You are on page 1of 8

BAB I GAMBARAN UMUM HEPATITIS B

1.1 Definisi Hepatitis B adalah penyakit yang disebabkan oleh virus hepatitis B. Virus hepatitis B adalah penyebab utama bagi kerusakan liver, kanker liver, dan keracunan darah. Virus hepatitis B adalah virus DNA dari famili Hepadnaviridae. Genome virus ini adalah double strand dengan empat gen, dimana masing-masing gen mengkode sebuah protein struktural yang spesifik. Virus hepatitis B dapat menyebabkan infeksi akut dan infeksi kronis. Periode inkubasi virus ini antara waktu pertama kali terjangkit dan waktu pertama kali gejala-gejala klinis muncul adalah satu sampai empat bulan. Gejala-gejala klinis yang muncul pada awalnya adalah hilangnya selera makan, perut mulas, pusing-pusing, mual-muntah, lemah lesu, muncul ruam di kulit, dan rasa nyeri di persendian. Gejala yang muncul lebih jauh adalah urin jadi berwarna gelap kecoklatan dan muncul penyakit kuning. 1.2 Epidemiologi Beban seluruh dunia untuk virus hepatitis B sangat besar. Lebih dari dua miliar orang (1/3 dari jumlah populasi dunia) yang hidup saat ini telah terinfeksi oleh virus hepatitis B pada suatu waktu dalam hidupnya. 360 juta diantaranya adalah pasien kronis yang tidak menunjukkan simtom. Setiap tahunnya, satu juta orang mati karena terinfeksi virus hepatitis B yang berhubungan dengan cirrhosis atau karsinoma hepatoselular. Dan hal itu berarti virus hepatitis B merenggut nyawa manusia setiap 30 detik. Virus hepatitis B merupakan kontributor yang siknifikan dalam kasus kematian yang terjadi di dunia. Virus hepatitis B adalah penyebab utama bagi kerusakan liver, kanker liver, dan keracunan darah. Perkiraan terakhir menunjukkan bahwa secara umum hal ini disebabkan 30% karena cirrhosis dan kira-kira 50% disebabkan karena karsinoma hepatoselular. Virus hepatitis B dapat ditularkan melalui kelahiran, suntikan, dan

1

Banyak infeksi virus hepatitis B yang terjadi diperoleh melalui kelahiran dan paling banyak terjadi pada masa kanak-kanak. Dimana di wilayah ini virus hepatitis B ditularkan secara perinatal. Dan daerah yang memilki prevalensi rendah kebanyakan negara-negara berkembang dan bagian dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. dengan seroprevalensi kurang dari dua persen. FIGURE 1.melalui hubungan seksual. (Source: Mast et al. (28). Infeksi virus hepatitis memiliki prevalensi yang tinggi di Asia dan Pasifik Selatan. dan India. Mediterania. 2002. dengan seroprevalensi yang berkisar antara 2% . atau dari pemakaian obat secara injeksi yang tidak aman.) 2 . Geographic distribution of the prevalence of chronic hepatitis B virus infection. tetapi kasus infeksi virus hepatitits B hanya sedikit terjadi di Amerika Serikat.8%. secara seksual. Alaska. Di wilayah ini biasanya virus hepatitis B ditularkan secara seksual dan secara pemakaian obat secara intravena. Perjalanan dari transmisi bergantung pada pada wilayah prevalensi dari infeksi. Wilyah yang merupakan intermediat seroprevalensi adalah Sub-Saharan Afrika. kecuali pada imigran di Amerika Serikat yang berasal dari daerah yang memiliki prevalensi tinggi. dengan seroprevalensi lebih besar sama dengan delapan persen. Wilayah yang punya endemisitas tinggi adalah Asia dan Pasifik Selatan.

Dalam sitoplasma sel hepar. Sedangkan jika yang melebar secara tidak teratur adalah daerah portal disertai nekrosis diantara daerah portal yang berdekatan dan perluasan dalam pembentukan septa fibrosis maka terjadi hepatitis kronik aktif.BAB II PATOGENESIS HEPATITIS B Target organ virus hepatitis B adalah hati. Respon imunologik penderita terhadap infeksi inilah yang menyebabkan mekanisme kerusakan hati yang kronik. Gambaran patologis pada hepatitis B adalah peradangan akut di seluruh bagian hati dengan nekrosis sel hati disertai dengan infiltrasi sel-sel hati dengan histiosit. Mula-mula virus hepatitis B melekat pada reseptor spesifik yang letaknya melekat di membran sel hepar yang kemudian mengalami penetrasi ke dalam sitoplasma sel hepar. Virus-virus yang baru terbentuk ini nantinya akan diilepaskan ke peredaran darah. Selanjutnya nukleokapsid akan menembus dinding sel hati. Jika tidak ada respon imunologik atau respon imunologik yang timbul minimal maka akan terjadi keadaan karier yang sehat. 3 . Di dalam sel hati. virus hepatitis B melepaskan mantelnya. Bila nekrosis meluas maka akan terjadi hepatitis B akut fulminan. sehingga nukleokapsid dari virus hepatitis B lepas. DNA virus hepatitis B akan mengendalikan dan memerintahkan sel hati untuk membuat protein yang nantinya akan digunakan oleh virus-virus baru. nukleokapsid akan mengeluarkan inti asam nukleat virus hepatitis B dan inti asam nukleat tersebut akan menempel pada DNA hospes dan berintegrasi pada DNA tersebut. Setelah pembentukan protein itu terjadilah pembentukan virus baru. Bila penyakit menjadi kronik dengan peradangan dan fibrosis meluas di daerah portal dan batas antara lobulus masih utuh. maka akan terjadi hepatitis kronik persisten.

Serologi untuk infeksi hepatitis B yang baru menginfeksi seseorang dapat dilakukan dengan: • Mendeteksi HBsAg pada pasien yang negatif terinfeksi virus hepatitis B selama 24 bulan sebelumnya. • Mendeteksi HBsAg dan tingginya tingkat IgM yang spesifik untuk antigen inti pada hepatitis B (IgM HBsAg) yang tidak muncul sebelum infeksi virus hepatitis B.BAB III DIAGNOSA DAN MANIFESTASI KLINIS 3. Penggunaan serologi ini dapat digunakan untuk menentukan waktu seseorang terserang virus hepatitis B ini. Sedangkan pada kasus infeksi virus hepatitis B yang kronis bisa dilakukan dengan cara mendeteksi HBsAg atau DNA virus hepatitis B yang ada pada serum pasien sebanyak dua kali pada waktu yang terpisah selama enam bulan. apakah dia baru terinfeksi virus ini atau apakah virus yang menginfeksi orang tersebut sudah masuk ke fase kronis.1 Diagnosis Infeksi virus hepatitis B didiagnosa melalui pendeteksian lewat antigen kulit hepatitis B atau biasa disebut HBsAg (Hepatitis B Surface Antigen) atau DNA virus hepatitis B yang ada di dalam serum atau plasma darah. Tes HBsAg Anti-HBC Anti-HBs HBsAg Hasil Negatif Negatif Negatif Negatif Interpretasi Tidak terinfeksi (Lebih baik dilakukan langkah pencegahan melalui vaksinasi) Orang tersebut sudah 4 .

Sembuh dari infeksi virus hepatitis B akut. Interpretasi serologi virus hepatitis B *Lima interpretasi yang memungkinkan tersebut adalah sebagai berikut: 1. 2.Anti-HBC Anti-HBs HBsAg Anti-HBC Anti-HBs HBsAg Anti-HBC IgM anti-HBC Anti-HBs HBsAg Anti-HBC IgM Anti-HBC Anti-HBs HBsAg Anti-HBC Anti-HBs Positif Positif Negatif Negatif Positif Positif Positif Positif Negatif Positif Positif Negatif Negatif Negatif Positif Negatif menjadi kebal karena sudah pernah terinfeksi sebelumnya Orang tersebut kebal dari infeksi virus karena pernah divaksinasi sebelumnya Orang tersebut telah terinfeksi secara akut Orang tersebut terinfeksi virus hepatitis B secara kronis *Ada lima interpretasi yang memungkinkan Tabel 1. 5 . Mempunyai kekebalan tetapi hanya sedikit dan tes yang tidak peka untuk mendeteksi tingkatan anti-HBs yang sangat rendah dalam virus.

Hepatitis B akut yang khas terdiri dari terdiri dari tiga fase. Sedangkan manifestasi hepatitis B kronis adalah manifestasi infeksi virus hepatitis B pada seseorang dengan sistem imunologi yang kurang sempurna sehingga virus hepatitis B pada tubuh penderita tidak hilang secara sempurna dan terjadi koeksistensi dengan virus hepatitis. mual. yakni: hepatitis B akut dan hepatitis B kronis. anorexia. 6 . yakni: fase praikterik. Fase berikutnya adalah fase penyembuhan.3. Manifestasi hepatitis B akut adalah manifestasi infeksi virus hepatitis B pada seseorang yang sistem imunologinya matur sehingga berakhir dengan hilangnya virus hepatitis B. Pasien terinfeksi virus hepatitis B tetapi tingkat HBsAg tidak terdeteksi. hepatitis fulminan. Mempunyai kekebalan tetapi anti-HBC salah terdeteksi. Fase penyembuhan ditandai oleh menurunnya kadar enzim aminotransferase dan tidak adanya rasa nyeri meskipun masih ada perbesaran hati.2 Manifestasi Klinis Manifestasi klinis hepatitis B dibagi menjadi dua berdasarkan gejala-gejala klinis dan petunjuk serologinya. 3. 4. dan hepatitis subklinik. Fase praikterik adalah fase dimana hepatitis B akut tidak memilki gejala yang spesifik dan penderita biasanya demam tinggi. Pada fase ikterik muncul gejala demam dan gastrointestinal yang semakin hebat serta disertai hepatomegali dan spletomegali. nyeri di daerah hati. Hepatitis B akut dibagi menjadi tiga. yaitu: hepatitis B akut yang khas. fase ikterik. Ada antibodi yang diperoleh dari ibu saat hamil. dan fase penyembuhan. 5. dan perubahan warna urin menjadi gelap.

selain itu juga timbul mual dan muntah yang hebat. keamanan relatif dari agen antiviral. dan entecavir (Baraclude) tetapi tidak Adefovir (Hepsera). Obat-obat interferon dapat menimbulkan kontraindikasi karena obatobat tersebut sering mengakibatkan efek samping dan memperburuk hepatitis. Pada hepatitis B jenis ini kesadaran cepat menurun sehingga dapat terjadi koma. BAB IV MANAJEMEN HEPATITIS B Pengobatan pada hepatitis B dilakukan dengan tujuan utama untuk menekan replikasi virus hepatitis B dan untuk mendorong pembebasan penyakit hati sebelum penyakit sirosis dan penyakit karsinoma hepatoselular berkembang. Respon dari terapi didefinisikan sebagai DNA virus hepatitis B yang tidak terdeteksi dalam serum. Rekomendasi ini bukan berdasarkan penelitian melainkan berdasarkan pengalaman pribadi. pengurangan dalam necroinflamasi atau penghentian pergerakan fibrosis. Dalam kasus langka kegagalan hati akut yang terkait demgan infeksi virus hepatitis B akut telah direkomendasikan penggunaan nukleosida atau analog nukleotida reverse transcriptase inhibitor. serta terjadi gagal ginjal akut dengan uremia dan anuria. telbivudin (Tyzeka).Hepatitis fulminan adalah hepatitis B yang memiliki prognosa buruk dalam 7 – 10 hari. Nukleosida atau analog nukleotida yang telah direkomendasikan dalam kegagagalan hati akut adalah lamivudin (Epivir). yang memiliki aksi yang lamban dan potensi nephrotoxicity. perbaikan dalam penyakit hati. normalisasi aminotransferase. sifat serius kegagalan hati akut. Subkutan rekombinan interferon-α (10 MU tiga kali seminggu) dan oral lamivudin (100 mg sekali sehari) yang diizinkan untuk digunakan di banyak negara dan beberapa oral adefoir (100 mg sekali sehari) beberapa waktu yang lalu telah diakui. dan kemungkinan kebutuhan darurat transplatasi hati yang memerlukan profilaksis melawan kekambuhan. 7 . hilangnya HBsAg berkelanjutan dengan atau tanpa hilangnya deteksi anti-HBs.

Dalam infeksi virus hepatitis B . Interferon memiliki durasi yang terdefinisi dengan baik dari pengobatan. Interferon adalah obat-obatan pertama yang terbukti efektif terhadap virus hepatitis B. Karena DNA virus hepatitis B memiliki dampak besar pada risiko sirosis dan karsinoma hepatoselular. dalam beberapa hal interferon dapat dianggap sebagi pilihan awal terbaik terutama pada pasien dengan antigen hepatitis e positif. Tujuan utamanya adalah menghilangkan e antigen.Seseorang dengan kegagalan hati akut harus segera melakukan transplantasi hati dan langka-langkah manajemen lainnya harus dilakukan dengan tepat waktu. Interferon memiliki banyak efek samping tetapi tidak seperti semua pilihan lain. 8 . keputusan perawatan individual yakni berlangsung >6 bulan harus didasrkan pada situasi klinis pada pasien dan hasil tes. Secara klinis sirosis diduga penting untuk dipertimbangkan ketika memutuskan apakah diperlukan terapi antivirus.