You are on page 1of 16

Nifas

Dara Mayasari Pengertian Nifas berasal dari bahasa arab yaitu ÇáäöÝúÓõ yang berarti darah, dari segi bahasa nifas berarti kelahiran atau melahirkannya seorang wanita, keluarnya darah dari rahim wanita karna kelahiran anaknya, seorang yang sedang nifas disebut nufasa, nafsa atau nafasa. Tsa‟lab berkata: nufasa mencakup wanita yang melahirkan, hamil, haidh, sedangkan jama‟ dari tiap mereka disebut nufasawat, nifas, nufas, naffas . Didalam hadist disebutkan: “Sesungguhnya Asma binti „Umais talah telah melahirkan Muhammad binti Abi bakar”. Dan disebutkan pula dalam hadist: Yang artinya “tidaklah seorang jiwa dilahirkan kecuali telah ditulis baginya tempat di surga atau neraka” Sedangkan secara istilah, para ulama pun berbeda beda dalam mengartikannya: Al Hanafiyah dan Asy Syafi‟iyah mengatakan bahwa nifas adalah darah yang keluar setelah melahirkan. Al Malikiyah mengatakan bahwa nifas adalah darah yang biasa keluar dari kemaluan seorang wanita karna melahirkan, yang mana keluarnya darah dipengaruhi oleh keadaan fisik yang sehat. Sedangkan Al Hanafiyah mengatakan bahwa nifas adalah darah yang dikeluarkan oleh rahim ketika melahirkan dan juga dua atau tiga hari sebelumnya ditandai dengan rasa sakit sampai empat puluh hari penuh. Kata-Kata Terkait A. Haidh Haidh dari segi bahasa berasal dari bahasa arab yaitu ÍÇÖó yang berarti mengalir. Sedangkan menurut istilah, Al Malikiyah dan ulama yang lain mengatakan bahwa Haidh adalah darah yang biasa keluar dari rahim seorang wanita bukan karna

Istahadlah Dari segi bahasa. sehingga dia diharamkan untuk shalat dan tidak diberi tanggungan untuk menggantinya.melahirkan. dan wanita yang istihadlah disebut Mustahadlah. Batas masa nifas Para ulama fiqih berbeda pendapat dalam batasan masa nifas. Al Malikiyah berpendapat bahwa istihadlah adalah darah yang keluar dari kemaluan seorang wanita yang dipengaruhi oleh fisik yang sakit . baik dengan berpuasa di hari-hari yang lain atau dengan fidyah. Darah nifas dan istihadlah saling berhubungan karna dua-duanya keluar dari rahim seorang wanita. darah nifas dipengaruhi oleh keadaan fisik yang sehat. dan bukan juga karna adanya pembuahan. tapi ia berkewajiban untuk mengganti puasa yang ditinggalkannya. B. istihadlah berarti keluarnya darah secara terus menerus melebihi batas maksimum kebiasaan masa haidh.. seorang nufasa tidak diperbolehkan untuk puasa di hari dimana ia harus berpuasa. bukan karna sakit.sedangkan darah nifas keluar dari rahim wanita setelah ia melahirkan. sedangkan As Syafi‟iyah berpendapat bahwa istihadlah adalah darah yang keluar dari bagian bawah rahim karna keadaan fisik yang sakit. Dampak nifas terhadap kewajiban shalat dan puasa Seorang nufasa atau wanita yang sedang nifas tidak diwajibkan shalat atau lebih tapatnya diharamkan. Batas minimum masa nifas . baik minimum atau maksimumnya. setelah batas maksimum masa haidh dan nifas . karna salah satu dari syarat sahnya shalat adalah suci dari hadast kecil atau besar. Beda dengan puasa. sedangkan darah istihadlah dipengaruhi oleh faktor fisik yang sakit. Sedangkan yang membedakan antara keduanya adalah. Haidh dan nifas saling berhubungan karna keduanya adalah darah yang biasanya keluar dari seorang wanita dan sama sama dipengaruhi oleh keadaan fisik yang sehat. A. Sedangkan secara istilah. sedangkan seorang nufasa dalam keadaan berhadast. sedangkan yang membedakan adalah. darah haidh keluar dari rahim bagian atas seorang wanita setelah ia dewasa.

maka ia wajib untuk segera mandi besar dan shalat. kapan saja seorang nufasa melihat tidak adanya darah nifas yang keluar. Telah diriwayatkan dari Ummu Salamah. dia bertanya kepada nabi Muhammad SAW: berapa hari seorang wanita duduk setelah ia melahirkan?. dan seperti itu juga yang diriwayatkan oleh „Atha bahwasanya ia menemukan yang demikian itu . . bahwa batas minimum masa nifas adalah dua puluh lima hari. Pertama. ia adalah darah haidh jika bersamaan dengan masa kebiasaan haidh. dan diriwayatkan dari Ahmad bahwa batas minimum masa nifas adalah sehari . maka ia segera mandi besar dan shalat . ia berkata: wanita yang ada diantara kami mengeluarkan nifas sampai dua bulan. Al Hanafiyah berpendapat.Kebanyakan dari ahli fiqih berpendapat bahwa nifas tidak mempunyai batas masa minimum. Kapan dimulainya nifas Para ulama fiqih sepakat bahwa nifas adalah darah yang keluar setelah lahirnyanya anak dan terpisahnya ia dari rahim ibunya. Kebanyakan ahli fiqih dari Al Hanafiyah dan Al Hanabilah berpendapat bahwa batas maksimum masa nifas adalah empat puluh hari. Abu yusuf berpendapat sebelas hari . nabi Muhammad SAWpun berkata: “ia duduk selama empat puluh hari kecuali jika ia tidak lagi melihat darah nifas keluar darinya sebelum empat puluh hari itu” . Al Muzni As Syafi‟i berpendapat empat hari . B. Sedangkan mereka berbeda pendapat apakah darah yang keluar sebelum lahirnya seorang anak disebut dalam proses kelahiran juga disebut nifas?. pendapat mereka ini bersandar pada apa yang diriwayatkan oleh Al „Auza‟i. Batas maksimum masa nifas Dalam batas maksimum masa nifas ini ada 2 pendapat. Maka jika darah nifas terus menerus keluar melebihi empat puluh hari. As Syafi‟iyah dan Al Malikiyah berpendapat bahwa batas maksimum masa nifas adalah enam puluh hari. Pendapat kedua. dan jika tidak sesuai dengan masa kebiasaan haidh maka ia adalah darah istihadlah. ini adalah batas masa kebiasaan nifas bagi As Syafi‟iyah abu „Isa At Tirmidzi berkata bahwa para ahli ilmu pada zaman Rasulullah SAW dan setelah mereka sepakat bahwa seorang nufasa meninggalkan shalat selama empat puluh hari kecuali jika ia tidak melihat lagi darah nifas keluar dari padanya.

dia bertanya kepada nabi Muhammad SAW: berapa hari seorang wanita duduk setelah ia melahirkan?. Begitu juga dengan darah yang keluar bersamaan dengan si anak. Al Hanafiyah berpendapat bahwa darah yang keluar bersamaan dengan anak adalah darah istihadlah. Keadaan pertama. sedangkan Al Malikiyah berpendapat bahwa itu adalah darah nifas. bawa darah yang keluar sebelum lahirnya anak dalam proses kelahiran adalah darah nifas. Sesuai dengan apa yang diriwayatkan dari Ummu Salamah. Al Malikiyah menyimpulkan dari pendapat yang paling banyak. Terputusnya darah di masa nifas Berikut ini pendapat mayoritas ulama fiqih tentang terputusnya darah di masa nifas atau dengan kata lain terputusnya darah nifas sebelum batas minimum masa nifas yaitu empat puluh hari. bahwa terputusnya darah nifas untuk saat ini adalah jelas. bukan darah nifas. melainkan ia adalah darah istihadlah. sedangkan kembali keluarnya darah setelah terputus bukannya hal yang . mandi besar dan shalat. begitu juga dengan Al Hanabilah. nabi Muhammad SAWpun berkata: “ia duduk selama empat puluh hari kecuali jika ia tidak lagi melihat darah nifas keluar darinya sebelum empat puluh hari itu”. para ulama fiqih juga berbeda pendapat didalamnya. Mayoritas ulama fiqih berpendapat bahwa jika darah nifas benar-benar terputus atau dengan kata lain bersih sebelum empat puluh hari. baik itu benar-benar terputus atau terputus kemudian keluar lagi. meskipun masa keluarnya darah ini lama. Sedangkan Al Hanabilah berpendapat bahwa dimulainya masa nifas adalah ketika keluarnya sebagian dari badan anak.Al Hanafiyah berpendapat bahwa darah yang keluar sebelum keluarnya seorang anak bukanlah nifas. dan darah yang keluar dua atau tiga hari sebelum keluarnya anak dengan disertainya rasa sakit juga disebut darah nifas tapi tidak dihitung sebagai masa dimulainya nifas. maka harus segera bersuci. Dan tidaklah dianngap sebagai mulainya masa nifas kecuali setelah keluarnya anak dan terpisahnya ia dari rahim ibunya. darah nifas yang benar benar terputus. Al Malikiyah dan As Syafi‟iyah berpendapat bahwa darah yang keluar sebelum keluarnya anak dalam proses kelahiran adalah darah haidh. Dan para ulama fiqih ini pun beralasan.

maka darah yang keluar setelah lima belas hari itu adalah darah haidh. dari hari pertama sampai hari ke empat puluh setelah kelahiran adalah masa nifas. karna masih ada kemungkinan darah nifas itu akan keluar lagi ketika bersetubuh. Sedangkan bagi Abu Yusuf dan Muhammad. meskipun belum berlalunya batas maksimum masa nifas. bisa jadi darah akan keluar atau mungkin akan benar benar terputus. Al Malikiyah berpendapat jika setelah darah nifas terputus. masa nifasnya hanya sehari. meskipun kurang atau lebih dari lima belas hari. maka harus segera bersuci. masa terputusnya darah selama lima belas hari adalah masa suci. dan „Utsmanpun berkata pada istrinya: jangan mendatangiku . As Syafi‟iyah dan juga Muhammad dan Abu Yusuf dari Al Hanafiyah berpendapat bahwa jika darah nifas terputus dalam jangka waktu minimum masa suci yaitu lima belas hari. mandi besar dan shalat. kemudian tiga puluh delapan hari darah terputus dan darah keluar lagi di hari ke empat puluh setelah kelahiran. Keadaan kedua. bersandar dengan hadist „Utsman bin Abil „Ash bahwasanya istrinya mendatanginya sebelum berlalu masa empat puluh hari setelah ia melahirkan. Abul Khattab Al Kaludzani menyebutkan bahwa kebanyakan ahli fiqih tidak menjadikan hukum bersetubuh pada masa ini makruh. kemudian keluar lagi. dan keluar lagi selama masa enam puluh hari. maka keragu raguan akan keluar lagi atau tidaknya darah nifas ini harus ditinggalkan dengan jelasnya terputusnya darah. Beda lagi dengan Al Hanabilah yang memakruhkan suami untuk menyetubuhi istrinya yang telah bersuci dari nifasnya sebelum empat puluh hari. maka Abu Hanifah berpendapat bahwa masa sebelum keluar laginya darah tidak disebut masa suci. sedangkan bagi Abu Hanifah. darah nifas yang terputus. kemudian terputus lagi. Sedangkan bagi Al Malikiyah dan As Syafi‟iyah yang berpendapat bahwa maksimum masa nifas adalah enam puluh hari. maka menurut mereka hanya darah di hari pertama yang termasuk nifas atau dengan kata lain. karna darah yang keluar setelah masa terputusnya darah juga termasuk darah nifas. shalat pun telah menjadi kewajiban . maka harus bersuci dan mandi besar di tiap terputusnya darah. Tapi jika darah keluar lagi sebelum lima belas hari. walaupun misalnya darah hanya terlihat sehari setelah kelahiran. Al Malikiyah. kemudian keluar lagi sebelum berlalunya batas maksimum nifas.jelas. maka merekapun berpendapat bahwa jika darah nifas benar benar terputus sebelum enam puluh hari.

Al Hanafiyah membedakan antara nifasnya seorang wanita yang baru mengalami nifas untuk pertama kalinya dan wanita yang telah mengalaminya berkali kali sehingga ia mempunyai batas kebiasaan nifas sendiri. Bagi wanita yang baru mengalami nifas. jika masa terputusnya darah kurang dari lima belas hari. maka masa terputusnya darahpun termasuk dalam masa nifas. baik masa terputusnya darah itu sampai lima belas hari atau tidak. Tapi jika seorang wanita yang baru pertama kali menemui hal seperti ini pada nifasnya. terputus lagi keluar lagi selama masa enam puluh hari. sama halnya jika tidak ada darah sama sekali ketika kelahiran. Yang kedua. apakah termasuk darah nifas atau darah istihadlah. maka di masa ini. karna kedua darah ini sama sama mempunyai kemungkinan untuk keluar. dan masa lima belas hari sebelumnya adalah masa suci. Keluarnya darah melebihi batas maksimum masa nifas Para ulama mempunyai rincian masing masing dalam hal ini. maka ada perbedaan pendapat juga apakah penentuan akan jenis darah ini disandarkan pada batas minimum masa nifas atau batas masa nifas yang biasa dialaminya. Yang pertama. dan yang . maka penentuan jenis darah ini disandarkan pada kebiasaan. masa tersebut adalah masa suci. kemudian keluar beberapa saat dalam jangka waktu empat puluh hari setelah kelahiran. maka darah yang keluar adalah darah istihadla. masa tersebut adalah masa nifas. dan tidak ada larangan untuk bersetubuh di masa masa terputusnya darah. maka darah yang keluar adalah darah haidh. darah ini pun tidak bisa dipastikan apakah darah nifas atau istihadlah. bahwa darah yang keluar lagi setelah terputus dan masih dalam jangka waktu empat puluh hari setelah kelahiran tidak bisa benar benar diperkirakan apakah itu darah nifas atau istihadlah. tapi jika masa terputusnya darah kurang dari lima belas hari. jika darah keluar lagi setelah lima belas hari terputus. masa bersih atau terputusnya darah nifas itu ada dua pendapat.yang tidak boleh ditinggalkan. maka darah selama empat puluh hari itu nifas. seorang wanita telah wajib shalat tapi tidak boleh bagi suaminya menyetubuhinya jika darahnya belum terputus. atau terputus kemudian keluar lagi. maka jenis darah ditentukan oleh hasil penilaian dari perbedaan ini. Jika memang sudah menjadi kebiasaan. jika darah yang keluar setelah melahirkan itu lebih dari empat puluh hari. Al Hanabilah berpendapat. Tapi jika bisa membedakan antara darah nifas dan darah istihadlah. Sedangkan menurut As Syafi‟iyah.

darah istihadlah tidak akan keluar ketika masa nifas dan juga ketika masa haidh. Sisi kedua menjelaskan jika darah yang keluar melebihi enam puluh hari adalah darah istihadlah. Sedangkan bagi wanita yang telah mempunyai batas kebiasaan masa nifas. . dan apabila darah terputus sebelum empat puluh hari. Yang pertama. Ar Rafi‟i berkata bahwa darah yang keluar melebihi masa enam puluh hari adalah darh istihadlah. tapi jika tidak bisa dibedakan maka ketentuan hukum ini sesuai dengan batas masa kebiasaan nifas. Sedangkan sisi ketiga menjelaskan bahwa darah yang keluar melebihi enam puluh hari adalah darah haidh. maka darah yang keluar setelah hari ke empat puluh adalah darah istihadlah. apabila kebiasaan masa nifasnya adalah empat puluh hari. Al Malikiyah berpendapat bahwa jika darah masih keluar setelah batas maksimum masa nifas yaitu enam puluh hari. sampai batas kebiasaan masa suci. sedangkan darah yang keluar selama enam puluh hari sebelumnya adalah nifas. maka darah itu adalah darah istihadlah.keluar setelahnya adalah istihadlah. sebagaimana batas maksimum masa haidh yang hanya sepuluh hari. maka ia masih disebut sebagai nufasa atau wanita yang nifas sampai batas empat puluh hari dari hari pertama nifasnya. darah nifas dan darah haidh adalah darah yang berbeda sehingga memungkinkan untuk darah haidh keluar setelah darah nifas tanpa adanya jarak waktu. jadi apabila darah tetap mengalir setelah empat puluh hari masa nifas atau setelah sepuluh hari masa haidh. Al Hanabilah berpendapat bahwa jika darah yang keluar setelah empat puluh hari itu bertepatan dengan waktu kebiasaan haidh. pendapat kedua mempunyai tiga sisi. maka ketentuan hukum darah ini sesuai dengan ciri yang terlihat. maka darah yang keluar ini adalah darah istihadlah. maka darah yang keluar itu adalah darah istihadlah. Karna bagi Al Hanafiyah batas maksimum masa nifas adalah empat puluh hari. tapi jika tidak. sisi pertama sama persis dengan pendapat pertama. Ulama sepakat bahwa pendapat pertama ini lebih shohih dari pendapat yang lainnya. Yang kedua. walaupun jika nufasa telah terbiasa nifas melebihi enam puluh hari. sedangkan bagi nufasa yang baru mengalami nifas untuk pertama kalinya. maka darah yang keluar itu adalah darah haidh. Karna menurut Al Hanafiyah. Sedangkan menurut As Syafi‟iyah jika darah keluar melebihi batas maksimum masa nifas yaitu enam puluh hari. maka ada dua pendapat. jika ciri darah tidak bisa dibedakan maka yang menentukan darah itu nifas atau bukan adalah batas minimum masa nifas atau batas kebiasaan masa nifas. jika ciri darahnya bisa dibedakan.

begitu juga dengan darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua. sedangkan jarak kelahiran antara anak pertama dan anak ketiga lebih dari enam bulan. dan jika masih ada darah yang keluar setelah empat puluh hari dari kelahiran anak pertama. dan setelah kelahiran anak kedua darah keluar selama dua puluh satu hari. Abu Hanifah mengatakan. juga bukan darah nifas. karna dua anak ini kembar. Al Malikiyah mengatakan bahwa nifasnya seorang nufasa yang melahirkan anak kembar dimulai dari kelahiran anak pertama jika jarak kelahiran antara dua anak ini kurang dari enam puluh hari. Mereka juga mengatakan bahwa jika terlahir tiga anak dalam waktu yang berdekatan. Mereka pun menjelaskan. jarak kelahiran anak pertama dan kedua kurang dari enam bulan. begitu juga hukum nifasnya. maka kelahiran tiga anak dihitung seperti kelahiran satu anak. begitu juga pendapat As Syafi‟iyah di satu sisi. Abu Hanifah. Abu Yusuf dan Al Malikiyah berpendapat bahwa nifas dimulai dari lahirnya anak pertama. melainkan darah istihadlah. jika seorang nufasa terbiasa nifas dua puluh hari. terbukalah mulut rahim. dan dengan lahirnya anak pertama. sedangkan darah nifas adalah sisa dari makanan janin ketika ia berada didalam rahim ibunya yang terdiri dari darah haidh yang tidak bisa keluar karna tertutupnya mulut rahim karna kehamilan. Para ulama fiqih berbeda pendapat dalam hukum dimulainya masa nifas dari kelahiran anak kembar-jika jarak kelahirannya kurang dari enam bulan-. dihitung empat puluh hari dari kelahiran anak pertama. hukum darah yang keluar antara kelahiran anak pertama dan kedua. sedangkan darah yang keluar setelah anak kedua adalah darah istihadlah.Nifas dari kelahiran anak kembar Yang dimaksud dengan kembar adalah apabila dua orang anak lahir dengan jarak kurang dari enam bulan. kemudian setelah kelahiran anak pertama darah keluar selama dua puluh hari. maka darah yang keluar selama dua puluh hari setelah kelahiran anak pertama adalah nifas. bahwa nifas dimulai dari lahirnya anak pertama. maka nifas setelah kelahiran anak kedua dihitung dari . sesuai dengan pendapat Abu Hanifah dan abu Yusuf. Pendapat pertama. sedangkan telah ditetapkan dalam syariat bahwa batas maksimum masa nifas adalah empat puluh hari. begitu juga dengan kelahiran anak kedua dan ketiga. maka yang keluar setelah kelahiran anak pertama adalah darah yang sebelumnya tidak bisa keluar karna tertutupnya mulut rahim yaitu darah nifas. dan darah yang keluar setelah kelahiran anak yang kedua. apabila jarak lahinya dua anak ini lebih dari enam bulan maka semua ulama fiqih sepakat bahwa sang ibu mengalami dua kali nifas. maka darah itu bukanlah darah nifas.

maka dihukumi dua kali nifas.kelahiran anak pertama. Dan apabila jarak kelahiran antara dua anak kembar ini lebih dari enam puluh hari. hukumnya sama seperti terputus putusnya darah haidh sebelum batas maksimum masanya. tetap dihukumi sebagai satu masa kehamilan dan kelahiran satu anak. karna anak kedua merupakan pengikut dari anak pertama sehingga tidak bisa dikatakan bahwa nifas akhir dari anak pertama adalah nifas awal dari anak kedua. darah yang keluar setelah kelahiran anak pertama adalah darah nifas. begitu juga darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua. dalam artian. Dan terputus putusnya darah nifas sebelum batas maksimum masa nifas. maka nifas dimulai dari kelahiran anak pertama. sesuai dengan batas maksimal masa nifas menurut Al Hanabilah. dan tidak disebut sebagai masa nifas. sekumpulan ulama mengakatan bahwa darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua yang melalui masa enam puluh hari dari lahinya anak pertama adalah darah istihadlah. Maka jika jarak antara kelahiran anak pertama dan kedua adalah empat puluh hari. karna itu bukan darah haidh atau nifas. maka masa terputusnya darah tidak termasuk dalam hukum nifas. yaitu dimulainya lagi nifas yang dihitung dari kelahiran anak pertama. maka darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua bukanlah nifas. Sedangkan Al Hanabilah mengatakan jika lahir anak kembar lebih banyak dari dua anak. karna anak kembar dilahirkan dari satu masa kehamilan. dan wanita ini telah diperbolehkan untuk disetubuhi oleh suaminya di tiap masa terputusnya darah. akan tetapi masa suci lima belas hari tetap dihukumi sebagai masa suci. maka darah yang keluar setelah anak kedua juga darah nifas. namun jika anak yang kedua lahir setelah lima belas hari sucinya sang ibu dari nifasnya yang pertama. dan kedua masa nifas ini mempunyai masa minimum dan maksimum yang sama. maka darah yang keluar itu adalah istihadlah. . As Syafi‟iyah mengatakan bahwa darah nifas dimulai dari kelahiran anak pertama. bukan darah nifas. maka darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua ini adalah darah istihadlah. begitu juga dengan puasa dan shalat. maka awal dan akhirinya masa nifas dihitung dari kelahiran sebagian dari badan anak pertama. melainkan ia merupakan masa suci. karna darah nifas adalah yang keluar setelah kelahiran. dan jika darah keluar lebih dari batas maksimum masa nifas yaotu enam puluh hari. akan tetapi darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua yang terhitung empat puluh hari dari kelahiran anak pertama adalah darah istihadlah. itu jika tidak ada masa suci selama lima belas hari antara kelahiran dua anak ini. berapapun jumlah anak kembar yang dilahirkan. begitu juga apabila anak yang kedua lahir setelah masa enam puluh hari dari kelahiran anak pertama. dimana seorang wanita telah wajib untuk mandi besar setiap kali terputusnya darah.

jika darah yang keluar setelah kelahiran anak pertama hanya sehari. barulah yang disebut darah nifas. dan dilanjutkan setelah kelahiran anak kedua. Sisi kedua dari pendapat As Syafi‟iyah bahwa nifas dimulai dari kelahiran anak kedua karna darah yang keluar setelah kelahiran anak pertama masih dibarengi dengan adanya anak kedua di rahim ibu. pendapat kedua ini adalah pendapat Muhammad dan Zafar dari Al Hanafiyah. yang mana mereka mengatakan bahwa masa nifas dimulai dari kelahiran anak pertama kemudian dimulai lagi. sehingga kewajiban untuk shalat dan puasa masih harus dijalankan. maka nifaspun berhubungan dengan anak kedua. yang mana darah tidak akan keluar dengan sempurna kecuali dengan lahinya anak kedua. sebagaimana jika melahirkan satu anak yang mana sebagian tubuhnya telah keluar dan sebagiannya lagi masih didalam rahim ibunya. maka hukum gugurnya kewajiban shalat juga masih diragukan dalam keadaan seprti ini. An Nawawi menyampaikan bahwa sisi kedua dari pendapat As Syafi‟iyah ini adalah pandangan tershahih menurut Abu Hamid. inilah sisi ketiga dari pendapat As Syafi‟iyah. dan setelah kelahiran tiap anak selalu keluar darah. Pendapat ketiga. seperti tidak mungkinnya selesainya masa „iddah tanpa kelahiran anak. dan darah yang keluar setelah anak yang kedua enam puluh hari. maka darah yang keluar . pendapat dimana dimulainya nifas setelah kelahiran anak kedua. dan sisi kedua dari pendapat As Syafi‟iyah. karna darah nifas sama dengan darah haidh. bahwa jika jarak kelahiran antara anak pertama dan anak kedua adalah dua puluh hari. begitu juga dengan darah nifas yang tidak akan keluar tanpa selesainya masa kehamilan. maka darah yang keluar selama dua puluh hari setelah kelahiran anak pertama sebelum lahirnya anak kedua adalah darah istihadlah.Pendapat kedua. seperti selesainya masa „iddah yang berhubungan dengan selesainya masa kehamilan. Mereka beralasan bahwasanya nifas berhubungan dengan apa saja yang keluar dari rahim. maka dihukumi dengan dua kali nifas. Muhammad dan Zafar menambahkan. tidak peduli keluarnya darah setelah enam puluh hari. Maka darah yang keluar setelah kelahiran anak pertama disebut nifas di satu sisi dan bukan nifas di sisi yang lain. maka darah yang keluar ini dihukumi seperti darah yang keluar sebelum kelahiran. bahwa darah nifas dimulai dari kelahiran anak pertama. berarti bisa diartika sebagai dua kali nifas dan tiap nifas mempunyai batasannya sendiri sendiri. Imamul Haramain mengatakan bahwa walaupun anak kembar yang dilahirkan lebih dari dua. dan kata nifas juga diartikan sebagai keluarnya darah dari rahim. para sahabat di iraq dan di khurasan. sedangkan darah yang keluar setelah kelahiran anak kedua.

sama halnya dengan seorang hamba sahaya yang mengandung anak dari tuannya. maka wanita yang melahirkan ini bukanlah nufasa dan ia pun dalam keadaan suci. ia pun tetap disebut ibu dari anak seorang tuan dengan keguguran janinnya yang telah terbentuk bagian tubuhnya. karna tidak disebutkannya dalam teks Al Quran atau Sunnah. maka darah yang keluar setelahnya bukanlah darah nifas. maka tidak dihukumi sebagai nifas. dan dikatakan juga bahwa dihukumi nifas apabila janin yang gugur telah berusia empat bulan. Sedangkan menurut Al Malikiyah. maka darah yang keluar setelahnya adalah nifas. maka darah yang keluar setelah gugurnya janin adalah nifas. hukum nifas ditetapkan jika janin yang gugur telah terbentuk bagian bagiannya. jika yang gugur adalah gumpalan darah yang tidak bisa mencair setelah disiram dengan air panas. Kewajiban mandi besar setelah terputusnya darah nifas Para ulama fiqih menyepakati bahwa seorang nufasa wajib mandi besar jika darah nifasnya telah terputus. masa „iddah seorang wanitapun selesia dengan gugurnya janin ini. Sedangkan jika janin yang gugur balum terbentuk bagian tubuhnya. karna penciptaan telah dimulai dengan masa itu. maka para ulama fiqih pun berbeda pendapat. Pandapat pertama. Al Hanafiyah mengatakan bahwa jika janin yang gugur itu belum berbentuk apapun.setiap kelahiran anak disebut nifas. sedangkan tidak ditemukan adanya darah. begitu juga dengan wanita yang dalam masa „iddah. dalil dari pada kesepakatan ini adalah ijma‟ atau dengan kata lain kesepakatan para ulama itu sendiri. Dan apabila lahirnya seorang anak tidak diikuti dengan darah. dan masa nifas setelah tiap kelahiran mempunyai batasannya sendiri sendiri dan tidak saling berhubungan antara kelahiran yang satu dengan kelahiran yang lain. Pendapat kedua. Sedangkan Al Hanabilah mengatakan bahwa. „iddahnya pun selesai dengan keguguran janinnya yang telah terbentuk bagian tubuhnya. . dan jika janin yang gugur masih berupa gumpalan darah atau daging. karna penciptaan manusia telah dimulai. dan janin yang keluar dari rahimnya itu telah terbentuk jari jarinya atau bagian tubuh yang lainnya. karna apa yang disebut dengan nifas adalah darah. sehingga wanita yang mengalami keguguran inipun disebut sebagai nufasa. maka kelahirannya sebelum waktunya dianggap seperti kelahiran seorang anak. menurut As Syafi‟iyah jika janin yang gugur dari rahim berupa gumpalan darah atau daging. Nifas bagi wanita yang keguguran Para ulama fiqih telah sepakat bahwa jika seorang wanita keguguran.

maka ia bukanlah nufasa dan tidak wajib baginya kecuali wudhu.Tapi para ahli fiqih pun berbeda pendapat dalam menghukumi wanita yang melahirkan tanpa diikuti oleh darah ini. maka jika wanita yang melahirkan dalam keadaan ini sedang berpuasa. ia tetap diwajibkan mandi. pendapat ini dibenarkan oleh Al Hanabilah. puasanya tidak batal dan tidak diharamkan baginya untuk disetubuhi. Sedangkan menurut Al Hanafiyah. akan tetapi untuk berhati hati ia wajib mandi besar karna tidaklah mungkin suatu kelahiran tidak diikuti oleh keluarnya darah walaupun hanya sedikit sekali. maka Al Hanafiyah pun telah menuliskan bahwa jika seorang wanita melahirkan dengan cara caesar dan keluar dari perutnya darah. Al Hanabilah berpendapat bahwa gugurnya janin yang masih berupa gumpalan darah atau daging tidak mewajibkan mandi besar tanpa adanya perdebatan lagi. maka hal ini dibaratkan seperti seorang laki laki yang tidak mengalami mimpi tapi ia merasakan adanya air ketika ia bangun. sedangkan tidak ada darah yang keluar setelah melahirkan. Sedangkan As Syafi‟iyah telah menuliskan bahwa jika seorang wanita melahirkan anak atau hanya sekedar gumpalan darah atau daging dan tidak melihat adanya darah atau air yang keluar setelahnya. As Syafi‟iyah mengatakn bahwa wanita yang melahirkan dalam keadaan ini wajib baginya mandi besar. apakah ia wajib mandi besar atau tidak. karna tidak ada dari teks Al Quran ataupun Sunnah yang menjelaskan tentang ini. Air ketuban yang pecah apakah termasuk nifas . karna kelahiran merupakan pengkosongan rahim seperti halnya haidh. Kelahiran dengan cara caesar Yang disebut dengan nifas adalah darah yang keluar dari kemaluan setelah kelahiran. Namun Al Malikiyah melihat bahwa mandi besar baginya adalah mandub atau dengan kata lain lebih baik untuk dikerjakan. Karna telah tertulis bahwa yang menyebabkan wajibnya mandi besar adalah keluarnya darah dan mani dari kemaluan. Dan wanita yang mengalami hal ini harus membatalkan puasanya. maka darah yang keluar ini bukanlah darah nifas akan tetapi darah dari luka sobekan di bagian perut yang tidak keluar dari kemaluan. Al Hanabilah juga perpendapat seperti ini sisi lain. Pendapat kedua. Al Malikiyah mengatakan tidak adanya kewajiban untuk mandi besar. jika seorang wanita melahirkan tanpa mengeluarkan darah. diibaratkan seperti bertemunya dua kemaluan walau tanpa keluarnya mani yang juga mewajibkan mandi besar. Pendapat pertama. namun apabila tidak mandi juga tidak apa apa. karna kebanyakan dari kelahiran pasti disertai dengan air.

kalau kita menggunakan pendapat mazhab Al-Hanabilah. maka belum mulai dihitung sebagai hari pertama nifas. maka shalatnya tidak perlu diganti. Maka air ketuban yang pecah itu sudah dianggap nifas. sebagaimana wanita yang mendapat haidh. maka boleh jadi air ketuban yang pecah dan mengalir keluar itu masuk ke dalam kategori nifas. meski belum lagi melahirkan. Apa saja yang dihalalkan dan diharamkan bagi nufasa . Kalau menghitung hari pertama nifas. termasuk yang keluar 2 atau 3 hari sebelum kelahiran. Karena wanita yang sedang mendapat nifas memang terbebas dari kewajiban shalat. tentu sejak air ketuban itu pecah. Keluarnya sebagian dari bagian badan bayi dan kembalinya lagi kedalam rahim ibunya As Syafi‟iyah menuliskan bahwa keluarnya sebagian badan bayi dan kembalinya lagi kedalam rahim ibunya tidak mewajibkan mandi besar akan tetapi mewajibkan wudhu. maka nantinya shalat yang terlewat itu harus diganti. yang bila shalat itu terlewat karena tidak mungkin dilakukan lantaran terhalang mau melahirkan.Persoalan lain yang juga sering ditanyakan adalah apakah pecah air ketuban sesaat sebelum melahirkan termasuk ke dalam kategori darah nifas atau bukan? Dalam hal ini kalau kita menggunakan pendapat jumhur ulama yang menetapkan bahwa darah nifas itu hanyalah yang keluar saat bayi lahir atau sesudahnya. hingga hari ke-40 dari kelahiran. Sebaliknya. Dan juga masih wajib shalat. Sehingga karena hukumnya bukan termasuk nifas. Hal itu mengingat bahwa definisi nifas bagi mazhab Al-Hanabilah adalah : Ïóãñ ÊõÑúÎöíåö ÇáÑøóÍöãõ ãóÚó ÇáúæöáÇóÏóÉö æóÞóÈúáóåóÇ Èöíóæúãóíúäö Ãóæú ËóáÇóËò ãóÚó ÃóãóÇÑóÉò ßóæóÌóÚò æóÈóÚúÏóåóÇ Åöáóì ÊóãóÇãö ÃóÑúÈóÚöíäó íóæúãðÇ Darah yang keluar dari rahim bersama dengan kelahiran bayi. Dan apabila ada shalat yang terlewat semenjak air ketuban itu pecah. maka jawabnya bahwa air ketuban yang pecah dan mengalir keluar itu bukan termasuk darah nifas.

sebab kewajiban shalat seorang nufasa telah gugur. . Mandi besar As Syafi‟iyah dan Al Hanabilah mengatakan bahwa wanita yang sedang haidh atau nifas diharamkan mandi besar. D. akan tetapi ia tertahan di dalam rahim karna tertutupnya mulut rahim dan berubah menjadi makanan bagi janin yang ada didalam rahim. karna salah satu syarat sahnya ibadah thawaf adalah suci dari hadast besar. (HR. kami mendapat nifas lalu kami diperintahkan untuk mengqadha puasa dan tidak diperintahkan untuk mengqadha shalat. dari Aisyah ra. berbeda dengan ibadah haji selainnya yang masih boleh dikerjakannya meski ia dalam kedaan nifas atau haidh. Yang dilarang disini adalah mandi besar dengan niat mensucikan diri dan mengangkat hadast besar padahal ia tau bahwa dirinya masih dalam keadaan haidh ataupun nifas C. Jama‟ah) B. Thawaf Seorang nufasa dilarang melakukan thawaf. Al Bukhari dan Muslim) E. puasa wanita nufasa dilarang menjalankan puasa. Hal hal yang diharamkan bagi nufasa adalah: A. Karna darah nifas adalah darah haidh.Para ulama fiqih telah menjelaskan bahwa apa yang dihalalkan dan diharamkan bagi wanita haidh juga dihalalkan dan diharamkan bagi nufasa. adapun sekedar mandi biasa yang bertujuan untuk membersihkan badan maka hukumnya boleh boleh saja. (HR. begitu juga untuk mengqadha shalat yang ditinggalkannya. Dalilnya adalah hadist berikut. Shalat Seorang nufasa diharamkan atasnya untuk shalat. akan tetapi wajib baginya untuk menggati puasa yang ditinggalkannya di hari lain. Menyentuh mushaf dan membawanya. Dari Aisyah ra. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda: Bila kamu mendapat haidh lakukan semua ibadah haji kevuali berthawaf disekeliling ka‟bah hingga kamu suci. Berkata: Di zaman Rasulullah SAW dahulu.

Katakanlah: „Haidh itu adalah suatu kotoran‟. Berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda. Al Waaqi‟ah 79) Mayoritas ulama berpendapat bahwa menyentuh Al Quran tidak dibolehkan bagi wanita yang sedang haidh ataupun nifas. pendapat ini adalah pendapat Al Maliliyah. sebagaimana yang telah tertulis jelas dalam Al Quran. Namun. . Membaca Al Quran Al Hanafiyah. Oleh sebab itu hendaklah kamu menjauhkan diri dari wanita di waktu haidh. adapula pendapat yang membolehkan wanita yang sedang haidh atau nifas untuk membaca Al Quran. Al Bukhari.(QS. Masuk masjid Tidaklah dibolehkan bagi wanita yang sedang haidh. dengan catatan tidak menyentuh mushhaf karna ditakutkan ia akan lupa pada hafalannya jika masa haidh atau nifasnya terlalu lama. áÇó ÃõÍöá ÇáúãóÓúÌöÏó áöÍóÇÆöÖò æóáÇó ÌõäõÈò Dari Aisyah ra.Allah SWT berfirman di dalam Al Quran Al Karim tentang hokum menyentuh Al Quran: Dan tidak menyentuhnya kecuali orang yang suci. karna mereka menganggap bahwa hadist yang diriwayatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi diatas adalah hadist yang lemah. Bersetubuh Wanita yang sedang haidh ataupun dalam keadaan nifas diharamkan bersetubuh dengan suaminya. sesuai dengan hadist yang diriwatatkan oleh Abu Daud dan Tirmidzi: Yang artinya: Janganlah orang yang yang sedang dalam keadaan janabah atau haidh membaca sesuatu dari Al Quran. yang artinya: “Tidak kuhalalkan masjid bagi orang yang sedang dalam keadaan janabah dan haidh” (HR. nifas juga yang dalam keadaan janabah memasuki masjid. F. maka apabila ia ingin menyentuh Al Quran harus menggunakan alas yang dapat menghalangi antara kulit dan mushhafnya. Abu Daud dan Ibnu Khuzaimah) H. yang artinya: Mereka bertanya kepadamu tentang haidh. As Syafi‟iyah dan Al Hanabilah berpendapat bahwa seorang yang sedang haidh tidak diperbolehkan untuk membaca Al Quran. G.

bahkan sebagian banyak ulama fiqih dari Al Malikiyah. tapi untuk berhati hati. Diharamkannya menyetubuhi wanita yang sedang dalam keadaan haidh atau nifas tetap berlangsung sampai wanita selesai dari masa haidh atau nifasnya. Apabila mereka telah suci maka campurilah mereka itu di tempat yang diperintahkan Allah kepadamu.(QS. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertaubat dan menyukai orangorang yang mensucikan diri. sebaiknya menggunakan pendapat pertama yaitu sampai bersuci . Al-Baqarah : 222) Yang dimaksud denagn menjauhi mereka adalah untuk tidak menyetubuhi mereka.dan janganlah kamu mendekati mereka sebelum mereka suci . Sedangkan Al Hanabilah membolehkan seorang suami mencumbu istrinya yang sedang haidh atau nifas pada bagian tubuh selain daerah antara pusar dan lutut atau selama tidak terjadi persetubuhan. namun ada juga yang berpendapat cukup sampai terputusnya darah haidh atau nifas seorang suami dibolehkan untuk menyetubuhi istrinya. As Syafi‟iyah dan Al Hanabilah berpendapat bahwa persetubuhan hanya boleh dilakukan sampai wanita itu bersuci dari hadast besarnya.