terjadi. Apabila di palpasi di daerah yang membesar mungkin terasa lebih lunak. yang sifatnya juga purulent atau mukopurulent. Sebagai komplikasi radang sinus maksilaris dapat terjadi meningitis purulenta. Melalui celah ini. Pada sapi perluasan akan sampai di daerah infraorbital hingga dapat terjadi eksoptalmus yang sifatnya unilateral. terutama di daerah premolar dan molar. Adakalanya leleran ingus berhenti seketika bila penghubung sinus dengan rongga hidung tertutup endapan atau eksudat. Keluar eksudat yang banyak bila kepala ditundukan. Adanya eksudat di dalam sinus menyebabkan suara pekak proses saat di perkusi. Perluasan radang di daerah kantong air mata dan salurannya menyebabkan penderita juga mengeluarkan air mata yang berlebihan (lakrimasi). Antara sinus dengan meatus medialis dihubungkan oleh celah sempit. . GEJALA KLINIK Adanya ingus bersifat mukopurulen dengan bau menusuk yang keluar dari salah satu lubang hidung yang sering banyak dijumpai.