P. 1
Jurnal Vol2 No.1 2008

Jurnal Vol2 No.1 2008

5.0

|Views: 5,883|Likes:
Published by karoeng

More info:

Published by: karoeng on May 04, 2009
Copyright:Attribution Non-commercial

Availability:

Read on Scribd mobile: iPhone, iPad and Android.
download as PDF, TXT or read online from Scribd
See more
See less

10/02/2014

pdf

text

original

JURNAL PENELITIAN DAN PENGKAJIAN PENDIDIKAN NON FORMAL Susunan Redaksi : Pembina : Drs. Erman Syamsuddin, M.

Pd Penanggung Jawab : Ir. Djajeng Baskoro M.Pd Dewan Redaksi : Drs. H. Hasan Mamu Drs. Hazairin Ali, M.Si Hj. A. Nurhidayah, A.S, S.Sos Muhammad Hasbi, S.Sos, M.Pd Editor Ahli : Prof. Dr. Tawany Rahamma, M.A Prof. Dr. A. Mansyur Hamid, M.Pd Prof. Dr. Arismunandar, M.Pd Drs. Agus Mursidi, M.Pd Editor Pelaksana: Drs. M. Ali Latief Amri, M.Pd Drs. Syamsul Bahri Gaffar, MSi Pemimpin Redaksi : Amirullah, S.Kom Anggota Redaksi : Sudirman Dani Penyusun Desain: Kahar Anwar

ANDRAGOGI

Alamat Redaksi : Gedung Utama Lantai 1 Balai Pengembangan Pendidikan Non Formal dan Informal (BPPNFI) Regional V Makassar Jl. Adhyaksa, No. 2 Makassar 90231, Sulawesi Selatan Telp. (0411) 421460 Email : Info@bpplsp-reg5.go.id

DAFTAR ISI
Mengenali dan Mengembangkan Kreativitas Peserta Didik oleh Basti, Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar .................................................................................................................................. 1 Memotivasi Anak dalam Mengembangkan Potensi Menulis Oleh Eva Meizara Puspita Dewi, S. Psi., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar .............................................................. Pendidikan Keterampilan Kekerabatan Masyarakat Kajang .............................................................. 9 Kinerja Pengelola Program Pendidikan Kesetaraan (Studi pada SKB Ujungpandang Thn 2007) Oleh Ibrahim ..................................................................................................................................... 21 Pendidik Dan Filsafat Pendidikan Oleh : H. Agus Marsidi ....... ..................................................... 27 Pengembangan Serta Pengelolaan Website dan Aplikasi Database Pendidikan Nonformal di BPPNFI Regional V Makassar ......................................................................................................................... 30 Teknologi Jaringan dan Implementasinya Pada Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah dan Pemuda Regional V .......................................................................................................................... 59

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

ii

KATA PENGANTAR

Assalamu Alaikum Wr.Wb. Mengetahui dan menguasai banyak informasi adalah salah satu ciri seorang “Pemimpin”, tanpa pengetahuan yang memadai dan penguasaan informasi, maka kita hanya akan menjadi seorang “Pemimpi”. Betapa pentingnya informasi dewasa ini tidak terbantahkan lagi, olehnya itu kita perlu membuka kran seluas-luasnya untuk mendukung penyebaran informasi khususnya informasi pendidikan terhadap seluruh lapisan masyarakat. Khusus terhadap bidang penelitian dan pengkajian Pendidikan Non Formal dan Informal, kebaradaan Jurnal “Andragogi” ini merupakan suatu bentuk usaha positif dalam rangka usaha publikasi terhadap berbagai hasil penelitian dan pengkajian di jalur Pendidikan Non Formal di lingkup wilayah BPPNFI Regional V. Hal ini adalah suatu hal yang penting, karena disamping fungsinya sebagai media informasi bagi para pemangku kebijakan juga bahan referensi dan parameter sejauh mana usaha yang telah dilakukan dalam hal penelitian dan pengkajian di bidang Pendidikan Non Formal dan Informal, juga akan menjadi media informasi edukatif bagi semua stakeholder. Naskah yang dimuat dalam Jurnal ini adalah merupakan tulisan dari para PTK-PNF termasuk Tim Akademisi dan pemerhati pendidikan non formal dan informal di wilayah regional V, menyangkut berbagai kajian, baik yang telah dan sedang dilaksanakan maupun kajian yang masih bersifat wacana ilmiah yang berupa solusi alternatif yang perlu ditindaklanjuti demi memecahkan masalah-masalah disekitar penyelenggaraan pendidikan non formal dan informal di Indonesia pada umumnya dan di wilayah regional V pada khususnya. Ucapan terimakasih dan penghargaan saya kepada seluruh jajaran Redaksi Jurnal Pendidikan Non Formal “Andragogi” yang dengan izin Allah SWT dan atas kerja kerasnya, sehingga Jurnal edisi perdana ini dapat terealisasikan. Akhirnya, semoga Jurnal ini dapat memberi manfaat yang sebesarbesarnya kepada dunia pendidikan, Amin Wassalam Kepala BP-PNFI Regional V

Ir. Djajeng Baskoro, M.Pd NIP 131877267

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

iii

Mengenali dan mengembangkan kreativitas .....

MENGENALI DAN MENGEMBANGKAN KREATIVITAS PESERTA DIDIK
Pengembangan kreativitas seperti halnya dalam pengembangan aspek intelegensi yang lain, ternyata sangat sukar apabila dilakukan hanya dengan latihan-latihan berpikir. Hal yang banyak menentukan perkembangan kreativitas adalah latihan-latihan pengembangan non kognitif seperti sikap berani mencoba sesuatu yang baru, penambahan motivasi untuk berkreasi, dan sifat berani menanggung resiko serta pengembangan kepercayaan diri dan harga diri. Oleh : B a s t i, Fakultas Psikologi Universitas Negeri MakasAbstrak. Prosentase sumber daya manusia terbesar di Indonesia adalah generasi muda, dan sebagian besar masih berstatus pelajar, baik pada pendidikan formal maupun pada pendidikan informal. Karena itu pembinaan kemampuan sumber daya manusia perlu difokuskan pada kelompok ini. Tulisan ini bertujuan menguraikan bagaimana mengenali dan mengembangkan kreativitas pada peserta didik. Pengembangan kreativitas khususnya pada peserta didik merupakan suatu keharusan jika ingin menghasilkan sumber daya manusia yang lebih berkualitas, yang tidak saja cerdas tapi juga kreatif.

Kata kunci : kreativitas, peserta didik.
Pendahuluan Pembangunan yang dilakukan di Indonesia saat ini sangat memerlukan orang-orang yang mempunyai kemampuan dalam ilmu dan teknologi. Untuk mencapai kemampuan yang tinggi dalam bidang tersebut salah satu syarat yang harus dimiliki seseorang ialah kecerdasan dan kreativitas yang tinggi. Kreativitas sangat membantu usaha pembangunan menjadi lebih progresif. Gagasan inovatif yang muncul dari kreativitas diharapkan dapat membantu memecahkan persoalanpersoalan dalam berbagai bidang pembangunan. Kiranya tidak terlalu berlebihan kalau dikatakan bahwa kemajuan sesuatu bangsa dan negara amat tergantung pada produk-produk kreatif warga negaranya. Tanpa kreativitas suatu bangsa akan selalu tertinggal, oleh karenanya kreativitas harus menjadi gerakan nasional. Kemampuan sumber daya manusia khususnya dalam hal kreativitas dituntut terus menerus dan perlu ditingkatkan sesuai dengan tantangan pembangunan. Namun demikian, di lain pihak tampak adanya sikap mental dan budaya masyarakat yang dapat digolongkan menghambat perkembangan kreativitas (Hasan, 1989; Kuntowijoyo dkk., 1998; Ancok, 2000; Rendra, 1990). Demikian pula pengembangan kreativitas di sekolahsekolahnya masih memprihatinkan (Semiawan, 1992, Munandar, 1995). Tampak di sini adanya kesenjangan antara tuntutan pengembangan kreativitas dengan kenyataan yang ada di masyarakat. Di Indonesia prosentase sumber daya manusia terbesar adalah para generasi muda, dan sebagian besar masih berstatus pelajar. Karena itu pembinaan kemampuan sumber daya manusia perlu difokuskan pada kelompok ini (Munandar, 1994). Kreativitas disamping sangat diperlukan dalam pembangunan juga dapat dipergunakan untuk memprediksi keberhasilan belajar (Dewing, 1970; Butcher, 1973; Munandar, 1977, Harrington dkk., 1983). Dewing (1970) lebih jauh menemukan bahwa kreativitas memiliki daya prediksi yang lebih baik daripada intelegensi di dalam memprediksi hasil belajar pada beberapa mata pelajaran tertentu. Kreativitas siswa masih merupakan potensi yang masih harus dikembangkan baik melalui pendidikan formal maupun melalui pendidikan informal (Munandar, 1995). Menurut ahli tersebut, di Indonesia sudah tampak adanya perhatian terhadap masalah itu, tetapi tampaknya belum cukup memadai. Demikian pula pelaksanaannya di sekolah-

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

1

Mengenali dan mengembangkan kreativitas .....

sekolah masih sangat memprihatinkan. Selama ini masih cukup banyak ditemui hambatan dan kelemahan yang membatasi pertumbuhan dan perkembangan kreativitas para siswa, misal: kurangnya pengetahuan dan latihan para guru tentang kreativitas, sistem evaluasi yang terlalu menekankan pada jawaban benar dan tidak benar tanpa memperhatikan prosesnya. Selain itu ada beberapa mata pelajaran yang dianaktirikan, yang sebenarnya justru merupakan mata pelajaran yang penting untuk pengembangan kreativitas. Siswa-siswa sangat jarang mendapatkan kesempatan untuk berlatih membuat soal-soal atau permasalahan. Selain guru kurang memberikan dorongan kepada siswa untuk mencoba sesuatu yang lain, tanpa ada rasa takut untuk berbuat kesalahan. Sesuatu hal yang perlu diperhatikan adalah agar guru jangan terlalu menekankan pada keberhasilan siswa dalam mencoba sesuatu yang baru. Tujuan yang lebih penting ialah pembentukan sifat kreatifnya. Dalam hal ini para siswa perlu dirangsang dan dipupuk minat dan sikapnya untuk mau melibatkan diri dalam proses kreatif (Torronce, 1972; Semiawan, 1994). Pengembangan kreativitas seperti halnya dalam pengembangan aspek intelegensi yang lain, ternyata sangat sukar apabila dilakukan hanya dengan latihan-latihan berpikir (Butcher, 1973; Guilford, 1965; Dewing, 1979). Hal yang banyak menentukan perkembangan kreativitas adalah latihan-latihan pengembangan non kognitif seperti sikap berani mencoba sesuatu yang baru, penambahan motivasi untuk berkreasi, dan sifat berani menanggung resiko serta pengembangan kepercayaan diri dan harga diri (Davis, dan Bull, 1978; Lott, 1978; Sobel, 1980; Munandar, 1995). Apa sih kreativitas itu ? Kreativitas sering diberi arti bermacammacam oleh para ahli seperti misalnya berpikir divergen (Guilford, 1975), serendipity (Connon, 1976; Hayes, 1978); berpikir produktif (Wertheimer, 1945), daya cipta (Purwadarminta, 1985), berpikir heuristic (Amabile, 1983), Oktorivitas (Mansfield dan Busse, 1981), dan berpikir lateral (de Bono, 1990). Kreativitas menurut Wanei (dalam Etty, 2003) merupakan kemampuan mental

untuk membentuk gagasan atau ide baru. Hal senada juga dikemukakan oleh Fuad Nashori (2002) kreativitas merupakan kemampuan untuk menciptakan atau menghasilkan sesuatu yang baru. Kemampuan ini merupakan aktivitas imajinatif yang hasilnya merupakan pembentukan kombinasi dari informasi yang diperoleh dari pengalamanpengalaman sebelumnya, sehingga menghasilkan hal yang baru, lebih berarti, dan lebih bermanfaat. Sementara itu, Bobbi DePorter & Mike Hernacki mengartikan kreativitas sebagai “…….. melihat hal yang dilihat orang lain, tetapi memikirkan hal yang tidak dipikirkan orang lain”. Kemampuan berpikir yang luas, luwes, elaboratif dan asli merupakan ciri-ciri berpikir kreatif. Kemampuan tersebut apabila disertai dengan sifat-sifat kepribadian tertentu akan memungkinkan seseorang dapat menghasilkan suatu produk yang bernilai kreatif. Produk inilah yang pada umumnya dijadikan ukuran empirik bagi kemampuan kreativitas (Hogarth, 1980). Orang yang kreatif memiliki kebebasan berpikir dan bertindak. Kebebasan tersebut berasal dari diri sendiri, termasuk di dalamnya kemampuan untuk mengendalikan diri dalam mencari alternatif yang memungkinkan untuk mengaktualisasikan potensi kreatif yang dimilikinya. Kreativitas dan Intelegensi Masalah kreativitas sebagai bagian dari kecerdasan manusia banyak dibicarakan dalam hubungannya dengan intelegensi. Tentang hubungan antara kreativitas dan intelegensi ada berbagai pendapat dan penelitian dengan hasil yang berbeda-berbeda. Ada yang menemukan keduanya berkorelasi dan sebaliknya ada yang tidak berkorelasi. Menurut penelitian Kuwato (1996) intelegensi ternyata tidak memiliki korelasi yang signifikan dengan kreativitas. Penelitian ini sesuai dengan pendapat Munandar (1995) yang menyatakan tidak sepenuhnya benar anggapan bahwa intelegensi mencerminkan kreativitas. Sementara pendapat dan hasil penelitian lain menunjukkan adanya korelasi intelegensi dan kreativitas, walaupun korelasi tersebut tidak begitu kuat. Misal Getzels & Jackson sebagaimana dikutip Wallach & Kogan (2002) menemukan bahwa rata-rata korelasi antara kreativitas dan intelegensi adalah sebesar 0,26. Hasil penelitian ini sesuai dengan pendapat Vernon ((1964, 1975)

2

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Mengenali dan mengembangkan kreativitas .....

bahwa kreativitas hanya merupakan bagian kecil dari intelegensi sehingga intelegensi yang tinggi tidak selalu menunjukkan kreativitas yang tinggi pula. Penelitian lain menunjukkan bahwa korelasi atau hubungan intelegensi dan kreativitas hanya ditemukan pada kelompok intelegensi rendah (Amabile, dalam Kuwato, 1996), sedangkan pada kelompok yang lebih tinggi korelasi itu tidak begitu kuat. Dari sini didapatkan satu temuan bahwa untuk kelompok intelegensi sedang dan tinggi tidak ada korelasi antara intelegensi dan kreativitas. Dalam hal produk, terdapat perbedaan antara intelegensi dan kreativitas. Intelegensi memberikan produk yang bersifat logis (konvergen) sedangkan kreativitas memberikan produk yang memiliki sifat original (divergen). Proses berpikir didalam intelegensi menekankan pada sifat logis, sedangkan proses berpikir didalam kreativitas lebih bersifat heuristic (Entwistle, 1981) Fa k t o r - f a k t o r ya n g m e m p e n g a r u h i kreativitas Faktor-faktor yang mempengar uhi kreativitas seseorang, menurut Munandar terdiri dari aspek kognitif dan aspek kepribadian (yang saling berinteraksi). Aspek kognitif terutama kemampuan berpikir terdiri dari kecerdasan (intelegensi) dan pemerkayaan bahan berpikir berupa pengalaman dan keterampilan. Faktor kepribadian yang mempengaruhi kreativitas antara lain meliputi dorongan ingin tahu, harga diri dan kepercayaan diri, sifat mandiri, sifat asertif, dan keberanian mengambil resiko. Perlu dicatat bahwa latihan-latihan terhadap kreativitas khususnya dan kemampuan intelektual pada umumnya, tidak banyak mengalami perubahan lewat latihan-latihan yang bersifat kognitif (terutama latihan berpikir), tetapi justru hal yang banyak menentukan perkembangan kreativitas adalah melalui latihanlatihan pengembangan non kognitif seperti sikap berani mencoba sesuatu yang baru, penambahan motivasi untuk berkreasi, dan sifat berani menanggung resiko serta pengembangan kepercayaan diri dan harga diri (Davis, dan Bull, 1978; Lott, 1978; Sobel, 1980; Munandar, 1995). Disamping aspek kognitif dan kepribadian yang mempengaruhi kreativitas, faktor yang memungkinkan tumbuh dan berkembangnya kreativitas adalah lingkungan (lingkungan sekolah,

rumah tangga, maupun dalam masyarakat). Faktor lingkungan yang terpenting adalah lingkungan yang memberi rasa aman dan dukungan atas kebebasan individu (Semiawan, 1994). Perasaan aman tersebut memberikan kebebasan dan dorongan untuk melakukan kreativitas. Jadi esensi suasana lingkungan yang membantu kreativitas ialah suasana yang tidak mengikat atau membatasi kebebasan (otokratis). Tentu kebebasan yang tepat adalah kebebasan yang oleh Amabile (1983) disebut sebagai non-konformitas yang terbatas (a limited non-conformist), yaitu kebebasan yang tetap mengacu pada norma yang berlaku, tetapi tersedia kesempatan dan hak mandiri dan independent, dan tetap saling menghargai sehinggga memungkinkan rasa aman yang dinamis yang akan memberikan rangsangan dan kesempatan kreativitas (Munandar, 1981). Variabel sosial ekonomi yang cukup misalnya belum tentu dapat memberikan fasilitas untuk kreativitas kalau sekiranya tidak dapat dimanfaatkan. Oleh karena itu yang lebih penting ialah bagaimana persepsi individu terhadap lingkungan itu sendiri, apakah membentuk atau menimbulkan perasaan aman, bebas demokratis atau terikat otokratis. Suasana otokratis membatasi kebebasan termasuk kebebasan mengekspresikan pikiran, perasaan, tindakan serta mengurangi penghargaan dan apresiasi terhadap kreativitas itu sendiri. Pada dasarnya suasana otokratis bersifat menghambat daripada mendorong kreativitas (Amabile, 1994). Mengenali dan mengembangkan Ciri-ciri pribadi kreatif Pada hakekatnya anak memiliki potensi kreatif, namun tumbuh kembangnya potensi kreatif pada setiap anak tidaklah sama. Setiap anak memiliki masa pekanya sendiri dengan tempo dan irama perkembangan masingmasing yang menentukan (Wenei dalam Etty, 2003). Untuk membentuk pribadi yang kreatif memang berawal sejak masih anak-anak. Semakin dini usia anak, semakin baik untuk mengembangkan kreativitasnya. Ketika anak berusia 3- 7 tahun, peluang pertumbuhan potensi kreatif alamiah sangatlah penting. Apabila anak tidak punya peluang untuk

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

3

Mengenali dan mengembangkan kreativitas .....

menyalurkan kreativitasnya dengan berbagai larangan atau pembatasan, menurut Etty (2003) percaya diri. Seseorang yang memiliki kreativitas yang tinggi menunjukkan beberapa ciri, diantaranya yakni (a) selalu ingin tahu atau memiliki dorongan ingin tahu yang kuat (Munandar, 1985, 1995). Dorongan ingin tahu mencakup bentuk kegiatan psikis yang luas, seperti keinginan mendapatkan pengalaman baru, keinginan bertanya dan mencoba, tertarik pada sesuatu yang belum jelas (misteri), avonturisme, sifat penuh semangat, optimisme, ambisius, minat yang luas, toleransi terhadap kemajemukan serta setuju dalam perbedaan, tekun dan pantang menyerah (energik dan aktif), kritis, dan berani berpendapat (Kuwato, 1996). (b) Memiliki harga diri dan percaya diri yang tinggi (Butcher, 1973; David & Bull, 1978; Munandar, 1995). Tingginya harga diri dan kepercayaan diri akan menyebabkan individu lebih mantap dalam melakukan pemerkayaan informasi dan lebih berani berinovasi. Harga diri dan kepercayaan diri yang tinggi juga berarti dapat menghargai dan memanfaatkan kesempatan. (c) Memiliki sifat mandiri atau independen (Kuwato, 1996). Beberapa ahli berpendapat bahwa sifat mandiri merupakan salah satu sifat individu yang dibutuhkan dalam kreativitas. Sifat ini tumbuh dan berkembang antara lain karena telah dicapainya kuantitas dan kualitas bahan pikir yang memadai. Bahan yang memadai akan menambah harga diri dan kepercayaan diri dan pada gilirannya akan memungkinkan tumbuh dan berkembang pribadi yang otonom, perasaan mampu mengurusi diri sendiri, tidak banyak tergantung pada orang lain (Butcher, 1973, Harrington & Anderson, 1981). Sifat mandiri berkaitan dengan keberanian mengambil resiko atau berani mencoba, namun salah satu sifat orang kreatif adalah kurang suka pada konformitas (Butcher, 1973). (d) memiliki sifat asertif (berani berpendapat), sifat ini merupakan

sifat penting dalam kegiatan kreativitas (Butcher, 1973, Davis berorientasi pada person (self oriented). Dalam penampakannya sifat asertif sering berupa berani berpendapat, kedisiplinan dan ketegasan. (e). Keberanian mengambil resiko atau berani mencoba (Kuwato, 1996). Bentuk perwujudan sifat berani mengambil resiko, di antaranya suka berinisiatif, berani mempertahankan pendapat dan berani mengakui kesalahan, tidak terlalu takut, ragu atau malu dikritik, bahkan tidak terlalu takut berbuat salah. Media kreatif Sebenar nya ada banyak aktivitas pengembangan potensi kreatif alamiah pada anak-anak peserta didik yang bisa dipupuk melalui berbagai kegiatan, yaitu melalui sosio-drama dimana anak-peserta didik bisa memainkan peranperan tertentu. Juga melalui games, dongeng, musik dan menyanyi. Selain itu bisa melalui permainan manipulatif (permainan membentuk), permainan reseptif dengan TV, VCD, computer, dan juga dengan permainan ilusi (dengan berfantasi atau berkhayal). Stimulasi mental sangat dibutuhkan untuk pengembangan imajinasi dan pemupukan bakat kreatif anak sejak dini, dan stimulasi mental dapat diberikan dengan menyediakan beberapa media kreatif. Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam menyediakan media kreatif adalah, pertama, tidak perlu rumit dan mahal, sebab semakin rumit suatu media, semakin kurang kelenturan pengembangan imajinasi kreatif anak. Kedua, diupayakan dari material yang tahan lama dan tidak mengganggu kesehatan anak. Ketiga, disesuaikan dengan tingkat usia anak dan diberi rangsangan agar anak dapat bekerjasama. Keempat, berikan dukungan untuk memperkokoh stimulasi mental yang sehat. Penutup Tulisan ini diniatkan sebagai bahan untuk memperkaya diskusi tentang pengembangan kreativitas anak, semoga bermanfaat.

Penulis adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar

4

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Memotivasi anak .....

Memotivasi Anak dalam Mengembangkan Potensi Menulis
Setiap manusia dilahirkan di dunia ini memiliki sejumlah kelebihan (potensi) dan kekurangan atau kelemahan. Manusia yang berpikir positif akan lebih melihat ke arah kelebihan dan potensi yang dimiliki agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Potensi manusia mulai dari fisik, kekuatan pikiran (inteligensi, kreatifitas, kemampuan khusus: akademis, menulis atau komunikasi) dan lain-lainnya. Bahkan kelemahan yang dimiliki bisa menjadi sebuah potensi jika mampu dikelola dengan baik. Oleh Eva Meizara Puspita Dewi, S. Psi., Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar Abstrak, Dulu kegiatan menulis selalu dipersepsikan sebagai kegiatan yang rumit, sulit dan hanya dapat dilakukan oleh seorang profesor atau kaum intelektual, sekarang tampaknya tidak lagi. Saat ini telah banyak bermunculan para penulis cilik dan remaja yang merupakan bukti bahwa kegiatan menulis tidaklah sulit jika kita mampu mengembangkannya sejak usia dini. Banyak manfaat yang didapat dengan aktifitas menulis sehingga perlu dikembangkan secara optimal. Bahkan Potensi ini dapat dimunculkan dan dikembangkan sejak usia bayi. Tulisan ini bertujuan menguraikan bagaimana memotivasi anak dalam mengembangkan potensi menulis

Kata kunci : anak, motivasi, potensi menulis
Pendahuluan Setiap manusia dilahirkan di dunia ini memiliki sejumlah kelebihan (potensi) dan kekurangan atau kelemahan. Manusia yang berpikir positif akan lebih melihat ke arah kelebihan dan potensi yang dimiliki agar dapat berkembang menjadi lebih baik. Bicara tentang potensi manusia, nampaknya sulit untuk mengetahui berapa jumlah atau variasi dan bentuknya. Mulai dari fisik, kekuatan pikiran (inteligensi, kreatifitas, kemampuan khusus: akademis, menulis atau komunikasi) dan lain-lainnya. Bahkan kelemahan yang dimiliki bisa menjadi sebuah potensi jika mampu dikelola dengan baik. Menulis adalah salah satu potensi yang sampai saat ini masih dikategorikan sebagai suatu kegiatan yang sulit karena terkesan ilmiah sehingga tidak banyak orang mau melakukannya. Padahal bila dicermati, dengan menulis maka orang bisa menjadi kaya akan informasi karena akan menjadi gemar membaca. Bahkan kegiatan menulis, dapat menghasilkan pendapatan (uang). Kegiatan menulis tidak hanya dilakukan oleh seorang profesor, dosen atau orang dewasa. Saat ini, sudah terdapat beberapa teladan penulis “cilik” yang mampu membuat sebuah karya, buku cerita dan mendapatkan penghargaan. Tokoh cilik itu, di antaranya: Izzati (melalui bukunya kado untuk Umi), Faiz (dengan kumpulan puisinya untuk bunda dan dunia) dan Aini (buku cerita: nasi untuk kakek). Nampaknya potensi menulis dapat dideteksi dan dikembangkan sejak dini. Manfaat Kegiatan Menulis Gur u sering meng atakan pada muridnya bahwa menulis adalah berfikir (Levy 2005). Hal menjadikan anak malas untuk melakukannya karena terkesan berat, serius dan tidak menyenangkan. Image inilah yang harus segera dihapus karena ternyata menulis dapat memberikan efek positif yang banyak sekali (Steven, 2005). Dengan menulis buku harian misalnya seseorang dapat mengekspresikan segala perasaan (kebahagiaan bahkan kejengkelan). Hal ini merupakan salah satu bentuk terapi untuk mengurangi ketegangan pikiran dan perasaan diri. Shaughnessy (2004) menyatakan menulis dapat menjadi terapi untuk orangorang yang mengalami depresi, bahkan mencegah depresi karena dengan menulis

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

5

Memotivasi anak .....

bisa melawan kekosongan dan membebaskan diri dengan mengekspresikan kegelisahan hati dan pikiran lewat tulisan. Bahkan dapat pula menjadi pengontrol perilaku, karena setelah membaca kejadian-kejadian sebelumnya bisa jadi dapat menyejukkan hati dan pikiran. Ide-ide cemerlang dapat terekspresikan tanpa ada rasa malu atau ragu jika dinyatakan dalam bentuk tulisan. Secara tidak langsung, kegiatan menulis dapat dijadikan sebagai latihan untuk berkomunikasi dengan diri sendiri, dengan orang lain. Lambat laun orang yang kaya akan kata-kata dan berusaha menuliskannya dalam sebuah karya dapat mengarahkannya untuk dapat berpikir sistematis. Selanjutnya jika kegiatan menulis diasah terus dapat menjadikan seorang penulis yang ulung. Baik itu penulis cerpen, puisi ataupun artikel ilmiah. Kebiasaan ini tampaknya dapat dikembangkan sejak anak-anak, sehingga ketika mereka menginjak remaja, ia siap untuk mengembangkan potensi tersebut. Sudah banyak contoh para expert dalam suatu bidang, ternyata terdeteksi dan ditekuni sejak dini. Memahami Dunia Anak Penting untuk dipahami bahwa dunia anak adalah dunia bermain. Oleh karena itu kegiatan membaca dan menulis misalnya dapat dilakukan sesuai kemampuan anak dengan cara bermain. Glenn Doman (dalam Aini, 2006) mencetuskan ide revolusionernya lewat buku How to teach Your Baby to read. menganjurkan agar para bayi atau anak yang diajak menjalankan kegiatan membaca harus tetap berada dalam keadaan senang, tidak tertekan. Jika terlihat tanda-tanda si anak mulai tidak nyaman, maka kegiatan tersebut harus segera dihentikan. Memperkenalkan buku pada anak, dapat dilakukan seperti halnya mengenalkan mainan pada anak. Saat ini sudah banyak buku-buku yang cukup kreatif kemasannya (buku dikemas seperti mainan atau benda tertentu) sehingga bukan suatu masalah yang besar lagi tentang hal ini. Biasakan anak selalu dekat dengan buku dalam aktifitasnya sehingga ia sangat familiar dan mungkin juga akan ketagihan dengan buku. Selanjutnya bila ingin memfasilitasi potensi menulis, maka terlebih dahulu harus memahami kondisi psikologis anak (hal-hal

apa yang disukai dan tidak disukai oleh mereka). Anak-anak senang dengan sesuatu yang bernuansa ceria sehingga alat tulis yang hendak diberikan sebaiknya berwarna-warni, demikian juga dengan kertas atau buku, anak-anak suka pada hal-hal yang lucu dan lebih menyukai sesuatu yang melibatkan fantasinya. Buku-buku bacaan yang dibelikan seyogyanya memberi kesan mengasyikkan dan tetap dalam konteks kegiatan bermain. Bermain juga merupakan persiapan untuk bekerja. Kalau mulanya bermain dilakukan hanya untuk mencari kesenangan, lambat laun hal ini akan berubah. Seiring dengan bertambahnya usia dan pembelajaran anak, kegiatan yang dilakukan untuk kesenangan ini akan memiliki tujuan lain. Misalnya, penghargaan, prestasi, kompetisi bahkan materi. (Aini 2006) Memotivasi Anak pada Kegiatan Menulis Peran orangtua sangat penting dalam mengembangkan potensi anak. Usia anak lebih senang dimotivasi melalui pujian dari pada kritikan. Pada anak-anak tertentu, kritikan justru membuatnya rendah diri dan malu sehingga dapat menghambat potensinya bahkan mungkin ia menjadi tidak ekspresif lagi. Banyak cara yang dapat dilakukan oleh orangtua dalam memberikan motivasi anak. Salah satunya adalah mendokumentasikan hasil karya dari si anak sehingga ia mengetahui progress atau peningkatan kemampuan yang ia miliki. Jika memungkinkan berikan sebuah ruangan khusus bagi anak untuk menempelkan gambar-gambar yang menurutnya menarik, menempelkan hasil karyanya atau tempat khusus untuk mengkoleksi barang-barang kesukaannya. Berikan ruangan untuk kebebasan berekspresi. Mensetting ruangan membaca seperti ruang bermain. “Bagaimana anak kita sebenarnya mencerminkan bagaimana diri kita”. Kalimat ini menuntut orangtua khususnya agar dapat menjadi contoh bagi anakanak. Mengutip kalimat Hernowo (Aini 2006) yang menyatakan anak adalah manusia anti teori, mereka tidak kenal lelah bagai mesin fotokopi yang bekerja meniru apa saja yang dilihatnya. Jika orangtua atau lingkungan sosial sekitarnya senang bergelut dengan buku, menghargai buku (menyampulnya, menatanya dengan rapi, mengkoleksinya dengan baik) maka anak-anak juga akan berusaha demikian. Sebaiknya anak

6

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Memotivasi anak .....

juga dilibatkan ketika melakukan kegiatan yang berhubungan dengan buku, misalnya mensampul buku, jalan-jalan ke toko buku bersama, biarkan ia melihat dan memilih buku-buku yang mereka sukai. Selain itu, tunjukkan arti penting buku, dengan cara mendiskusikannya, menceritakan kriteria buku yang bagus, menganalisis atau mengkritisi buku. Di samping itu, jadikan buku sebagai kado dihari istimewanya. Atau ketika bepergian keluar kota. Jangan lupa oleh-oleh untuk sikecil selain mainan atau makanan juga buku. Ajarkan anak untuk menabung dan membeli buku sendiri. Ketika akan melakukan aktivitas perjalanan jauh, nampaknya juga harus membawa bekal buku dengan topik-topik ringan dan menyenangkan. Menggali Kreatifitas Anak Menggali kreativitas anak, orangtua dapat melakukan dengan sekreatif mungkin, misal bikin mading di rumah dengan menempelkan hal-hal yang lucu, menarik dan berkaitan dengan anak-anak. Bahan bisa dari orangtua maupun dari anak-anak sendiri. Bahan sebaiknya disesuaikan dengan minat si anak. Misalnya ia suka sepak bola, berikan gambar-gambar atau benda-benda yang berkenaan dengan sepak bola. Ketika anak-anak lagi asyik membaca sebaiknya jangan diganggu. Jika orang tua memiliki waktu yang cukup waktu ajak anak diskusi tentang isi buku, sangat mungkin anak akan menjadi ketagihan dengan aktivitas membaca. Selanjutnya arahkan anak dengan kegiatan menulis. Kegiatan menulis dapat dimulai dengan membiasakan ia menceritakan perasaan atau pikirannya melalui selembar kertas dengan pena atau pensil warna agar lebih menarik. Selanjutnya dapat dilatihkan si anak menuliskan cerita yang pernah ia dengar, lihat atau baca, fantasi atau ide-idenya. Hal ini mengajarkan anak untuk sistematis dalam berpikir dan mengexpresikan dalam tulisan. orangtua juga perlu merangsang keingintahuan anak, dengan cara memberikan suasana yang beda sehingga ia akan merasa asing dan banyak bertanya. Sebaiknya juga, pertanyaan anak tidak semua dijawab, beri kesempatan juga ia mencari jawaban sendiri. Jika anak tampak mulai tertarik, serius dengan aktivitas menulis, orangtua dapat mengarahkan misalnya dengan membantu mengirimkan hasil karyanya ke majalah atau

koran, jika hasil karyanya dimuat maka pasti ia akan merasa senang dan bangga. Dapat juga mendorongnya mengikuti berbagai lomba sebagai lahan kompetisi untuk bersikap sportivitas dalam memahami kemenangan dan kekalahan, disamping dapat menambah pengalamannya melihat karya-karya orang lain. Bahkan jika anak sudah nampak serius dengan kegiatan ini tapi tampaknya potensinya kurang optimal maka sebaiknya diarahkan untuk mengikutkannya dengan kegiatan kursus menulis. Namun demikian yang perlu diingat adalah jangan sampai orangtua “kebablasan” dalam menyalurkan potensi anak yakni tidak terasa mengeksploitasinya karena ternyata anak dapat banyak menghasilkan keuntungan dibidang finansial. Mengenali Tahapan Usia Dini dalam Berkreasi Aini (2006) menyatakan bahwa menumbuhkan potensi anak adalah perjalanan panjang sehingga cukup melelahkan karena menyita banyak waktu, tenaga dan pikiran kita. Namun sebaiknya bagi orangtua memilih untuk capek di depan (memulai ketika anak pada saat usia dini) dari pada ketika mereka sudah besar. Berikut ini tahapan-tahapan yang dapat dilakukan orantua dalam memupuk minat baca tulis agar berkembang optimal: a. Usia 0-3 bulan, Bahasa buku dapat diperdengarkan melalui lisan. Pada tahap usia ini merupakan awal yang bagus untuk melatih konsentrasi anak dalam memerdengarkan perkataan. b. Usia 3-6 bulan, perkenalkan fisik buku, beri kesempatan mereka untuk memegang, jangan risau bila mereka meremas atau menggigitnya. Adapun jenis bukunya, intinya adalah membuat bayi familiar dengan buku. Buku bisa dipersepsikan oleh anak sebagai mainan. c. Usia 6-9 bulan, pada usia ini bayi mulai cenderung memperhatikan tampilan visualisasi yang tajam dan warna-warna yang atraktif. Jadi buku yang memiliki visualisasi yang tajam dan warna-warni yang atraktif cenderung diminati oleh anak. d. Usia 9 -12 bulan, bayi senang mengambil

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

7

Memotivasi anak .....

e.

f.

benda-benda yang ia minati. Berikan stimulasi: banyak buku di beberapa tempat. Jika ia memberikan buku itu kepada kita, maka bacakanlah buku itu untuknya. Sebagian bayi mengulangi bunyi yang kita perdengarkan. Usia 12 - 15 bulan, berikan kertas kosong dan mengajaknya menggoreskan alat tulis di atas kertas tersebut. Jangan risau jika mereka menyobek atau menggigitnya. Usia 1,5 - 2,5 tahun, buku-buku bergambar dengan tulisan mengenai gambar tersebut menarik minat anak. Buku-buku tersebut

memiliki kalimat yang ditulis berulang, sehingga anak dapat menebak isi selanjutnya. Jangan risau jika buku tersebut disobek. g. Usia 2,5 - 4 tahun, pada usia ini sebagian anak sudah bisa membaca bahkan menulis. Fasilitasi sesuai dengan kemampuan dan kebutuhan anak. Pilihkan buku-buku yang bergizi. Untuk membuat anak tetap termotivasi menulis atau menggambar, ada baiknya memajang karya anak.

Penutup Anak adalah amanah, mengembangkan potensi mereka merupakan sebuah kewajiban sebagai orangtua. Kegiatan menulis merupakan salah satu alternatif kegiatan yang nampaknya sulit dilakukan namun ternyata dapat dilakukan jika dibiasakan sejak dini. Banyak sekali manfaat positif yang didapat diperoleh jika kegiatan menulis dikembangkan. Satu hal yang harus tetap diingat, jangan pisahkan aktivitas ini dari dunia anak yang utama, yaitu bermain. Daftar Pustaka Aini, Ibunda.2006. Membaca dan Menulis Seasyik Bermain. Bandung: Read Herwono.2006.Menjadi Guru yang Mau dan Mampu Membuat Buku. Bandung: Mizan Learning Center. Levy, M. 2005. Menjadi Genius dengan Menulis. Bandung: Kaifa. Shaughnessy, S. 2004. Berani Ekspresi: Aku Bisa Menulis, Buku Meditasi untuk Para Penulis. Bandung: Mizan Learning Center. Stevens, C. 2005. Buku Hatiku; Kiat-Kiat Mengasyikkan dalam Memanfaatkan dan Mengisi Catatan Harian. Bandung: Mizan Learning Center.

Penulis adalah Dosen Fakultas Psikologi Universitas Negeri Makassar

8

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

Pendidikan Keterampilan Kekerabatan Masyarakat Kajang
Oleh : Pokja Kelembagaan dan Life Skill BPPNFI Regional V Abstract, Kebutuhan masyarakat terhadap program keterampilan sedapatnya berpihak kepada kebutuhan dan potensi wilayah masyarakat itu bermukim dan mencari nafkah. Program keterampilan selama ini dilaksanakan masih kurang menyentuh kepada kebutuhan masyarakat. Sasaran terutama tujuan dan tuntunan dalam penerapan keterampilan yang berpihak pada potensi alam yang dapat digunakan dan diolah secara berkesinambungan serta berkelanjutan belum terjamah. Tuntunan kompetensi dalam penerapan kecakapan hidup (life skill) adalah hal yang sangat dibutuhkan saat ini dan merupakan pedoman dalam berusaha dan berbuat ke arah yang lebih baik lagi dengan melihat pencapaian pengetahuan bermatapencaharian, peningkatan perekonomian masyarakat dan perbaikan sistem keterkaitan emosional melalui pemahaman fungsi sosial masyarakat. Peningkatan keterampilan masyarakat melalui program life skill lebih diarahkan pada bagaimana masyarakat dapat menciptakan lapangan kerja melalui potensi wilayah dimana mereka bermukim dan bermatapencaharian PENDAHULUAN A. Latar Belakang Saat ini kebutuhan masyarakat terhadap program-program keterampilan sedapatnya dan fleksibel. berpihak kepada kebutuhan dan potensi wilayah masyarakat itu bermukim dan Peningkatan Keterampilan Masyarakat mencari nafkah. Program keterampilan Kajang Melalui Pendidikan Keterampilan selama ini dilaksanakan masih kurang Kekerabatan mer upakan salah satu menyentuh kepada kebutuhan masyarakat. g ambaran dalam melihat sisi sosial Sasaran terutama tujuan dan tuntunan dalam kemasyarakatan dalam melestarikan adat penerapan keterampilan yang berpihak istiadat melalui keterampilan, pendidikan pada potensi alam yang dapat digunakan moral serta menciptakan lapangan kerja dan diolah secara berkesinambungan serta melalui potensi wilayah dimana mereka berkelanjutan. Tuntunan kompetensi dalam bermukim dan bermatapencaharian sebagai penerapan kecakapan hidup (life skill) adalah bahan acuan atau pun landasan dalam hal yang sangat dibutuhkan saat ini dan berbuat secara mandiri dan berkelanjutan. merupakan pedoman dalam berusaha dan Bila program pendidikan non formal dapat berbuat ke arah yang lebih baik lagi dengan menyelaraskan konsep di atas maka tentunya melihat pencapaian pengetahuan bermata akan lebih mempermudah tercapainya tujuan pencaharian, peningkatan perekonomian pendidikan non formal yaitu meningkatkan masyarakat dan perbaikan sistem keterkaitan pengetahuan, sikap, dan keterampilan sasaran emosional melalui pemahaman fungsi dalam rangka meningkatkan kesejahteraan sosial masyarakat. Dalam kaitan tersebut hidupnya. peningkatan keterampilan masyarakat melalui program life skill lebih diarahkan pada B. Tujuan bagaimana masyarakat dapat menciptakan Keterampilan Masyarakat Kajang Melalui lapangan kerja melalui potensi wilayah dimana Prog ram Pendidikan Keterampilan mereka bermukim dan bermatapencahrian. Kekerabatan adalah ; Oleh karena itu PNF menyesuaikan program 1. M e m b e r i k a n g a m b a r a n s e r t a kegiatannya dengan mengembangkan potensi metode penyelenggaraan pendidikan wilayah sasaran sesuai sifat PNF yang luwes

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

9

Pendidikan Keterampilan....

keterampilan dengan pendekatan secara kekerabatan yang dilakukan/ dilaksanakan oleh masyarakat Kajang melalui pelestarian kain tenun khas daerah Kajang; 2. Memaparkan proses pendidikan keterampilan yang diterapkan secara turun temurun sehingga tercipta tatanan pendidikan saling membelajarkan; 3. Memberikan gambaran proses keterampilan, pembenahan sikap ser ta p en in gka ta n eko n o mi masyarakat sesuai potensi wilayah guna dapat dikelola, khususnya pada pemberdayaan masyarakat terasing dan masyarakat tertinggal. C. Metode Peningkatan Keterampilan Masyarakat Kajang Melalui Program Pendidikan Keterampilan Kekerabatan dilakukan melalui pendekatan kajian pustaka dan observasi lapangan melalui teknik identifikasi dan wawancara sehingga dapat terangkum infor masi yang dibutuhkan berkaitan dengan program kecakapan hidup masyarakat Kajang. Penggunaan metode kajian pustaka memberikan gambaran dan arahan tentang tatanan hidup masyarakat Kajang dan mencocokkan dengan hasil observasi yang dilakukan sehingga diperolah data yang dapat mengangkat sistem dan tata cara pemberian keterampilan secara berkelanjutan yang difokuskan pada pendidikan keterampilan dalam kawasan tanah adat masyarakat Kajang. KARAKTERISTIK MASYARAKAT ADAT KAJANG A. Komunitas Masyarakat Kajang Kawasan tanah adat Kajang yang terletak di Desa Tanah Toa yang biasa juga disebut Ilalang Embaya atau Ilalang Rabbang sampai saat ini adalah sebuah komunitas adat yang masih memegang prinsip teguh pada

nilai budaya dalam sebuah istilah Pasang. Adalah sebuah fakta bahwa masyarakat Kajang secara tersendiri memiliki sistem dan norma sosial yang unik dibandingkan dengan kehidupan kelompok-kelompok masyarakat pada umumnya. Keyakinan, kepercayaan dengan ritual dalam upacara serta penyembahannya tersendiri. Komunitas Kajang adalah komunitas yang terlembagakan secara struktur dengan legitimasi yang jelas. Lembaga sosial yang lebih dikenal antara lain misalnya; adat Limaya, dan Karaeng Tallua. Masing – masing memiliki struktur dan keanggotaan yang kemudian di dalamnya terdapat posisi kehormatan yang dipimpin oleh seorang Ammatoa. Selain pemerintahan tersendiri, sistem yang lainnya adalah sistem kepercayaan. Karakter kepercayaannya lebih unik karena berada pada kapasitas yang sifatnya dualistis dengan corak yang bertahan. Berbeda dengan mitos dan cerita To Manurung, komunitas adat Kajang memiliki materi dan termaktub dalam Pasanga ri Kajang. Pasang ini sendiri berarti sebuah pesan yang dijabarkankan baik dalam perilaku sosial maupun perilaku kepercayaan/mitos masyarakat. Pasang berisi adat istiadat, kepercayaan, mistik, cerita lisan, pantangan yang diwariskan turun temurun secara lisan dari generasi ke generasi berikutnya melalui transformasi yang tak henti-hentinya. Pasang ri Kajang adalah sebuah makna yang mengharuskan pengikutnya untuk mempercayai, memper tahankan dan mengamalkan Pasang yang diwariskan. Mempertahankannya adalah sebuah syarat yang tak dapat dibantah baik dalam adat istiadat maupun dalam perilaku pergaulan. Sikap sederhana atau bersahaja (kamase- mase), ikhlas, pasrah, appisona mengandung filosofi yang mengagumkan. Pasangnga ri Kajang adalah sumber ilmu pengetahuan bagi masyarakat. Pola dan tingkah laku beserta tindakan sepenuhnya bergantung pada Pasang. Baik wacana sosial, budaya, seni, dan kepercayaan semuanya

10

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

adalah hal yang terlahir dari Pasang. Sehingga dapat dikatakan bahwa ideologi pokok atau pandangan hidup manusia Kajang adalah bertumpu dan berpijak secara keseluruhan pada Pasang. Sekali lagi, Pasang merupakan ketakjuban yang monumental dari falsafah turunan yang disyiarkan Ammatoa. Pasang menjadi ajaran yang tercermin dalam perilaku dan hubungan manusia terhadap alam yang melingkupinya baik secara individu maupun kelompok. Hal ini teraktualisasi pada kehidupan Ammatoa yang memangku pucuk kepemimpinan yang lebih sederhana sebagai pemilik Pasang. B. Simbol Komunitas Tanah Adat Istilah Kajang memiliki dua arti yang berbeda. Kajang sebagai sebuah wilayah kecamatan dan Kajang dalam konteks Pasang. Dalam konteks Pasang Kajang terdiri dari Ilalang Rabbang atau Lalang Bata adalah dimana bermukimnya kekuatan/kawasan adat dengan simbol pakaian yang serba hitam yang melambangkan kesederhanan (butta kamase-masea) yang memegang teguh prinsip dan warisan Pasang, sedangkan dalam konteks pantarang rabbang adalah pengertian dimana di dalamnya dihuni oleh masyarakat distrik atau yang lebih dikenal dengan nama kecamatan yang melingkupi masyarakat Kajang secara keseluruhan. C. Pola Interaksi Sosial Dalam tradisi masyarakat Kajang Asli, interaksi sosial hadir sebagai realisasi dari Pasang. Pasang sebagai sistem sosial bermakna sebagai paham yang kekal dan senantiasa

berada dalam aturan adat dan dijalankan penganutnya serta dipertahankan sebagai dimensi kehidupan dan kebudayaan yang memiliki nilai – nilai dalam sosial masyarakat. Sistem sosial dalam Pasang tidak begitu detail dalam menjelaskan relevansi pembahasannya, misalnya sistem kekerabatan, sistem perkawinan dan sistem lainnya hanya dikemukakan secara umum. Akan tetapi dalam pranata lainnya terutama sistem formal kelembagaan diatur sedemikian rupa dan bertitik tolak pada fungsi dan peranan masyarakat adat dalam memahami struktur sosial secara lembaga adat Kajang. D. Pasang dan Peran Lembaga Adat Sistem kelembagaan dalam masyarakat adat nampaknya lebih pada fungsi politik ketimbang fungsi sosialnya. Maksudnya lembaga sosial adalah kemampuan pemangku adat untuk dapat memikirkan kesejahteraan masyarakatnya. Dalam kenyatannya, lembaga sosial dalam Pasang lebih menonjolkan fungsinya sebagai lembaga pemerintahan dan lembaga politik. Struktur kelembagaan yang diatur dalam Pasang mempunyai pucuk pimpinan tertinggi yaitu Ammatoa, kemudian di bawah Ammatoa terdapat sejumlah aparat yang tergabung dalam suatu lembaga. Sebutlah pertalian adat limaya, karaeng tallua, ada buttayya dan sejumlah aparatur lainnya.

Bagan 1. Struktur Lembaga Adat Masyarakat Suku Kajang

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

11

Pendidikan Keterampilan....

PENDIDIKAN SEBAGAI PESAN MORAL Dalam Pasang, norma dan etika merupakan junjungan pergaulan dan memiliki tata aturan perilaku, baik persoalan sopan santun dalam berbicara maupun adat dalam berpakaian yang mesti ditaati. Mengamalkan hubungan yang baik antara manusia yang satu dengan lainnya adalah bagian pengamalan dalam Pasang, pun antara mereka masyarakat adat (Ilalang Bata) dan masyarakat sekitarnya (Pantarang Rabbang). Norma-norma dan aturan-aturan itu meliputi adat istiadat bertutur kata, berpakaian dan 2. sejumlah aturan lainnya. 1. Adat berbicara Masyarakat adat Ammatoa dikenal sebagai masyarakat santun serta bersahaja. Komunikasi dibangun dengan sikap menghargai dan saling menghormati. Bagi yang muda menghormati yang tua sebaliknya yang tua menghargai yang muda sehingga terbangun nilai kekerabatan yang harmonis di kalangan mereka. Begitu pun cara sapaan lebih pada sapaan akrab. Misalnya seorang anak memiliki sapaan yang sama dengan anak yang lain (buto, aco dsb). Sapaan ini tidak menghadirkan sekat penghalang dalam komunikasi orang yang lebih tua dengan yang muda. Demikian pula bagi kalangan tua, perempuan dan lainnya secara tersendiri memiliki simbol bagi setiap elemen dalam bentuk khasnya. Kesopanan mereka lebih menonjol jika berhadapan dengan kelompok masyarakat lain atau sedang berada di luar kawasan adat. Bagi mereka, merupakan pantangan dan akan mendapat celaan jika sedang berbicara dengan bertolak pinggang, sebab jika seperti itu bertentangan dengan ajaran Pasang. Pasang sudah memberikan tata cara pergaulan yang sopan, kalau berbicara tangan harus dilipat di dada, sambil membungkukkan badan, dan sarung harus digulung yang disebut

abbida. Selain memelihara sikap dalam pergaulan, dalam Pasang juga telah digariskan tata cara bersopan santun dalam hal sapaan. Menyapa seseorang harus dengan istilah yang mulia dan akrab. Di Kajang tidak dikenal sapaan Puang ataupun Daeng, tetapi untuk menyapa seseorang yang dihormati cukup istilah sapaan Puto. Sapaan seperti ini dinilai lebih mulia dari sapaan yang lainnya. Sapaan Puto khusus untuk laki-laki sedang sapaan untuk perempuan adalah Jaja. Adat berpakaian Pakaian masyarakat Kajang mempunyai corak tersendiri baik warna maupun bentuknya, warna pokoknya adalah warna hitam dan warna yang paling pantang untuk digunakan adalah warna merah. Sarung yang mereka gunakan adalah karya dan buatan sendiri dengan jalan merendam dalam larutan dedaunan. Mereka hanya membeli benang putih kemudian direndam dalam larutan dedaunan sehingga menjadi pekat. Sesudah benang itu menjadi hitam maka dapat ditenun menjadi sarung yang kerap disebut Tope le’leng, sementara celana yang mereka gunakan adalah

Gambar 1. Pakaian Adat Pake le’leng Khas Masyarakat Kajang

Pakaian perempuan terdiri dari sarung dan baju bodo yang juga berwarna hitam pekat. Pakaian kesehariannya maupun dalam upacara adat nampaknya tidak berbeda. Di daerah Kajang, pantang memasyarakatkan trend dan style yang berlaku di masyarakat pada umumnya. Tingkah laku dan perbuatan manusia Kajang

12

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

yang paling utama digariskan dalam ajaran Pasang yaitu kejujuran. Sebuah konteks yang disebutkan “Lambusu’nuji nu karaeng” yang artinya sebab kejujuranmu maka engkau penguasa, sungguh sangat dalam makna filosofi Pasangnga ri Kajang. Ini menunjukkan kekuasaan di Kajang berangkat dari kemurnian hati untuk berbuat dan melindungi rakyatnya. Hal yang paling menonjol dalam budaya Kajang tergambar dalam pola hidup pemimpinnya (Ammatoa). Pola yang amat sederhana, pemimpin adat rela lebih miskin dari pada rakyatnya. Mendahulukan kepentingan rakyat daripada kepentingan pribadi, dan begitupun dengan jaminan hidup rakyatnya telah diatur dalam Pangnganreangna I Amma lahan sawah yang diberikan kepercayaan kepada tiap Ammatoa dalam periodenya dan untuk kehidupan rakyatnya nanti. Hal kedua dalam laku sosial masyarakat Kajang adalah sabar,. terutama bagi seorang pendidik, hingga istilah ini melekat dalam pesan “Sabbara’nuji nu guru” yang berarti lantaran kesabaranmu maka engkau menjadi guru atau pendidik. Maksudnya seorang pendidik harus memiliki sifat tabah dan sabar, sebab mendidik membutuhkan keuletan dan kesabaran. POLA PENDIDIKAN KEKERABATAN A. Tenaga Pendidik Pola pendidikan keterampilan kekerabatan adalah suatu proses pembelajaran keterampilan yang dilakukan secara turun-temurun melalui pembiasaan kegiatan dalam suatu pertalian kedekatan antar teman, tetangga, famili dan lingkungan keluarga (antara anak dan orang tua). Pembatasan pada kekerabatan bertujuan untuk menggali tenaga pendidik dalam pola pendidikan keterampilan kekerabatan yang terdekat antara orang tua dan anak dalam struktur pertalian lingkungan keluarga. Pendidikan/pembelajaran pada masyarakat Kajang berpegang teguh pada prinsip Pasang

yang menjadi landasan dalam pembinaan komunitas maupun keluarga. Bila dilihat dari pendidikan keterampilan, yang terbentuk adalah pembiasaan yang telah dilakukan secara turun temurun yang menjadi warisan keluarga dalam bekerja dan berketerampilan. Tenaga pendidik pada pembentukan pola pendidikan keterampilan kekerabatan yang dimaksudkan adalah peran salah satu dan atau beberapa orang dalam lingkungan keluarga yang mempunyai keterampilan dan diwariskan/diajarkan pada keturunan berikutnya sebagai bekal dalam menjaga dan meneruskan pembiasaan dalam lingkungan keluarganya. 1. Orang tua Peran orang tua dalam pendidikan keterampilan kekerabatan lebih pada fungsinya sebagai pendidik dalam menerapkan dan mengajarkan keterampilan yang mereka miliki. Penerapan pembelajaran yang dilakukan lebih pada aplikasi langsung dengan bahan dan alat yang dipergunakan dalam melakukan kegiatan pembelajaran, sehingga transfer keterampilan dilakukan secara praktis pada anggota keluarga yang dianggap mampu untuk melakukan/ melanjutkan keterampilan tersebut. Orang tua sebagai tenaga pendidik dalam pola pendidikan keterampilan kekerabatan pada masyarakat Kajang tidak hanya memberikan bekal keterampilan saja, namun tata cara dalam proses pekerjaan dimaknai sebagai bagian pengembangan sikap selalu sabar, telaten dan konsisten (istilah ini melekat dalam Pasang “ Sabbaranu’ji nu guru” yang berarti lantaran kesabaranmu maka engkau menjadi guru). Sehingga peran orang tua pada masyarakat Kajang sebagai pendidik mengandung makna teramat penting dalam menumbuhkan kecintaan anak terhadap keterampilan

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

13

Pendidikan Keterampilan....

bekerja dan sekaligus mengajarkan interaksi sosial dalam adab pribadi. Pola pendidikan keterampilan ke ke r a b a t a n o l e h o r a n g t u a masyarakat Kajang lebih pada pendidikan melalui kedekatan hubungan dengan alam melalui proses pemanfaatan sumberdaya di sekitar lingkungan mereka dan interaksi sosial berketerampilan dalam lingkungan masyarakat yang telah terjalin dalam suatu ikatan adat yang kental dengan aturan dan tata pergaulan berdasarkan pemikiran jujur, sabar, konsisten, tenggang rasa dan siri (perasaan malu). Keterampilan pertenunan menjadi kegiatan wanita-wanita masyarakat K ajang yang ber tujuan untuk memenuhi kebutuhan sandang bagi masyarakat berupa kain guna keperluan sar ung dan pakaian yang diproses secara alami. Sistem pengajaran orang tua sebagai pendidik dalam keterampilam kekerabatan terhadap anak-anak mereka dilakukan melalui tahapan : a. Penanaman tar ung sebag ai bahan pewarna sarung; b. Pewarnaan benang; c. Pemintalan benang; d. Penyiapan alat pertenunan; e. Pemasangan benang yang telah dipintal pada alat tenun ; f. Proses Penenunan Tahapan tersebut di atas dilakukan dengan metode pendekatan yang membangun pengetahuan melalui kejadian atau fenomena empirik dengan menekankan pada belajar pada pengalaman langsung (induktif) dan pendekatan yang mengorganisasikan pengalaman dan mendorong terjadinya pengalaman belajar yang meluas dan tidak tersekat oleh pokok bahasan. Pendekatan

pendidikan keterampilan kekerabatan dapat mengaktifkan peserta didik atau anak-anak mereka (tematik) melalui keterampilan guna menumbuhkan pengetahuan pertenunan kain tenun khas Kajang. 2. Anak Anak dalam pendidikan keterampilan kekerabatan merupakan peserta didik dalam pelestarian pertenunan masyarakat Kajang yang diwariskan oleh orang tua mereka melalui kegiatan keterampilan dalam lingkungan keluarga mereka guna menghasilkan produk sandang berupa sarung dan pakaian. Disisi lain, anak bisa pula bertindak sebagai tutor dalam kaitannya dengan pemberantasan buta aksara dalam lingkungan keluarga mereka. Kegiatan yang dilakukan oleh beberapa keluarga pada masyarakat Kajang lebih pada pendekatan pendidikan kekerabatan, dalam artian orang tua sebagai pendidik dalam pengembangan keterampilan tenun kain dan anak bertindak sebagai tutor/pendidik dalam pembelajaran keaksaraan melalui pengetahuan calistum bagi orang tua mereka. Pendidikan kekerabatan yang dibangun mengandung makna sebagai simbol manifestasi tatanan sosial bagi masyarakat Kajang dalam bentuk pemahaman Pasang ri Kajang sebagai tatacara dalam bertutur kata, cara berpakaian dan aturan santun yang mesti dijalankan. Masyarakat Kajang memaknai Pasang sebagai suatu keharusan dalam menjalankan pola hidup ber mata pencaharian, pergaulan, pembelajaran dan rasa hormat menghormati sehingga akan memperoleh keselamatan dan kearifan dalam menjalankan kehidupan. Pendidikan yang dilakukan oleh orang tua terhadap anaknya lebih pada keterampilan yang diwariskan dengan

14

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

pola aplikatif dalam melakukan pekerjaan serta pembelajaran tata adab berperilaku secara santun. Hasil penerapan pendidikan keterampilan kekerabatan dalam lingkungan masyarakat tanah adat Kajang telah berbentuk pengaplikasian kecakapan hidup tanpa memisahkan unsur-unsur dalam tatanan pembelajaran keterampilan, sosial dan kepribadian yang menjadi kesatuan secara utuh. Unsur-unsur dalam pendidikan keterampilan kekerabatan yang dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik terhadap anaknya melalui aplikasi keterampilan pertenunan kain hitam khas Kajang mengimplementasikan makna sebagai simbol kesederhanaan dalam pergaulan hidup. B. Tempat Pembelajaran Tempat berlangsungnya pembelajaran keterampilan dikatakan telah layak untuk digunakan jika menimbulkan kenyamanan dalam proses belajar mengajar, sehingga proses transfer ilmu dari sumber belajar (tutor) ke peserta didik dapat berlangsung dengan baik dan komunikatif dalam mencapai tujuan akhir pembelajaran. Pembelajaran keterampilan kekerabatan pada masyarakat Kajang dilakukan dalam lingkungan keluarga dengan keterlibatan orang tua sebagai pendidik dan anak sebagai peserta didik. Transfer keterampilan dilakukan dengan menggunakan sarana pertenunan yang telah ada dan dilaksanakan dalam lingkungan keluarga itu sendiri. Pelaksanaan keterampilan dilakukan di dalam rumah, teras rumah dan pada kolong rumah. Manfaat yang diperoleh melalui fasilitas/ tempat seperti ini adalah unsur pendidik dan peserta didik berada dalam satu lingkungan kegiatan, sistematika pembelajaran dan waktu pembelajaran berjalan secara terus menerus, serta terjadinya komunikasi secara baik antara pendidik dan peserta didik.

C. Sistem Pembelajaran 1. Interaksi Keterampilan Praktis Interaksi keterampilan praktis lebih pada hubungan antara tenaga pendidik dan peserta didik dalam melakukan kegiatan pembelajaran keterampilan deng an metode induktif dan tematik yang dibangun bersama dalam mencapai hasil yang maksimal. Dalam pola ini terbangun sistem bimbingan berketerampilan dan pendampingan kemandirian berketerampilan yang dilakukan. Pendidikan keterampilan kekerabatan lebih ditekankan pada terbangunnya citra diri, dan ternyata hal ini telah dilakukan dalam pendidikan keterampilan pertenunan sarung khas Kajang. Pendidikan ketermpilan kekerabatan mampu membangkitkan gairah belajar secara menyenangkan. Hanya dengan pendekatan inilah, para peserta didik akan terdorong untuk membangun citra diri positif untuk pertumbuhan mereka khususnya pada masyarakat dengan pola kekerabatan yang kental dengan aturan adat istiadat yang dipegang teguh. Interaksi keterampilan praktis berfokus pada pendekatan pembelajaran yang lebih memerlukan metode praktis dari keterampilan yang mereka lakukan sebagai bentuk hasil dari pekerjaan dan dengan mudah dapat memperoleh penghasilan yang bersumber dari apa yang mereka lakukan. Sistem yang dibangun digambarkan pada bagan 2.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

15

Pendidikan Keterampilan....

Bagan 1. Skema/Struktur Proses Pembelajaran Keterampilan Suku Kajang
Skema proses pembelajaran keterampilan di atas merupakan suatu proses pembelajaran yang dilakukan oleh orang tua kepada anaknya dengan lebih mengarahkan pada pembelajaran keterampilan paraktis, namun tidak meninggalkan unsur bimbingan dan pendampingan yang dilakukan dalam menjalankan kegiatan pembelajaran. 2. Metode Aplikatif. Praktek keterampilan yang dilakukan oleh orang tua (pendidik) dilaksanakan melalui proses aplikasi keterampilan secara langsung dengan obyek yang akan dikerjakan melalui bimbingan dan pendampingan. Penerapan keterampilan yang telah disimulasikan oleh orang tua (pendidik) disesuaikan dengan tahapan pelaksanaan perlakuan pada pertenunan kain khas Kajang dengan penerapan dalam bentuk kerja lapangan yang dilaksanakan oleh anak (peserta didik). Sistem ini mengandung pembelajaran ilmu terapan melalui proses magang dengan melibatkan peserta didik untuk langsung terlibat dalam proses penerapan keterampilan. Sistem ini lebih menekankan pada membangun motivasi kerja, ketepatan waktu

16

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

bekerja, ketelitian dalam bekerja serta mendidik kemandirian bekerja pada peserta didik. Pendidikan keterampilan secara aplikatif yang dikembangkan dalam konsep keterampilan kekerabatan mengandung makna bimbingan dalam menjalankan suatu kegiatan keterampilan tidak terlepas dari peran orang tua (pendidik) pada proses kegiatan secara langsung, memberikan tata cara pelaksanaan melalui pendalaman keterampilan yang dilakukan dan mengarahkan peser ta didik (anak) dalam melakukan keterampilan melalui motivasi bekerja. Pendampingan keterampilan kekerabatan lebih pada bagaimana menjaga motivasi dalam pendidikan keterampilan yang dilakukan oleh peserta didik (anak) sehingga dapat diperoleh hasil keterampilan yang lebih baik. Metode aplikatif dalam keterampilan pertenunan bagi masyarakat Kajang telah berjalan cukup lama melalui bimbingan dan pendampingan kepada anak sebagai peserta didik dalam melakukan pertenunan. Hal yang menarik pada metode yang dilakukan ini adalah bagaimana seorang anak dapat dengan cepat menguasai teknik dan cara pertenunan yang diajarkan kepada mereka dan kualitas hasil keterampilan tidak berbeda jauh dengan apa yang dilakukan oleh orang tua mereka. C. Sarana dan Prasarana Pembelajaran Berlangsungnya aktifitas keterampilan kekerabatan melalui pertenunan kain di masyarakat Kajang diperlukan sarana dan prasarana penunjang yang dapat mendukung hasil keterampilan. Bahan pendukung berupa prasarana penunjang adalah semua alat dan bahan yang digunakan dalam proses

keterampilan yang menunjang kelancaran kegiatan pembelajaran keterampilan kekerabatan. Sarana berupa bahan ajar dalam bentuk alat peraga berupa alat pertenunan yang dilakukan oleh orang tua (pendidik) dalam bentuk simulasi menjadi kebutuhan utama. Anak sebagai peserta didik dapat melakukan curah pendapat dengan pendidik ataupun belajar secara mandiri terkait dengan keterampilan yang diajarkan, sehingga terjadi interaksi proses dalam pencapaian hasil keterampilan melalui sistem kekerabatan. Pedidikan keterampilan kekerabatan adalah pelibatan orang tua dan anak secara penuh dalam mengelola keterampilan yang menjadi warisan keluarga terkhusus bagi perempuan masyarakat Kajang. Kegiatan dalam pemberian keterampilan pertenunan pada sistem pendidikan keterampilan kekerabatan dibedakan atas dua kategori, yaitu : a. Pe m i l i h a n a l a t b e r d a s a r k a n pembiasaan yang dilakukan oleh masyarakat Kajang dalam proses pertenunan, yang dibagi ke dalam dua jenis alat pertenunan yaitu; 1) A l a t p e r t e nu n a n d e n g a n cara pemakaian diletakkan pada pangkuan (Alat tenun tradisonal); 2) Alat pertenunan dengan cara pemakaian mengandalkan pedal penginjak sebagai penghubung ikatan antar benang yang ditenun (Alat tenun bukan mesin). Pemilihan bahan yang dilakukan berdasarkan pada unsur tradisonal/ orisinilnya bahan tersebut, sehingga kain khas masyarakat K ajang tergolong kain dengan tingkat orisinil yang cukup tinggi, Hal ini berdasarkan pada : 1) Jenis pewarna yang digunakan berupa daun dan biji-bijian yang

b.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

17

Pendidikan Keterampilan....

2)

3)

disebut daun tarung kemudian direndam cukup lama sehingga akan berwarna hitam pekat. Sebelum proses penenunan, benang direndam dalam bahan pewarna kemudian dikeringkan dengan cara dijemur. Jenis benang yang digunakan adalah katun yang terbuat dari serat kapas. Dahulu masyarakat Kajang membuat benang dengan cara memintal serat-serat kapas sehing g a menjadi benang. Namun untuk sekarang cukup membeli benang dengan jenis katun tersebut. Pemintalan benang dilakukan dengan menggunakan peng gulung benang guna mencegah terjadinya kusut pada benang, lalu benang yang telah diwarnai tersebut kemudian dipasang pada alat tenun.

D. Penilaian Hasil Belajar Penilaian hasil belajar peserta didik (anak) dilakukan selama mengikuti pembelajaran keterampilan, dan pola penilaian tidak terstruktur seperti halnya pada pendidikan formal. Penilaian hasil belajar yang dilakukan oleh orang tua terhadap anak sebagai peserta didik lebih mengarah pada penilaian proses dalam bentuk bimbingan kegiatan keterampilan pertenunan dan fungsi evaluasi dilakukan melalui pendampingan langsung terhadap jalannya keterampilan tersebut.

yang diajarkan kepada anak mereka telah mencapai hasil yang mereka inginkan. Pola penilaian ini bertujuan pula untuk membimbing perilaku anak sebagai peserta didik dalam hal melatih kesabaran, telaten dalam bekerja dan bersifat jujur dalam menjalankan tugasnya, sehingga dalam penilaian hasil keterampilan telah mengandung unsur pendidikan dalam bentuk keterampilan dan penanaman tingkah laku yang baik pada anak-anak mereka. Pe n i l a i a n p a d a p e n d i d i k a n keterampilan kekerabatan yang dilakukan oleh masyarakat Kajang lebih diarahkan pada bentuk penilaian yang menekankan penguasaan keterampilan pertenunan sebagai warisan budaya dengan mengacu pada adat istiadat yang dipegang oleh orang tua sekaligus membentuk perilaku yang santun berdasarkan ajaran Pasang melalui penerapan sikap jujur, sabar, konsisten, tenggang rasa dan siri’ (rasa malu), sehingga penilaian hasil keterampilan lebih pada pembentukan karakter anak setelah mereka beranjak dewasa. Beberapa syair kalimat dalam norma dan prinsip monumental sebagai pesan moral dalam kehidupan masyarakat Kajang : Lambusu’nuji nu karaeng Karena jujurmu maka engkau penguasa Accidong ri tanah eso’ Bertahan dan tetap pada posisi karena jujurmu. Akkambiang ri cinaguri Orang jujur di lindungi Tuhan Sabbara’nuji nu guru Lantaran kesabaranmu engkau menjadi pendidik Gattangnuji nu ada’ Karena ketegasanmu engkau menjadi pemimpin adat Sallu ri ajoa

1. Penilaian Hasil Keterampilan

Penilaian hasil keterampilan oleh orang tua sebagai tenaga pendidik dalam masyarakat Kajang melalui keterampilan pertenunan lebih diarahkan pada kemampuan peserta didik (anak) guna menghasilkan selembar kain dari hasil keterampilan yang diajarkan, sehingga orang tua menganggap bahwa apa

18

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidikan Keterampilan....

Tu n d u k p a d a n o r m a y a n g digariskan dalam Pasang Ammulu ri adahang Konsisten pada kesepakatan sebelumnya Piso’nanu ji nu sanro Karena kepasrahan dan tenggang rasamu engkau menjadi bijak 2. Penilaian Proses Kemandirian Penilaian kemandirian dalam pola pendidikan keterampilan kekerabatan berlangsung secara infor mal dalam lingkungan keluarga ataupun masyarakat Kajang. Penilaian kemandirian dilakukan berdasarkan pada kemampuan anak sebagai peserta didik dapat melakukan kegiatan tanpa bantuan dari orang tua sebagai tenaga pendidik. Kemampuan anak sebagai peserta didik dalam menghasilkan kain tenun baik dari segi corak, kualitas serta ketepatan waktu pembuatan telah menjadi pengakuan di kalangan keluarga dan lingkungan masyarakt terkait dengan keterampilan anak dalam pertenunan kain. Selain itu, penilaian kemandirian yang dilakukan oleh orang tua pada anaknya diartikan ketika anak mereka telah mendapatkan pesanan dan dapat menghasilkan sesuatu dalam menghidupi keluarga mereka. Penilaian kemandirian ini pula dilandasi oleh pendampingan yang dilakukan oleh orang tua sebagai pendidik dalam membentuk karakter anak sebagai peserta didik berdasarkan ajaran Pasang yang dilandasi sifat jujur dalam bertransaksi dan menanamkan rasa siri’ (malu) bila berbuat hal yang tercela dalam melakukan penjualan hasil pertenunan. EPILOG Ketik a seorang lak i-lak i menangis di hadapan perempuan, sesungguhnya ia telah menyentuh keangkuhan perempuan itu, dan

ketika seorang perempuan menangis di hadapan laki-laki, sesungguhnya ia telah menimbulkan rasa iba lelaki kepadanya. Untaian kalimat di atas menggambarkan suatu makna dalam melihat peran antar laki-laki dan perempun pada kehidupan masyarakat Kajang dalam menempati fungsi yang terbagi dalam suatu konteks jujur, berlaku bijak dan tenggang rasa. Pertalian rasa dan asa menjadi suatu keharusan guna dijalankan dalam piranti kamase-masea sebagai perwujudan sifat ganna’ yang berujung ajaran kearifan, jika seseorang sudah cukup makanan, pakaian, tanah, kebun, sawah dan rumah sederhanan. Ketakjuban luar biasa tetap terjaga dalam melihat komunitas masyarakat Kajang yang masih memegang teguh warisan leluhur mereka ditengah peradaban yang semakin canggih. Untaian sabda-sabda yang tak tertulis dalam mendidik generasi penerus mereka lewat untaian-untaian Pasang sebagai penjaga keluhuran hati antar orang tua dan anak, berpangkal pada ajaran jujur, sabar, konsisten, tenggang rasa dan siri’ (memiliki rasa malu) terjalin indah sejak dalam buaian ibu dan bermuara pada sifat kamase-masea guna memelihara pandangan dari keangkuhan dan keserakahan. Landasan tulisan ini berakar dari pola hidup masyarakat Kajang dengan interaksi antar orang tua dan anak dalam menjaga keluhuran adat mereka melalui keterampilan, sehingga Pendidikan Keterampilan Kekerabatan perlu dilestarikan melalui konsep yang terurai di atas. Tiga hal yang berlaku dalam masyarakat Kajang yakni ; 1. Keterampilan pertenunan adalah warisan leluhur mereka dalam memenuhi sandang berupa pakaian yang diturunkan kepada anak cucu mereka dan dilakukan secara tradisional dengan tetap menjaga keaslian bahan baku yang bersumber dari alam di sekitar masyarakat Kajang. Pola dalam memberikan keterampilan kepada anak sebagai peserta didik dilakukan melalui bimbingan dalam melakukan kegiatan dan pendampingan

2.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

19

Pendidikan Keterampilan....

3.

diberikan oleh orang tua setelah anak dianggap mampu untuk melakukan keterampilan secara mandiri. Ke t e r a m p i l a n ke ke r a b a t a n p a d a masyarakat Kajang tidak hanya mampu menghasilkan kain yang ditenunnya sebagai hasil bimbingan orang tua kepada anak, namun pembinaan moral dilakukan

DAFTAR PUSTAKA Anwar. Pendidikan Kecakapan Hidup (life skill education). Alfabet. 2004. Bandung. Depdiknas. Naskah Akademik. Pendidikan Keluarga Berwawasan Gender. 2004. Jakarta. Dermawan, I. Mukriany. Pedoman Pendidikan Kecakapan Hidup Masyarakat Pesisir dan Pulau Terpencil. BPPNFI Regional V. 2006. Makassar. Katu,M,A. Tasawuf Kajang. Pustaka Refleksi. PT. Pustaka Nusantara Padaidi. 2005. Margaretha,E. Firmanto,A. Hasbi W. Custom Area of Tanah Toa. Gerbang, Majalah Pendidikan. 2004

Penulis adalah Tenaga Fungsional BPPNFI Regional V Makassar

20

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Kinerja pengelola program ........

KINERJA PENGELOLA PROGRAM PENDIDIKAN KESETARAAN
(Studi pada SKB Ujungpandang Thn 2007)

Pengelola diksetara profesional dalam paradigma baru manajemen pendidikan akan memberikan dampak positif dan perubahan yang cukup mendasar dalam pembaharuan sistem pendidikan. Dampak tersebut antara lain terhadap efektifitas pendidikan, pengorganisasian diksetara yang kuat, pengelolaan tenaga tutor yang efektif, budaya mutu, teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis, kemandirian, partisipasi warga dilingkungan pembelajaran dan masyarakat sekitarnya, kemauan untuk berubah, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, responsif dan antisifatif terhadap kebutuhan, akuntabilitas dan pencitraan publik. ——————————————————————————————— Oleh: Ibrahim
Abstrak

Sebagai tenaga kependidikan PNF yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan, minimal harus mampu menjadi edukator, manajer, administrator, supevisor, leader, innovator dan motivator (EMASLIM) dalam penyelenggaraan pembelajaran penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penyelenggaraan pendidikan kesetaraan pada SKB Ujungpandang dan kinerja penyelenggara. Penelitian ini disusun dengan menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data melalui angket dan wawancara. Populasi penelitian adalah penyelenggara pendidikan kesetaraan pada SKB Ujungpandang Tahun 2007 sebanyak 11 orang dan merupakan sample total. Hasil penelitian menggambarkan bahwa sebanyak 11 kelompok belajar pendidikan kesetaraan yang terdiri dari; Paket A setara SD/MI sebanyak 3 (tiga) kelompok, Paket B setara SMP/MTs sebanyak 6 (enam) kelompok dan Paket C sebanyak dan 2 (dua) kelompok Hasil penelitian dan kesimpulan yang diperoleh bahwa sebanyak 11 (sebelas) kelompok belajar pendidikan kesetaraan dikelola dengan baik oleh tenaga kependidikan pada SKB Ujungpandang tahun 2007. Hasil analisis data ditemukan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan pada SKB Ujungpandang dengan indikatornya adalah sebagai educator, sebagai administrator, sebagai supervisior dan sebagai motivator dilaksanakan dengan baik oleh pengelola program pendidikan kesetaraan dengan prosentase kinerja sebanyak 71,59 % tugas pokok yang dilaksanakan dalam pengelolaan program pendidikan kesetaraan, berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan pada penelitian ini.
PENDAHULUAN Pendidikan nasional sedang mengalami berbagai perubahan yang cukup mendasar, terutama berkaitan dengan UU Sisdiknas, manajemen dan kurikulum, yang diikuti oleh perubahan-perubahan teknis lainnya. Perubahan-perubahan tersebut diharapkan dapat memecahkan berbagai permasalahan pendidikan, baik masalah-masalah konvensional maupun masalah-masalah yang muncul bersamaan dengan hadirnya ide-ide baru (masalah inovatif). Selain itu, diharapkan terciptanya iklim yang kondusif

sebagai peningkatan kualitas pendidikan dan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Dewasa ini dunia pendidikan kita masih diperhadapkan pada tiga tantangan besar, sebagaimana yang dikatakan oleh Yulaelawati (2006) bahwa: “...pendidikan nasional masih diperhadapkan pada beberapa permasalahan yang menonjol yaitu; (1) masih rendahnya pemerataan memperoleh pendidikan; (2) masih rendahnya relevansi pendidikan dan; 3) masih lemahnya manajemen pendidikan, di

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

21

Kinerja pengelola program ........

samping belum terwujudnya kemandirian dan keunggulan ilmu pengetahuan dan teknologi dikalangan akademis” Dari berbagai permasalahan pendidikan yang ada dan dirasakan selama ini, pemerintah dengan serius membenahi semua lini penyelenggaraan pendidikan, terbukti dengan disahkannya UU RI No. 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, yang merupakan suatu pengejawantahan dari sebahagian agenda reformasi. Perubahan mendasar yang dicanangkan dalam Undangundang Sisdiknas tersebut antara lain adalah demokratisasi dan desentralisasi pendidikan, peran serta masyarakat, tantangan globalisasi, kesetaraan dan keseimbangan jalur pendidikan, dan peserta didik. Perubahan mendasar yang termaktub dalam Undang-undang Sisdiknas menyangkut demokratisasi adalah kebebasan dari seluruh warga masyarakat untuk menyelenggarakan dan mengikuti pendidikan. Namun demikian perubahan tidaklah serta-merta dapat dilaksanakan untuk memenuhi seluruh tuntutan dan keinginan dari masyarakat untuk memperoleh pendidikan, terutama yang berkaitan dengan pendidikan formal. Oleh karena itu dalam Undang-undang sisdiknas tersebut ditegaskan bahwa untuk memenuhi aspirasi pendidikan masyarakat, maka pemerintah menyelenggarakan tiga (3) bentuk pendidikan yang ada; yakni pendidikan formal, nonformal dan informal. Untuk melayani pendidikan masyarakat yang tidak sempat mengikuti pendidikan formal, maka pemerintah menyediakan bentuk pendidikan umum yang berlangsung di luar sistem persekolahan dan dikenal dengan istilah pendidikan kesetaraan. Pe n d i d i k a n Ke s e t a r a a n a d a l a h salah satu solusi dan garda terdepan untuk memecahkan sebahagian masalah pendidikan nasional tersebut. Namun demkian, pendidikan kesetaraan sebagai pendidikan yang baru populer di tengah-tengah masyarakat tidak terlepas pada permasalahan-permasalahan khusus, terkait sosialisai penyelenggaraan, pendidik dan tenaga kependidikan, kualitas dan profesionalisme penyelenggaraan pendidikan kesetaraan serta berbagi masalah lainnya. Perubahan-perubahan tersebut di atas, menuntut berbagai tugas yang harus dikerjakan

oleh para tenaga kependidikan, sesuai dengan peran dan fungsinya masing-masing. Mulai dari level makro sampai dengan level mikro, tidak terkecuali tenaga kependidikan pendidikan kesetaraan. Pada pendidikan kesetaraan terdapat dua elemen yang paling berperan dan sangat menentukan kualitas pendidikan; yakni penyelenggara dan tutor. Dalam perspektif globalisasi, otonomi daerah dan desentralisasi pendidikan serta untuk menyukseskan manajemen penyelenggaraan, dan kurikulum. Penyelenggara adalah sebagai top manajer yang merupakan figur sentral bagi seluruh tenaga pendidik dan kependidikan yang ada di lingkungan tempat penyelenggaraannya. Oleh karena itu, untuk menunjang keberhasilan dalam perubahan-perubahan yang dilakukan dan diharapkan, perlu dipersiapkan tenaga kependidikan yang professional, yang mau dan mampu melakukan perencanaan, pelaksanaan, serta evaluasi terhadap berbagai kebijakan dan perubahan yang dilakukan secara efektif dan efesien. Berdasarkan pengamatan di beberapa daerah penyelenggaraan pendidikan kesetaraan; khususnya penyelenggaraan program Paket A, Paket B dan Paket C, menunjukkan bahwa masih banyak penyelenggara yang belum mampu menjalankan tugas pokok yang diembannya dengan baik dan bahkan cenderung menjalankan tugasnya hanya mengikuti konteks teoritis, tanpa mampu melaksanakan kegiatan dengan penuh kreatifitas dan inovasi yang tinggi, padahal penyelenggaraan pendidikan kesetaraan harus mampu menciptakan inovasi-inovasi pendidikan yang non tex book agar tenaga pendidik dan kependidikan lainnya serta warga belajar dapat termotivasi dalam mengikuti dan melaksanakan pembelajaran. Untuk menjadi penyelenggara pendidikan kesetaraan tidaklah semudah menjadi kepala sekolah pada pendidikan formal, sebab pendidikan kesetaraan membutuhkan jiwa pengabdian yang tinggi serta semangat kerja tanpa pamrih yang dilandasi dengan motivasi yang tinggi pula. Menjadi penyelenggara pendidikan kesetaraan yang professional, banyak hal yang harus dipahami, banyak masalah yang harus dipecahkan, dan banyak strategi yang harus dikuasai. Halhal yang dimaksudkan adalah menyangkut pengetahuan dan keterampilan penyelenggara, terutama yang berhubungan dengan pengetahuan

22

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Kinerja pengelola program ........

secara akademik mengenai penyelenggaraan pendidikan nonformal dan pendekatan pendidikan orang dewasa, pengetahuan tentang kebijakankebijakan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan, serta pengalaman-pengalaman yang berkenaan dengan pemberdayaan masyarakat dalam rangka penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Kinerja pada dasarnya adalah apa yang dilakukan atau tidak dilakukan oleh karyawan. Kinerja karyawan adalah yang mempengaruhi seberapa banyak mereka memberi konstribusi kepada organisasi atau lembaga (Mathis, Jackson. 2002:78). Produktivitas kerja yang rendah antara lain disebabkan oleh rendahnya etos kerja dan disiplin, salah satu indikator dari masalah ini adalah masih rendahnya mutu luaran pendidikan kesetaraan, baik dari segi kualitas maupun kuantitas yang dapat dicapai oleh peserta didik. Terlebih lagi jika dilihat dari mutu akademik serta partisipasinya dalam kehidupan untuk memecahkan berbagai persoalan dalam masyarakat dan bahkan tidak jarang dari peserta didik hanya mampu memperlihatkan sertifikatnya sebagai luaran pendidikan tertentu dan menjadi sumber masalah dalam masyarakat. Dengan demikian diperlukan etos kerja yang baik bagi pengelola pendidikan dan perlunya menumbuhkan budaya mutu di lingkungan pendidik dan tenaga kependidikan. Pengelola diksetara profesional dalam paradigma baru manajemen pendidikan akan memberikan dampak positif dan perubahan yang cukup mendasar dalam pembaruan sistem pendidikan. Dampak tersebut antara lain terhadap efektifitas pendidikan, pengorganisasian diksetara yang kuat, pengelolaan tenaga tutor yang efektif, budaya mutu, teamwork yang kompak, cerdas dan dinamis, kemandirian, partisipasi warga di lingkungan pembelajaran dan masyarakat sekitarnya, kemauan untuk berubah, evaluasi dan perbaikan berkelanjutan, responsif dan antisipatif terhadap kebutuhan, akuntabilitas dan pencitraan publik. Sebagai tenaga kependidikan PNF yang menyelenggarakan pendidikan kesetaraan, minimal harus mampu menjadi edukator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator dan motivator (EMASLIM) dalam penyelenggaraan pembelajaran. Fungsi dan tugas tersebut di atas tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya, karena saling terkait dan saling mempengaruhi

serta menyatu dalam diri pengelola yang professional. Pengelola yang demikian akan mampu mendorong visi menjadi aksi dalam paradigma baru pendidikan kesetaraan. Berdasarkan uraian tersebut di atas, maka dapat dipertanyakan tentang bagaimana kinerja penyelenggara pendidikan kesetaraan. Oleh karena itu dipandang perlu untuk mengadakan penelitian tentang kinerja penyelenggara pendidikan kesetaraan, khususnya pada SKB Ujungpandang tahun 2007. METODE Penelitian ini dilaksanakan di wilayah kerja Sang gar Kegiatan Belajar (SKB) Ujungpandang Kota tahun 2007. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif. Pengambilan data melalui angket dan wawancara. Populasi penelitian ini adalah sebanyak 11 (sebelas) orang penyelenggara pendidikan kesetaraan yang terdiri dari pengelola program Paket A sebanyak 3 (tiga) orang, Paket B sebanyak 6 (enam) orang dan Paket C sebanyak 2 (dua) orang. Analisis data yang dipergunakan adalah analisis kualitatif dengan prosentase kinerja. Terkait dengan itu, penelitian kualitatif ini berlangsung sejak pertama kali terjun ke lapangan sampai ketika pengumpulan data di lapangan telah dianggap memuaskan. Oleh karena itu sejumlah fakta-fakta yang diperoleh di lapangan (informasi verbal, hasil angket maupun dokumentasi) dikumpulkan dengan cara menuliskan, mengedit, mengklasifikasi, mereduksi dan kemudian dilanjutkan dengan pengujian. Berdasarkan asumsi di atas, maka data yang sifatnya kualitatif terutama hasil angket, wawancara dan observasi lapangan diolah secara kualitatif sesuai dengan tujuan penelitian. Prosentase kinerja dapat dikategorikan sebagai berikut: - 0 - 20 % : Sangat kurang - 21 - 40% : Kurang - 41 - 60% : Cukup - 61 - 80% : Baik - 81 - 100% : Sangat Baik Setelah pengolahan data dilakukan analisis secara kualitatif dengan menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, artinya hasil penelitian dipaparkan untuk mencocokkan

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

23

Kinerja pengelola program ........

teori yang ada hubungannya dengan judul penelitian ini. Analisis yang digunakan tetap mengacu pada kondisi kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan di lapangan. HASIL DAN PEMBAHASAN Pengelola pendidikan kesetaraan sebagaimana dalam PP No. 19 Tahun 2005, dinyatakan pada pasal (35) ayat (1) butir (f) dijelaskan bahwa yang termasuk tenaga kependidikan pada Paket A, Paket B, dan Paket C adalah sekurang-kurangnya terdiri atas pengelola kelompok belajar, tenaga administrasi dan tenaga perpustakaan. Kenyataan empiris menunjukkan bahwa pengelola program pendidikan kesetaraan yang memiliki peranan penting adalah pengelola yang berfungsi sebagai manajerial penyelenggaraan. Oleh karena itu yang dimaksud dengan pengelola adalah orang yang melaksanakan fungsi manajerial penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Lebih lanjut dalam PP No. 19 Thn 2005 pasal 35 ayat 2 dinyatakan bahwa standar untuk semua jenis tenaga kependidikan sebagaimana dimaksudkan pada ayat (1) dikembangkan oleh BSNP dan ditetapkan oleh Peraturan Menteri. Pada penelitian ini, ditemukan standar kualifikasi tenaga kependidikan pendidikan kesetaraan sebagai pengelola program adalah; dari sebelas (11) orang pengelola program, tiga (3) orang yang memiliki kualifikasi SMA dan Diploma atau sebanyak 27,27% dan yang berkualifikasi Strata Satu (S1) sebanyak 8 orang atau 72,73%. Pen yelen g g a r a a n p en didika n kesetaraan pada Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Ujungpandang tahun 2007 terlaksana sebagaimana yang diharapkan, ditinjau dari indikator kualifikasi pengelola, volume kegiatan dan sumber pendanaan. Kualifikasi pendidikan bagi pengelola dapat dianggap cukup terstandar, yakni rata-rata memiliki kualifikasi sarjana. Volume kegiatan sebanyak sebelas (11) kelompok belajar yang terdiri dari program Paket A, Paket B dan Paket C, sedangkan sumber dananya berasal dari Dinas Pendidikan Tingkat 1 dan 2, serta dana penyelenggaraan pengkajian pendidikan kesetaraan dari BPPLSP Regional V Makassar tahun 2007. Kinerja pengelola program pendidikan

kesetaraan dapat terlihat pada produktivitas kerja. Produktifitas dalam dunia pendidikan berkaitan dengan keseluruhan proses perencanaan, penataan dan pendayagunaan sumberdaya untuk merealisasikan tujuan pendidikan secara efektif dan efesien. Produtivitas individu dapat dinilai dari apa yang dilakukan oleh individu tersebut dalam kerjanya, yakni bagaimana ia melakukan pekerjaan atau unjuk kerjanya. Dalam hal ini, produktivitas dapat ditinjau berdasarkan tingkatannya dengan tolok ukur masing-masing yang dapat dilihat dari kinerja tenaga kependidikan. Kinerja atau performansi dapat diartikan sebagai prestasi kerja, pelaksanaan kerja, pencapaian kerja, hasil kerja atau unjuk kerja LAN, 1997 dalam (Mulyasa, 2006). Penyelenggaraan pendidikan kesetaraan di SKB Ujungpandang tahun 2007 dapat dinyatakan produktif ditinjau dari kualitas pengelolaan, sebagaimana hasil kinerja berdasarkan tugas pokok yang dilaksanakan oleh pengelola. Namun disisi lain indikator-indikator lain yang dianggap berpengaruh terhadap kinerja pengelola belum dikaji pada penelitian ini, antara lain tingkat motivasi kerja dan kemampuan. Instrumen penelitian berupa wawancara, angket yang dikembangkan oleh Mulyasa (2006). Kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan sebagai edukator, administrator, supervisor dan sebagai motivator diperoleh sebagai berikut; 1. Sebagai Edukator Pengelola program diksetara sebagai edukator pendidikan luar sekolah adalah kemampuan pengelola dalam mempersiapkan perencanaan penyelenggaraan pendidikan kesetaraan. Dari hasil analisis kinerja pengelola, ternyata ditemukan bahwa ratarata pengelola memperoleh nilai Delapan Puluh Tiga (83) dari seluruh item pertanyaan seputar tugas pengelola sebagai edukator atau sekitar 75,45%. Hasil ini menunjukkan bahwa terdapat deskrapansi kinerja sebesar 24,55% dari 100% kinerja yang diharapkan. Namun demikian kategori kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan ditinjau dari tugasnya sebagai edukator berada pada kategori “baik”. Kinerja tersebut dapat lagi ditingkatkan hingga mencapai kategori sangat baik. 2. Sebagai Administrator

24

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Kinerja pengelola program ........

3.

4.

Tugas pengelola sebagai administrasi yang meliputi: membuat buku induk, papan nama kelompok belajar, membuat buku tamu, daftar inventaris barang, agenda surat masuk dan keluar serta pembuatan laporan penyelenggaraan. Kesemua hal tersebut di atas dilaksanakan dengan baik oleh pengelola program pendidikan kesetaraan sebagai tenaga kependidikan, dengan hasil rata-rata Tujuh Puluh Sembilan (79) atau sekitar 71,82%. Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan ditinjau dari tugasnya sebagai administrator berada pada kategori “baik”. Terdapat deskrapansi kinerja sebesar 28,18% dari 100% kinerja yang diharapkan. Namun demikian, masih bisa ditingkatkan lagi hingga mencapai standar kinerja pada kategori sangat baik. Sebagai Supervisor Sebagai supervisor, pengelola mengadakan pertemuan dengan tutor dalam menyusun program pembelajaran, menyelesaikan masalah-masalah dalam pembelajaran, memantau pelaksanaan pembelajaran, memeriksa persiapan mengajar bagi tutor dan mengevaluasi keberhasilan pembelajaran, rata-rata nilai pengelola adalah sebanyak Delapan Puluh Tiga (83) atau sekitar 75,45%. Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan ditinjau dari tugasnya sebagai supervisor berada pada kategori “baik”. Terdapat deskrapansi kinerja sebesar 24,55% dari 100% kinerja yang diharapkan. Kinerja tersebut dapat lagi ditingkatkan hingga mencapai kategori sangat baik. Sebagai Motivator Sebagai motivator, memberikan penghargaan, membantu warga belajar yang ingin meningkatkan kegiatan belajar dan usahanya, dan memberikan kesempatan kepada tutor untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya dalam mengikuti pendidikan dan pelatihan yang dilaksanakan oleh lembaga atau organisasi. Dari hasil penelitian diperoleh nilai rata-rata sebanyak Tujuh Puluh (70) atau sekitar 63,64% dari seluruh item pertanyaan yang terjawab oleh responden. Hasil ini menunjukkan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan sebagai

motivator, berada pada kategori “baik”. Namun demikian, terdapat deskrapansi kinerja sebesar 36,36% dari 100% kinerja yang diharapkan. Kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan yang telah dideskripsikan di atas, dapat dilihat pada rekapitulasi hasil kinerja sebagai berikut: Rekapitulasi kinerja pengelola: No Kinerja Nilai % 1 Edukator 83 75,45 2 Administrator 79 71,82 3 Supervisior 83 75,45 4 Motivator 70 3,64 Hasil rekapitulasikinerja tersebut di atas Rata-rata kinerja 78,75 71,59 dapat dideskripsikan bahwa dari 4 (empat) indikator kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan yang diteliti, ratarata berada pada kategori baik atau di atas kategori cukup, rata-rata nilainya adalah 78,75 atau 71,59%. Kinerja yang paling rendah adalah yang berkaitan dengan cara pengelola memberikan motivasi, baik kepada warga belajar maupun kepada tutor dengan nilai 70 atau 63,64%. Artinya terdapat deskrapansi atau kesenjangan kinerja sebanyak 30 atau 36,36%. Namun demikian masih tetap berada pada kategori “baik”. Kesimpulan Berdasarkan hasil kegiatan penelitian tersebut di atas, dapat disimpulkan: 1. Program pendidikan kesetaraan pada SKB Ujungpandang kota tahun 2007 yang dilaksanakan adalah sebanyak sebelas (11) kegiatan, yang terdiri paket A, Paket B dan Paket C yang dananya bersumber dari Dinas Provinsi Tingkat I dan II serta dana pengkajian program pendidikan kesetaraan dari BPPLSP Reg. V Makassar. Pengelola Diksetara memiliki kualifikasi pendidikan yang memadai atau terstandar 2. Hasil analisis data ditemukan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan pada SKB ujungpandang kota dengan indikatornya adalah sebagai edukator,

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

25

Kinerja pengelola program ........

sebagai administrator, sebagai supervisor dan sebagai motivator dilaksanakan dengan baik oleh pengelola program pendidikan kesetaraan dengan prosentase 2. kinerja sebanyak 71,59 % tugas pokok yang dilaksanakan dalam pengelolaan program diksetara. Berdasarkan standar kinerja yang telah ditetapkan pada penelitian ini, menunjukkan bahwa kinerja pengelola program pendidikan kesetaraan pada SKB Ujungpandang tahun 2007 berada pada kategori “baik”.

kesetaraan hendaknya mensinergikan semua potensi sumberdaya yang ada agar tercapai kinerja yang optimal. Deskrapansi kinerja dari pengelola program pendidikan kesetaraan sebesar 28,41% kiranya dapat dijadikan acuan dalam menyusun kurikulum diklat pengelola diksetara di SKB Ujungpandang.

Saran DAFTAR PUSTAKA program pendidikan 1. Untuk setiap pengelola Barthos, Basir. 2004. Manajemen Sumber Daya Manusia Suatu Pendekatan Makro. Jakarta: Bumi Aksara. Ditjen PLSP Diktentis, 2005. Penyelenggaraan Pendidikan Kesetaraan. Jakarta: Depdiknas. Direktorat Jenderal Pendidikan Tinggi, 2004. Standar Kompetensi Lulusan pendidikan Luar Sekolah (SKL PLS). Jakarta: Dedinas. Mathis, Robert L. dan Jackson John H. 2002. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Salemba Empat. Mulyasa. E. 2006. Menjadi Kepala Sekolah Profesional. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya Sihombing, Umberto. 1999. Pendidikan Luar Sekolah Kini dan Masa Depan Konsep, Kiat, dan Pelaksanaan. Jakarta: PD Mahkota Sudjana, Djudju. 2006. Evaluasi Program Pendidikan Luar Sekolah Untuk Pendidikan Nonformal dan Pengembangan Sumber Daya Manusia. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya. Tonny D, Widiastono. 2004, Pendidikan Manusia Indonesia, Jakarta: Buku Kompas. Undang-Undang Republik Indonesia No.20 tahun 2003, Sistem Pendidikan Nasional, Citra Umbara Yulaelawati, Ella. 2006, Komunitas Sekolah Rumah Sebagai Satuan Pendidikan Kesetaraan, Jakarta; Depdiknas

Penulis adalah Tenaga Fungsonal pada Balai Pengembangan Pendidikan Nonformal dan Informal

26

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

MOTIVASI BELAJAR WARGA BELAJAR KEJAR PAKET B SETARA SLTP TUNAS BANGSA DI KELURAHAN BALANG BARU KECAMATAN TAMALATE KOTA MAKASSAR Oleh : Dra. Hj. Mulkiah Salam Pamong Belajar Madya UPTD SKB Ujungpandang Kota Makassar

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Abstrak, Seorang pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan, Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (pendidik). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu: metafisika, epistemology dan aksiologi. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, warga belajar, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui. Kata Kunci: Filsafat pendidikan, perilaku pendidik dan keyakinan. PENDAHULUAN A. Latar Belakang Masalah Dalam era globalisasi dan perkembangan infor masi dengan segala dampak yang ditimbulkannya, baik itu dampak positif maupun dampak negative. Pemerintah senantiasa mengambil kebijakan-kebijakan yang sifatnya menunjang kelangsungan hidup berbangsa dan bernegara, oleh karena itu, pemerintah semaksimal mungkin berupaya mengejar ketinggalan dari Negara-negara yang terlebih dahulu menikmati alam kemajuan yang ditandai dengan perkembangan IPTEK yang dimilikinya. Salah satu upaya pemerintah untuk mengejar ketertinggalan itu adalah dengan melaksanakan pembangunan. Hal ini dilakukan mengingat pembangunan merupakan proses perubahan yang terencana dengan orientasi pada situasi dan kondisi yang lebih baik. Dengan pembangunan diharapkan adanya perubahan yang lebih baik dari keadaan sebelumnya dalam berbagai sektor kehidupan. Upaya pemerintah tersebut seiring dengan tujuan nasional Indonesia yang tercantum dalam Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945, yakni “…melindungi segenap bangsa Indonesia dan selur uh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan social…”(BP-7 Pusat, 1993:1). Salah satu bidang yang menjadi sektor penting dan utama dalam pembangunan adalah sektor pendidikan. Hal ini dikarenakan pendidikan merupakan bagian integral dari pembangunan nasional. Salah satu tolak ukur kemajuan suatu bangsa adalah kemajuan pada sektor pendidikan. Dalam upaya mewujudkan pendidikan nasional, setiap warga negara diberikan hak yang sama dan kesempatan yang seluasluasnya untuk memperoleh pendidikan. Dalam kaitan ini, maka pemerintah menyelenggarakan suatu system pengajaran dan pendidikan nasionl sebagai tercantum dalam pasal 31 UUD 1945. Untuk merealisasikan pasal 31 UUD 1945, maka pemerintah mengupayakan semaksimal mungkin melaksanakan pemerataan pendidikan dengan menyediakan sarana dan prasarana pendidikan serta berbagai macam fasilitas yang mendukung terlaksananya kegiatan pendidikan. Dalam rangka pemerataan pendidikan maka kesempatan memperoleh pendidikan dapat diperoleh melalui tiga jalur pendidikan yaitu pendidikan formal, nonformal dan informal. Salah satu jalur pendidikan adalah

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

27

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

28

Andragogi

pendidikan nonformal yang pelaksanaannya berlangsung di luar jalur sekolah (formal) yang sekarang digalakkan pemerintah berupa program Kejar Paket B yang terdiri atas dua model pendekatan, dan salah satu diantaranya adalah program Kejar Paket B Setara yang diperuntukkan bagi usia 13-15 tahun. Program ini dilakukan pemerintah dengan harapan dapat menampung warga masyarakat yang berkeinginan memperoleh pendidikan yang setara dengan Sekolah Menengah Pertama (SMP) melalui jalur pendidikan nonformal. Jalur pendidikan ini dapat berfungsi mengembangkan potensi peserta didik dengan penekanan pada penguasaan pengetahuan dan keterampilan fungsional serta pengembangan sikap dan kepribadian profesional. Upaya maksimal yang dilakukan pemerintah melalui jalur ini adalah dengan menyediakan dana belajar bagi warga belajar dengan tujuan untuk memberikan motivasi kepada warga belajar agar dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilannya, demi masa depan mereka. Dengan pengetahuan dan keterampilan yang cukup memadai diharapkan warga belajar dapat lebih mandiri dalam menciptakan dan bersaing dalam lapangan pekerjaan sebagai sumber mata pencaharian tetap dan layak. Motivasi tersebut sedapat mungkin diartikulasikan dengan memperkaya kreasi semaksimal mungkin, sehingga pemanfaatan dana belajar ini berfungsi sebagaimana yang diharapkan dan bukan sekedar lahan subur bagi pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Hal ini menjadi perhatian utama mengingat salah satu kendala utama dalam mencapai keberhasilan dari suatu program adalah kurang dimanfaatkannya dana sebagaimana yang diharapkan. Apalagi program kejar paket B setara ini umumnya diperuntukkan bagi warga masyarakat yang tidak tertampung pada SLTP karena berbagai hal, terutama motivasi belajar dan keadaan ekonomi yang rendah. Selain daripada itu, program ini diadakan dipelosok-pelosok tanah air yang jauh dari arus informasi dan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi. Hasil obsevasi awal diketahui kondisi orang tua warga belajar tergolong dalam

status sosial ekonomi lemah atau keluarga kurang mampu untuk menyekolahkan anakanak mereka setingkat SLTP. Sesuai dengan kondisi demikian mereka pesimis untuk melanjutkan pendidikan anak-anak ke sekolah formal, karena biayanya yang sangat mahal. Karena keadaan orangtuanya tersebut, maka motivasi belajar mereka/warga belajar menjadi menurun dan tidak bersemangan lagi untuk melanjutkan sekolahnya. Mereka beranggapan lebih baik biaya tersebut digunakan untuk keperluan makan dan minum atau digunakan untuk berusaha dalam memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, daripada digunakan untuk biaya sekolah. Dengan kehadiran program kejar paket B setara SLTP, memberi peluang bagi warga belajar, khususnya warga belajar yang orangtuanya kurang mampu. Oleh karena itu warga belajar dapat mengikuti program pembelajaran kejar paket B tersebut sebagai alternatif pendidikannya untuk membangkitkan kembali motivasi belajar warga belajar. Untuk membangkitkan kembali motivasi belajar warga belajar, maka SKB Ujungpandang Kota sebagau Unit Pelaksana Teknis Dinas (UPTD) Pendidikan dan Kebudayaan Kota Makassar, memandang perlu membentuk dan membina kelompok Belajar Paket B Setara SLTP. Kegiatan tersebut diharapkan dapat memberikan bekal kemampuan, pengalaman dan keterampilan dasar yang bermanfaat bagi warga belajar untuk meningkatkan taraf hidupnya. Sebagai pribadi dan anggota masyarakat serta memungkinkan warga belajar memenuhi syarat untuk bekerja atau melanjutkan ke jenjang pendidikan yang lebih tinggi. Berdasarkan pemikiran tersebut, penulis termotivasi untuk mengetahui lebih jauh dengan mengadakan penelitian tentang motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti proses pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Binaan SKB Ujungpandang Kota. B. Rumusan Masalah Berdasarkan latar belakang masalah di

Vol.2 No.1. 2008

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

atas, maka dirumuskan masalah sebagai berikut : “ Bagaimana gambaran motivasi belajar warga belajar mengikuti proses pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar”. C. TujuanPenelitian Tujuan yang diharapkan dari penelitian ini yaitu untuk mengetahui motivasi belajar warga belajar mengikuti proses pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar D. Manfaat Penelitian Adapun manfaat yang diharapkan dari hasil penelitian ini dikemukakan sebagai berikut : 1. Manfaat Teoritis a. Bagi jurusan pendidikan luar sekolah, dapat menjadi bahan informasi tentang proses pelaksanaan pada setiap Program Kerja Paket, baik Kejar Paket A, Kejar Paket B dan Kejar Paket C. b. Sebagai informasi awal bagi peneliti lain untuk mengadakan penelitian lebih lanjut tentang berbagai upaya untuk memaksimalkan fungsi dan peranan sumbangsih pemerintah dalam memajukan mutu dan kualitas hidup warga belajar khususnya dan masyarakat pada umumnya. 2. Manfaat Praktis a. Sebagai bahan masukan bagi pemerintah khususnya instansi terkait agar dalam mengambil kebijakan-kebijakan benarbenar berpihak pada kepentingan warga belajar dengan orientasi utamanya adalah keberhasilan, warga belajar itu sendiri. b. Bahan masukan dan pertimbangan bagi para penyelanggara, warga belajar dan masyarakatnya dalam melaksanakan Program Pendidikan Luar Sekolah, khususnya pada pelaksanaan Program Kerja Paket B.

A. Tinjauan Pustaka 1. Motavasi Belajar a. Motivasi Motivasi mer upakan bagian yang paling urgen dalam upaya mengarahkan warga belajar untuk mengikuti kegiatan belajar mengajar. Adanya motivasi diharapkan warga belajar lebih efektif mengikuti pelajaran. Istilah “Motivasi” berasal dari bahasa latin “Movere” yang artinya menggerakkan atau mendorong seseorang untuk melakukan sesuatu. Dalam psikologi pendidikan, motivasi diartikan sebagai kekuatan yang ada pada diri seseorang yang dapat mempengaruhi tingkah laku untuk melakukan sesuatu hal, khususnya belajar. Adanya motif dari diri seseorang menjadikan ia memiliki sesuatu keinginan, kemauan, dan minat untuk melakukan sesuatu. Dalam pengertian khusus, motivasi diartikan usaha mengembangkan keinginan warga belajar untuk belajar. Adanya motif pada diri warga belajar mereka diharapkan terdorong, terdesak, berkeinginan melakukan kegiatan belajar ( Kamaruddin, 1989 : 132) Maslow ( Purwanto, 1990 : 78 ), mengemukakan bahwa : Ada lima tingkatan kebutuhan pokok manusia. Kelima tingkatan kebutuhan pokok inilah yang kemudian dijadikan pengertian kunci dalam mempelajari motivasi manusia. Adapun kelima tingkatan kebutuhan pokok yang dimaksud adalah : 1) Kebutuhan Fisiologis, kebutuhan ini merupakan kebutuhan dasar, yang bersifat primer dan vital, yang menyangkut fungsi-fungsi biologis dasar dari organisme manusia seperti kebutuhan akan pangan, sandang dan papan, kesehatan fisik, kebutuhan seks dan sebagainya. 2) Ke b u t u h a n r a s a a m a n d a n perlindungan (Safety and security) seperti terjamin keamananya, terlindung dari bahaya dan ancaman penyakit, perang, kemiskinan,

TINJAUAN PUSTAKA DAN KERANGKA BERPIKIR

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

29

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

30

Andragogi

kelaparan, perlakuan tidak adil dan sebagainya. 3) Kebutuhan sosial (Social Need) yang meliputi antara lain kebutuhan akan dicintai, perhitungan sebagai pribadi, diakui sebagai anggota kelompok, rasa setia kawan, kerja sama. 4) Kebutuhan akan penghargaan (Esteem Needs) ter masuk kebutuhan dihargai karena prestasi, kemampuan, kedudukan atau status, pangkat dan sebagainya. 5) Kebutuhan akan aktualisasi diri (Self actualization) seperti antara lain kebutuhan mempertinggi potensi – potensi yang dimiliki, pengembangan diri secara meksimum, kreatifitas dan ekspresi diri. Dari uraian di atas, dapat ditarik suatu kesimpulan, bahwa dari kelima tingkatan pokok manusia tersebut, salah satu diantaranya yaitu kebutuhan akan aktualisasi diri (Self Actualization) seperti antara lain secara maksimum, kreatifitas dan ekspresi diri. Tingkatan kebutuhan pokok yang kelima ini merupakan kebutuhan yang dimiliki oleh warga belajar kejar Paket B Setara SLTP, tentang kemampuan akan potensi yang dimiliki dari dalam diri setiap warga belajar untuk mengembangkannya melalui pengetahuan yang diajarkan, serta keterampilan yang diberikan, agar lebih berkreatifitas dalam mencapai tujuan hidup warga belajar. Adapun potensi yang dimiliki setiap warga belajar yang diberi pengetahuan dengan sarana dan prasarana yang sesuai melalui proses pembelajaran, maka motivasi untuk mengembangakan potensi yang dimiliki akan tercapai. Sedangkan menurut Mc. Donald (Sardiman, 1997 : 73) mengemukakan bahwa : “Motivasi adalah perubahan energi dalam diri seseorang yang ditandai dengan munculnya “Feeling” dan didahului dengan tanggapan

terhadap adanya tujuan”. Selanjutnya menurut Natawidjaya dan Moleong (1985 : 79), Motivasi adalah “Suatu proses untuk menggiatkan motifmotif menjadi perbuatan atau tingkah laku, yang mengatur tingkah laku atau perubahan untuk memuaskan kebutuhan atau menjadi tujuan”. Dari beberapa pengertian di atas, dapat ditarik kesimpulan bahwa motivasi adalah sesuatu yang mendorong seseorang untuk melakukan kegiatan demi memenuhi kebutuhannya atau mencari tujuannya. b. Jenis-jenis Motivasi Jenis-jenis motivasi jika ditinjau dari sumbernya dapat dibagi menjadi dua yaitu : 1. Motivasi dari dalam (Intrinsik) Motivasi dari dalam adalah motivasi yang timbul dari dalam diri setiap individu tanpa ada rangsangan dari luar. Menurut Brunner, motivasi intrinsik terdiri atas tiga macam dorongan, yaitu dorongan ingin tahu, dorongan ingin berhasil dan dorongan ingin berkelompok. 2. Motivasi dari luar (Ekstrinsik) Motivasi dari luar adalah motivasi yang timbul karena adanya rangsangan atau dorongan dari luar dengan anggapan lain dorongan untuk mencapai tujuan yang ada di luar perbuatan belajar. Memotivasi dengan cara ekstrinsik adalah penting sebab setiap orang memerlukan dorongan dari luar untuk mencapai tujuannya. (Arif, 1986 : 9). Dalam kaitannya dengan Kejar Paket B Setara SLTP, motivasi dari luar warga belajar dapat dilakukan oleh keluarga, tokoh-tokoh masyarakat, teman sebaya serta tenaga pendidik di luar sekolah yang berkecimpung dalam Kejar Paket B setara diantaranya tutor dan fasilitator serta penyelenggaraan program tidak terkecuali.

c. Belajar Setelah diuraikan mengenai beberapa pengertian motivasi, maka berikut ini dikemukakan beberapa pengertian belajar.

Vol.2 No.1. 2008

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Belajar merupakan masalah setiap orang, sebab hampir semua kecakapan, pengetahuan, kegemaran dan sikap manusia dimodifikasi dan dikembangkan dalam proses belajar. Belajar dapat diartikan sebagai suatu proses untuk mencapai perubahan tingkah laku dalam bentuk sikap, pengetahuan dan keterampilan yang menjadi miliknya. Proses ini berlangsung di dalam menjelajahi berbagai pengalaman. (Abdullah, 1983 : 2). Pendapat lain tentang defenisi belajar, baik yang dilihat secara makro maupun secara mikro, secara sempit bahwa Belajar dimaksudkan sebagai “suatu usaha penguasaan materi ilmu pangetahuan yang merupakan sebagian kegiatan menuju terbentuknya kepribadian seutuhnya”. (Sudirman, 1986 : 23). Di samping itu, (Tabrani, 1981 : 17), mengemukakan juga bahwa “Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku yang dinyatakan dalam bentuk penguasaan, penggunaan dan penilaian terhadap sikap dan nilai-nilai pengetahuan dan kecakapan dasar yang terdapat dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai bidang studi atau lebih luas lagi dalam berbagai macam aspek kehidupan”. Selanjutnya Gagne, (Slameto, 1991 : 2) mengemukakan bahwa “Belajar adalah suatu proses usaha yang dilakukan oleh individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru. Secara keseluruhan sebagai hasil dari pengalaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Sedangkan menurut Ahmadi ( 1991 : 279) dikemukakan bahwa “Belajar adalah suatu bentuk pertumbuhan atau perubahan tingkah laku yang baru. Secara keseluruhan sebagai hasil dari pengelaman individu itu sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya”. Dari beberapa pendapat yang dikemukakan oleh para ahli di atas, maka dapatlah ditarik suatu kesimpulan bahwa belajar adalah suatu proses usaha / interaksi secara sadar yang dilakukan

individu untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku baik dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan. Dalam hubungannya dengan belajar, motivasi merupakan suatu kondisi kejiwaan atau daya penggerak untuk menimbulkan kegiatan belajar, menjamin kelangsungan dan memberikan arah terhadap kegiatan tersebut, dengan timbulnya motivasi tersebut diharapkan pula dapat mempengar uhi gairah belajar warga belajar. Hal ini sejalan dengan pendapat yang dikemukakan frandsen, bahwa segala usaha kita timbul karena adanya motivasi dan dengan motivasi menyebabkan warga belajar berkeinginan untuk belajar. Belajar juga dapat mempengaruhi motivasi, dengan demikian keduanya saling mempengaruhi satu sama lain. (Abdullah, 1983 : 92) d. Motivasi Belajar Berdasarkan pengertian motivasi dan belajar yang telah dikemukakan di atas maka dapatlah dirumuskan bahwa pengertian motivasi belajar adalah sebagai berikut : Menurut Winkel (1988 : 39) mengatakan bahwa “Motivasi belajar adalah keseluruhan Daya penggerak di dalam diri siswa yang menimbulkan kegiatan belajar yang kelangsungannya dari kegiatan belajar dan memberikan arah pada kegiatan belajar itu, maka tujuan yang dikehendaki oleh siswa tercapai”. Dikatakan keseluruhan karena biasanya ada beberapa motif yang bersama-sama menggerakkan siswa untuk belajar. Motivasi belajar merupakan faktor psikis non intelektual. Peranannya khas yaitu dalam hal gairah/semangat belajar. Siswa yang termotivasi kuat akan mendorong untuk melakukan kegiatan belajar. Sardiman (1992) mengatakan bahwa motivasi belajar adalah faktor psikis yang khas yaitu dalam hal penumbuhan gairah, merasa senang dan bersemangat untuk melaksanakan kegiatan belajar. D a r i u r a i a n d i a t a s, d a p a t disimpulkan bahwa motivasi belajar adalah suatu tingkah laku yang memperhatikan dorongan seseorang

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

31

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

untuk melakukan sesuatu, baik yang berasal dari individu maupun yang berasal dari luar dirinya untuk melaksanakan kegiatan belajarnya. Motivasi belajar itu ditandai dengan adanya keinginan, semangat, cita-cita sehingga terjadi perubahan tingkah laku, baik dalam bentuk pengetahuan dan keterampilan maupun dalam bentuk sikap dan nilai. e. Cara-cara memotivasi warga belajar Ada beberapa cara pemberian motivasi kepada warga belajar dalam mengikuti kegiatan belajar mengajar dan berusaha, antara lain : 1) Cara Motivasi Instrinsik Seorang fasilitator harus menciptakan suatu suasana dalam kelompok belajar supaya warga belajar dapat mengikuti pelajaran secara aktif dengan harapan hasil belajar yang dicapai memuaskan. Adapun cara yang dilakukan : a) M e n y e s u a i k a n a n t a r a kemampuan warga belajar dan tingkat kesukaran materi pelajaran. b) Materi pelajaran sedapat mungkin dijadikan sebagai suatu permasalahan. 2) Cara Motivasi Ekstrinsik Motivasi secara ekstrinsik juga merangsang warga belajar untuk giat belajar. Metode yang digunakan dalam memotivasi secara ekstrinsik antara lain : a) Pemberian nilai atau angka prestasi yang mempunyai fungsional dengan pelajaran. b) Penberian penghargaan sebagai aspek dalam situasi belajar. c) D i u p a y a k a n t i m b u l n y a persaingan sehat diantara warga belajar dalam memperoleh nilai tertinggi. d) Diadakan kerjasama dalam bentuk kegiatan belajar dan berusaha. e) Pemberian bantuan dana dalam kegiatan belajar dan berusaha

32

Andragogi

2. Kejar Paket B Setara SLTP Vol.2 No.1. 2008

Kejar paket B adalah prog ram pendidikan luar sekolah yang dilaksanakan untuk memberikan pelayanan pendidikan dasar setara SLTP pada warga masyarakat usia 13 – 15 tahun (SLTP), yang tidak tertampung pada pendidikan sekolah karena berbagai hal, terutama motivasi belajar dan keadaan ekonomi yang rendah. Masyarakat yang dimaksud, yang tidak dapat masuk di SLTP atau yang sederajat, putus SLTP, tamat SD dan kejar paket A setara SD, tetapi tidak melanjutkan ke SLTP (Depdikbud, 1994). Tujuan utamanya adalah mengupayakan agar peserta didik (warga belajar) dapat mengembangkan dirinya, memperoleh pengetahuan dan keterampilan agar memiliki mata pencaharian tetap dan layak untuk meningkatkan taraf hidupnya. Program Kejar Paket B terdiri dari unsur utama yaitu : warga belajar, tutor, dana belajar dan penyelenggara, serta unsur pendukung lainnya yang terdapat dalam 10 patokan Diklusepora. Dalam buku pentunjuk teknis, Program Kejar Paket B, ditegaskan bahwa : “Program Kejar Paket B adalah suatu kegiatan pembelajaran dengan sasaran warga masyarakat melalui proses belajar dengan menggunakan Buku Paket B sebagai sarana utama yang isinya terdiri dari pendidikan dasar umum dan pendidikan keterampilan yang mengupayakan mata pencaharian yang setara dengan Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (Depdikbud:1991:6)”. Program Kejar Paket B dalam realisasi pelaksanaannya terdiri dari dua model pendekatan. Model pertama adalah Kejar Paket B School Base yang pendekatan klasikal, sedangkan model kedua adalan Kejar Paket B setara yang memprioritaskan sasaran pada warga belajar usia 16 – 44 tahun dengan sistem Pendekatan Tutorial. Adapun materi yang diberikan pada model pertama adalah meliputi materi pendidikan dasar umum yang terdiri dari : Pendidikan Pancasila dan Kewarganegaraan, Bahasa Indonesia, Bahasa Inggris, IPA, IPS dan Matematika. Sedangkan materi yang diberikan pada model kedua meliputi materi pendidikan dasar umum dan materi pelajaran yang berkaitan dengan pendidikan keterampilan yang orientasinya adalah

penciptaan lapangan kerja sebagai sumber mata pencaharian bagi warga belajar (BPKB, 1993:7). Po e r w a d a r m i n t a , ( 1 9 8 2 : 4 4 2 ) mengatakan sebagai berikut “Setara diartikan sederajat, setingkat, keseimbangan, sejajar dan sama tinggi. Kata “setara” pada kalimat “Program Kejar Paket B Setara” mengandung pengertian bahwa materi pendidikan keterampilan yang diberikan pada warga belajar setara dengan materi yang diberikan pada siswa Sekolah Lanjutan Tingkat Pertama (SLTP). Program Kejar Paket B Setara SLTP yaitu suatu bentuk pembelajaran yang dilaksanakan oleh pemerintah dalam membantu masyarakat yang putus sekolah dan memberikan keterampilan yang kelak mampu mandiri, dimana bentuk pelajarannya sama yang ada di sekolah formal. Berdasarkan pemaparan di atas dapat dikemukakan suatu kesimpulan dari pengertian Program Kejar Paket B Setara, yaitu suatu kegiatan pembelajaran yang membelajarkan dengan sistem orientasi warga masyarakat usia 13 – 15 tahun melalui proses belajar dengan sistem pendekatan secara tutorial dengan menggunakan Buku Paket B sebagai sarana utama belajar yang isinya terdiri dari pendidikan dasar, umum dan pendidikan keterampilan yang mengupayakan mata pencaharian yang setara dengan materi yang diajarkan pada sekolah lanjutan tingkat pertama. Dalam buku model program Kejar Paket B lebih lanjut ditegaskan bahwa yang menjadi tujuan Program Kejar Paket B Setara SLTP adalah : a. Tujuan Umum Tu j u a n U mu m P r o g r a m Kejar Paket B adalah menciptakan pengetahuan, keterampilan dasar, sikap dan kemampuan kualitas manusia lulusan Sekolah Dasar/Madrasah Ibtidayah, Kejar Paket B, Ujian Persamaan SD dan putus sekolah lanjutan tingkat pertama dan dapat melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi, baik melalui jalur pendidikan sekolah maupun melalui jalur pendidikan luar sekolah. b. Tujuan Khusus

Andragogi

Tujuan khusus program paket B terdiri atas : 1) Bidang Pendidikan Dasar a) Memiliki pengetahuan setara dengan SLTP, yang meliputi pengetahuan tentang Agama, Pancasila dan Kewarganegaraan, nilai-nilai Bangsa Indonesia, kemampuan berbahasa Indonesia yang baik dan benar, kesejahteraan keluarga, kesehatan dan pendidikan jasmani dan lingkungan hidup. b) Memiliki pengetahuan dan kemampuan berkomunikasi s e r t a ke m a m p u a n d a l a m bidang ilmu pengetahuan dan teknologi. c) Kemampuan dan kemauan untuk belajar, bekerja dan berusaha sepanjang hayat. d) Menguasai cara belajar, bekerja dan berusaha yang efektif dan efisien. e) Terampil dan cerdas dalam mengintegrasikan pendidikan dasar umum dengan pendidikan mata pencaharian 2) B i d a n g P e n d i d i k a n M a t a Pencaharian a) Memiliki pengetahuan dan kemampuan tentang berbagai kemampuan pengembangan dari sumber daya manusia dan sumber daya alam. b) Memiliki kemampuan dan pengetahuan mengelola, mengembangkan dan membina mata pencaharian tertentu yang dapat diandalkan menjadi sumber nafkah. c) M e m i l i k i k e m a u a n d a n kemampuan untuk bekerja sama dengan orang lain dan ikut berperan serta dalam kegiatan yang dapat menghasilkan barang dan jasa. d) M e m i l i k i k e m a u a n d a n kemampuan untuk memasarkan barang dan jasa yang dapat dijadikan sumber nafkah. e) M e m i l i k i s u m b e r m a t a

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Vol.2 No.1. 2008

33

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

34

Andragogi

pencaharian yang tetap dan penghasilan yang berguna untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. 3) Dana Belajar Salah satu yang menunjang tercapainya pelaksanaan program pembelajaran tersebut yaitu tersedianya dana pembelajaran, hal ini merupakan salah satu diantara 10 Patokan Pendidikan Luar Sekolah. Dana belajar dapat diartikan sebagai himpunan hasil usaha masyarakat atau bantuan pemerintah dalam bentuk uang, barang dan jasa untuk membiayai atau menjamin kelestarian dan keberlangsungan proses belajar mengajar dan berusaha yang bermanfaat bagi warga belajar dan warga masyarakat lainnya (Depdikbud, 1995:12). Pengertian di atas ditekankan pada usaha membantu warga belajar memperlancar terciptanya proses belajar mengajar dan berusaha, dalam upaya mengubah pola pikir dan prilaku, sikap dan keterampilan yang diperlukan. Berdasarkan pemaparan tersebut, dapat disimpulkan bahwa dana belajar Kejar Paket B adalah himpunan hasil usaha masyarakat atau bantuan pemerintah dalam bentuk uang, barang dan jasa yang dapat dipergunakan oleh warga belajar Kejar Paket B untuk membiayai kelestarian dan keberlangsungan proses belajar mengajar dan berusaha dalam rangka mengubah pola pikir dan prilaku, sikap dan keterampilan ke arah upaya penciptaan mata pencaharian yang setara dengan yang diberikan siswa pada sekolah lanjutan tingkat pertama. Dana belajar tersebut merupakan suatu cara dalam membantu motivasi warga belajar dengan memotivasi dari luar atau motivasi ekstrinsik. Vol.2 No.1. 2008

B. Kerangka Berpikir Motivasi dianggap sesuatu yang terkait dengan kebutuhan, maksudnya individu lebih termotivasi untuk melakukan suatu aktivitas, kalau aktivitas itu memenuhi kebutuhannya. Motivasi juga tidak terlepas dari adanya rangsangan dari dalam maupun dari luar. Salah satu rangsangan dari luar yang dapat memotivasi warga belajar untuk ikut dalam proses pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP yaitu dana belajar yang disediakan oleh penyelenggara itu sendiri. Pemberian motivasi berupa dana belajar dapat mengakibatkan warga belajar untuk aktif mengikuti proses pembelajaran. Dorongan bagi warga belajar untuk aktif mengikuti proses pembelajaran, diharapkan mampu untuk lebih giat belajar yang pada gilirannya warga belajar memenuhi pengetahuan, keterampilan dan sikap yang diharapkan setelah selesai mengikuti program pembelajaran. Pengetahuan dan keterampilan yang diperoleh pada gilirannya diharapkan mampu untuk berdiri sendiri dan dapat bekerja sama dengan orang lain dalam memenuhi kebutuhannya. Program Kejar Paket B Setara SLTP dapat berlangsung secara efektif, manakala adanya ketersediaan dana pembelajaran dan keinginan warga belajar untuk belajar. Oleh karena dana pembelajaran tersebut diberikan untuk memotivasi warga belajar dalam belajar, sehingga penyelesaian program pembelajaran yang diikutinya berhasil secara efektif dan efisien. METODOLOGI A. Pendekatan dan Design Penelitian 1. Pendekatan Penelitian Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kuantitatif dengan tujuan untuk memperoleh gambaran tentang bagaimana motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti Program Kejar Paket B Setara SLTP. Bagian ini memuat uraian tentang variabel penelitian, defenisi operasional variabel, populasi dan sampel, teknik pengumpulan data dan teknik analisis data. 2. Desain Penelitian

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Desain variabel yang akan diteliti dalam penelitian ini yaitu motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti Program Kejar Paket B Setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Binaan SKB Ujungpandang Kota. B. Peubah dan Defenisi Operasional 1. Motivasi belajar adalah sesuatu yang timbul dari dalam diri maupun dari luar diri warga belajar, sebagai pendorong dalam belajar untuk pencapaian tujuan dengan keaktifan belajar. 2. Kejar Paket B Setara SLTP adalah suatu kegiatan pembelajaran yang diperuntukkan pada warga masyarakat usia 13 – 15 tahun (usia SLTP) dengan memberikan pendidikan dasar umum dan pendidikan keterampilan C. Populasi dan Sampel Menurut Suharsimi (1991:107) bahwa : “…apabila subjeknya kurang dari 100 lebih baik diambil semua, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi”. Berdasarkan pada pendapat tersebut dan mengingat bahwa penelitian ini bertujuan untuk mengetahui atau mengungkapkan motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Binaan SKB Ujungpandang Kota, maka yang menjadi populasi dalam penelitian ini adalah berjumlah 20 orang warga belajar. D. Teknik dan Instrumen Pengumpulan Data Untuk mendapatkan data yang lengkap sesuai yang diinginkan, maka peneliti menggunakan beberapa teknik pengumpulan data. Adapun teknik yang digunakan dalam pengumpulan data tersebut yaitu dokumentasi dan angket, sedangkan realisasi dari teknik pengumpulan data tersebut, dibuatlah instrumennya sebagai berikut : 1. Dokumentasi dibuatkan pencatatan dokumen yang dibutuhkan yang berisikan informasi tentang jumlah warga belajar, keadaan warga belajar dan sumber dana belajar yang digunakan pada pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP. 2. Angket dibuat instrumen berupa daftar pertanyaan/pernyataan tertulis yang harus

dijawab oleh responden/warga belajar. Daftar pertanyaan atau pernyataan dibuat dalam bentuk tertutup. Angket yang digunakan adalah angket tertutup, karena alternatif jawaban telah disediakan. Respon hanya tinggal memilih salah satu alternatif jawaban yang sesuai dan jawaban alternatif tersebut yang selalu, kadang-kadang, tidak pernah, Aswar (1995:134). Angket digunakan untuk mengetahui motivasi belajar warga dalam mengikuti program pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar. E. Teknik Analisis Data Data yang diperoleh melalui angket, selanjutnya dianalisa dengan meng gunakan analisis dalam bentuk presentase, dimaksudkan untuk mengetahui motivasi warga belajar dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar dengan menggunakan pedoman konversi seperti yang dikemukakan oleh Ari Kunto (1993:658) yaitu : Skor Standar 90 – 100 % 65 – 89 % 0 – 64 % Tingkat Pelaksanaan Tinggi Sedang Rendah

Selanjutnya teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah analisis deskriptif kuantitatif dalam bentuk persentase, dengan tujuan untuk menggambarkan motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar sedangkan rumus yang digunakan dalam teknik analisis deskriptif presentase yang digunakan, sebagaimana yang dirumuskan oleh Ali (1985:184) sebagai berikut : n

%=

N

× 100

Dimana :

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

35

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

% = Persentase n = Nilai yang diperoleh atau skor yang diperoleh N = Jumlah seluruh nilai atau (Nilai Ideal)

Kecamatan Tamalate Kota Makassar, berkisar antara 13 – 15 tahun dan 16 – 20 tahun untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.2 Deskripsi Warga Belajar Menurut Umur f 0 19 1 20 % 0,00 95,00 5,00 100,00

HASIL PENELITIAN DAN PEMBAHASAN A. Hasil Penelitian 1. Karakteristik Warga Belajar Karakteristik warga belajar yang akan dikemukakan berikut ini ada dua aspek yaitu jenis kelamin dan umur. a. Jenis Kelamin Jenis kelamin warga belajar Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.1 Deskripsi Warga Belajar Menurut Jenis Kelamin Jenis Kelamin Laki – laki 0,00 Perempuan f 0 20 %

Umur (Tahun) < 13 13 - 15 > 15 Jumlah

Sumber : Hasil analisis identifikasi warga belajar Ta b e l 4 . 2 t e r s e b u t d i a t a s menunjukkan bahwa dari 20 orang warga belajar terdapat 19 orang warga belajar (95%) berumur antara 13 – 15 tahun dan 1 orang warga belajar (5%) berumur lebih dari 15 tahun. Hal ini menunjukkan bahwa pada usia mereka untuk belajar pada tingkat sekolah lanjutan pertama sangat sesuai untuk melanjutkan pendidikan mereka. Untuk memperoleh gambaran tentang motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti program pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar akan diungkapkan dalam proses pembelajaran pada Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar. Pe m b e r i a n s a r a n a b e l a j a r melalui dana belajar yang berasal dari pemerintah daerah Kota Makassar dan diselenggarakan oleh SKB Ujungpandang Kota yang diberikan kepada warga belajar pada program Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar yang disesuaikan dengan jumlah mata pelajaran yang telah ditentukan.

Sumber : Hasil analisis identifikasi warga belajar Tabel 4.1 di atas menunjukkan bahwa 20 orang warga belajar (100%) yang berjenis kelamin perempuan. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran bagi mereka tentang pentingnya pendidikan demi masa depan mereka. Khususnya warga belajar yang berjenis kelamin perempuan di Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Kota Makassar. b. Umur Rata-rata umur warga belajar Kejar Paket B setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru Vol.2 No.1. 2008

36

Andragogi

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Adanya dana yang telah disediakan, maka warga belajar dapat lebih giat dan tetap termotivasi belajar, menambah pengetahuan dan keterampilan yang diajarkan sebagai bekal masa depannya dan kelak mampu mandiri dan berusaha sendiri. 2. Motivasi Belajar Warga Belajar Kejar Paket B Setara SLTP Penggambaran keadaan motivasi belajar warga belajar Kejar Paket B setara SLTP dalam mengikuti proses pembelajaran setiap kali pertemuan di Kelurahan Balang Baru Kecamatan Tamalate Kota Makassar. a. Keaktifan warga belajar dalam mengikuti semua mater pembelajaran, dapat dilihat Tabel 4.3 Keaktifan Warga Belajar Mengikuti Semua Materi Pelajaran Kategori Jawaban f % Aktif 20 100,00 Kurang Aktif 0 0,00 Tidak Aktif 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 1 Berdasarkan Tabel 4.3 tersebut di atas, ternyata 20 orang warga belajar (100%) menyatakan bahwa mereka selalu aktif mengikuti materi pembelajaran setiap kali pertemuan. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi warga belajar untuk mengikuti materi pembelajaran tersebut berada dalam kategori tinggi. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa warga belajar dalam mengikuti pembelajaran selalu bersemangat belajar dan kehadiran mereka pun baik. b. Ketetapan frekuensi kehadiran warga belajar dalam setiap kali pertemuan pada pembelajaran Kejar Paket B, dapat dilihat pada tabel berikut :

Tabel 4.4 Ketetapan frekuensi kehadiran warga belajar setiap kali pertemuan Kategori Jawaban Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah Jumlah f 20 0 0 20 % 100,00 0,00 0,00 100,00

Sumber : Hasil analisis item No. 2 Tabel 4.4 tersebut di atas, ternyata dari 20 orang warga belajar (100%) menyatakan bahwa dalam mengikuti materi pembelajaran, mereka selalu tepat waktu dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket B. jam belajar warga belajar dimulai pada pukul 13.00 – 17.00 Wita. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa kehadiran warga belajar sebelum dimulai pelajaran, warga belajar datang bersama temantemanya dan ada pula yang menjemput teman-temannya sebelum jam pelajaran dimulai, sehingga pada saat proses pembelajaran dimulai warga belajar hadir semua di dalam kelas. c. Keaktifan warg a belajar dalam ruangan sekalipun tutor tidak masuk memberikan materi pelajaran, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.5 Keaktifan warga belajar mengikuti pelajaran sekalipun tutor hadir Kategori Jawaban tidak f % Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah Jumlah 20 0 0 20 100,00 0,00 0,00 100,00

Sumber : Hasil analisis item No. 2 Tabel 4.4 tersebut di atas, ternyata dari 20 orang warga belajar (100%) menyatakan bahwa dalam mengikuti materi pembelajaran, mereka selalu tepat waktu dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket Vol.2 No.1. 2008

Andragogi

37

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

B. jam belajar warga belajar dimulai pada pukul 13.00 – 17.00 Wita. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa kehadiran warga belajar sebelum dimulai pelajaran, warga belajar datang bersama teman-temanya dan ada pula yang menjemput temantemannya sebelum jam pelajaran dimulai, sehingga pada saat proses pembelajaran dimulai warga belajar hadir semua di dalam kelas. d. Keaktifan warga belajar dalam ruangan sekalipun tutor tidak masuk memberikan materi pelajaran, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.5 Keaktifan warg a belajar mengikuti pelajaran sekalipun tutor tidak hadir Kategori Jawaban f % Aktif 18 90,00 Kurang Aktif 2 10,00 Tidak Aktif 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 3 Tabel 4.5 tersebut di atas, ternyata dari 20 orang warga belajar terdapat 18 orang (90%) menyatakan bahwa mereka selalu belajar sendiri dalam ruangan sekalipun tutor tidak hadir dan 2 orang warga belajar (10%) menyatakan kadang-kadang mereka belajar sendiri, sekalipun tutor tidak masuk. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran warga belajar menghargai dan memanfaatkan waktu penting dari pada berlalu tanpa melakukan sesuatu. Sesuai dengan hasil pengamatan, bahwa keaktifan warga belajar hadir pada pembelajaran Kejar Paket B dan belajar sendiri di dalam kelas, sekalipun tutor tidak dapat hadir dan menampakkan sebagai seorang siswa yang terpelajar. e. Gambaran warga belajar aktif mengajukan pertanyaan pada tutor, jika tidak mengerti pelajaran yang diberikan dapat dilihat pada tabel berikut :

Keaktifan warga belajar mengajukan pertanyaan Kategori Jawaban f % Aktif 16 80,00 Kurang Aktif 3 15,00 Tidak Aktif 1 5,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 5 Tabel 4.6 tersebut di atas, ternyata dari 20 orang warga belajar terdapat dari 16 orang warga belajar (80%) menyatakan selalu aktif mengajukan pertanyaan, jika tidak mengerti pelajaran yang diajarkan, 3 orang warga belajar (15%) menyatakan kurang aktif mengajukan pertanyaan jika tidak mengerti pelajaran yang diajarkan dan 1 orang warga belajar (5%) menyatakan tidak aktif mengajukan pertanyaan jika tidak mengerti materi pelajaran yang diajarkan. Berdasarkan hasil pengamatan, menunjukkan bahwa kemauan warga belajar dalam mengajukan pertanyaan baik dan rasa ingin tahu dalam belajar selalu termotivasi. e. Gambaran warga belajar tekun dalam mengikuti materi pelajaran, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.7 Ketekunan warga belajar dengan mengikuti materi pembelajaran Kategori Jawaban f % Selalu 20 100,00 Kadang-kadang 0 0,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 4 Ta b el 4.7 ter seb ut d i a ta s, ternyata 20 orang warga belajar (100%) menyatakan bahwa dalam mengikuti materi pembelajaran pada setiap kali pertemuan. Mereka selalu tekun dan tetap berkonsentrasi belajar. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa warga belajar mengikuti materi pembelajaran, semua memperhatikan tutor dalam memberikan dan menjelaskan materi yang diberikan.

Tabel 4.6

38

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Bahkan bila ada materi yang kurang dimengerti, warga belajar langsung mengajukan pertanyaan tanpa menunggu tutor selesai menjelaskan. Hal ini menunjukkan bahwa bahwa warga belajar memusatkan perhatiaannya pada materi pelajaran yang diajarkan. f. Gambaran warga belajar berusaha menyelesaikan tugas kelompok dengan teman kelompoknya dan aktif berdiskusi, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.8 Frekuensi penyelesaian tugas kelompok Kategori Jawaban f % Selalu 20 100,00 Kadang-kadang 0 0,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 10 Tabel 4.8 tersebut di atas, ternyata dari 20 orang warga belajar (100%) menyatakan selalu menyelesaikan tugas kelompok dengan teman kelompoknya sendiri tanpa harus meminta petunjuk dari kelompok lain. Berdasarkan hasil pengamatan, bahwa warga belajar tersebut dalam menyelesaikan tugas kelompoknya semua aktif memberi pendapat dan apabila warga selesai menyelesaikan tugas-tugasnya, warga belajar bersama-sama temannya berdiskusi membahas permasalahan yang diberikan. Ini menunjukkan bahwa kebersamaan dalam belajar masih ada. g. Gambaran warga belajar menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tutor pada saat pembelajaran berlangsung, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.9 Keaktifan warga belajar menjawab pertanyaan Kategori Jawaban f % Aktif 20 100,00 Motivasi Belajar Warga Belajar .... Kurang Aktif 0 0,00 Tidak Aktif 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 9

Tabel 4.9 tersebut di atas, menunjukkan bahwa 20 orang warga belajar semuanya (100%) menyatakan selalu aktif menjawab pertanyaan yang diberikan oleh tutor. Hasil pengamatan, bahwa warga belajar semuanya mempunyai keberanian dalam menjawab pertanyaan yang diberikan tutor, bait yang menyangkut pelajaran maupun informasi tentang perkembangan teknologi, walaupun mereka salah menjawab atau tidak sesuai dengan pertanyaan yang diberikan. Selain mereka aktif bertanya warga belajar juga aktif mengkritik dan meluruskan apabila tutor memberi penjelasan tentang materi yang tidak dipahami. h. G a m b a r a n w a r g a b e l a j a r memanfaatkan waktunya, apabila tidak ada tugas yang diberikan oleh tutor, warga belajar mengulang materi pelajaran yang telah diberikan atau membaca buku-buku pelajaran di dalam ruangan/kelas, hal ini dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.10 Kerajinan warga belajar memanfaatkan waktu luang Kategori Jawaban f % Selalu 17 85,00 Kadang-kadang 3 15,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 8 Tabel 4.10 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20 orang warga belajar, terdapat 17 orang warga belajar (85%) yang menyatakan selalu memanfaatkan waktu luangnya untuk mengulang materi pelajaran atau membaca buku pelajaran atau membaca buku pelajarannya. Hasil pengamatan, bahwa apabila warga belajar tidak mempunyai tugas atau tutor belum hadir untuk memberi pelajaran dalam kelas, maka mereka mengambil inisiatif untuk belajar sendiri, dengan membaca materi Vol.2 No.1. 2008

Andragogi

39

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

pelajaran yang telah diberikan tutor atau membaca buku-buku pelajaran lainnya. Berdasarkan hasil informasi, salah seorang warga belajar (ketua kelas) mengatakan bahwa dari pada waktu terbuang begitu saja dan membicarakan gosip yang tidak bermanfaat, lebih baik digunakan untuk membaca buku pelajaran. i. Gambaran warga belajar jika suatu saat tidak hadir mengikuti pelajaran, warga belajar menanyakan kembali kepada tutor atau teman-temannya, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.11 Warga belajar rajin mengulangi materi pelajaran, jika tidak mengikuti pelajaran Kategori Jawaban f % Selalu 16 80,00 Kadang-kadang 4 20,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 8 Tabel 4.11 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20 orang warga belajar, terdapat 16 orang warga belajar (80%) menyatakan selalu mengulang materi pelajaran yang tidak diikutinya dan terdapat 4 orang warg a belajar (20%) yang menyatakan kadang-kadang mengulangi materi pelajaran jika tidak hadir dalam mengikuti pelajaran. Hasil pengamatan bahwa warga belajar apabila tidak dapat mengikuti pelajaran, maka keinginan untuk mengetahui tentang penjelasan materi pelajaran yang tidak sempat diikutinya. Warga belajar mengulang materi dengan menanyakan kembali kepada tutor atau temannya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi yang dimiliki warga belajar dalam belajar selalu ada. j. Gambaran warga belajar menyelesaikan tugasnya dengan meminta petunjuk dari tutor atau temannya, jika tidak bisa menyelesaikan sendiri dapat dilihat pada tabel berikut.

Tabel 4.12 Warga Belajar mengerjakan tugas dengan meminta petunjuk dari tutor atau teman

Kategori Jawaban Selalu Kadang-kadang Tidak Pernah Jumlah

f 16 4 0 20

% 80,00 20,00 0,00 100,00

Sumber : Hasil analisis item No. 7 Tabel 4.12 di atas menunjukkan bahwa dari 20 orang warga belajar, terdapat 16 orang warga belajar (80%) yang mengatakan selalu menyelesaikan tugasnya dengan meminta petunjuk dari tutor atau temennya, jika tidak bisa menyelesaikan sendiri, dan 4 orang warga belajar (20%) yang menyatakan kadangkadang mereka meminta petunjuk dari tutor atau temannya, jika tidak bisa menyelesaikan tugasnya. Hal ini menunjukkan bahwa, motivasi warga belajar untuk mengetahui sesuatu cukup tinggi, seperti dengan tugas yang diberikan. k. Gambaran warga belajar menyelesaikan tugasnya sendiri, apalagi yang diberikan oleh tutornya, warga belajar berusaha menyelesaikannya sendiri tanpameminta bantuan dari orang lain, dapat dilihat pada tabel berikut. Tabel 4.13 Warga belajar menyelesaikan tugasnya sendiri Kategori Jawaban f % Selalu 16 80,00 Kadang-kadang 4 20,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 11 Tabel 4.13 tersebut di atas menunjukkan bahwa dari 20 orang warga belajar terdapat 16 orang warga belajar (80%) yang menyatakan selalu menyelesaikan tugasnya tampa harus meminta bantuan dari orang lain, apabila

40

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

diberi tugas dari tutor ; dan 4 orang warga belajar (20%) yang menyatakan kadang-kadang mengerjakan tugas dengan sendirinya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi warga belajar berusaha dalam merngerjakan tugasnya tersebut, tanpa bantuan orang lain. Hasil observasi juga, menunjukkan bahwa apabila ada tugas dari tutor warga belajar berupaya untuk menyelesaikan dengan serius, walaupun itu jawabannya terkadang salah. Hal ini yang menunjukkan bahwa warga belajar mengerjakan tugasnya tetap termotivasi. l. Gambaran warga belajar meminta bimbingan tutor pada saat proses pembelajaran berlangsung jika tidak bisa berkonsentrasi dalam bejajar, dapat dilihat pada tabel berikut : Tabel 4.14 Wa r g a b e l a j a r m e m i n t a bimbingan tutor, jika tidak bisa konsentrasi Kategori Jawaban f % Selalu 17 85,00 Kadang-kadang 3 15,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 12 Tabel 4.14 tersebut di atas menunjukkan bahwa 20 orang warga belajar terdapat 17 orang warg a belajar (85%) yang menyatakan selalu meminta bimbingan tutor, jika tidak bisa berkonstrasi pada saat pelajaran berlangsung, dan tiga warga belajar (15%) yang menyatakan kadang-kadang meminta petunjuk dari tutor, jika tidak bisa konsentrasi pada saat belajar. Hal ini menunjukkan bahwa, pada saat proses pembelajaran berlangsung warga belajar memperhatikan materi pelajaran; bahkan mereka tetap berusaha untuk tetap berkonsentrasi, memperhatikan materi pelajaran yang di ajarkan. m. Gambaran warga belajar rajin mengulang pelajaran yang telah diajarkan oleh tutor di rumah, dapat dilihat pada table berikut.

Table 4.15 Kerajinan Warga Belajar mengulang pelajaran di rumah Kategori Jawaban f % Selalu 16 80,00 Kadang-kadang 4 20,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 13 Table 4.15 tersebut di atas menunjukkan dari 20 orang warga belajar terdapat 16 orang warga belajar (80%) yang menyatakan selalu mengulangi materi pelajaran di rumah yang telah diajarkan oleh tutor, dan 4 orang warga belajar (20%) yang menyatakan kadang-kadang mengulang materi pelajaran di rumah. Rajin mengulang materi pelajaran di rumah menunjukkan bahwa ada kesempatan, motivasi warga belajar rajin memanfaatkan waktunya untuk belajar. n. Gambaran warga belajar mengerjakan tugas pekerjaan rumah (PR) yang diberikan tutor sesuai dengan waktu yang telah di tentukan, dapat dilihat pada table berikut : Table 4.16 Kerajinan warga belajar mengerjakan tugas pekerjaan rumah (PR) Kategori Jawaban f % Selalu 16 80,00 Kadang-kadang 4 20,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 14 Table 4.16. tersebut di atas, menunjukkan bahwa 20 orang warga belajar terdapat 16 orang warga belajar (80%) yang menyatakan selalu mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya dan mengumpulkan sesuai dengan waktu yang ditentukan, dan 4 orang warga belajar (20%) yang menyatakan kadang-kadang Vol.2 No.1. 2008

Andragogi

41

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

mereka mengerjakan tugas pekerjaan rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa kesadaran warga belajar dalam mengerjakan tugas pekerjaan rumah tidak selesai dan tidak mengumpulnya sesuai waktu yang ditentukan, maka akan diberi tambahan tugas lagi. Hukuman yang diberikan malalui tembahan tugas kepada warga belajar yang tidak mengerjakan tugas pekerjaan rumah merupakan dorongan untuk selalu rajin belajar dan mengerjakan tugas-tugas lainnya. o. Gambaran warg a belajar rajin menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan, baik tugas individu tugas kelompok, maupun tugas pekerjaan dapat dilihat pada table berikut : Table 4.17 Kerajinan warga belajar mengerjakan tugas yang diberikan tutor. Kategori Jawaban f % Selalu 16 80,00 Kadang-kadang 4 20,00 Tidak Pernah 0 0,00 Jumlah 20 100,00 Sumber : Hasil analisis item No. 15 Table 4.17. Tersebut di atas menunjukkan bahwa 20 orang warga belajar terdapat 16 (80%) yang menyatakan selalu menyelesaikan tugas-tugas yang diberikan oleh tutor, dan 4 orang warga belajar (20%) yang menyatakan kadang-kadang mereka mengerjakan tugasnya, baik tugas individu, tugas kelompok, maupun tugas pekerjaan rumahnya. Hal ini menunjukkan bahwa motivasi warga belajar mengikuti program Kejar Paket B Setara SLTP tergolong tinggi dan serius dalam belajar, hal ini dapat dilihat dari keseriusan warga belajar menyelesaikan tugas dan tanggung jawab yang diberikan. Mereka menyadari pentingnya pendidikan untuk masa depan mereka sehingga mereka ikut dalam program pembelajaran Kejar Paket B atas kesadaran sendiri.

3. Gambaran motivasi belajar warga belajar Kejar Paket B Setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Kota Makassar Data yang disajikan dalam penelitian ini adalah hasil penelitian dari motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP Tunas Bangsa di Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Kota Makassar dari 20 Orang responden/warga belajar yang memberikan jawaban, terhadap 15 item pertanyaan diperoleh skor nilai/nilai ideal sebesar 40 (2x20) untuk setiap item pertanyaan. Untuk lebih jelasnya dapat dilihat pada table 4.18. Berdasarkan tabel 4.18 tentang hasil analisis persentase, apabila dikonsultasikan dengan pedoman konversi yang telah dikemukakan pada Bab III, maka terbukti bahwa motivasi belajar warga belajar tergolong tinggi, yakni mencapai 94,66% dari data yang telah dikumpulkan. 4. Pembahasan Hasil Penelitian Salah satu dari 10 patokan Pendidikan Luar Sekolah yaitu dana penyelenggara. Dana belajar tersebut merupakan alat penggerak untuk melakukan suatu kegiatan dalam pencapain tujuan yang digunakan pada program pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP yaitu bersumber dari pemerintah kota Makassar Tahun Anggaran 2003. Dana penyelenggaraan tersebut berupa perlengkapan belajar yaitu buku-buku, baik buku tulis maupun buku panduan (modul) dan alat tulis menulis, serta biaya perjalanan dinas (transportasi tutor dan penyelenggara) selama program kegiatan Kejar Paket B Setara SLTP berlangsung. Dari hasil pengamatan yang dilakukan oleh penulis pada SKB Ujung Pandang Kota, pada warga belajar di Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate kota Makassar, ternyata kebutuhan belajar dari warga belajar belum terlayani dengan baik dari segi sarana maupun prasarana, sehingga minat dan motivasi untuk belajar tidak ada. Ini disebabkan karena orangtua warga belajar berasal dari keluarga yang kurang mampu, sehingga anak mereka pun tidak mampu Paket B Setara SLTP dapat membantu meningkatkan motivasi belajar

42

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Table. 4.18 Kondisi Objektif Motivasi Belajar Warga Belajar Mengikuti Pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP No. Item 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 Jumlah Nilai yang diperoleh 40 40 38 40 36 36 40 37 40 40 36 37 36 36 36 568 Jumlah seluruh nilai 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 40 600 Persentase 100.00 100.00 95.00 100.00 90.00 90.00 100.00 92.05 100.00 100.00 90.00 92.05 90.00 90.00 90.00 94.66 Kategori Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi Tinggi

melanjutkan ke jenjang tingkat tinggi pertama (SLTP). Sebelum dilaksanakan proses pembelajaran Kejar Paket B Setara SLTP warga belajar tidak termotivasi untuk ikut dan bergabung dalam proses pembelajaran Kejar Paket yang diselenggarakan oleh SKB Ujung Pandang Kota, Karena orang tua dan warga belajar yang ada pada Kelurahan Balang Baru, Kecamatan Tamalate Kota Makassar beranggapan bahwa program yang akan dilaksanakan tersebut memungut biaya seperti pada sekolah formal. Oleh karena itu ketua penyelenggara dan Pamong Belajar memberi pengarahan dan penjelasan tentang program Kejar Paket B setara SLTP yang akan dilaksanakan. Program tersebut tidak memungut biaya atau warga beljar ikut dalam pembelajaran Kejar Paket tersebut secara gratis, karena dana berlajarnya atau biaya penyelenggaraan program ini berasal dari pemerintah daerah kota makassar.

Hasil penelitian tentang motivasi belajar warga belajar dalam pembelajaran Kejar Paket Setara SLTP menunjukkan bahwa sebelum warga belajar mengetahui tentang program tersebut, maka warga belajar tidak termotivasi untuk ikut belajar, tetapi setelah warga belajar mengetahui tentang pembelajaran tersebut maka keadaan motivasi belajar warga beljar dalam kategori tinggi. Keaktifan belajar warga belajar mengikuti pembelajaran pada Kejar Paket B tergolong tinggi, mencapai 94,66%. Hal ini dapat dilihat pada keaktifan warga belajar mengikuti pembelajaran setiap hari, warga belajar aktif bertanya, aktif berdiskusi, aktif menjawab pertanyaan yang diberikan, dan warga belajar rajin beljar sendiri dalam kelas sambil menunggu tutor, serta rajin mengerjakan tugas-tugas yang diberikan, baik tugas individu, tugas kelompok maupun tugas pekerjaan umah. Hal ini membuktikan bahwa adanya progam penyelenggaraan pembelajaran Kejar

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

43

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

warga belajar seperti yang dirasakan pada sekolah formal. Salah satu upaya yang dapat mendukung tujuan pembelajaran yang sifatnya dari luar yaitu dana belajar yang digunakan pada program pembelajaran Kejar Paket B setara SLTP, untuk memenuhi kebutuhan warga belajar sehingga motivasi belajar warga belajar dapat lebih baik. Pemberian dana belajar dalam memotivasi warga belajar diharapkan semaksimal mungkin terjadi secara nyata dan signifikan. Dengan timbulnya motivasi tersebut diharapkan pula dapat mempengaruhi gairah belajar warga belajar. Pemberian motivasi bertujuan untuk membuat warga belajar menjadi lebih bersemangat yang pada akhirnya menimbulkan dorongan untuk kreatif dan selalu aktif dalam kegiatan pembelajaran. KESIMPULAN DAN SARAN A. Kesimpulan Berdasarkan pada uraian dan hasil penelitian di atas dapat tertarik kesimpulan bahwa motivasi belajar warga belajar dalam mengikuti proses pembelajaran pada Kejar Paket B tersebut, tergolong tinggi. Hal ini terlihat pada keaktifan warga belajar mengikuti pembelajaran setiap hari aktif bertanya dan menjawab pertanyaan, aktif berdiskusi, belajar sendiri, rajin mengerjakan tugas-tugas yang diberikan. B. Saran 1. Diharapkan kepada warga belajar, agar lebih meningkatkan motivasi belajarnya dan dalam diri warga belajar, bukan dikarenakan adanya dana belajar yang tersedia. 2. Diharapkan penggunaan dana belajar, dapat dimanfaatkan pada kegiatan pendidikan luar sekolah lainnya, dan dana belajar diharapkan pula bukan hanya berasal dari pemerintah daerah kota Makassar, tetapi juga berasal dari swadaya masyarakat atau para relawan yang secara ikhlas membantu warga belajar yang kurang mampu untuk biaya pendidikannya. DAFTAR PUSTAKA Abdullah, A.E. 1983. Prinsip-prinsip Layanan Bimbingan Belajar. Ujungpandang : FIP IKIP Ujungpandang. Abimanyu S. & Samad, S. (ED.). 2003.Pedoman Penulisan Skripsi. Makassar : FIP UNM. Ahmadi, A. 1991. Psikologi Sosial (Edisi Revisi). Jakarta : Rhineka Cipta. Ali, M. 1985. Penelitian Pendidikan, Prosedur dan Strategi. Bandung : Angkasa. Arif, Z. 1986. Motivasi Belajar. Jakarta : Balai Pustaka Arikunto, S. 1991. Procedur Penelitian Suatu Pendekatan Praktik. Jakarta : Rineka Cipta. Bidang Penmas Kanwil Depdikbud Sulawesi Selatan. 1994. Petunjuk Teknis Kelompok Belajar Paket B Setara SLTP. Ujungpandang. BP-7 Pusat. 1993. Undang-undang Dasar, Pedoman Penghayatandan Pengalaman Pancasila, Garis-garis Besar Haluan Negara. Jakarta. BPKB. 1993. Model Program Kejar Paket B Manunjang Wajib Belajar Pendidikan Dasar 9 Tahun. Ujungpandang. Depdikbud. 1991. Petunjuk Teknis Program Kejar Paket B. Jakarta. ________. 1995. Pengelolaan Dana Belajar. Jakarta. Kamaruddin, 1989. Metode dan Teknik Belajar dalam PLS. Ujungpandang : FIP IKIP Ujungpandang. Manra, S. & Pasingringi. A. 1982. Motivasi dalam Kelompok Belajar. Ujungpandang FIP IKIP Ujungpandang.

44

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Motivasi Belajar Warga Belajar ....

Purwanto. 1990. Psikologi Pendidikan. Bandung PT. Remaja Rosdakarya. Sardiman, A. M. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali. ______ 1992. 1986. Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar. Jakarta : Rajawali Press. Stameto. 1988. Belajar dan Faktor-faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta : PT. Bina Aksara. Natawidjaya, R. & Mcleong. L. J. 1985. Psikologi Pendidikan. Jakarta. Depdikbud. Poerwadarimanta, W. J. S. 1982. Kamus Umum Bahasa Indonesia. Jakarta : Balai Pustaka. Undang-undang. No. 2 Tahun 2003. Tentang Sistem Pendidikan Nasional. Winkel W. S. 1988. Psikologi Pendidikan dan Evaluasi Belajar. Jakarta : Depdikbud.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

45

Pengembangan serta pengelolaan website ....

PENGEMBANGAN SERTA PENGELOLAAN WEBSITE DAN APLIKASI DATABASE PENDIDIKAN NON FORMAL DI BPPNFI REGIONAL V MAKASSAR
Oleh : Irhandi Amirin, S.Kom Abstrak, Informasi saat ini merupakan bagian yang sangat penting dan tak dapat diabaikan dalam kegiatan kita sehari-hari. Apalagi saat ini informasi sudah tak bisa lagi dilepaskan dengan perkembangan dunia komputer yang menjadi media dalam penyebarannya. Ada satu kalimat menarik yang mengatakan bahwa siapa saja yang menguasai teknologi informasi dialah yang akan menjadi pemenangnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa teknologi informasi semakin dalam mempengaruhi sistem informasi yang ada saat ini, dimana penerapannya sudah mencakup berbagai bidang dan telah banyak membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah. I. Pendahuluan Tak dapat dipungkiri lagi bahwa Informasi saat ini merupakan bagian yang sangat penting dan tak dapat diabaikan dalam kegiatan kita sehari-hari. Apalagi saat ini informasi sudah tak bisa lagi dilepaskan dengan perkembangan dunia komputer yang menjadi media dalam penyebarannya. Ada satu kalimat menarik yang mengatakan bahwa siapa saja yang menguasai teknologi informasi dialah yang akan menjadi pemenangnya. Seperti kita ketahui bersama bahwa teknologi informasi semakin dalam mempengaruhi sistem informasi yang ada saat ini, dimana penerapannya sudah mencakup berbagai bidang dan telah banyak membantu dalam menyelesaikan berbagai masalah. Contohnya sistem informasi kesehatan yang diterapkan diberbagai rumah sakit yang mengatur manajemen pasien di rumah sakit, ada juga sistem informasi akademik yang dipergunakan di perguruan-perguruan ting gi yang meng atur manajemen akademik dan kemahasiswaan dan masih banyak lagi lainnya. Pada dasarnya sistem informasi merupakan kumpulan dari komponen dalam organisasi yang berhubungan dengan proses penciptaan dan pengaliran informasi. Jadi sebenarnya sistem informasi merupakan suatu proses yang berjalan karena adanya data-data yang menjadi bahan bakunya. penerapan sistem informasi dapat sangat membantu dalam proses pengelolaan data dan informasi yang berguna untuk penerapan prog ram-prog ram PNF dilapang an. Terdapat beberapa hal yang sangat penting dikembangkan berkaitan dengan tugas pokok dan fungsi lembaga PNFI utamanya BPPNF Regional V Makassar dalam pengelolaan data dan informasi pendidikan non formal, diantaranya pemuktahiran data dan informasi, analisis data, pengembangan berbagai media informasi, serta pengembangan sistem informasi, dan memfasilitasi berbagai sarana dan prasarana yang berkaitan dengan fungsi teknologi informasi bagi pendidikan non formal. Berkaitan dengan hal tersebut maka Seksi Informasi dalam beberapa tahun terakhir, telah mengembangkan berbagai aplikasi, media informasi serta membangun sarana jaringan komunikasi yang befungsi untuk menunjang program-program pendidikan formal yang dilaksanakan oleh BPPNFI Regional V Makassar. Diantara beberapa hal yang dikembangkan tersebut, media informasi dan pembelajaran online seperti Website dan E-Learning dan Aplikasi dan sistem informasi seperti SIM PLS, Aplikasi Pemetaan Data PTK-PNF, serta Sistem Pendataan PTK-PNF (SIDA). Kegiatan-kegiatan yang kami sebutkan diatas akan menjadi pokok tulisan ini dimana akan dijelaskan mulai dari perancangannnya hingga pemanfaatan sistem tersebut dalam

46

Andragogi

Pada lingkup pendidikan non formal pun

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

mendukung pelaksanakan program-program pendidikan non formal. II. Pengembangan Website BPPNFI Reg. V Sebelum masuk ke pembahasan utama yakni Pengembangan website di BPPNFI Regional V Makassar maka ada baiknya dijelaskan sedikit tentang apa itu website atau situs agar dalam membaca naskah, pembaca yang sedikit awam akan lebih jelas menyimaknya. Ada banyak pengertian yang dapat dijabarkan untuk menjelaskan apa itu Website atau situs, diantaranya website adalah suatu ruang informasi dimana sumbersumber daya yang berguna diidentifikasi oleh pengenal global yang disebut Uniform Resource Identifier (URI) atau lebih dikenal dengan URL (Uniform Resource Locator). Ada juga yang mendefinisikan Website atau situs adalah kumpulan dari halamanhalaman situs, yang biasanya terangkum dalam sebuah domain atau subdomain, yang tempatnya berada didalam World Wide Web (WWW) di Internet. Selain itu ada juga yang mendefenisikan website atau situs sebagai kumpulan halaman-halaman yang digunakan untuk menampilkan informasi teks, gambar diam atau gerak, animasi, suara, dan atau gabungan dari semuanya itu baik yang bersifat statis maupun dinamis yang membentuk satu rangkaian bangunan yang saling terkait dimana masing-masing dihubungkan dengan jaringan-jaringan halaman (hyperlink). Dari kesemua pengertian yang kami jabarkan diatas pada dasarnya website merupakan suatu wadah atau media yang berfungsi untuk menampilkan berbagai informasi yang berjalan dibawah platform internet. Pengembangan Website atau situs di BPPNFI Regional V Makassar sendiri telah dimulai sejak tahun 2003 dengan menggunakan alamat domain www.bpplsp-reg5.go.id. Tujuan utama dari dibangunnya website ini adalah untuk menyebarluaskan dan menyampaikan informasi tentang pendidikan non formal serta mensosialisasikan berbagai program-program pendidikan non formal kepada masyarakat. Disamping itu juga website ini juga dapat dijadikan wadah komunikasi dan bertukar pendapat bagi para

komunitas pendidikan non formal melalui media interaktif yang ada pada website. Dalam mengembangkan serta mengelola website, Seksi Informasi selalu melihat perkembangan terkini serta apa yang dibutuhkan oleh masyarakat terkait dengan pendidikan non formal. Ada beberapa hal yang menjadi perhatian serius dari Seksi Informasi dalam mengembangkan media ini. Yaitu: 1. Informasi yang ditampilkan pada h a l a m a n we b s i t e m e r u p a k a n infor masi yang up to date serta memiliki data yang akurat; 2. Sistem antar muka (user interface) yang digunakan sedapat mungkin mudah untuk digunakan oleh end user (pengguna) atau kita kenal dengan nama sistem yang user friendly; 3. Merespons segala pertanyaan, kritik dan saran yang disampaikan oleh pengguna yang berkaitan dengan pendidikan non formal; 4. Serta dapat menjalin komunikasi dengan berbagai kalangan dan masyarakat yang concern dengan pendidikan non formal. Website BPPNFI Regional V saat ini telah menggunakan bahasa yang sangat popular dikalangan web desainer yakni bahasa PHP yang merupakan script server side atau script yang membuat dokumen HTML secara on the fly, dokumen HTML yang dihasilkan dari suatu aplikasi bukan dokumen HTML yang dibuat dengan dengan menggunakan editor teks maupun editor HTML. Mengapa dipilih menggunakan bahasa ini dalam mengembangkan website BPPNFI Regional V, tak lebih karena kemampuannya serta kemudahannya dalam membangun aplikasi untuk melakukan proses input dan maintenance halaman situs dengan mudah dan cepat tanpa harus mengutak atik dokumen HTML. Secara spesifik kelebihan dari bahasa PHP dapat diuraikan sebagai berikut: • Bahasa pemrograman PHP mer upakan sebuah bahasa script yang tidak melakukan

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

47

Pengembangan serta pengelolaan website ....

sebuah kompilasi dalam penggunaannya; • Server web yang mendukung PHP dapat ditemukan dimana-mana, mulai dari IIS sampai dengan apache, dengan konfigurasi yang relative mudah; • Dalam sisi pengembangan lebih mudah, karena banyaknya milis-milis dan developer yang siap membantu dalam pengembangannya; • Dalam sisi pemahaman, PHP adalah scripting yang paling mudah karena referensinya banyak. Dalam membangun website BPPNFI ini Script PHP yang dibuat tak cukup untuk membuat suatu isi website menjadi dinamis, diperlukan juga basis data atau yang lebih sering kita kenal dengan database yang menjadi media penyimpanan data, dan dalam pengelolaan basis data tersebut website ini menggunakan perangkat lunak yang khusus/spesifik atau yang sering disebut DBMS. Perangkat lunak inilah yang akan menentukan bagaimana data diorganisasi, disimpan, diubah dan diambil kembali. Dan DBMS yang paling kompatibel dengan script PHP serta system berbasis web adalah MySql. Dalam perkembangannya website BPPNFI Regional V Makassar telah megalami 2 (dua) kali perubahan yang signifikan sejak website tersebut dibangun dari sisi user interfacenya, sistem administrator maupun databasenya, yakni pada tahun 2005 dimana perubahan dilakukan pada desain antar muka (interface) dan penggunaan basis data agar isi atau konten website dapat menjadi dinamis. Sedangkan pada tahun 2006 perubahan dilakukan juga pada desain antar mukanya serta penambahan tool-tool pendukung website. Selain itu, untuk menjadikan website ini lebih powerfull maka pihak BPPNFI Regional V melalui seksi informasi melakukan kerjasama dalam pengembangannya. Sarana Pendukung Kegiatan Dalam pengembangan website BPPNFI

Regional V, dibutuhkan beberapa sarana dan prasarana dalam mendukung kinerja website baik dalam proses pengembangannya maupun dalam pengelolaannya, baik Perangkat lunak maupun perangkat keras. Adapun sarana dan prasarana pendukung tersebut adalah: Perangkat Lunak: • Control Panel Management System (Cpanel Management) for Hosting Server; • Macromedia Dreamveaver MX 2004 • Adobe Photoshop CS 8.0 • Adobe ImageReady CS • Apache Minixamp for Local Server • FTP (file Transfer Protocol) Secure FX • M y S Q L S e r ve r f o r D a t a b a s e Management System dan PHPMyAdmin Perangkat Keras: • Komputer Server – Intel Server Board SE7230NH1-E, Pentium Dual Core; • Komputer Client; • Switch/Hub 24 Port 10/100 Mbps; • LAN (local Area Network). Prasarana pendukung lainnya: • Koneksi Internet; • Hosting Server. Desain Antar Muka (Interface) Situs Pada tahun 2006 Seksi Informasi melakukan upgrading situs untuk yang kedua kalinya dengan menitikberatkan perubahannya pada tampilan antar muka (interface), struktur basis data dan tambahan aplikasi pendukung. Halaman antarmuka adalah bagian penting dalam suatu website/situs karena melalui halaman inilah para pengguna berinteraksi dengan system. Bisa saja para pengguna enggan untuk kembali ke suatu alamat website tertentu disebabkan karena halaman websitenya tampak rumit atau strukturnya halamannya tidak jelas. Oleh karena itu halaman website BPPLSP di desain sesederhana mungkin dengan system yang user friendly. Sesuai dengan hasil pengamatan yang dilakukan untuk mengembangkan bagian yang menjadi halaman bagi pemakai atau user maka terdapat beberapa komponen yang akan ditambahkan dan digunakan. Adapun bagian-

48

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

bagian atau fasilitas dari halaman website tersebut antara lain; 1. 2. 3. 4. 5. 6. 7. 8. 9. 10. 11. 12. 13. 14. 15. 16. Informasi Sekilas BPPLSP Regional V; Berita/Informasi Seputar Pendidikan Non Formal; Galeri BPPLSP Regional V; Komentar dari pengguna (user); Profil BPPLSP Regional V; Informasi tentang wilayah Kerja BPPLSP Regional V; Informasi Program kerja BPPLSP Regional V; Link dengan website/situs pendidikan lainnya; Download artikel dan data pendidikan non formal; Informasi tentang ICT BPPLSP Regional V; Informasi tentang kami; Jajak Pendapat (polling); Agenda Kegiatan BPPLSP Regional V; Link SIM PLS; Link E-Learning PNF; Link Halaman Administrator.

Berikut sebagian gambar dari desain antarmuka website BPPNFI Regional V;

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

49

Pengembangan serta pengelolaan website ....

50

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

51

Pengembangan serta pengelolaan website ....

52

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Basis Data (Database) pada Website/Situs Seperti sudah dikemukakan sebelumnya bahwa untuk menjadikan suatu website/situs menjadi dinamis dalam kontennya maka syarat utama adalah memiliki database atau biasa disebut basis data (bank data). Pemanfaatan Basis data semata-mata dilakukan untuk memenuhi sejumlah tujuan, antara lain; • • • • • • • Kecepatan dan Kemudahan (Speed); Efisiensi Ruang Penyimpanan (Space); Keakuratan (Accuracy); Ketersediaan (Availability); Kelengkapan (Completeness); Keamanan (Security); Kebersamaan Pemakaian (Sharability).

Dalam website BPPNFI sendiri telah dirancang struktur basis data yang sedapat mungkin memenuhi ketentuan seperti disebutkan diatas dengan struktur dan susunan yang mengakomodasi semua kebutuhan data yang akan dibutuhkan oleh system website nantinya. Untuk basis data pada website/situs BPPNFI pada upgrading yang dilakukan tahun 2006 telah mempergunakan 12 tabel, yaitu: 1. Tabel Admin

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data tentang user administrator website BPPNFI Regional V.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

53

Pengembangan serta pengelolaan website ....

2.

Tabel Agenda

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data tentang agenda kegiatan BPPNFI Regional V sepanjang tahun. 3. Tabel Berita

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data tentang berita pendidikan non formal yang ditampilkan pada halaman website. 4. Tabel Download

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data tentang file-file yang dapat di download pada server hosting website. 5. Tabel Galeri

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data galeri BPPNFI Regional V yang ditampilkan pada halaman website.

54

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

6.

Tabel Guestbook

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data bukutamu atau pengunjung yang melakukan pengisian pada halaman guestbook. 7. Tabel Komentar

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data buku komentar yang diberikan oleh pengunjung website pada form komentar. 8. Tabel Link

9.

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data-data link website pendidikan yang ada pada halaman link website BPPNFI Regional V. Tabel Renker

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data dan informasi tentang rencana kerja BPPNFI Regional V Makassar.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

55

Pengembangan serta pengelolaan website ....

10. Tabel contbanner

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data dan informasi Sekilas BPPNFI Regional V yang ditampilkan pada halaman depan website. 11.

Tabel Tim

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data dan informasi tentang pengelola website dan teknologi informasi di BPPNFI Regional V. 12.

Tabel Voting

Tabel ini berfungsi untuk menyimpan data dan informasi tentang hasil voting yang dilakukan pada halaman website di kolom voting. Dari keduabelas tabel tersebut masing-masing mempunyai variable unik (primar y key) yang akan membedakan record data yang berada didalam tabel. Hal ini sangat penting dalam pengelolaan basis data agar tidak terjadi redudansi (pengulangan) data serta dapat membedakan baris data yang tersimpan. Kedua belas tabel ini kemudian dikelola oleh DBMS (database management system) MySql , yang akan dihubungkan dengan system antarmuka website/situs. Pengelolaan Website/Situs BPPNFI Regional V Sebagai media informasi online yang harus selalu memberikan informasi terbaru (up to date) maka BPPNFI Regional V berupaya untuk selalu mengupdate setiap data dan informasi pada tiap kolom dan ruang yang ada di website, terutama informasi-informasi yang aktual tentang pendidikan non formal. Selain itu, website juga memerlukan pemeliharaan baik dari sisi sistemnya maupun databasenya.

56

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Oleh karena itu, sejak tahun 2005 terdapat satu kegiatan di seksi informasi yaitu Operasionalisasi Situs BPPNFI Regional V, yang bertujuan untuk: 1. Memelihara dan menjaga kesinambungan konten informasi pada website, konten pendukung PNF, E-learning Pendidikan Non Formal, Sistem Informasi Pendidikan Non Formal, Sistem Database (Basis Data) Web, serta sistem Interface (antarmuka); Mensosialisasikan eksistensi BPPLSP Regional V, BPKB/ SKB dalam kapasitasnya sebagai pengembang model dan pelaksana program-program pendidikan non formal di lingkup regional V melalui media online internet dengan integrasi basis data;

2.

Adapun sasaran yang dituju dalam pelaksanaan kegiatan tersebut, antara lain; Masyarakat ser ta pemerhati pendidikan non formal; 2. Stakeholder yang ada di pusat dan daerah serta Staf dan Pamong belajar yang ada di BPPLSP Regional V, UPTD BPKB dan SKB; 3. Pelaksana teknis website dan teknologi informasi serta pendataan BPPLSP Regional V Makassar. Untuk melaksanakan kegiatan tersebut maka dibentuk tim pengelola website/ situs yang bertugas dalam melakukan pembaruan informasi serta melaksanakan tugas perawatan dan monitoring terhadap sistem dan basis data (database) website. Berikut susunan tim pengelola website pada kegiatan Operasionalisasi Situs yang dibentuk untuk tahun 2007; • • • • • • Penanggung jawab kegiatan Koordinator Kegiatan System Administrator & Analist Database Administrator Operator Tim Jurnalis 1.

Tim pengelola website tersebut mempunyai tugas pokok sebagai berikut; a. Pengumpulan Materi dan Bahan Untuk Pengisian Konten Web Kegiatan pengumpulan materi dan bahan ini akan dilaksanakan sepanjang tahun pelaksanaan kegiatan penyelenggaraan situs. Tujuan utama dari pelaksanaan sub kegiatan ini adalah untuk menghimpun berbagai bahan dan materi yang berkaitan dengan pendidikan non formal untuk di masukkan dalam konten list website BPPLSP Regional V. Setelah berbagai materi dan bahan terkumpul kemudian di seleksi dan di tempatkan pada item menu website. b. Penginputan Dan Updating Konten (isi) Halaman Web Bahan dan materi web yang telah terkumpul dan terseleksi kemudian diinput sesuai dengan menu yang telah disiapkan pada website yang merujuk pada database web yang telah disusun. Berikut for m penginputan/ pengisian konten website BPPNFI Regional V;

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

57

Pengembangan serta pengelolaan website ....

c.

Pemeliharaan Web Database Dalam pelaksanaan penyelenggaraan situs BPPLSP Regional V, proses maintenance atau pemeliharaan database menjadi hal yang sangat penting. Tujuan dilakukan maintencance ini adalah untuk melihat struktur, kinerja serta status tabel-tabel dari database. Berikut form maintenance web database yang ada pada hosting server www.bpplspreg5.go.id;

d.

Pemeliharaan Web System Sub Kegiatan ini meliputi pemeliharaan script web dan koneksi interface ke web database. Sistem akan berjalan sempurna apabila script yang digunakan dan beserta komponenkomponen pendukungnya tetap stabil dalam penggunaannya. Apabila terjadi crash dan error maka akan segera dilakukan recovery system dengan melakukan copy file yang error tersebut. Pelaksanaannya harus didukung software PHP Editor dan FTP.

e.

Pemeliharaan dan Manajemen Server Hosting Sub kegiatan ini meliputi pemeliharaan, serta pengelolaan hosting server yang menjadi media penyimpanan data-data website/situs BPPLSP Regional V. Berikut form control panel hosting server website www.bpplsp-reg5.go.id;

58

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

b.

Evaluasi Kegiatan dan Pelaporan Setiap 6 (enam) bulan sekali tim website BPPNFI Regional V akan membuat laporan kegiatan yang meliputi; • Materi dan bahan yang telah diinput ke database website; • Statistik penggunaan bandwith hosting; • Statistik penggunaan database web; • Statistik pengunjung website; • Penggunaan system website; • Perkembangan komponen-komponen pendukung website.

Hasil-hasil yang dicapai dalam pengelolaan sistem Dalam pelaksanaan kegiatan tersebut banyak yang telah dicapai, baik itu dari segi teknis website, konten (isi) maupun dari sisi eksternal yakni pengunjung atau user yang memantau atau berkunjung ke website. Dalam melihat hasil-hasil yang dicapai tentunya kita perlu indikator yang jelas untuk melihat sejauhmana keberhasilan kita dalam mengelola kegiatan tersebut. Untuk melihat bagaimana pencapaian yang diraih pada sisi teknis website dapat dilihat pada perubahan yang signifikan pada layout website, menu-menu, serta aneka konten atau isi website disamping itu terdapat pula aplikasi-aplikasi pendukung yang terintegrasi ke website seperti aplikasi database PNF dan E-Learning PNF. Sedangkan, untuk melihat pencapaian pada sisi eksternal yakni pada berbagai grafik yang dibuat oleh web graphic system. Beberapa gambar dibawah akan memperlihatkan perkembangan website BPPNFI Regional V Makassar.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

59

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Dari ketiga grafik diatas dapat kita simpulkan bahwa kunjungan user ke website BPNNFI Regional V Makassar sudah cukup signifikan, hal dapat dilihat pada total kunjungan user sepanjang tahun 2007 sebanyak 59.549 pengunjung dengan rata-rata membuka 3,91 halaman per-kunjungan dan juga terdapat indikasi user mengakses secara berulang yang ditandai dengan tingginya angka hits yang mencapai 521.835 kali. Sementara total bandwith terpakai dalam pengaksesan website sebanyak 7 GB dengan rata-rata pemakaian 123,71 Kb/Visit. Penyusunan E-Learning Pendidikan Non Formal Mengutip tesis futurolog Alvin Tofler tentang Third Wave (Gelombang Ketiga) dalam bukunya “Future Shock”, bahwa setelah melewati Gelombang Pertama yang ditandai dengan munculnya Era Agraris dan Gelombang Kedua yang ditandai dengan adanya Era Industri, maka saat ini umat manusia telah memasuki Gelombang Ketiga yang ditandai dengan Era Informasi. Era Informasi didukung oleh Teknologi Informasi serta Komunikasi yang berkembang cepat menurut deret ukur. Dari tahun ke bulan, dari bulan ke minggu, dari minggu ke hari, dari hari ke jam, dan dari jam ke detik! Oleh karena itulah para cerdik-cendekia sepakat pada suatu argumen, bahwa: informasi memudahkan kehidupan manusia tanpa harus kehilangan kehumanisannya.

Pendidikan sebagai bagian dari kehidupan manusia sebenarnya juga merupakan kegiatan infor masi, bahkan dengan pendidikanlah informasi ilmu pengetahuan dan teknologi dapat disebarluaskan kepada generasi penerus suatu bangsa. Perkembangan teknologi informasi dan komunikasi (TIK) telah memberikan pengaruh terhadap dunia pendidikan khususnya dalam proses pembelajaran. Menurut Rosenberg (2001), dengan berkembangnya penggunaan TIK ada lima pergeseran dalam proses pembelajaran yaitu: (1) dari pelatihan ke penampilan, (2) dari ruang kelas ke di mana dan kapan saja, (3) dari kertas ke “on line” atau saluran, (4) fasilitas fisik ke fasilitas jaringan kerja, (5) dari waktu siklus ke waktu nyata. Komunikasi sebagai media pendidikan dilakukan dengan menggunakan media-media komunikasi seperti telepon, komputer, internet, e-mail, dsb. Interaksi antara pengajar dan peserta didik tidak hanya dilakukan melalui hubungan tatap muka tetapi juga dilakukan dengan menggunakan media-media tersebut. Pengajar dapat memberikan layanan tanpa harus berhadapan langsung dengan siswa. Demikian pula peserta didik dapat memperoleh informasi dalam lingkup yang luas dari berbagai sumber melalui cyber space atau ruang maya dengan menggunakan komputer atau internet. Hal yang paling mutakhir adalah berkembangnya apa yang

60

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

disebut “cyber teaching” atau pengajaran maya, yaitu proses pengajaran yang dilakukan dengan menggunakan internet. Istilah lain yang makin poluper saat ini ialah e-learning yaitu satu model pembelajaran dengan menggunakan media teknologi komunikasi dan informasi khususnya internet. Menurut Rosenberg (2001:28), e-learning merupakan satu penggunaan teknologi internet dalam penyampaian pembelajaran dalam jangkauan luas yang belandaskan tiga kriteria yaitu: (1) e-learning merupakan jaringan dengan kemampuan untuk memperbahar ui, menyimpan, mendistribusi dan membagi materi ajar atau informasi, (2) pengiriman sampai ke pengguna terakhir melalui komputer dengan menggunakan teknologi internet yang standar, (3) memfokuskan pada pandangan yang paling luas tentang pembelajaran di balik paradigma pembelajaran tradisional. Saat ini e-learning telah berkembang dalam berbagai model pembelajaran yang berbasis TIK seperti: CBT (Computer Based Training), CBI (Computer Based Instruction), Distance Learning, Distance Education, CLE (Cybernetic Learning Environment), Desktop Videoconferencing, ILS (Integrated Learning System), LCC (LearnerCemterted Classroom), Teleconferencing, WBT (Web-Based Training), dsb. Di dunia pendidikan non formal pun pendidikan berbasis dunia maya seperti E-learning juga sudah menjadi bagian penting yang harus diperhatikan. Kita dapat bayangkan, materimateri atau ulasan mengenai suatu bentuk keterampilan hidup dapat ditayangkan dengan cepat dan dibaca oleh masyarakat tanpa harus terikat jarak dan waktu. Bayangkan pula kita dapat berdiskusi dengan para ahli atau pakar tanpa harus memikirkan biaya dan waktu pertemuan, dan tentu saja letak geografis tidak pula menjadi masalah. Hal inilah yang membuat BPPNFI Regional V lembaga pemerintah yang bertanggungjawab dalam pelaksanaan program-program pendidikan non formal menyusun dan mengembangkan media e-learning tersebut. Ada beberapa tujuan disusun dan dikembangkannya e-learning pendidikan non formal ini antara lain; • Memberikan akses kepada tutor, pengajar, peser ta didik maupun pemerhati pendidikan non formal ke perpustakaan

maya pendidikan non formal; • Memberikan wadah atau tempat bertanya, berdiskusi serta sumbang saran dan materi bagi para tutor, warga belajar maupun pemerhati pendidikan non formal; • Memberikan informasi yang aktual (up to date) tentang berbagai hal terkait dengan pendidikan non formal; • Mendekatkan kalangan pendidikan non formal, terutama bagi warga belajar pada teknologi informasi dan perangkatnya untuk lebih meningkatkan daya saing. Pengembangan Sistem Aplikasi Pa d a A p l i k a s i E - L e a r n i n g y a n g dikembangkan ini, sistem dibagi dalam dua fungsi yaitu fungsi penyimpan data dalam bentuk database dan fungsi pengolah masukan dan antarmuka pengguna. Selanjutnya agar sistem yang dikembangkan dapat terencana, terkoordinasi dengan baik dan matang maka proses pembuatan database berisi kegiatankegiatan yang dilakukan secara bertahap dan sistematis. Tahapan tersebut ditunjukkan pada diagram alir seperti ditunjukkan pada gambar dibawah ini;

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

61

Pengembangan serta pengelolaan website ....

62

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Berikut hasil desain penentuan entity yang akan menjadi dasar pembuatan tabel-tabel pada database E-Learning PNF BPPNFI Regional V;

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

63

Pengembangan serta pengelolaan website ....

64

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Setelah data-data terkumpul dan dikelompokkan dalam tabel-tabel, maka dilanjutkan dengan tahapan perancangan dan pembangunan fisik database serta dibuat hubungan antar tabel dengan menggunakan metode ERM (Entity Relationship Model). Selanjutnya yang dilakukan setelah perancangan dan pembangunan fisik atabase adalah pengembangan antarmuka pengguna (interface). Ada dua interface yang dikembangkan dalam sistem ini yakni; Interface Front end dan Interface Back end. Interface front end diperuntukkan bagi pengakses dari browser internet/Intranet (General User) sedangkan Interface back end diperuntukkan bagi administrator yang mengelola aplikasi tersebut. Dalam pengembangan antarmuka pengguna ada beberapa hal yang perlu diperhatikan, yaitu antarmuka pengguna memungkinkan terjadinya komunikasi dan interaksi antara pengguna dengan sistem. Hal-hal lainnya adalah ergonomi dan usability, Ergonomi merupakan ukuran suatu sistem, sejauh mana sistem tersebut mampu beradaptasi terhadap kondisi alamiah manusia. Usability memiliki 3 (tiga) aspek yakni Learnability (kemudahan bagi pengguna baru untuk dapat menggunakan sistem secara efektif dan mencapai kinerja yang paling optimal), Flexibility (variasi cara/model bagi pengguna dan sistem dalam bertukar informasi), Effectiveness/robustness (tingkat dukungan yang disediakan bagi pengguna untuk mencapai tujuannya dengan sukses dan

memberikan penilaian tingkah laku yang diarahkan oleh suatu tujuan). Jika ketiga aspek ini tercapai maka akan memberikan nilai attitude (kenyamanan bagi pengguna). Mengingat peran antar muka sangat penting, maka dalam pengembangannya, hal pertama yang harus dilakukan adalah analisa kebutuhan pengguna yang dihasilkan oleh sistem. Dari hasil analisa yang dilakukan didapat bahwa antarmuka utama (front end) yang diperuntukkan bagi pengguna umum (general user) dikelompokkan menjadi 3 bagian yaitu; Informasi Umum, Interaktif, dan Materi E-Learning. Dalam informasi umum terdapat tiga menu yaitu: tentang e-learning, Download, Link web. Pada bagian interaktif terdapat menu Buku Tamu, Kirim artikel dan Hubungi Kami. Sedangkan pada bagian materi e-learning, terdiri dari bidang-bidang materi yang disajikan antara lain; Teknologi informasi, Pendidikan keaksaraan, Pendidikan kesetaraan, Pendidikan anak usia dini, Kelembagaan dan Karya tulis. Selain itu halaman utama juga dilengkapi dengan mesin pencari (search engine), Pesan singkat (Shout Box), Jajak pendapat (Polling) dan informasi statistik pengunjung. Gambaran Skema dan implementasi antarmuka E-Learning yang dibangun dapat dilihat pada gambar berikut:

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

65

Pengembangan serta pengelolaan website ....

66

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

67

Pengembangan serta pengelolaan website ....

68

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

69

Pengembangan serta pengelolaan website ....

70

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

71

Pengembangan serta pengelolaan website ....

72

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

73

Pengembangan serta pengelolaan website ....

Dalam implementasi sistem ini ke internet maka semua file pendukung serta database tersimpan dalam server hosting yang terkoneksi ke jaringan internet. Adapun spesifikasi sistem server yang mendukung aplikasi ini, sebagai berikut: Linux Operating System Kernel Version: 2.6.8-022stab078.9enterprise Machine Type: i686 Apache Version: 1.3.33 (unix) Perl Version: 5.8.4 PHP Version: 4.3.9 MySQL Vesion: 4.0.22 (standard)

Pengelolaan Aplikasi E-Learning PNF Sebuah bangunan yang indah sekalipun apabila tidak digunakan dengan baik maka tidak akan memberikan manfaat apa-apa bahkan menjadi tidak berarti. Begitupula

halnya dengan E-Learning yang kita bangun, tak akan dapat memberikan manfaat kepada masyarakat luas apabila tidak dikelola dengan baik dan benar. Oleh karena itu, setelah E-Learning ini dibuat maka disusun pula perencanaan pengelolaannya. Sebenarnya bentuk pengelolaan aplikasi e-learning ini tidak jauh beda dengan pengelolaan yang diterapkan pada media website/situs di BPPNFI Regional V namun tim yang bekerja pada media informasi ini tidak sebanyak pada tim yang bekerja pada website/situs. Adapun susunan tim yang bekerja pada pengelolaan Aplikasi E-Learning ini sebagai berikut; • System Administrator & Analist • Database Administrator • Operator • Tim Pengumpul/Seleksi Artikel Dalam pelaksanaan tugas pengelolaan aplikasi E-Learning ini semua artikel PNF yang masuk ke meja redaksi baik melalui sistem online E-LEarning maupun dikirim atau disampaikan dalam bentuk file akan diseleksi terlebih dahulu oleh tim Pengumpul/Seleksi Artikel, artikel yang layak akan diupload ke sisten database untuk dapat tampil di Media E-Learning PNF BPPNFI

IV. KESIMPULAN Berikut ini adalah kesimpulan yang dapat ditarik dari bagian-bagian sebelumnya, antara lain: 1. 2. Pengunaan Teknologi informasi dan berbagai perangkatnya sangat berguna dalam meningkatkan kualitas pengembangan pendidikan non formal terutama pada akses informasi pendidikan non formal Dengan menggunakan kita dapat meminimalkan segala sesuatunya terutama waktu dan tempat dalam melaksanakan proses belajar mengajar pendidikan non formal. Hal ini sejalan dengan tujuan pendidikan non formal untuk menjangkau yang tidak terjangkau.

Dengan penggunaan teknologi informasi maka tutor dan warga belajar dapat lebih meningkatkan kemampuannya dalam menggunakan berbagai perangkat TIK yang akan menjadi daya saing untuk memasuki dunia kerja nantinya.

Penulis adalah tenaga struktural pada Seksi Informasi BPPNFI Regional V Makassar

BPPNFI REGIONAL V 2007

74

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

TEKNOLOGI JARINGAN DAN IMPLEMENTASINYA PADA BALAI PENGEMBANGAN PENDIDIKAN LUAR SEKOLAH DAN PEMUDA REGIONAL V Oleh Dwi Sarmulyanto, ST Abstrack, Sarana komunikasi komputer berupa jaringan lokal pada saat ini merupakan media informasi yang sangat penting dalam penyebaran informasi ke unit-unit kerja di BPPNFI Regional V. Internet yang mulai populer saat ini adalah suatu jaringan komputer raksasa, terhubung dan dapat saling berinteraksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat, sehingga dalam beberapa tahun saja jumlah pengguna jaringan komputer yang tergabung dalam Internet berlipat ganda, dengan adanya media tersebut maka akses bagi pencari informasi utamanya mengenai program pendidikan nonformal menjadi lebih cepat, mudah dan akurat. PENDAHULUAN Dalam mendukung kebijakan Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah pada tahun 2008 yang menekankan pada pengembangan dan pengelolaan sistem informasi Pendidikan Nonformal dan Informal (PNFI) menjadikan BPPNFI Regional V merumuskan Pengembangan SIM (Sistem Informasi Manajemen) dan ICT (Teknologi, Komunikasi dan Informasi) sebagai program utama seksi informasi BPPNFI Reg. V. Berdasarkan hal tersebut, BPPNFI Regional V melalui seksi informasi yang bertanggungjawab dalam penyediaan berbagai media informasi pendidikan non formal utamanya melalui media komputer menyelenggarakan penyempurnaan dan peningkatan kualitas jaringan lokal (local area network) BPPNFI Regional V. Sarana komunikasi komputer berupa jaringan lokal pada saat ini merupakan media informasi yang sangat penting dalam penyebaran informasi ke unit-unit kerja di BPPNFI Regional V. Internet yang mulai populer saat ini adalah suatu jaringan komputer raksasa, terhubung dan dapat saling berinteraksi. Hal ini dapat terjadi karena adanya perkembangan teknologi jaringan yang sangat pesat, sehingga dalam beberapa tahun saja jumlah pengguna jaringan komputer yang tergabung dalam Internet berlipat ganda, dengan adanya media tersebut maka akses bagi pencari informasi utamanya mengenai program pendidikan nonformal menjadi lebih cepat, mudah dan akurat. Sejarah Komputer Komputer berasal dari bahasa latin Computare yang berarti menghitung (to compute), karena pada awalnya komputer dirancang untuk keperluan perhitungan, berdasarkan pemikiran dari alat hitung tertua bernama “abaccus” atau lebih dikenal dengan “sipoa” yang berasal dari Negeri Cina. Konsep komputer pertama kali dirancang oleh Howard G. Aitken, bekerjasama dengan IBM (International Business Machine Corp) dan berhasil membuat komputer generasi pertama yang di beri nama Harvard Mark -1. Pada tahun 1942 Eniac pernah diakui sebagai komputer pertama dengan sistem binari digit 8 bit dan memori, kemudian diketahui juga bahwa pada tahun 1941 Konrad Zuse dari Jerman sudah membuat mesin yang dapat diprogram dan bekerja dengan sistem biner, namun karna pada saat itu Jerman masih dalam kondisi terisolasi saat perang dunia ke dua, maka Eniac tetap diakui sebagai komputer pertama yang memakai prinsip digital dengan sistem memori dan binari digit (8bit). Komputer pribadi (PC) per tama dikembangkan oleh Ed Roberts dengan nama Altair 8800 dan diluncurkan melalui promo majalah Popuar Elecronics pada bulan Januari tahun 1975. Kit Altair 8800 ini kemudian menjadi terkenal ketika William Gates (Bill Gates) mengembangkan bahasa BASIC untuk komputer Altair ini. Sejarah Jaringan Komputer Ketika jenis komputer semakin berkembang pesat pada tahun 1950-an sampai tercipta sebuah superkomputer, sehingga sebuah komputer harus melayani beberapa terminal,

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

75

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

ditemukan konsep distribusi proses berdasarkan waktu yang dikenal TSS (Time Sharing System) dan untuk pertama kali terbentuklah jaringan komputer pada lapis aplikasi. Pada sistem TSS beberapa terminal terhubung ke sebuah host komputer. Dalam proses TSS mulai nampak perpaduan teknologi komputer dan teknologi komunikasi yang pada awalnya berkembang sendiri sendiri. Tahun 1968 DoD ARPAnet (Advanced Reseach Project Agency) memulai penelitian yg kemudian menjadi cikal bakal packet switching . Packet switching inilah yg memungkinkan komunikasi antara lapisan network (dibahas nanti) dimana data dijalankan dan disalurkan melalui jaringan dalam bentuk unit-unit kecil yg disebut packet*. Tiap-tiap packet ini membawa informasi alamatnya masing-masing yg ditangani dengan khusus oleh jaringan tersebut dan tidak tergantung dengan paket-paket lain. Jaringan yg dikembangkan ini, yg menggunakan ARPAnet sebagai tulang punggungnya,menjadi terkenal sebagai internet. Protokol-protokol TCP/IP dikembangkan lebih lanjut pada awal 1980 dan menjadi protokol-protokol standar untuk ARPAnet pada tahun 1983. Protokol-protokol ini mengalami peningkatan popularitas di komunitas pemakai ketika TCP/IP digabungkan menjadi versi 4.2 dari BSD (Berkeley Standard Distribution) UNIX. Versi ini digunakan secara luas pada institusi penelitian dan pendidikan dan digunakan sebagai dasar dari beberapa penerapan UNIX komersial, termasuk SunOS dari Sun dan Ultrix dari Digital. Karena BSD UNIX mendirikan hubungan antara TCP/IP dan sistem operasi UNIX, banyak implementasi UNIX sekarang menggabungkan TCP/IP. Unit infor masi yg mana jaring an berkomunikasi. Tiap-tiap paket berisi identitas (header) station pengirim dan penerima, informasi error - control, permintaan suatu layanan dalam lapisan network, informasi bagaimana menangani per mintaan dan sembarang data penting yg harus ditransfer. Sejarah Internet Internet berkembang seiring dengan perkembangan TCP/IP dimana disaat mesin komputer sudah dapat berkomunikasi dalam satu lokasi tinggal memikirkan bagaimana

seandainya data bisa dikirim dengan harus menyeberangi jalan, danau ,pulau bahkan negara. Internet adalah kumpulan atau jaringan dari jaringan komputer yang ada diseluruh dunia. Dalam hal ini komputer yang dahulunya stand alone dapat berhubungan langsung dengan host host atau komputer-komputer yang lainnya. Definisi yang lain adalah Internet bagaikan sebuah kota elektronik yang sangat besar dimana setiap penduduk memiliki alamat (Internet Address) yang dapat untuk berkirim surat atau informasi. Jika penduduk itu ingin berkeliling kota, cukup dengan menggunakan komputer sebagai kendaraan. Jaringan lainnya bertumpu diatas sarana atau media telekomunikasi. Jalur lambatnya menngunakan line telepon dan jalur cepatnya bisa menggunakan Leased Line ISDN (Pasopati). Sampai sekarang diperkirakan ada lebih dari 30.000 jaringan dengan alamat lebih kurang 30 juta diseluruh dunia. Karena sifatnya berupa ruang yang mirip dengan dunia kita sehari-hari, maka internet bisa kita sebut dengan ruang maya (Cyberspace). Internet telah membuat revolusi dunia komputer dan dunia komunikasi yang tidak pernah diduga sebelumnya. Penemuan telegram, telepon, radio, dan komputer yang merupakan rangkaian kerja ilmiah yang menuntun menuju terciptanya internet yang lebih berintegrasi dan lebih berkemampuan penyiaran keseluruh dunia, memiliki mekanisme diseminasi informasi, dan sebagai media untuk berkolaborasi dan berinteraksi antara individu dengan komputernya tanpa dibatasi oleh kondisi geografis. Internet merupakan sebuah contoh paling sukses dari usaha investasi yang tak pernah henti dan komitmen untuk melakukan riset berikut pengembangan infrastruktur teknilogo informasi. Dimulai dengan penelitian packet switching (paket pensaklaran), pemerintah, industri dan para civitas academia telaj bekerjasama berupaya mengubah dan menciptakan teknologi yang baru yang menarik ini. Internet sekarang sudah merupakan sebuah infrastruktur informasi global (Widespread infor mation infrastructure) yang awalnya disebut “the nasional (atau global atau galactic) Information Infrastructure” di amerika serikat. Sejarahnya sangant kompleks dan mencakup

76

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

banyak aspek seperti teknologi, organisasi dan komunitas. Dan pengaruhnya tidak hanya terhadap bidang teknik komunikasi komputer saja tapi juga berpengaruh kepada masalah sosial seperti yang sekarang kita lakukan yaitu kita banyak mempergunakan alat-alat bantu online untuk mencapai sebuah bisnis elektronik (electronic commerce), pemilikan informasi dan berinteraksi dengan masyarakat. Pada tahun 1969, lembaga riset departemen pertahanan amerika, DARPA (Defence Research Project Agency) menandai sebuah riset untuk mengembangkan jaringan komunikasi data antar komputer yang bekerja secara transparan, melalui bermacam-macam komunikasi data yang terhubung satu dengan yang lainnya dan tahan terhadap berbagai gangguan (bencana alam, serangan nuklir, dll.). Pada tahun 1972 pengenbangan jaringan data sukses dan melahirkan ARPANET, dan aplikasi internet pertama kali ditemuka adalah FTP. Menyusul kemudian E-mail dan telnet (Aplikasi komputer yang mengatur komputer jarak jauh, diibaratkan seperti remot kontrol). Pada tahun 1979 tercatat sebagai tahun berdirinya USENET yang pada awalnya menghubungkan universitas Duke dan UNC. Pada tahun 1982, DARPA kemudian menandai pembuatan protokol komunikasi yang lebih umum dan protokol ini disebut dengan TCP/IP (Transmisson Control Protocol/ Internet Protocol) dan pada tahun 1983 protokol tersebut diadopsi menjadi standat ARPANET. Pada tahun 1984, jumlah host internet melebihi 1000 buah. Pada tahun itu pula diperkenalkan Domain Name System (DNS) yang mengganti fungsi tabel nama host. System domain inilah yang sampai saat ini kita gunakan untuk menuliskan nama host. Tahun 1986, lembaga ilmu pengetahuan nasional amerika serikat U.S. National Sciense Foundation (NSF) menandai pembuatan jaringan TCP/IP yang dinamai NSFNET. Jaringan ini yang digunakan untuk menghubungkan lima pusat komputer super dan kemungkinan terhubungnya universitasuniversitas di amerika serikat. Jaringan inilah yang kemudian menjadi embrio berkembangnya internet yang kita kenal sekarang ini. Pada tahun 1987, berdiri UUNET yang saat ini merupakan salah satu provider utama internet. Tercatat pada tahun tersebut jumlah host melewati angka

100.000. Dua tahun kemudian aplikasi internet bertambah dengan diciptakan World Area Information Server (WAIS), Gopher, dan WWW. Pada tahun 1992 jumlah host diinternet mencapai 1 juta host. Internet merupakan komunikasi secaear global melalui suatu media komunikasi. Media komunikasi yang digunakan bias bermacammacam, antara lain telepon, radio, satelit komunikasi dan sebagainya. Namun dalam moduolu ini kita membatasinya dengan menggunakan line telepon saja. Selain telepon, agar komputer yang digunakan tersebut bias berkomunikasi harus ditambah dengan media yang lain yang disebut dengan modem. Sedangkan apabila komputerdalam suatu jaringan local atau workshop seluruhnya supaya bisa berinternet selain harus ditambah kartu jaringan, misalnya Ethernet card, modem sharing atau cukup memanfaatkan software tertentu, misalnya WinGate dan sedikit IP Adress Anda sudah bisa berintemetria. Pada pengguna internet dapat melihat secara langsung hasil karya orang lain melalui software yang disebut dengan Browser atau Navigator. Saat ini sangat banyak program Navigator dan Browser yang beredar dipasaran, seperti Netscape, Internet Explorer, PointCast, Opera, dan lain-lain. Untuk melalui ineternet kita membutuhkan 1 komputer, modem dan line telepon (seperti yang telah disebutkan sebelumnya). Kita juga harus mendaftarkan diri ke Internet Service Provider untuk bisa mendapatkan software serta akses ke internet atau bisa juga menggunakan Telkomnet Instant tanpa kita harus mendaftar ke ISP (Internet Service Protocol) Ada banyak media yang bisa digunakan untuk membuat mesin-mesin komputer tadi saling berkomunikasi seperti Kabel, FO (Fiber Optic), Wireless LAN, bahkan sampai menggunakan teknologi satelit. Kebutuhan Informasi yang semakin lama semakin luas baik dari universitas ke universitas, dari kantor ke kantor, bahkan dari negara ke negara lain menguatkan istilah kata Internet. Internet akhirnya muncul dengan persepsi bahwa jaringan yang lebih luas. Ada banyak aplikasi yang bisa dijalanankan oleh Sistim Internet seperti Mail, Web Site, File Transfer Protocol

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

77

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

(FTP), Voice Over IP (VoIP) dan lain-lain sebagainya. PENYELENGGARAAN JARINGAN DI BPPLSP REGIONAL V Sebelum melakukan perencanaan dan pengembangan instalasi jaringan komputer, lebih dahulu mengetahui tentang jenis jaringan komputer. Jaringan komputer merupakan sekumpulan komputer yang terhubung bersama dan dapat berbagi sumber daya yang dimilikinya, seperti printer, CDROM, pertukaran file, dan komunikasi secara elektronik antar komputer. Hubungan antar komputer dalam jaringan dapat menggunakan media kabel, telpon, gelombang radio, satelit atausinar infra merah (infrared). A. Jenis Jaringan Jenis jaringan komputer bila dilihat berdasarkan lingkup dan luas jangkauannya dibedakan menjadi beberapa macam yaitu: 1. Local Area Network (LAN) Local Area Network (LAN) merupakan suatu jaringan komputer yang masih berada dalam satu area (gedung atau ruangan), Biasanya LAN digunakan dirumah, perkantoran, rumah sakit dan sebagainya. Dengan LAN diantara komputer yang terhubung ke jaringan tersebut bisa saling berkomunikasi, bebagi pakai data (data sharing) pheriperal dan sebagainya. Sesuai dengan perkembangan dan populernya internet dan intranet, jaringan komputer (LAN) yang sudah ada bisa ditingkatkan kemampuannya untuk keperluan yang lebih luas lagi misalnya koneksi internet. Untuk keperluan penggunaan internet LAN dapat menggunakan media telpon beserta modem, atau media lain yang dapat melakukan koneksi dengan internet. Suatu LAN mempunyai karateristik khusus seperti dibawah ini : • Ruang lingkup geografis terbatas (sampai 10 Km ). • Berlokasi pada suatu departemen, kampus, atau gedung. • Kecepatan pengiriman data relatif tinggi (1 s/d 100 Mbps). Gambar 1. Local Area Network • Pemilikan dan pengoperasian oleh perusahaan yang bersangkutan. • T i d a k m e n g g u n a k a n f a s i l i t a s perusahaan telekomunikasi umum. • Terdiri atas beragam komputer dan periferal pendukung. Keistimewaan LAN dapat disimpulkan secara garis besar yaitu : • Pemakaian bersama data, perangkat lunak dan peralatan. • Sistem informasi terpadu. • Keamanan Data. • Tersedianya data dan Informasi setiap saat. Secara detail dapat dijelaskan sebagai berikut : Pemakaian bersama Data, perangkat lunak dan peralatan. • Pemakaian Bersama file database. Data dan program yang terletak di lokasi yang berbeda kini dapat digunakan bersama oleh beberapa pengguna komputer tanpa harus memindahkan komputer-komputer mereka. Proses ini dinamakan proses distribusi, sehingga suatu file database yang dapat dipakai bersama kita sebut juga Shared Data. • Paperless ( Tanpa kertas )

78

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

Sebuah kantor kini tidak lagi memerlukan banyak kertas untuk menyimpan semua arsipnya,dokumendokumen dapat disimpan di suatu database dan dapat dipakai oleh banyak terminal secaraserentak. • Bertambahnya jumlah terminal dalam proses distribusi. Harga komputer dewasa ini relatif semakin murah, sehingga penambahan jumlah terminal tidak lagi menjadi masalah ekonomis. Namun agar terminal-terminal tersebut mempunyai nilai efesiensi dan produktifitas yang tinggi, maka sebuah jaringankomputer harus dibentuk agar distribusi informasi dapat berlangsung diantara terminalterminal tersebut. • Pemakaian bersama sumber daya Hal ini didasari sebagai akibat mahalnya periferal khusus, seperti harddisk dengan kapasitas ratusan Megabyte

atau UPS ( Uninteruptable Power System ). Pemakaian bersama Sistim Operasi dan perangkat lunak aplikasi oleh beberapa orang sekaligus. 2. Metropolitan Area Network (MAN) Metropolitan Area Network (MAN) merupakan pengembangan dari LAN. Jaringan ini terdiri dari beberapa jaringan LAN yang saling berhubungan. Letak jaringan ini bisa saling berjauhan tergantung dari panjangnya kabel yang digunakan. Jaringan ini juga dapat menjangkau lokasi yang bebeda tempat. Contoh, beberapa bank yang memiliki jaringan komputer di setiap cabangnya dapat berhubungan satu sama lain sehingga nasabah dapat melakukan transaksi di cabang maupun dalam propinsi yang sama.

Gambar 2. Metropolitan Area Network

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

79

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

3. Wide Area Network (WAN) Wide Area Network merupakan bentuk jaringan komputer yang terdiri dari LAN dan MAN. Jaringan WAN telah memenuhi berbagai kebutuhan sistem jaringan, seperti jaringan untuk publik, jaringan pada bidang perbankan, jual beli online di internet dan lain sebagainya. WAN menggunakan protokol internet berupa Network Service Provider (NSP). Tanpa NSP maka jaringan WAN tidak dapat bekerja. Dengan adanya NSP yang dihubungkan ke jaringan WAN, maka akan membentuk suatu jaringan internet yang bersifat global, dengan demikian internet dapat diakses oleh pengguna jaringan tersebut. Jaringan WAN hanya menekankan pada fasilitas kecepatan akses transmisi sehingga memungkinkan seluruh komunikasi dapat berjalan secara lancar serta efisien. Disamping itu WAN berfungsi sebagai pengontrol lalulintas data dan mencegah penundaan (delay) yang berlebihan, sehingga transfer data akan lebih cepat.

Card ataupun komputer card merupakan perangkat paling utama yang harus terpasang pada komputer. Setiap komputer dapat kita hubungkan ke jaringan melalui NIC ini. Dengan adanya kartu jaringan ini proses tukar-menukar data atau informasi antara satu komputer dengan komputer lain dapat terjadi.

Gambar 4. Network Interface Card b. Kabel Jaringan Salah satu media transmisi dalam jaringan adalah kabel. Ada beberapa tipe (jenis) kabel yang banyak digunakan dan menjadi standar dalam penggunaan untuk komunikasi data dalam jaringan. Jenis jenis kabel tersebut adalah sebagai berikut : - Kabel Coaksial Kabel coaksial ditemukan pertama kali tahun 1929, kabel ini merupakan kabel yang tersusun atas inti tembaga pada intinya dan tertutup secara menyeluruh oleh bahan plastic insulator, bagian inti kabel terbuat dari bahan tembaga atau aluminium halus yang berupa anyaman, dengan bagian luarnya berupa plastic coating. Disamping berfungsi untuk melindungi kabel bagian dalam, sisi luar dari kabel coaksial berfungsi sebagai

Gambar 3. Wide Area Network B.PERANGKAT DAN PERENCANAAN JARINGAN KOMPUTER Agar jaringan LAN atau Work group terbentuk dibutuhkan beberapa perangkat keras (hardware) dan perangkat lunak (software) pendukung. 1. Perangkat Keras (hardware) a. Network Interface Card (NIC) Network Interface Card atau kadang di sebut Local Area Network (LAN)

80

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

- Kabel Fiber Optik Kabel fiber optik merupakan suatu jenisa kabel yang berisi serat optik yang sangat halus, digunakan untuk mentransfer data pada jaringan komputer. Pada inti kabel terdapat derat sebagai inti (core) atau sering di sebut inner optik. Inner optik ini dilapisi atau dilindungi oleh bahan gelas yang disebut dengan cladding.

Gambar 5. Kabel Koaksial - Kabel Twisted Pair Kabel twisted pair merupakan suatu kabel yang berintikan tembag a berukuran kecil. Pada masing masing kabel berisikan 8 buah kabel kecil dengan warna yang berbeda satu dengan lainnya. Kabel TP terdiri dari 2 macam yaitu kabel UTP (unshielded twisted pair) dan kabel STP (shielded twisted pair). Berdasarkan cara pemasangannya dengan LAN card, kabel twisted pair dapat dihubungkan dengan 2 macam cara yaitu : Metode Straight : digunakan untuk menghubungkan peralatan jaringan yang jenisnya berbeda, misalnya komputer dengan switch/ hub Metode crossover : digunakan untuk menghubungkan peralatan jaringan yang sejenis, misalnya antara komputer ke komputer.

Gambar 7. Kabel Fiber Optik Pada fiber optik terdapat dua jenis sumber cahaya yang dapat digunakan untuk melakukan pensignalan, yaitu semiconductor laser dan LED (Light Emiting Dioda). Kecepatan transfer kabel fiber optik dapat mencapai ratusan mega bit per detik (Mbps), oleh karena itu serat optik juga dapat digunakan untuk mengirimkan sinyal listrik dengan bit rate yang rendah dalam lingkungan noise sekalipun. c. Konektor Konektor adalah periperal yang kita pasangkan pada ujung kabel UTP, dengan tujuan agar kabel UTP dapat dipasang pada port LAN card. Biasanya dalam jaringan komputer menggunakan konektor RJ 45

Gambar 6. Twisted Pair Cable

Gambar 8. Konektor RJ 45

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

81

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

d.

Hub dan Switch (Konsetrator) Konsentrator ( hub atau switch) adalah sebuah perangkat yang menyatukan kabel-kabel jaringan dari tiap work station, server ataupun perangkat lain. Hub atau switch mempunyai banyak lubang port RJ-45 sebagai penghubung ke sejumlah komputer. Beberapa Hub dapat dipasang bertingkat (stackable) hingga 4 susundan biasanya memiliki jumlah lubang sebanyak 4 buah, 8 buah, 16 buah, 24 buah dan sebagainya. Switch merupakan konsentrator yang memiliki kemampuan manajemen trafic data lebih baik bila dibandingkan hub. Saat ini telah terdapat banyak type switch yang manageble, selain dapat mengatur traffic data, dapat juga di beri IP Adress

Gambar 9. Manageble Hub 24 Port e. Repeater Repeater mer upakan alat yang dapat menerima sinyal digital dan memperkuatnya untuk ditruskan kembali. Repeater jug a dapat memperjauh jarak transmisi data. Disamping itu repeater dapat memperkecil nois pada sinyal transmisi yang datang. Repeater bekerja pada level physical layer dalam model jaringan leyer OSI. Tugas utama dari repeater adalah menerima sinyal dari satu kabel LAN dan memancarkannya kembali ke kabel LAN yang lain. Pada jaringan wireless, repeater diletakkan pada temapt tempat yang tinggi, misalnya puncak gunung, atap gedung, menara pemancar dan lain lain. Hal ini bertujuan agar sinyal yang diterima atau dipancarkan dapat diterima dengan baik. Bridge Fungsi dari bridge adalah sama dengan fungsi repeater, tetapi bridge lebih fleksibel dari pada repeater. Bridge dapat menghubungkan jaringan dengan metode transmisi yang berbeda, Misalnya bridge dapat menghubungkan ethernet baseband dengan ethernet broadband. Fungsi lain dari bridge adalah dapat memisahkan suatu paket data yang harus dikirimkan pada jaringannya sendiri atau pada jaringan yang lain, apabila kedua jaringan saling terhubung. g. Router Fungsi utama router adalah untuk meroutingkan paket paket data dengan suatu segmen jaringan yang berbeda. Router dapat menentukan jaringan mana yang diijinkan mengakses paket data yang diberikan oleh router tersebut. Apabila jaringan tersebut menggunakan akses internet dengan kecepatan tinggi seperti ADSL (Asymetric Digital Subscriber Line) router dapat berfungsi ganda, salah satunya adalah sebagai firewall. 2. Perencanaan Implementasi Jaringan Instalasi jaring an mer upakan cara menghubungkan suatu komputer pada jaringan agar dapat berkomunikasi dengan komputer lain. Dalam merencanakan jaringan di BPPLSP Regional V ada beberpa hal yang perlu diperhatikan yaitu

f.

82

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

pemilihan topologi jaringan, pemilihan sistem jaringan dan perangkat keras, estimasi kebutuhan dan jenis kabel, Instalasi jaringan (pengkabelan), instalasi sistem operasi jaringan, Konfigurasi sistem dan aplikasi perangkat lunak, penentukan peletakan peralatan perangkat keras yang tepat sesuai dengan kondisi areal BPPLSP Regional V. 2. 1. Topologi Jaringan a. Topologi Bus Topologi ini merupakan bentangan satu kabel yang kedua ujungnya di tutup, dimana sepanjang kabel terdapat node-node. Pada topologi ini semua sentral dihubungkan secara langsung pada medium transmisi dengan konfigurasi yang disebut Bus. Transmisi sinyal dari suatu sentral tidak dialirkan secara bersamaan dalam dua arah.

terbentuknya suatu kelompok yang dibutuhkan pada setiap saat. Sebagai contoh, perusahaan dapat membentuk kelompok yang terdiri atas terminal pembukuan, serta pada kelompok lain dibentuk untuk terminal penjualan. Adapun kelemahannya adalah, apabila simpul yang lebih tinggi kemudian tidak berfungsi, maka kelompok lainnya yang berada dibawahnya akhirnya juga menjadi tidak efektif. Cara kerja jaringan pohon ini relatif menjadi lambat.

Gambar 11. Topologi Tree c. Topologi Mesh Topologi jaringan ini menerapkan hubungan antar sentral secara penuh. Jumlah saluran harus disediakan untuk membentuk jaringan Mesh adalah jumlah sentral dikurangi 1 (n -1, n = jumlah sentral). Tingkat kerumitan jaringan sebanding dengan meningkatnya jumlah sentral yang terpasang. Dengan demikian disamping kurang ekonomis juga relatif mahal dalam pengoperasiannya.

Gambar 10. Topologi Bus b. Topologi Tree Topologi jaringan ini disebut juga sebagai topologi jaringan bertingkat. Topologi ini biasanya digunakan untuk interkoneksi antar sentral dengan hirarki yang berbeda. Untuk hirarki yang lebih rendah digambarkan pada lokasi yang rendah dan semakin keatas mempunyai hirarki semakin tinggi. Topologi jaringan jenis ini cocok digunakan pada sistem jaringan komputer . Keungguluan jaringan model pohon seperti ini adalah, dapat

Gambar 12. Topologi Mesh

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

83

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

c. Topologi Ring Topologi jaringan ini berupa lingkaran tertutup yang berisi node-node. Signal mengalir dalam dua arah sehingga dapat menghindarkan terjadinya collision dan memungkinkan terjadinya pergerakan data yang cukup cepat.

Berdasar kan per timbang an di atas perencanaan jaringan di BPPLSP Regional V adalah sebagai berikut : - Model jaringan yang digunakan adalah topologi Ethernet Star dengan pertimbangan titik terminal jaringan yang terpasang menggunakan sistem beberapa klien (work station) yang terhubung pada satu pusat pembagi (switch hub server), selain lebih handal, biaya yang dibutuhkan juga lebih murah dengan topologi ini. - Dengan mempertimbangkan kondisi gedung dan posisi ruang unit kerja maka berikut ini kami gambarkan bentuk pemasangan secara global sebagai berikut

Gambar 13. Topologi Ring d. Topologi Star Merupakan kontrol terpusat, semua link harus melewati pusat yang menyalurkan data tersebut kesemua simpul atau client yang dipilihnya. Simpul pusat dinamakan stasium primer atau server dan lainnya dinamakan stasiun sekunder atau client server. Setelah hubungan jaringan dimulai oleh server maka setiap client server sewaktu-waktu dapat menggunakan hubungan jaringan tersebut tanpa menunggu perintah dari server.

Gambar 15. Internet Link Dedicated 2. 2 Pengkabelan (Wiring) Agar pengkabelan efisien dan rapi serta tidak mengganggu pandangan dan mudah bila terjadi perbaikan mau pun pengembangan, perlu di rencanakan dengan baik peletakan perangkat sebaik mungkin sebelum di lakukan tahap pengkabelan (wiring) Rencana/ gambar pengkabelan jaringan LAN di BPPLSP Regional dilakukan dengan program Microsoft Visio, dan hasil perencanaan tersebut seperti nampak dalam gambar berikut : - Gedung Utama Lantai 1 sejumlah 26 titik koneksi. - Gedung Utama Lantai 2 sejumlah 14 titik koneksi. - Gedung Laboratorium Lantai 1 sejumlah 26 titik koneksi. - Gedung Laboratorium Lantai 2 sejumlah 2 titik koneksi.

Gambar 14. Topologi Star

84

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

- Jaringan Wireless

Gambar 21. Perencanaan Instalasi Jaringan Wireless BPPLSP Regional V makassar 2. 3 Instalasi Sistem Operasi Jaringan Selain perangkat keras dibutuhkan juga perangkat lunak agar jaringan dapat berfungsi. Banyak sistem operasi yang dapat digunakan untuk melakukan hubungan jaringan, misalnya : Windows, Linux, Unix, Mac OS dan lain-lain. Pemilihannya tergantung dari jenis jaringan yang akan kita buat dan gunakan. Sistem operasi pada komputer client, bisa menggunakan jenis sistem operasi apa saja, sedangkan sistem operasi pada komputer server harus benar benar memenuhi standar yang dikhususkan untuk server. Sistem operasi yang digunakan pada server di jaringan BPPLSP Regional V adalah Linux Suse Enterprise dengan pertimbangan bahwa: - Linux berkembang dari dunia Unix dengan segala persoalan multi tasking dan multi usernya, dengan kata lain, Linux dirancang dengan karakteristik ser ver sementara Windows dirancang sebagai sistem operasi untuk komputer personal. - Sebagai sistem operasi ser ver, Linux dirancang untuk tidak sering dimatikan dalam pengoperasiannya. - Sistem Linux dirancang untuk bisa digunakan bersama-sama oleh banyak orang. Karena itu perlindungan data dan prosesproses milik seorang user dapat terjamin. - Pencegahan “memory leak” di Linux mendapat porsi pehatian yang cukup besar. - Sistem operasi L i nu x didistribusikan secara bebas tanpa harus membayar lisensi, dan dapat menginstalasinya pada komputer secara bebas. 2.4. Pe n g e l o m p o k a n Pe n gg u n a Jaringan Pemakai jaring an dapat dikelompokkan dalam kelompok kerja atau group. Hal tersebut bertujuan untuk memudahkan pemantauan dan pengelolaan pengguna dalam jarigan. Pengaturan keamanan dalam dalam jaringan untuk setiap pengguna dapat kita lakukan dengan memberikan hak akses sesuai dengan kebutuhan. Dalam model workgroup, setiap

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

85

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

komputer di network me-maintain user account dan passwordnya sendiri di masing masing database SAM. Setiap kali user login ke komputer maka LSA (Local Security Authority) meng-validasi user name dan password dengan yang ada di database SAM (Security Account Manager). Pada workgroups juga semua komputer bisa saling mengshare resource dengan otoritas yang sama tanpa adanya satu administratif account seperti halnya di domain yang berfungsi sebagai power user. Administratif account hanya berfungsi di masing masing lokal komputer. Dengan kata lain bahwa di workgroup, resource dan account di-maintain secara tersebar (decentralized). 3. TCP/ IP dan IP Adress TCP/ IP (Transfer Connect Protocol / Internet Protocol) adalah sekumpulan protokol yang terdapat didalam jaringan komputer dan digunakan untuk berkomunikasi atau bertukar data antar komputer. Untuk mengatur alamat masing masing komputer pada suatu jaringan digunakan IP Adress. IP adress adalah suatu alamat yang diberikan ke peralatan jaringan komputer untuk dapat diidentifikasi oleh komputer lain. Dengan demikian masing masing komputer dapat melakukan proses tukar menukar data/ infor masi, mengakses internet atau mengakses ke suatu jaringan komputer dengan menggunakan protokol TCP/ IP. Berdasarkan jenisnya IP adress dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. IP Private IP Private adalah IP adress yang digunakan oleh suatu organisasi yang diperuntukkan pada jaringan lokal. Organisasi lain dari luar organisasi tersebut tidak dapat melakukan komunikasi dengan jaringan lokal. Contoh pemakaiannya adalah pada jaringan intranet. Terdapat beberapa kelas IP Private

yaitu : - Kelas A : 10.0.0.0 – 10.255.255.255 - Kelas B : 172.16.0.0 – 172.31.255.255 - Kelas C : 192.168.0.0 – 192.168.255.255 Aplikasi IP adress pada jaringan LAN di BPPLSP Regional V menggunakan IP Private dengan kelas C yaitu 192.168.0.xxx – 192/168.3.xxx. Jaringan LAN BPPLSP Regional V dibagi menjadi 4 segment pengguna jaring an untuk memper mudah perawatan dan identifikasi kerusakan jaringan, yaitu : - Segment 0 : 192.168.0.xxx alokasi IP Adress untuk gedung laboratorium - Segment 1 : 192.168.1.xxx alokasi IP adress untuk gedung utama lantai 1 - Segment 2 : 192.168.2.xxx alokasi IP adress untuk gedung utama lantai 2 - Segment 3 : 192.168.3.xxx alokasi IP adress untuk gedung aula b. IP Public. IP Public adalah IP adress yang digunakan pada jaringan lokal oleh suatu organisasi, dimana organisasi lain dari luar organisasi tersebut dapat melakukan komunikasi langsung dengan jaringan lokal, contoh pemakaiannya adalah pada jaringan internet. 4. Subnetting Subnetting adalah pembagian suatu kelompok alamat IP menjadi bebrapa network ID lain dengan jumlah anggota jaringan yang lebih kecil, yang disebut subnetwork. Tujuan dalam melakukan subnetting ini adalah : - Membagi satu klas network atas sejumlah subnetwork dengan mambagi suatu kelas jaringan menjadi bagian bagian yan glebih kecil. - Menempatkan suatu host apakah berada dalam satu host atau tidak. - Untuk mengatasi masalah perbedaan hardware dengan topologi fisik jaringan. - Penggunaan IP adress lebih efisien

86

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

C.

EVALUASI, MONITORING, DAN PERAWATAN 1. Evaluasi dan Monitoring Evaluasi dan monitoring adalah sub kegiatan yang bertujuan untuk memantau perkembangan penggunaan jaringan baik lokal (intranet) maupun jaringan internet. Pada sub kegiatan terlihat pemanfaatan jaringan (pengiriman dan penerimaan data) setiap hari, minggu, bulan dan tahun, besar bandwith yang terpakai, serta analyzer lainnya seperti nampak pada gambar berikut : ‘Daily’ Graph (5 Minute Average)

Max In 858.8 kB/s (6.9%) Out 3521.0 kB/s (28.2%)

Average 48.7 kB/s (0.4%) 32.3 kB/s (0.3%)

Current 112.4 kB/s (0.9%) 16.0 kB/s (0.1%)

Gambar 22. Traffic Analysis penggunaan bandwidth setiap hari

‘Weekly’ Graph (30 Minute Average)

Max In 303.1 kB/s (2.4%) Out 1117.0 kB/s (8.9%)

Average 40.1 kB/s (0.3%) 14.0 kB/s (0.1%)

Current 46.3 kB/s (0.4%) 13.4 kB/s (0.1%)

Gambar 23. Traffic Analysis penggunaan bandwidth setiap Minggu

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

87

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

‘Monthly’ Graph (2 Hour Average)

Max In 0.0 B/s (0.0%) Out 0.0 B/s (0.0%)

Average 0.0 B/s (0.0%) 0.0 B/s (0.0%)

Current ????? ?????

Gambar 24. Traffic Analysis penggunaan bandwidth setiap bulan

‘Yearly’ Graph (1 Day Average)

Max Average In 0.0 B/s (0.0%) 0.0 B/s (0.0%) Out 0.0 B/s (0.0%) 0.0 B/s (0.0%) GREEN ### Incoming Traffic in Bytes per Second BLUE ### Outgoing Traffic in Bytes per Second

Current ????? ?????

Gambar 25. Traffic Analysis penggunaan bandwidth setiap tahun

88

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

Graphic Monitoring aktifitas internet protocol pengguna jaringan nampak pada gambar berikut

D. PENGELOLAAN DAN PENGEMBANGAN JARINGAN 1. Pengelolaan Jaringan Server dan jaringan komputer secara umum, tentunya memerlukan perawatan, pemantauan dan penambahan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Pengelolaan jaringan dilakukan oleh administrator. Kegiatan pengelolaan jaring an ini mencakup kegiatan pemeliharaan server dan manejemen jaringan. a. Perawatan Rutin Perawatan rutin ini dilakukan secara kontinyu untuk memastikan bahwa jaringan dan seluruh perangkatnya berfungsi dengan baik dan dapat digunakan secara maksimal oleh para pengguna jaringan di setiap unit kerja BPPNFI Regional V.Perawatan jaringan terdiri dari pemeliharaan fisik, sistem operasi server dan software aplikasinya, pemeliharaan dan perlindungan data, serta perlindungan pengguna dari virus dan spam. Pemeliharaan jaringan komputer juga perlu ditunjang dengan

tegangan listrik yang stabil. b. Kebersihan Lokal Tindakan kebersihan lokal ini adalah pemeliharaan sederhana yang paling mendasar. Lokasi tempat ser ver harus bersih, bebas dari debu, tidak lembab. Disamping kotor debu dapat menyebabkan terjadinya listrik statis yang akan menyebabkan tidak befungsinya perangkat perangkat sebagaimana mestinya. c. Backup dan Replikasi Backup data adalah pemindahan file dari media penyimpanan utama sistem ke media sekunder atau perlengkapan jaringan lokal lainnya. Back up program dilakukan dengan berbagai proses seperti berikut : kompresi file, penggabungan file atau proses enkripsifile yang akan di backup, untuk keperluan pengamanan data tersebut. Menyimpan kopi data dari server merupakan hal yang sangat penting karena pada saat terjadi perbaikan sistem dapat dilakukan dengan cepat,

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

89

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

tanpa harus mencari data backup server atau membuat data baru. d. Scanning Virus dan Pengganggu lain Scanning terhadap komputer server maupun client dari serangan virus ataupun pengganggu lain harus dilakukan, baik secara automatis atau manual, agar dapat diapstikan bahwa komputer yang terhubung dijaringan tidak terjangkiti oleh virus. 2. Pengembangan Penyelanggaraan jaringan BPPLSP Regional V tidak hanya terhenti sampai seluruh komputer di areal kantor saling berkomunikasi, tetapi lebih utama adalah memberikan akses yang seluas luasnya kepada kalangan masyarakat luas pada umumnya maupun kalangan pendidikan luar sekolah pada khususnya. Rencana pengembangan jaringan di BPPLSP Regional V terbagi dua yaitu : - Pengembang an jaring an LAN BPPLSP Regional V di Kota Makassar Seiring berkembangnya perangkat pendukung jaringan juga ikut mendorong pengembangan LAN di BPPLSP Regional V, sehingga bisa merambah ke area yang lebih luas seperti MAN ( Metropolitan Area Network ) dimana beberapa LAN yang berdekatan terhubung menjadi satu jaringan maya, atau bahkan menjadi WAN (Wide Area network) yang memanfaatkan jaringan internet sebagai penghubung. Dalam hal pengembangan LAN ini BPPLSP Regional V bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Propinsi Sulawesi Selatan, Dinas Pendidikan Kota Makassar, Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) kota Makassar, Lembaga Penjamin Mutu Pendidikan (LPMP) propinsi Sulawesi Selatan, ICT Center Kota Makassar dan Pendamping ICT Jardiknas Propinsi Sulawesi Selatan Wilayah Wialyah Selatan, merencanakan merencanakan pembentukan Metropolitan Area Network (MAN), sehingga seluruh

elemen pendidikan, dan instansi terkait di kota makassar bisa saling terkoneksi dalam sebuah jaringan yang lebih luas. Perkembangan jaringan ini memungkinkan pemanfaatan yang lebih mendalam dibidang pendidikan. Pendistribusian materi pembelajaran secara on line, pengumpulan tugas melalui e-mail atau FTP server, diskusi, pemutakhiran materi pembelajaran, dan bahkan informasi mengenai link dari materi pembelajaran, serta umpan balik warga belajar, Tutor, penyelenggara pembelajaran, maupun lembaga penyelenggara dapat dilakukan secara lebih mudah dan sederhana. - Pengembangan Jaringan di Wilayah Kerja BPPLSP Regional V Luasnya wilayah kerja BPPLSP Regional V dimana sebagian besar adalah daerah pegunungan, pesisir pantai dan kepulauan membuat keterbatasan jangkauan pelayanan pendidikan terhadap masyarakat. Kebutuhan masyarakat akan pendidikan menjadi hal yang mahal, hal ini mengurangi kesadaran dan partisipasi masyarakat terhadap pendidikan, sehingga seolah – olah berbicara tentang pedesaan selalu identik dengan berbicara kemiskinan dan keterbelakangan, serta kurangnya informasi. Kesimpangsiuran informasi bukan hanya berakibat pada kerugian ekonomis akan tetapi juga pada masalah sosial budaya dan pengetahuan. Sebagai salah satu solusi penanganan masalah kemiskinan yang dapat segera direalisasikan antara lain ialah membangun basis informasi yang kegiatannya diawali melalui penyusunan sistem informasi. Dengan membangun basis informasi diharapkan begitu banyak informasi yang dapat diketahui dan akan berdampak pula pada banyaknya kesempatan belajar, dan berusaha yang bermanfaat bagi masyarakat pedesaaan. Dilandasi oleh pemikiran di atas, BPPLSP Regional V sebagai lembaga yang bertugas pokok mengkaji, mengembangkan, memfasilitasi, dan menyebarluaskan informasi pendidikan luar sekolah, menyusun sebuah program yang disebut Desa Cyber (Cyber Village Program). Secara umum, program ini bertujuan

90

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

meningkatkan kesadaran dan partisipasi warga masyarakat di desa terhadap pendidikan, dengan menyediakan kemudahan belajar melalui pemanfaatan teknologi informasi. Secara khusus, program ini bertujuan untuk: a. Menyediakan akses internet bagi warga masyarakat di desa, khususnya peserta didik pendidikan luar sekolah; b. M e n y e d i a k a n a k s e s b a g i terselenggaranya pembelajaran jarak jauh (distance learning) bagi warga masyarakat di desa; c. Menyediakan akses terhadap berbagai media pembelajaran

berbasis multimedia; d. Menyediakan akses bagi petugas pendidikan luar sekolah untuk melakukan kegiatan pengumpul -an, pengolahan dan analsis data secara terpadu. Penyelenggaraan program desa cyber ini dilaksanakan bekerja sama dengan Dinas Pendidikan Kabupaten/ Kota, Pendamping ICT Jardiknas, ICT Center terdekat dengan sasaran, serta masyarakat dan pihak pihak terkait.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

91

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

III. PENUTUP Berikut adalah kesimpulan yang bisa di ambil mengenai Teknologi Jaringan dan Impelementasinya di Balai Pengembangan Pendidikan Luar Sekolah Dan Pemuda (BPPLSP Regional V) : 1. Sarana komunikasi komputer berupa jaringan lokal pada saat ini merupakan media informasi yang sangat penting dalam penyebaran informasi ke unit-unit kerja di BPPNFI Regional V. 2. Beberapa manfaat yang diperoleh dalam penggunaan jaringan - Pemakaian, perangkat lunak dan peralatan. - Sistem Informasi terpadu - Keamanan data - Pemakaian bersama file data base - Tersedianya data dan informasi setiap saat 3. Jenis jaringan komputer bila dilihat berdasarkan lingkup dan luas jangkauannya dibedakan menjadi beberapa macam yaitu: - Local Area Network (LAN) - Metropolitan Area Network (MAN) - Wide Area Network (WAN) 4. Arsitektur fisik jaringan yang identik disebut topologi jaringan ada beberapa macam yaitu : - Topologi Bus - Topologi Tree - Topologi Mesh - Topologi Ring - Topologi Star Model jaringan yang digunakan di BPPLSP Regional V adalah topologi Ethernet Star dengan pertimbangan titik terminal jaringan yang terpasang menggunakan sistem beberapa klien (work station) yang terhubung pada satu pusat pembagi (switch hub server), selain lebih handal, biaya yang dibutuhkan juga lebih murah dengan topologi ini. 5. Selain perangkat keras dibutuhkan juga perangkat lunak agar jaringan dapat berfungsi. Banyak sistem operasi yang dapat digunakan untuk melakukan hubungan jaringan, misalnya : Windows, Linux, Unix, Mac OS dan lain-lain. Pemilihannya tergantung dari jenis jaringan yang akan

kita buat dan gunakan. Sistem operasi yang digunakan pada server di jaringan BPPLSP Regional V adalah Linux Suse Enterprise dengan pertimbangan bahwa: - Linux berkembang dari dunia Unix dengan segala persoalan multi tasking dan multi usernya, dengan kata lain, Linux dirancang dengan karakteristik server sementara Windows dirancang sebagai sistem operasi untuk komputer personal. - Sebagai sistem operasi server, Linux dirancang untuk tidak sering dimatikan dalam pengoperasiannya - Sistem Linux dirancang untuk bisa digunakan bersama-sama oleh banyak orang. Karena itu perlindungan data dan proses-proses milik seorang user dapat terjamin - Pencegahan “memory leak” di Linux mendapat porsi pehatian yang cukup besar - Sistem operasi Linux didistribusikan secara bebas tanpa harus membayar lisensi, dan dapat menginstalasinya pada komputer secara bebas. 6. TCP/ IP (Transfer Connect Protocol / Internet Protocol) adalah sekumpulan protokol yang terdapat didalam jaringan komputer dan digunakan untuk berkomunikasi atau bertukar data antar komputer. IP adress adalah suatu alamat yang diberikan ke peralatan jaringan komputer untuk dapat diidentifikasi oleh komputer lain. Berdasarkan jenisnya IP adress dibedakan menjadi 2 macam, yaitu : a. IP Private IP Private adalah IP adress yang digunakan oleh suatu organisasi yang diperuntukkan pada jaringan lokal. Organisasi lain dari luar organisasi tersebut tidak dapat melakukan komunikasi dengan jaringan lokal. Contoh pemakaiannya adalah pada jaringan intranet. Terdapat beberapa kelas IP Private yaitu : - Kelas A : 10.0.0.0 – 10.255.255.255 - Kelas B : 172.16.0.0 – 172.31.255.255 - Kelas C : 192.168.0.0 – 192.168.255.255 Aplikasi IP adress pada jaringan LAN di BPPLSP Regional V menggunakan IP Private dengan kelas C yaitu 192.168.0.xxx – 192/168.3.xxx.

92

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

Jaringan LAN BPPLSP Regional V dibagi menjadi 4 segment pengguna jaringan untuk mempermudah perawatan dan identifikasi kerusakan jaringan, yaitu : Segment 0 : 192.168.0.xxx alokasi IP Adress untuk gedung laboratorium. Segment 1 : 192.168.1.xxx alokasi IP adress untuk gedung utama lantai 1. Segment 2 : 192.168.2.xxx alokasi IP adress untuk gedung utama lantai 2. Segment 3 : 192.168.3.xxx alokasi IP adress untuk gedung aula b. IP Public. IP Public adalah IP adress yang digunakan pada jaringan lokal oleh suatu organisasi, dimana organisasi lain dari luar organisasi

tersebut dapat melakukan komunikasi langsung dengan jaringan lokal, contoh pemakaiannya adalah pada jaringan internet. 7. Server dan jaringan komputer secara umum tentunya memerlukan perawatan, pemantauan dan penambahan sesuai dengan perkembangan yang terjadi. Pengelolaan jaringan dilakukan oleh administrator. Kegiatan pengelolaan tersebut meliputi : - Perawatan Rutin - Kebersihan Lokal - Backup dan Replikasi - Scanning Virus dan pengganggu lain 8. Pengembangan jaringan BPPLSP Reg. V - Pembentukan WAN Kota Makassar

DAFTAR PUSTAKA Ahmad Yani, Panduan Membangun Jaringan Komputer, Penerbit Kawan Pustaka, Jakarta, 2005 Laboratorium Sistem Informasi Departemen Teknik Informatika ITB, Sistem Informasi (Berbagai makalah tentang Sistem Informasi dari Prespektif : Manusia dan Sistem Informasi, Organisasi dan Sistem Informasi Teknologi dan Sistem Informasi yang disampaikan dalam Konferensi Nasional Sistem Informasi 2005 di Institut Teknologi Bandung), Penerbit Informatika, Baandung, 2005 Madcom, Windows Server 2003 Enterprise Edition, Penerbit Andi, Jogyakarta, 2004 Melwin Syafrizal, Pengantar Jaringan Komputer, Penerbit Andi, Jogyakarta, 2005 Niall Mansfield, Practical TCP/IP – Jilid 1 dan 2, Penerbit Andi, Yogyakarta, 2002 Samuel Prakoso, Jarinagn Komputer Linux (Konsep Dasar, Instalasi, Aplikasi, Keamanan dan Penerapan), Penerbit Andi, Jogyakarta, 2005 Teguh Wahyono, S.Kom, Building & Maintenance PC Server, Elex Media Komputindo, Jakarta, 2007 Tri Kuntoro Priyambodo dan Dodi Heriadi, Jaringan Wi – Fi (Teori dan Implementasinya), Penerbit Andi, Jogyakarta, 2005 Tutang dan Kodarsyah, S.Kom, Belajar Jaringan Sendiri, Medikom Pustaka Mandiri, Jakarta, 2001 Wahana Komputer, Linux Desktop Dengan Suse 9.1 Professional, Penerbit Andi, Jogyakarta, 2005 Wiharsono Kurniawan, Jaringan Komputer, Penerbit Andi, Jogyakarta, 2007 SUMBER-SUMBER DARI INTERNET http://my.opera.com/winaldi/blog/2007/02/1 http://anakdompu.wordpress.com/2007/11/13/dasar-dasar-jaringan-komputer/2/jaringanlokallanuntuk-keperluan-inf http://kuliah.dinus.ac.id/edi-nur/images/new/5-7i.jpg http://lulukjarkom2.blogspot.com/feeds/posts/default http://jauhar-aribi.blogspot.com/2007_06_01_archive.html http://www.sdie99.freehomepage.com/tugasan_2.htm www.geocities.com/fadelku/network/jaringan.html www.nokspi.com/images/stories/dokumen/star.jpg http://prastowo.staff.ugm.ac.id/?modul=baca&artikel=linux-windows http://rufmania.multiply.com/journal/item/1/Penerapan_Hypertext_Teknologi_dalam_ Pembelajaran http://www.ict.itb.ac.id/~ppict/info/NewsViewSingle.php?no=44

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

93

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

ISTILAH DALAM INTERNET Beberapa istilah yang berhubungan dengan internet, sebagai berikut : • Access Point, sebuah node yang telah dikonfigurasikan secara khusus pada sebuah WLAN (Wireless Local Area Network). Access Point berfungsi sebagai pusat pemancar atau penerima signal signal radio WLAN. • Browser, merupakan program aplikasi yang digunakan untuk memudahkan anda melakukan navigasi berbagai data dan informasi pada WWW. • Chatting, merupakan suatu alat yang digunakan untuk saling berhubungan secara langsung baik secara tulisan (dengan bahasa tulisan), secara lisan maupun secara visualisasinya dan alat ini bisa diistilahkan telephone dalam dunia internet. • Domain Name System (DNS), merupakan group penamaan di internet. Berikut ini pengertian nama ekstensi yang sering digunakan dalam internet : co.id / com - organisasi komersial ac.id / edu - lembaga pendidikan go.id / gov - lembaga pemerintah net.id / net - provider internet mil.id / mil - organisasi militer or.id / org - organisasi umum • Download, merupakan suatu aksi mengambil file dari internet ke computer Anda sendiri. • Ekstranet, sekumpulan Intranet yan saling terhubung sehingga dapat saling berkomunikasi ataupun bertukar data. • E-mail, merupakan salah satu alat yang digunakan oleh pengguna jasa internet untuk berhubungan dengan pengguna internet yang lain dan alat ini bisa diistilahkan surat dalam dunia internet. • File Transfer Protocol (ftp), merupakan suatu tools yang digunakan untuk mendownload atau mengupload fele-file dari computer pribadi Anda ke server. • Homepage, merupakan sampul halaman yang berisi daftar isi atau menu dari sebuah situs web. • Hosting, merupakan tempat atau alat yang dapat menyimpan file-file web yang telah kita buat (design). • Hypertext Transfer Protokol (HTTP), merupakan suatu protocol yang menentukan aturan yang perlu diikuti oleh Web browser dalam meminta atau mengambil suatu dokumen, dan oleh Web serfer dalam menyediakan dokumen yang diminta untuk mengakses dokumen HTML. • Hypertext Transfer Protokol Secure (HTTPS), adalah sama seperti HTTP tetapul tools ini biasanya digunakan untuk web yang dipakai untuk bisnis dan transaksi online serta database. • Internet, merupakan satu teknologi internet (browsing, e-mail, ftp, dan sebagainya) yang diterpkan dalam jaringan LAN. • ISP (Internet Service Provider), merupakan suatu perusahaan yang menyediakan layanan ke internet atau bisa disebut sebagai pintu gerbang ke internet. Supaya kita bisa berhubungan ke internet kita perlu mendaftarkan diri ke ISP untuk mendapatkan nama dan alamat di internet. • LAN (lokal area network), merupakan kumpulan komputer yang terhubung delam suatu jaringan sehingga antara komputer dapat saling berkomunikasi, berbagi pakai (sharring) ataupun tukar data. • Uniform Resourse Locator (URL), merupakan suatu sarana yang digunakan untuk menentukan lokasi informasi pada suatu Web server, URL dapat diibaratkan sebagai suatu alamat. • Upload, merupakan suatu aksi yang digunakan untuk mengirim file yang ada di computer Anda sendiri ke server dimana Anda mendaftar. • WAN (Wide Area Network), merupakan LAN • WEB, adalah fasilitas hiperteks yang menampilkan data berupa teks, gambar, bunyi, animasi, dan

94

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Teknologi jaringan dan implementasinya ....

• • •

data multimedia lainnya. Yang diantara data tersebu saling berhubungan satu sama lainnya. Web Server, merupakan suatu platform yang membolehkan pengguna (user) menyebarkan serta mencari data sesuai yang diinginkan. Web Site (Situs Web), merupakan tempat penyimpanan data dan informasi dengan berdasarkan topik tertentu. WWW (World Wide Web), merupakan kumpulan web server dari seluruh dunia yang berfungsi menyediakan data dan informasi intik yang dapat digunakan secara bersamaan.

Penulis adalah Tenaga Struktural pada Seksi Informasi BPPNFI Regional V Makassar

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

95

Pendidik dan Filsafat Pendidikan ....

PENDIDIK DAN FILSAFAT PENDIDIKAN
Oleh : H. Agus Marsidi Abstrak, Seorang pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan, Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (pendidik). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu: metafisika, epistemology dan aksiologi. Yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, warga belajar, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui. Kata Kunci: Filsafat pendidikan, perilaku pendidik dan keyakinan. Filsafat pendidikan merupakan aplikasi filsafat dalam pendidikan (Kneller, 1971). Pendidikan membutuhkan filsafat karena masalah-masalah pendidikan tidak hanya menyangkut pelaksanaan pendidikan yang dibatasi pengalaman, tetapi masalah-masalah yang lebih luas, lebih dalam, serta lebih kompleks, yang tidak dibatasi pengalaman maupun fakta-fakta pendidikan, dan tidak memungkinkan dapat dijangkau oleh sains pendidikan. Seorang pendidik, baik sebagai pribadi maupun sebagai pelaksana pendidikan, perlu mengetahui filsafat pendidikan. Seorang pendidik perlu memahami dan tidak boleh buta terhadap filsafat pendidikan, karena tujuan pendidikan senantiasa berhubungan langsung dengan tujuan hidup dan kehidupan individu maupun masyarakat yang menyelenggarakan pendidikan. Tujuan pendidikan perlu dipahami dalam hubungannya dengan tujuan hidup. Pendidik sebagai pribadi mempunyai tujuan hidupnya dan pendidik sebagai warga masyarakat mempunyai tujuan hidup bersama. Filsafat pendidikan harus mampu memberikan pedoman kepada para pendidik (pendidik). Hal tersebut akan mewarnai sikap perilakunya dalam mengelola proses belajar mengajar (PBM). Selain itu pemahaman filsafat pendidikan akan menjauhkan mereka dari perbuatan meraba-raba, mencoba-coba tanpa rencana dalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Pe r m a s a l a h a n : B a g a i m a n a p e r a n a n filsafat pendidikan bagi pendidik? Apa yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik? Peranan filsafat pendidikan ditinjau dari tiga lapangan filsafat, yaitu: 1. Metafisika Metafisika merupakan bagian filsafat yang mempelajari masalah hakekat: hakekat dunia, hakekat manusia, termasuk di dalamnya hakekat anak. Metafisika secara praktis akan menjadi persoalan utama dalam pendidikan. Karena anak bergaul dengan dunia sekitarnya, maka ia memiliki dorongan yang kuat untuk memahami tentang segala sesuatu yang ada. Memahami filsafat ini diperlukan secara implisit untuk mengetahui tujuan pendidikan. Seorang pendidik seharusnya tidak hanya tahu tentang hakekat dunia dimana ia tinggal, tetapi harus tahu hakekat manusia, khususnya hakekat anak. Hakekat manusia: Manusia adalah makhluk jasmani rohani Manusia adalah makhluk individual sosial Manusia adalah makhluk yang bebas Manusia adalah makhluk menyejarah Epistemologi Kumpulan per tanyaan berikut yang berhubungan dengan para pendidik adalah epistemologi. Pengetahuan apa yang benar? Bagaimana mengetahui itu berlangsung? Bagaimana kita mengetahui bahwa kita mengetahui? Bagaimana kita memutuskan antara dua pandangan pengetahuan yang berlawanan? Apakah kebenaran itu konstan, ataukah kebenaran itu berubah dari situasi satu ke situasi lainnya? Dan akhirnya pengetahuan apakah yang paling berharga?

2.

96

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendidik dan Filsafat Pendidikan ....

Bag aimana menjawab per tanyaan epistemologis tersebut, itu akan memiliki implikasi signifikan untuk pendekatan kurikulum dan pengajaran. Pertama pendidik harus menentukan apa yang benar mengenai muatan yang diajarkan, kemudian pendidik harus menentukan alat yang paling tepat untuk membawa muatan ini bagi warga belajar. Meskipun ada banyak cara mengetahui, setidaknya ada lima cara mengetahui sesuai dengan minat/kepentingan masing-masing pendidik, yaitu mengetahui berdasarkan otoritas, wahyu Tuhan, empirisme, nalar, dan intuisi. Pendidik tidak hanya mengetahui bagaimana warga belajar memperoleh pengetahuan, melainkan juga bagaimana warga belajar mengikuti pembelajaran. Dengan demikian epistemologi memberikan sumbangan bagi teori pendidikan dalam menentukan kurikulum. Pengetahuan apa yang harus diberikan kepada anak dan bagaimana cara untuk memperoleh pengetahuan tersebut, begitu juga bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. 3. Aksiologi Cabang filsafat yang membahas nilai baik dan nilai buruk, indah dan tidak indah, erat kaitannya dengan pendidikan, karena dunia nilai akan selalu dipertimbangkan atau akan menjadi dasar pertimbangan dalam menentukan tujuan pendidikan. Langsung atau tidak langsung, nilai akan menentukan perbuatan pendidikan. Nilai merupakan hubungan sosial. Pertanyaan-pertanyaan aksiologis yang harus dijawab pendidik adalah: Nilai-nilai apa yang dikenalkan pendidik kepada warga belajar untuk diadopsi? Nilai-nilai apa yang mengangkat manusia pada ekspresi kemanusiaan yang tertinggi? Nilai-nilai apa yang benar-benar dipegang orang yang benarbenar terdidik? Pada intinya aksiologi menyoroti fakta bahwa pendidik memiliki suatu minat tidak hanya pada kuantitas pengetahuan yang diperoleh warga belajar melainkan juga dalam kualitas kehidupan yang dimungkinkan karena pengetahuan. Pengetahuan yang luas tidak dapat memberi keuntungan pada individu jika ia tidak mampu menggunakan

pengetahuan untuk kebaikan. Filsafat pendidikan terdiri dari apa yang diyakini seorang pendidik mengenai pendidikan, atau merupakan kumpulan prinsip yang membimbing tindakan profesional pendidik. Setiap pendidik baik mengetahui atau tidak memiliki suatu filsafat pendidikan, yaitu seperangkat keyakinan mengenai bagaimana manusia belajar dan tumbuh serta apa yang harus manusia pelajari agar dapat tinggal dalam kehidupan yang baik. Filsafat pendidikan secara fital juga berhubungan dengan pengembangan semua aspek peng ajaran. Deng an menempatkan filsafat pendidikan pada tataran praktis, para pendidik dapat menemukan berbag ai pemecahan permasalahan pendidikan. Terdapat hubungan yang kuat antara perilaku pendidik dengan keyakinannya: 1) Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran Komponen penting filsafat pendidikan seorang pendidik adalah bagaimana memandang pengajaran dan pembelajaran, dengan kata lain, apa peran pokok pendidik? Sebagian pendidik memandang pengajaran sebagai sains, suatu aktifitas kompleks. Sebagian lain memandang sebagai suatu seni, pertemuan yang spontan, tidak berulang dan kreatif antara pendidik dan warga belajar. Yang lainnya lagi memandang sebagai aktifitas sains dan seni. Berkenaan dengan pembelajaran, sebagian pendidik menekankan pengalamanpengalaman dan kognisi warga belajar, yang lainnya menekankan perilaku warga belajar. 2) Keyakinan mengenai warga belajar Akan berpengar uh besar pada bagaimana pendidik mengajar? Seperti apa warga belajar yang pendidik yakini, itu didasari pada pengalaman kehidupan unik pendidik. Pandangan negatif terhadap warga belajar menampilkan hubungan p e n d i d i k - wa r g a b e l a j a r p a d a ketakutan dan penggunaan kekerasan

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

97

Pendidik dan Filsafat Pendidikan ....

3)

4)

tidak didasarkan kepercayaan dan kemanfaatan. Pendidik yang memiliki pemikiran filsafat pendidikan mengetahui bahwa anak-anak berbeda dalam kecenderungan untuk belajar dan tumbuh. Keyakinan mengenai pengetahuan Berkaitan dengan bagaimana pendidik melaksanakan pengajaran. Dengan filsafat pendidikan, pendidik akan dapat memandang pengetahuan secara menyeluruh, tidak merupakan potongan-potongan kecil subyek atau fakta yang terpisah. Keyakinan mengenai apa yang perlu diketahui Pendidik menginginkan para warga belajarnya belajar sebagai hasil dari usaha mereka, sekalipun masing-masing pendidik berbeda dalam meyakini apa yang harus diajarkan.

Kesimpulan Peran filsafat pendidikan bagi pendidik, dengan filsafat metafisika pendidik mengetahui hakekat manusia, khususnya warga belajar sehingga tahu bagaimana cara memperlakukannya dan berguna untuk mengetahui tujuan pendidikan. Dengan filsafat epistemologi pendidik mengetahui apa yang harus diberikan kepada warga belajar, bagaimana cara memperoleh pengetahuan, dan bagaimana cara menyampaikan pengetahuan tersebut. Dengan filsafat aksiologi pendidik memahami yang harus diperoleh warga belajar tidak hanya kuantitas pendidikan tetapi juga kualitas kehidupan karena pengetahuan tersebut. Hal yang menentukan filsafat pendidikan seorang pendidik adalah seperangkat keyakinan yang dimiliki dan berhubungan kuat dengan perilaku pendidik, yaitu: Keyakinan mengenai pengajaran dan pembelajaran, warga belajar, pengetahuan, dan apa yang perlu diketahui. DAFTAR PUSTAKA Kneller, George F. 1971. Introduction to the Philosophy of Education. John Willey Sons Inc, New York. Sadulloh, U. 2003. Pengantar Filsafat Pendidikan. CV Alfabeta, Bandung. Sindhunata. 2000. Menggagas Paradigma Baru Pendidikan. Kanisius, Yogyakarta Soedijarto. 1993. Menuju Pendidikan Nasional yang Relevan dan Bermutu, Balai Pustaka, Jakarta. Zamroni. 2000. Paradigma Pendidikan Masa Depan, PT Bayu Indra Grafika, Yogyakarta.

98

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

MODEL PENDATAAN PNF BERBASIS “ KEPALA KELUARGA “
Oleh

Muhammad Hasbi, S.Sos., M.Pd

Abstrak, Aspek lain yang terkait dengan belum optimalnya data PNF adalah jenis data yang dapat disajikan. Kondisi saat ini, dari 11 jenis data PNF yang seharusnya disajikan, baru terealisasi sebanyak 5 jenis. Kondisi ini pun sangat dipengaruhi oleh tingkat pengembalian (rate of return) instrumen dari sumber-sumber data yang masih rendah dan kelengkapan hasil pengisian instrumen tersebut. Terkait dengan permasalahan lemahnya kualitas SDM pengelola data dan informasi, tidak hanya dialami oleh satu atau dua daerah saja, tetapi hampir merata di semua kabupaten dan kota. Hal ini dikarenakan SDM tersebut tidak memiliki kualifikasi yang relevan dan memadai, serta tidak pernah dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan mengelola data dan informasi. Tugas tersebut hanyalah merupakan tugas tambahan disamping tugas pokok yang telah ada. Tentu saja, persoalan ini terkait pula dengan keterbatasan jumlah tenaga kependidikan yang bekerja pada jalur pendidikan non PENDAHULUAN A. Analisis Situasi Salah satu instrumen utama dalam menyusun sebuah kebijakan adalah data dan informasi yang tepat, cepat dan akurat. Di tingkat Ditjen Pendidikan Non Formal dan Informal (PNFI), ketersediaan data dan informasi yang cepat, tepat dan akurat telah lama menjadi permasalahan yang belum menemukan titik penyelesaian hingga saat ini. Hal tersebut disebabkan oleh berbagai faktor, baik eksternal maupun internal. Salah satu faktor eksternal adalah belum optimalnya pasokan data dan informasi PNFI dari Pusat Statistik Pendidikan (PSP) Badan Penelitian dan Pengembangan (Balitbang) Depdiknas, sebagai lembaga yang memiliki kewenangan umum dalam melaksanakan kegiatan pendataan di pendidikan. Salah satu faktor yang diduga menjadi penyebabnya adalah rendahnya prestasi dari Kelompok Kerja Pendataan Pendidikan (KK-Datadik) di tingkat kabupaten/kota dalam mengembalikan hasil pengisian instrumen pendataan yang telah didistribusikan oleh PSP Balitbang Depdiknas. Berbagai cara telah ditempuh oleh Balitbang dalam upaya meningkatkan prestasi KK Datadik di tingkat Kab./Kota, antara lain dengan mengucurkan dana blockgrant pendataan. Namun demikian, kenyataan menunjukkan bahwa sampai dengan tahun 2008, rate of return instrumen pendataan PNF masih berada di bawah 50%. Faktor internal di Ditjen PNFI sendiri antara lain adalah: belum adanya sistem mekanisme pemerolehan data dan informasi yang telah bekerja dan teruji dengan baik mulai dari tingkat pusat sampai ke sumber-sumber data, kurangnya sinergi antar berbagai unsur penyelenggara pendidikan non formal dan informal di lapangan, lemahnya pengorganisasian basis data dan informasi, serta lemahnya kualitas sumber daya manusia pengelola data dan informasi tersebut. Sejak tahun 2006, Ditjen PNFI Depdiknas telah memperkenalkan mekanisme pendataan dari tingkat pusat hingga ke tingkat kabupaten/kota, dengan menempatkan UPTD/SKB Kab./Kota sebagai pusat basis data. Mekanisme tersebut telah diiringi dengan penyediaan dana blockgrant secara berkesinambungan untuk memperkuat dukungan teknologi informasi dan komunikasi yang digunakan dalam proses pendataan. Namun demikian, dalam perjalanannya mekanisme tersebut tidak berjalan secara

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

99

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

optimal. Beberapa fakta yang dapat dikemukakan terkait dengan tidak bekerjanya mekanisme tersebut antara lain penyediaan data masih membutuhkan waktu yang relatif lama. Data PNF seharusnya tersedia sebelum bulan September tahun anggaran berjalan, sehingga dapat dimanfaatkan dalam menyusun RAPBN tahun berikutnya dan dapat dimanfaatkan oleh pemangku kepentingan lainnya untuk kebutuhan perencanaan PNFI. Kenyataannya adalah data PNF baru dapat disediakan pada awal tahun berikutnya. Di samping itu, kegiatan pengumpulan data PNF yang telah dilakukan belum mampu menghasikan data yang berkualitas. Tidak semua instrumen yang telah didistribusikan kepada sumbersumber data dikembalikan, dan tidak semua instrumen yang dikembalikan diisi secara lengkap. Data masih terbatas kepada agregasi-agregasi per item data, dan belum dilakukan analisis untuk melihat saling keterkaitan antara data satu dengan yang lain. Aspek lain yang terkait dengan belum optimalnya data PNF adalah jenis data yang dapat disajikan. Kondisi saat ini, dari 11 jenis data PNF yang seharusnya disajikan, baru terealisasi sebanyak 5 jenis. Kondisi ini pun sangat dipengaruhi oleh tingkat pengembalian (rate of return) instrumen dari sumber-sumber data yang masih rendah dan kelengkapan hasil pengisian instrumen tersebut. Terkait dengan permasalahan lemahnya kualitas SDM pengelola data dan informasi, tidak hanya dialami oleh satu atau dua daerah saja, tetapi hampir merata di semua kabupaten dan kota. Hal ini dikarenakan SDM tersebut tidak memiliki kualifikasi yang relevan dan memadai, serta tidak pernah dipersiapkan untuk melakukan pekerjaan mengelola data dan informasi. Tugas tersebut hanyalah merupakan tugas tambahan disamping tugas pokok yang telah ada. Tentu saja, persoalan ini terkait pula dengan keterbatasan jumlah tenaga kependidikan yang bekerja pada jalur pendidikan non formal dan informal. Hal lain yang patut dipertimbangkan adalah bahwa Ditjen PNF telah menyusun sebuah sistem informasi manajemen

berbasis dukungan teknologi informasi dan komunikasi, yang terintegrasi dalam sebuah SIM PNFI. Disamping itu, Ditjen PMPTK telah pula mengembangkan sebuah sistem infor masi yang disebut SIM NU-PTK. Hasil diskusi menunjukkan bahwa hampir semua UPTD/SKB di Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat belum memahami prosedur pemanfaatan aplikasi tersebut, sebagai akibat dari kurang memadainya manual aplikasi dan ketiadaan program sosialisasi/pelatihan terkait dengan pemanfaatan aplikasi tersebut. Terkait dengan permasalahan pendataan PNFI, pada bulan Juli s.d Agustus 2008 BPPNFI Regional V Makassar telah menggelar workshop secara simultan dengan menghadirkan 4 Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota, 4 Kasubdin PLS, 25 Kepala Seksi PLS, 27 Kepala SKB, 40 anggota Forum Kelompok Kerja Pengelola Sistem Informasi (F-KKPSI) yang berasal dari 25 Kab/Kota, perwakilan TLD se Provinsi Sulawesi Selatan dan 6 orang Pengelola Program Desa Cyber dari 3 Kab/Kota. Permasalahan yang mengemuka terkait pendataan adalah: (1) rendahnya kualitas dan kuantitas data PNFI di Kab/Kota ; (2) lemahnya (atau tidak adanya) mekanisme pendataan dari kab/Kota ke sumber-sumber data di lapangan; (3) lemahnya organisasi pengelola data di kab/kota; (4) lemahnya SDM pengelola data di kab/kota; (4) anggaran pendataan PNFI yang sangat terbatas; (5) rendahnya perhatian Pemda terhadap kegiatan pendataan pendidikan, khususnya pendataan PNFI. Dengan memperhatikan berbagai permasalahan tersebut, maka BPPNFI Regional V Makassar mencoba untuk menyusun Model Pendataan Pendidikan Non Formal berbasis Kepala Keluarga, sebagai bahan pertimbangan kebijakan bagi pengambil keputusan di tingkat Ditjen PNFI.

100

Andragogi

B.

Tujuan

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

1.

Tujuan Penyusunan Model Model ini ber tujuan untuk memberikan arah dan petunjuk penyelenggaraan pendataan PNF di tingkat nasional pada umumnya, khususnya di wilayah kerja BPPNFI Regional V Makassar. Tujuan Pendataan a. Memperoleh data sasaran PNF untuk berbagai jenis dan jenjang satuan pendidikan non formal; b. Memperoleh data realisasi program PNF yang telah dan sedang berlangsung di berbagai jenis dan jenjang satuan pendidikan non formal; c. Menyusun pemetaan data sasaran dan realisasi program PNF. d. Mendukung penyusunan p e r e n c a n a a n ke b i j a k a n PNF pada tahun anggaran berjalan dan tahun anggaran berikutnya. 2.

2.

3.

4.

C.

Cakupan Kegiatan Kegiatan yang akan dilakukan sebagai rangkaian pelaksanaan pendataan PNF adalah : 1. Pengumpulan/penjaringan data; 2. Pengolahan data; 3. Verifikasi dan analisis hasil pendataan; 4. Pendistribusian data; Pemutakhiran data PNF. 5.

tanggung jawab, wewenang dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melaksanakan kegiatan belajar mengajar dalam rangka pengembangan model dan pembuatan percontohan ser ta penilaian dalam rangka pengendalian mutu dan dampak pelaksanaan program pendidikan luar sekolah. Pamong PAUD, yaitu tenaga honor yang diberi tugas, tanggung jawab, wewenang untuk membimbing kegiatan pendidikan bagi anak usia dini. Fasilitator Desa Binaan Intensif ( FDI ), yaitu tenaga kontrak berpendidikan sarjana, satu sarjana eksakta dan satu lagi non eksakta, yang bertugas memberikan layanan PNF yang merata dan berkualitas, terutama bagi masyarakat yang bermukim di desadesa dengan kategori terpencil dan tertinggal. Tutor ( Tutor keaksaraan dan Tutor Kesetaraan Paket A, B, dan C), yaitu tenaga yang berasal dari masyarakat yang bertugas dalam merencanakan, melaksanakan, mengevaluasi proses pembelajaran pada pendidikan keaksaraan dan kesetaraan. Instruktur kursus, yaitu tenaga yang memiliki kompetensi dan bertugas menjadi pendidik pada lembaga kursus.

B.

Tenaga Kependidikan PNF Tenaga kependidikan PNF adalah anggota masyarakat yang mengabdikan diri dan diangkat untuk menunjang penyeleng garaan pendidikan non formal. Tenaga Kependidikan bertugas melaksanakan administrasi pengelolaan, pengembangan, pengawasan dan pelayanan teknis untuk menunjang proses pendidikan pada satuan pendidikan non formal. Tenaga Kependidikan PNF meliputi : 1. Pengelola / Penyelenggara Satuan Pendidikan Non Formal, yaitu tenaga yang melakukan pengorganisasian kegiatan pada suatu kelompok tertentu guna menyelenggarakan satu atau beberapa kegiatan pendidikan non

SASARAN PENDATAAN A. Pendidik PNF Pendidik PNF adalah anggota masyarakat yang mempunyai tugas dan kewenangan dalam merencanakan dan melaksanakan proses pembelajaran, menilai hasil pembelajaran, melakukan pembimbingan dan pelatihan. Pendidik PNF meliputi : 1. Pamong Belajar, yaitu Pegawai Negeri Sipil yang diberikan tugas,

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

101

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

2.

3.

4.

5.

6.

7.

formal, mencakup ketua, sekertaris, bendahara, koordinator dan anggota seksi / bidang kegiatan PNF. Tenaga Administrasi, yaitu tenaga yang diberi tugas dan kewenangan menyelenggarakan tertib administratif pada suatu satuan pendidikan non formal. Tenaga Perpustakaan / Pustakawan, yaitu tenaga yang diberi tugas dan kewenangan menyelenggarakan / mengelola serta memberikan pelayanan pada suatu lembaga perpustakaan. Nara Sumber Teknis PNF, yaitu tenaga yang memiliki kompetensi serta sertifikasi pada bidang keterampilan tertentu, serta dilibatkan dalam upaya peningkatan kemampuan sasaran PNF pada suatu satuan pendidikan non formal. Laboran, yaitu tenaga yang memiliki kualifikasi tertentu yang diberi kewenangan dan tanggung jawab mengelola laboratorium. Penilik, yaitu Pegawai Negeri Sipil yang diberi tugas dan tang gung jawab, wewenang, dan hak secara penuh oleh pejabat yang berwenang untuk melakukan kegiatan penilikan pendidikan luar sekolah yang selanjutnya disingkat PLS yang meliputi pendidikan masyarakat, kepemudaan, pendidikan anak usia dini dan keolahragaan. Tenaga Lapangan Dikmas (TLD), yaitu tenaga yang berlatar belakang pendidikan sarjana, berstatus sebagai tenaga kontrak yang diberi tugas membantu penilik dan berkedudukan di kecamatan.

C.

Lembaga / Pemangku Kepentingan PNF Lembaga PNF adalah instansi pemerintah dan non pemerintah (swasta) yang bergerak dalam bidang pendidikan non formal dan mempunyai tupoksi lembaga kearah pengkajian / penelitian, pengembangan, pelaksanaan program pendidikan non formal, lembaga tersebut meliputi seluruh Unit Pelaksana Teknis Daerah (UPTD) baik yang berkedudukan di

propinsi, kota maupun kabupaten, termasuk lembaga swasta yang bergerak dibidang PNF yang terdiri dari: 1. UPTD Balai Pengembangan Kegiatan Belajar (BPKB) Propinsi, Yaitu lembaga pendidikan non formal milik pemerintah propinsi yang berkedudukan di propinsi dan berada dalam naungan langsung Dinas Pendidikan Propinsi, yang diberi tang gung jawab melaksanakan pengembangan, penelitian, pelaksana teknis program PNF yang diselenggarakan oleh pusat dan Dinas Pendidikan Setempat. 2. UPTD Sanggar Kegiatan Belajar (SKB) Kab./Kota, Yaitu lembaga pendidikan non formal milik pemerintah daerah yang berkedudukan di setiap kabupaten dan atau kota dan berada dalam naungan dinas pendidikan kabupaten atau kota, yang diberi tanggung jawab mendampingi sekaligus menjadi pelaksana teknis program, PNF yang diselenggarakan oleh Dinas Pendidikan Kabupaten dan atau yang diselenggarakan oleh pusat. 3. Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM), yaitu lembaga pendidikan non formal bentukan masyarakat yang berfungsi untuk memfasilitasi masyarakat dan pemerintah pada level pelaksanaan program yang didanai oleh pemerintah maupun bersumber dari swanada lembaga PKBM, berstatus independen dan berkedudukan hingga pada tingkat kecamatan/kelurahan. 4. Taman Bacaan Masyarakat (TBM), yaitu lembaga pendidikan non formal yang bergerak dibidang penyediaan fasilitas membaca serta koleksi buku yang dibutuhkan oleh warga belajar PNF, berkedudukan dibawah pembinaan dinas pendidikan, SKB, PKBM ataupun dapat berdiri sendiri. 5. Lembag a Kursus, yaitu semua lembaga oleh masyarakat didirikan untuk melaksanakan pembelajaran dan praktek dalam keterampilan tertentu khususnya untuk mendukung keterampilan kecakapan hidup (life Skill).

102

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

6.

7.

Lembaga PAUD, yaitu lembaga yang didirikan oleh masyarakat, pemerintah ataupun lembaga lain yang diperuntukkan untuk melayani atau memenuhi kebutuhan masyarakat yang membutuhkan pendidikan anak usia dini. Adapun jenis lembag a PAUD adalah Playgroup/Kelompok Bermain, Raudatul Agfa (RA), Taman Penitipan Anak (TPA), Satuan PAUD Sejenis (SPS). Kelompok Belajar, yaitu Kelompok yang diseleng garakan oleh masyarakat dan dibina oleh lembaga tertentu baik yang berasal dari pemerintah maupun swasta dengan tujuan memberikan pembelajaran non formal mulai pada tingkat buta huruf (Keaksaraan Fungsional), paket A setara SD, paket B setara SLTP dan Paket C setara SLTA.

3.

4.

umur. Program Kesetaraan, yaitu Program yang ditujukan untuk pelayanan di bidang pembelajaran paket mulai pada tingkat Paket A, Paket B, dan Paket C dalam upaya penyediaan wadah belajar bagi masyarakat yang putus sekolah dan tidak dapat bersekolah karena berbagai kendala. Program Diklanjut, yaitu program yang ditujukan untuk pelayanan dibidang keterampilan hidup (life skill) ser ta prog ram penunjang output dari program pembelajaran lainnya, meliputi program magang, kursus, pemberdayaan olahraga, serta keterampilan-keterampilan penunjang lainnya.

E.

Sasaran Pendidikan Non For mal (PNF) Data sasaran PNFI adalah seluruh warga masyarakat mulai dari anak usia dini hingga pada warga masyarakat usia produktif yang berkeinginan mengeyam pendidikan non formal namun tidak memiliki kesempatan karena beberapa faktor seperti : faktor sosial, geografis, pekerjaan, ekonomi, kultur/budaya, agama dan sebagainya. Data sasaran tersebut meliputi : 1. Calon Warga Belajar, yiaut warga masyarakat yang diproyeksikan untuk mengikuti program PNF, antara lain : a. Anak putus sekolah/tidak melanjutkan sekolah b. Masyarakat buta huruf/aksara c. Masyarakat Pengangguran d. Masyarakat Terpencil/Pesisir/ Suku Terasing. 2. Warga Belajar (WB), yaitu warga masyarakat yang sementara mengikuti program pembelajaran PNF dan tergabung dalam kelompok tertentu seperti Paket A, B, C dan seterusnya.

D.

Program Pembelajaran PNF Program pendidikan non formal adalah program yang dilaksanakan oleh tenaga PNF yang terdiri dari tenaga pendidik, tenaga kependidikan dan difasilitasi oleh lembaga PNF seperti Subdin PLS Dinas Pendidikan, BPKB, SKB, PKBM, Forum, LSM dan lembaga lainnya dalam rangka pencapaian sasaran/target PNF secara nasional. Program PNF meliputi : pemberantasan buta huruf, perluasan akses pendidikan dan kecakapan hidup, peningkatan taraf hidup masyarakat khususnya masyarakat miskin, terpencil dan tidak tersentuh ataupun gagal dalam pendidikan formal. Program tersebut dibagi atas: 1. Program PAUD, yaitu program yang ditujukan untuk pelayanan dibidang pendidikan anak usia dini seperti program kelompok bermain (KB), program taman penitipan anak (TPA) serta program Satuan Paud Sejenis (SPS). 2. Program KF, yaitu program yang ditujukan untuk pelayanan dibidang pemberantasan buta aksara (keaksaraan fungsional) dengan sasaran warga belajar yang buta huruf pada berbagai tingkatan

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

PROGRAM PENDATAAN PNF A. Strategi Pendataan Berdasarkan analisis situasi yang telah dikemukakan pada bagian sebelumnya, tergambar bahwa PSP Balitbang Depdiknas maupun Ditjen PNFI Depdiknas telah m e l a k u k a n b e r b a g a i u p ay a u n t u k memperoleh data dan informasi pendidikan yang cepat, tepat, dan akurat. Namun demikian, upaya tersebut belum mampu menghadirkan data dan informasi yang berkualitas. Di tingkat kab/kota, PSP Balitbang Depdiknas telah meluncurkan skema bantuan langsung untuk mendukung kinerja KK-DATADIK Kab/Kota, namun hasilnya masih jauh dari yang diharapkan. Demikian pula Ditjen PNFI Depdiknas, telah meluncurkan berbagai skema bantuan langsung untuk mendukung pengayaan fungsi UPTD/SKB sebagai Data Center, disamping upaya lain yang dilakukan secara parsial (termasuk kerja sama dengan BPS). Namun upaya itu pun belum mencapai hasil yang optimal. Berdasarkan hasil diskusi simultan yang telah dilakukan dengan berbagai elemen penyelenggara pendidikan non formal di regional V, diperoleh informasi bahwa salah satu kelemahan utama yang ditemukan dalam penerapan strategi Pendataan PNF pada tahun-tahun sebelumnya adalah adanya asumsi bahwa semua kab/kota memiliki kemampuan yang sama dalam mengimplementasikan program pendataan, sehingga setiap kab/kota memperoleh proprosi alokasi bantuan langsung yang sama dalam mengimplementasikan porgram pendataan. Kenyataannya, masing-masing kab/kota memiliki karaketeristik geografis, demografis, sosial dan ekonomi yang berbeda, sehingga dibutuhkan strategi yang berbeda dalam menanganinya. Lebih lanjut, dari hasil diskusi tersebut terungkap bahwa permasalahan pendataan PNF yang sesungguhnya bukanlah terletak pada pengiriman data PNF dari tingkat kab/ kota ke tingkat pusat, melainkan terletak pada pemerolehan data PNF dari sumbersumber datanya, yang sangat dipengaruhi oleh kondisi geografis, demografis, sosial dan ekonomi daerah yang bersangkutan.

Olehnya itu, strategi yang diusulkan dalam model ini adalah Strategi Pendataan PNF berbasis Kepala Keluarga. Melalui strategi ini, pendataan terhadap sasaran PNF di berbagai jenis dan jenjang satuan pendidikan non formal diharapkan dapat dilakukan dengan tuntas, karena setiap Petugas Pendata yang telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota akan mendatangi Kepala Keluarga dan melaksanakan pendataan PNF berdasarkan alokasi target yang telah ditetapkan. Strategi ini diharapkan pula dapat menghasilkan data yang lebih tepat dan akurat, karena data yang diperoleh tidak terbatas pada agregasi-agregasi semata, tetapi menggambarkan secara spesifik keadaan sasaran PNF (by name and by address). Kondisi ini diharapkan dapat meningkatkan akuntabilitas penyelenggaraan program-program pendidikan non formal. Namun demikian, implementasi strategi Pendataan PNF berbasis Kepala Keluarga ini tentunya akan menyerap ang g aran yang cukup signifikan, mengingat sifatnya yang tuntas dan spesifik. Akan tetapi, hal tersebut layak untuk dipertimbangkan mengingat pentingnya peranan data dan informasi dalam menyusun rencana kebijakan pendidikan non formal di masa yang akan datang. B. Mekanisme Pendataan 1. Mekanisme Distribusi Instrumen dan Pengembalian Instrumen; Gambar 1 berikut ini memperlihatkan mekanisme pendistribusian dan pengembalian hasil pengisian Instr umen Pendataan PNF.

104

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

Gambar 1. Mekanisme Distribusi Instrumen Pendataan Berdasarkan gambar di atas, maka mekanisme distribusi dan pengembalian hasil pengisian Instrumen Pendataan PNF dapat dikemukakan sebagai berikut: a. Instrumen yang telah disusun oleh PSP Balitbang bekerja sama dengan Ditjen PNFI dikirimkan kepada Dinas Pendidikan Provinsi cq. KKDatadik Tingkat Provinsi. b. Kiriman instr umen yang diterima oleh Dinas Pendidikan Provinsi diteruskan kepada Dinas Pendidikan Kab/Kota cq. KK-Datadik Tingkat Kabupaten. c. Kiriman instr umen yang diterima oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota diteruskan kepada Kantor Cabang Dinas di tingkat kecamatan, atau Penilik PNF yang menangani kecamatan tertentu, atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Pendataan PNF di kecamatan tersebut (tergantung kepada ketersediaan lembaga-lembaga dimaksud di kab/kota masing-

masing). d. Kiriman instrumen yang diterima oleh Kantor Cabang Dinas, atau Penilik PNF, atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Pendataan PNF di kecamatan tersebut, kemudian diteruskan kepada Petugas Pendata yang telah ditunjuk untuk setiap desa berdasarkan SK Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota. e. Kiriman Instrumen yang diterima Petug as Pendata selanjutnya digunakan untuk melaksanakan pendataan dengan cara mendatangi setiap Kepala Keluarga dari pintu ke pintu. f. Petug a s Pen d a ta ya n g tel a h menyelesaikan pengisian Instrumen Pendataan PNF mengembalikan instrumen tersebut ke Kantor Cabang Dinas, atau Penilik PNF, atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk ber tang gung jawab terhadap pelaksanaan Pendataan PNF di kecamatan. g. Kantor Cabang Dinas, atau Penilik PNF, atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan untuk bertanggung jawab terhadap pelaksanaan Pendataan PNF di kecamatan, melakukan verifikasi terhadap hasil pengisian instrumen, menyusun dan meneruskan hasil pengisian instrumen tersebut kepada KK-Datadik Kab/Kota. h. KK - Datadik Kab/Kota melakukan verifikasi dan legalisasi, kemudian mener uskan hasil pengisian instrumen tersebut kepada UPTD/ SKB Kab/Kota atau lembaga lain yang diberi tanggung jawab oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota untuk melakukan pengelolaan hasil pengisian instrumen dimaksud.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

105

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

2.

Mekanisme Pengelolaan dan Pendistribusian Data; Gambar 2 berikut ini memperlihatkan mekanisme pengelolaan dan pendistribusian data PNF.

·

Ditnas PNFI

BPPNFI Setiap Regional

·
DINAS PENDIDIKAN PROVINSI

DINAS PENDIDIKAN KAB./KOTA

Cabang Dinas, atau Penilik PNF, atau lembaga yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota, sebagai bahan referensi di tingkat kecamatan. KK-Datadik Tingkat Provinsi menerima hardcopy dan softcopy Data PNF dan menyampaikan salinan kepada BPPNFI Regional sebagai bahan pengolahan dan penyajian data PNF. BPPNFI Regional mengolah dan menyajikan data PNF untuk kebutuhan perencanaan dan pengambilan keputusan di tingkat Ditjen PNFI.

UPTD/SKB Kab/Kota

3

Mekanisme Hubungan Koordinasi Antar Lembaga Gambar 3 berikut ini memperlihatkan mekanisme koordinasi antar lembaga dalam pelaksanaan pendataan PNF.
DITJEN PNFI DEPDIKNAS
PSP BALITABNG DEPDIKNAS

KANTOR CABANG DINAS/ PENILIK PLS

Gambar 2. Mekanisme Pengelolaan dan pendistribusian Data PNF Berdasarkan gambar di atas, maka mekanisme pengelolaan dan pendistribusian data PNF dapat dikemukakan sebagai berikut: · Hasil pengisian Instr umen Pendataan PNF yang telah diterima dari Dinas Pendidikan Kab/Kota dikelola menjadi data PNF oleh UPTD/SKB atau lembaga lain yang diberi tanggung jawab oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota. · Data PNF dientry secara online melalui aplikasi yang tertanam pada server Ditjen PNFI/BPPNFI atau PSP Balitbang Depdiknas. BPPNFI Regional menerima tembusan entry data dari setiap UPTD/SKB secara online. · Data PNF dilaporkan kepada KK-Datadik Kab/Kota untuk diverifikasi dan dilegalisasi. Data PNF yang telah diverifikasi dan dilegalisasi dikirimkan kepada KKDatadik Tingkat Provinsi dalam bentuk hardcopy dan softcopy. · Disamping itu, hardcopy data PNF dikirimkan kembali kepada Kantor

BPPNFI Setiap Regional
P E M E RI NT AH P ROVI NS I

DINAS PENDIDIKAN PROVINSI

P E M E RI NT AH KABUPATEN

DINAS PENDIDIKAN
KEPALA KECAMATAN

KAB./KOTA KANTOR CABANG

LURAH/ KEPALA DESA

DINAS/PENILIK PLS

PETUGAS PENDATA PNF

Gambar 3. Mekanisme Koordinasi Antar Lembaga Berdasarkan gambar di atas, maka mekanisme koordinasi antar lembaga dalam pelaksanaan Pendataan PNF dapat dikemukakan sebagai berikut: - Ditjen PNFI melakukan sosialisasi kegiatan pendataan PNF kepada Pemerintah T i n g k a t P r ov i n s i . D a r i hasil sosialisasi tersebut,

106

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

-

-

-

-

-

-

Pemerintah Provinsi diharapkan dapat memberikan dukungan melalui berbagai skema kebijakan (himbauan, dana sandingan, dll). Ditjen PNFI dan PSP Balitbang Depdiknas secara bersamasama melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap penyelenggaraan pendataan PNF. Pembinaan dan pemantauan tersebut dilakukan di setiap jenjang organisasi pendataan. BPPNFI melaksanakan pembinaan dan pemantauan terhadap penyeleng g araan pendataan PNF di tingkat provinsi di regionalnya masingmasing, dan melakukan uji petik ke tingkat kab/kota. Dinas Pendidikan Provinsi melakukan sosialisasi kegiatan pendataan PNF kepada Pemerintah Kab/Kota. Hasil yang diharapkan dari kegiatan sosialisasi tersebut adalah dukungan Pemerintah Daerah yang diwujudkan melalui berbagai skema kebijakan (himbauan, surat edaran, dana sandingan, dll). Dinas Pendidikan Provinsi melaksanakan pembinaan dan pemantauan terhadap penyelenggaraan pendataan PNF di tingkat kab/kota. Dinas Pendidikan Kab/Kota melakukan sosialisasi kegiatan pendataan PNF di tingkat kab/ kota. Dari kegiatan sosialisasi tersebut, diharapkan tercipta kesepahaman dan kesepakatan kerja sama dalam pelaksanaan kegiatan pendataan PNF di tingkat kab/kota. Dinas Pendidikan Kab/Kota melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap proses penyelenggaraan pendataan PNF di tingkat kecamatan dan desa. Dalam melaksanakan kegiatan pembinaan dan pemantauan

-

-

-

dimaksud, Dinas Pendidikan K ab/Kota berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan setempat. Kantor Cabang Dinas atau Penilik PNF atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota menyelenggarakan kegiatan pendataan PNF di tingkat kecamatan, berkoordinasi dengan Pemerintah Kecamatan setempat. Kantor Cabang Dinas atau Penilik PNF atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota melakukan pembinaan dan pemantauan terhadap proses penyelenggaraan pendataan PNF di tingkat desa. Dalam melakukan kegiatan tersebut, Kantor Cabang Dinas atau Penilik PNF atau lembaga lain yang ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota berkoordinasi dengan Lurah atau Kepala Desa. Petugas Pendata yang ditunjuk b e r d a s a r k a n S K Ke p a l a D i n a s Pe n d i d i k a n K a b / Kota melaksanakan kegiatan pendataan PNF berkoordinasi dengan Kepala Desa, Kepala Kelurahan, Ketua RW dan RT setempat.

A.

Pola Pembiayaan Pendataan PNF Satuan pembiayaan yang digunakan di dalam Model Pendataan PNF berbasis Kepala Keluarga ini adalah satuan biaya per Kepala Keluarga. Dengan demikian, jumlah biaya yang dibutuhkan untuk mengimplementasikan Model Pendataan ini didasarkan atas jumlah Kepala Keluarga yang ada di seluruh wilyah Indonesia. Adapun parameter satuan biaya per Kepala Keluarga yang digunakan dalam model ini adalah sebagai berikut: · Kepala Keluarga yang berdomisili di dalam kota

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

107

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

· · ·

Rp 2.500,- / KK Kepala Keluarga yang berdomisili di desa/di luar kota Rp 3.000,- / KK Kepala Keluarga yang berdomisili di desa terpencil Rp 4.500,- / KK Kepala Keluarga yang berdomisili di pulau terpencil Rp 10.000,- / KK

4.

5.

Berdasarkan data yang diperoleh pada tahun 2002, jumlah desa/kelurahan di Indonesia sebanyak 62.806 desa. Jika diasumsikan bahwa jumlah penduduk setiap desa/kelurahan sebanyak 1.500 orang, dengan jumlah rata-rata Kepala Keluarga sebanyak 500 orang, maka jumlah anggaran yang dibutuhkan adalah 31.403.000 KK dikalikan dengan rata-rata parameter satuan biaya per KK sebesar Rp. 5.000,- adalah Rp. 157.015.000.000,-. Untuk Provinsi Sulawesi Selatan, jumlah desa pada tahun 2002 tercatat sebanyak 1.964 Desa. Jika digunakan asumsi yang sama, maka jumlah Kepala Keluarga sebanyak 982.000 KK. Dengan demikian, jumlah anggaran yang dibutuhkan sebesar Rp. 4.910.000.000,-. Mengingat besarnya anggaran yang dibutuhkan, maka diperlukan kerja sama pembiayaan antara Pemerintah Pusat (APBN) dan Pemerintah Daerah (APBD) dalam pelaksanaan kegiatan Pendataan PNF ini. PELAKSANAAN PENDATAAN PNF A. Persiapan Langkah-Langkah yang ditempuh dalam tahap persiapan pendataan adalah sebagai berikut: 1. Penyusunan dan Pencetakan Instrumen Pendataan PNF, dilaksanakan oleh Ditjen PNFI bekerjasama dengan PSP Balitbang Depdiknas; 2. Sosialisasi Program Pendataan PNF kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat Provinsi, dilaksanakan oleh Ditjen PNFI; 3. Sosialisasi Program Pendataan PNF kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat kabupaten/ Vol.2 No.1. 2008

6. 7.

kota, dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Provinsi bekerjasama dengan BPPNFI; Sosialisasi Program Pendataan PNF kepada seluruh pemangku kepentingan di tingkat kecamatan dan desa, dilaksanakan oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota; Pe n d i s t r i b u s i a n I n s t r u m e n Pendataan PNF berdasarkan mekanisme pendistribusian yang telah ditetapkan, dilaksanakan secara berjenjang mulai dari tingkat pusat sampai ke tingkat kab/ kota. Penetapan Surat Keputusan Kepala Dinas Pendidikan Kab/Kota tentang Petugas Pendata PNF; Pembekalan Petugas Pendata dan pendistribusian instrumen dan logistik Pendataan PNF oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota;

B. Pelaksanaan Langkah-Langkah yang ditempuh dalam tahap pelaksanaan pendataan adalah sebagai berikut: 1. Pengumpulan data PNF berdasarkan Instrumen Pendataan PNF yang telah ditetapkan, dilakukan oleh Petugas Pendata PNF yang telah ditunjuk oleh Dinas Pendidikan Kab/Kota; 2. Pembinaan dan Pemantauan pelaksanaan pendataan, dilakukan secara berjenjang oleh organisasi pendataan PNF sebagaimana diatur dalam mekanisme koordinasi antar lembaga; 3. Pengembalian hasil pengisian Instr umen Pendataan PNF, dilakukan secara ber jenjang oleh organisasi pendataan PNF sebagaimana diatur dalam mekanisme pengembalian hasil pengisian instrumen; 4. Pengolahan dan pendistribusian data PNF secara ber jenjang berdasarkan mekanisme pengelolaan dan pendistribusian data PNF; C. Tindak Lanjut

108

Andragogi

Pendataan PNF Berbasis Kepala Keluarga ....

Langkah-Langkah yang ditempuh dalam tahap tindak lanjut pendataan adalah sebagai berikut: 1. Pemutakhiran data PNF secara berkala, minimal satu kali dalam setahun, dilakukan secara berjenjang dengan memanfaatkan organisasi pendataan PNF; 2. Melakukan evaluasi, perbaikan dan pengembangan terhadap hasil pelaksanaan pendataan serta mekanisme pendataan PNF yang telah ada, dalam rangka mencapai hasil yang lebih baik. BAB V PENUTUP Data merupakan masukan yang berharga dalam menyusun kebijakan, tidak terkecuali kebijakan di bidang pendidikan, khususnya pendidikan non formal dan informal. Penyediaan data yang cepat, tepat dan akurat untuk mendukung pembangunan di bidang pendidikan non formal dan informal akan membutuhkan sumber daya yang sangat besar. Akan tetapi, meneruskan pembangunan pendidikan non formal dan informal tanpa adanya kejelasan basis data yang memadai akan membutuhkan sumber daya yang jauh lebih besar. Olehnya itu, urgensi penyediaan data pendidikan non formal dan informal yang memadai merupakan kebutuhan yang sangat mendasar. Model Pendataan PNF berbasis Kepala Keluarga merupakan wujud tanggung jawab BPPNFI Regional V Makassar sebagai lembaga yang berdasarkan Permendiknas No. 28 Tahun 2007, diamanatkan untuk melaksanakan pengumpulan, pengolahan, penyajian, dan pemutakhiran data PNFI. Melalui penyusunan model ini, BPPNFI Regional V bermaksud memberi kontribusi pemikiran sebagai bahan pertimbangan kebijakan di tingkat Ditjen PNFI dalam rangka meningkatkan ketersediaan data PNF di masa yang akan datang.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

109

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

Tinjauan Teoritis dan Praktis Evaluasi Pelaksanaan Program PNF Melalui Monev Pada BPPLSP Regional V Makassar
Oleh Juwanita Sahid, S.Sos., M.Si Abstrak, Dalam mendukung kebijakan Direktoral Jenderal Pendidikan Luar Sekolah untuk mengetahui sejauhmana tingkat capaian program dan sasaran, BPPLSP Regional V Sebagai UPT Depdiknas di bidang PNF memiliki fungsi melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap praktek penyelenggaraan pendidikan non formal di wilayah kerjanya. Kegiatan pemantauan dan evaluasi ini, dilakukan terhadap penyelenggara PNF oleh berbagai mitra terkait. Kegiatan pemantauan dan evaluasi itu sendiri akan mencakup program PNF dan kinerja lembaga serta aspek lain yang relevan. Pelaksanaan kegiatan dan pemanfaatan dana progran PNF di daerah perlu dipantau agar sesuai dengan tujuan yang direncanakan. Pemantauan ditujukan untuk memastikan ketepatan penerimaaan dana, ketepatan waktu penyaluran dana dan ketepatan pemanfaatan dana. Hasil pemantauan digunakan untuk mengidentifikasi dan mengantisipasi sedini mungkin hambatan/kendala atau penyimpangan yang terjadi, serta menjadi acuan perencanaan dan penyusunan program pada Latar Belakang Direktorat Jenderal Pendidikan Luar Sekolah pada tahun 2006 telah mengalokasikan dana dekonsentrasi cukup besar yang diperuntukkan bagi sejumlah kegiatan pendidikan luar sekolah melalui program keaksaraan fungsional, budaya baca dan taman bacaan masyarakat, wajib belajar pendidikan dasar kesetaraan, pendidikan anak usia dini, kursus/life skills, pendidikan berwawasan gender yang dilaksanakan pada UPT/UPTD di seluruh provinsi dan kabupaten/kota di Indonesia. BPPLSP Regional V Makassar sebagai UPT pusat, telah memfasilitasi penyaluran dana Block grant PLS berjumlah 14 Milyar lebih pada tahun 2006 dan pada 2007 berjumlah 39 milyar lebih, sehingga sangat di mungkinkan adanya pengawasan terhadap efektivitas pemanfaatan dana block grant sesuai prosedur yang telah ditetapkan . Dalam rangka mendukung kebijakan direktoral jenderal pendidikan luar sekolah untuk mengetahui sejauhmana tingkat capaian program dan sasaran, BPPLSP Regional V Sebagai UPT Depdiknas di bidang PNF memiliki fungsi melaksanakan pemantauan dan evaluasi terhadap praktek penyelenggaraan pendidikan non formal di wilayah kerjanya. Kegiatan pemantauan dan evaluasi ini, dilakukan terhadap praktek penyelenggaraan PNF oleh berbagai mitra terkait. Kegiatan pemantauan dan evaluasi itu sendiri akan mencakup program PNF dan kinerja lembaga serta aspek lain yang relevan. Pelaksanaan kegiatan dan pemanfaatan dana oleh SKB/UPTD perlu dipantau dan dibina agar dapat mencapai tujuan yang direncanakan. Pemantauan ditujukan untuk memastikan ketepatan penerimaaan dana, ketepatan waktu penyaluran dana dan ketepatan pemanfaatan dana. Hasil pemantauan digunakan untuk mengidentifikasi dan meng antisipasi sedini mungkin hambatan/kendala atau penyimpangan yang terjadi, serta menjadi acuan perencanaan penyusunan program pada tahun-tahun mendatang. Rumusan Masalah Guna memperoleh data dan informasi yang akurat dan komprehensif untuk memastikan efesien dan efektivitas pelaksanaan program PNF sangat dibutuhkan pendekatan monev yang tepat. Pelaksanaan pemantauan dan evaluasi yang dilaksanakan pada sejak tahun 2004 s.d 2005 masih menggunakan menggunakan metolodogi pengumpulan data yang bersifat evaluatif yang sangat tergantung subyektifitas dari petugas monev(evaluator). Pendekatan evaluasi tersebut yang didasarkan atas penilaian terhadap aspek-aspek fisik dan daya serap, yang dilakukan secara periodik. Diperlukan metode evaluasi/ monev yang lebih patisipatif, terutama pengembangan program PNFke depan. Kajian Teoris dan Praktis Monitoring dan Evaluasi Program

110

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

Kajian Teoritis Monitoring dan Evaluasi Monitoring is the continuous assessment of the intervention an its environment. It takes place at all levels of management and uses both formal reporting and informal communications. ….Casely & Kumar 1987 Monitoring yang dilakukan dengan metode pengumpulan dan analisis informasi secara teratur. Kegiatan ini dilakukan secara internal untuk menilai apakah masukan sudah digunakan, apakah dan bagaimana kegiatan dilaksanakan, dan apakah keluaran dihasilkan sesuai rencana. Monitoring berfokus secara khusus pada efesiensi. Sumber data yang penting untuk verfikasi pada tingkat kegiatan dan keluaran yang umumnya merupakan dokumen internal seperti laporan tahunan/ triwulan dsb… Monitoring meliputi kegiatan mengamati/ meninjau kembali/mempelajari dan kegiatan menilik (mengawasi), yang dilakukan secara terus menerus atau berkala olah siapa saja yang merasa berkepentingan terhadap program di setiap tingkatan pelaksanaan kegiatan, untuk memastikan kegiatan yang ditargetkan berjalan sesuai rencana. Pemantauan dilakukan agar kegiatan dapat mencapai tujuannya secara berdaya guna dan berhasil guna dengan tersedianya umpan balik pengelola program di setiap tingkatan. Sumber data yang penting untuk ditinjau adalah alat verifikasi di tingkat keluaran dan tujuan yang umumnya bersifat internal dan eksternal. Monitoring dilakukan 2 cara yaitu ; 1. Melalui kunjungan lapangan (field visits) Melalui laporan kemajuan yang di peroleh dari laporan di penanggung jawab kegiatan dengan persentase target dan realisasi daya serap dana serta persentase targe dan realisasi kemajuan kegiatan. 2. Sedangkan telaan Kaji Ulang, yaitu menilai apakah kegiatan elah menghasilkan keluaran sesuai rencana dan apa dampak keluaran telah membantu tercapainya tujuan program. “telah ulang “ di sebut sebagai evaluasi. Menurut Ralph Tyler (1950) bahwa evaluasi program adalah proses untuk mengetahui apakah tujuan pendidikan sudah dapat direalisasikan .

Cronbach, 1982 dalam Evaluasi Program Pendidikan mengemukakan bahwa meskipun evaluator atau petugas monev menyediakan informasi, evaluator bukanlah pengambil keputusan tentang suatu program. Menurut Arikunto dan Safruddin ( 2004) Dalam Evaluasi Program Pendidikan bahwa sebuah kegiatan harus dirancang khusus supaya tujuan dapat dicapai dengan baik, dan untuk mengetahui seberapa jauh atau bagian mana dari tujuan yang sudah dan belum , serta apa penyebabnya , perlu adanya evaluasi program. Dalam banyak kasus dalam lingkup pendidikan evaluasi program disamartikan dengan supervisi yang dalam pendidikan non formal dikenal dengan Bintek yaitu mengadakan peninjaun untuk memberikan pembinaan. Sehingga sangatlah tepat jika evaluasi program adalah langkah awal sebelum melakukan bintek agar data yang dikumpulkan tepat , sehingga bahan binteknya juga tepat sasaran. Kegiatan evalausi merupakan proses penyempurnaan kegiatan-kegiatan yang berjalan,membantu perencanaan, menyesuaiakan program dan pengambilan keputusan selanjutnya. Dalam melakukan evaluasi, dalam instrument hendaknya kegiatan yang dinilai mampu menjawab 3 hal, What= apa yang dilaksanakan, Who siapa sasarannya, How= bagaimana melaksanakannya Dan ada 3 komponen yang perlu diidentifikasi yaitu tujuan, pelaksana dan prosedur pelaksanaan (Arikunto dan Safruddin Dalam Evaluasi Program Pendidikan, 2004). Selanjutnya harus dapat di tentukan “ standar” dan “indikator” dalam penilaian. Standar penilaian dapat dilakukan secara kuantitaf dan kualitatif. Ada beberapa model evaluasi program yang dikemukakan Arikunto dan Safruddin Dalam Evaluasi Program Pendidikan, (2004): 1. Goal Oriented Evaluation Model Oleh Tyler , dimana evaluasi dilaksanakan secara berkesinambungan dan terus menerus terhapdap tujuan yang akan dicapai. 2. Goal Free Evaluation Model Oleh Michael Scriven, tidak terlalu berfokus pada tujuan khusus tetapi pada tujuan umum kegiatan dan bagaimana proses pelaksananya. 3. Formatif-Summatif Evaluation Model. Oleh Michael Scriven, evaluasi pada program berjalan dan ketika program selesai.

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

111

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

4.

5.

6.

7.

Countenance Evaluation Model. Oleh Stake dan Fernander(1984), mengidentifikasi konteks, proses dan outcomes dalam sebuah matriks deskriptif-pertimbangan CSE-UCLA Evaluation Model. Oleh Fernande(1984), model ini dibagi 4 tahap yaitu need assessment, program planning , formative evaluation, summative evaluation CIPPO Evaluation Model. Oleh Stuffebeam dan kawan-kawan (1967) yaitu pendekatan konteks, input, proses dan prodOleh uct/ outcomes. Discrepancy /kesenjangan-model.Oleh Malcolm Provus, yang menekankan pada pandangan adaya kesenjangan dalam pelaksanaan program.

Ketepatan penentuan Model Evaluasi Ketepatan penentuan model evaluasi sangat terkai apakah program tersebut adalah program pemrosesan, program layanan ataukah program umum. Bagaimana membuat rancangan evaluasi ? Meliputi Judul kegiatan,alasandilaksanakan, tujuan, Pertayaan evaluasi, metodologi yang digunakan, serta prosedur dan langkah-langkah kegiatan. Disamping itu pula perlunya mencantumkan tabel hubungan antar komponen-indikatorsumberdata-metode-instrumen, serta kisi-kisi penyusunan instrumen dan dibagian akhir disertai dengan Plan Of Operation (plan-of) berupa bagan mengenai rinciandan urutan semua kegiatan dalam bentuk bagan (dalam seminggu). Beberapa Pendekatan Praktis Pendekatan Need Assessment Dalam pendekataan Need Assessment sangat berguna dalam perencanaan evaluasi program. Menurut Kaufman dan English dalam Arikunto dan Safruddin Dalam Evaluasi Program Pendidikan( 2004) bahwa perlunya menekankan analisis kebutuhan didalam menyelesaikan masalah-masalah pendidikan. Didalam ensiklopedia evaluasi yang disusun oleh Anderson dan kawan-kawan , analisis kebutuhan diartikan sebagai suatu proses kebutuhan sekaligus menentukan prioritas. Dalam konteks pendidikan kebutuhan dimaksud diartikan sebagai suatu kondisi yang memperlihatkan adanya kesenjangan antara kenyaataan yang ada dengan kondisi yang diharapkan. “Kebutuhan” diartikan sebagai jarak antara keluaran yang nyata dengan keluaran yang diinginkan. Penilaian kebutuhan

secara objektif dan secara subjektif. Tujuan pelaksanaan evaluasi untuk perbaikan tercapainya keberhasilan suatu kegiatan; pengusulan/seleksi kegiatan dan penilaian keberhasilan program. Penilaian kiner ja yang ditetapkan hendaknya menjadi alat evaluasi dalam menilai kinerja suatu UPTD dengan membadingkan dengan indikator kinerja dan sasaran kinerja yang direncanakan dengan realisasi, selain harus mengidentifikasikan indikator dan sasaran kinerja yang tepat, dapat diukur, jelas dan mengambarkan kinerja program PNF .Indikator kinerja diharapkan menghasilkan data atau informasi yang tepat waktu, relevan, obyektif dan transparan. Menggunakan indikator yang disepakati dan ditetapkan bersama, diharapan memudahkan kegiatan monev , sehingga tidak lagi penilaian bersifat subyektif, karena telah ditetapkan indikator dan ukurannya serta tidak menimbulkan interpretasi ganda. Data yang diperoleh pada proses monitoring memberi dasar analisis evaluasi. Penilaian mencakup dampak positif dan negatif dalam jangka pendek dan jangka panjang setelah selesainya pelaksanaan program. Menurut Arikunto dan Safruddin ( 2004) Dalam Evaluasi Program Pendidikan bahwa evaluasi adalah kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang sesuatu, yang selanjutnya infor masi tersebut digunakan untuk menentukan alternatif yang tepat dalam mengambil suatu keputusan. Pendekatan Par tisipatif Pemberdayaan dan

Monitoring dan evaluasi par tisipasif mensyaratkan keterlibatan masyarakat dalam beberapa langkah : 1. Merumuskan bidang-bidang apa yang akan dipantau dan dievaluasi 2. Memillih indikator untuk monev 3. Merancang sistem pengumpulan data 4. Menyusun dan mentabulasikan data 5. Menganalisis hasil 6. Menggunakan informasi monitoring dan evalausi Proses monev par tisipatif pada h a ke k a t n y a a d a l a h p r o s e s p e n i l a i a n secara partisipatif. Kelompok Masyarakat

112

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

mengumpulkan data mengenai hal-hal kunci dalam kehidupan dan lingkungan mereka dan ikut serta meninterpretasikan dan menganalisis hasilnya. Disadari monev adalah sub sistem dari keseluruhan sistem pengelolaan program dan merupakan suatu kesatuan yang utuh dan berkesimambungan dari pelaksanaan prog ram deng an pola pemberdayaan masyarakat. Pemberdayaan mer upakan upaya menstranfor masikan kesadaran masyarakat, sehingga masyarakat mau dan mampu mengambil bagian secara aktif untuk mendorong terjadinya perubahan. Pemberdayaan harus didasarkan pada prinsip keberpihakan kepada masyarakat marjinal, sehing ga siharapkan dapat ditemukan pemecahan masalaha untuk mengubah posisi mereka. Pendekatan pemberdayaan yang dibangun diharapkan dapat menjawab kebutuhan paktis dan strategis (jangka pendek dan jangka panjang). Langkah-langkah dalam evaluasi partisipatif ; 1. Semua yang terlibat dalam suatu program harus merumuskan secara bersama untuk menggunakan pendekatan partisipatif 2. Merumuskan dengan tegas apa tujuan evaluasi 3. Setelah disepakati tujuan evaluasi, jika diperkakas selanjutnya memilih satu kelompok “Koordinator evaluasi” untuk dengan cermat mengorganisir semua tujuan evaluasi 4. Mer umuskan suatu metode untuk pencapaian tujuan evaluasi 5. Bagaimana, kapan, dimana, siapa yang terlibat untuk melaksanakan evaluasi. 6. Setiap yang terlibat harus cakap (semakin memahami metode semakin mudah melaksanakan) 7. Pengumpulan fakta dan informasi 8. Analisis data dan informasi 9. Hasil analisis tertulis atau dalam bentuk visual 10. Bagaimana hasil-hasil evaluasi digunakan untuk dapat meningkatkan relevansi dan guna program Indikator Kinerja Pendidikan Nasional Pemantauan dan evaluasi dilakukan

terhadap kinerja satuan organisasi pengelola dan penyelenggara pendidikan yang mencakup aspek teknis, administrasi dan pengelolaan kegiatan dan/ atau program pendidikan tersebut. Pemantauan dan evaluasi yang dilakukan pada hakekatnya untuk mengukur kesesuaian pencapaian indikator kinerja atau target kerja yang ditetapkan dalam rencana jangka menengah (2005-2009) dengan target yang dapat dicapai melalui strategi pelaksanaan tertentu. Oleh sebab itu, indikator kinerja yang digunakan memiliki kriteria yang berlaku spesifik, jelas, relevan, dapat dicapai, dapat dikuantifikasikan, dan dapat diukur secara obyektif serta fleksibel terhadap perubahan/penyesuaian. Mengingat bidang pendidikan mempunyai program pembangunan pendidikan yang beragam, maka indikator kinerja yang diukur dapat bersifat fisik (misalnya: pembangunan prasarana dan sarana fisik, angka partisipasi, angka mengulang kelas, dan angka putus sekolah) maupun nonfisik, misalnya, peningkatan nilai UN, serta kecerdasan dan perilaku peserta didik. Berdasarkan sifat dari masing-masing jenis indikator kinerja maka diperlukan cara dan alat ukur yang berbeda sesuai dengan sifat dan bentuk indikator yang akan diukur. Dalam Renstra Depdiknas 2005-2009 dijelaskan bahwa Program dan/atau kegiatan pendidikan yang baik memiliki lima kriteria yang bisa disingkat dengan SMART (Specific, Measurable, Achievable, Realistic, Timebound). Kriteria tersebut dapat digunakan sebagai dasar dalam mengembangkan indikator kinerja pendidikan yang terukur dan yang dapat dicapai sebagai target/sasaran masing-masing program. Secara umum, terdapat empat jenis indikator kinerja yang biasa digunakan sebagai acuan dalam pemantauan dan evaluasi atau pengukuran kinerja organisasi, yaitu: 1. Indikator masukan, yang mencakup antara lain kurikulum, siswa, dana, sarana dan prasarana belajar, data dan informasi, pendidik dan tenaga kependidikan, gedung sekolah, kelompok belajar, sumber belajar, motivasi belajar, kesiapan anak (fisik dan mental) dalam belajar, kebijakan dan peraturan serta perundang-undangan yang berlaku. 2. Indikator proses, yang meliputi antara lain lama waktu belajar, kesempatan mengikuti pembelajaran, lama mengikuti pendidikan,

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

113

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

3.

4.

jumlah yang putus sekolah, efektivitas pembelajaran, mutu proses pembelajaran, dan metode pembelajaran yang digunakan. Indikator keluaran, yang terdiri antara lain jumlah siswa yang lulus atau naik kelas, nilai-rata-rata ujian, mutu lulusan yang naik kelas, dan jumlah siswa yang menyelesaikan pembelajaran/naik kelas berdasarkan jenis kelamin. Indikator dampak, yang antara lain berupa kemampuan/jumlah siswa yang melanjutkan sekolah, jumlah siswa yang bisa bekerja di perusahaan atau usaha mandiri, jumlah angkatan kerja berdasarkan tingkat pendidikan, dan pengaruh para lulusan terhadap mutu angkatan kerja/lingkungan sosial, peran serta siswa dalam pembangunan lingkungan dan pengaruh atau peran lulusan pendidikan dan pelatihan terhadap kehidupan masyarakat secara luas.

Indikator kinerja yang diukur dalam pemantauan dan evaluasi meliputi tiga tema kebijakan nasional pendidikan, yang selanjutnya diklasifikasi dalam lima aspek. Lima aspek tersebut yaitu: perluasan, pemerataan, mutu dan daya saing, relevansi, dan governance dan pencitraan publik. Dari lima aspek tersebut diuraikan menjadi indikator kunci/prioritas untuk mengukur keberhasilan dalam mencapai target Renstra Depdiknas 2005-2009. Usaha Menemukan Pendekatan Evaluasi Program PNF Mengawali tahun 2007 sebagai tahun ketiga penerapan anggaran berbasis kinerja memerlukan perencanaan program yang tepat, jelas dan terukur guna pencapaian tugas pokok dan fungsi secara efektif, efesien dan produktif. Kejelasan arah kebijakan dan program menjamin setiap unsur pelaksana program di lapangan mampu merencanakan dan melaksanakan tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan oleh pengambil keputusan. Prioritas Program BPPLSP Regional V Pada tahun 2007 , salah satu pilar yang diprioritaskan adalah pengembangan kelembagaan dan manajemen pelayanan pendidikan. Adapun target yang akan dicapai pengembangan mutu, kinerja dan fasilitasi SKB dan BPKB Se Regional V. Berdasarkan SK Mendiknas 041/O/2005, salah fungsi yang diemban BPPLSP Regional V adalah melaksanakan pemantauan dan evaluasi

program PLS. Dalam implementasinya, pelaksanaan Pemantauan dan Evaluasi Program PNF Pada Tahun 2006 masih menggunakan pendekatan evaluatif yang masih bersifat subjektif, sehinggga hasil rekomendasi yang diharapakan belum maksimal. Adapun kesimpulan hasil pengolahan data sebagai hasil dari pemantauan dan evaluasi program tahun 2006 telah ditetapkan penilaian kinerja terhadap 31 Lembaga yang merekomendasikan penetapan alokasi anggaran block grant PLS tahun 2007. Penetapan Penilaian Kinerja Pada 31 Lembaga menghasilkan tiga tipe penilaian kinerja antara lain; a. Tipe A (Kategori sangat Baik) ; b. Tipe B (Kategori Baik); c. Tipe C (Kategori Cukup); Hasil rekomendasi menyimpulkan bahwa perlunya pembenahan lebih maksimal terhadap kinerja BPKB/SKB yang dinilai dengan kategori C .Pembenahan yang dimaksud terkait dengan aspek manajemen,pelaksanaan program PNF yang meliputi Penyelenggaraan Program PAUD, Pendidikan Kesetaraan, Pendidikan Keaksaraan dan Penyelenggaraan Life Skill. Pada Tahun 2007 BPPLSP Regional V menyalurkan dana Block grant dengan nilai mencapai 39 Milyar lebih yang diperuntukkan bagi; Pengembangan Kesetaraan Pendidikan dasar, Block Grant Lembaga, Bantuan Imbal Swadaya Lembaga dan Bantuan Sabak bagi BPKB serta SKB. Persentase penyaluran dana block grant semakin meningkat setiap tahun, diharapkan mampu meningkatkan kinerja dan pengembangan UPTD khususnya di wilayah kerja BPPLSPRegional V , sehingga diharapkan dapat mendukung pengembangan program PNF di lingkungan Ditjen PLS Depdiknas. Salah satu Program yang dikembangkan Ditjen PLS pada tahun 2007 oleh Penguatan Organisasi & Manajemen yang salah satu komponennya adalah Manajemen, yang dalam aplikasi terkait dengan perencanaan, operasional,kontrol , monitoring dan evaluasi termasuk didalamnya penilaian berbasis kinerja. Penguatan manajemen terkait dengan

114

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

monitoring dan evaluasi sangat terkait dengan uapaya membangun prinsip berdasarkan efisiensi dan efektivitas fungsi pengendalian dan kontrol pemerintah pusat, serta manajemen daerah daerah otonom. Prinsip yang di kembangkan bahwa pelaksanaan monitoring berorientasi pada manfaat, khususnya untuk masyarakat/ sasaran PNF, efektif dan efesien serta Sustainable. Bergulirnya reformasi menutut adanya perubahan signifikan, desain program yang “mekanis, top down dan focus kepada pengembangan makro ekonomi”. Kepada desain pembangunan dengan pendekatan “ dinamis,partisipatif, dan focus kepada pemberdayaan masyarakat. Majchrzak(1984) Dalam Ringkasan Eksekutif Kajian Sosial Pengembangan W i l ay a h G e g e B a g e ( 2 0 0 2 ) , Pe r l u n y a dikembangkan 2 pendekatan yaitu Policy Research (penelitian kebijakan) dan Action Research. Policy Research merupakan sebuah proses penelitian atau analisis yang dilakukan terhadap masalah-masalah sosial mendasar, sehingga temuan-temuan dalam analisanya dapat direkomendasikan kepada pembuat keputusan untuk bertindak secara praktis dalam menyelesaikan masalah . Salah metode yang diterapkan yaitu metode partisipatory atau focus group disscusion (FGD). Metode sangat tepat guna mendapatkan data dan informasi yang akan sangat berguna pada tahap perencanaan program nantinya karena dapat menjaring informasi dan aspirasi masyarakat yang sesungguhnya. Beberapa pendekatan diatas tidak dimaksudkan menggantikan metode-metode monitoring dan evaluasi konvensional yang seringkali menjadi metode yang lebih tepat dan efektif, seiring dengan tuntutan penerapan anggaran berbasis kinerja yang tidak hanya berbasis pada output/hasil yang dicapai berupa persentase daya serap fisik dan keuangan saja tetapi pada outcome/masukan yang lebih beroriensi dampak suatu program bagi target sasaran PNF agar betul-betul dapat tepat sasaran dan berhasilguna. Penetapan metodologi dan penyusunan instrumen monev untuk tahun 2007 yang dilaksanakan tim penyusun instrumen BPPLSP Regional diharapkan dapat mengkaji lebih

jauh pendekatan evaluatif partisipatory , yaitu berusaha mengembangkan teknik pengumpulan data kualitatif dengan menggunakan pendekatan FGD. Disadari bahwa instrumen pada tahun sebelumnya tidak mampu menjaring data dan informasi guna mendukung pengembangan PNF berbasis need assessment dan partisipatory. Padahal data riil berada pada tatanan “roof ” yaitu masyarakat umum, khususnya warga belajar ataupun peserta didik. Penilaian yang ditetapkan berdasarkan skala penilaian (1-5) belum mampu mengukur sejauh mana kinerja suatu lembaga seacra objektif karena memungkinkan data yang terkumpul sangat tergantung subyektivitas evaluator/petugas monev. Terdapat kritikan yang ditujukan atas hasil monev tahun 2006, karena pihak lembaga yang dinilai meragukan penilaian peugas sehingga dilakukan verifikasi ulang menjadi suatu pelajaran yang bermanfaat. Laporan monev yang dihasilkan tidak dapat menjelaskan kendala dan hambatan dalam proses penyelenggaraan , serta tidak dapat memberikan rekomendasi yang memungkinkan peningkatan kinerja layanan PNF di tingkat BPKB dan SKB. Dengan pendekatan baru ini memungkinkan partisipasi masyarakat yang merupakan pelanggan yang menerima layanan PNF untuk turut menilai dan memungkinkan memetakan analisis kebutuhan yang memungkinkan pengembangan program PNF ke depan. Prinsip-prinsip Pelaksanaan monitoring dan evaluasi kebijakan perlu didasarkan pada kejujuran, motivasi dan keinginan yang kuat dari prinsip-prinsip dalam pelaksanaan monitoring dan evaluasi, sebagai berikut : 1. Objektif dan profesional, Pelaksanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara profesional berdasarkan analisis data yang lengkap dan akurat agar menghasilkan penilaian secara objektif dan masukan yang tepat terhadap pelaksana kebijakan penanggulangan kemiskinan. 2. Transparan , Pelakasanaan monitoring dan evaluasi dilakukan secara terbuka dan dilaporkan secara luas melalui berbagai media media yang ada agar masyarakat dapat mengakses dengan mudah tentang informasi dan hasil kegiatan monitoring dan evaluasi. 3. Partisipasif , Pelaksanaan kegiatan monitoring

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

115

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

4. 5.

6.

dan evaluasi harus dapat dipertangungjawab secara internal maupun eksternal Akuntabel, Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dapat dipertangungjawab. Tepat Waktu, Pelaksanaan monitoring dan evaluasi harus dilakukan sesuai dengan yang dijadwalkan, secara berkesinambungan agar dapat dimanfaatkan sebagai umpan bagi penyempurnaan kebijakan. Berkesimambungan, pelaksanaaan monitoring dan evaluasi harus dilakukan berkesimbungan agar dapat dimanfaatkan sebagai umpan balik secara berkesimambungan agar dapat dimanfaatkan sebagai umpan bagi penyempurnaan kebijakan.

Menurut Prof Sudjana dalam Pendidikan Non Formal (Nonformal Education) Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Asas(2004), bahwa Proses penyusunan kebijakan pendidikan non formal yang berorientasi ke masa depan, dapat dilakukan sebagaimana dikemukakan Meyer dan Greenwood (1980), melalui langkah –langkah sebagai berikut : (1) Menetapkan tujuan umum, (2) menilai Kebutuhan, (3) menyusun tujuan khusus (objectives), (4) Merancang kegiatan alternatif ,(5) memperkirakan konsekuensi kegiatan alternatif ,(6) memilih dan menetapkan komponen-komponen kegiatan alternatif ,(7) melaksanakan kegiatan, (8) mengevaluasi pelaksanaan , dan (9) mengkaji umpan balik. Sudjana selanjutnya mencoba memadukan 2 model perencanaan yaitu perencanaan jangka panjang (The Long Range Planning) dan Pengamatan Lingkungan (Environmental Scanning), melahirkan suatu model Perencanaan Strategis ( The Strategic Planning). Menurut Marrison, Renfro dan Boucher( 1984) menjelaskan bahwa Perencanaan Strategis dilakukan melalui enam tahap kegiatan yaitu : (1) mengamati arah perubahan lingkungan secara menyeluruh yang beraitan dengan misi dan fungsi lembaga, (2) mengevaluasi arah perubahan lingkungan, (3) memperkirakan arah perubahan yang diharapkan lembaga, (4) menetapkan tujuan-tujuan dan kegiatan untuk mencapai tujuan , melaksanakan program/kegiatan untuk mencapai tujuan dan (6) memantau perubahan yang diharapkan dan hasilnya digunakan baik untuk justifikasi rencana maupun untuk masukan bagi perencanaan berikutnya. Penutup

Prioritas Program BPPLSP Regional V Pada tahun 2007 , salah satu pilar yang diprioritaskan adalah peng embang an kelembagaan dan manajemen pelayanan pendidikan. Adapun target yang akan dicapai pengembangan mutu, kinerja dan fasilitasi SKB dan BPKB Se Regional V. Dalam rangka menemukan pendekatan monev yang tepat, Monitoring dan evaluasi harus dilihat sebagai sub sistem dari keseluruhan sistem pengelolaan program. Upaya yang ditempuh oleh memperkuat kapasitas kelembagaan UPTD/SKB dan BPKB dalam monitoring dan evaluasi pelaksanaan program PNF adalah : 1. Membangun sistem monitoring dan evaluasi yangg terpadu 2. Melaksanakan pengumpulan, pengolahan dan penyajian informasi secara regular sehing ga menghasilkan data yang komperehesif dan berkesinambungan 3. Metodologi Pengumpulan Data yang digunakan hendaknya lebih partisipatif dan penyusunan instrumen hendaknya lebih banyak pertayaan terbuka sehingga memungkinkan memperoleh data yang lebih dalam. Mengawali tahun 2007 sebagai tahun ketiga penerapan anggaran berbasis kinerja memerlukan perencanaan program yang tepat, jelas dan terukur guna pencapaian tugas pokok dan fungsi secara efektif, efesien dan produktif. Kejelasan arah kebijakan dan program menjamin setiap unsur pelaksana program di lapangan mampu merencanakan dan melaksanakan tugas sesuai dengan standar kinerja yang ditetapkan oleh pengambil keputusan. Dalam pelaksanaan evaluasi program PNF diharapkan senantiasa penerapkan, penerapan Asas-asas PNF :asas kebutuhan, Pendidikan sepanjang hayat , relevasinya dengan pembangunan masyarakat dan wawasan ke masa depan. Sehingga mendukung pilar governance, akuntabilitas dan pencitraan publik serta mendukung visi BPPLSP Regional V. Daftar Pustaka Anonim. Rencana Strategis Departemen Pendidikan Nasional Tahun 20052009, MenujuPembangunan Pendidikan

116

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

Tinjauan Teoritis dan Praktis ...

Nasional Jangka Panjang 2025 Arikunto, Suharsini dan Safrunddin A.J, Cepi.2004. Evaluasi Program Pendidikan Pedoman Teoritis Praktis Bagi Praktisi Pendidikan. Jakarta: PT Bumi Aksara. Sudjana, D . 2004. Pendidikan Non Formal (Nonformal Education) Wawasan Sejarah Perkembangan Filsafat Teori Pendukung Asas. Bandung. Penerbit Falah Production (http:www.bandung.go.id/images/ragamindo/pengembangan_gedebage) Ringkasan Eksekutif Kajian Sosial Pengembangan Wilayah Gedebage (kantor Litbang dengan LPM-UNPAD Tahun 2002 ) tanggal 7 Juli 2007

Andragogi

Vol.2 No.1. 2008

117

Catatan

You're Reading a Free Preview

Download
scribd
/*********** DO NOT ALTER ANYTHING BELOW THIS LINE ! ************/ var s_code=s.t();if(s_code)document.write(s_code)//-->