Tatalaksana Peningkatan Tekanan Intrakranial

Diagnosis dan tata laksana peningkatan tekana intracranial pada anak merupakan suatu hal yang sangat penting. Kegagalan dalam menilai kegawatan neuropediatri secara dini akan memperlambat tindakan pengobatan dan dapat mengakibatkan gejala sisa ataupun kematian. Etiologi peningkatan tekanan intracranial : (1) gangguan aliran cairan cerebrospinal (CSS) seperti obstruksi aliran di luar maupun di dalam system ventrikel, kelainan pada pleksus koroid dan gangguan penyerapan CSS. (2) Peningkatan volume otak seperti edema otak difus dan edema otak setempat. (3) Peningkatan volume darah otak dan (4) Proses desak ruang. Etiologi di atas dapat menyebabkan edema otak, yang dibagi mejadi : 1. Edema vasogenik akibat a) peningkatan permeabilitas kapiler, b) peningkatan tekanan transmural kapiler, c) retensi cairan ekstravaskuler pada ruangan intersisial. Keadaan ini dapat terjadi karena tumor otak, lesi traumatic, perdarahan intraserbral, focus inflamasi atau hematoma subdural kronis. 2. Edema sitotoksik akibat proses intraseluler pada astrosit dan neuron. Proses iskemik menghasilkan kaskade reaksi biokemikal yang terdiri dari peningkatan kalium ekstraseluler dan peningkatan kalsium intraseluler menyebabkan menyebabkan kerusakan sel yang menetap akibat gangguan fungsi membrane sel. Keadaan ini disebabkan iskemi fokal atayu umum dan hipoksia akibat infark serebri. 3. Edema interstisial akibat infiltrasi periventrikuler cairan serebrospinalis pada peningkatan tekanan hidrosefalus obstruktif, misalnya pada tumor fosa posterior. 4. Edema hidrostatik disebabkan peningkatan tekanan transmural vascular menyebabkan penimbunan cairan ekstraseluler. Keadaan ini dapat terjadi pada hematoma subdural akut pasca evakuasi yang menyebabkan penurunan tekanan intracranial secara tiba-tiba dan peningkatan tiba-tiba tekanan transmural pembuluh darah otak. 5. Edema osmotic disebabkan proses kompleks penurunan osmolaritas serum dan hiponatremia < 125 mEq/L menyebabkan keseimbangan osmotic terganggu dan edema otak.

Diagnosis Anamnesis Sakit kepala, muntah, iritabel, anoreksia Sakit kepala sering bertambah pada waktu bangun pagi, batuk, bersin, mengedan, perubahan posisi kepal tiba-tiba (pada proses lesi desak ruang) Muntah tanpa disertai rasa mual, mulanya hanya timbul pada waktu bangun pagi kemudian dapat terjadi setiap waktu Perubahan kebiasaan/kepribadian, penurunan prestasi belajar, pelupa, letargi, lesu, mengantuk

gerakan refleks ocular tidak ada dan flaksid. pupil tidak dapat bergerak. hipotensi. pernapasan teratur/Cheyne Stokes. kelumpuhan N III. dilatasi pupil unilateral. pada peningkatan tekanan intrakanial dapat ditemukan peningkatan lingkar kepala dan UUB membonjol. kelumpuhan. dan hemiparesis kontralateral Tanda-tanda herniasi infratentorial : . IV. gangguan keseimbangan/koordinasi. VI) dan papiledema. hipertoni dan rigiditas dekortikasi . hiperventilasi sentral. gagal pernapasan. - - Tanda-tanda herniasi unkus : Stupor menjadi koma. hemiparesis dengan reflex patologis menjadi tetraparesis spastic. suhu mulai meninggi. tidka bergerak. ireguler dan gasping.Muntah-muntah. Pada bayi dan anka yang UUB belum menutup. hipertoni dan tahap rigiditas deserebrasi . pupil kecil dan reaktif. Pemeriksaan fisik Penurunan kesadaran (Skala Koma Glascow). refleks kalori asimetri positif/negative. elektrolit darah Pungsi lumbal jika dicurigai meningitis USG/CT-Scan/MRI kepala . anisokoria dengan dilatasi pupil ipsilateral. Namun papiledema jarang dijumpai pada fase akut. tris Chusing (peningkatan tekanan darah.Hati-hati bila terdapat tanda-tanda perburukan dari status neurologi yang tiba-tiba. pupil miosis dan refleks cahay positif. dan pada anak dengan fontanel belum menutup.Tahap medula oblongata : pernapasan dangkal. gerakan refleks ocular diskonjugat/tidak ada. memakai modifikasi anak Pemeriksaan lingkar kepala dan ubun-ubun besar (UUB). Komplikasi peningkatan tekanan intracranial : herniasai dengan gejala-gejala tergantung etiologi Tanda-tanda herniasi sentral : . berupa : penurunan kesadaran. kesadaran menurun dan disertai hiperventilasi dan deserebrasi. bradikardi dan pernapasan ireguler) Pemeriksaan penunjang Pemeriksaan penunjang dilakukan atas indikasi : Daraf perifer lengkap. kelumpuhan beberapa saraf otak. dilatasi dan tidak bergerak. kejang. strabismus. adanya reflex ocular. analisis gas darah. Nadi ireguler lambat/cepat. pupil mulai melebar. lambat. ditengah.- Gejala lain (pada proses lesi desak ruang) : penglihatan ganda.Tahap diensefalik : letargi-stupor/gelisah. . Kelumpuhan otot pengerak bola mata (N III.Tahap mesensefalon-pons : koma. pupil ditengah.

c. Pada edema vasogenik seperti pada tumor otak. Mempertahankan kadar glukosa darah c. Pemberian diuretic tubular yang kuat dapat menurunkan tekanan intracranial dengan efektif melalui berkurangnya cairan tubuh total.1-0. Dapat diberikan asetazolamid 50-100 mg/kgBB/hari dibagi 3 dosis. Pada hidrosefalus terjadi edema intersisial dengan peningkatan tekanan intraventrikel yang tinggi serta edema periventrikel. dapat diberikan manitol 20% dengan dosis 0. Natrium hipertonik efektif untuk menurunkan peningkatan tekanan intracranial dengan berfungsi mempertahankan tekanan osmolar parenkim otak. Menurunkan suhu tubuh sampai hipotermia sedang (32-33 oC) untuk mengurangi kebutuhan oksigen 3.Tatalaksana Tujuan pengobatan tekanan intracranial yang meningkat adalah menurunkan tekanan intracranial untuk memperbaiki aliran darah ke otak dan pencegahan atau menghilangkan herniasi. Obat yang dianjurkan adalah furosemid dengan dosis 1 mg/kgBB/kali IV. abses terjadi edema karena pendesakan masa. Mempertahankan fungsi metabolic otak a. tonus pembuluh darah dan produksi CSS. dapat diberikan kortikosteroid untuk mengurangi edema dan memperbaiki integritas membrane dalam mempertahankan permeabilitasnya. Pengurangan volume jaringan otak. Meminimalkan tindakan seperti pengisapan lender. Pada peningkatan tekanan intracranial fase lanjut edema sitotoksik dan edema vasogenik dapat terjadi secara bersamaan. Menghindari keadaan peningkatan tekanan intracranial a.1-1 ml/kg/jam secara infus intravena. d. Digunakan pada pasien dengan keadaan hipotensi dan hipoperfusi. Selama pemberian osmoterapi perlu diperhatika keseimbangan cairan dan elektrolit serta osmolaritas serum 300-320 mosm/L. b. Tata laksana dapat dibagi menjadi : Medikamentosa 1. Elevasi kepala 15-30 derajat dan dalam posisi netral b. atau perdarahan subarachnoid. Mengurangi volume komponen-komponen otak intracranial a. Dapat diberikan deksametason dengan dosis 0. 2. Jika pasien gelisah/agitasi dapat diberikan sedasi. pengambilan sampel darah dll. karena agitasi akan meningkatkan tekanan intracranial . Efek samping pemberian cairan ini dapat menyebabkan peningkatan tekanan intracranial kembali. mielinolisis sentral pontin.2 mg/kgBB tiap 6 jam. dapat diberikan 2 kali sehari. Pengurangan volume cairan serebrospinal. Pada edema sitotoksik. NaCl 3% diberikan dengan dosis 0. Tekanan arterial O2 dipertahankan 90-120 mmHg b.25-1 g/kgBB melalui infuse intravena selama 10-30 menit setiap 8 jam.

tumor otak).c. Pemasangan VP shunt bertujuan untuk mengurangi tekanan intracranial misalnya pada tumor otak. Restriksi cairan menjadi 80% dari kebutuhan rumat dengan tetap memperhatikan keseimbangan hemodinamik Tindakan bedah Jika peningkatan tekanan intracranial tidak dapat diatasi dengan medikamentosa maka perlu dilakukan koreksi dengan bedah dekompresi (kraniektomi) untuk mengatasi pergeseran dan herniasi otak. . abses otak. perdarahan intracranial. Tindakan bedah lain tergantung dari etiologi (hidrosefalus.

Pasien yang sembuh dari trauma kepala berat umumnya mempunyai gangguan yang menetap. c) sering terjadi keretakan tulang kepala akibat trauma ringan dan d) sering terjadi kerusakan jaringan otak. sedangkan anak dengan trauma kepala ringan dan sedang memiliki risiko mengalami gangguan fungsi kognitif dan motorik di kemudian hari. rabalah ubun-ubunnya apakah membonjol atau tidak. bicara dan membuka mata. dengan skor antara 3-14. panggil namanya dan goyangkan badannya. tulang belakang atau ekstremitas - . Skala ini dibagi berdasarkan kemampuan respon gerak.Trauma Kepala Trauma kepala merupakan salah satu alas an kunjungan ke dokter dan merupakan penyebab kematian dan kecacatan tersering pada anak. kakinya untuk memastikan tidak ada patah tulang leher. bahu. benjolan kecil di daerah samping kepala akibat terbentur di lantai saat jatuh. bila pingsan berapa lama? Adalakh sakit kepala atau muntahmuntah? Adakah kejang? Adakah perdarahan/keluar cairan dari hidung. bahu maupun ekstremitas? Pemeriksaan fisis dan neurologi Yakinkan anak sadar atau tidak. Penyebab tersering adalah jatuh dan kecelakaan lalu lintas. Tentukan derajat kesadaran dengan skala koma glascow Rabalah seluruh bagian kepalanya dengan sedikit penekanan untuk memastikan adanya hematoma/benjolan. trauma kepala sedang dengan skor 9-12 dan trauma kepala berat dengan skor ≤ 8. Gerakkan kepala. Trauma kepala dengan luka di sekitar kepala tidak selalu menimbulkan kegawatan. Diagnosis Anamnesis Bagaimana posisi dan mekanisme anak mengalami trauma kepala? Tanyak secara rinci Bagian tubuh mana saja yang mengalami trauma : muka. atau bagian tubuh lain? Apakah anak pingsan/tidak sadar. kepala. Klasifikasi trauma kepala ditentukan berdasarkan Skala Koma Glascow. Ubun-ubun membonjol merupakan tanda adanya peningkatan tekanan dalam otak akibat pembengkakan /perdarahan otak. b) kerusakan intracranial umumnya asimptomatik. dapat menimbulkan kegwatan. Pembagian ini dilakukan karena trauma pada anak dibawah 2 tahun mempunyai karakteristik : a) pemeriksaan klinis lebih sulit. telinga atau rongga mulut? Adalah benjolan di kepala setelah jatuh? Adakah tulang yang retak? Adakah patah tulang leher. nyeri atau retak tulang kompresi di kepala Bila ubun-ubun belum menutup. Trauma kepala pada anak berdasarkan umur dibagi 2 yaitu : anak usia dibawah 2 tahun dan anak diatas usia 2 tahun. Trauma kepala ringan mempunyai skor 13-15. Sebaliknya. lengan.

refleks fisiologis dan patologis Adalah perdarahan/keluar cairan dari telinga. motorik. kejang.Kejang pasca trauma tanpa riwayat epilepsi . doeprtimbangkan pada risiko sedang bila ditambah factor risiko tambahan mutlak dilakukan dan tidak dilakukan pada resiko rendah.Usia kurang dari satu tahun dengan skal koma glascow < 15 Indikasi CT Scan berdasarkan SIGN 2009 dapat dilihat pada lampiran 1 Shutzman dkk(2001). hidung. pusing. atau respon lambat .Hilang kesadaran lebih dari lima menit . muntah tiga sampai empat kali. trauma yang tidak ada yang melihat.Jatuh yang bermakna .Tiga atau lebih episode muntah. kelopak mata.Amnesia lebih dari 5 menit. saraf cranial. Risiko sedang dengan factor resiko tambahan seperti mekanisme jatuh (jatuh> 3-4 kali). rendah pada paien berusia kurang dari 2 tahun yang mengalami trauma kepala Risiko tinggi : bila terdapat penurunan kesadaran lebihdari satu menit. Ct Scan kepala harus dilakukan pada anak dengan trauma kepala bila skala koma glascow ≤ 13 pada evaluasi awal : . dan muntah lebih dari lima kali dalam enam jam.Dicurigai adanya fraktur tengkorak atau ubun-ubun yang tegang . raut wajah atau senyumnya adakah perubahan atau simetris Periksa apakah penglihatannya terganggu atau tidak Pemeriksaan neurologis : pupil.- Perhatikan dengan teliiti mata. kelainan neurologis fokal.Adanya kelainan neurologis dan tanda-tanda fraktur dasar tengkorak CT Scan dipertimbangkan dalam 8 jam pasca trauma bia terdapat : . ubun-ubun membonjol. perubahan tingkah laku yang menetap. riwayat letargis dan mudah terangsang. kecurigaan trauma kepala bukan karena kecelakaan . funduskopi. Risiko sedang : bila terdapat penurunan kesadaran kurang dari satu menit. sedang. hematoma besar atau lokasi selain frontal. dan fraktur kepala terjadi lehih dari 24-48 jam. dan rongga mulut Pemeriksaan penujang Pemeriksaan darah tepi lengkap Berdasarkan Scottish Intercollage Guidelines Network (SIGN2009). - - .Kemerahan/bengkak/laserasi lebih dari 5 cm di kepala . tidak jelas riwayat trauma tetapi terdapat tanda dan gejala trauma kepala CT scan kepala mutlak dilakukan pada pasien resiko tinggi. membagi risiko tinggi. jatuh ke permukaan yang keras.

dan propanolol serta eksternal surface cooling.Tata laksana Medikamentosa Dapat diberikan analgesic untuk mengurangi nyeri (parasetamol. dapat diberikan obat penurun tekanan intracranial seperti manitol 0.Keluar cairan/darah dari lubang telinga atau hidung . selama 12 sampai 48 jam oleh karena adanya edema otak atau kerusakan jaringan otak Demam dapat berupa demam neurogenik pasca trauma kepala terjadi akibat gangguan set point suhu di hipotalamus Karena kerusakan hipotalamus sehingga suhu tubuh meningkat.Pengawasan dilakukan dengan memeriksan anak setiap 2-3 jam per hari sampai 72 jam setelah jatuh . atau delirium .Trauma kepala ringan tanpa penurunan kesadaran dapat dirawat di rumah . jika selam observasi didapatkan : . karena dapat membuat gejala muntah tertutupi. tramadol oral atau suposituria) Tata laksana peningkatan tekanan ontrakranial dan kejang (jika ada kejang) Bila didapatkan perdarahan intracranial. . Suhu dapat meningkat sampai 43oC dapat diterapi dengan bromkiptin. Diperlukan pemantauan klinis yang ketat.5-1 gram/kg tiap 8 jam atau furosemid 1 mg/kg/hari serta nimodipin sesuai kondisi pasien. bingung. berikut ini beberapa tips yang dapat diberikan : . amatadi.Ubun-ubun besar yang membonjol .Kejang pada wajah atau ekstremitas .Muntah yag menetap terutama pagi hari .Anak tampak tidur terus atau tidak sadar .Anak segera dibawan ke rumah sakit.Selama observasi di rumah anak sebaiknya tidak minum obat anti muntah.Tirah baring selama 3 hari .Terdapat gangguan gerak ekstremitas . Analgetik diberika jika perlu.Anak menjadi gelisah. - Nasehat untuk orangtua Orangtua sering menanyakan apa yang perlu diperhatikan jika anaknya mengalami trauma kepala.Anak mengeluh salit kepala yang menetap dan bertambah berat atau adanya kekauan di leher . ibuprofen.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful