LAPORAN HASIL DISKUSI PEMECAHAN MASALAH ETIKA KEPERAWATAN KASUS ETIKA 6

Laporan ini disusun guna menyelesaikan suatu tugas dalam kegiatan perkuliahan

Dosen Pengampu: Madkhan Anis, S.Kep.Ns. Disusun oleh: Kelompok 5 Siti Anafiyah Ma’ruf Yulianto Rima Dinar Riyanti Nuzula Syifaul Khujun Ahmad Fauzan Erna Susanti Rumiyati Ani Oktaviani T. Lusi Indriyani Rahayu Ardian Kusuma Putra (A01101538) (A01101543) (A01101548) (A01101553) (A01101558) (A01101564) (A01101569) (A01101574) (A01101579) (A01101584)

Program Studi: DIII Keperawatan STIKES MUHAMMADIYAH GOMBONG 2012 .

Kep.LAPORAN HASIL DISKUSI PEMECAHAN MASALAH ETIKA KEPERAWATAN KASUS ETIKA 6 Disusun oleh Nama : : 1) Siti Anafiyah 2) Ma’ruf Yulianto 3) Rima Dinar Riyanti 4) Nuzula Syifaul Khujun 5) Ahmad Fauzan 6) Erna Susanti 7) Rumiyati 8) Ani Oktaviani T. 9) Lusi Indriyani Rahayu 10) Ardian Kusuma Putra Program studi : DIII Keperawatan Gombong. Madkhan Anis.Ns. 23 April 2012 Menyetujui Pembimbing. . S.

Ns.Kep. dapat diselesaikan secara etik.Ns. kami susun dalam rangka pemenuhan tugas etika keperawatan oleh dosen kami Madkhan Anis.KATA PENGANTAR Puji syukur kepada Allah SWT yang telah memberikan rahmat dan hidayahNya kepada kami. Laporan penelitian ini terdiri dari rumusan permasalahan etik. Laporan hasil diskusi pemecahan masalah ini. Gombong. memilih alternatif pemecahan masalah. semoga laporan ini dapat bermanfaat bagi kita semua. 23 April 2012 Penulis . Laporan hasil diskusi pemecahan masalah bertujuan agar kami sebagai calon perawat mampu menyelesaikan permasalahan dengan menggunakan etika keperawatan yang telah tersusun dalam kode etik keperawatan. Pada kasus etika enam. sehingga kami dapat menyelesaikan laporan pemecahan masalah etika keperawatan ini. Akhir kata kami ucapkan terima kasih kepada pihak-pihak yang telah mendukung tewujudnya laporan pemecahan masalah ini. S. dan bagi kami dengan pembuatan laporan ini kami dapat memilah dan mengerti tentang cara pemilihan masalah yang baik dan etis. S.Kep. Kami mendapatkan kesempatan untuk menuangkan ide-ide pemecahan masalah dan pemilihan pemecahan masalah yang paling tepat untuk menyelesaikan suatu permasalahan. khususnya kepada dosen kami Madkhan Anis. serta dampak yang ditimbulkan pada diri sendiri dan masyarakat. Dengan menimbang sisi positif dan negatif dari setiap alternatif pemecahan masalah. cara bagaimana kita sebagai perawat memecahkan masalah bagaimana kita sebagai perawat harus menentukan atau mengambil keputusan dari kasus seorang pasien dengan analisa medis batang otak pasien tersebut telah mati dan keluarga pasien telah pasrah dengan keadaan tersebut. kami dapat memilh cara terbaik dan tepat untuk menyelesaikan masalah etik. Pemecahan masalah. Pemilihan alternatif masalah harus mempertimbangkan dampak yang ditimbulkan pada masyarakat apabila memilih alternatif pemecahan masalah tersebut. alternatif pemecahan masalah.

.......................................10 DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................................................................................................7 BAG 4: PEMBAHASAN........................................3 DAFTAR ISI .....................................................5 BAG 2: MASALAH ETIK ....................................................................................................4 BAG 1: NASKAH KASUS ..................................................................................8 BAG 5: KESIMPULAN .............2 KATA PENGANTAR .6 BAG 3: ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH .................................................. 11 ............................................................ ............................DAFTAR ISI LEMBAR PENGESAHAN..............................

Keluarga pasien telah pasrah dengan keadaan tersebut dan mendesak kepada pihak dokter dan perawat untuk melepas bantuan peralatan tersebut. . Bedasarkan analisa medis batang otak pasien tersebut telah mati.Bag 1: NASKAH KASUS Seorang pasien koma selama 2 bulan diruang ICU dengan bantuan peralatan.

Bag 2: MASALAH ETIK PERSEPSI MASALAH Bagaimana kita sebagai perawat harus menentukan atau mengambil keputusan dari kasus seorang pasien dengan analisa medis batang otak pasien tersebut telah mati dan keluarga pasien telah pasrah dengan keadaan tersebut sehingga mendesak kepada pihak dokter dan perawat untuk melepas bantuan peralatan tersebut. .

perawat dilema akan dua tindakan keputusan yang daripada keduanya prinsip dan hukum yang bertentangan. Tindakan Alternatif Dalam kasus ini. Dalam kasus ini pasien tidak bisa berkomunikasi sebagaimana mestinya sehingga keputusan didasarkan pada keluarga klien.Bag 3: ALTERNATIF PEMECAHAN MASALAH 1. yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan sesuai dengan kebutuhan klien. Adapun dua tindakan keputusan yang menjadi pilihan perawat dalam bertindak adalah: a) Melepas alat bantu sesuai permintaan keluarga klien Jika perawat melepas alat bantu medis pada pasien sepeti ventilator dan lain sebagainya maka hal ini bisa benar-benar menghilangkan nyawa pasien yang pada dasarnya pasien telah divonis meninggal dunia karena fungsi otaknya telah mati. perawat mempunyai kewajiban untuk selalu memelihara mutu pelayanan disertai dengan kejujuran. Tapi tindakan ini didukung oleh prinsip etik otonomi yaitu menyatakan bahwa setiap individu mempunyai kebebasan untuk menentukan tindakan atau keputusan berdasarkan rencana yang mereka pilih. profesionalisme. Dalam arti lain tindakan mereka telah sia-sia dan sudah tidak ada . Namun dalam kasus ini klien tengah koma selama dua bulan setelah dirawat di ruang ICU oleh tenaga medis yang ada semampu mereka dan sekuat tenaga menggunakan alat-alat medis pula namun tak ada perubahan. Hal ini sama saja membunuh dan melanggar prinsip etik beneficience dan maleficience. Tindakan ini juga didasarkan pada kode etik keperawatan dalam sub bab perawat dan praktek point nomor 2 “Perawat senantiasa memelihara mutu pelayanan keperawatan yang tinggi disertai kejujuran professional yang menerapkan pengetahuan serta ketrampilan keperawatan sesuai dengan kebutuhan klien”. Dalam kode etik perawat tersebut.

Bujukan melepas alat bantu medis ini maksimal dilakukan 3 kali bujukan pada waktu yang berbeda. Juga melanggar pasal 344: “Barang siapa menghilangkan jiwa orang lain atas permintaan orang itu sendiri. Perawat juga menanyakan alasan mengapa alat bantu medis harus dilepas. janganlah kamu saling memakan harta sesamamu dengan jalan yang bathil. Dan janganlah kamu . 2. dipidana dengan pidana mati atau penjara seumur hidup atau paling lama penjara 20 tahun”. dihukum penjara selama-lamanya dua belas tahun”. Hal ini juga didasari hak pasien dalam menentukan pemeliharaan diri dan berpartisipasi dalam mengambil keputusan dan hal ini diperkuat KepMenKes no. karena bersalah melakukan pembunuhan berencana. 1239 bab IV pasal 16: “Kewajiban perawat adalah menghormati hak pasien”. yang disebutkan dengan nyata dan dengan sungguh-sungguh. Namun sebelum perawat dalam hal ini melepaskan alat bantu. Pandangan Islam Agama jelas melarang kita membunuh seseorang hal tersebut tercantum dalam firman Allah SWT: “Hai orang-orang yang beriman. Namun disisi lain hal ini melanggar KUHP tindak pidana pasal 340 : “Barang siapa yang dengan sengaja dan direncanakan lebih dahulu menghilangkan jiwa orang lain.gunanya lagi dengan kebutuhan klien. maka perawat harus membujuk dan memberi informasi terlebih dahulu kepada pasien apa akibat dari pelepasan alat bantu tersebut. kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama-suka di antara kamu. b) Tidak melepas alat bantu medis Jika perawat tidak melepas alat bantu medis maka hal ini berhubungan dengan prinsip maleficience dimana perawat melakukan tindakan yang tidak membahayakan bagi orang lain.

Kami akan memberi rizki kepadamu dan kepada mereka. Hal tersebut sesuai dengan firman Allah SWT: “….” (Q.S.S Al Baqarah : 178) Namun qishaash bisa batal bila keluarga yang anggotanya dibunuh memaafkan dengan membayar diat. baik yang nampak di antaranya maupun yang tersembunyi. dan janganlah kamu membunuh anak-anak kamu karena takut kemiskinan.S. Al An’aam: 151) Ayat-ayat tersebut menjelaskan melarang perawat dan tenaga medis lainnya melakukan euthanasia aktif yaitu yang disengaja. berbuat baiklah terhadap kedua orang tua. dan janganlah kamu membunuh jiwa yang diharamkan Allah (membunuhnya) melainkan dengan sesuatu (sebab) yang benar. (Q. An Nisaa’: 29) Katakanlah: "Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kamu oleh Tuhanmu yaitu: janganlah kamu mempersekutukan sesuatu dengan Dia.” (Q.S. Karena hukuman membunuh dengan sengaja ialah: ‘Telah diwajibkan atas kamu qishaash berkenaan dengan orang-orang yang dibunuh…. Al Baqarah : 178) ." Demikian itu yang diperintahkan kepadamu supaya kamu memahaminya.membunuh dirimu. dan janganlah kamu mendekati perbuatanperbuatan yang keji.Maka barang siapa yang mendapat suatu pema’afan dari saudaranya.” (Q. sesungguhnya Allah adalah Maha Penyayang kepadamu. hendaklah kamu yang mema’afkan mengikuti dengan cara yang baik dan hendaklah yang diberi ma’af membayar diat kepada yang memberi ma’af dengan cara yang baik pula….

ANALISA MASALAH 1) Euthanasia Euthanasia berasal dari kata Yunani yaitu gabungan dari dua kata : Eu yang berarti baik. bahagia dan Thanasia sama dengan thanatos berarti mati atau mayat. 3. istilah euthanasia mempunyai 3 arti : 1. . Meringankan kematian seseorang dengan obat penenang. Definisi dari istilah euthanasia terus berkembang menjadi perbuatan mengakhiri kehidupan seseorang untuk menghentikan penderitaannya. Mengakhiri penderitaan dan hidup seseorang yang sakit dengan sengaja atas permintaan pasien sendiri dan keluarganya.Bag 4: PEMBAHASAN A. Kemudian pengertian istilah ini berkembang menjadi mengakhiri hidup tanpa penderitaan (tidak terlihat menderita). 2. Akan tetapi ini sering diartikan pengakhiran hidup seseorang karena kasihan atau membiarkan orang mati. Di Indonesia dalam kode etik kedokteran. Berpindah ke alam baka dengan tenang dan aman tanpa penderitaan untuk yang beriman kepada Allah SWT (khusnul khotimah).

euthanasia pada dasarnya dapat dibedakan dalam 3 macam. 4. 3.Karena masih banyak pertentangan mengenai definisi euthanasia. Euthanasia Aktif Tidakan ini secara sengaja dilakukan oleh perawat atau tenaga kesehatan lain untuk memperpendek atau mengakhiri hidup si pasien. tetapi dalam pengertian yang agak berbeda karena yindakan ini dilakukan atas dasar belas kasihan. 2. Involuntary Euthanasia Keinginan yang diajukan pasien untuk mati tidak dapat dikerjakan karena. berbagai pendapat diajukan di antaranya sebagai berikut: 1. Auto Euthanasia Seorang pasien menolak secara tegas dengan sadar untuk menerima perawat medis dan ia mengetahui bahwa hal ini akan memperpendek atau mengakhiri hidupnya. Dengan penolakan tersebut ia membuat sebuah . Tindakan Langsung Mengiduksi Kematian. Euthanasia Pasif Perawat atau tenaga kesehatan lain secara sengaja tidak (lagi) memberikan bantuan medis yang dapat memperpanjang hidup pasien. Keputusan atau keinginan untuk mati berada pada pihak orang tua atau yang bertanggung jawab. yaitu sebagai berikut: 1. misalnya seseorang yang mederita sindroma Tay Sach. Terlepas dari pendapat-pendapat tersebut diatas. Volutary Euthanasia Permohonan diajukan pasien karena. 3. 2. misalnya gangguan atau penyakit jasmani yang dapat mengakibatkan kematian segera yang keadaanya diperburuk oleh keadaan fisik dan jiwa yang tidak menunjang. Alasan adalah meringankan penderitaan tanpa izin idividu yang bersankutan dan pihak yang punya hak untuk mewakili.Hal ini sebenarnya merupakan pembunuhan. Assisted Suicide Tindakan ini bersifat individual dalam keadaan dan alasan tertentu untuk menghilangkan rasa putus asa dengan bunuh diri.

codicil (pernyataan tertulis tangan). Diagnosis Mati Batang Otak Untuk menegakan diagnosis mati batang otak diperlukan tiga langkah. Apabila terbukti telah terjadi kematian batang otak. atau 2. EEG. Ketentuan Mati Dalam Dunia Kedokteran Di Indonesia. Upaya CPR dilakukan dalam keadaan mati klinis. C. yaitu sebagai berikut: 1. b) Penyebabnya adalah kerusakan otak struktural yang tidak dapat diperbaiki lagi karena gangguan yang dapat menuju mati batang otak.4/88 merumuskan bahwa seseorang dinyatakan mati apabila: 1. Ikatan Dokter Indonesia (IDI) dengan surat keputusan Nomor 336/PB/A. Meyakinkan bahwa telah tedapat pra kondisi tertentu. dan 3. Upaya CPR (Cardio Pulmonary Resusciation) dalam keadaan ini tidak memberikan banyak arti lagi. Pernyataan tersebut dibuktikan dengan pemeriksaan penunjang. yaitu tidak responsif walaupun sudah dibantu dengan ventilator. yaitu bila denyut nadi besar dan nafas berhenti dan bila diragukan apakah kedua fungsi spontan jantung dan pernafasan telah berhenti secara pasti. 2. B. . Fungsi spontan pernafasan dan jantung telah berhenti secara pasti (irreversible). yaitu: a) Pasien dalam keadaan koma dan henti nafas. seperti EKG. Memastikan arefleksi batang otak dan henti nafas yang menetap. Menyingkirkan penyebab koma dengan henti nafas yang irreversible. Auto euthanasia pada dasarnya adalah euthanasia pasif atas permintaan.

Terjadi koma. Tidak ada nafas spontan. maka hendaknya diperiksa lima refleks batang otak. Tidak ada sentakan epileptik. 2. Bila ada atau tidak respon motor dalam distribusi saraf cranial tehadap rangsang adekuat pada area somatik. Tidak ada refleks batang otak. 5. 3. Ada pun tes yang paling pokok untuk fungsi batang otak adalah untuk henti nafas. 3. 5. Apabila tanda-tanda fungsi batang otak yang hilang diatas ada semua. Tidak ada sikap abnormal (dekortikasi atau deserebrasi). Fungsi manusia seperti berfikir dan merasa dapat berjalan apabila otak manusia masih bekerja. Bila ada atau tidak respon pupil terhadap cahaya. Jika otak tidak lagi berfungsi. 4. Bila ada atau tidak refleks muntah atau refleks batuk terhadap rangsang oleh kateter isap yang dimasukan ke dalam trakea.Ada pun tanda-tanda menghilangnya fungsi batang otak adalah sebagai berikut: 1. 2. . 4. Bila ada atau tidak refleks kornea. maka berakhirlah hidup secara intelektual dan psikis meskipun pernafasan dan detak jantung masih ada. Bila ada atau tidak refleks restibulokoklear. yaitu: 1. Berakhirnya pernafasan dan detak jantung merupakan gejala yang menentukan matinya seseorang.

tujuan utamanya adalah meringankan penderitaan pasien dengan resiko hidupnya diperbaiki. Jadi. Dalam hal ini tampak ada batasan karena adanya suatu yang mutlak berasal dari Tuhan YME dan batasan karena adanya hak asasi manusia. .D. Salah satu prinsip yang menjadi pedoman kelompok ini adalah pendapat bahwa manusia tidak boleh dipaksa untuk menderita. Alasan yang dikemukakan oleh masing-masing kelompok adalah sebagai berikut : 1. Oleh karena itu. 2. adalah suatu ini pembunuhan yang terselubung. Yang Menyetujui Euthanasia Kelompok ini menyatakan bahwa tindakan euthanasia dilakukan atas persetujuan dengan tujuan utama menghentikan penderitaan pasien. Dikatakan pula bahwa manusia sebagai mahluk ciptaan Tuhan YME. Pembicaraan mengenai euthanasia tidak akan memperoleh suatu kesatuan pendapat etis sepanjang masa. Pandangan Tentang Euthanasia Masalah Euthanasia menimbulkan pro dan kontra. tindakan ini dengan kehendak Tuhan Kelompok berpendapat bahwa hidup adalah semata mata diberikan oleh Tuhan YME sendiri sehingga tak satu orang atau institusi pun yang berhak mencabutnya bagaimanapun keadaan penderita tersebut. Yang Tidak Menyetujui Tindakan Euthanasia Kelompok bertentangan ini berpendapat bahwa euthanasia YME.

2) Perawat mengajukan surat pernyataan persetujuan kepada keluarga klien sebagai bukti tertulis dan melibatkan saksi dari pihak netral. Belajar menolong tanpa memberatkan klien. Tidak gegabah dalam memilih suatu alternatif pemecahan masalah. Belajar menerima keadaan pasien secara ikhlas. yaitu: 1) Perawat terlebih dahulu memberikan waktu kepada keluarga klien untuk mempertimbangkan keputusan tindakan yang akan dilakukan terhadap klien tersebut (auto euthanasia). Hal ini disebabkan agar keputusan yang diambil lebih matang dan ikhlas. Dalam kasus ini adalah keluarga klien yang bertanggung jawab atas klien. 3) Prinsip etik otonomi. hak seseorang untuk menetapkan yang terbaik bagi dirinya sendiri atau mengatur dirinya sendiri mendasari keputusan untuk melepas alat bantu medis.Bag 5: KESIMPULAN Dari kasus tersebut kami mengambil kesimpulan: Tindakan perawat yaitu tetap melepas alat bantu medis dengan berbagai pertimbangan. tidak berlandaskan emosi sesaat. tidak mengakibatkan penyesalan. . SARAN UNTUK MAHASISWA PERAWAT • • • • • Belajar memilih pemecahan yang tepat dengan menggunakan dasar-dasar etika keperawatan. Penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugasnya.

Jakarta : Buku kedokteran EGC. Etika Kedokteran Indonesia. 2001. Diakses: 25 April 2012. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. Ratna. 2004. Suprapti Samil. . Mimin. Etika Keperawatan Aplikasi Pada Praktek.DAFTAR PUSTAKA Seminar Case.com Emi Suhaemi.blogspot. pukul 21:56 WIB. http://perawatmuda2009.

Sign up to vote on this title
UsefulNot useful