You are on page 1of 36

BAB I PENDAHULUAN 1.

1 Latar Belakang Masalah Pada saat ini makin dirasakan betapa pentingnya fungsi bahasa sebagai alat komunikasi. Kenyataan yang dihadapi dewasa ini adalah bahwa, selain ahli-ahli bahasa, semua ahli yang bergerak dalam bidang pengetahuan yang lain semakin memperdalam dirinya dalam bidang teori dan praktek bahasa. Semua orang menyadari bahwa interaksi dan segala macam kegiatan dalam masyarakat akan lumpuh tanpa bahasa. Selain itu bahasa merupakan salah satu faktor pendukung kemajuan suatu bangsa karena bahasa merupakan sarana untuk dapat mengantarkan suatu bangsa untuk membuka wawasannya terhadap ilmu pengetahuan dan teknologi yang berkembang. Begitu pula dalam penulisan karangan ilmiah, bahasa sangat penting untuk pemahaman bagi pembacanya, terutama pada ejaan yang digunakan. Kesalahan dalam penggunaan bahasa baik tata bahasa maupun ejaan (spelling) merupakan suatu kesalahan yang memalukan apalagi di kalangan akademik karena dianggap hal yang tidak santun dalam berbahasa. Ejaan dalam arti khusus adalah pelambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Dalam arti umum ejaan memiliki pengertian keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca. Karena pentingnya kesantunan dalam berbahasa, maka diperrlukan ejaan

yang santun pula. Dalam makalah ini disajikan mengenai kesantunan ejaan dalam berbahasa atau dalam karangan ilmiah.

1.2 Rumusan Masalah 1. Bagaimana pengertian dari ejaan ? 2. Bagaimana fungsi ejaan dalam karangan ilmiah ? 3. Bagaimana cakupan ejaan dalam karangan ilmiah ? 4. Bagaimana penggunaan ejaan dalam karangan ilmiah ? 5. Bagaimana penggunaan tanda baca dalam karangan ilmiah ?

1.3 Tujuan 1. Untuk menjelaskan pengertian ejaan. 2. Untuk manjelaskan fungsi ejaan dalam karangan ilmiah. 3. Untuk manjelaskan cakupan ejaan dalam karangan ilmiah. 4. Untuk manjelaskan kesalahan penggunaan ejaan dalam karangan ilmiah. 5. Untuk manjelaskan penggunaan tanda baca dalam karangan ilmiah.

BAB II LANDASAN TEORI 2.1 Pengertian Ejaan Ejaan dalam arti khusus adalah pelambangan bunyi-bunyi bahasa dengan huruf, baik berupa huruf demi huruf maupun huruf yang telah disusun menjadi kata, kelompok kata, atau kalimat. Dalam arti umum ejaan memiliki pengertian keseluruhan ketentuan yang mengatur perlambangan bunyi bahasa, termasuk pemisahan dan penggabungannya, yang dilengkapi pula dengan penggunaan tanda baca. Sistem ejaan, lazimnya ada tiga aspek, yaitu fonologis, morfologis, dan sintaksis. Secara fonologis ejaan merupakan pelambangan fonem dengan huruf dan penyusunan abjad, pelambangan fonem huruf dari huruf asing ke Indonesia, pelafalan, akronim, punya abjad. Secara morfologis ejaan kata merupakan

pelambangan

satuan-satuan

morfemis:

pembentukan

pengimbuhan,

penggabungan kata, pemenggalan kata, tulisan kata memakai kata asing. Secara sintaksis ejaan merupakan pelambangan ujaran dengan tanda baca, penulisan dan pelafalan frasa, klausa, serta kalimat.

Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia yang Disempurnakan mencakup aturan mengenai pemakaian huruf, pemakaian huruf kapital dan huruf miring, penulisan kata, penulisan unsur serapan, dan pemakaian tanda baca.

2.2 Fungsi Ejaan dalam Karangan Ilmiah 1. Memudahkan pembaca dalam memahami makalah Apabila tidak ada ejaan pembaca tidak akan dapat memahami apa yang disampaikan penulis. 2. Agar tidak terjadi salah pengertian atau salah arti Jika ejaan dalam sebuah kalimat tidak tepat, maka arti kalimat tersebut jadi membingungkan. Sebagai contoh : Kucing makan tikus mati.

Kalimat tersebut menimbulkan makna ambigu. Bisa kucing atau tukusnya yang mati. Kalau hal ini sampai terjadi dalam pembuatan karya ilmiah, maka besar risikonya pemahaman pembaca tidak sejalan dengan maksud penulisnya. 3. Agar kata demi kata bersinambungan atau berhubungan Hubungan antar kata sangatlah penting, karena merupakan syarat utama bagi kalimat agar dapat dimengerti dan dipahami. Agar pembaca juga tahu apa yang dimaksudkan oleh penulis. 4. Dalam aspek morfologis, ejaan berfungsi memberikan arahan bagaimana penulisan berbagai tipe kata dalam konteks kebahasaan. Dalam aspek sintaktis, ejaan memberikan arahan bagaimana pemakaian tanda-tanda baca sebagai cermin ujaran dalam konteks kebahasaan. 5. Dalam aspek fonologis, ejaan berfungsi memberikan arahan bagaimana huruf-huruf yang terdapat dalam abjad dipakai sebagai lambang fonem tertentu dan bagaimana pula penulisannya dalam konteks kebahasaan.

2.3 Cakupan Ejaan dalam Karangan Ilmiah

1. Penulisan Nama a. Nama Diri 1) 2) 3) dipakai untuk menyebut diri seseorang atau nama seseorang dapat diberikan pada nama-nama geografis dipakai juga untuk nama organisasi, lembaga, badan hukum, judul dokumen, dan sebagainya Catatan:

1)

Nama diri ditengarai dengan pemakaian huruf kapital sebagai hurufawal (setiap) kata.

2)

Nama diri dapat dikenali karena: a) bersifat satu-satunya (tidak ada duanya), misalnya Presiden Republik Indonesia, Rumah Sakit Islam Jakarta; b) tidak didahului kata bilangan (satu, dua, dst.; beberapa; seorang, dua orang, dst.; kedua, ketiga, dst.), misalnya dua Gubernus Jawa Barat.Yang benar: Gubernur Jawa Barat dan dua gubernur.

3)

Kata seperti gubernur, presiden, dsb., jika tidak disertai nama orang, tempat, dsb., adalah kata benda (dikenal dengan nama jenis). Penulisannya tidak perlu diawali dengan huruf kapital.

b. Nama Jenis Nama jenis adalah sebutan lain untuk istilah kata benda. Setiap kata yang bukan nama diri disebut kata benda atau nama jenis.

2. Penulisan Kata a. Kata Dasar Kata dasar, yang belum mendapat imbuhan, ditulis sesuai dengan kaidah yang berkaitan, misalnya dengan kaidah pemakaian huruf kapital.

b. Kata Berimbuhan/Kata Turunan


5

Kata berimbuhan adalah kata yang sudah mendapat imbuhan berupa awalan, akhiran, sisipan, dan gabungan dari awalan dan akhiran. Imbuhan dituliskan serangkai dengan kata dasar.

c. Gabungan Kata/Kata Majemuk Gabungan kata dan kata majemuk adalah gabungan dua kata atau lebih yang menyatakan makna khusus. Gabungan kata dan kata majemuk ditulis terpisah, kecuali yang sudah padu benar.

3. Pemakaian Huruf Kapital Huruf kapital digunakan a. pada penulisan nama diri, baik nama orang, nama geografis, nama waktu, nama gelar, nama pangkat, maupun nama-nama lainnya. b. pada penulisan kata ganti penunjuk kekerabatan, yang dipakai sebagai sapaan (untuk orang kedua dan orang ketiga). Tidak digunakan jika kata kekerabatan itu didahului kata bilangan atau diikuti kata ganti milik. c. pada gelar kehormatan, keturunan, keagamaan, dan kepangkatan yang diikuti nama orang. d. pada nama jabatan dan pangkat yang diikuti nama orang. e. pada awal kata--dan setiap unsur katanya, kecuali kata penghubung-untuk nama badan, dokumen resmi, lembaga pemerintah, dan judul karangan, buku, majalah, dan surat kabar.

f. untuk singkatan nama gelar yang diikuti nama orang dan singkatan sapaan, diakhiri dengan tanda titik. g. Beberapa kaidah pemakaian huruf kapital juga berlaku dalam

penulisan kalimat, petikan langsung, dan ungkapan keagamaan.

2.4 Kesalahan Penggunaan Ejaan dalam Karangan Ilmiah

1. DATA KESALAHAN 1. Jurusan Teknologi pendidikan 2. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui (1). Hubungan antara pemahaman Media Belajar dan Pemanfaatan Media Belajar di SMA Negeri di kota Amlapura, 3. (2). Hubungan antara Motivasi Mengajar pada Guru dengan Pemanfaatan Media Belajar di SMA Negeri di kota Amlapura, 4. (3). Kekuatan dan arah hubungan antara tingkat Pemahaman Media Belajar dan Motivasi mengajar para Guru dengan efektivitas Pemanfaatan Media Belajar di SMA Negeri di kota Amlapura. 5. Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri di kota Amlapura, karena populasi penelitian ini sedikit, maka dalam penelitian ini tidak meneliti sampel tetapi meneliti populasi. 6. Metoda pengumpulan data menggunakan kuesioner, tes dan lembaran observasi sedangkan tehnik analisis data yang digunakan adalah tehnik analisis product moment dan tehnik analisis regresi ganda untuk mengetahui hubungan secara bersama-sama antara variabel bebas dengan variabel terikat. 7. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) pemanfaatan media belajar guru SMA Negeri di kota Amlapura berada pada kategori tinggi, (2) pemahaman media belajar guru SMA Negeri di kota Amlapura berada pada kategori tinggi sedang motivasi mengajar guru SMA Negeri di kota Amlapura berada pada kategori sedang.

8. signifikan dengan = 0.954 9. Hubungan bersama-sama antara pemahaman media belajar, motivasi mengajar dengan pemanfaatan media belajar tidak terdapat hubungan yang positif dan signifikan dengan = 0.766. 10. sebesar 0.5 %

2. ANALISIS 1. Kesalahan yang terdapat pada data pertama terletak pada kesalahan penulisan huruf. Mengapa salah? Penulisan nama jurusan yang merupakan institusi, huruf awalnya harus ditulis dengan huruf kapital. Perbaikannya adalah sebagai berikut. Jurusan Teknologi Pendidikan 2. Kesalahan yang terdapat pada data kedua adalah sebagai berikut. - Penggunaan kata untuk - Tidak adanya tanda baca titik dua (:) setelah kata mengetahui. - Tidak adanya tanda baca titik dua (:) - Penggunaan tanda titik (.) setelah (1). - Kesalahan juga terdapat pada penggunaan huruf kapital pada awal kata Hubungan, Media, Belajar, dan Pemanfaatan - Penulisan kota menggunakan huruf kecil pada awal katanya Mengapa salah? - Penggunaan kata untuk menjadikan kalimat tersebut pleonastis. Penggunaan kata bertujuan saja sudah cukup. - Karena kalimat tersebut merupakan kalimat pemerian. - Hal tersebut salah karena pemakaian tanda kurung (( )) saja sudah cukup.

- Kalimat yang mengandung kata-kata tersebut bukan merupakan sebuah judul, jadi sebaiknya digunakan huruf kecil. - Nama tempat/geografis yang langsung diikuti nama tempatnya harus ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. Perbaikannya adalah sebagai berikut. Penelitian ini bertujuan mengetahui: (1) hubungan antara pemahaman media belajar dan pemanfaatan media belajar di SMA Negeri di Kota Amlapura, 3. Kesalahan yang terdapat pada data nomor tiga adalah sebagai berikut. - Penggunaan tanda titik (.) setelah (2). - Kesalahan pemakaian antara dan dengan. - Kesalahan juga terdapat pada penggunaan huruf kapital pada awal kata Hubungan, Motivasi, Mengajar, Guru, Pemanfaatan Media, dan Belajar. - Penulisan kota menggunakan huruf kecil pada awal katanya. Mengapa salah? - Hal tersebut salah karena pemakaian tanda kurung (( )) saja sudah cukup. - Kata antara memiliki pasangan tetap dan. Jadi, kata tersebut tidak cocok dipasangkan dengan kata dengan. - Kalimat yang mengandung kata-kata tersebut bukan merupakan sebuah judul, jadi tidak perlu ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. - Nama tempat/geografis yang langsung diikuti nama tempatnya harus ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. Perbaikannya adalah sebagai berikut. (2) hubungan antara motivasi mengajar pada guru dan pemanfaatan media belajar di SMA Negeri di Kota Amlapura, 4. Kesalahan yang terdapat pada data nomor empat adalah sebagai berikut. - Penggunaan tanda titik (.) setelah (3) . - Kesalahan pada penggunaan huruf kapital pada awal kata Kekuatan, Pemahaman, Media, Belajar, Motivasi, Guru, dan Pemanfaatan.

- Penulisan kota harus diawali dengan huruf kapital karena diikuti nama kotanya. Mengapa salah? - Karena pemakaian tanda kurung (( )) saja sudah cukup. - Kalimat yang mengandung kata-kata tersebut bukan merupakan sebuah judul, jadi tidak perlu ditulis dengan huruf kapital pada awal katanya. - Nama tempat/geografis yang langsung diikuti nama tempatnya harus ditulis dengan huruf kapital. Perbaikannya adalah sebagai berikut. (3) kekuatan dan arah hubungan antara tingkat pemahaman media belajar dan motivasi mengajar para guru dengan efektivitas pemanfaatan media belajar di SMA Negeri di Kota Amlapura. 5. Kesalahan yang terdapat pada data nomor lima adalah sebagai berikut. - Penulisan kota yang diawali dengan huruf kecil. - Kalimat yang panjang dan tidak jelas. - Penggunaan kata dalam. - Penggunaan kata penelitian. Mengapa hal tersebut salah? - Nama tempat/geografis yang langsung diikuti nama tempatnya harus ditulis dengan huruf kapital. - Sebaiknya dijadikan sebuah kalimat baru agar tidak terlalu panjang dan lebih enak dibaca. - Karena ide/gagasan yang dikandung kalimat berikutnya berbeda. Sebaiknya kalimat tersebut dipecah menjadi dua kalimat sehingga batas-batas ide/gagasan dalam kalimat tersebut jelas. Untuk itu tanda koma di belakang Amlapura sebaiknya diganti dengan tanda titik dan kata karena diawali dengan huruf kapital. - Penggunaan kata dalam membuat kedudukan subjek dalam kalimat tersebut menjadi tidak jelas. - Karena yang bisa meneliti adalah peneliti bukan penelitian. Oleh karena itu kata peneltiian sebaiknya diganti dengan penelitian.

10

Perbaikannya adalah sebagai berikut. Populasi penelitian ini adalah guru SMA Negeri di Kota Amlapura. Karena populasi penelitian ini sedikit, maka peneliti tidak meneliti sampel tetapi meneliti populasi. 6. Kesalahan yang terdapat pada data nomor enam adalah sebagai berikut. - Kesalahan penulisan kata metoda. - Setelah kata observasi tidak diisi tanda baca berupa koma (,). - Penulisan tehnik. - Penulisan istilah/kata product moment yang merupakan bahasa asing tidak dicetak miring. - Kesalahan pemakaian antara dan dengan. Mengapa hal tersebut salah? - Kata metoda adalah kata yang tidak baku. Yang baku adalah metode. - Karena ide/gagasan yang dikandung kalimat berikutnya berbeda. Sehingga, dengan penggunaan tanda baca berupa koma (,), batas-batas ide/gagasan tersebut akan menjadi jelas. - Kata tehnik tidak baku. Yang baku adalah teknik. - Kata product moment tersebut merupakan istilah/kata asing. Jadi, seharusnya ditulis dengan huruf miring. - Kata antara memiliki pasangan tetap dan. Jadi, kata tersebut tidak cocok dipasangkan dengan kata dengan. Perbaikannya adalah sebagai berikut. Metode pengumpulan data menggunakan kuesioner, tes dan lembaran observasi, sedangkan teknik analisis data yang digunakan adalah teknik analisis product moment dan teknik analisis regresi ganda untuk mengetahui hubungan secara bersama-sama antara variabel bebas dan variabel terikat. 7. Kesalahan yang terdapat pada data nomor tujuh adalah sebagai berikut. - Penggunaan huruf kecil pada awal kalimat. - Penulisan kota yang diawali dengan huruf kecil. - Kalimat yang rancu.

11

Mengapa salah? - Setiap kata pada awal kalimat harus diawali dengan huruf kapital. - Nama tempat/geografis yang langsung diikuti nama tempatnya harus ditulis dengan huruf kapital. - Kalimat yang rancu bisa menyebabkan pembaca kebingungan. Oleh karena itu kata sedang harus diganti dengan sedangkan dan di depannya diberi tanda baca berupa koma (,) Perbaikannya adalah sebagai berikut. Hasil penelitian ini adalah sebagai berikut. (1) Pemanfaatan media belajar guru SMA Negeri di Kota Amlapura berada pada kategori tinggi, (2) pemahaman media belajar guru SMA Negeri di Kota Amlapura berada pada kategori tinggi, sedangkan motivasi mengajar guru SMA Negeri di Kota Amlapura berada pada kategori sedang. 8. Kesalahan yang terdapat pada data nomor delapan adalah penggunaan tanda titik (.) yang tidak tepat. Mengapa salah? Untuk menyatakan bilangan di bawah satu dengan menggunakan angka nol (0) harus diikuti dengan tanda baca berupa koma (,). Perbaikannya adalah sebagai berikut. signifikan dengan = 0,954 9. Kesalahan yang terdapat pada data nomor sembilan adalah sebagai berikut. - Kalimat yang rancu - Penggunaan tanda titik (.) yang tidak tepat. - Kesalahan pemakaian antara dan dengan. Mengapa salah? - Kalimat yang rancu akan membingungkan pembaca. Sebaiknya kata bersama-sama dihilangkan dan kata terdapat diganti dengan menunjukkan. - Untuk menyatakan bilangan di bawah satu dengan menggunakan angka nol (0) harus diikuti dengan tanda baca berupa koma (,).

12

- Kata antara memiliki pasangan tetap dan. Jadi, kata tersebut tidak cocok dipasangkan dengan kata dengan. Perbaikannya adalah sebagai berikut. Hubungan antara pemahaman media belajar, motivasi mengajar dan pemanfaatan media belajar tidak menunjukkan hubungan yang positif dan signifikan dengan = 0,766. 10. Kesalahan yang terdapat pada data nomor sepuluh adalah penggunaan tanda titik (.) yang tidak tepat. Mengapa salah? Untuk menyatakan bilangan di bawah satu dengan menggunakan angka nol (0) harus diikuti dengan tanda baca berupa koma (,). Perbaikannya adalah sebagai berikut. sebesar 0,5 %

2.5 Penggunaan Tanda Baca dalam Karangan Ilmiah

Apabila dibanding dengan pemakaian huruf, penulisan huruf, penulisan kata, dan penulisan unsur serapan, pemakaian tanda bacalah yang sering salah pakai dalam naskah dinas. Kesalahan ini terjadi karena pemakainya enggan menelaah pedoman ejaan yang ada, meskipun mereka ragu ketika menerapkannya. Tanda baca atau pungtuasi di dalam EYD membicarakan beberapa hal, yaitu : A. Tanda Titik (.) 1. Tanda titik dipakai pada akhir kalimat yang bukan pertanyaan atau seruan. Misalnya:

Ayahku tinggal di Solo. Biarlah mereka duduk di sana.

13

2. Tanda titik dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu 1.2.1.1 bagan, ikhtisar, atau daftar. Misalnya: III. Departemen Dalam Negri A. Direktorat Jendral Pembangunan Masyarakat Desa B. Direktorat Jendral Agraria

Catatan: Tanda titik tidak dipakai di belakang angka atau huruf dalam suatu bagan atau ikhtisar jika angka atau huruf itu merupakan yang terakhir dalam deretan angka atau huruf. 3. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan waktu. Misalnya: pukul 1.35.20 (pukul 1 lewat 35 menit 20 detik) 4. Tanda titik dipakai untuk memisahkan angka jam, menit, dan detik yang menunjukkan jangka waktu. Misalnya: 1.35.20 jam (1 jam, 35 menit, 20 detik) 0.20.30 jam (20 menit, 30 detik)

5. Tanda titik dipakai di antara nama penulis, judul tulisan yang tidak berakhir dengan tanda tanya dan tanda seru, dan tempat terbit dalam daftar pustaka. Misalnya: Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka. 6. Tanda titik dipakai untuk memisahkan bilangan ribuan atau

14

kelipatannya. Misalnya: Desa itu berpenduduk 24.200 orang. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa. 7. Tanda titik tidak dipakai pada akhir judul yang merupakan kepala karangan atau kepala ilustrasi, tabel, dan sebagainya. Misalnya: Acara Kunjungan Adam Malik Salah Asuhan 8. Tanda titik tidak dipakai di belakang (1) alamat pengirim dan tanggal surat atau (2) nama dan alamat penerima surat. Misalnya: Kantor Penempatan Tenaga (tanpa titik) Jalan Cikini 71 (tanpa titik) Jakarta (tanpa titik)

B. Tanda Koma (,) 1. Tanda koma dipakai di antara unsur-unsur dalam suatu perincian atau pembilangan. Misalnya:

Saya membeli kertas, pena, dan tinta. Surat biasa, surat kilat, ataupun surat khusus memerlukan perangko.

15

2. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kalimat setara yang satu dari kalimat setara berikutnya yang didahului oleh kata seperti tetapi atau melainkan. Misalnya:

Saya ingin datang, tetapi hari hujan. Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim.

3. Tanda koma dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mendahului induk kalimatnya. Misalnya:

Kalau hari hujan, saya tidak akan datang. Karena sibuk, ia lupa akan janjinya.

4. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan anak kalimat dari induk kalimat jika anak kalimat itu mengiringi induk kalimatnya. Misalnya:

Saya tidak akan datang kalau hari hujan. Dia lupa akan janjinya karena sibuk.

5. Tanda koma dipakai di belakang kata atau ungkapan penghubung antarkalimat yang terdapat pada awal kalimat. Termasuk di dalamnya oleh karena itu, jadi, lagi pula, meskipun begitu, akan tetapi. Misalnya:

... Oleh karena itu, kita harus berhati-hati.

16

... Jadi, soalnya tidak semudah itu.

6. Tanda koma dipakai untuk memisahkan kata seperti o, ya, wah, aduh, kasihan dari kata yang lain yang terdapat di dalam kalimat. Misalnya:

O, begitu? Hati-hati, ya, nanti jatuh.

7. Tanda koma dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain dalam kalimat. Misalnya:

Kata Ibu, "Saya gembira sekali." "Saya gembira sekali," kata Ibu, "karena kamu lulus."

8. Tanda koma dipakai di antara (i) nama dan alamat, (ii) bagian-bagian alamat, (iii) tempat dan tanggal, dan (iv) nama tempat dan wilayah atau negeri yang ditulis berurutan. Misalnya:

Surat-surat ini harap dialamatkan kepada Dekan Fakultas Kedokteran, Universitas Indonesia, Jalan Raya Salemba 6, Jakarta.

9. Tanda koma dipakai untuk menceraikan bagian nama yang dibalik susunannya dalam daftar pustaka.

17

Misalnya: Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949 Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat. 10. Tanda koma dipakai di antara bagian-bagian dalam catatan kaki. Misalnya: W.J.S. Poerwadarminta, Bahasa Indonesia untuk Karangmengarang (Yogyakarta: UP Indonesia, 1967), hlm. 4. 11. Tanda koma dipakai di antara nama orang dan gelar akademik yang mengikutinya untuk membedakannya dari singkatan nama diri, keluarga, atau marga. Misalnya: B. Ratulangi, S.E. Ny. Khadijah, M.A. 12. Tanda koma dipakai di muka angka persepuluhan atau di antara rupiah dan sen yang dinyatakan dengan angka. Misalnya: 12,5 m 13. Tanda koma dipakai untuk mengapit keterangan tambahan yang sifatnya tidak membatasi. Misalnya

Guru saya, Pak Ahmad, pandai sekali. Di daerah kami, misalnya, masih banyak orang laki-

18

laki yang makan sirih. Bandingkan dengan keterangan pembatas yang pemakaiannya tidak diapit tanda koma: Semua siswa yang lulus ujian mendaftarkan namanya pada panitia. 14. Tanda koma dapat dipakaiuntuk menghindari salah bacadi belakang keterangan yang terdapat pada awal kalimat. Misalnya: Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa, kita

memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh. Bandingkan dengan: Kita memerlukan sikap yang bersungguh-sungguh dalam pembinaan dan pengembangan bahasa. 15. Tanda koma tidak dipakai untuk memisahkan petikan langsung dari bagian lain yang mengiringinya dalam kalimat jika petikan langsung itu berakhir dengan tanda tanya atau tanda seru. Misalnya: "Di mana Saudara tinggal?" tanya Karim. "Berdiri lurus-lurus!" perintahnya.

C. Tanda Titik Koma (;) 1. Tanda titik koma dapat dipakai untuk memisahkan bagian-bagian kalimat yang sejenis dan setara.

19

Misalnya: Malam makin larut; pekerjaan belum selesai juga. 2. Tanda titik koma dapat dipakai sebagai pengganti kata penghubung untuk memisahkan kalimat yang setara di dalam kalimat majemuk. Misalnya: Ayah mengurus tanamannya di kebun itu; Ibu sibuk bekerja di dapur; Adik menghapal nama-nama pahlawan nasional; saya sendiri asyik mendengarkan siaran "Pilihan Pendengar".

D. Tanda Titik Dua (:) 1. Tanda titik dua dapat dipakai pada akhir suatu pernyataan lengkap jika diikuti rangkaian atau pemerian. Misalnya:

Kita sekarang memerlukan perabotan rumah tangga: kursi, meja, dan lemari. Hanya ada dua pilihan bagi pejuang kemerdekaan itu: hidup atau mati.

2. Tanda titik dua tidak dipakai jika rangkaian atau perian itu merupakan pelengkap yang mengakhiri pernyataan Misalnya:

Kita memerlukan kursi, meja, dan lemari. Fakultas itu mempunyai Jurusan Ekonomi Umum dan Jurusan Ekonomi Perusahaan.

2. Tanda titik dua dipakai sesudah kata atau ungkapan yang memerlukan pemerian.

20

Misalnya: a. Ketua : Ahmad Wijaya

Sekretaris : S. Handayani Bendahara : B. Hartawan 3. Tanda titik dua dapat dipakai dalam teks drama sesudah kata yang menunjukkan pelaku dalam percakapan. Misalnya: Ibu : (meletakkan beberapa kopor) "Bawa kopor ini, Mir!"

Amir : "Baik, Bu." (mengangkat kopor dan masuk) "Jangan lupa. Letakkan baik-baik!" (duduk di kursi besar)

Ibu

4. Tanda titik dua dipakai: (i) di antara jilid atau nomor dan halaman, (ii) di antara bab dan ayat dalam kitab suci, (iii) di antara judul dan anak judul suatu karangan, serta (iv) nama kota dan penerbit buku acuan dalam karangan. Misalnya: Tempo, I (1971), 34:7 Surah Yasin:9 Karangan Ali Hakim, Pendidikan Seumur Hidup: Sebuah Studi, sudah terbit. Tjokronegoro, Sutomo, Tjukupkah Saudara membina Bahasa Persatuan Kita?, Djakarta: Eresco, 1968.

21

E. Tanda Hubung () 1. Tanda hubung menyambung suku-suku kata dasar yang terpisah oleh penggantian baris. Misalnya: Di samping cara-cara lama itu ada juga cara yang baru. Suku kata yang berupa satu vokal tidak ditempatkan pada ujung baris atau pangkal baris. Misalnya: Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan .... Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau beranjak .... atau Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan .... Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau beranjak .... bukan Beberapa pendapat mengenai masalah itu telah disampaikan ....

22

Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau beranjak .... 2. Tanda hubung menyambung awalan dengan bagian kata di belakangnya atau akhiran dengan bagian kata di depannya pada pergantian baris. Misalnya: Kini ada cara yang baru untuk mengukur panas. Kukuran baru ini memudahkan kita mengukur kelapa. Senjata ini merupakan alat pertahanan yang canggih. Akhiran -i tidak dipenggal supaya jangan terdapat satu huruf saja pada pangkal baris. 3. Tanda hubung menyambung unsur-unsur kata ulang. Misalnya: anak-anak, berulang-ulang, kemerah-merahan. Angka 2 sebagai tanda ulang hanya digunakan pada tulisan cepat dan notula, dan tidak dipakai pada teks karangan. 4. Tanda hubung menyambung huruf kata yang dieja satu-satu dan bagianbagian tanggal. Misalnya:

23

p-a-n-i-t-i-a 8-4-1973 5. Tanda hubung boleh dipakai untuk memperjelas (i) hubungan bagian-bagian kata atau ungkapan, dan (ii) penghilangan bagian kelompok kata. Misalnya:

ber-evolusi dua puluh lima-ribuan (20 x 5000) tanggung jawab-dan kesetiakawanan-sosial

Bandingkan dengan:

be-revolusi dua-puluh-lima-ribuan (1 x 25000) tanggung jawab dan kesetiakawanan sosial

6. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan (i) se- dengan kata berikutnya yang dimulai dengan huruf kapital, (ii) ke- dengan angka, (iii) angka dengan -an, (iv) singkatan berhuruf kapital dengan imbuhan atau kata, dan (v) nama jabatan rangkap Misalnya se-Indonesia, se-Jawa Barat, hadiah ke-2, tahun 50-an, memPHK-kan, hari-H, sinar-X, Menteri-Sekretaris Negara 7. Tanda hubung dipakai untuk merangkaikan unsur bahasa Indonesia dengan unsur bahasa asing. Misalnya: di-smash, pen-tackle-an

24

F. Tanda Pisah () 1. Tanda pisah membatasi penyisipan kata atau kalimat yang memberi penjelasan di luar bangun kalimat. Misalnya: Kemerdekaan bangsa itusaya yakin akan tercapai

diperjuangkan oleh bangsa itu sendiri. 2. Tanda pisah menegaskan adanya keterangan aposisi atau keterangan yang lain sehingga kalimat menjadi lebih jelas. Misalnya: Rangkaian temuan inievolusi, teori kenisbian, dan kini juga pembelahan atomtelah mengubah persepsi kita tentang alam semesta. 3. Tanda pisah dipakai di antara dua bilangan atau tanggal dengan arti 'sampai ke' atau 'sampai dengan'. Misalnya: tanggal 510 April 1970 JakartaBandung

Catatan: Dalam pengetikan, tanda pisah dinyatakan dengan dua buah tanda hubung tanpa spasi sebelum dan sesudahnya.

G. Tanda Elipsis (...) 1. Tanda elipsis dipakai dalam kalimat yang terputus-putus.

25

Misalnya:

Kalau begitu ... ya, marilah kita bergerak.

2. Tanda elipsis menunjukkan bahwa dalam suatu kalimat atau naskah ada bagian yang dihilangkan. Misalnya:

Sebab-sebab kemerosotan ... akan diteliti lebih lanjut.

Catatan: Jika bagian yang dihilangkan mengakhiri sebuah kalimat, perlu dipakai empat buah titik; tiga buah untuk menandai penghilangan teks dan satu untuk menandai akhir kalimat. Misalnya: Dalam tulisan, tanda baca harus digunakan dengan hati-hati ....

H. Tanda Tanya (?) 1. Tanda tanya dipakai pada akhir kalimat tanya. Misalnya:

Kapan ia berangkat? Saudara tahu, bukan?

2. Tanda tanya dipakai di dalam tanda kurung untuk menyatakan bagian kalimat yang disangsikan atau yang kurang dapat dibuktikan kebenarannya. Misalnya:

Ia dilahirkan pada tahun 1683 (?).

26

Uangnya sebanyak 10 juta rupiah (?) hilang.

I. Tanda Seru (!) 1. Tanda seru dipakai sesudah ungkapan atau pernyataan yang berupa seruan atau perintah yang menggambarkan kesungguhan,

ketidakpercayaan, ataupun rasa emosi yang kuat. Misalnya:


Alangkah seramnya peristiwa itu! Bersihkan kamar itu sekarang juga! Masakan! Sampai hati juga ia meninggalkan anak-istrinya! Merdeka!

J. Tanda Kurung ((...)) 1. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan. Misalnya:

Bagian Perencanaan sudah selesai menyusun DIK (Daftar Isian Kegiatan) kantor itu.

2. Tanda kurung mengapit keterangan atau penjelasan yang bukan bagian integral pokok pembicaraan. Misalnya:

Sajak Tranggono yang berjudul "Ubud" (nama tempat yang terkenal di Bali) ditulis pada tahun 1962. Keterangan itu (lihat Tabel 10) menunjukkan arus perkembangan baru dalam pasaran dalam negeri.

3. Tanda kurung mengapit huruf atau kata yang kehadirannya di dalam teks dapat dihilangkan. Misalnya:

27

Kata cocaine diserap ke dalam bahasa Indonesia menjadi kokain(a). Pejalan kaki itu berasal dari (kota) Surabaya.

4. Tanda kurung mengapit angka atau huruf yang memerinci satu urutan keterangan. Misalnya:

Faktor produksi menyangkut masalah (a) alam, (b) tenaga kerja, dan (c) modal.

K. Tanda Kurung Siku ([...]) 1. Tanda kurung siku mengapit huruf, kata, atau kelompok kata sebagai koreksi atau tambahan pada kalimat atau bagian kalimat yang ditulis orang lain. Tanda itu menyatakan bahwa kesalahan atau kekurangan itu memang terdapat di dalam naskah asli. Misalnya:

Sang Sapurba men[d]engar bunyi gemerisik.

2. Tanda kurung siku mengapit keterangan dalam kalimat penjelas yang sudah bertanda kurung. Misalnya:

Persamaan kedua proses ini (perbedaannya dibicarakan di dalam Bab II [lihat halaman 3538]) perlu dibentangkan di sini.

L. Tanda Petik ("...") 1. Tanda petik mengapit petikan langsung yang berasal dari pembicaraan dan naskah atau bahan tertulis lain.

28

Misalnya:

"Saya belum siap," kata Mira, "tunggu sebentar!" Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."

2. Tanda petik mengapit judul syair, karangan, atau bab buku yang dipakai dalam kalimat. Misalnya:

Bacalah "Bola Lampu" dalam buku Dari Suatu Masa, dari Suatu Tempat. Karangan Andi Hakim Nasoetion yang berjudul "Rapor dan Nilai Prestasi di SMA" diterbitkan dalam Tempo. Sajak "Berdiri Aku" terdapat pada halaman 5 buku itu.

3. Tanda petik mengapit istilah ilmiah yang kurang dikenal atau kata yang mempunyai arti khusus. Misalnya:

Pekerjaan itu dilaksanakan dengan cara "coba dan ralat" saja. Ia bercelana panjang yang di kalangan remaja dikenal dengan nama "cutbrai".

4. Tanda petik penutup mengikuti tanda baca yang mengakhiri petikan langsung. Misalnya:

Kata Tono, "Saya juga minta satu."

5. Tanda baca penutup kalimat atau bagian kalimat ditempatkan di belakang tanda petik yang mengapit kata atau ungkapan yang dipakai dengan arti khusus pada ujung kalimat atau bagian kalimat.

29

Misalnya:

Karena warna kulitnya, Budi mendapat julukan "Si Hitam". Bang Komar sering disebut "pahlawan"; ia sendiri tidak tahu sebabnya.

Catatan: Tanda petik pembuka dan tanda petik penutup pada pasangan tanda petik itu ditulis sama tinggi di sebelah atas baris.

M. Tanda Petik Tunggal ('...') 1. Tanda petik tunggal mengapit petikan yang tersusun di dalam petikan lain. Misalnya:

Tanya Basri, "Kau dengar bunyi 'kring-kring' tadi?" "Waktu kubuka pintu depan, kudengar teriak anakku, 'Ibu, Bapak pulang', dan rasa letihku lenyap seketika," ujar Pak Hamdan.

2. Tanda petik tunggal mengapit makna, terjemahan, atau penjelasan kata atau ungkapan asing. (Lihat pemakaian tanda kurung, Bab V, Pasal J.) Misalnya:

feed-back 'balikan'

N. Tanda Garis Miring (/) 1. Tanda garis miring dipakai di dalam nomor surat dan nomor pada alamat dan penandaan masa satu tahun yang terbagi dalam dua tahun takwim.

30

Misalnya: No. 7/PK/1973 Jalan Kramat III/10 tahun anggaran 1985/1986 2. Tanda garis miring dipakai sebagai pengganti kata atau, tiap. Misalnya: dikirimkan lewat darat/laut (dikirimkan lewat darat atau laut) harganya Rp25,00/lembar (harganya Rp25,00 tiap lembar)

O. Tanda Penyingkat (Apostrof) (') Tanda penyingkat menunjukkan penghilangan bagian kata atau bagian angka tahun. Misalnya: Ali 'kan kusurati. ('kan = akan) Malam t'lah tiba. ('lah = telah) 1 Januari '88 ('88 = 1988)

31

BAB III PENUTUP

1) Kesimpulan Dalam penulisan karya ilmiah, ejaan merupakan salah satu bagian penting yang menentukan keberhasilan karya ilmiah. Karena ejaan merupakan dasar yang dapat menjadikan sebuah pemahaman bagi pembaca. 2) Saran Sebaiknya sebelum melakukan pembuatan karya ilmiah, penulis harus menerapkan ejaan yang benar dan santun, sehingga penulisan karya ilmiah tersebut dapat dipahami oleh pembacanya.

32

BAB IV LAMPIRAN

4.1 Contoh Soal : 1. Di bawah ini merupakan penggunaan tanda titik (.) yang benar, kecuali. a. Kantor Penempatan Tenaga Kerja Jalan Cikini 71 Jakarta b. Gempa yang terjadi semalam menewaskan 1.231 jiwa. c. Jam menunjukkan pukul 22.45 d. BAB I PENDAHULUAN 1.1 Latar Belakang Masalah. 1.2 Rumusan Masalah. 1.3 Tujuan. e. Siregar, Merari. 1920. Azab dan Sengsara. Weltevreden: Balai Poestaka. 2. Penggunaan tanda baca yang tepat pada penulisan daftar pustaka di bawah ini adalah. a. Alisjahbana, Sutan Takdir, 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat. b. Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. TATABAHASA BARU BAHASA INDONESIA, Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat c. Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949. Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat. d. Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta; PT Pustaka Rakjat. e. Alisjahbana, Sutan Takdir. 1949, Tatabahasa Baru Bahasa Indonesia. Jilid 1 dan 2. Djakarta: PT Pustaka Rakjat.

33

3. Penggunaan tanda koma (,) yang tepat di bawah ini adalah. a. Saya tidak akan dating, kalau hari hujan. b. Saya membeli kertas, pena, dan, tinta. c. Didi bukan anak saya, melainkan anak Pak Kasim. d. O begitu, aku tidak menyangka. e. Pembicara dalam seminar hari ini adalah B. Ratulangi S,E. 4. Di bawah ini merupakan penggunaan tanda hubung (-) yang tepat adalah. a. Di samping cara-cara lama itu ada juga cara yang baru. b. Walaupun sakit, mereka tetap tidak mau beranjak. c. Hari ini adalah hari yang indah bagiku. d. Termometer digunakan untuk mengukur suhu. e. Saya suka bermain dengan anak-anak. 5. Penggunaan tanda petik (.) yang tepat di bawah ini adalah. a. Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia b. Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia. c. Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia." d. Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia." e. Pasal 36 UUD 1945 berbunyi, "Bahasa negara ialah Bahasa Indonesia."

ESSAY

34

1. Buatlah daftar pustaka dengan tanda baca yang tepat berdasarkan informasi berikut ini : a. Judul buku, tahun terbit Pencemaran, 1990 Penulis Terjemah Penerbit Surabaya b. Judul buku, tahun terbit 2011 Penulis Penerbit : M.K. Surtini dan J.K Surtejo : Mentari Pagi, Medan : Kemanusiaan Dalam Keperawatan, : D.W. Connel dan G.J. Miller : Y.Koestoer 1995 : Universitas Indonesia Press, : Kimia dan Entoksikologi

35

4.2 Kunci Jawaban

1. D 2. C 3. A 4. A 5. E

ESSAY 1. a. Connel, D.W. dan G.J. Miller. 1990. Kimia dan Entoksikologi Pencemaran. Terjrmahan oleh Y. Koestoer. 1995. Jakarta : Unversitas Indonesia Press. b. Surtini, M.K. dan J.K Surtejo. 2011. Kemanusiaaan Dalam Keperawatan. Medan : Mentari Pagi.

36